Hiding Love

Title              : Hiding Love

Author           : tiara_jinki

Main cast       : Kim Jonghyun, Im Yoona

Other cast       : Key(Kim Kibum)

Genre             : Romance, friendship, sad.

Length           : Oneshoot

Rating           : PG

Hembusan angin musim gugur menyentuh setiap sudut wajahku. Terasa dingin dan menyegarkan. Aku memandangi pemandangan yang indah dari atas bukit ini. Masih di sini, di bawah pohon yang menjadi tempat kita sering bertemu. Tempat di mana pertama kali bertemu denganmu. Tempat di mana perasaan itu datang padaku. Perasaan yang hanya bisa ku simpan sampai saat ini.

Tubuhku terbaring di atas rerumputan hijau. Seperti biasa, aku menatap langit yang tidak begitu cerah hari ini. Suasana sepi menyelimuti diriku, sunyi tidak seperti dulu yang penuh dengan gelak tawa dirimu atau isakan tangis darimu. Sayangnya dulu dan saat ini sudah berbeda.

Ingatanku mulai mengingat bagaimana pertama kali aku bertemu denganmu. Saat itu, aku tidak sengaja menemukan tempat ini. Dan aku melihat kau sedang terduduk di bawah pohon. Awalnya aku ingin pergi namun, saat aku mendengar suara isakan tangis. Langkahku pun terhenti, entah mengapa saat itu kakiku berjalan mendekatimu begitu saja.

Aku benar-benar gugup saat itu. Tidak seperti bertemu dengan yeoja biasanya, aku benar-benar gugup saat melihatmu. Kau mendongakkan kepalamu dan memperlihatkan matamu yang memerah dan air mata yang terus mengalir dari kedua matamu yang sangat indah itu. Aku merogoh saku celanaku dan mengulurkan sapu tangan padamu.

Aku tidak bisa melihat seorang yeoja menangis. Walaupun ku akui aku juga sering menangis. Yeah, namja yang lemah bukan?. Saat itu, kau hanya diam seribu kata dan membuat suasana menjadi sangat sepi.

Beberapa hari berlalu, aku baru tahu kalau ternyata kau satu sekolah denganku. Kelasmu berada di samping kelasku. Tapi, mengapa aku tidak tahu?. Yeah, mungkin karena kau begitu pendiam. Saat pulang dari sekolah, aku kembali ke bukit di mana aku bertemu denganmu. Hatiku berkata ingin mengenalmu lebih jauh lagi.

Dugaanku benar, kau sedang berada di bawah pohon dan menatap lurus ke depan. Dengan ragu aku menghampirimu dan duduk di sampingmu. Aku mengulurkan tanganku dan berusaha berkenalan denganmu. Tapi, kau hanya diam. Apakah kau tidak ingin berkenalan denganku?. Saat itu, aku sangat kaget karena kau yeoja pertama yang tidak membalas uluran tanganku.

Namun, aku tidak putus asa untuk berkenalan denganmu. Aku selalu mendekatimu, mendatangi kelasmu, dan menemuimu di bukit itu. Sampai pada akhirnya, kau membalas uluran tanganmu dan tersenyum manis padaku. Jantungku tiba-tiba berdebar dengan kencang saat itu. Ternyata namamu, Im Yoona. Nama yang cukup bagus.

Sejak hari itu, kau mulai membalas perkataanku dan sesekali aku mengatakan hal yang lucu yang ternyata sukses membuatmu tertawa. Kau semakin cantik saat kau tertawa apalagi saat bibirmu tersenyum.

Seiring waktu berlalu, kau dan aku menjadi dekat. Kau bilang kita bersahabat. Setidaknya akulah satu-satunya namja yang berhasil dekat denganmu saat itu. Aku tersenyum lebar saat kau mengatakan itu. Beberapa fakta yang aku tahu tentangmu selama ini : kau akan menangis jika menonton drama bergenre keluarga, kau tidak suka keramaian, kau suka mendengarkan lagu ballad, kau suka menyendiri, kau tidak suka katak, cicak, dan paus, dan yang paling aku sukai adalah kau menyukai suaraku.

Pernah saat itu kau memintaku untuk bernyanyi di hadapanmu. Awalnya aku tidak mau dan menolaknya mentah-mentah. Tapi, kau terus meminta dan membuatku risih dengan permintaanmu itu. dan pada akhirnya, aku bernyanyi di hadapanmu dengan rasa gugup yang ku tutupi. Saat itu aku menyanyikan lagu Mariah Carey – When You Believe. Aku melihat matamu yang menyiratkan kekaguman pada ku. Aku tersenyum melihatmu seperti itu.

Pada saat liburan itu, cuaca sangat buruk dan membuatku tidak pergi ke bukit yang setiap hari aku kunjungi. Entah kenapa saat itu perasaanku sangat tidak enak. Hatiku berteriak dan menyuruhku untuk pergi ke bukit itu dalam cuaca yang buruk iti. Karena aku tidak bisa membendung lagi rasa kekhawatiranku itu. Aku pun memilih untuk pergi ke bukit itu dalam hujan yang deras dan badai.

Guntur terus terdengar di telingaku, aku semakin khawatir. Bagaimana kalau kau ternyata ada di sana dalam keadaan basah kuyub? Bagaimana kalau kau tersambar petir? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu? Semua pertanyaan itu membuat otakku ingin pecah. Dingin menyelimutiku, bibirku bergetar, dan aku semakin cemas dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Dugaanku benar, ternyata kau sedang duduk di bawah pohon dan membiarkan tetesan hujan membasahi tubuhmu. Aku berjalan menghampirimu dan berteriak memanggil namamu. Kau bangkit dari dudukmu dan membalikkan badanmu.

Walau wajahmu di basahi oleh air hujan namun air matamu masih terlihat olehku. Kau menangis namun kali ini dalam diam. Air mataku terjatuh begitu saja, aku tidak tahu mengapa aku menangis. Mungkin karena melihamu sedih seperti ini.

Aku perlahan menghampirimu dan ibu jariku bergerak menyeka air matamu. Tapi, kau malah semakin keras menangis. Saat itu juga, aku langsung menarikmu ke dalam pelukanku, aku harap dengan begitu kau bisa tenang. Beberapa menit berlalu, aku menarik tanganmu untuk masuk ke dalam sebuah rumah tua yang tidak di tinggali lagi. Setidaknya kami bisa berteduh.

Menyeramkan memang tapi apa boleh buat. Selama berteduh aku berusaha membuatmu tertawa tapi nyatanya leluconku gagal membuatmu tertawa. Kali ini, aku diam. Memikirkan cara untuk membuatmu berhenti menangis. Aku menatapmu tapi kau mengalihkan pandanganmu agar tidak menatapku.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Senyum terukir di bibirku dan aku bertanya mengapa kau seperti ini. Awalnya kau diam saja dan menundukkan kepalamu. Tapi aku terus bertanya dan akhirnya membuatmu menangis semakin kencang. Tangisanmu bukan sesuatu yang ku harapkan tapi tak apa karena aku senang kau bisa terbuka padaku.

Ternyata kau menangis karena masalah keluargamu. Sesuatu yang sudah ku duga sebelumnya. Saat itu,kau bilang karena orang tuamu kembali bertengkar hebat dan membuatmu frustasi mendengar teriakan mereka. Aku menatapmu dan memelukmu lagi.Aku tahu saat itu kau sedang dalam keadaan buruk. Aku membiarkan air matamu membasahi bahuku. Walau suasana dingin sangat terasa. Tapi, memelukmu seperti itu membuatku hangat.

Aku sangat ingin kembali di masa-masa itu. Di mana aku bisa memelukmu saat kau sedang sedih. Di mana aku bisa mengusap air matamu saat kau menangis. Saat aku menghiburmu dan membuatmu tertawa. Aku ingin sekali memutar waktu di saat-saat itu.

Aku bangkit dari rebahanku dan menatap pohon yang menjadi saksi bisu bagaimana perjalananku mendekati Yoona. Pohon yang penuh kenangan ini, pohon yang menjadi tempat teduh kami. Pohon tempat kami bermain. Satu hal yang membuatku kagum, tenyata Yoona bisa memanjat pohon. Padahal dia yeoja. Tapi, itu bukan lah suatu keanehan. Semua orang bisa mempelajari untuk memanjat pohon tapi bagiku itu tidak penting.

Kali ini, air mataku menetes lagi. Aku memang namja payah. Kenapa aku sering menangis? Menangis saat mengingat semua hal yang pernah ku alami bersamamu. Aku benci menjadi seperti ini. Yoona kenapa aku seperti ini sedangkan kau tidak?. Kau masih bisa tersenyum bahagia sedangkan aku terus tersenyum pahit di hadapanmu.

Sampai sekarang aku tidak pernah menyesal mengenalmu dan menjadi sahabatmu. Yang aku sesali hanyalah. Kenapa sampai sekarang perasaan ini tidak bisa terhapus dari hatiku? Katakan mengapa Yoona?.

Kenapa sulit sekali menghilangkan perasaan yang terus membuatku sakit ini?. ini begitu melelahkan. Menangisi mu, mengingat kenangan ku bersamamu, memendam perasaan ini semuanya sangat membebani dan melelahkanku. Rasanya sungguh lelah hidup di dunia ini. Untungnya aku tidak berfikiran bodoh untuk mengakhiri hidupku.

Aku menghela nafas berat. Lagi-lagi, aku tidak bisa mengontrol perasaan egoisku untuk memilikimu. Tapi, aku…aku cukup senang dengan posisiku sebagai sahabatmu. Aku masih ingat saat kau mengatakan kalau sahabat  adalah yang paling berarti dalam hidupmu. Aku sangat senang saat kau mengatakan itu.

Sampai semuanya sedikit berubah saat kau bertemu dengan namja yang berhasil merenggut perhatianmu dan hatimu. Namja itu bernama Kim Kibum atau yang biasa orang panggil Key. Semua orang mengenalnya tentu saja namja paling fashionable di kampus itu menarik perhatian semua orang termasuk Yoona.

Reaksi Yoona saat melihat Key adalah kesal terhadap Key. Karena mereka berdua sering bertengkar. Yeah, sebuah benci bisa berubah menjadi cinta. Tapi, aku hanya bisa menghela nafasku dan membiarkan mereka menjadi pasangan.

Karena itu hubunganku dan Key menjadi dekat. Sejak hari di mana Key berubah, menjadi lebih lunak di hadapan Yoona dan yang seperti ku duga. Dia menyukai Yoona. Saat itu aku hanya bisa menghela nafas dan pergi ke bukit yang biasa aku datangi. Yang ku rasakan saat itu adalah sesak.

Sejak aku tahu kalau dia menyukai Yoona. Dia mulai mendekatiku dan menanyakan hal-hal yang di sukai dan tidak di sukai oleh Yoona. Aku tidak mungkin tidak menjawabnya, aku menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan olehnya.

Saat aku sedang berada di bukit dengan Yoona. Dia menceritakan hal tentang Key dan Key. Semua itu cukup membuat telingaku panas. Tapi, aku tetap memasang senyumku. Walaupun menyesakkan kau membicarakan tentangnya tapi bukankah sebagai sahabat aku harus menjadi pendengar yang baik bagimu?.

Sinar matahari mulai terlihat dan menyinari tubuhku. Tapi, tidak terlalu panas karena hembusan angin yang terus saja bertiup. Seandainya kau di sini Yoona, di sampingku. Di tempat yang biasa kau tempati. Kenapa kau tidak pergi ke bukit ini lagi Yoona?. Aku merindukanmu.

Mataku menangkap sepasang kupu-kupu berwarna biru muda. Sangat romantis memang. Bahkan hewan pun mempunyai pasangannya masing-masing tapi kenapa aku yang seorang manusia tidak?. Menyedihkan-_-. Yoona, kau lah alasan mengapa sampai saat ini aku tidak mempunyai yeojachingu. Kenapa kau membuatku seperti ini?. Seperti orang bodoh yang mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah di dapatkan. Tuhan, bisakah kau membantuku untuk membuatku mengharapkan sesuatu yang tidak pasti?. Aku benci ini.

Aku benci, diriku yang tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku benci pada diriku yang tidak pernah bisa berhenti mencintaimu. Aku benci pada diriku…pada diriku yang selalu menanti keajaiban yang tidak akan pernah datang.

Kau bilang aku tidak boleh mengorbankan diriku untukmu. Kau bilang aku tidak boleh sampai terluka hanya karenamu. Tapi nyatanya, aku selalu terluka karenamu. Aku selalu tersakiti oleh perasaan ini karenamu. Apa yang harus aku lakukan Im Yoona?. Bisakah kau menolongku?.

Di hari di mana aku membawa satu bucket bunga mawar merah. Di hari di mana aku sudah mempersiapkan diriku untuk menyatakan perasaanku padamu. Di hari di mana hatiku benar-benar sakit dan sesak. Masih di tempat yang sama di bukit ini.

Saat itu aku menunggumu dengan rasa gugup yang terus menyerangku. Kau datang dengan wajah yang sangat bahagia. Wajahmu berseri-seri saat itu. kau langsung memelukku dengan girangnya. Aku tersenyum lebar melihatmu seperti itu.

“Jjongie, kau tahu tidak? Key… dia, ternyata dia menyukaiku! Dan tadi dia menyatakan perasaannya padaku! Rasanya seperti mimpi!”.

Kata-kata yang terlontar dari mulutmu itu seperti pisau yang menusuk jantungku. Rasanya aku ingin menangis saat itu juga. Namun, ku tahan. Ku tahan hanya untukmu Im Yoona. Aku tersenyum yang sangat memaksakan. Aku memberikan satu bucket bunga mawar merah padamu sebagai ucapan selamat. Bunga mawar itu, bunga mawar yang seharusnya menjadi simbol perasaanku padamu Yoona.

Tidak tahukah kau saat itu aku benar-benar tersakiti?. Kau bilang, kau akan membalas orang yang telah menyakitiku. Yang menyakitiku adalah kau, Yoona. Bisakah kau membalasnya? Membalas setiap air mata yang ku teteskan untukmu, membalas setiap sesak yang ku rasakan karenamu? Bisakah?.

Air mataku kembali terjatuh dari pelupuk mataku. Rasanya begitu menyesakkan mengingat saat-saat itu. Tapi, karena aku sahabatmu. Sahabat yang selalu mengerti keadaanmu. Sahabat yang selalu berada di sampingmu. Sahabat yang ada saat kau sedih ataupun senang. Sahabat yang selalu tersenyum di depanmu. Sahabat yang selalu ingin melihatmu bahagia. Sahabat…yeah…karena aku adalah sahabatmu.

Im Yoona, kenapa aku harus merasakan ini?. Apa salahku di masa lalu sampai aku harus merasakan ini?. Kali ini, aku membiarkan semua persediaan air mataku habis karena mengingatmu. Membiarkan setiap tetes air mata terjatuh dari pelupuk mata ini. Dari mata yang selalu menatapmu, memperhatikanmu. Mata ini, mata yang selalu memandangmu dengan kasih. Mata yang menatap dengan pedih saat kau dengan Key.

Aku memejamkan mataku. Seandainya ada dunia di mana hanya ada kedamaian, Cinta yang terbalas, dan tenang. Seandainya ada dunia seperti itu. Aku akan tinggal di dunia seperti itu dan memilih meninggalkan dunia ini. Dunia di mana aku bisa mencintai seseorang yang mencintaiku juga. Tanpa ada tangis. Tanpa ada kekecewaan. Yang ada hanyalah senyum, gelak tawa dan kebahagiaan.

Dulu, kau pernah memintaku untuk menceritakan kenapa aku menjadi sedih dan sering menangis. Kau bilang kau akan membantuku mengatasi masalahku. Sesuai permintaanmu aku menceritakan hal yang sedang ku rasakan.

“Yoona-ya, aku sedang mencintai seorang yeoja yang cantik, dan manis ketika tersenyum. Berambut panjang berwarna coklat berponi samping kanan. Tapi, ternyata dia menyukai orang lain dan bukan aku. Dia…yeoja itu. bisakah aku mendapatkannya? Apa aku harus menunggu sampai yeoja itu berpisah dengan pasangannya? Apakah aku sangat egois karena mengharapkan yeoja itu berpisah dengan pasangannya? Aku bingung Yoona”.

Tahukah kau, yeoja yang ku ceritakan saat itu adalah kau?. Saat itu kau terdiam sesaat dan tersenyum. Senyum yang sangat ku suka. Kau merangkulku dan mengajakku menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit. Kau bilang, di dunia ini yeoja tidak hanya satu. Jadi aku harus melupakan yeoja itu dan mencari yeoja lain.

Tapi, masalahnya. Sampai sekarang aku tidak bisa melupakanmu. Aku tidak bisa mencintai yeoja lain selain kau. Perasaan terkutuk ini sulit ku bunuh. Bagaimana Yoona? Bisakah kau menolongku?.

Sudah banyak air mata yang jatuh tersia-sia karena perasaan ini. Cairan bening itu sudah sering terjatuh dari mataku. Tapi, anehnya air mataku tidak pernah habis karena menangisimu. Bukan…bukan menangisimu. Tapi, menangisi diriku yang bodoh karena terus saja mencintaimu.

Besok, adalah hari yang membahagiakan untukmu. Tentu saja, kalian berdua pasti sedang sibuk mempersiapkan pernikahan kalian bukan?. Yoona pasti kau terlihat cantik besok. Sedangkan aku, aku masih setia di sini. Menatap langit yang gelap dengan perasaan terkutuk ini. Saat ini, perasaanku kacau. Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih. Sesak kembali terasa saat mengingat esok kau dan Key akan mengucapkan janji sehidup semati di altar itu.

Kau kembali memintaku untuk melakukan sesuatu padamu. Kau memintaku untuk datang di pernikahanmu dan duduk di barisan paling depan. Kau, Im Yoona kenapa kau jahat sekali padaku?. Kau, apakah kau ingin menorehkan luka lebar di hatiku ini?. Dan kau memintaku untuk menyanyi di pernikahanmu. Yoona, seandainya kau tahu apa yang ku rasakan. Apakah kau masih akan meminta seperti itu? apa kau akan tetap menyuruhku datang dan duduk di barisan pertama? Akankah?.

Mataku menatap ke sebuah undangan yang terletak di sampingku. Tertera nama Im Yoona dan Kim Kibum di undangan tersebut. Rasanya akan sangat bahagia jika namaku yang tertulis di undangan itu. Tapi aku tahu itu tidak akan pernah terjadi.

“Jjongie! Awas kalau kau tidak datang! Kau harus berada di barisan paling depan. Karena aku mau kau melihat kebahagiaanku secara jelas. Hehe. Ah~ Jjongie, rasanya seperti mimpi aku sebentar lagi akan menikah dengan Key. Tapi, tenang saja Jjongie, aku tidak akan pernah melupakanmu! Karena kau adalah sahabatku. Orang yang sangat berarti untukku!”.

Masih teringat jelas dalam ingatanku saat kau memberikan undangan itu padaku. Saat itu aku hanya tersenyum pahit. Kau sangat bahagia saat mengatakan itu padaku. Matamu berbinar-binar. Sedangkan aku? Aku sangat sesak hingga aku sulit bernafas.

Tawamu, senyummu, membuatku menuruti semua permintaanmu yang sangat menyakitkan itu. Dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah bisa menolak permintaanmu. Aku menarik nafas panjang. Ini begitu menyesakkan. Jika aku mempunyai kesempatan memilih bagaimana aku hidup di dunia aku akan memilih menjadi seperti Key yang kau cintai itu.

Semakin aku memikirkanmu, tangisku semakin keras. Aku hanya bisa menangis saat ini. aku tidak bisa menghentikan tangisku. Seandainya, kau ada di sini. akankah kau mengusap air mataku dan memelukku? Ku rasa tidak.

Aku tidak tahu apakah esok aku akan sanggup menahan air mataku. Aku tidak tahu apakah esok aku bisa tersenyum atau tidak. Aku tidak tahu… tapi, aku akan berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh. Aku akan berusaha melukis seulas senyum di wajahku. Karena, aku adalah sahabatmu. Sahabatmu yang selalu bahagia jika kau bahagia. Bukankah begitu Yoona?.

Udara menjadi semakin dingin. Langit mulai menjadi gelap dan awan-awan dingin mulai mencoba menutupi sinar matahari. Angin mulai beritup dengan kencang. Musim gugur ini, bagimu adalah musim yang tidak akan terlupakan olehmu. Yeah, aku juga begitu. Musim ini, musim di mana hatiku terus merasakan sakit yang sangat. Musim, di mana aku harus kembali merasakan sesak yang membuat nafasku sesak setiap harinya.

Musim di mana aku selalu memaksakan senyum di hadapanmu. Musim di mana aku terus meneteskan air mataku karenamu. Kini, aku benar-benar merasa aku adalah manusia yang paling menyedihkan di dunia ini. yeah, menyedihkan. Menyedihkan karena aku tidak pernah bisa mengungkapkan perasaanku padamu. Menyedihkan karena aku terus memendam perasaan ini.

Tes…tes…tes…

Tetesan hujan sudah mulai turun dan aku masih tetap berdiam di sini. tidak bergerak sedikitpun. Gemuruh mulai tertangkap di telingaku. Semakin lama hujan semakin turun dengan deras. Tapi, bodohnya. Aku masih terduduk di bawah pohon ini. Masih terdiam dan memandangi langit.

Aku mengulurkan tanganku untuk merasakan air hujan yang dingin itu. ku tatapi setiap tetes hujan yang terjatuh di tanganku. Mungkin jika ku tampung air mataku yang selama ini keluar dari kedua mataku. Kedua tanganku ini mungkin tidak bisa menampungnya. Aku kedinginan saat ini.

Ku rasakan tubuhku mulai menggigil. Walaupun begitu, tubuhku masih tidak mau meninggalkan tempat ini. Dan pada akhirnya aku membiarkan air hujan membasahi tubuhku. Ku biarkan angin menerpa tubuhku dengan kencang. Ku biarkan dingin menyelimutiku. Ku biarkan semuanya terjadi.

Seperti batu yang tidak bisa bergerak dan tidak bisa melakukan apa-apa. Mungkin seperti itu aku. Semua kenanganmu, terekam dengan cepat dalam ingatanku. Air mataku kembali menetes dan bercampur dengan air hujan yang terjatuh dari langit yang gelap itu. Senyum, tawa, dan tangismu terus terbayang di pikiranku.

Sebagai sahabat, aku selalu berada di sampingmu saat kau merasakan sakit di hatimu. Namun, sebagai seorang namja yang mencintaimu aku hanya bisa menghiburmu dengan perasaan yang terus terpendam. Tanpa bisa menyatakan apa yang aku rasakan padamu.

Ku pejamkan mataku. Rasanya dunia ini benar-benar membuatku lelah. Lelah akan semua tangisku ini. Lelah akan semua rasa sakit yang terasa oleh hatiku. Lelah akan perasaan ini. Lelah akan mencintaimu secara diam-diam. Lelah akan segala hal. Kepalaku tertunduk dan kembali menangis seiring air hujan yang membasahi tubuhku ini.

Kenapa aku tersiksa dengan cinta yang hanya bisa ku pendam ini?. Kenapa aku harus merasakan sakitnya mencintaimu?. Kenapa aku merasakan cinta yang amat menyakitkan?. Kenapa aku yang merasakan ini semua?. Apa salahku? Apa dosa besar yang telah ku perbuat sampai aku harus seperti ini?.

Seperti pemain dalam sebuah film. Aku hanya bisa mengikuti skenario yang telah tertulis dalam naskah tanpa bisa menolaknya sama sekali. Walau aku harus melakukan adegan berbahaya, walau pada akhirnya akulah pemain yang berakhir menyedihkan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yeah, seperti itulah.

*Keesokan Harinya*

Aku menarik nafas panjang. Tubuhku terdiam sejenak di depan sebuah gereja di mana Yoona dan Key akan mengatakan janji sehidup-semati itu. kedua tanganku terkepal menahan sesak dan sakit yang menyerangku.

Nafasku tercekat dan semua saraf di tubuhku menjadi tidak berfungsi lagi. Aku tidak bisa merasakan angin musim gugur yang menyapaku, aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Yang terasa hanyalah sakit. Tapi, karena kau memintaku melakukan ini. Karena kau ingin aku melihat kebahagiaanmu di barisan paling depan. Karena kau membuatku berjanji. Karena kau yang memintaku melakukan hal yang menyakitkan ini. yeah, karenamu Im Yoona.

Dengan jas berwarna silver dan syal abu-abu yang melingkar di leherku serta kacamata berlensa di mataku. Kakiku mulai melangkah memasuki gereja yang telah terhias ini. kakiku rasanya berat sekali untuk melangkah. Aku sebagai sahabat yang mempunyai janji padamu datang ke acara mu.

Dengan senyum yang ku paksakan aku duduk di barisan paling depan sesuai permintaanmu. Permintaan yang sangat menyakitkanku. Yeah, sebagai sahabatmu aku rela melakukan ini. sebagai sahabat…

Beberapa menit kemudian, suara dentingan piano mulai tertangkap kedua telingaku. Dari pintu gereja, mataku melihatmu sedang berjalan dengan anggun menuju altar di mana Key sudah menunggumu. Dengan gaun panjang tanpa lengan berwarna putih polos itu kau terlihat sangat cantik. Juga rambutmu yang kau biarkan tergerai. Rambut lurusmu itu semakin membuatmu cantik.

Kau tersenyum sangat bahagia. Tapi, matamu…tidak melihatku. Matamu hanya fokus terhadap altar dan Key itu. walaupun begitu, aku masih tersenyum untukmu. Aku masih duduk di sini untukmu. Hanya untukmu. Saat kau hampir sampai di altar, matamu dan mataku saling bertemu. Aku tersenyum lebar dan mulutku mengatakan “chukae” padamu. Kau membalas senyumku dan kemudian kembali memandangi Key. Walau singkat tapi bagiku cukup.

Mataku terpejam menahan air mataku yang akan terjatuh. Saat ini pendeta itu mulai mengatakan hal yang biasa yang di katakan saat pernikahan. “aku bersedia” terdengar suara Key di telingaku. Air mataku seketika terjatuh. Cepat-cepat aku menghapus air mataku. Dan kini, pendeta itu mengatakan hal yang sama pada Yoona. Yoona dengan mantapnya mengatakan hal yang sama dengan Key.

“kini, silahkan kalian berciuman”ucap pendeta itu.

Aku menelan ludahku dalam-dalam. Kacamataku kini berembun karena air mataku. Terdengar sorak-sorai dari para tamu yang datang. Sedangkan aku hanya memejamkan mataku dan membiarkan air mataku membasahi pipiku. Setelah mereka selesai melakukan hal itu, aku menyeka air mataku. Yoona menatap ke arahku, dia tersenyum. Aku pun membalas senyumnya walau terasa sangat pahit.

Yoona, hari ini selamat atas hari yang paling membahagiakan dalm hidupmu. Selamat Yoona!. Walau terasa sangat menyakitkan tapi aku akan berusaha menerima semuanya. Kini, pesta pernikahan pun di mulai.

Aku mulai berjalan mendekatimu dan Key. Aku tersenyum dan mataku sudah berkaca-kaca. Aku menjabat tangan Key dan menepuk punggungnya. “Chukae Key-ya! Ku harap kalian akan bersama selamanya. Jaga Yoona dengan baik yah, karena kadang dia seperti anak nakal”candaku. Yoona menatapku kesal dan memukul bahuku. “Mianhae, hanya bercanda”lanjutku.

Kini, aku berhadapan denganmu Yoona. Nafasku semakin sesak dan lidahku menjadi kelu. Aku…aku…tidak bisa menahan air mata ini lagi. “aku sungguh terharu Yoona-ya, Chukae!”ucapku. aku menoleh ke arah Key. “bolehkah aku memeluk istrimu?”tanyaku.

Key terkekeh. “tentu saja Jonghyun. Kau kan sahabatnya. Tentu saja boleh”jawab Key. “ouh, Jonghyun-ah. Tentu saja kau boleh”ucap Yoona dan memelukku dengan erat. Sudah lama Yoona aku tidak memelukmu seperti ini. Akankah aku bisa memelukmu lagi. Pelukan hangat ini. yang dulu sering ku lakukan padamu di kala kau sedang sedih.

“gomawo”gumamku.

Aku melepaskan pelukan singkat ini. ku seka air mataku yang terjatuh. “ku harap kalian berbahagia selamanya. Sekali lagi Chukae!”ucapku.

Yoona tersenyum ke arahku. Senyummu, senyum yang membuatku suka padamu. Sekarang, Kau telah menjadi milik Key. Sekarang, kau akan lebih meluangkan waktumu dengan Key. Sekarang, dari hari ini aku akan kesepian. Aku akan sendirian di bukit itu. lalu, untuk permintaanmu yang terakhir di acaramu ini aku akan menyanyikan lagu untukmu. Yeah, sebuah lagu.

Aku duduk di depan piano. Mataku menatap ke arah Yoona dan tersenyum memaksakan. Tanganku mulai menyentuh tuts piano. Suara dentingan piano mulai tertangkap telingaku. Mataku hanya fokus dengan tuts piano dan sesekali aku memejamkan mataku untuk menikmati irama lagu.

Gaseum gadeukhan geudaek heunjeok

(The traces of you that fill my heart)

Nareul soomshwigae haeyo

(give me breath)

Dalbitchae gin bami modu mooldeulmyeon
(When the night becomes engulfed by moonlight)

Hye eonal su eopneun gidarin da kkeutchi nalkkayo
(will this impossible waiting end?)

Gijeokeul bileo mootgo daphaeyo

(begging for a miracle, I respond)

Oh, Geudae. Mamae datgo shipeun nal malhaji

(Oh, Love. I want to touch your heart)

Mothae , Shirin gooreum dwiae garin byeolbitdeul cheoreom
(but I can’t speak, like starlight hidden behind frozen clouds)

Saranghae, Ipsool kkeutae maemdoldeon apeum gobaek modu

(I love you, This painful confession always lie on my tongue)

Keutnae, Noonmulae heulleo
(I’ll end it all, and let the words flow with my tears)

Saat ini aku tidak ingin melihatmu. Aku tidak ingin menunjukkan mataku yang berlinang air mata ini. seandainya kau peka, kau akan tahu bagaimana pedihnya selama ini aku mencintaimu. Perasaan ku yang tak pernah ku katakan padamu. Ku wakili dengan lagu ini.Seiring dengan irama lagu ini, air mataku terus terjatuh dan tak dapat ku hentikan.

Shimjangae datneun ee hwasaleun
(The arrows that reached my heart)

Eejen nae mom gatgaetjyo

(I guess are now a part of me)

Jukeul mankeum neomu apado
(Even if it hurts so much like I want to die)

Nae mamae bakhin geudaereul kkeonael su eopnaeyo
(You’re so deep inside of me, I can’t remove you)

Sarangeeraseo, Nan sarangeeraseo

(Because it’s love, Because for me it’s love)

Walau telah ku coba untuk melupakanmu. Walau aku terus berusaha membunuh perasaan ini. tapi, pada akhirnya aku tetap tidak bisa melupakanmu dan membunuh perasaan ini. Kau sangat berarti bagiku aku tidak bisa begitu saja menghilangkan rasa cinta ini. Karena bagiku mencintaimu seperti ini, mencintaimu sama halnya dengan menjagamu dan berada di sampingmu. Bagiku ini cinta..

Gatji mothaedo nae mami

(even if I can’t be with you)

Seulpeun inyeonae byeok apaegaromak.hyeodo
(even if  my feelings end)

Barabol seuman igeosiramyeon

(barred by a wall destiny)

Nae jeonbunikka

(I still love you)

Dan akhirnya aku selesai melaksanakan permintaanmu ini. aku menyeka air mataku dan tersenyum ke arahku. Terdengar suara tepuk tangan dari semua orang. Aku memberanikan diriku untuk menatapmu. Kau tersenyum dan mengacungkan kedua ibu jarimu padaku. Im Yoona tetap saja aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini.

Walaupun ini sangat sakit, walaupun ini sangat menyesekkan. Aku akan selalu menjadi orang yang siap menjadi tempat kau menumpahkan semua kepedihanmu. Aku akan selalu berada di sampingmu. Mungkin aku akan tetap menyembunyikan perasaan ini. melihatmu bahagia sudah cukup bagiku. Aku mencintaimu….

FIN

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

14 thoughts on “Hiding Love”

  1. ya Allah… nyesek bgt ya T.T
    pertama aq kira ini pov cewenya… trnyata jjong…
    huaaaa… jjong… yoona bukn jdohmu jjong… tabahlah…
    keren thor T.T

  2. Kasihan jonghyun tersiksa karna perasaanya trhadap yoona. Coba jjong yg nembak yoona duluan, pasti jjong yg akan menikah…

    Daebak thor !!!!

  3. sedih, terharu thor… feel-nya bener-bener dapet. 😦
    sakit banget ditinggalin yoona 😦 mending sama aku aja jong ;;) #digamparblingers

    pas baca, aku pikir cerita ini background lagunya pasti quasimodo dan bener! lagu itu bener-bener bikin galau….

  4. astaga. . . TT_TT
    Sabar y jjong, perasaanmu dalam sekali. Feelnya dapet. Aku bc ni ff sambil dengar lonely.

    nice ff ^^b

  5. huweee T.T nyesek banget baca ni ff..
    feelnya dapet banget T.T kasian jjong, sama q aja yah *ditendang
    Daebak thor!! T.T

  6. Author! Daebak!! Ga bisa di komentarin lagi ini.. :”
    author juga kejam.. -3- udah sukses buat aku nangis sesenggukan.. ><
    Jjongie setia banget sihh.. Jd terharu.. 😦
    Keep Write!!

  7. Lalu dr kejauhan,seseorang hanya bisa menatap jjong, dengan perasaan gak kalah sesaknya.. dan berkata dlm hati “meski di matamu cuma ada yoona, tapi aku akan selalu menjadi orang yang merasakan berjuta kali lipat luka yg kau rasakan”

    Dan seseorang itu bernama HeartLess…
    #plaakk!!!

    Huweeh othor…. malang amat si jjong…ckck…
    tp sabar amat ya jjong nya…
    hiks hiks..jjong 😥

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s