Summer Boon

Summer Boon

Author             : ZaKey

Main Cast        : Lee Taemin,

Support Cast    : Onew, Jonghyun, Key, Minho

Length             : One shot

Genre              : Life, Friendship

Rating              : General

Summary         : Kebaikan kecil yang kita lakukan secara ikhlas akan kembali lagi kepada kita  dalam kondisi berlipat-ganda. Yakinlah bahwa Tuhan maha Melihat dan Mengetahui apapun yang kita lakukan.

Matahari bersinar terik siang itu. Angin hanya sesekali berhembus, meniup debu-debu di permukaan benda. Tidak ada kicauan burung – mungkin mereka tengah beristirahat di sarang. Jalanan sepi, hanya beberapa kendaraan yang lewat dengan derum muram. Tetesan air hujan sisa semalam dari ujung atap halte bus ke trotoar begitu konstan dan membuat siapapun mengantuk. Seekor kucing melintasi halte dengan malas, mencari atap perlindungan dari sengatan panas khas akhir musim panas.

Seorang namja duduk bersandar di dalam halte. Headset-nya yang sedari tadi mengalunkan lagu-lagu kesayangannya ke dalam gendang telinga seakan tak cukup membunuh rasa bosan yang mulai menggerogotinya. Kakinya yang terbalut sepatu kets mengetuk-ngetuk tanah seirama dengan lagu. Ia melepas headset dan mendesah. Tengah hari di musim panas seperti ini, halte bus begitu sepi dan hening, hingga ia nyaris yakin semua orang di Korea bermigrasi untuk menghindari panas.

Bus berwarna hijau yang sedari tadi ditunggunya tak juga datang, benar-benar menguji kesabarannya. Namja itu berdiri untuk meregangkan badannya yang pegal akibat terlalu lama duduk, namun dompetnya jatuh dan menghamburkan semua uang koin yang berada di dalamnya. Ia melepas headset, mengumpat dalam hati ketika menyadari seluruh koinnya menggelinding ke keempat penjuru mata angin. Pasti membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mengumpulkan semuanya.

“Ah, sial!” umpatnya keras saat kakinya terpeleset genangan air. Pemandangan yang menyedihkan, syukurlah tak ada orang disana. Namja itu mengusap-usap sikunya yang lecet, dan menyadari sebuah tangan putih terulur padanya.

“Perlu bantuan?” sebuah suara terdengar begitu jernih di telinganya. Namja itu mendongak dan mendapati seorang namja lain yang sedikit lebih muda darinya berdiri di dekatnya, tersenyum lebar. Rambut pirangnya memendarkan cahaya matahari.

“Ah, yeah. Jika kau tidak keberatan, aku menjatuhkan semua koinku,” jawabnya pelan, menerima uluran tangan itu untuk berdiri. Namja berambut pirang itu terkekeh, kemudian menyorongkan selembar plester untuknya.

“Tentu tidak. Aku tak keberatan.” Gumam namja pirang itu ringan, dengan sigap mengumpulkan koin-koin yang berceceran setelah memperhatikannya sejenak memasang plester di siku, “Lee Taemin imnida. Neoneun?”

“Choi Minho,”

“Ah, nama yang bagus. Bukankah itu bus yang kau tunggu? Kelihatannya sudah tiba,” Minho ikut mendongak. Benar saja, sebuah bus berwarna hijau berjalan lambat ke arah mereka, tepat setelah Minho mengambil koin terakhir.

“Ini uangmu,” ujar Taemin sambil menyorongkan koin-koin ke telapak tangan Minho.

“Kamsahamnida…Taemin ssi,” gumam Minho. Entah kenapa senyum di wajah Taemin membuatnya merasa begitu nyaman dan tenang, nyaris melupakan panas yang seakan membakar tengkuknya.

“Cheonmaneyo. Sampai jumpa lagi, Minho ssi,”

Minho melompat ke dalam bus yang lengang dan memilih tempat duduk sebelah kiri agar ia dapat memandang Taemin, namun namja itu telah menghilang.

~~~

Jonghyun memandang sekelilingnya dengan tatapan malas. Justru di saat-saat ia ingin segera beristirahat, yeoja yang ditunggunya tak kunjung datang. Apa Tuhan sengaja mengujinya di tengah terik matahari seperti ini? Yang benar saja…

Suasana taman benar-benar damai dan hening. Suara melengking jangkrik-lah satu-satunya penanda waktu tidak sedang berhenti. Dahan-dahan pohon ek tua yang meneduhi hampir seluruh taman bergoyang-goyang lembut tertiup angin, memberi bayangan indah di tanah berpasir. Matahari yang masih bertengger di puncak langit membagikan cahayanya kepada siapapun secara cuma-cuma, entah kenapa lebih mengundang umpatan dan erangan tidak senang daripada lontaran penuh syukur karena masih diperkenankan memandang sumber energi tersebut.

Tangan Jonghyun bergerak memeriksa lembaran kertas berisi lirik yang telah dibuatnya sejak beberapa bulan yang lalu. Setidaknya ia bisa berlatih sedikit sebelum rekaman nanti sore. Ia meletakkan beberapa lembar di samping tempatnya duduk dan mulai berkonsentrasi pada kertas di tangannya.

Angin rupanya tidak sedang ingin berkompromi dengannya. Hembusan yang cukup kencang dan tiba-tiba membuat lembaran berharganya terbang tertiup angin. Jonghyun terkesiap, kemudian berdiri untuk mengejar kertas-kertas itu.

“Yaah, chankkanman!” desisnya. Kertas-kertas itu masih menari-nari udara, sementara lainnya menyapu tanah berpasir dan mendarat disana.

“Satu, dua, tiga…oh, sial. Dimana yang satu itu?” erang Jonghyun setelah mengumpulkan lembarannya. Ia menyisipkan kertas ke dalam map yang tadi dibawanya dan mulai mengelilingi taman, mencari lembar terakhirnya.

“Ada yang bisa kubantu?”

Jonghyun mendongak, menyadari seorang namja jangkung berambut gelap berjalan dari halte bus tak jauh dari taman. Ransel hitam masih bertengger di satu pundaknya dan bus berwarna hijau baru saja lewat, tanda namja itu baru menjejakkan kaki di tanah.

“Ah, aniyo, aku sedang mencari kertas berhargaku,” jawab Jonghyun sekenanya. Ia sedang tidak ingin diganggu saat ini – terlebih sekarang, saat kertas-kertas berharganya hilang.

“Kertas? Kertas apa?” nada suara namja itu terdengar serius dan antusias.

“Err…kertas putih biasa berisi lirik lagu…yang kubuat,” gumam Jonghyun tak yakin, sedikit terkejut karena namja itu langsung mencari tanpa bertanya lebih lanjut.

“Kau sudah mencarinya?” tanya namja itu sambil membungkuk di bawah perosotan anak-anak.

“Yeah, tentu saja. Aku sudah memutari taman ini beberapa kali,”

Namja jangkung itu tampak merenung sejenak, kemudian mendongak, memicingkan mata memandangi tiap dahan pohon ek. Sesaat kemudian senyumnya mengembang.

“Itu…bukan?”

Jonghyun ikut mendongak, kemudian melebarkan mata memandang selembar kertas putih melambai-lambai di salah satu dahan, “Omona~ kenapa bisa sampai sana?”

“Geogjonghajima, aku akan mengambilnya,” ujar namja jangkung itu sambil menurunkan ranselnya di tanah, kemudian mulai memanjat pohon.

“Ya-yaah, apa yang kau lakukan?”

Jonghyun tak habis pikir dengan tingkah laku namja asing itu. Kenapa rela memanjat pohon setinggi itu di hari yang panas seperti ini demi seorang namja? Ia bisa mengerti alasannya jika yeoja yang membutuhkan bantuan, tapi ini…

Jonghyun tersenyum simpul. Mungkin ini yang namanya namja sejati yang sebenarnya – membantu siapapun yang membutuhkan. Sekarang, kenapa ia tidak berusaha seperti namja itu?

“Kamsahamnida, kau benar-benar baik padaku. Ya, kau tahu maksudku, kan? Jarang ada orang sepertimu di zaman sekarang,” ujar Jonghyun ketika namja jangkung itu telah kembali ke hadapannya. Namja berambut gelap itu terkekeh mendengar ucapan canggung Jonghyun,

“Seseorang telah membantuku beberapa saat yang lalu, kini saatku untuk membantu orang lain,” ungkapnya sambil menyerahkan kertas ke tangan Jonghyun. Jonghyun tersenyum lebar, menyetujui perkataan namja itu.

“Kau benar…”

~~~

Berbeda dengan matahari terik di luar, suasana dalam perpustakaan justru cenderung sejuk dan lembab. Bau khas deretan buku-buku yang telah berumur dan rak kayu menciptakan kesan tenang dan damai di dalam ruangan berlangit-langit tinggi yang lengang itu. Hanya tampak seorang namja berambut pirang yang sibuk menumpuk buku-buku tebal di salah satu sudut perpustakaan.

“Kibummie, liburan musim panas seperti ini kau malah belajar. Kau tidak berlibur?” sapa penjaga perpustakaan tengah baya itu dengan ramah. Kibum tersenyum,

“Ini adalah liburanku. Aku sudah cukup senang hanya dengan membaca buku-buku ini,”

“Jinjja? Oh, astaga…semua buku yang kau pinjam ini berbahasa inggris!”

“Ah, ye. Aku ingin meningkatkan kemampuan berbahasa inggrisku,” jawab Kibum sopan. Seandainya bisa, tentu ia akan menghabiskan waktu bercakap-cakap dengan wanita ramah itu, namun ia sadar wanita yang telah dianggapnya sebagai ibu keduanya itu harus menutup perpustakaan lebih awal untuk berlibur beberapa hari sebelum hari kerja dimulai lagi – meski wanita itu selalu berkata tidak membutuhkan liburan karena tidak punya keluarga.

“Geureom, aku pinjam buku-buku ini, ajumma~”

“Ne, hati-hati di jalan, Kibummie,”

Kibum melambaikan tangan sebelum membuka pintu kaca perpustakaan. Sinar matahari seakan menusuk kulitnya yang beberapa jam terakhir ini terbiasa dengan udara perpustakaan. Ia memicingkan mata, berusaha mengingat dimana ia memarkir mobil mungil kesayangannya.

“Ah, itu dia,” desahnya lega. Langkahnya terhenti melihat seorang gadis kecil berdiri di pinggir jalan, memandang jalanan yang ramai dengan mata nanar. Bekas air mata terlihat jelas di pipinya yang chubby. Kibum menelengkan kepala, bingung antara menolong atau pura-pura tidak melihat. Menolong mungkin akan membunuh waktu berharganya, tapi…

“Annyeong, dimana ibumu, gadis kecil?” suara lembut itu membuat Kibum tersadar dari pikirannya. Seorang namja berambut gelap berjongkok di depan anak itu, membelai rambut hitamnya.

“Eomma katanya tidak akan pergi lama, tapi aku sudah lama menunggu.” rengek anak itu, tidak bisa menahan air matanya lagi. Namja itu tersenyum menenangkan,

“Uljima~ kau tentu tahu nomor telepon eomma, kan? Aku bisa meneleponnya untukmu dan kita akan menunggu eomma datang bersama,”

“Jinjja?” gadis kecil itu mendongak, memandang namja itu dengan mata berbinar.

“Tentu. Kau haus tidak? Bagaimana kalau aku membelikanmu es krim dan kembali kesini?”

Gadis kecil itu tersenyum lebar, “Gomawo, oppa~”

“Nah, sekarang pegang tanganku erat-erat dan kita akan ke kedai es krim disana,” namja itu memindah map ke tangan lainnya dan mengulurkan tangan yang bebas, yang segera disambut oleh gadis kecil.

“Kenapa oppa baik sekali padaku?” tanya anak itu polos. Namja itu terkekeh sebelum menjawab,

“Karena sebagai namja sejati aku harus membantu siapapun yang kesulitan,” namja itu menggendong si gadis kecil agar dapat melihat menu yang dipajang di depan kedai, “Kau mau rasa apa?”

Pemandangan singkat yang sederhana itu cukup membuat Kibum tersentuh. Apa yang ia lakukan selama ini? Berpegang pada ilmu yang telah ia dapatkan tanpa sedikit pun mengerti kondisi orang lain. Mungkin mulai detik ini ia harus berubah. Berubah menjadi namja sejati, seperti perkataan namja berambut gelap barusan.

Kibum tersenyum lebar dan memantapkan langkahnya menuju porsche silver yang setia menunggunya.

~~~

“Kamsahamnida~”

“Kamsahamnida…”

Onew membungkuk sekali lagi sebelum keluar dari kantornya. Akhirnya ia mendapat libur beberapa hari sebelum musim panas berakhir. Mungkin ia harus mengajak adik semata wayangnya berlibur besok, entah kemana.

Langkahnya berhenti saat sebersit pikiran muncul di benaknya. Benar juga, hari ini adiknya berulang tahun dan ia belum membeli hadiah. Onew menggaruk kepalanya yang tak gatal. Apa yang harus ia beli? Ia tak tahu hal yang sangat disukai adiknya karena namja itu selalu menerima pemberiannya dengan gembira.

Onew melonggarkan dasinya. Meski sudah mulai sore bukan berarti matahari semakin redup, bahkan semakin panas sekarang. Ia mengerang, kemana ia harus pergi sekarang? Jika ia pulang dulu dan keluar lagi untuk membeli hadiah, adiknya pasti curiga dan mengetahui rencananya.

Toko mainan? Tidak, karena adiknya telah berumur 18 tahun hari ini. Bunga? Tidak mungkin. Boneka? Jelas bukan. Onew berhenti di tepi jalan, memperhatikan deretan pertokoan yang mengundangnya untuk masuk. Tiba-tiba ia merasa menyesal tidak pernah bertanya apa kesukaan adik tersayangnya itu.

Pandangannya tiba-tiba terpaku pada sebuah toko mungil di ujung jalan. Ya, tidak akan ada yang menolak sebuah kue ulang tahun. Onew tersenyum gembira menyadari pikirannya dan mempercepat langkahnya kesana.

“Annyeonghaseyo…”

Aroma rempah-rempah yang manis merasuki indra penciuman Onew saat ia mendorong pintu kaca toko kue. Deretan etalase kaca memamerkan berbagai bentuk dan ukuran kue yang menarik. Tunggu, tapi ia tidak tahu seperti apa selera adiknya. Bodoh sekali.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya pegawai toko dengan ramah.

“Ah, ne. Aku mencari kue ulang tahun untuk adik laki-lakiku tapi aku tidak tahu seperti apa seleranya. Umurnya 18 tahun hari ini,” jelas Onew cepat.

“Chankkanman,” pegawai toko menunduk, mulai mencari kue yang tepat. Onew menyapukan pandangan sembari menunggu, dan berhenti pada seorang namja berambut pirang yang kini memunggunginya.

“Bagaimana jika yang ini?” sebuah kue coklat mungil diletakkan di atas etalase agar Onew dapat melihatnya. Simpel, namun tetap terlihat indah dengan ukiran-ukiran coklat putih yang rumit di bagian sampingnya.

“Ah, ya. Ini saja,” jawab Onew – sedikit – yakin.

“Silakan ke kasir untuk membayar.”

Onew menghentikan langkahnya. Tunggu, dimana dompetnya?

“Tuan?”

“Chankkanman, kelihatannya aku meninggalkan dompetku di rumah. Bisa kubayar besok? Aku tidak mungkin mengambilnya sekarang karena adikku ada di rumah,” pinta Onew dengan nada memelas.

“Jweosonghamnida, tapi silakan kembali besok.” Jawab kasir itu mendadak dingin,

“Kumohon…”

“Tidak.”

“Permisi, biar aku yang membayarnya.” Onew menoleh dan melebarkan mata melihat namja berambut pirang yang tadi dilihatnya kini berdiri di sampingnya, mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya.

“Kamsahamnida~”

“Chankkanman, apa yang kau lakukan?” namja berambut pirang itu tersenyum pada Onew dan memberikan kotak kue.

“Aku hanya ingin membantu seseorang, dan orang yang beruntung itu adalah kau – atau adikmu,”

“Tapi…”

“Sudahlah, lupakan.” Namja itu memandang Onew, “Adikmu berumur 18 tahun hari ini? Chukhaeyo…”

“Ne, kamsahamnida. Ya, chankkanman, aku harus mengembalikan uangmu!” seru Onew sambil mengejar namja yang kini berjalan keluar dari toko. Namja itu berhenti di depan porsche-nya, menunggu Onew yang berlari mengejarnya.

“Ah, benar juga. Adikmu berulang tahun, kan? Kenapa kita tidak membelikannya hadiah?”

“Ah, iya, tapi aku lupa membawa dompet dan aku tidak tahu seperti apa seleranya, jadi…” Onew menghentikan ucapannya, kemudian mengerutkan kening, “‘kita’?”

Namja berambut pirang itu terkekeh, “Kaja!”

~~~

Taemin melirik jam dinding. Pukul enam lewat, tapi kakaknya belum tiba juga. Tanpa sadar ia menekan tombol joystick lebih kuat daripada diperlukan. Sendirian saat liburan musim panas seperti ini sungguh tidak menyenangkan, ditambah lagi kenyataan ia tidak bisa makan apa-apa sebelum kakaknya pulang.

Taemin membiarkan televisi di depannya mati, kemudian merebahkan diri di sofa. Membosankan, juga kesepian. Satu-satunya yang dari tadi berbicara padanya adalah kipas angin yang berputar ribut di atasnya.

“Aku pulang~” suara itu membuat Taemin kembali membuka matanya yang nyaris terpejam. Ia melompat dari sofa untuk menyongsong kakak satu-satunya di pintu depan.

“Hyung, selamat datang! Kenapa lama sekali? Oh…” Taemin berhenti bicara melihat seorang namja berambut pirang yang berdiri di depannya. Namja itu tersenyum ramah,

“Kim Kibum imnida. Kau pasti Lee Taemin, kan?”

“Eumm…dari mana kau tahu? Siapa kau?” tanya Taemin, tak bisa menyembunyikan nada curiganya. Ia tadi seratus persen yakin mendengar suara Onew, tapi namja berambut gelap itu tak ada disana.

”Aku teman Onew hyung,”

“Dimana dia sekarang?”

“Dia…”

“Saengil chukahamnida, Taeminnie~” seru Onew dari luar. Tangannya membawa senampan kue coklat dengan lilin berbentuk 18 di atasnya. Taemin melebarkan matanya.

“Hyung…”

“Kau senang, kan?”

Taemin tak sanggup menjawab. Selama 7 tahun terakhir ini, setelah ibu mereka pergi entah kemana, ia tak pernah merasakan ulang tahun, dan kini di depannya, kue ulang tahun yang selalu ia idam-idamkan tampak begitu bercahaya.

“Gwaenchana?” tanya Kibum khawatir melihat Taemin yang tak juga merespon. Taemin menoleh ke arahnya, kemudian memeluknya erat-erat,

“Gomawo, gomawo, hyung…” Kibum tampak sedikit terkejut, namun ia terkekeh senang. Membuat orang lain senang sungguh membuatnya puas.

“Bagaimana denganku, Taeminnie?” Taemin tertawa kemudian merangkul pundak Onew karena mustahil memeluk Onew selama kue itu masih berada di tangannya.

“Kaja, kita rayakan pesta ulang tahunmu!” seru Onew bersemangat. Taemin terkekeh dan mengikuti kakaknya masuk ke ruang tengah, meninggalkan Kibum yang masih tersenyum di pintu depan. ia benar-benar tidak menduga akan menemukan kebahagiaan dalam hal sesederhana ini.

“Masuklah sekarang,” gumamnya pada orang yang dari tadi menunggu di luar.

~~~

“Sebenarnya, Taeminnie, aku masih punya kejutan lain selain kue,” kata Onew dengan mulut penuh kue. Taemin mendongak penasaran,

“Apa itu?”

Dua tangan lembut tiba-tiba menutupi mata Taemin dari belakang. Bahkan sebelum melihat wajahnya, Taemin tahu siapa orang itu. Taemin menurunkan kedua tangan itu dan berbalik, memeluk wanita tengah baya berparas cantik yang berjongkok di belakangnya,

“Eomma…”

“Saengil chukahamnida, Taeminnie. Eomma takkan meninggalkan kalian berdua lagi,” bisik Nyonya Lee di telinga Taemin.

Onew tersenyum, kemudian memandang Kibum yang berdiri tak jauh dari sana, memandang mereka penuh haru. Ia mendekati namja itu,

“Kamsahamnida, Kibum-ah. Kau benar-benar malaikat,”

“Ah, tidak,” Kibum terkekeh, melambaikan sebelah tangannya, “kebaikan Taemin yang membuatnya bahagia. He’s the truly angel.”

Onew memandang ibu dan adik kesayangannya yang kini kembali bersama, “kau benar…”

Epilog

“Apa yang diinginkan Taemin?”

Onew melirik Kibum yang duduk di kursi kemudi. Sejujurnya ia merasa tak nyaman menerima kebaikan orang asing di sebelahnya, “Well, aku tidak tahu. Ia anak yang periang dan penurut, tak pernah meminta sesuatu yang aneh. Oh!”

“‘Oh’?”

“Dia ingin sekali bertemu dengan eomma, tapi sepertinya mustahil karena wanita itu telah meninggalkan kami sejak 7 tahun yang lalu,”

“Eodie?”

“Entahlah. Aku pernah dengar sekilas dari orang-orang…berhubungan dengan perpustakaan atau semacamnya,” gumam Onew tak yakin sambil menggaruk kepalanya. Kibum meliriknya singkat, kemudian mengerutkan kening. Berpikir.

“Perpustakaan? Oh!”

“‘Oh’?”

Kibum menyunggingkan senyum kemenangan. Pantas saja sedari tadi ia merasa familiar dengan wajah Onew, “Kelihatannya aku tahu apa yang harus kita berikan padanya.”

Onew melebarkan mata, “Benarkah?”

“Benar, dan ini akan menjadi hadiah ulang tahun Taemin yang terindah seumur hidupnya. Percayalah padaku.”

…::END::…

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

54 thoughts on “Summer Boon”

  1. ahhhh benar2 kebaikan yang beruntun .. >,<
    taemin yang mengawali, dan sekarang dia juga mendapatkan kebaikan .. jjong manis bgt .. key apalagi .. kereen… minho huwaa bener2 rela manjat .. wakakak
    keren ini.. moralnya dapet bgt ..
    inget diri dah kalo aku jarang senyum .. apalagi buat kebaikan .. ckckck
    ayo thorr… karyamu yang lain di tunggu …
    good ff .. gomawo .. ^^

  2. Kyaaaa.. kyaaa… *teriak2 gaje*
    Aku suka! Aku suka! Aku sukaaaaa! *masih teriak2*
    Ehem.. Pertama, aku suka gaya penuturan Author dalam menceritakan sebuah keadaan atau suasana (ngomong apa sih aku? -__-).. Kedua, tulisannya rapi… Ketiga, alurnya berjalan dengan lancar (?)… Keempat, sarat akan makna… Kelima, apa yaaa.. pokoknya aku suka lah.. 😀

    1. Kyaaa..kyaaa *ikut jerit2*

      Wah, makasih ya. Aku juga suka komen penuh makna kayak gitu, bikin tambah semangat 😀

  3. Uoooh like this so much…baca ff ini adem rasanya… jd inget anak kecil yg mengawali.gerakan “pay it forward” di amerika….
    “Krna ad Tuhan telah mengasihiku maka aku juga harus mengasihi sesamaku” itu slogannya hehe

    Sering2 buat ginian ya hehe

    1. emang pernah denger tentang ‘pay it forward’, tapi aku nggak tau itu kayak gimana -_- slogannya keren ya, haha

      makasih komennya 😀

  4. Ish, Ya ampun, DEMIAPAPUNINIKERENBANGET!!! T.T. Penggunaan kata-katanya bagus, ceritanya juga muantap(?). Jadi inti ceritanya itu kayak kebaikan yang kecil sekalipun bakal dibalas dengan kebaikan yang lebih besar lagi ya? Keren banget TT_TT

    Neomu Johaeyo! Daebak~ Keep writing Zakey i’ll support you^^

    1. MAKASIIIH!! Nge-fly baca komenmu ~

      iya, kebaikan apapun tanpa kita sadari pasti bakal balik lagi dengan yang lebih besar ^^

      thanks for the support. I’ll try harder 😀

  5. Wah,jarang” nih dpet ff kyak gini,,.
    Suka lh saiia pokok x…,aq pkir cwok yg di halte itu taemin,eh tw x minho,..,
    aq jd napsu u/ b’buat kebaikan,.,.,.
    Kli” aja ad yg mau ngebawa taemin kehadapan q #jesss
    okelah,., intinya ni Ff DAEBAK!

    1. Maunya sih awalnya Taemin pindah2 nolongin orang (?) tapi kayaknya lebih menarik yang masuk akal aja. Hoho

      Oh, nggak papa *ngasih Taemin* tapi ntar kembaliin lagi ya 😉 kyahaha XD

      Makasih udah baca 😀

  6. oh oh oh
    oh oh oh oh oppareul saranghae *knp jd nyanyi*
    mau ikut ber-oh ria sm key n jinki.. kkkkk

    taemiiiiiiin aaaa baik bgt.. smpe mnjlr gtu kebaikannya…
    n yg lucu itu minho.. tergelincir.. trus jjong.. smpt2nya mikirin knp cwo nolong cowo.. ckckck
    jjong akhirnya jd namja sejati ya kkkkkkk

    keren thor.. simple tp dalem maknanya

  7. Serasa udh pernah bc ne ff..tp lupa d mana?
    Or ini udh pernah d post d sini ya?or prnh d post d t4 laen???

    Yg pasti,aku sukaaaaa…
    Penuturannya ringan tp ne ff yg penuh nilai2 moral d dalamnya…
    #serius bgt gue…

  8. Yeah.. I like this story so much..
    Ceritanya menyentuh sekali.. Walaupun rasanya sudah pernah baca, tpi tetep aja penasaran..
    Suka dch sama pesan moral’a.. Memang, setiap kbaikan yg qta kerjakan akan kembali dalam bentuk yg tdk qta sangka sama skali..

    1. kayaknya kamu emang udah pernah baca deh *sotoy*

      Bener banget. Kadang kita bahkan nggak sadar yang kita terima itu hasil perbuatan kita sendiri 🙂

      makasih yaa ^^

  9. astaga bener bener ff yang mulia, ssaling membantu di zaman sekarang dengan ikhlas sangatlah jarang terjadi..
    sumpah keren ! ternyata mereka berhubungan satu sama lainnya..
    suka pas dibagian Key ketemu dengan Onew..
    OnKey daebak !!!

    1. ya ampun, mulia?? Jadi maluu *sembunyi di balik Taem*

      OnKey shipper? Ohoho, mereka emang diem2 menghanyutkan (?)

      Makasih komennya 😀

  10. Ommonaaaa,,, aku suka sekali sama jalinan ceritanya,,, siapa menabur kebaikan,, maka dia pula yg menuai hasilnya,,, berawal dr Taemin yg menolong Minho hingga beruntun pada Jjong,, trs sikap Jjong membuka mata hati Kibum sampe berujung pada Onew dan Taemin kembali,,, suka,, sukaa,, narasi sama pendeskripsian settingnya juga enakkk…. Daebakkkkk,,, pesan moralnya tersampaikan dengan baikkk,,

    Good FF ya Thor!!

    1. Komenmu panjang amat, jadi bingung mau bales apa XD

      yang hebat Key tuh, dia nggak diapa2in tapi langsung sadar. Makasih ya, semoga bener2 terealisasi dengan baik 😀

  11. Ya ampuuun~ SUMPAH FF INI BUAGUS BUANGEET!! O.O #readerlebay
    Tapi serius, ini bener-bener keren! XDD
    Jadi tersentuh nih bacanya *eaa*. Aku juga suka banget pesan moralnya 😀

    Eng…
    Ngomong apa lagi ya? Bingung – -;; RT komen-komen di atas aja ah~ #pletak *dasar nggak kreatif*
    Pokoknya perasaanku jadi bahagia (?) pas baca FF ini.
    Neomu neomu choayo, Author :3
    Daebak! Keep writing b>w<d

    1. Seneng bisa bikin kamu bahagia meski hanya lewat kata2 #eaaa

      makasih yaa, kamu kreatif banget sampe nge-RT komen2 lainnya XD

  12. ceritanya manis,,
    Kebaikan kecil yg di lakukan Taemin dbyar berkali lipat..
    Tapi thor,,
    Gmna ceritanya nyonya Lee ga pulang2 ktmu ma anak2nya??
    Kayak bang toyib aja..
    trus ajumma penjaga perpus itw eommanya Ontae??
    kok bisa Key kepikiran sich..
    Pasti mereka mirip banget yach..
    #sdikit bingung
    Btw,,
    Nice ff thor..
    Di tunggu karya lainnya..

    1. I thought no one would ask that -_-‘

      iya, itu emang eomma.nya OnTae, tapi bukan bang Toyib :3
      Almighty Key punya mata elang yang bisa mengenali orang dengan akurat #maksaa

      makasih yaa 😀

  13. waaaahh, keren…
    Key yg baik bgd yaaa, cuma karna dia denger ucapannya jjong yg dia gak kenal, dia mau nolong orang sampe segitunya…

    Dan ternyata, dunia itu sempit.hahaha

  14. Wah, keren banget… OnTae~ Johasseo!

    Authornya keren, bisa bikin fanfic yang mudah dipahami dengan pemilihan kata yang bagus… Ayo, bikin fanfic lagi! Aku tunggu karya selanjutnyaa~

  15. waah dua hari ga main kesini postingannya bagus semua kkk
    keren nih ,ini maknanya sama nggak yah dengan pepatah “Tidak ada kebaikan yang sia-sia”
    sederhana sih,tapi author ngemasnya apik banget! sukaaaa!

  16. Uwah. Superb. Daebak. Kukasih empat jempol. dd(^o^)bb

    Ternyata nggak sia-sia bela-belain keluar dari hiatus sebentar. FFnya bagus banget. Bener itu, namja sejati harus siap menolong yang membutuhkan. Aku suka kalimat itu. 😀

    Kapan-kapan bikin JongYu dong. :3

    1. Makasih jempolnya, tapi aku lebih suka kalo dikasih Taemin #plakk

      Aku juga suka kalimat itu, terispirasi dari seseorang. Kyahaha 😀

      JongYu? Hngg…you can make it better than me, right? -_-

      Makasih komennya ^^

  17. Wow, beautiful story, ceritanya ngalir, logis, dan bener2 nunjukkin bahwa apapun yg kta lakuin itu bakal berefek, baik ke diri kita sendri atau ke orang lain. baik sekarang atw nanti

    sekali lagi, ceritnya manis(?)

    keep writing!!

    1. Logis? Hoiya dong, authornya kan realistis (?)

      memang apa yang kita lakuin pasti ada efeknya, entah kita sadar apa enggak ^^

      Makasih ya, semoga next ff.nya nggak mengecewakan 🙂

  18. luar biasa banget. ceritanya bener-bener manis. penggunaan bahasanya juga enak buat dibaca. keren deh! sugohaeyo!

  19. Wuah… keren…!
    ceritanya.. kata2nya…
    salah satu FF terbaik yg pnah ku baca! dalem bgt T___T
    beda bgt critanya… aduh speechless *apasi

    1. Uhuk, uhuk…aku masih pemula banget lho, banyak yang jauuuuh lebih baik daripada FF-ku. Anyway, thank you sooo much ^^;;

  20. wah pertama kali saya baca cerita kayak gini . very nice ^^
    mm, boleh nggak kalo saya copas ff ini buat saya tempel di mading sekolah? pasti saya tulis credit + pengarangnya o,o
    tapi nggak boleh juga nggak papa kok 🙂

  21. When I initially left a comment I seem to have clicked the -Notify me when new comments
    are added- checkbox and now every time a comment is added I get four emails with the same comment.
    Is there an easy method you are able to remove me from that service?
    Many thanks!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s