A Ghost Inside Me – Part 1

 

Title :           A Ghost Inside Me  Part 1

Author :             Park Ara

Main Cast :       Choi Minho, Hwang Su Ji, Key, Jung Cheon Sa

Support Cast :  Lee Jinki, Hwang Dong Joon (Su Ji-Appa), Geum Jin Ah (Su Ji-   

                            Eomma), dan     masih terus bertambah…

Length :             Sequel

Genre :              Fantasy, Friendship, Romance

Rating :              PG 15

 Annyeong haseyo!!!!

Park Ara coming back!!!! =D. Woa, kali ini aku membuat cerita dengan genre fantasy romance. Hm, ottohke? Agak ribet juga sebenarnya. Tapi karena selalu inget sama semua readers di SF3SI, jadi semangat deh. Apalagi main castnya Minpa! Aaah… senangnya! Keurae, keurae, keurae, kalau diantara readers ada yang merasa kok kayaknya cerita ini mirip sama serial ***, ya baca aja ceritanya sampai akhir. Karena waktu lampu menyala di atas kepalaku (menemukan ide maksudnya), kebetulan ada serial yang sepintas mirip dengan fanfic ini muncul, jadi ya seperti itulah. Hehe… tapi beneran deh, ceritanya beda banget sama serial itu. So keep reading and have fun, ok? And don’t forget to put your comment after this. ARAsseo?  \(^_^)/

………………………………………………………………………………………………………………………………….

Meskipun waktu masih menunjukkan pukul lima sore, namun langit mendadak berubah gelap. Semua murid di dalam kelas masih tekun menekuri buku-buku di hadapan mereka. Kalau boleh jujurpun, sebenarnya ini semua bukan keinginan mereka. Bahkan membaca pun merupakan kegiatan yang paling membosankan ketika kau harus menghadapi ribuan bahkan jutaan baris huruf yang membingungkan. Tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau mereka harus melakukan ini agar bisa mengakhiri semuanya.

“Apa kalian tidak bosan?” tanya seorang yeoja tiba-tiba. Ia mengulum sebuah permen karet di dalam mulutnya dan menaikkan kakinya di atas meja. Ia adalah satu-satunya murid yang paling berbeda. Walaupun ujian akhir akan di laksanakan besok sekalipun, ia mungkin tidak akan peduli.

“Su Ji-ya, apa kau tidak takut tidak lulus ujian?” jawab seorang temannya dengan heran. “Kau mau mengulang di kelas paling menyiksa ini?” tambahnya lagi.

Yeoja yang di panggil Su Ji itu hanya tersenyum kecil. Ia tahu semua ketakutan yang di alami oleh semua teman-temannya itu. Ujian akhir sekolah, yang menentukan nasib para pelajar setelah itu. Bukankah semua itu hanya omong kosong? “Apa dengan belajar seperti itu maka kalian akan lulus ujian dengan baik?”

“Walau tidak baik, tapi setidaknya kami bisa melewatinya.”

Su Ji menghela nafas pendek. Ya ia tahu pikirannya memang yang paling berbeda, bahkan begitu sulit untuk menyatukan pikirannya walau hanya dengan teman-teman satu kelasnya. Akhirnya ia memilih untuk memasukkan semua barang-barangnya yang berserakan di atas meja ke dalam tas ranselnya. “Keurae teman-teman. Aku harap, kalian tetap sehat dan dapat melewati ujian akhir nanti dengan baik!” ucapnya terakhir kali lalu membungkukkan badannya. Setelah itu ia berjalan ke luar kelas dengan santainya.

“Ya, apa dia sudah kehilangan otaknya?” cibir seorang yeoja bername tag Sung Hwa Mi sepeninggal Su Ji.

“Sudahlah, dia akan menjalani hidupnya sendiri. Biarkan saja, ayo belajar lagi!” kata temannya menenangkan. Kemudian mereka berdua kembali menekuri buku-buku mereka. Sebanyak mungkin mereka menelan ilmu-ilmu secara cepat, dan menyimpannya sebaik mungkin hingga sampai waktunya di keluarkan nanti.

Su Ji berjalan menyusuri lorong-lorong sekolahnya yang sudah mulai sepi sore itu. Ia mendengarkan musik melalui earphonenya sambil berdendang kecil. Tiba-tiba ia memikirkan tentang gosip keangkeran sekolahnya yang ia dengar satu minggu yang lalu. Tak lama kemudian, ia pun mencibir. Bagaimana mungkin hantu bisa datang ke sekolah? Memang semasa hidup mereka tak pernah bersekolah? Lucu sekali…

“YA! HWANG SU JI!”

Su Ji mengerem langkahnya secara mendadak begitu melihat Lee Jinki sonsaengnim yang sudah berdiri di depannya sekarang. Ya, Lee sonsaengnim memang masih muda, umurnya pun belum mencapai 30 tahun. Tapi ia terkenal sangat mengerikan diantara seantero guru di sekolahnya. “N… Ne?” ucap Su Ji berusaha menenangkan dirinya. Ia baru ingat, sekarang ia sedang bolos dalam mata pelajaran tambahannya. Aissh… harusnya tadi ia diam di kelas saja!

“Mau kemana kau?” tanyanya ketus.

“Mm… na? Oh, aku, aku mau ke toilet. Ya, toilet,” dusta Su Ji sambil menyeringai lebar.

“Bohong! Aku tidak percaya padamu.”

“Sonsaengnim…”

“Kau tahu apa hukuman yang pantas untuk murid pemalas sepertimu?”

“Cheosunghamnida. Keurae, aku akan kembali ke kelas…”

“Tidak perlu!” potong Lee sonsaengnim dengan galak. Kemudian ia menunjuk ke arah perpustakaan. Su Ji langsung melengos. Hukuman perpustakaan adalah hukuman yang paling mengerikan di antara semua hukuman yang ada di sekolah ini. Oh, andwae!

“Tapi Lee sonsaengnim….”

“Kau mau menambah hukumanmu?”

Su Ji tidak bisa membuka mulutnya lagi. Ia hanya mendesah pelan. Mungkin saat ini menerima hukuman adalah tindakan yang paling baik daripada harus menelan lebih banyak lagi hukuman dari Lee sonsaengnim. “Keurae…” jawab Su Ji lemah sambil berjalan ke dalam Perpustakaan.

“Hwang Su Ji, carilah bahan dari materi yang kuajarkan tadi. Lalu catat di bukumu dan tunjukkan padaku besok. Arasseo?”

“Arasseo, son…” ucap Su Ji yang bahkan terdengar seperti sebuah gumaman. Ia pun segera mencari buku matematika kelas tiga dan duduk di bangku perpustakaan yang masih kosong.

Su Ji memukul-mukul kepalanya dengan sebelah tangannya. “Pabo, jeongmal pabo Su Ji-ya! aissh…”

“Ssssstt…” desis seseorang. Su Ji langsung celingukan. Siapa yang berbicara? Padahal Perpustakaan sedang sepi begini.

Su Ji pun memeluk tubuhnya sendiri. Ia akui, ia merinding sekarang. Semua bulu romanya berdiri dan jantungnya berdegup cepat. Apakah ini karma karena ia meremehkan tentang hantu sekolah? Aigo… bagaimana ini? “Ya… jangan ganggu aku…” ucap Su Ji dengan suara bergetar.

“Aku bukan hantu seperti yang kau pikirkan, arasseo?” kata suara misterius itu lagi. Su Ji mencoba mencari namun ia tidak juga menemukannya. “Aku ada di balik rak buku yang ada di depanmu…”

Su Ji terkesiap. Benarkah? Apakah ia manusia? Oh, suaranya adalah suara namja. Tapi… bisa saja kan hantu menyamar?

“Kalau tidak percaya lihat saja aku.”

Su Ji menelan ludahnya. Baiklah, walaupun saat ini ia ketakutan setengah mati, tapi ia tidak mau membesar-besarkan ketakutannya lagi. Apalagi ia harus menyelesaikan tugasnya.

Dengan kaki gemetaran, ia pun berdiri dari tempatnya duduk. Pelan-pelan, ia menggerakkan kakinya yang bersepatu merah ke arah rak buku itu. Su Ji mencoba melirik namun ia tidak berhasil melihat apa-apa. Sampai… akhirnya ia berdiri di depan rak buku itu. Apakah ia harus melanjutkan langkahnya? Ne, harus!

Su Ji memejamkan matanya. Ia sungguh tidak siap kalau harus melihat sesuatu semacam itu sekarang. Dan… “AAAAAAAAAAAAHH!!!” teriaknya sekeras mungkin.

“Kau kenapa?”

Su Ji mengerutkan kening. Ia pun membuka matanya dan menghembuskan nafas leganya ketika melihat seorang namja yang sedang duduk bersandar pada rak. Namja itu melihatnya dengan tatapan aneh. Su Ji merutuk dalam hati. Namja ini memang tampan, tapi menyebalkan! “Sedang apa kau disini?”

“Kau sendiri?” tanya namja itu.

Su Ji mencibir. Bukannya ia yang bertanya duluan? Kenapa namja ini malah balik bertanya? “Sudahlah, aku tidak mau berurusan denganmu,” kata Su Ji lalu meninggalkan namja itu dan kembali ke tempatnya semula. Tak sengaja, matanya membaca sebuah nama yang tertera pada name tag di kemaja namja itu. Choi Minho.

Kedua mata bulat Minho masih memperhatikan seorang yeoja yang kini sedang sibuk dengan dua buku dan sebuah bolpoint yang terselip di antara jari-jarinya itu. Benar, ia sedang memperhatikan yeoja itu diam-diam. Apakah ia adalah yeoja yang selama ini dicarinya? Ne, ia telah menemukannya. Hwang Su Ji. Pasti itu namanya.

“Ya, apa kau sedang memperhatikanku huh?” kata Su Ji tiba-tiba.

Minho terkejut. Ia tak menduga kalau Su Ji akan memergokinya seperti ini. Aissh… sungguh memalukan! Sebelumnya ia tak pernah di buat malu oleh yeoja manapun. Dan hari ini, di depan seorang yeoja yang selalu mendapat peringkat terakhir di sekolah, ia telah di permalukan. Oh, sungguh malang!

“Ya, apakah kau sedang belajar juga?” tanya Su Ji sambil memperhatikan buku yang Minho bawa.

“Ne?”

“Oh, aku ingat! Kau Choi Minho kan? Yang selalu mendapat peringkat pertama di seluruh sekolah?” tebak Su Ji sambil menunjuk Minho dengan bolpointnya.

“Ne..”

“Ya, apa kau manusia satu kata? Kenapa dari tadi hanya berkata ‘ne’, ‘ne’?” ujar Su Ji sambil menirukan gaya Minho berbicara.

“Ah, ania…”

Su Ji merubah senyum di wajahnya menjadi sebuah garis lurus yang dibentuk oleh bibirnya. Membosankan. Ya, itulah kesan yang ia dapat dari seorang Choi Minho. Akhirnya ia memilih untuk menyelesaikan tugasnya saja, tadi itu hanya sedikit selingan.

Minho melihat Su Ji kembali sibuk dengan pekerjaannya. Ah, pasti yeoja itu menyerah berbicara dengannya. Minho tersenyum kecil. Bermain-main dengan Su Ji ternyata menyenangkan juga.

“Ah, akhirnya selesai!” seru Su Ji dua jam kemudian. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke udara. “Oh, sudah malam ya? Aigo…” gumam Su Ji lalu segera merapikan barang-barangnya dan beranjak dari tempatnya.

Minho memperhatikan Su Ji. Ia tersenyum. Yeoja itu begitu buru-buru, semakin menunjukkan kalau dirinya memang seorang yang ceroboh. Ah, Minho merasa ada hal yang begitu menggelikan hingga ia tak kuasa menahan tawanya.

“Ya, kenapa kau tertawa sendiri? Kau gila ya?” ucap Su Ji sebelum benar-benar meninggalkan Perpustakaan. Ia merasa heran pada namja itu.

“Oh, ani…” jawab Minho sekedarnya.

“Oh ya, apa kau akan tetap disini? Sudah malam, kau tidak takut?”

“Takut apa?”

Su Ji mendecakkan lidahnya. Entah Minho yang memang pemberani atau ia sendiri yang penakut. “Ya sudahlah, aku pergi dulu,” Su Ji pun langsung berlarian kecil meninggalkan Minho sendiri.

Minho bangkit dari duduknya. Ia berdiri agar bisa memperhatikan Su Ji dengan jelas. Yeoja itu tengah berlarian ke suatu tujuan. Entahlah, Minho memilih untuk tidak mempedulikannya. Ia memandang sebuah buku di tangannya. Kemudian, ia tersenyum. Benar juga, tidak seharusnya ia berada di Perpustakaan malam-malam begini, atau ia akan dipikir tidak normal karena terlalu pemberani. Minho pun meraih tas ranselnya yang tergeletak di lantai dan pergi dari tempat itu.

Su Ji langsung menghempaskan tubuhnya ke kasurnya yang empuk begitu ia sampai di rumah. Hari ini melelahkan sekali! Tadinya ia ingin pulang lebih awal agar bisa tidur, tapi kenapa malah sampai malam begini? “Aissh… ini semua gara-gara Lee sonsaengnim!” rutuknya kesal.

Ia pun mencoba memejamkan matanya. Tubuhnya terasa nyaris remuk sekarang. Ia sangat lelah dan penat. Ah.. andaikan ia bisa pergi ke suatu tempat, tempat dimana ia tidak di kenal orang lain, hidup dengan tenang… “Aigo, kenapa aku tidak pernah memikirkannya? Aku bisa pergi ke suatu tampat yang jauh dari Seoul kan?” gumamnya tiba-tiba. Sesaat kemudian senyumnya mengembang lebar.

“Apa? Kau akan pergi ke luar kota?” seru  Nyonya Geum Jin Ah, Eomma Su Ji. Ia menatap anak semata wayangnya itu dengan tatapan tidak meyakinkan. “Kau mau kemana Su Ji-ya?” tanyanya dengan volume di kecilkan.

“Jalan-jalan Eomma. Ayolah… aku ingin pergi,” mohon Su Ji sambil mengatupkan kedua tangannya.

“Kau tidak sadar? Dua bulan lagi kau akan menghadapi ujian akhir. Memang kau siap?”

Su Ji mengerucutkan bibirnya. Kenapa setiap orang bertanya seperti itu? Bukankah ini sangat menyiksa bagi semua orang yang berada di tingkat akhir dalam pendidikannya? “Eomma, aku hanya ingin istirahat. Sebentar saja kok, paling seminggu aku juga akan kembali.”

Nyonya Jin Ah menatap anaknya dengan khawatir. Lalu ia beralih menatap suaminya, Hwang Dong Joon yang malah asyik membaca bukunya. “Yeobo, kenapa kau diam saja huh? Anakmu akan melarikan diri, ara?”

“Biarkan saja…” jawab Tuan Dong Joon dengan enaknya tanpa mengalihkan matanya dari bacaan di depannya itu.

Senyum Su Ji langsung menyeringai lebar. “Benarkah Appa?”

“Mm.. asalkan kau tidak melarikan diri ketika ujian nanti. Kalau kau melakukannya, lihat saja apa yang akan kulakukan padamu!” ancam Tuan Dong Joon.

Wajah Su Ji semakin berbinar-binar. “Eomma, dengar kan? Appa mengizinkan,” ujar Su Ji sambil tersenyum penuh kemenangan.

Nyonya Jin Ah menatap Su Ji dan suaminya bergantian. Ia merasa anak dan suaminya ini memang tidak ada bedanya. “Aissh… terserah kalian lah! Tapi ingat, kalau terjadi apa-apa dengan sekolahmu, Eomma tidak akan bertanggung jawab. Ara?”

“Arasseo!” sahut Su Ji dengan penuh semangat.

Su Ji menggendong tas ransel berukuran lumayan besar di punggungnya. Dengan semangat ia mencari bus yang akan ia tumpangi. Ya, ia memang tidak punya tujuan. Makanya ia harus memilih bus.

“Ajhussi, bus mana yang memiliki tujuan terjauh?”

“Bus ini,” jawab Ajhussi itu sambil menunjuk sebuah bus di depannya. Su Ji pun memperhatikan bus di depannya. Tanpa mengucapkan terima kasih, ia pun menaiki bus tersebut.

Di dalam, Su Ji segera mencari kursi yang kosong. Ia tersenyum begitu melihat sebuah kursi yang ada di sebelah kiri. Ia pun mendudukinya.

Su Ji tersenyum sendiri. Membayangkan ia akan melarikan diri seperti ini benar-benar membuatnya bahagia. Ah… begitu menyenangkan jika bisa hidup sebebas ini!

Kemudian matanya mulai menyapu pemandangan di sekitarnya. Jujur saja, ini pertama kalinya ia menaiki bus dengan tujuan yang sangat jauh. Apalagi ia sendirian. Tapi baguslah, memang ini kan tujuannya dari awal.

“Kau?”

Su Ji mengerutkan keningnya. Kemudian ia menoleh ke arah samping. Kedua matanya pun langsung terbelalak lebar begitu melihat sesosok namja yang sangat ia kenal. “Kau? Kenapa kau bisa ada disini? Kau mengikutiku ya” tanyanya bertubi-tubi.

Namja berjaket biru tua yang tak lain dan tak bukan adalah Choi Minho itu malah menatap Su Ji dengan tatapan aneh. “Kenapa aku harus mengikutimu? Tidak penting sekali!” jawabnya acuh tak acuh. “Kau sendiri? Mau apa kau disini?”

“Bukan urusanmu!”

Minho menyunggingkan sebuah senyum sinis. “Keurae keurom.”

Su Ji memakan cokelat di tangannya sambil memperhatikan pemandangan laut dari jendela bus di sekelilingnya. Angin berhembus lembut melewati celah jendela yang terbuka. Ah, ia merasa seperti di surga. Kapan-kapan kalau ia sempat, ia berniat akan mengajak Eomma dan Appanya ke tempat ini.

Diam-diam Minho memperhatikan yeoja itu. Sebenarnya, jika ia memiki semacam kemampuan untuk membaca pikiran orang lain, maka pikiran yang pertama kali ingin dibacanya adalah pikiran Su Ji. Ia tidak tahu apa saja yang ada di pikirannya, Su Ji terlalu berbeda dengan murid-murid sekolah pada umumnya. Bahkan mungkin saja Su Ji tidak punya pandangan untuk masa depannya. “Apa kau masih bersekolah di SMU Chung-Dam?” tanya Minho tanpa berpikir terlebih dahulu. Kata-kata itu seolah keluar begitu saja dari mulutnya.

Su Ji membalikkan kepalanya dan menatapnya heran. “Memang kenapa?”

“Aku hanya bertanya?” balas Minho. Ia masih melihat Su Ji, seperti menagih jawaban Su Ji sekarang juga.

“Tentu saja aku masih,” jawab Su Ji dan memakan cokelatnya lagi.

“Kulihat kau benar-benar tidak peduli dengan sekolah,” ujar Minho lagi. Ia benar-benar mengungkapkan apa saja yang ada di pikirannya.

“Apa urusannya denganmu?”

“Tidak ada.”

“Ya sudah.”

“Kau tidak takut dengan ujian akhir itu?”

“Memang ujian akhir adalah seonggok hantu yang perlu ditakuti?”

Minho tersenyum kecil. Ternyata Su Ji jauh lebih bodoh dari yang ia kira. Bagaimana bisa ia menggabungkan kata ‘seonggok’ dengan ‘hantu’? “Apa kau mempunyai seorang kekasih?”

Su Ji menatap Minho dengan sinis. Atas tujuan apa namja itu bertanya seperti itu? Lancang sekali! “Kenapa kalau aku punya atau tidak. Apa berpengaruh pada kehidupanmu?”

“Bukan aku, tapi seseorang yang lain,” jawab Minho dengan tenang.

“Nugu?”

PRAAAANGGG!!!

Baik Minho maupun Su Ji sama-sama menengok ke depan. Dan kedua mata mereka langsung terbelalak lebar. Kaca depan bus tersebut sudah pecah dan kini giliran bus mereka yang bergerak tak karuan. Oleng ke kanan dan ki kiri, membuat kepanikan langsung terdengar di seluruh ruang sempit bus ini.

“Apa yang terjadi?” seru Su Ji panik. Ia belum sepenuhnya bisa mempercayai tentang apa yang terjadi di depan matanya. Pecahan kaca, teriakan orang-orang dan ketika tubuhnya harus menahan goncangan yang kuat agar ia tidak terlempar kesana kemari.

“Kita mengalami kecelakaan, Hwang Su Ji,” jawab Minho sambil berpegangan pada puncak kursi Su Ji. Kemudian matanya menatap kedua mata Su Ji saat yeoja itu juga melakukan hal yang sama.

Su Ji menatap Minho dengan tatapan bingung sekaligus takut. Ia tidak tahu apa yang harus di katakannya sekarang. Dan ia juga tidak tahu kalau ternyata Minho sudah tahu namanya. Bahkan nama lengkapnya.

“TOLOOONG!!!”

Su Ji kembali melihat ke depan dan ketika itu tepat sebuah koper besar melayang ke arahnya. Su Ji membelalakkan matanya lebar.

Set! Dengan sigap Minho menarik tubuh Su Ji sehingga yeoja itu aman dari serangan koper besar itu. Minho menyadari kalau yeoja yang sekarang ada di dekapannya ini ketakutan, sangat ketakutan. Wajahnya pucat dan seluruh tubuhnya gemetaran. “Gwaenchana?” tanya Minho cemas.

Su Ji hanya mengangguk pelan. Ia melihat tangan kekar Minho tengah memeluk badannya yang kecil dan lemah ini. Entahlah sedetik kemudian ia merasa sesuatu yang besar telah terjadi. Bus yang ia tumpangi sekarang semakin tak terkendali dan teriakan semakin terdengar ricuh.

CIIIT… PRAAANGG!!!

Su Ji merasa ia semakin sulit bernafas. Ia sudah jatuh terlentang. Namun matanya masih terbuka meskipun mulai terasa berat. Ia merasakan sebuah cairan dingin nan kental mengalir di pelipisnya. Juga ia mulai mencium bau anyir di sekitarnya. Su Ji berusaha keras mempertahankan kesadarannya sekarang, ia tidak mau pingsan apalagi mati. Kepalanya memang terasa sangat sakit bahkan mungkin sudah pecah sekarang. Ia melihat ke samping, semua orang sudah kehilangan kesadarannya. Mereka semua terpejam dengan darah mengalir dari tubuh masing-masing. Termasuk, seseorang yang menindih tubuhnya saat ini. Tubuh yang bahkan masih memeluknya.

Air mata Su Ji mulai merebak pelan. Sekarang ia melihat tangannya sudah berlumuran darah ketika tangannya menyentuh bagian belakang kepala Minho. Ya, darah yang sangat banyak karena baunya juga sangat menyengat. Su Ji sangat ingin berteriak, namun ia tak sanggup. Ia benar-benar merasa nyawanya berada di tingkat paling berbahaya dalam hidupya, ia tidak mau mati sekarang. Ia ingin hidup. Ia belum siap kalau harus meninggalkan dunia secepat ini. Tapi… kenapa mendadak semuanya menjadi gelap? Apakah ia harus merelakan semuanya? Semuanya walaupun ia tidak pernah mempunyai harapan dan hidupnya memang tak berguna…

TO BE CONTINUED…

J Ottohke ottohke? Suka nggak? Terlalu aneh? Atau bagaimana? Ternyata Minho jadi hantunya next chapter ya… Hehe, tungguin aja, ntar apa aja yang bakal Minho lakukan untuk bisa melakukan misinya.

J Terus mana Key? Dan kenapa Minho seperti mengintai Su Ji? Hehe… tentu ada hubungannya dari keduanya. Bisa menebak? Omo, you’re so smart! Kekeke… jangan lupa commentnya!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

41 thoughts on “A Ghost Inside Me – Part 1”

  1. Minho bakalan jadi hantu? Keren! Keren! Keren! Kalau Minho benar-benar mengintai Su Ji, jangan bilang perjalanan di bus itu dia memang mengikuti Su Ji.
    Nice story. Lanjut!

  2. It adegan Minho memeluk ngelindungin Suji biar selamat,, aaa~
    #plak*apacoba?? –”

    ini kurang panjang, thor. Next part panjangin ne? 😀

  3. sameee, ini kurang panjang thor #PLAKKKKKKK
    ANAAHHHH kenapa kecelakaan coba??? *ngapasih Ren ngehebring mulu*
    Hiyahhh udah lama ga baca FF Minho yang kayak gini… akhirnya ada juga… *sujud syukur* well…. firasatku mengatakan.. ah… lagi susah nih T^T *apaa coba*

    HIYAHH THOR DIRIMU SUKSES MEMBUAT DIRIKU PENASARAN OH MAII #plakk
    LANJUT LANJUT LANJUTTTT XDD

    1. waduuuhh… author jadi ketakutan ni liat capslock kamu? wkwkwkw =D

      o ya? berarti penantianmu berakhir nak, hehe…
      =D
      iya ntar dipanjangin sampe ke seoul deh

  4. wah seru,, entah kenapa pirasatku bilang kalaw si minho itu sahabatnya si key ya?? trus karena si key suka su ji,, si minho mengintai si su ji mau ngejodohin dia ke si key, hehe so tau ku kumat mian kalaw salah, ah tp masih tetep penasaran ko part selanjutnya, aku tunggu ya!

  5. bgus thor.. tp krg pnjg..
    aq jg bingung dgn pemikiran su ji. tkoh yg ga ada tujuan hdup..
    ceritanya masi teka-teki nih. haha xD

    1. hahaha… karakter Su Ji emang begitu, kalo Su Ji ada tujuan hidup kaya Minho, ga bakal jadi deh cerita ini 🙂

      hehe… kaya main TTS aja?

  6. Hi author sblmnya kita knalan dulu yaa ^^/
    Mahda imnida~ 😀

    Ahh to be continued muncul disaat yg tdk tepat!! Minho bkalan mati kah? Trs mreka emgnya bkalan kmana itu? Minho jg ktanya anak pinter seskolahan tp kok malah bolos? Bnyak tekateki nih author!!

    A-yo lnjutannya di tungguuuu~ 😀

    1. wkwkwk nw, ara imnida… 🙂

      minho mati gak ya? kekkekekeke…
      ya minho kan gaul jadi suka bolos, wkwkwk… 🙂

  7. Dan aku yakin suji bisa jadi gambaran / cerminan KEBANYAKAN remaja jaman sekarang (pengalaman di sekolahku)
    aku suka bahasanya, rapi 🙂
    jadi minho mati gitu? T.T
    dan soal ketidakhadiran key di sini ga perlu ditanyalah, menurutku biasa sebuah ff memunculkan karakternya ga langsung 🙂

    AH POKOKNYA DAEBAK LHA *caps jebol*
    kekekeke part 2 ditunggu 🙂 semangaat!

  8. Minho jadi hantunya??? Penasaran,,, kecelekaan?? Itu busnya kenapa tiba-tiba oleng? Nabrak atau gimana??

    Ternyata gadis itu lebih bodoh dari yg dia perkiraan, menggabungkan kata ‘seonggok’ dan ‘hantu’,, kalimat ini tiba2 membuatku tertawa sendiri,,,hahaha

    gimana selanjutnya? Trs bagaimana Minho bisa jadi hantu?? Saya tunggu kelanjutannya,,,

    1. kenapa ya? alasannya bisa kamu temukan di part-part ending 😉

      hahaha… hwang su ji jeongmal pabo!

      oke, tungguin yaa… 🙂

  9. huwaaa sukaaa… minho misterius bgt disinii…
    sujin benar2 org yg tidak peduli .. aahahah
    penasaraaan apa misi minho sebenernyaa??
    huwaa kasian bgt minho, rela berkorban .. >,<
    ayoo lanjutannya …
    good ff thor .. gomawo . ^^

  10. aku awalnya ngira kalau minho itu hantu… ternyata bukan ya????
    trus kenapa minho bisa ketemu di bus sama suji????
    kebetulan yg sangat aneh menurut ku…

  11. Masih belom nangkep.
    Hehe
    tp penasaran, Key kyk apa di sini, trs, gmn jadinya qlo ada hantu secakep Minho..
    Kekekeke.
    *terbang ke next part*

  12. Mungkin terlambat jauhh buat komen, soalnya aku juga baru mulai membaca ff, tapi ini kerrenn,,,makasihhh thorr udah bikin aku penasaran sama ceritanya,, walau udah complete tetep aja penasaran sama chap selanjutnya, ,tapi sayang kalau bacanya loncat2,,

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s