A Ghost Inside Me – Part 2

 

Title :           A Ghost Inside Me  Part 2

Author :             Park Ara

Main Cast :       Choi Minho, Hwang Su Ji, Key, Jung Cheon Sa

Support Cast :  Lee Jinki, Hwang Dong Joon (Su Ji-Appa), Geum Jin Ah (Su Ji-   

                            Eomma), dan     masih terus bertambah…

Length :             Sequel

Genre :              Fantasy, Friendship, Romance

Rating :              PG 15

Air mata Su Ji mulai merebak pelan. Sekarang ia melihat tangannya sudah berlumuran darah ketika tangannya menyentuh bagian belakang kepala Minho. Ya, darah yang sangat banyak karena baunya juga sangat menyengat. Su Ji sangat ingin berteriak, namun ia tak sanggup. Ia benar-benar merasa nyawanya berada di ambang kematian, ia tidak mau mati sekarang. Ia ingin hidup. Ia belum siap kalau harus meninggalkan dunia secepat ini. Tapi… kenapa mendadak semuanya menjadi gelap? Apakah ia harus merelakan semuanya? Semuanya walaupun ia tidak pernah mempunyai harapan dan hidupnya memang tak berguna…

“Bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya Nyonya Geum Jin Ah dengan wajah yang dipenuhi dengan kecemasan. Satu jam yang lalu ia menerima kabar kalau anaknya, Hwang Su Ji mengalami kecelakaan parah dan hal ini membuatnya begitu shock.

“Tenanglah yeobo…” Tuan Hwang Dong Joon dengan sabar menenangkan istrinya itu. Sebenarnya ia juga begitu cemas. Namun ia tak mau menunjukkannya agar istrinya tidak bertambah khawatir.

“Dia sudah melewati masa kritisnya. Sekarang kita hanya perlu menunggunya sadar saja,” jawab si Dokter sambil tersenyum.

“Apa kami bisa melihatnya?” tanya Tuan Dong Joon.

“Tentu saja. Baiklah, saya tinggal dulu. Permisi…”

“Ne, khamsahamnida,” Tuan Dong Joon dan istrinya membungkukkan badan. Lalu Tuan Dong Joon menatap istrinya. “Ayo,” ajaknya dan memasuki kamar perawatan sambil merangkul sang istri.

Su Ji melihat keadaan putih di sekitarnya. Semuanya putih namun kosong, tak ada siapapun kecuali sesosok tubuh tinggi yang berdiri di sisinya. Su Ji menyipitkan matanya. Ia tidak bisa melihat sosok itu karena cahaya di sekitar tubuhnya begitu terang.

“Kau siapa?” tanyanya dengan suara parau. Bahkan ia sangat bersyukur karena akhirnya ia bisa menemukan suaranya lagi.

Sosok itu tidak menjawabnya. Ia hanya menoleh ke arah Su Ji dan terlihat sebuah senyum pahit menghiasi wajahnya.

Su Ji masih berusaha mencerna semuanya. Tentang dimana dia berada, siapa sosok ini dan apakah ia masih diizinkan untuk hidup di dunia atau tidak. Parahnya, ia pun tidak bisa menemukan satu pun jawaban atas semua pertanyaannya itu. Ini semua begitu membingungkan.

“A… apa kau tahu, apakah aku masih hidup?” tanya Su Ji pelan.

Sosok itu kembali tersenyum. “Tunggu sampai seseorang memanggil namamu, Hwang Su Ji,” jawabnya masih penuh misteri.

Su Ji menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak mengerti. “Apa maksudmu? Siapa yang akan memanggilku?” paksa Su Ji namun ia tak mendapatkan jawaban apapun. Yang kini terjadi, sosok itu malah pergi meninggalkannya sendiri. “Ya, kau mau kemana? Ya! Siapa yang akan memanggilku, huh?” serunya sekeras mungkin. Ia ingin berlari namun kakinya terasa sangat berat. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa ia benar-benar sudah mati?

“Su Ji? Hwang Su Ji?”

Su Ji terdiam. Ia mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Mencari-cari sumber suara wanita itu. Dimana itu? Kenapa ia tidak bisa melihatnya? Tidak ada siapa-siapa di ruangan itu selain dirinya sendiri.

“Su Ji-ya, ini Eomma…”

Eomma? Kali ini Su Ji semakin bersemangat untuk mencari arah suara itu. Ia ingin keluar, ia tidak ingin terjebak di tempat ini sendirian. Sampai…

“Su ji-ya, kau sudah sadar?”

Su Ji melihat sesosok wanita yang sedang menangis karenanya. Kedua matanya sedikit terasa berat dan berkunang-kunang. Namun ia sangat bersyukur karena ia masih diberi kesempatan. “Eomma…” ucapnya lirih. Kemudian ia juga melihat Appanya. Dua orang yang sangat dirindukannya kini berada di dekatnya, dan tersenyum padanya. Su Ji tidak sendirian lagi. Dan ia sekali lagi sangat mensyukuri semua ini…

“Kau mau makan apel?” tanya Nyonya Jin Ah menyodorkan sebuah apel merah yang segar.

Su Ji mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu ia terdiam memperhatikan Eommanya mengupaskan apel untuknya. “Eomma, apa lukaku begitu parah?” tanya Su Ji memecah keheningan. Jujur saja, sejak terbangun dari tidurnya tadi ia langsung teringat pada Minho. Ia tidak tahu keadaan Minho sekarang dan ia sangat ingin mengetahuinya.

“Keurom… kepalamu mengeluarkan banyak darah. Kata dokter kau mengalami gegar otak ringan. Tapi kau akan segera pulih kok, kokchongma…” jawab Nyonya Jin Ah sambil tersenyum. Lalu ia menyuapkan irisan apel pada putrinya itu.

Su Ji tidak menjawabnya lagi. Ia hanya memakan suapan apel dari Eommanya dengan menurut. Ia mengalami gegar otak ringan? Benarkah? Bukannya meremehkan, tapi bahkan ia berpikir kalau ia akan mati karena kecelakaan itu. Karena saat itu ia merasa kesulitan bernafas dan kepalanya terasa terbentur sesuatu yang sangat keras. Dalam keadaan normal, seharusnya ia sudah koma sekarang. “Eomma, apa aku boleh bertanya sesuatu?”

“Hm, kau mau menanyakan apa Su Ji-ya?”

“Mm… apa Eomma tahu keadaan seseorang yang saat itu menolongku? Oh, maksudku apa semua korban kecelakaan itu di rawat disini?”

Nyonya Jin Ah mengerutkan dahinya. “Eomma tidak tahu, sayang. Memang ada seseorang yang kau cari?”

Su Ji mengangguk. “Temanku, Eomma…”

“Teman?” tanya Nyonya Jin Ah tidak yakin. “Bukannya selama ini kau tidak punya teman? Teman yang mana sayang?”

Su Ji tertegun. Benar, selama ini ia memang tidak pernah memiliki seorang teman satupun. Dan Minho… ah, sebenarnya ia sendiri masih bingung dengan namja itu. Mereka bertemu secara tidak sengaja dan terakhir kali Minho berusaha keras untuk melindunginya. Entah perasaannya benar atau tidak, namun ia merasa kalau Minho memang sudah mengenalnya jauh sebelum pertemuan mereka di Perpustakaan.

“Su Ji-ya, apa yang kau pikirkan?” tanya Nyonya Jin Ah merusak semua bayangan Su Ji.

Su Ji pun hanya tersenyum sambil menggeleng. “Gwaenchana eomma,” jawabnya kemudian. Keurae, ia akan mencari Minho besok saja.

Su Ji melangkahkan kakinya dengan pelan menyusuri lorong rumah sakit siang itu. Akhirnya ia diperbolehkan jalan-jalan juga setelah memohon pada dokter yang merawatnya. Tapi sejujurnya ia merasa sedikit heran karena dokter mengatakan kalau keadaannya bisa pulih dengan cepat. Aneh memang, tapi ia menganggap semua ini adalah mukjizat Tuhan.

“Apakah ada pasien yang bernama Choi Minho? Ia masuk kemarin karena mengalami kecelakaan bus,” tanya Su Ji pada perawat yang menjaga meja recepcionist.

“Choi Minho? Tunggu sebentar ya,” kata perawat itu lalu mengetikkan nama Minho di komputernya. Tak lama kemudian setelah menekan enter, ia segera mendapatkan informasi mengenai orang yang dicarinya. “Ia sudah tidak di rawat disini.”

Su Ji mengernyit heran. “Maksudnya? Jadi ia sempat di rawat disini?”

“Ne. Saat kecelakaan itu terjadi, Choi Minho-ssi memang di bawa ke rumah sakit ini. Namun nyawanya tidak tertolong.”

Su Ji menutup mulut dengan kedua tangannya. Minho meninggal? Namja itu meninggal? Bagaimana mungkin? Ia baru saja bersamanya kemarin. Namja itu yang melindunginya dan yang bersamanya kemarin. Tapi… kenapa ia meninggal secepat ini? Bahkan ia belum sempat mengucapkan terima kasihnya pada Minho.

“Apa kau mau bertemu keluarganya? Hari ini jasadnya akan di ambil oleh keluarganya,” tanya perawat itu.

Su Ji mengangguk. “Ne. Aku harus kemana?”

“HAAAAAAA…. CHOIII MINHOOO!!!!”

Su Ji menatap pemandangan di depan matanya itu dengan sangat miris. Seorang wanita paruh baya yang sedang memeluk jasad tertutup kain putih itu, mungkin ia Eommanya Minho. Dan ia tahu, wanita itu pasti sangat terpukul.

Su Ji begitu ingin mendekati keluarga itu, namun entah kenapa ia tidak berani. Ia sangat ingin berterima kasih akan kebaikan yang Minho lakukan sehingga ia bisa selamat, namun nyalinya terasa begitu ciut. Baru kali ini ia merasakan begitu takut menghadapi orang lain.

“ANDWAEEE! Kau tidak boleh menyentuh anakku! Anakku masih hidup!” bentak wanita itu pada perawat yang akan mengurusi jasad anaknya.

Su Ji berpengangan pada dinding di sebelahnya. Ia merasa lututnya sangat lemas dan bisa saja ia jatuh saat itu juga. Su Ji benar-benar tak percaya. Dirinya yang bisa pulih dengan cepat, sedangkan Minho, namja itu justru telah meregang nyawa. Seandainya Minho masih hidup, ia pasti akan mengucapkan terima kasihnya sambil berlutut. Ne, ia akan melakukannya.

“Sayang…”

Su Ji terkesiap kaget begitu ada suara wanita yang memanggilnya. Nyonya Jin Ah. “Eomma,” ucapnya sambil menepis air mata yang tak terasa sudah membasahi pipinya.

“Apa itu temanmu?” tanya Nyonya Jin Ah sambil mengelus kepala anaknya.

Su Ji menelan ludahnya sebelum ia benar-benar menjawab pertanyaan itu. “Ne. Dia meninggal Eomma.”

Nyonya Jin Ah terkejut. Ia melihat anaknya sedang menangis sekarang. Ia tertegun, ini adalah pertama kalinya Su Ji menangis karena seseorang. “Sabar ya sayang… Setiap orang akan mengalami kehilangan…” hibur Nyonya Jin Ah bersimpatik.

Kali ini Su Ji membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Ya, ia ingin menangis. Karena baru kali ini ia menangis karena seseorang. Baru kali ini ia merasakan apa yang disebut dengan kehilangan itu. Sesuatu yang sering ia dengar namun tidak pernah di rasakannya. Dan ternyata rasanya begitu perih dan sulit, meskipun Minho baru menjadi bagian dari hidupnya beberapa hari ini.

‘Choi Minho, terima kasih untuk semuanya. Kau menyelamatkanku…’ bisiknya dalam hati. Ya, ia yakin Minho akan mendengarnya.

Su Ji menata semua baju-bajunya ke dalam tas. Hari ini tepat seminggu ia di rawat di rumah sakit dan kabar bahagianya adalah ia sudah di perbolehkan pulang. Ya menyenangkan sekali karena toh ia juga tidak menyukai bau rumah sakit.

“Kau sudah mau pergi, aghassi?” tanya seorang perawat cantik yang masuk ke kamar perawatan Su Ji.

Su Ji tersenyum. “Ah, ne..” jawabnya singkat lalu menenteng tasnya. “Khamsahamnida,” ucapnya sambil sedikit membungkuk. Kemudian ia berjalan keluar. Appa dan Eommanya tidak bisa mengantarnya pulang karena mereka berdua sedang ada bisnis ke luar negeri. Tapi Su Ji juga bukanlah anak manja yang harus selalu ditemani orang tuanya. Jadi ia sama sekali tidak merasa marah bila orang tuanya itu tidak bisa menemaninya.

Su Ji berjalan santai menyusuri lorong rumah sakit. Seminggu terakhir di rawat menjadikannya akrab dengan suasana disini. Yah, dan hari ini ia akan meninggalkannya. Rumah sakit ini seperti menjadi tempat yang cukup berkesan untuknya.

Tiba-tiba di tengah perjalanannya, tepatnya ketika ia melintasi sebuah lorong yang lumayan sepi, ia merasakan ada langkah yang mengikutinya. Su Ji pun langsung menoleh ke belakang, namun ternyata tidak ada siapa-siapa. Su Ji menggelengkan kepalanya. Kenapa ia menjadi penakut begini? Akhirnya Su Ji memilih untuk mempercepat langkahnya. Perasaannya begitu tidak tenang bila mengingat kalau lorong itu memang sepi dan saat itu adalah malam hari. Arrrkggh, menyebalkan!

“Hwang Su Ji.”

Su Ji pun berhenti. Entah kenapa, kakinya langsung terasa dihentikan oleh sesuatu. Su Ji tidak tahu apa itu, yang jelas suasana mencekam begitu terasa di sekitarnya. Ada orang yang memanggilnya. Aigo… apa ia harus mengalami peristiwa ini? Ia tidak siap kalau harus melihatnya…

“Kenapa setiap bertemu denganku kau selalu ketakutan?”

Su Ji mengerutkan keningnya. Suara itu… ah, tidak mungkin! Pasti ia hanya berhalusinasi. Mana mungkin orang yang sudah meninggal-bahkan mungkin sudah dimakamkan-bisa hidup kembali? Tapi… kenyataannya saat ini pun ia tidak berani menoleh. Ia hanya menunduk, memperhatikan lantai berkeramik putih yang diinjaknya.

“Hwang Su Ji, ketakutanmu tidak beralasan, ara?”

Su Ji mengepalkan tangannya erat-erat. Tubuhnya gemetaran dan lututnya terasa lemas. Di tambah keringat dingin yang seolah mengguyur deras tubuhnya, membuat badannya terasa tercebur ke dalam sungai Han yang sangat dingin.

“Su Ji-ya, kau tidak mau melihatku? Aku Choi Minho…”

“Aaaaaaa…. siapapun kau, Minho atau apalah. Jangan ganggu aku, aku mohon… Aku minta maaf kalau aku membuat kesalahan. Tapi tolong jangan ganggu aku,” ucap Su Ji dengan suara bergetar. Kenapa lorong ini begitu sepi? Tidakkah ada orang yang melintas? Ia sangat ingin berteriak namun suaranya pun terasa lemas.

“Hahaha… Mwo? Siapa yang akan mengganggumu? Tolong lihat aku, Su Ji-ya… Aku ingin meminta bantuanmu.”

Su Ji memejamkan matanya. Entah apapun yang terjadi, ia merasa harus menghadapi semuanya. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Sesaat kemudian, ia mulai menggerakkan kepalanya ke arah kanan. Dan matanya langsung melihat sepasang kaki bercelana putih dan bersepatu nike putih pula. Aigo… nyalinya semakin ciut saja. Ia pun kembali menguatkan dirinya hingga matanya mulai bergerak ke atas dan… “M… M… Minho-ya?”

Sesosok berpakaian serba putih itu tersenyum padanya. Wajahnya memang tidak mengerikan. Sangat tampan bahkan. Tapi tetap saja Su Ji menahan ketakutannya. “Apa kabar Su Ji-ya?”

“Kau kan sudah meninggal?” Su Ji memberanikan diri untuk menanyakan hal itu. Ya, karena kenyataannya memang seperti itu kan?

“Ne. Aku memang sudah meninggal,” jawab Minho dengan santainya.

“Ja… Jadi kau hantu Minho?”

“Hantu? YA! Aku bukan hantu, ara?” seru Minho tidak terima.

“Lalu apa kalau bukan hantu?”

“Aku adalah arwahnya. Sudahlah, aku malas membahas itu,” ucap Minho mengalihkan topik pembicaraan. Su Ji masih menatapnya penuh ketakutan. “Aku ingin meminjam tubuhmu.”

Su Ji membelalakkan matanya lebar-lebar. “M… mworagu? Apa maksudmu?”

“Kau tidak tahu atau hanya pura-pura lupa sih? Bukannya kita telah membuat perjanjian ya?”

“Perjanjian? Perjanjian apa?”

“Cih, aku bingung denganmu. Apa setelah kau siuman semua ingatanmu ketika kau koma telah hilang begitu saja?”

Su Ji tidak menjawabnya. Ia benar-benar tidak mengerti. Perjanjian? Koma? Apakah ia mengalami semua itu? Kapan? Bahkan sedikitpun ia merasa tak memiliki ingatan tentang hal itu.

“Aisshh… keurae, sepertinya aku memang harus mengingatkannya lagi!”

Flashback

Minho menatap seorang yeoja di sebelahnya sekarang. Beratus-ratus pikiran telah mengerubungi ingatannya sejak beberapa jam yang lalu. Ia benar-benar bingung, tidak tahu harus memilih yang mana.

“Choi Minho, apakah kau sudah menentukan pilihanmu?” tanya sesosok yang mengaku sebagai malaikat di depannya.

Minho menatap malaikat itu dengan wajah memelas. Ayolah, ia paling tidak suka jika harus memilih seperti ini. Apalagi semua ini adalah pilihannya yang paling sulit. Apakah ia harus merelakan setengah nyawanya untuk yeoja ini? Tapi bagaimana dengan kehidupannya? Ia bahkan belum sempat bertegur sapa dengan orang-orang yang menyayanginya lagi.

“Apa aku sama sekali tidak memiliki sedikit saja kesempatan? Aku ingin melakukan sesuatu yang sangat ingin aku lakukan di dunia. Ada seseorang yang ingin ku bahagiakan. Jika aku memberikan nyawaku padanya, bagaimana dengan hidupku?” kata Minho penuh harap.

Sejujurnya, ia bisa saja tidak mempedulikan yeoja ini karena toh ia baru mengenalnya kemarin. Tapi, karena seseorang, ia tak mau dibilang egois. Ya, yeoja ini harus tetap hidup demi seseorang.

“Sebenarnya, kalau kau mau, kau bisa meminjam tubuh yeoja ini untuk menyelesaikan urusan duniawimu.”

Kedua mata Minho langsung berbinar-binar senang. “Benarkah? Tapi… itu berarti aku akan menjadi seorang yeoja?”

“Tidak ada pilihan lain. Tapi kau hanya diberi waktu sampai 60 hari. Setelah itu, kau harus meninggalkan dunia dan kembali ke tempat asalmu. Karena walau bagaimanapun juga, nyawamu sudah lepas dari ragamu kalau kau memilih untuk memberikan kehidupanmu pada gadis ini,” jelas malaikat itu panjang lebar.

Minho menunduk sedih. Hanya 60 hari? Sesedikit itulah sisa waktu yang ia miliki di dunia? “Keurae, aku menyanggupinya,” jawabnya memantapkan hati. Ia menatap yeoja di sampingnya. Yeoja itu tersenyum tipis. Senyum yang menggambarkan rasa terima kasihnya. Akhirnya Minho membalas senyuman itu.

Flashback END

Su Ji mengerjapkan matanya beberapa kali. Sekarang rasa takutnya telah digantikan dengan perasaan bingung dan aneh. “Choi Minho, apakah kau berkata yang sebenarnya? Benarkah aku telah mengalami semua itu?”

Minho mendecakkan lidahnya kemudian melipat tangannya di depan dada. “Kau mau ikut kembali denganku ke tempat itu?”

Su Ji langsung menggelengkan kepalanya. “Jangan macam-macam!” seru Su Ji. Ia pun berpikir sejenak. “Tapi, bagaimana bisa kau menyerahkan separuh nyawamu untukku? Aku benar-benar sulit mempercayaimu!”

“Kau belum mengerti juga?” tanya Minho dan Su Ji menggelengkan kepalanya lagi. Ah, benar, yeoja di depannya ini memang sangat bodoh. “Kau tahu, sebenarnya masing-masing dari kita telah kehilangan separuh dari nyawa kita. Kau ingat saat kecelakaan itu terjadi? Kita sama-sama mengalami luka yang sangat parah. Yang dalam keadaan normal, seharusnya kita sudah meninggal saat itu juga.”

Su Ji memikirkannya. Ada benarnya juga apa yang Minho katakan. Bukannya ia juga merasa seperti itu?

“Tapi karena suatu alasan yang tak bisa dicerna dengan logika, Tuhan telah memberi sebuah kesempatan untuk hidup pada salah satu dari kita.”

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Salah satu dari kita, bisa kembali hidup apabila kita memberikan separuh dari nyawa itu. Dan aku telah merelakan separuh nyawaku untukmu. Sehingga dokter mengatakan kalau kau hanya mengalami gegar otak ringan. Sementara aku? Nyawaku tidak tertolong kan?”

Su Ji kembali sibuk mencerna apa-apa yang dikatakan oleh Minho. Separuh nyawanya kini adalah nyawa Minho? Minho merelakan kehidupannya untuknya? Oh, semua ini benar-benar tidak bisa ia mengerti. “Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau tidak memilih hidupmu saja?”

Minho tidak langsung menjawabnya. “Karena sesuatu yang tidak kau mengerti…”

“Makanya aku bertanya,”potong Su Ji tidak sabar. Ia menginginkan jawaban yang sejelas-jelasnya.

“Aku tidak mau memberitahumu sebelum hari terakhir itu. Aku hanya ingin meminjam tubuhmu, Su Ji.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”

Minho terkejut. Ia tidak menyangka akan reaksi Su Ji kali ini. Tidakkah yeoja itu berterima kasih padanya sehingga mau meminjamkan tubuhnya?

“Aku juga punya kehidupan, Minho. Aku masih membutuhkan tubuh ini. Mian, aku tidak bisa,” jawab Su Ji singkat lalu ia mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Minho secepat mungkin.

“Hanya 60 hari. Setelah itu kau bisa hidup normal, Su Ji-ya!” seru Minho dan berhasil menghentikan Su Ji.

Su Ji berbalik dan menatap Minho dengan tatapan nanar. “Karena 60 hari, aku juga membutuhkan waktu itu. Semua hariku berharga walaupun tidak ada yang tahu. Arasseo?” tegasnya lalu membalikkan badannya dan dengan mantap meninggalkan arwah Minho di belakangnya. Ia tidak bisa melakukannya, ya karena ia memang membutuhkan tubuhnya juga.

Su Ji berjalan gontai di trotoar yang terang karena lampu-lampu kecil di sekitarnya. Orang-orang berlalu lalang di dekatnya. Udara yang semakin dingin bahkan sudah tidak bisa di rasakannya lagi. Ia terlalu larut dalam pikirannya mengenai hal-hal yang sampai detik ini belum bisa ia mengerti.

Apakah sebenarnya ia memang sudah mati? Tapi karena seseorang yang begitu baik maka kematiannya bisa ditunda. Apakah semua itu bisa di mengerti? Sejak kapan ada pengertian seperti itu? Kenapa di agamanya ia tidak pernah menemukan hal semacam itu?

“Apa kau sudah memikirkannya Hwang Su Ji?”

Su Ji pun menoleh ke arah sumber suara. Matanya melotot begitu melihat sesosok namja yang berdiri bersandar pada dinding sebuah toko. “Kau? Kenapa kau mengikutiku huh?” tanyanya kesal.

Minho tersenyum. “Jangan berbicara keras-keras. Kau bisa disangka orang gila, arasseo?” beritahunya.

Su Ji melihat beberapa orang di sekelilingnya tengah menatapnya aneh. Su Ji pun berdehem kecil. “Aku tetap tidak mau melakukannya, Minho. Mian,” ujarnya lagi lalu melanjutkan perjalanannya.

Tiba-tiba Minho sudah berdiri menghadangnya. “Kenapa? Kenapa kau tidak mau? Rasanya tidak sakit kok. Aku hanya meminjam, tidak merampas. Dan hanya 60 hari, apakah itu terlalu lama?”

“Ne! Aku bisa melakukan apa saja dalam waktu 60 hari, Choi Minho! Minggirlah, aku ingin pulang,” Su Ji berusaha menghindar namun tetap tidak bisa. Akhirnya ia kesal dan berusaha menabrak Minho. Tapi, dia bahkan bisa menembusnya. Su Ji tidak mempercayainya. Tubuh Minho benar-benar terasa seperti angin!

“Aku mohon…”

Su Ji menatap wajah Minho sebentar, lalu ia menggelengkan kepalanya. Tidak, ia tidak boleh melakukannya. Ia berlarian kecil meninggalkan Minho. Langkahnya berhenti di depan zebra cross. Setelah memastikan lampu hijau untuk pejalan kaki, ia pun berjalan lagi.

CIIIIITT…

Su Ji melihat ke samping dan matanya langsung tersilaukan oleh cahaya lampu mobil yang begitu terang. Su Ji sangat terkejut sehingga ia tidak bisa menggerakkan kakinya sama sekali. Sebuah mobil yang kehilangan kendali kini sedang melaju dengan kencang ke arahnya. Su Ji memejamkan matanya dan…

Hening. Su Ji terdiam. Beberapa saat kemudian, ia benar-benar tidak merasakan apa-apa kecuali beberapa suara yang terdengar samar-samar olehnya. Apakah ia sudah mati? Tapi kenapa ia masih bisa berdiri tegak? Perlahan ia membuka matanya dan langsung mendapati sesosok tubuh bercahaya putih tengah berdiri sambil merentangkan tangannya dan memunggunginya. Su Ji terkejut, sampai mulutnya menganga lebar saking tidak percayanya. Karena Minho, mobil itu berhenti sekitar 10 senti di depan kakinya. Ya, Minholah yang menghentikan mobil itu sehingga kecelakaan tidak terjadi.

“Aghassi, jeongmal cheosunghamnida. Kau tidak apa-apa?” tanya seseorang yang keluar dari mobil itu.

Dengan sedikit kesadaran yang berhasil Su Ji kumpulkan, ia menatap Ajhussi itu. “N… Ne, gwaenchana,” jawabnya tanpa berpikir. Lalu ia menatap tubuh di depannya lagi, yang ia yakin hanya ia yang dapat melihatnya.

“Apa aku perlu membawamu ke rumah sakit?” tanya Ajhussi itu lagi. Wajahnya terlihat sangat cemas.

“Ti… tidak usah. Nan… gwaenchana,” jawab Su Ji tanpa mengalihkan tatapannya dari Minho. Sedetik kemudian Minho membalikkan badannya sambil tersenyum.

“Lihat kan, aku telah menyelamatkanmu Su Ji-ya,” kata Minho dengan senang. Su Ji memilih untuk diam. Kesadarannya belum pulih seratus persen sehingga ia masih sangat sulit untuk menggunakan otaknya. “Jadi, apa kau mau meminjamkan tubuhmu?”

To be Continued…

 

J Ottohke? Part yang ini aneh nggak? Hehe…

J Apakah Su Ji akan meminjamkan tubuhnya pada Minho? Lalu apa yang akan dilakukan Minho dengan tubuh Su Ji?

J Mana Key?????? Hahaha… sepertinya ia akan muncul di next chapter. So, keep waiting!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

28 thoughts on “A Ghost Inside Me – Part 2”

  1. 😮 😮 😮

    seru…
    tp ntah knp aq ngakak bc ini: “Kau kan sudah meninggal?”
    hahahahaha

    suji, qm g ngerti ya sm keadaanmu skrg? tanya aj ma authornya… hahahaha /plaaakkkk

    lnjut lanjut

      1. ya karena udah terbiasa sama ff yg panjangnya kayak kereta jadi segini itu ya terbilang pendek ..hehe

        yg penting bagus lah 🙂

  2. Maaf thor baru comment di part ini..
    Bener deh rame banget ceritanya.. Aku udah ga sabar pengen tau dari awal sampe akhiir, hehe
    Daebak thor daebak daebak di tunggu kelanjutannyaaaaa

  3. Sujii!! Pinjemin napa badan elu!! Toh Minho gak ngebunuh elu juga#ngerusuh#plakk

    keren ih, thor. Lanjut~


    Via MebApp.com

  4. Rada ngenes T.T aaaaa author tercinta (????) kenapa kenapa kenapaaa ooo kenapaa! Nyesek amat minho mati, aaaa suamiku #duagh
    Key, selingkuhanku (?) belom nongol ye! Gpp dah.
    Emmm ceritanya agak mistis tapi aku seneng nih sama cerita yg nyangkut jiwa2 gitu…. Kekeke. Yg scene minho ngehalangin truk ato apasih itu, keren begete! Beneran dah haha.
    Separuh jiwaku… Pergiii *sing* #diusir

    well well well, cepetan ah next part! *emang gampang? /plaak* haha canda unnie! Semangat ya, ffnya daebak gila !

  5. Ayolah, Su Ji, pinjemin saja. Hitung-hitung balas budi atas kebaikan Minho yang sudah rela memberikan nyawanya. Penasaran juga dengan hal apa yang ingin diurus Minho di dunia.

    Wah, kemunculan Key di next chapter. Peran Key apa, ya?

    Nice story. Lanjut!

  6. kesel bngt aku sm si su ji, dia egois bngt sih,, padahalkan minho udah nyelamatin dia, masa sih dia gx mau minjemin tubuhnya,, eh mian aku jadi ke bawa emosi bacanya,, tp serius deh ffnya keren bngt, aku tunggu part selanjutnya ya!! hwaiting:)

  7. Oooh~ ayolah Su Ji km jgn pelit2, pinjemin aja knpa sih?
    Author aku msh bngung sm Minho ini hbngannya sm Su Ji sbnrnya apaan? Smpe2 mau nyerahin sparuh nyawanya gt? Trs Key kupikir bklan muncul di part ini trnyata belum-_- aaah bikin tmbah pnsaran aja author ini

    A-yo author next part ditunguuu~ 😀

  8. nah loh nah loh ITU KENAPAAAAAAA
    Busut kenape noh Minho…
    Yee…. author… hantu ama arwah kan hampr sama, 11 : 12 lahh.. *apaa coba*
    Su Ji juga kok lipit amat sih? pinjem juga cuma 60 hari juga. rasa in noh si Minho jadi cewek selama 60 hari #plakkk
    makin penasaraaann XDD
    ditunggu yeyyy,…. XDD

  9. My brother suggested I would possibly like this blog.
    He was once entirely right. This submit actually made
    my day. You cann’t believe just how much time I had spent for this info! Thanks!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s