Basketball Dream [1.2]

BASKETBALL DREAM

 

Title : Basketball Dream

Main Cast: Kim Jonghyun, Shin Min Hyo, Kim Taeyeon

Author: Eka

Other Cast: –

Genre: Romance, Marriage Life

Length: two shots

Akhirnya liburan tibaaaa!!!! Akhirnya bisa nulis FF lagi!!!! Asyiiiik. Sebelumnya, Happy Holiday, all ^^

Kyaaaa >,< ini FF marriage life pertamaku. Jadi maaf ya kalau hasilnya aneh. Selain itu, ini adalah FF pertamaku yang tokoh utamanya bukan Minho. Kekeke. Entahlah, tiba-tiba pengen bikin FF tentang Jonghyunnie. Hihihi. Mungkin karena efek genre juga kali ya. Yang paling pas buat FF marriage life itu emang Jjong oppa. Pokoknya ini semacam FF debut deh. Berasa baru nulis sekali, deh. Kekeke. Tadinya mau bikin one shot, tapi seperti biasa, gagal. Nggak bisa bikin one shot sih. O iya, beberapa bagian dalam cerita ini merupakan adaptasi dari khayalan eka dengan teman-teman. Ah, udah deh, jadi ngebacot gini. Langsung saja ya, HAPPY READING! ^^

………………

Ini adalah cerita tentang kehidupanku. Aku Shin Min Hyo, gadis paling beruntung di muka bumi. Kau tahu kenapa? Hmm… itulah yang akan kuceritakan kepada kalian. Sebelumnya, biar kuceritakan tentang diriku sendiri. Umm… mulai dari mana ya? Oke, begini saja, kata orang aku ini adalah gadis yang sangat baik. Kata orang, aku pemalu, pendiam, lemah lembut, dan tidak banyak bicara (oke, aku memang sudah bilang kalau aku pendiam). Tapi sungguh, aku benar-benar tidak suka berbicara kalau tidak perlu. Tapi, kebiasaanku untuk menjadi diam kadang-kadang merugikanku. Tak perlu kujelaskan, yang pasti ada saat di mana aku sungguh butuh berbicara banyak. Di sinilah kisahku dengan sang tokoh utama dimulai.

 

Namanya Kim Jonghyun. Dia adalah salah seorang siswa favoritku. Dia adalah seseorang dengan segudang prestasi. Dia aktif di banyak klub di sekolah. Mulai dari klub musik, klub paduan suara, bahkan sampai klub basket ia tekuni. Jonghyun sangat menyukai basket. Ia akan tampak sangat charming kalau sedang main basket. Air mukanya selalu berseri-seri setiap bermain basket. Permainan basketnya sangat hebat. Ia termasuk ujung tombak dalam tim basket SMA kami. Selain itu, dia adalah seseorang yang sangat ramah. Semua guru suka padanya. Dan, kalian pasti sudah bisa menebaknya, semua siswa juga suka padanya, terutama para cewek.

Kim Jonghyun itu orang yang talkative. Dialah yang mengajariku untuk berani bicara di depan umum. Tapi, ya tetap saja aku tidak serta merta jadi secerewet Jonghyun.

Oke, ini bukan cerita tentang bagaimana kami bertemu, tapi bagaimana kami akhirnya bersatu. Ya, bersatu. Dalam arti yang sesungguhnya, yaitu menikah. Karena, seperti yang sudah kubilang tadi, aku adalah gadis yang paling beruntung, jadi tak usah dijelaskan bagaimana aku bisa mendapatkan seseorang seperti Kim Jonghyun.

Heyyyy!!! Aku ini ngomong apa sih? Langsung ke ceritanya aja deh (reader: jadi dari tadi ceritanya belum mulai?) Hehehe…

……………………………

 “ Min Hyo, aku berdebar sekali, nih.” Jonghyun menarik tanganku dan meletakannya di dadanya. Kurasakan jantungnya berdegup kencang. Kuperhatikan, wajahnya juga terlihat sangat gugup. Tapi aku hanya tersenyum seraya menarik tanganku.

Kubiarkan ia berdebar sementara sedang menyetir mobil seperti saat ini. Kuperhatikan wajahnya yang tampak sedang berkonsentrasi dengan jalan, namun pikirannya seakan tidak ada di sana.

“ Tenang saja. Kau kan Kim Jonghyun. Juru bicara kesiswaan sewaktu SMA dulu.” Ujarku santai.

“ Ya! Tentu saja ini… berbeda. Berbicara di depan siswa itu pasti rasanya berbeda dengan bicara di depan calon mertua.” Keluhnya manja.

Aku terkikik sesaat. “ Seberdebar itukah?” tanyaku mulai serius.

Jonghyun menghentikan mobilnya ke tepi jalan. Ia menghela napas sesaat, kemudian menoleh menatapku. “ Iya.” Jawabnya singkat. Hemat sekali bicaranya. Sepertinya ia benar-benar amat sangat gugup saat ini. Aku prihatin, tapi tak tahu apa yang harus kulakukan.

Kami terdiam beberapa saat. Malam ini Jonghyun akan datang ke rumahku untuk bertemu dengan orang tuaku. Aku tak pernah melihat sisi Jonghyun yang seperti ini. Sikap Jonghyun yang seperti ini sangat… sangat manis bagiku.

Aku meraih tangan Jonghyun dan memandang matanya dengan tatapan yang dalam. Jonghyun balas menatapku. “ Aku yakin kau tidak akan melakukan kesalahan. Tenang saja. Orang tuaku kan merestui hubungan kita. Sangat mendukung malah. Jadi tak ada yang perlu kau khawatirkan.” Aku mencoba meyakinkan Jonghyun. Karena memang itu adanya. Orang tuaku sangat menyukai Jonghyun dan sangat setuju dengan rencana pernikahan kami ini.

Jonghyun menunduk sesaat. Kemudian ia mengangkat kepalanya lagi dan tersenyum. “ Okay! Kalau begitu, apalagi yang kutunggu, iya kan?” Jonghyun menyalakan mesin mobil dan kemudian meneruskan perjalanan. Haha, kalau sisi Jonghyun yang satu ini aku sudah sering melihatnya. Sisi percaya diri Jonghyun yang juga sangat aku sukai.

……………………………

Kami pun tiba di depan rumahku. Kali ini Jonghyun tidak banyak bicara. Ia hanya diam dan terus diam, tampak sedang berpikir dengan keras. Sejak turun dari mobil dia sudah bersikap begitu. Ia menggenggam tanganku erat dan kami pun bersama-sama menaiki undakan tangga di depan rumahku.

Orang tuaku sudah menunggu di dalam rumah. Jonghyun memberi salam dengan sopan kepada keduanya. Orang tuaku tersenyum senang melihat sikap Jonghyun. See? Aku memang sangat beruntung.

Setelah beberapa saat mencairkan suasana dengan berbincang-bincang ringan, saatnya upacara permohonan restu. Ini tradisi keluargaku. Saat eonni-ku dilamar, kakak iparku juga melakukannya. Jonghyun dan aku sudah berlatih pada mereka beberapa hari yang lalu, dan sekarang saatnya mempraktikkannya.

Aku dan Jonghyun melakukan semacam gerakan memberi hormat yang diulang sebanyak tiga kali, lalu kami mengucapkan permohonan restu dari kedua orang tuaku. Setelah itu orang tuaku mengucapkan beberapa kalimat juga, yang intinya merestui hubungan kami dan mengizinkan kami untuk secepatnya bisa menikah. Upacara berjalan dengan khidmat. Sampai-sampai, rasanya aku ingin menangis saking terharunya. Tapi, mereka semua bilang aku ini poker face, jarang sekali mengekspresikan perasaanku sendiri.

Karena upacaranya sudah selesai, aku pun berdiri dan kembali duduk di atas sofa. Tapi tidak dengan Jonghyun. Aku heran. Kusentuh bahunya sesaat, tapi Jonghyun masih duduk bersimpuh di depan kedua orang tuaku.

Tanpa diduga, Jonghyun kemudian meraih tangan ayahku dan menciumnya sambil berkata, “ Ayah, Ibu, terima kasih banyak karena telah membawa seorang putri yang cantik ke dunia ini. Terima kasih karena telah mendidiknya dengan baik sehingga ia bisa menjadi seperti sekarang ini. Terima kasih karena melahirkan anak yang sangat indah sebagai hadiah untuk orang sepertiku.” Aku mendekap mulutku mendengar pernyataan Jonghyun ini. Rasanya aku ingin menangis. Jonghyun memang banyak bicara, tapi aku tak pernah menyangka kata-kata yang terlalu mengindahkan diriku itu akan keluar dari bibirnya. Ibuku sepertinya tersentuh dengan kata-kata Jonghyun, karena sekarang beliau menitikkan air mata. “ Ayah, Ibu, izinkanlah aku Kim Jonghyun menggantikan tugas kalian untuk menjaga Shin Min Hyo. Aku akan berusaha membuatnya selalu bahagia.”

Ayahku mengusap rambut Jonghyun dengan sayang. “ Tentu saja. Tentu saja, anakku.” Ayahku pun menarik tangan Jonghyun untuk berdiri dan memeluknya. Tak terasa air mataku pun mengalir.

Jonghyun, kau juga hadiah yang sangat indah bagiku.

……………………………

Geurae, itu hanya sebagian kecil kisah keberuntunganku. Jonghyun menepati janjinya untuk berusaha membuatku bahagia. Karena selama menjadi istrinya, aku selalu merasa bahagia. Setiap hari selalu terasa indah, karena dirinya.

…………………………………

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku masih sibuk mengurusi pekerjaanku. Di ruang tamu apartemen kami, kertas-kertas berserakan, laptop menyala sudah hampir 5 jam lamanya, dan cangkir kedua cappuccino-ku sudah hampir habis.

Jonghyun di ruang tengah, menonton kaset basket koleksinya. Dia bersikeras tidak mau tidur sebelum pekerjaanku selesai. Sudah menjadi kebiasaan Jonghyun menungguiku selesai bekerja kalau aku sedang lembur mengejar deadline.

“ Min Hyo, ini sudah jam 12.” Entah sejak kapan Jonghyun duduk bersila di sampingku. Ia memijat pundakku, sedikit menghilangkan rasa lelahku.

“ Gomawo.” Kataku sambil melepas kacamataku sejenak. Aku pun mengalihkan pandanganku dari laptop dan duduk menghadap Jonghyun.

“ Lihat wajah cantik istriku ini, sekarang lingkaran hitam menghiasi wajahmu, Chagi.” Jonghyun membelai pipiku dengan lembut.

“ Lelah sekali.” Keluhku manja sambil mengusap kedua mataku yang sudah sangat lelah. Jonghyun kemudian memelukku.

“ Sudah, istirahat saja, ya.” Pintanya sambil tetap memelukku.

Aku cemberut. “ Tapi, ini belum selesai.”

“ Besok pagi akan kubangunkan, lalu kau bisa mengerjakannya lagi. Bagaimana?” saran Jonghyun.

Aku diam sesaat. “ Okay.” Lalu Jonghyun pun menarik tanganku dan kami berjalan bersama ke kamar. “ Lagipula aku tinggal menempelkan bahan-bahan presentasi besok ke karton. Polanya juga sudah kubuat, jadi benar-benar tinggal menempelkan saja.” Jonghyun tersenyum mendengar pembicaraanku. Aku tahu dia lelah, tapi sampai selarut ini dia masih bisa tersenyum semanis itu. “ Aku heran deh, hari gini presentasi masih pakai benda-benda yang perlu digunting dan ditempel semacam itu segala? Memang sih jadi lebih menarik, tapi kan repot. Ckck… kerja di majalah resikonya gini nih. Dikejar-kejar deadline terus setiap berita mau naik cetak. Lama-lam…”

Jonghyun mendekap mulutku. “ Tidur yang nyenyak, Sayang. Manfaatkan waktu istirahatmu sebaik-baiknya. Ayo tidur. Supaya besok saat kubangunkan kau akan lebih segar.” Jonghyun membelai rambutku. Aku tersenyum.

“ Jonghyun, terima kasih karena telah menjadi sabar.” Ucapku sebelum aku akhirnya benar-benar terlelap.

…………………………………

Aku menggeliat. Ahh, segar sekali setelah beristirahat. Eh, Jonghyun mana? Dia tidak ada di sampingku. Kulirik jam di dinding kamarku. Pukul 6! Ya! Katanya Jonghyun mau membangunkanku. Bagaimana ini? Aku bangkit dari kasurku, setengah berlari menuju ruang tamu tempatku semalam bekerja. Hey, ke mana perginya kertas-kertas yang kutinggalkan berserakan semalam? Kulihat karton yang tadi malam masih kosong sudah terisi penuh dengan bahan-bahan presentasiku. Bahkan sekarang, bahan presentasiku itu jadi terlihat lebih menarik dari konsep awal yang kubayangkan.

Semakin jauh aku melangkahkan kaki memasuki ruang tamu, kudapati Jonghyun sedang tertidur dengan lelap di atas sofa. Bergelung sambil memeluk guling. Jonghyun-ah…

Kudekati Jonghyun, kuangkat kepalanya dan kuletakkan di atas pahaku. Jonghyun tetap tertidur. Aku benar-benar terkesan. Aku baru sadar, perintahnya untukku supaya cepat tidur tadi malam hanya sebuah alasan, agar dia bisa mengerjakan tugasku ini. Ia benar-benar tahu caranya agar bisa membantuku tanpa harus banyak berkoar-koar bahwa dia akan melakukan hal itu untukku.

Kuelus-elus rambutnya. Perlahan Jonghyun membuka matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, lucu sekali.

“ Morning.” Aku menunduk untuk mengecup dahinya.

Jonghyun hanya tersenyum. “ Semoga kau suka dengan hasil kerjaku. Yah, kuakui, aku tidak punya bakat jurnalistik sehebat dirimu. Tapi kau tahu kan, kalau bakat seniku agak lumayan.”

“ Lumayan apanya? Itu keren, kok. Lebih bagus malah dari rencanaku.”

“ Jjincayo?” Jonghyun bangkit dari posisi tidurnya.

Aku mengangguk mantap. Jonghyun kemudian berdiri dan menarik tanganku ke dapur. “ Buatkan sarapan yang enak, ya.” Ucap Jonghyun. Aku pun tertawa melihat sikapnya ini.

“ Ay Ay, Captain!” jawabku senang. Pagiku diawali dengan sebuah keceriaan. Sudah beberapa lama dan aku rasa, aku tidak akan pernah bisa menolak untuk terus mencintainya, Jonghyun.

……………………………

Jonghyun selalu menimbulkan perasaan nyaman di hatiku. Namun, pernah ada suatu saat di mana ia benar-benar membuatku panik sampai menangis.

…………………………

Suasana apartemen kami agak sedikit berantakan. Kami akan merayakan hari jadi pernikahan kami yang pertama. Jadi sore ini sepulang belanja kami masak besar. Jonghyun juga menyiapkan sebuah kue coklat kesukaan kami berdua dan seember es krim vanilla yang sangat menggiurkan.

“ Jonghyun, bisa tolong potong bawangnya tipis-tipis? Aku harus terus mengaduk kuah ini, soalnya.” Pintaku.

“ Baik Nyonya Kim.” Ucap Jonghyun yang meninggakan aktivitasnya memasang taplak meja yang baru dicuci.

“ Terima kasih Tuan Kim.” Balasku sambil terkikik.

Tak berapa lama kemudian, Jonghyun meringis. “ Aww…”

“ Whaeyo?” tanyaku masih sambil mengaduk kuah sup.

“ Jariku tergores.” Ucapnya kemudian menghisap jarinya yang berdarah itu.

Aku mematikan kompor dan berjalan mendekat untuk melihat seberapa parah lukanya. Goresannya tidak terlalu lebar maupun dalam. Aku pun menarik tangan Jonghyun ke tempat cuci piring dan menyiramkan air ke jarinya yang terluka.

“ Aww…” Jonghyun berjengit lagi.

“ Chamkanman, chamkanman.” Ucapku. “ Geurae, aku ambil benedict dulu ya.” Aku pun memasuki kamar sebentar.

Tapi, betapa terkejutnya aku saat kembali ke dapur dan menemukan darah segar masih terus mengalir dari jari Jonghyun.

“ Jonghyun, ini kenapa lagi?” kupikir Jonghyun membuat lukanya semakin parah sehingga mengeluarkan darah lebih banyak seperti ini.

“ Dari kecil, darahku memang sulit membeku.” Ucap Jonghyun lirih. “ Kupikir aku terkena hemofili, tapi dokter bilang tidak. Darahku memang sulit membeku.” Jelasnya.

“ Arasseo.” Tanggapku singkat. Yang terpikir di benakku sekarang adalah, bagaimana  caranya membuat darah Jonghyun berhenti mengalir.

Aku sudah menelepon dokter pribadi keluarga kami. Sementara itu, aku berusaha untuk mencegah Jonghyun kehabisan darah. 15 menit berlalu, dan tetap saja masih belum ada perkembangan. Aku hampir menyerah. Sampai pada akhirnya aku hanya bisa memegangi tangan Jonghyun sambil menangis.

“ Kenapa, hiks…” aku menunduk. “ Kenapa darahnya tidak mau berhenti keluar?” tanyaku lebih kepada diri sendiri.

“ Maafkan aku.” Jonghyun menepuk pundakku.

“ Aniyo. Kenapa kau meminta maaf?” aku mengisak lagi.

Jonghyun mengangkat wajahku “ Karena membuatmu menangis, maaf.”

Untunglah, semenit setelah aku hanya bisa pasrah, Dokter Lee datang dan memberikan serum kepada Jonghyun dan beberapa hal lainnya yang tidak kumengerti. Sampai akhirnya, darah Jonghyun pun berhenti mengalir. Terima kasih Tuhan, karena menyelamatkan Jonghyun-ku terkasih.

……………………………

See again? Itu juga baru beberapa cerita yang dapat menjelaskan betapa beruntungnya aku ini. Kisah berikutnya datang ketika kami meliki seorang anak. Awalnya saat aku hamil Jonghyun berharap anak kami nantinya adalah anak laki-laki. Katanya agar dia bisa mengajarinya basket. Tapi, setelah Taeyeon lahir, Jonghyun benar-benar menyayanginya. Bahkan sampai membuatku sedikit cemburu, kadang. Tapi aku senang, Jonghyun sangat menyayangi anak perempuan kami. Dan tahu apalagi yang bisa kusebut sebagai keberuntungan bagiku dan juga Jonghyun? Taeyeon suka bermain basket. Just like Jonghyun does.

……………………………

Rambut panjang Taeyeon berkilau di bawah teriknya sinar matahari. Hari ini adalah pertengahan musim panas. Taeyeon pun sudah mulai memasuki libur musim panasnya. Jonghyun banyak mengambil cuti dari kantornya untuk menghabiskan waktu bersama kami, keluarganya. Ngomong-ngomong, sejak hamil Jonghyun memintaku berhenti bekerja. Itu karena saat hamil aku sempat mengalami keadaan drop di mana aku harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Kata dokter, itu karena aku terlalu lelah, makanya Jonghyun memintaku untuk berhenti bekerja.

“ Taeyeon-ah, sini.” Panggilku dari pinggir lapangan. Taeyeon yang saat itu sudah remaja, kira-kira umur 15 tahun, mendekat ke arahku.

Kusodorkan botol minuman kepadanya. “ Gomawo.” Ucapnya. Ia hendak berlari lagi ke lapangan, tapi kutarik tangannya.

“ Sudah, istirahat dulu. Kalian sudah bermain basket dari tadi pagi. Kalian bahkan belum sarapan, padahal ini sudah jam makan siang. Nanti kau…”

“ Ara ara ara, mamaku sayang. Nih, aku makan nih. Kupanggil Ayah dulu, ya.” Taeyeon hendak berlari tapi lagi-lagi kutahan.

Sementara itu, Jonghyun terduduk di tengah lapangan yang panas dan mulai berteriak tak sabaran, “ Taeyeon, ayo main lagi.” Ck. Terkadang sikap Jonghyun bisa sekekanakan itu juga.

Aku pun berbisik di telinga Taeyeon, “ Biarkan saja. Nanti kalau Ayahmu lapar, dia juga akan ke sini.”

“ Ne.” Taeyeon terkikik geli. “ Mama nakal.” Ujarnya lalu mulai membuka kotak makanannya yang sudah kusiapkan.

“ Taeyeon-ah, ya! Kenapa malah makan? Kita kan belum selesai. Satu poin lagi Ayah menang, nih.” Jonghyun berteriak dari tengah lapangan.

Taeyeon diam saja. Dia memang sama sepertiku, sangat senang mengerjai Jonghyun. Bagus, nak. Aku pun tak dapat menahan tawa.

“ Min Hyo, kau tega sekali. Kembalikan anakku ke lapangan.” Jonghyun mendekatiku dan Taeyeon di pinggir lapangan, di bawah teduhnya pohon.

“ Anakmu? Jelas-jelas dia sangat mirip denganku. Tentu saja dia anakku.” Aku tidak tahu kenapa kami memperdebatkan ini. Ini sungguh kekanakan.

“ Tapi dia menyukai basket, sama sepertiku. Kau kan tidak suka basket.”

Kami pun berargumen tidak jelas. Taeyeon tetap santai menonton kami beradu mulut sambil mengunyah sandwich-nya.

“ Arasseo, kita tanya saja kepada Taeyeon. Kau itu anak Ayah, kan?” tanya Jonghyun.

“ Aisshh, bukan begitu pertanyaannya. Kau ini anak Mama atau Ayah?” tanyaku ulang meralat pertanyaan Jonghyun.

Taeyeon tidak langsung menjawab. Ia mengelap bibirnya, lalu meminum minumannya dengan perlahan. Kemudian dia akhirnya menatap kami berdua. “ Kalian bicara apa, sih? Aku anak Om Shindong, tetangga sebelah.” Jawabnya asal sambil menjulurkan lidahnya, mengejek kami berdua.

“ Ya! Apa kau bilang? Memangnya kecantikanmu itu dari mana? Dari Ayah yang tampan seperti ini tahu. Masak dari Om Shindong, masak Ayah dibandingin sama Om Shindong? Kau ini.” Jonghyun mengejar Taeyeon yang sedari tadi sudah berlari untuk menghindar. Aku hanya tertawa.

Dari kejauhan aku dapat melihat mereka saling menggelitiki satu sama lain.

“ Habis Ayah sama Mama aneh. Kayak anak kecil aja. Haduduh. Hahahaha.” Taeyeon terbahak-bahak karena sudah tertangkap oleh Jonghyun.

Jonghyun menggelitiki Taeyeon tanpa ampun, “ Coba bilang lagi, kamu anak siapa?” ucap Jonghyun.

“ Hahaha, aududuh, udah dong, Yah.” Taeyeon tertawa tak henti-henti.

“ Bilang dulu.” Paksa Jonghyun sambil ikut tertawa. Puas, karena berhasil balas mengerjai Taeyeon.

“ Hahahaha. Iya, iya. Hahaha. Anak Kim Jonghyun dan Kim Min Hyo! Ahahaha, sudah, Ayah, sudah.” Jonghyun pun berhenti menggelitiki Taeyeon dan kali ini Jonghyun menggendong Taeyeon dan berputar-putar di lapangan. Aku tertawa bahagia melihat keharmonisan keluargaku ini.

“ Ah, Ayah, turunkan. Aku kan sudah besar. Kalau pacarku lihat bagaimana?”

Jonghyun pun menurunkan Taeyeon dan menatap putri kami itu heran. “ Mwo? Memangnya kau sudah punya pacar?”

“ Ne.” Taeyeon mengangguk dengan wajah polos. Jonghyun tampak tidak senang.

“ Kenapa kau berpacaran dengan orang yang tidak Ayah kenal? Seharusnya kau bilang Ayah dulu.” Ucap Jonghyun.

“ Ayah kenal dengannya kok. Itu loh, Choi Minho. Kapten tim basket putra. (author: hahaha, aku pasrahin tuh, Minho buat Taeyeon)”

“ Oh.” Jonghyun mendengus sebal. “ Tapi Ayah tidak mengizinkanmu berpacaran.” Celetuk Jonghyun tiba-tiba.

“ Kenapa, Yah? Aku kan sudah besar.”

“ Tapi kau belum cukup umur. Pokoknya kalau Ayah bilang tidak, ya tidak.” Jonghyun berbicara dengan suara yang keras. Taeyeon kaget, begitu juga denganku. Aku berlari ke tengah lapangan.

“ Jonghyun-ah, kita bicarakan ini baik-baik.” Ujarku pelan, hampir berbisik. Sementara Taeyeon berlindung di balik punggungku. Jonghyun tak pernah memarahi Taeyeon, baru kali ini dia bersikap keras seperti ini, dan ini pasti membuat Taeyeon sedikit takut.

“ Tidak perlu. Aku tidak membolehkannya berpacaran. Titik.” Jonghyun pun keluar dari lapangan, meninggalkan aku dan Taeyeon.

Taeyeon memelukku. “ Ayah kenapa?” ia terisak.

“ Gwaenchana. Nanti Mama bicara dengan Ayah. Taeyeon jangan menangis ya.” Aku mengelus-elus rambut Taeyeon. Aku mengerti, Taeyeon bukan menangis karena dilarang berpacaran. Tapi, Jonghyun yang marah seperti tadi benar-benar menakutkan.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

32 thoughts on “Basketball Dream [1.2]”

  1. Woaaaah suka suka suka suka. Aku kira marriage lifenya bakal ada konflik semacam orang ketiga atau apa gitu karena rata-rata kan begitu bikinnya. Tapi taunya gak ada dan mereka bahagia bener sih aaaa unyu. Fluff banget ini

    Kayanya masalah justru datang bukan antara Jonghyun sama Minhyo tapi Jonghyun sama Taeyeon dan Minho deh. Aaaaaa unyu Jonghyunnya cemburu hehehe

    Tapi agak lucu bacanya pas ada opini author yang nyelip di badan cerita yang kaya gini –> (author: hahaha, aku pasrahin tuh, Minho buat Taeyeon)

    Lucu aja aku lagi melanglang buana ke alam imajinasi dan udah setengah terbuai tapi tiba-tiba harus ditarik ke alam nyata dengan opini kamu. Agak disayangkan sih karena feelnya jadi ilang hehe

    Terus bersambungnya kalau pas :
    Taeyeon memelukku. “ Ayah kenapa?” ia terisak.
    Pasti lebih bikin penasaran deh.

    Ditunggu banget lanjutannya yaaa, masih penasaran kenapa judulnya Basketball Dream hehe. Maaf yaa kalau ada kata yang kurang berkenan. Semangat 🙂

  2. Omona!!!!! Jonghyun jd ayaaaah:””””””)
    ceritanya bikin dugeun-dugeunnn!!!!
    suka bgtttt! ditunggu next partnya ya thorrrr:D

  3. Waaah ~~~
    jd pngen punya suami kayak jonhyun . . .

    Q baca ff ini pas kuliah lho sambil mumpet2 dr dosen . . .

    Penasaran ma part berikutnya . . . Jjong jgn jd galak donk . .

    Nice ff. . .

  4. Fluff banget deh FF-nya,, Awalnya pas lihat judul Basket ball dream,, kirain nyeritain persaingan anak SMA gitu,, eh pas kebawah Cengo sendiri,,haha

    Disini Jjong-nya sweet banget,, type suami siaga,, siap antar jaga,,hehe

    Taeyoen-nya slebor banget,, masa anak tetangga Om shindong,,, ketawa ngikik dibagian itu.:D 😀

    Oke ditunggu kelanjutannya, kenapa tiba2 Jjong jadi galak gitu denger anaknya punya pacar,, eh tp bener deng,, masih 15 th jangan diijinin pacaran dulu, masih kecil tuh bang jjong#apadeh,,

  5. aduuhhh jjong… romantis bgt pas ngelamar itu… huuaaaaa mauuuu *narik2 baju jinki*

    jjong T.T baik bgt..
    eh taeyeon.. anaknya toh..hahaha aq td dr awal mikir taeng org ketiga.. hahahahaha
    wah taeng pcrnya minho.. knp gak jinki aj.. eh tp jinki gak cocok ye jd kapten tim basket.. huahahaha

    wah wah jjong kyknya gak rela anaknya dimilikin cowo lain itu..

    lanjut2

  6. waaa kluarga yg bahagia, aduuh jjong itu baik bnget~

    kupikir ff ini kofliknya bkalan ada org ke3, krna biasanya ff marriage life kyk gtu trnyata konfliknya itu sm taeyeon yg dlrang pcrn sm jjong appa.

    okedeh sgini aja, next part di tungguuu 🙂

  7. Aku pengen bgt jdi Taeyeon di ff ni…
    Tpi, Minho jdi ayahku, Jjong jdi pacarku. Muahaha#plak

    keren, thor! Lanjudkan! XD

  8. Deuuuuuuhhh…. Romantisnya… Mau dehhh…
    ‘Onew oppa… nnti km jg hrs kyk gtu yaa…?’ hehe… #colek2 pundak onew…

  9. Huaaa..bang jjong so sweet bgt. Mau juga dilamar sama bang jjong T__T *digampar blinger*

    Wah, jangan bilang bang Jjong cemburu sama Minho? >__<" #curiga
    atau malah jjong punya dendam sama ayahnya minho? *reader sotoy*
    Wah, bkin penasaran thor~
    next part ditunggu ya..

  10. Ihhhh suka suka suka sukaaaa :3
    author tau aja aku lagi ada sesuatu(?) sama si jjong._. Jadi senyum2 sendiri bacanya ish jjong kenapa romantis ngeselin kan aku enpihhhh-_-

    ayo lanjut part 2!!!! Daebakkkkk^^

  11. Jonghyun oppa manis banget sich..
    Romantis..
    Kata2nya pas ngelamar benar2 menyentuh..
    Pengen dech punya suami kayak gitu..
    #ngarep
    Jonghyun cemburu tuh ma Minho,,
    Ga suka anaknya diambil ma namja lain..
    Hihihi lucu..
    Penasaran ma sikap Jonghyun klo ketemu ma Minho,,
    Kira2 Taeyeon d ijinin pacaran ga yach??
    ditunggu lanjutannya thor,,
    Jgn lama2 yach..
    Hehehe piece..

  12. ugyaa, romantis dan harmonis (?). Keluarga idaman smua orang nih, apalagi punya suami seganteng Jjong :3

    Jjong sakit apa sih? Penasaran deh, jangan2 ntar di akhir ada sesuatu *sotoy*

    ditunggu next partnya 🙂

  13. ahaha… ngak ada konflik ya ??
    bagus …
    aku suka sifat jjong sama min hyo …
    taeyeon wahahahaha
    sama minho ??
    jjong kenapa sih ??? kenapa ngak boleh… ??? apakah jjong bener2 marah ??
    huwaaa…

  14. uwaaaaah daebak…
    nan jeongmal pabo-ya, aku baru aja nemuin WP ini nih kenapa ga dari dulu??? ceritanya kereeen ^^b

    btw ttg FF ini?? kebetulan aku istrinya jonghyun #plakkk dan…ahhh aku jeles, ini keluarga yg romantis banget

  15. iyeeee, eotteohke???
    aku author.
    maaf ya nggak bisa dibales satu-satu.
    intinya aku mau bilang, makasih banyak atas komentarnya. aku baru bener-bener sadar kalau komentar kalian itu bener-bener kayak oksigen. hehe ^^
    lalu, maaf karena aku rasa aku salah kasih judul. setelah dipikir-pikir, judulnya nggak ada hubungannya sama ceritanya. Maeum pyohyeonhagin hangsang neujeo. sekali lagi maaf sebesar-besarnya.
    dan terakhir, semoga masih tetep mau baca lanjutannya ya. gomawo.

  16. AIGOOOOOOOOOOOO harmonis sekali..
    chagi,kamu harus tiru sifat jjong yaa,biar hubungan kita langgeng n harmonis*narik” tuxedo key*

    hajimann….itu jjong napa?,jngan bilang klo dia ngidap daughter komplex..
    waw,ku tunggu lanjutannya…..
    HWAITING!

    1. makasih udah baca. ehh? tarik-tarik tuxedo key? ngapain key pake tuxedo? *tunjukin minho yang pake sweater doang* *apasihh???*
      hehe.

  17. My brother recommended I might like this website. He was entirely right.
    This post actually made my day. You can
    not imagine just how much time I had spent for this info!
    Thanks!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s