Love And Sacrifice [1.2]

Title : Love and Sacrifice

Author : qL^^  (wp : mystorymyfictionworld)

Main Cast : Choi Minho, Choi Minri (OC), Lee Seojung (OC)

Suport Cast : Lee Donghae, Kim Jonghyun

Other Cast : Choi Family, Lee Family

Genre : Drama, Romance, Angst, Family

Type/Length : Two shot

Rating: T

Summary : “Berkorban untuk orang yang kaucintai? Sungguh konyol!”

“Kau tidak akan mengerti apa alasannya.”

“Kalau begitu, jelaskan supaya aku mengerti!”

“Cinta akan membuatmu melakukan apa pun untuknya.”

Recommended Backsound : Romeo and Julliete – SHINee

Love and Sacrifice

Part 1

Choi Minri POV.

Mungkin tidak semua orang mengenal Lee Seojung. Yeoja cantik berkulit putih pucat dengan rambut panjang cokelat kemerahan yang selalu tergerai. Dia pendiam, bicara hanya seperlunya dan gerak-geriknya selalu anggun. Lalu bagaimana aku mengenalnya? Mudah saja, aku sekelas dengannya.

Oh ya, perkenalkan, choneun Choi Minri imnida, bangeupseumnida. Aku mahasiswi tingkat 2, walaupun yaaah di usiaku ini seharusnya aku masih mahasiswi tingkat 1. Aku kuliah di Konkuk University dan satu jurusan dengan Lee Seojung. Tapi sebenarnya bukan hanya itu yang membuatku mengenalnya. Ini semua karena oppa-ku.

Aku punya kakak laki-laki, Choi Minho namanya. Dia mahasiswa tingkat 3 yang kuliah di Konkuk juga. Entah bagaimana caranya oppaku menyukai Lee Seojung dan selalu memperhatikannya. Itulah yang membuatku mengenal Lee Seojung.

Seperti sore biasanya, Audi milik Minho oppa sudah terparkir mulus di depan kampusku. Waktunya dia menjemputku sepulang kuliah.

“Tepat waktu sekali,” ujarku ketus sambil memasang seatbelt. “Jangan bilang kau men-stalking Lee Seojung lagi?” cecarku sinis. Jarak fakultas kami memang cukup jauh, kalau Minho oppa tepat waktu berarti dia memang sengaja mencuri waktu supaya bisa melihat Lee Seojung.

Minho oppa hanya nyengir sambil menstarter mobilnya, membelah jalanan Seoul yang ramai dengan orang-orang yang akan kembali ke rumah.

“Cish, kapan oppa akan berhenti?” aku menggerutu, sementara Minho oppa hanya tertawa.

Oppa kan tampan, kapten tim basket kampus. Apa susahnya mendekati yeoja seperti Lee Seojung?” tanyaku sarkastis. Oppaku itu memang terkenal di kampus kami, mengingatkanku pada awal aku masuk kuliah dimana semua sunbae wanita memberikanku hadiah dengan harapan bisa berkenalan dengan Minho oppa.

Ani. Aku ingin Seojung mengenalku sebagai Choi Minho, bukan kapten tim basket kampus,” jawab Minho oppa penuh keyakinan.

“Cish, mana ada yeoja seperti itu di dunia ini,” gerutuku.

Minho oppa tersenyum. “Kau tidak punya cukup pengetahuan untuk membahas masalah ini.”

* * *

Lee Seojung tidak masuk kuliah beberapa hari ini, membuat Minho oppa seperti orang kebakaran jenggot. Dan akibatnya aku menjadi salah satu sasaran pelampiasannya tentang Lee Seojung.

“Kau yakin tidak melihatnya di kampus?” tanya Minho oppa untuk yang ke sepuluh kalinya dalam seharian ini. Hari ini tepat seminggu Lee Seojung tidak masuk. Minho oppa khusus meneleponku hanya untuk menanyakan hal ini.

“Geez, aku sudah bilang oppa. Aku-tidak-melihatnya. Tutup teleponmu, sebentar lagi aku masuk kelas,” omelku sebagai jawaban. Aku bisa mendengar helaan nafas Minho oppa di seberang sana.

Arraseo. Kabari aku kalau kau menemukan kabar tentangnya, arrachi?” pinta Minho oppa. Suaranya terdengar sangat hopeless.

Ne~” aku menyetujui dan mematikan sambungan telepon kami. Ngomong-ngomong aku sendiri heran, bagaimana mungkin Lee Seojung yang sangat rajin itu absen kuliah. Aku memasukkan iPhoneku ke dalam kantong dan beranjak menuju kelas saat tanpa sengaja mendengar salah seorang siswi berbisik dengan temannya.

“Seojung belum pulih sampai sekarang, dia masih shock.”

Aku menoleh dan melihat Shin Jihyun dan Song Haneul berbisik – bisik. Dua yeoja itu memang sahabat dekat Lee Seojung.

Mwo? Dimana dia sekarang?”

Seoul International Hospital. Aku baru menjenguknya kemarin. Keadaannya masih sama saja,” aku melihat Haneul melenguh pelan setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.

Memutuskan untuk tidak menguping lebih lanjut, aku meninggalkan dua yeoja itu. Pikiranku menebak-nebak apa yang terjadi pada Lee Seojung. Separah apa sakitnya sampai membuatnya tidak masuk kuliah selama seminggu? Aku merogoh iPhoneku. Minho oppa harus tahu hal ini.

* * *

Aku sedikit menyesal sudah memberitahu Minho oppa mengenai keadaan Lee Seojung sekarang. Begitu jam kuliah terakhir selesai, Minho oppa melesat menjemputku dan tanpa ba-bi-bu memaksaku menemaninya menjenguk Lee Seojung di RS. Seperti biasa sepanjang perjalanan aku menggerutu sementara wajah Minho oppa berpilin-pilin cemas.

“Tenanglah oppa, aku justru takut kita yang akan kecelakaan kalau kau terburu-buru begini,” omelku padanya.

Ya! Bagaimana aku mau tenang? Yeojaku sedang sakit!!” balasnya tegang.

Aigoo~ orang yang kaupanggil yeojaku itu bahkan tidak menyadari eksistensimu,” ujarku miris.

Tapi Minho oppa tidak mendengarkan. Begitu kami sampai di RS, dia segera bertanya pada suster di lobby mengenai nomer kamar Lee Seojung.

“Maafkan kami, Tuan. Tapi keluarga Nona Seojung menolak memberikan informasi mengenai nomer kamarnya pada orang tak dikenal,” tolak suster itu.

“Tapi aku bukan orang tidak dikenal! Aku temannya dan mengenal Lee Seojung,” bantah Minho oppa.

“Maaf Tuan, tapi kami tidak bisa memberitahu anda,” tolak suster itu lagi.

Aku menarik lengan Minho oppa, sedikit malu dengan ulahnya yang bersikeras menemui Lee Seojung. “Oppa, ayo kita pulang saja,” bujukku.

Minho oppa menggeleng. “Aku harus bertemu dengannya dulu.”

Aku menepuk jidatku sendiri, jengkel dengan tingkah oppaku yang kekanak-kanakan. Tiba-tiba seseorang yang tidak kukenal menghampiri kami.

Chogiyo, kudengar kalian menyebut-nyebut nama Lee Seojung?” seorang namja berwajah ramah menyapa kami.

“Ooh, Tuan Lee. Annyeonghagiseyo,” suster itu menyapa namja yang tersenyum itu.

Nuguseyo?” tanya namja itu pada suster tadi sambil menunjuk kami.

“Oh, mereka bertanya nomer kamar Nona Seojung. Bersikeras bahwa mereka temannya,” jawab suster itu. Namja itu mengangguk paham, lalu menyapa kami.

Annyeonghaseyo,” sapanya sambil tersenyum.

Anyeonghaseyo,” balasku. “Aku Choi Minri dan ini oppaku, Choi Minho. Aku teman sekelasnya Seojung-ssi,” jelasku pada pria itu.

Dahi pria itu sedikit berkerut. “Choi Minho?” matanya menatap Minho oppa penuh selidik, namun sedetik kemudian senyumnya kembali mengembang. “Aku Lee Donghae, kakak Lee Seojung. Mari, akan aku antarkan ke kamar Seojung,” ajaknya.

Aku dan Minho oppa saling berpandangan dan mengikuti langkah Donghae-ssi. Kami tiba di depan kamar 407. Donghae-ssi mengambil nafas dalam sebelum membuka pintu.

“Aku peringatkan kalian agar tidak kaget ketika melihat Seojung. Dia menjadi sangat berbeda,” ujarnya dengan nada sedih, lalu membuka pintu ruang rawat itu.

Di atas ranjang putih rumah sakit, Lee Seojung terbaring terlelap. Di bawah matanya ada lingkaran hitam, rambut panjangnya acak-acaknya dan kulitnya yang pucat semakin terlihat pucat. Selang infus menancap di pergelangan tangannya menunjukkan betapa lemahnya dia sekarang. Aku menganga melihat kecantikan yeoja itu tertutupi dengan keadaannya yang tidak sehat sama sekali.

Aku melirik Minho oppa, memperhatikan bagaimana ekspresinya menyiratkan kepedihan yang amat sangat. Seolah-olah derita yeoja itu juga dialami olehnya. Aku tetap berdiri di dekat pintu sementara Minho oppa mendekati ranjang bersama Donghae-ssi.

Seojung tiba-tiba terbangun dan menjerit keras saat melihat Minho oppa. Dia menangis histeris, meneriakkan agar menjauh dan semacamnya pada Minho oppa. Donghae-ssi memeluknya untuk menenangkan, sementara Minho oppa ikut membantu. Yeoja itu menjerit dan meronta dalam pelukan Donghae-ssi, bergetar ketakutan seolah Minho oppa akan menyakitinya.

Aku menatap peristiwa itu dengan wajah ngeri. Yeoja itu … apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Aku melangkah keluar ruang rawat itu dan duduk di kursi tunggu di luar, memutuskan tidak melihat kejadian selanjutnya karena aku tidak suka melihat orang menangis dan ketakutan begitu. Beberapa menit kemudian, Donghae-ssi keluar ruang rawat.

“Dia sudah tenang dan Minho sedang menemaninya,” Donghae-ssi seolah-olah menjawab pertanyaan yang akan aku lemparkan. Aku mengangguk dan tidak menanggapi. Donghae-ssi duduk di sampingku, mengelap peluh di dahinya dengan sapu tangan. Aku melihat gurat kesedihan di balik wajah penuh senyumnya.

“Kenapa dia bisa begitu?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutku. Tsk, baboya!! Bagaimana mungkin aku bertanya pertanyaan pribadi seperti itu?

Aku menoleh untuk melihat ekspresi Donghae-ssi. Dia hanya tersenyum kecut.

“Aku tidak bisa melindungi sebagai seorang kakak,” jawab Donghae-ssi. Huh? Apa maksudnya? Tapi aku tidak berani bertanya lagi.

“Minho menyukai Seojung kan? Seojung sering bercerita tentangmu dan Minho,” celetuk Donghae-ssi.

Jinja? Aku pikir Seojung tidak pernah menyadarinya,” ujarku tak percaya.

Dongsaengku itu peka sekali dengan perasaan orang lain,” jawab Donghae-ssi sambil menerawang. Dan tepat saat itu Minho oppa muncul, lalu kami berdua pamit.

* * *

Aku dan Minho oppa hanya tinggal berdua di rumah kami yang besar dengan orang tua kami yang sibuk bekerja. Aku duduk di ruang keluarga sambil mengerjakan tugas. Sementara Minho oppa sedang memainkan Winning Eleven. Tapi anehnya, berkali-kali dia mencoba bermain game itu, skornya tidak pernah lebih tinggi dari yang sudah pernah dicapainya dan selalu game over di tengah permainan. Tapi aku tidak bertanya dan pura-pura tidak sadar, walaupun aku curiga ini ada hubungannya dengan Lee Seojung.

“Hei, Minri-ya,” panggil Minho oppa. Dia menyerah memainkan PS rupanya.

“Hmm,” jawabku sambil menggumam.

“Aku rasa aku akan segera menikah,” ujar Minho oppa pelan.

Mwo?” aku tersentak, meletakkan bolpen di atas buku dan berbalik untuk menatapnya. “Coba ulangi sekali lagi, oppa.”

“Aku rasa aku akan segera menikah,” ulangnya tanpa ragu. Baiklah, ternyata pendengaranku memang tidak bermasalah. Yang bermasalah adalah otak Minho oppa.

“Otakmu korslet ya, oppa? Memangnya oppa akan menikah dengan siapa?” tanyaku sinis.

“Tidak, oppa sama warasnya denganmu. Aku akan menikah dengan Lee Seojung,” jawab Minho oppa lagi-lagi dengan nada yakin.

Tsk, baru bicara untuk pertama kalinya saja, oppa sudah memutuskan untuk menikahinya. Apa oppa pernah berpikir bagaimana merawat orang sakit seperti itu?” cecarku lagi.

“Dia tidak sakit. Dia hanya …” ucapan Minho oppa menggantung.

“Hanya?”

“Ah, sudahlah, aku tidak boleh bilang padamu,” ujarnya sambil melempar stick PS dan merebahkan diri di sofa.

Aku mengangkat bahu. “Terserah, tapi apa eomma dan appa akan mengizinkan?”

“Ah, kau benar. Aku akan bicara dengan mereka nanti,” ujarnya lebih seperti bicara pada dirinya sendiri, sementara matanya mulai terpejam. Aku meneruskan mengerjakan tugas dengan pikiran dipenuhi apa yang sebenarnya menimpa Lee Seojung.

* * *

Aku memasuki ruang rawat Lee Seojung. Yeoja itu mendongak ketika melihatku masuk. Senyum kecil tersungging di wajahnya. Aku membalas senyumnya datar. Well, kami tidak sedekat itu kan?

“Kau mencariku?” tanyaku sambil duduk di kursi di samping ranjangnya.

Yeoja itu mengangguk. Aku memperhatikan bahwa dia terlihat jauh lebih baik daripada saat pertama kali aku datang bersama Minho oppa. Rambutnya disisir rapi dan dikepang, lingkaran hitam di bawah matanya telah memudar dan wajahnya lebih berwarna. Kutebak, Minho oppa memiliki peranan besar dalam kemajuan kesehatannya.

“Kau datang sendiri?” Seojung bertanya gugup. Dia menghindari kontak mata denganku dan lebih memilih menatap selang infus yang menancap di pergelangan tangannya.

O, Donghae-ssi yang menghubungiku untuk menemuimu tanpa mengajak Minho oppa,” jawabku.

Lee Seojung menghela nafas. “Kau benar, aku yang meminta Donghae oppa untuk menghubungimu,” komentarnya, lalu kembali terdiam. Dia menarik nafas dalam-dalam, kemudian menatapku pelan-pelan, seolah-olah aku bisa meledak kapan saja. “Aku ingin bicara soal Minho oppa,” katanya.

Aku mengangkat bahu. “Teruskan. Kau ingin bicara apa?”

“Kau tahu perasaannya padaku?” tanya Seojung takut-takut.

Aku menatapnya tak percaya. Pertanyaan itu tidak perlu jawaban, walau toh aku menjawabnya juga. “Tentu, lalu?”

“Kau tahu mengapa aku di rumah sakit sekarang?” tanya Seojung lagi.

Kali ini aku menggeleng.

“Aku tidak pantas untuk Minho oppa,” katanya mendadak seperti ingin menangis.

“Ya! Jangan bicara begitu, kau tahu lebih baik daripadaku. Minho oppa mencintaimu,” tekanku penuh emosi.

“Kalau begitu kau harus mendengar pengakuanku.” Dia menarik nafas dalam lagi. “Aku …” dia berhenti dan menarik nafas lagi. Mendadak suaranya mengecil dan wajahnya menjadi pucat. “Aku tidak suci lagi, Minri-ya,” ucapnya pelan dan jelas, namun merambat dan blur di telingaku.

Mwoya?” aku membelalak.

Seojung menelan ludahnya gugup. “Biar kuperjelas,” ulangnya lagi. “Aku korban pemerkosaan.”

Dan aku bagaikan tersambar petir di siang bolong.

*TBC*

A.N : Annyeeoong~ setelah ikut FF party, akhirnya aku memberanikan ngirim FF lagi, hehe. Masih ingatkah dengan aku? #sok-kenal #plaak

Well, FF ini random banget, keidean setelah membaca FF lain. Gak tau apakah konfliknya ngena, hehe. Semoga readers gak bingung yaaa.

Thanks buat admin yang udh publish dan readers yang udh mau baca. Semoga FF ini tidak mengecewakan kalian semua yaa. Tunggu kelanjutannya yaaa

Comments and likes are loved. Gomawoyo #bow

Regards, qL^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

30 thoughts on “Love And Sacrifice [1.2]”

  1. Seojung kasihan banget, kesuciannya udah direnggut. 😦
    Miris banget ni cewek, sampe teriak-teriak histeris gara-gara masih shock *jadi sedih* T.T
    Siapa yang ngelakuin itu ke Seojung? Orang luar kah?

    Minho baik amat, dia rela nikah sama cewek yang jelas2 udah ternodai, aku salut sama sifat dia disini 🙂

    FF ini bagus, seru, menarik, pokoknya aku suka!! 😀
    Part selanjutnya sangat aku tunggu. Semangat untuk auhor! 😉

    1. iyaa, paling susah nulis bagian yg itu, bingung deskripsinya. apalagi kan ini pure imagination -__-”
      ho oh, yg ngelakuin org luar kok, tenang tenang
      minho is hero, yaaay~ *bawa spanduk

      gomawo pujiannya.
      seneng #hug-mahitaa

  2. MINHO BENER2 CINTA YA SM SEOJUNG! *caps jebol* meski seojung begitu, dia mau nikahin T.T aku terharu……

    Ah seojung, kasian dirimu! Apa pemerkosanya jonghyun? *dipentuk blingers* abis baca castnya ada jjong sih o.O

    ayo chingu, lanjutkan 😀 aku penasaran ah …. minho bener2 hebat! Saluttt~

    1. WAH, KAMU TAU BANGET!! *caps jebol juga* abis dicurhatin sama Minho yaa? keke~. Itu dia sih inti ceritanya, haha *spoiler

      BUKAAAN *capsnya beneran jebol. haha, jjong emang nongol, tapi entar. gak ada hubungannya sm seojung kok *nah lho spoiler lagi

      van, Minho bilang makasih soalnya kamu udh dua kali muji dia dalam sekali komen, hehe.
      gomawo vania 😀 *bener kan? aku buka wp kamu tadi :p
      ditunggu next partnya yaa 😀

  3. bnr dugaanku.. seojung diperkosa T.T
    pntes hae blg gak bs jaga adiknya.. minho tiba2 mau nikahin seojung.. hiks hiks
    kasian seojung ..
    lnjutnnya dtnggu thor

  4. Shock! Udah ada perasaan gak enak sih… Pas seojung gak masuk kuliah. Dan…DOR!! Benerkan.

    Lanjut chingu! Eer~ aku inget lupa, lupa inget gitu sama kamu. Hehehe

    1. yuhuuu, tarik nafas dulu young geun-ah biar shocknya ilang.

      yaah, lupa yaa. wajar sih, wong ini baru FF kedua aku yg kukirim ke sini. mudah2an setelah ini akan selalu trkenang yaaa hehe
      gomawoyo 🙂
      tunggu selanjutnya yaa

  5. kayak pernah baca deh cerita yang kayak gini juga. Dimana tokoh cewek pendiem terus tiba2 menghilang, depresi dan ternyata korban pemerkosaan. Tapi aku baca castnya Key…
    tapi overall bagus koq lanjutannya ditunggu!

    1. huaaah, tapi aku gak copasted atau plagiat lhoo. ini murni hasil memeras otak dan keringat setelah menelaah karakter minho dan jjong, hehe
      thanks pujiannya. lanjutannya udh publish 🙂

    1. itulah kenapa judulnya ada kata sacrifice, keke
      kalau orang cintanya tulus, pasti dia gak akan tanggung2 untuk berkorban
      makasiih udh komeen 🙂

  6. huwaaaaa siapa yg tega melakukan itu !!! benar dugaan ku .. ckckckk
    aisssh minho ingin menikahinya ?? minho bener2 cinta … seojung kau beruntung di cintai org seperti minho ..
    minri apa kau akan merestuinya ??? huwaa .. mian baru komentar … good ff .. gomawo …

    1. tenaaang!!
      ne, minho emg cinta sama seojung, sedikitnya bs mengobati rasa luka seojung *eaaa
      minri? hmmm? next part akan menjawabnya *dibakar
      gomawo udh komeen 🙂

  7. Speechless author!! Beneran gak tau mau ngomen apa, aku lngsung lnjut ke part slnjutnya ya? 😀

    Nice ff authooor~ ^^

  8. hwaaaa….. Seojung… miris kali kau….!!!
    Minho, yg sabar… harus lapang dada….
    Kelak jika author mngizinkan kalian menikah…
    hiduplah dgn bhagia…
    Jgn lupa undang aku ma Jinki…
    Bucket bunganya jg lempar ke aku… biar
    Aku ma Jinki jg segera nyusul…
    (plakkk!!! ditampar author…)
    aku sgera k part 2 ya, thor…
    permisi…. (sambil elus2 pipi…)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s