My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Part 4

My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip Four

Main Cast :

  • Lee Jinki (Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Other Cast :

  • Other SHINee members
  • Lee & Shin family

Genre : Marriage Life, Family, Comedy (dikit), Life

Length : Continue

Rating : PG-13

Author : Mira~Hyuga

>>><<<

Sebenarnya baterainya bukan habis, tapi mungkin benda itu memang terpisah dari handphonenya, karena aku membantingnya kemarin malam. Penyebabnya karena aku sangat kesal karena Jikyung tidak mengangkat telfonku, juga tidak membalasi SMS-ku yg semua isinya adalah permintaan maaf.

Jibyung meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja, kemudian berkata pelan, “Kita harus membicarakan sesuatu.”

Untuk yang kedua kalinya tubuhku menegang, dan tanpa sadar aku menelan ludah dengan gugup. Apa Jikyung sudah mengatakan sesuatu padanya? Apa Jibyung sudah tahu? Apa karena ini dia datang kemari?

>>><<<

PART 4

“Tadinya aku mau bicara di tempat lain. Tapi karena handphonemu tidak bisa dihubungi, aku ke sini.” katanya lagi sambil tersenyum simpul. Tunggu, tapi dia kelihatan biasa saja untuk ukuran orang yang mendapat kejutan seperti itu. Atau mungkin dia belum tahu?

“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?” tanyaku lagi, sekedar untuk memastikan.

Jibyung menatapku agak lama, lalu tertawa kecil, “To the point sekali.”

“Mwo?” tanyaku lagi, berusaha menyamarkan ketidaksabaranku. Bagiku yang (kuakui) memiliki kesalahan padanya, aku merasa perkataannya sejak tadi selalu kedengaran ambigu.

“Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang harus aku bicarakan. Tapi karena eomma menyuruhku agar kita bertemu, jadi kita ceritakan apa  saja.” Cengirnya. Apa benar dia belum tahu apapun?

“Jibyung… nim, kau… tidak sedang berbohong, kan?” kutatap kedua matanya lekat.

“O-oh, oh~ kenapa aku harus berbohong?” Jibyung memundurkan tubuhnya perlahan menjauhiku, karena tanpa sadar aku terus memperkecil jarak di antara kami, “Dubu-ya…”

“Ehem~” kembali kuluruskan sikap tubuhku setelah yakin bahwa dia benar-benar tidak sedang berbohong atau berpura-pura. Aku berkata sambil diam-diam menghembuskan napas lega, “Keurae, kamu duluan yang bercerita. Aku ingin mendengar suaramu. :D”

Dia tertawa sebentar kemudian berhenti dan menatapku, lalu tertawa lagi. Walaupun sempat bingung, tapi mendengar suara tawanya aku juga jadi ikut tertawa. (.___.)v

Moodnya sedang bagus sekarang. Dan itu berarti aku belum bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Jibyung. Lagipula aku memang belum berencana mengatakannya sekarang.

Beberapa detik kemudian tawanya sudah berhenti total. Dan raut wajahnya kembali serius, meskipun senyuman tipis masih tersungging di bibirnya, “Menurutmu… hubungan kita bagaimana?” dia menatapku dan menggaruk pipinya sedikit.

Aku bisa merasakan kedua alisku hampir menyatu, “Ada alasan kenapa kamu bertanya seperti itu?” aku mengembalikan pertanyaan, dan bisa kulihat ekspresinya yang tidak berubah sedikitpun.

“Kalau menurutku… kita payah.” Katanya pelan. Aku membuka mulut hingga membentuk ‘o’ gepeng, menunggunya melanjutkan perkataannya yang memang benar-benar ambigu kali ini, tidak hanya perasaanku saja, aku yakin. “Ya, kamu ‘kan tahu apa saja yang kita kerjakan sejak menikah.” Akhirnya dia melanjutkan, sementara aku masih belum mengerti sepenuhnya, “Kita sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dan aku rasa itu buruk sekali. Bagaimana menurutmu?”

Aku menghela napas dan berdeham pelan, kemudian terkekeh kecil sebelum menanggapi, “Mungkin memang buruk. Menurutku juga begitu.”

Jibyung mengangguk, dan aku menimpali lagi, “Sepertinya tidak ada yang berbeda setelah kita menikah. Masih sama saja dengan saat kita masih menjalani hubungan pacaran biasa, malah—” tapi kemudian dengan cepat kututup mulutku saat menyadari apa yang kukatakan dan juga saat melihat ekspresi wajah Jibyung yang menunjukkan keterkejutan.

“Emm~ keurae?” Aissh~ bodoh! Bagaimana bisa aku tidak menyaring terlebih dahulu perkataan yang akan kulontarkan? “Aku juga merasa seperti itu.”

Mendengar lanjutan perkataannya itu, aku menghela napas lega. Untunglah, sepertinya dia tidak merasa terlalu tersinggung.

“Tapi… apa kata-kata barusan ada hubungannya dengan perkataanmu waktu itu? Saat sehari setelah kita menikah?” kini dia memandangiku dengan wajah penuh harap.

Aku terdiam, mencoba mengingat-ingat perkataan serius apa yang sudah kulontarkan padanya saat itu.

[Tiba-tiba saja sebuah pemikiran terlintas di benakku. Aku menatap lurus ke mata Jibyung dan memegang kedua bahunya.

“Ya!” dia membulatkan kedua matanya, seolah waspada terhadap apapun yang akan kulakukan selanjutnya.

“Jibyung-nim, buat aku lebih mencintaimu.” Ujarku serius, mengemukakan apa yang baru saja terlintas di benakku.

“Mwo? Wae?” tanyanya pelan.

“L-lakukan… lakukan saja!”

“Iya, memangnya kenapa? Aku tidak mau melakukannya kalau kau tidak punya alasan.”

“Apa harus ada alasannya bagi pasangan yang sudah menikah seperti kita?”

Dia tertegun menatap mataku, lalu mengangguk perlahan, “Arasso. ^^”]

“Tidak ingat?” tanyanya pelan.

“Ingat. Tentu saja ingat.” Jawabku cepat. Sepertinya pembicaraan ini akan semakin serius.

“Jadi?” tanyanya lagi.

Bisa kupastikan sebelah alisku naik, menunjukkan bahwa aku belum mengerti pertanyaannya.

“Apa ada hubungannya antara perkataanmu tadi dengan perkataanmu waktu itu?” ulangnya.

“Kenapa bertanya seperti itu?” tanyaku balik, sebagai samaran dari kata ‘lalu?’ yang artinya aku meminta penjelasan lebih.

“Karena aku rasa… aku belum melakukan apa yang kamu inginkan waktu itu.” Dia berkata semakin pelan, “Aku takut karena itu kamu mengatakan bahwa sekarang ini kita tidak ada bedanya dengan saat masih berpacaran dulu. Aku sudah ingin menanyakan ini sejak saat itu.”

“…” aku diam, tidak bisa mengatakan yang sejujurnya, dan juga tidak ingin berbohong. Apa perkataanku saat itu masih berlaku, mengingat apa yang sudah kulakukan kemarin? Bahkan sekarang saja pikiranku masih bercabang, antara memikirkan pembicaraanku dan Jibyung saat ini, dan juga memikirkan bagaimana caranya meminta maaf pada Jikyung dan berbicara agar dia mau mengerti. Aku tahu Jikyung pasti masih marah padaku. Mungkin karena itu dia tidak mau kuhubungi.

Ah, apa yang kupikirkan? Tentu saja itu masih berlaku, Lee Jinki! Bahkan seharusnya semakin kuat.

“Mian…” ujar Jibyung tiba-tiba, dengan suara lirih. Kepalanya menunduk, memperhatikan tangannya yang memainkan ujung meja. Aku juga malah memerhatikan tangannya itu, dan bisa kulihat dia masih memakai cincin pernikahan kami. Aigo~ rasa bersalahku jadi semakin bertambah, bahkan karena hal-hal sekecil itu.

“Aku mengerti. Kembali, ini memang karena aku yang terlalu sibuk.” Kataku, menanggapi permintaan maafnya barusan, sembari mencoba menampilkan senyum, “Aku juga… minta maaf.”

Jibyung mengangkat kepalanya dan menatapku, “Aniya. Tidak ada yang membuatmu harus meminta maaf padaku.” Ucapnya yakin. Salah. Kamu hanya belum tahu, Jibyung-ah. Banyak hal yang membuatku harus meminta maaf padamu.

Dengan hati-hati aku meraih kedua tangannya dan membenamkannya di kedua telapak tanganku sendiri, “Ini belum terlambat, Jibyung-ah. Kamu bisa melakukannya mulai dari sekarang.” Kataku, sekaligus memberikan sugesti pada diriku sendiri, “Dan katakan dengan jujur, apakah kamu merasa tersinggung dengan hal ini?”

Jibyung terlihat menghembuskan napas melalui mulutnya hingga pipinya sedikit menggembung, “Aku… ya, pernah sekali aku berpikir kamu mengatakan itu karena tidak lagi mencintaiku. Apa itu benar?” katanya muram.

Buru-buru aku menyangkal, “Aniya! Bukan seperti itu. Tolong jangan salah paham dulu. Aku mengatakan itu karena… ingin.” Aku memang masih mencintainya, sejak dulu tidak berubah. Hanya saja…

Dia malah terkekeh sambil menjepit hidungku di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, “Ekspresimu lucu sekali kalau sedang serius.”

(_  __’)m

“Perusak suasana!” tukasku sambil mengacak rambutnya yang tergerai begitu saja. Dan dia hanya tertawa.

“Tenang saja, Lee Jinki-ssi. Aku bisa mengerti apa maksudmu. Tapi kau yakin tidak ada yang kamu sembunyikan?”

“T-tidak ada. Bagaimana denganmu?”

“Tentu saja tidak ada.”

“Bagus!” aku mengangkat sebelah tanganku, dan dia melakukan hal yang sama. Detik berikutnya telapak tangan kami tersebut bertemu satu sama lain.

Memang benar. Satu kebohongan akan memunculkan kebohongan yang lainnya. Sekali kau berbohong, kebohongan yang lain akan menyusul untuk menutupi kebohonganmu itu.

Mianhae, Shin Jibyung.

“Oh ya, aku berencana pindah ke apartemen besok.” katanya lagi menyadarkanku.

“Ah? Oh~ begitu?”

Jibyung menangguk, “Eomma dan eommonim menghadiahkannya untuk kita. Sayang kalau tidak ditempati. Lagipula barang-barang kita ‘kan sudah di sana sebagian.”

“Ne, majyo.” responku singkat.

Kami saling terdiam beberapa saat. Jibyung melongokkan kepalanya ke arah dimana ruang tengah berada, kemudian berbisik, “Ya, ada masalah apa? Mereka tidak terlihat seaktif biasanya, terutama Key. Kamu juga.”

“A… eopseo. M-mungkin… kelelahan?”

Jibyung mengangguk-angguk tanpa curiga, “Oh, benar juga. Kalian sering bolak-balik Jepang-Korea akhir-akhir ini. Pasti lelah, ya?”

“Sedikit.” Cengirku sambil menopang dagu. Jibyung memandang wajahku lama, hampir tanpa berkedip. “Wae?” tanyaku penasaran.

“Ige mwoya?” dia mencubit kedua pipiku dengan kedua tangannya. Raut wajahnya datar sama sekali. Dan anehnya dia mencubitku terus-terusan.

“A-aaa~ ya, ya, ya! A-aapha. Waeirae~?!” protesku sambil menepis tangannya.

“Kenapa aku baru menyadarinya? Pipimu tidak seperti dubu lagi. Aaigoo~ berat badanmu turun, hah?”

“Hanya sedikit.” Akhir-akhir ini memang aku tidak terlalu memperhatikan pola makanku. Yang lain juga, sih. Mungkin karena itu aku sedikit mengurus.

“Omo~ kasihan sekali peliharaanku…”

Pe-li-ha-ra-an? (=,=”) “Aissh~ Neo jinjja!”

Jibyung nyengir lebar, terlihat mengamati jam tangannya, lalu bertanya, “Kalian sudah menyiapkan makanan? Sebentar lagi waktu makan siang.”

“Oh~ keurae? Molla, sepertinya belum.”

Jibyung berdecak sambil mendelik padaku. Dia melepaskan jaket putihnya dan menyampirkannya di sandaran kursi yang dia duduki, “Yeoreobuuun~ perlu kumasakkan sesuatu?” teriak yeoja itu dengan lantang. Kepalanya menyusup(?) ke dalam kulkas. Beberapa detik kemudian terdengar suara derap langkah seseorang, dan Jonghyun muncul dari arah ruang tengah.

“Wah~ kukira kau hanya akan memasak khusus untuk suamimu itu.” Katanya acuh.

“Kurasa Kibum harus membantunya. Atau kalau tidak kita bisa keracunan, atau paling tidak kita hanya bisa makan bibimbap saja.” Celetukku, tiba-tiba terpancing untuk memojokkan Jibyung.

“Cish~”

BLETAKK!

“Jangan meremehkanku! Walaupun aku sibuk, aku sudah jadi istri orang sekarang. Mana mungkin masih tidak bisa memasak?” omelnya, menyusul sebuah sendok yang sudah lebih dulu mendarat dengan mulus di kepalaku.

Aku meringis sambil mengusap kepalaku yang jadi lapangan pendaratan sendok tadi, “Aku bercanda. Lee Jibyung bawel sekali sekarang.”

“Terserah aku. Memangnya kamu siapa?” ujar yeoja berambut sepunggung itu seraya mengikatkan tali apronnya.

“Aku? Aku SHINee Onew, teman seumur hidup seorang Shin Jibyung.”

“Jinjja? Tapi suamiku Lee Jinki, bukan SHINee Onew.” Dia menolehku sebentar, lalu kembali fokus lagi pada bahan-bahan makanan yang sudah didapatnya dari dalam kulkas tadi.

“Kamu tahu?”

“Mwo?”

“Aku ingin sekali menerkammu sekarang.”

“Hati-hati, aku memegang pisau.” Katanya datar, sementara tangannya memotong-motong bahan makanan tadi dengan terampil. Mungkin benar, dia memang sudah bisa memasak kali ini (.__.).

Aku beranjak mendekatinya, “Aku punya yang lebih tajam dari pisau.”

Jibyung masih menanggapi tanpa minat, “Apa?”

Aku berdiri tepat di sampingnya, sedikit membungkukkan badanku, sementara kedua tanganku kumasukkan ke dalam saku celana, “Lihat ke sini!” ucapku pelan. Jibyung menoleh dengan cepat, dan tepat di saat yang sama aku menempelkan bibirku di bibirnya.

Kulihat Jibyung terbelalak, sementara aku menunjukkan mata tersenyum(?) dan menekan tengkuknya dengan sebelah tangan. Sudah kubilang aku punya yang lebih ‘tajam’. XD

Beberapa detik berlalu, seiring dengan Jibyung yang perlahan memejamkan kedua matanya ketika aku mulai menggerakkan bibirku. Aku hendak memejamkan mataku juga, sebelum Jibyung menarik kepalanya dengan tiba-tiba sambil memekik tertahan.

Awalnya aku bingung, tapi berubah terkejut saat kulihat jarinya yang mengeluarkan darah, “Waeirae?”

“Aaa~ ini gara-gara kau. Aku jadi mengiris tanganku sendiri.” Jibyung berjalan ke arah wastafel dan menadahkan jarinya di bawah keran air.

Aku menutupi bibirku dengan punggung tangan, menahan tawaku yang hampir meledak, “Keurae? Apa ciumanku seenak itu?” godaku sambil melangkah mendekatinya.

“Diam!” tukasnya, membuatku tertawa terbahak-bahak melihat wajahnya yang merah padam.

Dan aku malah semakin tertarik menggodanya, “Kenapa? Kita ‘kan sudah menikah, yeobo.”

Jibyung berdecak sambil menggembungkan pipi, “Cih~ kamu senang?”

“Keureom. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi. XD”

Jibyung mematikan keran air dan menatapku dengan serius, “Bukan itu maksudku. Kamu senang dengan pernikahan kita?”

Aku diam seketika, menelan ludahku dengan gugup, “Kenapa mengungkit itu di saat-saat seperti ini, sih?” gumamku seraya mengacak rambutnya, “Ah, aku harus ke toilet. Kebanyakan tertawa membuatku ingin berekskresi.”

Aku masih bisa merasakan pukulannya di punggungku saat aku melengos menuju kamar mandi. Beruntung kalau dia tidak menyadari aku hanya ingin mengalihkan pembicaraan.

(End of POV)

*

(Jibyung’s POV)

“Hey, kalian tidak sadar aku masih di sini?”

Mendengar suara itu aku langsung menoleh ke arah meja makan, mendapati Jonghyun duduk di salah satu kursinya sambil menopang dagu. AAAH~ JADI SEJAK TADI DIA MELIHAT…

“Aissh~ Kim Jonghyuuun~” kupalingkan wajahku dan kutundukkan kepalaku. Jangan sampai dia melihat wajahku yang (pasti) memerah, kalau tidak dia pasti akan menggodaku terus.

“Terimakasih tontonan gratisnya. Oh ya, lain kali jangan sambil memegang pisau.”

Namja ini benar-benar… (>///<)

Aku tidak menanggapinya, dan karena itu dia berujar lagi dengan pelan, “Tapi ngomong-ngomong… selama ini kamu terus memikirkan perkataanku waktu itu?”

Aku meringis kecil, dan menjawab tanpa menatapnya, “Begitulah.”

Kudengar suara ketukan pelan yang seirama, dan itu mungkin karena Jonghyun sedang mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja. Dia bergumam pelan setelah diam beberapa saat, “Percayai dia saja.”

“Eh?”

“Apapun yang terjadi, kamu harus tetap mempercayai Jinki hyung.”

Aku menarik napas, tanganku bergerak menyalakan kompor dan mengambil pan, “Aku tahu itu. Sejak dulu aku selalu mempercayainya.”

“Emm~ keurae. Selama ini aku melihat kalian memang pasangan yang paling harmonis yang pernah kutemui.”

Aku tertawa karena perkataannya itu. Apa benar kami memang seperti itu? Kenapa aku tidak sadar?

“Noona, perlu bantuan?” aku mendengar suara Key yang sepertinya sedang mendekat.

“Aniyo.” Sahutku tanpa menoleh.

“Jibyung noona?” mendengar suara kali ini aku langsung menoleh dengan cepat, bahkan membiarkan masakanku diambil alih oleh Key—padahal baru saja aku mengatakan tidak perlu bantuannya. Aku melihat si maknae tengah tersenyum lebar padaku, dan aku balas tersenyum.

“Taemin-ah!”

Ah, apa aku sudah cerita? Sebenarnya aku sejak awal mengidolakan Taemin di SHINee. Tapi entah kenapa berbelok pada Onew (yang satu ini ternyata bukan hanya perasaan seorang fan pada idolanya, dan tanpa diduga berlanjut sampai tahap sekarang). Lalu sekarang, karena Lee Taemin semakin memesona, aku lebih tergila-gila padanya lagi daripada pada Onew. ^^v Tapi tetap saja berbeda, karena Onew ‘kan idolaku seumur hidup (Ç_Ç).

Selama beberapa minggu ini aku hanya bisa melihat Taemin dari televisi atau internet. Tapi beruntungnya aku, sekarang dia—dalam bentuk nyatanya(?)—berdiri di hadapanku. Kyahahaha~ Lee Taemin! \(^O^)/ “Aaaa~ adikku semakin tampan!”

“Hahaha~ gomawoyo, noona. ^^”

Aku berlari kecil menghampiri namja itu, sambil merentangkan kedua tanganku. Sudah lama tidak bertemu, aku ingin memeluknya sebentar.

“YA!!”

Langkahku sontak terhenti saat mendengar suara teriakan yang berasal dari kamar mandi itu.

“LEE JIBYUNG, KALAU BERANI MELANGKAH SEKALI LAGI AKU AKAN MEMAKANMU!!”

?

??

???

(-________-“)

“HAHAHAHAHA~”

(End of POV)

>>><<<

(Jikyung’s POV)

Melihat orang-orang yang berlalu lalang di jalanan ini, entah kenapa aku merasa bahwa aku adalah satu-satunya orang yang tidak bersemangat. Mereka—semuanya—bisa tersenyum dengan senang tanpa memikirkan apapun. Wajah mereka terlihat sangat cerah. Pasti sangat berbeda denganku.

Aku masih memikirkan perkataan Onew tempo hari. Memikirkan apakah aku harus mempercayai ucapannya atau tidak.

Jujur saja, dulu aku mengharapkan pernyataannya kemarin itu. Ya, aku pernah menyukainya, dan itu dulu. Saat aku tahu bahwa sebenarnya Onew menyukai Jibyung, aku mundur dan mulai melupakan namja itu. Tapi ironisnya, Onew sendiri yang kemarin mengingatkanku lagi pada perasaan itu. Padahal aku sudah hampir mengubur perasaan itu dalam-dalam.

Karena itulah kemarin aku langsung pergi dari hadapannya. Kenapa dia malah mengatakannya saat dirinya sudah milik Jibyung? Itu sama saja dia memberiku harapan kosong lagi, karena dia memang baru saja menjadi suami saudara kembarku sendiri dan tidak mungkin berencana mempunyai ‘hubungan lain’. Dengan begitu, tentu saja aku sakit hati.

Baiklah. Lupakan saja perkara itu.

Angin berhembus menerbangkan rambutku yang sengaja kugerai begitu saja dan menyapu lembut pipiku. Aku mendongak menatap birunya langit di balik sunglasses-ku. Haah~ rasanya aku ingin sekali terbang bebas ke tempat seluas itu. Seperti burung yang bisa terbang kemana saja, walaupun mungkin dia tidak bisa terbang pada ketinggian tertentu. Haha~ itu angan-anganku saat masih kecil.

Ah, sudahlah. Lebih baik aku pulang dan istirahat. Sudah beberapa hari ini aku kurang tidur karena banyak pikiran dan pekerjaan. Sekarang aku lelah sekali. Mumpung aku sedang libur.

Baru saja aku mengedarkan pandangan ke jalanan untuk mencari taksi, sebuah mobil Mercedez hitam mendekat dan berhenti di depanku. Tunggu, sepertinya aku mengenal mobil ini. Ah, tapi aku lupa siapa yang punya mobil seperti ini (.__.).

Jendela mobil itu turun dengan cepat, bersamaan dengan aku yang juga menurunkan sunglasses’ku agar tidak menjadi penghalang untuk melihat siapa orang itu. Aku terpana sejenak.

Orang itu melambai padaku dan tersenyum dibalik maskernya, “Jikyung-ssi!”

“Nickhun-ssi?” sahutku setelah terpaku selama beberapa detik, kemudian balas melambai, “Annyeong!” Ya ampun, mimpi apa aku sampai super star sepertinya datang padaku? (6_6)

Dia tersenyum—terlihat dari matanya—dan melirik jam tangannya beberapa detik, “Aku tepat waktu, kan?” katanya sambil terkekeh. Aku ikut melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, 2.00 PM. Benar, tepat sekali, walaupun sebenarnya tidak terlalu penting.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanyanya.

“Aku sedang mencari taksi. Nickhun-ssi?” tanyaku balik.

“Kalau begitu, kau sedang tidak sibuk, kan?” tanyanya lagi tanpa menghiraukan pertanyaanku.

Aku mengangkat alis, tidak mengerti arah pembicaraannya. Namja asal Thailand itu menggaruk bagian belakang kepalanya, “Aku perlu bantuan. Kau mau… membantuku?”

“Ne?”

“Ayo, naik dulu saja!”

Huffh~ bersabarlah, Shin Jikyung. Beberapa waktu lagi kau pasti sampai di rumahmu dan bisa tidur dengan nyenyak. Tapi untuk sekarang, turuti saja dulu perkataannya. Orang yang suka menolong disayang Tuhan. Lagipula ini kesempatan langka! XD

>>><<<

“Kita akan kemana, Nickhun-ssi?” tanyaku saat namja ini melajukan mobilnya.

“Yakin kau mau membantu?” tanyanya balik, lagi-lagi tanpa menghiraukan pertanyaanku. (-___-)

“Iya, iya, baiklah. Aku yakin. Tapi setidaknya katakan dulu, kemana tujuan kita? (=3=)”

“Emm~ ke suatu tempat.”

(=_=”) Kalau itu aku juga tahu…

Sepertinya tidak ada gunanya juga aku bertanya ini-itu. Mungkin lebih baik aku diam saja.

Tapi sebenarnya tidak benar-benar diam juga, karena sesekali Nickhun-ssi membincangkan hal yang kurasa tidak ada hubungannya sama sekali dengan sesuatu-yang-membuatnya-membutuhkan-bantuanku. Bahkan hingga dia menghentikan mobilnya di suatu tempat pun, dia tidak juga mengatakan sesuatu-yang-membuatnya-membutuhkan-bantuanku itu.

“Kita sampai.” Gumamnya seraya melepaskan safety beltnya, kemudian turun dari dalam mobil. Aku pun melakukan hal yang sama.

Saat telah berada di luar, kuedarkan pandangan ke setiap penjuru tempat tempatku berada sekarang. Ini ‘kan taman gedung KBS. Untuk apa Nickhun-ssi membawaku ke sini?

“Nickhun-ssi, ini tempatnya?”

Nickhun-ssi mengangguk. Dia kemudian melambaikan tangannya mengisyaratkan padaku agar mengikutinya. Aku menurutinya dan berjalan di belakangnya. Setelah beberapa saat berjalan, tiba-tiba saja Nickhun-ssi berhenti. Aku hampir saja menabrak punggungnya jika tidak segera menghentikan langkahku juga.

“Aku melupakan sesuatu.” Katanya sambil berbalik. Aku mengernyit. Ada-ada saja (-___-). “Jikyung-ssi, kau tunggu di sini. Aku akan segera kembali.” katanya lagi sambil tersenyum bersalah(?).

“Oke.” anggukku menyanggupi. Dia kemudian berlari ke suatu arah, sementara aku mencari tempat untuk duduk sembari menunggunya.

Aku menghela napas sambil mendudukkan tubuhku di atas kursi yang kutemukan tak jauh dari tempat saat Nickhun-ssi meninggalkanku tadi. Kutelusuri pemandangan di sekitar taman yang asri dan tampak lebih ramai ini. Selain tidur, mungkin pemandangan musim panas seperti ini juga bisa jadi cocok untuk refreshing’ku.

Aku melepas sunglasses yang kukenakan dan meletakkannya begitu saja di sampingku, begitu pun dengan tas tanganku. Kemudian aku melakukan peregangan ringan dengan mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi.

Ngomong-ngomong, sebenarnya Nickhun-ssi ingin meminta bantuan apa dariku? Aku penasaran sekali sejak tadi.

“Jikyung?”

Aku sedikit terlonjak mendengar seseorang memanggilku. Orang itu berdiri beberapa meter di arah jam 2’ku. Dia mengenakan kaos putih yang dipadu dengan jeans hitam dan cardigan abu-abu, yang membuatku bisa melihat bentuk lengannya yang berotot. Topi, sunglasses dan masker menutupi bagian kepalanya, dan dia membawa dua buah kaleng softdrink di kedua tangannya.

Dia menghampiriku sambil melepas kacamatanya, dan baru aku tahu bahwa dia adalah Junsu oppa.

“Oh~ oppa. Annyeong!” sapaku riang.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya.

“Aku sedang menunggu Nickhun-ssi. Tadi kami bertemu di jalan, dan dia meminta bantuanku. Oppa sendiri?” tanyaku balik.

Junsu oppa malah menatap kedua minuman di tangannya, lalu beberapa saat kemudian mendengus, “Sudah kuduga. Kita dikerjai.”

“Ne?” tanyaku tak mengerti. Junsu oppa menyerahkan satu minumannya padaku, sementara aku mengernyit, “Ini untuk siapa? Kenapa diberikan padaku?”

Junsu oppa duduk di sampingku setelah sebelumnya membuka kaleng softdrink’nya, “Sudah kubilang, kita dikerjai. Aku yakin Nickhun tidak akan kembali ke sini, selama apapun kamu menunggunya, karena sejak awal dia bukan ingin meminta bantuanmu, tapi dia bermaksud mempertemukan kita di sini.”

Aku melongo, merasa dibodohi, “Jinjjayo?”

“Ne. Sebenarnya sejak tadi aku sudah curiga.” kekehnya yang kemudian meneguk minumannya.

“Aissh~ jinjja Nickhun-ssi!” desisku sebal. Pantas saja sejak tadi namja itu tidak mengatakan sesuatu-yang-membuatnya-membutuhkan-bantuanku. Ternyata ada udang dibalik pasir.

“Tapi sudah terlanjur.” Kata Junsu oppa tiba-tiba, saat aku tengah meminum minumanku.

Aku menolehnya dengan permukaan kaleng yang masih menempel di bibir, “Hm?”

Junsu oppa tersenyum, “Apa kamu… tidak sibuk?”

>>><<<

“Jikyung-ah!” Junsu oppa keluar dari ruang ganti dengan memakai hoodie cokelat yang tadi kupilihkan untuknya.

Aku memperhatikannya sebentar, lalu mengangguk puas, memberi tanda bahwa dia sangat cocok dengan hoodie itu. Saat ini kami sedang berada di sebuah mall, tepatnya di tempat penjualan pakaian.

“Sudah kubilang, tidak akan sia-sia mengajak seorang designer shopping.” selorohnya sambil tertawa kecil. Aku turut tertawa. “Haruskah kita beli untuk yang lain?” tanyanya sambil memperhatikan dirinya di cermin, “Oh! Kau juga!” tambahnya lagi.

“Aku? Ah, tidak. Aku sedang diet pakaian.”

“Hahaha~ ada-ada saja. Kajja, bantu aku lagi.”

“Aku kan memilihkan yang paling bagus untuk Chansung-ssi! Ayay! (>0<)”

“Ya!” Junsu oppa mengacak rambutku secara bercanda. Setelah itu, kami kembali hanyut dalam urusan pilih-memilih pakaian.

*

“Jikyung-ah!”

“Ne?”

“Kita belikan ini untuk yang lain. Sebagai bonus.” ujar Junsu oppa sambil membentangkan pakaian bayi di tangannya. Aku tidak bisa menahan tawa saat itu juga. Bayangan semua member 2PM yang memakai baju itu membuatku sangat geli. Apalagi saat membayangkan Chansung.

“Orang berimage ‘beast’ seperti kalian memakai pakaian bayi? Kwiyeoweo!” timpalku, masih dengan tertawa.

“Baby Beast!” ucap kami kemudian, secara bersamaan. Astaga, rasanya perutku keram karena terlalu lama tertawa. Jinjja. Kalau dekat dengan Junsu oppa dan member 2PM lainnya, aku jamin kalian akan terhindar dari yang namanya stress.

“Kajja, kajja. Sepertinya kita harus sedikit lebih cepat.” Junsu oppa melangkah melewatiku, dan saat itu pula aku merasa ada yang aneh di kakiku. Benar saja. Saat Junsu oppa melangkah untuk yang ketiga kalinya, entah kenapa kaki kananku tertarik dan membuatku kehilangan keseimbangan sehingga tubuhku hampir terjengkang(?) ke belakang.

“Oppa!” aku memekik kaget sembari segera meraih tangannya. Junsu oppa pun menahan punggungku yang sepertinya hampir mengenai lantai. Alhasil, kami dalam posisi yang sedikit ‘tidak enak’ sekarang.

Junsu oppa mematung, setidaknya begitu menurutku. Dan entah kenapa aku merasa was was kalau-kalau matanya mengarah padaku meskipun aku tidak bisa melihat itu karena matanya tertutupi sunglasses.

“Err~ oppa.” Akhirnya kuberanikan diri untuk mengingatkannya tentang posisi ‘kurang enak dilihat’ ini.

“Oh~ mi-mian.” Dia menegakkan tubuhku lagi sambil berdeham pelan. Kemudian kami sama-sama mengalihkan perhatian ke bawah, dimana kudapati tali sepatu kananku terikat dengan tali sepatu kirinya. Sejak kapan seperti ini? Jangan-jangan ada seseorang yang mengerjai kami?

Junsu oppa berdecak sambil berjongkok untuk melepas ikatan itu, sementara aku mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari orang yang patut dicurigai sebagai pelaku dalam peristiwa jahil(?) ini.

“Ya! Neo!” seru Junsu oppa tiba-tiba. Aku menatapnya kaget. Tapi sepertinya dia tidak sedang berseru padaku, karena telunjuknya mengarah pada sesuatu di bawah tempat baju bayi ini. Aku membungkuk mengikuti arah yang ditunjuknya, dan kemudian kudapati seorang balita perempuan tengah duduk di sana. Seketika saja terlintas dipikiranku bahwa dia adalah ‘seseorang yang patut dicurigai’ itu.

Baru saja aku membuka mulut hendak sedikit menegurnya, kembali kututup mulutku ketika menyadari mata gadis kecil itu sudah berkaca-kaca, “Oppa..” gumamku hati-hati. Dan benar dugaanku, beberapa detik kemudian dia menangis meraung-raung.

“Oppa! Kau membuatnya kaget.” Omelku sembari memukul pelan lengan Junsu oppa yang sedang menganga tak percaya.

“Eh? Apa suaraku sekeras itu? Aku tidak sengaja. Maaf. Maaf, adik manis..” dia mendekati tempat gadis kecil itu dan mencoba menghentikan tangisnya. Aku melihat sekeliling. Orang-orang mulai melihat kami dengan pandangan terganggu. Aissh~ eotteokhae?

“Uljima, uljima…”

“Aegi-ya, uljima. Illiwa, eonni rang katchi.. (kemari, ayo pergi dengan eonni)” kuulurkan kedua tanganku ke arah gadis kecil itu, menggendongnya dengan hati-hati, “Gwaenchana. Oppa tidak sengaja. Benar kan, oppa?”

“Oh~ ne.” Junsu oppa mendongak dan menghentikan sejenak kegiatannya mengikat… tali sepatuku?! O.o “Aigo oppa~ gomawo…”

Junsu oppa berdiri setelah selesai dengan tali sepatuku. Dia tersenyum lebar, “Aegi-ya, uljima. Lihat, aku bukan orang jahat.” Katanya pada gadis kecil di gendonganku yang masih menangis, tapi tidak sekeras tadi. Dia mengulurkan tangan mungilnya untuk melepas kacamata Junsu oppa.

“Oh, andwae, andwae. Hidup dan matiku tergantung pada sunglasses ini~”

Beberapa menit berlalu, dan anak ini sepertinya belum kenyang menangis. Ngomong-ngomong kemana orang tuanya?

“Ya, kau tahu 2PM? Hands up? Hands up yo!” ujar Junsu oppa dengan suara pelan, seraya mengangkat sebelah tangan, memperagakan gerakan trademark mereka dalam MV Hands Up. Anak ini langsung berhenti menangis.

“Kerja bagus, oppa.”

“Kau tahu Kim Junsu?”

Aku tertawa kecil.

“Ng~” gadis kecil ini mengangguk.

“Jinjjayo?!” ujar kami bersamaan, “Kim Junsu orang yang konyol, kan?” ujarku sekenanya.

“Ng~ ” anak tersebut mengangguk lagi, “Meosissoyo.. (he’s cool)”

Junsu oppa yang sempat cemberut dikatai konyol sekarang bertepuk tangan kecil, “Waa~ majyo! Benar! Keren sekali ‘kan?” katanya heboh sendiri, sementara aku menatapnya aneh.

“Ng~”

“High five, high five!” Junsu oppa mendekatkan telapak tangannya, dan disambut dengan innocent oleh gadis kecil ini. Junsu oppa tertawa dan mencubit kecil pipinya, “Aigoo~ kwiyeora!”

“Bisa saja yang dia maksud bukan Junsu yang ini.” Ujarku pelan, tapi Junsu oppa tidak menghiraukannya. (-___-)

“Siapa namamu?” tanyaku pelan pada gadis kecil ini.

“Yejin… iyeyo.” Jawabnya polos sembari memainkan jari-jarinya.

“Oh~ Yejin-ah. Apa yang kamu lakukan di sini? Dimana eomma’mu?”

“…” Yejin diam, anteng memainkan aksesoris di bajunya.

“Yejin-ah, kau masih berpikir aku keren, kan?”

Mwoya? (-__-)

“Yejin-ah, katakan sekali lagi.”

“…”

“Yejin-ah, bagaimana rasanya setelah berhasil mengerjai 2PM Kim Junsu?”

“Ya~ hahaha~”

“Ah, keurae! Kau sedang belajar membuat simpul ya, Yejin? Kalau begitu, Kim Junsu akan mengajarimu simpul yang lebih bagus, oke?”

“…”

“Arasso. Jadi kita dikalahkan oleh kancing baju, Jikyung-ah. High five!”

(End of POV)

>>><<<

(Junsu’s POV)

Lagu ‘You Belong With Me’ Taylor Swift mengalun dengan pelan dari music player di dashboard mobilku, dan baru saja selesai. Kini intro ‘Fox Rain’ dari Lee Sun Hee yang terdengar, tapi aku segera mematikannya saat kulihat Jikyung tertidur di kursinya.

Aku tertawa kecil dan kembali berkonsentrasi menyetir menuju ke rumah keluarganya yang hanya tinggal beberapa puluh meter lagi.

Aku menepikan mobilku di jalan di depan rumahnya. Kualihkan pandanganku padanya. Ah, dia kelihatan lelah. Aku jadi merasa bersalah membuatnya menemaniku jalan-jalan seharian ini.

Kuulurkan tanganku, bermaksud mengguncang bahunya untuk membuatnya bangun. Tapi kemudian kuurungkan niatku itu. Wajah tertidurnya terlalu sayang untuk dilewatkan.

Aku mematikan mesin mobil kemudian menopang kepalaku dengan tangan yang bertumpu pada kemudi. Dari posisiku ini, aku bisa dengan bebas memperhatikan wajahnya selama yang aku mau.

.

Aku akan menunggumu, Shin Jikyung. Aku pasti akan menunggumu menjawab pernyataanku kemarin. Meski ternyata jawabanmu bertolak belakang dengan apa yang kuharapkan, meskipun ternyata aku harus menelan pil pahitnya, aku sudah menyiapkan diri, dan hatiku. Kapan saja.

Namun aku tidak yakin perasaan ini akan hilang jika seandainya kau benar-benar mengatakan ‘tidak’. Aku sudah jatuh terlalu dalam. Sejak pertemuan pertama denganmu, aku yakin bahwa hatiku telah memilihmu. Ya, aku sudah lama menyimpan perasaan ini, kurasa. Dan aku tahu, aku terlalu pengecut karena baru mengatakannya padamu sekarang.

Tanganku bergerak menuju wajahnya, bahkan sebelum aku berpikir untuk melakukan itu. Aku menyingkirkan helaian rambut yang sedikit menutupi matanya dengan jariku. Lagi, kupandangi seluruh inchi wajahnya yang entah kenapa membuatku refleks menarik ujung-ujung bibirku. Entahlah, dia terlihat imut sekali kalau sedang tertidur.

Jantungku berdetak tak karuan ketika pandanganku terfokus pada bibir merahnya yang mungil. Tanpa sadar aku menelan ludah dengan gugup. Kucoba untuk mengalihkan pandanganku ke tempat lain, tapi beberapa detik kemudian kembali ke sana. Sempat terlintas pemikiran bodoh di benakku, tapi aku tahu bahwa aku bisa saja dikatakan gila jika benar-benar melakukannya.

Hufh~ kenapa udaranya tiba-tiba panas?

Lagi, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya. Yang kulakukan selanjutnya adalah melambaikan telapak tanganku di depan wajahnya.

Dia benar-benar tidur, kan? Dia tertidur dengan pulas, kan? Dia… tidak akan menyadarinya, kan?

“Hufhh~” aku menghela napas dalam, lagi, menelan ludah lagi, kemudian—tanpa bisa kucegah—kepalaku bergerak perlahan mendekati wajahnya. Sekarang aku hanya berharap dia tidak bangun dengan tiba-tiba.

Mianhae, Jikyung-ah.

Setelah beberapa kali memastikan Jikyung tidak terbangun—bahkan aku menahan napas saking takut dia terganggu—akhirnya bibirku menyentuh bibirnya. Dan bersamaan dengan itu, perasaan nyaman dengan cepat merayapi hatiku.

Ya, kau boleh mengatakan aku gila sekarang.

(End of POV)

>>><<<

To Be Continue

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

14 thoughts on “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Part 4”

  1. Woaaa first kiss (sepertinya) jukyung di rebut junsu :O
    Udaah onew oppa sama jibyung aja 😀 jibyungnya jangan galak2 lagi yaa hehe
    Gatau kenapa part ini romantis thor haha, ayo lanjuuuuuut!

  2. aigo jinki, d obati kek lukanya jibyung.. Itu kan gara2 kisseu mu bang ~,~ ini malah lari ke kmar mandi.

    Sweet, romantis thor part ini. Lucu jg wkt scene jinki sm jibyung yg d dapur dan waktu ada taemin.

    Jadi makin cinta sama jinyung couple *bikin istilah sendiri XD
    Part berikutnya di tunggu thorrr.. ^^

  3. Aha.. Aku suka momen junsu-jikyung..
    Momen jinki-jibyung so sweet.. Tpi jdi kacau gara2 jinki malah kabur ke kamar mandi stelah melukai(?) jibyung.. Hehe

  4. Mira-ssi, Jinki n Jikyung gk sadar kl Jonghyun masih disitu 😉 makanya agk heran pas baca dialognya ada Jonghyun, tp tiba-tiba udah ilang aja 😀 Mudah2an Jikyung jadian sama Junsu aja, jadi gk ada yg tersakiti 🙂 Ok. lanjuutt… 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s