The Future [1.2]

Title : The Future part 1

Author : Choi Minjin

Main Cast : Choi Minho, Choi Sooyoung

Support Cast : Kim Kibum, Choi Jinri

Length : two shots

Genre :romance, life.

Rating : PG-13

A.N: ff ini adalah lanjutan dari ffku juga yang judulnya Sesangeul Jom Barabwa. so, baca yang itu dulu sebelum yang ini yaaa…. happy reading..

Minho menghembuskan nafasnya ke udara, memandang takjub pada butiran-butiran salju yang tengah turun. Ia melangkahkan kakinya, menggenggam erat seikat bunga di tangannya.

Ia terkejut ketika didapatinya seorang gadis di pusara Jinki, sedang meletakkan bunga. Minho berdehem dan gadis itu menoleh.

Minho mengangguk singkat. Dibalas senyum simpul gadis cantik itu. Lalu ia duduk, meletakkan bunga dan memejamkan matanya sesaat, mengenang Jinki, sahabatnya yang telah setahun pergi.

Ketika ia membuka mata, ternyata gadis itu sedang memandanginya. Gadis itu segera berpaling dan tampak malu. Minho pura-pura tidak melihat dan sibuk memandangi nisan.

“Kau siapa?”

Minho mendongak, agak terkejut mendengar suara halus itu,”Aku teman Jinki. Namaku Minho.”

“Aku Sooyoung.”

Minho mengangguk-angguk,”Kau temannya?”

“Yah, bisa dibilang begitu.”

Minho tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia hanya memandangi nama Jinki yang terpahat di batu nisan.

“Apakah hari ini tepat setahun setelah kepergiannya?”

Minho mendongak lagi,”Bukan. Itu kira-kira dua minggu yang lalu. Aku sudah ke sini untuk berziarah. Kau tidak tahu?”

Sooyoung menggeleng lemah, raut wajahnya terlihat sedih,”Aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Aku.. datang hari ini karena.. karena ada sesuatu. Entah kenapa tetapi hari ini aku sangat ingin ke sini. Mungkin aku.. merindukannya.”ia mendongak, menatap Minho,”Kenapa kau ke sini hari ini?”

“Karena… hari ini tepat setahun lalu untuk pertama kalinya aku membuka mata dan menggunakan matanya untuk melihat.”

Sooyoung terlihat tidak mengerti,”Menggunakan matanya?”

Minho termenung sesaat,”Dulu aku sempat buta karena kecelakaan. Hampir lima tahun aku tidak bisa melihat. Dan akhirnya tepat setahun yang lalu, aku bisa melihat lagi berkat Jinki yang mendonorkan korneanya untukku.”

“Benarkah?”Sooyoung menatap mata Minho, membuat Minho agak jengah. Entah kenapa tiba-tiba Sooyoung menitikkan air mata. Minho terkejut, ia tampak bingung.

“Hei, kenapa kau menangis? Apa aku salah bicara?”

Sooyoung menggeleng, ia berusaha mengusap air matanya,”Ti, tidak. Aku hanya… agak teringat pada Jinki. Aku merasa sangat bodoh karena tidak tahu apa-apa tentangnya.”

“Kau ini siapanya sebetulnya? Kau tahu? Kau bisa katakan saja padaku.”

Sooyoung menghela nafas,”Dulu kami pernah saling menyayangi. Tapi kami berpisah tidak dengan baik-baik. Dan sekarang setelah dia pergi aku baru merasa sangat bersalah. Dulu aku pernah menyakiti perasaannya. Mau minta maaf pun bagaimana? Dia sudah pergi.”

Minho tersenyum menenangkan,”Kau jangan khawatir. Jinki pasti sudah memaafkanmu. Kau kenal dia kan? Walaupun tidak lama, kami pernah sangat dekat. Aku cukup tahu bagaimana dia. Dia adalah tipe orang yang sangat mudah memaafkan orang lain.”

Sooyoung mengangguk-angguk sedih,”Aku tahu. Tapi justru itulah yang membuatku semakin merasa bersalah. Kenapa dulu aku tega menyakiti orang sebaik dia?”

Minho terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

Sooyoung mengusap matanya,”Baiklah, aku harus pergi, Minho-ssi.”ia bangkit lalu tersenyum simpul sebelum beranjak pergi. Tetapi baru lima langkah, ia berhenti dan berpaling,”Sampai jumpa lagi.”

Minho mengangguk canggung.

Sooyoung melangkah lagi, tetapi kali ini Minho menghentikannya,”Tunggu sebentar.”

Sooyoung menoleh. Minho menghampirinya dengan senyum gugup,”A… Sooyoung-ssi, mungkin kau mau pergi ke suatu tempat denganku? Sebentar saja, besok.”

Sooyoung terlihat canggung,”Pergi denganmu? Kemana?”

“Ke suatu tempat yang indah. Tempat itu… sangat disukai Jinki.”

~~~~~

Sooyoung tidak mengerti. Apanya yang indah dari sebuah rumah sakit? Kenapa dia harus menunggu di depan rumah sakit?

“Sooyoung-ssi.”

Sooyoung menoleh. Dilihatnya Minho yang tersenyum lebar padanya,”Maaf, tadi agak macet. Kau menunggu lama?”

Sooyoung menggeleng pelan,”Belum lama kok. Ngomong-ngomong kita mau kemana?”

“Ah itu…”Minho menunjuk gedung rumah sakit di belakang mereka,”Kita harus masuk dulu untuk sampai ke sana.”

Walaupun masih tidak mengerti, Sooyoung patuh saja mengikuti Minho masuk ke rumah sakit. Lalu mereka menaiki lift sampai lantai teratas, menaiki beberapa anak tangga, hingga akhirnya tiba di depan sebuah pintu biru. Minho membukanya dan Sooyoung segera merasakan hembusan angin. Ternyata mereka ada di atap rumah sakit.

“Indah bukan?”

Sooyoung menenggak ludah dan mencoba menyadarkan dirinya dari keterkejutan. Ia tersenyum singkat pada Minho,”Iya, indah sekali.”

Salju sedang turun dengan intensitas sedang. Dari sini mereka dapat melihat dengan jelas pemandangan kota Seoul yang sibuk namun teratur. Gedung-gedung tinggi, bukit Namsan di kejauhan, hembusan angin segar, semuanya terlihat begitu indah. Jadi, inikah tempat yang disukai Jinki?

“Dulu kami biasa duduk di situ.”Minho menarik Sooyoung ke tepian, dimana pagar pengamannya sudah tidak ada. Minho membersihkan salju di situ lalu berkata,”Coba lihat ini, Jinki yang mengukirnya. Orang itu iseng sekali ya.”

Sooyoung melihat ukiran cakar ayam yang bertuliskan ‘Lee Jinki’ dan ‘Choi Minho’ yang ditunjuk Minho. Tanpa sadar ia tersenyum geli,”Benarkah?”

“Iya. Dan kami biasa duduk di sini.”Ia duduk dengan kaki menjulur ke bawah. Sooyoung memandangnya dengan ngeri, sekali-sekali ia melirik takut ke bawah, dimana terlihat lalu lintas jalan raya depan rumah sakit.

Minho tersenyum menenangkan,”Duduklah. Aku akan memegangimu. Duduklah di tempat Jinki.”ia menunjuk tulisan ‘Lee Jinki’. Sooyoung mengangguk lalu dengan hati-hati dan sebisa mungkin tidak melihat ke bawah, ia mencoba duduk. Minho memegangi tangannya erat, berjaga-jaga apabila Sooyoung tergelincir.

Akhirnya Sooyoung berhasil duduk. Ia menatap pemandangan di depannya dengan takjub,”Kau benar. Tempat ini indah sekali. Dan mendamaikan.”ia menoleh ke wajah Minho,”Benarkah ini tempat yang disukai Jinki?”

Minho tampak merenung,”Sebetulnya… akulah yang pertama menyukai tempat ini. Dulu sekali, pertama kali aku menemukan tempat ini adalah saat aku ingin bunuh diri. Aku ingin melompat ke bawah dan mati, mengakhiri segala kegelapan yang kualami. Tetapi untungnya, ada yang melihat dan mencegahku tepat pada waktunya.”

Sooyoung tampak terkejut, tetapi ia menahan komentarnya. Ia menunggu Minho melanjutkan,”Lalu aku berhenti mencoba bunuh diri. Karena adikku mengancam dia juga akan bunuh diri kalau aku melakukannya. Dan sejak saat itu… aku datang ke sini setiap hari untuk menyendiri. Waktu itu aku tidak bisa melihat apa-apa. Tetapi aku merasa damai di sini. Aku suka merasakan angin dan membayangkan bahwa di depanku itu ada pemandangan yang indah. Bahwa sebetulnya kegelapan itu hanya ada di mataku saja.”

Sooyoung merasa ada sesuatu yang menyumbat tenggorokkannya.

“Dan akhirnya, Jinki datang. Dia datang setiap hari dan mengganggu kesendirianku di sini. Dia menceramahiku tentang bagaimana beruntungnya aku yang hanya tidak bisa melihat, padahal ada begitu banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung. Dan saat-saat itu adalah saat yang paling kusyukuri seumur hidupku. Aku sangat bersyukur aku bertemu Jinki. Dialah yang memberi harapan padaku bahwa suatu saat aku akan bisa melihat lagi dan menyadarkan aku tentang berharganya kehidupan.”

Minho berhenti sejenak untuk menghela nafas,”Lalu dia datang setiap hari dan ‘meminjamkan’ matanya untukku. Dia menjelaskan apa yang dilihatnya padaku. Tidak kusangka akhirnya dia benar-benar memberikan korneanya padaku. Memberikan kehidupan baru untukku. Tetapi…”Minho menarik nafas panjang,”Dia bahkan tidak memberitahuku bahwa dia menderita kanker dan hanya punya harapan hidup yang kecil. Dia hanya memberikan kornea dan pergi begitu saja. Bahkan sebelum aku sempat tahu dan sempat berterima kasih padanya.”

Sooyoung tersenyum pedih, membuat Minho heran. Mereka diam selama beberapa saat. Hanya terdengar hembusan angin musim dingin yang membelai lembut kulit mereka. Salju mulai deras turun. Namun Minho dan Sooyoung nampaknya enggan beranjak.

“Dulu…”Sooyoung bersuara,”Dua tahun yang lalu, Jinki datang ke rumahku. Kupikir dia akan marah padaku karena aku melakukan sesuatu yang sangat tidak disukainya. Kelihatannya dia akan mengakhiri hubungan kami. Maka, sebelum dia sempat mengatakan apapun, akulah yang mengakhirinya. Kemudian, kau tahu apa yang dikatakannya?”

Minho tahu dia tidak perlu menjawab. Sooyoung sedang bicara pada hatinya sendiri.

“Dia bilang, dia datang untuk mengucapkan selamat tinggal. Dia akan pergi ke luar kota dan mungkin tidak akan bisa menemuiku lagi. Kupikir dia mengatakan itu karena marah padaku. Aku tidak tahu bahwa apa yang dikatakannya itu sungguh-sungguh. Ternyata waktu itu memanglah kali terakhir aku bertemu dengannya.”

Kali ini Sooyoung berhenti lama untuk mengendalikan emosinya.

“Sampai kira-kira setahun yang lalu aku menerima kabar kematiannya. Aku tidak dapat percaya. Benarkah ini kenyataan? Benarkah Jinki sudah pergi?”

Minho mengulurkan tangan, berusaha menyentuh tangan Sooyoung untuk dapat sedikit menenangkannya.

“Aku sangat merindukannya. Aku rindu senyumnya. Aku rindu kecerobohannya. Aku rindu matanya yang hanya segaris itu.”

Lalu Sooyoung menoleh, menatap dalam-dalam mata Minho,”Benarkah itu mata Jinki?”

Minho mengangguk. Sooyoung menampakkan senyum yang sulit diterka artinya,”Mata besarmu itu sangat berbeda dengan mata Jinki. Tapi entah kenapa… aku merasa aneh. Aku merasa seakan-akan Jinki sedang memandangku.”

Minho hanya dapat mengangguk.

Sunyi lagi.

Minho merasa ia kembali ke masa lalu, ketika ia duduk berdua di tempat ini bersama Jinki. Bedanya, ia sekarang dalam kondisi yang berbeda. Sekarang ia duduk di sini bersama seorang gadis yang berasal dari masa lalu Jinki. Entah mengapa waktu, kenangan dan takdir selalu berputar di sekeliling mereka seakan ada rantai yang membuat semuanya berhubungan.

~~~~~

Minho benar-benar merasa seperti kembali ke masa lalu.

Seperti dulu, ia duduk di tempat ini setiap hari. Bedanya, sekarang ia duduk bersama Sooyoung. Sooyoung tampaknya sangat menikmati setiap menit yang dihabiskannya dengan menikmati angin, memandang indahnya kota Seoul dan merasakan butiran salju. Meski suhu udara semakin dingin saja setiap harinya, tetapi Sooyoung dengan keras kepala akan kembali lagi ke sini. Dan Minho tanpa diminta akan duduk di sebelahnya, berusaha menjadi teman dalam kesedihannya.

Minho merasakan sesuatu di hatinya. Sooyoung adalah gadis pertama yang menarik hatinya setelah sekian lama dirundung kegelapan. Tetapi sayangnya, Sooyoung adalah gadis dari masa lalu Jinki. Dan Minho tahu dengan pasti, Sooyoung masih sangat mencintai Jinki.

Lalu apa yang harus dilakukannya? Mencintai Sooyoung diam-diam? Dosakah ia bila ia mencintai gadis yang dicintai sahabatnya yang sudah mati?

Minho memandangi nafas putih Sooyoung yang duduk diam di sampingnya. Apa kiranya yang ada di pikiran gadis itu? Jinki?

“Apa sebenarnya yang kaupikirkan berhari-hari ini? Masa lalu?”

Sooyoung menoleh pelan dengan kedua alis saling bertaut,”Kenapa kau ingin tahu?”

“Bukan apa-apa.”Minho memandangnya dengan senyum yang aneh,”Kau tahu, masa lalu tidak akan berubah, tidak peduli apapun yang kita lakukan. Menyesali masa lalu adalah sesuatu yang sia-sia. Karena itulah sebelum melakukan sesuatu kita harus benar-benar memikirkannya.”

Sooyoung tidak berkata apa-apa.

“Bukankah lebih baik jika kau memikirkan apa yang akan kau lakukan di masa mendatang?”

Sunyi sesaat. Sooyoung hanya menghela nafas panjang,”Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Minho?”

“Tidak ada. Hanya mengingatkanmu saja.”Minho tersenyum. Senyum itu merasuk sebegitu rupa ke dalam hati Sooyoung di tengah dinginnya udara awal Januari.

~~~~~

“Mau kuantar pulang?”

Sooyoung tampak bimbang beberapa saat,”Tidak perlu. Aku bisa naik bus saja.”

“Tapi cuaca sedang buruk. Tidak apa-apa, biar kuantar. Kau tinggal di rumah temanmu kan? Dimana?”

“Di..”

Pembicaraan mereka terputus ketika pintu lift terbuka. Seseorang berdiri di depan mereka. Seseorang bermata tajam dengan wajah yang tampak bosan.

“Dokter Kibum!”

“Minho?”

“Apa kabar?”

“Biasa saja. Hei, apa ini hanya perasaanku saja atau kau terlihat berbeda? Kau tampak segar dan rambutmu lebih pendek dibanding terakhir kali kita bertemu. Sudah berapa lama ya?”

“Beberapa bulan? Seingatku tiga atau empat bulan lalu aku mengantar Jinri memeriksa kakinya di sini dan bertemu denganmu.”

“Ah benar juga. Bagaimana kabarnya Jinri? Dia sudah kuliah ya.”

“Dia baik. Kakinya seratus persen sudah pulih. Bagaimana pekerjaanmu?”

“Biasa saja. Ngomong-ngomong itu siapa?”

Kibum memandang Sooyoung, tampak seperti sedang mengingat-ingat. Sooyoung terlihat kaget melihat Kibum. Mereka saling pandang selama beberapa saat dengan mata membelalak.

“Sooyoung?”

Sooyoung menenggak ludah,”Oh, Kibum.”

Minho memandang mereka bergantian,”Kalian saling kenal? Oh, benar juga. Kalian pasti teman SMA kan? Kalian sama-sama teman Jinki.”

Tidak ada yang menjawab. Kibum dan Sooyoung masih terpaku di tempat masing-masing. Minho memandang mereka berdua bergantian, bingung.

“Ada apa sih?”

Sooyoung merapikan rambutnya dengan gugup,”Minho, aku pulang dulu.”lalu ia berlari meninggalkan Minho dan Kibum berdua di depan lift.

“Hei, tunggu!”Minho hendak mengejarnya tetapi Kibum menahan lengannya.

“Minho, bagaimana kau mengenalnya?”

“Memangnya kenapa?”Minho berusaha melepaskan tangannya. Ia memandang Kibum dengan dahi mengernyit heran.

“Jawab saja! Bagaimana?”

Minho terdiam sebentar,”Sekitar dua minggu lalu bertemu dia di makam Jinki.”

“Benarkah?”

Minho mengangguk, sekali lagi heran melihat Kibum yang bereaksi aneh,”Memang kenapa sih?”

“Kau tahu siapa dia?”

“Ng… mantannya Jinki?”

“Iya. Dan?”

“Dan?”

“Kau tidak tahu?”Kibum menarik Minho duduk di sebuah bangku panjang. Tampaknya ia sudah lupa pekerjaan yang harus dilakukannya. Diletakkannya beberapa map yang sejak tadi dipegangnya,”Kau mau tahu siapa sebenarnya dia?”

“Memangnya siapa dia?”

Kibum menghela nafas,”Haruskah kukatakan ini?”ia tampak ragu sesaat, kemudian berkata,”Dulu, Jinki dan Sooyoung pernah pacaran selama… berapa lama ya? Tiga? Atau empat tahun? Pokoknya cukup lama. Tetapi Jinki tidak pernah benar-benar mengenalnya. Dan Sooyoung ternyata… tanpa sepengetahuannya… adalah pecandu narkoba.”

“HAH?”mata besar Minho membelalak selebar-lebarnya.

“Yah, itulah penyebab perpisahan mereka. Jinki akhirnya tahu. Hari itu, kira-kira dua tahun yang lalu, dia datang pada Sooyoung. Dia sangat mencintai gadis itu sehingga meski tahu penyakitnya parah dan dia tidak akan hidup terlalu lama, dia ingin berkata bahwa ia akan membantu Sooyoung sampai gadis itu benar-benar terbebas dari narkoba. Tetapi Sooyoung justru berkata ia ingin berpisah dan bahkan mengusirnya pergi. Saat itulah Jinki benar-benar sedih. Dia memutuskan untuk menuruti nasihat orang tuanya, pindah ke Seoul dan menjalani pengobatan. Maka saat itu ia mengucapkan selamat tinggal.”

Minho teringat cerita Sooyoung yang didengarnya di atap beberapa hari yang lalu.

“Sekarang… aku tidak tahu dia sudah sembuh dari ketergantungan atau belum. Tapi sebaiknya kau jangan dekati dia, Minho. Dia tidak baik untukmu.”

Minho hanya diam, memikirkan apa yang baru saja didengarnya.

“Minho-ya?”

Minho berdiri,”Dokter Kibum, aku pergi dulu. Sebaiknya kau lanjutkan pekerjaanmu.”lalu ia pergi meninggalkan Kibum yang masih terduduk di kursi.

~~~~~

To be continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

15 thoughts on “The Future [1.2]”

  1. Seru banget…. Aku suka!!! 😀
    Walau aku belum pernah baca ff yang sebelumnya, tapi aku udah tersihir sama ff yang satu ini. Daebak! ^^b

    Ditunggu kelanjutannya. Setelah ini aku akan segera baca ff author yang Sesangeul Jom Barabwa. Kayaknya keren^^

    Sekali lagi, ff ini bagus dan enak dibaca!
    Semoga lanjutannya gak lama-lama 😀

  2. Arrghh -….-” kenapa TBC? Hehe canda unn! Well, aku seneng gila nemu ff MinSoo kekeke.
    Tp ternyata soo pecandu? Hmm, pilihan yg merusak kehidupan!
    Btw, itu si kibum rada2 kocak ya? Hohoho xD
    tak bisa berkata-kata, mau pidato tp keabisan ide (?) jadi aku mengatakan DAEBAK! 😀 semangat unn!

  3. Buka e-mail dan ada ff dari Minjin eonnie.
    Langsung berhenti utk sesaat dri hiatus.
    Hehehe (padahal lagi ujian-_-“)
    Minho jadi suka sama Sooyoung, tpi Sooyoung suka gak yah sama Minho?
    Wah, sedikit kaget pas bagian Kibum blng kalo Sooyoung itu pecandu narkoba.
    Bnr2 penasaran sama kelanjutannya.
    Seperti biasa, ff minjin eonnie emng daebak. No doubt about it. 🙂
    Minjin eonnie Jjang! 😀
    (hiatus lagi) hehehe

  4. aaaa baru aja baca sesangul jom barabwa! Aaa mewek-mewek,dan ini gadis masa lalu jinki muncul?
    Aku penasaran deh sama kibum tuh jadinya,
    *loh

  5. kibum jwbnya biasa saja mulu..aahh key gak punya gairah hidup (?)
    mlm2 komen mlh ngaco.. kkkkk

    wooo… pecandu… pntes td agak ngeh sm prktaan sooyoung yg blg jinki gak suka dgn apa yg sooyoung lakuin… awalnya mkir selingkuh.. tp rasanya aneh… trnyata…

    ditunggu part 2nya

  6. Aaaaa, lagi-lagi tersentuh dengan FF Minjin! Apalagi ini lanjutan dari Sesangul Jom Barabwa.

    Sooyoung cukup mengerikan. Tapi sepertinya Minho enggan menjauhi Sooyoung sesuai saran Kibum.

    Nice story. Lanjut!

  7. huwaaa lanjutannyaaa…. aku suka .. akhirnya ada ff ini …
    soo pecandu ???
    jinki mau menyembuhkannya… itu juga yg bakal di lakukan minho bukan ? minho ingin membantu jinki menyelesaikan misinya … ^^
    ayo..ayo lanjutannya …
    good ff thor… aku suka …
    oh iya jinri tinggal sma minho sekarang ???

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s