Hate to Love – Part 1

Hate to Love

Author : Sari dan Al

Main Casts :

Choi Minho (SHINee), Lee Jiyoon (Imaginative Character)

Support Casts :

Kim Kibum (SHINee), Lee Jinki (SHINee), Kim Jonghyun (SHINee)

Length : Chaptered

Genre : Romance

Rating : General

.

.

.

Ia masih meringkuk di bawah selimut kesayangannya. Bekas tissue berserakan dimana-mana, hampir di setiap sudut ruangan ada saja. Isak tangis masih terdengar, tak cukup nyaring namun setidaknya menandakan bahwa pemilik kamar -dengan nuansa biru yang mendominasinya- itu sedang bersedih. Blue like her feeling.

Ditariknya lagi satu lembar tissue dari kotaknya. Sudah setengah jam ia seperti ini, kepalanya sudah terasa berdenyut. Efek menangis, mungkin. Ia mencoba untuk bangkit dari posisi nya semula. Lelah juga ternyata menangis itu.

Jiyoon, namanya. Gadis berpotongan rambut pendek itu memandangi pantulan dirinya di depan sebuah cermin. Lingkaran hitam terlihat di tepi matanya.

“Ini semua karena kau, KIM JONGHYUN!” Teriak gadis itu. Seluruh jari-jarinya terkepal namun tak lama kemudian ia terduduk dan kembali menangis.

Ia terlihat depresi sekarang. Sudah tak berwujud layaknya manusia normal. Rambut berantakan, wajah pucat, bajunya pun tampak kusut. Adakah kata yang lebih bisa menggambarkan bahwa gadis itu sedang patah hati?

@Seoul University, 09.30 am

“Pucat sekali wajahmu, Lee Jiyoon.” Ujar salah seorang mahasiswa yang melihat gadis itu.

Yang merasa dikritik hanya tersenyum tipis namun tak ada sirat kebahagiaan terpancar disana, justru sebaliknya.

“ASTAGA! Jiyoon, kau sakit?” Tanya salah seorang mahasiswa yang lain, ia menggandeng tangan gadis itu menuju kelas mereka.

“Kim Hyuna….” Panggil Jiyoon lirih

“Ye?” Yang dipanggil menolehkan kepalanya.

“Aku baru saja putus dari Jonghyun.”

Nada suaranya bergetar ketika mengucapkan kata-kata itu. Dengan usaha keras, ia mempertahankan air matanya untuk tidak jatuh, namun gagal. Untuk kesekian kalinya cairan bening itu membasahi pipi mulusnya. Gadis itu menangis tanpa suara.

“Lupakan dia, jiyoon-nnie. Dia tak lebih dari seorang pecundang.” Hibur sahabatnya, Hyuna.

Jiyoon menyapu cairan bening itu dengan punggung tangannya sendiri. Bagaimanapun juga ia harus bangkit, tak mungkin seperti itu terus-menerus

Sementara Hyuna yang terus menenangkan Jiyoon, seorang namja berperawakan tinggi sekitar 173an cm masuk ke dalam kelas tersebut dengan ransel yang ia sampirkan di bahu kanannya saja.

Langkahnya tampak angkuh dengan seringai kecil dari bibirnya. Pandangan namja itu dan Jiyoon sempat bertemu, namun tak lama kemudian namja itu segera mengalihkan tatapannya ke arah lain.

Jiyoon hanya mampu memandangi punggung namja itu dari bangku paling belakang saja. Tak ada yang bisa ia lakukan. Rasanya terlalu egois jika ia memaki namja bernama Kim Jonghyun itu dihadapan semua orang, apa haknya? Sekarang status mereka tidaklah lagi bersama.

Mata Jiyoon menyipit seketika saat seorang gadis -dengan rambut bergelombang yang sengaja digerai- datang dan seenaknya saja bergelayut manja di bahu mantan kekasihnya itu.

Hyuna dengan segera bangkit dari duduknya hendak memaki Jonghyun, namun langkahnya dicegah oleh Jiyoon.

“Biarkan mereka.” Bisik Jiyoon, parau sekali nada suaranya karena sedang menahan cairan bening itu agar tidak meluncur keluar dari mata indahnya.

Semakin lama gadis yang bersama jonghyun itu semakin menjadi-jadi, dia mulai membelai manja wajah namja di depannya. Sepertinya namja tersebut juga menikmati setiap gerak sang gadis.

Jiyoon berusaha untuk tidak melihat kejadian yang sangat memuakkan sedang terjadi layaknya drama-drama televisi yang sering ditontonnya.

Dia tidak menyadari ada seorang namja sedang memperhatikan kejadian tersebut, namja itu mengepalkan tangannya seakan sedang menyimpan amarah yang sebentar lagi akan meledak.

“Keparat kau Kim Jong Hyun” desisnya geram.

Hyuna membawa Jiyoon keluar dari ruangan yang sangat mencekam tersebut. Mereka berjalan menuju kantin.

Ia—Jiyoon mulai menangis sesegukan setelah mereka sampai di kantin dan mulai membenamkan wajahnya keatas meja.

“Jiyoon, sudahlah” ucap Hyuna sambil mengelus kepala Jiyoon.

“Ha..ti..ku sakit sekali Hyuna” ucap Jiyoon dengan suara bergetar.

“Ne, aku tau. Tapi sudahlah, kalau kau terus seperti ini, Jonghyun akan merasa dirinya hebat” jelas Hyuna sambil menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu.

“Ne, kau benar” sekarang Jiyoon sudah mengangkat kepalanya dari atas meja dan menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Ia mulai menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum tipis.

“Ayo kita kembali ke kelas, sebentar lagi ada jam kuliah” kata Hyuna

***

-Jiyoon POV-

Setelah jam kuliahku selesai aku segera menuju toilet.

Sekarang sedang kucuci wajahku di wastafel toilet untuk menghilngkan raut kusut wajahku seperti baju yang belum disetrika.

Ddrrrt,ddrrrt….Let’s have a heart to heart to heart…

Ponsel di tasku bergetar, segera saja ku rogoh tasku. Setelah benda mungil tersebut ku dapatkan dan dengan cepat ku tekan tombol OK tanpa terlebih dahulu melihat siapa yang menelpon.

“Yoboseyo”

“YA, JIYOON. KAU DIMANA? SEKARANG KITA ADA RAPAT BEM DI AULA” teriak Kibum dari seberang sana. Sedikitku jauhkan ponsel tersebut dari telingaku.

“Mianhe Kibum-ssi, aku lupa. Sekarang aku kesana” jawabnya langsung menutup flip ponselku, sebelum si Kibum yang cerewet itu mengomeliku seenak hatinya.

Dengan cepat aku langsung memasukkan ponselku kedalam tas selempangan biru lautku dan melangkah keluar toilet. Aku sempat berpapasan dengan beberapa mahasiswa yang menyunggingkan senyum tipis kearahku begitu halnya denganku.

Saat aku sedang di pertengah perjalan menuju Aula. Lagi-lagi aku bertemu dengan pacar baru Jonghyun—Shin She Kyung. Dia terlihat sedang bercanda dengan teman-temannya sepertinya yang mereka lakukan setiap waktu hanya berdandan dan terus berdandan. Mereka itu sebenarnya mau kuliah atau shopping ke Mall? Yah, masa bodo. Kupercepat langkah kakiku, melelahkan juga karena letak Aula berada di dekat fakultas hukum yang jaraknya hampir 200 M.

“Huft, akhirnya” ucapku sambil mengatur napasku yang masih berlomba-lomba. Ku buka pintu Aula sepelan mungkin supaya tidak menimbulkan bunyi decitan yang akan menarik seluruh perhatian semua mahasiswa di dalam Aula.

“Kibum ah, mian aku telat” ucapku langsung mengambil duduk disebelahnya. Terlihat beberapa anggota BEM yang lain sekilas melirik kearah kedatanganku. Begitu halnya dengan ketua BEM—Choi Minho, dia menatap sinis kearahku seakan ingin menerkamku hidup-hidup. Orang yang begitu disiplin terhadap waktu dan juga tegas yang terkesan berlebihan itulah dia.

Saat kuedarkan pandanganku keseluruh ruangan, aku baru ingat kalau Jonghyun juga anggota BEM. Sial, sekarang aku harus melihat wajahnya lagi, lagi dan lagi. Dia sedang menatap lurus kedepan dan beberapa kali memencet-mencet sesuatu di Kibumpad ponselnya.

“Jiyoon-ssi, kau mendapat tugas untuk menjadi pencari donatur untuk acara amal nanti, karena yang lain sudah medapat tugas masing-masing. Jadi aku akan merangkap jadi partner kerjamu”

Kurasakan dadaku mulai sesak lagi, ya Tuhan jangan sampai aku menangis disini. Memalukan, aku segera menggelengkan kepalaku. KIM JONGHYUN! Kenapa aku selalu melihat wajahmu. Hiks.

“Jiyoon-ah, jiyoon” kurasakan seseorang menyikut rusukku.

“YA?…..” teriakku secara refleks kepada Kibum yang berada disebelahku. Sekarang berpuluh-puluh pasang mata menatap kearah kami. Ya ampun, kenapa aku bisa lupa sekarang aku sedang rapat. Kutarik senyum tipis kearah mereka, menandakkan tidak terjadi apa-apa. Sementara Kibum yang berada disebelahku tadi, sudah menenggelamkan wajahnya ke meja panjang tersebut, sekedar menutupi rasa malunya. Beberapa detik kemudian Minho mulai melanjutkan pembicarannya yang sempat terputus tadi dan semua anggota BEM juga kembali mengalihkan perhatian mereka kepada si ketua.

“Ya Kibum, mereka sudah tidak melihat kearah kita lagi” bisikku ditelinganya.

Perlahahan dia mengangkat wajahnya, lalu tersenyum kecut kearahku.

“Kau ini, membuatku malu saja” omelnya.

“Mianhae” ucapkku sambil terkekeh pelan.

“Jiyoon-ssi, apakah kau setuju dengan rencanaku tadi?” ucap Minho sunbae di depan Aula dengan nada setengah berteriak.

“Ah ne, aku setuju saja” ucapkku mengangguk-ngangguk sok yakin. Setuju terhadap apa memangnya? sedari tadi aku tidak menyimak apapun yang di bicarakan Minho sunbae didepan kerena aku sibuk memperhatikkan mantan pacarku yang notabene telah meluluh lantakkan hatiku.

“Kibum, rencana apa yang dimaksud Minho sunbae tadi?” tanyaku pada Kibum. Dia langsung menjetikkan jari telunjuk dan jempolnya kearah jidatku.

“Apoo, sakit” kuusap jidatku yang terkena jentikan maut tangan seorang Kibum yang baru kusadari sangat putih bersih, berbanding terbalik denganku.

“Kemana aja sih? Kan tadi Minho berkata kalau kamu akan mencari donatur untuk acara amal dan dia akan menjadi partnermu” jelas Kibum panjang lebar. Mataku seketika terbelalak, aku akan menjadi partner Minho sunbae? Membayangkannya saja sudah membuat bulu romaku berdiri. Choi Minho seorang gunung es yang berbicara hanya seperlunya, disiplin terhadap waktu, dan hidupnya harus selalu perfectsionis.

“Ya, Kibum-ssi. Aku tidak mau jika dia partnerku” ucapku sambil menggembungkan kedua pipiku.

“Tadi kamu sendiri yang bilang ide itu bagus” ucap Kibum sambil memicingkan sebelah matanya.

“Andwae” aku bergerak-gerak tidak karuan di kursi rapat sekarang bak cacing kepanasan.

“Rapat hari ini selesai, kamsahamnida” ucap Minho menyudahi rapat.

“Ne…kamsahamnida.” Balas seluruh anggota BEM.

Aku segera merapikan peralatan ku yang masih tertinggal di meja berbentuk persegi panjang itu.

Sementara kibum sudah selesai dengan barang-barangnya, ia sembari membantuku juga.

“Kita lakukan besok.” Ujar seseorang dengan tipe suaranya yang berat.

Ku tolehkan wajahku mengikuti asal pemilik suara itu.

Choi Minho? Errr….

“Ah ne.” Jawabku gugup, tak berani memandang matanya.

Namja itu berlalu saja dari hadapanku. Tak ada balasan apapun. Bagaimana bisa aku bekerja sama dengan tipe seperti dirinya? Bagai garis horizontal dan vertikal yang takkan pernah dipertemukan.

***

-Author POV-

Hyuna menyikut lengan Jiyoon yang masih asik dengan semangkuk ramyun-nya.

“Hmm?” Ujar gadis itu tanpa mengalihkan tatapannya dari mangkuk itu.

“Itu…ada yang mencari mu.” Bisik Hyuna.

Jiyoon tetap tidak memperdulikan Hyuna. Ia menghirup kuah ramyun untuk terakhir kalinya. Lalu menyapu bibirnya dengan tissue yang sudah disediakan.

“Aaaa…Choi Minho.” Seru Jiyoon refleks. Sumpit yang masih dalam genggamannya terlepas begitu saja ketika melihat partner kerjanya itu.

Dihadapannya, Minho, sudah berdiri menunjukkan wajah tidak sukanya karena sempat diabaikan. Jiyoon mengutuk dirinya sendiri akibat kecerobohannya.

Gadis itu menunduk saja. Hyuna pun begitu, takut dengan sikap dingin sang ketua BEM.

“Kau lupa apa yang ku bilang saat rapat?” Terka Minho tepat sasaran.

“Hampir…jika kau tidak mampir kesini.” Jawab Jiyoon mencoba santai disertai dengan kekehan, ia tidak ingin terlihat takut di hadapan namja gunung es itu.

Hyuna membelalakan matanya mendengar jawaban Jiyoon. Ia bahkan tak segan menginjak sepatu sahabatnya itu agar sadar dengan apa yang barusan gadis itu ucapkan.

Choi Minho nampak tidak memperdulikan kelakuan bodoh kedua orang itu. Tatapannya tetap dingin, tak ada ekspresi sedikit pun. Datar saja.

Hingga keduanya benar-benar menyadari akan kelakuan mereka. Jiyoon segera mengembalikan pembicaraan yang sempat tertunda itu.

“Ah, baiklah. Darimana kita akan memulai lokasi untuk pencarian dana Minho-ssi?” Ujar Jiyoon, ia segera mengambil agenda kecil yang selalu ia taruh di kantong kemejanya.

“Menurutmu?” Yang ditanya-Minho, malah balik bertanya.

Gadis tomboy itu menoleh pada Hyuna, ingin meminta saran karena sekarang ia tak bisa berpikir luas. Namun sahabatnya itu sudah hilang entah kemana.

‘Awas kau Kim Hyuna!’ Teriak Jiyoon dalam hati, mengutuk sahabatnya sendiri.

“Errr…entahlah. Aku kurang ahli dalam hal seperti ini.” Jawab Jiyoon jujur. Keningnya sedikit berkerut, ia bingung juga.

“Salah aku menugasi mu hal yang seperti ini. Otakmu tak pernah bisa digunakan. Baiknya kau tidak usah masuk dalam organisasi penting seperti ini.” Sindir Minho tajam. Namja itu menunjukkan wajah ketidaksukaannya pada Jiyoon. Bahkan tak ada rasa bersalah sedikitpun ketika ia mengucapkan hal itu.

Jiyoon tak bisa berkata apa-apa. Apa yang dikatakan Minho hampir sepenuhnya benar. Ia memang kurang diperlukan dalam organisasi seperti itu. Alasan yang memaksanya untuk bergabung hanya karena pada saat itu Jonghyun mendesaknya agar bisa satu organisasi dengannya, padahal Jiyoon memang kurang menyukai kegiatan sibuk.

Minho segera berdiri dari kursinya. Ia meninggalkan Jiyoon yang masih menunduk, tak berani menatapnya. Namun sebelum langkahnya semakin jauh, pergelangan tangannya sudah ditarik seseorang, siapa lagi kalau bukan gadis tomboy itu.

“Ijinkan aku buktikan kalo aku bisa.” Pinta jiyoon memelas.

“Apa yang bisa kau lakukan agar aku percaya?” Tanya Minho.

“Aku bersedia bekerja sendiri. Kau, Choi Minho, seorang ketua BEM……” Tunjuk Jiyoon pada namja dihadapannya itu.

“Kau hanya akan mengawasi saja. Tak perlu membantu.” Lanjutnya.

Minho menimang sebentar. Ia kemudian mengangguk saja.

“Besok proposal harus sudah selesai” lalu ia berjalan meninggalkan Jiyoon.

Gadis itu menghela panjang nafasnya. Lega berhasil membuat seorang Choi Minho percaya, tapi tak ayal ia merasa bodoh karena harus bekerja sendiri.

“Tega sekali dia memintaku untuk membuat proposal hanya semalam” umpat Jiyoon kesal.

Jiyoon kembali ke kursinya semula. Memikirkan apa yang harus ia lakukan, dan darimana ia harus memulai semuanya?

Diaduknya orange juice dihadapannya itu, tak berniat untuk meminumnya sekarang. Ia kurang pandai dalam hal pencarian dana, lalu harus meminta bantuan pada siapa sekarang? Sempat terlintas olehnya nama Kim Jonghyun, tapi segera dihapusnya pikiran itu. Bodoh sekali jika masih mengharap bantuan pecundang itu.

Kibum? Perlu rayuan maut agar berhasil membujuknya. Namun tak menjadi kendala bagi seorang Jiyoon. Ia kemudian merogoh tasnya untuk mencari benda tipis persegi panjang itu. Tak perlu waktu lama untuk mencari kontak bertuliskan ‘Kibum Cerewet’ di handphonenya.

Diketikannya beberapa kalimat yang segera mendapat balasan singkat dari si penerima.

‘Apa maumu Lee Jiyoon? To the point saja’ balas kibum melalui short message service.

Jiyoon hanya terkekeh membaca balasan itu. Dengan segera ia membalasnya.

‘Ah kau selalu tau kibum. Tampan sekali dirimu! Baiklah, temui aku di cafe ujung jalan ya. See you tampan’

Kira-kira seperti itu balasannya. Di-kliknya tombol send hingga tertulis ‘Message sent’ pada LCD handphone berkemasan hitam itu.

Senyum gadis itu merekah begitu saja. Diseruputnya orange juice itu hingga habis. Tas yang semula ia letakkan di kursi kini berpindah menyampir di bahunya.

‘Kau lihat saja apa yang bisa ku lakukan, Choi Minho’ tekat Jiyoon dalam hati.

@SamGyan Caffe 04.30pm

“Ada apa?” Tanya Kibum langsung. Setelah Jiyoon menempatkan dirinya di kursi empuk yang disediakan.

“Kau ini, tidak bisakkah bersikap ramah pada seorang gadis?” Ucap Jiyoon.

“Kau? Seorang gadis?” Ejek Kibum, pura-pura memasang ekspresi terkejut.

Bantalan sofa berhasil mendarat di wajah namja itu, sedangkan si pelaku hanya terkekeh karena berhasil membuat wajah Kibum cemberut.

“Ishhh…jadi itu sikap seorang gadis.” Cibir Kibum.

“Aku malas berdebat dengan mu. Jadi jangan memulainya Kibum” balas Jiyoon, kini ia mengganti air mukanya lebih serius.

“Katakan apa, baru aku akan memutuskan membantumu atau tidak.”

“Masalah pencarian donatur, kau bisa kan?” Tanya Jiyoon penuh harap.

“Bukankah Minho yang jadi partnermu?” Pertanyaan sebelumnya, dijawab dengan sebuah pertanyaan lagi.

“Ceritanya panjang, yang jelas Minho marah padaku dan aku berjanji akan buktikan kalau aku bisa mengerjakan tugas ini seorang diri.”

Kibum menepuk dahinya sendiri. Ia hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar ucapan Jiyoon. Apakah dia atau gadis itu yang bodoh?, batinnya.

“Kau bilang seorang diri kan? Baiklah kerjakan itu sendirian.” Ucap Kibum santai.

“I will. Tapi bantu aku KIBUM!!” Jiyoon menarik lengan baju namja itu, layaknya anak kecil sedang menagih batangan coklat pada ibunya.

“Tidak! Jika Minho tau, yang mati bukan hanya kau saja tapi aku juga.” Kibum bersikukuh menolak.

“Please….” Kali ini Jiyoon menunjukkan wajah memelasnya.

“Tidak jika harus berurusan dengan Choi Minho.” Balas Kibum. Namja itu segera mengambil ranselnya dan berjalan menuju kasir, meninggalkan  Jiyoon.

“Maaf.” Ucap Kibum terakhir kalinya, sebelum benar-benar hilang dari pandangan gadis itu.

Jiyoon menenggelamkan wajahnya diantara kedua lutut gadis itu. Tidak menangis. Hanya saja inilah kebiasaannya jika sedang bingung. Ia tak menyadari jika seseorang datang dan menatapnya heran.

“Perlu bantuan?” Tanya sang pemilik suara.

Gadis itu mengintip melalui celah, sekedar memastikan siapa yang mengajaknya bicara.

Ia langsung tergelak saat Kim Jonghyun duduk dengan seringai tipis di bibirnya. Angkuh memang dari sorot mata namja itu.

“Tidak. Dan jika itu pun ada, maka bukan kau yang diharapkan menolong.” Jawab Jiyoon tegas. Gadis itu bergegas meninggalkan tempat itu, sebelum Jonghyun menahan pergelangan tangannya.

“Duduklah. Bicarakan baik-baik masalah kita.” Pinta Jonghyun serius.

Mau tak mau Jiyoon kembali duduk. Rasanya memang pedih harus berhadapan dengan mantan kekasihnya itu, tapi bagaimanapun juga masalah antara mereka berdua harus diselesaikan secepatnya.

“Cepat. Aku tak punya waktu banyak.” Ucap Jiyoon dingin.

“Baik. Aku hanya ingin minta maaf karena memutuskan mu secara sepihak.” Namja itu terlihat yakin dengan kata-katanya.

“Sampai detik ini aku bahkan belum dapatkan alasan yang tepat, kenapa kau memutuskanku.”

“Maaf. Sekali lagi maaf. Kurasa pemikiran kita yang sudah beda jalannya.”

“Tidak Kim Jonghyun. Itu bukan alasan yang tepat!” Ucapan Jiyoon semakin meninggi.

“Lalu? Kau ingin alasan yang bagaimana?” Tanya Jonghyun tak kalah.

“Apa karena gadis yang bersamamu tadi pagi?” Jiyoon berkata lirih.

“Bisa jadi iya. Dia mengerti apa yang bisa dilakukannya sebagai seorang kekasih Kim Jonghyun.” Namja itu memberikan penekanan pada kata kekasih Kim Jonghyun.

Jiyoon hanyut diam seketika. Ia mengerti sekarang. Kim Jonghyun bukanlah mahasiswa biasa seperti dirinya. Namja itu dipuja-puja oleh setiap gadis layaknya seorang dewa. Dan jika dipasangkan antara Jiyoon dan Jonghyun, hanya cibiran yang mereka dapatkan.

‘Kau memang pecundang, Kim Jonghyun.’ Batin Jiyoon.

“Aku mengerti.Aku memang tidak jauh lebih baik daripada gadis mu yang baru.” Gadis itu berucap pilu, seakan menertawakan dirinya sendiri.

“Dan bolehkah aku meminta satu permintaan?” Pinta namja dihadapannya.

“Apa?”

“Tolong jauhi Choi Minho. Ia berbahaya.”

Kening Jiyoon berkerut. Atas dasar apa Jonghyun menyuruhnya menjauhi Minho? Lagipula Minho tak cukup berbahaya juga. Hanya sikap dinginnya yang membuat orang-orang jadi begitu takut padanya.

“Akan kupikirkan. Selamat siang.”

Jiyoon melangkah meninggalkan namja yang pernah mengisi hari-harinya itu. Sedangkan Jonghyun yang masih duduk disana hanya menunjukkan seringai liciknya.

‘Kau tidak akan bisa mendapatkan Jiyoon, Choi Minho’ bisiknya dalam hati, dengan senyum kemenangan.

***

Jiyoon POV

Aku berjalan hilir mudik di dalam kamarku yang bernuansa biru laut tersebut.  Bagaimana ini, Kibum tidak mau membantuku. Siapa lagi yang bisa kumintai tolong.

“Yaa…” aku berteriak histeris sambil mengucek-ngucek rambutku frustasi.

“JIYOON BERISIK” teriak Jinki oppa ku dari kamar sebelah. Dia baru saja kembali dari Jepang. Seorang eksekutif muda dan pasti……….

“Ide yang bagus Jiyoon” ucapku kepada diriku sendiri. Dengan semangat ’45 tanpa mengetuk pintu, aku langsung menerobos masuk ke dalam kamar Jinki Oppa yang bernuansa putih bersih dengan wallpaper senada.

Oppakan eksekutif muda pasti punya banyak relasi dan kenalan yang bisa dimintai tolong.

Terlihat Jinki Oppa sedang tidur dengan pulas di kasur big sizenya tersebut.

“Oppa” aku berteriak tepat ditelinganya. Dia membuka sedikit matanya lalu menepuk pelan kepalaku dan tidur lagi.

“Jangan ganggu aku” ucapnya sambil menutupkan selimut keseluruh tubuhnya.

“Oppa bantu aku” aku menggoyang-goyangkan tangan Jinki Oppa yang keluar dari selimutnya.

“………..”

“Oppa” rengekku sambil menarik selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.

“YA, JIYOON” teriaknya kesal langsung terduduk diatas tempat tidurnya. Rambutnya sedikit berantakan dengan hanya memakai kaus rumahan serta celana trening selutut.

“Oppa bantu aku” ucapku sambil memsang puppy eyes.

“Bantu apa?” ucapnya  dengan suara serak karena habis bangun tidur sambil dengan mata yang masih terpejam.

“Bantu aku untuk mencari donatur untuk acara amal yang akan diadakan kampus, Oppa yah Oppa”

“Kenapa mesti kamu yang mencari donaturnya?” ucap Jinki oppa sambil bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi yang juga berada di dalam kamar tersebut.

“Akukan anggota BEM oppa”

“Heh?” alisnya bertaut menjadi satu dan sekarag dia sudah kembali duduk di atas kasur tepatnya disebelahku, sepertinya Jinki oppa baru saja mencuci wajahnya.

“Oppa” ucapku pelan.

“Kamu jadi anggota BEM? Mengurus diri sendiri saja tidak bisa, apalagi mengurus BEM di kampus yang tugasnya tiada henti seperti itu” omelnya.

“Ya oppa, tidak usah ceramah deh. Intinya mau membantuku atau tidak?” ucapkku yang sudah mulai merajuk.

“Ye,ye. Iya oppa bantu, tapi traktir makan ayam goreng ya?”

“Sip, you’re the best oppa” kekehku pelan, lalu berjalan keluar kamar dengan bersenandung pelan.

“Tidak rugi juga punya oppa seperti dia”batinku riang. Sekarang tugasnya hanya membuat proposal yang akan ku ajukan kepada Minho besok, tapi bagaimana cara membuat proposal saja aku tidak tau. Ya sudahlah aku buat semampunya saja.

***

Seoul University 4 pm

Dengan tergesa-gesa aku merapikan barang-barang ku di atas meja, aku lupa memberikan proposalnya pada Minho sunbae.

“Jiyoon mau kemana”  ucap Hyuna bingung melihat aku kalang kabut.

“Aku ada urusan dengan Minho sunbae, bye Hyuna” dengan langkah seribu aku keluar dari kelas menuju ruang BEM di lantai 2.

Knock,knock,knock…

Setelah mengetuk pintu perlahan aku membuka ruang khusus untuk anggota BEM berkumpul. Terlihat Minho sunbae sedang konsentrasi dengan laptopnya dan sepertinya tidak menyadari kehadiranku.

Aku hanya berdiri mematung saat kusadari Minho sunbae tampan sekali. Rambut cepaknya, garis wajahnya yang sempurna, bibir tebalnya dan juga mimik wajahnya saat serius, amazing sekali!

“Ada perlu apa?” ucap Minho sunbae yang sukses membuyarkan lamunanku.

“Eh,eh…ini proposal yang sunbae minta kemarin” jawabku sambil tergagap dan dengan tangan gemetar memberikan proposal itu kepadanya.

Dia menerima proposal tersebut dan dengan serius mulai membolak-balik setiap halamannya.

Brakkkkk

Dia membanting proposal itu kemeja segi empat yang ada di depannya. Aku sedikit terlonjak kebelakang melihat reaksi yang diberikannya.

“Kau sebut ini proposal?” tanyanya tajam kearahku dengan nada yang sedikit membentak, nyaliku langsung ciut seketika saat melihat mata elangnya itu menatapku.

“Ne, sunbae”  jawabku langsung menunuduk. Aku tau pasti hasil proposalnya berantakan, siapa suruh dia memintaku mengerjakannya hanya dalam waktu semalam? Dasar sinting, dia ini manusia atau bukan?

“Buat ulang, itu hanya sampah” ucapnya dengan nada datar namun sukses membuatku terpojok.

Air mataku mulai menggenang, namun kutahan sekuat tenaga, sekarang tanganku sedikit gemetar. Seenak jidatnya membentakku seperti itu dan mengatakan proposal yang kubuat semalam suntuk itu sebuah SAMPAH.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung pergi dari ruangan itu. Menyesal aku sempat memujinya tadi, sekarang melihat mukanya saja aku tidak sudi.

Aku berjalan keluar ruangan dengan hati yang sangat gondok, rasanya aku ingin membungkam mulutnya supaya bisa menghargai usaha orang sedikit saja.

Sekarang aku terduduk di bangku panjang dbawah pohon rindang dekat perpustakaan. Aku menghela napas panjang, dan menghapus sisa air mata yang sekarang sudah mulai berhenti mengucur.

“Aku sudah memperingatkanmu, hati-hati dengan orang yang bernama Choi Minho” tiba-tiba seseorang tanpa permisi duduk disebelahku. Jonghyun, mau apalagi dia? Belum cukup dia menyakitiku.

“Bukan urusanmu Jonghyun-ssi” ucapku dingin dan langsung pergi meninggalkannya.

***

Home, 7 pm

Aku berjalan memasuki rumah dengan langkah lesu. Diruang keluarga Jinki oppa sedang menonton televisi. Aku langsung mendaratkan tubuhku duduk disebelahnya.

“Kenapa cemberut?” Jinki oppa langsung menautkan kedua alisnya menjadi satu.

“Proposalku ditolak oppa” ucapku lesu sambil mengambil minuman yang berada di meja depan kami.

“Main minum sembarangan” jinki oppa dengan refleks mengambil gelas yang berada ditanganku.

“Dasar pelit,week” aku memeletekan lidah kearahnya. Dia hanya mengerucutkan bibirnya.

“Mana proposalnya? Oppa ingin melihat” ucapnya yang sudah kembali seperti semula. Dengan ragu aku menyerahkan proposal itu kepada Jinki oppa. Dia mulai membolak-balik halaman demi halaman

“Kamu sebut ini propossal?” tanyanya dan langsung tertawa sambil memegangi perutnya.

“Ya…” aku langsung mencubit perut jinki oppa, dia menghentikan tawanya.

“Ok,ok…jadi ini proposal yang kamu ajukan kepada ketua BEM nya? Pantas saja” ucapnya sambil mengangguk-ngangguk,

“Begini saja, nanti kita data kemana saja bisa kita mencari donatur, misalnya ke Senior High School, Perusahaan ataupun sesama universitas juga dan jangan lupa kamu bikin pamflet untuk mahasiswa di kampusmu siapa tau ada yang ingin menjadi donatur” ucapnya dengan wajah serius.

“Jenius” ucapku dengan muka berbinar.

Jinki oppa hanya tersnyum bangga sambil membusungkan dadanya dan aku langsung mengerucutkan bibirku.

***

Author POV

Sinar matahari mulai menerobos masuk ke dalam celah jendela kamar minimalis tersebut. Terlihat jam telah mununjukkan pukul  08.00 KST. Ia—Jiyoon sedang tertidur pulas di kasur ukuran big size dengan bad cover bunga-bunga sakura musim semi.

Kakinya mulai bergerak , matanya sedikit terbuka dan diambilnya jam weker yang berada di samping kasur.

“Yaaaa…..aku telat” dengan langkah seribu Jiyoon segera bangun dari kasurnya dan langsung secepat kilat masuk ke dalam kamar mandi.

Ia lalu memakai baju hem berwarna kuning kotak-kotak serta blazer abu-abu dengan panjang tangan ¾  dan jeans biru tua. Sneaker  kesayangannya pun dikenakan dan langsung menuju kampus dengan menggunakan bus.

@Seoul University, 08.40

Jiyoon berlari sekuat tenaga supaya cepat sampai di kelas, namun sialnya kelasnya berada di lantai 3 dan dosennya si Botak yaitu dosen killer di kampusnya.

Beberapa kali Ia hampir menabrak beberapa mahasiswa yang berjalan berlawanan arah dengannya.

Saat berada didepan kelasnya, ternyata pintu sudah ditutup dan sang dosen sudah masuk dari sekitar 25 menit yang lalu.

Dengan takut Jiyoon mengetuk pintu dan membukanya.

Knock,knock,knock,

Terlihat sang dosen botak sedang duduk manis di depan mejanya. Semua mahasiswa di kelasnya sepertinya sedang diberikan tugas oleh si dosen killer itu. Mereka sangat serius mengerjakan dan sepertinya tidak menyadari kehadiran Jiyoon sampai si dosen killer angkat bicara. Jiyoon masuk karena menurutnya si dosen itu mungkin sedang berbaik hati untuk memberikannya pengampunan karena telat di mata kuliahnya.

“Telat lagi Jiyoon-ssi?” tanyanya kepada Jiyoon saat sudah duduk mendarat dibangku kosong paling depan.

“Iya sir” jawabnya sambil menunduk tanpa menatap wajahnya yang er..sedikit mengerikan

“Tapi bisakah saya minta tolong?”

“Iya sir”

“Bisakah anda tutup pintu itu dari luar?” ucap dosen itu kepada jiyoon yang sudah hampir mati terduduk.

Jiyoon mengerti jika si dosen ini sedang mengusirnya secara halus. Dengan lemas Jiyoon berjalan keluar ruangan sambil menyampirkan kembali tas jinjingnya yang tadi sudah diletakannya diatas meja.

“Dasar dosen menyebalkan” umpat Jiyoon. Dia berjalan menuju taman belakang kampusnya. Disana dipenuhi mahasiswa yang sekedar duduk santai sambil menunggu kelas mereka mulai.

Jiyoon duduk dibangku panjang dekat pohon yaitu satu-satunya kursi yang kosong.

Ini gara-gara aku begadang untuk mengerjakan proposal dan akhirnya telat, semua ini karena Choi Minho, batin Jiyoon.

‘Kenapa sejak aku putus dengan Jonghyun dan aku menjadi partnernya hidupku jadi tidak teratur seperti ini’, batin Jiyoon.

Ia mulai memejamkan matanya dan menghirup udara segar pagi ditaman sampai beberapa saat kemudian dia ingin tertidur.

Sampai dia merasakan seseorang mendekat kearah dan duduk disebelahnya.Dengan malas Ia membuka mata, samar-samar dilihatnya seseorang yang duduk disebelahnya. Siapa dia? Pikirnya. Jiyoon mulai mengucek-ngucek matanya dan sampai akhirnya fokus menatap orang disebelahnya.

“Sedang apa kau disini?” orang tersebut bertanya sambil menatap Jiyoon.

“Oh kau Kibum! Tadi aku diusir oleh dosen karena telat” ucapku kembali menyadarkan kepalaku ke kursi.

“Bagaimana tugas BEM mu apakah sudah selesai?” tanyanya sambil tersenyum.

“Tentunya sudah” ucap Jiyoon sambil tersenyum bangga kearah Kibum.

“Baguslah” ucap Kibum sambil mengacak-ngacak rambut Jiyoon.

“Dari pada disini, mending kita ke kantin yuk. Lapar nih” tawar Kibum padaku.

“Ani, kau saja aku masih mau disini” tolak Jiyoon kemudian kembali menyandarkan kepalanya pada kursi dan memejamkan matanya.

“Ayolah, aku yang traktir” rengek Kibum.

“Traktir? Serius” Jiyoon langsung merasa terpanggil saat mendengar kata traktir.

“Dua rius” jawab Kibum sambil menggembungkan pipinya.

“Hehehe bisa aja, ayok” sekarang berganti Jiyoon yang bersemangat.

“Eh,eh” Kibum yang tidak siap ditarik oleh Jiyoon sekarang berjalan terseok-seok.

“Lee Jiyoon, jangan menarikku lagi” bentak Kibum.

Namun Jiyoon tidak mengindahkannya malah makin mempererat tarikan tangannya kearah lengan baju Kibum.

***

Jiyoon POV

Seoul university, 1 pm.

Setelah selesai mengikuti mata kuliah yang membuat kepalaku hampir pecah. Sekarang aku berjalan menuju ruang BEM yang berada di lantai 2. Sebenarnya aku tidak ingin kembali lagi untuk menginjakkan kaki keruangan ini. Namun apa mau dikata, Tuhan berkehendak lain. Sepertinya kata-kataku terlalu berlebihan, ok abaikan.

Aku mengentuk pintu dan masuk. Disana lagi-lagi suasanannya sama seperti kemarin hanya ada Choi Minho sedang berada di depan laptopnya.

“Ini proposalnya” aku langsung menyodorkan proposal itu to the point tanpa berbasi-basi terlebih dahulu.

Sesaat dia menatapku dan langsung mengambil proposal yang berada ditangannku.

Bola matanya seperti menari-nari saat membanca proposal itu.

“Lumayan” ucapnya yang sekarang sudah menutup proposal tersebut.

Gila! Lumayan? Hanya itu kata-kata yang bisa diucapkannya. Irit sekali orang ini berbicara? Memang berbicara langsung ada biaya seperti saat berbicara melalui saluran telepon, tidakkan?

“Lumayan?” ulangku yang masih sangsi dia hanya berkomentar seperti itu.

“Lebih baik dari yang kemarin” jawabnya.

“Jadi pencarian donaturnya sudah bisa dimulaikan? Kalau proposalnya sudah” tanyaku lagi.

“Bisa” jawabnya sambari menatapku.

“Baiklah, saya permisi dulu sunbae. Maaf mengganggu”

Aku berjalan keluar ruangan. Puih!! Akhirnya sore ini aku bisa memulai pencarian dana juga. Saat aku sedang berjalan, dari arah berlawanan terlihat Shin Se Kyung. Dia berjalan bersama teman-temannya. Aku berjalan lurus, namun saat kami berselisihan yeoja itu—Shin Se Kyung tiba-tiba sepertinya dengan sengaja menabrak bahuku sampai aku terjatuh.

“Ow, sorry” ucapnya langsung menutupkan tangannya kearah mulutnya.

“Jalan pakai mata bukan pakai itu” aku menunjuk kaca yang berada ditangannya.

“Hey, tutup mulutmu” ucapnya sambil menunjuk-nunjuk kearah ku.

Aku berusaha untuk berdiri namun sepertinya kakiku sedikit terkilir namun aku berusaha untuk tetap menegakkan tubuhku dan berjalan terseret-seret.

Aku sedang tidak ingin berurusan dengan mereka. Saat sampai didekat tangga, disana ada kursi panjang dan aku beristirahat sejenak dan lalu memijat-mijat kaki kiriku.

“Bagaimana ini? Aku harus segera mencari donatur dan harus keluar masuk gedung dengan kaki seperti ini” umpatku kesal.

Aku menarik napas panjang. Sempat terlintas di otakku untuk meminta bantuan dengan Kibum atau Jinki oppa untuk mengantarkanku, namun aku tidak mau merepotkan mereka lagi dan lagi. Cukup aku saja yang merasa repot.

Aku mendengar derap langkah seseorang mendekat kearahku, saat aku menengok ternyata Minho sunbae. Dia berjalan dengan pandangan lurus ke depan dan tas sport yang bertengger dipunggungnya.

Aku berdiri dan segera berjalan pelan, aku sedang tidak ingin berbicara dengannya.

Saat sampai ditangga aku bingung bagaimana caranya turun kalau kakiku seperti ini. Aku mencoba berpegangan pada pegangan tangga. Huft satu tangga akhirnya kulalui tapi masih banyak lagi tangganya.

“Perlu bantuan?” tiba-tiba Jonghyun berada disebelahku.

“Anio” aku menggeleng dan langsung  mengubah ekspresiku jadi dingin saat melihatnya.

Namun dia tetap nekat ingin membantuku dan aku menghempaskan tangannya yang memegang pergelangan tanganku.

“Aku bisa sendiri” ucapku meninggi dan ingin menuruni tangga lagi namun apa mau dikata pergelangan kakiku sakit sekali. Bagaimana ini? Aku harus cepat pergi dari hadapan Jonghyun bisa-bisa air mataku tumpah dan kalau saja dia tau siapa yang membuat kakiku seperti ini. Tuhan tolonglah aku!

Sepertinya Tuhan menjawab doaku karena Minho sunbae muncul dari arah atas tangga, dia melirik kearahku sesaat.

Tanpa pikir panjang aku langsung meminta bantuannya.

“Minho sunbae” aku memanggilnya, Jonghyun mengikuti arah pandanganku.Terlihat air mukanya langsung berubah drastis.

Minho sunbae menatap kearahku dan aku memasang wajah berharap kepadanya.

“Bisa tolong aku menuruni tangga” tanyaku lagi karena dia hanya mematung ditempatnya sambil menatap aku dan Jonghyun secara bargantian.

Tanpa jawaban dia menuruni satu anak tangga menuju tempat aku dan Jonghyun berada, dan dia berjongkok. Aku sedikit terkesiap terhadap apa yang dilakukannya.

“Cepat naik” ucapnya dengan suara bass yang kedengarannya sedikit er..sangar, dia menoleh kerahku yang membeku ditempat.

“Eh,em….i..ya” aku tergagap dan dengan ragu naik kepunggungnya dan melingkarkan tanganku dilehernya.

Punggungnya hangat dan besar. Seperti dejavu rasanya.

Blushhh.. Perlahan wajahku memanas, tanganku mengeluarkan keringat dingin dan jantungku berdetak cepat. Semoga saja Minho sunbae tidak bisa merasakan detak jantungku yang sepertinya akan terlepas dari tempatnya.

“Mau sampai kapan kau ku bopong?” tanyanya yang berhasil membuyarkan lamunanku. Ternyata kami sudah sampai di lantai 1. Saking asiknya mengkhayal sampai-sampai aku tidak sadar.

“Ah ne sunbae” dia pun berjongkok dan aku turun.

“Kamsahamnida sunbae untuk membantuku turun tangga dan em..membantuku menghindari Jonghyun. Sekali lagi kamsahamnida” aku membungkuk beberapa kali kearahnya dan tersenyum.

“Sama-sama” dia pun berlalu dari hadapanku. Punggungnya mulai berjalan menjauh dan akhirnya menghilang.

Aku berjalan terseret-seret menuju halte bus. Sekarang aku sedang duduk di halte bus yang cukup sepi. Sedikit kupijat-pijat ringan kaki kiriku. Kulepas sneaker yang melekat di kaki kiriku. Tidak ada memar atau luka disana, mungkin hanya terkilir saja.

Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya. Huft aku lelah sekali hari ini. Busnya tidak kunjung datang pula. Kukeluarkan i-pod yang berada di tasku dan langsung ku pasangkan dua headset di telingaku. Aku memilih-milih lagu dan akhirnya jatuh pada lagu 2NE1 yang berjudul lonely.

Aku menghentak-hentakan kakiku sambil mengikuti irama musik, pada saat pertengahan lagu tiba-tiba ada seseorang dengan mobilnya berhenti di depanku. Namun aku tidak mau ambil pusing dan semakinku menikmati lagu itu yang sekarang sudah mencapai Interlude disana aku mendengar suara Beom si lead vocal.

“Baby I’m so lonely, lonely, lonely, lonely, lonely, lonely” aku sedikit menyenandungkan lagu tersebut saat tiba-tiba klakson mobil orang di depanku berbunyi dan dia membuka kaca mobilnya. Aku melepas headsetku.

Aku mengamati orang tersebut, Choi Minho? Ada apa dia ke halte bus padahal dia sudah memiliki transportasi berupa mobil.

“Apakah kau ingin mendatangi tempat pencarian donatur?” tanyanya dari arah bangku pengemudi.

“Ah ne sunbae” jawabku sambil tersenyum sopan kearahnya.

“Kau yakin dengan kaki seperti itu kau bisa pulang pergi naik bus?” tanyanya sambil menatap sinis kearahku.

Sepertinya dia hanya ingin menyudutkanku. Menyesal aku sempat memberikan senyuman kearahnya tadi.

“Bukan urusanmu” ucapku jutek. Jauh-jauh saja sana kalau hanya ingin mengatakan itu.

Dia menatapku dan membuka pintu mobilnya. Minho sunbae berjalan kearahku dan menarik pergelangan tanganku.

“Mwo…apa yang kau lakukan?” namja bernama Minho itu mendorong ku masuk ke mobilnya.

“DIAM! Dan ikuti saja kemana aku mau”

“To Be Continued”

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

24 thoughts on “Hate to Love – Part 1”

  1. Wahahah ngakak scene gendong2an! Suara bass yg err… Sangar wkwkwk xD sangar bo! Sangar!
    Ih aku suka banget, cr penyampaian kejadiannya lugas dan teratur. Kyaaah, minho :*
    wooo jjong tuh masih suka jiyoon apa punya dendam sm minho? Minho suka jiyoon gitu? O.O” wahaha sudahlah. Oya ada ‘Kibumpad’ wkwkwk dari ‘keypad’ kan pasti? Wkwk. Ayo part 2 dikirimmm xD
    pasti rame deh!

  2. Seru…lanjut thor…jln crt ny bgus…
    aku suka…suka…

    Kibumpad???mksdny keypad ya ??
    Trus “bagai garis vertical dan horizontal yg ga akan pernah ditemukan…
    Bukannya garis vertical n horizontal pasti ada ti2k temunya…
    yg g bkl btemu tuh bukannya klo sm2 vertical or sm horizontal…

  3. kyknya seru nih….
    jjong bikin kesel aja ><
    Jiyoon …. minho itu walaupun d luarnya sangar tpi dlmnya baik kok ….. * anae minho berbicara -_- *

  4. Karakternya Minho disini er…….. Sangar, ya sangar tp cool u.u
    Minho jd sunbae kan? pantesan bisa nindas(?) Key aja smpe takut bngt cari msh sm dia.

    Hahaduh apaan itu ‘KIBUMpad’? awalnya gak ngerti tp setelah kesini2 jd mudeng trnyata ‘KEYpad’ toh.

    Ini Jjong jg maunya apa? sprtinya ada dendam dia sm Minho. aku jg suka sm krkter abang Onew, kakak yg baik u.u

    A-yo author part 2 ditungguuuu~ 😀

  5. Bener-bener cocok kalo min ho dibilang gunung es~ eeer.. Aku bacanya senyum-senyum sendir 😀 kk~ Lanjutkan! Semangat thor!

  6. jjong tu msh suka gg sih ma jiyoon??tp koq kyk.a dia tu ‘menghasut’ jiyoon biar gg deket” ma minho krn dia pengen balas dendam ato apalah ke minho..hmm penuh mystery 0.0
    kibum~~~lucu(?) XDD kibum suka gg ma jiyoon..kalo iya.. i think jiyoon is really a lucky girl -,-”
    aq tgu next part.a 😀

  7. aaah…
    Mau donk digendong ma minho oppa… *.* bikin iri aja.

    Keren bnget thor…
    D tunggu lanjutanx.

  8. Apa maksud Jonghyun bilang Minho berbahaya? Benar-benar tahu sesuatu tentang Minho atau masih nggak rela kalau Jiyoon didekati Minho? Jadi nggak adil dong buat Jiyoon sementara Jonghyun sudah memutuskannya.
    Nice story. Lanjut!

  9. “Bagai garis
    horizontal dan vertikal yang takkan pernah
    dipertemukan.”
    Aku suka kalimat itu.. =D
    adegan2 mendekati tbc bikin blushing ih..

  10. aku kira dari judul, ini cerita roman biasa tapi ternyataaaa…… KEREN.
    bahasa penyampaiannya ringan terus konflik dan intrik(halah) ceritanya seru!

    keep writing

  11. dr kmrin udh ngesave.. lupa mulu mau bc..

    beberapa kali memencet-mencet
    sesuatu di Kibumpad ponselnya. — hah?? apa itu thor? kibumpad??? keypad ya? kkkl

    wuiiihhh minho.. jd presiden bem nih.. ea ea ea…

    minho suka ye sm jiyoon.. kkkk
    wahhh enknyo punya oppa kyk jinki T.T
    kibum di sini kyknya jg baik ya T.T
    lnjutnnya ditunggu

  12. GYAHHHHHHH KIM JONGHYUN DIRIMU LSGI YANG JADI PENGGANGGU? Aishhh…
    Aku suka, enak banget dibaca. Bikin ngakak juga HUAKAKA…
    Minho… Ah….. Ai luph yuuuuuuu…!!!! XDDD
    Daebak thor!!!! XDDD

  13. hadeeh .. itu minho bener2 dingin .. kibum sahabat kurang baik .. ahahahah
    jjong buat masalah lagi .. aish !
    suka sma jalan ceritanya .. maaf baru baca .. heheheh
    good ff thor . gomawo .. ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s