Bad Boy Sitter – Part 15

Bad Boy Sitter – Part 15

Author : Firdha

Main Cast : Park Jiyeon, Lee Taemin, Lee Jinki (Onew), Choi Minho, Park Yeorin, Yoo Seung Ho

Support Cast: Other SHINee member, Cho In Su, etc.

Length: Sequel

Genre : Romance, Friendship, Family

Rating : PG-13

***

Jiyeon bergeming di tempatnya, bingung harus melakukan apa. Masih dalam keterkejutannya, ia edarkan pandangannya ke meja yang berada tepat di hadapan Taemin, matanya pun kembali membelalak saat ia melihat dua botol yang ia yakini adalah botol soju berada di atasnya. Satu botol sudah tidak berisi, sedangkan yang satunya lagi telah habis seperempatnya.

Karena tidak mau ikut campur terlalu jauh dengan masalah keluarga Lee, akhirnya Jiyeon membalikkan badannya, bermaksud untuk keluar.

“Ya!”

Belum sampai dua langkah, lagi-lagi Jiyeon harus kembali menghentikannya saat mendengar seruan Taemin. Ia bergeming di tempatnya berdiri, mencoba menunggu kata-kata selanjutnya untuk memastikan bahwa seruan itu memang ditujukan padanya atau bukan.

“Ya! Sedang apa kau, Jiyeon-ssi?”

Dan ya… ternyata seruan tadi memang ditujukan untuknya. Tubuh Jiyeon pun semakin menegang saat mendengar suara berat dan serak milik Taemin itu.

Jiyeon membalikkan badannya perlahan yang langsung disambut oleh tatapan sayu sekaligus tajam dari Taemin. “Eung… aku hanya…”

“Lebih baik kau keluar,” ucapnya seraya kembali menuangkan soju ke gelas.

Jiyeon meringis, lalu bergumam kecil. “Dari tadi juga aku memang ingin keluar.”

Jiyeon segera melangkahkan kakinya menuju pintu, namun saat baru akan menyentuh kenop pintu, gerakannya kembali terhenti saat ia mengingat sesuatu. “Sungguh, aku benar-benar benci pekerjaan ini.” ucapnya jengkel dengan penekanan di setiap katanya.

Dengan hati dongkol, Jiyeon kembali melangkahkan kakinya ke dalam. Dengan nekat ia berjalan mendekati Taemin, lalu merampas gelas kecil berisi soju yang baru saja akan diminum oleh namja berwajah cantik itu.

Taemin menatap tangannya yang tadi memegang gelas dengan kening berkerut, lalu mengalihkan tatapannya ke arah Jiyeon. “Kembalikan gelas itu!”

Jiyeon menggelang mantap. “Shireo!”

Taemin tertawa remeh. “Kau mau bermain-main denganku?”

Jiyeon mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Ne?”

Secara tiba-tiba, Taemin bangkit dari duduknya, lalu menatap Jiyeon yang terkejut. Ia berjalan mendekati Jiyeon, lalu mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon.

“Su-sunbae… kau… mau apa?” tanya Jiyeon tergagap.

Selama  2 detik mereka hanya saling menatap. Karena takut, Jiyeon pun langsung memejamkan matanya saat Taemin mulai mendekatkan wajahnya. Refleks, tangannya langsung menutupi wajahnya dengan rapi, bermaksud menghindari hal terburuk yang dapat terjadi. Selama beberapa saat ia menunggu, namun tak terjadi apapun. Dengan hati-hati Jiyeon membuka matanya dan menurunkan tangannya perlahan. Ia terbelalak kaget saat mendapati Taemin telah tergeletak di lantai dengan mata tertutup.

“Omo! Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?” ucap Jiyeon cemas.

Dengan ragu dan hati-hati, Jiyeon berjongkok dan meraih tangan Taemin. Lalu ia membantu Taemin—ternyata ia masih setengah sadar—berdiri. Dengan susah payah dan sekuat tenaga ia memapah dan membantu Taemin berjalan menuju tempat tidurnya. Setelah sampai, Jiyeon segera menghempaskan Taemin ke tempat tidurnya.

“Hhh… jincha! Ternyata ia lumayan berat. Aigooo…” gumamnya seraya mengatur napas. “Sekarang apa lagi? Err… botol soju itu, ya, soju itu. Benar-benar menyusahkan.”

Dengan enggan Jiyeon terpaksa berjalan menuju meja lagi. Karena ia membenci bau alkohol, ia pun membereskan meja hanya dengan satu tangan, sementara tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menutup hidungnya.

“Arrrggghhh… sialan!”

Racauan yang ternyata berasal dari Taemin itu berhasil membuat Jiyeon menghentikan kegiatannya memasukkan botol soju ke dalam plastik. Ia langsung menoleh cepat dengan sebelah alis terangkat.

“Dia bukan ibuku, aku tidak butuh wanita itu,” ucap Taemin seraya tertawa miris. “Dan aku tidak sudi memiliki dongsaeng dari dia dan laki-laki itu. B*stard! Cih!”

Mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Taemin, Jiyeon refleks membekap mulutnya. Ia benar-benar terkejut mendengar semua itu.

A.mi.go! Keunyeol boda naega michyeo… A.mi.go! Iri sone an jabhyeo… A.mi.go!.. Yonggi nae naneun pitch up! Eoddeokhae eoddeokhae…

Belum juga pulih dari keterkejutannya, lagi-lagi Jiyeon menerima kejutan yang ternyata berasal dari ponsel Taemin. Entahlah ia memiliki berapa ponsel, tapi yang pasti Jiyeon benar-benar dibuat kesal karena ponsel tersebut berdering disaat yang sangat tepat dan hampir saja ia banting jika saja ia tidak ingat bahwa itu adalah milik Taemin, Lee Taemin! Dan kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi padamu jika kau berani mencari masalah dengan seorang namja itu.

Terlihat nama ‘Hell’ menari-nari di layar. Jiyeon mengernyit heran, “Panggilan dari neraka?”

Untuk beberapa saat Jiyeon hanya menatap bingung ponsel yang berada di genggaman tangan kirinya itu. Otaknya sibuk berpikir apakah ia harus mengangkatnya atau tidak. Ia tidak mau mencampuri urusan pribadi Taemin, namun di sisi lain ia takut jika ternyata itu adalah panggilan penting—entahlah dari mana Jiyeon mendapat gagasan bahwa panggilan itu penting padahal jelas-jelas nama penelepon itu tidak penting. Lalu setelah beberapa detik berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk mengangkatnya.

“Yo-yoboseyo,” ucap Jiyeon ragu.

Selama beberapa saat tidak ada suara dari seberang. Lalu, “Ini… nomor tuan muda Taemin, kan?”

“Ya, benar.”

“Kalau boleh tahu, anda siapa? Kenapa ponsel tuan muda Taemin bisa ada pada anda? Memangnya sekarang di mana tuan muda Taemin?”

Jiyeon menghela napas mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari si penelepon itu, lalu ia menjawab, “Saya adalah salah satu pekerja di rumah ini. Saya bisa mengangkat panggilan karena kebetulan saya sedang membereskan kamarnya, dan tuan muda Taemin sendiri baru saja meminum satu botol soju dan saat ini sedang tidur.”

“Pekerja? Dari suara anda… sepertinya anda masih berusia belasan  tahun. Anda bekerja sebagai apa?”

DEG

Mendengar penuturan penelepon itu, refleks, Jiyeon memukul keningnya. Pabo! Kenapa tidak terpikir? rutuk Jiyeon dalam hati.

“Eung… itu… ya! Kenapa jadi membicarakanku? Sebenarnya anda ini mau apa menelepon? Jika tidak penting aku akan menutupnya,” ancam Jiyeon berusaha mengelak.

“Ah, ya. Mohon maaf, saya jadi lupa dan terlalu banyak bertanya. Tujuan saya menelepon hanya ingin memberitahukan bahwa Tuan Besar Lee sekarang sedang mengamuk lagi,” jawab penelepon itu yang lagi-lagi membuat Jiyeon terkejut sekaligus bingung.

“Tuan Besar Lee me… ngamuk? Maksud anda Tuan Lee… ayah dari tuan Taemin?” tanya Jiyeon memastikan.

“Ya, Tuan Lee, ayah dari tuan muda Taemin mengamuk. Tolong sampaikan pada tuan Taemin agar segera ke sini. Kami benar-benar tidak bisa mengontrol Tuan Lee,” sahut penelepon itu agak tergesa.

Alis Jiyeon bertaut bingung. “Ke sini ke mana?”

“Ke sini, ke Rumah Sakit,”

“Rumah Sakit apa?”

“Rumah Sakit Jiwa ____”

“Mwo? Rumah sakit… jiwa?”

“Ne. Mohon maaf, saya ada urusan lain. Sekali lagi, tolong sampikan pada tuan muda Taemin agar cepat datang. Terima kasih.”

Dan sambungan pun terputus.

Selama beberapa saat Jiyeon kembali terdiam, berusaha mencerna semua yang baru saja didengarnya tadi. Lalu ia  mengerjapkan matanya dan tersadar dari lamunannya.

“Eotteokhae? Tuan Lee mengamuk, Taemin sunbae belum sepenuhnya sadar, dan aku pun tidak tahu di mana rumah sak…” jeda sejenak saat Jiyeon mengingat sesuatu. Lalu, “Anniyo, aku tahu. Rumah sakit jiwa itu… ah! Kangho ahjussi, ya, ia pasti bisa membantuku.”

***

“Ahjussi!” seru Jiyeon saat dilihatnya Sopir Kang sedang mengobrol dengan seorang namja yang sepertinya sebaya dengannya.

Sopir Kang menoleh. “Agassi? Ada apa?”

Jiyeon menghentikan langkahnya dan mengatur napas sejenak. “Aku ingin minta tolong.”

“Minta tolong apa?” tanya Sopir Kang.

“Tuan besar Lee… beliau… mengamuk,” jawab Jiyeon ragu dan pelan.

Mendengar jawaban Jiyeon, air muka Sopir Kang seketika berubah. Ekspresinya terlihat terkejut dan tegang. “A-agassi… Agassi sudah ta…”

“Tidak ada waktu lagi, suster itu bilang kita harus cepat-cepat. Antar aku ke rumah sakit, ya, Ahjussi,” sela Jiyeon tergesa-gesa. “Ayo, ahjussi!”

“A-ah, ne.”

Sopir Kang segera mengambil kunci mobil yang ada di saku celananya, lalu menonaktifkan pengamanan. Dan mereka pun langsung beranjak menuju rumah sakit.

***

Sesampainya di rumah sakit, karena sangat khawatir, Jiyeon langsung membuka pintu dan berlari keluar. Namun ia langsung menghentikan langkahnya saat sadar kalau ia tidak tahu apa-apa, lalu berbalik menghampiri Sopir Kang.

“Kangho ahjussi, ahjussi tahu kan… di mana Tuan Besar Lee dirawat?” tanya Jiyeon hati-hati.

Sopir Kang terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk kecil dan berjalan cepat mendahului Jiyeon setelah ia memberi isyarat pada Jiyeon untuk mengikutinya.

Mereka berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit yang menurut Jiyeon agak menyeramkan. Bagaimana tidak? Rumah sakit yang sedang mereka datangi itu memiliki halaman yang cukup luas, dan mereka menelusuri koridor di malam hari. Tentu kalian tahu apa yang membuatnya takut, kan? Ya, gelap, halaman luas rumah sakit itu terlihat gelap yang sudah pasti memacu jantung Jiyeon berdetak lebih cepat. Karena takut, Jiyeon pun langsung mengejar Sopir Kang dan menggemit tangannya.

Sopir Kang yang merasakan gamitan Jiyeon langsung menghentikan langkahnya, lalu ia menatap gadis itu dengan tatapan bertanya.

“Le-lebih baik jika berjalan bersama, oke?” ucap Jiyeon seraya menyunggingkan senyum terpaksa.

Tanpa berkata apa-apa, Sopir Kang langsung melanjutkan langkahnya, namun kali ini sedikit lebih lambat untuk mengimbangi langkah Jiyeon.

Setelah beberapa saat menyusuri koridor, akhirnya mereka bertemu dengan dua orang resepsionis.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya salah seorang resepsionis ramah.

“Di mana tuan besar Lee sekarang?” jawab Sopir Kang langsung.

“Ah! Tuan besar Lee? Tapi tuan Taemin… tidak datang?” tanya resepsionis itu lagi seraya melirik melewati bahu Sopir Kang dan Jiyeon.

“Tuan Taemin sedang tidak bisa ke sini,”

“Oh, baiklah. Kalau begitu silakan ikuti saya,”

Setelah berpesan pada temannya, resepsionis itu segera mengantarkan Sopir Kang dan Jiyeon ke tempat di mana tuan besar Lee derawat.

“PERGIIIII!!!”

Langkah mereka semua terhenti saat mendengar teriakan keras seseorang. Lalu tidak berapa lama kemudian keluar seorang namja dari sebuah ruangan yang berjarak kira-kira 4 meter di depan mereka. Namja itu terlihat membawa nampan dengan wajah ketakutan.

“Yang berteriak tadi adalah tuan besar Lee, beliau… mengamuk lagi,” ujar resepsionis tadi dengan ekspresi menyesal. “Kami sudah berusaha menenangkan beliau, tapi beliau tetap tidak mau tenang sehingga kami tidak bisa menyuntikkan obat penenang, beliau terus saja berteriak dan mencoba untuk keluar dengan menggedor-gedor pintu.”

Sopir Kang menghela napas berat. “Lalu bagaimana cara mengatasinya?”

“Kami tidak tahu. Karena itulah kami memanggil tuan Taemin ke sini, biasanya tuan besar Lee akan tenang jika tuan Taemin datang,”

“Memangnya kemana dokter yang biasa merawat tuan besar Lee?” tanya Sopir Kang lagi yang kini dengan nada sedikit meninggi.

“Beliau sedang diobati karena pergelangan tangannya terluka saat berusaha menghindari serangan dari tuan besar Lee,” tutur Si Resepsionis yang langsung membuat mata Sopir Kang melebar.

“Maksudmu… tuan besar Lee memegang… pisau?”

“Ne… matseumnida,”

“Bagaimana bisa? Di mana dokternya? Saya ingin bicara,”

“Baiklah, mari ikuti saya,”

Sopir Kang melepas gamitan tangan Jiyeon secara halus. “Agassi, Agassi tunggu di sini. Saya akan pergi sebentar.”

“Shireo. Aku ikut,” tolak Jiyeon cepat.

“Jweisonghamnida Agassi, ada sedikit masalah pribadi. Saya mohon Agassi mau mengerti,” mohon Sopir Kang.

Jiyeon berpikir sejenak, lalu mengangguk ragu. “Baiklah, tapi jangan lama-lama, ya, ahjussi.”

“Ne, saya hanya sebentar. Baiklah, saya tinggal dulu,” kata Sopir Kang sopan, lalu ia pun pergi meninggalkan Jiyeon mengikuti resepsionis.

***

Taemin mengucek matanya yang masih terasa lengket dan sulit terbuka, lalu mengerjap-ngerjapkannya. Setelah bisa melihat dengan lumayan jelas, ia langsung mendudukkan tubuhnya, namun ia langsung meringis saat dirasakannya kepalanya sedikit pusing. Dengan susah payah ia berusaha berdiri, lalu berjalan gontai ke kamar mandi.

Taemin menyalakan keran wastafelnya, lalu mencuci mukanya beberapa kali. Setelah merasa lumayan segar, ia beranjak keluar kembali, lalu mengecek ponselnya yang tergeletak di nakas samping tempat tidurnya.

“Pukul 2… dan tiga missed call dari Yong baksanim?” gumamnya dengan nada malas, lalu menyentuh pilihan voice call di layar ponselnya. “Yoboseyo? Ada apa baksanim menghubungiku? Mwo? Mengamuk? Anniyo, aku tidak tahu… yeoja? Geurae, aku akan segera ke sana.”

Setelah menutup sambungan, Taemin langsung menyambar jaket hitamnya dan mengambil kunci motornya. Setelah itu ia membuka pintu dan keluar dengan tergesa. Saat sampai di bawah dan berpapasan dengan salah satu sopir keluarga Lee, ia langsung menghampirinya.

“Apakah tadi Jiyeon pergi?” tanya Taemin langsung.

Sopir itu terdiam sejenak karena terkejut sebelum akhirnya menjawab, “Ne.”

“Dengan siapa dan ke mana?”

“Dia pergi dengan Sopir Kang. Saya tidak tahu jelas mereka mau pergi ke mana, tapi saya sempat mendengar mereka menyebut-nyebut rumah sakit,”

Mendengar penuturan sopir itu, Taemin mendesah kesal. “SHIT!

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung berlari keluar menghampiri motornya dan melesat dengan sangat cepat.

***

Sopir Kang terlihat sangat serius berbicara dengan Yong baksanim, dokter yang merawat tuan besar Lee. Setelah selesai bicara, mereka pun segera keluar dengan masih sambil berbicara satu sama lain.

“Mwo?”

Pekikan seseorang berhasil membuat Sopir Kang dan Yong baksanim menoleh.

“Bagaimana kau bisa lupa? Kau benar-benar ceroboh. Sekarang…”

“Ada apa ini?” tanya Yong baksanim menyela pembicaraan antara dua orang namja itu.

“I-itu baksanim… ada… sedikit masalah,” jawab salah seorang namja tergagap dan takut-takut.

“Masalah apa?” tanya Yong baksanim lagi.

“Itu… saya… lupa mengunci pintu kamar tuan besar Lee,”

Mendengar jawaban namja itu, sontak Sopir Kang dan Yong baksanim terbelalak kaget. “Apa? Kau…”

“Jiyeon Agassi,” gumam Sopir Kang pelan. “Kita harus cepat ke sana.”

“Ne. Kajja palli!”

***

Jiyeon menggosok-sokkan kedua telapak tangan saraya meniup-niupkannya untuk yang kesekian kali. Udara malam yang dingin ditambah hembusan angin dan ia yang hanya sempat memakai sweater yang tidak terlalu tebal rupanya sukses membuatnya bergidik, belum lagi suasana rumah sakit yang lumayan gelap benar-benar membuat jantungnya berpacu lebih cepat.

“Sebenarnya mereka sedang apa, sih? Kenapa lama sekali,” ucapnya seraya melirik koridor yang dilalui oleh Sopir Kang dan resepsionis tadi.

CEKLEK

Jiyeon sontak menoleh saat didengarnya suara kenop pintu yang diputar. Ia edarkan pandangan ke sekitarnya, mencari dari mana asalnya suara itu, lalu pandangannya pun terhenti pada pintu sebuah ruangan yang tadinya—ia tidak terlalu yakin—tertutup kini telah terbuka lebar.

“I-itu… ruangan itu kan… ruangan yang ditempati tuan besar…”

“HUA!”

Teriakan seseorang dari belakang berhasil membuat jantung Jiyeon hampir saja copot. Refleks, ia langsung berbalik dan mundur perlahan saat ia mendapati seorang lelaki yang menurutnya berusia kira-kira akhir 40-an sedang menyeringai ke arahnya. Walaupun penampilannya terlihat acak-acakan dan menyeramkan, Jiyeon masih bisa melihat garis ketampanan pada wajah lelaki itu. Namun bukan hal itu yang membuatnya tercengang, dan bukan itu pula yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat, melainkan sesuatu di genggaman tangan kanan lelaki itu, suatu benda yang walaupun berukuran kecil namun cukup ampuh untuk sekedar melukai bahkan hingga menyayat kulitmu.

“Huahahahaha,” lelaki itu tertawa keras, membuat perasaan Jiyeon semakin tegang.

“Tu-tuan besar Lee… a-anda… mau apa?” tanya Jiyeon tergagap.

Bukannya menjawab, tuan Lee justru menyeringai dan berjalan maju mendekati Jiyeon yang kini sudah benar-benar ketakutan.

Jiyeon terus menggigit bibir bawahnya, bermaksud mengurangi rasa takut dan mencegah air mata yang kini telah membendung di pelupuk matanya agar tidak jatuh. Namun rupanya hal itu tidak terlalu berhasil, karena saat tuan Lee sudah berjarak sangat dekat dengannya, air mata yang sudah susah payah ia bendung akhirnya tumpah juga.

Tuan Lee terus saja berjalan mendekati Jiyeon. Lalu saat dilihatnya Jiyeon tidak sengaja menubruk tiang koridor rumah sakit, ia langsung mengangkat tangannya, bermaksud menusuknya, hingga tiba-tiba…

“ABOJI!”

Teriakan seseorang berhasil membuat Tuan Lee menghentikan gerakan tangannya, membuat leher Jiyeon tidak jadi tersentuh pisau yang hanya tinggal berjarak tidak lebih dari sepuluh senti.

Tuan Lee menoleh ke arah suara tersebut, lalu menyeringai dan tertawa.

“Taemin sunbae,” desis Jiyeon.

Mendengar suara Jiyeon, seperti tersadar dari tujuan utamanya, Tuan Lee kembali menoleh ke arah Jiyeon. Masih dengan seringaian di bibirnya, Tuan Lee meneruskan kegiatannya yang sempat terhenti tadi.

Saat Tuan Lee mulai menggerakkan tangannya, Jiyeon langsung menutup matanya pasrah, bersiap menerima yang terburuk. Namun satu detik, dua detik, dan seterusnya, Jiyeon tidak merasakan apapun. Maka dengan ragu, perlahan Jiyeon membuka matanya. Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati pisau yang tadi ia prediksikan sukses mengenai lehernya dalam beberapa detik itu berada tepat di depan matanya.

Tuan Lee menatap berang ke arah Taemin yang menahan pergelangan tangan kirinya, tidak kehilangan akal, ia pun menggunakan sebelah tangannya yang bebas untuk membantu mendorong pisau yang ia pegang ke arah leher  jenjang Jiyeon.

Melihat tindakan ayahnya, Taemin terbelalak. Lalu, saat dilihatnya pisau tersebut sudah nyaris menyentuh leher Jiyeon, dengan sigap, ia menggunakan sebelah tangannya lagi untuk mencegahnya.

Entahlah tindakan yang baru saja dilakukan Taemin tadi benar atau tidak. Pisau itu memang tidak jadi mengenai leher Jiyeon, namun kini justru dengan sukses melukai telapak tangannya sendiri. Ya, melihat badan pisau yang bahkan sudah berjarak tidak lebih dari satu senti dari leher Jiyeon, tanpa banyak berpikir, Taemin langsung mengarahkan tangannya menyentuh badan pisau yang digenggam ayahnya.

Jiyeon terbelalak menyaksikan kejadian yang berada tepat di depan matanya tersebut. Ia bisa melihat dengan jelas darah yang mulai mengalir dari telapak tangan Taemin.

“AARRRRGGGHHH…” Taemin mengerang kesakitan.

Emosi Taemin memuncak, ia benar-benar tidak tahan lagi menahan sakit di tangannya. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, ia pun mendorong ayahnya hingga tersungkur ke lantai.

Tepat pada saat itu, Sopir Kang, Yong Baksanim beserta kedua namja tadi datang. Sopir Kang dan Yong baksanim langsung menghampiri Taemin dan Jiyeon, sedangkan kedua namja tadi langsung menghampiri Tuan Lee dan memborgol tangannya.

“Jiyeon agassi, gwaenchanayo?” tanya spir Kang cemas.

Jiyeon mengangguk pelan. “Gwaenchanseumnida. T-tapi… Taemin sunbae…”

Baru tersadar bahwa ada orang lain di sana, Sopir Kang menoleh. Matanya pun langsung melebar kaget saat melihat telapak tangan Taemin yang kini sudah berubah warna menjadi merah.

“Tuan muda Taemin, tangan anda…” Sopir Lee beralih menatap Yong baksanim. “Baksanim…”

“Mari saya obati,” Tanpa perlu mendengar ucapan Sopir Kang lebih jauh, Yong baksanim langsung menarik Taemin untuk mengikutinya ke ruang pengobatan.

***

Sopir Kang dan Jiyeon menunggu Taemin di kursi yang terletak di bawah jendela ruangan tempat Yong Baksanim mengobati tangan Taemin dengan perasaan resah. Kepala Jiyeon menunduk memandangi kedua tanganya yang merapat di pangkuannya dengan jari telunjuk yang saling diketuk-ketuk. Sesekali ia tersentak pelan saat mendengar ringisan-ringisan kecil yang terlontar dari mulut Taemin.

Setelah beberapa saat menunggu, pintu pun terbuka dan Yong Baksanim serta Taemin muncul dari baliknya.

“Tuan muda Taemin, gwaenchanayo?” tanya Sopir Kang.

Taemin mengangguk kecil.

“Lukanya cukup dalam. Agar tetap bersih, pastikan ganti perbannya setiap hari,” tutur Yong Baksanim.

“Ne, khamsahamnida Baksanim. Lalu… bagimana dengan Tuan Besar Lee?”

“Ah, beliau sudah berhasil kami suntik obat penenang tadi. Jadi sudah tidak apa-apa.”

“Ah, geurae. Kalau tidak ada apa-apa lagi… kami pamit.

“Ah, ya. Silakan,”

Sopir Kang tersenyum sopan. “Terima kasih atas semuanya. Maaf kami sudah merepotkan,” ucap Sopir Kang, lalu membungkuk 90O yang lalu diikuti oleh Jiyeon dan Taemin.

“Ah, tidak merepotkan. Justru kami yang harusnya meminta maaf karena telah lalai hingga membuat Tuan Taemin terluka. Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya,” ucap Yong Baksanim sungguh-sungguh seraya membungkuk.

“Ne, gwaenchanseumnida,” kata Sopir Kang. “Kalau begitu kami pamit pulang. Sekali lagi, terima kasih.”

Setelah itu, Sopir Kang, Jiyeon dan Taemin langsung berjalan pergi mengingat waktu yang kini sudah menunjukan pukul empat pagi.

“Sopir Kang,”

Seruan pelan dan datar yang ternyata berasal dari Taemin itu membuat Sopir Kang menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu mobil.

“Ya, Tuan Taemin?”

“Bapak bisa membawa motor, kan?” tanya Taemin masih dengan nada datar seperti biasanya.

“Err… ya. Lalu?”

“Tolong bawa motorku,”

Alis Sopir Kang terangkat tinggi. “Lalu…”

“Biar aku yang membawa mobil,” sela Taemin. Melihat dua wajah bingung dan penuh tanda tanya di depannya, Taemin kembali meneruskan, “Jiyeon bersamaku. Ada yang ingin kubicarakan dengannya.”

Mendengar penjelasan Taemin, Sopir Kang mengangguk. Lalu ia pun bertukar kunci dengan Taemin sebelum akhirnya pergi dengan motor sport merah milik Taemin.

Taemin menoleh ke arah Jiyeon dan menatap heran gadis yang sejak tadi hanya bisa diam seribu bahasa itu. “Kau tidak masuk?”

Jiyeon tersentak pelan. “Ah, ne.”

Setelah mereka masuk ke mobil, Taemin langsung menginjak gas.

“Kau yang mengangkat panggilan di ponselku?” tanya Taemin tiba-tiba tanpa menoleh sedikit pun dan tetap fokus ke jalanan di depannya.

Jiyeon tersentak. “Eung… itu… aku…”

“Lain kali jangan pernah lakukan itu lagi. Dalam keadaan apapun, jangan pernah menyentuh ponselku. Dan akan ada hukuman jika kau melakukannya lagi” sela Taemin. Ia mengucapkannya dengan datar seperti biasanya, namun tegas dan terdengar jelas kalau kalimat itu diucapkannya sungguh-sungguh.

Jiyeon menghela napas berat. “Ne, Jweisonghamnida.”

“Lalu… soal ayahku,” ucap Taemin lagi. “jangan beritahukan siapapun. Tidak peduli kau tidak sengaja, kelepasan atau apapun, jika ada orang lain yang tahu dari mulutmu… kau akan tahu akibatnya.”

Jiyeon bergidik ngeri mendengar ancaman Taemin tersebut. Ia hanya bisa mengangguk pasrah tanpa bisa mengatakan apa-apa.

Suasana menjadi hening dan mencekam. Taemin terlihat fokus menyetir, sedangkan Jiyeon sibuk dengan pikirannya sendiri.

“T-Taemin sunbae,” ucap Jiyeon memecah keheningan.

“Hm?”

“Khamsahamnida,” kata Jiyeon ragu.

“Ne?”

“Khamsahamnida, untuk tadi…” kata Jiyeon dengan kepala menunduk. “dan maaf… karena membuat tangan sunbae… terluka.”

Taemin tidak menjawab apa-apa. Ia hanya melirik Jiyeon sekilas, sebelum akhirnya kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan di depan. Dan keheningan pun kembali menyelimuti mereka.

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

70 thoughts on “Bad Boy Sitter – Part 15”

  1. dugaan ku tetang ayah taemin yang dirawat di rumah sakit ternyata bener …
    dan dugaan ku yang lain kalo yang membunuh kedua orang tua jiyeon itu ayah taemin .. tapi masih dugaan aku aja .. 😀 mungkin aja ibu taemin itu ibunya jiyeon ??? 😀
    tanggung kalo segini bikin banyaknya dugaan yang muncul 😦

  2. dddaaaeebbbaakkk ff’nya nih,,, tau ga thor gara2 aku ketemu ff ini, yg aturannya aku baca2 buku mau UH, ini malah aku baca ff ini,,,(hahahacurcoldeh)… author harus tanggung jawab nieh krn ff’nya author keren bikin aq jdi demam ff, jadi aku tunggu lanjutannya nieh,,, fighting thor!!! 😉 😀 8)

  3. Admin..aku udh lma baca nih ff..dri aku jhs kalo ga salah.. tapi sekarang udh mau tamat shs.. koq ga kelar2..aku cintaaaaaaa bangeet sama nih ff.. aku penasaran sama lanjutannya.. pantesan waktu aku cari2 d sequel complete ga ad yah..dlu sempat vacum baca ff..masih bisa di lanjutin ga nih admiinn…jebaaaal 😭

  4. Author-nya kemana Niiiihhhh…..gak tanggung jawab,udah bikin orang ketagihan baca ff ini trus gak Di lanjutin.Masa kita bikin lanjutannya sendiri.Ttttttthhhhhoooorrrrr….where are youuuuuuu???Min,bantuin cari authornya dooonnngggg

  5. Mian baru komen di part ini, ketagihan baca soalnya
    dan ff ini masih berlanjut apa udah discontinue? Kalo udah discontinue sayang banget, ffnya bagus dan feelnya bener bener ada. Kalo masih lanjut, posting dong, jgn bikin penasaran ._.

  6. Thooorrrr lanjutannya mana…????? udah klamaan nunggu nie..!!!! gw penasaran bagt.!! gw cinta nie ff.,msa gw tingglin bgtu aja.!!?? 😦 😦

  7. aduuh greget malah TBC,masih banyak pertanyaan di otak aku,kelanjutannya gimana,terus tentang taemin,kejadian sebenernya yang menimpa kedua orang tua jiyeon sama taemin aaa masih banyak deh pokoknya next dongyaa part selanjutnya keep writing ayolah ini ffnya seru loh aku baca ini seharian dari pagi/? *curcol XD tapi plissss next yaaa

  8. Thor, please next donk. Udah 3 tahun kok masih blm ad lanjutannya ? Sayang banget, pdhl ff nya bagus. Pokoknya aku gak mau tau author harus lanjutin *jiahhh maksa banget* 😅😁😂
    Aku msih akan tetap menunggu lho thor, jadi sya harap semoga author akan tetap lanjutin ff ini 😊😊😊

  9. Thor ayo dong lanjutn ffnya.
    Pnasarn bgt sma kelnjutnny.
    Ff nya keren lo thor,.
    Gk bkn bsen wlau bc brkali kali.
    Pleas lnjt dong thor udh bnyk yg nungguin nih.

  10. Rasanya aku pernah dulu baca ff kaka ini udh smpai part 17. 16 & 17 nya dihapus yaa kak atau gmna? Penasaran bnget kak. Saking suka nya aku udh baca nih ff 5 kali loh tapi gk lanjut2. Sayang banget sumpah. Ff nya bagus banget bikin greget dan penasaran dengan misteri yang ada di ff ini. Banyak yg blm terungkap nih. Hubungan onew dgn kematian ortu jiyeon, ortu taemin, nenek taemin, jungsu oppa, ttng latar blakang pobia jiyeon, ttang teman kyungmi yg suka jiyeon dan masih byak lagi rahasia2 yg belum terungkap. Please lanjutkan kaka ff nya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s