Piano

Title                 : Piano

Author             : Lee Minsa

Main Cast        : Jang Jiyoung, Lee Taemin

Support Cast    : Other SHINee members, and some boyband members

Length             : Oneshot

Genre              : Romance, Friendship

Rating              : PG-13

A.N                  : Annyeong, ini ff pertama aku jadi mian kalau banyak salah.

=Taemin POV=

Aku menatap jam di dinding dengan penuh harap, sambil terus memainkan piano putihku. Di depanku sudah ada partitur lagu yang harus kuhafalkan untuk konser musik yang diselenggarakan oleh sekolah, dan untunglah lagu itu kuciptakan sendiri, jadi lebih mudah dihafalkan, meskipun untuk bagian liriknya masih kosong dan bersih.

Hari ini aku dan Jiyoung, vocalist paling terkenal di sekolahku akan datang kerumahku, untuk mendiskusikan isi lirik dari laguku. Seharusnya, saat ini dia sudah ada di sampingku, mencari ide untuk lirik laguku, tetapi entah ada halangan apa dia belum tiba ju..

TING TONG!

Bel rumahku berbunyi keras dari speaker kecil di ujung ruangan. Aku langsung berlari kencang menuruni tangga dan melewati beberapa ruangan, lalu akhirnya sampai di depan pintu ruang tamu.

“Nuguya?”, aku bertanya sambil mengintip melalui kaca fisheye yang terpasang di pintu. Ternyata Jiyoung, yeoja itu selalu saja telat.

“Jiyoung, Taemin-ssi?”, Jiyoung menjawab dengan suara innocent imutnya yang berbeda dengan suaranya saat sedang menyanyi, lalu mulai mendekatkan mukanya ke kaca fisheye.

“Oh, masuklah,”, aku langsung membukakan pintu, dan mengajak Jiyoung masuk. Jiyoung menaruh tasnya yang kelihatan berat, dan dengan refleks aku mengambilnya dan menyandangkannya ke pundakku. Tas ini memang sangat berat. Seperti ada seseorang yang memasukkan banyak sekali batu kedalamnya.

“Annyeong, eh mianhamnida karena merepotkanmu membawa tas itu, aku bawa saja sendiri,”, Jiyoung mengeluarkan suara imutnya lagi sambil mengulurkan tangan. Jiyoung selalu terlihat seperti sedang beraegyo, padahal sebenarnya memang sifat aslinya lugu, polos dan imut.

“Aniyo, aku bawakan saja, aku takut vocalmu rusak karena membawa tasmu ini. Kkaja, kita ke studio,”, aku menghindari uluran tangan Jiyoung, lalu berjalan kearah studio di rumahku sambil menenteng tas Jiyoung yang sangat berat.

“Ani, vocalku tak akan rusak kalau penyebabnya hanya membawa tas itu, sini aku bawa,”, Jiyoung menghalangi jalanku sambil mengulurkan tangannya lagi, meminta tas beratnya.

“Tapi aku kan namja, jadi harus membawakan tas atau barang yeoja, ppali nanti latihannya malah terulur,”, aku memaksakan diri untuk maju melintasinya, lalu mendorongnya dengan keras secara tak sengaja, sampai tubuhnya yang sangat ringan terjatuh.

BRAK! Tubuhnya menghantam lantai rumahku dan kepalanya membentur lantai dengan keras. Secara refleks aku melepaskan tasku dan membantunya untuk duduk. Jiyoung meringis kesakitan dan meraba kepalanya.

“Omo, kepalamu berdarah! Jangan diraba! Kkaja, sini ikut aku!”, aku berkata kaget saat melihat tangannya yang berlumuran darah setelah ia meraba kepalanya.

Aku menarik tangannya ke arah studioku, sambil membawa tasnya yang seberat batu. Jiyoung sekarang sudah menangis sambir meringis pelan.

“Duduk disini,”, perintahku sambil menunjuk kursi pianoku, dan Jiyoung mengangguk sambil menangis pelan.

Aku mengambil kotak P3K diujung ruangan, lalu membawanya ke atas pianoku. Selanjutnya aku mengambil kapas dan alkohol, dan menyuruh Jiyoung berbalik. Tanpa perlawanan Jiyoung berbalik, dengan tangisan pelannya.

Luka Jiyoung tidak terlalu parah, tidak retak atau sampai bocor, hanya saja sepertinya ia punya bekas luka dan akhirnya berdarah karena benturan tadi. Aku mengambil selembar tissue dan menyeka darah yang ada di kulit kepalanya, lalu menyentuhkan kepalanya dengan kapas dan alkohol yang dingin.

“Aw, pe..pelan – pelan,”, Jiyoung meringis dengan suara bergetar, aku pun menurutinya dan menyentuhkan kapas ke kepalanya dengan sangat perlahan.

“Kau punya bekas luka?”, tanyaku saat teringat dengan penemuan bekas lukaku di kepalanya.

“Ne,”, balasnya, masih dengan suara bergetar dan kadang diselingi dengan kata ‘aw’ dan ‘aish’.

“Waeyo?”, aku bertanya kembali, berusaha akrab dengannya sambil mengobati lukanya.

“Jatuh dari tangga, aku sedang bermain petak umpet sama eonniku, lalu saat sedang berlari aku terjatuh,”, Jiyoung menjelaskan, dengan suara yang lebih tenang. Mungkin anak ini sudah tidak menangis.

“Oh, kau ini,”, aku menegurnya sambil menyeringai senang.

“Mwoya? Mau mengejekku?”, Jiyoung berbalik menatapku sambil memasang mimik marah dengan imutnya.

“Ani ani, kalau kita bertengkar nanti bagian tubuhmu yang lain akan terluka,”, aku menyahut sambil membereskan kotak P3K, lalu meletakannya di lantai di samping pianoku.

“Baiklah, kita diskusikan liriknya,”, kataku sambil menekankan jariku ke atas tuts piano dengan asal.

“Mainkan dulu lagunya, aku ingin tahu,”, Jiyoung menyuruhku memainkan piano, lalu aku menurutinya.

Denting piano mulai mengalun setelah aku menekankan jariku ke atas tuts, sambil sesekali melihat partitur. Aku memainkannya dengan serius, dan sesekali mengintip ekspresi muka Jiyoung yang sedang sibuk mendengarkan laguku. Aku tersenyum senang sambil terus memainkan pianoku sampai not terakhir.

“Daebak! Aku suka!”, katanya sambil bertepuk tangan. Aku membalasnya dengan senyum termanisku.

“Gomawo, kau sudah punya ide?”, aku tersenyum bangga sambil menatap matanya.

“Ne, aku pikir lagu ini harus diisi dengan lirik yang mendalam, kau tahu? Aku pikir kita harus menanamkan sad memories di lagu ini,”,  Jiyoung mengambil pensil lalu memutar – mutarnya secara perlahan.

“Aku pikir kau benar, kalau begitu tentang apa?”, aku bertanya, setengah melamun karena pandangan mataku sudah beralih kearah pensilnya yang sedang diputar – putar.

“Aku punya beberapa opsi judul. Bagaimana kalau Cry? Fallen Tears? Sister’s Memories?”, tanyanya, sekarang posisi pensil itu sudah berubah menjadi diketuk ke arah kertas partitur.

“Aku suka yang terakhir, karena kupikir ‘Cry’ dan ‘Fallen Tears’ tidak memiliki makna sedalam ‘Sister’s Memories’. Tapi, kupikir kau harus menulis liriknya sendiri, aku sedang kehabisan ide,”, kataku sambil memainkan beberapa bagian dari lagu gubahanku yang tadi kumainkan.

“Baiklah, aku akan tulis sekarang,”, Jiyoung berkata, lalu menarik kertas partitur agar lebih dekat dengan badannya, dan mulai sibuk dengan pensil dan kertas.

Sementara menunggu, aku memainkan beberapa lagu yang sudah sangat kuhafal di luar kepala, sambil sesekali mengintip ke arah kertas partitur, tapi Jiyoung menghalangi pandanganku, jadi aku teruskan saja permainan pianoku.

“Jadi!”, pekiknya senang, lalu memberikan kertasnya kepadaku.

Aku melirik kertas itu, lalu membacanya sambil menyesuaikannya dengan not yang telah kubuat.

“Bagus, bagaimana kalau kau nyanyikan dan aku memainkan pianonya secara berbarengan? Aku pikir itu pasti bagus,”, aku bertanya sambil meregangkan jari – jariku.

“Ok, satu, dua tiga,”, ia berteriak dengan penuh semangat, lalu mulai bernyanyi mengikuti denting piano dengan suara lembutnya.

There is something that i can’t forget

When i try to give up

When i try to stop

When i try to forget

But someone said to me please don’t

 

When everything becomes darker,

When the sky hides you from my eyes

When the black fills your heart,

I’m here, and I’ll be there

 

Oh my soulmate, Saranghaeyo

Jebal, don’t gone, don’t cry

Everything seems darker without you

I just can cry, cry, and cry

Without you, i’m nothing,

Only with you, i can smile

Saranghaeyo, bogoshippoyo

Dashi dorawa…

 

Aku memainkan laguku ini sampai denting not terakhir, lalu menatap Jiyoung. Aigo, anak itu sudah menangis lagi.

“Kau kenapa?”, tanyaku sambil merangkulnya.

“Lagu ini mengingatkanku kepada eonniku,”, katanya dengan suara bergetar.

“Memangnya ada apa dengan eonnimu?”, tanyaku dengan polosnya.

“Di.. dia sudah meninggal setahun yang lalu. Waktu itu dia sedang berjalan – jalan dengan namja chingunya, aku ingat, itu adalah hari ulang tahunnya. Mereka akan menikah seminggu lagi. Lalu, mereka akan pergi ke restoran setelah mengadakan garden party di rumahku. Saat itu ada truk yang melaju cepat dan remnya blong. T..truk itu menabrak mobil eonni dan namjanya. La..lalu aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, mereka meninggal bersama,”, Jiyoung menceritakan sambil tersedu – sedu.

Aku terdiam, tak mampu mengatakan apapun. Studioku tiba – tiba terasa hampa. Aku melirik Jiyoung dari sudut mataku, kini ia sudah agak tenang.

“Mianhaeyo..”, aku berkata. Suaraku serak, tenggorokanku benar – benar kering.

“Gwaenchana, aku sudah terbiasa menceritakan ini,”, Jiyoung berkata sambil menunduk, menatap tuts pianoku.

Terbiasa.. dia sudah terbiasa menceritakan ini, artinya ia sudah terbiasa menangis saat menceritakan ini. Aku ikut menunduk dan memandang ke arah tuts piano.

“Aku ingin menjadi penyanyi, karena eonniku adalah seorang pianis, sama sepertimu. Menurutku piano dan nyanyian adalah pasangan, dan dengan menyanyi, aku merasa semakin dekat dengan musik dan kakakku,”, Jiyoung berkata sambil menekan – nekan tuts piano dengan asal.

“Mianhaeyo, aku tidak bermaksud mengorek privasimu,”, aku berkata, belum berani memandang matanya ataupun wajahnya.

“Ah, gwaenchana, sekarang latihan lagi, kkaja,”, Jiyoung menyahut, sekarang moodnya kelihatan sudah naik.

Aku tidak membalas perkataannya, tapi aku malah menatap matanya. Mata yang indah, yang menurut survey yang selalu kubaca jenis mata itu adalah jenis mata idaman yeoja di Korea. Aku menatapnya lagi, dan Jiyoung balas menatapku. Tiba – tiba jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Aish, perasaan ini. Jangan – jangan… Ani, aku dan Jiyoung hanya teman yang baru akrab karena ada proyek untuk konser musik, bukan teman yang macam – macam. Aku menatap kembali matanya. Ia sedang menopang dagunya dengan mic sambil menungguku memainkan piano. Ah sudahlah, lebih baik aku langsung latihan saja.

Aku mulai menekan tuts – tuts piano sesuai dengan not lagu ‘Sister’s Memories’ dan Jiyoung memperdengarkan suaranya yang mengalun lembut melalui speaker. Aku melirik   matanya lagi, dan kini mata kami saling bertemu. Aku tersenyum kearahnya, dan dia pun membalas senyumanku sambil terus bernyanyi.

Kami mengulang lagu itu selama satu jam, lalu membicarakan kostum yang akan kami pakai. Aku dan Jiyoung sepakat memilih warna putih sebagai warna dasar kostum kami, dan set panggungnya akan simpel, hanya berhiaskan aku, Jiyoung dan micnya, juga  grand piano putihku.

“Aku harus pulang, sekarang sudah sore dan eommaku pasti marah jika aku pulang telat,”, Jiyoung berkata, lalu meraih tas seberat batunya.

“Jinjja? Diluar hujan lebat, kau yakin?”, tanyaku, sambil melihatnya dengan tatapan khawatir.

“Ne, aku bawa payung,”, Jiyoung mengangguk dengan lembut, sambil mengeluarkan payung biru dari tas seberat batunya itu.

“Tidak usah, konser musik itu tinggal menghitung hari dan aku tidak ingin kau sakit. Aku akan antar kau sampai rumahmu. Turuti saja aku, kalau kita adu mulut lagi mungkin seisi studio ini akan hancur,”, aku menarik tangannya dengan tegas, lalu berjalan menuju pintu studio dan membukanya.

“Kita mau kemana?”, tanya Jiyoung sambil mengekoriku.

“Ke rumahmu, memangnya kita mau kemana lagi?”, aku menyahut sambil meraih kunci mobil.

“Ah, ne.”, katanya, lalu mengikutiku lagi dan masuk ke mobil bersamaku.

Aku menyalakan mobil yang sudah diparkir di halaman depan, lalu memundurkannya dan masuk ke jalanan yang sepi. Aku membenarkan kaca spion, lalu menoleh ke arah Jiyoung yang sekarang sedang memainkan handphonenya. Jiyoung melepaskan tatapannya dari handphone, lalu menoleh dan balas melihatku, dan dengan canggung aku memutar kepalaku kembali ke posisi normal.

“Hei, kau bisa dance, kan?”, tanya Jiyoung.

Aku menatapnya sambil tersenyum kecil, “, ne, waeyo?”, aku mengiyakan lalu mengalihkan konsentrasiku ke jalan.

“Aliran dancemu apa?”, Jiyoung kembali bertanya dengan tatapan penuh harap.

“Poppin, kadang bboy atau freestyle,”, aku menyahut tanpa menoleh ke arahnya.            “Oh, aku juga mantan dancer, street dancer. Dulu kau sangat terkenal di group street dancerku. Jadi aku tak menyangka kau juga seorang pianis     ,”, yeoja disampingku berbicara panjang tanpa kutanya.

“Kau mantan dancer? Kukira kau hanya bisa menyanyi,”, aku berkata sambil mengambil sekantung chips dari jok belakang, “, mau chips?”, tanyaku sambil menyodorkan bungkus chips yang masih gemuk kepadanya.

“Ne, gomawo, taruh saja dulu,”, katanya. Aku menurut dan menyimpan bungkus chips ditempat yang ditunjuk oleh Jiyoung.

“Rumahmu dimana?”, tanyaku sambil mengunyah chips.

“Lurus terus sampai rumah hijau yang aneh, lalu belok kanan,”, Jiyoung menjawab sambil menggigit chips sedikit – sedikit, lalu mengambil sebuah chips lagi dari bungkusnya.

Aku menjalankan mobilku, sambil mencari rumah hijau yang aneh. Dan setelah menemukannya aku membelokkan mobilku ke arah kanan, lalu Jiyoung pun menunjuk sebuah rumah. Rumah yang bagus dan besar. Aku memarkir mobilku tepat disamping rumah itu.

Jiyoung mengeluarkan payungnya, membuka pintu mobil dan membuka payungnya, lalu menutup pintu mobilku. Ia berbalik dan melambai, lalu masuk ke dalam rumahnya. Aku tersenyum kecil, lalu melajukan kembali mobilku, kearah rumahku lagi.

Aku berhenti saat traffic light menyalakan lampu merah menyalanya, lalu melirik kursi kosong disebelahku yang baru saja ditempati Jiyoung. Aku tersenyum tipis dan kembali menjalankan mobilku ketika lampu hijau kembali menyala. Aku rasa aku mencintainya.

=Jiyoung POV=

Aku menutup gerbang besar rumahku, lalu berjalan sambil memegang payung ke arah teras rumahku. Aku melepas payung dari genggamanku, lalu memiringkannya agar airnya turun dengan cepat.

Aku masuk ke dalam rumah setelah selesai dengan urusan payungku. Rumahku, rumah besar yang didesain oleh appaku sendiri, rumah yang sepi karena didalamnya hanya ada seorang yeoja dibawah umur dan pembantu serta supir, rumah yang nyaman dan indah dengan pemandangan terbaik.

Aku berlari kecil menuju tangga, menaikinya, lalu berlari kecil kembali melintasi koridor ke arah kamarku. Aku langsung mengambil kunci dari tasku, memasukkan kunci itu ke lubangnya, memutarnya ke kanan, lalu mencopotnya, dan membuka pintu kamarku. Aku menutupnya kembali lalu melemparkan tas super beratku ke lantai.

Aku melemparkan tubuhku kearah kasurku yang sangat empuk, lalu tersenyum sambil memandang langit – langit. Hari ini adalah hari yang sangat panjang. Dan hari yang panjang ini hanya diawali bekas lukaku yang terluka lagi hanya karena mempermasalahkan sebuah tas berat. Aku tertawa kecil, menertawakan diriku sendiri dan Taemin. Namja itu, benar – benar ….

Taemin, namja imut itu benar – benar… imut. Aku mengingat kembali semua kronologi momen – momen memalukan tadi. Mulai dari membawa tas seberat batu yang isinya tidak semuanya dibutuhkan, luka hanya karena berebut membawa tas, menangis, Taemin mengobati kepalaku, mendengarkan permainan piano Taemin, berbicara dengan Taemin, bernyanyi, diantar pulang oleh taemin, semuanya memang terlalu manis untuk berakhir.

Ya, aku sudah dari dulu menyukai Taemin, meskipun dulu perasaanku hanya kagum, namun belakangan ini kata kagum itu harus diganti menjadi suka, dan aku pun menyadari semua kebaikan dan kepolosan Taemin setelah semua proyek konser musik bersamanya.

Seandainya aku tidak suka menyanyi, seandainya eonniku tidak mendorongku untuk menyanyi, seandainya eonniku tidak meninggal, seandainya aku tidak mendaftarkan diri ke konser musik ini, mungkin aku hingga detik ini juga hanya akan menjadi secret admirernya Taemin.

Aku juga menyadari kalau Taemin sudah kuanggap sesuatu yang berbeda dari kata chingu, aku menganggap dia sebagai pengganti eonniku. Setidaknya Tuhan terasa sangat adil bagiku saat ini.

Aku tersenyum, masih menatap langit – langit, lalu mulai terasa kantuk menggerogoti kesadaranku. Segalanya terasa buram secara perlahan, dan akhirnya semuanya menjadi benar – benar gelap.

*1 month later*

=Taemin POV=

Aku menekan jari – jari tanganku kearah meja, lalu mengetuk – ngetuknya pelan. Aku menarik tanganku dari meja, lalu menyingsingkan lengan jasku untuk melihat arlojiku. Lampu led digitalnya sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku menghembuskan napasku ke arah poniku agar berterbangan, lalu memalingkan wajahku ke arah pintu ruang ganti. Aish, lama sekali. Kostumnya pasti rumit. Padahal sudah kubilang untuk mengenakan dress sederhana.

Aku memalingkan kembali wajahku ke arah meja, merapikan kerah kemejaku dan membetulkan letak dasi hitamku. Bagiku, menunggu adalah hal yang paling rumit dan menyebalkan di dunia. Menurutku menunggu tidak membosankan, hanya saja perasaan yang ditimbulkan karena menunggu adalah perasaan yang benar – benar menyebalkan.

Klik, akhirnya pintu ruang ganti terbuka. Aku segera mengalihkan pandanganku kearah orang yang membuka pintu itu.

Aigo, yeoja itu, bukan, maksudku malaikat itu cantik sekali. Aku menatapnya dari atas kebawah, lalu memperhatikan wajahnya. Yeoja cantik itu, Jiyoung, terlihat sempurna. Aku tersenyum, lalu bangkit dari posisi dudukku, dan mendekatinya.

“Neomu Yeppeoya, Jiyoung,”, aku berkata sambil memasang senyum termanis yang bisa aku tunjukan.

“Gomawo, Kibum oppa yang mendesainnya”, Jiyoung tersipu malu sambil tersenyum.

“Jinjja? Daebak, dia memang desainer yang baik. Kkaja, kita ke ruang tunggu,”, aku menarik tangannya lembut menuju ruang tunggu backstage yang sudah disesaki para perfomers.

Aku memilih sebuah tempat duduk di tengah, lalu menunggu Jung Yunho sunbaenim yang akan memberikan sambutan. Yunho sunbae adalah kakak kelasku, president school yang eksis karena ketampanannya dan kemampuannya dalam olahraga dan musik.

Yunho sunbaenim memasuki ruang tunggu backstage, diikuti dengan kesunyian yang tiba – tiba. Aku segera mengalihkan pandanganku kedepan. Yunho sunbae hanya mengenakan kemeja hitam dengan kerah putih, dan celana jeans biru dengan sneakers hitam putih. Gaya casualnya membuatnya terlihat sangat berbeda jika disandingkan dengan performers yang mengenakan pakaian formal.

“Annyeong haseyo, semuanya, gamsahamnida untuk partisipasi semuanya dalam konser musik sekolah kita yang pertama. Aku ingin semuanya sempurna, kalian kemarin sudah melakukan gladi resik, dan aku sudah melihat penampilan kalian semua, jadi kupikir yang perlu dikhawatirkan saat ini adalah kehadiran dari penonton dan tamu undangan. Aku harap kalian sudah siap, semoga semuanya mengingat nomor urut penampilan. Set sudah diatur dan bagi yang membawa instrumen dengan ukuran besar sudah diatur, jadi silahkan tunggu disini sampai giliran kalian untuk tampil. Gamsahamnida, annyeonghaseyo,”, Yunho sunbaenim menutup sambutannya disusul tepukan tangan performers yang riuh, lalu Yunho sunbae membungkuk dalam 90 derajat dan meninggalkan ruang tunggu backstage.

“Jiyoung, kau tunggu sebentar ya, aku mau mengambil minum dulu,”, aku berbisik ditelinganya, lalu Jiyoung hanya mengangguk pelan.

Aku bangkit dari posisi dudukku dan keluar dari ruang tunggu backstage, sambil mencari Yunho sunbaenim. Aku sampai di koridor ketika melihat namja yang sedang berjalan. Posisinya membelakangiku, tapi dari gaya berjalannya dan pakaiannya aku tahu itu Yunho sunbae.

“Yunho sunbaenim?”, aku berkata dengan suara pelan, lalu namja itu membalikkan badannya.

“Mwoya? Oh Taemin, kukira siapa. Tentang rencanamu itu? Sudah kuatur, kau kebagian perform terakhir, itu waktu yang strategis. Oh ya, panggil saja aku Yunho hyung, aku tak mau terlalu canggung,”, Yunho berkata sambil memamerkan senyum gentlenya.

“Gomawo hyung, kau sangat membantu,”, Taemin tersenyum lega, lalu membungkuk 90 derajat didepannya.

“Ah, gwaenchana, aku pergi dulu, sebentar lagi konsernya akan dimulai. Annyeong Taemin ah,”, Yunho hyung membungkuk sedikit, lalu tersenyum dan meninggalkanku sendiri di koridor.

Aku pun berbalik dan kembali ke ruang tunggu backstage. Jiyoung sudah terlihat bosan dan aku langsung berlari menghampirinya.

“Kau habis dari mana?”, tanya Jiyoung, memasang aegyonya yang sebenarnya tidak dipaksakan. Aku hanya dapat tersenyum sambil duduk di sebelahnya.

Aku dan Jiyoung mengunci mulut rapat – rapat, entah dikunci oleh ketegangan atau kecanggungan. Kami hanya dapat diam, disibukkan oleh pikiran masing – masing. Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat dan pada akhirnya hanya terdapat aku, Jiyoung, dan trio vokalis yang akan mengisi acara sebelum kami, Jonghyun, Onew, dan Minho.

“Goodluck,”, aku berkata setelah trio vokalis itu ketika mereka dipanggil oleh panitia. Mereka tersenyum ke arahku dan meninggalkan ruangan. Kini hanya ada aku dan Jiyoung.

“Taemin ah,”, Jiyoung berkata pelan, sangat pelan, namun karena ruangan ini hanya diisi oleh aku dan Jiyoung, suaranya terdengar sangat jelas.

“Ne?”, balasku singkat.

“Gomawo,”, ucapnya, tanpa melihat, ataupun melirikku.

“Untuk apa?” tanyaku polos.

“Untuk mengingatkanku pada eonniku dengan lagumu.”

“Maksudmu lagu kita,”, aku membenarkan perkataannya.

“Ne, yang pasti aku sangat berterima kasih kepadamu,”, Jiyoung berkata pelan, hampir berbisik, lalu kembali larut dalam kediaman.

“Taemin Jiyoung, ‘Sister’s Memories’,”, panggil seseorang dari sudut ruangan.

“Kkaja!” aku berseru, lalu memegang tangan Jiyoung yang sudah berkeringat dingin. Aku menatap wajahnya, terlihat mimik tegang menghiasi wajah cantiknya. Aku tersenyum kearahnya, dan Jiyoung membalasnya dengan anggukan kecil.

“Ini dia, penampilan terakhir, dari pianis dan vocalist terbaik sekolah kita, Taemin dan Jiyoung! Beri tepukan yang meriah!” MC acara, Kyuhyun hyung, memberi sinyal kepada kami untuk naik panggung.

Aku dan Jiyoung berjalan beriringan ke arah panggung. Tepukan tangan yang riuh menyambut kehadiran kami di atas panggung. Aku berjalan ke arah pianoku, dan Jiyoung berbelok ke arah micnya.

Aku memberi sinyal ‘aku siap’ ke arah Jiyoung, lalu jemariku mulai menari – nari diatas tuts piano, mengikuti not dari lagu ‘Sister’s Memories’ dengan lancar. Aku selesai dengan bagian intro, lalu terdengar suara merdu Jiyoung mulai mengalun dari speaker. Aku tersenyum dan terus memainkan pianoku sesuai dengan not.

Tepukan tangan yang benar – benar meriah terdengar dari penonton ketika lagu kami selesai. Aku menyusul Jiyoung yang sudah lebih dulu memberi bungkukan hangatnya kepada penonton, lalu untuk lebih formal, aku dan Jiyoung membungkuk bersama.

“Jiyoung, lihat kebelakang,”, aku berkata kepadanya saat kami masih membungkuk.

“Waeyo?” bisiknya dengan suara imut khasnya.

“Lihat saja,”, aku kembali menyuruhnya untuk berbalik, dengan suara yang lebih keras.

“Aniyo, sebelum kau beri tahu aku untuk apa aku melihat kebelakang,”, Jiyoung membalas melalui sudut bibirnya setelah kami selesai membungkuk.

“Hanya berbalik saja,”, aku berkata dengan suara memaksa.

Jiyoung menurut. Kami membalikkan badan kami bersama. Aku langsung menatap muka Jiyoung sambil menggigit bibir bawahku.

“Bagaimana?”, tanyaku gugup.

“Aigo.. Ta.. taemin..”, Jiyoung berbisik, hampir terdengar seperti menangis.

Didepan kami, tepatnya didepan tirai yang memisahkan backstage dengan panggung, sudah terpasang spanduk putih dengan huruf hitam besar bertuliskan ‘Saranghaeyo Jiyoung, you’re the only one that i need’ yang aku siapkan, dan melalui Yunho hyung aku meminta panitia untuk memasang kejutan itu setelah selesai penampilan kami.

“Sekarang berbalik lagi,”, aku berkata lagi, dan kini tanpa perlawanan Jiyoung menuruti perkataanku.

“Taemin, kau.. kau..”, Jiyoung terlihat sangat kaget dengan kejutan tiba – tiba ini.

Sementara di tribun penonton aku menyiapkan spanduk lain dengan tulisan ‘Jiyoung, would you be my girlfriend?’. Sementara Jiyoung masih menatap spanduk itu dengan terkejut, aku merogoh sakuku, dan mengambil kotak kecil yang permukaannya halus.

“Jiyoung, would you be my girlfriend?”, aku berkata dengan nada semanis mungkin, sambil mengulurkan kotak kecil itu dan berlutut dihadapannya. Kini kotak itu sudah terbuka dan sudah menunjukkan isinya. Sebuah cincin yang kubeli dengan uang tabunganku sendiri.

Jiyoung terpaku menatapku. Ekspresinya terlihat aneh, aku tak bisa menebaknya. Aku hanya bisa menatap wajahnya penuh harap, sambil menahan lenganku karena memegang kotak cincin ini.

“Ne,”, tiba – tiba suara imut khas Jiyoung terdengar. Aku mencerna perkataannya. Satu kata yang simpel, namun berarti banyak.

Aku berdiri, melepaskan senyum manisku, lalu memasangkan cincin itu ke jari manis kanannya. Kini semua penonton yang menyaksikan kami sudah memberikan tepukan yang sangat meriah kepada kami. Aku hanya bisa tersenyum manis, lalu membungkuk dalam, dan berjalan ke backstage sambil memegang tangan Jiyoung.

“Gomawoyo Jiyoung ah,”, aku berbisik ke telinganya, sebelum mencapai gagang pintu menuju ruang tunggu di backstage.

Aku membuka pintu ruang tunggu backstage, dan begitu kami masuk performers lain langsung mengalihkan pandangan mereka kepada kami.

“Waw, new couple! Chukkae ya semoga longlast,”, teriak Kibum hyung dari bangku belakang. Kibum adalah desainer untuk semua kostum performers yang tampil di konser ini.

“Gomawo hyung,”, aku menyahut, lalu diiringi dengan kata ‘chukkae’ lainnya.

Aku mengucapkan gomawo berulang – ulang, lalu kembali keluar dari ruang tunggu bersama Jiyoung. Kini kami sudah ada di koridor, berdiri berhadapan dan hanya berdua. Aku merasakan ada kecanggungan diantar aku dan Jiyoung.

“Taemin, sebenarnya..”, Jiyoung memecah keheningan, mengangkat kepalanya untuk menatapku.

“Ne?”, aku menunduk dan melihat muka imutnya yang menatapku canggung.

“Gomawo, aku sebenarnya mencintaimu dari dulu, aku menyukaimu. Dan, aku benar – benar tidak tahu bagaimana caranya mengekspresikan dengan ka – “, kata – katanya terpotong, oleh pelukanku yang sangat erat dan tulus.

“Kau tak usah bingung. Perasaan kita sama dan satu – satunya cara untuk mengekspresikannya adalah tetap bersamaku,”, aku berkata, masih memeluk tubuh mungilnya.

“Saranghaeyo, Jiyoung.”

=END=

Finally ff ini kelar! Maaf buat kesalahan kata dan kesamaan nama, maaf buat yang biasnya aku pake di ff ini, jangan lupa kasih komen ya! Maaf kalau ada typo, aku udah berusaha ngedit ini, karena awalnya ceritanya dangkal banget. Give me some commentsJ

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

18 thoughts on “Piano”

  1. “Kau punya bekas luka?”, tanyaku saat
    teringat dengan penemuan bekas
    luka (yang ada) di kepalanya.

    keren.. romantis…
    aq pkir jiyoung punya pnykit… bawa2 tas brt utk menopang tbuh ringnnya *apadeh* hahaha

  2. Agak geli pas baca yang ada ‘darah’nya itu .__. Resiko jadi orang phobia darah-..-. Ini ep ep unyuuu bet deh XDD, first kah? Ya ampun, aku aja ep ep pertama jeleknya minta ampun ._. tapi ini keren, nggak nyangka kalau ini ep ep pertama^^

  3. aaaaaa…sukaaa…
    ff nya manis banget… demenan aku…haha..
    mana castnya taemin pula…double daah…wkwkwk..
    sbagai ff pertama, ff ini kudu diacungin jempol…hoho..
    detail ceritanya menarik dan mudah dimengerti, aku suka..wkwk…

    keep writing yaa 😀

  4. Ciyee~ sweet FF Author X3
    Nggak tau kenapa, pertama-tama aku mikirnya sad ending, hehe. Terus aku nebak isi tas super beratnya Jiyoung itu mayat eonni-nya… *woi, ini bukan FF horor!* #dimutilasiAuthor
    *Author : reader sotoy, seenaknya aja nebak-nebak alur*

    First? Keren Thor XD
    Aku juga merasa Taemin cocok sama Jiyoung, soalnya kelihatannya mereka sama-sama pasangan yang manis, hehe 😀
    Ditunggu FF selanjutnya! ^o^/

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s