Rose, Parfume and Kiss – Part 3

Rose, Parfume and Kiss

Author             : @kikyinayah

Main Casts      : SHINee’s Kim Jonghyun, Lee Yoonmi (You)

Support Casts  : Other SHINee members, other support casts

Length             : 3/5

Genre              : School Romance

Rating              : PG-15

Jonghyun berjalan kembali ke rumah Yoonmi, dan selang beberapa saat ia sudah sampai di depan rumah gadis itu. Dia pun menggapai handle gerbang rumah Yoonmi yang bercat cokelat itu, “Permis….” Sapaan Jonghyun terputus karena ia mendengar ada sesuatu dari dalam rumah itu yang membuat ia tidak menyelesaikan kata-katanya.

“JIKA KAU TAK PEDULI DENGAN KAMI, JANGAN ATUR HIDUPKU DENGAN APPA! AKU SUDAH SANGAT BAHAGIA HIDUP BERSAMANYA!”

“Yoonmi-ah~ bukan begitu, kau harus mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Aku akan membiayai semuanya jika kau keluar dari sekolah itu dan pindah ke sekolah yang sudah eomma rekomendasikan kepadamu,”

“PENDIDIKAN YANG LEBIH BAIK? ITU CARAMU MEMISAHKAN AKU DENGAN APPA KAN? LAGIPULA ITU HANYA ALASANMU SUPAYA AKU TINGGAL BERSAMA SUAMI-MU DAN ANAKMU ITU KAN? DAN MENINGGALKAN APPA SENDIRIAN? SIRHEO!! TIDAK AKAN PERNAH AKU MENINGGALKAN APPA DEMI AHJUSHI YANG MEMISAHKAN KELUARGA KITA MENJADI SEPERTI INI!”

“Yoonmi.. mungkin maksud eomma bukan begitu. Dia hanya ingin kau mendapatkan pendidikan yang lebih baik, nak,”

“Appa~ tidak akan. Aku tidak akan mau. Kenapa sekarang appa masih mau membela dia yang sudah menyakitimu hahh?” air mata Yoonmi yang dari tadi sudah ia tahan kemudian menetes.

“Aku akan terus tinggal bersama appa bagaimana pun keadaannya. Aku masih bisa menjadi anak mandiri. Aku tidak akan menuntut uang yang banyak kepada appa. Aku akan rajin belajar dan mendapatkan perguruan tinggi negeri supaya aku bisa mencari pekerjaan yang bagus dan hidup bahagia bersama appa. Aku masih bisa membagi waktu ku bersama appa. Appa juga masih bisa menghidupiku dan masih bisa membagi waktu untuk bersama ku, kan? Jadi apa lagi alasan aku harus meninggalkan appa?” Yoonmi menyelesaikan kata-katanya dengan menangis. Dia memang sangat tidak ingin hidup terpisah dari appa-nya. Apapun alasannya. Begitu pula sang appa yang tidak bisa hidup jauh dari satu-satunya anak yang masih ia miliki semenjak Yoomin, adik Yoonmi meninggal.

“Sekarang apa? Yoonmi sudah memutuskan untuk hidup bersama ku. Dan jangan ganggu hidup kami lagi. Aku rasa kau telah bahagia dengan hidupmu yang baru itu. Jadi sekali lagi aku mohon, jangan ganggu aku dan anakku, di rumah ku ini. Tolong kau pergi dari sini.” Dengan nada dingin, appa Yoonmi mengusir wanita itu yang notabene adalah eomma Yoonmi. Mereka bisa dikatakan memiliki suatu masalah dengan wanita yang memakai pakaian seorang eksekutif wanita itu. Dan kemudian, wanita itu meninggalkan rumah mereka dengan terpaksa tanpa mendapatkan apa yang dia inginkan untuk membawa Yoonmi tinggal bersamanya dan pergi dari appa-nya.

Sementara itu, Jonghyun yang sedari tadi terdiam di depan rumah Yoonmi mendengarkan keributan yang terjadi, kemudian melihat ada seorang wanita yang keluar dari pintu gerbang rumah Yoonmi dan appa-nya. Dia melihat sekilas ke arah wanita paruh baya itu yang berjalan menjauh darinya ke sebuah lahan yang cukup luas yang merupakan tempat wanita itu memarkirkan mobil sedan hitam miliknya. Jonghyun melihat dari depan rumah Yoonmi. Wanita itu hanya menundukkan kepalanya, tidak tahu apa yang ada di dalam benaknya.

Di dalam rumah, Yoonmi dan appa-nya yang sedang menahan kesedihan karena suatu luka tertentu, saling berpelukkan sambil meneteskan air mata. Mereka bersyukur, mereka masih ditakdirkan hidup bersama dan melanjutkan kehidupan ini walaupun sangat berliku.

“Sudah.. sudah… anak-ku Yoonmi…. Jangan menangis lagi.. appa akan sangat sedih jika melihatmu menangis terus,”

“Appa~ kau juga jangan menangis. Appa saranghaeyo~”

“Yaa.. gadis kecil-ku, aku tidak menangis. Haha,” bantah tuan Lee yang tiba-tiba tertawa dengan pipinya yang basah karena air mata.

“Appa~ terima kasih. Terima kasih sudah merawatku..”

“Aigoo… itu memang sudah kewajibanku, nak,”

“Eung! Kalau begitu, appa ingin aku belikan apa sebagai rasa terimakasih ku? Aku akan pergi ke toko seberang. Hmmm… tiba-tiba saja aku ingin makan ddokbeokki.”

“Ooh.. baiklaaahh… belikan appa Coffee-late hangat di sana. Sudah lama aku tidak minum kopi,”

“Keurae~ Tunggu sebentar ya tuan.. pesanan segera diantaaar~” kata Yoonmi riang sambil menghapus air mata di pipinya.

Yoonmi pun segera keluar dari rumahnya dan..

“Hmmm…. Yoon…mi…. Annyeong!” sapa Jonghyun bingung.

“Ya! Kenapa kau masih di sini?”

“Ani~ aku hanya… hanyaaa… ah, lupakan! Kauuu… habis… menangis? Mata mu bengkak,”

“Ti..tidd..aakk…” sanggah Yoonmi terbata-bata. Tiba-tiba saja suasana di sana menjadi sangat kaku. Yoonmi pun tidak tau harus bilang apa, dan dia akhirnya melarikan diri dari Jonghyun kemudian pergi ke toko penjual makanan dan minuman untuk membeli ddokbeokki dan coffee-late pesanan ayahnya. Jonghyun pun pulang ke rumahnya tanpa mengambil seragam sekolahnya yang ketinggalan itu. Mungkin ia akan minta Yoonmi mengambilkannya saja jika bertemu di sekolah nanti.

. . . . .

BEBERAPA HARI BERIKUTNYA

“Yoonmi-ah!!!!! Palliwa!!! Taemin sudah menunggumu di depan rumah.”

“Ne appa! Aku datang,” dengan terburu-buru, Yoonmi turun dari tangga rumahnya sambil mengikat ke atas rambutnya yang panjang.

“Appa, aku berangkat sekolah dulu. Bekal appa sudah aku siapkan di meja. Appa, saranghaeyo,”

“Ne, gadis kecilku yang cantik. Akan ku pastikan makanan yang telah kau masak itu habis tak tersisa. Hati-hati di jalan bersama Taemin,”

“Ne~ Appa juga hati-hati ya,”

Yoonmi pun keluar dari rumahnya dan menyapa Taemin yang sudah menunggu di sana selama beberapa menit.

“Annyeong noona,”

“Neee…. Taemin-nie,”

Mereka pun berjalan ke arah sekolah mereka untuk seperti biasa menjalani hari-hari sebagai pelajar yang baik. Belajar, menghabiskan waktu di sekolah bersama teman dan guru, atau sekedar bercanda dan tertawa dengan teman dekat, itu adalah hal yang umum dilakukan. Bosan memang, tapi adakalanya kau akan merindukan masa-masa sekolah seperti itu jika sudah dewasa nanti.

WAKTU MAKAN SIANG

“Ya, noona.. kau tidak ke kantin??”

“Hmm.. ada yang harus aku kerjakan. Kau duluan saja, ya. Nanti aku menyusul,”

“Arasseo! Aku akan ke sana bersama Minho hyung dan Key hyung saja,” Taemin pun pergi meninggalkan Yoonmi yang masih duduk di kursinya.

Tiba-tiba dia mengeluarkan tas kecil dari kertas daur ulang berisi sepasang pakaian. Itu adalah pakaian Jonghyun yang tertinggal di rumahnya. Sudah bersih tentunya. Yoonmi sudah mencucinya di mesin cuci. Ia sengaja tidak membawanya ke laundry pakaian karena ia tidak mau membuang uang jajannya hanya karena ingin membersihkan seragam anak laki-laki itu. Ia mengeluarkan pakaian itu untuk sekedar mengecek.

“Hmmhh.. bau tomatnya masih tercium sepintas. Bagaimana ya? Nanti dino itu mengomel lagi. Telingaku bisa-bisa panas mendengarnya,” kemudian ia mengambil sesuatu dari tas ranselnya yang unik itu.

“Mungkin ini bisa membantu, hehe,” ia menyemprotkan parfumnya ke pakaian Jonghyun agar bau tomat yang masih sedikit bisa tercium tertutupi. Lalu Yoonmi berjalan ke arah kelas Jonghyun dan Key namun tidak menemukan batang hidung kedua makhluk couple tersebut. Yoonmi pun mencarinya ke kantin. Mungkin mereka masih di kantin bersama Taemin, namun hanya ada Key, Minho, dan Onew. Yoonmi pun mendekati mereka.

“Ya, Taeminnie.. ke mana teman mu yang satu lagi itu?”

“Jonghyun-nie? Dia sakit..” sambar Key dengan wajah suram. “Kasihan sekali.. aku sampai tidak tega membaca SMS darinya. Dia bilang badannya panas dan hanya bisa tidur di kamarnya,” Key melanjutkan.

“Ya~ hyung, kau jangan berlebihan. Dia itu kuat. Hanya demam pasti bisa dia lewati,” Minho menyelamatkan dunia dengan menahan Key agar tidak merengek dan mengguncang kantin karena suara tangisannya yang melengkin mengingat ‘suami’nya sedang sakit.

“Ah.. jadi begitu,” Yoonmi mengangguk.

“Memangnya ada apa kau mencarinya, Yoonmi-sshi?? Jangan bilang kau kangen karena sudah beberapa hari tidak bertengkar dengannya yaa? Haha” ejek Onew.

“Aniyaa!!! Aku hanya… akuu… punya urusan dengannya. Memangnya tidak boleh?” elak Yoonmi mengalihkan pandangan matanya ke arah sekitar.

“Kalau dia tidak ada, yasudah. Aku akan kembali ke kelas. Annyeong.” Yoonmi sedikit membungkuk dan pergi meninggalkan mereka di kantin.

. . . . .

“Bagaimana caranya aku mengembalikan baju seragamnya? Dua hari ke depan sekolah libur. Hahhh.. apa aku harus membawa baju-baju ini kembali ke rumah? Aigooo~ aku pusing!!” Yoonmi mengacak rambutnya karena tidak tau harus bagaimana.

“Yoonmi-ah!” Panggil seseorang.

Yoonmi menengok ke belakang dan ternyata suara itu adalah suara Onew.

“Ah, ne oppa. Ada apa?”

“Tidak, aku hanya kebetulan melihatmu jalan sendirian. Kau tidak pulang?”

“Hmm.. sebenarnya, apa aku boleh Tanya sesuatu, oppa?”

“Silahkan..”

. . . . .

“YEAY!! Aku mendapatkan alamatnya!! Ah, tunggu. Kenapa aku bahagia? Cish~ aku kan hanya ingin mengembalikan ini. Merepotkan saja!!! Awas kau, Jonghyun! Kau harus membayarnya!”

Yoonmi pun bergegas ke alamat rumah di mana Onew memberitahukannya tadi di sekolah. Tak perlu waktu lama, ia sudah menemukan rumah yang dimaksud yaitu rumah Jonghyun. Sepertinya tak sia-sia juga jiwa petualang Yoonmi selama ini. Dengan mudah, ia menemukan tempat yang sebelumnya belum pernah ia kunjungi sama sekali.

“Okey!! Ini dia! Haahhh…” Yoonmi menghembuskan nafasnya sebelum ia menekan bel rumah yang teduh itu.

“Siapaa??” Tanya salah seorang dari dalam rumah.

“Annyeonghaseyo. Aku ingin bertemu dengan Jonghyun. Namaku Lee Yoonmi,”

“Ah! Yoonmi? Kau temannya? Baiklah, silahkan masuk.”

“Annyeonghaseyo,” sapa Yoonmi lagi, menunjukkan bahwa dirinya adalah gadis yang sopan.

“Ne, ne, kau sudah menyapaku dua kali. Aku ini eomma-nya Jonghyun. Aku boleh tanya ada apa kau datang ke sini, Yoonmi-ah?” tanya ibunya Jonghyun ramah sambil memberikan senyum kepada Yoonmi.

“Ah, ne ajhumma. Aku dengar dari teman-temannya, Jonghyun sakit. Apa benar?”

“Iya. Dia demam tadi malam. Aku juga tidak tau kenapa. Lebih baik kau duduk dulu. Aku akan membuatkanmu minum di dapur,”

“Tidak perlu repot, ajhumma. Aku datang ke sini hanya..”

“Tidak, nak. Biarkan aku buatkan mu minuman. Kau mau minum apa?”

“Air putih saja,”

“Aigooo~ anak jaman sekarang terlalu basa basi. Baiklah, nanti akan kubawakan minuman ringan saja untukmu. Tunggu sebentar,”

“Ah, ne. Kamsahamnida ajhumma,”

Eomma-nya Jonghyun pun pergi ke dapur untuk sekedar mengambil suguhan untuk Yoonmi. Ibu Jonghyun memang sangat ramah kepada orang lain. Selagi Yoonmi menunggu eomma Jonghyun kembali, matanya melirik ke sekitar ruang tamu yang ada di rumah itu. Hanya ada foto Jonghyun, ibunya, dan kakak perempuannya. Yoonmi heran, namun ia tidak terlalu mau tahu urusan keluarga orang lain.

Mata Yoonmi terhenti pada satu foto. Ia tidak tahu perasaan apa yang ada di dalam dirinya. Kagum? Atau mungkin.. takjub?

[Picture 1]

“Ah, tidak, tidak… foto itu aneh!” Yoonmi menyadarkan dirinya dari khayalannya. Ia berusaha memungkiri kalau di foto itu, Jonghyun memang.. tampan? Ya, foto itu bisa dibilang keren. “Tidak, itu aneh. Kenapa dia tidak berdiri saja di samping kuda itu. Dia malah duduk. Ah.. mungkin tingginya tidak bisa menyaingi tinggi kuda itu, jadi dia malu dan memilih untuk duduk. hehe,” kekeh Yoonmi pelan. Ia berusaha membohongi dirinya dan memaksakan kalau di foto itu pun Jonghyun terlihat aneh dan pendek.

“Menikmati ruangan ini, Yoonmi-ah?”

“Ah, aku hanya melihat sekitar. Rumah yang nyaman, ajhumma,”

“Jja~ ini minumlah..” ibu Jonghyun menaruh beberapa kaleng minuman ringan dan beberapa kue kecil di atas meja tamu itu.

“Jonghyun sudah menceritakan tentang dirimu. Dasar anak itu! Dia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari aku, ibunya. Bahkan aku tau di mana letak komik-komik yadongnya berada,” jelas Jonghyun eomma sambil tertawa kecil.

“Mwoya?? Jonghyun menceritakan aku kepada eomma-nya?” kata Yoonmi dalam hati.

“Sebenarnya dia anak yang manja. Makanya dia itu selalu menunjukkan bahwa dirinya itu keras kepala di depan teman-temannya, tak terkecuali kepada kau, Yoonmi. Aku senang, ternyata kau ini manis dan sangat sopan. Pantas saja Jonghyun selalu cerita banyak hal tentang dirimu. Tapi apa yang keluar dari mulutnya selalu tentang kau melakukan inilah.. kau melakukan itulah.. kepada dia. Kapan anak itu bisa mengalah? Huhh…” keluh ibunya.

“Jinjjayo??” tanya Yoonmi tak percaya.

“Keurae! Makanya aku kaget saat tau kau datang ke sini menjenguk anakku. Ya~ apa kalian sudah resmi?” goda wanita itu sambil tersenyum.

“Aniya ajhumma.. aku hanya temannya.” Yoonmi menggelengkan kepalanya, salah tingkah.

“Hahh.. anakku babo! Lama sekali sih prospeknya. Aku ingin kau lebih sering ke sini menemaniku karena noona-nya Jonghyun jarang mengunjungiku. Dia tinggal bersama suaminya,”

“Hmm.. ne, aku akan mengunjungi ajhumma jika kau mau,” Yoonmi mengangguk dengan canggung.

“Aigoo~ kau baik sekali. Aku senang melihatmu. Ya, ya, Yoonmi.. lihat ini!” tiba-tiba eomma-nya Jonghyun mengambil sesuatu, seperti album foto dan menunjukkan sesuatu kepada Yoonmi.

[Picture 2]

“Ini?? Jonghyun??”

“Ne! Woah.. uri jonghyunnie jinjja gyeopta..”

“Ne, ajhumma.. aku kira ini bayi anak lain. Aku gemas melihat pipinya,”

“Eeiiyy Yoonmi-ah, apa yang sudah besar kau juga tidak gemas?”

“Hehe, ajhumma.. aniya, bukan itu maksudku,” Yoonmi terkekeh kaku. Mungkin yang akan Yoonmi lakukan jika melihat Jonghyun sekarang adalah memukulnya atau melakukan hal lain semacam itu karena sudah seenaknya menceritakan dirinya kepada ibunya.

“Ajhumma, igemwoya? Hahaha…” Yoonmi tertawa kecil saat melihat salah satu foto di album itu. Namun jika tidak bersama eomma-nya Jonghyun, mungkin dia akan tertawa sangat keras.

[Picture 3]

“Ini?? Hahaha. Ini adalah foto waktu uri Jjongie masih SMP. Dia dulu pernah ikut festival band, dan dia adalah bassist-nya. Lihat mukanya!! Kenapa di sini dia jelek sekali? Haha,” ibuya Jonghyun juga ikut tertawa. Sepertinya kedua wanita itu sudah mulai dekat. Yoonmi juga sudah bisa menyesuaikan diri dengan eomma-nya Jonghyun itu.

“Tunggu, kau ke sini ingin melihat Jonghyun kan? Ah.. aku sudah banyak ngelantur. Baik, baik. Kau pergi saja ke atas, lihat pintu kamar yang depannya tertulis huruf J besar. Itu kamarnya. Kau bisa sendiri kan? Aku juga lupa ada yang harus aku kerjakan,”

“Ah, ne.. ajhumma. Jangan khawatir, aku juga akan menjaga sikap ku,”

“Aigoo~ baiklah, aku percaya denganmu. Baik-baik yaa bersama anakku,” wanita itu mencubit ringan pipi Yoonmi karena melihat sikap gadis itu yang sangat sopan dan kemudian pergi.

Yoonmi menaiki anak tangga satu per satu sampai akhirnya dia sampai di lantai dua kediaman rumah Kim tersebut. Dia melihat ada huruf J besar tertempel di depan sebuah pintu kamar yang berwarna putih dengan gagang pintu berwarna silver senada dengan warna pintu. Mungkin itu kamar Jonghyun, benak Yoonmi. Kemudian dia mendekatkan dirinya ke pintu kamar tersebut dan mencoba untuk mengetok kamar Jonghyun, namun sebelum kepalan tangan Yoonmi sampai mengetok pintu tersebut, dia mendengar Jonghyun berbicara dengan orang lain. Entah dengan siapa, karena tidak ada lagi orang di rumah ini sekarang selain dia, Jonghyun, dan eomma-nya. Mungkin pembicaraan itu terjadi di telepon. Tanpa sadar, Yoonmi mendekatkan telinganya ke daun pintu kamar itu.

“Ya, Kibum-ah! Jaehyun sudah kau bereskan? Aku benci sekali dengan sikapnya yang benar-benar tidak tahu diri itu!! Jangan sampai aku melihat batang hidungnya lagi!!! Cepatlah kau singkirkan wanita-wanita semacam itu!”

Sepertinya Jonghyun sedang berbicara dengan Key di telepon. Mereka sedang membicarakan Jaehyun, wanita aneh yang menyerang Jonghyun dan Yoonmi beberapa waktu lalu.

“Ahh… arasseo! Gomawo uri kibum-sshi. Kau memang benar-benar diva! Dalam beberapa hari, link pertemanan mu itu sudah berhasil menaklukkan wanita gila itu! Aish.. Daebak!” lanjut Jonghyun.

“Ne? Eomma ku? Ah, dia baik-baik saja. Sepertinya dia sudah membaik saat aku ajak dia pergi ke taman bunga berdua. Haha.. kami seperti kekasih kan? Aku tidak ingin dia sakit hati lagi dan mengingat laki-laki yang merupakan ayah kandungku itu.. ah tidak! Dia bukan ayah ku!! Bahkan aku tidak punya ayah! Aku hanya memiliki satu-satunya eomma yang sangat aku sayangi,”

“Mwo? Ajhumma itu ternyata single parents? Pantas saja sepertinya aku tidak menemukan satu pun foto ayah Jonghyun. Suasana rumah ini terasa seperti di rumah ku. Hanya ada satu orangtua dan kami sangat mencintai mereka,” kenang Yoonmi dalam hati.

“Baiklah tuan Key.. aku tutup teleponnya. Aku ingin mengambil air di bawah. Tenggorokan ku kering mengobrol dengan mu dari tadi. Kau mau tanggungjawab jika aku tambah sakit? Haha. Okey! Annyeong kibum-ie..” pembicaraan di telepon itu pun selesai. Mendengar Jonghyun akan segera keluar kamar, Yoonmi pun panik dan ia tak sempat bersembunyi sebelum pintu kamar itu terbuka.

“Annyeong Jonghyun-ah,” sapa Yoonmi dengan tubuh kaku dan tangan kanan yang melambaikan tangan dengan canggung serta senyum yang sedikit dipaksakan.

“YA! Kenapa kau ada di sini??” tanya Jonghyun bingung.

“Ehhm.. hhmm.. aaah.. itu.. akuu..” kata Yoonmi terbata-bata.

“Ya! Kau ingin menjadi spy hah?? Kenapa bisa ada di sini? Mana eomma-ku?” tanya Jonghyun.

“Ibumu sedang keluar tadi dan menyuruhku langsung ke kamarmu,”

“Aish! Eomma.. kenapa dia membiarkan gadis ini pergi ke sini?”

“Maaf, sebenarnya aku hanya ingin mengembalikan ini,” Yoonmi mengulurkan kedua tangannya yang memegang tas berisi pakaian seragam Jonghyun yang tertinggal di rumahnya kemarin.

“Apa ini? Aaa.. bajuku!” Jonghyun pun langsung mengambil tas itu tanpa basa-basi sementara Yoonmi memutar matanya dan kemudian meniup poninya.

“Tidak ada ucapan apapun?” harap Yoonmi.

“Oh, gomawo!”

“Hanya itu?”

“Eung!”

“YA!! Kau ini!!” Yoonmi mengepalkan tangan kanannya, bertingkah seakan ia ingin memukul Jonhyun.

“Jika kau tidak sakit, aku pasti akan memukulmu!!” lanjutnya.

“Pukul saja!” Jonghyun pun menutup mata, menyodorkan pipinya sambil berpura-pura tersenyum manis dan berwajah pasrah bahagia jika ada pukulan yang mendarat di wajahnya.

“Baiklah! Jangan salahkan aku jika kau masuk rumah sakit! Hyaaaaaat!!!!!” PLAKK. Yoonmi pun tepat sasaran mengenai wajah Jonghyun dan kemudian ia tersenyum sinis.

“Ya! Siapa suruh menantangku!!”

Namun pada saat Yoonmi sedang membanggakan dirinya, dia melihat Jonghyun sudah terkapar di lantai depan kamarnya itu. Dengan ekspresi wajah yang sepertinya penuh dengan luka, Jonghyun pun mengaduh kesakitan dan sudah tidak berdaya lagi bangkit dari lantai di mana ia terjatuh. Hari ini memang dia sedang sakit dan mungkin kondisinya masih lemah.

Yoonmi yang melihatnya pun kembali panik dan melupakan rasa bangga yang sudah ia pamerkan tadi. Ia tak tahu harus berbuat apa. Mengangkat Jonghyun dan meletakkannya di atas tempat tidur di dalam kamarnya dan mengobatinya? Aish~ merepotkan! Seandainya dia tidak bermain-main dengan Jonghyun yang sedang sakit hari ini, mungkin semuanya tidak akan terjadi.

“Jonghyun-ah??? Gwaenchana? Maaf aku keterlaluan. Aku lupa kau memang sedang sakit. Hahh.. bagaimana ini?? Aku tidak tau harus apa?” kata Yoonmi panik.

“Angkat saja aku ke tempat tidur. Aku tidak bisa bangun,” jawab Jonghyun dengan lemah.

“Ah, ne.. baiklah. Berikan tangan kananmu, sini.. letakkan di atas bahuku dan dalam hitungan ketiga, kita berdua bangun. Kau masih bisa kan? Ayo Jonghyun, aku akan menahan badan mu dengan tangan ku. Siap, satu dua tiga,”

“Yoonmi, badan ku lemas..” saat mereka berdiri, Jonghyun malah membalikkan badannya ke arah Yoonmi dan Jonghyun meletakkan kepalanya ke bahu gadis itu, seperti sedang berpelukan.

“Ya, kau harus kuat! Sini aku bantu. Tidak bisakah aku hanya menopang badanmu dari samping? Jangan berhadapan seperti ini,” kata Yoonmi polos, masih kawatir dengan keadaan Jonghyun.

“Tidak, aku sudah tidak bisa bergerak lagi,”

“Aish! Jinjja!! Jika bukan karena aku yang memukulmu, aku tidak akan membantumu seperti ini. Kenapa kau ini lemah sekali?” keluh Yoonmi.

“Baiklah, aku akan berjalan mundur dan kau Kim Jonghyun, berjalanlah perlahan ke arah tempat tidur itu,” seperti couple yang sedang menari, mereka berjalan beriringan. Ya, Jonghyun memang sengaja memanfaatkan kondisi ini agar dia bisa lebih dekat dengan Yoonmi. Posisi mereka bisa dibilang sedang berpelukan. Dan dengan wajah evil, Jonghyun mengeluarkan V sign dari tangan kanannya menandakan bahwa ‘missions success’. Tentu saja Yoonmi tidak bisa melihatnya, karena Jonghyun sengaja menyenderkan kepalanya ke bahu Yoonmi.

“Aigoo~ kenapa kau ini berat sekali! Padahal tinggimu tidak jauh berbeda denganku,”

“Ya! Kau masih ingin menganiaya ku setelah semua yang kau lakukan, nona Yoonmi-sshi?”

“YA! Kau jangan berlebihan! Kau saja yang terlalu lemah!! Ini dia… tempat tidd…. aaarrgggh!! YA JONGHYUN-AH!!! Singkirkan badanmu dari atas tubuh ku!!!”

“Yoonmi-ah~ aku tidak bisa bergerak. Semua badanku sakit..” keluh Jonghyun.

“Sakit hahh?? Baiklah jika itu yang kau mau, aku yang akan menyingkirkanmu!” dengan susah payah, Yoonmi menggulingkan tubuh Jonghyun ke samping agar posisi mereka lebih baik (menurut Yoonmi, tidak bagi Jonghyun, *haha).

“Haaahhh!!! Kenapa hari ini aku begitu sial!!!” keluh Yoonmi dengan nada kesal.

“Uhhukk uhhukk…. Yoonmi, tolong ambilkan aku air,”

“Tidak bisa! Kali ini aku tidak akan dibodohi oleh mu lagi! Aku tidak mau!” Yoonmi menyilangkan kedua tangannya dan mengalihkan pandangannya dari Jonghyun.

“Uhhukk uhhukk.. Yoonmi-ah, aku serius.. akuu.. uhhukkk butuh… air… uuhhuukkk,” sepertinya kali ini Jonghyun serius. Mungkin karena aktingnya tadi, dia tiba-tiba merasa radangnya kambuh.

“Uhhukk uhhukk uhhuukkk…..” Jonghyun terus batuk.

“Ya ya ya!! Kau tidak apa-apa??” tanya Yoonmi.

“Uhhukk.. uhhukkk.. aku bilang… uhhuukk.. ambilkan aku air..” Jonghyun menyuruh Yoonmi dengan wajah yang sangat serius sehingga Yoonmi yakin kalau ini bukan rekayasa seperti tadi.

Yoonmi pun segera mengambilkan air putih hangat di dapur lantai bawah. Setelah mengambil segelas air, Yoonmi bergegas pergi ke atas untuk mengecek Jonghyun. Eomma-nya Jonghyun yang baru saja pulang dari luar melihat Yoonmi sedang membawa segelas air putih dan bergegas pergi ke atas. Wanita paruh baya itu pun mengikuti gadis itu dari belakang karena ia juga sedikit khawatir tentang kondisi anaknya yang sedang sakit. Dari jauh, ia memantau kedua anak remaja itu.

“Ini, Jonghyun.. minumlah,” Yoonmi memberikan Jonghyun segelas air yang telah ia ambil.

“Di mana obat mu? Akan aku ambilkan,”

“Itu, di sana. Ada di laci kedua dari atas. Tolong ambilkan yang bungkusnya berwarna hijau,”

“Yang ini?”

“Hmm,” Jonghyun mengangguk, kemudian menerima obat yang telah Yoonmi ambilkan.

“Minumlah, minggu depan kan sudah pekan ujian. Jangan sampai kau tidak lulus gara-gara kau sakit seperti ini. Kasihan ibumu,”

“Eiiyy, kasihan eomma-ku atau memang kau khawatir?” ejek Jonghyun.

“Aniya!! Aku hanyaa…”

“Aaaa sudahlah… jangan mengelak lagi. Kau khawatir pada ku kan??” sindir Jonghyun lagi dengan nada menggoda.

“Sudah ku bilang, tidak!!” BUUKKK! Tanpa basa-basi Yoonmi memukul kepala Jonghyun dengan bantal yang ada di sampingnya.

“YA! Kau mau aku masuk ICU?? Sudah berapa kali kau memukul ku??”

“Biar saja!!! Hahahaha…”

Ibu Jonghyun pun hanya tersenyum melihat kelakukan kedua anak itu dari jauh. Di dalam hati, ia merasa senang karena di rumah itu sudah tidak terasa sepi lagi. Ia hanya mengharapkan satu hal kepada Tuhan. Agar Jonghyun mendapatkan orang yang bisa menjaganya, bukan menjaganya sebagai ibu, tapi menjadi pendamping anaknya di masa depan nanti dan melihat mereka bahagia. Tak tahu kenapa wanita itu berharap, yang akan mendampingi anak lelaki satu-satunya itu adalah gadis yang sedang bertengkar dengan anaknya itu sekarang. Semoga mereka akan baik-baik saja berdua, kata eomma-nya Jonghyun dalam hati.

. . . . .

(to be continued..)

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

13 thoughts on “Rose, Parfume and Kiss – Part 3”

  1. bnr2 ditampar … hahahaha mantap… lol…

    “Air putih saja,”
    “Aigooo~ anak jaman sekarang terlalu
    basa basi. — gak kok.. tmnku blum ditwrin udh minta yg macem2 … hahahaha

    tenqmg sj eomeonim… jjong akn brsma gdis yg kau hrpkn itu kok.. hahaha sotoy

    next part dtggu

  2. Wahhhh,,, Jonghyun sana Yoonmi kayak sepsang muda-mudi yg lagi pendekatan pd ortu masing-masing. Setelah kemarin Jjong sukses beramah tamah dg ayaj Yoonmi, skrg giliran Yoonmi yg penedekatan sama ibunya Jjong,,haha

    aku msh pensaran sama judulnya,, kirain dipart ini kata rose bakal muncul lagi,, belum nemu konflik sebenarnya kayakanya,, tunggu next part deh,, XD

  3. *ngakak
    tu yoonmi nekat yaa..ditampar beneran XD
    ada mslh apa dgn ‘appa’nya jjong?? 😮 koq kyk.a jjong becni bgt..
    Eh,tebakanq bener..jjong akan menemukan sesuatu pas ke rmh.a yoonmi lgi..hahahaa*bangga
    aq sesuju ma eommanya jjong..aq juga berharap pasangan hidupnya jjong tu si yoonmi..wkwk
    hmm..konflik.a blm muncul yaa???penasaran!!
    Aq tgu…^o^

  4. Waaaaa~ akhirnya jonghyoonmi akrab jugaaaaa (y) semoga mereka langgeng(?) Hehe
    Nice ff onnie ^^ next partnya ditunggu yaaa 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s