behind his eyes poster

Behind His Eyes (The Silent Touch of Marriage Side Story)

Behind His Eyes

(The Silent Touch of Marriage Side Story)

Author: Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (chandrashinoda)

Main Cast:

  • Choi Minho (Covered by Jung Yoogeun (baby SHINee))
  • Kim Yong Sang (Covered by Lauren (baby MBLAQ))
  • Victoria Song (F(X))

Support cast:

  • Kim Jonghyun
  • Kim Hyora
  • Nyonya Choi

Length: Oneshot

Genre: Fantasy, friendship

Rating: G

Disclaimer: I don’t own all SHINee members, they are God’s. They belong to themselves and SM Entertainment. I’m just the owner of the story.

Attention!

Ehm, sebelum ke cerita, baca dulu tulisan ini. Sebenarnya side story ini mau aku publish di part yang agak belakangan. Tapi, berhubung banyak reader yang penasaran sama karakter Minho di TSTM termasuk Lana -_- aku ungkap sekarang aja deh.😀

Kemampuan Minho di sini sebenarnya terinspirasi dari kelebihan temanku. Siapa dia? Err.., rahasia, privasi masalahnya.😀 jadi aku buat jalan cerita di sini sesuai pengelihatan sama pengetahuannya dia juga.😀

Bagi yang belum baca TSTM harap baca dulu biar nyambung sama ceritanya😀 Atau mungkin ada yang lupa sama jalan ceritanya bisa baca ulang, karena beberapa dialog berkaitan dengan part sebelumnya.😀

Satu lagi, di sini ada flashback yang cukup panjang. Dan flashbacknya cuma sekali. Jadi, Bacanya hati-hati ya biar nggak bingung.😀

So, happy reading!

***

Hari ini ia memulai pagi harinya dengan berjalan seorang diri di sepanjang koridor. Wajahnya tertunduk. Dengan satu alasan yang kuat, ia tak ingin menyilaukan matanya dengan anak-anak berkarakter yang khas dengan warna di sekitar tubuhnya. Tak aneh lagi memang, hanya saja itu terkadang mengganggu−mengganggu konsentrasi yang dikalahkan oleh rasa ingin tahunya.

Annyeong, Minho-ya!” seseorang menyapanya. Suara lembut itu kira-kira hanya berjarak bebrapa jengkal saja darinya.

Minho mengangkat kepalanya perlahan. Sorot matanya membulat ketika melihat seorang wanita dewasa yang barusan menyapanya sedemikian lembut. Cerah, kata itu menghujani pikirannya.

Annyeong haseyo, Victoria Seonsaengnim!” Minho membalas sapaan itu, sopan. Tubuhnya membungkuk hingga posisi kepalanya sejajar dengan pantatnya.

“Kenapa datang pagi sekali?” tanya Victoria sekedar sebagai ice breaking. Melihat Minho datang satu jam sebelum pelajaran dimulai bukan hal aneh lagi. Bocah itu punya suatu alasan dan ia tahu benar apa itu.

Umma sibuk hari ini.” aku Minho polos. Jawaban yang selalu ia berikan. Bukan suatu kebenaran yang absolut, tapi suatu kebenaran yang layak diucapkan seseorang untuk melindungi privasinya.

“Bagaimana aku pagi ini, Minho-ya?” kali ini Victoria mengalihkan pembicaraan. Ia memang pihak yang dituntut lebih banyak bicara dalam kasus ini.

“Seperti biasa, cerah.” ucap Minho sembari memamerkan senyumnya. Jawaban yang ia berikan pun bukan sugesti atau bualan semata, melainkan berdasarkan pengelihatan istimewa yang terselip di balik kornea matanya.

Tak ada percakapan lagi. Keduanya berjalan menyusuri koridor dalam diam. Sesekali Victoria melirik makhluk kecil yang puncak kepalanya tak lebih dari  pinggangnya. Anak itu, bocah yang menarik. Mungkin karakter sejenisnya tak akan dijumpai lebih dari lima kali dalam hidup ini.

-Flashback-

Victoria merapikan ujung rambutnya. Ia menutup pintu toilet perlahan. Ia siap untuk mengajar hari ini. Berhadapan dengan bocah 5 tahun membuatnya harus tahu cara tersenyum dengan tulus dan mungkin terus menerus. Sekilas ia tertarik melihat ruang terkunci di depan toilet yang dimasukinya, usang dan tampak tua. Naluri keingintahuannya mendorong kedua kakinya untuk mendekat. Ia memang sudah bekerja di sekolah ini selama 2 tahun, namun baru kali ini ia tertarik dengan pintu bergaris merah yang selalu terkunci itu

“Jangan, Seonsaengnim!” sebuah hardikan kecil mengejutkannya.

Spontan ia berhenti. Kedua bola matanya memutar, melirik sang pemilik suara, bocah laki-laki dengan ransel berwarna hitam di punggungnya.

“Jangan masuk ke sana, berbahaya!” ucap anak itu lagi, sedikit menekan nada suaranya, seolah menahan suatu ketakutan.

Victoria terdiam sesaat, mencerna kata-kata bocah laki-laki−yang merupakan salah satu anak didiknya−Choi Minho. Apa gerangan yang membuat anak itu melarangnya? Lalu, pantaskah dia menggubris perkataan seorang bocah yang bahkan mungkin belum mengenal siapa dirinya? Terlepas dari itu, ia masih belum bisa memberikan jawaban, namun tubuhnya lebih dulu memberikan sebuah respon non verbal−mundur dengan teratur dari tempat perkara.

Sekali lagi Victoria menatap anak laki-laki yang balas menatapnya bak seorang calon korban. Ia bisa menangkap ketakutan yang mengisyaratkan bahwa anak itu tak sekedar berpura-pura.

Victoria mendekati Minho, masih dengan ketertarikan dan rasa penasarannya. Ia menyentuh pundak anak itu. Getaran menjalar perlahan, menyusup dari balik saraf-saraf di ujung jarinya. Victoria mengernyitkan alisnya. Minho seolah mengetahui sesuatu. Bola mata anak itu masih tertuju pada pintu bergaris merah yang hendak dimasuki Victoria barusan.

 “Ada apa, Minho-ya?” tanya Victoria, memastikan keadaan anak itu.

Minho masih terdiam. Belum berpindah posisi atau bergeser sedikitpun dari tempatnya semula.

Victoria mengikuti gerak pandang Minho. Tetap dengan hal yang tidak bisa ia artikan, ia sama sekali tak paham dengan tatapan makhluk kecil di hadapannya.

“Ada yang membuatmu takut?” Victoria melanjutkan pertanyaannya yang belum mendapatkan respon.

“Ayo ke kelas, Seonsaengnim!” akhirnya Minho mengeluarkan suara, memberikan jawaban yang sama sekali melenceng dari yang diinginkan Victoria. Ia berbalik, melangkah menuju ke ruang kelasnya.

Anak yang menarik, Victoria membatin. Ia mulai menapakkan kakinya, mengikuti bocah itu. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya. Apa hal yang patut ia pikirkan saat ini? Anak yang istimewa atau aneh? Ya, dua-duanya. Apakah dia punya sejenis sihir atau semacamnya yang bisa membuat orang percaya dengan ucapannya? Entah apa jawabannya, namun Victoria telah membuktikannya bahwa anak itu punya suatu kelebihan.

***

“Kenapa kau makan sendirian?” Victoria menghampiri Minho yang asik melahap bekal makan siang di mejanya. “Bukankah biasanya kau bersama Yong Sang, mana dia?” lanjutnya.

“Dia ke halaman belakang, Seonsaengnim. Katanya sedang tidak mau diganggu.” jawab Minho setelah menyendok blackpapper chicken-nya. Nada bicaranya polos, namun cara pengungkapannya terdengar berbeda di telinga Victoria.

“Merah padam..,” Minho berbisik dan sukses membuat Victoria menajamkan indera pendengarannya.

 “Apa maksudmu?” Victoria makin tak mengerti.

“Jika aku katakan pun anda tak akan percaya,” Minho mendesah. Bodoh sekali ia bisa kelepasan bicara seperti tadi.

Sebelah alis Victoria terangkat. Permainan apa yang menyeretnya kali ini? Benar-benar menarik, membuatnya lupa dengan profesinya sebagai seorang guru dan beralih menekuni ucapan anak TK yang seolah lebih pasti dari keputusan seorang hakim.

“Katakan saja jika itu memang mengganggumu, akan kudengarkan.” ucap Victoria meyakinkan. Ia mungkin tak tahu bisa masuk sejauh mana, namun setidaknya ia bisa membuat Minho membagi sedikit beban pikirannya.

“Warna aura Yong Sang merah padam. Dia sedang marah. Aku tak tahu pastinya, hanya saja suasana hatinya benar-benar buruk saat ini.” papar Minho datar. Wajahnya masih menunduk. Ia berhenti menyendok makanannya, tak berselera lagi.

Victoria menelan ludahnya, terasa pekat. Anak ini, jika ia bercanda ekspresi wajahnya tak seharusnya seperti itu. Gerak geriknya tak seharusnya tenang. Sepintar-pintarnya seorang anak TK merangkai kebohongan, belum pernah ia melihat yang seperti ini. Lalu untuk Yong Sang, anak itu memang terkadang jauh dari kata ceria. Ia terkenal cerdas, namun pergaulannya hanya sebatas dengan anak-anak yang duduk lima jengkal dari bangkunya. Anak itu memiliki sebuah masalah dengan keluarganya, tepatnya dengan sang ibu. Seingat Victoria, ia belum pernah bertemu dengan Ibu anak itu semenjak ia mendaftar sebagai murid di sini.

“Hei, daritadi kita bicara soal warna. Lalu, warnaku seperti apa?” Victoria mengalihkan pembicaraan, membuat Minho menatapnya dengan sepasang mata bulatnya.

“Cerah..,” ucap Minho pendek. Kedua alisnya kini mengernyit. Apa dia sedang diajak bercanda, atau malah sedang diuji?

Jinccayo?” Victoria tersenyum lalu melanjutkan, “Jadi kau bisa melihat warna semua orang?”

Minho menggeleng. “Hanya orang-orang berkarakter saja yang memiliki itu. Aku pun belum tahu jelasnya, mungkin jika diibaratkan sebuah novel, orang-orang biasa adalah novel percintaan yang jarang mengundang penasaran kecuali penulisnya menghadirkan nuansa berbeda sementara orang-orang berkarakter ibarat novel fantasi yang sulit ditebak jalan ceritanya dan menarik minat pembaca.” pengakuan yang jujur. Pembicaraan ini mulai terasa nyaman untuknya. Karakter cerah seperti Victoria memang teman yang pas untuk diajak bicara. Dan wanita itu adalah orang ketiga yang tak menganggapnya membual setelah ayah dan ibunya.

Victoria tersenyum. Sama halnya dengan Minho, ia menikmati pembicaraan ini. “Ayo ceritakan tentang warna itu, aku tertarik mendengarnya.” celetuknya antusias. Keingintahuannya cukup besar, terlebih lagi lawan bicaranya seperti karakter Conan dalam manga.

Minho menimbang-nimbang sejenak. Awalnya ia tak ingin membuka diri lebih jauh, namun warna cerah Victoria telah memikatnya lebih jauh. Ia kalah telak. “Orang berkarakter dengan warna cerah umumnya disenangi banyak orang,” Minho memulai ceritanya, “seandainya Seonsaengnim senang melihat seseorang meskipun orang itu sedang marah, kemungkinan karakternya cerah. Orang yang berkarakter dengan warna hijau memiliki kepribadian yang tenang. Kontrol emosinya bagus dalam segala situasi. Lalu untuk warna merah…,” Minho berhenti, terlihat ragu untuk mengatakannya.

“Kenapa berhenti?” kedua alis Victoria mengernyit. Apa yang salah dengan warna merah?

Minho menghela nafas sejenak. Ia mendesah pelan lalu berkata, “Mereka karakter pemberani dan pantang menyerah. Mereka punya suatu kekuatan yang terkadang sulit diduga. Pribadi mereka kuat, buruk dalam kontrol emosi, dan mudah berubah. Jika warna suasana hati mereka sedang baik, mereka bisa menyaingi orang-orang yang berkarakter cerah. Namun, jika suasana hati mereka sedang buruk, warna mereka akan berubah padam. Dan jika itu terjadi, jangan dekati mereka meski kita memiliki sebuah lelucon yang terkonyol sekalipun.” paparnya panjang lebar. Ia rasa cukup sekian. Selain ketiga warna itu masih banyak karakter lain, namun untuk saat ini pengalamannya baru sebatas itu.

Cerita yang menarik, pikir Victoria. “Lalu kau sendiri bagaimana?”

Minho meletakkan sendok dan garpunya. Ia menatap Victoria lekat-lekat. “Apakah setelah mendengar penjelasan tadi anda percaya pada kata-kataku?”

Victoria mengangguk.

“Apakah setelah mendengar peringatanku di dekat toilet tadi ada sesuatu yang merasuk ke pikiran anda?”

 Sekali lagi Victoria mengangguk.

“Apakah gaya bicaraku terkesan dewasa seolah aku sudah berumur lebih dari 20 tahun?

Untuk ketiga kalinya Victoria mengangguk.

“Warnaku hijau, selain itu sepertinya tak perlu kukatakan. Mungkin Seonsaengnim sendiri sudah tahu apa jawabannya,” ujar Minho sambil tersenyum tipis. Kali ini mimik anak-anak terlihat di raut wajahnya meski cara bicara anak itu masih jauh melampaui kemampuan seorang bocah.

Benar, Victoria sudah menemukan jawabannya. Anak ini memang punya suatu kemampuan istimewa yang umum dikenal dengan ‘indigo’. Dan kelebihan utamanya ada pada kecerdasan dan kemampuan bicaranya yang memiliki aura khas dan kuat−yang membuat seseorang dengan mudah percaya dengan kata-katanya tanpa melihat mereka sedang bicara dengan sorang anak TK. Tidak, ada satu lagi, mata anak itu juga memiliki suatu keunikan.

“Hei, saat di toilet tadi sebenarnya apa yang aku lihat?” tanya Victoria, ingin melengkapi keingintahuannya.

Minho menggeleng. “Terkesan gelap. Kurasa penunggu sekolah ini ada di sana. Tidak baik jika kita mengusiknya.”

Victoria mengangguk. Sedikit menggali ingatannya tentang dunia spiritual, setiap sekolah memang memiliki cerita hantunya masing-masing. Jika ditelaah kembali, ada benarnya juga yang dikatakan Minho. Sebaiknya ia tak lagi mencari masalah.

-Flashback End-

***

Minho menyenderkan punggungnya pada bangku panjang di halaman belakang sekolah. Sesekali ekor matanya melirik pada makhluk berkuncir dua yang bungkam ibarat batu di sampingnya−Kim Yong Sang. Gadis itu masih tenggelam dalam trauma psikis yang dialaminya tadi pagi. Menyakitkan memang ketika melihat reaksi anak-anak yang menganggapnya tak memiliki seorang ibu.

“Sudahlah, Yong Sang-ah.” Minho menepuk pundak Yong Sang. Apa yang bisa ia lakukan kali ini? Ia sulit untuk merangkai kata-kata mengingat pemahaman Yong Sang menanggapi pembicaraan masih terlalu sederhana, tak sepertinya. Aura tubuh anak itu tidak sedang padam saat ini, melainkan berubah suram dan tertekan, itu artinya ia masih bisa diajak bicara meski dengan kata-kata yang agak rumit.

“Tadi aku sempat bicara dengan Umma-mu.” ucap Minho datar, membuat Yong Sang menoleh sedikit ke arahnya. Kedua matanya merah dan sembab. Entah berapa lama ia menangis sejak tadi.

“Apa yang kau katakan?” tanya Yong Sang parau, terdengar sangat sulit untuk mengeluarkan suaranya.

“Aku menceritakan semuanya. Bagaimana sejak awal anak-anak memandangmu sebagai anak yang tidak mempunyai ibu,” papar Minho, membuat Yong Sang kembali tertunduk. “Kau tahu, ibumu menangis setelah aku selesai bercerita.”

Jinccayo?” kali ini Yong Sang menatap Minho lekat-lekat, mencari-cari kebenaran di sorot matanya.

“Seburuk apapun kau menilai ibumu, dilubuk hatinya dia pasti sangat menyayangimu. Mungkin kalian hanya butuh waktu lebih lama untuk saling memahami,” jelas Minho, kembali dengan gaya bicara orang dewasanya.

Bibir bagian bawah Yong Sang kembali bergetar. Cairan bening mengalir lagi dari sudut matanya. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Jujur, ia marah, sangat marah. Namun hati kecilnya sangat ingin untuk memeluk Hyora dan membiarkan wanita itu mendekapnya hangat.

“Jangan menangis lagi,” Minho menepuk pundak Yong Sang, lagi. Karakter gadis kecil itu sama sekali tak berbeda dengan Hyora. Ibu dan anak itu sama-sama memiliki kharakter berwarna merah yang diselimuti keangkuhannya masing-masing. Sangat berbeda dari Jonghyun yang berkarakter cerah dan hangat.

***

Langkah Minho terhenti ketika sepasang kaki menghadangnya. Cerah, kata itu memenuhi pikirannya. Perlahan ia mendongak. Kedua matanya membulat saat melihat pemilik sepasang kaki itu adalah seorang wanita yang kemarin dikenalnya kikuk dan sibuk menyalahkan dirinya sendiri, Kim Hyora. Yeoja itu tak sendiri, ia ditemani Jonghyun dan Yong Sang yang terlihat sibuk bercanda di sampingnya.

“Kau, Choi Minho, bukan?” tanya Hyora, sedikit ragu.

Ne. Annyeong haseyo!” Minho tersenyum, tak lupa menyapa Hyora sambil membungkuk hormat.

Annyeong haseyo!” Hyora membalasnya dengan anggukan kecil. Perubahan karakternya menunjukkan wanita itu sedang bahagia saat ini.

“Kau kenal Minho?” tanya Jonghyun polos, diikuti Yong Sang yang menatap Hyora dengan kedua mata membulat.

“Err, iya, kemarin kami sempat bertemu,” jawab Hyora kikuk.

Seorang yeoja mendekat ke arah mereka. Ia tampak kerepotan dengan ponsel, dan tas tangannya. Langkahnya terlihat agak terburu-buru. Wanita itu umma Minho. Meski tergesa-gesa, namun raut wajahnya tetap terkesan anggun. Sekilas ia terkejut ketika pandangannya beradu dengan Hyora.

“Ah, kau umma-nya Yong Sang? Neomu yeppeo!” sapanya spontan, namun terdengar ramah.

Gomawo,” Hyora tersenyum kecil.

Di tengah tingkah Hyora yang masih canggung, sikap Jonghyun yang terus memamerkan senyumnya, dan kelakuan Yong Sang yang lincah, bocah kecil yang mencuri perhatian Hyora−Minho, tengah memperhatikan mereka. Ketiga makhluk berkarakter itu tampak cerah, seolah menemukan arti kata keluarga dalam hidup mereka. Di balik semua kesenjangan yang terjadi, ternyata mereka memiliki keharmonisan tersendiri. Mereka memiliki cara untuk menikmati hal istimewa meski itu mungkin tak bertahan lama.

***

Minho membuka gagang pintu mobilnya. Ia menyandarkan punggungnya yang terasa agak kaku pada bantalan empuk di tempat duduknya. Di sampingnya, sang Ibu−Nyonya Choi−menatapnya tersenyum sambil memegang gagang stir.

“Kau lelah, Sayang?” tanya Nyonya Choi perhatian.

Ne, Umma. Aku benci matematika!” desahnya sambil memejamkan kedua matanya, menikmati suasana sejuk dari AC yang terpasang di sudut kiri mobilnya. “Oh ya, Yong Sang dan keluarganya..,”

“Ada apa dengan mereka? Kau lihat sesuatu?” tanya Nyonya Choi, mulai berkonsentrasi dengan pekerjaannya−menyetir.

Mollayo. Mereka unik, dan entah kenapa aku merasa mereka akan dihadapkan pada suatu persoalan yang besar nanti,” papar Minho. Alisnya mengerut meski kedua kelopak matanya masih terpejam dengan sempurna.

Nyonya Choi tertawa kecil. “Jangan terlalu dipikirkan. Jika memang seperti itu, biarkan mereka menjalaninya. Mungkin Tuhan memiliki rencana lain dibalik itu semua. Yang pasti kau jangan terlalu banyak ikut campur. Ingat usiamu, Sayang.” jelas Nyonya Choi bijaksana. Ia mungkin tak punya kelebihan istimewa seperti Minho atau kharakter khusus layaknya orang-orang yang menarik perhatian putranya. Namun setidaknya ia bisa berperan di belakang layar dan mengawasi Minho agar tak melakukan hal yang masih jauh dari perannya sebagai anak-anak.

Minho membuka matanya perlahan. Bulatan-bulatan kiluan cahaya yang menembus kaca mobil membuat kedua kelopak matanya menyipit. Ia menghela nafas pelan, mencari-cari sebuah gagasan baru yang masih berwujud suatu angan yang berlum terbentuk dengan sempurna.

Lalu setelah ini, apa yang akan ia lakukan? Tubuhnya masih terlalu kecil untuk melangkah terlalu jauh. Sementara pikirannya masih terlalu dangkal untuk mengambil sebuah keputusan yang berarti. Lebih baik menjalaninya seperti kebanyakan orang dan menunggu hingga ada tugas yang memanggilnya.

-FIN-

Gimana? Puaskah sama rahasia Minho? Puas aja deh.. *reader: maksa!*

Ada nggak yang jadi penasaran dan mikir, kira-kira aku berkarakter apa nggak?😛

Atau ada yang nanya apa author Chandra berkarakter juga? *PD Gilak!* #plakk, ehm! Kata temanku itu sih… iya, Dari ribuan anak di sekolahku yang punya warna macam itu cuma hitungan jari. Jadi bangga *apasih?!*  Mau tanya lagi apa warnaku? Ah, nggak deh.., nggak penting! *reader: nggak niat banget sih ngomognya!* *aku: maklum, privasi*

Atau ada yang bertanya kenapa warna Minho di sini hijau? bukannya warna anak indigo itu umumnya ungu? Oke, aku ingatkan lagi, cerita ini aku tulis berdasarkan pengelihatan temanku, bukan berdasarkan tulisan-tulisan di internet. 

Dan sesuai penjelasannya dia warna itu berbeda masing-masing agama.

Oke deh, sekian. Jangan lupa RCL, ya ^^,

©2011 SF3SI, Chandra.


This post/FF has written by Chandra, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

69 thoughts on “Behind His Eyes (The Silent Touch of Marriage Side Story)

  1. Walaupun aku ga begitu ngerti tapi ini keren banget thor.. Tapi aku kurang paham sama yang terakhir2nya, yang menjalankan tugas maksudnya gimana? ._.
    Tapi selebihnya aku suka thor keren banget bahasanya😀

  2. waaah jadi maksudnya anak indigo tuh begitu yah? aku kira indigo itu orangnya agak……lain. yaaah tau kan maksudnya?._.

    chapter ini sukses menjawab kepenasarananku eon, gomawo😀

  3. Oooh….tnyata indigo…pantesan..

    Yogeun jd minho kecil…ckckck
    kok bs pas bgt sii masangin baby nya Shinee ma baby nya MBLAQ…
    jd ngayal hello baby ada shinee+mblaq+baby2 nya..pasti seru…

    Btw,The silent nya kpn?????

  4. waaacchhh ,, speechless dhe bayangin minho dgn posturnya yg masih kecil tapi udha punya pemikiran luar biasa !!!!!
    keren niey ,, tertarik banget baca tentang anak ‘indigo’ …….
    tyuz lanjutannya TSTM gmna ??

  5. dr awal aq udh ngira minho itu sjenis indigo. Eh, tp bukanny anak indigo itu aura warnany ungu ya? Tp g tw jg si, mungkn slh ingeT.

    Dan yg bkin aq penasaran lg, masalah besar apa yg akan menghantam keluarga yong sang?

    Great job chan, ditunggu lanjutan STOM-ny

    1. Iya, menurut berita memang ungu, Eon..
      cuman, ini kan aku pakai berdasarkan pengelihatan temenku.
      Dan ini berdasarkan anak indigo dimana?
      Bali pastinya, tiga warna itu dominan …
      sipp.. tungguin aja, Eon.

  6. wow klw minho udh dewasa pst keren
    py krna dia msh kecil jd aku kasian sma dia cos msh kcil py udh pny beban yg ckup berat.
    krn mnrut aku minho tlalu mikirin mslh 3 orng itu
    untung ada umma minho yg setia disampingnnya biar minho ga terlalu jauh bersikap

  7. …….,
    tk ada yg bs q ktakan,..
    crtanya trlalu memukau,.
    bukan hanya skdar crita biasa,olhn kta yg bgus,!
    DAEBAK!!
    Q tgu TSTM part slnjtnya…jgn lama y..

  8. hayo thor…warnanya apa??XDD
    ooo~~~ternyata tu minho indigo😮
    penasaran bgt ma maksud kata”nya minho…keluarganya yongsang akan tertimpa masalah besar???ada sangkut-pautnya dgn kibumkah??o.O
    kereen!!!aq suka..akhirnya dijelasin..awkawkawkawkawkawk,,
    aq tgu STOM.a…^o^

  9. klo warna auraku apa ya? pengen tau… hahhaha

    yongsang warna merah.. Mereka punya suatu kekuatan yang terkadang sulit diduga… pantes pas kibum lht yongsang yg duduk di dlm mobil merasa gmna gtu ya… hehehehe

    pas bc yg di toilet itu… kyk bc cerita horor.. trus dtmbh lgi minho yg kyk conan.. beeeeuuuuhhh mantap.. hahahaha

    eh pengen jg punya kemampuan yg bs lht aura org… lht aura ya.. bukan yg aneh2 n menakutkan.. hahahahaha

    ditunggu loh lnjutan ffnya..

    1. ayo coba tes ke paranormal *eh

      yang warna merah rada serem gitu dilihat orangnya.. tapi orang yang karakternya kayak gitu setia kawan biasanya🙂

      pengen bisa liat aura..
      ntar pingin ketawa looohhh…
      temenku yang bisa liat bilang gitu..
      katanya lucu aja kalau liat orang terus ada warna2 gitu di sekitar badannya😛

  10. Keren thor,,

    awalnya bingung sama ceritanya sih #mian, lola

    tapi lama2 jadi mudeng😀
    pokoknya ni ff keren dah

  11. wah, karakter mereka sama2 merah, pantes emosinya rada2 labil. aku suka bahasamu, Chan. enak dibaca n menarik
    nice part ^^

  12. FF Chandra isi pengetahuan lagi nih,
    sukses menjawab penasaranku ^^
    penulisannya juga bagus, apalagi pas sama Victoria
    lanjut, ya, fighting!

  13. ngomong-ngomong soal indigo jadi pingin punya kemampuan kayak gitu juga nih *ngarep*
    wahhh covernya Yong Sang sama Minho pas tuh.. dua2nya Baby unyu aaaa

  14. wah, waktu liat poster sama genre fantasinya langsung tertarik nih,
    Minho anak indigo huwaaaa… mantep tuh,

    iya nih aku jadi penasaran, kira2 aku punya warna nggak, ya? *ngarep*
    Good job!

  15. jarang2 nih baca genre fantasi, lumayan buat nambah ilmu
    biasanya aku baca FF ini di blog Eon
    sekarang balik ke SF3SI lagi hehe udah lama gak mampir

    seperti biasa, FF eon selalu bikin penasaran.. pesannya juga dapet ^^
    keren😀

  16. eh, rahasia Minho udah diungkap😮
    indigo, ya?
    pas banget sama karakternya dia
    aku suka gaya penulisannya, alurnya juga.
    syukur Minho punya umma yang baik🙂

  17. minho ternyata cerita ya ke Yong Sang masalah dia ngomong ke ummanya?
    aku jadi penasaran, kira2 masalah besar apa yang melandang jjong-hyora nanti
    next part asap ya, Chan

  18. Like this, Eon (y)
    ngebayangin Minho jadi anak indigo umur 5 tahun pastu cool + unyu *ngomongapasih?*
    pokoknya aku suka part ini. TSTM lanjut yah.. hwaitting!!

  19. Hmm.. karena saya baca part ini, mau ga mau saya baca cerita yang sebelumnya juga.. overall, nice.

    Okay, masuk ke komen sebenarnya, ada beberapa hal yang ganggu saya waktu baca cerita ini:

    1. Baca kalimat ini gmn sih? “Tak aneh lagi memang, hanya saja itu terkadang mengganggu−mengganggu konsentrasi yang dikalahkan oleh rasa ingin tahunya” *tiba2 hang*

    ‘Mengganggu-mengganggu’ atau …….. ? Tapi kayaknya aku ngerti maksudmu deh. Maksudnya itu menjelaskan kata menganggu itu sendiri bukan? Kalo iya, menurutku, cukup satu aja mengganggunya. Toh ga akan merubah rasa kan? atau justru merubah rasa? ^.^a

    2. Entah itu typo atau memang seperti itu tulisannya, pengelihatan atau penglihatan? Coba tolong dicheck lagi ya say..

    3. Ehm.. Minho and his stuff. well, yes, menurutku Minho itu bicaranya seperti orang dewasa.

    Aku ga tau, salah satu temanku termasuk anak indigo atau ga, atau mungkin warna-nya hijau atau ga. Tapi yg pasti dia sejenis Minho. Dan yang aku tau, kalo temenku cerita ke aku ttg masa kecilnya, she acted normally just like what kids do at their age. Dia bahkan blm ngerti klo dia punya kemampuan yg berbeda. Dia juga cenderung ketakutan dengan apa yang dia lihat. Dia sering nangis.

    Jadi menurutku, kalo dilihat dari tulisanmu, kamu mencoba menempatkan jiwa temanmu yang dewasa ke dalam tubuh Minho yang baru 6 tahun.
    Mungkin yg perlu diexplore di sini adalah jiwa temanmu atau kepribadian temanmu dulu waktu berusia 6 tahun. Terus kamu coba masukin ke dalam karakter Minho yang juga berusia 6 tahun. Menurutku itu akan lebih rasional untuk diterima oleh readers.

    nangkep ga maksudku?
    Atau memang waktu temenmu berumur 6 tahun, dia juga bersikap seperti Minho? well, kalo itu kasusnya ya..bisa diterima lah.. walau mungkin aku masih tetap akan ngerutin kening hehehe.

    4. Aku baca komenmu mengenai Minho & Yongsang, entah di chapter berapa ya *lupa*. Terkait dengan komen readers yang berbicara ttg karakter Minho. Di situ, dirimu bilang, kalo ga salah, ‘rasanya aku nggak boleh menciptakan karakter sesuai imajinasiku’.

    Aku waktu baca komenmu itu jujur agak ngakak. Karena bukan itu poinnya Cinta. Poinnya adalah readers menganggap karakter Minho itu ga rasional. Kenapa ga rasional? Itu yg perlu kamu eksplore, yg perlu dibuat tanda tanya besar di otak kamu. ‘kok bisa readers berbicara seperti itu?’ ‘kenapa? ada apa dengan Minho?’ ‘apa iya terlalu dewasa?’🙂

    Imajinasi boleh, tapi harus tetap rasional kan? kecuali genre kamu adalah fantasy dimana kamu bebas mau masukin kuda bertanduk 2 atau apapun. Tapi kan genre kamu bukan fantasy say. Atau aku yg salah baca genre FF ini?

    Jadi saranku, next time, ditelaah dulu maksud readers baru berkomentar atau memberikan notes.
    Nanti kamu baca komenku yg ini terus kamu bilang gini, ‘aku ga bisa berkomentar sesuka hati’ bukan itu poin aku. Ngerti kan?🙂

    Aku nulis begini bukan untuk menjatuhkan kamu ya. Tapi karena aku menghargai kamu sbg author. Sesama author harus saling mengingatkan toh? harus saling mendukung. Ya tak?🙂

    Okay, sekian komen dari saya. OVERALL, NICE JOB! ^_^

    1. eakk.. udah lama nih aku gak liat komen storm yang panjang2 gini..
      aku jawab satu2 deh..
      1. iiya, itu menjelaskan kata mengganggu.. natr tanda bacanya aku ganti koma deh biar gak bingung

      2. typo mungkin.. yah barangkali aja aku lupa ngecek *plakk*

      3. oh yang itu.. yang aku masukin bukan karakter temanku berdasarkan umur. cuma pengelihatannya aja yang sama. Kalau masalah karakter Minho aku cuma aosiasikan dia kayak Conan cuman minho di sini beneran bocah. Ngerti kan?
      Dan aku sendiri nemu karakter jenis dia pas ketemu sama anak tetanggaku di kampung yang umurnya baru 6 tahun, sifatnya persis orang dewasa. ==’

      Memang kebanyakan orang akan takut. Aku sendiri waktu kecil juga sering nanya2 kalau liat yg aneh. yah tapi kan itu berdasarkan pikiran rasional kita aja. Toh kita juga belum tau karakter apa aja yg ada di bumi ini..

      4. it’s okay, Lana juga sempat mempermasalahkan ini. Terserah respon reader kayak gimana. Karena dari awal aku udah duga akan banyak ada penolakan masalah karakter Minho. Kalau untuk masalah rasional, jujur deh, aku tanya dulu, apa karakter yong sang selama ini aku gambarkan rasional? jawabannya, nggak! kedua anak itu memang aku gambarin out of character. Ya, egois dih memang, tapi aku rada kurang suka kalau reader udah ngebash atau protes karakter mereka sementara aku sendiri punya alasan kenapa buat mereka kayak gitu. Toh ceritanya juga belum masuk apa2, konflik aja baru mulai.
      kalau untuk genre sebenarnya yang aku tulis cuma genre utama. Setelah baca mungkin reader juga akan menemukan genre school life, angst, humor atau bahkan fantasy cuman minim. kalau aku masukin semuanya serakah banget deh… -_-

      hahahah.. iya, aku ngerti, maksudmu baik kok,
      nanti ikutin dulu deh jalan ceritanya, kita liat aja perkembangannya.

      1. Bwahhhhhh langsung dijawab.
        Oh.. aku kan emang baru baca hari ini. Sebelumnya ga pernah baca dan main ke blog ini. Kampus hampir membuat menutup kehidupan sosial saya =,=

        3. Eyyyyy kayak Conan? kayaknya ga bisa diumpakan seperti itu juga deh say. beda kasus bukan itu?

        Nah kalo penjelasan kedua kamu itu baru bisa diterima. Karena kamu emang ngeliat kalo ada anak 6 tahun berkarakter seperti itu.

        4. Sebentar yg dipermasalahkan Lana itu, komen/notes yang kamu tulis atau komen readers? karena kok aku ngerasa, kamu sedikit ga ngeh nih sama poin no.4 ku hehehe..

        Yong Sang??? Ga sih menurutku dia biasa aja. Yang bikin aku kaget itu justru karakternya Minho. Kalimat-kalimat yg diucapinnya itu loh say, yg bikin aku ‘eh??? masa iya anak umur 6 tahun ngomongnya begini?’. Kalo Yong Sang? masih tahapan wajar menurutku.

        Reader protest? Ga usah kesel say. itu tandanya, mereka bener2 baca cerita kamu. Ga cuma selintas. Mereka mengharapkan sesuatu yang WAH dari kamu. Jadi knp harus kesel? wajar itu. biasa. ga usah diambil pusing.
        Beda kasus sama nge-bash, itu wajar kamu kesel.

        Okayy..nanti kulihat perkembangannya ya.. Tapi ga janji untuk setiap kamu post aku lgsg baca ya.. Pokoknya kalo aku blm komen, tandanya aku blm baca. Okeh?

        keep up your work say. It’s nice anyway ^.^

  20. kira-kira aku berwarna ga ya?? hehe
    jadi penasaran sendiri.. maaf ya kak aku jarang komen abis ga bsa komen lewat hape jadi kalo baca jarang komen hehe mian

  21. benerkan, Minho anak indigo,.
    emg itu kelebihannya bkan sok dewasa !!
    krna memng Minho istimewa. hoho
    Great, penasaran sprti apakah mslah yg bsr*ktaMinho itu?? hehe

  22. Wuahhhh… Kereennnn… Aku makin menghargai dan penasaran dengan anak-anak Indigo.. Mereka memiliki keistimewaan yg gx dimiliki orang lain…. Setelah baca FF ini jd penasaran dg ‘warna-ku’.. Iti kayak aurakah???

    Sekarang aku ngerti knp Minho bisa terlihat dewasa banget karakternya.. Bahkan terkesan lebih dewasa dr umurnya…..

    Eh.. Apa itu yg dilihat Minho?? Hal besar apa yg akan terjadi pada keluarga Jonghyun…

  23. yeaach…
    mnurutku soal karakter ma trsrah pnulis,toh itu kbbasan brekspresi,..
    lgpla ddunia ini psti ada kok anak dg klbhn sprti itu,ya..wlaupn 1000:1.
    *eh ada denk emang,td kan authornya dah bilang*
    dan untk minho msh rasional kok untk tdk masuk genre fantasy,.
    toh minho g bisa terbang,g bisa ngluarin sinar laser dr matanya,.
    hahaha,
    So…Tetap semangat thor!!ku tggu karya2 mu selanjutnya,.!!

  24. Ahh.. Minho indigo.. Keren euy.. Tpi kadang kasian.. Krn dia jdi suka memikirkan apa yg nggak dipikirkan sama anak seumurnya.. Untungnya ibunya selalu membantunya..
    Jdi makin penasaran nih sama minho..
    Ah.. Chan slalu DAEBAK!!

  25. Sumpahh demi apapun.. Aku suka banget karya dari unnie! Walaupun agak gak ngerti akhirnya, tapi, pas di baca lagi ngerti!
    Daebakkk banget bikin orang penasaran!

  26. Aku baru baca tanggal 23 tapi udah masuk jam tidur jadi komennya mau tanggal 24 aja
    eh tiba-tiba liat komennya Storm.. terus aku ngestuck mau komen apa
    Soalnya… kurang lebih apa yang mau aku tulis udah di tulis sih sama Storm =,= *lemparin Storm pake permen*

    Temenku yang indigo.. ada yang waktu kecil udah ‘beda’ ada yang masih ‘normal’. jadi aku bisa terima sih kalau Minho nya bahasa terlalu dewasa. Karena temenku kayak gitu🙂
    Dan itu katanya juga tergantung karakter sama warna si anak indigo nya sendiri. Kebanyakan warna mereka jingga atau ungu lah.. tapi ada juga yang punya warna lain, tapi jarang. Dan iya, katanya emang beda agama juga bisa beda warna. Gak ngerti kenapa😦

    Dan omong-omong… gak enak juga ini namaku dibawa bawa hahahahhaha😄
    Typo udah di bahas sama storm.. eeemm…. *stuck*

    sebenernya ada yg mau aku tanya, tapi pas aku ketik aku malah bingung sendiri aku nanya apaan.. jadi.. biar aku anggep aja…
    ya, aku udah dapet jawaban dair pertanyaanku ^^ .. ini cukup😀

  27. saya jadi bingung mau komen apa, setelah membaca semua komen yang diatas…
    hehehe :p
    aku suka bagaimana eonni menggambarkan si minho. gampang dicerna🙂
    aku jadi penasaran sama anak indigo. temenku ada gak yah yang indigo? jadi pengin punya deh.
    minho emang kayak replikanya Conan yang mungkin mereka juga punya perbedaan masing-masing.
    ya udah deh, segitu aja komen saya. *emangsayakomenapaan?*
    ditunggu FF STOM nya🙂

  28. Woww..
    Bagus bgd..
    Hehe, nambah ilmu lgi..
    Hemm..
    Aku suka karakter minho dsni..
    Kira2 warna aku apah yaa?! Hehe😀

    ditunggu part slanjutnya🙂

  29. annyeong…🙂
    saiia datang….
    xixixixixixiix
    padahal uda lama aku baca tp aku komen karang aja deh takut djitak ma author… *plakkk*
    xixixixixixixii
    chan,,,temuin aku ama tmenmu tu donk..?? oke2??
    hihihi
    Aura Menong hijau?? aku apa?? samakah??
    *pnasaran*
    jangan bilang si minho jg bisa liat hantu…
    hiiiiiiiiiiiiiiiiii~ ngerii bagettt..
    aku tebak….tar yong sang pcaran m minho ya??????

    1. mau ketemu temenku itu…
      eaakk.. waktu ini aku udah kasi tau di FB..
      kaget ya pas tau..
      ngga nyangka dia pynya kemampuan kayak gitu..
      padahal anaknya polos abis.. hahahahaha

      iya, dia bisa ngeliat hantu, kkkk~
      pacaran nggak yaa??
      laiat aja nanti ya😛

  30. aku gak nyangka anak indigo ternyata bisa liat warna gitu
    salut deh buat victoria, tapi kesannya victoria wanita polos gitu*menurutku
    keren thor
    hah maaf lama bacanya-___-
    masih dalam keadaan sibuk dan mood yg tidak menentu-______-v
    keren thor beside storynya:D
    good job~~

  31. Mereka memiliki cara untuk menikmati hal istimewa meski itu mungkin tak bertahan lama.” <—- apa maksudnyaaa?apa maksudnya? *histeris. Plakk. Hahaha
    Huaaaa, apa mereka nanti akan bercerai? Andweee (۳º̩̩́Дº̩̩̀)۳. Jangan sampe (˘ʃƪ˘) .
    Panasaran dgn kelanjutannyaaa…😦.
    G sabar….Hwaiting oen nulisss… (Y)

  32. Begitu yaa… bisa tambah ilmu, walaupun sedikit gag ngerti… hehehe… tapi karakter Mino keren disini….

  33. minhoo keren..
    pantes pikirannya sprti orng dwasa, tenyata minhoo punya kelebihan toh…

    tunggu dl,, maksud minho persoalan besar yang akan terjadi sm kluarga yong sang, itu ap???

  34. Jadi minho anak indigo? Trus yg part terakhir sesuai usiamu? Aku kira minho itu kayak Detective conan yg mengecil #plakabaikan
    Over all, keren *twothumbs*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s