Between Two Hearts – Part 1

Between Two Hearts[1] : Brilliant Trick

Title : Title Between Two Hearts

Author : Bibib Dubu

Main Cast  : Choi Minho, Kim Kibum, Lee Serra, Han Sunny

Support Cast : Kim Jonghyun, Lee Jinki, Yuri

Length : Sequel

Genre : Family, Romance, Life

Rating : PG-15

Summary :

Sunny : “Tentu saja, aku Han Sunny, tidak akan pernah melakukan hal percuma dengan menampakkan diriku di hadapan keluarga itu, tidak sebagai Han Sunny—tetapi menjadi aku yang lain.”

Serra : “Hhhh…kuakui aku makhluk paling pengecut, sejujurnya aku memang sudah mencintainya sejak dua minggu pasca pernikahan kami. Tapi, aku tidak berani memproklamirkan ini sebagai cinta, aku takut. Rasanya memiliki cinta yang bertepuk sebelah tangan sangat menyiksa. Jadi selama ini aku hanya menguncinya dalam hatiku, tidak pernah sekalipun mengungkapkannya ataupun berusaha menuntutnya untuk memberi perasaan yang sama.”

Minho : Tuhan…jangan izinkan aku melukai yeoja ini lagi…aku ingin menjadi seorang nampyeon yang baik untuknya. Saat ini memang belum ada cinta yang mendasariku dalam menjalani hubungan ini. Tapi mulai detik ini aku berjanji, aku akan berjuang, menumbuhkan cinta, melindunginya dan tidak akan membuatnya menangis lagi.

+++++

Sunny’s POV

Tidak akan kumaafkan dirinya, yang menikmati hidup sementara aku harus menderita. Belum mengerti maksudku? Akan kuperjelas perlahan.

Aku mengalami berbagai macam kerasnya kehidupan, sejak kecil harus bekerja sampingan hanya untuk merasakan bangku sekolah dasar. Beruntung aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena Tuhan masih sayang padaku—memberi anugrah berupa kelebihan dalam bernalar dan mengingat sekaligus.

Tapi bukan berarti aku bisa melewati masa pendidikanku dengan tentram—melewati waktu untuk tenang belajar seperti pelajar lainnya. Aku tetap harus membantu umma di kedai kimbabnya setelah pulang sekolah. Karena dengan begitulah aku masih bisa berdiri sampai detik ini—walaupun sekarang kedua orang tuaku sudah meninggalkanku seorang diri di dunia ini.

Tidak sendiri sebenarnya, tapi kurasa lebih baik kusebut sendiri, karena kenyataannya—kalaupun aku berhasil menemukan rekanku itu, ia akan kuanggap sebagai rivalku.

Masih belum mengerti tentang kisahku? Nanti kau akan mengerti sendiri seiring waktu berjalan, karena aku pun butuh waktu nyaris 15 tahun untuk mengetahui misteri hidupku ini, itupun masih menyisakan dua hal yang tidak kuketahui jawabannya.

“Sunny-ah, kau yakin akan ke Seoul?”

Aku menatapnya, menangkap ada sedikit cairan di sudut mata namja yang sangat kusayangi ini, orang yang mampu meluluhkan kekerasan hatiku dan sikap arogan yang sangat kental dalam diriku.

Hanya satu milikku yang tersisa, dia, sahabat setiaku yang selalu menemaniku dalam berbagai kondisi. Tidak hentinya aku bersyukur karena Tuhan masih memberiku teman dalam perjalanan hidupku yang sangat melelahkan ini.

“Ne, aku harus mencari saudara kandungku. Kita masih bisa bertemu kan kalau ada kesempatan.” Aku sebetulnya merasa berat berpisah dengannya, namja luar biasa yang menjadi penyangga hidupku, selain satu namja lainnya—yang sampai saat ini tidak kuketahui kabarnya.

Ia berhambur memelukku, alhasil kami berpelukan di stasiun kereta bawah tanah. Kutanggung tatapan orang banyak demi pelukan perpisahan dengan sahabatku ini.

“Sunny-ah…hiks…” Air matanya membasahi cardigan yang aku kenakan.

Tidak heran, Jonghyun ini seperti pisau yang memiliki bagian atas dan bawah yang jauh berbeda, tajam dan tumpul. Ia sangat bijak, berpengetahuan luas, dan memiliki kemampuan untuk membangkitkan orang lain. Tapi, sisi tumpulnya adalah, ia sangat mudah menangis hingga aku memanggilnya si baby crying.

“Jonghyun-ah, harusnya dalam kondisi seperti ini—aku sebagai yeoja yang menangis, mengapa jadi kau yang mengeluarkan air mata?” Aku berusaha bercanda, namun sepertinya terdengar seperti suara kerupuk, kering dan hanya melintas sambil lalu.

“Tidak ada yang salah, siapa pun punya hak menangis.” Ia membela diri sambil melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya sendiri.

“Ne, tidak ada yang melarang seseorang untuk menangis. Tapi setiap orang pun harus punya kendali diri untuk mengekspresikan luapan hatinya.” Aku tertawa karena tetap saja ia mengizinkan dirinya terus menjadi si baby crying.

“Sunny-ah, sejujurnya aku takut dengan keputusanmu. Begini pertanyaanku. Jika memang kau muncul di hadapan orang tuamu, apa kau yakin mereka akan menerimamu? Kenyataannya kan kau bukan anak kandung mereka.”

Aku mengerti dengan kekhawatirannya. Tapi, tidak semua tujuan dan rencanaku diketahuinya, ada hal-hal yang sebaiknya kusimpan sendiri. Untuk hal ini, biarlah ia hanya mengetahui sepenggal kisah suram ini.

“Memangnya aku bilang akan muncul di hadapan orang tua yang kau maksud itu? Aniyo, aku bahkan tidak akan pernah muncul dalam hidup mereka.” Aku menepuk-nepuk bahunya, meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja. “Aku pandai menjaga diriku. Kau tenang saja, Jonghyun-ah…justru aku yang mengkhawatirkanmu…aku rasa akan ada musim kemarau berkepanjangan dalam hidupmu setelah kepergianku, hatimu akan kering kerontang, haha…”

Tentu saja, aku Han Sunny, tidak akan pernah melakukan hal percuma dengan menampakkan diriku di hadapan keluarga itu, tidak sebagai Han Sunny—tetapi menjadi aku yang lain.

“Wow…kau percaya diri sekali…”Kali ini Jonghyun yang mencibirku.

Bagus, aku senang melihatnya mencibir, berarti julukan baby crying sudah bisa kulupakan untuk sementara. Bukankah tangis dan cibiran menunjukkan dua jenis perasaan yang berbeda?

“Tentu saja, kalau aku tidak percaya diri, mungkin aku sudah meninggalkan dunia ini sejak lama karena tidak tahan dengan kondisi kehidupanku serta tidak berani menantang arus takdir yang bertahun-tahun membelit keluargaku.”

“Ya sudah, jaga dirimu baik-baik, jangan lupa kabari aku begitu kau sampai. Jangan putuskan komunikasi kita. Dan yang terpenting, kembalilah ke sisiku tatkala kau sudah mencapai tujuanmu.” Ia terkekeh di akhir kalimatnya.

Ia selalu seperti ini, berucap seolah kami ini sepasang sejoli yang tengah memadu cinta, padahal hubungan kami hanya terbatas pada istilah ‘sahabat’.

“Ya! Kenapa aku harus kembali ke sisimu? Kau boleh mengatakannya kalau kau namjachinguku. Shiro! Aku akan mencari namja Seoul yang tampan.”

“Wow, kau buta ya? Memangnya aku tidak tampan?” Ia berpose narsis dengan menaruh tangannya di dagu dan memasang sikap tubuh sok keren.

Aku gemas melihatnya yang seperti ini. Sekali lagi kupeluk erat sahabatku ini, aku akan merindukannya nanti…

+++++

Author’s POV

Satu, dua, tiga, berapa kali kau melakukan kesalahan yang serupa tapi kau masih mendapatkan kata maaf dari orang yang sama? Hanya satu dari seribu bunga yang bukan hanya indah rupanya, melainkan menebarkan aroma wangi menyenangkan dari atmosfer yang ditawarkannya.

“Lalu, kau tidak protes pada nampyeonmu? Kau ini bodoh atau terlalu baik sih?” Namja itu terlihat sangat kesal setelah mendengarkan cerita yeoja di hadapannya, Lee Serra.

“Aku sudah dewasa, aku tahu sampai batas apa aku harus marah. Kau tenang saja Oppa, aku bisa mengendalikan diriku.” Yeoja itu membalas kekhawatiran kakak angkatnya, Lee Jinki.

“Serra-ya, sejujurnya aku memang tidak menyetujui pernikahan kalian sejak awal. Aku sangat meragukan keberadaan cinta dalam pernikahan kalian.”

Serra terdiam, tidak berani membantah pernyataan Jinki karena memang pada kenyataannya ia pun ragu apakah nampyeonnya mencintai dirinya. Namja pendamping hidupnya itu lebih terkesan dingin dan menyibukkan diri di luar rumah, bergelut dengan perusahaan appanya.

Tiga tahun pernikahan mereka, tidak membuat keduanya terlihat seperti sepasang makhluk yang telah diresmikan dalam ikatan suci. Tidak ada kehangatan cinta yang mewarnai kisah mereka, terkesan hanya berlalu seperti itu saja.

“Coba kutanya, kau sendiri mencintainya atau tidak?” Jinki kembali menelorkan pertanyaan yang membuat Serra tidak berkutik, bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena tidak berani mengungkapkan apa yang ia rasakan.

“Hhhh…kuakui aku makhluk paling pengecut, sejujurnya aku memang sudah mencintainya sejak dua minggu pascapernikahan kami. Tapi, aku tidak berani memproklamirkan ini sebagai cinta, aku takut. Rasanya memiliki cinta yang bertepuk sebelah tangan sangat menyiksa. Jadi selama ini aku hanya menguncinya dalam hatiku, tidak pernah sekalipun mengungkapkannya ataupun berusaha menuntutnya untuk memberi perasaan yang sama.” Yeoja itu tertunduk setelah membuat pengakuan untuk yang pertama kalinya.

Rasa sesak mengisi seluruh sudut ruang hatinya, mengingat betapa menjemukannya pernikahannya selama tiga tahun ini. Lelah memendam cinta yang bertepuk sebelah tangan,  menjadi bebannya tersendiri.

“Perasaan memang tidak bisa dipaksakan, sama halnya dengan suatu lahan—yang belum tentu cocok jika ditanami suatu jenis tanaman. Jika dipaksakan, pertumbuhannya tidak akan baik dan merusak lahan itu sendiri. Begitu pun dengan hati manusia.” Jinki membalas setelah berpikir selama beberapa saat.

Serra mengangguk pertanda setuju, “Aku tahu oppa. Tapi aku lelah, bukan lelah karena memaklumi sifat maupun sikapnya, tapi lelah memendam cinta.” Serra tertunduk, memainkan kuku-kuku jarinya dengan cekatan, seperti yang telah terbiasa melakukan kegiatan tesebut.

Jinki’s POV

Lagi, dia menceritakan kelakuan nampyeonnya yang tidak pernah berubah. Pulang ke rumah tengah malam dan mengacuhkan sambutan Serra begitu saja dengan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi tanpa berucap sepatah kata pun.

Mungkin ia lelah, selalu seperti itu yang Serra pikirkan. Yeoja itu terlalu baik, menerima apapun yang diperbuat nampyeonnya dan bahkan masih bisa berpikir positif tentangnya.

Inilah kebobrokan dari cara perjodohan yang dipaksakan orang tua, menelantarkan pengaruh besar cinta dari hati kedua insan yang dipersatukan. Padahal cinta adalah asal mula dari semua kehidupan manusia. Kalau tidak ada cinta, mungkin dunia ini mutlak diisi oleh kekacauan.

Tanpa cinta, tidak akan ada kau, tidak akan ada bayi kucing lucu, tidak pula ada anak kanguru yang dihangatkan dalam kantung induknya. Meskipun ada pengecualian untuk kelahiran buah hati dari hewan hemaprodit, yang tidak membutuhkan orang lain dan cinta untuk memperbanyak kaumnya.

“Aku tahu oppa. Tapi aku lelah, bukan lelah karena memaklumi sifat maupun sikapnya, tapi lelah memendam cinta.”

Aku iba melihatnya, apa mungkin perasaan seperti ini juga yang dirasakan nampyeonnya sehingga rela menghabiskan tiga tahunnya tanpa makna, bersama yeoja ini dalam satu atap, tapi tidak dalam satu hati.

Aku meraih tangannya, mengusapnya pelan untuk memberinya sedikit kekuatan sekaligus kehangatan. Bisa kurasakan cairan basah pada telapak tanganku setelah aku melakukannya. Ya, tangannya sangat mudah mengeluarkan keringat.

Masih tidak paham mengapa aku iba padanya? Sejujurnya sulit kudefinisikan perasaanku padanya, aku yakin ini bukan cinta, melainkan perasaan sayang, namun baru-baru ini kusadari ada perasaan lain yang seharusnya tidak kupendam, perasaan iba.

“Hwaiting, Serra-ya…kalau kau mau, aku bisa bicara padanya mengenai perasaanmu.”

“Tidak perlu oppa, aku ingin ia menentukan perasaannya sendiri. Aku ingin cinta, bukan belas kasihan darinya. Kalau kau bicara dengannya, aku yakin dia akan merubah sikapnya karena dilandasi rasa iba. Ini akan lebih menyakitkan untukku.”

“Baiklah, itu keputusanmu., aku tidak akan ikut campur dalam rumah tangga kalian.”

+++++

Author’s POV

Malam kian menggeliat, memancarkan permainan cahaya bulan dan bintang yang menerangi kegelapannya.

Ini adalah waktu yang tabu bagi sebagian orang, tatkala sang hari sudah nyaris membuka lembaran barunya. Tapi tidak bagi namja itu, karena pada jam-jam seperti inilah mobilnya baru memasuki gerbang rumahnya.

Memegangi dadanya sebentar dan memukulnya dua kali dengan pelan, hanya ingin memberi kekuatan pada dirinya sendiri.

Ia keluar dari mobilnya, menapaki tiga anak tangga untuk sampai ke pintu rumahnya. Tidak perlu mengetuk pintu karena ia memang memiliki kunci cadangannya. Seperti biasa, pemandangan yang sering dilihatnya kembali tersaji.

Seorang yeoja yang tengah terbaring dengan mata terpejam di sofa ruang tamu, kain selimut cukup tebal yang melindunginya dari udara dingin.

Namja tadi menghela nafas panjang, berusaha melepaskan pandangannya dari yeoja itu. Karena setiap kali melihatnya, ada semacam perasaan campur aduk namun lebih didominasi oleh rasa bersalah.

Kembali melangkah, tujuannya kali ini adalah kamar mandi, ia harus membasuh tubuhnya yang baru saja terseret alam mimpi. Ya, ia pulang dini hari bukan karena begadang, melainkan memilih mengistirahatkan tubuh dan pikirannya di sebuah apartemen mungil yang ia sewa diam-diam.

Rumah ini bukan rumah baginya. Karena filosofi rumah yang sesungguhnya adalah sebuah tempat bernaung. Bangunan yang melindungi penghuninya bukan hanya secara fisik, namun secara batin juga. Apa gunanya rumah besar dan mewah jika arah hatimu selalu kacau balau setiap kali berada di dalamnya?

Belum sempat ia memasuki kamar mandi, handphonenya berdering. Ia tersenyum karena tahu persis siapa yang akan meneleponnya di waktu seperti ini.

“Yuri nuna, kau pasti mau membangunkanku? Aku sudah pulang kok. Dugaanmu benar, dia tidak akan bangun kalau aku pulang satu jam sebelum biasanya.”

“Minho-ya…saranku tidak boleh kau lakukan terus. Ingat, bagaimanapun hati yeoja itu rapuh. Kau tidak bisa terus bersikap sepertinya, menghindar bukanlah cara bijak, kau harus memutuskan jalan selanjutnya.” Suara di seberang sana terdengar jelas di telinga namja bernama Choi Minho itu, membuatnya hanya bisa menggigiti bibir karena tidak tahu mesti menjawab apa.

“Hhhh..aku tahu saat ini kau sedang mati kata karena ucapanku. Ya sudahlah, your life is your choice. Tidak ada orang lain yang berhak memainkan peran dalam menentukan harimu, kecuali Tuhan. Berpikirlah jernih dan matang, kau sudah dewasa.” Yuri yang terpaut usia tiga tahun lebih tua dari Minho itu memang sering berperan layaknya seorang kakak kandung bagi Minho.

“Ne, aku hanya perlu waktu untuk berpikir. Gomawo nuna, kau sahabat terbaikku…ya sudah, aku tahu matamu pasti masih lengket saat ini, jaljayo…”

+++++

Author’s POV

Dia bukan orang bodoh dan sembrono, tidak akan mungkin dia memutuskan menapakkan kakinya di sebuah kota sebesar Seoul tanpa tujuan jelas.

Petunjuk awal telah didapatkannya sebelum ia sampai di Seoul, titik terang yang membawa langkahnya dengan jelas.

Pagi ini ia menghuni tempat barunya, sebuah apartemen mungil yang letaknya tidak jauh dari titik sasaran. Sebelum memulai harinya di luar, ia masih harus berkutat dengan deadline berupa permintaan dari klien untuk segera menyelesaikan analisisnya mengenai suatu prospek bisnis.

Menjelang siang ia baru menggeliatkan tubuhnya dan beranjak ke kamar mandi. Kemudian mematut dirinya di depan cermin setelah mengenakan pakaian lengkap. Memoles dirinya dengan krim pelindung wajah, tidak perlu bedak karena memang wajahnya sudah putih. Goresan maskara memenuhi bulu matanya, menjadikannya tebal dan hitam dan menimbulkan kesan mata yang tajam dan tegas. Lalu ia membubuhkan lipstick berwarna pink tipis dengan sentuhan kilau basah ke bibir menawannya.

See, aku bukan lagi Han Sunny si gembel lusuh, sekarang aku adalah Sunny yang memesona setiap namja.” Ia memuji dirinya sendiri narsis, lalu tertawa kecil dengan satu sudut bibir yang terangkat sesaat.

Keluar dari apartemennya dengan menjinjing sebuah tas merah kulit bermerek. Menuju sebuah stasiun kereta yang letaknya tidak terlalu jauh dari kawasan apartemennya itu.

Selang satu jam, ia melenggang dengan santainya memasuki sebuah gedung perkantoran megah. Melihat kedatangannya, satpam dan beberapa karyawan yang kebetulan melihatnya—membungkuk sesaat memberikan salam hormat. Yeoja itu tersenyum penuh kemenangan, reaksi orang-orang tersebut merupakan indikator baik bagi perjalanannya hari itu.

Tujuannya kini adalah resepsionis yang ada di sisi kanan lantai satu dekat pintu masuk. Ia hanya menopangkan dagunya di meja resepsionis, tidak perlu membuka mulut pun sang petugas sudah langsung menyambutnya.

“Selamat datang…Anda mencari tuan Minho? Kebetulan ia baru saja datang beberapa menit sebelum kedatangan anda.” Kata sang petugas itu ramah.

“Baguslah. Oya, aku minta tolong disambungkan dengan tuan Minho, bisakah?” Yeoja itu langsung mengatakan apa yang diinginkannya, ia merasa dirinya ratu pada kondisi ini.

“Tentu saja bisa, tunggu sebentar.” Sang petugas membalasnya ramah.

Sunny’s POV

Daebak! Tidak aku sangka jalanku semulus ini, kepopulerannya memudahkan pekerjaanku hari ini. Sebentar lagi aku akan bertemu Choi Minho.

“Ini sudah tersambung dengan tuan Minho, silakan.” Petugas resepsionis tadi pun menyerahkan gagang telepon padaku, kulemparkan senyumku sebagai tanda terima kasih.

“Serra-ya, ada apa kau kemari?” Terdengar suara berat yang baru pertama kalinya kuketahui, ini pasti suara Minho.

“Yeobo, aku di lantai bawah. Aku lupa di mana letak ruanganmu, maukah kau menjemputku ke bawah?” Segera kubalas pertanyaannya, bukan dengan jawaban yang ia inginkan, melainkan dengan melontarkan sebuah permintaan bodoh.

Sebenarnya bisa saja aku minta diantar oleh petugas, tapi aku punya tujuan tersendiri untuk ini. Kalau aku yang mencarinya, akan ketahuan bahwa sosok Minho masih asing bagiku. Maka, aku ingin dia yang menghampiriku.

Sekarang, apa kau sudah mengerti siapa aku? Kenapa orang-orang yang bertemuku memberi salam hormat? Mengapa jalanku sangat mudah untuk menemui seorang direktur yang mewarisi perusahaan keluarganya ini?

“Baiklah, sekalian aku memang mau makan. Kau sudah makan?” akhirnya aku mendapatkan jawabannya setelah ia terdiam sejenak.

I Got You, Choi Minho…

Minho’s POV

“Baiklah, sekalian aku memang mau makan. Kau sudah makan?”

“Belum. Kalau begitu aku tunggu kau di bawah.” Ia menjawab dengan cepat, ini tandanya ia memang menginginkan aku untuk cepat datang.

Merepotkan memang, tapi aku tidak mau ia memasuki ruanganku, aku tidak ingin ia melihat banyak barang-barang pribadiku di ruangan itu, karena jumlahnya jauh lebih banyak dari apa yang kutaruh di rumah kami. Rasanya pasti menyakitkan karena dia akan menyadari bahwa selama ini aku tidak nyaman berada di rumah.

Sebenarnya aku heran, kenapa tiba-tiba ia datang kemari? Aku ingat betul bahwa ia paling benci naik lift, ini menyangkut dengan reaksi tubuhnya ketika ia merasa berdebar.

Akhirnya aku terpaksa kembali ke lantai dasar padahal belum lama memasuki ruanganku ini. Tidak butuh waktu lama untuk sampai dilantai dasar, teknologi memudahkanku untuk melewati lima lantai dengan durasi sangat singkat.

Begitu pintu lift terbuka, kulihat sosoknya yang tengah duduk di sofa tunggu, jarinya memainkan handphone dan nyaris menempelkan earphone-nya ke telinga.

“Chamkkanman.” Aku membuka mulutku sebelum ia benar-benar menyumpal telingannya dengan earphone tersebut.

Ia mendelik, tidak lama melemparkan sebuah senyuman untukku. Kaki kanannya tertekuk menindih kaki kirinya. Ada pemandangan aneh yang mengganggu mataku, tapi aku masih tidak yakin. Apa benar dia Serra? Sulit dipercaya, ini bukan dia yang biasanya.

“Serra-ya?”

Masih sulit menerima pemandangan di depanku, kutelisik penampilannya dari ujung kaki sampai kepala. Mengenakan high heels merah, dress merah menyala selutut dan rompi abu-abu berbahan kulit. Belum lagi make up-nya yang membuatnya terlihat terkesan tegas dan menyala. Sejak kapan ia berpenampilan seperti ini?

“Wae? Kau seperti orang kesurupan, jagi~” Ia mengernyitkan alisnya dan segera bangun menghampiriku.

“Ah, aku tahu. Aneh dengan penampilanku hari ini? Ini special karena aku ingin menemui nampyeonku yang tampan. Kau keberatan?” Ia berbisik di hadapanku, aku sedikit tergoda dengan sorot mata tajamnya dan bibir basahnya, baru pertama aku merasakan hal seperti ini.

“A-ani, itu hakmu. Geurae, kita bicara di kantin saja.” Segera kusudahi pembicaraan ini, menurutku ini tempat yang sangat tidak terjaga privasinya untuk taraf percakapan sepasang suami istri.

+++++

Author POV

Hidup ini seperti kisah kehidupan dalam hutan, singa berbadan besar akan lebih mudah memangsa hewan kecil lainnya. Atau, hidup itu mirip toko binatang peliharaan, siapa yang menawan akan lebih dulu menemukan pembelinya. Mungkin juga, hidup mirip kehidupan di laboratorium penelitian, siapa yang cermat dan gigih, akan menemukan titik temu fantastis.

Lalu, perumpamaan hidup apa yang kau pilih?

Dia, Han Sunny, menganut perumpamaan kedua dan ketiga. Menawan, cermat, dan gigih. Ia telah mencobanya dan terbukti dengan merangkaknya derajat kehidupannya. Namun di saat semua pencapaiannya membuat taraf kehidupannya membaik, kedua orang tuanya meninggalkan dunia ini untuk selamanya, dimulai dengan ummanya yang direnggut oleh kanker payudara, dan disusul oleh appanya yang dikalahkan oleh kebobrokan kinerja ginjalnya.

Terpuruk, memang itu sempat dialaminya selama beberapa waktu, tapi ia memang telah terlatih selama bertahun-tahun untuk menjadi manusia yang tegar. Tidak lama, hanya berselang satu bulan sejak menjadi yatim piatu,  ia segera teringat sesuatu yang sudah lama ingin dilakukannya, menemukan sosoknya yang lain di kota besar bernama Seoul.

Ia pernah tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya—yang mengatakan bahwa ia memiliki saudara kembar yang kini hidup nyaman di bawah naungan keluarga Lee, konglomerat Korea yang meraup kekayaannya dari bisnis property dan system information.

“Mulai sekarang kita bertetangga.” Ucap Sunny saat keduanya tengah menyantap hidangan yang dipesan di kantin yang ada di gedung tersebut.

“Jangan konyol, kita ini satu rumah. Apa maksudmu bertetangga?” Minho sedikit gelagapan karena sebenarnya ia menyadari betul apa maksud pernyataan yeoja di hadapannya itu.

“Kau yang konyol. Bagaimana bisa kau membohongi anaemu sendiri dengan membeli sebuah apartemen mungil. Kalau kau tidak nyaman di tempat itu, aku yang akan menghampirimu, mari kita menjalani rumah tangga kita yang semestinya. Aku sudah menyewa apartemen yang berhadapan dengan milikmu.” Sunny tersenyum penuh kemenangan, setidaknya ia selangkah lebih tahu dibandingkan orang yang seharusnya berada di posisinya saat ini.

Minho terbelalak tidak percaya, sama sekali tidak menyangka kalau kelakuannya ini diketahui oleh Serra. Malang memang, ia tidak menyadari bahwa orang yang mengetahui ini bukan Serra yang sebenarnya, melainkan saudara kembarnya yang terpisah sejak kecil.

“Mianhae…aku membohongimu selama ini…aku rela menembus kesalahanku dengan apapun.” Rasa bersalah menyelimuti segenap jiwa dan raga Minho.

“Gwenchana. Bukan salahmu sepenuhnya…mungkin selama ini aku yang terlalu lamban, tidak mampu menjadi anae yang baik bagimu, yang bisa membuatmu betah tinggal di rumah. Tapi seperti yang tersirat dari ucapanmu barusan, tidak ada kesalahan yang dapat dimaafkan begitu saja. Sebagai gantinya, jadilah tetanggaku yang baik, terima aku dengan lapang pada setiap kunjunganku ke tempatmu, arasso?”

Minho’s POV

Benar kata Yuri nuna, cepat atau lambat hal ini tidak bisa kusembunyikan lagi. Tidak ada bangkai yang tidak tercium aromanya, kan?

“Mianhae…aku membohongimu selama ini…dan aku rela menembus kesalahanku dengan apapun.”

Aku tidak berani menatapnya, aku takut melihatnya menangis, atau paling tidak ada genangan air  yang tertahan di mata beningnya. Aku tidak tega melihatnya terluka, menambah beban pikirannya. Sungguh, aku tidak ingin memperburuk keadaannya.

“Gwenchana. Bukan salahmu sepenuhnya…mungkin selama ini aku yang terlalu lamban, tidak mampu menjadi anae yang baik bagimu, yang bisa membuatmu betah tinggal di rumah. Tapi, tidak ada kesalahan yang dapat dimaafkan begitu saja. Sebagai gantinya, jadilah tetanggaku yang baik, terima aku pada setiap kunjunganku ke tempatmu, arasso?”

Menguap, seperti unsur nitrogen yang mudah terlepas ke udara bebas jika terkena matahari. Rasanya hatiku sangat lega mendengar jawabannya. Rupanya ia telah bermetamorfosis menjadi tegar, sedikitpun tidak kulihat air matanya. Syukurlah…

Kuraih tangannya yang sejak tadi bertengger di atas meja, kupegang dengan kedua telapak tanganku sebentar, mengenggamnya erat sambil segera memejamkan mataku.

Aku merasa bersalah melihatnya seperti ini, berdandan cantik dan datang ke kantorku untuk menyadarkanku bahwa selama ini aku melewatkan sosoknya dalam hidupku. Bukan terlewatkan sebenarnya, tapi sengaja kulewatkan.

Aku mengutuki diriku, namja terbodoh dan paling pengecut. Bersedia menikahi seorang yeoja namun tidak melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang nampyeon. Hanya bisa menyalahkan istilah basi bernama perjodohan yang merenggut hakku untuk memilih cintaku sendiri. Awalnya aku berpikir aku akan menceraikannya setelah beberapa waktu, tapi ada satu alasan yang membuatku memutuskan untuk tetap mempertahankan rumah tanggaku.

Seharusnya, berani memutuskan maka berani menanggung resikonya, tapi aku tidak. Aku malah memilih untuk menghindarinya dan tidak melakukan usaha apapun untuk mendekatkan diriku pada keutuhan rumah tangga kami.

Tuhan…jangan izinkan aku melukai yeoja ini lagi…aku ingin menjadi seorang nampyeon yang baik untuknya. Saat ini memang belum ada cinta yang mendasariku dalam menjalani hubungan ini. Tapi mulai detik ini aku berjanji, aku akan berjuang, menumbuhkan cinta, melindunginya dan tidak akan membuatnya menangis lagi.

Kucium tangan halus itu perlahan, menghantarkan do’aku—atau paling tidak getaran ketulusannya untuk yeoja yang telah kuterlantarkan selama tiga tahun ini.

“Kita akan bersama, pada tempat yang berbeda…” Ujarku setelah beberapa lama mengutarakan do’aku dalam hati.

Ya, lembaran baru kisah kami akan kumulai di ‘rumah’ baru. Biarkan dewa cinta mempertimbangkan apakah ia layak menganugerahi perasaan cinta untukku, untuk selalu kukirimkan pada yeoja ini.

TBC…

 

+++++

Masih ga ngerti? Bagus kalo ga ngerti, ntar baca lagi ya part selanjutnya…hehe #ditabok readers

Ceritanya aku dan chinguku sedang bikin ff inti awal ceritanya sama, tapi alur, ending dan penokohan diserahkan pada otak masing-masing penulis. Jadi, wajar kalo kalian nemuin ff yang ceritanya sama juga, punya chinguku judulnya Another Love.

Maap kalo ff ini butut dan belom jelas ceritanya, tapi perlahan akan diperjelas.

Komen, kritik, sarannya aku tunggu. Don’t be silent reader, OK?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

47 thoughts on “Between Two Hearts – Part 1

  1. iya, aku agak kurang ngert sama jalan ceritanya.
    aku kira Yuri itu cewek simpanannya Minho, tapi ternyata bukan.
    agak ngerti pas tau kalo Sunny itu kembarannya Serra.
    “kita akan bersama, pada tempat berbeda” itu maksudnya apa?

    aku tunggu next part-nya~

  2. antara ngerti dengan tidak ni dgn critanya …]
    tunggu part selanjutnya deh biar bener-bener ngerti …
    hwaiting thoor😀

  3. Astagaaaaa itu sunny cerita nya nyamar jadi serra thor?!!!!! xO
    pengen gueee cekekkkk loh si sunny ya oloohhhhhh astagaaaaa
    gerem sendiri, *brb ngambe keypad keyboard yang terbang ke lantai gara gara ku pukul* -_______- iihhhhh geremmmmm

  4. suka banget sama cerita yg openingnya bikin penasaran..
    ini daebak banget lah author nya, walaupun tadi ada beberapa typo kayak kata ‘aku’ yg seharusnya itu ‘kau’

    lanjutkan thor, jangan lama2 ya di publishnya ..
    cemungudth ya

  5. Haaaa
    Seru! Kayak’a peran sunny d sini antagonis ya? Trus, key’a kok lum keliatan? Kasian serra.. Pas baca terakhir baru ngeh klo serra dan sunny itu kembar! Maklum otak lola😦

  6. ngerti kok pas baca sampe akhir..
    Komentarnya cuma satu, minhonya bego –”
    Tau beda tapi curiganya bentar doang..
    Kayak sherlock dong, “oh i’m curious yeah”😦

  7. aq ngerti…aq ngerti…
    itu serra sm sunny kembar kan…tp serra diasopsi sm orang kaya,trs sunny yg merasa hidupnya g adil mutusin bwt nyamar jd serra.bener g thor hipotesaQ…??? bener kan…#Author : spaan sih reader sotoy….
    tp sunny kq jahat amat yak…nyamar jd serra trz ngerebut nampyeon sodara sendiri…???
    merebut pacar orang sih masih bisa dimaafkan,tp klo udh ngambil alih suami orang…itu namanya kejahatan…
    ngomong-ngomong mana key…???kq belum nongol…???
    next part,,,ditunggu

  8. Complicated -,-”
    udah diduga, si sunny pasti pura2 jd serra! Sunny kembarannya serra o.O
    jangan2 ntar si key suka si sunny, trus ntar sunny suka key, kepergok minho, disangkanya serra, berantem… dan the end! #plak (?) *redder gatau diri* haha hanya menduga unnie …..

    Ceritanya bagus! Alur idenya rumit, krn pembawaannya, aku bisa mengerti isi dan maksud ff ini.

    Pasti ada sesuatu antara serra dan sunny. Jgn2 sunny ga suka si serra ato ada masalah apalah! Haaaa daebak sumpah! Ngefans nih lama2! XDD

    1. hihi, end-nya ga semudah itu…tungguin aja ya dan ikutin ampe abis karena makin kesana makin meningkat emosinya *semoga*

      gomawo udh mau baca n kasih oksigen ^^

  9. Ruwet bngt ini crtanya-_-”

    Kyknya si Sunny ini nyamar jd Serra krna dia ngiri deh sm Serra yg hdupnya enak dr kecil krna diadopsi sm kluarga kaya *reader sotoy-_-“*
    Tp knpa ngeblsnya dr Minho coba? kan kl Minho malah suka sm Sunny malah lbh gaswat lageeee u.u
    Oiya dsini Key blm nongol kan eon? krkr Key gmana ya disini?

    Komennys sgini aja, ayo eonni next part cpetan publish~😀

  10. waaahhhhhh awal’a keren!!!!
    Kaya’a aku tau deh hub. Serra sm sunny
    Tp maksud’a sunny ke seoul trz nemuin si minho apa yaa???
    Ditunggu part selanjut’a🙂

  11. hmm, kayanya compicated ceritanya,,
    sunny sama serra kembar tapi kehidupan dan kepribadian mereka bner” beda trus sunny cemburu dan mau ngerebut smuanya dari serra ?

    tapi serem penokohan sunny disini,
    heels merah, dress merah menyala selutut dan rompi abu-abu berbahan kulit ,make yang membuatnya terlihat terkesan tegas dan menyala ? jadi inget tokoh” antagonis di sinetron
    kekeke~

    ditunggu next partnya🙂

  12. Jadi sunny itu kembaran serra?? Mau balas dendam atau gimana?? Kasian serranya nanti u.u
    Next partnya aku tunggu yaa ^^

  13. Jadi Seera sama Sunny saudara kembar yang terpisah?? Wahh,, Sunny nyamar jadi Serra?? Semoga saja niat dia baik.. Dan berharap dg kehadiran Sunny kehidupan rumah tangga Minho-Serra membaik. Coba berspekulasi ahh,, dilihat dr judulnya diantara dua hati kan.. Apa nantinya bakal add cinta segitiga antara sunny-Minho-serra?? Wahh,,, bakalan seru tuh.. Dan Jinki?? Bakal kayak app peranan dia nih…. Gx sabar nunggu part selanjutnya nihh…. Semangat ya bibib!!

  14. Sebentar sebentar… *baca ulang*
    Kemarin aku juga udah baca.. tapi kayaknya otakku lagi berantakan..
    Pertama, di sini banyak typo ^^
    berharap next part lebih baik
    Terus.. mungkin maksud-mu Tatkala kali ya bukan tak kala?🙂
    Telisik? Heeemm mungkin mestinya “Ku selisik”

    Jadi… Sunny anak keluarga Han yang sengsara sementara Serra diadopsi keluarga Lee yang tajir luar biasa?
    Serra nikah sama Minho? Adik angkatnya Jinki
    Sunny pura-pura jadi Serra? Dan dia sahabatnya Jonghyun… eeemmmm
    jadi.. Jinki sama Jonghyun punya peran yang sama ya? Temen cerita si kembar.

    Diliat dari poster… Minho – Sunny, Key – Serra
    Diliat dari part satu, spesikulasi nya…
    Sunny pura-pura jadi Serra dan dengan sikap Sunny si Minho memutuskan buat memulai lembaran baru sama Serra ‘palsu’. Ini artinya, Minho bakalan naksir sama Sunny yang jadi Serra.
    Karena Key belum muncul.. biar itu aja dulu asumsinya kekeke~

    Yang bikin aku mau tahu itu… “Apa Serra udah ketemu sama Sunny? Kalau iya, apa Serra tahu Sunny pura-pura jadi Serra? Kalau enggak, terus, motif Sunny pura-pura jadi Serra ini apa?” …. that’s mean i’m so curious😀

    Next part… sorry aku undur T-T padahal harusnya part dua tanggal 23 ya? khukhukhu~ Maafff~

    1. ah iya typo yang tak kala. btw selisik ya yang bener? wuah…gomawo, aku baru tau.

      gapapa kok, aku emang mengalokasikan tgl itu buat MA yang masuk, jadi fleksibel digeser…tenang aja…dr awal aku udh jaga2.

      hihi, jangan bosen baca yah…semoga next part lebih baik n ga adap typo. gomawo zika…

  15. Sunny dan Serra saudara kembar yang terpisahkan. Tapi sebenarnya apa alasan Sunny datang ke Seoul? Dengan melakukan penyamaran itu, tidak mungkin kan Sunny mau mengganggu rumah tangga saudara kembarnya sendiri?

    Minho benar-benar nggak curiga kalau yang bersamanya itu bukan isterinya. Wah, gimana kelanjutannya?

    Nice story. Lanjut!

  16. alohaaa bibib dubu, kembali ms. ateng tereng teng dung tak tak dung tek tek singgah di ff mu ^^.
    *music opening’y udahan yah. abang topeng monyet’y mau ngiter* hahaha.

    hhmm klo di ff ini baru berani sotoy *bibib dubu : tengil lu ah*😛
    ngeliat si sunny agak2 antagonis di part ini mengingatkan gw sm ssatu!! apa itu? bibib dubu tauk kaga?
    hehe mnurut gw ff ini mirip telenovela “cinta paulina”. busettttt gw bandingin ama telenovela. ahahha..

    seperti biasa ff lu selalu ada pesan moral.sm istilah berat *apasih gw*. sukkkaaa bngt, jd bnyk pmbelajarannya ^^b

    ff chingu bibib dubu di posting disini juga kah? mauuuu baca juga deh..
    OnKey dehh, mau loncat ke part 2 yak.
    adios amigos~~

  17. Sunny itu kembarannya Seera ya?😮 Eon itu ‘mendelit’ memang begitu atau harusnya ‘mendelik’? Trus itu ‘terbelak’ harusnya ‘terbelalak’ ya? ^^ Maaf nih eon, ini menurutku sih. FF eon yg ini bagus cuma kok kayaknya bahasa nulisnya agak melemah (?) ya? Nggak kaya yg di The Devil sma I Can’t Be Yours. Apa memang faktor genre juga ya? *abaikan*

  18. Bibiiiib aku nyampah lagi di FFmu yang lain. Jangan bosen yaaa ngeliat usernameku sering muncul di FFmu hehehe

    1. ..Ia berhambur memelukku, alhasil kami berpelukan di stasiun kereta bawah tanah, kutanggung tatapan orang banyak demi pelukan perpisahan dengan sahabatku ini..
    Gak bosan-bosan aku ingetin masalah penggunaan tanda baca koma. Kalau menurutku sih kalimat ini tanda baca komanya malah bisa diganti tanda baca titik semua. Karena masing-masing bisa berdiri sendiri kalimatnya.

    2. ..Ia sangat bijak, berpengetahuan luas, dan memiliki kemampuan untuk membangkitkan orang lain. Tapi, sisi tumpulnya adalah, ia sangat mudah menangis hingga aku memanggilnya si baby crying.”
    *Peluk Jonghyun aaaaaaaaaaa*

    3. “Ya sudah, jaga dirimu baik-baik, jangan lup kabari aku begitu aku sampai.”
    Mungkin maksudnya “kau” kali ya hehe

    4. “Ya! Kenapa aku harus kembali ke sisimu? Kau boleh mengatakannya kalau kau namjachinguku. Shiro! Aku akan mencari namja Seoul yang tampan.”
    Aku ngehang…. Apa maksud kamu seperti ini Bib –> “Ya! Kenapa aku harus kembali ke sisimu? Kau ingin mengatakan kalau kau namjachinguku? Shiro! Aku akan mencari namja Seoul yang tampan.”

    5. “Satu, dua, tiga, berapa kali kau melakukan kesalahan yang sama, tapi kau masih mendapatkan kata maaf dari orang yang sama?
    Pertama, ada kata yang muncul dua kali dalam satu kalimat. Kedua, saran dari aku sih begini “Satu, dua, tiga. Berapa kali kau melakukan kesalahan yang sama pada seseorang? Tapi kau masih saja mendapatkan kata maaf dari orang itu.

    6. Seperti yang pernah aku bilang kalau nama korea diakhiri dengan huruf vokal biasanya dikasih akhiran –ya. Jadi Serra-ya, bukan Serra-ah hehehe

    7. “Jinki kembali menelorkan pertanyaan yang membuat Serra tidak berkutik, bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena tidak berani mengungkapkan apa yang ia rasakan.”
    Maksud kamu “meneror” bukan?
    Terus penggunaan tanda baca komanya juga hehe.

    8. Masih ada “tak kala”. Setahuku “tatkala”

    9. “Tujuannya kini adalah resepsionis yang ada di sisi kanan lantai ? dekat pintu masuk.”
    Tau gak aku baca ini jadi senyum-senyum. Kesannya resepsionisnya geletakan di lantai. Atau mungkin maksud kamu “di sisi kanan lantai 1 dekat pintu masuk” kali ya?

    10. “Tidak butuh lama untuk sampai dilantai dasar.” Mungkin maksudnya “tidak butuh waktu lama”

    11. “Ia mendelit, tidak lama melemparkan sebuah senyuman untukku.”
    “mendelik” mungkin maksudnya?

    Wuih part 1 aja udah bikin penasaran. Bagus Bib, bikin orang penasaran sama cerita selanjutnya. Cabs dulu deh part 2~~

    1. 1,2,3,6,8,9,10,11 ok ndits.
      Nah, yg 4 itu gini : Sunny bilang klo jonghyun boleh bilang begitu klo emg jjong itu cowonya sunny, tp kan mereka cm sahabat.
      5. kata ‘sama’ yang pertama aku ganti pake ‘serupa’. Gimana?
      7. kalo gini gimana : “Jinki kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Serra tidak berkutik. Bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena tidak berani mengungkapkan apa yang ia rasakan.”
      Thx a lot yah ndits utk komennya, berhaga bgd buat nyadarin aku yg suka ceroboh dan ga nyadar apa yg kutulis. Udah aku edit kok ^^

      1. 4. ah iya aku kurang teliti. bener kok kamu~~
        5 dan 7. nah gitu juga bisa🙂

        sama-sama Bib, senang bisa membantu😀

  19. Aaaahh,ngerti2 ni cerita,aduh kasian nasip sie serra kalo minho ma sunny tetanggaan,kann minho ngira sunny itu serra,minho ga pulang krumah donk?sedih amat nasipnya serra?

  20. Tapi apa tujuan Sunny nyamar jadi Serra?? Trus kok Sunny tau kalo Mino nyewa apartemen padahal Serra yang anae nya malah gag tau?? Penasaran….. next>>>

  21. Saya ngerti, kok. Sunny itu saudara kembarnya Serra yang hidup terpisah gegara Serra diangkat anak sama keluarga Lee kan? Dan Jinki itu kakak angkatnya Serra. Sunny dateng ke Seoul buat nyamar jadi Serra (dan saya masih gatau buat apa). Saya juga masih gangerti “Between Two Hearts” itu antara heartnya siapa… Makanya : SAYA LANJUT BACA PART 2 DULU YAAHH..” kekeke~

  22. Aku ngertii..
    sunny & serra saudara kembar yang pisah dari kecil. serranya diadopsia ama keluarganya Jinki trus dia dijodohin ama Minho. yang aku ga ngerti itu Sunny nya kenapa nyamar jadi Serra segala? maksudnya apa? Iihh.. br part 1 aku udah emosi gini >< aku lanjut dulu dehh

  23. aaaaa daebak~
    aku ngertinya pas Sunny dateng ke kantor Minho dan dipanggilnya Sera-istrinya Minho😀
    suka kata”nya yang memiliki maksud tersembunyi #plak!~
    hehe
    udahh gitu bahasanya ga di macem”in-yg bikin saya pusing-
    hehe
    oke cukup cuap cuapnya😀

  24. aaaaa daebak~
    aku ngertinya pas Sunny dateng ke kantor Minho dan dipanggilnya Serra-istrinya Minho #mulaisebelsmaSunny#
    hhe
    suka kata”nya & bahasanya yg ga di macem”in-yg bikin saya pusing-
    hehe
    oke cukup cuap cuapnya😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s