My Silent Yeoja

Author                  : Aya-chan (@just_aya)

Judul                     : My Silent Yeoja

Cast                       : Kim Kibum/Key, Lee Na Young (You), Member SHINee

Genre                   : Romance

Rating                   : PG 15 – PG 17

A.N                        : Plot milik saya. Ini FF gaje kedua yang saya buat. Awalnya saya buat buat dishare di fanbased tempat saya jadi admin di ffshineeshawol.wordpress.com . Tapi, biar banyak yang baca jadi saya putuskan untuk share sini ^^. Don’t be silent reader. Please comment ^^

LEE NA YOUNG POV

Jung Songsaemin sedang menerangkan pelajaran biologi tapi aku tidak sepenuhnya memperhatikan kata-katanya. Sejak tadi aku sibuk memperhatikan namja yang duduk disampingku. Badannya tegak kedepan dengan bahu bersandar didinding kelas. Sebelah tangannya bertumpu dimeja menopang dagunya. Matanya terpejam. Entah, apakah dia tidur atau tidak, tapi wajahnya nampak tenang dan aku suka sekali memperhatikan wajahnya yang seperti anak kecil itu.

Kim Kibum adalah sahabat terbaikku. Teman yang selalu menemaniku kapanpun dan dimanapun. Kami selalu menghabiskan waktu bersama sejak duduk dibangku sekolah dasar. Sampai saat ini—kami telah duduk dibangku kelas 2 sekolah menengah. Kibum sangat terkenal dikalangan yeoja disekolah kami. Sesungguhnya banyak sekali yeoja yang mengejar-ngejar Kibum. Tapi anehnya namja ini, dia sama sekali tidak tertarik sedikitpun dengan yeoja-yeoja itu yang menurutku cantik-cantik. Setiap kali menerima pernyataan cinta dari mereka, Kibum hanya akan tersenyum dan mengatakan bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama. Kemudian dia akan berbalik meninggalkannya tanpa memperdulikan tangis yeoja yang baru ditolaknya itu.

Aku mengetahui ritual itu karena aku sering mengintip saat-saat Kibum menerima pernyataan cinta dari para yeoja. Dan hal ini jugalah yang membuatku tidak berani untuk mengungkapkan perasaanku pada Kibum. Aku tidak mau menambah panjang daftar yeoja yang ditolak oleh Kibum.

“Sudah puas memandangi wajahku, nona Lee?” Kibum tiba-tiba bersuara mengagetkanku. Refleks aku memalingkan wajah. Aish… sial sekali, pasti sekarang wajahku sudah memerah.

“Aku tampan kan? Pantas saja kau tidak bosan-bosannya memandangiku” Kibum mengerling jahil ke arahku sambil tertawa tertahan. Aku kalah telak. Aku benar-benar tidak bisa mengelak lagi.

“Yaa! Kibum-ah!”

PLETAK (?)

Aku sukses menjitak kepala Kibum dan itu telah berhasil membungkam mulutnya. Matanya langsung menatapku tajam dengan tatapan awas-kau-Nayoung-aku-tidak-akan-membiarkanmu-lolos.

“Kim Kibum dan Lee Na Young! Sampai kapan kalian mau mengobrol terus dikelasku? Cepat keluar dan berdiri disamping tiang bendera!” Jung songsaenim tiba-tiba berteriak keras sekali. Seluruh kelas langsung hening dan aku menyadari bahwa aku harus harus segera keluar dari kelas sebelum Jung songsaenim semakin mengerikan.

Aku dan Kibum bangkit dan menbungkuk sebelum berbalik dan berjalan cepat keluar dari pintu siswa.

“Ah, leganya..” Kibum berjalan santai disampingku

“Apanya yang lega? Kita baru saja kena marah Jung songsaenim, Kibum-ah. Apa kau tidak sadar?” Tanyanya dengan mata mendelik kearahnya.

“Ish… wajahmu tidak bagus mendelik begitu,” Kibum mencubit hidungku dan DEG! Ada apa dengan jantungku?.

“Aku sudah sangat bosan dengan pelajaran Jung songsaenim tadi, jadi saat disuruh keluar aku sangat senang”.

“Yaa! Tapi, kita akan berdiri disamping tiang bendera Kibum-ah. Apa kau masih senang?” tanyaku lagi.

“Tenanglah, kita hanya akan berdiri kurang dari 15 menit. Pelajaran Jung songsaenim akan segara berakhir” Kibum mengedipkan matanya dan menggenggam tanganku. Hal ini sebenarnya sudah biasa dilakukannya terhadapku. Akan tetapi kali ini, cubitan dan genggaman tangannya terasa berbeda. Dan entah kenapa, aku merasa nyaman dengan kenyataan itu.

AUTHOR POV

Udara kota Seoul semakin dingin karena musim dingin memang sudah datang. Kim Kibum dan Lee Na Young sedang berjalan bersama menuju halte bus. Na Young yang lupa membawa syal tebal menggigil dibalik mantel coklatnya.

“Yaa! Kenapa sampai lupa membawa syal huh?” Kibum mengomel sambil melepas syal dari lehernya.

“Ah, kau cerewet sekali Kibum-ah, aku kan lupa. Mau bagaimana lagi?” Na Young mulai jengah karena sejak tadi Kibum terus mengomel karena keteledoran kecilnya. Kibum beralasan hal kecil itu bisa berdampak besar karena saat ini saja Na Young sudah kedinginan.

“Ini, pakai syalku saja. Aku tidak mau kau membeku” Kibum melilitkan syal hijau lumut itu dileher Na Young.

“Yaa! Aku bisa sendiri” Na Young berdalih untuk menutupi wajahnya yang kontan merona karena perlakuan Kibum.

“Yaa! Dasar! Ah, Na Young-ah nanti sore ku tunggu di taman seberang supermarket di dekat rumahmu  ya?”.

“Untuk apa?” Tanya Na Young bingung.

“Ada yang ingin kukatakan padamu” Kibum tersenyum misterius

“Yaa! Kenapa tidak langsung aku katakan sekarang saja?” Tanya Na Young penasaran

“ Suasananya tidak tepat Na Young-ah! Sudah, pokoknya aku tunggu kau jam 4 sore!”

“Ish… dasar aneh! Memangnya hal penting apa yang mau kau katakana huh?” Na Young paling tidak suka kalau Kibum sudah membuatnya penasaran.

“Haha… aku suka sekali wajah penasaranmu itu, gadis kecilku!” Kibum lagi-lagi mencubit hidung Na Young.

Hei, apa yang tadi dia katakan? Gadis kecilku? Apa maksudnya?, Tanya Na young dalam hati.

“Na Young-ah, busmu sudah datang” Kibum membuyar lamunan Na Young.

“Baiklah, annyeong Kibum-ah” Na Young melambaikan tangan pada Kibum.

“Annyeong” Kibum terus melambai sampai bis Na Young menghilang. Dia kembali duduk dan menunggu bus selanjutnya. Dan ternyata Kibum baru menyadari bahwa senyumnya tidak henti mengembang.

LEE NA YOUNG POV

Aku sudah memakai sweater tebal dan celana panjang. Mantelku ku letakkan di sandaran kursi ruang tamu. Sepatu sudah kuletakkan, siap dipakai. Sejak satu jam yang lalu aku mondar-mandir menunggu salju berhenti turun. Jam sudah menunjukkan pukul 17.25. Aish… Kibum pasti sudah menungguku di taman. Apakah dia mendapatkan tempat berteduh dibawah butiran salju yang turun dengan deras sekarang. Dia pasti kedinginan sekali. Aku terus melongok ke jendela, berharap salju yang turun sedikit berkurang.

“Umma, aku ketaman dulu ya? Kibum pasti sudah lama menungguku” Aku akhirnya memutuskan untuk menerjang salju yang masih saja turun.

“Ne, hati-hati ya! Jangan lupa bawa payung” Umma memberiku izin dari dapur. Aku segera memakai sepatu dan mengambil payung disamping rak sepatu. Bergegas aku menuju taman didekat rumahku.

“Kibum-ah? Kau dimana?” teriakku sambil mencari keberadaan Kibum. Ditaman itu tidak terlihat siapapun. Tapi aku yakin Kibum ada disini.

“KIBUM-AH!!” teriakku lebih keras. Lalu aku mendengar sesuatu bergerak dibawah papan prosotan. Aku berlari menghampiri sumber suara itu. Pemandangan yang kulihat sangat membuatku terkejut. Kibum sedang duduk meringkuk dibawah papan prosotan. Dia tidak menggunakan sarung tangan dan syal. Pipinya merah karena kedinginan. Aku segera menghampirinya.

“Yaa! Kibum-ah!” aku menyetuh wajahnya. Panas sekali, pasti dia demam gara-gara bertahan dibawah hujan salju sedingin ini. Aku ikut meringkuk disamping Kibum dan merangkul tubuhnya.

“Nayoung-ah..” Kibum memanggilku pelan

“Ne” sahutku sambil mempererat rangkulanku.

“Gomawo, sudah mau datang meskipun hujan salju begini”

“Yaa! Kenapa kau tetap menungguku huh? Padahal kau bisa saja cepat-cepat pulang. Daripada kau terjebak salju seperti ini?” aku mengomel pada Kibum yang kepalanya masih menyandar dibahuku.

“Kau khawatir padaku ya, Nayoung-ah?”. Astaga, kata-kata Kibum tadi sukses membuatku mati kutu. Kalau saja dia membuka matanya, dia pasti akan menertawakan wajahku yang sudah merah padam ini.

“Ani! Kibum-ah, apa kau kuat berjalan? Salju sudah mulai reda dan tadi aku bawa payung.”

“Ne, aku kuat. Tapi, aku mau mengatakan sesuatu dulu padamu”. Kibum menegakkan tubuhnya dan menghadap padaku. Pipinya merah dengan senyum yang mengembang sempurna.

“Apa yang mau kau katakan?” tanyaku penasaran.

“Minggu depan adalah festival musim dingin. Bagaimana kalau kita tampil berdua menyanyikan sebuah lagu. Kau bernyanyi dan aku main piano?” ajak Kibum sambil memandangku dengan mata yang berbinar harap.

“Aigo… aku kira kau akan mengatakan hal buruk. Tenyata hanya ini?” Aku tertawa melihat pipi Kibum yang kini digembungkannya.

“Haha.. jangan marah, tentu saja aku mau Kibun-ah! Kau tau kan aku suka bernyanyi dan aku ingin menjadi penyanyi opera” kataku percaya diri.

PLETAK. Kibum menjitak kepalaku dengan tangan kanannya.

“Yaa! Wae?” aku mendelik galak kearahnya.

“Haha… hanya bercanda Nayoung-ah. Aku tau kau memang suka menyanyi, makanya aku mengajakmu. Dan aku juga ingat dengan impianmu menjadi penyanyi opera. Kau sudah mengatakannya sejak kelas 5 SD padaku” Kibum tertawa dan mengelus kepalaku yang tadi dijitaknya. Aku menunduk menyembunyikan rona wajahku. Belakangan ini, aku semakin gugup ketika ada didekat Kibum.

 

Aku dan Kibum lalu pulang dari taman. Sebelumnya aku mengantarkan Kibum dulu kerumahnya yang memang berada 2 blok dari rumahku. Saat ini Kibum sedang demam dan aku tidak mungkin membiarkannya pulang sendirian. Kami lalu sampai didepan pintu rumah Kibum.

“Sekarang kau masuk dan istirahat, jangan sampai tidak masuk sekolah besok, ya!” Aku tersenyum dan akan beranjak pergi.

“Gadis kecilku, gomawo” Kibum berseru dan membuatku membalikkan badan. Dia sedang melambai padaku.

“Ne, annyeong” aku kembali berbalik dan pulang kerumah.

AUTHOR POV

Acara festival musim dingin pun digelar. Sebelumnya, tepatnya 2 hari yang lalu Nayoung sudah mengatakan pada ibunya bahwa ia akan bernyanyi difestival musim dingin kali ini.

“Umma, aku dan Kibum akan bernyanyi di festival nanti. Kibum juga akan bermain piano” Nayoung berkata antusias pada ibunya.

“Oya, wah kebetulan sekali. Ibu pasti akan datang untuk melihat penampilanmu”

“Ne, gomawo Umma! Tapi, tadi maksud ibu kebetulan apa?” Tanya Nayoung penasaran

“Oh, itu teman Ayah dari Jepang akan datang. Dia itu seorang pengorbit penyanyi opera. Kau kan ingin menjadi penyanyi opera, makanya ini kesempatan emasmu untuk menunjukkan bakat”. Umma tersenyum dan mengelus rambut panjang Nayoung.

“Jjinja Umma?” Nayoung membulatkan matanya.

“Ne, untuk apa umma berbohong padamu huh?” jawab Ibu sambil mencubit hidung Nayoung.

Nayoung sangat terkejut sekaligus senang sekali. Ia tidak sabar untuk mengatakan hal itu pada Kibum. Ah, tapi nanti saja, saat aku sudah berhasil menunjukkan bakatku, baru aku beritahu Kibum, pikir Nayoung.

KIM KIBUM POV

Aku sudah siap tampil, lengkap dengan tuxedo yang baru saja dibelikan Ayah. Tapi, sejak tadi aku belum melihat Nayoung. Jangan bilang kalau dia tidak bisa tampil dan semacamnya. Kami sudah berlatih maksimal dan kami akan tampil sempurna sore ini.

“Kibum-ah” aku mendengar seseorang memanggilku. Suara Nayoung. Aku berbalik dan langsung melihat Nayoung yang sedang berjalan kearahku. Ia memakai gaun selutut berwarna putih gading dengan pita hijau tosca dipinggang. Rambut panjangnya digelung dilengkapi bando kecil dengan manik-manik berwarna senada dengan pita dibajunya. Wajahnya tidak terlalu dipoles make-up tapi ia tetap sangat menawan. Dimataku, ia sangat cantik. Ya, gadis kecilku tampil sangat cantik sekarang.

“Aku siap!” ia berseru begitu sampai disampingku. Aku menggenggam tangannya.

“Setelah ini kita tampil” Aku semakin mempererat genggaman tanganku.

AUTHOR POV

“Baiklah, sekarang penampilan spesial dari KIM KIBUM DAN LEE NA YOUNG” seorang MC memanggil mereka. Kibum dan Nayong bergandengan naik keatas panggung. Kibum langsung duduk didepan piano dan menyiapkan jari-jarinya dituts-tuts piano. Nayong berdiri tepat disamping Kibum dengan stand-mic. Penonton bergemuruh menyambut aksi mereka. Bahkan, ada beberapa yeoja yang berteriak kegirangan menyaksikan Kibum.

Kibum menatap Nayoung dan member isyarat untuk mulai bernyanyi. Dentingan halus piano mengalir dari jemari Kibum. Perpadu dengan suara indah Nayoung.

[Nayoung]

Soni siryeowa sarangui giegi chagapge dagawa

Aryeoonda ijeneun deo isang neoreul bujeonghago sipji anheun nareul algo itjiman

Gakkai inneun neol saranghal su eomneungeul algo itgieoreul

Nal barabol su eomneun neol gidarimi neomu himdeureo

Ijen gyeondil su eobseo irwojil su eopgie

 

[Kibum & Nayoung]

Naega saranghaetdeon geu ireum

Bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon

Geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo

Nae ane sumgo sipeojyeo

Neol saranghal subakke eobseotdeon

Geu nareul ijen arajwoyo

Irul su eomneun sarangdo saranginikka

 

[Kibum]

Honja hal su eomneun sarangiran neukkimeun naege dagawa

Sijak hal su do eomneun geuriumdeureun keojyeoman gago

Sirin gaseum han kyeonen neoui hyanggiman nama

 

[Kibum & Nayoung]

Naega saranghaetdeon geu ireum

Bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon

Geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo

Nae ane sumgo sipeojyeo

Neol saranghal subakke eobseotdeo

Geu nareul ijen arajwoyo

Irul su eomneun sarangdo saranginikka

 

[Kibum] Sucheon beoneul dorikyeo cheoeumui naro gan sungane

[Nayoung] Gaseum han guseoge da asagal ne moseubin geol

 

[Kibum & Nayoung]

Naega saranghaetdeon geu ireum

Bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon

Geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo

Nae ane sumgo sipeojyeo

Neol saranghal subakke eobseotdeon

Geu nareul ijen arajwoyo

Irul su eomneun sarangdo saranginikka

Mereka mengakhiri penampilan mereka dengan sangat sempurna. Tepuk tangan tidak berhenti meskipun Kibum dan Nayoung sudah beranjak menuju belakang panggung.

“Kau memukau” Kibum berkata pada Nayoung begitu mereka sudah berada di belakang panggung.

“Kau juga” Nayoung menyahut pelan sambil menunduk. Lagi-lagi menyembunyikan rona wajahnya.

“Ayo, kuantar kau pulang” Kibum mengajak Nayoung menuju sepedanya. Berboncengan mereka menuju rumah Nayoung.

LEE NA YOUNG POV

“Umma, aku pulang” Aku masuk kerumah dan menemui kalau Umma sedang duduk bersama Appa dan seorang laki-laki yang kukenali sebagai teman Appa dari Jepang.

“Sini, Nayoung-ah” Appa menyuruhku duduk disampingnya.

“Penampilanmu sungguh luar biasa saat difestival tadi, Nayoung-ah” teman Appa memujiku sambil tersenyum.

“Kamsahamnida, Ahjussi” aku membungkukkan badanku padanya.

“Nayoung-ah, Park Ahjussi telah bersedia mengorbitkanmu sebagai penyanyi opera di Jepang. Dan kebetulan sekali, Appa juga ditugaskan untuk training-study di Jepang. Jadi, kita semua akan pindah ke Jepang secepatnya. Kau akan meraih impianmu, nak” Umma berkata dengan nada girang kepadaku. Panjang lebar menjelaskan kenyataan yang membahagiakan sekaligus menyakitkan bagiku. Pindah ke Jepang, itu artinya aku harus meninggalkan Korea. Aku harus meninggalkan Kibum. Aku akan jauh dari Kibum. ANDWEE!! Aku tidak mau pergi dari Korea. Aku tidak mau meninggalkan Kibum.

“Kenapa tidak di Korea saja” akhirnya hanya pertanyaan itulah yang keluar dari mulutku.

“Kata Park Ahjussi, di Jepang kesempatan untuk menjadi penyanyi opera lebih besar daripada disini, Nayoung-ah” kali ini Appa yang menjelaskan padaku.

Aku menghela nafas berat. Ya, aku berada dalam pilihan yang sangat sulit. Aku sudah berada dalam satu batu loncatan untuk impianku. Akan tetapi, ada hal yang harus kubayar. Aku harus pergi dari Korea yang sama artinya aku harus berpisah dari Kibum, sahabat yang kucintai.

Hari ini, sesungguhnya 2 hari lagi adalah hari keberangkatanku ke Jepang. Namun, aku sama sekali belum memberitahu Kibum. Setiap kali aku akan mengatakannya, lidahku selalu kelu karena sikap manis Kibum. Aku sangat tidak tega mengatakannya. Aku juga takut dia akan marah padaku.

“Nayoung-ah,” Umma memanggilku dari ambang pintu, “gwenchana?” tanyanya.

“Gwechana” jawabku singkat. Umma mendekatiku dan mengelus rambut panjangku.

“Umma tau kau menyembunyikan sesuatu. Katakanlah pada Umma, Nayoung-ah”. Ah, Umma memang selalu tau dengan apa yang terjadi padaku.

“Aku belum mengatakan akan pindah ke Jepang pada Kibum, Umma. Aku takut dia akan marah padaku” aku berkata jujur sambil menunduk.

“Wae? Cobalah jujur padanya daripada kau pergi tanpa memberitahunya, Nayoung-ah. Sekarang, pergilah kerumah Kibum. Ajak dia ketempat biasa kalian bermain bersama dan katakanlah yang sebenarnya. Umma yakin Kibum tidak akan marah padamu” umma menasehatiku dengan bijak. Ya, umma memang benar. Aku harus segera menemui Kibum.

“Baiklah, aku pergi dulu ya Umma” aku berlari keluar rumah. Mengeluarkan sepedaku dari garasi dan melaju pergi kerumah Kibum.

KIM KIBUM POV

“Kibum-ah, Nayoung datang mencarimu” Umma memberitahuku dari balik pintu kamar. Nayoung datang mencariku, tumben sekali. Apakah ada sesuatu yang terjadi?. Aku pun beranjak keluar kamar dan menemui Nayoung yang sedang menunggu ditaman rumahku.

“Nayoung-ah, ada apa?” tanyaku sambil duduk disampingnya.

“Kibum-ah, ayo pergi kesungai Han! Aku rindu kesana bersamamu!” ia mengajaku dengan sangat bersemangat.

“Yaa! Tapi, aku sedang malas keluar, Nayoung-ah” aku pura-pura menolak ajakannya.

“Yaa! Ayolah Kibum-ah, aku akan menboncengmu kalau begitu, bagaimana?” tawarnya penuh harap.

“Haha… bercanda! Sebentar aku bilang pada Umma dan mengambil sepedaku dulu” aku lalu berlalu meninggalkannya.

Kamipun bersepeda beriringan menuju sungai Han. Saat ini suhu udara sedikit menghangat karena matahari agak bersinar diangkasa. Kulihat Nayoung merapatkan syalnya yang agak melorot. Aku suka sekali melihat Nayoung seperti ini. Ketika angin sedang memainkan rambut panjangnya, ia terlihat sangat cantik bagiku. Aish… perasaan seperti ini lagi. Perutku terasa aneh, seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan didalam sana. Detak jantungku juga tidak karuan. Apa aku jatuh ci…? Ah, mana mungkin, aku jatuh cinta dengan sahabat kecilku sendiri. Tapi, perasaan ini… kenapa selalu ada saat aku menatap Nayoung.

Aku dan Nayoung sudah duduk dipinggir sungai Han. Duduk diundakan tangga yang setengahnya tertutup salju tipis.

“Aku akan merindukan sungai Han yang seperti ini” tiba-tiba Nayoung berguman pelan. Tidak cukup pelan agar aku tidak mendengarnya.

“Apa maksudmu?” tanyaku penasaran

“Ya, aku akan merindukan sungai Han yang seperti ini. Saat aku memandang arusnya dan duduk disampingmu. Sambil bercerita apapun, tertawa bersama. Bahkan menangis dibahumu. Aku akan merindukannya”

“Yaa! Kenapa harus merindukannya. Kau tetap bisa seperti itu. Aku akan selalu menemanimu disini. Mendengar ceritamu dan berbagi tawa denganmu. Kita akan tetap memandang sungai Han seperti dulu. Tidak akan ada yang berubah” aku berkata lantang padanya. Apa maksudnya berkata seperti tadi, seolah-olah dia akan segera pergi dari sini. Kulihat Nayoung hanya menghembuskan nafas panjang.

“Kibum-ah, kau tau impianku kan?” Nayoung bertanya sambil tersenyum padaku.

“Tentu saja tau! Sahabatku Nayoung ingin menjadi penyanyi opera” aku langsung menjawabnya.

“Sebentar lagi aku akan meraihnya” Nayoung berguman dan membuatku menoleh kearahnya.

“Yaa! Apakah aku salah dengar? Kau akan segera meraihnya? Apakah secara diam-diam kau sudah ikut audisi dan berhasil lolos? Yaa! Nayoung-ah chukkaeyo” aku ikut senang, sangat senang. Orang yang aku sayangi akan segera meraih impiannya.

“Andwe” ucap Nayoung parau

“Yaa! Kau kenapa? Kenapa menangis?” aku mengangkat pelan wajah Nayoung dan mendapati pipinya sudah basah.

“Mianhe Kibum-ah” Nayong menatapku lekat-lekat. Aku melihat guratan sendu dimata beningnya.

“Maaf untuk apa? Kau tidak melakukan kesalahan apapun Nayoung-ah” aku menghapus airmatanya dan menepuk bahunya. Berusaha membuatnya merasa lebih baik.

“Mianhe, jeongmal mianhe… karena aku harus meraih impianku. Karena aku harus meninggalkanmu” airmata Nayoung malah semakin deras turun. Membuatku bingung harus bagaimana. Aku menariknya dan melingkarkan tanganku dibahunya. Membiarkannya menangis dibahuku.

“Yaa! Kenapa Nayoung jadi cengeng begini?” aku berusaha bercanda.

“Kibum-ah, aku akan pergi ke Jepang 2 hari lagi. Aku pindah kesana karena seorang teman Appa bersedia mengorbitkanku menjadi penyanyi opera. Wajarkan kalau aku menangis saat ini?” Kata-kata Nayoung langsung menusuk pikiranku. Bagaimana mungkin, aku harus berpisah dari Nayoung. Yaa! Ini seperti tidak masuk akal. Aku yang begitu terbiasa dengan kehadiran Nayoung. Setiap hari berangkat sekolah bersamanya, menghabiskan setiap liburan bermain dengannya, tertawa bersamanya dan menangis bersama, seperti saat ini. Bagaimanapun, aku harus meredam egoku. Ya, aku tidak akan melarang Nayoung pergi.

“Berjanjilah satu hal padaku, Nayong-ah” aku akhirnya buka suara. Setelah cukup lama kami saling diam. Aku pikir tidak ada salahnya Nayoung pergi ke Jepang untuk mengejar impiannya.

“Mwo? Apa itu?” tanyanya sambil mengangkat kepala dari bahuku.

“Berjanjilah kau akan datang lagi, kau akan kembali sambil membawa impianmu dan datang padaku” aku memintanya untuk berjanji. Karena sejujurnya aku sangat takut kehilangan Nayoung. Aku tidak ingin ia pergi selamanya dan tidak kembali lagi ke Korea.

“Aku berjanji!,” ia berkata dengan tegas. Memamerkan senyumannya yang khas. “dan kau juga harus berjanji padaku” kali ini Nayoung yang memintaku berjanji, ish… ada-ada saja.

“Apa itu?” tanyaku sambil menatap mata beningnya.

“Tunggu aku, Kibum-ah” ia berkata malu-malu.

“Tentu saja, aku pasti akan menunggu gadis kecilku” aku berjanji dengan mantap. Ya, aku benar-benar akan berusaha menepati janjiku padanya. Dan kuharap iapun demikian.

2 hari kemudian adalah hari keberangkatan Nayoung. Aku lebih memilih hanya mengantarkannya sampai depan rumahnya saja daripada ikut ke bandara. Karena aku pasti tidak sanggup menyembunyikan kesedihanku. Dan aku tidak ingin Nayoung melihatnya.

Nayoung hanya mengatakan ‘selamat tinggal dan sampai jumpa’ dengan bibir bergetar setelah kami berpelukan didepan gerbang rumahnya. Aku tahu, saat itu ia sedang berusaha keras menahan perasaannya sendiri. Aku tersenyum dan mencubit hidungnya untuk yang terakhir. Ia menanggapinya hanya dengan senyum getir.

“Hwaiting! Aku akan tetap menunggu Nayoung” aku berujar pelan sesaat sebelum ia masuk kedalam mobilnya.

Disanalah perpisahan kami terjadi. Pada saat itu, aku tidak bisa berpikir apakah benar Nayong akan betul-betul kembali dan menemuiku lagi. Selama kurang-lebih 3 tahun setelah kepindahannya, aku dan Nayong tetap saling bertukar kabar melalui surat. Ia sering bercerita tentang kegiatannya di Jepang. Tentang ia yang selalu berlatih vocal dan segala macamnya. Dan sejujurnya, ketika Nayong pergi untuk mengejar impiannya, akupun sama. Aku mengikuti audisi yang diadakan sebuah rumah produksi dan aku berhasil lolos menjadi trainee disana. Rasanya aku ingin sekali bercerita dengan Nayong dan membagi semua kabar bahagia itu. Andaikan ia disini, aku pasti akan segera mengajaknya ke tepi sungai Han dan memelukknya disana. Untuk meluapkan segala rasa bahagiaku.

Akan tetapi, sudah beberapa bulan Nayoung tidak juga mengirim surat balasan padaku. Ia menghilang. Kali ini benar-benar menghilang. Entah apakah terjadi sesuatu padanya. Saat aku berusaha menelpon kerumahnya di Jepang, telpon tidak pernah bisa tersambung. Aku benar-benar kehilangan kontak dangan Nayoung sejak saat itu.

10 Tahun Kemudian

Aku sedang duduk ditepi sungai Han. Duduk ditempat yang sama dengan saat aku dan Nayoung mengikat janji sepuluh tahun yang lalu. Ya, sepuluh tahun telah berlalu sejak kepindahan Nayoung ke Jepang. Dan sudah hampir 7 tahun aku tidak mendapat kabar apapun tentangnya. Tapi, aku yakin ia telah berhasil meraih apa yang diinginkannya. Dan ada satu keyakinan dalam hatiku, Nayoung pasti akan kembali. Ia pasti akan pulang ke Korea dan datang padaku.

“Ssst.. laki-laki yang ada disana seperti Key SHINee” tiba-tiba aku mendengar dua yeoja sedang berbisik pelan di dekatku. Aku segera memasang masker kewajahku dan menarik hoodie jaketku supaya lebih menutupi wajahku. Aku diam saja disana sampai mereka berlalu.

Saat ini, aku telah menjadi salah satu anggota boyband SHINee yang saat ini tengah bersinar. Ya, semenjak kepindahan Nayoung aku pun mulai menata langkah untuk meraih impianku menjadi seorang penyanyi. Hingga, ketika suatu saat nanti Nayoung datang padaku, ia akan bangga melihat diriku. Melihat Kim Kibum-nya dulu telah menjadi seorang penyanyi.

Ring ding dong…ring ding dong… ponselku berdering mengejutkanku. Aish… siapa yang menelponku disaat santai begini.

“Yeoboseyo” sapaku pada orang diseberang sana.

“Key-ah, kau kemana? Kita akan segera pemotretan untuk single terbaru” ternyata yang menelponku adalah Onew hyung.

“Yaa! Bukankah jadwal hari ini kosong sampai nanti sore? Kurasa kita akan melakukan pemotretan besok” aku berusa mengingat jadwal yang tadi pagi baru saja diserahkan oleh manager-hyung. Kurasa aku bebas dari pagi hingga siang ini. Dan inilah alasanku menyempatkan diri pergi kesini. Tapi, sekarang Onew hyung malah berteriak-teriak menyuruhku segera menuju lokasi pemotretan.

“Yaa! Aku akan segera kesana. Tunggu saja” aku berkata dengan malas.

“Ne, cepatlah” Onew hyung kembali mendesakku. Aish…

Aku mematikan telpon dan bangkit menuju mobilku yang terparkir tidak jauh dari sana. aku langsung tancap gas menuju tempat pemotretan karena aku tidak mau hyung dan dongsaengku menunggu lama.

“Annyeong, mianhamnida aku terlambat” aku membungkuk beberapa kali setelah sampai.

“Yaa! Kau kemana tadi hyung?” Tanya Taemin menghampiriku.

“Eh, aku tadi ke… ke tepi sungai Han” aku akhirnya memilih jujur pada Taemin.

“Mwo? Untuk apa kau kesungai Han hyung?” Tanya Taemin bingung.

“Hanya mencari udara segar Taemin-ah” aku menjawab sambil tersenyum dan mengajak Taemin keruang ganti.

Kami sudah siap melakukan pemotretan. Tapi, fotografer yang biasanya menangani kami tidak juga terlihat.

“Aha, Shinning boy” Sutradara Cho yang selalu menangani music video kami menyapa.

“Ah, ahjussi..” serempak kami membungkukkan badan.

“Oya, hari ini ada fotografer baru yang akan menangani kalian. Tapi, tenang saja, ia sama ahlinya dengan fotografer Park. Nah, itu dia” Sutradara Cho mengarahkan pandangannya pada seorang yeoja yang tengah sibuk dengan penanya. Nampaknya ia sedang menulis sesuatu yang penting hingga wajahnya nampak serius. Disampingnya tergeletak kamera ukuran sedang.

Kemudian seorang yeoja yang ku kenali sebagai Yoon noona datang menghampirinya. Iapun memberikan notes yang baru saja selesai di tulisnya kepada Yoon noona. Mereka hanya saling tersenyum dan mengganguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Pemotretan dimulai” kelekar Sutradara Cho. Segera saja anak buahnya berkumpul dan mulai sibuk mengurus properti kami. Aku yang pertama mengambil sesi pemotratan sudah siap berdiri  didepan layar putih.

“Nona Lee-chan” seseorang memanggil sebuah nama yang membuatku menoleh. Nama panggilan yang tidak familiar menurutku. Lalu seorang yeoja berjalan kearahku. Ia berhenti tepat ditepi layar putih. Kemudian ia tersenyum padaku dan membungkuk. Aku melakukan hal yang sama dengan perasaan tak menentu. Senyumannya. Ya, senyuman Nona Lee-chan yang sekarang ada didepanku ini terasa sangat familiar. Rasanya, aku pernah atau sering mendapatkan senyuman seperti itu. Astaga, aku ini kenapa?.

“Key-ah, bisa miringkan kepalamu kekanan sedikit” seseorang membuyar lamunanku. Kukira yang bersuara adalah Nona Lee-chan, tapi ternyata dugaanku salah. Itu adalah suara dari Yoon noona, pengarah gaya kami. Satu pertanyaan yang terus menggelayut dipikiranku adalah kenapa Nona Lee-chan tidak mengeluarkan sepatah katapun bahkan hingga pemotretan selesai. Ia hanya tersenyum ramah dan membungkuk dengan sopan kepada kami. Lalu berlalu meninggalkan ruang pemotratan. Ia agak terkesan sombong dimataku karena tidak berbicara sedikitpun pada kami. Tapi, hal itu justru bertolakbelakang dengan senyum dan sikapnya yang sopan dan sabar menghadapi kami saat pemotretan. Aneh. Itulah kata yang cocok untuk melukisan kesan pertamaku pada Nona Lee-chan.

LEE NA YOUNG POV

Setelah sepuluh tahun, setelah kejadian buruk itu menimpaku, aku kembali ke Korea. Sesungguhnya, aku telah bertekad untuk tidak kembali lagi ke Korea, apapun yang terjadi padaku di Jepang. Namun akhirnya, paksaan Sutradara Cho berhasil membuatku menginjakkan kaki lagi di Korea.

Aku takut. Takut akan bertemu Kibum. Aku tidak bisa menepati janjiku dulu. Janji yang telah ku buat pada Kibum. Janji bahwa aku akan datang lagi padanya dan membawa impianku. Kejadian itu telah merenggut segala. Hampir membuatku putus asa dan ingin mengakhiri hidup saat itu juga. Aku pengecut. Sangat pengecut. Itulah yang menyebabkan aku tidak berani muncul dihadapan Kibum.

KIM KIBUM POV

Hari ini aku dan member SHINee lain diminta datang ke kantor Sutradara Cho untuk membicarakan konsep music video kami selanjutnya. Saat kami datang, kebetulan Sutradara Cho sedang ada rapat dengan kliennya yang lain. Sehingga kami harus menunggunya di ruang rapat yang memang khusus disediakan untuk kami.

Aku membuka pintu ruangan itu dan terkejut mendapati dua orang yeoja yang kukenal sedang berada didalam. Yoon noona dan Nona Lee-chan. Saat kami hendak masuk, Nona Lee-chan sepertinya juga akan segera keluar.

“Ah, astaga.. aku tak mengira kalian akan datang secepat ini” Yoon noona menyapa kami dengan ramah. Sementara Nona Lee-chan tersenyum dan membungkuk dalam pada kami. Lalu berlalu meninggalkan ruangan. Lagi-lagi tanpa sepatah katapun.

“Ayo, kalian duduk dulu. Sutradara Cho sebentar lagi akan selesai dan siap rapat dengan kita” Yoon noona mempersilahkan kami duduk sambil merapikan berkas-berkas yang berserakan didepannya.

“Key-ah, kami mau cari udara segar dulu. Mau ikut?” Onew hyung serta Jonghyun hyung, Minho dan Taemin hendak beranjak dari ruangan.

“Kemana?” tanyaku.

“Kebalkon atas, ikut?” Onew hyung sekali lagi menawariku.

“Ani, aku disini saja” tolakku dan merekapun pergi.

“Yoon noona…” aku membuka suara dengan pelan.

“Nde?” Yoon noona sekarang sedang duduk didepanku dan tersenyum ramah.

“Aku mau bertanya sesuatu,” aku mulai memberanikan diri untuk bertanya tentang Nona Lee-chan yang menurutku aneh. Dan juga karena rasa penasaranku. Ya, aku penasaran dengan senyuman Nona Lee-chan yang terasa begitu familiar dimataku.

“Bertanyalah, Key-ah. Jangan sungkan” Yoon noona sekali lagi tersenyum ramah.

“Kenapa Nona Lee-chan itu tidak pernah berbicara?” tanyaku takut-takut. Aku langsung melihat wajah Yoon noona berubah sesaat lalu kemudian ia tersenyum ramah lagi.

“Key-ah, kau tidak tahu bagaimana keadaan Lee-chan yang sebenarnya?” Yoon noona balik bertanya padaku.

“Ani, ia sama sekali tidak pernah berbicara pada kami. Ia menjadi terkesan sombong, Noona” jawabku pelan.

“Key-ah, Lee-chan itu sama sekali tidak sombong. Ia gadis yang sangat baik. Lee-chan itu dulunya adalah penyanyi opera. Ia besar di Korea lalu pindah ke Jepang untuk mengejar impiannya menjadi penyanyi opera. Saat ia telah berhasil, sebuah kecelakaan lalu lintas menimpanya dan menyebabkan beberapa ruas tulang belakannya patah,” Yoon noona berhenti bercerita dan menarik nafas panjang. Aku hanya diam saja. Terus menatap Yoon noona hampir tanpa berkedip.

“Ia kemudian dioperasi untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi tenyata dokter yang menanganinya melakukan kesalahan dan menyebabkan saraf pita suaranya terputus. Lee-chan kehilangan suaranya. Hal ini sempat membuatnya begitu putus asa dan hampir bunuh diri. Sampai kemudian aku dan Sutradara Cho bertemu dengannya. Kami lalu berusaha mengorek tentang keterampilannya. Ternyata selain bernyanyi ia juga pandai fotografi. Sutradara Cho berinisiatif untuk menyekolahkannya di bidang fotografi dan editing. Dan disinilah ia sekarang. Khusus bekerja untuk Sutradara Cho. Kau tahu, ia senang sekali saat mengetahui dipilih untuk menangani proyek music video kalian. Ia ngefans denganmu Key!” Yoon noona mengakhiri ceritanya.  Aku masih terdiam. Berusaha merangkai kejadian demi kejadian yang terjadi antara aku dan Lee-chan. Kemudian kemiripan cerita hidup Lee-chan dengan Nayoung yang sama-sama bercita-cita menjadi penyanyi opera.

“Siapa nama lengkap Lee-chan?” akhirnya itulah yang kupilih untuk kupertanyakan. Apabila jawabannya sesuai dengan yang kuharapkan, maka tidak ada keraguan lagi. Ia adalah Lee Nayoung. Aku yakin itu. Keyakian yang sebelumnya tidak pernah sampai sebesar ini.

“Nama lengkapnya Lee Nayoung. Tapi ia memintaku memanggilnya Lee-chan. Padahal aku lebih suka memanggilnya Nayoung” jawaban Yoon noona terdengar seperti semburan kembang api ditelingaku. Rasanya ingin saat ini juga aku datang kehadapan Lee-chan dan memintanya menjelaskan semuanya.

“Dimana alamat rumahnya Noona?” tanyaku datar. Gemuruh didadaku rasanya sudah meletup-letup.

“Yaa! Ada apa bertanya alamat rumahnya?” Yoon noona malah menatapku dengan curiga.

“Cepat katakan dimana noona. Tulis disini” aku berinisiatif merobek secarik kertas dan meminta Yoon noona menuliskan alamat Lee-chan disana. Aku langsung mengambil kertas itu dan berlari turun dari kantor Sutradara Cho tanpa mempedulikan teriakan Yoon noona. Aku tidak bisa berpikir lagi. Tujuanku hanya satu, datang kerumah Lee-chan dan membuktikan kalau ia adalah Lee Nayoung.

Aku sudah berdiri didepan rumah bergaya minimalis berwarna putih bersih. Sudah dua kali aku mencet bel rumah itu.

Ting tong… aku memencet sekali lagi. Aku melihat pintu rumah terbuka dan keluarlah yeoja yang sekarang sangat kukenali. Ya, setelah kuperhatikan dengan seksama. Ia benar-benar seperti Lee Nayoung.

Yeoja itu berjalan kearahku. Wajahnya terlihat sedikit tegang. Namun, ia tetap tersenyum dan membungkuk sopan kearahku. Aku melakukan hal yang sama.

“Nayoung-ah?” aku langsung buka suara dan membuatnya melonjak kaget. Ia pasti tidak akan mengira aku akan memanggilnya begitu.

“Katakanlah yang sejujurnya padaku. Jebal… katakan padaku kau adalah Lee Nayoung, gadis kecilku.” Aku meraih tangan kirinya dan menggenggamnya hangat. Ia tetap tidak bergeming. Ia hanya menatap mataku dengan matanya yang terlihat mulai basah dengan air mata.

“Jebal.. kau tidak melupakanku kan Nayoung-ah? Aku Kim Kibum. Kau tentu masih ingat janji yang kita buat ditepi sungan Han lebih dari sepuluh tahun yang lalu?” kali ini suaraku terasa bergetar. Aku melihat butiran demi butiran airmata turun deras dipipi mulusnya. Ia masih menatapku sambil terisak.

“Jebal… jebal Lee-chan, katakanlah yang sebenarnya” aku benar-benar sudah tidak bisa menahan perasaanku sendiri. Kurasakan ia melepas genggamanku dan tergesa-gesa mengambil ponselnya. Menulis sesuatu disana.

‘Aku memang Lee Nayoung. Tapi aku bukan gadis kecilmu Kibum-ah’ ia memperlihatkan layar ponselnya padaku.

“Aku sudah tahu semua yang menimpamu di Jepang dari Yoon noona, Nayoung-ah” aku menyentuh pipinya dan menghapus airmatanya.

‘Mianhe aku tidak bisa menepati janjiku dulu. Dan karena keadaanku seperti ini sekarang’ ia kembali menulis apa yang ingin dikatakannya.

“Gwenchana, kau tetap menjadi seorang Nayoung yang kuat dimataku” aku menariknya kedalam pelukanku. Membiarkannya merasa tenang dalam pelukanku.

“Nayoung-ah, jangan pernah meninggalkan aku lagi” aku berujar pelan ditelinganya. Kurasakan kepalanya mengangguk. Aku menarik nafas pelan. Ya, sepertinya inilah takdir yang sudah digariskan Tuhan. Sepetinya Tuhan telah menyusun semua kejadian hari ini agar aku tidak lagi menyianyiakan kesempatan yang datang. Baiklah, aku akan mengatakannya. Hari ini, aku akan mengatakannya.

Aku melepaskan pelukanku dan menghapus sisa airmata dipipi Nayoung. Mataku menatap mata beningnya yang ternyata tidak pernah berubah setelah sepuluh tahun lebih aku tidak bertemu dengannya. Aku mundur selangkah dan berlutut dihadapannya.

“Maafkan aku atas keterlambatan ini. Setelah sepuluh tahun aku baru berani mengakuinya. Saranghae Nayoung-ah. Maukah kau menjadi gadis kecilku untuk selamanya? Aku menerima bagaimanapun keadaanmu. Ah, kau hanya perlu memelukku kalau kau ingin mengatakan iya, Nayoung-ah” aku sangat gugup saat mengatakannya. Itulah sebabnya aku seperti sulit untuk berhenti bicara.

Nayoung tersenyum lebar dan menarikku untuk berdiri. Ia memelukku sangat erat dan kudengar ia kembali terisak. Tapi aku yakin ini adalah airmata bahagianya.

“Nayoung-ah, jeongmal mianhe aku melamarku tidak dengan cincin atau benda berharga lainnya. Aku hanya melamarmu dengan cintaku yang tidak berpernah berubah setelah sepuluh tahun kau tidak ada disampingku. Jeongmal saranghae, Nayoung-ah” aku berbisik ditelinga Nayoung. Nayoung beringsut melepaskan pelukannya padaku. Ia tersenyum dan mengambil ponselnya.

‘Nado saranghae Kibum-ah, untuk saat ini dan sepuluh tahun yang lalu’ tulisnya. Aku tersenyum dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Nayoung mengerti dengan keadaan ini dan menutup matanya.

Aku merasakan hangat bibir Nayoung saat bibirku menyentuhnya. Ciuman pertama kami. Ciuman yang sejak dulu kuinginkan dan saat ini sedang terjadi. Nayoung mengalungkan tangannya di pundaknya dan tanganku melingkar di pinggangnya.

Kami saling mengecup dengan lembut. Membiarkan perasaan kami yang selama ini terpendam keluar bersama dengan ciuman ini. Aku bahagia dan siap memulai hidupku lagi dengan Nayoung. Aku Kim Kibum, akhirnya kembali dengan cinta pertamaku, Lee Nayoung.

~~ The End ~~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

39 thoughts on “My Silent Yeoja”

  1. first? uaaa Key so sweet. jadi si Nayoung jadi bidu ckckck kasiaan.

    aigoo pokoknya so sweet banget, oh iya lagu yang dinyanyiin si Nayoung sama Key lagu apa?

    pokoknya DAEBAK! A+ untuk author

  2. So sweet thor 🙂
    aku sampe meneteskan air mata saking terharu.nya #halah cengeng 😀

    Di tunggu karya selanjutnya ya..

  3. apaaan aku berceceran air mata gini.. *lap mata pake tisu*
    Ndahhhhhh Nayoung oh myyy~~~~ T^T yang sabar yahh.. XDD
    Swett tapi ceritanya.. XDDD
    aku suka aku suka!! XDD

  4. ini..ini..ini.. DAEBAK X)
    Aku suka key-nya.. Ah, jd makin cinta ama abang key *tp taemin juga* maruk haha

    bner2 so sweetlah.. Nunggu ampe 10thn dn akhirnya ktemu lagi.. Pasti kangen banget ya.. Ini feelingnya dapet banget.. Kerren!
    aku tunggu ff selanjutnya!! 😀

  5. Omo~ key-ah… Bukan’a cinta pertamamu itu aku ya?#plak! Plak! Plak! Ngarep tingkat tinggi..
    Kasian nayeong.. Ckck apes nian nasibmu nak.. Tp gak papa.. Kan dah balik lg ma key.. Ff’a menyentuh hatiku thor#jiah gaya gua 🙂

  6. Aaah,, ceritanya so sweet banget. Kibumnya yang ttap setia menunggu Nayoung, dan Nayoung juga ttap setia dengan Kibum.
    Kasihan ya Nayoung, cita2nya yang sudah tercapai harus dibuang jauh2 gara2 kecelakaan. Ckck.
    FFnya so sweet, walau ada typonya sedikit. 🙂

  7. huaaaa ,,,, key q baek sekaleeeee ………
    walau apapun yg terjadi pada nayoung dia tetap cinta ..
    kyaaaaaa …………… jd iri sama nayoung !!

  8. bs ditbk bkl jadian… tp bnr2 g nyangka nayoung khlngn suaranya… udh ngrsa aneh pas bc bagian pemotretan itu.

    huuaaa jd yg 7 thn g ad kbr krna itu ya..
    key… aq trharu.. mewek tengah mlm ini

    so sweet bgt T.T

  9. SO SWEEEEEEEET QAQ. Sesuatu yah, bahagia banget yah si Nayoung, Alhamdulillah yah^^ #SyahriniMode:ON.

    Author…kau mencuri hatiku~ hatikuuu~ *eaa* #plakplak. Niceee ep ep, terharu bacanya T^Tb

  10. kamsahamnidaa~ readers, sudah menyempatkan diri baca ffku ^^. untuk semua masukannya dan sarannya.. hee.. kamshaa~ ne :*
    mianhae untuk banyak typo.. huhu

    1. thor, aku tahu knp ff mu judulnya my silent yeoja, soalnya gak mungkin kan judulnya my gagu yeoja..kekeke 🙂 #plakkk…keren thor^^ teruslah menulis 😀

  11. What must i say?
    This Fanfiction is DAEBAK!
    W-o-w. WOW! XDD
    So sweet. keren. mengharukan(?). penuh ketegangan! *bahasa mu nak *banyak omong
    I like it! XD
    Keep writing, thor~

  12. Huwaaaah T,T
    KEREEEEN…
    mengharukan. Aku nyaris mewek. keren

    Tapi ada yang agak aneh. Waktu festival musim dingin itu kan SHINee belum ada ya. Tapi kok udah ada lagu The Name I Loved? hehehe. Tapi nggak papa lah, yang penting FF ini sangat ‘sesuatu’
    Author jjang ^^

  13. Ahhhh.. Sungguh penantian yang panjang… Aku terharuuuu… Key bisa begitu setia menunggu Nayoung… Tapi nasib nayoung juga sedikit menyesakkan.. Udd ninggalin Key, mengalami kecelakaan yang membuat pita suaranya rusak…. Tapi untunglah semuanya berakhir Happy…..

    Klo baca FF dg cast Key.. Pasti jd sesuatu yang berkesan.. Trims authornya…. Good FF!!

  14. Kasihan Na Young operasi tulang kok kena ke pita suara. O.0?
    Yang penting happy ending.
    Key manly banget, klepek2.
    3\I.I/E

  15. whoaa… daebak banget thor.. (y)
    nyentuh banget… aku suka sama karakter Key nya..

    buat ff selanjutnya castnya Key lagi yakk… 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s