My Eyes

My Eyes

Author : helmyshin1 (Shin1 World)

Main Cast : Kim Kibum, Kim Jonghyun SHINee

Rating : General

Genre : Sad, Friendship, Family

Lenght : Oneshoot

A.N : FF ini pernah dipublish di beberapa akun dan ada yang menggunakan main cast yang berbeda.

Menyesal, menyesal, dan menyesal.

Hanya kata itu yang memenuhi pikiranku. Entah kenapa aku merasa begitu bodoh. Kenapa dahulu aku menggunakan anugrah-Nya hanya untuk sesuatu yang seharusnya tak boleh kulakukan? Padahal, aku punya banyak waktu.

4 tahun sejak memiliki benda itu. Tentu sangat panjang, tetapi sebagian besar dari itu hanyalah tahun-tahun tak berguna yang kuisi dengan hari-hari yang tak ada gunanya pula. Aku hanya menggunakannya untuk memandangi layar komputerku sembari memainkan jemariku di atas keyboard hitamku. Setelah itu . . . akh, aku tak mampu menjelaskan apa yang kemudian terjadi padaku.

“Hyung, makan malamnya sudah kusiapkan. Ayo kita makan bersama-sama!” ucap seorang namja sembari menghampiri namja lain yang tak lain adalah hyungnya. Yang diajak tak mempedulikan apa yang didengarnya. Ia tetap berkutat dengan pekerjaannya.

“Hyung! Ayo kita makan!” seru sang dongsaeng lebih keras.

“Kau makan saja duluan Kibum. Aku hampir berhasil,” balas Jonghyun acuh. Kibum menghela nafas mencoba sabar, “Hyung. Bisakah kita mencari pekerjaan lain? Maksudku yang lebih baik dari ini. Kita kan bisa menjadi pelayan atau..”

“Diamlah Kibum. Kau cerewet sekali. Kau seharusnya berterimakasih padaku. Dengan ini, kau tak perlu lelah lelah bekerja.” Ujar Jonghyun kasar memotong perkataan Kibum.

“Tapi membobol rekening orang lain itu tidak baik, hyung!” pekik Kibum geram.

Jonghyun tak menggubris ucapan dongsaengnya dan membalas dengan teriakan yang lebih keras, “SHUT UP!”

“Jonghyun hyung?”

Suara lembut seorang namja mengagetkanku. Suara itu sangat familiar. Suara yang sangat kukenal.

“Ne, Kibum?” balasku lirih, namun tak sedikit pun aku mengalihkan wajahku untuk menghadapnya.

“Jonghyun, hyung! Apa yang kau lakukan disini? Ayo masuk! Jangan di luar terus. Di sini sangat dingin. Kau bisa sakit nanti,” ajaknya sembari melangkahkan kakinya menghampiriku.

“Mollayo Kibum. Aku ingin melihat bintang lagi. Aku juga ingin melihat hijaunya dedaunan lagi, putihnya salju lagi, juga birunya langit. Aku sangat menyesal, Kibum. Seharusnya dulu aku mendengarkanmu” jawabku cepat.

Kibum berhenti melangkahkan kakinya mendekatiku. Ia masih terdiam seribu bahasa di balik tubuhku.

Tanganku mengepal geram. Aku ingin marah, tapi pada siapa? Aku ingin mengeluh, tapi pada siapa? Aku ingin menangis, tapi pada siapa?

Akhirnya, air mata yang membendung di kelopak mataku meluap, mengalir deras menelusuri lengkukan pipiku hingga akhirnya menetes ke tanah. Aku membiarkannya terus mengalir hingga jemariku mampu untuk menyekanya.

“Kau pasti bisa melihat lagi, hyung. Aku tau itu.”

***

Kibum kini tengah mencari pekerjaan untuk menghidupi kami. Sebelumnya, ia bekerja di sebuah bar, namun bar itu ditutup.

Aku merasa sangat bersalah. Sebagai seorang kakak, mestinya aku yang menjaganya. Aku justru menyulitkannya…

Aku dan Kibum hanya tinggal berdua saja dirumah kontrakan ini.

Orang tua? Mungkin kalian bertanya di mana orang tua kami. Tapi, pertanyaan yang tepat adalah, kemana orang tua kami. Orang tua kami bercerai saat umurku 7 tahun, dan Kibum 6 tahun. Appa dan umma tiada yang sudi mengurus kami, sehingga kami ditelantarkan begitu saja. Aku tak mencari mereka atau mencoba mencari mereka. Lagi pula, untuk apa mencari orang yang sudah membuang kami?

Aku pun hanya dapat melantunkan syair-syair indah dari mulutku di persimpangan jalanan, melawan teriknya matahari bersama Kibum.

Sekarang, aku tak dapat memenuhi janjiku di masa dulu. Janjiku untuk menjaganya, dan juga melindunginya.

Kreek . .

Kudengar dorongan pelan dari balik pintu rumah kami. Terdengar derap kaki yang beradu dengan suara yang semakin keras seiring dengan berkurangnya jarak antara derapan kaki tersebut denganku. Hingga akhirnya, aku menangkap seorang namja terkekeh senang dan berkata padaku, “Hyung, aku baru dapat pekerjaan lagi!”

Aku yang masih menyandarkan punggungku di sebuah kursi kayu dengan tersenyum lalu menghela nafas dalam.

“Mianhae saeng, seharusnya kau hanya perlu belajar di rumah. Kau belum seharusnya bekerja. Mianhae, aku tak dapat..”

“Gwenchana hyung, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku menjadi pelayan di sebuah cafe dekat sekolah. Tapi tenang saja, pemilik cafe itu sangat baik, dia mengijinkanku bekerja sepulang sekolah” jelasnya. Aku semakin merasa bersalah, namun aku tak dapat berbuat apa-apa lagi.

***

“Kita mau kemana sih, Kibum?” tanyaku mulai penasaran.

“Sudahlah, hyung diam saja” jawabnya asal. Dasar Kibum, selalu saja begitu.

“Hyung, kita sudah sampai” katanya tiba-tiba sembari membukakan pintu mobil untukku. Tentu saja mobil itu dibeli dari uang hasil kecerdasanku.

Kibum menuntunku kesuatu tempat. Dia mendudukanku di atas sebuah bangku kayu yang terasa cukup tua dan duduk di sampingku. Di sini, bisa kurasakan sepoi angin membelai tubuhku lembut. Walau semua masih terlihat gelap, namun aku merasa lebih tenang sekarang. Bahkan sangat tenang.

“Kau tau, hyung? Di balik bangku tempat kita duduk saat ini ada pohon sakura yang sangat besar!” ungkap Kibum terdengar kagum.

“Memangnya kenapa? Apa ada hantu yang bersarang di pohon itu?” ucapku asal. Kibum tertawa mendengar ucapanku yang begitu konyol. “Akh, tidak lucu, hyung!” seru Kibum di tengah tawanya. “Kalau tidak lucu kenapa tertawa? Dasar babo!” candaku. Kami tertawa bahagia bersama. Karena kebersamaan ini tak pernah terasa sejak aku berkutat dengan ‘dunia keduaku’ atau yang lebih dikenal dengan dunia maya. Juga sejak kedua kornea mataku tak dapat menerima rangsangan cahaya lagi.

***

Di sepanjang jalan pulang, kami menyanyikan lagu bersama-sama sambil tertawa riang. Aku merasa sangat senang hari ini.

Tiba-tiba…

Cekiiiiittt….

BRAK!

Kepalaku terbentur oleh sesuatu. Carian pekat mengalir pelan dari kepala bagian kananku. Kepalaku terasa sangat sakit. Aku hanya mampu memeganginya agar cairan pekat itu tak mengucur lebih banyak lagi. Perlahan kesadaranku mulai buyar. Suara-suara yang menabuh gendang telingaku samar-samar tak terdengar lagi. Kakiku seakan tak mampu menopang tubuhku lagi, hingga akhirnya aku luluh, terjatuh di atas aspal, dan terasa cukup menyakitkan.

***

Aku tersadar oleh sebuah ledakan cukup besar yang tak jauh dari tempatku terjatuh tadi. Aku mencoba menguatkan tulang kakiku agar mampu menopang berat tubuhku, sehingga dapat berdiri tegak. Sedetik kemudian, terulas singkat memoriku bersama Kibum. Aku mencoba memanggil-manggilnya sambil meraba-raba benda disekitarku.

“Kibum! Gwenchana? Apa yang terjadi?” teriakku cemas.

“G..gwenchana, hyung. Sepertinya a.. ada truk yang menghantam mobil ki..ta” jawabnya tersendat-sendat.

Walau kedua telapak kakiku sempat menginjak tajamnya pecahan kaca yang berceceran di mana-mana, aku tetap mencari asal suara tersebut hingga akhirnya aku menemukan Kibum. Kudengar teriakan wanita dan anak-anak minta tolong. Namun aku sendiri tak mampu menolong mereka. Aku masih menggenggam erat tangan Kibum yang tergeletak di jalan dan merintih kesakitan.

“Hyung, kakiku ter..timpa kayu,” katanya lirih. Sejurus kemudian, aku meraba-raba kakinya. Memang benar, sepertinya kaki Kibum tertimpa sebatang kayu glondongan yang cukup besar. Mungkin truk yang dimaksud Kibum tadi membawa kayu glondongan.

“Bertahanlah, Kibum!” seruku. Aku mencoba menebak posisi kayu yang menimpa kaki Kibum agar bisa memindahkannya.

“Hyung, tapi kepalamu berdarah!” serunya cemas.

“Masa bodoh dengan kepalaku! Yang terpenting sekarang, kau harus selamat!” pekikku.

“Kibum, segera tarik kakimu jika kayunya sudah terasa agak merenggang dari atas kakimu, ara?” jelasku lagi.

“Nn.. Ne” jawabnya lirih.

Aku mencoba mengangkat kayu itu sekuat tenagaku. Tapi sepertinya aku belum memberikan celah yang cukup agar Kibum mampu menarik kakinya. Saat tubuhku sedikit kugeser ke samping, terasa sebuah benda tajam menembus daging kakiku. Membuat cairan pekat dari dalam pembuluh darahku mengalir deras di kulitku. Aku hanya mampu menggigit bibir bawahku untuk menahan sakit.

Dengan sisa tenagaku, aku berhasil mengangkat kayu itu lagi sehingga memberikan celah yang cukup agar Kibum dapat menarik kakinya.

“Hyung! Kau berhasil!” teriaknya. Aku segera melepas kayu tadi dari genggamanku.

 Beberapa saat kemudian, kudengar sayup-sayup suara ambulance berdatangan. Kibum berteriak dengan suaranya yang serak. Namun, aku tak mampu mengendalikan saraf-saraf otakku lagi.

***

Aku terbangun dari tidurku. Semua masih sama, gelap. Tak sekilaspun cahaya jatuh ke retina mataku.  Kepalaku masih terasa sangat sakit. Aku mencium bau obat-obatan disekitarku.

“Pasti ini di rumahsakit.” Gumamku pelan.

Tapi, di mana Kibum? Aku mencoba memanggil-manggil namanya, namun aku tak mendengar suaranya. Aku mencoba bangkit dari tempat tidurku. Namun aku tak kuasa untuk melakukannya. Kakiku masih terasa sakit. Tiba-tiba, kudengar seseorang memanggilku.

“Jonghyun-ssi. Anda sudah sadar? Anda jangan bergerak dulu!” seru seseorang yang kurasa baru datang.

“Tapi, dimana namdongsaeng saya?” tanyaku cemas.

“Dia masih kritis” jawabnya lalu memeriksa tubuhku. Tentu saja aku sangat kaget mendengarnya. Semoga saja Kibum baik-baik. Hanya do’a yang mampu kuberikan padanya.

***

Beberapa dokter mendorong ranjangku menuju suatu ruangan. “Saya akan dibawa kemana, Dok?” tanyaku. Namun tak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaanku.

“Jonghyun hyung?” panggil seseorang padaku. Kibum? Ne. Itu suara Kibum.

“Kibum?” tanyaku ragu. “Ne. Hyung, gwenchana?” ucapnya pelan. Suaranya terdengar lebih membaik dari pada saat kecelakaan yang baru menimpa kami.

“Yaa! Kibum-ah. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu” balasku kesal. Kudengar Kibum hanya terkekeh pelan.

 “Hyung. Tenang saja. Sebentar lagi hyung akan bisa melihat lagi”

“Jinja? Siapa yang medonorkan korneanya untukku?” seruku terkejut.

“Kau akan tau nanti” jawabnya singkat. Namun, suaranya tersendat-sendat menandakan bahwa sesuatu telah membuatnya menangis.

“Kibum, kau menangis?” tanyaku. Kibum mengelak dengan mengatakan bahwa dia tidak menangis. Tapi aku tau, dia pasti berbohong. Dia menangis. Ya, Kibum menangis. Tapi mengapa? Apa karena kecelakaan ini?

“Hyung, aku pergi dulu”

“Ne”

Aku mengerutkan keningku masih penasaran. Siapa yang mendonorkan korneanya padaku? Aku tak mempunyai teman juga tetangga dekat. Nugu?

***

“Jonghyun-ssi, coba buka mata anda” perintah seseorang padaku.

Aku membuka mataku pelan. Nampak cahaya yang cukup terang dan samar-samar masuk melalui pupil mataku, terus kebagian yang lebih dalam hingga akhirnya jatuh ke retina mataku dan sampai ke otakku melalui saraf-sarafku kurang dari sedetik.

Terlihat bayang-bayang tubuh jangkung berdiri di hadapanku. Semakin lama, bayangan itu semakin jelas. Oh Tuhan. Apakah ini mimpi? Aku bisa melihat lagi! Jeritku dalam hati. Jantungku berdegup kencang tak percaya.

“Dokter?” gumamku ragu.

“Selamat Jonghyun-ssi. Anda bisa melihat lagi,” kata dokter itu tersenyum.

Jantungku semakin berdegup tak karuan. Aku merasa seperti terlahir kembali. Bukan main senangnya hatiku. Tiba-tiba, aku teringat akan sesuatu. “Dok, di mana namdongsaeng saya?” tanyaku. Dokter tersebut pergi tanpa mengucapka sepatah katapun.

Tiba-tiba, tangan seseorang menepuk bahu kananku dari belakang. Sontak, aku menoleh ke arahnya. “Dongsaengmu sangat baik” jelas namja yang ternyata dokter lain.

“Aku bukanlah hyung yang baik. Aku bahkan tak bisa melindungi dongsaengku sendiri,” balasku sambil membuang mukaku kelantai. Dokter itu memberikan secarik kertas padaku seraya pergi dan berkata, “Tabahkan dirimu!”

Kutelusuri kata demi kata yang tersusun rapi di atas selembar kertas tadi.

–FLASHBACK–

Beberapa dokter terlihat sangat sibuk dengan salah satu pasien mereka yang baru saja menjadi korban sebuah tabrakan berantai.

Kim Kibum. Tertulis nama pasien tersebut di catatan sang dokter. Tulang kaki Kibum patah dan harus cepat diamputasi, karena sudah terinfeksi oleh bakteri yang mematikan.

“Dokter, apa operasi ini akan berhasil?” tanya Kibum pada salah seorang dokter di dekatnya. “Semoga saja. Semoga saja jantungmu kuat,” balas dokter itu.

Kibum menghela nafas panjang. Dia membisikkan sesuatu pada dokter.

Sang dokter kaget mendengarnya. “Tapi Kibum-ssi,”

“Tolong! Aku tak ingin mati sia-sia” mohon Kibum. Dokter tadi mengangguk pelan.

–FLASHBACK END–

Aku mendongakkan kepalaku. Kutatap kerlipan bintang yang menerjang gelapnya malam. Aku bahkan belum melihat wajah Kibum untuk terakhir kalinya. Bagaimana raut wajahnya sekarang?

Jonghyun hyung, Saat kau membaca surat ini, mungkin kau sudah tak dapat melihatku lagi. Tapi, aku akan tetap bersamamu, dan akan selalu bersamamu.

Tak ada kata-kata yang mampu terlontar dari mulutku. Mulutku terasa terkunci. Tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Marah, bahagia, sedih, menyesal, semuanya bercampur aduk menjadi satu dalam dadaku. Dadaku sesak, tak tau apa yang harusnya kuperbuat.

Jonghyun hyung, aku sudah menepati perkataanku. Jadi, penuhilah permintaanku yang terakhir.

Aku menghirup oksigen dari hijaunya pohon-pohon di sekitarku dengan sinar matahari yang menyilaukan mataku. Kuhembuskan nafas berat melalui rongga hidungku, mengeluarkanya perlahan bersama beban-beban yang selama ini mengganjal dalam dadaku.

Lihatlah dunia untukku. Lihatlah kerlipan bintang untukku. Lihatlah hijaunya dedaunan untukku. Lihatlah putihnya salju untukku. Lihatlah birunya langit untukku… Juga untukmu.

Kutarik sarung tangan tebal yang membungkus kedua tanganku. Kurenggangkan jemariku dan membiarkan telapak tanganku menghadap langit agar diselimuti putihnya salju.

Dan jangan lupa untuk selalu tersenyum!!! Keep smile!

Hanya ini yang bisa kuberikan padamu. I will be your eyes. Jonghyun Hyung . . . Saranghamnida

Kim Kibum

Tentu Kibum. Aku sudah menepati semua permintaanmu.

***

Rest In Peace

Kim Kibum

26-06-2011

Huruf-huruf itu terukir di atas sebuah batu pusara yang sudah tertutup banyak debu. Di hadapan batu itu terdapat gundukan tanah yang sudah kasar, menandakan bahwa gundukan itu sudah lama disana. Dan dibawah gundukan tanah tersebut, terbaring jasad satu-satunya dongsaegku, Kim Kibum. Ya. Dongsaengku sudah tenang di sana.

Kibum, I promised I would protect only you. I only have you. So, why you leave me alone?

Di bawah terangnya sinar rembulan yang menembus celah-celah pepohonan, kubelai  lembut batu itu bersamaan dengan guguran daun lesu. Kurogoh saku celanaku, mengambil secarik kertas yang merupakan pesan terakhirnya padaku. Aku meletakkan kertas itu di atas gundukan tanah  yang berhiaskan hijaunya rerumputan. Membiarkannya hilang ditelan hembusan udara malam.

Kudongakkan kepalaku agar air tak mengalir deras dari pelupuk mataku. Baru sekarang aku dapat menghapus air mataku sejak 6 tahun yang telah berlalu. Bersamaan dengan itu, senyuman miris mengembang di pipiku. Kukenakan kacamata hitamku, lalu melangkahkan kakiku gontai meninggalkan tempat itu.

-END-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

59 thoughts on “My Eyes”

  1. Hiks T.T, ceritanya mengharukan, tapi agak bisa sedikit ketebak sih hehe .__. .
    Keren, simpel dan mengharukan…Nice FF thor TT__TT

  2. ah aku miris bacanya.. bener bener sedih. pas baca isi surat dari kibum udah ngalir aja nih air mata. bener bener tersentuh

  3. setuju sama yg lain.. meskipun udh ketebak endingnya gimana.. tp tp tp tetep aja bikin mewek.. huaaa kuncikuuuu

    mantep thor

  4. Huks, *sroot* itulah kasih sayang adik kepada kakaknya *eaa*
    Aku juga setuju sama reader yang lain. Endingnya udah ketebak (hue mian Thor ><")
    Tapi penulisannya udah rapi, enak dibaca. Keren deh! 😀
    Thumbs up! b^o^d

  5. waaaah..
    aku udah bakal ngira sih si key bakal donorin matanya, tapi ga nyampe ngebayangin dianya bakal mati huaaa 😥
    daebak thor, mengharukan

  6. aku setuju dengan komen-komen diatas meskipun sudah bisa ditebak tetap aja masih bikin nangis 😥

    tapi thor, aku mau tanya jonghyun kenapa bisa buta ya?

    suskes terus buat author!!

  7. Sumpah!! Nyesek banget,,,
    Kenapa Key mati,,Ah author,,,kenapa milih Key?? Dia suami saya lho#PLAk

    Endingnya udah ketebak sih,,,tapi aku tetap mewek,,,

    Nice story,,,,

  8. hiksu~ padahal hyunnie pengennya Keyppa donorin sebelah aja biar dua2nya sama2 bisa lihat tapi keyppa keburu…hiksu~
    kaya’nya hyunnie pernah baca deh,dimana ya?~
    ini dulu ff juga ga’? kalo iyadi fandom apa?
    well, daebak, thor! keep writing!
    Hwaiting ^^

  9. ahh nyesek aku nangis.. benar2 menangis… huwaa feelnya dapet banget .. adik kakak yangs aling menyayangi …
    kenapa key mati sih thor .. huwaa kasian jjong …
    ff yang bagus.. gigit jari aku bacanya .. good job thor .. gomawo .. ^^

  10. sebenernya uda bisa qetebak sih,
    tp g tau qenapa te2p,:’( wkt baca….
    bagus thor nulisnya..te2p semangat!!

  11. nangis bacanya.. apalagi pas bagian key ku meninggal.. huhuhhuuuuu……. sedih sedih.. ff ini bagus bagus bagus bagus……

  12. Endingnya gx bikin nangis,, Tapi nyesek-ny itu lohhh,, Bagian surat Kibum huwaaahh,,, My Keyy,, kau baik hati sekali,, hubungan persaudaraan yg mengharukan.

    Ceritanya simple tp tepat sasaran, diawal tadi aku sempet bingung sama POV ny,, kn pake sudut pandang ‘aku’ tp add kalimat yg merujuk ke sudut pandang org ketiga, tp over all I Like this story,, 😀

  13. Helmy…..!!!!!!!!!!!! T_______T
    OK, aku gak nangis, aku gak nangis… Air mata gak bisa ngalir, sekarang aku malah nyesek banget… Aduh, dadaku sakit….. ><

    Pertama kalinya aku baca ff-mu yg bikin aku cemberut terus. Dan kenapa juga harus Key? Uh…. sedihnya 😦

    Adegan yang paling membuatku sesek adalah saat tabrakan dan saat di kuburan itu. Oh, entah kenapa aku pengen peluk Jonghyun dan Kibum detik itu juga… T___T

    Keren keren keren keren keren….
    Daebak daebak daebak daebak daebak…

    Aku suka!!! jelas aku suka!!! Walau aku udah sering baca yang sejenis ini, tapi menurutku ini salah satu yang terbaik 🙂

    Good job, Helmy. Teruslah berkarya!!! Aku tunggu…. 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s