My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Part 2 [B]

My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip Two (B)

Main Cast :

  • Lee Jinki (Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Other Cast :

  • Other SHINee members
  • Lee & Shin family
  • SNSD Sooyoung & Sunny
  • Etc.

Genre : Romance, Family, Comedy (dikit), Life

Length : Continue

Rating : PG-13

Author : Mira~Hyuga

>>><<<

“Yeoboseyo.” suara rendah seorang namja mengangkat telponku.

“Ah, ne, Jonghyun-ah. Ini aku.” sahutku lempeng. Auh~ ribut sekali di sana.

“Oh~ ne, ne, Jibyung-ah. Waegeuraeyo?”

“Kalian sedang apa?”

“Kami sedang rehearsal.” Oh~ pantas saja ribut-ribut.

“Ah~ keurae? Apa aku mengganggumu?” tanyaku takut-takut.

“Aniyo, ani… Waegeurae?”

“Itu… apa di dekatmu ada Onew?” tanyaku hati-hati.

“Wae? Mau bicara padanya?”

“Ani, justru menjauhlah kalau dia sedang di dekatmu.”

Kudengar Jonghyun terkekeh sebentar, “Mwo? Ah~ waeyo?” Err~ sudah berapa kali, sih, dia mengatakan ‘wae’? (.__.)

“Nanti dia mendengarkan pembicaraan kita.”

“Oh~ arasso.” Sejenak dia menghentikan perkataannya. Mungkin karena sedang ‘menjauh’? ”Memangnya apa yang ingin kau bicarakan? Tumben.” Lanjutnya kemudian, dengan suara yang lebih pelan.

“Hanya ingin menanyakan sesuatu. Apa kalian merasa ada yang aneh atau berbeda dari Onew akhir-akhir ini? Apapun itu.” Ujarku hampir terdengar mendesak.

“Emm~ kurasa… ada. Onew hyung sering melamun akhir-akhir ini. Tidak terlalu sering, sih. Tapi lebih sering dari yang biasanya. Bagaimana, ya? Arrh! Kau pasti tahu lah, maksudku.”

Seolah mendapat titik terang, aku memintanya meneruskan dengan tidak sabaran, “Ne, ne. Lalu?”

“Kami sudah beberapa kali memintanya menceritakan apa yang mengganggu pikirannya. Tapi dia bilang tidak ada yang perlu diceritakan, dan dia baik-baik saja. Ya, kurasa kau juga sudah tahu, kan, bagaimana seorang leader. Dia dituntut untuk punya berlapis-lapis topeng yang bisa menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Dan kalau Onew hyung, kurasa tanpa dituntut pun sifatnya sudah seperti itu.”

“Em~” gumamku pelan, sedikit tersentuh dengan kalimatnya barusan. “Jjong-ah, apakah mungkin karena jadwal kalian yang terlalu padat? Atau ada yang membuatnya tertekan? Apa ada suatu masalah yang berhubungan dengan agensi kalian atau sebagainya?” tanyaku lagi, kali ini dengan intonasi yang lebih santai.

“Kalau jadwal padat, sih, sudah biasa, tidak mungkin bisa membuatnya sampai begitu.” Dia berhenti lagi sebentar. “Masalah dengan agensi? Setahuku tidak ada masalah apapun, kok. Semuanya baik-baik saja. Memangnya kenapa, Jibyung-ah? Dia juga tidak menceritakan apapun padamu?”

Aku menghela napas dalam, “Tidak, makanya aku bertanya padamu. Tapi sepertinya aku sudah tahu alasannya sekarang.” Ya, kemungkinan besar alasannya karena masalah itu.

“Waegeuraeyo? Kalian ada masalah?”

“E-eh? (.__.)a An-ni… yo, kkeokjeongma.”

“Gwaenchana. Siapa tahu kami bisa membantu? Kalian bertengkar? Apa masalahnya serius?”

Bagaimana aku bisa tahu itu serius atau tidak? Yang tahu detailnya ‘kan Onew sendiri, dan parahnya dia tidak memberitahuku.

“Jibyung-ah, mian…” Jonghyun kembali bersuara karena aku tidak menjawab. Suaranya terdengar jauh lebih serius sekarang. “Mungkin lebih baik aku mengatakannya padamu sekarang.”

“Ne, wae?” Kenapa aku jadi ikutan was-was begini?

“Entah ini hanya pengamatanku saja, atau yang lain juga menyadarinya, aku… melihat… hyung… ah~ gwaenchana, Jibyung-ah? Mungkin ini akan sedikit menyinggung perasaanmu.”

“Ani, ani, gwaenchana. Malhaejyeo!” desakku semakin tidak sabaran.

“Mianhae, tapi aku melihat hyung sepertinya… tidak terlalu senang… dengan pernikahan kalian. Ah~ tapi itu bisa saja hanya perasaanku. Mianhae.”

Molla. Mendengar itu aku malah merasakan sesuatu yang dingin pecah dalam jantungku. Kukira bukan hal ini yang akan Jonghyun katakan. Dan kukira dampaknya tidak akan sesakit ini. Ini sih bukan ‘sedikit’ lagi, tapi ‘sangat’ menyinggung perasaanku.

“Jibyung-ah, gwaenchana? Mianhaeyo.”

“Jibyung-ah…”

Suara Jonghyun di telfon hampir berbarengan dengan suara Jikyung yang memanggilku dari pintu masuk butik. Aku menoleh ke arah Jikyung dan menjawab pertanyaan Jonghyun, Ne. Gwaenchana, gwaenchana. Ehm~ sudah, ya, aku harus bersiap-siap pulang. Annyeong.” Tanpa menunggu jawaban Jonghyun aku langsung memutuskan sambungan, kemudian menatap Jikyung yang sekarang sudah berdiri di hadapanku.

Dia tersenyum simpul dan mengangguk, “Sudah malam. Jibe kaja!”

>>><<<

Hari-hari berikutnya kujalani dengan agak kurang bersemangat dan terkadang tidak fokus dengan apa yang kulakukan. Tapi tidak terlalu sering, karena aku takut orang-orang di sekitarku—terutama eomma—menyadari ketidak beresanku ini. Kecuali Jikyung, karena memang aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya, ditambah lagi dia sudah tahu perkaranya dari awal.

Aku masih sering memikirkan perkataan Jonghyun tempo hari, dan mengingat-ingat kembali hal apa yang sudah kulakukan hingga membuat Onew merasa tidak senang setelah menikah denganku. Tapi bukan berarti aku mempercayai sepenuhnya perkataan Jonghyun itu, karena dia sendiri bilang itu belum tentu benar. Tidak ada salahnya, kan, intropeksi diri? Dan sekaligus untuk berjaga-jaga kalau ternyata perkataan Jonghyun itu justru benar. Dan hingga saat ini aku belum mendapat petunjuk apapun mengenai itu.

Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju Gyeonggi-do, rumah orang tua Onew, atau sekarang aku harus menyebut mereka mertua? Err~ rasanya agak aneh. = =” Tidak tahu apa yang akan kulakukan di sana, aku hanya ingin menemui mereka saja. Mumpung butikku juga sedang libur.

Sesampainya di sana, eommonim menyambutku dengan senang. Melihat senyumnya, aku jadi ingat Onew. Mereka mirip sekali.

“Eommonim, abonim mana?” tanyaku.

“Di toko. Akhir-akhir ini pelanggan kami bertambah banyak, abonim jadi sering pulang malam.” Tuturnya sambil menuntunku masuk ke rumah. Aku berdengung paham. Kemudian eommonim meninggalkanku di ruang keluarga rumah ini, dan kembali lagi dengan membawa segelas minuman.

“Kukira kau membawa kabar bahagia?” katanya dengan sedikit cemberut. Aku tertawa garing dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Pasti soal itu lagi! “Kau lihat, aku kesepian di sini. Jinki dan ayahnya selalu sibuk bekerja. Kalau sudah punya cucu, kan, setidaknya aku punya mainan.”

Aiiyyy~ tuh, kan! (>,<”)

DRRT~ DRRRT~

Handphoneku bergetar, aku segera mengambilnya di dalam saku jaketku. ‘Dubu-Sangtae’s Calling’. Baguslah, kau menyelamatkanku di saat-saat seperti ini. Aku melirik eommonim dan menekan tombol loudspeaker.

“Ne.” Ujarku.

“O, Jibyung-ah.” Sahut Onew setelah sebelumnya tidak terdengar suara siapapun. Eommonim yang mendengarnya mendekat ke arahku.

“Wae?” tanyaku.

“Ani, hanya ingin mendengar suaramu.”

Seketika eommonim memekik, “Aaaigooo~”

BLUSH!

Aissh~ kurasa wajahku memerah sepenuhnya sekarang. Kudengar Onew tertawa di sana, tepat saat eommoni mengambil alih handphoneku.

“Jinki-ya!”

“Ne?”

“Ini eomma.”

“Ah, eomma. Jadi Jibyung sedang bersamamu?”

“Ne, dia datang ke rumah.” Eommonim tersenyum simpul dan melirikku sekilas. Aku hanya bisa mendengarkan percakapan mereka sekarang.

“Oh~ arasso.”

“Jinki-ya, kapan kau pulang?”

Onew terkekeh, “Kalau tidak ada halangan, besok lusa aku akan pulang, sebelum konser SM Town Paris.” Terangnya santai.

“Ah~ jinjja? Kau pasti lelah sekali.” Benar. Dia pasti lelah sekali.

“Hehe~ gwaenchana. Bagaimana kabar eomma?”

“Eomma selalu baik-baik saja. Justru eomma khawatir padamu.”

“Aku juga baik-baik saja, kok. Jangan khawatir. Jibyung-ah!”

Aku langsung menegakkan tubuhku, “Wae?”

“Bagaimana kabar kakak iparku?”

“Jikyung? Dia sehat-sehat saja. Eomma juga.” Jawabku. Dia terdengar menggumam kecil. Jika bertatap muka langsung, sepertinya dia sedang manggut-manggut sekarang. Tapi… aissh~ dia tidak tanya kabarku? Bagaimanapun, kan, kami jarang berkomunikasi. (=o=)

(End of POV)

>>><<<

(Onew’s POV)

“Ya! Tidak kangen padaku?” tanyaku sedikit terkekeh.

“A-aniyo!”

“Emm? Keurae? Wae?”

“Tsk! Molla. Sudahlah, kembali bekerja!”

“Aigoo~ istriku galak sekali.”

“Ya!!”

“Arasso, arasso. Tunggu kedatanganku, ya, Byung-nim…”

“…”

“Yeobo?”

“NE!!”

BRUAKK!

Aku meringis kecil sembari mengusap pantatku yang ‘mencium’ lantai. Dia berteriak keras sekali. Makanya aku kaget dan sukses terjatuh dari kursi yang sedang kududuki. Aduh~

“Hyung, waeirae?” tanya Minho yang kebetulan melihat caraku terjatuh dengan menakjubkan.

Aku menggelengkan kepala dengan cepat dan kembali duduk, “Ani, tidak ada apa-apa. Lanjutkan saja apa yang kau lakukan.” Dan aku kembali terpaku pada handphoneku. Ah, ternyata sudah tidak tersambung.

Iseng-iseng aku membuka konten phonebook. Aku belum mengganti ID kontak Jibyung, anyway. Setidaknya, kan, harus ada spesial-spesialnya, seperti Lee Jibyung, Byung-buin-nim(?), Yeobo, atau My J-Partner(?) (.__.) Akhirnya aku sampai di ID kontak Shin Jibyung, yang tepat di bawahnya ada nama Shin… Jikyung. Kakak ipar. Apa yang sedang dilakukannya, ya? Kakak ipar. Well, tidak ada salahnya, kan, kalau aku menghubungi kakak iparku? Dia hanya kakak iparku.

Setelah aku mendekatkan speaker handphone ke telingaku, tanpa perlu menunggu lama, sudah terdengar jawaban,“Yeoboseyo?”

“Kakak ipar~ annyeong haseyo~” candaku.

“O—hahaha~” Aku ikut tertawa mendengarnya. Dia kemudian menambahkan, “…keurae, aku kakak iparmu sekarang.” Ne, hanya kakak ipar.

“Ne. Bagaimana kabarmu?”

“Tentu saja baik. Bagaimana denganmu?”

“Mwo? Kau tidak tahu? Banyak sekali yang tahu kabarku. Kenapa kau tidak?”

“Maksudmu?” Oh~ oke. Aku lupa bahwa si kembar ini sedikit lelat berpikir. Aku membiarkannya sebentar, sampai akhirnya dia tertawa lagi dan berkata, “Arasso, arasso. Mianhae, aku tidak sempat update berita tentang kalian. Sekarang aku lebih sibuk karena tidak bekerja di butik kami lagi.”

“Oh~ jinjja?” ucapku menunjukkan ketertarikan. Padahal aku sudah tahu itu dari Jibyung beberapa hari yang lalu. Baik! Aku melakukan ini karena ingin lebih lama berbicara dengannya. Aku mengakui itu!

“M-hmm~ sekarang Jibyung sendiri yang menjalankan butik.” Terang Jikyung lagi, dan aku menggumam paham.

“Jadi kamu sedang di tempat kerjamu sekarang?”

“Ani, aku sedang di bar. Ya tentu saja, adik ipar. Kenapa masih tanya?” aku tertawa mendengar selorohannya yang sebenarnya agak garing ini (.__.)a “Ah~ Onew-ya.. Apa Jibyung sudah…” dia berbicara lagi dengan kalimat menggantung.

“Sudah apa?”  tanyaku penasaran.

“Ani. Mungkin belum.” Katanya lagi, sedikit bergumam. “Oh~ sudah dulu, ya. Aku harus kembali bekerja.” Kurasa dia sengaja mengakhiri pembicaraan.

“O-oh~ ne. Annyeong!”

PIP!

Ck~ padahal aku ingin lebih lama lagi bicara dengannya. Tapi ya sudahlah, gawat juga kalau aku mengganggu pekerjaannya. Tapi, ngomong-ngomong, apa maksudnya barusan, ya? Sudah apa?

>>><<<

Sesuai rencana, kami kembali ke Korea dua hari kemudian. Begitu sampai di Incheon, sebuah pesan masuk ke dalam handphoneku. Pesan singkat dari eomma yang isinya menyuruhku untuk menemuinya sebentar di rumah. Oke, mungkin aku bisa sekalian beristirahat di sana sebelum harus terbang lagi ke Paris nanti.

“Pasti kau lelah, ya?” eomma mengambil tas di tanganku dan memelukku sekilas.

“Sedikit.” Kekehku, balas memeluknya. Bohong, sih. Tapi bagaimana pun, kan, ini adalah resiko atas pilihanku. Aku harus menerimanya tanpa banyak mengeluh.

Setelah meneguk sebotol minuman dingin, aku menghempaskan tubuhku di atas sofa dengan posisi tengkurap. Tidur beberapa menit mungkin tidak apa-apa.

***

“Jinki-ya!” eomma mengguncang pelan bahuku, tepat saat aku baru saja akan kehilangan kesadaran. Terlelap maksudku.

“Mmm?”

“Ireona-ya! Ada sesuatu yang harus kamu lakukan.”

Aku membalikkan badanku, sehingga kali ini posisiku berbaring telentang, sembari memeluk bantal sofa dan menatap eomma, “Mwoeyo?”

Eomma menyodorkan sebuah kunci dan secarik kertas ke arahku, dan meletakkan tas jinjing berukuran besar di atas perutku, “Bawa barang-barang ini dan pergi ke alamat itu, arachi?” katanya.

“Mwo? Untuk apa?” tanyaku lagi sembari duduk tegak dan memeriksa isi tas tadi. Baju-bajuku? Untuk apa? Kemudian aku meneliti kertas di tanganku, yang ternyata isinya alamat yang mungkin eomma maksud barusan. Kalau tidak salah, ini, kan, alamat sebuah apartemen. Ah~ ada nomor kamarnya juga.

“Kau akan tahu setelah sampai di sana.” Ujar eomma lagi. Aku menatapnya sambil memiringkan kepala bingung. Ada apa, sih? Aku jadi seperti diberi misi (-__-).

Tapi tidak ada salahnya melakukan ini, “Keurae. Aku berangkat.”

>>><<< 

“Nuguseyo?” tanya seseorang dari intercom setelah aku membunyikan bel sekali. Meskipun aku punya kuncinya, entah kenapa aku rasa apartemen ini tidak terkunci karena ada seseorang di dalamnya. “OH!” pekik orang itu  kemudian. Tunggu, aku mengenal suara ini.

“Aa! Jibyung-nim!” seruku seraya tertawa kecil. Dia melambai padaku. Jadi ini ‘misi’nya? Aduh~ eomma ada-ada saja.

Pintu apartemen ini terbuka, dan Jibyung muncul sambil tertawa-tawa. Dia menyuruhku masuk, dan kembali tawaku pecah setelah dia menutup kembali pintunya dengan rapat. “Aku tidak tahu kau ada di sini. Eomma hanya menyuruhku ke sini, dan memberikan ini.” Aku menunjukkan kunci dan tas di tanganku.

“Jinjja?” ujar Jibyung. “Aku juga tidak tahu kau akan ke sini. Eomma hanya mengatakan ini hadiah untuk pernikahan kita.”

“Ooh~ jadi ini apartemen kita sekarang?” gumamku sambil meletakkan tasku di atas sofa dan berkeliling sebentar. “Wah~  mereka sudah menyiapkan semuanya, ya?” gumamku, kagum dengan orang tua kami yang niat sekali melakukan ini. Tanpa sengaja mataku menangkap sebuah foto frame yang menggantung di dinding kamar. Foto pernikahan kami? Apa mereka juga yang menyiapkan ini?

“Aigoo~ bahkan lemari esnya saja sudah terisi penuh.” Jibyung memasuki kamar dengan tas yang tadi kubawa berada di tangannya.

“Jinjja?”aku menatapnya sebentar, dan kembali terpaku lagi pada foto tadi. “Ya! Mereka juga sempat-sempatnya melakukan ini?” tanyaku sambil menunjuk benda itu.

“Oh? Aniya. Itu  aku yang memasangnya.” Sahut Jibyung santai.

“Yaa~! Byung-nim, yeobo! Gomawo!” aku menghampirinya dan memeluknya sekuat tenaga. Untuk orang secuek dia, biasanya hal sekecil ini tidak akan dia lakukan. Tapi sekarang… aigoo~ aku senang sekali.

“I-i.. ya! Aku… tidak bisa… bernapaaaas..”

“Bogosipheo, Byung-nim!” aku malah mengeratkan pelukanku dan tidak mempedulikan rontaannya. Aku harus bisa menyingkirkan keraguanku, dan membuatnya menjadi orang yang satu-satunya ku cintai. Ani, aku pasti bisa.

(End of POV)

>>><<<

To Be Continued

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

17 thoughts on “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Part 2 [B]”

  1. kyaaa~ sweet!
    Jibyung, jadi lah satu2nya orang yg dicintai Onew ne?
    Knp ya,
    Kurang suka kalo Onew lebih mikirin Jikyung daripd Jibyung ._.

    Daebak thor! D tunggu lanjutannya

  2. Bgs thor hahahah…
    Seru thor aku jarang bca cerita yg kyk gni
    S dubu jgn galau mlih siapa dh jibyun aje
    Thor, d tunggu lanjutannya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s