Bad Boy Sitter – Part 14

Bad Boy Sitter – Part 14

Author : Firdha

Main Cast : Park Jiyeon, Lee Taemin, Lee Jinki (Onew), Choi Minho, Park Yeorin, Yoo Seung Ho

Support Cast: Other SHINee member, Cho In Su, etc.

Length: Sequel

Genre : Friendship, Romance, Family

Rating : PG-13

***

“Oh, ne,” sahut Jiyeon gugup seraya menutup pintu. Lalu ia bersandar pada daun pintu sambil memegang kedua pipinya yang memanas dan bergumam, “Isanghae (aneh),” Ia menggelang-gelengkan kepalanya pelan.

Dengan pikiran yang masih keheranan, ia melangkahkan kakinya dan masuk ke kamarnya, lalu menyingkap tirai yang menutupi jendela balkon. “Apakah akan ada hujan deras, atau angin kencang? Dia benar-benar aneh. Tadi itu… benar-benar bukan gayanya,” Ia terdiam sejenak menatap langit malam yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan hujan. Dan sejurus kemudian, matanya melebar saat ia mengingat sesuatu. “Aigo! Kenapa tadi aku tidak bertanya soal kemarin? Pabo.” rutuknya sambil menepuk keningnya pelan.

Flashback

“Rumah sakit… jiwa?” gumam Jiyeon keheranan.

Penasaran akan apa yang tengah dilakukan Taemin di tempat itu, Jiyeon bermaksud membuka pintu mobil untuk membuntuti Taemin.

“Jangan, agassi!” pekik Kangho ahjussi tiba-tiba.

Gerakan tangan Jiyeon terhenti. Ia menoleh dan menatap Kangho ahjussi heran. “Waeyo?”

“Err… itu… emph… lebih baik kita pulang saja. Ini sudah malam,” pungkas Kangho ahjussi seraya menyalakan mesin mobil.

“Ta… tapi…”

“Saya mohon, Agassi. Saya tidak bisa membiarkan Agassi masuk. Tolong jangan memaksa,” ucap Kangho ahjussi dengan tatapan memohon.

Melihat tatapan memohon Kangho ahjussi—dengan berat hati—Jiyeon pun mengangguk. “Baiklah.”

Flaskback End

“Kenapa, ya, aku tidak boleh masuk? Memangnya di sana ada siapa?” gumam Jiyeon heran sekaligus sebal. “Keluarga ini benar-benar penuh rahasia. Lagipula kenapa juga Tae Yoon halmeonie harus… ah, ya! Tae Yoon halmeonie, bagaimana kabar beliau? Apakah penyakitnya sangat parah sampai harus dirawat di Jepang selama ini? Tidak tahukah kalau aku benar-benar dibuat pusing oleh Taemin sunbae dan semua rahasia keluarga ini? Aishh,” rutuk Jiyeon panjang lebar. “Ah, mollayo. Lebih baik aku tidur. Ya, tidur. Tidur dan mimpi indah.”

***

Pagi ini Jiyeon sedang tidak bersemangat. Ia terus melangkah menyusuri koridor sekolah dengan langkah malas. Ia tidak habis pikir, sebenarnya peri tidur itu sengaja atau apa. Tadi malam kan dia memohon agar diberikan mimpi indah, tapi yang terjadi justru sebaliknya, ia mendapatkan mimpi buruk, mimpi yang kembali mengingatkannya akan kejadian yang paling tidak ingin ia ingat lagi. Kejadian yang membuat hidupnya selama ini diliputi rasa benci sekaligus rasa takut.

“BOO!”

Seseorang mengagetkan Jiyeon dari belakang, membuatnya terkesiap dan terlompat kaget. Jiyeon mengelus dadanya, lalu menoleh ke belakang, ke arah seorang namja yang sedang memasang cengiran menyebalkan.

“Key oppa!” umpat Jiyeon kesal masih sambil mengelus dadanya.

“Hehe… mianhae. Habis kau melamun terus, jadi aku kagetkan saja,” ucap Key seraya mengacungkan dua jarinya membentuk V-sign.

Jiyeon mendengus sebal dan mengerucutkan bibirnya.

Key berjalan mendekati Jiyeon, lalu mencondongkan wajahnya. “Kau tahu ini tanggal berapa?”

Jiyeon sedikit menjauhkan wajahnya—dari wajah Key—dan memasang ekspresi heran. “14 Maret?”

“Bingo!” ucap Key seraya menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Jiyeon. Lalu ia mengeluarkan tangan kanannya—yang sejak tadi bersembunyi di balik tubuhnya—yang ternyata sedang memegang sebuah kotak warna pink berbentuk hati.

“Igeo… mwo-ya?” tanya Jiyeon bingung.

“Untukmu,” jawab Key seraya menggerak-gerakkan tangannya, menyuruh Jiyeon agar segera mengambilnya.

 Dengan ragu, Jiyeon mengulurkan tangan kanannya, lalu mengambil kotak yang disodorkan Key itu.

“Happy white day,” ucap Key dengan senyum lebar. “Kalau begitu aku duluan. Annyeong.”

Jiyeon tersenyum canggung. “Oh, annyeong.” Lalu ia kembali memusatkan perhatiannya pada kotak yang ada di tangannya. Perlahan ia buka pita kecil yang mengikat kotak itu. Setelah itu ia buka tutupnya. “Coklat?” gumamnya. Namun sejurus kemudian tersungging seutas senyum di bibirnya. “Oh, iya. Aku belum mengucapkan terima kasih. Ah… nanti saja lah, kalau bertemu lagi.”

“Jiyeon!”

Teriakan seseorang yang sepertinya memang sengaja mengejutkannya berhasil membuat jantungnya hampir copot—untuk kedua kalinya. Dan kotak berisi coklat pemberian Key tadi hampir saja tak terselamatkan jika saja ia tidak dengan sigap menangkapnya dan mencegahnya jatuh dengan mulus ke lantai. Ia mendelik galak pada si empunya suara yang mengejutkannya tadi. “Insu-ya! Kau ini… aishh…”

Insu memasang cengirannya khasnya. “Mian… sengaja,” katanya jahil. Ia perhatikan Jiyeon yang sibuk membereskan sesuatu di tangannya. Matanya langsung melebar senang saat sadar benda apa yang ada di tangan temannya itu. “Jiyeon-ah! Kau dapat coklat? Dari mana? Dari siapa?”

“Rahasia.” jawab Jiyeon sekenanya, lalu menjulurkan lidahnya dan berlari meninggalkan Insu.

“Ya, Jiyeon! Jangan lari kau! Nanti juga di kelas kau bertemu denganku.” kata Insu setengah berteriak.

“Sin gyeong ansseo (I don’t care),” balas Jiyeon sambil kembali menjulurkan lidahnya.

“Ya! Kau…” Insu menggerutu, lalu ikut berlari mengejar Jiyeon yang sudah menghilang di balik tangga menuju lantai 2.

***

Jiyeon bersembunyi di dekat perpustakaan sambil sesekali menoleh ke arah Insu yang sedang celingak-celinguk mencarinya. Senyuman tak juga hilang dari wajahnya setelah ia berhasil mengerjai Insu. Ia terus saja terkekeh geli saat mengingat kejadian tadi, saat dirinya dan Insu sedang kejar-kejaran dan bertemu dengan Jino. Tadinya ia mau berlari lurus menuju kelasnya, namun saat ia melihat Jino yang sedang berjalan di koridor menuju wilayah kelas 3, sebuah ide jahil muncul di otaknya. Ia pun segera berbalik dan berbelok menuju koridor di mana Jino sedang berjalan. Saat berpapasan, Jiyeon menyapa Jino dengan memasang senyum lebar—yang sebenarnya lebih terkesan seperti meledek daripada menyapa. Sementara Insu yang sedang sibuk mengejarnya dan tidak sadar bahwa ada orang yang muncul dari sana pun sukses menabrak Jino yang—sialnya—sedang membawa secangkir coklat panas. Alhasil, coklat itu pun mendarat dengan mulus di kemeja putih Jino.

Membayangkan wajah Insu yang memerah saat itu, benar-benar membuat Jiyeon tak kuasa menahan tawa. Kini matanya telah mengeluarkan air mata karena saking puasnya tertawa.

“JIYEON!”

Jiyeon terkesiap dan menatap Insu dengan mata melebar. Lalu, “HUAAAA!!!” Ia pun berlari histeris tanpa arah.

“Jiyeon-ah! Awas, jangan lari kau!” seru Insu murka.

Masih dengan sisa-sisa tawanya, Jiyeon terus berlari sambil sesekali menoleh ke belakang, memastikan kalau jarak mereka lumayan jauh. Namun saat ia sedang menoleh ke belakang, ia tidak menyadari bahwa ada orang yang sedang berjalan di depannya. Tabrakan pun tak terhindarkan. Jiyeon yang terkejut kehilangan keseimbangan, badannya sudah pasti akan mendarat dengan mulus di lantai jika saja orang yang ia tabrak tadi tidak mengulurkan tangannya dan menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

Jiyeon mengerjapkan matanya, lalu menatap orang yang barusan ia tabrak dengan ekspresi kaget. “Chonsa! Mianhaeyo, aku…” Jiyeon menggantungkan kalimatnya, lalu melongok ke belakang. “Ah! Oppa, bisakah oppa membantuku?”

Orang itu mengernyitkan dahinya. “Membantu apa?”

“Jika Insu menanyakanku, tolong jangan beritahu dia, oke?” ucap Jiyeon seraya mengacungkan jempolnya.

“O-Oke.” jawab Jinki ragu.

“Woah! Gomawo. Kalau begitu aku sembunyi dulu.” kata Jiyeon girang, lalu melenglang cepat ke belakang tangga.

Seperti yang sudah Jiyeon duga, tidak berapa lama Insu datang dengan napas tersengal.

“Insu-ya, sedang apa kau? Kenapa kau ngos-ngosan begitu?” tanya Jinki memasang ekspresi bingung saat Insu berpapasan dengannya.

“Hhh… i-itu… hh… tadi… apa sunbae melihat Jiyeon?” balas Insu dengan napas yang masih tersengal.

Jinki memasang tampang innocent-nya. “Jiyeon? Anniyo.”

“Anni? Hah! Ke mana anak itu?” rutuk Insu kesal sembari mengedarkan pandangannya. “Gomawo sunbae. Kalau begitu aku permisi dulu. Annyeong!”

“Ne, annyeong.”

Setelah memastikan Insu sudah tidak ada di sekitar situ lagi, Jiyeon pun keluar dari persembunyiannya—masih dengan sisa-sisa tawa.

“Tidak dengan fans-fans Taemin sunbae dkk, sekarang dengan Insu. Sepertinya maraton memang sudah menjadi jadwal wajibku di pagi hari,” ucap Jiyeon pelan, lebih kepada diri sendiri.

Jinki mengernyitkan dahinya. “Ne? Kau bilang apa tadi?”

Jiyeon menoleh kaget, baru sadar jika Jinki masih ada di sampinya. “Ah! Oppa. Anniyo, aku tidak bilang apa-apa.”

Jinki memicingkan matanya dan menatap Jiyeon curiga. “Kau habis menjahilinya kan?”

Jiyeon menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu memasang cengiran khasnya. “Ne. Hehe…”

“Aishh… dasar.” kata Jinki berlagak membentak.

“Ngomong-ngomong mau apa oppa ke sini? Bukankah ini wilayah kelas 1?”

“Soal itu…” Jinki menggantungkan kalimatnya seraya mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu menyodorkannya pada Jiyeon. “Igeo.”

Kening Jiyeon berkerut menatap kotak berbentuk hati di hadapannya. “Mwoya?”

“Ambil saja dulu,” Jinki menarik tangan Jiyeon, lalu meletakkan kotak yang ia pegang tadi di atasnya, memaksa Jiyeon untuk memegangnya, lalu ia pun tersenyum manis. “Happy White Day.”

“Err… gomawo oppa,” ucap Jiyeon canggung.

“Ne, kalau begitu aku pergi dulu. Annyeong,” kata Jinki seraya mengusak rambut Jiyeon yang dikuncir kuda, lalu berbalik dan berlari kecil menuju kelasnya.

***

Sepanjang hari ini Insu terus diam dan memasang tampang merengut. Dia masih juga kesal pada Jiyeon perihal kejadian tadi pagi, kejadian yang dengan sukses membuat kepercayaan dirinya luntur seketika di hadapan Jino.

Jiyeon yang merasa bersalah perihal diamnya Insu pun tak bosan-bosannya meminta maaf pada temannya itu. Sedangkan Yeorin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat drama gratis yang sejak tadi pagi disajikan oleh kedua temannya itu di hadapannya.

“Insu-ya, jangan diam terus. Aku kan sudah minta maaf. Ayolah,” bujuk Jiyeon dengan ekspresi memelas.

“Sireo!” jawab Insu galak.

“Aishh… katakan apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah lagi,” bujuk Jiyeon lagi. Namun kali ini bujukannya sepertinya berhasil. Sebenarnya Jiyeon tidak perlu membujuk Insu segigih itu, karena sebenarnya Insu tidak marah padanya. Tapi melihat ada tawaran menguntungkan, Insu pun langsung menoleh tertarik.

“Apapun?” tanya Insu sambil mengulum senyum karena ternyata usahanya untuk membalas “dendam” pada Jiyeon akan berhasil. Salah sendiri jadi orang terlalu polos, tidak bisa membedakan mana yang marah betulan dan mana yang pura-pura.

Jiyeon berpikir sejenak, lalu mengangguk ragu. “N-ne, apapun.”

Mendengar jawaban Jiyeon, Insu tersenyum puas. “Kau harus menjawab pertanyaanku dengan jujur dan melakukan satu perintahku.”

“Mwoya?” tanya Jiyeon hati-hati.

“Berapa coklat yang kau dapatkan hari ini dan dari siapa saja?” tanya Insu berusaha senormal mungkin agar Jiyeon tidak menyadari senyum gelinya.

“Ne?” mata Jiyeon melebar, lalu ia menggaruk tengkuknya. “Err… itu… eh… hanya satu coklat.”

“Aku tahu kau berbohong. Cepat katakan!” sergah Insu dengan nada memerintah.

“O-oke. Tiga coklat. Err… dari… Key… Jinki… dan… Minho oppa,” jawab Jiyeon terputus-putus.

Mata Insu melebar. “HUAAA!!! Banyak sekali. Kau hebat Jiyeon-ah, kau hebat.”

Yeorin dan Jiyeon menatap Insu yang tiba-tiba menjadi girang dengan ekspresi keheranan.

“Jiyeon yang mendapat coklat, kenapa malah kau yang girang, Insu-ya?” cerca Yeorin tidak habis pikir. Lalu ia menatap Jiyeon dan berbisik di telinganya. “Terlalu polos itu tidak terlalu baik, kau tahu? Dan orang di sebelahmu itu—kuberitahu saja—dia punya banyak akal bulus,”

Insu mendelik galak ke arah Yeorin. “Ya! Aku bisa dengar apa yang kau katakan, Yeorin-ah.”

“Oh, jinchayo? Chukkae,” balas Yeorin tak acuh sambil menyeruput minumannya.

Insu menatap Yeorin tak suka, lalu tersenyum manis pada Jiyeon. “Oh, ya. Dari Minho sunbae? Kapan ia memberikannya padamu?”

“Itu… tadi aku menemukannya di lokerku,” jawab Jiyeon sekenanya.

Insu mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu memasang senyum misterius. “Sekarang kau harus menuruti perintahku.”

“Perintah… apa?” entah mengapa, tiba-tiba saja perasaan Jiyeon menjadi tidak enak.

Insu memelankan suaranya. “Ambil foto Taemin sunbae saat sedang tertidur.”

Mendengar perintah Insu, mata Jiyeon langsung terbelalak lebar. “MWO?!”

Berbeda dengan Jiyeon, Yeorin memuncratkan minuman yang baru sampai di dalam mulutnya tepat di muka Insu. Membuat wajah temannya yang kurang ajar itu menjadi merah karena kesal. “YEORIN!”

“Perintah macam apa itu?” tanya Yeorin tidak habis pikir tanpa memperdulikan keadaan wajah temannya yang naas setelah mendapat semburan dari mulutnya.

Insu langsung menyambar tisu di hadapannya, lalu mengelap mukanya kesal. “Ini adalah White Day, tapi kenapa aku harus mendapat banyak kesialan?”

“Insu-ya, kau bercanda, kan?” tanya Jiyeon masih dalam keterkejutannya.

Insu membuang tisunya kasar. “Anni. Aku serius. Kau harus menyerahkan foto itu besok. Kalau tidak, aku akan marah.” jawabnya dengan nada dan ekspresi tajam. “Aku duluan.”

“Eotteokhae?” gumam Jiyeon frustasi. “Na eoteokkhaeyo, Yeorin-ah?”

“Molla,” jawab Yeorin singkat, lalu berdiri dan pergi meninggalkan Jiyeon.

***

Jiyeon menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia tidak habis pikir dengan kedua temannya itu, karena sekarang bukan hanya Insu yang marah, tapi juga Yeorin, dan masalahnya ia tidak tahu apa kesalahannya yang menyebabkan Yeorin marah. Jadilah ia semakin frustasi dan memasang tampang merengut.

Lelah. Jiyeon menghela napas panjang, lalu ia sandarkan kepalanya pada tiang di sebelah kirinya, sementara kakinya sibuk menendang-nendang udara.

“Jiyeon-ah!” seru seseorang dengan nada riang.

Jiyeon menoleh, lalu menyunggingkan senyumnya. “Annyeong, Kyung Mi-ya.”

“Maaf membuatmu lama menunggu. Tadi aku ada rapat kelas sebentar,” kata Kyung Mi menyesal.

Jiyeon tersenyum simpul. “Gwenchana, aku juga baru datang, kok.”

“Baiklah kalau begitu. Kajja,” ucapnya seraya menggamit tangan Jiyeon dan menariknya menuju ruang musik.

“Sedang ada masalah?” tanya Kyung Mi sambil berjalan.

Jiyeon menoleh kaget. “Ne?”

“Kau sedang ada masalah?” ulang Kyung Mi agak mengeraskan suaranya.

“Oh, anni.”

Kyung Mi mendengus. “Bohong.”

Jiyeon menghela napas berat. “Apakah wajahku ini benar-benar transparan? Kenapa semua orang bisa menebaknya dengan mudah?”

Kyung Mi terkekeh. “Ne. Kau benar-benar open book.” Hening sejenak. Lalu, “Mau menceritakannya padaku?”

Jiyeon menghentikan langkahnya, berpikir sejenak, lalu tersenyum kecil. “Sepertinya tidak. Aku sedang malas bercerita,”

Kyung Mi mengangkat bahunya. “Geurae. Terserah kau saja.”

***

Ring… Ding… Dong…

Bel berbunyi, menandakan berakhirnya semua kegiatan ekskul hari ini. Jiyeon dan Kyung Mi segera membereskan buku catatan dan alat musik mereka masing-masing. Setelah selesai, mereka beranjak keluar kelas.

“Jiyeon-ah!”

Seruan seseorang berhasil menghentikan langkah Kyung Mi dan Jiyeon. Mereka pun menoleh.

“N-ne, Seung Ho sunbae. Waeyo?” tanya Jiyeon.

“Bisakah kita bicara sebentar?” katanya hati-hati.

Jiyeon berpikir sejenak. “Geureom.”

“Kalau begitu aku duluan, ya. Annyeong Jiyeon-ah, Seung Ho sunbae,” ucap Kyung Mi seraya melambaikan tangannya yang dibalas Jiyeon dengan lambaian juga, semenatara Seung Ho hanya tersenyum simpul.

“Mau bicara apa?” tanya Jiyeon memulai pembicaraan setelah Kyung Mi tidak terlihat lagi.

“Emph… aku hanya ingin memberikan… ini,” jawab Seung Ho seraya menyodorkan kotak yang—lagi-lagi—berbentuk hati dengan hiasan pita berwarna senada dengan kotaknya. Pink. Tanpa melihatnya terlebih dahulu, Jiyeon pun sudah bisa menebak apa isi kotak tersebut.

Jiyeon menerima kotak yang dipegang Seung Ho dan tersenyum. “Gomawo, sunbae.”

“Err… ne.” sahut Seung Ho singkat.

Hening sejenak.

“Sunbae!” seru Jiyeon memecah keheningan.

“Ne?”

“Masih ada yang… ingin dibicarakan?”

“Oh, anniyo.”

“Kalau begitu aku… duluan,” kata Jiyeon ragu.

“Ah, ye.”

“Ne… annyeong,” ucap Jiyeon bingung, lalu membungkuk dan berbalik.

“Chamkaman!”

Jiyeon menghentikan langkahnya, lalu kembali berbalik. “Ne?”

“Err… mau kuantar?” tawar Seung Ho ragu.

“Oh, tidak perlu. Aku dijemput oleh sopir,” sahut Jiyeon ringan.

“Oh, geurae. Kalau begitu hati-hati di jalan,” pungkas Seung Ho pada akhirnya.

“Ne. Gomawoyo, sunbae.”

Jiyeon pun kembali berbalik dan berjalan pelan menuju gerbang seraya memasukkan kotak coklat tadi ke dalam tasnya. Lalu ia mengeluh, “Tasku jadi penuh begini. Apalagi coklat pemberian teman Kyung Mi tadi, benar-benar besar.”

Ia menghentikan langkahnya dulu karena agak kesuliatan memasukkan coklat kelimanya itu. Namun saat ia sedang sibuk dengan kegiatannya itu, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Ia pun terlonjak pelan, lalu mengelus dada dan menoleh ke belakang. “Sang Hyun oppa.”

Sang Hyun terkekeh. “Kau itu mudah sekali terkejut, ya? Padahal kan aku tidak bermaksud mengejutkanmu,” kata Sang Hyun santai. Ia memperhatikan tas Jiyeon, lalu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Berapa coklat yang kau dapat hari ini?”

Jiyeon menoleh cepat. “Ne? Ah, itu…”

“Kelihatannya penuh sekali,” sela Sang Hyun dengan nada meledek. “Biar kutebak. Dari semua temanku yang sudah pasti memberikan coklat padamu pasti adalah… Onew, kan?”

“Hm,” jawab Jiyeon singkat seraya mengangkat bahunya.

“Benar kan,” gumam Sang Hyun seraya berpikir. “Lalu… siapa lagi, ya? Emph… Minho?”

Jiyeon memutar bola matanya berpikir, sambil mengulum senyum melihat kakak sepupu gadungannya itu berlagak seperti seorang detektif. “Ne.”

“Ah, benar juga ternyata. Lalu… kecil kemungkinannya dia memberikan coklat padamu, tapi… Key?” tebak Sang Hyun lagi, kali ini dengan ekspresi penasaran.

Jiyeon diam sejenak. Lalu berkata, “Ne.”

Mata Sang Hyun melebar. “Mwo? Jincha? Key… memberikannya padamu? Aishh… anak itu! Tidak akan aku biarkan kau menjadi korbannya yang kesekian,” gumamnya kesal sendiri. “Masih ada berapa lagi?”

Jiyeon mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.

“Dua? Siapa lagi?” Sang hyun berpikir sejenak. “Ah, ya! Apakah anak itu? Calon president school itu, siapa namanya? Sang Ho… Sang Jo… Seung Hwan… Seung Jo… Seung Ho… ah, ya! Seung Ho, Yoo Seung Ho.”

Jiyeon menatap Sang Hyun takjub. “Wow! Bagaimana oppa bisa menebaknya dengan benar?”

Sang Hyun tersenyum bangga. “Ak…”

“Apa oppa punya bakat menjadi paranormal?” sela Jiyeon yang langsung membuat senyuman di wajah Sang Hyun memudar.

“Paranormal? Tidak adakah istilah yang lebih buruk? Apakah kau pikir aku ada tampang paranormal? Aishh,” cerca Sang Hyun tidak terima.

Melihat reaksi Sang Hyun, Jiyeon terkekeh geli. “Mianhaeyo, oppa.”

“Ah, sudahlah. Lupakan!” kata Sang hyun seraya mengibaskan tangannya. “Lalu siapa selanjutnya? Err… ah, tidak mungkin, mana mungkin dia? Tapi siapa lagi selain dia? Emph… aaah… tidak ada kandidat lain, hanya dia sisanya,” gumamnya panjang lebar. Lalu ia mencondongkan kepalanya dan menatap Jiyeon serius, “Apakah… Taemin?”

Jiyeon tersentak. “Mwo? Taemin oppa? Kali ini tebakan oppa benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang Lee Taemin memberikanku coklat? Oppa ini ada-ada saja.”

Sang Hyun kembali menarik kepalanya dan kembali berpikir. “Jadi bukan dia? Sayang sekali, padahal akan sangat bagus kalau itu memang dia,” gumamnya pelan.

“Ne? Tadi oppa bilang apa?”

“Bukan apa-apa,” sahut Sang hyun ringan. “Sepertinya aku menyerah. Siapa orang selanjutnya?”

Jiyeon tersenyum lebar. “Sebenarnya oppa tidak perlu berpikir keras, karena sekeras apapun oppa berpikir sudah pasti oppa tidak akan menemukan jawabannya.”

Kening Sang Hyun berkerut. “Maksudmu?”

“Ini coklat yang diberikan temanku, katanya titipan dari temannya, dan aku pun tidak tahu siapa temannya itu. Hehe,” jelas Jiyeon sambil cengengesan.

“Ya! Kenapa tidak bilang dari tadi? Membuatku berharap saja.”

“Berharap? Berharap apa?” tanya Jiyeon bingung.

“Bukan apa-apa, tidak usah kau pikirkan. Sekarang sudah malam, lebih baik kau cepat pulang,” pungkas Sang hyun.

Jiyeon melirik jam tangannya. “Ne. Kalau begitu aku duluan. Annyeong, oppa,” serunya seraya melambaikan tangannya, lalu berbalik dan berlari kecil meninggalkan Sang Hyun.

Namun tanpa mereka sadari, ada tiga orang yang sedang memperhatikan mereka dari jauh. Dan kalian pasti bisa menebakanya, bukan? Siapa lagi kalau bukan Yoora and the gank.

“Sialan! Anak itu menerima coklat dari Minho?” hardik Joon Hee kesal.

“Dan Key,” imbuh Hyun Ji sama kesalnya.

Yoora tersenyum licik. “Berarti bukan hanya Taemin kan? Sudah kubilang dia itu adalah musuh kita bersama,”

“Kita harus berbuat sesuatu, aku tidak suka dia dekat-dekat dengan Minho,” usul Joon Hee yang langsung diamini oleh Hyun Ji.

“Aku punya rencana.”

“Apa itu?” tanya Joon Hee dan Hyun Ji serempak.

“Kita bicarakan di rumahku,” jawab Yoora tanpa menghilangkan senyuman licik dari wajahnya.

***

Terhitung sudah 30 menit Jiyeon tak henti-hentinya berjalan bolak-balik dari pintu ke tempat tidurnya lagi sambil terus menggigit bibir bawahnya. Sejak tadi ia sibuk memikirkan cara untuk mendapatkan foto Taemin yang tengah tertidur. Bahkan saat jam kini telah menunjukkan pukul 12 malam pun Jiyeon belum juga beranjak ke tempat tidurnya.

“Aigooo… na eotteokhae?” gumamnya seraya menggaruk kepalanya frustrasi. “Apa sekarang dia sudah tidur? Atau sedang mendengarkan musik? Atau… sama sekali tidak ada di kamarnya?” katanya kaget dengan pemikirannya sendiri. “Arrgghh… tidak bisa, tidak bisa. Tidak boleh. Aku tidak mau Insu marah terus. Ya, sekarang aku harus mendapatkan fotonya. Harus! Hwaiting, Jiyeon-ah!”

Setelah yakin dan mantap dengan keputusannya, Jiyeon pun segera keluar kamar dan berjalan menuju pintu kamar Taemin. Namun baru saja ia menyentuh kenop pintunya, ia kembali menarik tangannya lagi. “Aaaahh… eotteokhaeyo? Eotteokhae? Bagaimana jika kamarnya gelap?”

Kini keringat dingin mulai membasahi tangan Jiyeon. Membayangkan ruangan gelap saja sudah membuatnya takut, apalagi jika harus masuk ke dalamnya? Jangan harap ia bisa tahan untuk tidak berteriak-teriak bahkan pingsan.

Jiyeon mendongakkan kepalanya, memastikan bagaimana keadaan kamar Taemin melalui ventilasi. Perasaannya pun langsung menjadi lega saat dilihatnya keadaan kamar masih terang. “Beranikan dirimu, Jiyeon-ah! Jangan takut!”

Akhirnya Jiyeon memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar Taemin. Dengan hati-hati, ia putar kenop pintu, lalu membuka pintu dan menutupnya kembali secara perlahan agar tidak menimbulkan bunyi sedikit pun. Setelah menarik napas dalam, ia langkahkan kakinya dengan sangat perlahan.

PRAK

Baru satu langkah ia berjalan, dirinya langsung terperanjat saat terdengar suara benda yang dibanting dengan keras. Karena takut ketahuan, awalanya ia langsung berbalik bermaksud untuk keluar. Namun ternyata rasa penasarannya lagi-lagi berhasil menguasainya. Dengan modal nekat, ia kembali melangkahkan kakinya. Dan saat ia telah sampai di tempat kejadian (?), kini ia tahu apa benda yang baru saja dibanting oleh pemiliknya tadi, itu adalah sebuah ponsel. Namun bukan itu yang menarik perhatiannya dan membuat matanya melebar, melainkan pemandangan di depannya, pemandangan langka yang tadinya ia pikir tidak akan pernah terjadi pada seorang Lee Taemin. Bukannya melihat wajah namja itu yang sedang tertidur pulas, namun Jiyeon justru menemukan pemandangan yang lebih menarik, pemandangan saat seorang Lee Taemin…

Menangis?

TBC

Wohoooo!!! Senangnya bisa masukin itu tiga huruf di saat yg ga tepat!!! *evil smile*

Mohon maaf ya klo masih byk yg typho! Jangan lupa komen ya chingudeul! 😉

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

34 thoughts on “Bad Boy Sitter – Part 14”

  1. Taemin nangis? Seorang…..Taemin? TAEMIN? Okei ini lebay. Tapi kenapaaa?

    Aigoo, apapun masalahnya, aku penasaran! Dan berarti misinya Jiyeon untuk Insu kepending dulu dong? Kasihan wkwkwkwk lagi mintanya macemacem._.

    Fighting untuk next chapter^^

  2. aish lah! tbc lagi 😦 author lanjut! it knpa nae taeminnie nangis! lanjut lanjut lanjut *demo* jgn lma” thor lanjutannya

  3. Aaahhhh,, Jiyoeennn,,, Kenapa kau dapat coklat dr Key jugaaa,,,, Berikan padaku Jiyoen-ah,,,,#tarik2bajuJiyoen

    Senang ya jadi Jiyoen,, dpt coklat banyak dr namja2 tampan,, envy nih,,,hehehe

    Part ini isinya seru2an Jiyoen dkk,, itu Si Yoora and the Gank mau ngerencanain apa?? Pasti sesuatu hal jahat pd Jiyoen dehh,,#hairflip depan Yoora

    TBC yg sangat tak mengenal tempat,, Hayoo tuh Si Taem nangis napa?? Sesuatu yg tak pernah terpikirkan,, seorang Lee Taemin menangis,,, baguss,, makin penasaran ini,,, Tanggung jawab Thor,, tanggung jawab,,hihihi

    nice part,, ditunggu part lanjutannya,,, Otthe?? 😀

  4. Arrrrggghhhhhhh
    Apa pula itu dapet cokelat dari…. Sapa???
    KEY!!!!! JINKI!!!! MINHO!!!! SEUNG HOOOOO!!!!! BUJUBUSEEEEETTTTTTTTTTTT……….
    Arggghhh aku iri padamu Jiyeon!!!!

    Well, pikiranku mengatakan bahwa nanti Jiyeon dapetnya foto Taemin menangis?? #PLETAKKKKKK
    Kenapa tuh si Taemin nangis?? Dasar magnae!! #pletakkk #bruutttt
    Arrrgghhhhh lanjutannya ditungguuuuuuuu….. XDDDD

  5. wwwwoooyyy miin !
    TBC nya gak tepatt tauu ..
    gila bakalan mati penasaran iniiii .
    aahhhh ..
    ditunggu next chapternya ..

  6. iy, tbc mg dsaat yg ga tpat bgt..
    spt yg ak blg kmrn, jiyeon mg populer bgt…
    smua namja yg ckep d sklah ny udh kcantol ma jiyeon..
    ak msh pnsarn ma sp c tman ny kyungmi itu…
    lcu ngebyangin sanghyun yg rgu2 pas nebak key n bngung pas nbak taemin..
    ap lg rncna 3 nenek shir itu k jiyeon?
    wah, kyk ny tar insu bkal ma jino ne..
    np taemin nangis y? pnsarn..
    d tggu part slnjut ny y..

  7. Aigoooo… TBC nya bner2 mengganggu nii… (⌣́_⌣̀) pensaran tgkt akuuut aku nya… Ayoo next chapter bruaaaan thor.. Mian maksa.. ㅠㅠ kereen!! Crtanya mkin seru thor.. Good job.. (Y)

  8. kyyyyaaaaaaaaaaaa,,,, iri berat ama jiyeon !!!
    pengen dhe dikasi coklat ama sunbae2 ganteng …. *mimpi*
    waahh ,, kenapa tuch taemin nangis ???
    penasaran banget ,,, lanjuuuutttt !!!

  9. loh ko dikit amat uda tbc hiks..hiks..T_T pdhl lg seru2ny,btw kira2 jiyeon dpt coklat gk ya dr taemin?! ato dpt yg laen hehe..

  10. Wow seru sekali
    Aku ska karakter taemin d sni
    Mian aku bru coment soal bru bca ff ini dr td pagi dr part 1 mpe part ini
    Ditunggu part selanjutnya ya

  11. kl aku jadi jiyeon udah masuk rumahsakit gara-gara jantungan kayaknya, lah aku udah ngeliat orang yg mau ngagetin terus dikagetin beneran aja masih kaget, pdhl tau mau dikagetin –” apalagi itu lagi jalan sambil masukin barang serius gitu terus dikagetin…
    Sama pernasaran yg gak ilang-ilang.. Ada orang ngomong baru satu kata kepotong itu rasanya errr
    Apalagi denger orang ngomong tapi gak jelas terus pas ditanyain gak dijawab –”
    lanjutannya jangan lama-lama yaaa 😀

  12. Aigooo~ beruntungnya dirimu Jiyeon dpt coklat dr namja2 super kece O.o
    Author ini kok mslh yg rumah sakit jiwa itu ditunda lg pnjelasannya? aku udah hmpir lupa loh mslh itu soalnya di part 13 yg lalu itu gak dibahas, laaah dsini cuman dibhs stngh lagi-_- malah makin pnsrn euy!!

    Itu lg si Taemin knpa nangis di akhir? feelingku dia nangis itu ada hbngnnya sm org yg ada di rmh sakit jiwa #sotoyy-_-”

    Okedeh komennya sgini aja, a-yo author lnjutannya di tunguuuu~ 😀

  13. aq mau dpt coklat kyk jiyeon~~~*iri*,seandainya aq dapet..dari minho*NGIMPI!
    kenapa taem nangis??ada yg gangguin yah??cup cup cup(?),,jangan” krn yg di rumah sakit jiwa itu 😮
    err…yg terakhir tu coklat.a dr siapa yah??taemin??sanghyun??ato sapa???W(OAOW)
    eh,,aq sesuju ma jiyeon..sanghyun tu bener” kayak paranormal -,-…masa dia tau semua??mencurigakan…jangan” dia cucu jauhnya ke joko bodo?? O.O #ngaco
    penasaran bgt ma kelanjutannya!!!!!!!!!!!!!!>.<,..ff ini menyimpan bxk sekali mystery ._.v
    aq tgu kelanjutannya^^

  14. Hey thor! Ngapah tbc nya ga tepat sihhh:( ish gamau tau pokoknya harus buruan next chapt nya:p *maksa* hehe
    typo?kayanya aku ga liat ada typo deh thorrr hihi

  15. Haduh! Trio harimau ngapain muncul lagi??(*Yoora dkk) Ghraaoo#??

    Huh? Taemin nangis? Waeyo? Waeyo??*panik
    nextnya cpetan, thor! Ini ff dri dulu kerjaannya bkin pnasaran mulu.. U,U

  16. TBC?????????????????????????????????????????

    Penasaran stadium akhir nich!!!
    Lanjutannya ga boleh lama2!

  17. annyeong author… q br baca ff ini,, udah selesai sampe part ini… jd q langsung coment disini ya..
    ff nya daebak,!! q suka.,, neomu, neomu joha-ae..
    ditunggu lanjutannya,!?!? jgn lama2, jebal.. q udah penasaran knp taem nangis,??
    ditunggu… fighting,!!!

  18. Aaaa taemin kenapa nangis???
    Mau coklat dari minho jugaaaa u,u
    Yeorin marah kenapa??
    aku tunggu kelanjutannya ya onnie ^^
    Nice ff ^^

  19. Jiyeon mndapatkan semuaaaaaa coklat dr cwok gntng hmmm iri 😂
    Itu tmnnya kyungmi kog gk mncul2 ya pdhl udh smpe chapter segini q masih gk bisa nebak yg cwok misterius itu siapa
    Ah garuk garuk jidat

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s