Hard, But Still Funny – Part 8

Hard, But Still Funny

Main Cast        : Lee Taemin, Seo Rachan, Lee Sungmin (Super Junior)

Author             : Seo

Genre              : Sequel, Romance

PG                    : 15

Part 8

Rachan POV o———

Makanannya sebentar lagi habis dan dia akan meminum Banana Milknya. Sengaja aku buat, aku masih merasa bersalah padanya atas kejadian sore tadi. Dari raut wajahnya juga dia merasa tersinggung. Aish~ neon paboya, Seo Rachan.

“Apa ini?” Taemin mengangkat gelas yang berisi Banana Milk.

“Itu.. Banana Milk, Tuan..” jawab Youngshik Ahjussi.

“Banana Milk?” Mata Taemin mengarah padaku sekarang. Dia pasti tahu aku yang membuatnya. Tempo hari aku pernah membelikanya Banana Milk. Aku hanya tersenyum memperlihatkan gigiku. Ekspresinya tetap tak berubah. Ahh~ dia pasti marah padaku…

Taemin menyedot sedotan dari gelas itu. Kalau Taemin tidak suka Banana Milknya, ini akan menjadi tambah gawat. Sudah membuatnya marah, membuatkan minuman yang rasanya aneh pula. Seketika senyuman kecil muncul di wajahnya.

“Gomawo, Rachan-ah..” ujarnya padaku tanpa menatapku. Tapi setidaknya dia menyukai Banana Milknya. Syukurlah~

==========

Aku dan beberapa pelayan lainnya membersihkan meja makan. Kulihat gelas Banana Milk yang sudah habis diminum oleh Taemin. Syukurlah Tuhan… dia menyukainya…

“Hey! Kenapa senyum – senyum sendiri,huh?” Jungmi datang merangkulku lalu melirik ke gelas itu juga.

“Oo.. sepertinya aku tahu..”

“Tahu apa?” tanyaku.

“Hey, kalian.. teman kita sedang jatuh cinta~” seru Jungmi sambil menunjuk gelas hingga membuat para pelayan yang ada disana ikut mendengar dan melihat.

“Ya! Jangan asal bicara! Aku tak mungkin menyukainya.. sifatnya keterlaluan begitu.” Belaku.

“Hati-hati, Rachan-ah.. perasaanmu bisa berubah padanya..” Jungmi menepuk bahuku dan pergi. Kini beberapa pelayan menatapku semua. Lebih baik aku ke kamar mandi saja.

Taemin-ah.. kau masih marah padaku,ya? Aku jadi tidak enak padanya. Aku harus membuatnya memaafkanku. Eotteoke?

==========

Keesokan harinya….

Hari ini aku akan mengajak Taemin pergi. Jalan-jalan kemanaaaa~ saja. Hari ini ‘kan dia libur. Tapi tempat yang sudah pasti, aku akan mengajaknya pergi ke Sungai Han.

“Taemin-ah.. kau sedang kosong hari ini ‘kan?” tanyaku.

Taemin masih sibuk dengan ponselnya. Sebenarnya apa sih yang dia lakukan dengan ponsel itu?

“Taemin-ah..”

“Ne. Kosong.” Jawabnya.

“Kalau begitu, ayo!”aku segera menarik tangannya keluar rumah. Dia diam saja dan menurut.

“Ada apa?” Tanya Taemin.

“Sudah, kau ikut saja. Nanti kau juga tahu.”

Aku menariknya ke rumah temanku, Kim Kibum atau biasa dianggil Key karena dia lebih suka dipanggil seperti itu. Rumahnya berada di apertemen, dia temanku sewaktu SMA. Aku memencet bel apartemennya kemudian pintu terbuka dan munculah orang yang dicari.

“Rachan-ssi? Ada apa kesini?” Tanya Key dengan mata yang setengah terbuka. Sebenarnya dia terlihat tidak membuka matanya karena matanya yang sipit dan dia hanya membuka setangah matanya. Pasti baru bangun tidur.

“Key-ah, boleh aku meminjam bajumu?” pintaku. Lalu Key melihat kearah Taemin dariujung kaki sampai ujung rambut. Lalu dia menunjuk kearah Taemin.

“Sudah, aku pinjam saja.. nanti akan kukembalikan.. na yaksokhae..”

“Arasseo. Masuklah. Ambil saja di lemari. Aku masih mengantuk..” Key mempersilahkan kami masuk. Aku langsung masuk ke lemari besarnya dan memilih – milih baju. Sedangkan Taemin menunggu di ruang tamu sambil melihat sekeliling ruangan. Pasti dia sedang bergumam betapa berantakannya apartemen ini. Key yang sadar Taemin sedang memperhatikan apartemennya kemudian duduk disebelahnya.

“Yeojaku yang membuat apartemen ini kacau. Kalian datang tanpa memberi tahuku. Aku jadi tak sempat beres-beres..”

“Yeojamu?” tanya Taemin. Key mengangguk.

“Kalian mau minum apa?” tanya Key.

“Tidak usah. Kami hanya ingin meminjam bajumu..” jawabku yang masih memilah – milih baju.

“Ah, ini dia. Taemin-ah.. bagaimana kalau yang ini?” tanyaku. Wajah Taemin sedari tadi yang sudah bingung semakin bingung.

“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan.. kau tak mungkin jalan-jalan dengan tuxedo itu seperti pergi ke pesta saja. Makanya aku meminjam baju santai agar kau bisa memakainya. Sekarang aku tanya, bagaimana kalau yang ini?” aku menunjukan baju yang kumaksud. Tapi wajahnya masih terlihat bingung.

“Aku anggap itu iya.” Ujarku. Key tertawa melihat tingkah kami.

“Yeojamu membuat apartemen ini kacau?” tanya Taemin pada Key. Ada petir apa Taemin menanyakan hal itu?

“Jankamman! Aku tahu. Pasti kalian bertengkar karena kau tertangkap basah bersama yeoja lain,kan?” tebakku.

“Bingo!” seru Key.

“Dari dulu kau tak berubah. Dasar playboy..” Key terkekeh kemudian melihat sorot mata Taemin yang bingung.

“Jangan kaget kalau aku seorang playboy. Aku ‘kan ‘Almighty Key’! Tidak usah bingung seperti itu. Aku bisa mengajarimu menjadi seorang playboy kalau kau mau.” Ujar Key pada Taemin. Aku melempar baju yang kupegang ke wajahnya.

“Diam, kau!”

“Aku tidak bingung karena kau seorang playboy.” Ujar Taemin. Key menaikan sebelah alisnya.

“Hanya saja kau itu terlihat cantik. Makanya kukira kau yeoja. Ternyata kau seorang namja.” Lanjut Taemin polos.

“Hahaha~!!! Makan itu, Kim Kibum! Sudah, Taemin pakai baju ini.” Taemin segera mengambil bajunya dan pergi ke kamar mandi. Sedangkan Key memasang wajah cemberut dan mengerucutkan bibirnya dan aku masih sibuk tertawa sambil menahan perutku yang sakit.

“Berhenti tertawa, Seo Rachan!” aku menahan tawaku.

“Bocah itu polos sekali,sih? Tadi siapa namanya? Taemin?” tanya Key. Aku mengangguk,”Lee Taemin.”

“Lee Taemin.. dasar bocah polos..” aku melepas tawaku lagi. Key membari tatapan lasernya dan saat itu juga aku diam. Taemin pun keluar dari kamar mandi dengan baju yang sudah diganti.

“Kalian mau kencan,ya?” tanya Key.

“Mwo? Ani.” Jawabku.

“Kalian terlihat seperti sepansang kekasih.”

“Bukan!!” seruku dan Taemin bersamaan. Key tertawa.

“Sayang sekali, padahal kalian cocok sekali jika menjadi sepasang kekasih.”

Krik, krik, krik…

“Kau tidak lucu…” ujar Taemin. Aku menjulurkan lidahku pada Key.

“Sudah, Key. Kami pergi dulu. Annyeong…”

“Iya, iya. Sudah sana pergi! Jangan membuat bad moodku bertambah…” usir Key. Aku dan Taemin pun keluar dari apartemennya dan berjalan menuju halte menunggu bus datang.

Keheningan. Itulah yang sedang terjadi saat ini. Huh.. mati kau Seo Rachan. Sekarang kau jadi pembuat masalah! Taemin terus-terusan memandang ke jalan raya melihat kesibukkan kota Seoul.

Bus pun akhirnya datang. Aku meraih tangan Taemin agar tetap bersamaku. Tentu saja, Taemin itu pergi kemana-mana menggunakan mobil, tidak tahu jalan, bisa-bisa dia hilang kalau aku tidak terus mengawasinya.

Aku mengajaknya duduk di tempat paling belakang. Kubuka jendelanya selebar mungkin. Ah.. menyenangkan sekali… rambut sebahuku yang sudah mulai panjang pun terkena hembusan angin. Seketika aku merasaada yang menyentuh rambutku. Taemin! Apa yang dia lakukan?

“Rambutmu menghalangi mataku. Seharusnya kau ikat rambutmu.” Ujar Taemin dingin.

“Oh,iya… mianhae..”

“Tumben kau tidak protes. Biasanya kau langsung cerewet jika aku sudah mengkritikmu.

“Aku tidak mau berdebat denganmu. Aku tidak mau membuat kau marah hari ini.” Ujarku. Taemin menatap ke arahku. “Wae?”

“Aku sudah membuatmu marah kemarin. Karena kata-kataku aku jadi merasa tidak enak padamu. Aku merasa sangat bersalah. Makanya aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Anggap ini sebagai permintaan maafku.”

Taemin merangkulku dan berkata,”Sudahlah, aku malas membicarakan kemarin. Kau mau mengajakku jalan-jalan? Berarti kau mentraktirku,ya?”

“Enak saja! Shireo!” tolakku.

“Ya! Katanya kau mau minta maaf padaku?”

“Aish~ neo jeongmal….”

“Hehe…” Taemin mengeratkan rangkulannya padaku. Eh,, sebentar. dia merangkulku.. oh Tuhan… kenapa jantungku berdetak tak karuan.. tenang Seo Rachan, tenang… tarik napas, hembuskan… tarik napas, hembuskan…

“Kau kenapa sih? Diamlah… bahumu naik-turun seperti itu. Ada apa sih?” tanya Taemin.

“Ani, tidak ada apa-apa.”

==========

Taemin POV o———

Kenapa Seo Rachan? Kau tidak tenang? Apakah jantungmu sedang berdegup kencang? Kalau itu yang kau rasakan, maka aku juga merasakannya. Aku tak akan membohongi perasaanku lagi. Geurae, aku memang menyukainya. Neol saranghae… jeongmal, jeongmal saranghae..

“Ani, tidak apa-apa.” Itulah jawabannya ketika aku bertanya padanya.

Tidak apa-apa? Jangan bercanda Seo Rachan.. akan kubuktikan bahwa kau juga merasakan apa yang kurasakan.

==========

Taemin POV o———

Kami turun dari bus. Kalian tahu? Tanganku masih menggantung di pundaknya menurutku posisi seperti ini nyaman-nyaman saja.

“Kau mau mengajakku kemana?” tanyaku.

“Belum pasti,sih… hm,, bagaimana kalau ke Lotte World? Kau pernah kesana?” Lotte World? Aku pernah mendengarnya. Tapi belum pernah pergi kesana. Ne, dengan alasan yang sudah pasti. Aku menggeleng.

“Kalau begitu, ayo kita kesana. Setelah itu kita makan siang di Bapthol’s, pergi ke Namsan Tower, setelah itu Sungai Han. Eotte?” tanyanya.

“Sungai Han? Baiklah.. ingat,ya.. kau yang traktir.” Ujarku. Dia pun memberi tatapan sinis dan berjalan mendahuluiku. Aku pun berjalan di belakangnya sambil terkikik pelan.

Rachan menantangku menaiki roller coaster. Baik. Aku tidak takut. Aku pernah menaiki roller coaster. Tentunya sudah lama sekali. 5 tahun yang lalu, bersama Sanyoung. Sudha seperti apa Sanyoung itu sekarang. Sepertinya dia bersama namja kaya raya yang lebih normal dariku. Geurae.. sebenarnya aku tahu, Sanyoung mengejarku hanya karena harta, uang, dan sebagainya. Aku tak habis pikir bagaimana anak berumur 15 tahun bisa berpikir seperti itu. Kalau dia memang butuh uang, dia bisa minta tolong,kan? Yah,, tapi bodohnya aku, aku tidak peduli dengan semua itu. Cinta itu buta. Aku tak peduli kalau Sanyoung memanfaatkanku, tapi begitu Sanyoung ingin berpisah dariku aku menyesal, seharusnya aku menolaknya dari awal. Harusnya aku yang ingin berpisah, bukan dia.

Aku melirik Rachan yang sedang mempersiapkan diri untuk menaiki roller coaster. Sudahlah, Lee Taemin. Kini disebelahmu ada Seo Rachan. Dia jauh lebih baik dari siapapun. Jauh lebih baik dari Sanyoung.

“Kau tegang?” tanyaku jahil. Dia melirikku sinis.

“Sudah, diam saja. Dasar menyebalkan.” Balasnya. Tawaku membuat pipinya menggembung.

Roaller coaster mulai berjalan. Aku kembali melirik Rachan. Terlihat dia sedang mengatur napasnya. Tarik, hembuskan.. tarik, hembuskan.. Haha.. tingkahnya lucu sekali.

“Oppa, aku takut…” suara seorang yeoja dari belakang mengalihkan perhatianku. Kualihkan mataku kebelakang. Mwo? Han Sanyoung?

Yeoja dibelakangku juga ikut melihatku. Wajahnya kaget melihatku, “Lee.. Taemin?” lirihnya namun masih terdengar jelas olehku. Lalu seseorang mengarahkan kepalaku kembali ke depan.

“Hey, sebentar lagi kita akan meluncur. Kalau kepalamu menghadap kebelakang bisa putus nantinya tahu.” Rachan menegurku. Aku tak bergeming. Sanyoung ada di belakangku sekarang. Refleks aku melirik Rachan. Lalu menggenggam tangannya kuat. Seketika mata kami pun bertemu.

“Kalau kau takut eratkan saja tanganmu. Aku tidak mau selesai menaiki ini kau ngompol.”

“Ya! Lee Taemin, kau.. KYAAA~!!!!” ucapannya terpotong karena kami sudah meluncur. Tak kusangka roller caosternya keras sekali. Sepertinya perbedaan tahun menyebabkan kecepatan roller coaster juga bertambah. Rambutku pun ditebsa angin. Tapi aku belum apa-apa dibandingkan Rachan. Sepertinya dia lupa mengikat rambutnya. Walau rambutnya hanya sebahu, tapi seiring berjalannya waktu rambutnya makin memanjang. Sebantar lagi rambutnya hampir menjangkau setengah sikutnya. Kurasakan juga Rachan mengeratkan tangannya. Benar, kan dia takut.

“Aaaaaa!!!!!!” terdengar dari segala arah. Belakang, juga samping. Depan? Haha. Kami ada dibangku terdepan. Dia yang menantang. Ya,sudah lagipula aku sudha lama tidak naik roller coaster.

Putaran pertama, sudah selesai. Kini putaran kedua, putaran terakhir. Rachan mengatur napasnya dan merapihkan rambutnya yang acak-acakan.

“Dasar penakut..” ledekku. Dia melirikku sinis.

“Kau kan juga ikut teriak tadi. Bwekk!!” dia menjulurkan lidahnya.

“Tapi tidak cempreng sepertimu! Suaramu terdengar lebih cempreng dari siapapun!”

“Tentu saja! Aku kan disebelahmu. Jadi bagimu aku yang paling terdengar.”

Dan yang paling berarti, Seo Rachan…

“Ah, sudahlah. Sebentar lagi kita akan meluncur kembali untuk kedua kalinya. Kali ini bersiap-siaplah teriakanmu kembali cempreng..” ledekku sambil kembali menggenggam tangannya.

“Hey, kau ini ya, selalu saja…. HUWWWAAA~~~!!!!”

“HUWWWAAA~~~!!!!”

==========

Kami turun dari roller coaster. Rachan, si pabo itu hampir jatuh karena masih sedikit pusing. Tak lama seorang yeoja dan namja menghampiri kami.

“Lee Taemin? Lama tidak bertemu…” ujar seorang yeoja. Aku mendongak. Han Sanyoung..

“Bagaimana kalau kita duduk smabil berbincang? Aku ingin mendengar kabarmu sekarang.” Ujarnys sambil tersenyum anggun. Ya, aku akui dia memang cantik dan anggun. Tapi itu semua hanya sebuah topeng.

“Kau juga bisa membawanya.” Han Sanyoung melirik ke arah Rachan.

“Na?” tanya Rachan. Sanyoung mengangguk, “Aku akan mentraktir kalian.”

“Baiklah.” Jawabku. Lalu kami berempat – aku,Rachan,Sanyoung,dan namja yang dibawanya – duduk disebuah kafe dekat roller coaster yang kami naiki barusan.

“Sanyoung-ah, aku harus pergi sekarang.” Sanyoung mengangguk lalu namja itupun pergi meninggalkan kami bertiga.

“Kalian mau pesan apa?” tanya Sanyoung.

“Taemin?” tanya Rachan. “Terserah kau.” Jawabku. Lalu Rachan tersenyum mantap.

“Banana Milk..” aku melotot ke arahnya sedangkan dia tersenyum – senyum sendiri. Dasar gila…

“Banana Milk? Arasseo.. “ Sanyoung menganggukan kepalanya. Terlihat dia juga senyum-senyum tidak jeas seperti Rachan. Ada apa sih dengan para yeoja ini. Sepertinya senang sekali membuatku bad mood.

“Taemin-ah, sejak kapan kau suka Banana Milk?” tanya Sanyoung. Aku diam saja. Tak berniat menjawab sama sekali. Rachan yang disebelahku tertawa pelan.

“Bukan urusanmu.” Jawabku datar.

“Wah.. kau masih marah padaku atas kejadian 5 tahun lalu..” Sanyoung menopang dagunya.

“Eh?” Rachan yang tidak mengerti pembicaraan ini terlihat bingung. Sanyoung tersenyum kearahnya.

“Annyeong, Jega Han Sanyoung imnida.” Dia mengulurkan tangannya pada Rachan. Rachan terlihat kaget mendengar namanya “Han.. Han Sanyoung?”

“Jega Seo Rachan imnida. Bangapseumnida..”

“Namamu lucu sekali. Kau yeojachingu Taemin?” tanyanya.

“Eh?”

“Ne, dia yeojachinguku.” Ujarku duluan sambil menggenggam tangan Rachan didepannya. Rachan tampak kegat dengan apa yang kukatakan barusan.

“Hm.. pantas saja.. Seo Rachan memang mempunyai wajah yang lucu. Juga sopan. Taemin pasti menyukainya.” Rachan tersipu dipuji olehnya. Aku mendecak lidah. Dasar sok tahu. Aku memang menyukainya, tapi bukan karena itu. tidak seperti aku menyukaimu dulu.

“Namja tadi, itu siapa?” Rachan membuka suara.

“Dia oppaku. Dia jahat sekali, meninggalkan yeodongsaengnya sendirian disini. Untung ada kalian yang menemaniku ngobrol.”lalu Sanyoung melirik tangan kami.

“Kalian tidak punya cincin? Bukankah kalian sepasang kekasih?” tanyanya.

“Kami pasangan baru. Lagipula kami tidak mambutuhkan cincin.” Ujar Rachan. Sepertinya Rachan sudah menangkap semuanya. Sudah memahami apa yang terjadi.

“Haha.. iya. Tanpa cincin saja kalian sudah seperti sepasang kekasih. Taemin-ah, kau terlihat berbeda. Dulu kau cerewet sekali. Sekarang kalau sangat pediam. Juga bajumu, biasanya kau memakai tuxedo putihmu. Kau kemana ‘kan?” tanya Sanyoung bertubi-tubi.

“Aku tidka mau bermewah-mewahan sepertimu.” Ujarku. Dia pun terkekeh pelan.

“Aku bukan bermewah-mewahan, Lee Taemin. Kau tahu sendiri aku suka yang elegant.” Ujarnya santai. “Rachan-ya, bagaimana menurutmu tentang Lee Taemin? Aku minta jawaban jujur.” Tanya Sanyoung. Rachan berpikir sebentar.

“Dia… menyebalkan. Cerewet, tukang marah-marah,selalu mengejekku, suka bertindak seenaknya. Pokoknya menyebalkan.” Aku melotot ke arahnya. Rachan melirikku sebentar lalu kembali menghadap Sanyoung.

“Mwo? Lalu kenapa kau mau menjadi yeojachingu Taemin?” tanyanya.

“Karena aku suka ketika dia memarahiku, ketika dia cerewet padaku. Itu artinya dia perhatian padaku. Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padaku.” Aku tertegun mendengar jawabannya. Apa dia mengatakan yang sejujurnya, atau hanya skenario untuk berhadapan dengan Sanyoung?

“Wah.. romantis sekali. Kau beruntung mempunyai Seo Rachan, Taemin-ah..”

“Ne, aku beruntung mempunyai yeoja yang menerima kekuranganku.” Sindirku. Sanyoung kembali tersenyum.

“Jangan terlalu membenciku, Lee Taemin. Lama-lama kau bisa kembali menyukaiku. Ups.. maaf.. aku lupa ada Seo Rachan disini.”

“Coba saja kalau berani, Han Sanyoung. Aku percaya Taemin tidak akan kembali padamu. Bukannya aku sendiri tidak amu bersamanya? Aku percaya Taemin akan terus bersamaku.” Ujar Rachan mantap. Aku mesih menatapnya. Terlihat Han Sanyoung mati kata.

“Aku tak mungkin masuk ke jurang yang sama, Han Sanyoung.” Tambahku.

“Kaja, Jagi-ya. Kita pergi.” Aku menarik tangan Rachan pergi dari meja itu.

“Taemin-ah.. tapi minumannya baru datang..” Rachan menyenggol sikutku setelah 3 langkah kami berjalan dari meja. Aku kembali ke meja tadi dan mengambil dua botol Banana Milk.

“Terima kasih sudah mentraktir kami. Kuharap kau tidak muncul lagi dihadapanku dan Rachan. Karena aku berani bersumpah. Aku memang benar-benar menyayanginya, Han Sanyoung. Annyeonghi..”

“Jangan terlalu percaya diri, Taemin-ssi. Kau bukan namja tipeku. Selain namja yang punya harta, namja itu juga harus normal. Arasseo?”

“Baiklah. Kalau begitu jangan tunjukan rupamu lagi.”

“Kalau itu maumu. Baiklah.”

==========

Taemin POV o———

“Tadi itu, Han Sanyoung.. manta yeojachingumu ‘kan?” tanya Rachan sambil menyedot Banana Milknya. Aku mengangguk malas.

“Jangan bicarakan dia lagi. Tapi kau ini. Masa menjelek-jelekan aku didepan orang lain. Bilang aku ini cerewetlah, seenaknyalah.. memang aku tampak seperti itu?”

“Memang begitu kok, tapi ‘kan aku sudah rela pura-pura jadi yeojachingumu di hadapan Sanyoung agar kau mau memaafkanku. Lagipula ujung-ujungnya aku menang perang mulutnya, kan? Soal perang mulut ini serahkan pada yeoja.” Bela Rachan sambil menunjuk dirinya.

“Jadi kita sekarang mau apa?” tanyaku.

“Mau apa? Tentu saja main lagi. Naik apa, ya?” Rachan melihat sekeliling.

“Ah! Bagaimana kalau bungee jumping? Sepertinya asik..” ujar Rachan.

“Kau ini dari tadi. Tadi kau ingin naik roller coaster, sekarang bungee jumping. Lama-lama jantungku bisa copot gara-gara naik itu!” omelku. Rachan mendecak lidah.

“Bilang saja kau takut..”

“Aku tidak takut! Yang kutakutkan adalah kalau kau nanti naik bungee jumping, saat kau melompat ke atas kau tak balik lagi ke bawah. Siapa yang tahu kau ternyata nyangkut di pesawat ‘kan? Kalau begitu nanti aku yang disuruh tanggung jawab karena aku dikira namjachingumu. Lalu nanti aku harus bilang apa? Bilang kau pembantuku? Kau lupa Sanyoung masih ada di taman bermain ini? Kalau dia melihatnya bagaimana? Dia akan tahu kita bukan sepasang kekasih. Kau tidak tahu betapa menyebalkannya nenek sihir itu,huh?”

“Kau ini. Tak kusangka cerewetmu sama saja dengan Key. Arasseo.. aku tahu kau sebenarnya takut. Lebih baik kita naik komidi putar saja.” Ujar Rachan.

“Mwo? Ya! Aku tidak takut. Tadi kan aku sudah bilang, kalau aku..”

“Ne, ne, Tuan Muda.. Arasseo…” Rachan terus menarik tanganku ke komidi putar.

“Kita naik ini?” tanyaku. Rachan mengangguk.

“Permainan yang paling aman. Tidak ada acara melompat-lompat. Komidi berputar sangat pelan, jadi kita tidak akan terlempar jika kita menaikinya. Bagaimana Tuan Muda? Kita naik sekarang?” jelasnya. Cih.. dia ini…

“Baiklah.”

==========

Sekarang kami berada di Sungai Han. Tempat ini sangat indah. Dari dulu sebenarnya aku ingin sekali pergi ke sini menikmati cahaya matahari yang segar di pagi hari dan menikmati bintang-bintang di malam hari. Dan kini terkabul, ditambah ada Rachan disebelahku.

“Ini.” Rachan memberiku ramyun.

“Kalau menikmati bintang, paling enak sambil makan ramyun.” Ujar Rachan sambil mengaduk-ngaduk ramyunnya.

“Sepertinya kau suka sekali ramyun.” Ujarku. Rachan mengangguk semangat.

“Tapi aku lebih suka ramyun yang dibuat sendiri. Bukan ramyun instan seperti ini. Tapi ini juga sudah lumayan. Mengisi perut juga hangat. Pedas pula.”

“Pedas?” tanyaku sambil menunjuk ramyun.

“Kau ini orang Korea Selatan tapi tak bisa makan pedas. Bagaimana sih? Makanan tradisional kita kan kebanyakan pedas.” Akhirnya aku pun menyeruput ramyun itu.

“Rachan-ah..”

“Hm?”

“Neomu yeppeo..” lirihku. Rachan mendongak ke arahku.

“Hm? Kau bilang apa tadi?”

“Neomu yeppeo.. “ aku mengelus kepalanya. Dia tidak bergeming sesaat. Apakah jantungnya sedang tak karuan saat ini? Apa dia merasakan apa yang juga aku rasakan. Kumohon Seo Rachan… aku ingin kau tahu apa yang ada di hati ini.

Rachan tersenyum miris, “G-gomawo..” lalu dia cepat-cepat memalingkan mukanya dan kembali makan dengan lahap.

“Uhuk! Uhuk!” dasar ceroboh. Dia tersedak. Aku cepat-cepat mengambil tissue dan mengelapkannya di mulut Rachan sambil mengelus punggungnya.

“Kau ini ceroboh sekali. Hati-hati kalau makan.” Ujarku padanya.dia pun langsung merebut tissue dari tanganku, mengkuel-kuelnya  (apaya bahasa yg enak?), lalu hendak membuangnya ke sembarang tempat. Tangannya berhenti melayang. Lalu dia mengurungkan niatnya.

“Tak jadi dibuang?” tanyaku. Dia menggeleng.

“Banyak orang disini. Kalau aku membunagnya sembarangan aku bisa ditegur.” Aku terkekeh pelan. Seketika keheningan menyelimuti kami.

“Kenapa kau mau membuangnya tadi?” tanyaku. Dia mendongak ke arahku sesaat dan kembali menatap Sungai Han.

==========

Rachan POV o———

“Kenapa kau mau membuangnya tadi?” tanya Taemin. Aku memandang sebentar ke arahnya dan kembali memandang Sungai Han. Ya Tuhan.. kenapa jantungku semakin tak karuan… hari ini banyak sekali hal yang terjadi.

“Tentu saja dibuang. Kan kotor..” jawabku asal.

“Tumben kau peduli lingkungan.”

“Jangan salah… aku ini dapat gelar siswi teladan ke-2 disekolahku.” Ujarku. Taemin tersenyum kecil. Tuhan… aku tak berani menatap wajahnya..

“Kau ini kenapa sih?” tanya Taemin.

“Eh? Aku tidak apa-apa. Mungkin karena anginnya yang dingin.” Aku mengusap kedua tanganku. Pura-pura menghangatkan tubuh.

Taemin mendekat kearahku kemudian memelukku, “Kalau begini pasti lebih hangat..” ujarnya.

“Hya..!! Kau ini apa-apaan. Banyak orang yang melihat tahu!”seruku pelan sambil berusaha melepas pelukannya.

“Tidak apa-apa.. orang sudah mengira kita sepasang kekasih. Tidak usah peduli..”

“Aniyo.. lepaskan..” aku masih berusaha melepas pelukannya. Kenapa makin lama tenaganya makin kuat saja sih?

“Baiklah.. aku kan hanya ingin berniat baik. Lagipula harusnya kau menurut padaku. Kau ‘kan sedang minta maaf hari ini.” Taemin melepas pelukannya. Jantungku masih bergetar hebat.. Ya Tuhan…

“Tapi aku tidak minta kau menghangatkanku. Aku tidak apa-apa. Sikapmu sewaktu pertama kali kita bertemu lebih dingin dari ini. Aku saja sampai tak berani menatapmu.”  Kenapa aku jadi membahas masa lalu?

“Hehe.. kalau sekarang bagaimana. Sudah berani menatapku?” tanya Taemin. Aku mendongak. DEG!! Tuhan.. ijinkan aku jangan pingsan sekarang.. jantungku, jantungku.. argh~..

Bibirnya tersenyum menunggu jawaban dariku. Aku pun kembali mengalihkan pandanganku ke Sungai Han.

“Memangnya kenapa? Sekarang biasa-biasa saja.” Ujarku bohong. Hh.. aku tak mungkin bilang padanya kalau jantungku berdetak keras saat ini kan?

“Lalu, apa aku masih sedingin dulu?” tanya Taemin.

“Sepertinya tidak. Kau sekarang lebih banyak tersenyum. Walau hobi marah-marahmu masih saja ada sampai sekarang. Aku baru tahu kalau kau ini namja yang polos..” Ya, Tuhan… kenapa aku malah menjawabnya? Harusnya kuabaikan pertanyaannya.

“Polos?”

“Ne. Seperti tadi siang. Kau benar-benar membuat Key mati kata. Padahal sejak aku mengenalnya sampai sekarang, aku belum pernah lihat dia kalah bicara.”

“Hehe.. itu semua karena aku tahu! Kau harus berterima kasih padaku.”

Taemin menepuk punggungku dua kali lalu merangkulku, “Ne, Seo Rachan. Ini karena kau. Gomawo..” Aduh.. Seo Rachan.. kau salah ambil langkah lagi. Kalau begini caranya jantungmu bisa berhenti berdetak karena saking cepatnya memompa darah.

“Taemin-ah,, ayo kita pulang. Sudah jam 9 malam.” Ujarku menghentikan suasana yang penuh ketegangan ini. Taemin mengangguk lalu ikut menyusulku berdiri.

Angin malam yang masuk lewat jendela bus membuatku mengantuk. Dari tadi mataku bimbang apakah harus terbuka atau tidak. Kepalaku jadi bergerak tak karuan gara-gara kantuk yang menguasaiku. Lalu sebuah tangan langsung memegang kepalaku dan menyandarkannya kebahu seseorang. Lee Taemin.

“Tidur ya tidur saja. Nanti aku akan membangunkanmu. Aku tahu halte dimana kita harus turun. Tidurlah, aku tidak mengantuk.” Entah setan apa yang lewat, aku menurut saja dan akhirnya tertidur. Hangat.

==========

Taemin membangunkanku saat kami sudah sampai. Aku mengucek mataku dan membayar ongkos bus. Kami pun terus berjalan sampai akhirnya kami sampai di rumah Taemin. Tunggu. Mobil itu… hah! Taemin umma!!

“Selamat malam, Nyonya..” sapaku ketika masuk ke ruang tamu. Benar dugaanku. Umma Taemin sedang pulang hari ini.

“Malam, Rachan-ssi. Malam juga, Taemin-ah..” sapa umma Taemin. Taemin tersenyum kecil.

“Rachan-ssi, boleh aku bicara denganmu sebantar? Kau bisa langsung ke kamarmu,Taemin-ah.” Ujar umma Taemin. Taemin menggeleng.

“Aku ingin mendengar apa yang kalian bicarakan.” Ujar Taemin. Ummanya hanya mengangguk setuju dan memperseilahkanku duduk.

“Kau sudah sangat membantu kami. Kami tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Tapi, aku dengar dari Tuan Kim kau lulusan SMA, bukan?” tanya umma Taemin. Aku mengangguk pelan. Taemin masih fokus memperhtikan perbincangan kami.

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membalas budimu. Bagaimana kalau kau masuk ke sebuah universitas? Aku akan membiayai semua bayarannya.” Ujar umma Taemin semangat. Mwo? Universitas?

“Universitas? Dimana?” tanya Taemin. Umma Taemin tersenyum mantap, “Di sebuah universitas di Jepang.”

“Jepang?!” seru aku dan Taemin bersamaan. Umma Taemin mengangguk.

“Tak usah khawatir dengan bahasa mereka. Sekarang untuk warga asing, Jepang akan mengajar dalam bahasa inggris. Aku lihat nilai bahasa inggrismu sangat bagus di sekolahmu dulu. Bagaimana?” tanya Umma Taemin. Mataku membulat, mulutku menganga, dan pikiranku kosong. Omona.. Jepang?

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

10 thoughts on “Hard, But Still Funny – Part 8”

  1. Bgs’ thor
    Seru ceritanya
    Taemin ya ternyata dh nyimpen perasaan
    Tru klo rachan k jepang gmn tuh thor lanjutannya?
    Di tunggu part selanjutnya ya thor

  2. Andweee….rachan jgn k jepang….nanti ga ktemu taem lg….kcuali taem ikut…boleh deh…aku ijinin…
    #rachan : siapa lo???sok2 ngijinin…

  3. kslsu rachan ke jepang berarti mereka pisah dong???
    kasihan taemin dia baru menyadari perasaannya tapi harus berpisah seperti ini….
    jadi jangan dipishin ya…

  4. Hahaha.. Taem bilang key cantik.. Ga sadar diri kalo dia lebih cantik..
    Yaa.. Kalo rachan ke jepang taem jg harus ikut yah..
    Aku ga sabar pengen mrk jadian..
    Next ditunggu..

  5. Heh,, Rachan-ny disuruh kuliah di Jepang?? Pisah sama Taemin dong,,, waahh,, padahal diantara mereka baru bersemai bibit’bibit cinta,,,

    Si Rachan pinter ya,,, skak matgsg deh tuh sonyoung… Taem-rachan aneh,, kdg romantis,kdg berantem,, aigoo,, bikin iri,,,

    Penasaran sama next part-nya nih,,,

  6. huwaaa bagaimana dengan dia dan taemin ???
    bener2 suka sama couple ini … kenapa disuruh ke jepaaang jangan atuuuh ..
    huwaaa..

    bener2 suka sama couple ini .. ayo lanjutkaaaan ,…
    good ff thor.. gomawo ..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s