Poster Like A Panda

Like A Panda? (The Silent Touch of Marriage Side Story)

Like A Panda?

(The Silent Touch of Marriage Side Story)

Author: Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (chandrashinoda)

Main Cast:

  • Kim Jonghyun
  • Kim Hyora (covered by Jessica (SNSD))
  • Kim Yong Sang (covered by Lauren (baby MBLAQ))

Support cast:

  • Lee Taemin
  • Lee Jinki (Onew)
  • Kim Taeyeon (SNSD)

Length: Sequel

Genre: Family, humor (just a little bit), romance

Rating: G

Disclaimer: I don’t own all SHINee members, they are Gods’s. They belong to themselves and SM Entertainment. I’m just the owner of the story.

Ehm, Ada yang kaget nggak setelah lihat kalau FF ini side story dari TSTM? Pasti ada yaaaa?? *pd gilaak~* Jujur nih, FF ini baru kepikiran beberapa hari yang lalu. Kenapa? karena aku baru ngeh sekarang udah masuk bulan april, bulan dimana suamiku (baca: Jonghyun) ultah *plakk*.

Abaikan ocehan nggak pentingku di atas. Oke, bagi reader yang merasa belum membaca TSTM harap baca FF itu dulu, biar nyambung ketika baca FF ini. FF ini ada kaitannya dengan FF itu biarpun nggak masuk ke cerita utama, yang jelas melengkapi lah.Diantara reader pasti ada kan yang pingin lihat Jonghyun-Hyora couple akur? Nah di sini nih tempatnya. Atau ada yang tertarik sama kecerdasan Yong Sang? Di sini juga tempatnya.

Oke deh, sekian. Enjoy!😀

***

Jonghyun menatap layar laptopnya. Kedua kelopak matanya terasa sangat bersahabat−tak sabar ingin bertemu satu sama lain. Lingkar hitam mungkin terbentuk di bawah matanya, membuatnya tak jauh berbeda dari hewan berbulu hitam putih yang menggemari bambu, panda.

Jonghyun melirik jam weker bulat di atas mejanya. Jam bahkan belum melewati pukul 9 malam, namun matanya sudah tak bisa ia ajak berkompromi lagi. Ia mulai mengacak rambutnya, frustasi. Slide seminar tentang abortus yang dikerjakannya masih setengah jalan.

Aish, kenapa susah sekali merangkum materinya?” dengusnya, terdengar hampir menyerah. Jika ini bukan demi kebaikan para remaja yang hobby melakukan sex bebas atau para yeoja yang hamil di luar nikah dan berniat melakukan aborsi, ia tak akan menggubrisnya.

“Masih mengerjakan materi seminar, Oppa?” Hyora muncul dari balik pintu dengan membawa segelas orange jus beralaskan nampan kayu. Yeoja itu tersenyum. Kedua tangannya Nampak bergetar. Oh, tentu saja, ia tak kalah letihnya dengan Jonghyun. Dan alasan mengapa tangannya bergetar bukan karena ia tak trampil membawa nampan, melainkan karena ngilu akibat memeriksa setumpuk pekerjaan bawahannya di kantor.

Hyora meletakkan nampan berwarna kecoklatan itu tepat di samping laptop Jonghyun. Ia menggenggam tangan Jonghyun yang terlihat kaku diatas keyboard−yang kebingungan mau mengetik apa.

 “Minumlah, kau perlu peyegaran,” saran Hyora lembut.

Jonghyun tertawa kecil. Ia meraih orange jus-nya lalu berkata, “Ne, Gomawo.”

Keduanya terdiam. Hyora mengambil alih laptop Jonghyun, menggerakkan kursor perlahan, membaca satu persatu ringkasan materi yang telah susah payah dikerucutkan suaminya dengan bahasa awam.

“Kurasa ini bagus,” komentar Hyora, “untuk mahasiswa kedokteran semester awal ini mudah dipahami kurasa,” lanjutnya.

“Ya, hanya saja itu belum selesai,” Jonghyun menghela nafas berat. Jus yang ada di dalam gelasnya tinggal setengah. Ia melirik Hyora. “Kau mau?” tawarnya.

“Habiskan saja. Kau ingin kita kembali ke masa SMA yang trend dengan ciuman tak langsung?” Hyora menyikut bahu Jonghyun, membuat namja itu kembali terkekeh.

“Kalau begitu, kau mau yang langsung?” tawar Jonghyun sembari melingkarkan lengannya di pinggang Hyora.

Hora tertawa kecil. Ia meraih sisa orange jus yang nasibnya kini dipertanyakan. “Lebih baik aku mencoba gaya anak muda saja,”

Jonghyun tersenyum. Ia kembali memandang layar laptopnya, meneruskan sisanya dan menyempurnakan lagi yang ia rasa masih kurang. Hanya selang tiga menit, ia berhenti lagi. Sesuatu yang lembut melingkar di lehernya dari belakang, lengan Hyora.

“Kau lelah?” bisik Jonghyun, ia mengusap kepala Hyora yang bersandar di lengannya.

Hyora mengangguk. Kedua matanya terpejam sesaat, lalu ia buka kembali. Ia memang lelah dan mengantuk, namun ia belum boleh tidur. Alasannya, ada satu hal yang harus ia bicarakan dengan putrinya−Yong Sang−setelah ini.

Oppa, boleh aku menemani Yong Sang malam ini?” Hyora berbisik, membuat persepsi Jonghyun tentang ‘lelah’ yang dirasakan Hyora semakin kuat.

“Tentu, Yeobo. Aku mungkin akan begadang hingga tengah malam. Kau temani saja dia agar tak terganggu.”

“Baiklah kalau begitu. Selamat malam, Oppa.” Hyora berlalu setelah Jonghyun mengecup keningnya hangat.

Hyora membuka pintu kamar Yong Sang perlahan. Didapatinya gadis kecilnya masih sibuk dengan tugas yang diberikan sang guru, Victoria. Sesekali kening gadis kecil itu berkerut. Masih berkutat dengan perpaduan warna apa yang pas untuk mewarnai seekor kupu-kupu?

“Yong sang-ahUmma datang,” bisik Hyora, kemudian ia berjingkrak ke arah putrinya dan terlihat antusias.

Tak kalah antusiasnya dengan Hyora, kerutan di kening Yong Sang raib begitu mendengar suara ibunya. Ia segera duduk manis di hadapan Hyora lalu berbisik, “Bagaimana, Umma, besok kita jadi pergi, kan?”

“Tentu,” ucap Hyora pelan.

“Apakah hari ini appa kelelahan lagi?”

“Sepertinya begitu, matanya bahkan sampai membentuk kantong,” Hyora mendesah. Entah ia harus kagum atau memarahi Jonghyun dengan kebiasaan buruknya itu.

“Kantong?” Yong Sang bergumam, “hmm..,” ia tahu besok harus melakukan apa.

***

Yong Sang memainkan sendok dan garpunya. Mengadu keduanya hingga menimbulkan bunyi gesekan yang terkesan sumbang. Ia tak sabar menunggu makanan yang disiapkan Hyora. Ia memutar bola matanya. Sesosok makhluk urakan muncul dari tangga. Rambut acak-acakan dan pakaian tidak karuan membuatnya terlihat mengenaskan, bahkan lebih buruk dari seorang pengangguran.

“Pa.. hmm..,gi, Yong Huamm.., Sang hh..−ah!” Jonghyun menguap lebar. Entah yang baru dilontarkannya sebuah sapaan atau yang lain, namun Yong Sang tau, itu bukan istilah medis yang biasa diucapkannya jika ia masih setengah sadar.

“Pagi, Appa!” balas Yong Sang. Ia mendecakkan lidahnya. Huh, ia benar-benar telah menemukan sebuah benda yang akan dicarinya nanti.

Hyora datang dari dapur dengan tiga mangkuk bubur ayam. Asap mengepul dari dalam mangkuk, menandakan ketiganya baru saja matang dan siap untuk disantap.

Jonghyun meraih sendoknya, menyendok buburnya tanpa selera. Kedua kelopak matanya tak bisa terbuka dengan sempurna, berat dan terasa begitu nikmat jika dipejamkan.

Oppa, sampai jam berapa kau begadang semalam?” Hyora yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Jonghyun merasa risih dengan sikap suaminya.

Mollayo, kurasa jam tiga,” jawabnya asal. Dan sekarang pukul 6 pagi. Hanya tenggang tiga jam. Jelas saja kondisinya menyedihkan seperti itu.

Hyora hanya menggeleng lalu meneruskan menyantap buburnya. Tak ada pembicaraan lagi antara mereka setelah itu. Ketiganya asyik menghetikan kudeta para cacing di perut mereka. Sementara di lain pihak, bicara saat makan bukan hal yang sopan. Itu suatu nilai kesopanan umum yang tertatam erat di keluarga mereka.

***

Jonghyun menatap hasil USG pasiennya−gadis 17 tahun yang telat haid 3 bulan setelah melakukan hubungan sex dengan namja chingu-ya. Ia menghela nafas. Tidak ada janin di rahimnya. Masalah ada pada ukuran rahimnya yang lebih kecil dari ukuran normal.

“Anda tak perlu khawatir, Agassi. Masalahnya ada di ukuran rahimmu yang kurang dari batas normal. Hanya sedikit. Banyak mitos yang mengatakan dengan keadaan rahim seperti itu akan sulit memiliki anak. Namun kau tak perlu khawatir. Aku akan menuliskan resep obat yang akan membuat menstruasimu teratur kembali.” jelas Jonghyun pada pasien di hadapannya−yang masih memasang ekspresi takut dan cemas.

“Lalu, bagaimana, Dokter Kim?” tanya gadis gitu, menunjukkan satu lagi kebingungannya.

“Tiga bulan setelah kau mengkonsumsi obat itu datanglah kemari, kita akan lihat perkembangannya.” ucap Jonghyun tersenyum, menunjukkan rasa empatinya.

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Dok.”

Jonghyun mendesah begitu pasien itu berlalu. Hampir pukul 7 malam. Ia tak kuat lagi memaksakan senyum seperti tadi. Entah seperti apa wajahnya sekarang. Kepalanya berdenyut, sementara badannya mulai bergetar seolah akan ambruk. Ia segera bangkit dan melepas jas putihnya. Syukurlah, pasien tadi ada di daftar terkhir. Jadi ia bisa pulang dan bergelut dengan gulingnya.

Koridor sepi dan remang-remang tak membuat Jonghyun mengalihkan pandangannya. Ia lebih takut tidak bisa menyentuh tempat tidurnya daripada dicegat penunggu koridor itu.

“Jonghyun-ah,” sebuah suara memanggilnya.

Jonghyun berbalik. Ia mendapati sejawatnya−Kim Taeyeon−berdiri tak jauh di belakangnya. Gadis itu menjinjing sebuah tas kecil.

Jonghyun tersenyum tipis, tentu dengan pemaksaan yang hebat. Ia bersumpah, ini adalah senyuman terakhir yang ia berikan untuk siapa saja yang ia temui di rumah sakit hari ini.

“Ada apa, Taeyeon−ah?” tanya Jonghyun pelan, senada dengan ekspresi wajahnya.

“Ini untukmu,” Taeyeon menyerahkan tas yang dijinjingnya. Lebih tepat lagi benda yang ada di dalam tas itu, cumi goreng tepung. “Saengil chukka hamnida.”

Jonghyun terperanjat. Ia terdiam sesaat, berusaha menjernihkan jalan pikirannya yang kumal oleh kantuk. “Kau bilang apa barusan?”

Ne?” giliran Taeyeon yang terperanjat. Bagaimana mungkin seorang Jonghyun yang narsis lupa dengan ulang tahunnya sendiri? Ia tak habis pikir. “Ya, di rumah kau tidak punya kalender, apa?!”

Jonghyun buru-buru melirik ponselnya. Ada 3 SMS masuk. Dari Umma, Appa, dan Hyung-nya− Kim Jongwoon, ketiganya mengucapkan selamat ulang tahun.  Benar sekarang tanggal 8 April. Ia terdiam lagi. Jika memang ini tanggal 8 April, mengapa tak seorang pun mengucapkan selamat padanya? Tak terkecuali Hyora dan Yong Sang.

“Jonghyun-ah, kau baik-baik saja?” Taeyeon melambaikan tangannya, melihat makhluk di hadapannya tak menunjukkan respon non verbal yang berarti. Satu lagi alasan, wajah namja itu tak menunjukkan kalau ia dalam keadaan sadar seutuhnya saat ini.

Ne?” Jonghyun menjadi salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal. “Aku tak apa. Terima kasih sudah mengingatkanku. Err, dan terima kasih juga untuk ini.” ia menunjuk tas kecil yang ada di tangan kanannya.

“Sama-sama.” Taeyeon tertawa kecil. Kesibukan pekerjaan ternyata bisa mengalahkan tingkat kenarsisan seseorang. Ia kini beralih pada ponselnya, mengetik sebuah pesan yang terlihat tak bisa ditunda.

Tit.. tit.. tit.., suara ponsel Jonghyun menciptakan suasana hening diantara mereka. Jonghyun mengernyitkan alisnya. Lee Taemin, nama yang tertulis pada panggilan masuknya.

Ne, yeoboseyo, Taemin-ah?”

Hyung, bisa kau bantu aku sekarang?!” suara Taemin terdengar panik di ujung sana.

“Ada apa memang?” Jonghyun semakin tak mengerti. Tidak biasanya Taemin berbicara sepanik itu padanya.

“Bantu aku menyelesaikan laporan tentang difteri, Hyung. Datanglah ke rumahku sekarang!” suara Taemin terdengar makin panik. Ia mendesah, seolah dirinya akan digantung dosen jika tak mampu menyelesaikan tugas itu sekarang.

“Sekarang?” Jonghyun meminta kepastian dengan nada parau. Ia punya tiga alasan untuk bingung. Pertama, Taemin adalah calon sejawatnya, ia tak mungkin mengabaikan permohonannya, terlebih lagi Taemin adik iparnya. Kedua, bagaimana ia bisa membantu Taemin dengan keadaan dibayangi setan mimpi seperti ini? Ketiga, bagaimana dengan ulang tahunnya?

HYUNG, KUMOHON!” kali ini Taemin benar-benar meringis.

Jonghyun mendesah pasrah, “Ne, tunggu aku setengah jam lagi.” ujarnya lalu menutup ponselnya.

“Dia memintamu untuk membantu menyelesaikan tugasnya?” tanya Taeyeon begitu Jonghyun memasukkan ponselnya.

Jonghyun mengangguk. “Aku pergi dulu. Sekali lagi gomawo, Taeyeon-ah.”

***

Jonghyun menginjakkan kakinya di depan pintu kamar Taemin, masuk dengan langkah gontai. Ditatapnya punggung Taemin. Namja itu terlihat serius dengan laptop di hadapannya. Jonghyun merebahkan tubuhnya di tempat tidur Taemin, membuat pemiliknya menoleh, baru menyadari keberadaannya.

“Kenapa tidak bilang kalau kau sudah datang, Hyung?” tanya Taemin polos, melemparkan tatapan ‘seenaknya saja masuk kamar orang’.

“Barusan aku sudah mengetuk pintu, kau saja yang tidak dengar,” dengus Jonghyun tak acuh. Ia melipat kedua lenganya di belakang kepalanya, memejamkan sekilas kelopak mata malangnya yang terforsir sejak semalam.

 “Apa yang bisa aku bantu?” tanya Jonghyun to the point. Kedua matanya mungkin terpejam, namun telinganya masih mampu bekerja dengan baik. “Pengertian difteri, patofisologi, perjalanan alamiah penyakit, cara penularan, cara pencegahan, atau apa?”

“Aku sudah menyelesaikan semua itu, Hyung.” aku Taemin.

“Lalu?”

“Err, bisa bantu membuatkan judul untuk tugasku?” pinta Taemin, membuat kedua mata sekarat Jonghyun menatapnya tajam. Taemin memamerkan sederet gigi putihnya, berharap Jonghyun tak akan mencekiknya sekarang.

“Kau bilang apa?” lagi-lagi Jonghyun bertanya dengan nada yang sama dengan yang dilontarkannya pada Taeyeon di rumah sakit tadi. Ia mendesah.  Ingin sekali rasanya ia menggantikan dosen Taemin untuk menggantungnya di atap fakultas besok. Mahasiswa kedokteran semester IV macam mana yang membuat judul untuk kasus saja tidak becus?

Hyung,” Taemin memamerkan giginya lagi. “Ayo bantu aku,”

Aish, Lee Taemin, kau memintaku ke sini hanya untuk itu?!” Jonghyun bangkit. Ia mengepalkan tangannya, bersiap merontokkan gigi Taemin yang membuatnya naik darah.

Hyung, ampun. Aku bingung, sungguh!” sang sasaran cepat-cepat melindungi kepalanya.

Jonghyun menghela nafas panjang. Ia berjalan menuju ke sudut ruangan, mengalihkan pandangannya ke luar jendela. “Kalau kau ingin cepat selesai jangan tutup wajahmu seperti itu. Cepat katakan kau bingung di bagian mana.”

Taemin mengangkat kepalanya. Tumben Jonghyun tidak marah dengan sifat kanak-kanaknya. Sekali lagi Taemin mencermati wajah Jonghyun, memastikan namja itu masih waras dengan kondisi fisik yang terlihat under estimate.

“Cepat katakan kesulitanmu.”

“Sebenarnya judulnya sudah ada, penanggulangan KLB difteri pada pasien anak.” aku Taemin lagi, membuat Jonghyun mendelik. “Err, bagian mana yang harus ditulis dengan huruf kapital?”

Mworago?!” ish, sekali lagi Jonghyun ingin menjitak kepala Taemin. Apa dia tak pernah belajar tata bahasa yang baik waktu SD?

***

Jonghyun meringkuk di atas tempat tidur Taemin. Kepalanya terasa makin pening. Jujur, ia merasa kesal. Ada apa dengan Taemin? Kenapa bermasalah dengan hal ‘Anak SD saja jarang bermasalah dengan itu?’ “Apa bocah ini sengaja mengerjaiku? Aish!” umpat Jonghyun kesal.

“Yeah selesai!” Taemin berseru, membuat Jonghyun membuka matanya. Ia bergegas bangun.

“Boleh aku pulang sekarang?” tanya Jonghyun datar sambil mengucek matanya. Ia rasa kantong matanya telah berubah menjadi dua tingkat.

“Jonghyun-ah, bisa kau bantu aku sebentar?” belum sempat Taemin menjawab seorang namja masuk ke tengah-tengah percakapan mereka.

Jonghyun menunduk. Kepalanya terasa makin berat. Ia menatap Jinki tak ikhlas lalu berkata, “Kau mau minta tolong apa, Jinki-Hyung?” nada suaranya bahkan terdengar ‘mati saja sana!’

***

Jinki memperlihatkan satu persatu foto yeoja yang ia simpan di laptopnya. Beruntung saat ini sang master cinta−Jonghyun−sedang ada di sampingnya. Ia berharap namja itu akan membantunya untuk mencari gadis yang tepat.

“Kalau yang ini bagaimana menurutmu, Jonghyun-ah?” Jinki memperlihatkan foto seorang yeoja berambut gelap yang tengah duduk di sebuah bangku kuliah.

Ne?” Jonghyun membuka matanya yang amat terasa berat. Ia bahkan hampir tak memperhatikan foto-foto siapa saja yang ditunjukkan Jinki padanya. Sejak tadi yang dilakukannya hanya bersandar di punggung Jinki dengan mata terpejam. Dan bodohnya laki-laki yang 1 tahun lebih tua darinya itu tak menyadari ocehannya diabaikan sejak tadi.

Ya, dengarkan kakak iparmu bicara!” hardik Jinki, terlihat kesal dengan tingkah Jonghyun yang ia anggap tidak hormat.

“Kau ingin mencari yeoja lagi?” Jonghyun mencibir. Kedua matanya yang kini mengalahkan mata sipit Jinki menatap namja itu bingung. “Kau bukannya sudah bertunangan?”

Aish, pabo!” Jinki menoyor kepala Jonghyun. “Ini untuk Taemin. Cepat perhatikan!”

Jonghyun menguap lebar. Ia tak bisa mengingat mimpinya semalam. Entah apa yang membuatnya menjadi korban Kakak dan adik Hyora. Kedua orang itu yang tak waras hari ini, atau dirinya sendiri yang sudah mulai gila?

Dengan terpaksa Jonghyun melebarkan kedua matanya. Dengan modal wajah pucat pasi dan isi otak sekitar 10%, Jonghyun memenuhi keinginan Jinki untuk memilih seorang gadis untuk Taemin. Ia memang maniak dalam memburu gadis zaman SMA. Namun kali ini, untuk pertama kalinya ia merasa bosan melihat kumpulan foto para gadis. Dalam keadaannya seperti ini tak ada yang lebih cantik dari spring bed dan lebih sexy dari bantal guling.

“Bagaimana dengan ini, Jonghyun-ah?”

“Tidak.”

“Yang ini?”

Aniyo.”

“Lalu yang ini?”

“Boleh, dia saja.” baru tiga foto gadis yang diperlihatkan Jinki, Jonghyun sudah menjatuhkan pilihannya. “Nah, aku pulang, ya?”

“Tunggu!” Jinki mencegat Jonghyun. “Kau ini tidak ikhlas sekali, sih? Gampang sekali menjatuhkan pilihan.”

Jonghyun mendesah lagi. Ingin menangis rasanya. Haruskah dengan keadaan seperti orang mau mati ini ia memberi Jinki ceramah tentang kenapa dia menjatuhkan pilihan pada yeoja itu?

Jonghyun menyandarkan dagunya di pundak Jinki. Ia mendekatkan ujung bibirnya ke telinga namja itu dan bernafas begitu pelan. Dengan kondisi mata masih terpejam ia membuka mulutnya. “Dengarkan baik-baik, aku hanya akan bicara sekali. Aku bisa menilai orang hanya dari matanya. Dan aku suka dengan sinar mata gadis itu, ceria dan jujur. Kau puas?”

Jinki terdiam sejenak. Im Yoona, memang seperti yang dikatakan Jonghyun. Itu berarti..,

“Kalau aku tipikal yang seperti apa?” benar sja, sikap kekanak-kanakan Jinki muncul.

“Kau polos, kekanak-kanakan, tapi bijaksana.” Sekali lagi Jonghyun berbisik dengan sisa-sisa tenaganya. “Namun sayang, kau bodoh. Bodoh sekali meminta pendapat padaku−yang sedang dalam keadaan seperti ini. Kalau kau bertanya lain waktu mungkin aku akan menjawabnya dengan lebih serius.” kali ini Jonghyun benar-benar menyandarkan kepalanya di pundak Jinki. Kedua matanya tertutup rapat, ia sudah tak tahan lagi.

“Hahahahaha!” Jinki malah tertawa dibuatnya. “Ya, kau masih punya tamu dua orang lagi. Jangan tidur dulu.”

Andwae. Aku tidak tahan, Hyung!” Jonghyun tetap bergeming. Tak peduli meski Jinki menguncang-guncang badannya.

Diantara kesadarannya yang hampir  tak tersisa, Jonghyun bisa mendengar Jinki mendesah, mengusap puncak kepalanya lalu berbisik ‘payah kau!’

“Yong Sang-ah, appa-mu sudah game over!” ucap Jinki, sedikit berteriak.

“Kau bilang siapa tadi, Hyung?” Jonghyun terperanjat. Bukan volume suara Jinki yang membuatnya terbangun melainkan nama yang disebutkannya.

Saengil chukka hamnida, Appa!” nama yang ditanyakan Jonghyun mucul dari balik pintu bersama Hyora dan Taemin.

Kedua mata Jonghyun membulat sempurna. Yong Sang berdiri sambil membawa sebuah kado ditemani Hyora yang membawa sebuah kue tart coklat dan Taemin yang membawa sesuatu di balik punggungnya. Astaga, benar saja kecurigaan yang dirasakan Jonghyun sejak tadi. Ia memang korban dalam kasus ini.

Saengil chukka hamnida.., saengil chukka hamnida…,

Nyanyian itu memenuhi kamar Jinki. Sementara yang lain sibuk bernyanyi, Jonghyun masih terlihat bimbang, apakah ia harus menangis atau tertawa sekarang?

Cresshh… Jonghyun bahkan masih membeku ketika ada cairan yang mengalir di kepalanya.

“Ayo bangun, Hyung!” umpat Taemin kesal, melihat Jonghyun masih belum bergerak meski ia sudah mengguyurnya dengan sebotol air mineral yang ia sembunyikan di balik punggungnya.

Ya!” Jonghyun baru sadar beberapa menit kemudian.

Ya, lantai kamarku basah, Taemin-ah!” Jinki menjitak Taemin.

Riuh tawa pecah diantara mereka. Harus diakui, itu memang menyebalkan untuk Jonghyun dan Jinki. Tapi toh tidak salah mereka melakukan kegilaan di hari yang dirayakan setauh sekali ini. Mungkin saja tahun depan mereka tak bisa menemukan kerbersamaan ini lagi.

 “Appa, aku punya sesuatu untukmu.” Yong Sang menyerahkan kado yang dililit pita pink pada Jonghyun.  “Bukalah,”

Jonghyun tersenyum. “Terimakasih, Sayang.” ia mengusap puncak kepala Yong Sang. Sejurus kemudian jemarinya dengan trampil membuka bungkusan itu.

 Benda bermotif  hitam putih dengan lingkar hitam di sekitar matanya. “Boneka panda?” refleks Jonghyun melontarkan pertanyaan itu.

“Mirip denganmu kan, Appa?” Yong Sang memamerkan giginya. Itulah benda yang dipikirkannya setelah melihat Jonghyun ketika sarapan. “Appa jangan memaksakan diri seperti itu lagi. Jadi buruk rupa, kan?” ujar Yong Sang polos. Yang ia maksud dengan buruk rupa tentu bukan panda yang memiliki lingkar hitam di matanya, melainkan Jonghyun yang terlihat tidak konsisten dan acak-acakan. Sekali lagi tawa memenuhi kamar Jinki. Gadis cilik berusia lima tahun baru saja memberi pelajaran sederhana untuk semuanya.

***

“Yak, selesai!” Jonghyun mengarahkan kursor ke tanda turn off.

“Barusan kau bilang mengantuk, sekarang masih saja antusias dengan materi seminar itu, dasar!” rutuk Hyora dari balik selimutnya.

Jonghyun naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya di samping Hyora. “Entahlah, rasa kantukku hilang begitu saja tadi.” akunya, “ngomong-ngomong bagaimana kalian merencanakan yang tadi?”

“Tidak sulit,” gumam Hyora. “Sejak awal aku dan Yong Sang memang berencana untuk merayakan ulang tahunmu di rumah umma, yah agar lebih ramai. Aku meminta Taemin dan Jinki Oppa untuk menghambatmu karena aku masih membuat kue saat itu. Kemudian aku ingat, keadaanmu tadi pagi, kau pasti lupa kalau sekarang tanggal berapa. Jadi, Jinki Oppa memberitahu Taeyeon Eonnie untuk mengingatkanmu. Setelah Taeyeon Eonnie mengirim SMS, giliran Taemin yang beraksi. Dan begitu seterusnya.”

“Ohh,” Jonghyun mengangguk. Rencana kelima orang itu berjalan sempurna. Dan sekarang ia harus berterima kasih karena mereka telah membuatnya melupakan rasa kantuknya hingga ia berhasil menyelesaikan tugas seminarnya. “Ngomong-ngomong hadiahmu mana, Chagi?

Hyora tersenyum. Ia mendekat, perlahan naik ke atas tubuh Jonghyun, membuat namja itu mengerutkan alisnya. Jari-jari Hyora mengelus pipi Jonghyun. Ekspresi wajahnya terlihat seduktif.  Apa Hyora ingin melakukan ‘itu’ sekarang? Tidak mungkin. Ia tak pernah memulai permainan lebih dulu.

“Aku punya dua hal untukmu,” bisik Hyora, jemarinya mengusap lagi pipi Jonghyun, lembut.

First?

Hyora memejamkan matanya. Bibirnya menggapai bibir Jonghyun perlahan, lembut dan manis. “Ingat, semalam kau ingin yang langsung?”

Jonghyun terkekeh. “Second?”

 “Kau yakin ingin menerimanya?”

Jonghyun mengangguk.

Hyora bangkit dan berjalan ke dapur. Senyum misteriusnya membuat Jonghyun memiliki persepsi aneh dengan apa yag akan ia berikan. Selang beberapa menit Hyora kembali sambil membawa kain putih kecil yang membungkus sesuatu dengan sebuah karet dibagian atas yang mengikatnya agar tak lepas.

“Apa itu, Chagi?”

Hyora tersenyum lagi. “Sehelai kain dengan es batu. Kompres mata.” paparnya enteng.

Ya!” Jonghyun menarik Hyora, mengajak wanita itu bergulat di atas tempat tidur. Aish, bahkan istrinya sendiri ikut mengerjainya.

“Hentikan, Oppa. Ayo kompres matamu. Tak mungkin kau memberi seminar dengan mata seperti itu besok.” ringis Hyora, menahan tawanya akibat gerakan lincah jari-jari Jonghyun yang menggelitikki tulang iganya.

“Ne, ne, arraseo, yeobo.”

***

Note: From Yong Sang

Kau boleh melakukan melakukan apapun yang kau suka, mengerjakan sesuatu yang kau kehendaki dengan senang hati. Namun ingatlah pada kemampuanmu sendiri. Kau boleh berusaha, namun jangan terlalu memaksakan diri. Akibatnya, kau mungkin akan tampil buruk dan tidak ikhlas melakukan sesuatu meskipun itu tak seberapa, contohnya Appa-ku.

FIN

Gimana? Rada aneh ya ceritanya? Atau ada yang kurang? Adalah pastinya. 

Yong Sang note-nya agak dewasa, ya? Hmm, tapi kalau balik keceritanya, dia pantas mengucapkan kata-kata itu. Jadi jangan komen kalau rasanya nggak pantes Yong Sang yang ngasih note. Jujur, setelah baca komen yang menganggap Yong Sang terlalu dewasa, atau Minho yang nggak pantes sama karakternya di FF initi TSTM rasanya aku nggak boleh menciptakan karakter sesuai imajinasiku. *curcol*

Makasih ya udah mau baca… sekarang ayo sama-sama ucapkan, “Saengil Chukka Hamnida, Kim Jonghyun. Wish you all the best and God Bless You Always. Saranghae!”

©2011 SF3SI, Chandra.


This post/FF has written by Chandra, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

92 thoughts on “Like A Panda? (The Silent Touch of Marriage Side Story)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s