Bad Boy Sitter – Part 12

Bad Boy Sitter – Part 12

Author : Firdha

Main Cast : Park Jiyeon, Lee Taemin, Lee Jinki (Onew), Choi Minho, Park Yeorin, Yoo Seung Ho

Support Cast: Other SHINee member, Cho In Su, etc.

Length: Sequel

Genre : Friendship, Romance, Family

Rating : PG-13

A/N:

I’M BAAAAAAAAAACCCKKK!!!

Mohon maap yang sebesar-besarnya untuk para reader yang udah nuggu2 ni ff abal2 (entahlah ada yg nunggu atau enggak. Kayanya dah pada bosen n lupa ma ni crita ala sinetron)… maap bgt yak! Mian *bow*. Aku ga sempet buat nulis gara-gara baru masuk sma & blm biasa pulang sore mulu dan kena writer’s block *curcol*. Jadi mohon maap ya karena ngaretnya ga tanggung2 sampe 5 bulan hehe 🙂

bagi yang gak ngerti bagian kenapa onew ma jjong tiba-tiba datang, aku jelasin.

Jadi mereka itu pindah ke jepang karna pekerjaan ortunya. Tapi kenapa mereka suka ada di balapan? Karna kalau lagi liburan panjang kyk liburan musim panas gitu, mereka selalu pulang ke korea dan nyempatin buat ikut balapan. Nah! Karna ortunya dipindah tugas ke korea lagi, akhirnya mereka pun ikut pindah ke korea lagi. Begindang… maksa bgt ya kayanya 😦

Oke! Ngerti ya? (reader: kagaaaaa)

Klo ga ngerti pura2 ngerti aja ya, soalnya aku sndiri yg nulis jg ga ngerti… #gubrak

Oke! Langsung aja… Happy reading! 🙂

***

Setelah merasa telah memberikan waktu yang cukup untuk membiarkan Onew dan Jiyeon berdua, Sang Hyun dkk pun segera menghampiri mereka. Melihat Jonghyun, Jiyeon langsung menghampirinya dan berhambur memeluknya.

“Bogoshippoyo, oppa.” Ucap Jiyeon pelan.

Jonghyun menyunggingkan senyumnya. “Na do, Jiyeon-ah.”

Setelah beberapa detik, mereka pun melepaskan pelukannya masing-masing. Setelah itu, Jiyeon mengalihkan pandangannya ke arah Sang Hyun dkk, lalu mengernyitkan keningnya saat ia menyadari ada yang kurang.

“Ke…”

“Ke mana Taemin?” Belum sempat Jiyeon menyelesaikan kalimatnya, Jinki telah terlebih dahulu memotongnya.

“Pulang duluan,” jawab Sang Hyun sekenanya. “Kau bisa mengantarnya pulang, kan?”

Jinki mengangkat kedua alisnya. “Mengantarnya? Nug…” Jinki menggantung kalimatnya seraya melirik Jiyeon. “Ah… geureom.”

“Baguslah kalau begitu. Tapi… sebelum itu, bisakah kita bicara berdua dulu?”tanya Sang Hyun yang langsung membuat semuanya menoleh ke arahnya. “Ada yang ingin kutanyakan.”

Jinki berpikir sejenak. “Geurae.”

Mereka pun berjalan menjauh dari sana. Setelah merasa bahwa jarak tempat mereka berada sekarang cukup untuk membuat teman-temannya tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka, Sang Hyun pun menghentikan langkahnya.

“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Jinki memulai pembicaraan.

“Tentang Jiyeon… tadi… dia menangis,” ucap Sang Hyun menggantung.

Jinki mengangkat sebelah alisnya. “Lalu?”

“Ia bilang itu karena ia baru pertama kali naik motor dengan kecepatan tinggi. Tapi entah mengapa aku merasa bahwa alasannya tidak hanya itu. Apakah perasaanku benar?”

Jinki tersenyum kecil, lalu menengadahkan wajahnya ke arah langit. “Ne, perasaanmu memang benar.”

“Kalau begitu apa alasan dia menangis?”

Jinki tidak langsung menjawab. Ia tetap menengadahkan wajahnya tanpa bicara sedikit pun. Setelah beberapa saat seperti itu, barulah ia menatap Sang Hyun. “Arena balapan. Kau tahu suasana arena balapan itu seperti apa, bukan?”

“Ne. Lalu?” tanya Sang Hyun tidak sabar karena sejak tadi Jinki terlalu bertele-tele.

“Lain kali jangan membawa atau membiarkannya di tempat yang gelap,” ucap Jinki sambil berlalu, membuat Sang Hyun bergeming bingung di tempatnya.

“Wae-yo? Kenapa aku tidak boleh membiarkannya ke tempat yang gelap?” tanya Sang Hyun cepat yang berhasil membuat Jinki menghentikan langkahnya.

“Aku tidak bisa memberitahu alasannya.”

Jinki pun meneruskan langkahnya. Sementara Sang Hyun masih bergeming di tempatnya dengan mata yang menyipit.

***

Jiyeon segera membalikkan badannya setelah motor Jinki sudah tidak terlihat lagi. Ia langkahkan kakinya dengan gontai dan wajah menunduk, badannya benar-benar terasa lemas setelah balapan tadi.

Saat sampai di depan pintu, Jiyeon langsung meraih kenop pintu dan memutarnya. Awalnya ia tidak sadar dengan keadaan di dalam dan bermaksud melangkahkan kakinya, namun langkahnya terhenti dan napasnya tercekat saat ia menyadari bagaimana keadaan di dalam. Gelap. Jiyeon pun mendongakkan kepalanya, lalu kembali menutup pintu sedetik kemudian.

Jiyeon membalikkan badannya dan bersandar di daun pintu dengan kepala menengadah. “Eotteokhajyeo? Bagaiaman caranya aku masuk ke dalam?” Jiyeon membuka tas selempang kecil berwarna putih yang dipakainya, bermaksud mengambil ponselnya, namun apa daya saat ternyata ia tidak juga menemukan ponsel miliknya. “Tertinggal. Bagus.” Ia melirik jam tangannya. “Sudah jam 12 lewat. Aku benar-benar ingin tidur.”

Perlahan badan Jiyeon merosot turun hingga terduduk. Dengan malas, ia luruskan kakinya untuk mengurangi sedikit rasa lelah yang ia rasakan. Otaknya terus berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa masuk ke dalam. Namun karena ia tidak juga menemukan ide yang ia cari dan badannya benar-benar lelah, perlahan matanya pun tertutup dan ia tertidur dengan pulas.

Tidak berapa lama kemudian, Taemin pulang dengan motor sport merahnya. Kerutan pun langsung terbentuk di keningnya saat ia melangkahkan kakinya untuk masuk dan mendapati Jiyeon yang tertidur pulas di depan pintu.

Taemin menghampiri Jiyeon dengan perlahan, lalu berjongkok di samping gadis yang tengah tertidur itu. Ia memperhatikan wajah Jiyeon dengan serius, dari jarak yang tidak terlalu dekat namun juga tidak bisa dibilang jauh seperti ini ia bisa melihat dengan jelas kelelahan dan ketakutan yang sarat dari wajah gadis cantik itu.

Tersadar dari lamunannya, Taemin pun segera membuka pintu. Kini ia semakin yakin kalau gadis yang tengah tertidur itu memang takut dengan yang hal yang satu ini. Gelap. Satu kata itulah yang tepat untuk menggambarkan suasana di dalam. Walaupun masih ada cahaya yang masuk dari jendela yang membuat kita masih dapat melihat jalan dengan baik. Namun tetap saja keadaan itu tidak memungkinkan Jiyeon untuk masuk ke dalam.

Taemin pun berjongkok kembali. Lalu dengan ragu, ia lingkarkan kedua tangannya di leher dan lutut Jiyeon. Ia angkat tubuh Jiyeon perlahan—agar gadis itu tidak terbangun—dan berjalan masuk ke dalam rumah setelah menutup pintu menggunakan kakinya.

Sambil berjalan, sesekali Taemin menatap wajah Jiyeon. Dari jarak yang sedekat itu ia bisa melihat dengan jelas garis kecantikan dari wajah seputih kapas yang memiliki satu titik di pipi sebelah kirinya, satu titik yang akan memunculkan lesung pipit lucu yang sesekali terlihat saat sang pemilik wajah sedang tersenyum atau tertawa.

Sampai di dalam kamar Jiyeon, Taemin pun segera membaringkannya di sisi kanan tempat tidurnya. Lalu ia tarik selimut hingga dadanya. Setelah itu, Taemin terdiam sejenak, memperhatikan Jiyeon yang tengah tertidur dan sesekali mengerang. Setelah merasa tidak ada yang harus ia kerjakan lagi, Taemin pun segera membalikkan badan dan berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai.

***

Jiyeon baru saja sampai dan memasuki gerbang sekolah. Awalnya semuanya biasa saja, tidak ada hal yang aneh. Namun semuanya seketika berubah saat seseorang berteriak memanggil namanya.

“Jiyeon-ssi!” Seorang yeoja yang tidak Jiyeon kenal tiba-tiba berlari menghampirinya. Jiyeon memperhatikan yeoja itu. Dilihat dari dasinya, yeoja itu adalah sunbaenya, kelas 2.

“N-ne… sunbae?” jawab Jiyeon dengan kening berkerut.

“Emph… bolehkah aku… minta tolong padamu?” tanya yeoja itu malu-malu.

“Ne? Minta tolong apa?”

“Eh… kudengar, kau adalah adik sepupu Sang Hyun sunbae, kan?” tanya yeoja itu lagi yang dibalas Jiyeon dengan anggukkan kecil. “Bisa tolong… berikan ini?” Yeoja itu menyodorkan sebuah kotak kado berkuran kecil yang dihias pita berwarna pink.

Kening Jiyeon semakin berkerut. “Kenapa harus menitipkannya padaku? Kenapa tidak sunbae berikan saja langsung pada Sang Hyun sunbae?”

Kini rona merah mulai menjalari pipi yeoja itu. “Aku… tidak berani. Tolong bantu aku, ya? Jebaaaal…”

Karena merasa tidak enak melihat ekspresi memelas sunbae-nya, Jiyeon pun segera mengambil kotak kado yang ia sodorkan padanya. “Geurae. Akan aku berikan.”

Mata sunbae itu melebar. “Jincha? Hua! Kamsahamnida, Jiyeon-ssi. Jeongmal kamsahamnida.”

Jiyeon meringis kecil melihat sunbae itu membungkuk berkali-kali. “Ne, sunbae. Kau tidak perlu berterima kasih sampai seperti itu.”

“Geurae. Kalau begitu aku permisi dulu. Sekali lagi, terima kasih.”

Setelah kepergian sunbae itu, Jiyeon pun segera melanjutkan langkahnya yang menuju kelas. Namun langkahnya pun harus kembali terhenti karena tiba-tiba para yeoja menghampirinya. Jika hanya satu, Jiyeon mungkin tidak keberatan. Tapi kali ini semua yeoja mengerumuninya dan meminta hal yang sama, memberikan barang.

Karena Jiyeon merasa tidak enak dan tidak berani menolak, alhasil, kini Jiyeon pun harus membawa banyak barang, yaitu dua paper bag di tangan kanan dan kirinya, serta beberapa kotak kecil di dalam tasnya.

“Aigoo! Mereka benar-benar tega. Apa mereka tidak tau kalau ini berat? Jincha!” gerutu Jiyeon seraya melangkahkan kakinya dengan malas.

“Jiyeon-ssi!” seruan seseorang membuat Jiyeon harus menghentikan langkahnya.

Awalnya Jiyeon hendak memprotes karena mengira orang yang memanggilnya itu bermaksud menitipkan barang juga. Namun mulutnya yang telah terbuka itu seketika menutup kembali saat menyadari bahwa suara itu bukanlah suara milik seorang yeoja.

Tanpa banyak berpikir lagi, Jiyeon pun segera menoleh ke belakang. “Minho sunbae.”

Minho tersenyum, lalu memperhatikan barang-barang yang dibawa oleh Jiyeon dan mengerutkan keningnya. “Kenapa kau membawa barang sebanyak ini?”

“Oh! Ini… ini semua untuk kalian,” jawab Jiyeon seraya menyodorkan paper bag yang dipegangnya.

Kening Minho semakin berkerut. “Ne? Kalian? Kalian siapa?”

Jiyeon mengangguk mantap. “Ne. Untuk kalian, Sang Hyun sunbae, Taemin sunbae, Jino sunbae, Kibum sunbae dan sunbae sendiri.”

Minho berpikir sejenak, lalu membulatkan matanya—sebenarnya matanya sudah benar-benar bulat—saat telah mengerti bagaiman situasinya. “Mereka menitipkan semua ini padamu?”

Jiyeon tersenyum masam. “Ne.”

Minho menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir. Lalu tanpa bicara apapun ia mengambil semua paper bag dari tangan Jiyeon. “Biar aku yang membawanya. Kau masuk ke kelas saja.”

“Ta… tapi… masih ada lagi,” imbuh Jiyeon yang langsung membuat Minho kembali terbelalak.

“Masih ada? Mana lagi?” tanya Minho bingung.

Jiyeon menunjuk tasnya. “Di sini.”

Minho kembali menggelengkan kepalanya jengah. “Keberatan untuk menyimpannya dulu?”

“Oh! Anniya. Aku bisa menyimpannya dulu,” tukas Jiyeon cepat.

“Baguslah,” ucap Minho dengan senyum mengembang. “Kalau begitu aku duluan. Annyeong!”

“Ne. Annyeong!” Jawab Jiyeon saraya menyunggingkan senyumnya.

***

Waktunya pulang, semua murid pun langsung berhambur keluar kelas. Namun karena hari ini adalah jadwal ekskul musik, Jiyeon harus pulang lebih lambat.

“Kami duluan, ya, Jiyeon-ah. Annyeong!” ucap Yeorin seraya memakai tas selempangnya.

“Ne,” jawab Jiyeon seraya tersenyum.

Setelah Yeorin dan Insu pergi, Jiyeon pun segera membawa tas gitarnya—yang diantarkan Kangho ahjussi. Ia terus berjalan menyusuri koridor untuk pergi ke ruang musik. Namun di tengah jalan ia berpapasan dengan Kyung Mi.

“Jiyeon-ah! Annyeong!” sapa Kyung Mi seraya menghampiri Jiyeon.

“Annyeong!” jawab Jiyeon saraya tersenyum.

Kyung Mi memperhatikan tas gitar yang dibawa Jiyeon. “Kau bisa bermain gitar?”

“Ne. Kau sendiri?” tanya Jiyeon sambil memperhatikan Kyung Mi dari atas sampai bawah. “Kau tidak membawa apapun. Berarti… piano?”

Kyung Mi tersenyum lebar. “Ne.”

Mereka pun meneruskan langkah yang tadi terhenti.

“Ah, ya! Ngomong-ngomong… soal waktu itu. Kau… apa benar kau adik sepupu Sang Hyun sunbae?” tanya Kyung Mi penasaran.

Jiyeon melirik Kyung Mi sekilas dengan tatapan takjub. “Cepat sekali gossip itu beredar?” Gumam Jiyeon pelan. “Ne, aku memang adik sepupu Sang Hyun…” Jiyeon menghentikan kalimatnya. Jika memang mereka saudara sepupu, memanggil sunbae akan mencurigakan. “… oppa.”

“Oh,” Kyung Mi manggut-manggut. “Lalu, apa hubunganmu dengan Taemin sunbae? Karena kau adik sepupu Sang Hyun sunbae tidak berarti harus kau yang dibonceng Taemin sunbae, kan? Karena setahuku itu adalah pertama kalinya Taemin sunbae membonceng yeoja.”

Mendengar penuturan Kyung Mi, Jiyeon gugup, ia bingung harus menjawab apa. “Kau sendiri, kenapa kau bisa dibonceng oleh namja itu? Apa hubunganmu dengannya?”

“Ya! Aku yang duluan bertanya. Kau jawab dulu pertanyannku baru aku akan menjawab pertanyaanmu,” tukas Kyung Mi yang langsung membuat Jiyeon menciut.

“Emph… itu…” Jiyeon terus berpikir keras mencari alasan yang tepat. Namun karena ia tidak juga menemukannya, akhirnya ia pun memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. “Aku juga tidak tahu. Taemin sunbae mengajakku ke sana tanpa memberitahu apapun padaku, dan aku tidak bisa menolak.”

“Ah… kalau begitu kita sama.”

“Sama?” Kening Jiyeon berkerut samar.

“Ne. Jinyoung oppa adalah kakak sepupuku, dan hubungan kami bisa dibilang dekat. Ia juga hanya mengajakku untuk keluar, tapi siapa yang sangka ternyata ia mengajakku balapan dan di sana aku bertemu denganmu dan mereka,” ujar Kyung Mi.

“Lalu, dari mana kau tahu Taemin sunbae tidak pernah mebonceng yeoja?” tanya Jiyeon penasaran.

“Aku tau dari Jinyoung oppa. Dia bilang dia menantang Taemin sunbae balapan dengan membonceng yeoja, tapi syaratnya yeoja yang dibawa harus dari kelas 1, karena Jinyoung oppa tau kalau bukan dari kelas 1 Taemin sunbae akan dengan mudah mendapatkan yeoja manapun juga.”

Jiyeon berpikir sejenak. “Ah! Taemin sunbae memilihku karena tidak punya pilihan lain.”

“Ne? Kata siapa?”

“Saat itu aku mendengar pembicaraan mereka. Awalnya aku bingung karena tiba-tiba Taemin sunbae berkata ‘aku tidak punya pilihan lain’, padahal tidak ada yang berkata apapun. Tapi sekarang aku mengerti maksudnya.”

Tidak terasa mereka pun telah sampai di depan ruang musik. Setelah masuk, terlihat beberapa orang sedang berlatih dengan alat musiknya masing-masing.

Sambil menunggu Hyun sonsaengnim—guru ekskul music, Jiyeon pun ikut berlatih dengan gitarnya. Sedangkan Kyung Mi ikut bergabung dengannya karena piano sedang dipakai oleh orang lain.

Tidak berapa lama kemudian pintu terbuka dan masuklah seorang namja berusia sekitar 40 tahun dengan Seung Ho yang mengikuti di belakangnya.

“Annyeong haseyo. Perkenalkan, nama saya Hyun Shi Hyuk. Saya adalah guru musik kalian,” ucap Hyun sonsaengnim yang langsung disambut oleh tepuk tangan semua murid.

Kelas musik pun dimulai. Untuk jadwal hari ini, Hyun sonsaengnim memerintahkan semua muridnya untuk menunjukkan keahlian masing-masing. Dari semua alat musik, piano lah yang paling banyak dimainkan. Dan yang paling sedikit adalah cello, harmonica, dan gayageum—semacam kecapi yang memiliki 12 senar— karena tiga alat music itu hanya diamainkan masing-masing oleh satu orang.

Kegiatan ekskul tersebut berlangsung sekitar 2 jam dan selesai pada pukul 9.00 malam. Semua murid langsung berhambur keluar, termasuk Jiyeon dan Kyung Mi, mereka berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah.

Tiba-tiba ponsel Kyung Mi berbunyi, ia pun segera mengangkat panggilan. “Yoboseyo. Ne… ne… aku akan ke sana sekarang. Gidaryeo!” Kyung Mi memutuskan panggilan. “Jiyeon-ah! Aku duluan, ya. Eonnie-ku sudah cerewet. Annyeong!”

Tidak lama setelah Kyung Mi pergi, seseorang menepuk bahu Jiyeon pelan. Jiyeon pun menoleh cepat. “Seung Ho sunbae.”

Seung Ho tersenyum lebar. “Annyeong! Sendiri?”

“Ne. Sebenarnya tadi dengan Kyung Mi, tapi eonnie-nya menyuruhnya untuk cepat, jadi dia duluan,” jawab Jiyeon seadanya.

“Oh. Kalau begitu… boleh kutemani?” tanya Seung Ho yang langsung membuat mata Jiyeon melebar.

“Emph… geureom,” jawab Jiyeon ragu.

Mereka pun berjalan beriringan sambil mengobrol.

“Ngomong-ngomong soal gossip akhir-akhir ini. Kudengar kau adalah adik sepupu Sang Hyun sunbae,” tanya Seung Ho tiba-tiba yang sukses membuat Jiyeon terdiam sesaat, namun langsung mneruskan langkahnya sepersekian detik kemudian.

“Ne. Waeyo?” jawab Jiyeon gugup.

“Saudara dari siapa?” tanya Seung Ho lagi yang kali ini berhasil membuat Jiyeon mati kutu. Otak Jiyeon langsung berpikir keras untuk mencari jawaban yang tepat. Selama beberapa detik suasana hening karena Seung Ho masih menunggu jawaban Jiyeon, sedangkan yang ditunggu tak kunjung menjawab.

“Jiyeon?” tegur Seung Ho seraya mengibaskan tangannya di depan wajah Jiyeon.

Jiyeon terlonjak pelan. “Ne?”

“Tadi aku tanya saudara dari siapa? Kenapa kau malah melamun?” papar Seung Ho heran.

“Eh… itu… aku…”

“Jiyeon!” seruan seseorang berhasil menyelamatkan Jiyeon dari situasi yang tidak menyenangkan—bagi Jiyeon— itu. Membuat Jiyeon langsung bernapas lega.

“Sepertinya oppa-mu datang menjemputmu. Kalau begitu aku duluan. Annyeong!” ucap Seung Ho cepat yang membuat Jiyeon bingung, namun tetap membalas salamnya dengan anggukkan.

Perlahan punggung Seung Ho menjauh dari pandangan Jiyeon. Ia berjalan cepat ke depan. Namun ada yang aneh saat ia berpapasan dengan Sang Hyun dkk. Tatapan matanya… Jiyeon tidak yakin apa arti dari tatapan itu. Tapi yang pasti samar-samar Jiyeon bisa melihat ekspresi Seung Ho yang biasanya ramah pada setiap orang berubah keras dan dingin, dan Jiyeon yakin kalau tatapan itu ditunjukkan pada Taemin.

Bingung, Jiyeon pun menoleh ke arah Taemin. Sekarang ia semakin yakin kalau tatapan Seung Ho tadi benar-benar ditunjukkan untuk Taemin, karena Taemin pun terlihat membalas tatapan itu tidak kalah dingin.

Jino memandang Taemin bingung. “Aishh… sepertinya kau tidak perlu menatapnya sedingin itu, Taemin-ah!”

“Memangnya kau ada masalah apa dengannya? Sepertinya kau tidak menyukainya,” tanya Key seraya memainkan bola basket di tangannya.

“Memangnya kapan kau melihatnya menyukai orang lain?” tukas Minho santai.

Key berpikir sejenak. “Kupikir ia menyukaimu, Minho.”

“Haha. Lucu sekali,” cibir Minho yang berhasil membuat teman-temannya tersenyum geli.

Sang Hyun mengalihkan pandangannya ke arah Jiyeon. “Kau baru pulang? Ekskul… musik?”

Jiyeon tersenyum. “Ne, sunbae.”

Sang Hyun menautkan kedua alisnya. “Sunbae? Apa kau lupa apa yang kukatakan kemarin?” Mata Sang Hyun melebar. “Ah! Apa setiap orang lain menanyakan mengenai hubunganku denganmu kau memanggilku sunbae?”

Jiyeon tersenyum muram. “Tadi pagi aku lupa.”

Sang Hyun menghela napas berat. “Geurae. Gwenchana. Tapi ingat, mulai sekarang kau panggil aku oppa. Arasseo?”

“Ne, sun… ah! Oppa,” jawab Jiyeon canggung.

“Ya! Kenapa dia harus memanggilmu oppa?” tanya Key sewot.

“Hah! Kau lagi. Nanti saja aku ceritakan,” tukas Sang Hyun jengah.

“Aishh. Kalau begitu kau juga panggil aku oppa. Oke?” tanya Key seraya mengedipkan sebelah matanya.

“Ya! Kau ini…” Sang Hyun terdiam sejenak. “Ah! Benar juga,” gumam Sang Hyun pelan. “Ya sudah. Kau panggil kami semua oppa saja.”

Mata Key melebar senang. “Ide bagus.”

Jiyeon tertawa hambar. “Ne… oppadeul.”

“Begitu lebih baik.” Sang Hyun menganguk-anggukkan kepalanya.

“Kau pulang dengan siapa?” tanya Minnho tiba-tiba.

“Aku dijemput Kangho ahjussi. Sopir Taeyoon halmeonie,” jawab Jiyeon.

“Oh.”

“Ya sudah. Kalau begitu kami duluan, Jiyeon-ah,” ucap Sang Hyun yang langsung dibalas oleh Jiyeon dengan senyuman.

***

Jiyeon sedang duduk di bay window seat seperti biasa. Ia menengadahkan wajahnya, menatap langit malam yang terlihat agak mendung karena tidak ada satu pun bintang yang menampakkan dirinya.

Bosan, Jiyeon pun beranjak dari tempat duduknya. Ia menuruni tangga untuk pergi ke ruang musik. Namun langkahnya seketika terhenti saat terdengar suara nada dering ponsel seseorang dari arah bawah. Jiyeon pun menunduk, mencari asal suara itu. Lalu tiba-tiba dering ponsel itu berhenti dan munculah sang pemilik ponsel, Taemin.

“Yoboseyo. Ne… mengamuk? Ini sudah malam. Apa kalian tidak bisa menanganinya dulu? Aishh… baiklah, aku akan ke sana sekarang.” Taemin menutup sambungan dengan kesal dan langsung berjalan cepat menuju kamarnya.

Karena tidak siap, Jiyeon pun tidak sempat sembunyi. Ia bergeming di tempatnya saat matanya dan mata Taemin bertemu. Namun Taemin langsung sadar sepersekian detik kemudian dan langsung meneruskan langkahnya. Entah apa yang mendorongnya, namun Jiyeon malah mengikuti Taemin naik ke atas kembali.

Tidak berapa kemudian Taemin membuka pintu dan muncul dengan memakai jaket hitamnya.

“Taemin sun… oppa, odiga?” tanya Jiyeon hati-hati.

Namun bukannya menjawab, Taemin malah berjalan melewati Jiyeon tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Jiyeon mengerjap, lalu memutar badannya dan setengah berteriak. “Ya! Taemin sun… oppa! Odiga?”

Taemin menghentikan langkahnya. “Kau tidak perlu tahu.”

“Aishh… aku juga sebenarnya tidak mau tahu. Tapi ini sudah malam dan aku adalah pengasuh sunbae. Apa sunbae lupa?” timpal Jiyeon seraya berjalan menghampiri Taemin.

Taemin memutar badannya menghadap Jiyeon. Ia mendengus. “Kau mau kuajak naik motor lagi?” Tanya Taemin yang sukses membuat Jiyeon terkesiap. “Tidak, kan? Jadi kau tidak perlu mengurusiku.

Taemin pun segera beranjak menuruni tangga, sementara Jiyeon tetap bergeming di tempatnya.

“Biar bagaimanapun aku harus tau Taemin sunbae mau melakukan apa. Tapi bagaimana… “ Jiyeon terbelalak. “Ah! Kangho ahjussi.”

Tanpa basa basi lagi, Jiyeon pun segera berlari menuju tempat parkir mobil, tempat di mana biasanya Kangho ahjussi berada.

Dan benar saja, orang yang Jiyeon cari itu sedang membereskan garasi.

“Ahjussi!” panggil Jiyeon yang langsung membuat Kangho ahjussi menoleh.

“Agassi? Waeyo?” tanya Kangho ahjussi bingung.

“Cepat nyalakan mobil. Kita keluar. Palli!” Mendengar nada tergesa-gesa dari kalimat Jiyeon, Kangho ahjussi pun segera mengambil kunci mobil di sakunya dan membuka pintu untuk Jiyeon.

“Ikuti Taemin sunbae. Itu! Mumpung dia baru menyalakan motornya,” ucap Jiyeon lagi yang langsung membuat kening Kangho ahjussi berkerut, namun tidak membantah dan langsung mengikuti apa yang diperintahkan Jiyeon.

Mereka pun mengikuti motor Taemin. Terlihat dengan jelas kalau Kangho ahjussi agak kewalahan untuk mengikuti motor Taemin karena tuan muda-nya itu melajukan motornya dengan kecepatan jauh di atas rata-rata. Jiyeon pun duduk terhuyung-huyung walaupun sudah memakai sabuk pengaman.

Namun saat berada di jalan yang agak ramai, mereka kehilangan jejak motor Taemin. Dengan bingung, Kangho ahjussi terus melajukan mobilnya. Matanya tidak henti-hentinya mencari motor hitam Taemin. Lalu ia pun segera menghentikan laju mobilnya saat mendapati motor Taemin yang terparkir di suatu tempat.

Kening Jiyeon berkerut dalam. Ia menatap sekelilingnya dengan bingung. “Rumah sakit… jiwa?”

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

32 thoughts on “Bad Boy Sitter – Part 12”

  1. akhirnya dipublish!!*terharu *ngelap ingus(?)
    makin keren n bqn penasaran!~!!~>.<
    ngapain ke rumah sakit jiwa??ngejenguk author yah??#diinjek #digantung
    spa yg di rumah sakit jiwa???seseorang yg berartikah bwt taemin?? 😮 *pasti* ato orang yg dicintai taem???bener" bqn penasaran!!
    kenapa seungho ma taem tatap"an kyk gitu??o.O mencurigakan..krn jiyeon kah??ato krn 'sesuatu' yg laen??._.
    kutunggu part 13.a..jangan lama lagi yaa~hehe

  2. Haish,,,,aku nungguin ini sampe berbulan-bulan,,,akhirnya muncul juga,,meskipun harus ngubek-ngubek library dulu,,,,

    Aku suka banget sama bad boy nya Taemin,,,ngebayanginnya bikin mimisan,,,

    Next part-nya jangan selama yang ini ya chingu,,,sumpah! aku gak sabaran nunggunya,,,,

  3. Ky ny perlu ngubek2 library nih….agk2 lupa part sblumny….gr2 author nih klamaaan…hehe…
    Next partnya jgn lama2 donk….lumutannya udh jd pohon klo mpe 5bln lg…hehehe
    #dtendang author….

    Aku suka karakter taem……dingin….brrrr….
    Enak bgt jd jiyeon…d tgh namja2 keren…
    #mupenk..

  4. Nah, akhirnya publish!!*nari saman#plak

    aku baru komen di part ini nih, pdhal udh bca part 1 ampe 11#ktauan siders

    awalnya agak lupa sih, tapi pas bca lma2 inget lagi..

    Nah lo? Siapa yg msuk RSJ??

  5. wah.. akhirnya muncul jg ff ini..! entah knp part ini ga dpt feelnya. mgkn krn uda lama ga baca.. atau bhasanya yg agak berubah? next part jgn lama ya.. 🙂

  6. Huwaaa… Akhirnya kluar juga nii FF… Wkwk.. Peace~ kok rsanya pndek yak?? Miaaan kalo aku bawel… :(( smakin seru nii crtanya… Hahaha.. Taemiiiin badboy I like it!!! (Y) lanjutkan!! Hahaha…

  7. eoonn ^^
    kenaliinn, laras imnida 98 line. nice to meet youu *kedip-kedipin mata*
    btw, aku barusan baca nih eoon dari part 1-12. dan hasilnyaa bener-bener daebaaaaaaakkkk *acungin jempol kak Lana* #eh
    ayoayoo, aku tunggu niih part 13 nyaahh~ #akubawel #dilemparsandal

  8. bay window seat! garagara fanfic ini, aku minta dibikinin jendela macam itu uwohoho tapi masih dalam proses! aaah inspiratif!

    suka! akhirnya rilis juga lanjutannya. dan makin penasaran sama Taemin, kenapa dia ke rumah sakit jiwa? apakah hanya kamuflase? *ehm gagitu._.* dan kegelapan! I wonder……

    gah penasaran parah!

  9. kenapa tbc ?!!! ahh aku penasaraaan …
    huwaa
    jiyeon .. kau takur gelap…
    taemin baik tapi dingin ..
    hehehe … lama juga ya thor..
    ayo lanjutannya jangan lama2…
    good ff.. gomawo yo .. ^^

  10. Huwa.. Aku lupa2 ingat.. Mau ngubek2 library males.. Tpi tetep seru kq.. Coz q lg tergila2 sama taem.. Apalagi kalo ngebayangin dia jdi badboy.. Next ditunggu..

  11. Q suka banget karakter Taem disini…
    RSJ??? Saha tuh? Ayahnya Taem kah?
    Lanjutannya jangan lama2 kaya kmren ya saeng…… *sok akrab

  12. Akhirnya Muncul juga lanjutannya,,, Ehm,, Sampe sekarang Taemin masih dingin ajj sama Jiyoen.

    Masih penasaran sama masalalu Jiyoen,Onew,Jonghyun. Kejadian yg mengaitkan diantara mrk apa y?? Wahh?? Siapa nih yg dirawat dirumah sakit jiwa?? Siapa??

    Penasaran,,,,,

  13. Haissss.. akhirnya ni FF selama aku tunggu 5 bulan akhirnya keluar..

    miannn banget!! aku sempet lupa ceritanya.
    tapi aku nebak2.. inget atau ganya..
    ya akhirnya inget lagi deh!!
    haha *evil

    tuh Jiyeon takut gelap ya?? *nunjuk Jiyeon
    Aishh taemin Keren banget disini..
    aku suka aku suka *ala upin ipin..

    LANJUT!!

  14. hallo..
    mau komeng apa yah? *Plakk*
    hehe maap gak bgitu enggeh, abs ujuk ujuk gw bca udh part 12 (part 1-11 blom baca)..
    tp author nya tega nih. kesian tuh sm reader yg nungguin *sok nasehatin* hahaha 😛

  15. ya ampuuuuuun ini ff sudah lama bgt,aku smpe lupa dan baca part sebelumnya dulu..
    seru seru seru
    part selanjutnya jgn lama sampai berbulan” kya kmren chingu,,hrus cepet part selanjutnya.. ^^

  16. Bagus kok ceritanya , para readers jg nunggu critanya . Lanjutin yaaaa , syg bgt kalo kehenti . Ditunggu secepatnya . Annyeong ^^,

  17. akhirny dtg jg!!! lama bgt br muncul next part ny jgn lama2 donk n banyakin adegan mesra antara taemin n jiyeon ms ud part 12 blm nyadar m prasaan msg2 hrs ny prasaan mrk makin kuat!!! dtunggu next part ny

  18. ini ff yg aq tungguuuuuu sekian lama…brpa lama itu???hoooo yaaa ampuunnn taem taem taem
    sukaaaa…crita nya makin seru.en seunghoo vs taem..oh no mreka be2 kesukaan aq tapi d sini mreka ada sesuatu yah??ckckck…baca slanjuut nya duluuuuu

  19. Wahh…akhrx nongol jg ni FF,aq ampe jenggotn nungguinx,,(lebbeh)^,^…FFX mkn sru ni,,klo bs jgn kelmaan lgi y chingu next partx klo g aq nangis nie,,T,T..(apaan coba),,he,,he,,pnsrn ma yg di RS deh,syp y?dtgu kelnjtnx scptx chingu..

  20. finally ni ff keluar jg..#kibar banner..eh,5 bln gmana?hmpir 1 thn nungguin tauk..auThor juahat..T.T
    Ni ff pertama yg q bc di sf3i..udah lama,jd lupa crta nya.agak bingung sm alur nya,heheu eh,ni trnyta authornya msh 1 sma..ga nyangka bgt bisa bikin ff dgn bhsa ky gini..q pkr udah kuliahan gt,great ff lah..! Untuk menebus dosamu,cpt publish part selanjutnya ne?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s