Touch Your Heart – Part 5

Title                : Touch Your Heart Part 5

Author             : tiara_jinki

Main Cast         : Choi Yoona, Lee Taemin

Other cast        : Onew (Lee Jinki), Choi Minho, Kim Hyo Min, Key(Kim Kibum), and others.

Genre               : Romance

Rating              : PG-13

Length             : sequel

Summary         : hari ini, ku rasakan sesuatu yang berbeda darinya. Ada apa dengannya?

A.N.                : Holaa~, aku kembali membawakan lanjutan dari ff gaje nan butut ini. (udah tahu butut kenapa masih di kirim? Hehe *abaikan). Well, aku ngerasa part kemarin kayaknya hancur banget deh. Sebagai gantinya, part ini ku rasa udah mendingan di banding yang kemarin. (menurutku). Semoga para readers suka. Dan don’t forget RCL. Gamsahamnida~^^.

^Happy Reading^

-Yoona pov-

Butiran salju memupuk di tanganku, mataku menatap salju putih, seulas senyum terbentuk di bibirku. Rasanya damai sekali jika melihat butiran putih itu. Aku memejamkan mataku, ku hirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya. Tenang dan damai, rasanya menyenangkan.

“Choi Yoona”suara namja terdengar telingaku, Lee Taemin.

Aku membuka kelopak mataku perlahan, takut-takut ia sedang menjahiliku dengan cicak mainannya. Tidak, dugaanku salah. Dia sedang berdiri di hadapanku dan tersenyum. “hari ini dingin sekali”ujarnya dan duduk di sampingku.

Walaupun sekilas, aku sempat mendapati tatapannya yang sendu. Sepertinya dia sedang ada masalah. “ya…Yoona, jangan menatapku seperti itu”. Taemin menyadari tatapanku yang bingung terhadapnya.

“ingin bermain perang salju lagi denganku? Aku akan membiarkanmu mengalahkanku”ujar Taemin. Sungguh, aku sedikit bingung dengannya.

Aku menggelengkan kepalaku dan masih menatapnya dengan banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan padanya. “waeyo? Bukankah kau sangat ingin mengalahkanku?”tanya Taemin.

Aku menatap matanya, mencari-cari jawaban atas setiap pertanyaan yang menggangguku. Matanya, sedikit memerah. “aku sedang tidak ingin”jawabku.

Taemin kini menatap lurus ke depan dan membuatku sulit untuk melihat raut wajahnya. Ku lihat senyumnya hilang. “sayang sekali”gumamnya yang masih terdengar olehku.

“hei, Choi Yoona”kini ia memanggilku tanpa menoleh ke arahku.

“nde?”sahutku, harusnya aku diam saja.

“sebenarnya, apa yang membuatmu dingin pada namja?”tanyanya.

Aku terdiam sesaat. “bukan urusanmu”jawabku dingin. Aku ingin tahu sekali apa yang sedang menimpa Taemin. Tapi, Taemin pasti akan berfikiran yang aneh-aneh tentangku jika aku menanyakan ada apa dengannya.

Dia tersenyum tipis lalu menoleh ke arahku. “tetap saja, kau seorang Choi Yoona, yeoja aneh”ujarnya.

“ya!”. Perkataannya cukup membuatku kesal.

“mianhae, hanya bercanda”. Ia mengalihkan pandangannya lagi.

“lagipula, jangan marah kalau aku mengatakan seperti itu. Itu juga karenamu. Aku hanya bingung saja. Kenapa kau dingin sekali terhadap namja? Apa kau pernah di sakiti oleh namja sampai-sampai kau selalu seperti ini?”tidak, aku tidak pernah.

Lee Taemin, berhentilah membicarakan tentangku. Bicarakanlah tentang masalahmu. Tunggu, kenapa aku jadi ingin sekali mengetahui masalah Taemin?. “kau selalu dingin di dekat namja. Kau jarang tersenyum dan hampir tidak pernah tersenyum di depan namja di sekolah. Kau juga selalu diam atau membalas dengan singkat kalau ada namja yang mengajakmu mengobrol. Sebenarnya, ada apa Yoona?”. Kini matanya menatapku. Tatapan sendu bisa ku lihat dengan jelas.

“anni, aku memang selalu seperti itu dari kecil”jawabku.

“geraeyo?”gumamnya.

“kalau begitu, aku akan membuatmu tidak dingin lagi terhadapku”ujarnya dan tersenyum. Senyum yang tidak begitu menggambarkan kalau ia sedang bahagia saat ini.

“kalau kau ingin menjahiliku lagi. Itu tidak akan pernah berhasil!”balasku dan berhenti menatapnya. Apa kau benar-benar ingin membuatku tidak dingin terhadapmu?. Taemin, sebenarnya kau sudah memulainya.

“tentu saja tidak. Aku lelah mendengar teriakanmu itu. Membuat kedua telingaku sakit”.

Aku tertawa kecil mendengar perkataannnya. “itu karena cicak konyolmu itu!”.

Dia terkekeh. “hehe, mianhae. Aku hanya bingung bagaimana membuatmu tidak menganggapku seperti patung lagi”. Mungkin kalau dari awal kau bertingkah laku seperti Jinki. Kau akan berhasil. Tapi, kini perlahan-lahan. Kau membuatku tersenyum. Walau tidak setiap hari.

“tidak akan semudah membalikkan telapak tangan”ujarku.

“aku tahu,tapi aku yakin aku akan berhasil dalam satu hari. Aku tahu, pasti kau tidak percaya. Tapi, aku yakin aku bisa”balasnya dan menatapku. Kini, kami saling berpandangan.

Rasa gugup mulai menyelimutiku. Tiba-tiba menjadi gugup. Kembali seperti ini lagi. “tapi, aku juga sedikit takut kalau aku akan gagal. Tapi, kita lihat saja nanti”. Dia tersenyum ke arahku, matanya menatapku. Senyum yang memaksakan.

Aku masih terdiam dan tidak berkata apa-apa. Hanya diam. “agasshi, hari ini mau kah kau ikut denganku?”dia mengulurkan tangannya, seperti bukan Lee Taemin.

Mataku hanya terpaku pada matanya. Matanya yang menatapku dengan sendu, tatapan yang menyiratkan masalah yang sedang ia alami. Senyumnya yang memaksakan, senyum yang aneh. “Choi Yoona, otthae? Aku sudah memintamu dengan baik-baik..”tanyanya lagi.

Aku berdiri dan menatapnya, kepalaku bergerak ke atas dan ke bawah, tanda setuju dengan ajakannya. Dia menurunkan tangannya dan bangkit. Wajahnya mendekat ke wajahku, aku bisa merasakan nafasnya. “harusnya tadi kau membalas uluran tanganku. Apa kau gugup?”bisiknya. Lee Taemin, kau benar-benar membuatku gugup!.

“ya! Awas kalau kau membawaku ke tempat yang aneh-aneh! Aku akan membencimu! Selamanya!”ancamku dan mundur satu langkah. Berusaha menjauh darinya dan mencoba mengurangi rasa gugupku.

Dia tertawa kecil dan maju satu langkah. “see? Baru awal saja kau sudah gugup”ujarnya seakan tahu dengan apa yang sedang ku rasakan.

Aku mendengus kesal dan membalikkan badanku. Pada akhirnya, dia selalu membuatku kesal. “ya…jangan marah Yoona-sshi, aku hanya bercanda”ucapnya.

Kakiku mulai melangkah, Taemin mengikuti dan mensejajarkan langkahnya denganku. “kau akan membawaku ke mana?”tanyaku.

“rahasia. Aku tidak akan memberitahumu. Jadi, sepanjang jalan nanti jangan menanyakan hal itu. Jawabannya akan tetap sama”jawabnya. Jawaban yang tidak memuaskan.

Aku menoleh ke arahnya, tidak ada senyum. “baiklah, asal kau tidak membawaku ke tempat yang aneh-aneh aku tidak akan cerewet”ucapku dan menatap lurus ke depan. Mengalihkan pandanganku dari Taemin.

Kemudian, suasana menjadi sunyi. Baik aku maupun Taemin, tidak ada yang berbicara. Hanya diam dan tetap berjalan. Rasanya, Lee Taemin, namja pengganggu ini sedikit berbeda. Dia sedikit aneh hari ini, dan akupun juga begitu. Aku menjadi aneh, selalu memikirkan Taemin, ‘ada apa dengan Taemin?’, ‘apakah dia ada masalah?’, ‘apa dia baik-baik saja?’, ‘apa sesuatu yang buruk baru saja menimpanya?’. Pertanyaan- pertanyaan itu selalu terlintas di pikiranku dan selalu mengusikku. Benar-benar mengganggu.

Aku dan Taemin berhenti di halte. Taemin berdiri melihat ke kanan dan ke kiri. Melihat apa bus sudah mulai mendekat atau tidak. Sedangkan aku duduk di bangku yang terbuat dari besi itu. Duduk dan menatap punggung Taemin. Tidak buruk, tingginya juga tidak begitu pendek, setidaknya dia lebih tinggi dari Jonghyun oppa. Walaupun dia lebih pendek dari Minho oppa. Tunggu, kenapa aku jadi memikirkannya?. “Yoona, kajja masuk!”ujar Taemin dan menoleh ke arahku.

Aku bangkit dari dudukku dan berlari kecil masuk ke dalam bus. Keberuntungan sedang tidak berpihak pada kami, bus ini penuh dan hanya tersisa satu tempat duduk. Aku menatap Taemin, Ia menarik tanganku dan membuatku duduk di tempat itu. Dia berdiri di dekatku, tangannya berpegangan di pegangan tangan yang menggantung. Pandangannya lurus ke depan. Aku kembali terdiam. Dia cukup baik.

“wah, namjachingumu baik sekali yah”. Aku menoleh ke sampingku, ke asal sumber suara. Suara seorang halmeoni.

Sedikit terkaget dengan perkataannya. “anniyo, halmeoni. Dia hanya chinguku. Tidak lebih”sangkalku. Sejak kapan aku berpacaran dengan Taemin?.

“ku kira, dia namjachingu mu. Sayang sekali. padahal namja ini sangat tampan”. Biar  ku tebak, pasti Taemin sedang tersenyum mendengarnya. Aku menoleh ke arah Taemin, lihat kan dia sedang tersenyum puas. “halmeoni, gomawo. Halmeoni terlalu memuji”balas Taemin. Cih, terlalu percaya diri.

“anio, kau memang tampan”. Yeah, ku akui dia memang tampan.

Taemin masih tersenyum. Bus berhenti dan sedikit membuat goncangan. “akhirnya sampai juga”. halmeoni itu mendesah lega. Dia bangkit dari duduknya, begitu juga aku. Aku berdiri dan memberikan jalan agar halmeoni itu bisa keluar. Aku sedikit membantunya, dia sedikit kesulitan berjalan. “gomawo”. Ucap halmeoni itu dengan senyum di wajahnya. Aku membalasnya dengan senyum.

Halmeoni itu mendekat ke Taemin dan menggerakkan tangannya seakan menyuruh Taemin untuk mendekat kepadanya. Aku melihatnya dengan sedikit bingung. Halmeoni itu membisikkan sesuatu pada Taemin, Taemin sempat melirik ke arahku dan kemudian tersenyum. “ne, halmeoni. Hati-hati!’ucap Taemin.

Aku kembali duduk dan Taemin duduk di sampingku. Aku menatapnya dengan penuh curiga. Apa yang di katakan halmeoni itu?. “Taemin, halmeoni itu…dia mengatakan apa?”tanyaku sedikit berbisik.

Taemin menoleh ke arahku dan melemparkan senyum evilnya padaku. Aku menelan ludah. “wae? Memangnya kau ingin tahu sekali?”. Lee Taemin, kau memang menyebalkan!.

Aku menghela nafasku. “berhentilah membuatku kesal”.

“apa kau fikir halmeoni itu membicarakanmu?”. Huh…aku tidak tahu apakah stock kesabaranku masih banyak untuk menghadapi namja ini.

“hei jangan marah. Aku hanya bercanda. Baiklah, halmeoni itu hanya mengatakan kalau kau sangat cantik”. Taemin menoleh ke arahku dengan senyumnya.

Kau tidak bisa membohongiku, untuk apa halmeoni itu berbisik padamu hanya untuk mengatakan itu. “yeah, aku tahu kau berbohong”. Sahutku dan memandangi setiap pohon yang menghiasi pinggiran jalan.

“wah…sepertinya namja yang akan menjadi namjachingumu pastilah orang yang jujur yah kalau tidak. Dia akan selalu ketahuan berbohong olehmu. Kasihan sekali..hehehe”ujarnya. aku hanya diam dan tidak memperdulikan perkataannya.

“baiklah, sepertinya kau sedang kesal saat ini. Aku akan diam”. Yeah, lebih baik kau diam.

Kemudian, dia benar-benar diam. Tidak mengatakan sepatah kata apapun. Aku sedikit melirik ke arahnya, senyumnya memudar. Dia tampak sedang berpikir. Apa yang sedang di pikirkannya?. Kenapa dia terlihat begitu serius?.

Aku jadi terfokus pada Taemin. Menatapnya dan menerka-nerka apa yang sedang terjadi dan di pikirkan Taemin?. Melihat wajahnya, membuatku terdiam, melihatnya seperti ini, sedikit aneh bagiku. Sebenarnya, apa yang ingin ia lakukan? Dia akan mengajakku ke mana? Apakah dia…ku harap dia tidak akan seperti Jinki. Yang meninggalkanku tanpa kembali lagi.

Entahlah, aku juga tidak mengerti. Tapi hatiku mengatakan tidak ingin Taemin pergi atau menghilang dari pandanganku. Walau hanya sehari.

“Yoona, kajja”ucap Taemin membuyarkan lamunanku. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan keluar dari bus.

Kami berdua melangkah menjauh dari tempat pemberhentian bus. Aku terus mengikuti Taemin tanpa menanyakan ke mana kami akan pergi. Tanpa menanyakan apa yang ingin ia lakukan denganku.

“Choi Yoona”suara Taemin memanggilku.

“hmm?”sahutku tanpa melihat ke arahnya.

“mianhae”ucapnya sedikit pelan. Kali ini aku menoleh ke arahnya.

“mwo?”.

Dalam hitungan detik dia melihatku lalu kembali menatap lurus ke depan. “mianhae, atas semua sikapku selama ini padamu. Aku tahu, kau selalu kesal terhadapku”ujarnya. Langkahku terhenti. Apa yang kau bicarakan Lee Taemin?.

“kau aneh”balasku dan menatapnya lekat-lekat.

Dia juga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku. Senyum terlukis di wajahnya, senyum aneh itu lagi. “jinja? Ahh..kau kan tidak mengenalku dengan baik”ujarnya. Tiba-tiba dia berubah seperti ini. Aku tahu kau sedang mencoba menyembunyikan sesuatu, tapi apa?.

“kau pikirkan saja sendiri”balasku dan melanjutkan langkahku.

Dia juga melakukan hal yang sama. “hmm..yeah, sedikit. Tapi, aku tetap seperti Lee Taemin kan?”. Perkataan bodoh macam apa itu Taemin?.

“wajahmu tidak berubah. Ku rasa kau tetap seperti Lee Taemin. Memang nya kau mirip siapa lagi?! Aish..”balasku kesal. Aku sedikit kesal, dia menjadi semakin aneh.

Dia masih mempertahankan senyum aneh itu. “masih seperti Lee Taemin yang menyebalkan. Iya kan?”ujarnya.

“aku tidak mengatakan seperti itu”.

“dulu, kau pernah mengatakannya. Seperti ‘Lee Taemin kau sangat menyebalkan!’ ‘Lee Taemin aku sangat membencimu!’ seperti itu”memang benar. Tapi, aku tidak lagi membencimu.

“terserah apa katamu. Hei, Taemin. Aku lapar. Lebih baik kita mampir ke kedai sebentar”pintaku dan memegang perutku.

“baiklah, aku tidak mau kalau kau pingsan. Dengar-dengar Oppa mu itu akan seperti singa kalau terjadi sesuatu padamu. Aku tidak mau itu terjadi. Kajja”balasnya dan menarik tanganku.

Dia membawaku ke kedai kecil yang ada di pinggir jalan. Ddaekboki, aku jarang memakannya. Kami duduk. Taemin mengangkat tangannya. “ahjumma, 2 ddaekboki dan 2 air mineral”ujarnya.

“kenapa kau tidak pesan soju?”tanyaku.

“aku tidak mau. Memangnya kau sudah minum soju sebelumnya? Aku tidak pernah”jawabnya, sedikit mengagetkanku.

“mwo? Aku pernah sekali. meminta dari soju Appa ku”.

“aku tidak begitu suka soju”.

Kemudian suasana kembali hening, di antara kami tidak ada yang berbicara. Aku menundukkan kepalaku, sesekali aku melirik ke arah Taemin. Melihat tatapan sendu darinya. Senyum memudar dari wajahnya. Aku lebih suka melihat Lee Taemin yang suka tersenyum di banding Lee Taemin yang seperti ini.

Aroma dari ddaekboki tertangkap hidungku. Pesanan kami telah ada di hadapan kami. Aroma yang cukup enak. “gomawo, ahjumma.”. Taemin tersenyum sekilas, lalu kembali lenyap saat ahjumma itu kembali ke tempatnya.

Aku terdiam. Dia juga terdiam, hanya menatapi ddaekboki itu dengan mata yang memupuk air mata yang sudah siap untuk terjatuh. “hei, Choi Yoona. Cepat makan ddaekbokinya. Apa kau tidak suka ddaekboki?”. Ujarnya membuyarkan lamunanku akannya.

“anni, aku suka. Kau? Kenapa kau juga tidak makan ddaekbokinya?”.

“menunggumu”. Jawaban yang singkat namun suaranya yang bergetar masih tertangkap telingaku.

Tanpa berbicara lagi, aku mengambil sumpit dan memasukkan ddaekboki ke dalam mulutku. Aku jarang memakan makanan ini karena Hyo Min yang sering mengajakku untuk makan pasta dan Minho oppa yang sering mengajakku makan ramen.

Mataku kembali melirik ke arah Taemin, apakah ia sudah memakan ddaekbokinya?. Tidak, menyentuhnya saja tidak. Ku lihat cairan bening menetes dari pelupuk matanya. Daritadi ia hanya memandangi ddaekbokinya. “gwenchana?”tanyaku, saat air mata itu terjatuh dari wajahnya.

Tangannya dengan sigap menyeka air matanya dan tidak lupa memasang senyum aneh itu lagi. Tanpa melihatku dia mengambil sumpitnya. “ne, gwenchana”. Jawaban yang tidak jujur.

Dia memakan ddaekboki itu perlahan, menatapnya beberapa menit kemudian kembali memasukkan ddaekboki ke mulutnya. Apa benar yang sedang di hadapanku adalah Lee Taemin?.

Todoke To Your Heart

Egake All your dream

Hibike to your heart

Kanae all your dream

Ponsel miliknya berdering, ia menghentikan aktivitasnya dan beralih ke ponselnya. Sejenak, ia menatap layar ponselnya, selama beberapa detik ia melirikku dan beranjak dari duduknya. Menjauh agar aku tidak bisa mendengar percakapannya dengan orang yang menelfonnya.

Dengan ddaekboki yang sedang ku kunyah aku melihat ke arahnya. Ekspresinya sangat datar saat berbicara dengan orang yang menelfonnya. Seakan ia malas menerima telfon dari orang itu.

Last Christmas I gave you my heart

But the very next day you gave it away

Kini, giliran ponselku yang berdering. Ddaekboki masih berada di mulutku, mataku menatap layar handphoneku. Tertera nama Minho Oppa, ada apa dia menelfonku?.

“yobossaeyo”.

“Yoona-ya, eodiso?”.

“waeyo?”.

“umma menyuruhku untuk menelfonmu dan menanyakan keberadaanmu. Dia bilang jangan pulang larut malam. Karena kau sedang di luar aku…”ucapannya terhenti. Suara umma terdengar walau samar-samar. “Minho-ya, cepat bantu umma!”.

Untunglah aku sedang tidak di rumah. Fiuh..

‘Ne, Umma. Jamkamman!’sahut Minho oppa.

“Yoona. Bisakah kau mampir di toko kaset saat pulang nanti? Tolong belikan film Sherlock Homes yang terbaru itu yah. Aku sedang tidak bisa saat ini dan aku ingin menontonnya. Tolong yah…”pintanya. Aish, menyebalkan.

“shireo!”.

“ya! A…”ucapannya kembali terpotong saat Umma kembali memanggilnya.

“Minho, sebenarnya kau sedang menelfon siapa? Ppali!”. Jadi, dia berbohong. Dasar.

‘jamkamman’balas Minho oppa.

“shireo! Pokoknya aku tidak mau. Lagipula, kau juga berbohong oppa”ujarku sebelum ia melanjutkan perkataannya.

“ya! Aku tidak mau tahu. Saat kau pulang kau harus membawanya. Ya sudah yah, ingat jangan pulang larut malam dan hati-hati. Bye, Yoona-ya”.

Pip, percakapan berakhir. Menyebalkan, kenapa dia memaksa?. Aish, kalau sudah seperti ini terpaksa aku harus menurutinya.

“Yoona, apa kau sudah selesai?”suara Taemin sedikit mengagetkanku.

Aku melirik ke arah piring yang berisi ddaekboki milikku, kosong. Kemudian, aku melirik ke arah piring Taemin, ddaekboki yang ada di piring itu masih banyak. “ne, kau?”.

Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “ne, kajja. Aku sudah membayarnya”.

“gomawo”.

Kemudian ia melangkah keluar kedai dan tak lupa mengucapkan sampai jumpa pada pemilik kedai ini. Sepertinya, Taemin sering pergi ke kedai ini. Aku menyejajarkan langkahku dengannya. Kembali hening, aku terdiam dengan banyak pertanyaan yang menggangguku. Ingin ku tanyakan semua pertanyaan itu pada Taemin. tapi, rasanya tidak mungkin.

Dia tidak mungkin menjawabnya-secara jujur-. Yang ku dengar pastilah, sebuah kebohongan belaka yang menandakan kalau dirinya baik-baik saja padahal pada kenyatannya tidak.

“apa kau menyukai makanannya?”. Suara Taemin memecah keheningan antara kami.

“ne, ddaekboki di sana enak. Tapi…”. Aku menghentikan perkataanku, ragu untuk melanjutkannya.

“tapi, kenapa?”tanya Taemin.

“annio, lupakan”.

Sunyi kembali, seperti kehabisan bahan pembicaraan. Aku terdiam begitu pula dengannya. Aku menatapnya yang sedang melihat lurus ke depan, tanpa senyuman itu, dan tatapan kosong. Walaupun aku dan dia sering bertengkar, tapi aku tahu Lee Taemin yang sering menjahiliku bukanlah seperti ini. Lee Taemin yang sering menjahiliku adalah orang yang mempunyai senyuman yang manis seperti Jinki dengan sorot mata yang penuh semangat hidup.

Atau, apa aku yang terlalu menarik diriku dari namja ini?. Aku baru menyadari aku tidak mengetahui apa-apa tentang namja yang membuat perasaan aneh padaku ini. Tapi, melihatnya seperti ini, kelihatan aneh bagiku. Dia seperti orang asing, saat ini.

Aku menghentikan langkahku saat mencium sesuatu yang buruk. Namsan Seoul Tower, aku benci ketinggian. Fobia, mungkin lebih tepatnya seperti itu. Aku sangat takut dengan ketinggian. Taemin juga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku. “wae geurae?”tanyanya.

Tanganku menunjuk ke arah Tower itu, pasti dari wajahku Taemin bisa menyimpulkan kalau aku takut. “kau, tidak akan mengajakku ke sana kan?”tanyaku.

Dia tersenyum jahil padaku, perasaanku tidak enak. Lee Taemin, jangan menjadi orang yang menyebalkan!. “molla, bukankah aku sudah mengatakannya sebelumnya?. Kajja, kita hampir sampai”jawabnya.

Tangannya menggenggam tanganku, ia berlari kecil begitpun denganku. Aku hanya bisa berdoa semoga namja ini tidak membawaku ke tempat itu.

***

Desiran angin musim dingin menyentuhku, tapi cokelat hangat ini cukup membuatku merasa hangat. Aku dan Taemin duduk di bangku di taman yang terletak di dekat Namsan Seoul Tower. Menatap kota Seoul dari sini, sedikit takut namun tidak begitu buruk. Senyum terbentuk di bibirku, tenang dan damai.

“dulu…”. Suara Taemin mengusir keheningan yang melanda kami sejak kami duduk di bangku ini.

Aku menyesap coklat panas ini, manis dan hangat. “dulu, aku, kakakku, dan orang tuaku sering duduk di sini. Kami biasanya pergi ke sini di saat sore hari, menatap kota Seoul dan bercengkrama”. Entah kenapa aku merasakan kesedihan dalam nada bicaranya itu.

“dan saat musim dingin, Appa sering mengajakku ke sini, hanya bertiga tanpa Umma. Kami biasanya melakukan hal konyol atau bermain perang salju sampai lelah. Namun, walaupunaku kedinginan, anehnya aku tidak meminta pulang pada appaku. Mungkin karena pemandangan yang terlalu indah untuk di lewatkan”lanjutnya.

“hah…cuaca berubah dan begitu juga dengan semuanya. Berubah!”. Aku menatapnya, senyum memaksakan itu lagi.

Dia menoleh ke arahku dan aku menjadi gugup. “kalau kau, Yoona. Akankah kau berubah seperti cuaca?”tanyanya.

Apa maksud dari pertanyaannya. Aneh. “ku harap tidak. Karena…”. Belum sempat ia melanjutkan perkataannya, aku telah memotongnya terlebih dahulu. Aku harap perasaanku yang mengatakan kalau ia akan pergi itu tidak benar.

“apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti. Kajja, kita pulang”. Aku bangkit dari dudukku tanpa menatapnya.

Satu langkah dan terhenti. Terhenti saat ku rasakan dekapan Taemin yang begitu hangat. Dia…memelukku?.

-Yoona pov’s end-

Taemin memeluk Yoona dari belakang, seakan mengatakan padanya jangan pergi, diamlah di sini beberapa menit lagi. Harusnya, Yoona melepaskan pelukan Taemin. namun, kehangatan yang mulai menyelimutinya itu menyuruhnya untuk tetap berada dalam pelukan Taemin.

“jamkamman, beberapa menit. Anni. Satu menit, biarkan seperti ini”ucap Taemin dengan suara yang bergetar.

“kata-kata itu, kata-kata yang terlalu sulit untuk di ucapkan. Saat aku ingin mengatakannya, lidahku menjadi kelu”.

Yoona hanya terdiam dan menikmati kehangatan pelukan Taemin.

“entah sejak kapan perasaan itu mulai datang. Mungkin, saat melihat seulas senyum dari wajahmu atau cairan bening yang terjatuh dari pelupuk matamu. Entahlah aku tidak tahu”.

“aku hanya lelah. Waktu terlalu cepat berlalu”ucap Taemin dan mengeratkan pelukannya.

Yoona masih terdiam, tiba-tiba saja ia membisu. Membisu mendengar perkataan Taemin yang menyiratkan masalah yang sedang ia alami.

“awalnya, aku selalu mengelak ketika aku memikirkan “apa benar aku menyukainya?”. Namun, tak ku sangka perasaan suka itu berkembang lagi menjadi apa yang orang sebut cinta.”.

Lalu, pelukan itu melonggar dan tepat satu menit berlalu. Taemin melepaskan pelukannya. Ia membalikkan badannya, bersiap untuk pergi.

“tapi, ku rasa aku terlalu takut untuk mengatakannya padamu. Mungkin karena waktuku yang menipis. Atau rasa takutku akan hal-hal yang buruk jika aku mengatakannya. Seperti “mianhae, aku tidak bisa”.”.

“Choi Yoona, gomawo untuk hari ini. Selamat tinggal, jaga dirimu baik-baik”ucap Taemin dan mulai melangkah menjauh. Meninggalkan Yoona yang masih mematung di tempatnya.

“sepertinya, kau hanya menganggapku sebagai angin lalu, yang tidak terlalu penting untuk kau ingat”.

“Selamat tinggal? Tadi dia bilang selamat tinggal”gumam Yoona. Ia membalikkan tubuhnya, matanya menangkap Taemin yang makin menjauh.

“tapi, bagiku. Kau telah masuk terlalu jauh ke dalam hidupku. Karenamu, semuanya menjadi begitu sulit”.

Yoona mulai melangkah dan berlari sekencangnya. “ya! Lee Taemin!”panggilnya, berharap namja yang sedang berjalan itu mendengarnya dan berhenti.

“mungkin, jika aku mengatakannya. Kau akan tertawa atau menganggap perkataan itu sebagai hal yang konyol yang terlontar dari mulutku.”.

Taemin mendengar suara Yoona, namun ia tetap melangkah. Mungkin, jika lebih lama lagi menatapnya. Jika terlalu lama melihat mata itu. Ia akan merasa sangat berat untuk meninggalkan tempat ini.

“tapi, semuanya begitu menyesakkan. Seperti ada yang mengganjal dalam hatiku. Begitu berat karenamu”.

Yoona menambahkan kecepatan larinya. Bingung, kesal, bercampur menjadi satu. Sedikit lagi, ia menggapai namja itu.

“mungkin jika aku pergi dan kembali. Saat kita bertemu setelah sekian lama. Kau tidak akan mengenalku. Membayangkannya membuatku sesak”.

“ya! Lee Taemin!”ujar Yoona. Ia berhasil membuat Taemin menghentikan langkahnya. Tangan kanannya menggenggam tangan Taemin.

“mungkin, aku terlalu pesimis. Namja payah”.

Taemin membalikkan badannya, terlihat Yoona sedang mengatur nafasnya. Peluh terlihat di keningnya.

“Cinta, aku tidak terlalu begitu mengerti tentang cinta. Cinta begitu membingungkan. Perasaan ini juga membingungkan, karena itu aku tahu kalau ini cinta”.

Yoona menatap Taemin lekat-lekat, tatapan menuntut sebuah jawaban dari semua kebingungannya. “ya! Lee Taemin. apa maksudmu?! Selamat tinggal? Huh, apa kau tidak bisa mengatakan hal yang lain. Seperti, sampai jumpa?”.

“kata-kata itu. Ku rasa lebih mudah mengucapkan selamat tinggal di banding dengan kata-kata itu. Karena, aku selalu merasa. I am nothing for you”.

Taemin menatap Yoona, gugup terasa olehnya. Wajah Yoona seperti menghinoptisnya untuk bertambah dekat dan memperkecil jarak di antara mereka.

“Selamat tinggal, dua kata yang paling ku benci di dunia ini. Namun, tetap harus ku katakan padamu”.

Kali ini, Yoona mengalihkan pandangannya. Tidak berani menatap mata Taemin yang membuatnya gugup. “huh…sebenarnya ada apa denganmu hari ini? Kenapa kau begitu aneh?”. Semakin dekat dan dekat, sampai Taemin bisa merasakan hembusan nafas Yoona yang tidak teratur.

“setiap hari, aku bertanya pada diriku sendiri. Kapan aku akan menyatakannya? Apakah sesegera mungkin atau tidak untuk selamanya?. Mungkin jika aku tidak mengatakannya. Rasanya akan begitu sesak, setiap hari akan terasa tanpa oxygen”.

Yoona merasakan debaran jantungnya, semakin cepat dan cepat. Kini, wajahnya dengan wajah Taemin sangat dekat. “ya! Lee Taemin apa ya…”. Bibir Taemin menghentikan ucapan Yoona.

“kata-kata itu, saranghae…Choi Yoona”.

 

————————————TBC——————————————-

Otthae-Otthae? Jelekkah? Tidak memuaskan?. Mianhae, tapi, walaupun ff ini jeleknya gak ketolongan (astaga pesimis banget jadi orang—“). aku tetap minta commentnya yah^^ #maksa wkwkwk.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

10 thoughts on “Touch Your Heart – Part 5”

  1. heyyyy taemin knp????

    wawawa
    btw aq agak lupa part sblumnya gmna… hahaha

    anyway.. lnjutkan… pnsrn taemin knp

  2. RAME BANGEET
    Ayo thor cepetan lanjuuuut! Hehe 😀 rame bangeet, udah ga sabar kelanjutannya ih nanggung thor ayoayoayoo 😀

  3. Jadi sebenarnya Taemin kenapa?? Mau nyatain cinta tapi kok nadanya sendu begitu. Dan lagi mengatakan selamat tinggal segalanya,,, kenapa kau nak…

    Aku setuju sama sebuah kalimat diatas…Antara selamat tinggal dan sampi jumpa.. Lebih mudah mengucapkan selamat tinggal. Karena tanpa beban.. Jika kita mengucapkan sampai jumpa. Berati kita berjanji akan berjumap lagi..hehe #Koment apakah…

    Penasaran ada apa dg Taeminnya.. Apa dia adiknya Jinki yg udd meninggal.. Dan hubungan sama Onew gimana tuh???

  4. Tiaraaa 🙂
    mian, baru smpet baca FFmu sekarang.
    Aku belum baca part sebelumnya, tapi udah suka ^^
    penasaran Taemin kenapa. Kata2ny mencurigakan. Jangan2… #sok tau. Mhehehe.
    Plotnya teratur dan nggak buru2. Suka deh.
    Oiya, good luck for your exams ^^
    Tiara jjang!

  5. taemin jadi aneh yah ..
    mungkin taemin mau menghindar dari yoona karna dia suka sama yoona .
    tapi kata”nya mengatakan dia mau pergi -_-
    terus bibir taemin menghentikan kata” yoona, itu taemin bilang saranghae atau taemin nyium yoona ??
    aah !!!!
    peasaran ..
    ditunggu next partnya :DD

  6. di sini feelnya sangat relly neomu dapet*bahasanya…*
    tapi entah kenapa di cerita ini wajah taemin itu…..serasa berccampur dengan wajah kyu.
    karakter taemin disini….aku merasa lebih cocok untuk kyuhyun.
    tpi cukup misterius juga kalau taemin berperan kaya gini.

    oh tiara,ceritamu membuat listrik menjalar ke seluruh tubuhku…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s