The Devil – Part 3

The Devil [3] : Great Pressure

Title : The Devil

Author : Bibib Dubu & mybabyLiOnew

Main Cast : Park Eun Hee, Lee Chaeryn, Shinee Member

Support Cast : Kim Hyeri, Petugas rumah sakit.

Length : Sequel

Genre : Mistery, Angst , Family, Romance (sedikit kayaknya)

Rating : PG-17

A.N : Aku ngerasa part ini ada yang kasar, jadi buat yang usianya dibawah 15 tahun, aku saranin ga baca kisah ini, demi kebaikan kalian juga.

Summary :

Key : “Bukankah di dunia ini selalu ada yang tidak rasional, hyung? Aku rasa aku pun telah melakukannya…ternyata seperti ini rasanya mencintai seseorang, semua kerasionalan yang selama ini bertahan di dalam otakku, perlahan tergeser oleh sebuah sentuhan lembut bernama cinta.”

Jinki : “Jangan harap aku mau berbagi informasi pada orang asing. Meskipun kita memburu hal yang sama, tapi tujuan kita belum tentu sama.”

Jonghyun : ““Aku? Hanya bermain dengan mantan yeojachinguku, menghabiskan sisa terakhir rasa cintaku padanya yang telah kusimpan selama lima tahun, apa salah? Bukankah itu sesuai dengan pekerjaannya?”

+++++

Author POV

Kotor, itulah yang dirasakan Jinki saat ini, namja itu merasa dirinya telah menodai seorang yeoja, terlebih yeoja itu adalah Eun Hee. Meskipun ini bukan kehendaknya, tapi baginya ini tidak ada bedanya.

Jinki memang tidak menyadari sedikit pun mengenai kejadian-kejadian yang menimpanya selama ia berada di dalam pengaruh obat tidur, tapi apa yang ia dapati ketika ia terbangun, membuat namja itu merasakan frustasi yang hebat. Ada sesuatu yang berperang di dalam hatinya. Ia berusaha mengingkari apa yang ia takutkan pasca kejadian itu, berharap Eun Hee bersikap professional pada malam itu—sehingga tidak akan ada seorang bayi tak berdosa yang lahir ke dunia ini dengan membawa rasa malu dan cacat.

Berhari-hari balkon di depan kamarnya menjadi teman Jinki berdiam diri, hanya memandangi tatanan pot bunga yang berderet rapi di halaman bawah yang dapat terlihat jelas dari tempat itu.

Air, sabun, dan pasta gigi bahkan baru satu kali disentuhnya sejak malam itu, hanya untuk membersihkan diri setelah melakukan perbuatan yang menurutnya keji—namun nyatanya itu tidak membantu melawan kekalutan otaknya.

Oppa…kau tidak memperhatikanku ya? Padahal aku sudah bicara panjang lebar tapi kau tidak juga menanggapinya, bahkan tidak sepatah kata pun.” ocehan Chaeryn bahkan tidak mampu membangkitkannya dari dunia gelap di dalam pikirannya.

Oppa, kau sakit?” kini Chaeryn meraba dahi Jinki namun hasilnya tidak ada suhu yang berbeda jauh dengan suhu tubuh manusia lainnya.

Jinki tetap tidak bergeming walaupun sentuhan dongsaeng kesayangannya baru saja mendarat di dahinya. Tubuhnya seakan mati rasa setelah kejadian malam itu.

Oppa, jangan seperti ini, kau seperti mayat hidup rasanya… aku tahu kita tidak lahir dari satu rahim, hanya berasal dari sperma yang sama, tapi hati kita telah terikat, kalau kau sedih seperti ini, aku pun ikut sedih.” Chaeryn kini menyandarkan kepalanya di bahu Jinki yang sedang duduk di bangku yang berada di balkon kamarnya. Menyiratkan kesedihannya karena sudah lama tidak bercengkrama dengan oppa kesayangannya.

Mulai ada reaksi dari Jinki, ia mengelus-elus kepala Chaeryn dengan lemah, tapi tidak juga merubah posisi tubuh lainnya selain tangan kanannya yang bergerak. Tidak juga dengan raut wajahnya, tetap suram seperti orang yang memendam luka—ingin menangis—namun urung melakukannya karena namja memang tidak seharusnya mengeluarkan air mata dengan mudah.

Oppa, ada banyak hal yang mau kuceritakan padamu, tapi kalau kau bahkan tidak membalas sapaanku, bagaimana aku bisa menceritakannya? Aku….”

Ne, aku tahu apa yang harus kulakukan!” seru Jinki tiba-tiba sambil bangkit dari posisi duduk dan mengabaikan Chaeryn yang bahkan mulutnya belum terkatup rapat.

+++++

Gelap, pengap, dan hening. Meringkuk di sudut sebuah ruangan seperti itu telah dilakukannya selama satu minggu lebih. Tidak peduli cacing perutnya sudah melakukan kudeta besar-besaran. Peluh keringat yang membuat tubuhnya lengket dan kotoran wajah yang mengotori wajahnya yang berwarna pucat pun sudah menjelma seperti sekawanan pendemo yang tidak dihiraukan oleh para petinggi negara.

Sesekali ia merubah posisinya, seperti yang baru saja dilakukannya. Ia bangkit dan berdiri lurus berhadapan dengan sebuah benda yang terpaut sekitar tiga meter dengannya.

Clekkk

Sebuah anak panah yang baru saja dilesatkannya, menancap tepat pada bagian mata dari sebuah foto seorang yeoja berparas cantik yang sedang tersenyum lebar.

Ia menyeringai puas, sedetik kemudian tertawa terbahak namun menit-menit berikutnya ia menangis meraung-raung sambil menarik-narik rambutnya hingga beberapa helai tersangkut di sela jarinya.

Merasa marah pada sosok yang ada di lembaran tersebut, ia meraih kasar benda tersebut dari dinding dan meremasnya kuat-kuat, menginjak-injaknnya sampai lecek. Tidak puas dengan itu, ia meraih kembali foto yang sudah rusak itu lalu duduk kembali di pojokan setelah tangan satunya yang tidak memegang foto—meraih sebuah pisau lipat kecil.

Disayatnya perlahan namun tidak dalam, hanya ingin melihat tetesan darahnya menyampaikan luapan emosinya saat ini pada cicak-cicak yang merayap di atap kamarnya.

Disapunya cairan segar tersebut dengan jari telunjuknya dan segera dibentuknya goresan berupa tanda silang dengan darah tersebut pada wajah yeoja yang ada di hadapannya—pada foto itu.

“Aku akan menyatukan darah ini dengan darahmu.” Sebuah senyuman iblis mengiringi kepergiannya dari ruangan yang sudah lama dihuninya itu tanpa terlewatkan sedetik pun.

Ckrekk,

Sebelum ia sempat menyentuh gagang pintu, ada seseorang yang telah membukanya terlebih dahulu, sang tamu menyuguhkan senyuman tulusnya untuk sang pemilik kamar.

“Annyeong, Hyung….” sapanya ramah.

“Annyeong.” balasnya dingin. Rasa marah dan frustasinya mampu mengangkat semua kehangatan yang sebelumnya melekat pada dirinya.

“Syukurlah akhirnya kau memutuskan untuk keluar dari kamarmu, selamat beraktivitas kembali, Jonghyun Hyung….”

Namja lusuh bernama Jonghyun tadi hanya membalasnya dengan menggerakkan dua alisnya secara bersamaan, mengisyaratkan bahwa ia mengiyakan jawaban dongsaengnya, Key.

Jonghyun berlalu, sementara Key masih terpaku di ambang pintu ruangan tempat hyung-ya itu berada. Jonghyun, satu-satunya saudara kandungnya yang masih tersisa setelah kematian Soora, adiknya.

Mengamati sekeliling kamar Jonghyun, Key menyadari ada sebuah benda yang sudah tidak ada lagi di tempatnya. Tidak lama matanya tertuju pada sebuah gumpalan kertas, didekatinya benda itu untuk memastikan wujudnya di dalam kondisi cahaya yang remang-remang.

“Darah?” gumamnya saat seluruh foto itu telah terbuka utuh. Ia mengendus aromanya untuk memastikan cairan kental tersebut adalah darah.

Ia menelan ludahnya, tubuhnya mendadak lemas dan disandarkannya pada tembok yang ada di sebelahnya. Dipandanginya pula sosok yang tercetak di foto tersebut, tapi tak lama diremasnya kembali karena ia merasa kesesakan sudah menguasainya.

Mianhae hyung… awalnya aku ingin membalaskan dendammu, tapi makin lama aku justru ingin mengenalnya dan membantunya meraih kehidupannya kembali.”

Ditariknya kuat-kuat oksigen yang ada di sekelilingnya, mendongakkan kepalanya agar ketegangan otot leher yang dirasakannya sedikit berkurang. Ia mengulangi hal serupa selama beberapa kali sampai merasa partikel oksigen telah terdistribusi secara lancar di dalam jaringan tubuhnya.

“Bukankah di dunia ini selalu ada yang tidak rasional, hyung? Aku rasa aku pun telah melakukannya… ternyata seperti ini rasanya mencintai seseorang, semua kerasionalan yang selama ini bertahan di dalam otakku, perlahan tergeser oleh sebuah sentuhan lembut bernama cinta.”

+++++

Bermain dengan kecepatan tidak selamanya menjadi strategi yang ampuh. Bermainlah dengan cara cerdas, maka akan banyak hal yang menjadi efisien setelahnya. Pernah dengar kisah kura-kura yang bertanding lari dengan seekor kancil? Secara kecepatan, kancil dipastikan menjadi pemenang dalam cerita itu, namun ternyata tidak. Kura-kuralah yang keluar sebagai juara karena ia menggunakan strategi yang cerdas.

“Butuh tumpangan, agasshi?” tanya seorang namja pada Eun Hee yang kali ini terlihat sedang menunggu taksi di jalanan dekat rumahnya.

Tidak seperti hari lainnya, yang dengan setianya Eun Hee menunggu bus dan rela berdesakan di dalamnya. Tujuannya kali ini tidak dilalui oleh bus tersebut sehingga yeoja itu harus rela merogoh koceknya lebih banyak untuk perjalanannya yang dimulai lebih sore ini, sebelum ia melakukan rutinitasnya bersama malam.

Sang namja membuka lebih lebar kaca jendela mobilnya agar dapat berinteraksi lebih leluasa dengan Eun Hee. Ia tersenyum, berusaha menutupi keresahan yang menghuni pikiran dan perasaannya, yang membuat pikiran dan perasaannya berperang untuk menentukan siapakah yang akan menjadi pemenang yang kelak akan membimbing si pemilik tubuh untuk mengambil keputusan selanjutnya

Eun Hee hanya tersenyum tipis namun tangannya segera meraih bukaan pintu mobil namja tersebut. “Kau tidak keberatan mengantarku, Key?” tanya Eun Hee sambil melepas mantel yang membalut tubuhnya.

“Keberatan, jika kau terus memamerkan pahamu itu selama perjalanan kita.” Key menyindir dengan candaannya.

Eun Hee tersenyum, ia segera menimpa pahanya dengan mantel yang baru saja dilepasnya, untuk menutupi kemulusan bagian tubuhnya yang dapat tertangkap jelas karena mini dress yang dikenakannya. “Begini tidak apa, kan?” tanyanya kemudian.

“Setidaknya ini tidak mengacaukan konsentrasi mengemudiku.” balas Key dengan senyuman khasnya yang terkesan cool.

Sementara itu seorang namja lainnya mendengus kesal saat melihat yeoja yang sedang diamatinya masuk ke dalam mobil yang ada di depan mobil kepunyaannya. “Mau kemana mereka?” desisnya kesal. Namun pada akhirnya ia mengikuti pergerakan mobil tadi dengan sigap sebelum mobil tersebut benar-benar hilang dari pandangannya.

Tidak sampai tiga puluh menit, mobil pertama memasuki parkiran sebuah rumah sakit, sementara mobil di belakangnya sengaja memperbesar jarak dari mobil pertama agar aksi penguntitannya itu tidak terlalu mencolok.

“Aku tunggu di mobil saja ya?” tanya Key setelah Eun Hee keluar dari mobilnya, yeoja itu hanya mengangguk sebagai balasannya.

Key tersenyum mengiringi langkah Eun Hee yang makin menjauh darinya.

“Tidak akan mudah, Eun Hee-ya….” gumamnya beberapa waktu kemudian seraya mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah catatan yang diketiknya di benda canggih tersebut.

Key tahu betul apa maksud kedatangan Eun He ke rumah sakit ini, sama dengan alasannya menapaki tempat ini dua hari yang lalu. Bedanya, Eun Hee tidak akan mendapatkan apa yang ia cari di tempat ini, sementara dirinya dengan mudah mendapatkannya hanya dengan menunjukkan kartu identitasnya.

Mungkin penggunaannya memang disalahgunakan, biasanya ia mengeluarkan kartu tersebut jika sedang menyelidiki orang-orang yang dicurigai sebagai dalang sebuah kejahatan besar ataupun mendekati orang yang merupakan saksi kunci dari suatu peristiwa, tapi kali ini hanya untuk menanyakan alamat seorang namja yang bahkan tidak dikenalnya.

Sementara itu, pengemudi mobil yang di belakang tadi memandangi heran karena hanya mendapati Eun Hee berjalan seorang diri memasuki rumah sakit tersebut.

“Untuk apa ia ke rumah sakit? Dan lagi, kemana namja yang mengantarnya tadi?” ucapnya pelan tanpa terdengar siapa pun.

Tidak lama kemudian, ia membuntuti Eun Hee setelah yakin penampilannya tidak dikenali oleh yeoja itu. Tatkala yeoja itu menghampiri bagian administrasi, namja tadi memilih menjaga jarak dengan hanya duduk di bangku tunggu yang letaknya masih memungkinkan telinganya untuk menjangkau bunyi yang keluar dari mulut Eun Hee dan petugas administrasi di rumah sakit ini.

Joesonghamnida, aku mengganggu sebentar.” Eun Hee terdengar ragu dengan ucapannya.

“Oh, ne, apa yang bisa kubantu untukmu, agasshi?” balas sang petugas dengan ramah.

“Bisakah aku menanyakan alamat pasien bernama Park Yoochun yang datang lima hari yang lalu kemari?”

“Maaf, kami harus menjaga semua data yang berhubungan dengan pasien kami, kecuali jika….”

“Kecuali jika apa?” potong Eun Hee cepat. “Mianhaeyo, aku memotong ucapanmu, ini kurang sopan sebenarnya.” lanjut Eun Hee ketika menyadari raut wajah sang petugas berubah menjadi heran.

Gwaenchana, tidak masalah dengan itu. Hanya saja, beberapa hari lalu ada yang meminta hal yang sama denganmu. Sekali lagi kami minta maaf karena tidak bisa membantumu.”

Eun Hee pun pergi dengan lemas setelah mengucapkan terima kasih terlebih dahulu. Ia baru saja kehilangan satu kesempatan untuk bertemu dengan saudara satu-satunya yang ia miliki.

Sementara raut wajah namja yang menyimak pembicaraan itu dari tadi, tampak mengeras mendengar nama Park Yoochun muncul dalam pembicaraan tersebut.

Cih, kenapa aku harus mendengar nama terkutuk itu lagi!” rutuknya sambil menyusul Eun Hee yang telah pergi lebih dulu.

Eun Hee berjalan dengan menanggalkan postur tubuhnya yang tegap untuk sementara, menundukkan kepalanya sebagai bentuk dari ungkapan kesedihannya. Bagaimana tidak, selama dua tahun ia mencari, tapi jalannya selalu terputus dan tidak juga datang titik terang yang membuatnya dapat meraba keberadaan oppanya.

Brakkk…

Ia menabrak seorang yeoja dengan rambut berkuncir kuda yang hendak memasuki rumah sakit, insiden itu membuat handphone yeoja yang ditabraknya terseret beberapa jauh dan berhenti tepat di kaki seorang namja berkacamata hitam dan mengenakan mantel abu-abu.

Mianhaeyo….” jawab Eun Hee sopan. “Aku akan mengganti handphonemu jika rus….” Eun Hee tidak melanjutkan kata-katanya karena yeoja ditabraknya tadi sudah tidak lagi di hadapannya.

Oppa, kenapa kau ke tempat ini?” terdengar suara yeoja yang tertabrak tadi dari belakang tubuh Eun Hee.

Cih, ya sudah.” Eun Hee berlalu karena merasa ucapannya dianggap angin lalu oleh yeoja tersebut.

Sementara itu, yeoja berkuncir kuda itu kembali memberondong namja yang kakinya dihinggapi handphone kepunyaannya tadi. “Oppa, kau sakit apa? Kenapa kau memakai mantel tebal dan datang ke rumah sakit ini?”

“Kau sendiri kenapa kemari, Ryn? Kau tidak sakit kan?” Namja tadi malah bertanya balik dengan nada kepanikannya.

Ani, Hyeri ada di dalam dan aku menjemputnya. Ya! Jangan mengalihkan pembicaraan, kau belum menjawab pertanyaanku oppa!”

“Ah, oppa…mmm, dokter hanya bilang oppa terlalu banyak pikiran dan itu membuat kepala oppa sering terasa sakit ataupun sedikit pusing, tenang saja Ryn, oppa sehat kok.” jawab namja tersebut yang tidak lain adalah Jinki. Lagi-lagi Jinki terpaksa membohongi dongsaengnya, Chaeryn.

“Bagaimana bisa dibilang sehat? Kerjamu hanya melamun di balkon kamarmu, seperti orang mau mati saja melihatmu, oppa. Itu membuatku gila! Jangan seperti itu lagi ya oppa, aku bisa sakit nanti. Sehari tanpa berbincang denganmu rasanya sangat menjemukan.”

Ne… tidak akan oppa ulangi. Mianhaeoppa telah mengabaikanmu beberapa hari ini.” Jinki menarik Chaeryn ke pelukannya dan mengelus-elus rambut terawat milik yeoja manis tersebut.

“Kau tahu tidak oppa, aku paling senang berada dalam pelukanmu, hangat… membuatku merasa terlindungi.”

Ne, oppa juga senang bisa berbagi kebahagiaan denganmu, oppa akan selalu melindungimu. Tapi Ryn, sekarang oppa pusing berdiri lama-lama, kau temui Hyeri dulu baru setelah itu pulang bersama oppa, kita bertemu di mobil saja ya?” Jinki beralasan karena jauh di dalam hatinya ia masih penasaran ke mana perginya namja yang mengantar Eun Hee tadi.

Ne, nanti aku hubungi oppa, beristirahatlah sebentar di mobil.”

+++++

Jangan pernah kau ragukan ketajaman indera seorang agen intelegen karena pasti ia sudah lolos tes untuk kesehatan seluruh bagian tubuhnya. Jangan pula kau ragukan kepekaan instingnya, karena ia telah terlatih selama bertahun-tahun untuk mengendus apa yang ada di balik suatu peristiwa. Dan terakhir, jangan lupakan kecerdasan bermain yang mendarah daging di tubuhnya karena ia memang telah membawanya sejak lahir, dan itulah yang menjadi salah satu faktor yang membuka pintunya untuk menekuni sebuah profesi yang tidak bisa dirasakan oleh sembarang orang.

“Apa yang kau dapatkan setelah membuntuti kami?” Key menyilangkan tangannya di dada dan bersandar santai pada mobil Jinki, bertanya pada namja yang masih terlihat kesal itu dengan santai namun diiringi tatapan tajam

Jinki kaget karena tidak menyangka aksinya diketahui, namun namja itu berusaha bersikap tenang untuk menyamai ketenangan namja yang tidak dikenalnya itu.

“Park Yoochun, Eun Hee mencari alamat orang itu.” jawab Jinki seadanya. Jinki merasa namja ini mengetahui sesuatu tentang Eun Hee, maka ia memutuskan untuk bermain sesaat dengannya, berharap menemukan sesuatu di balik jawabannya.

“Siapa sebenarnya Park Yoochun?” Key bertanya balik karena ia memang belum mengetahui apa hubungan Eun Hee dengan Yoochun dan alasan Eun Hee mencarinya, yang ia tahu sampai detik ini adalah hal yang sedang dicari Eun Hee di rumah sakit ini, alamat Yoochun.

“Masuklah ke dalam.” pinta Jinki sambil melangkahkan kakinya ke dalam mobilnya.

Key menurutinya, ia duduk di samping jok kemudi, di sebelahnya ada Jinki yang dengan perlahan berusaha mengaktifkan sistem kunci otomatis mobilnya tanpa diketahui Key.

Greppp

Key menangkap gelagat Jinki, ia segera mengunci pergerakan tangan Jinki dan menatap Jinki tajam. “Jangan coba-coba denganku!” gertak Key.

“Baiklah, aku juga tidak tertarik melukaimu, kulitmu terlalu indah untuk menjadi sasaranku.” jawab Jinki sinis. Ia mulai merasa Key adalah orang yang tidak biasa.

“Ceritakan padaku siapa Yoochun!” Key mulai tidak sabar.

“Tidak ada informasi yang gratis.”

“Kau tidak akan rugi menceritakannya padaku, karena aku pun sedang mencarinya, percayalah.”

Cih, kau aneh. Kau bahkan tidak mengenal orang yang kau cari.” Jinki mulai menyindir untuk memancing mulut Key mengatakan identitasnya dan apa tujuannya mendekati Eun Hee serta ikut mencari Yoochun juga.

“Langsung kutebak saja, ia adalah oppanya Eun Hee, benar kan?”

“Kau tidak salah. Lalu apa tujuanmu mencarinya juga?”

“Tidak ada informasi yang gratis.” Sekarang giliran Key yang membalas Jinki.

“Tadi kan aku sudah menjawab pertanyaanmu tentang Yoochun.” Jinki merasa dipermainkan dengan namja yang namanya belum ia ketahui ini.

“Loh, aku juga telah memberi informasi padamu. Aku juga sedang mencari orang bernama Park Yoochun itu, apa itu bukan informasi? Kita impas.”

“Keluar kau dari mobilku.” Jinki mulai merasa gerah, sepertinya tidak mudah bermain kata dengan namja di sebelahnya, ia bukan orang biasa yang mudah terpancing. Bahkan bisa jadi dirinyalah yang terpancing oleh namja tersebut.

“Jangan harap aku mau berbagi informasi pada orang asing. Meskipun kita memburu hal yang sama, tapi tujuan kita belum tentu sama.” ucap Jinki sambil membukakan pintu untuk Key, pertanda pengusiran.

+++++

Mobil itu berhenti di depan sebuah tempat yang biasa dikunjungi pengemudinya akhir-akhir ini, bangunan untuk bermain kartu dengan yeoja yang sedang ia bawa di mobilnya. “Jaljayo.” ujar Key ketika Eun Hee keluar dari mobilnya.

“Kau tidak mau main kartu malam ini?” tanya Eun Hee penuh harap. Yeoja itu merasa diuntungkan dengan kedatangan Key ke tempatnya, dengan begitu ia bisa istirahat semalam.

“Lain kali saja, ada hal lain yang harus kuurus.” jawab Key sambil melemparkan senyumnya. Ia memang ingin pulang cepat kali ini, tidak sabar memastikan keadaan hyung-nya di apartemen surganya.

Ada kecemasan di benak Key setelah memikirkan berkali-kali apa yang dilakukan Jonghyun tadi siang, meremas-remas foto Eun Hee lalu menodainya dengan darah. Siapa lagi pemilik darah tersebut kalau bukan Jonghyun? Key khawatir hyung-nya itu melukai dirinya dengan aksi yang lebih bodoh lagi, bunuh diri misalnya. Ia tahu betul bahwa Jonghyun mengalami depresi berat setelah mengetahui kabar yeoja yang ditinggalnya pergi ke Jepang selama dua tahun.

“Baiklah…oya, lain kali kalau kau memang kau berniat mengantarku—jangan biarkan aku menunggu lama di samping mobilmu. Kau tahu tidak, aku terlihat seperti orang bodoh, atau bahkan seperti pencuri yang ingin mengambil mobilmu.”

Ne, aku mencari toilet tadi, mianhae.” Key beralasan, tentu saja ia tidak akan bilang kalau ia habis menemui Jinki. Tawanya yang renyah membuat Eun Hee membalasnya dengan senyuman manis penuh ketulusan.

Eun Hee pun memasuki tempatnya mempertahankan kehidupan, dengan langkahnya yang anggun bak model papan atas yang sedang menapaki setiap jengkal catwalk, dan seperti biasa, kedatangannya selalu disambut oleh mulut-mulut jahil para ajusshi di tempat itu, bahkan beberapa mata memandangnya penuh nafsu.

“Tamu jatahmu telah lama menunggumu di dalam, berikan pelayanan yang terbaik untuknya, dia telah membayar lebih untukmu malam ini. Dia seorang namja tampan, beruntung sekali kau kali ini.” ujar sang majikan dengan nada sok berkuasanya, disertai senyuman penuh kelicikan.

Eun Hee hanya mengerlingkan matanya dan melangkah dengan gaya yang dibuat lebih memikat agar pada ajusshi itu tetap mengidolakannya walaupun sudah lama tidak berhasil memenangkannya, karena Key selalu menjadi yang pertama.

Namun ada pertanyaan kecil di benaknya, “Namja tampan?” gumamnya sambil tersenyum, ini lebih baik daripada para ajusshi yang telah berlumut tadi. “Tidak mungkin Key, apa Jinki? Aniyo, dia pasti kapok ke tempat ini setelah pelajaran yang kuberikan untuknya.”

Greeppp,

Tangannya langsung ditarik kasar saat ia baru saja membuka pintunya. Sang tamu menyeret tubuh Eun Hee ke ranjang, tapi begitu mendekati ranjang, tubuh tersebut segera dihempaskan.

“Layani aku semalam suntuk, honey.” ucap sang namja dengan senyuman mengerikannya.

Seketika mata Eun Hee berair melihat siapa yang menjadi tamunya saat ini. Mungkin ini balasan untuknya karena telah memaksa air mata Jinki keluar malam itu. Hukum karma berlaku sepertinya, dengan balasan yang selalu lebih menyakitkan.

Sihreo!” Eun Hee menolak kasar, ia segera berdiri dan berniat keluar dari ruangan itu.

“Jangan harap majikanmu membiarkanmu hidup jika kau lakukan itu. Penuhi permintaanku saja, bukankah setiap malam pun kau selalu melakukannya, kenapa tidak denganku—yang bahkan menaburkan cinta pada apa yang akan kita lakukan setelah ini?”

“Lebih baik bunuh aku daripada aku melakukannya.” Eun Hee mulai terisak kini.

“Buang air mata palsumu, aku tahu hati yeoja sepertimu terlalu keras untuk mengeluarkan air mata, itu pasti hanya buatanmu.” Namja itu terus menahan tubuh Eun Hee dan tidak lama kemudian menghempaskannya untuk yang kedua kalinya.

“Kalau kau memang mencintaiku, lebih baik kau bunuh aku, atau biarkan aku menjalani hidupku tanpa campur tanganmu.” nada bicara Eun Hee mulai memohon, berharap sisi malaikat yang dimiliki namja tersebut masih bisa menyelamatkannya malam ini.

“Tidak, kalau itu kulakukan, aku yang akan mati lebih dulu. Kau tenang saja, aku akan membunuhmu perlahan dengan caraku.” Kini namja tersebut mulai menindih tubuh Eun Hee sehingga membuat yeoja itu berlinang air mata.

Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, “Mari kuhapus air matamu…pejamkan matamu, honey.” bisiknya lembut sambil mengusapkan sebuah sapu tangan yang telah dipersiapkannya untuk membuat yeoja tersebut tertidur.

+++++

Seorang namja terhuyung-huyung keluar dari sebuah klub malam, matanya berurai air mata karena baru saja pertahanan dirinya dirobohkan oleh kemarahan yang disulutkan oleh sekumpulan setan yang bergerumul di hatinya. Tapi rupanya akal sehatnya dan hati nuraninya sudah tidak mengiringi tubuhnya lagi malam ini, air mata itu lebih tepat disebut air mata kemarahan, ia hanya tidak mau mengakuinya. Sang cinta di dalam hatinya tengah bertarung dengan sekawanan setan yang lebih kuat.

“Telah kutanamkan, Eun Hee-ya… darah kita akan menyatu tidak lama lagi… Aku akan membuatmu lebih sakit dengan darah kita, aku akan menguncimu dalam penderitaan, sekarang aku berani kan, Eun Hee-ya? Aku akan menundukkanmu dan semua ini akan berujung pada pembalasan yang paling menyakitkanmu. Huh, jangan bermain denganku.” ucapnya sambil merapikan jas-nya agar kembali terlihat ke kondisi sebelum ia memasuki tempat kotor tersebut.

Sementara itu seorang namja mengamatinya dari dalam mobilnya, melakukan rutinitasnnya hampir setiap malam, mengawasi Eun Hee. Tapi kali ini ia memutuskan untuk tidak melenyapkan orang yang diyakininya telah memasuki ruang panas di dalam klub malam tersebut, karena belum tentu Eun Hee-lah yang melayani namja tersebut. Orang di dalam mobil tadi adalah Jinki, yang kali ini tidak bisa memastikan karena ia tidak berani lagi memasuki tempat itu.

“PARK EUN HEE… habislah kau pelacur sialan! Air matamu itu tidak berguna bagiku, jangan coba-coba melawanku.” Namja itu berteriak sambil tertawa seperti orang yang baru saja sukses melakukan sebuah kejahatan.

“Eun Hee? Ia menangis?” tanya Jinki dengan otaknya yang berusaha memastikan apa yang didengarnya.

Setelah yakin, ia meraih pistol dari laci dashboard mobilnya—lengkap dengan peredam suaranya. Keluar dari persembunyiannya dan segera memburu namja tadi dengan merobohkannya melalui pukulan keras di tengkuk.

“Kim Jonghyun.” gumamnya setelah memeriksa dompet namja tadi dan melihat tanda pengenalnya.

Berpikir sejenak dan akhirnya ia melakukan hal yang tidak biasa, bukan langsung membunuhnya melainkan memasukkan tubuh itu ke dalam mobilnya. Jinki merasa namja itu bukan sembarang pengunjung, karena tadi ia sempat mendengar namja ini mengatakan bahwa Eun Hee dibuat menangis olehnya. Yeoja itu terbilang keras untuk dibuat menangis, dan lagi ucapan orang bernama Jonghyun juga menyiratkan bahwa Eun Hee melakukan perlawanan, pasti ada sesuatu yang janggal karena nyaris mustahil pelacur kelas atas seperti dia—melawan tamunya.

+++++

Sebuah rumah tua yang sudah ditinggalkan pemiliknya, suasana sekitarnya yang tanpa penerangan membuat siapa pun tidak akan melihat kalau saat ini ada seorang namja sedang memapah sebuah tubuh yang sudah terkulai lemas setelah dibius agar tidak bangun di tengah perjalanan. Lagipula kawasan itu memang telah ditinggalkan penghuninya, kawasan di sekitar pabrik yang telah hangus terbakar.

Jinki mendudukkan tubuh Jonghyun di kursi dan mengikatnya dengan tali dari tas ranselnya. Tidak lupa ia memastikan bahwa sarung tangannya telah terpasang dengan baik setelah tadi ia melepasnya karena tidak terbiasa mengemudi dengan tangan yang terbungkus.

Sambil menunggu Jonghyun sadar dari pengaruh obat biusnya, Jinki membuka-buka dompet Jonghyun lagi, mengobrak-abrik isinya hingga foto-foto yang ada di dalamnya berserakan.

Sia-sia, tidak ada petunjuk mengenai hubungan namja itu dengan Eun Hee, isinya hanya foto-foto tiga bocah cilik dengan dua di antaranya adalah namja. “Ini pasti foto masa kecilnya. Cih, wajah kecil tanpa dosa, sayang sosok dewasanya begitu kotor.” cibir Jinki sambil melempar foto tadi ke wajah Jonghyun.

Jonghyun mulai mengerjapkan matanya, kedua alisnya bertaut melihat suasana di sekelilingnya yang tampak asing.

Srattt,

Sebaris darah terlukis di wajah Jonghyun karena pisau lipat yang dipegang Jinki. “Itu untuk orang yang telah membuatnya menangis!” ucap Jinki keji.

“Siapa kau?” tanya Jonghyun sambil meringis kesakitan.

“Aku? Aku adalah malaikat yang ditugaskan Tuhan untuk melindungi Eun Hee, tapi aku adalah devil bagi semua namja brengsek yang mencabik mutiaranya….” nada bicara Jinki makin melemah, karena kenyataannya Jinki pun merasa dirinya adalah salah satu dari namja brengsek tersebut.

Cih, untuk apa kau melindunginya?” Jonghyun tertawa sinis setelah mendengar perkenalan yang diucapkan Jinki.

Shikkeuro!”

Bukkk, bukk, bukkkk

Jinki menonjok pipi Jonghyun berulang kali hingga warnanya mulai berubah menjadi agak biru keabuan. “Apa yang kau lakukan padanya sampai dia memberontak dan menangis?”

“Aku? Hanya bermain dengan mantan yeojachinguku, menghabiskan sisa rasa cintaku padanya yang telah kusimpan selama lima tahun, apa salah? Bukankah itu sesuai dengan pekerjaannya?” Jonghyun berucap dengan tenang.

“Tentu saja ia menangis, paboya! Siapa pun akan menangis jika orang yang dicintainya justru ikut menodai harga dirinya!” Jinki berteriak dengan pisau lipatnya yang kembali menorehkan tiga goresan di pipi Jonghyun.

Jonghyun makin kesakitan karena empat goresan yang diterimanya tanpa bisa melawan. Ia mulai merintih kini.

Cih, mana ada seperti itu. Bagi pelacur seperti dia, semua namja sama saja, yang membedakan hanya uang yang dikeluarkannya untuk membayar semua pelayanan yang telah diberikan pada….”

“Kau tidak paham apa yang membuatnya seperti ini!” teriak Jinki tepat di depan wajah Jonghyun.

“Tidak perlu paham, intinya dia pelacur. Karena aku telah membayar mahal untuknya kini, aku berhak memintanya melakukan apa yang kuinginkan. Pelacur tetaplah pelacur, ia telah mengkhianati cintaku demi profesi itu…wajar jika aku…”

DORRR…

Ucapan Jonghyun terhenti karena sebuah peluru telah menembus tepat di tengah-tengah keningnya, bersarang dengan indahnya sehingga memudahkan Jinki untuk menikmati sensasi ketika menarik peluru tersebut dari peraduannya kini. Dimasukkannya peluru berlumur darah tersebut ke mulut Jonghyun.

“Ini untuk orang bodoh yang tidak memahami makna cinta.” bisik Jinki di telinga Jonghyun sebelum meninggalkan tempat pembunuhan tersebut.

TBC…

+++++

Di part ini ga ada genre fantasy-nya karena emang ga ada hal yang berbau fantasy di part ini. Dan ga tau ff ini mesti dikategorikan sebagai NC bukan, abis kayaknya sadis banget.

Engga bosen-bosen aku bilang makasih buat yang udah mau baca ff ini dan ngasih komen baik di blog ini maupun by sms. Aku nerima semua keritikan kecuali yang bilang kurang panjang.

Oya. Ff ini aku post di wp pribadiku dan wp chinguku—ayu. Terakhir di shiningstory, jadi kalau ada yang nemu ff ini di tempat lain, bilang-bilang ya…

Don’t forget to give me oxygen, OK?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

52 thoughts on “The Devil – Part 3

  1. Ya.. Jongie oppaa.. Gajima..!!
    Jinki.. Apa yg kau lakukan..??
    Huwa…#nangis darah
    Btw, 2min ga kliatan batang idungnya di sini..
    Next.. Next..

  2. Aigo, Jinki kenapa kau bunuh pasanganmu? <== abaikan #JYSkambuh
    o_O Itu si Eun Hee diapain sama Jjong? Jangan-jangan… #odong

    Lanutan.😀

  3. Jonghyun baru nongol udah mati aja….

    Owh,,,jadi devil-nya Jinki ya,,,dari kemarin2 aku penasaran siapa sih devil-nya,,,aku kira Key…

    Ditunggu next part….

    1. hahaha iy ya.. jjong bru nongol udh mati.. aq bru ngeh -.-a

      devilnya itu si author 1nya.. hahahaha *kabuurrrr

      tunggu aj ya..
      gomawo

  4. Fantastis,, Ending part-nya bikin Menghela nafas berat. Bayangin angel face Jinki jadi pembunuh berdarah dingin, aku rasa Feel-nya dapet. Penggambarannya sempurna. Baru kali ini aku menyatakan setuju dengan karakter “kejam” dari seorang Lee Jinki. Two thumbs buat Bibib dubu sama Mimi oen,,😀

    “Keberatan, jika kau terus memamerkan paha indahmu selama perjalanan kita.” aku terharu sama Key di scene ini. Pembawaan dia sbg detective yg calm juga cocok. Ehm itu diatas Intelegen,, add yg terasa janggal. Tp aq juga gx yakin sih yg bener itu intelgen, inteljen atau intelegan.hehe

    Dapat dipastikan, si Devil bukan Key,Jinki,Jonghyun dan Minho. Jadi satu2 alibi mengarah pada Taemin. Di part ini mulai terbuka satu persatu dr cast-nya. Jadi gx pusing2 nebak lagi kayak kemarin,,,hha

    Yg masih bikin penasaran, hubungan Eunhee,Jinki,Yoochun. Kenapa Jinki benci sama Yoochun. Dan Chaeryn itu saudara seayah Jinki. Makin muter nih, kayak lingkaran setan,,,

    Eh,, iya,, Jonghyun-nya matikah?? Gimana reaksi Key tuh,,,

    menurutku, ini masih genre PG 17 kok,, kecuali nanti kata2 kasarnta bertambah, scene sadisnya bertambah, may be bisa masuk NC,,,

    intinya,, aku cuma mau nunggu next part-nya,,😀😛

    1. nah itu.. aq jg bingung.. intelegen apa intelejen.. dr kmrin tuh mikirin.. hahaha males buka kamus..

      waahhh udh mulai terbuka kah???
      bnr tuh.. hubungan2nya rumit ye..

      iy noh jjong bru nongol udh mati.. kasian jg ya.. mklum cuma cameo.. kkkkkk

      silakan menunggu klnjutnnya…
      oh im so curious yeaaahh *dance sherlock*
      gomawoooooo

    2. Haha,, sama juga oen,, males nginget2nya juga,, cuma emang ngerasa janggal ajj sih,,,

      Hmm,, baiklah,, yg jelas aku tinggal terima beres, baca, ngelike, koment ajj,, bagian hubungan njlimet n bingung-nya biar kalian berdua yg mikirin,#ditimpuk rame2

      To Night,, shinee in the house, give it up,, give it up, give it up for SHINee,,#ikutan mimi oen dance sherlock

    3. suka komeng nya @ vikeykyulov. cerdas! ^^b
      kyak’y lu trmasuk org yg nebak2 lnjutan jln ceritanya. gak cuman asal baca en komeng “daebak thor”..

      author : wahh si ateng nongol lagi?!
      gw : nangis, tabur bunga di makam jong.

      *ateng = org yg sotoy* kekeke😛

  5. JEGEERRRR ngapain itu Jjong sama Eun Hee? WEw o.O Jjong matiii~~ Tidaakkkk~ Jinki kenapa jahat banget ya? Ampun deh laki gueeeee kenapa sejahat ituu???

    ditunggulah part selanjutanya yaaaa😀

    1. haha lucu bc komen qm..
      jedeerrrrr

      jinki jht bgt ya.. jd g kbyng.. haha untung g sangtae pas ngelakuin kjhtnnya (?)

      yoi.. tunggu yo
      gomawo

  6. Aku udh ngrasain perubahan dr versi aslinya d part 2 kmren… D part ini mkin kerasa …
    Mnurutku jd lbh halus…tp ttp g merubah jln crtanya..itu yg aku suka…
    Daebak…kolaborasi kalian b2…

    Udh ah,,tkut mkin byk komen jd ngebocorin jln crt nya…ttp d tunggu next part nyaa…

  7. Aku udh ngrasain perubahan dr versi aslinya d part 2 kmren… D part ini mkin kerasa …
    Mnurutku jd lbh halus…tp ttp g merubah jln crtanya..itu yg aku suka…
    Daebak…kolaborasi kalian b2…

    Udh ah,,tkut mkin byk komen jd ngebocorin jln crt nya….ttp d tunggu next part nyaa…

  8. Hwaaaa~ abang Onyu knp sadis bngt disini? Makin pnsrn deh sm hbngan antara Jinki, Eun Hee, dan Yoochun.

    Taem ga nongol disini, aku makin yakin kalo Devilnya itu Taemin dan smkin kesini aku jg smkin gak rela kalo mslnya si Devil itu beneran Taemin!! Aaaaa author gmna dong ini??!!! #reader rempong#😮

    Baiklah sekian komen dr sy, dan sprti biasa ffnya bagus banget, feel mencekamnya dapet. Two Thumbs Up buat kolaborasi 2 author ini🙂

  9. Hiks endingnya T^T… kenapa jongie hrs metong? kenapa kenapa kenapa? lari meluk jinki *lho?*

    Park Yoochun << dia ini sbnrnya kenapa ya???? kenapa semuanya nyari dia ya? wah kli ini devilnya ndak keluar…

    Daebak. ditunggu next partnya… ^^

  10. ommooooo ,, kaget banget pas jonghyun dibunuh ..
    ntar key ama jinki musuhan dunkz …
    waaaccchhhh ,,, feel’nya dapet banget nech ..
    entah kenapa aku jd gamang ngebayangin situasi mereka ..
    yoooo ,, ditunggu lanjutannya ..

      1. iyaa nech , antara kasian ama sebel juga ..
        baru muncul tapi kelakuannya nyebelin …. (-_-)”
        part selanjutnya jangan lama2 !!

  11. si Jong meninggal?
    #PrayToJonghyun T.T
    gw mlah hmpir lupa klo jonghyun jg ada di ff ini. abs cm nongol sbntr sih di part1. di part3 pun cm cameo, trus metong #PrayToJonghyunAgain

    hubungan para castnya mkin terungkap nih. cm msh pnasaran ama park yoochun?
    jngan2 mreka ktuker lg. eunhae adik kakak sm chaeryn. yoochun adik kakak sm jinki *Korban sinetron*😛

    musuh key nmbah nih. taemin si devil, en jinki si pembubuh *pose mikir*

    author : sotoy lu ahh. kayak ateng aje!
    gw : nangis di makam jonghyun

    haha kyk’y klo gw komeng di ff ini, lama2 makin ngaco aje😛
    lanjjuuttt yah thorr. aye tunggu…

    1. hahahhaah pray for jonghyun.. wakakakaak
      dasar kamu ini

      kkkk klo pada tertukar, judulnya itu the devil yg tertukar -__- hahaha

      ateng siapa?? hhihihihiii kyk pernah denger deh =.=a

      ok.. tunggu aje ye lanjutannye..
      gomawo udh baca

      1. iyah doong. ms Pray To Poconggg, kan gak bngt. ape lagi Pray To Afiqah ini lbih aneh lagi. haha
        mau Pray For Shinee, biar sherlock nya sukses hehe ^^v

        ateng = org yg sotoy

        itu lohh pan gw jg ikut komeng di komennya @vikeykyulov (tunjuk2 komen di atas)

        1. Buakakakak,,, ternyata saya menemukan org yg setipe,,, sama2 rempong suka koment sana-sini,, gua suka gaya lu#ajak toss nar pyon,,,

          paling seneng sih,,, ngerempong rame2,,#dilirk tajam sama mimi oen,,,

  12. sumpah d sadis amet jinki oppa..
    astga!
    malaikatku! mengapa kau jadi kayak bgni??

    jonghyun oppa!
    sabar y…
    peranmu dikit bgt disini…
    *nepuk-nepuk punggung jjong oppa…

    key…
    tabah y…
    uda kehilangan adek, sekarang malah kehilangan kakak…
    astaga..

    btw, 2min kemana ni?
    kok ngga keliatan?

    suka!!
    good job! ditunggu lanjutanya!

    1. lucu komen qm.. hahaha

      jinki malaikat berwarna hitam.. sadis sih dy.. coba baik.. putih deh..

      jjong kli ini cm dbyr jd cameo..
      key.. malangnya ya..

      2min lg diistirahatkan

      gomawo udh bc.. tunggu aj ya.. mgkn agk tlt.. lg ngurus skripsong

  13. telat banget baru baca part 3 TT

    Pertama banget, aku tahu my Jonghyunnie Oppa pasti bakal dibunuh pas ditangkep Jinki tapi tetep aja menghela napas berat pas Jonghyunnya dibunuh. Jjong, Jjong, kasian banget lu, baru nongol sebentar banget di cerita udah tamat aja riwayat lu sekarang. Yaudah pindah lokasi aja deh ke mimpi gue #eh

    Peluh keringat yang membuat tubuhnya lengket dan kotoran wajah yang mengotori wajahnya yang berwarna pucat”

    Kalimat ini sebenernya gak apa-apa tapi ada yang agak janggal menurutku pas bacanya. Peluh keringat itu bukannya dua kata dengan makna yang sama ya? Setau aku, peluh adalah keringat, jadi kalau udah pake kata peluh gak usah pake kata keringat lagi karena kalimatnya jadi kurang efektif. Terus yang wajah-wajah jadi agak lucu pas baca karena diulang kata-kata wajah itu. Gimana kalau “kotoran yang mengotori wajahnya”?

    Sekarang aku udah mulai bisa ngeh sama latar waktu dan tempatnya, mungkin karena udah mulai terbiasa sama gaya penulisannya bibib sama rachmi eon. Bahkan aku udah bisa nebak sedikit-sedikit siapa yang dimaksud dengan “namja itu” (aku nebak Jonghyun yang pas di tempat kerjanya Eun Hee hehe). Cuma tadi sempat terkecoh pas Key nganterin Eun Hee ke rumah sakit, kirain yang ngintilin itu si Jonghyun, taunya Jinki.

    Terus pas Eun Hee nabrak Chaeryn itu dan Ryn manggil oppanya, si Eun Hee gak nengok dulu untuk liat siapa yang Chaeryn panggil sebagai Oppa? Karena menurutku jadinya scene Eun Hee nabrak Chaeryn jadi gak ada maknanya lagi dan jadi sia-sia gitu, seolah kalau Eun Hee gak nabrak Chaeryn pun gak apa-apa. Mungkin kalau Eun Hee dibikin nengok dan ngeliat terus dia jadi ngerasa familiar sama cowo yang lagi nyamar itu, scenenya bisa jadi lebih bermakna meski misalnya akhirnya si Eun Hee gak ambil pusing sama itu cowo.

    Hehehe panjangnya commentku :p Aku minta maaf yaa kalau ada yang kurang berkenan. aku comment sesuai dengan seleraku aja kok. Jadi gak terpaku harus seperti apa yang aku comment-in. Aku suka banget ini, ditunggu part selanjutnya. Semangat buat kedua author🙂

    1. aq demen deh komen km, biar tangan lg linu krn infus,aq belain bales.

      Yoi, peluh ama keringat sama, sejenis sama ‘amal perbuatan’, peluh cm pnambah aja biar ga hampa(?).
      Yg kotoran itu, ah iya km bener, qt ga ngeh kl kalimatny aneh…thx ya masukanny, jd ntar lbh ati2.

      Sbnerny alurny maju smua, kcuali yg ada kterangan flashback-nya. Jd waktuny maju semua. But, km bner, qt mesti lbh merhatiin setting waktu n tempat, krn dua poin itu penting bgd.

      Masalah scene nabrak itu, ntar ada maknany kq,hehe…

      Thx a lot yah bwt masukanny. Dtunggu kritik saranny lg

      1. eh? kamu lagi sakit apaaa? sampe diinfus gitu
        padahal tangan itu berharga banget buat author untuk ngetiknya (selain otak sebagai sumber ceritanya hehe)
        Aduh kamu cepet sembuh yaaa, lain kali jaga kesehatan🙂

  14. HWAAAAAA……..jjong andwae#mukul” kuburan jjong.
    onyuu,mengapa?,mengapa kau begitu kejam?.
    bagaimana jika key tahu bahwa kau tlah membunuh jjonggie..
    dan jjong,mengapa kau begitu kejam trhadap yeojachingu mu sndiri?,kau apakan eunhee mu itu?

    anu..aku ngitung tahun dulu pas mw baca epep ni,ternyata umurku udah 15 thn..
    ah,leganya..
    a-yo dua unnie ku lanjutkan….
    HWAITING

    1. aq kaget bc komenmu.. hahaha ngapain itu mukul2 kuburan.. hahaha

      hayoo gimana ya klo key tau yg bunuh hyungnya itu jinki.. hayoooo

      hahaha smpe ngitung umur.. hihihi

      gomawo ya udh bc..

  15. jangan2 jinki n eun hee sodaraan lg
    ketauan dr kalimat “sehingga tidak akan ada seorang bayi tak berdosa yang lahir ke dunia ini dengan membawa rasa malu dan cacat”
    key pinter bgt sih memutar balikkan kata2
    onew bner2 kejam ya
    jonghyun kan kakaknya key
    key bisa aja tar balas dendam ke onew
    aduhh, ternyata smua saling terkait 1 sma lain

  16. Key ngumpetin yoochun dimana?
    Aduuuhh jinki jangan bunuh orang donk,aku jadi takuuutt,,,
    Aku ga bisa bayangin muka angel macam jinki bisa kaya gitu maen JDAR JDORin pala orang,,,
    Kalo key hehe miyan lockets,bisa kebayang muka setannya.
    Minho nya keluarin lagi donk…

  17. kira2 key ud nyamperin tmptny yoochun blm y?brarti jjog mati dong??aigooo kasian key,,brarti dr 3 bersaudara two tgl dy sndiri?lsg k part slnjutny dey,,

  18. Makin sayang sama jinki aish. Dia sampai nangis gitu pas digodain eunhae. Apa jangan² dia juga anak yg lahir yg tak berdosa?

    Perannya minho kurang kelihatan ya disini wjwj

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s