The Rings – Part 2

The Rings

Author                        : Ima Shineewolrd (@bling0320)

Cast                 : Park Sun Yeon, Ahn Yun Hee, Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Lee Taemin

Genre              : Fantasy, Mystery (?), Angst, Romance, Friendship

Rating                         : PG-15

Length            : On Writing

[The Rings 2nd Part]

Sun Yeon melangkahkan kakinya memasuki koridor sekolah yang sudah ramai dengan murid-murid sekolah. Setelah Taemin pergi dari kamarnya tadi pagi, ia malah tertidur hingga pada akhirnya terlambat datang ke sekolah. Ia benci ketika harus melewati koridor yang dipenuhi para murid dan selalu memberinya tatapan aneh. Seolah ia adalah makhluk paling terasingkan di sekolah itu.

“Park Sun Yeon !” teriakan seorang laki-laki membuat langkah Sun Yeon terhenti. Gadis itu berbalik kemudian sedikit mendengus ketika menyadari laki-laki –bergigi kelinci itu yang memanggilnya.

“Kau tahu dimana ruang musik ?” tanya laki-laki itu setelah mensejajarkan langkahnya dengan Sun Yeon. Sun Yeon menggembungkan pipinya lalu mengendikkan bahu acuh.

“Aigo~, kau lucu sekali,”

Sun Yeon mengernyit saat mendengar ucapan Onew. Demi apapun yang ada dunia ini, baru kali ini ada seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata itu padanya. Dan ia hampir saja muntah mendengarnya.

“Kau gila ?” tanya Sun Yeon seraya menyeringai kecil.

“Tidak,” Onew hanya memamerkan senyumnya lalu kembali menatap ke depan, memperhatikan jalanan dan para murid yang tengah berjalan di koridor, “Aku harus kemana ?”

“Di depan belok kanan. Setiap ruangan ada keterangannya, jadi kau harus cari sendiri. Ada lagi ? Aku harus masuk kelas,” Sun Yeon menunjuk sebuah pintu yang berada tepat di sampingnya –kelas yang ia tempati dan menatap Onew sedikit jengah.

“Uh ? Ne, gomawo Sun Yeon-ah,” ujar laki-laki itu sebelum berlari meninggalkannya.

Sun Yeon menghela napas pendek kemudian masuk ke dalam kelas. Dan entah kenapa, tepat saat ia melangkah masuk, keadaan kelas yang riuh tiba-tiba saja menjadi hening. Ia berhenti sejenak seraya menatap seluruh pasang mata murid di kelas yang menatap ke arahnya. Apakah ia terlihat aneh karena datang kesiangan ?

Baru saja Sun Yeon kembali melangkah, ketika melihat seorang laki-laki tengah menelungkupkan kepalanya ke atas meja. Tanpa melepaskan pandangan dari laki-laki yang duduk tepat di hadapannya, ia menaruh tas ranselnya di atas meja. Ia sangat mengenali pemilik rambut pirang itu tentu saja.

“Taemin-ssi,” panggil Sun Yeon, mencoba membangunkan laki-laki itu. Tetapi Taemin masih tetap bergeming di tempatnya.

Sepertinya Taemin masih membutuhkan waktu untuk tidur. Sekitar pukul 3 pagi Taemin baru saja keluar dari kamarnya. Dan mungkin tidak tidur lagi karena menyiapkan kebutuhan untuk sekolah. Sun Yeon berpikir untuk tidak sekedar membelikan satu kardus susu pisang saja, ia akan membeli beberapa makanan ringan juga untuk Taemin. Laki-laki itu sudah banyak membantunya semalam.

“Park sonsangnim,” gumaman salah satu murid membuyarkan lamunan Sun Yeon. Gadis itu segera mengguncangkan bahu Taemin dengan sangat pelan, mencoba membangunkannya karena guru mereka sudah melangkah memasuki kelas. Ia memandangi seorang laki-laki lainnya yang duduk tepat di sebelah Taemin.

“Tolong bangunkan dia. Palli !” seru Sun Yeon dengan suara tertahan agar tidak terdengar Park sonsaengnim  yang sudah mengeluarkan alat-alat tulisnya.

Karena melihat Taemin tetap bergeming dengan memakai cara lembut, Sun Yeon akhirnya menendang kursi yang tengah diduduki Taemin sehingga sedikit terlonjak. Taemin tiba-tiba saja mengangkat kepala dan memandangi beberapa murid yang tengah tertawa kecil sambil melihat kearahnya. Ia menoleh ke belakang, menatap Sun Yeon yang terlihat biasa-biasa saja.

“Kumpulkan makalah kalian sekarang,” seru Park sonsaengnim seraya membetulkan letak kacamata besarnya.

Sun Yeon tersenyum simpul kemudian mengeluarkan setumpuk kertas yang sudah disusun dan diberi cover dengan rapi. Ia beranjak dari bangkunya untuk mengumpulkan makalah itu, namun terhenti ketika melihat Taemin sedang mengeluarkan seluruh isi tasnya keatas meja. Laki-laki itu terlihat panik dan mulai mengacak-acak seluruh buku yang dibawanya.

“Waeyo ?” tanya Sun Yeon heran. Taemin menoleh kemudian menggeleng pelan.

“Makalahku ketinggalan,” jawabnya polos.

Tatapan sedih Taemin membuat perasaan Sun Yeon tertohok. Ia menatap makalah yang berada di tangannya dengan nanar. Ia tidak sejahat itu untuk mengumpulkan makalah yang sudah dibuatkan Taemin untuknya. Jika sekarang ia mengumpulkannya, maka ia akan menjadi seorang yang sangat egois bukan ?

“Park Sun Yeon, Lee Taemin. Dimana makalah kalian ?” tanya Park sonsaengnim tiba-tiba. Sun Yeon kembali duduk di kursinya, memasukkan makalah itu kembali ke dalam tas lalu menggeleng.

“Kami berdua tidak membawanya, sonsaengnim,” tukas Sun Yeon.

Sun Yeon menghiraukan tatapan heran dari Taemin dan tetap menatap lurus kedua mata Park sonsaengnim. Ia membetulkan letak kacamata yang dipakainya untuk menghilangkan kecanggungan yang ada.

“Bersihkan ruang kerjaku sepulang sekolah nanti,”

***

Pengunjung di dalam café itu tampak lebih sepi dari biasanya. Suara dentingan bel yang memang sengaja ditaruh diatas pintu itu tiba-tiba saja berdenting, membuat seorang petugas kasir yang tengah duduk bersantai itupun terkesiap. Dengan cepat ia bangkit, kembali ke belakang mesin kasir –tempat dimana seharusnya ia berada.

“Oh, Yun Hee-ssi,”

“Kau melamun terus, eh ? Ck ck ck,” Yun Hee menggelengkan kepalanya kemudian melenggang masuk ke dalam ruang loker khusus para pekerja. Setelah mengganti baju yang dipakainya dengan baju pelayan, Yun Hee segera keluar dan menghampiri temannya yang masih berdiri di belakang mesin kasir.

“Kau bisa tidur di rumah sekarang, Eun Jung-ssi. Sekarang waktunya shift,

“Aah, jinjja ? Gomawo Yun Hee-ssi. Selamat bekerja,” gadis berambut pendek itu menepuk pundak Yun Hee sekilas sebelum masuk ke bagian dalam café.

Yun Hee merapikan bajunya sekali lagi lalu mengecek semua copy-an struk yang tergeletak di dekat mesin kasir itu. Sepertinya pengunjung café sangat sedikit sampai siang hari seperti itu, karena ia hanya menemukan beberapa lembar copy-an struk. Gadis itu segera menaruh kertas-kertas itu saat mendengar suara dentingan bel. Dengan senyum ramahnya ia membungkuk pada seorang laki-laki yang sudah berdiri tepat di depannya.

“Mau pesan apa ?” tanya Yun Hee ramah. Laki-laki itu menempatkan telunjuk di dagu, matanya menelusuri papan berisi jenis makanan dan minuman yang berada tepat di belakang meja kasir. Baiklah, harus diakui jika ekspresi laki-laki sangat lucu dan membuat sebuah senyum tipis terukir di bibir Yun Hee.

“Cheese cake dan cappucchino float,” jawab laki-laki itu akhirnya setelah terdiam cukup lama. Yun Hee memilih pesanan laki-laki itu di sebuah layar sentuh yang berada tepat di depannya.

“Silakan tunggu di meja, kami akan mengantarnya,” Yun Hee kembali tersenyum seraya membungkuk. Pandangannya terus tertuju pada laki-laki –yang tengah berjalan menuju sebuah meja itu.

Untuk beberapa saat, tatapannya masih tidak bisa lepas dari laki-laki itu. Kedua matanya yang sipit, kulit yang sangat putih, dan gigi depan yang seperti kelinci membuat laki-laki itu terlihat lebih lucu. Yun Hee segera menepuk-nepuk wajahnya sendiri saat menyadari sudah hampir selama 1 jam ia memandangi laki-laki itu.

“Namaku Lee Jinki,” suara seorang laki-laki membuat Yun Hee kembali mengangkat kepala. Ia tersenyum kikuk seraya mengusap ujung hidungnya, melihat laki-laki –yang terus dipandanginya sejak tadi sudah berdiri di hadapannya lagi.

“Ahn Yun Hee,” balasnya.

Onew tertawa renyah ketika melihat pipi gadis bernama Yun Hee itu berubah warna menjadi sedikit kemerahan. Ia sangat tahu Yun Hee selalu memandanginya daritadi. Ia jadi mempunyai alasan untuk mengetahui lebih jauh kandidat kedua pemegang cincin Erhys itu.

Tatapan Onew tertuju pada sudut café dimana Key tengah berdiri sekarang. Key sedang tidak menyamar menjadi manusia dan menatapnya dengan tajam, seolah siap menerkam saat itu juga. Onew kembali melemparkan senyumnya pada Yun Hee lalu mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar semua yang sudah dipesannya.

***

Sebuah taman di kota menjadi tempat perhentian Sun Yeon malam itu sebelum pulang ke asrama. Ia memijat kedua pundaknya yang terasa pegal setelah selama 3 jam membereskan ruangan Park sonsaengnim –yang lebih tepat disebut kapal pecah itu. Dan selama 3 jam itu pula ia tidak membuka mulutnya untuk berbicara dengan Taemin yang berada di dalam ruangan itu bersamanya.

Sun Yeon menghela napas panjang. Ia harusnya tidak bersikap dingin pada Taemin selama 3 jam bersama itu. Tapi jika boleh jujur, ia sendiri bingung ketika berhadapan hanya berdua saja bersama Taemin. Ia tidak tahu bagaimana membuka pembicaraan dengan laki-laki itu. Bahkan ketika mengerjakan makalah semalam pun, ia malah memerhatikan gerak-gerik jemari Taemin diatas keyboard laptop miliknya tanpa mengucapkan apapun.

“Aah, jinjja,” gumam Sun Yeon seraya mengacak rambutnya sendiri.

“Waeyo ?” suara Taemin membuat Sun Yeon mengentikan –kegiatan mengacak rambut itu. Ia menoleh dan sedikit tersedak ketika melihat Taemin berdiri didekat bangku tempatnya duduk.

“Kenapa kau bisa ada disini ?” tanya Sun Yeon, mencoba menyembunyikan rasa malunya.

“Ada yang harus kita bicarakan sepertinya,” jawab laki-laki itu kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Sun Yeon.

“Tentang susu pisang yang aku janjikan ? Tenang saja, besok pagi di depan pintu kamarmu sudah ada sekardus susu pisang, Taemin-ssi,” potong Sun Yeon seraya memutar bola matanya. Sudah bisa ditebak jika Taemin akan menagih janjinya semalam.

“Bukan itu,” Taemin menoleh ke arah Sun Yeon dan memerhatikan wajah gadis itu dari samping, namun sedetik kemudian tatapannya tertuju pada sebuah benda berkilauan yang melingkar di salah satu jemari Sun Yeon. Seketika juga apa yang ingin dikatakannya tadi buyar saat melihat hal itu, “Cincin itu ?”

Sun Yeon mengerutkan kening heran kemudian memandang sebuah cincin yang melingkar di jarinya, “Cincin ini ? Astaga, aku lupa harus mengembalikannya ke perpustakaan tadi,”

“Perpustakaan ?”

Sun Yeon kembali menghela napas sebelum bangkit dari kursi taman itu. Ia memandang Taemin yang masih saja menatap heran ke arahnya, “Aku mau pulang ke asrama,”

“Jinjja ? Ayo pulang bersama,” Taemin ikut bangkit dari kursi taman itu dan mensejajarkan langkahnya dengan Sun Yeon. Lagi-lagi keduanya hanya terdiam selama perjalanan pulang ke asrama. Sun Yeon masih tidak tahu bagaimana cara membuka pembicaraan dengan Taemin. Ia bahkan terlalu gugup untuk mengeluarkan sepatah katapun.

***

Onew sesekali memandang jam besar yang terletak di menara gerbang asrama Yeongdae. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan ia belum melihat Sun Yeon pulang. Rasa khawatir menyelimuti pikiran laki-laki itu mengingat Key juga mengincar Sun Yeon sebagai salah satu calon pemegang cincin Erhys. Ia tidak bisa membiarkan Key mengambil kesempatan lebih dulu darinya.

“Kau khawatir dengan Sun Yeon ?”

Baru saja ia memikirkan Key, laki-laki itu tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Onew memutar bola matanya kemudian melipat tangan di depan dada.

“Well, kau sudah mulai menyelidiki Ahn Yun Hee ?” tanya Key berbasa-basi. Bahkan tanpa perlu dijawab pun Key harusnya sudah tahu apa maksud Onew berkenalan dengan Yun Hee tadi siang.

“Kau bisa menebaknya sendiri,” jawab Onew acuh.

“Ah, sudah lama kita tidak mengobrol santai seperti ini. Bagaimana kabar dunia Swyden ?” tanya Key setelah berpindah tempat menjadi berdiri tepat sebelah Onew.

“Jauh lebih baik,” jawab Onew lalu bersandar pada dinding menara masih sambil melipat kedua tangannya. Key ikut bersandar pada dinding menara seraya tersenyum kecil.

“Sepertinya dunia Swyden semakin baik setelah kutinggalkan,” ucapan Key sontak membuat Onew menoleh. Onew menyeringai kecil kemudian malah terkekeh pelan.

“Tch, pengacau sepertimu memang lebih baik pergi dari dunia Swyden. Dunia Tyres cocok untuk seseorang yang selalu berpikiran picik dan pembohong sepertimu,” Onew bisa merasakan bagaimana aura hitam Key yang sudah mulai keluar saat itu. Ia tidak peduli jika memang harus bertengkar dengan Key sekarang.

“Menyedihkan,” balas Key –lebih pada dirinya sendiri. Ia melirik Onew kemudian berpindah tempat lagi menjadi tepat di hadapan laki-laki itu, “Aku pergi dulu,”

BRAK

Tepat setelah mengatakan itu tubuh Onew malah terpelanting ke depan. Membuatnya menabrak sebuah tong sampah –yang entah kenapa tiba-tiba saja berada disana. Onew hanya melihat sedikit asap hitam yang menandakan Key sudah pergi dan tersisa sebuah suara tawa khas milik laki-laki itu. Onew mengumpat pelan kemudian membenarkan posisi berdirinya.

“Apa yang kau lakukan ?” tanya sebuah suara wanita –membuat Onew berbalik ke belakang. Seulas senyuman kaku muncul di bibirnya ketika menyadari wanita itu adalah Sun Yeon.

“Olahraga malam,” jawaban bodoh Onew sontak membuat Taemin tersenyum simpul. Taemin menggeleng pelan lalu melirik Sun Yeon yang –memberikan reaksi lebih aneh. Gadis itu malah diam saja dan tidak menunjukkan ekspresi apapun.

“Onew-ssi, apa kau sakit ?” tanya Sun Yeon tiba-tiba diluar dugaan Taemin.

Ekspresi lebih bodoh yang ditunjukkan Onew membuat Taemin malah tertawa pelan, “Sun Yeon-ah, ayo kita masuk. Sebentar lagi batas jam malam,” ajaknya cepat.

Sun Yeon tidak menjawab dan lebih memilih berjalan duluan. Ia memandang Onew sekali lagi lalu berjalan memasuki gerbang. Taemin menghela napas sejenak kemudian mengikuti langkah Sun Yeon memasuki gerbang. Ia berbalik sekilas untuk melihat Onew yang masih berdiri di tempatnya semula, sesaat kemudian Taemin malah menggelengkan kepalanya tidak mengerti.

***

Malam ini Key kembali mengunjungi tempat tinggal Yun Hee. Laki-laki itu membawa sebuah kotak kecil di tangannya. Sebuah hadiah yang akan diberikannya pada Yun Hee, untuk mengucapkan terima kasih –dan juga melancarkan rencana lainnya agar gadis itu lebih mudah untuk diselidiki. Tidak butuh waktu lama untuk melihat pintu apartemen Yun Hee terbuka. Key bisa melihat ekspresi kaget di wajah pemilik apartemen itu ketika melihatnya.

“Selamat malam,” sapa Key ramah dengan sedikit membungkukkan badannya.

“Kau mengagetkanku, Kibum-ssi,” balas Yun Hee seraya melebarkan pintu apartemennya. Key hanya tersenyum kecil kemudian melangkah masuk ke dalam.

“Aku kira kau tidak akan datang lagi,” lanjutnya seraya sedikit merapikan bantal-bantal yang berada di sofa. Ia mempersilakan Key duduk, sementara dirinya sendiri beranjak ke dapur untuk menyiapkan minum.

“Kau orang pertama yang kutemui di Korea. Jadi kau menjadi temanku juga, Yun Hee-ssi,” jawab Key. Ia merebahkan punggungnya pada sandaran sofa dan matanya menelusuri setiap apartemen Yun Hee –lagi. Jika boleh jujur, Key sangat menyukai desain interior apartemen gadis itu. Sangat minimalis, tapi entah kenapa Key merasa sangat nyaman ketika memasukinya.

“Jinjja ? Kau tinggal dimana sebelum di Korea ?” tanya Yun Hee, menaruh dua gelas air putih dan sebuah toples berisi snack diatas meja. Ia duduk di bagian sofa lainnya –yang berbeda sofa dengan Key.

“Di Rusia. Ayahku seorang diplomat, jadi aku akan pindah Negara setiap dua tahun sekali,” Key meraih gelas berisi air putih di depannya lalu meneguk isinya sampai habis.

Selama beberapa saat keduanya hanya diam. Key mengusap tengkuknya kemudian berdehem pelan. Laki-laki itu merogoh saku bagian dalam mantelnya dan mengeluarkan kotak kecil yang sudah dipersiapkannya. Ia meletakkan kotak kecil berwarna merah itu diatas meja.

“Ini apa ?” tanya Yun Hee heran.

“Cincin persahabatan,” jawab Key seraya tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. Yun Hee mengernyit, namun sedetik kemudian malah tertawa.

“Kau bercanda ?”

“Ahni. Setiap teman pertama yang kutemui di sebuah Negara, mendapatkan cincin yang sama. Jadi kau mendapatkannya juga,” Key tersenyum kembali kemudian membuka kotak kecil itu. Mengambil cincin yang terbuat dari emas putih itu dan menyodorkannya ke hadapan Yun Hee.

“Kibum-ssi, tidak perlu repot-repot,”

“Ini perintah,” Key segera meraih lengan kiri Yun Hee. Sebelum memakaikan cincin itu, Key memperhatikan setiap lekukan jari-jari gadis itu. Terdapat salah satu jari yang sedikit berbeda ukuran dan sedikit berbeda warna dengan kulit normal yang berbentuk seperti cincin. Ia melingkarkan cincin itu disana, tanpa memedulikan bagaimana gugupnya Yun Hee saat itu.

“Kau pakai cincin juga ?” tanya Key seraya melepaskan lengan Yun Hee dari genggamannya. Gadis itu hanya mengangguk tanpa mau mengangkat kepalanya, “Mianhae. Kau bisa lepas cincin dariku,”

“Ahni, gwenchana. Aku tidak terlalu suka pakai cincin itu,” jawab Yun Hee, memperhatikan setiap lekukan cincin yang baru saja diberikan Key. Sederhana, namun ia sangat menyukainya.

Key ikut tersenyum melihat Yun Hee yang masih saja mengagumi cincin itu. Satu rencana sudah dijalankannya dengan baik. Hanya tinggal menunggu waktu sampai Yun Hee menceritakan semua tentang kehidupannya. Ia harus memastikan bahwa Yun Hee pemegang cincin Erhys yang asli.

***

Hari minggu adalah hari yang paling disukai Sun Yeon tentu saja. Tidak akan ada pelajaran-pelajaran yang membuatnya mengantuk. Sun Yeon tengah merapikan tempat tidurnya ketika mendengar suara dering ponsel miliknya yang diletakkan di atas meja belajar. Ia beranjak menuju meja belajar dan segera mengangkat telepon dari seseorang –yang nomornya tidak ada dalam kontak ponsel gadis itu.

“Yeoboseyo ?”

‘Sun Yeon-ah, ini Onew. Kau bisa membantuku ?’

Sun Yeon memutar bola matanya tidak suka, “Kalau mendesak, mungkin aku akan berpikir dua kali,”

‘Aku harus menggambar denah sekolah, kau bisa menemaniku berkeliling sekolah hari ini ?’

“Kenapa aku ? Ayolah, sekarang hari minggu. Aku tidak mau berurusan dengan sekolah,”

‘Aku akan traktir jjangmyeon yang ada di restoran dekat asrama,’

Sun Yeon merubah posisinya menjadi duduk di kursi meja belajar. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, tahu darimana laki-laki itu tentang makanan kesukaannya ? Bahkan restoran yang disukainya pun, Onew bisa tahu. Dan ia baru saja berpikiran untuk makan disana setelah menyelesaikan membersihkan kamar asrama hari itu.

“Baiklah. Tunggu aku di depan gerbang besar 10 menit lagi,”

Sun Yeon melempar ponselnya ke atas tempat tidur kemudian berjalan dengan malas menuju lemari di sudut kamarnya. Sebelum meraih baju yang berada di dalamnya, tatapan Sun Yeon tiba-tiba tertuju pada cincin yang masih setia bertengger di jari manisnya. Ia harus mengembalikan ke perpustakaan sekolah secepatnya.

***

Onew dengan sibuk menggambar sketsa dalam sketchbook miliknya setelah selesai berkeliling sekolah bersama Sun Yeon. Sekarang ia tengah duduk di sebuah kursi dekat perpustakaan sekolah sambil menunggu Sun Yeon yang masih berada di dalam perpustakaan. Onew mengangkat kepalanya ketika menyadari sesuatu. Ia menaruh sketchbook itu ke kursi kemudian dengan setengah berlari memasuki perpustakaan sekolah.

Masih dengan setengah berlari, Onew memeriksa setiap rak buku yang ada. Ia memberhentikan langkahnya ketika melihat Sun Yeon tengah membaca sebuah buku di rak paling sudut. Ia memperhatikan sekeliling lalu menghembuskan napas lega saat tidak melihat Key disana. Baru saja Onew melangkah mendekat, pandangannya tertuju pada cincin yang melingkar di jari Sun Yeon. Ia semakin mendekat ke arah gadis itu, berdiri di dekatnya dan memperhatikan cincin itu.

Sun Yeon yang menyadari tengah diperhatikan Onew, menurunkan buku yang tengah dibacanya. Ia menatap laki-laki di depannya dengan heran.

“Darimana kau dapat cincin itu ?” tanya Onew setengah tidak percaya.

“Aku menemukannya di perpustakaan dua hari yang lalu, waeyo ?” tanya Sun Yeon lagi.

Onew menggeleng pelan kemudian meraih lengan Sun Yeon, memperhatikan cincin itu sekali lagi sebelum menyadari sesuatu, “Cincin Erhys,”

“Mwo ?” tanya Sun Yeon, mendengar gumaman Onew yang lebih terdengar seperti sebuah bisikan.

“Kau bisa pulang sendirian ke asrama ? Aku ada urusan mendadak,” seru Onew sontak membuat Sun Yeon mengerutkan keningnya.

“Keurae. Kau bisa pergi,” balas Sun Yeon acuh seraya mengangkat kembali bukunya.

“Ini sangat penting. Maaf Sun Yeon-ah,” Onew melepaskan lengan Sun Yeon kemudian berlari meninggalkan gadis itu. Cincin Erhys. Akhirnya, ia bisa menemukannya dengan semudah itu. Lebih cepat dari waktu yang ditentukan sebelum dunia Swyden benar-benar hancur.

***

Onew menatap pemimpin Dunia Swyden yang tengah duduk di hadapannya itu dengan nanar. Tidak mengerti dengan apa yang baru saja dijelaskan oleh laki-laki itu. Ia sangat menyesal sekarang karena telah pergi dari rapat besar kemarin. Masih banyak yang belum diketahuinya tentang cincin Erhys.

“Cincin Erhys yang asli memang hanya ada satu di bumi. Tapi kau harus mencarinya diantara beberapa cincin Erhys imitasi. Hanya keturunan asli dunia Swyden atau dunia Tyres yang mempunyai cincin asli itu,” jelasnya. Onew mengangguk pelan, namun masih tetap memikirkan semua ucapan pemimpinnya itu.

“Dan terakhir. Kau harus menjaga Sun Yeon,” tambahnya, “Entah kenapa aku mempunyai firasat dia pemilik cincin Erhys yang asli,”

“Tapi, dia tidak mempunyai cincin itu sejak awal. Dia menemukan cincin Erhys di perpustakaan, bukannya dia harus keturunan dunia Swyden atau Tyres ?” tanya Onew masih tidak mengerti.

“Aku sudah pernah bilang bukan ? Cincin Erhys memilih pemiliknya sendiri. Dan mungkin Sun Yeon masuk dalam keturunan dunia Swyden atau mungkin Tyres, karena itu ia bisa menemukan cincin Erhys secara tidak sengaja. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi,” sang pemimpin dunia Swyden itu bersandar pada kursi besar singgasananya. Ia menatap Onew meyakinkan.

“Tentang Yun Hee. Key terus mengikutinya sekarang. Dunia Tyres lebih dominan pada Yun Hee, karena dia sudah memiliki cincin Erhys sejak kecil,” balas Onew seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Sebenarnya masih ada beberapa nama lagi yang harus diselidiki. Tapi aku merasa, sedikit kemungkinannya untuk laki-laki sebagai pemilik cincin Erhys,”

“Sebutkan saja namanya. Aku akan mulai menyelidiki mereka,” Onew menegakkan duduknya, merasa tertarik dengan misi selanjutnya.

Pemimpin dunia Swyden itu memeriksa setiap kertas di tangannya, “Thunder Park, Max, Marcus Cho . .,” laki-laki paruh baya itu membolak-balik kertas di tangannya, merasa heran karena sepertinya ada kertas yang tertinggal. Sedetik kemudian ia menghela napas ketika melihat kertas yang dicarinya terselip disana, “Dan terakhir, Lee Taemin,”

“Lee Taemin ? Kau yakin ?” tanya Onew setengah tidak percaya.

“Ya. Kuharap kau bisa mendapatkan cincin itu. Waktunya semakin menipis,”

Onew menghela napas kemudian ikut beranjak dari sana, meninggalkan pemimpin Dunia Swyden itu di dalam ruang pertemuan. Ia berjalan dengan gontai menelusuri lorong gedung pertemuan itu. Namun langkahnya itu terhenti ketika melihat Lucille tengah duduk di sebuah kursi. Ia menghampiri gadis itu kemudian ikut duduk di sebelahnya.

“Oh, Chase Lee ?” tanya Lucille setengah tidak percaya. Onew tersenyum lembut lalu menyandarkan kepalanya pada bahu gadis itu.

“Sudah lama kau tidak memanggilku seperti itu,” jawab Onew dengan nada manja. Lucille terkekeh pelan seraya mengacak rambut Onew.

“Kau lelah, eh ?” tanya Lucille lagi. Onew mengangguk lemah, ia meraih tangan kekasihnya dan menggenggamnya erat.

“Kau percaya padaku ‘kan ?” tanya laki-laki itu, mengangkat kepalanya dan menatap kedua mata bening Lucille. Gadis itu balas menatap Onew lalu tersenyum simpul.

“Aku percaya kau bisa menemukan cincin Erhys dan menyelamatkan dunia Swyden,”

Onew mengangguk pelan dan ikut tersenyum ketika melihat senyuman lebar yang langsung membuat semangatnya kembali naik. Ia menarik Lucille ke dalam pelukannya seraya mengusap pelan rambut gadis itu. Ia hanya ingin menghabiskan waktu seharian ini bersama kekasihnya. Hanya sebelum ia benar-benar sibuk di bumi.

***

Walaupun sudah melewati tengah malam, Sun Yeon masih tetap berkutat dengan sketchbook miliknya. Ia masih menggambar tentang semua yang berada di dalam pikirannya sekarang. Jika ia menunda sampai esok pagi, bayangan itu akan hilang dan ia tidak bisa menggambar lagi. Ketika merasa mengantuk, Sun Yeon akan beranjak ke kamar mandi dan mencuci muka. Atau bahkan membuat segelas besar kopi.

Setelah selesai, Sun Yeon menyandarkan punggungnya pada kursi, ia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Mencoba menghilangkan rasa pegal karena sudah selama 2 jam berada dalam posisi menunduk. Ia menatap gambar yang baru saja dibuatnya dengan senyuman puas. Seluruh hal yang ada dalam pikirannya benar-benar tertuang disana.

“Aaah, jinjja. Sepertinya aku butuh udara segar,”

Sun Yeon meletakkan sketchbook itu kembali ke atas meja belajar. Ia bangkit dari kursi kemudian berjalan menuju lemari untuk mengambil sebuah jaket tebal . Gadis itu segera bergegas keluar kamar setelah memastikan udara dingin tidak bisa menembus kulitnya. Ia berjalan menelusuri lorong gedung asrama wanita itu.

Dan pada akhirnya Sun Yeon akan memilih atap gedung asrama sebagai tempatnya mencari udara segar. Ia melangkah dengan hati-hati melewati pijakan yang sudah ditumbuhi lumut. Seulas senyum muncul di bibir gadis itu ketika mencapai tepi gedung. Ia bisa merasakan terpaan angin musim gugur yang menerpa tubuhnya.

“Kau disini ?” suara seorang laki-laki yang sudah sangat dikenalnya itu membuat Sun Yeon menoleh. Ia mendapati Taemin tengah berjalan mendekat ke arahnya dengan sebuah senyuman lebar.

“Kau belum tidur ?” tanya Sun Yeon seraya memalingkan wajahnya ke depan. Taemin malah terkekeh pelan lalu berdiri tepat di sebelah gadis itu.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kau bisa berdiri sendirian di atap gedung. Ini sudah larut malam menjelang pagi, Sun Yeon-ah,” jawab Taemin. Sun Yeon menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Membuat Taemin malah mengerutkan kening heran, melihat tingkah gadis di depannya itu.

“Mencari udara segar. Aku baru selesai menggambar,” jawab Sun Yeon singkat.

Selama beberapa saat keduanya hanya terdiam. Taemin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sementara Sun Yeon masih tetap meregangkan tangan dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tiba-tiba Taemin teringat sesuatu. Ia harusnya menanyakan hal itu pada Sun Yeon kemarin malam, tapi ia malah lupa karena melihat cincin yang dipakai gadis itu. Taemin berdehem dengan cukup keras, membuyarkan kegiatan Sun Yeon saat itu.

“Kenapa kau seperti ini ?” tanya Taemin tiba-tiba. Sun Yeon menurunkan kedua tangannya, ia menoleh dan menatap Taemin heran.

“Maksudmu ?” tanya Sun Yeon lagi.

“Pendiam, anti-social, dan tidak pernah semangat belajar,” jelas Taemin seraya bersandar pada tembok tepian atap. Dalam posisi seperti itu ia bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah Sun Yeon yang tiba-tiba berubah menjadi sedih.

Sun Yeon memejamkan matanya sejenak. Ia tidak bisa menceritakan begitu saja seluruh kehidupannya pada orang lain. Namun Taemin bukan orang lain untuknya. Jika ia merespon ajakan pertemanan Taemin sejak dulu, mungkin mereka sudah bersahabat sekarang. Atau mungkin lebih dari itu.

“Park Sun Yeon ?” suara Taemin kembali membuyarkan lamunan Sun Yeon. Gadis itu menghela napas sejenak kemudian menatap lurus ke depan tanpa mau menatap Taemin. Mungkin dengan bercerita, rasa sakit di dadanya akan sedikit menghilang.

“Sejak perusahaan ayahku bangkrut, ia menjadi ringan tangan. Saat aku atau eomma membuat kesalahan sedikit pun, ia akan memarahi dan memukul kami. Selama bertahun-tahun appa seperti itu, ditambah sering mabuk-mabukan dan membawa pela*ur ke rumah,” Sun Yeon menarik napas sejenak saat merasakan dadanya menjadi sesak ketika mengingat seluruh kejadian pahit itu. Salah satu alasan kenapa ia sangat membenci laki-laki.

“Eomma sering menangis dan hampir saja bunuh diri kalau aku tidak mencegahnya. Beberapa bulan kemudian appa menikah lagi dengan wanita lain kemudian meninggalkan kami –eomma dan aku. Saat itu aku masih berumur 12 tahun, tidak mengerti apa-apa dan hanya bisa menangis juga ketika melihat eomma menangis,” lagi-lagi Sun Yeon terdiam. Ia menyeka kedua matanya yang mulai berair. Taemin masih tetap menatapnya seolah ingin tahu lebih banyak.

“Yang membuatku semakin terpukul, setahun kemudian eomma masuk rumah sakit jiwa karena depresi berat yang dideritanya. Sejak saat itu aku mengurangi sosialisasi dengan orang banyak. Aku merasa tidak pantas berada diantara orang-orang itu, yang memiliki keluarga utuh dan hidup bahagia. Ah, sudahlah. Kita tidak perlu membahas ini,” potong Sun Yeon seraya mengerjapkan kedua matanya, mencoba menghilangkan air mata yang sudah mendesak keluar dari sana.

Entah kenapa Taemin merasa beruntung ketika bisa mendengar seluruh kisah hidup Sun Yeon untuk yang pertama kalinya. Hidup Sun Yeon sangat membuat hatinya tersentuh. Taemin harusnya bersyukur masih bisa hidup bersama kedua orangtua dan kakaknya. Walaupun sekarang ia masuk asrama, ayah, ibu, serta kakak laki-lakinya masih mengunjunginya di asrama.

“Kau pasti mengasihaniku sekarang, cish~,” gerutu Sun Yeon.

“Ibumu, sekarang dia dimana ?” tanya Taemin lagi, tidak memedulikan ucapan Sun Yeon sebelumnya.

“Masih di rumah sakit jiwa. Selama 6 tahun disana tetap tidak bisa menyembuhkan depresinya,” jawabnya. Sun Yeon mengangkat kedua tangannya ke atas, sedikit menggeliatkan tubuhnya lalu menguap.

“Gomawo,” ucap Taemin tiba-tiba.

Sun Yeon menoleh ke arah laki-laki itu seraya menaikkan sebelah alisnya, “Untuk ?”

“Karena kau sudah menceritakan semuanya. Kita bisa berteman sekarang ?” Taemin menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan gadis itu. Butuh beberapa saat sebelum Sun Yeon mengangkat tangannya dan saling menautkan jari kelingking.

“Jangan pernah memendamnya sendirian. Masih banyak orang yang mau mendengarkan ceritamu, arachi ?”

“Gomawo Taemin-ssi,” jawab Sun Yeon seraya melepaskan tautan kelingking itu.

“-ssi ? Kita sudah berteman sekarang,” protes Taemin, mendengar embel-embel –ssi yang menadakan panggilan formal untuknya.

“Baiklah. Taemin-ah,” balas Sun Yeon masih tidak merubah nada dinginnya. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian memekik pelan, “Aku harus kembali ke kamar sekarang. Ibu penjaga asrama akan memulai patrolinya,”

“Patroli ? Sejak kapan ?”

“Sejak ada laporan tentang penyelinap yang masuk di jam lewat tengah malam. Sudah banyak saksi yang melihatnya. Ah, kenapa kita malah mengobrol lagi ? Aku harus pergi sekarang. Annyeong,” Sun Yeon segera berbalik dan dengan setengah berlari memasuki pintu menuju tangga darurat untuk turun ke lantai bawah.

Taemin menggeleng pelan melihat tingkah gadis itu. Setidaknya ia sudah selangkah lebih maju untuk membuat Sun Yeon percaya padanya. Ia akan membantu Sun Yeon untuk menghapus luka di masa lalunya dan kembali tersenyum. Rasanya sudah lama ia tidak melihat bibir itu tertarik membentuk seulas senyum yang tulus. Dan ia akan merasa sangat bahagia ketika bisa melihat senyum tulus Sun Yeon yang pertama kalinya.

[The Rings Continued]

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

12 thoughts on “The Rings – Part 2”

  1. ternyata berhubungan semuanya ya dgn cincin itu.. bhkn taemin jg..
    jgn2 authornya jg nih.. hahaha ya iy lah kan dy yg bikin ff ini..nyehehehe

    ditunggu next partnya

  2. akhrny kluar jg part2 ny
    onew vs key sp yg bkal dluan nemuin cicin ny?
    penasaran author tuk part brktny
    jgn lama2 y 😀

  3. Jadi Semuanya bermuara pada cincin didunia Onew dan dunia Key?? Aigoooo,, kenapa Key jadi antagonis gitu,,, bayangin dia disini kayak jama RDD dg sayap hitamnya itu … Pasti kerennn!!

    Aku berharap konfliknya bakal seru.. Antara sun yoen-Taemin-Onew-Key-Yunhee dan kekasih Onew…

    Penasaran sama lanjutannya!!! Ditunggu nehhh…… 😀

  4. Whuat??? Max, Thunder, Marcus… HIYAHHHHH!~~~~~~~~ *mata blink blink blink* #PLAKKKKKKKKKK

    Eii…. ternyata dunia sempit yah???? #plakkkk kok firasatku ada sama Taemin yah??? *garuk-garuk leher* Yun Hee… Sun Yeon…. arghhh~~~ *frustasi*
    aku penasaran sama cincin yg Key kasih ke Yun Hee…. itu cincin apaan yakk??? Terus, jangan-jangan yg dipake Yun Hee itu Cincin Erhys yah??? entah deh kalo asli ato imitasi… #plakkk

    maap thor kalo aku banyak nanya huahahaha XDDD
    AYOOO LANJUTAAANYAAA XDD

  5. astaga…
    ni efef uda lama bgt kutungguin!!
    akhirnya keluar juga!!
    suka!!

    udah mulai keliatan jalan ceritanya…
    kayaknya bakal tambah seru ni,
    apalagi taemin kayaknya punya rahasia tersendri(?)..
    huwa~~
    ngga sabar ingin baca lanjutanny~~
    jgn lama-lama y!!
    *maksa
    ehehehe

Leave a Reply to reenepott Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s