Friendship Be A Love – Part 1

FRIENDSHIP  BE  A  LOVE  PART  I

Author                                                :  Bella Gucci d’Lockets  /  Kim KeyLa

 

Main cast                                            : Kim Ki Bum a.k.a. Key

Abelz  Stewart a.k.a. Lee Ji Heun

Support cast                                      : Yoon Hae Ra

                                                              Lee Taemin

Choi Minho

Lee Jinki a.k.a. Onew

Genre                                                  : Friendship

Length                                                : Sequel

Rating                                                 : PG-16

Key POV

Bel masuk berbunyi. Ku dengar dari teman-teman, akan ada murid baru di kelas kami. Pindahan dari Inggris katanya. Aku pun menunggu datangnya anak baru itu bersama Yoon seonsangnim, wali kelas kami.

“Pasti anak baru itu orangnya sombong dan angkuh sekali” kataku pada Taemin, teman sebangkuku setahun yang lalu, saat aku masih kelas 3 SD.

“Ya, pasti. Biasanya orang Inggris itu kan seperti itu” katanya menyahutiku.

Saat kami sedang membicarakan anak baru itu, tiba-tiba seonsangnim datang. Tentu saja bersama anak baru itu.

“Anak-anak, hari ini kalian akan mempunyai teman baru. Dia pindahan dari Inggris” jelas saensongnim.

“Nah, sekarang silahkan perkenalkan diri kamu” ia mempersilahkan anak baru itu.

“Anneyonghaseyo .. Abelz Stewart imnida. Senang bertemu dengan kalian” katanya dengan bahasa Korea yang sangat lancar. Tentu saja aku kaget mendengarnya. Aku sama sekali tak menyangka.

“Yasudah, silahkan kamu duduk dengan Ki Bum” seonsangnim menyuruhnya duduk. Dan perkataannya itu lagi-lagi mengagetkanku. Duduk denganku? Yang benar saja. Masa’ aku duduk dengan bule’ itu. Sial sekali aku ini!

“Anneyong, apa kabar? Ucapnya ramah kepadaku setelah dengan sukses dia duduk di sampingku. Aku tidak memperdulikannya. Dan sepertinya ia kelihatan sedih karena perlakuanku. Masa bodo! Untuk apa aku memikirkannya.

***

“Ki Bum-ah .. Sepertinya kau sangat menyukai keputusan seonsangnim untuk duduk sebangku bersama bule’ itu. Hahaha ..” ucap Taemin mengejekku.

“Diam kau! Kalau saja waktu hari pertama masuk sekolah, aku tidak terlambat datang ke sekolah, pasti aku memiliki teman sebangku. Dan tentu saja aku tidak akan duduk dengan perempuan itu. Damn!” rutukku.

“Hahaha .. Nikmati saja Ki Bum” timpal Minho.

Aku semakin kesal dibuat mereka. Aku pun masuk ke kelas tanpa menghiraukan mereka lagi.

Di mejaku, ku lihat perempuan berambut pirang itu sedang membaca buku. Tanpa menghiraukannya, aku duduk saja di sampingnya, berpura-pura tidak peduli terhadap apa yang ia lakukan.

“Hai Ki Bum. Kau tak bermain-main di luar seperti teman-teman yang lain?” tanyanya padaku.

“Tidak. Aku mau belajar” jawabku jutek.

“Ya! Rajinnya kau. Aku semakin kagum padamu. Beruntungnya aku dapat duduk denganmu” katanya sambil tersenyum melihatku.

***

Bel masuk berbunyi. Hae Ra seonsangnim langsung datang menuju kelas kami dengan tepat waktu. Lalu saat sudah sampai di kelas, ia memberikan tugas kelompok pada kami.

“Anak-anak .. Kali ini seonsangnim akan memberi tugas pada kalian. Namun, ini bukanlah tugas yang dikerjakan sendiri-sendiri. Ini adalah tugas kelompok. Yang artinya tugas ini akan dikerjakan oleh kamu dan teman sebangku kamu. Mengerti anak-anak?”

“Mengerti .. “

“Ketua kelas, tolong kau bagikan kertas-kertas ini pada teman-temanmu”

“Baik, seonsangnim” jawab Minho, sang ketua kelas.

Sialnya aku. Aku harus mengerjakan tugas ini bersama dia. Orang yang sangat aku benci. Otomatis, setiap hari kami akan belajar bersama. Omo!

“Hei Ki Bum. Kau dengar itu? Mulai sore ini berarti kita akan belajar bersama. Oh iya, rumahmu dimana?”

“Biar aku saja yang ke rumahmu. Tulis alamatmu di sini” ucapku sambil menyodorkan selembar kertas kecil.

“Ini. Jam berapa kau akan datang, Ki Bum?” tanyanya sambil memberikan senyum padaku seperti biasa.

“Jam 3 tepat”

“Baiklah. Aku tunggu”

***

Sore itu aku benar-benar datang ke rumahnya. Kalau saja bukan karena tugas yang diberikan seinsangnim ini, malas sekali rasanya aku mendatangi rumah ini. Huh! Sialnya aku.

Ku ketuk pintu rumahnya. Lima detik kemudian, seseorang membukakan pintu. Sepertinya ia adalah oppa-nya perempuan itu. Tapi, dia terlihat sangat berbeda dengan bule’ itu. Wajahnya seperti orang Korea asli. Bukan orang Inggris sepertinya. Ah .. sudahlah. Ngapain juga aku memikirkan hal ini.

“Masuklah. Kau temannya Abelz kan?” tanya laki-laki itu.

“Ii.. iya”

“Silahkan duduk. Aku panggilkan dia dulu ya? Oh iya, kau  mau minum apa?”

“Apa aja deh hyung”

“Sebentar ya?”

“Baik” jawabku memberikan senyum yang sedikit terpaksa.

Beberapa saat kemudian, perempuan itu datang membawa tugas kami dan buku-buku lainnya. Dari belakang disusul oleh ajumma-nya membawakan dua gelas jus.

“Sudah lama kau datang?” tanyanya.

Tidak. Baru saja. Eng.. Aku boleh bertanya sesuatu?” tanyaku saat ajumma-nya itu kembali ke belakang.

“Silahkan”

“Yang ngebukain pintu tadi, siapanya kau?”

“Oh .. Onew oppa? Ya dia oppa-ku lah. Jadi siapa?”

“Kenapa wajah kalian sangat berbeda sekali?”

“Dia bukan oppa kandungku. Hanya saja, kami satu ayah. Ceritanya panjang”

“Boleh aku tau?”

“Hahaha .. Sejak kapan kau ingin tau tentangku? Bukannya selama ini kau sangat cuek padaku? Haha ..” dia tertawa karena pertanyaanku. Dia benar. Untuk apa aku ingin tau tentang hidupnya? Aku jadi salah tingkah.

“Baiklah. Akan aku ceritakan” lanjutnya.

“Appa dan umma-nya Onew oppa pindah ke Inggris lima tahun yang lalu. Karena Appa dipindahtugaskan ke sana. Waktu itu ummur Onew oppa sekitar  dua tahun. Umma-nya Onew oppa dan umma-ku bertetanggaan. Umma-nya oppa menganggap ummaku sudah seperti adiknya sendiri. Karena sikap umma sangatlah baik padanya, walaupun ia adalah warga Korea. Begitu pula sebaliknya. Umma-ku juga sudah menganggap bahwa umma-nya oppa seperti kakaknya. Suatu hari, umma-nya oppa terkena kanker, stadium empat. Dan tak dapat diselamatkan oleh dokter di rumah sakit itu. Sebelum meninggal, ia meminta appa untuk menikah dengan umma-ku yang asli warga negara Inggris. Dia ingin umma-ku yang merawat Onew oppa yang masih sangat kecil. Seminggu setelah umma-nya oppa meninggal, appa langsung menikah dengan umma-ku. Saat umurku lima tahun, kami pindah ke sini. Ya lumayan lama. Sampai aku kelas 2 SD. Makanya bahasa Korea-ku sangat lancar. Lalu kami pindah lagi ke Inggris. Cuma setahun. Karena umma rindu pada Inggris, negara tempat ia dilahirkan. Sampai akhirnya kami kembali lagi ke sini. Begitulah yang diceritakan oleh umma-ku” ceritanya panjang-lebar.

“Lalu kalau hyung adalah orang Korea asli, kenapa namanya seperti nama orang Inggris? Ia lahir di sini kan?”

“Oh .. Dulu namanya adalah Lee Jinki. Lalu waktu ia bersekolah di Inggris, ia sering diejek teman-temannya karena nama itu. Trus tiba-tiba dia ganti nama jadi Onew. Dan enggak pernah suka kalau dipanggil Lee Jinki”

“Oppa-mu sangat aneh. Haha ..”

“Sssttt .. Jangan keras-keras. Kalau oppa dengar, dia bisa marah padamu”

“Mianhae. Appa dan umma-mu mana?”

“Mereka lagi keluar kota. Dan di rumah ini hanya ada aku, oppa, dan Hwang ajumma. Dia yang mengurus kami selama tiga hari ini. Besok juga udah pulang”

“Oh .. “

“Kok jadi ngomong terus ya?”

“Mian. Gara-gara aku nanya-nanya nih. Ya udah, belajar yuk”

“Ok”

Aku sama sekali tidak menyangka. Sore ini, aku yang awalnya bersikap sangat dingin padanya, jadi lumer tiba-tiba setelah mendengar ceritanya. Kok aku ngerasa kalau dia tidak seperti yang aku pikirin selama ini. Dia tidak angkuh, tidak sombong, dan malah sangat ramah dan baik terhadapku. Walaupun aku selalu bersikap jutek padanya. Diam-diam aku kagum padanya. Ups …

***

Esok sorenya aku kembali ke rumah itu. Sepertinya orang tuanya sudah kembali. Karena ku lihat di depan sudah ada dua buah mobil. Tidak seperti kemarin. Aku pun mengetuk pintunya. Kali ini dia sendiri yang membukakan pintu untukku.

“Masuklah, Key. Appa dan ummaku ingin bertemu denganmu”

“Hah? Ada apa?”

“Jangan khawatir. Tak ada apa-apa. Mereka hanya ingin bertemu dengan teman sebangkuku”

“Baiklah”

Aku dibawa ke ruang tengah olehnya. Di sana sudah ada appa dan umma-nya. Umma-nya itu terlihat sangat anggun dan cantik. Sama seperti Abelz. Ups .. Lagi-lagi aku memujinya.

“Anneyong. Apa kabar?”

“Baik. Silahkan duduk, nak. Biar aku yang akan membuat minuman. Kalian mengobrol lah” ucap umma-nya yang sangat cantik itu. Ternyata ia lancar juga berbahasa Korea.

“Kamsahamnida”

“Abelz banyak cerita tentangmu. Katanya ia sangat senang mempunyai teman sepertimu. Kau ini sangat baik padanya. Kamsahamnida, nak” kata appa-nya yang terlihat sangat wise itu. Apa? Abelz mengatakan pada keluarganya kalau aku selalu bersikap baik padanya? Omo.. Apa maksudnya?

“Ah.. Tak apa. Dia juga sangat baik padaku” jawabku.

“Apa dia pernah merepotkanmu?”

“Tidak kok. Sama sekali tak pernah merepotkanku”

“Baguslah. Omong-omong namamu siapa?”

“Kim Ki Bum imnida”

“Oh .. Nama yang sangat bagus, Ki Bum. Appa-mu sangat pintar memilihkan nama itu untukmu”

“Gomawo”

Lalu datanglah umma-nya.

“Minumlah, Ki Bum”

“Mianhae. Aku merepotkan saja”

“Ah .. tidak juga kok, nak”

“Oh iya, kalian kan mau belajar. Ya sudah silahkan belajar. Appa dan umma mau ke supermarket sebentar”

“Baik, appa”

Setelah orang tuanya pergi, kami pun mengerjakan tugas kelompok kami. Di tengah-tengah keseriusan belajar, aku atau dia sesekali bercerita dan selalu diselingi dengan candaan. Begitulah yang kami lakukan selama seminggu itu, setelah selesai mengerjakan tugas. Karena tugas kelompok itu, aku jadi semakin dekat saja dengannya. Sesekali aku datang ke rumahnya untuk belajar bersama. Dan sesekali juga, ia datang ke rumahku. Kadang-kadang kami bermain berdua di taman. Di sekolah pun, kami sangat dekat. Ke kantin, ke perpustakaan, dan kemana aja selalu berdua. Ya, sekarang aku dan dia bersahabat =)

***

Suatu hari, saat kami sedang belajar bersama di rumahku, aku menanyakan sesuatu padanya.

“Bel-ah.. Kenapa kau sangat suka memanggilku Key? Namaku Ki Bum. Bukan Key”

“Tak apa. Lebih keren kalau aku memanggilmu ‘Key’.  Kalau dalam bahasa Inggris kan artinya kunci. Aku memanggilmu seperti itu karena kau lah yang membuatku selalu bersemangat. Kau kunci semangatku. Kau adalah sahabat terbaikku. Eits .. tapi itu adalah nama panggilan khusus dariku. Orang lain tak boleh memanggilmu dengan nama itu”

“Nama panggilan khusus? Eng.. Kalau begitu aku juga akan memberikanmu nama panggilan khusus. Kau memberiku nama dari bahasa negara asalmu. Dan aku juga akan memberimu nama dari bahasa negara asalku. Hemmp .. apa ya? Aha .. Bagaimana kalau Lee Ji Heun?”

“Jelek sekali namanya, Key-ah. Yang lain saja”

“Tak mau. Aku hanya memanggilmu dengan nama itu”

“Kenapa harus nama itu?”

“Ji Heun itu artinya baik. Kau ini kan selalu baik padaku. Biarkan saja aku memanggilmu dengan nama itu”

“Terserah kau sajalah”

Tbc..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

9 thoughts on “Friendship Be A Love – Part 1”

  1. bahasanya anak muda bgt ya.. hahahahaha

    udh punya panggilan khusus masing2 nih.. tinggal nunggu jadian aj lagi.. kkkkkkkkk

    lanjut

  2. thor, kayaknya ini kurang keterangan waktunya deh, jadi agak bingung hoho n_n
    tp bahasanya santai bgt jadi enak:)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s