Sakura In Seoul – Part 2

Title                : Sakura In Seoul

 Author            : Ani

 Main Cast     :   ° Shin ji-eun

                          ° Kim kibum (Key)

Support Cast : ° SHINee (all member)

                          ° Shin jisun

                          ° Super Junior (member)

                          ° DBSK/TVXQ (all member)

                          ° Jang shoul in

                          ° Park shin hye

                          ° Goo hyemi

Length            : Sequel

Genre              : Romance, Friendship, Family, Comedy, and   Other

Rating             : G/PG-13

A/N                 :

Aku membuat cerita ini karena terinspirasi oleh impianku untuk pergi ke Jepang kkekekeke~ negeri bunga sakura hidup (oh ya?). Semoga tercapai. ^_______^ seperti terselesainya cerita ini. Happy reading readers, I love you ^o^

¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡¡

 

 

“MWO? Shiro eomma! Aku tidak mau!”

Key langsung memotong ucapan ibunya setelah mendengar kabar yang sangat buruk ditelinganya. Tentu saja, ia tidak suka dengan bibinya yang satu itu. Cerewet, berisik dan mengganggu ketenangannya. Ia sangat benci pada bibinya itu, karena pengalaman masa kecilnya yang suram bersama bibi Rin. Bibi Rin sangat suka menjahili dan mengusik Key sewaktu kecil dan itu membuatnya sebal dengannya. Tentu saja ia menolak keras perintah eommanya itu. Membayangkannya saja sudah tak sanggup, apalagi menjalaninya, hidup bersama bibi Rin. Tidak akan pernah.

“YA! Aku belum selesai bicara. Eomma memberimu dua pilihan, sekolah di Jepang atau hidup mandiri di sini dengan aturan-aturan yang eomma buat.”

Key tercengang mendengar ucapan eommanya barusan, begitupun Taemin sepupunya. Ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan eommanya barusan. Tentu pilihan pertama, sudah tentu tidak akan pernah digubris oleh Key tapi pilihan kedua juga cukup merugikannya. Sepertinya Key sudah memutuskan pilihannya, toh sama saja ia akan mematuhi peraturan eommanya kalaupun ia memilih pilihan pertama atau kedua.

“Aku memilih untuk tetap tinggal,”

“Baiklah pilihan yang cukup bagus” ujar Nyonya Kim tersenyum menang.

“Ngomong-ngomong, kenapa rambutmu seperti itu? Dan kenapa kau memakai mantel? Inikan musim panas?”

“Ini sedang model eomma,”

“Aku tidak suka model mu. Kau terlihat mirip seorang yeoja. Cepat ubah rambutmu!”

 

 

~~~~~~~~~~~~~>>>>

 

 

Dua hari sudah Ji-eun mencari pekerjaan, tapi ia tidak menemukannya. Bukannya tidak menemukan, melainkan mereka tidak mau menerima pelajar untuk bekerja. Sedangkan status Ji-eun masih seorang pelajar. Walaupun ayahnya selalu mengirim uang setiap bulan, tapi itu tak cukup. Ini hal yang buruk baginya, ia jadi tidak bisa mengumpulkan banyak uang dengan cepat. Sekarang Ji-eun hanya duduk terpuruk di atas tempat tidur sambil memperhatikan kakaknya yang sedang mengkemas barang dikamar. Tidak membantu.

“Besok jam berapa eonni berangkat ke bandara?”

Ji-eun membuka suaranya setelah lama meratapi nasibnya yang sial itu.

“Jam delapan pagi,”

Jawab Jisun sembari memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper.

“Aku tidak lama di Jeju, paling hanya satu minggu. Kau harus jaga rumah baik-baik saat aku tidak ada,”

Lanjut Jisun.

“Ne, aku akan tidur sendiriaan mulai besok.”

Kata Ji-eun dengan malas.

“Oh, ya. Bagaimana dengan kuliahmu dan kerja sambilannya?”

“Aku sudah meminta cuti selama seminggu, dan kalau masalah pekerjaan…”

“Kau mengundurkan diri?”

Tebak Ji-eun.

Jisun hanya menanggapinya dengan sekali anggukan.

“Ya! Eonni itukan pekerjaan yang bagus, kau sungguh pabbo. Gajinya itukan lumayan besar. Bahkan lebih besar dari bekarja di mini market,”

Seru Ji-eun tak percaya.

“Apa boleh buat, terpaksa. Ini demi halmeoni kita yang sedang sakit.”

“Lalu kenapa hanya eonni yang pergi? Bagaimana denganku? Aku juga rindu pada mereka –appa dan halmeoni-. Akukan bisa pergi ke sana, karena liburan musim panasku masih seminggu lagi. Huh~”

“Kau itu merepotkan. Dan terlalu banyak biaya bila kita berdua yang pergi,”

“Ne, arasseo.”

“Ini sudah malam cepat kau tidur,”

“Aku ingin menunggumu selesai, inikan hari terakhir kita tidur bersama”

Goda Ji-eun pada kakaknya.

“Aish.. bocah ini..”

“Jangan lupa bawakan aku oleh-oleh yang banyak,”

Potong Ji-eun.

“Ne, oh ya, apa kau sudah tahu tentang kepindahan Nyonya Han?”

“Maksudmu janda tua yang tinggal di depan apartment kita?”

“Ssuushh……” Jisun mengacungkan telunjuknya di depan bibir Ji-eun.

“Bicaramu itu, asal sekali! Babo!. Nanti terdengar oleh orang!”

Lanjut Jisun.

Ji-eun hanya menanggapi kakaknya dengan tampang Innocentnya. Selalu begitu.

“Katanya. Tadi pagi, anaknya Nyonya Han itu membawa ibunya pergi untuk tinggal bersama mereka –anak-anaknya-,”

Ujar Jisun mulai bergosip.

Ji-eun hanya berseru ‘o’ menanggapi kakaknya. Ia tidak terlalu suka mengurusi masalah yang tidak menyangkut dirinya. Baginya tidak penting. Tidak seperti kakaknya yang suka ikut campur masalah orang lain.

“Aku kira anaknya itu adalah durhaka, karena selama ini membiarkan Nyonya Han tinggal sendirian,”

Jisun masih bersemangat dengan topiknya itu, sedangkan yang di ajak bicara sudah entah melayang ke alam mimpi mana.

“Ya! Ji-eun-ah. Nanti kalau aku pergi kau harus belajar memasak sendiri, arasseo?”

“Aishh… bocah ini. Dari tadi aku bicara dia malah asik tidur. Aishh..!”

Umpat Jisun kesal menyadari Ji-eun yang sudah tetidur pulas. Padahal tadi ia bilang ingin menungguku.

~~~~~~~~~~~~~>>>>

Incheon, 08.30 AM

Setelah mengantarkan kepergian kakaknya dibandara, Ji-eun segera berjalan menelusuru jalanan kota Seoul yang sudah ramai. Ia menelusuri setiap seluk-beluk toko yang ia temui di pinggir jalan. Dan Hasilnya nihil. Masih sama seperti kemarin. Padahal ia ingin cepat-cepat mendapatkan uang sekarang untuk membayar uang sekolahnya bulan ini, juga membeli serial komik Death note yang sudah ada edisi terbarunya.

Ji-eun sedang duduk di taman kota sambil melepas lelah. Tiba-tiba sesuatu menarik perhatiannya. Seekor anak kucing hitam yang lucu dengan bola mata besar berwarna biru yang indah. Anak kucing tersebut melewati Ji-eun dengan anggun. Ji-eun terperangah melihat anak kucing tersebut. Wow~ neomu kyeopta~ seru Ji-eun dalam hati. Takjub sekaligus terpesona (?). Mukanya kembali berseri setelah sekian lama.

Tanpa sadar Ji-eun mengikuti kucing tersebut dari belakang, ia seperti terhipnotis untuk mengikuti anak kucing tersebut. Tanpa Ji-eun sadari, ia berjalan di sebuah jalanan beraspal kecil yang lurus. Sepi tentunya. Tidak ada kendaraan atau pejalan kaki disini. Jalanan kosong yang panjang dan membentang lurus ini di tumbuhi oleh banyak pohon hijau di sepanjang pinggir jalan, membuat suasana terasa damai dan tenang saat dipandangi. Indah, sangat indah. Angin sepoi-sepoi segar yang jarang ditemui di kota, sekarang menari-nari dengan bebasnya ditempat ini. Seolah membawa ketenangan jiwa bagi mereka yang merasakannya.

Ji-eun berdiri cukup lama diposisinya, ia sibuk menikmati tempat asing ini. Bahkan ia sampai melupakan semua masalah-masalah yang sempat menyarang diotaknya. Yang ada dibenaknya sekarang hanya senang. Terlihat dari sudut bibirnya yang terus menyunggingkan senyuman.

“Kamu siapa?”

Seseorang tiba-tiba menepuk bahu Ji-eun dari belakang membuatnya terlonjak kaget dan segera berbalik ke asal suara.

~~~~~~~~~~~~~>>>>

BRUMM~~

Sebuah mobil baru saja menurunkan seorang namja yang sedang berdiri sambil menatap kosong gedung apartment berlantai tiga tersebut. Key, ia baru saja diantar oleh seorang supir eommanya menuju tempat tinggal barunya. Key tidak habis pikir dengan maksud eommanya yang menyuruhnya untuk hidup mandiri. Ternyata mandiri yang dimaksud eomma adalah ini, tinggal di disebuah apartment kecil dengan uang saku perbulan yang sangat sedikit. Satu juta perbulan. Tidak ada mobil, kemewahan, dan segalanya. Yang ada hanya uang sebesar satu juta, apakah eomma tak bisa menyewakan apartment yang lebih besar dan bagus? Kenapa harus di gedung tua seperti ini. Ini sama saja membuang anak sendiri. Batin Key. Bererti ia harus berhemat, dan Key merasa tak sanggup melakukannya. Sepertinya ia salah mengambil pilihan. Key hanya bisa menyesali keputusannya itu.

Dengan gontai Key berjalan masuk ke dalam gedung tersebut sambil menyeret kopernya.

Matanya menelusuri setiap seluk-beluk lantai dasar apartement ini. tentunya dengan mata tajamnya yang menilai remeh.

Seorang wanita gemuk yang baru saja keluar dari pintu apartementnya segera menyambut kehadiran Key, menyadari tamunya yang terlihat  sedang kebingungan itu.

“Anda pasti Kim kibum yang akan menjadi penghuni baru disini, perkenalkan nama saya Park in young. Mari saya antar ke apartment anda.”

Ujar wanita gemuk tersebut ramah menyambut kedatangan Key sambil tersenyum manis dan segeralah ia membawa Key ketempat yang ia maksud.

Key hanya diam tidak menanggapi orang yang sedang berbicara dengannya. Ia merasa tidak perlu berbasa-basi dengan orang yang tidak dia kenal. Karena menurutnya tidak penting sama sekali, dan hanya buang-buang waktu. Ia hanya mengikuti wanita gemuk tersebut dari belakang sambil sesekali melihat-lihat pemandangan asing dimatanya. Mereka sudah berada dilantai dua, dan wanita gemuk tadi memberikan kunci apartment pada Key sambil mengucapkan salam selamat datang pada Key untuk terakhirkalinya, lalu beranjak pergi dari hadapan Key yang masih saja terlihat acuh.

“224, ini hanya setahun, sampai aku lulus dari SMA. Ini mudah, Aku pasti bisa menjalaninya,”

Gumam Key percaya diri sembari tersenyum licik pada pintu apartmentnya lalu masuk ke dalam setelah membuka pintu.

~~~~~~~~~~~~~>>>>

 

“Kamu siapa?”

“A..aku Shin ji-eun,”

Jawab Ji-eun sedikit tergagap karena terkejut. Tiba-tiba ada seorang nenek asing yang menepuk bahunya dari belakang. Mengagetkannya saja.

“Kenapa kau ada disini?”

Tanya wanita tua itu dengan dingin. Wajahnya menakutkan. Pikir Ji-eun.

“Tadi, aku hanya… um, tidak sengaja lewat sini. Ya, benar! Tidak sengaja lewat, hehe..”

Ji-eun berkata sambil menyengir garing. Memang sebagian ucapannya benar ‘tidak sengaja lewat sini’, tapi sebagiannya lagi salah besar. Karena Ji-eun datang kemari karena mengikuti seekor kucing yang telah membuatnya terpesona. Dan ia tidak mungkin menjelaskan alasan konyolnya itu. Nenek-nenek pasti juga tahu kalau ia sudah gila ‘terpesona oleh kucing’ (?). dan bicara soal kucing, Ji-eun baru sadar anak kucing tadi sudah menghilang dari pandangannya. Mungkin karena terlalu lama menikmati pemandangan disini, sampai-sampai tak menyadari kepergian anak kucing tadi.

“Disini angker, banyak roh-roh berkeliaran dimana-mana. Kau harus hati-hati!”

Ujar nenek tersebut dengan nada seram. Membuat Ji-eun bergidik ngeri membayangkannya makhluk-makhluk halus yang berkeliaran di pikirannya. Hihhh~ seram. Apa jangan-jangan nenek tua inilah hantunya. Wajahnya sangat meyakinkan. Batin Ji-eun, sambil menatap horror orang tua di depannya dan sekelilingnya.

“Yeobo! Kau sedang apa disana? Cepat ke toko bantu aku merapihkan meja,”

Suara seseorang kembali mengkagetkan Ji-eun setelah tadi nenek asing yang mengagetkannya. Ia terhenyak begitu mendapati, seorang kakeklah yang tengah berteriak tadi. Sepertinya memanggil nenek ini. kakek itu sedang berjalan menghampiri mereka berdua –Ji-eun dan nenek asing- sambil melambai tak jelas ke arah mereka berdua. Sang nenek pun menanggapi si kakek dengan lambaiannya juga, wajahnya yang tadi terlihat seram dimata Ji-eun kini terlihat hangat. Nenek itu lalu berjalan menghampiri si kakek yang sepertinya adalah suaminya. Ji-eun hanya bisa mengerutkan alisnya bingung menatap pasangan sejoli tua dihadapannya aneh, dan sekarang sudah berpelukan mesra. Sungguh pemandangan yang belum pernah dilihat oleh Ji-eun selama ia hidup. Pasangan yang abadi. Pikirnya.

Kedua orang tua yang menyadari keberadaan Ji-eun pun segera memanggilnya.

“Agassi! Cepat kemari!”

Panggil mereka –kakek dan nenek- kembali melambai-lambai tak jelas kearah Ji-eun. Padahal jarak Ji-eun dan mereka hanya sejauh empat meter. Ji-eun segera berlari menghampiri mereka dengan raut wajah bingung tentunya.

“Kalian memanggil saya?”

Tanya Ji-eun sopan. Setelah menghadap mereka.

“Kenapa kau ada disini Agassi?”

Tanya sang nenek lembut, tidak seperti tadi saat berbicara dengannya. Ji-eun hanya menghelah napas panjang. Nenek ini pikun atau apa? Bukankah tadi dia sudah mendengar penjelasanku. Batin Ji-eun.

“Aku tersesat halmeoni,”

Singkat Ji-eun, malas bercerita pada orang tua dihadapannya.

“Mwo? Bagaimana bisa?”

Tanya sang nenek lagi. Memaksanya untuk bercerita.

“Kita bicarakan di rumah saja yeobo. Tidak baik berbicara di jalan, mari Agassi”

Ujar sang kakek yang sedari tadi diam.

“Ne, harabeoji”

Ji-eun pun hanya mengikuti mereka dari belakang dengan bosan sambil menunggu kedua orang tua di depannya tersebut berjalan dengan cepat. Mereka lama sekali, ingin sekali Ji-eun menendang mereka berdua agar cepat sampai, atau mendahului mereka. Tapi, demi kesopanan ia mengurungkan niat buruknya itu. Jahat.

Di sepanjang perjalanan Ji-eun menikmati keindahan alam disekitar. Namun, Setelah sekian lama berjalan akhirnya ia melihat ada juga sosok-sosok manusia di sekelilingnya, dan kendaraan mobil dan motor. Semakin jauh Ji-eun berjalan semakin banyak orang yang dilihatnya, bahkan sekarang dipinggir-pinggiran jalan sudah banyak toko-toko berjejeran, ruko, kedai, mini market, pedagang-pedagang pinggir jalan, dll. Ji-eun semakin terpukau, tempat ini seperti pasar tapi bukan pasar seperti kebanyakan. Karena disini terlihat lebih rapih dan teratur. Ji-eun memang tidak tahu tempat ini, karena ia adalah pendatang baru setahun yang lalu dari Jeju island. Jadi jangan heran yang ia tahu hanya tempat-tempat disekitar apartment dan sekolannya saja.

Karena terlalu asik dengan suasana barunya Ji-eun kehilangan jejak kakek dan nenek yang berjalan di depannya. Kemana kedua orang tua itu? Hah~ aku tak menyangka aku bisa kehilangan jejek mereka. Ji-eun mengalihkan pandangannya kesekeliling. Tidak ada. Ia tak menemukan mereka dimanapun, bagaimana ini? aku tidak tahu jalan pulang. Sudah begitu tadi banyak pertigaan yang kulewati, dan parahnya aku orang yang buta arah. Omo? mati aku!. Eonni sedang di Jeju sedangkan aku hanya tinggal sendiri disini, bagaimana ini?. Ji-eun mulai cemas.

Ji-eun hanya terdiam mendudukkan diri dipinggiran jalan, ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Ia berusaha berpikir positif, walaupun sekarang dipikirannya dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan menimpanya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir semua aura negative yang sempat terbayang dibenaknya. Ji-eun memejamkan matanya dan menarik napas panjang lagi dan menghembuskannya. Lalu tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang tidak asing, seperti sedang memanggilnya.

“Agassi! Kemarilah. Palli!”

Ji-eun lalu membuka matanya dan mengalihkan pandangannya ke asal suara tersebut. Seketika perasaannya menjadi begitu lega begitu melihat kedua sosok orang tua yang melambai-lambai kearahnya dari dalam ruko roti yang bertingkat dua tersebut.

“Halmeoni!, Harabeoji!,” seru Ji-eun dengan wajah sumringah.

~~~~~~~~~~~~~>>>>

Key sedang bercermin di cermin besar yang ada di dalam kamarnya yang baru, ia terus menyentuh dan menilai rambutnya yang baru saja ia ubah kemarin -dengan paksaan- tentunya.

“Aigoo.. rambutku,”

“Ck, ini… jelek sekali,”

“Amat sangat tidak stylish,”

“Ugh… ini semua gara-gara nenek sihir itu! Masih syukur aku mau menurutinya huh~ rambut indahku akhrirnya jadi korban ketidak adilan juga. Dasar orang tua! Lain kali aku tidak akan mau lagi mematuhi style pilihannya.”

Bwara Mr. simple, simple geudaeneun geudaeneun geudaero muhtjyuh~~..

Ponsel Key bergetar disaku celananya saat ia sedang asik memaki tak jelas sendirian di depan cermin.

Junsu? tumbennya dia telephone di siang hari?

“Yoboseyo?”

“Key, sore nanti kita ada party dirumah Changmin. Kau ikutkan?”

“…”

Hendak tersirat dipikiran Key untuk langsung menjawab ‘iya’ ajakan temannya itu, tapi segera ia tepis  pemikiran tersebut, mengingat ia harus berhemat untuk saat ini.

“Yoboseyo? Kau masih disana Key?”

“Ah~ ye,..”

“Lalu bagaimana?”

“Tentu saja teman, mana mungkin aku menolak. Don’t called me K-E-Y, if  I’m not to follow the party. I’m the king of party, man!”

Key, berujar dangan riang menanggapi pertanyaan Junsu. Padahal hatinya sedang was-was sekarang.

“Baiklah kalau begitu, kukira ibumu tidak akan mengizinkanmu pergi. Hehe~ sampai nanti kawan!”

Tut~ tut~ tut~

Orang diseberang sana sudah memutuskan sambungannya sedangkan Key masih dengan posisinya -terdiam dengan ponsel yang masih menempel ditelinganya-. Ia tidak tahu bagaimana nasibnya setelah ini, tepatnya setelah pesta ini selesai.

Changmin’s home ~~06.00 PM~~

TING-TONG~

“Kau sudah datang Key, ayo masuk!”

Changmin, namja yang tadi membukakan pintu sekarang mengiringi temannya masuk kedalam.

Dengan sedikit canggung, Key berjalan disamping Changmin. Bukannya malu atau apa, ia bahkan sudah sering main kemari. Hanya saja sepanjang perjalanannya kesini ia mencemaskan uangnya yang pasti akan habis seperti biasanya -saat party-. Seharusnya tadi ia menolak saja. Babo!

“Oh, iya kau tidak membawa mobilmu?”

Changmin membuka pembicaraan, saat tengah berjalan menuju ruang tamu.

“Aku bahkan kabur demi kalian, kawan.”

Ujar Key berbohong.

“Yeah! Party time begin, guys!”

Seru seorang namja yang bernama Yoochun menarik tangan mereka berdua -Key dan Changmin- ke tengah ruangan yang penuh dengan berbagai macam makanan-minuman di meja.

Keempat namja tersebut tengah duduk disofa sambil menikmati pesta mereka.

“Ngomong-ngomong, rambutmu…berubah?”

Tanya Yoochun menyadari perubahan hairstyle sahabatnya.

“Ah, ne…hehe~”

Jawab Key seadanya sambil menyentuh rambut hitamnya yang baru.

“Key! Ada seorang gadis yang ingin diperkenalkan denganmu, dia menyukaimu setelah melihat fotomu.” Jelas Junsu.

“Hah~ selalu saja Key~” Celetuk Yoochun. Ia sudah bosan mendengar kabar ini. Apakah tidak ada namja lain selain Key di dunia ini? Kenapa selalu saja dia yang di tanya. Yoochun sedikit tidak suka dengan kenyataan tersebut. Ia merasa iri pada temannya -Key- . karena semua yeoja matanya hanya tertuju pada Key, sedangkan dia harus mati-matian berusaha untuk menarik perhatian seorang gadis, yah, walaupun ia juga adalah seorang player.

“Haishh.. kau sirik saja,” ujar Changmin menanggapi perkataan Yoochun.

Sedangkan Key hanya diam saja, tidak pernah menanggapi serius masalah seperti ini. karena ia juga adalah seorang player. Ya, player yang dingin. Sikapnya selalu cuek dan sombong. Itulah sifat aslinya. Ia ‘hanya’ berpacaran dengan gadis yang di iklankan oleh teman-temannya saja, jadi jangan harap Key akan menerima gadis yang menyatakan cintanya padanya. Karena ia tidak akan pernah menanggapinya apalagi mengatakan ‘iya’. Kenapa? Karena Key suka merasa tidak enak menolak permintaan temannya -Junsu, Yoochun, dan Changmin- . Itu, tak masalah, bagi Key statusnya yang lajang ataupun berpacaran itu tidak penting baginya. Yang penting ia bersenang-senang bersama teman-temannya ini. tak tahu mengapa dari semua teman-temannya, Key hanya tidak sanggup berkata ‘tidak’ pada mereka atau menolak keinginan mereka. Tentunya dengan berat hati ia selalu berkata ‘ya’ pada mereka. Key kembali mengenang asal-muasal pertemanan mereka.

Flashback~

Key pov*

Aku sedang makan siang dikantin sekolah sendirian, seperti biasanya. Sendirian. Aku Kim kibum kelas 1-1 SM High school. Sekolah  terfavorite di Korea, karena bidang akademiknya yang sudah banyak melahirkan orang-orang sukses yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya.

Aku iri sekali dengan orang-orang yang sedang makan siang bersama teman-temannya, tertawa, bercanda, dan bersenang-senang layaknya manusia normal. Tidak sepertiku, anak culun berkaca mata tebal yang selalu tidak disadari keberadaannya. Sangat miris memang, tapi inilah kenyataannya. Aku benci hidupku. Tepatnya aku membencinya. Eommaku!

Sebelumnnya aku adalah anak yang paling bahagia di dunia, ya terlahir dikeluarga kaya, dilimpahi kemewahan, harta, dan apapun yang kuinginkan pasti dipenuhi oleh kedua orang tuaku, karena aku adalah anak tunggal. Saat itu masa-masa yang paling membahagiakan dalam hidupku, mereka selalu menemani hari-hariku ditengah kesibukan appaku yang merupakan seorang CEO sekaligus pemilik perusahaan elektronik yang cukup terkenal di Korea. Saat aku berumur 6 tahun appa meninggalkan kami -aku dan eomma- karena penyakit jantungnya, dan semenjak itu pula eommapun berubah. Dulu eomma adalah wanita yang lembut dan penuh kasih sayang, tapi sekarang dia berubah. Berubah menjadi wanita ambisius. Ia mulai menggantikan posisi appa setelah kepergian appa, menjalankan ambisinya yang besar untuk menjadikanku seseorang yang lebih sukses dari appa dan menjadi penerus yang membanggakan keluarga. Awalnya aku mendukung ambisi eomma itu, karena itu wasiat dari appa juga. Tapi semakin lama dia berubah. eomma mulai sering memarahiku, memaksaku belajar terus, khursus dimana-mana, dan mulailah kehidupanku diatur olehnya, oleh keegoisan eomma, oleh ambisinya yang besar. Hingga masa kanak-kanakku yang menjadi suram, tidak ada bermain. Hanya belajar dan belajar terus. Gelap, tidak ada tawa lagi dalam diriku. Terlalu dingin untuk anak berumur 6 tahun sepertiku. Aku menjadi sosok yang pendiam, sendirian, namun aku adalah anak terpintar dikelas. Tapi kepintaranku tidak berarti apa-apa. Itu hanya sebuah predikat untukku dan tidak membawa perubahan apapun.

Begitupun dengan bangku SMP. Aku tetap anak yang terpintar dikelas, tapi tetap sendirian. Tak ada yang mau bermain dengan orang pintar. ‘Mereka membosankan’, itu kata mereka. Tapi, pernah ada satu kejadian saat aku kelas tiga SMP. Ada seorang yeoja yang menyukaiku, kalau tidak salah namanya adalah Kim chen ri. Dia menyatakan cintanya padaku, saat itu aku bingung harus berkata apa. Berteman saja tak pernah apalagi pacaraan. Lalu singkatnya aku menerimanya, mungkin saja ini awal yang baik untuk mulai bersosialisasi dengan seseorang. Pikirku saat itu. Tapi ternyata ini kebalikan, ini awal yang buruk. Dia hanya memanfaatkan kepintaranku dibidang akademik, aku sih tidak masalah. Tapi yang parah adalah dia menjelek-jelekkanku di belakang, kalau didepanku dia bersikap sok manis. Ternyata dia membohongiku selama ini. Dan mulai saat itu aku berjanji untuk tidak mau lagi menerima cinta siapa-pun dan mulai menutup diri. Karena kejadian tersebut, aku mendapatkan pelajaran. Jangan terlalu mudah percaya kepada orang, apalagi kalau kau tahu orang itu bermuka dua.

Aku berusaha tidak bernostalgia lagi, karena itu sangat menyakitkan. Aku melanjutkan makanku yang sempat terhenti. Tapi tiba-tiba ada sekelompok namja yang terdiri dari tiga orang yang menghampiri mejaku, mereka duduk di kursi-kursi kosong mejaku lalu tersenyum hangat.

“Kami boleh duduk disini?”

Tanya seorang namja yang berwjah tampan itu. Aku menanggapinya hanya dengan sekali anggukan. Untuk apa bertanya lagi kalau sudah duduk. Batinku.

“Aku adalah Junsu, ini Changmin, dan Yoochun temanku”

Lanjutnya.

“Hai~,”

Sapa yang lainnya.

“Siapa namamu?”

Tanyanya, sedangkan yang lainya hanya tersenyum-senyum, aku tak tahu apa maksud mereka menghampiriku seperti ini tiba-tiba.

“Kim kibum”

Jawabku singkat.

“Kim kibum, maukah kau berteman dengan kami? Kita akan membuat suatu kubu persahabatan dan kami ingin kau yang menjadi salah satu anggotanya, bagaimana?”

“…”

“Kami akan merubah dirimu menjadi seseorang yang dipandang tinggi oleh orang. Bagaimana kau mau?”

Tawarnya lagi. Aku tidak tahu apa maksud mereka. Menjadi temanku tiba-tiba lalu ‘merubahku menjadi seseorang yang dipandang tinggi oleh orang’. Aku sedikit tertarik dengan tawarannya ‘mengubahku’. Apakah aku akan bebas dari situasi seperti sekarang setelah aku menerima tawaran mereka?

“Kenapa harus aku?”

“Karena kau orang yang cocok dan hmm.. perfect sekali,”

Aku sedikit meragukannya. Tapi, kenapa tidak dicoba saja. Bertahan dengan kondisi seperti ini tidak akan mendapatkan perubahan apapun.

“Baiklah”

Semenjak hari itu kami membentuk sebuah kelompok bernama Princes, dan tak tahu mengapa aku mendapat gelar namja tertampan di sekolah setelahnya. Nama panggilanku juga berubah menjadi ‘Key=kunci’. Padahal saat itu yang mendapatkan gelar pada saat itu adalah Yunho ketua kelasku. Sungguh luarbiasa, dan mulai saat itupun kehidupanku berubah 180º. Aku sangat berterimakasih pada mereka. Teman-teman pertama dalam hidupku.

Key pov* end

“Kalian tahu? dia adalah sepupuku,”

Ujar Junsu, membuyarkan lamunan Key.

“Key, kau harus lihat dulu orangnya. Dia itu yeoja yang sangat cantik. Aku bahkan bangga mempunyai saudari sepertinya.”

Lanjut Junsu. Key hanya tersenyum remeh. Tentu saja memuji, yeoja tersebutkan sepupunya sendiri.

“Aishh.. kau ini, kau jangan anggap dia sama dengan yeoja-yeoja yang pernah kuperkenalkan padamu. Aku yakin kalau dengan dia kau pasti akan awet dengannya,”

“Rekormu yang terlama adalah dua minggu, berarti harus lebih lama dari itu, hehe..”

Celetuk Changmin.

“Aku hanya lupa saja memutuskannya, karena saat itu aku sedang ada urusan.”

Ujar Key menanggapi Changmin.

“Aku tak percaya,”

“Aku serius!”.

“Oh, ya ini fotonya. Namanya adalah Park shin hye.”

Jelas Junsu sambil menyerahkan foto kehadapan Key.

“Wah, naemu yeppo.”

Seru Yoochun yang ikut memperhatikan foto ditangan Key.

“Ne, dia cantik.”

Ujar key. Sambil menilai-nilai orang yang ada difoto tersebut. Mungkin gadis ini akan bertahan lama dengannya karena statusnya yang sebagai sepupu Junsu. Masa bodolah, ia tidak perduli. Itu bukan urusannya, tapi urusan teman-temannya. Karena yang selama ini mengatur adalah mereka. Key hanya menjalaninya saja.

~~~~~~~~~~~~~>>>>

 

 

“Annyeong~, halmeoni, harabeoji!”

Shin ji-eun baru saja keluar dari toko roti milik pasangan kakek-nenek Han yang tidak ia sengaja temui di jalan tadi. Tak sangka mereka ternyata adalah orang yang baik. Memberikan roti gratis, dan bahkan Ji-eun masih diberikan roti yang banyak untuk dibawa pulang. Sungguh keberuntungan. Ini adalah hari baiknya. Ji-eun tersenyum sambil melangkah kejalanan yang tadi ia lewati setelah mendapatkan peta yang digambar oleh kakek. Walaupun jelek, ini lebih baik dari pada ia tersesat nantinya. Ternyata Seoul itu luas juga, batin Ji-eun. Ia tersenyum senang. Ji-eun masih ingin mengetahui seluruh tempat yang ada dikota Seoul seperti daerah Changreum ini, tempat yang baru ia temui tadi pagi.

Sekelilingnya sudah sepi. Dan langit terlihat sudah gelap, sepertinya sudah malam. Keterlaluan. Gara-gara terlalu asik di surga roti kakek-nenek Han, ia-pun lupa untuk mencari pekerjaan hari ini. Padahal ia bertekat untuk mendapatkan pekerjaan hari ini juga.

Gedung Apartment 07.30 PM

 

Ji-eun berjalan malas memasuki gedung apartment. Wajahnya terlihat bersemangat tidak seperti biasanya. Karena sekarang ia tidak sabar lagi akan memakan roti-roti lezat yang ia bawa di kantong plastik hitam ditangannya.

“Annyeonghaseyo, Ji-eun-ah”

Sapa wanita gemuk yang memiliki nama lengkap Park in young itu saat berpapasan dengan Ji-eun.

“Annyeonghaseyo, eonni”

Balas Ji-eun sambil membungkuk hormat.

“Oh, iya. Dimana kakakmu, sedari pagi aku tak melihat batang hidungnya,”

Tanya In young, yang memang adalah sahabat baik kakaknya Ji-eun sekaligus pemilik gedung apartment ini. Apakah eonni tidak memberi tahunya?

“Dia sedang ada di Jeju, memangnya eonniku tidak memberithumu eonni?”

“Aku saja baru dengar darimu. Huh, dasar Jisun. Apa dia tidak mau memberitahuku karena takut aku meminta oleh-oleh padanya? Huh~ awas saja nanti dia!”

Benar! Jawab Ji-eun dalam hati menyetujui asumsi In young.

“Ah~ Ji-eun-ah kau tahu pemilik apartment baru di depan apartmentmu itu?”

“Molla, aku juga baru dengar darimu eonni,”

Jawab Ji-eun enteng, menjiplak kalimat In young barusan.

“Namanya adalah Kim kibum. Ah~ Dia, sangat, sangat tampan dan misterius tentunya.”

Ujar In young mulai tersenyum-senyum tidak jelas. Membayangkan sosok orang yang sedang Ia bicarakan. Ji-eun membelalakkan matanya seketika mendengar nama yang tidak asing ditelinganya.

Mwo? Kim kibum?

“Maksudmu Kim kibum?”

Ulang Ji-eun memperjelas.

“Ne, Ah! Itu dia orangnya!”

Seru In young sambil menunjuk sesosok namja yang barusaja melangkahkan kakinya melewati pintu kaca besar memasuki gedung ini.

“Kim kibum!”

Panggil In young. Key yang merasa nama aslinya dipanggil segera melayangkan pandangannya ke asal suara. Seketika mata Ji-eun dan Key bertemu. Keduanya telihat terkejut satu sama lain.

☺TBC☺

Hah~ akhirnya selesai juga part 2 nya. Jangan lupa like & comentnya ditunggu. Bagaimana menurut kalian? Apakah penasaran. Hehe. ^^.  Oh ya, kalau tempat yang namanya “Changreum” itu aku buat sendiri murni imajinasiku. Jadi jangan tanya ada atau engga tempat kayak gitu ke aku. Soalnya aku juga gak tahu ada atau enggak. Hehe~ 😛

Gomawo! ^o^~ *bow*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

16 thoughts on “Sakura In Seoul – Part 2”

  1. Aku ska author cerita ya
    Aduh kasihan amat s key jd anak culun pertama ya
    Gk kebayang thor
    Lanjut’ seru ceritanya

  2. Wah ini pilihan yg ditawarin ommanya Key ga enak semua ya, tapi tapi tapi..kalo pilihan ke-2 Key bakalan deket sama jieun dong ahihi…

    Wah key dulu nerd boy ya? kok bisa jadi berubah gitu…..
    trus tu kibum yg diimpiin kakanya ji eun kibum yg mana?

    ngakak pas part Key ketemu ji eun…bakalan ngamuk ga si ji eun? penasaran………next part ditunggu ya 😀

  3. huwaaa.. key kau tidak suka di atur oleh eomma mu, malah kau senang di atur oleh sahabatmu ..
    ckckck bad boy !
    jieun, kau kenapa bisa ke tempat kakek nenek han .. itu nenek2 pikun dasar … wakakakak #plak
    huwaaa hayoolohh jieun bakal ngomel2 sama key ! ahahahah
    ayo..ayo lanjutannya .. ^^
    good ff thor gomawooo

  4. hehe…masa lalunya memang kelam, kasihan dia (?), benarkah critanya beda dari yang lain??? XDDD~ kita tunggu saja next partnya… haha gomawo atas komentarnya ^^.
    *bow

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s