Last Rainbow [1.2]

Title : Last Rainbow – Part 1

Author : Delfta

Main Cast : Kim Sulbi, Lee Taemin

Other Cast : Key, Hyunjae, Jiwoo, Etc

Genre : Romance, sad

Length : Twoshots

 

Kim Sulbi POV

Aku menatap geram pada sekumpulan siswa yang sedang membully seseorang diujung lorong. Kenapa sih mereka selalu seperti itu? Apa tidak ada pekerjaan yang lebih berguna? Jika aku kepala sekolah disini, aku akan langsung mengeluarkan sekumpulan siswa tak berguna itu.

Aku terus melangkah mendekati mereka, ingin sekali aku menolong siswa yang dibully mereka. Hingga saat selangkah lagi aku mendekati sekumpulan itu, baru kutau siapa yang dibully. Lee Taemin. Dia memang sudah biasa diperlakukan seperti itu disekolah ini. Dikelas maupun diluar kelas selalu saja ada yang membuatnya pasti tak nyaman. Kasihan sekali dia. Itu pasti karena profesinya yaitu menjadi artis saat ini. Siapa yang tidak kenal, dia kan member dari boyband yang sedang naik daun.

Aku terdiam didepan mereka. Satu hantaman dari siswa tak berguna itu menepi di perut Taemin. Membuat Taemin terlihat kesakitan, tapi ia hanya menunduk sambil menggigit bibirnya. Lalu sekumpulan siswa tak berguna itu kabur meninggalkan Taemin. Aku merasa air mataku akan mulai jatuh gara-gara melihat tindakan kekerasan tadi. Apalagi mereka melakukan itu pada Taemin. Taemin orang yang kusukai sejak masuk Chung Dam High School ini. Tapi aku menyukainya bukan karena dia artis. Aku bahkan bukan shawol. Aku mencintainya sebagai seorang namja biasa. Aku menyukainya juga karena kami sama-sama senasib sebagai orang yang suka dibully.

Aku maju selangkah mendekati Taemin. Babo sekali aku ini, hanya bisa menonton dalam kegetiran. Tanpa melakukan sesuatu. Aku benar-benar pengecut. Taemin tiba-tiba mendongak dan menatapku. Jantungku langsung berdegup kencang. Mata kami bertatapan lumayan lama tanpa pembicaraan.

Suara alunan bel tanda masuk berbunyi membuyarkan tatapan kami. Taemin langsung mengalihkan pandangannya dan berjalan meninggalkanku yang masih terpaku dalam penyesalan. Babo sekali, kenapa tadi aku hanya diam? bukannya menanyakan keadaannya? Ah aku menyesal sekali. Sekarang dia pergi. Padahal tadi banyak kesempatan untuk mengobrol, dia kan jarang masuk sekolah. Asal kalian tau saja, sampai sekarang kelas 2 SMA, aku dan Taemin tidak pernah ngobrol sedikitpun. Mungkin karena aku juga yang tergolong pendiam. Dan dia juga pendiam jika dikelas.

Aku melangkah gontai masuk ke kelas. Kubuka pintu kelasku dan kuedarkan pandanganku keseluruh kelas. Kelasku tetap saja ribut walaupun bel sudah berbunyi. Ada yang sedang main gitar sambil nyanyi Ada yang sedang bergosip. Ada yang sibuk menyalin tugas. Dan sebagainya. Tapi mataku langsung tertuju ke bangku paling belakang dimana Taemin biasa duduk. Kulihat dia sedang sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya.

“Eh.. si jenius kita!” seru Hyunjae saat melihatku masuk kelas. Aku tidak memedulikannya dan langsung menuju mejaku di meja paling belakang. Jika Taemin di sudut belakang paling kanan, aku disudut belakang paling kiri.

Hyunjae dan Jiwoo mendekatiku sambil tersenyum. Senyuman yang kubenci. Melihat senyum itu, aku sudah tau apa maksudnya. Aku langsung membongkar tasku dan mengambil buku kecil berisi rangkuman seluruh pelajaran yang sengaja kurangkum untuk mereka. Bodohnya, aku ini malau mau-mau saja disuruh mereka untuk merangkum semua pelajaran. Aku memang tertindas juga disini. sama seperti Taemin. Anak-anak sekelas masih baik padaku terkadang jika mereka sedang ada butuhnya saja. Tapi aku sering dianggap tak ada jika mereka tak butuh lagi. Hidup ini memang tidak adil.

Aku memberikan notebook kecil itu ke Hyunjae. Hyunjae menerimanya sambil tersenyum.

“Gomawo!” ucapnya lalu berbalik

“Aku mana?”tanya Jiwoo

“Hmm.. Jiwoo, kau fotokopi milik Hyunjae saja ya. Aku hanya buat satu.” ucapku dengan sedikit takut

Jiwoo terlihat kesal. Aku jadi takut melihatnya. Dia langsung menatapku dengan garang dan pergi. Kulihat dia langsung berbicara dengan teman-temannya yang lain. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Aku menunduk takut. Apa yang akan dia lakukan terhadapku nanti? Aku benar-benar takut. Semangat belajarku selalu turun begitu bertemu orang –orang seperti ini.

Beberapa detik kemudian Lee seonsaengnim masuk kelas. Dan mulai beraksi dengan materi Trigonometrinya. Aku langsung kembali menaikkan semangat belajarku. Hingga akhirnya jam matematika ini selesai.

Jam pelajaran kedua, semuanya langsung keluar menuju loker masing-masing untuk segera berganti dengan baju olahraga. Aku langsung pergi ke toilet dulu sebelum mengambil baju olahraga karena perutku sedikit bermasalah. Setelah itu aku menuju deretan loker yang sepi orang. Pasti anak-anak kelas sekarang sudah ada di lapangan. Aisshh aku bisa terlambat pelajaran olahraga, ini gara-gara perutku. Aku langsung membuka lokerku. Dan saat kubuka, betapa kagetnya aku melihat beberapa katak kecil didalam lokerku. Aku langsung menjerit, karena salah satu katak ada yang loncat ke seragamku. Air matakupun mulai turun karena melihat betapa ngerinya katak yang menempel di seragamku. Aku fobia katak!

Tiba-tiba seseorang menolongku. Aku tidak melihat siapa dia karena aku menutup wajahku. Aku takut katak itu tiba-tiba lompat ke wajahku. Kurasakan seseorang itu menyingkarkan katak dengan suatu benda seperti batang.

“Kataknya sudah aku usir semua, termasuk yang didalam loker. Ayo sekarang cepat ganti bajumu, Sebelum Park seonsaengnim datang ke gedung olahraga.” ucap seseorang itu. Aku langsung menurunkan tanganku dan membuka mataku untuk melihat siapa orang itu.

Taemin?!! Aku kaget melihatnya. Jantungku berdebar tak karuan lagi saat aku melihat Taemin tersenyum padaku. Tenggorokanku seperti tercekat.

“Tadi aku lihat Jiwoo menaruhnya di lokermu. Ayo sekarang ganti baju. Cepat. Aku ke gedung olahraga duluan” ucapnya lalu pergi meninggalkanku. Aku hanya menatap kepergiannya. Babo! kenapa aku tidak berterima kasih dan malah melongo seperti ini?! Aisshhh.. keterlaluan!

##

Bel pulang berbunyi. Seluruh kelas berubah jadi ribut menyambut usainya pelajaran hari ini. Setelah Han seonsaengnim keluar kelas, para siswapun mengikutinya keluar kelas. Hanya tinggal aku sendiri yang masih membereskan buku pelajaran. Bagus! piket hari ini aku lagi yang melakukannya? Mereka semua memang tidak bertanggung jawab., selalu langsung kabur dan selalu aku yang piket sendiri.

Dengan malas aku mengangkat kursiku keatas meja lalu mulai mengangkat kursi lainnya. Saat aku mendekati meja Taemin, ada sesuatu yang menghentikanku. Ransel Taemin masih disini? Bagaimana dia bisa melupakan barang seperti ini? Akhirnya aku melanjutkan mengangkat kursi keatas meja.

“Mian, aku baru datang lagi. Tadi aku ke kantin beli minum” ucap seseorang dari belakangku. Aku langsung berbalik dan… didepanku ada Taemin?

Aku hanya diam menatapnya. Aku ingin mengatakan sesuatu. Ah.. babo sekali aku ini. Mengapa sulit sekali untuk bicara padanya?

“Hari ini aku piket juga ya?”tanyanya. Aku pura-pura membuka jadwal piket dan mengangguk. Padahal aku sudah hafal kalau dia hari ini piket. Bukannya pilih kasih. Aku sih sudah maklum kalau dia mangkir dari tugas piket, kepentingannya kan banyak. Tapi kalau yang lain aku benci, mereka bahkan tidak memiliki kepentingan mendesak. Mereka mangkir piket hanya untuk bermain-main.

“Ye” jawabku. Dia langsung ikut mengangkat kursi ke meja. Aku langsung menghampirinya lalu mencegahnya mengangkat kursi-kursi lagi.

“Biar aku saja yang piket hari ini. Kau pasti sibuk kan?” tanyaku dengan gugup. Akhirnya aku bisa bicara juga.

“Aniyo.. hari ini jadwalku hanya sekolah saja. Jadi tenang saja.” jawabnya

“Eoh? jeongmaliyo? Gomawo, sudah mau datang untuk piket”

“Cheonmaneyo. Mian, aku jarang sekali piket. Ditambah lagi teman-teman lain yang tidak mau piket. Pasti kau lelah membereskan ini semua sendiri.”

Akhirnya kami sibuk membersihkan dan membereskan kelas berdua. Beruntung sekali aku hari ini,  ada orang yang sadar akan piket. Dan orang itu Taemin. Aku merasa semakin senang.

Sejam kemudian, kelas ini sudah bersih dan nyaman sekali dipandang. Aku menghembus nafas lega. Tapi saat aku dan Taemin hendak pulang, tiba-tiba saja hujan turun deras. Membuat aku dan Taemin jadi hanya bisa menunggu dikelas sambil menatap hujan dengan kesal lewat jendela. Dengan hati-hati aku melirik Taemin yang sedang cemberut melihat hujan turun. Wajahnya jadi lucu. Membuatku tersenyum. Aku seperti terhipnotis melihatnya.

Tiba-tiba dia langsung mengalihkan pandangannya padaku. Aigo, aku tertangkap basah sedang memperhatikannya! Aku langsung menunduk malu. Kurasakan dia tertawa kecil melihatku yang menunduk malu. Babo! Bisa-bisa dia mengetahui kalau aku menyukainya.

“Taemin, gomawo” ucapku memecah keheningan. Dia menatapku dengan pandangan bertanya.

“Masalah katak yang tadi ada di lokerku” ucapku malu-malu.

“Cheonmaneyo” ucapnya singkat sambil tersenyum.

Hening lagi… Daritadi suasananya begitu canggung. Tapi untungnya aku sudah berusaha berterima kasih padanya.

“Kau senang sekolah disini?” tanyanya. Senang? Jauh dari senang. Ini bukan sekolah pilihanku. Tapi yang tetap membuatku semangat sekolah disini adalah dirimu,

Taemin. Walaupun seringkali kau tidak sekolah, tapi aku selalu menyemangati diri dari rumah bahwa kau akan selalu sekolah.

“Sebenarnya sekolah disini bukan pilihanku. Ini pilihan orangtuaku. Mereka sudah merencanakan semua pendidikan yang harus aku lalui.” ungkapku

“Jinjja?” Taemin terlihat tertarik dengan ceritaku. Aku jadi merasa nyaman dengan sikapnya yang bersahabat.

“Ne. Setelah lulus dari sini aku juga harus masuk jurusan kedokteran. Aku harus bisa menjadi dokter seperti Appa.”

“Kau pasti bisa, nilaimu kan selalu bagus. Si jenius dari kelas kita pasti bisa menjadi dokter. Satu kuncinya, kau harus yakin dengan apa yang kau mau. Lalu raihlah itu tanpa peduli kondisi apapun yang akan menghalangi itu. Kau pasti akan bisa meraihnya. Harus bisa.” ucapnya sambil menepuk punggungku, membuatku nyaman didekatnya. Lama-lama aku mulai berani mengobrol dengannya. Ini pertama kalinya kami mengobrol selama hampir 2 tahun sekelas. Padahal ini sudah di penghujung  tahun kedua. Beberapa hari lagi tahun kedua akan berakhir.

“Jangan berlebihan seperti itu. Aku tidak jenius seperti itu. Haha” aku jadi tersipu malu

“Ya.. Peringkat satu sesekolah bagaimana tidak jenius? haha”

“Ah..sudahlah jangan diungkit-ungkit. haha. Bagaimana denganmu? kau senang sekolah disini?”

“Aku sebenarnya tidak terlalu senang. Aku tidak nyaman dengan perlakuan kebanyakan siswa disini. Tapi no problem, aku masih bisa atasi itu. Yang tak bisa kuatasi adalah absen disini. Aku sudah absen banyak” ungkapnya

Tiba-tiba hujan mulai reda. Dan mulai muncul lagi matahari yang akan menyinari bumi. Sehingga terciptalah lengkungan pelangi. Aku tersenyum melihatnya. Baru kali ini aku melihat pelangi lagi. Aku langsung mengeluarkan ponselku dan mengambil gambarnya. Dan ternyata Taemin juga mengambil gambar pelangi itu denga ponselnya juga.

“Kau suka pelangi?” tanya Taemin tiba-tiba

“Tidak juga. Itu karena aku sudah lama tak melihatnya. Lagipula gambar pelangi bagus untuk dijadikan wallpaper.” jawabku

“Kupikir kau suka pelangi. Bagaimana kalau suatu saat nanti kita melihat pelangi bersama? dan kau bisa mengambil gambar pelangi lagi”

“Lihat pelangi bisa dimana saja kan. Mungkin saja kita bisa melihat pelangi saat sedang tidak berdua seperti ini.”

“Tapi kita harus melihat pelangi berdua. Kita kan anak yang senasib disini, sama-sama tertindas. Harus melihat sesuatu yang membuat bahagia bersama” ucapnya. Mendengar itu aku jadi senang. Dia menginginkan aku untuk melihat pelangi bersama?

“Hmm.. baiklah.”

“Ayo pulang. Hujannya sudah reda” ajaknya.

Kamipun berjalan untuk keluar dari sekolah. Didepan sekolah tiba-tiba sudah ada mobil sedan hitam terparkir. Seseorang  terlihat keluar dari dalam dan menghampiri kami.

“Key hyung, kau sudah datang kesini? aku kira kau mau jemput di halte” seru Taemin padanya

“Ya. Aku malas menunggu disana. Aku sudah menunggu daritadi sebelum hujan turun. Kau ini lama sekali, ponselmu tidak bisa dihubungi pula!” cerocos Key pada Taemin.

“Mian hyung, ponselku low battery lalu mati.”

“Oh yasudah ayo pulang. Temanmu mau sekalian ikut? ” ajak Key

“Kajja” ajak Taemin

“Aniyo. Aku pulang sendiri saja.”

“Hmm yasudah. Annyeong”

“Annyeong, hati-hati dijalan ya”

Aku menatap kepergian mereka. Setelah itu aku berjingkrak-jingkrak kegirangan. Akhirnya aku bisa mengobrol sedekat itu bersama Taemin! Suatu kemajuan mengingat selama ini aku tidak berani mengobrol dengannya.

##

Aku menatap meja Taemin yang kosong. Ada rasa kecewa seperti biasanya saat melihat meja itu kosong. Padahal bel masuk sudah berbunyi. Apa dia kesiangan? Semoga dia bukannya tidak masuk, tapi dia itu cuma kesiangan. Gara-gara kemarin, aku jadi sangat merindukannya. Memang berlebihan. Tapi itulah kenyataannya. Perasaanku jadi makin dalam padanya sejak mengobrol dengannya. Aku merasa nyaman didekatnya.

Kim seonsaengnim, si wali kelas sudah memasuki kelas dan dia mulai mengabsen kehadiran siswa satu persatu. Mataku terus tertuju pada pintu kelas, berharap Taemin tiba-tiba datang. Berharap hari ini Taemin tidak ada jadwal sebagai artis seperti kemarin. Gara-gara aku tidak punya nomor ponselnya jadi begini cemasnya. Ah bodohnya aku, teman sekelas tapi tidak punya nomor ponselnya. Tapi.. kalau punya nomor ponselnya juga pasti aku tidak berani menghubunginya.

“Lee Taemin?” absen Kim seonsaengnim. Hening sesaat. Taemin masih belum datang.

“Tidak ada?” tanya Kim seonsaengnim

“Ne, seonsaengnim” jawab sekelas, kecuali aku. Aku masih mengharapkannya tiba-tiba datang.

“Mwo?! tidak datang lagi? Aisshh.. jinjja, dia harus diberi surat peringatan lagi” komentar Kim seonsaengnim. Aku jadi cemas dan semakin cemas. Tiba-tiba teringat saat Taemin mengatakan bahwa dia cemas dengan absennya. Bagaimana kalau Taemin sampai dikeluarkan dari sekolah ini? Masalahnya dia sudah sering mendapat surat peringatan. Seharusnya pihak sekolah memaklumi, Taemin kan sibuk.

Hingga akhirnya pelajaran terakhir, Taemin masih belum datang. Dia tidak datang ke sekolah hari ini. Rasa takutku semakin besar karena Taemin akan mendapat surat peringatan lagi. Akupun memberanikan diri menghadap Kim seonsaengnim untuk membicarakan masalah Taemin.

“Mworago?” tanya Kim seonsaengnim

“Seonsaengnim, tadi dikelas kau bilang akan memberi Taemin surat peringatan. Apakah surat peringatan itu hukumannya berat?” tanyaku hati-hati

“Untuk apa kau menanyakan itu?”

“Ehhmm aku..aku. Aku hanya ingin tau apakah hukuman yang akan diterima Taemin itu berat?” tanyaku dengan gugup

“Karena dia sudah hampir 75% tidak datang ke kelas, maka dia akan dikeluarkan jika tidak masuk sekali lagi.”

“Hah? Seonsaengnim! Apa kau tidak bisa memberinya keringanan? Dia kan artis, tentu saja sibuk dan tidak bisa menghadiri kelas.” aku langsung berlutut

dihadapan Kim seonsaengnim.

“Keringanan? Justru itu sudah ringan. Itu sudah kebijakan sekolah” ucapnya tegas

“Seonsaengnim aku mohon. Jangan keluarkan Taemin” Aku tidak rela kalau Taemin sampai dikeluarkan dari sekolah ini.

“Ya! Kenapa kau malah memohon untuknya? kau ini kan siswa berprestasi, malah memohon untuk siswa yang tidak disiplin.” Kim seonsaengnim mulai

memarahiku

“Seonsaengnim, biarkan Taemin tetap sekolah disini. Mengertilah dia. Jebal” pintaku dengan sungguh-sungguh

“Kau menyukainya?”tanyanya. Pertanyaan itu sangat mengenai hatiku. Benar! aku menyukainya! . Tapi aku hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya. Jantungku berdegup kencang.

“Ah.. kurasa kau memang menyukainya. Atau kau fans SHINee?” tanyanya lagi.

“Benar, aku menyukainya. Tapi aku menyukainya sebagai seorang namja, bukan sebagai artis. Hanya dialah penyemangatku untuk datang kesekolah.” akhirnya aku memberanikan jujur, hanya ini jalan satu-satunya supaya Kim seonsaengnim bisa mengerti.

“Aisshh.. rupanya kau benar-benar menyukainya. Baiklah, aku akan rundingkan dengan pihak sekolah. Aku tidak mau kau jadi malas sekolah gara-gara dia dikeluarkan.” ucapnya sambil mengalihkan pandangan dariku.

“Jeongmaliyo? Seonsaengnim memang yang terbaik! Gamsahamnida seonsaengnim!” ucapku dengan penuh kebahagiaan. Akupun melangkah keluar sekolah sambil tersenyum senang. Akupun berniat untuk datang ke dorm SHINee untuk memberikan catatan pelajaran yang sudah kurangkum hari ini untuk Taemin.

Walaupun dia jarang masuk sekolah, dia harus tetap belajar. Nilai yang dia dapat harus bagus walau jarang masuk kelas!

Aku berjalan hingga akhirnya memasuki gedung apartemen. Langkahku sedikit ragu memasukinya, aku ragu memberikan pada Taemin. Semoga dia tidak akan mencurigai kalau aku menyukainya.

Tiba-tiba seseorang dari pihak keamanan menghampiriku dan menyergapku. Aku langsung ketakutan begitu melihatnya.

“Jwisonghamida, Agassi. anda mau kemana? Area ini hanya penghuni yang bisa memasukinya.”tanya seseorang itu.

“Ajeossi, aku mau ke apartemen SHINee. Ada barang yang harus aku berikan pada Lee Taemin.” ucapku

“Kau fansnya? Fans tidak boleh masuk” ucapnya tegas

“Aniyo! Aku teman sekelas Lee Taemin, bukan fansnya. Baiklah kalau begitu aku titip saja barangnya pada ajeossi ya..” aku langsung mengeluarkan notebook kecil dan memberikannya pada pihak keamanan itu.

“Ini notebook berisi rangkuman pelajaran. Tolong sampaikan pada Taemin ya.. catatan ini sangat penting untuk pelajaran sekolah” lanjutku

“Baiklah.”

“Gahsahamnida ajeossi!” ucapku lalu pergi. Akhirnya selesai juga.

##

Keesokan harinya aku sengaja datang pagi supaya bisa melihat kedatangan Taemin. Kalau kemarin tidak datang, berarti sekarang harus datang. Mataku terus tertuju pada pintu kelas. Satu persatu penghuni kelas mulai berdatangan, tapi aku masih belum melihat Taemin datang kesini.

Lima menit sebelum bel berbunyi. Taemin masih belum datang ke kelas. Aku mulai cemas dan gelisah  lagi. Mataku masih menatap pintu kelas. Apa dia juga tidak akan datang hari ini?

Benar saja dugaanku. Dia tidak datang lagi hari ini. Hingga pulang sekolah akhirnya aku datang lagi ke dorm SHINee untuk menitipkan rangkuman pelajaran hari ini untuk Taemin pada petugas keamanan. petugas keamanan bilang SHINee sedang ada kegiatan di luar negeri yang diperkirakan akan memakan waktu seminggu, jadi dia belum menyampaikan catatan itu pada Taemin kemarin.

##

Hari-hari berlalu. Selama hari-hari tanpa Taemin itu aku terus menyemangati diri bahwa aku akan menyampaikan rangkuman untuk Taemin, oleh karena itu aku harus sekolah. Hari ini diperkirakan Taemin akan masuk sekolah. Hari ini juga merupakan ujian terakhir diakhir tahun kedua.

Kulihat ponselku dan kutatap gambar pelangi yang terpasang menjadi wallpaper. Taemin, kau harus datang! ucapku dalam hati sambil mentap gambar itu.

Setelah aku menunggu begitu lama sambil menatap pintu kelas. Datanglah seseorang yang aku tunggu. Taemin! mataku berbinar melihatnya. Aku terus menatapnya hingga dia duduk di kursinya, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan membacanya. Itu! itu yang dipegang Taemin kan notebook berisi rangkuman dariku! Jantungku berdebar kencang melihatnya. Dia memakainya! Dia membacanya! Air mataku hampir jatuh karena terharu. Aku jadi semangat untuk mengerjakan soal ujian hari ini.

##

Hari-hari ujian berlalu hingga akhirnya tibalah hari pembagian laporan pendidikan. Pembagian laporan akan diadakan di aula. Eomma datang ke sekolah untuk mengambil laporan pendidikanku. Sedangkan Taemin membawa Appa-nya untuk datang mengambil laporan pendidikannya.

Kutatap wajah Taemin yang duduk diarah jam 8 dariku. Dia tampak memperhatikan sang kepala sekolah yang sedang menyampaikan pidato. Tapi sorotan matanya tampak lain, dia tampak tidak memerhatikan sambutan itu jika diamati dengan baik. Mengapa sorotan matanya itu tampak sayu? Apa dia sedang sedih? melihatnya seperti itu aku jadi itu sedih. Kenapa dia seperti itu?

“Kim Sulbi. Silakan ke podium untuk menerima penghargaan sebagai siswa peringkat satu dalam jumlah nilai untuk satu sekolah” ucap Kepala sekolah.

“Sulbi!” seru ibuku membuat lamunanku jadi buyar.

“Hah? ada apa eomma?” tanyaku karena baru bangkit dari lamunan. Aku jadi linglung. Saat aku sadar, semua mata sedang tertuju padaku.

“Kau dapat peringkat satu lagi. Ayo ke podium. Ppaliwa!’ perintah eomma. Semua jadi menertawakan kelinglunganku. Akupun langsung berdiri dan berjalan cepat menuju podium dengan terburu-buru. Tak kusadari tali sepatu kananku lepas dan kaki kiriku menginjak talinya. Dan BRUKK!! Aku terjatuh didepan podium, membuat semua mengeluarkan suara khawatir. Aigo! ceroboh sekali aku ini! Memalukan! Mau ditaruh kemana muka ini! sial sekali!

“Kim Sulbi, gwaenchanayo?” tanya kepala sekolah dengan nada khawatir. Akupun mencoba bangkit dan membersihkan seragamku. setelah itu mencari kacamataku yang ikut jatuh. Lututku sedikit lecet. Kacamata pecah pula. Menyedihkan sekali. Aku memaksakan memakai kacamata itu walaupun pecah.

“Gwaenchana” ucapku. Lalu semua orang tertawa menertawakanku. Memalukan. Akupun menaiki podium dan akhirnya menerima penghargaan berupa medali itu.

“Silakan sampaikan sepatah dua patah kata” ucap kepala sekolah. Aisshh.. aku benci jika disuruh berbicara seperti ini. Tahun kemarin saja aku langsung meminta izin ke toilet saat disuruh berbicara. Masa sekarang mau beralasan itu lagi?

“Silakan.. anda tidak akan izin ke toilet lagi kan seperti tahun kemarin?” sindir kepala sekolah yang lalu diiringi gelak tawa hadirin. Aku tersenyum kaku lalu meraih mic di podium.

“Ehmm.. aku.. aku berterima kasih kepada Eomma, Appa yang selalu mendukungku dan merencanakan jalannya pendidikanku hingga aku bisa mendapat

penghargaan ini..” kutatap Eomma begitu bahagia dengan senyum diwajahnya melihatku seperti ini. Dan kusapukan pandangan kearah lain, kearah Taemin. Taemin ikut tersenyum tipis melihatku, walaupun itu hanya senyum tipis tapi aku suka. Berarti dia memperhatikanku. Aku menatapnya dengan sungguh-sungguh. Aku akan beranikan diri untuk ini! “Dan..untuk seseorang yang selama ini membuatku bersemangat untuk selalu datang kesekolah. Aku berterima kasih padamu, tanpa dirimu hari-hariku disekolah akan membosankan. Gamsahamnida” ucapku dengan sedikit gugup, tak terasa air mataku jatuh perlahan. Disini aku jadi terharu.

“Baiklah, Kim Sulbi. Tadi saya dengar ada seseorang yang menyemangatimu untuk selalu datang kesekolah? apa itu namjachingumu?”goda kepala sekolah. Seluruh hadirin jadi bersorak. Disaat seperti ini malah bertanya itu. Aisshh.. aku malu didepan semua orang ini.

“A..aniyo. Hanya seorang teman.” jawabku gelagapan.

“Oh baiklah. Chukadeurimnida, telah mendapat peringkat satu lagi. Pertahankan ya.” nasihatnya. Lalu aku dipersilakan untuk turun.

Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya acara ini berakhir juga. Aku dan Eomma berjalan menuju mobil yang terparkir di parkiran sekolah. Tapi tiba-tiba tenggorokanku haus. Mungkin karena berbicara di posium tadi. Akupun meminta izin untuk ke kantin dan meminta Eomma untuk menungguku di mobil.

Setelah membeli sebotol air mineral, aku menuju parkiran mobil kembali. Tapi saat diperjalanan, aku melihat sekumpulan siswa kelas satu sedang ribut-ribut. Salah satu mereka bahkan ada yang menangis. Karena aku penasaran, akupun menguping pembicaraan mereka dengan berpura-pura membaca mading sambil minum.

“Huaaa.. Taemin oppa tidak boleh pergi” ucap seseorang dari siswa kelas satu itu. Tiba-tiba jantungku seperti mau copot mendengar itu. Taemin? ada ada dengan Taemin?

“Bagaimana kalau kita demo saja? Bagaimanapun juga ini kan kesalahan sekolah! enak saja mereka, aku kan masuk sekolah ini demi Taemin oppa” ucap salah seorang lagi.

“Tapi aku takut kalau menyerang sekolah seperti itu.”

Karena sudah sangat dihantui rasa penasaran, akupun menghampiri mereka untuk menanyakan lebih lanjut apa yang sedang terjadi.

“Cogiyo, sebenarnya ada kejadian apa ya?” tanyaku.Mereka langsung menatapku dengan tatapan dingin. Mungkin mereka kesal melihatku yang tiba-tiba ingin tahu.

“Taemin oppa akan pindah sekolah. Mollayo? Bukankah eonni ini teman sekelasnya? “ ucap seseorang. Tiba-tiba aku seperti ditusuk beberapa tombak, aku merasa lemas. Pelupuk mataku tiba-tiba berat oleh air mata.

“Taemin? dia pindah? Kalian tau darimana?! Jangan sembarangan bicara” emosiku meledak

“Eonni jangan membentak kami seperti itu! eonni sendiri yang tanya duluan pada kami, tapi malah marah-marah. Berita ini sudah tersebar di internet, Taemin oppa akan pindah ke Art High School. Bahkan sekarang Taemin oppa dan orangtuanya sedang menghadap Kim seonsaengnim untuk mengurus kepindahan”

Aku langsung berlari menuju ruang guru dengan air mata yang terus mengalir. Setelah sampai didepan ruang guru, perlahan kuintip ruang guru lewat jendela utnuk memastikan keadaan. Hatiku semakin sakit begitu melihat Taemin dan Appa-nya sedang berbicara dengan Kim seonsaengnim, pembicaraan mereka terlihat sangat serius. Akupun berbalik dan terduduk.  Air mataku terus mengalir sambil menunduk. Aku mengelus dadaku, berharap supaya aku tidak selemah ini. Tapi kenyataanya rasa sedih ini terus bersarang didiriku. Taemin akan pergi. Aku akan merasa sendiri. Aku mungkin malah tidak akan kuat untuk berjalan ke sekolah lagi.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Eomma menelepon. Aku baru ingat kalau Eomma menunggu di mobil. Pasti sekarang Eomma sedang kesal menunggu. Mianhae Eomma. Aku segera mengangkat berdiri kembali, menghapus air mata dan mengangkat telepon dari Eomma. Dan mulai berjalan menuju parkiran mobil.

“Sulbi, kau dimana?” tanya Eomma khawatir

“Mianhae Eomma, aku tadi ada urusan sebentar. Ini aku akan ke parkiran”

“Eoh.. ppaliwa ne?”

“Ne, eom~” kalimatku terpotong saat melihat dua orang yang keluar dari ruang guru.

Tiba-tiba Taemin dan Appa-nya keluar dari ruang guru. Sejenak Taemin menatapku. Akupun jadi terdiam saat bertatapan dengannya. Mungkin ini terakhir kalinya aku bertatapan dengannya. Dia tersenyum padaku. Aku jadi memaksakan senyum padanya walaupun sekuat tenaga aku menahan tangisku melihat senyuman itu.

Mungkin ini juga senyuman terakhir yang akan kulihat. Lalu dia dan Appa-nya pergi meninggalkanku.

“Annyeong Taemin” ucapku perlahan saat dia sudah tidak ada dipandanganku. Aku menyesal karena baru mengatakan saat orangnya sudah pergi. Kenapa aku ini begitu sulit bicara?

Air mataku menetes deras menatap kepergiannya hingga ia hilang dari pandanganku. Aku jatuh terduduk lagi. Dan air mata ini pecah lagi. Isakan tangisku semakin menjadi.

Tiba-tiba ada seseorang berjongkok didepanku. Aku menatapnya perlahan lalu tangisku makin pecah. Kim seonsaengnim menepuk punggungku lalu mengelusnya. Dia ingin membuatku tenang. Tapi yang dikerjakannya tidak membuatku tenang sedikitpun. Aku malah makin sedih. Aku menyesal karena aku tidak bisa mengatakan selamat tinggal. Dan juga aku belum bisa mengungkapkan perasaanku padanya.

“Mianhae. Aku tidak bisa mempertahankannya.” ucap Kim seonsaengnim. Aku hanya terus menangis.

“Dia dan Appa-nya yang meminta pindah. Taemin sadar akan absennya, dia minta pindah ke sekolah seni. Karena disekolah seni, semua absen karena pekerjaannya sebagai artis itu dimaklumi. Aku sudah menjelaskan kalau dia mandapat perlakuan istimewa disini, tapi dia tidak mau menerima itu. Dia tetap minta pindah, karena dia terus merasa bersalah.” urainya. Tapi uraiannya makin membuatku merasa buruk.

Tangisku sudah semakin parah sekarang, tidak peduli sudah banyak orang yang melihat. Mereka tidak akan tahu bagaimana sedihnya aku. Bagaimana aku menjalani hidup disekolah ini tanpa Taemin. Bagaimana berartinya Taemin untukku.

Kubuka ponselku dan kutatap gambar pelangi di wallpaper yang terpasang. Taemin, mungkin aku tidak bisa melihat pelangi lagi bersamamu. Ini adalah pelangi terakhir yang kita lihat bersama. Kau sudah pergi,Taemin. Mungkin kita akan sulit sekali untuk bertemu lagi.

TBC

Annyeong! *telat nyapa* Gomawo udah mau baca ff bikinan delfta yang kadang flat. Mian kalo part 1 ini kurang terjiwai genre sad-nya. Soalnya saya emang ga terlalu suka ama yang sedih-sedih *membela diri* *ditimpuk reader* . Tapi saya bikin ff ini gara-gara tertantang bikin ff genre sad, jadinya saya bikin deh.. semoga sad-nya dapet, walaupun saya masih belajar bikin yang sad begini. Kritik dan saran ya..

.Annyeong! Ane bawa epep sedih di part ini. Mian kalo kurang terjiwai, soalnya sebenernya ane

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

45 thoughts on “Last Rainbow [1.2]”

  1. aku ngerti naget perasaan sulbi, sakit banget pasti.. hikss..hikss… nangis parah aku 😥 huhuhuhu lanjut thor..

  2. aku ngerti baget perasaan sulbi, sakit banget pasti.. hikss..hikss… nangis parah aku 😥
    mikirin taemin kalau dia ga bisa di jangkau karna dia seorang artis sangat sakit. apalagi hubungan mereka bukan karna fans dan artis, melainkan teman. semoga aja sulbi bisa bilang sama taemin tentang perasaannya. semangat sulbi!!!
    huhuhuhu lanjut thor..

  3. Aku suka…suka…suka…
    Feel sad nya dapet bgt… Berasa jd cast yoeja nya….hehe…
    Jalan crta n penuturannya mngalir…ga maksa..
    Dua jempol deh buat authornya…

    Lanjut thor…

  4. hai delfta..
    Kenalan dulu,, nanda imnida..
    Ehm,, saya juga ngga begitu suka dgn yg sedih-sedih… Bisa dibilang aku ngga pernah baca FF genre sad.. Hehehe

    Hey,, jangan merendah gitu.. Feel yang kamu bangun di cerita ini sukses mengobrak-abrik perasaanku.. Perasaan yg dirasain sulbi bener2 merasuk,,

    Hoah,, aku juga lagi belajar bikin FF sad..
    FFmu ini jadi bahan pelajaran buat aku lohh.. Hehehe 😀

    Keep writing delfta.. last part-nya aku tunggu.. 🙂

  5. Aauuthhorrr, dirimu blg ff ini krg menjiwai,tapi bgi aq ini mah SANGAT MENJIWAI!!BERASA BGT SAD-NYA
    Aq udh ngabisin 3 kotak tisyu#lebay
    bagus ff x bagus,. Ff x bklan smpurna klw akhir x happy end, aq tunggu part 2 scpt x!

    1. haha.. alhamdulillah kalo menjiwai 🙂 *gelar syukuran*
      haha itu 3 kotak tisu sampe abis, awas global warming kalo pake tisu terus 😀

      ok ditunggu ya part 2nyaaaa.. 🙂 makasih lho udah baca

    1. iya, ff ini ff genre sad pertama yang saya bikin. biasanya sih romance ga pake sad, kalo engga ya humor gitu. soalnya ga terlalu suka ama yang sad ending, pasti nantinya jadi kebawa galau *curhat*.
      makasih ya udah baca… 🙂
      tunggu aja last partnya.. 😀

  6. akuuuuuuu sediiiiiiiihhhhhh
    berkaca-kaca T.T

    kasian sulbi… huhuhuhu
    hiks

    lnjutnnya dtggu…

  7. Aigooo~ Eonnie aku mau nangis T.T Hikssss… Nice FF Thor, Aaaa mataku bengkak *lebe* *shock* Ditunggu next part!

  8. Ahhh,, Taemin Pindah,,, Kasihan Sulbi-nya,, Feel sad-ny berasa banget,, Hal yg dialami banyak siswa saat jatuh cinta, hanya satu harapan yg add dibenak kita saat menjejakkan kaki digerbang sekolah, yaitu bertemu dengannya,, dan merasa sekolah begitu suram dan membosankan saat org yg disukai tak ada,, ngerti banget perasaan Sulbi yg kayak gitu,,, T.T

    Good FF,, lumayan membuatku nostalgia masa SMA,, akankah Taemin tahu perasaan Sulbi?? Dan ini seperti kisah nyata Taemin dimasa sekolahnya,,hehe

    1. ini juga pengalaman pribadi author T_T . tapi kecengan saya ga artis sih kayak tetem 😀

      makasih udah baca 🙂

      penasaran kelanjutannya? yang sabar ya nunggunya 😀

  9. bener2 sayu ffnya, huwaaa ibuuu, biasanya bca ff yg taemin jadi idola satu sekolahan, tp sekarang argh, authooooor kamu berhasil membuat aku galau#lebay

    kalau genre sad ini mah udah sad, kecuali klau tragedy, baru author ngeras gagal

    keep writing!

    1. saya juga galauu gara2 ff ini, makanya itu saya ga terlalu suka sama genre sad 😦
      makasih udah baca 🙂
      hehe berhasil berarti sad-nya ya? 😀

  10. ini baru part 1 udah nyesek gini, feelnya dapet bgtt
    huwaaa sulbi kasian diaaa… apa sulbi sama taemin bakal ketemu lagi ??
    aku harap seperti itu …
    huwaaa ayo lanjutannyaaa ..
    di tunggu ya ..
    good ff thor.. gomawo .. ^^

    1. gomawo udah baca 🙂
      penasaran kan sulbi ama taemin bakal ketemu lagi ato engga? tunggu next part ya 😀
      yang sabar nunggunya 🙂

  11. feel sedihnya dapet kok. ini kyk ngorek luka lama tntang Taemin yg ska di bully. kasiian Taeminaahhh *peluk taemin*
    pnasaran sama prasaan taemin ke sulbi??
    ato mngkin sulbi bklan nyatain cinte nya saat ngeliat pelangi lagi nanti?
    hahaha ateng nih, sotoy sotoy aje. kekee
    lanjut yak. gw mau bca labjutannya. Hwaiting!! ^^

  12. Wah author sma donk aku jg rda gk ska ma genre sad
    Tp cerita nya bagus thor
    Aku berasa jd pemeran cwe ya walaupun aku gk ska taemin kekekekek…
    Jd penasaran thor kelanjutannya
    Bkal sad pa happy ending nih thor
    Lanjut ya

  13. bagus kok eonni. udah sad kok. aku udah nangis kok. hueee T^T
    sedih banget!!!
    aku suka penggambaran dan jalan ceritanya. nggak berlebihan. nggak terlalu “ngarep” isi ceritanya. nggak gampang ketebak. intinya udah bagus deh.
    good job and sugohaeyo!

  14. Howaaaa sad nya dapet bgt thor!!!! Aku aja ampe nangisss T.T taemin jangan tinggalin aku!!!!! *plak*
    aku tunggu last chapter nyaa;;

  15. Apa iniiii? Kenapa chapter 1 aja udah nyesek gini:(
    Sulbi, kau harus kuat! Ingatlah bahwa Taemin tak akan berpaling dariku(?)
    Penasaran last chapter-nyaaa. Semoga mereka bisa bersatu o:)
    Daebakkkkk! Nice ff ^^

    1. kkkk~ maaf udah bikin nyesek.
      kok jadi tak akan berpaling dari kamu sih?? waduuhh salah gaul nih-_-”
      tungguin ya last chapternya, smoga mereka bisa berkoalisi (?)
      makasih udah bacaaaa 😀

    1. makasih udah baca dan suka ff ini 😀
      amiiinn semoga ketemu lagi, makanya tungguin last part dong biar tau ketemu ato engga 😀

  16. Annyeong juga author, salam kenal ^^/
    mahda imnida~

    Siapa blng ff-nya krng menjiwai? Ini udah sngt menjiwai author, aku smpe pngen nangis pas ngebayangin jd Sulbi. Aaaa ditnggalin org kyk Taemin gak kbyang bakal sesedih apa T^T
    pdhl sbnrnya aku gak suka ff sad tp td lngsung bc aja tanpa liat genre, cast dll. Trnyata ff-nya sad, apalg cast-nya Taem huhu tmbh dpet deh feel-nya T^T
    Crtanya jg berasa real soalnya pngalaman pribadi bnget ini Taem pas insiden bully itu. Mdah2an Taem-Sulbi bs ketemu lg deh~

    A-yo author lnjutannya cpetan di publish 😀

    1. annyeong mahda 🙂
      soalnya ga suka ff sad sih jadi kalo bikin yang sad takut ga dapet feelnya 😀
      makasih udah baca, tungguin ya kelanjutannya 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s