The Name I Loved

Author               : Amy Kamilia

Main Cast          : Im Minjee, a.k.a Nida Fadhilah and Lee Taemin (SHINee)

Support Cast     :  Im Yoona (SNSD)

Length               : Oneshoot

Genre                : Romance, Friendship

Rating               : PG-13

Description   : Dia pergi .. semakin lama semakin jauh .. semakin lama semakin tak terjangkau .. dan akhirnya menghilang ..

The Name I loved

Hanya dapat melihatnya dari jauh. Senyuman itu. Tatapan mata itu dan suara itu. Entah sejak kapan yeoja berkacamata merah itu menyimpan rasa yang lebih terhadap teman sekelasnya yang sedang bersandar pada dinding kelasnya dengan kedua telinga yang sibuk mendengarkan musik. Sesekali tangannya bergerak – gerak seirama dengan musik yang sedang didengarnya. Yah, dia memang seorang dancer handal. Tak heran bila ia diangkat menjadi ketua club dance di sekolahnya. Dan berkat itu pula, banyak yeoja yang mengaguminya termasuk yeoja berkacamata merah itu.

“Taemin! Ini nilai ulangan kimiamu. Kuping! Hahahahaha ..” tawa teman sebangku namja itu seraya memberikan kertas ulangannya.

“Tidak usah teriak – teriak bisa’kan?” Taemin melepas earphone-nya dan menyambar kertas ulangannya. “Sial! 3 lagi!” gerutu Taemin kesal. Tiba – tiba saja matanya menangkap seeorang yang diam – diam sedang mengamatinya dari jauh.

DEG! Akhirnya kedua mata itu bertemu. Perlu beberapa detik untuk memulihkan kesadarannya, yeoja berkacamata merah itu segera memalingkan wajahnya. Berpura – pura menatap kertas ulangan kimianya. Tertangkap basah! Oh tidak! Jika seperti ini terus, rahasianya akan terbongkar!

Ya! Rambut jamur!” yeoja berkacamata merah itu memberanikan diri untuk memanggil namja yang berhasil membuatnya mengeluarkan keringat dingin. “Lee Taemin! Berapa nilai ulanganmu? Huh?”

“Berhentilah memanggilku dengan sebutan rambut jamur, Im Minjee! Lagi pula rambutku kini tidak seperti jamur lagi.” Taemin berjalan menghampiri Minjee dan duduk pada kursi kosong disamping Minjee. “Oh, jadi kau mau menyombongkan nilai ulangan kimiamu yang bernilai 9 itu, padaku?” ledek Taemin.

“Eh? Bukan begitu maksudku, tapi .. .. ..” Minjee menghentikan perkataannya ketika melihat Taemin bersikap acuh padanya. “Mian ..” ucap Minjee pelan bahkan hampir terdengar seperti bisikkan.

“Sebagai gantinya, kau harus mengajariku setiap pagi sebelum bel sekolah berbunyi, arraseo?” Belum sempat Minjee berbicara, Taemin langsung mengambil alih lagi. “Baiklah, jika kau tidak mau. Musuh!” sentak Taemin sambil beranjak dari tempat duduknya.

Arra arra arra ..” Minjee segera mengeluarkan suaranya sebelum semuanya semakin kacau. “Aku akan mengajarimu.”

Jinjja? Gomawo Minjee hhe .. Kau memang teman yang baik. Soal musuh itu, aku hanya bercanda.” Tangan Taemin menggapai puncak kepala Minjee kemudian mengacak – ngacak rambutnya lembut. “Sampai bertemu besok pagi.” Taemin melambaikan tangannya disertai dengan senyuman itu. Senyuman yang sangat disukai Minjee.

Begitulah kedekatan mereka berdua. Sebagai teman sekelas. Sebagai rival dalam nilai ulangan. Sebagai teman untuk mengejek satu sama lain. Walaupun lebih sering terjadi adu mulut bila mereka bersama, tapi Minjee tidak mempermasalahkannya. Karena semua keributan mereka berdua akan diakhiri dengan salah satu yang mengaku kalah dan sebagai balasannya akan dibelikan es krim. Buktinya saja hari ini, berkat adu mulut mereka hari ini, Minjee akan semakin sering bersama Taemin di pagi hari. Ya ampun! Di pagi hari yang sepi hanya berdua dengan Taemin? Dengan sendirinya senyuman itu berkembang diwajah Minjee. Ia tak bisa membayangkan hari – harinya yang ia lewati di pagi hari bersama Taemin. Entahlah Minjee harus bagaminan meluapkan kegembiraan dalam dirinya, yang jelas sesuatu di dalam dirinya melompat – lompat kegirangan.

Suatu hari di kelas pagi yang sepi ..

“Jadi pada saat malam tahun baru, logam – logam alkali ini akan kita gunakan untuk pesta kembang api. Dengan Litium berwarna merah, Natrium berwarna kuning, Kalium berwarna ungu, Rubidium berwar .. .. ..” Minjee menghembuskan napasnya kesal dan Tak! Sebuah jitakkan berhasil mendarat di atas kepala Taemin. “YA! LEE TAEMIN! KAU MENDENGARKANKU TIDAK?”

“Tenang saja aku mendengarkanmu ..” ringis Taemin kesakitan dengan tangan yang mengusap – ngusap kelapanya. “Oh ya, kita akhiri saja pelajaran hari ini. Aku bosan mendengarmu bicara terus.”

“Baguslah .. Daripada aku harus berbicara hingga mulutku berbusa tapi kau tidak mendengarkannya. Buat apa? Buang – buang tenaga saja.” Cibir Minjee. Minjee mengambil earphone di dalam tasnya kemudian mendengarkan musik dalam diam. Jujur! Minjee tak tahu apa yang harus ia lakukan jika sudah berduaan dengan Taemin. Karena mereka berdua biasanya hanya membicarakan masalah pelajaran saja. Tidak pernah membicarakan hal lain.

“Baiklah. Sekarang giliranku yang bicara.” Diluar dugaan Taemin melepas earphone Minjee dan mematikan musiknya. “Kau mau mendengarkanku bukan?” Minjee menganggukkan kepalanya pelan. Melihat itu Taemin langsung mengeluarkan senyuman terbaiknya. Senyuman yang mampu membuat tubuh Minjee membeku seperti es. “Aku ingin bertanya padamu. Apa yang kau sukai?”

“Huh? Aku suka es krim.”

“Aku juga tahu kalau itu. Maksudku, jika ada seorang namja yang menyatakan perasaannya padamu, apa yang kau harapkan dari namja itu?” Taemin terdiam. Ia terlihat seperti sedang berpikir. “Hmm .. bagaimana menjelaskannya ya? Aku jadi bingung sendiri.” ucap Taemin sambil menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Apa maksudmu, kau ingin menyatakan perasaanmu pada orang yang kau sukai tapi kau tidak tahu apa yang akan kau katakan padanya, dan apa yang ia sukai untuk dibawa pada saat kau menyatakan perasaanmu itu?” Minjee mencoba membaca pikiran Taemin.

Ne! Tepat sekali hhe .. Bagaimana menurutmu?” tanya Taemin.

“Entahlah .. Aku tak tahu.” Minjee mengangkat kedua bahunya. “Kau tahu, sebenarnya kau tidak perlu membawa hadiah apapun untuknya. Cukup membawa perasaanmu yang tulus menyanyanginya sepenuh hatimu.” Tanpa sadar kata – kata itu meluncur begitu saja dari mulut Minjee. Minjee cepat – cepat kembali pada pikiran jernihnya sebelum kata – kata aneh kembali meluncur dari mulutnya. “Hmm .. kalau soal apa yang akan kau katakan aku tidak tahu. Yang aku tahu itu unsur alkali, unsur alkali tanah hahahahahahaha ..” Minjee tertawa dengan tawa yang terdengar hambar namun anehnya Taemin pun ikut tertawa bersamanya.

“Kau benar juga. Gomawo Minjee. Nah sekarang kau tinggal mendo’akanku semoga saja ia mau menerimaku.” Minjee membalasnya hanya dengan anggukkan kepalanya. “Aku langsung menyukainya saat pertama kali bertemu dengannya. Entahlah, apa yang membuatku menyukainya tapi yang jelas ia berbeda .. .. .. ..”

Taemin menceritakan saat pertama kali mereka berdua bertemu. Saat itu Taemin sedang menunjukkan kebolehannya dalam bermain piano di sebuah pertunjukkan sanggar musik. Seperti biasa menampilannya berhasil memukau para penonton yang menontonnya. Kemudian yeoja itu datang menjadi penutup dari acara itu. Permainannya tak kalah memukaunya dari Taemin. Lembut, sangat menyentuh bahkan Taemin pun begitu menikmati setiap nada yang terdengar di telinganya. Dan itulah yang membuat Taemin jatuh cinta padanya. Dan masih banyak lagi yang Taemin ceritakan pada Minjee.

Minjee tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya mendengarkan cerita Taemin dalam diam. Sesekali ia ikut tertawa bersamanya walaupun sebenarnya hatinya tidak menginginkan hal itu. Bagaimana bisa ia tertawa lepas mendengarkan cerita dari seorang namja yang menyita perhatiannya selama ini, bercerita tentang yeoja yang disukainya? Entahlah, Minjee hanya bisa berharap bel sekolah berbunyi agar perbincangan ini cepat berakhir ..

Menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidurnya yang empuk. Mengistirahatkan pikirannya yang lelah karena tak henti – hentinya memutar kejadian yang terjadi pagi ini. Yah, hari ini pikiran Minjee benar – benar kacau. Tak ada satu pun materi pelajaran yang berhasil diserap oleh otaknya. Melamun. Melamun memikirkan apa yang akan terjadi setalah ini. Apa ia harus menjaga jarak? Ataukah ia akan tetap bertahan? Menjaga jarak untuk membanahi hatinya dalam menerima kenyataan ataukah bertahan membiarkan hatinya hancur berkeping – keping? Ia tak tahu. Sungguh tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Tiba – tiba saja bayangan itu kembali muncul. Bayangan saat Minjee bertemu dengan Taemin ketika ia pertama kali menjejakkan kaki di sekolahnya. Lucu! Itulah satu kata yang dilontarkan Minjee ketika ia bertemu Taemin. Entahlah, mukanya seperti bayi yang sangat menggemaskan. Baginya Taemin itu pangeran berkuda putih tapi masih menggunakan popok. Satu lagi, senyumannya seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan sebatang coklat atau es krim. Namun Minjee menemukan sisi lain dari seorang Taemin. Ketika ia diam – diam melihat Taemin sedang berlatih dance dan bermain piano, image lucu itu berubah seketika. Sungguh ia terlihat sangat tampan! Tapi hanya pada saat itu saja. Taemin seorang pekerja keras maka, tidak jika kini ia menjadi ketua club dance. Bagi Minjee, sejak pertama kali bertemu hingga saat ini, Taemin tetap sama. Seperti anak kecil, walaupun kini sedang beranjak dewasa.

Air mata itu kembali mengalir dari sudut matanya. Minjee segera bangkit, mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menyeka air matanya dengan punggung tangannya namun hasilnya air mata itu terus mengalir tiada henti. Memeluk kedua kakinya dengan membenamkan wajahnya diantara kedua kakinya. Kedua bahunya berguncang keras tak bisa menahan isak tangisnya. Tak lama kemudian ia merasakan sentuhan lembut di kedua bahunya dan merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan yang hangat. Tangisannya tak tertahan lagi. Ia menangis sepuasnya. Mengeluarkan semua kesedihan yang ia rasakan. Dirinya merasa lemah tak berdaya.

“Dia pergi .. semakin lama semakin jauh .. semakin lama semakin tak terjangkau .. dan akhirnya menghilang ..” ucap Minjee disela isak tangisnya.

Orang itu melepas pelukkannya dan menatap adik semata wayangnya. Sungguh ini baru pertama kali terjadi pada adik kesayangannya Segera ia menyeka air mata itu. Air mata yang memenuhi wajah Minjee.

“Jadi si rambut jamur itu yang membuatmu seperti ini? Awas saja akan aku buat kepalanya botak mengkilat jika bertemu di sekolahmu nanti.” Acam Yoona sang kakak. Mau tak mau ucapan itu berhasil membuat Minjee tersenyum.

Gomawo eonni, tapi eonni tidak perlu melakukannya.”

Arraseo, jika itu maumu. Hey, uljima ..” Yoona kembali menyeka air mata yang mengalir dipipi Minjee. “Cengeng sekali dongsaeng-ku ini. Bukankah eonni pernah mengatakan padamu? Jika kau memberanikan diri untuk jatuh cinta, maka kau pun harus siap menerima sakit yang akan kau rasakan bila cinta itu pada akhirnya tidak terbalas. Kau masih ingat?” Minjee mengganggukkan kepalanya. Yah, Minjee memang selalu bercerita pada eonni­-nya tentang perasaannya selama ini. “Lalu mengapa kau menangis? Huh?” terdengar suara Yoona meninggi.

Mianhae eonni .. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang eonni? Apa aku harus menjauh dan melupakannya?” tanya Minjee.

“Kalau eonni boleh memberi saran padamu. Jalanilah seperti biasanya. Jangan kau menjauh darinya karena itu hanya akan membuatnya sedih. Kau tidak mau membuatnya sedih bukan?” lagi – lagi Minjee mengangguk. “Dan jangan melupakannya.” Ucap Yoona.

Waeyo? Mengingatnya hanya akan membuatku semakin terluka.”

“Karena kau tidak akan bisa melupakannya. Sekeras apapun, sekuat apapun kau mencoba untuk melupakannya, maka semakin sulit untukmu melupakannya.” Yoona menggenggam kedua bahu Minjee dan memandangnya lekat – lekat. “Yang kau bisa hanya membuang perasaan itu. Seiring dengan berjalannya waktu kau akan bisa membuang perasaan itu.”

“Oh ya, satu lagi.” Lanjut Yoona. “Jangan pernah melupakannya karena ia yang telah membuat hidupmu semakin berwarna. Berkat dirinya kau bisa merasakan indahnya mencintai seseorang, yang membuat jantungmu berdetak tidak karuan, yang membuatmu tersenyum sepanjang hari saat kau memikirkannya. Dan tak lupa, berkat dirinya pula, kau juga bisa merasakan sedihnya, sakitnya kehilangan orang yang kau cintai.”

Udara malam yang dingin menerpa tubuhnya. Minjee berjalan menyusuri jalan setapak menuju supermarket terdekat. Ia tak mengerti mengapa eonni-nya menyuruh membeli cemilan untuknya sendiri.

“Mengapa tidak eonni saja yang membelinya?” Gerutunya kesal sambil menendang minuman kaleng kosong didepannya untuk melampiaskan kekesalannya. Sepanjang jalan ia hanya menunduk, karena ia tak mau orang – orang melihat matanya yang sembab.

Annyeong Minjee!” sapa seseorang yang memiliki suara yang begitu familiar di telinganya. Minjee mendongak wajahnya dan mendapati Taemin berdiri dihadapannya. “Apa yang kau lakukan disini? Eh? Matamu kenapa?” tanya Taemin ketika melihat mata Minjee sembab.

“Aaaa .. ini? biasa habis nonton drama yang menguras air mata.” Ucap Minjee bohong. Mana mungkin ia akan mengatakan bahwa ia habis menangisi Taemin. “Aku mau membeli beberapa cemilan untuk menemani nonton drama selanjutnya, hhe ..”

“Hmm .. karena kau ada disini, maukah kau menemaniku? Tadi aku sedang menunggu temanku, tapi ternyata ia tidak bisa datang.” Ungkap Taemin.

“Baiklah ..” entah mengapa Minjee menerima tawaran Taemin begitu saja. “Oh, soal film itu. Aku masih bisa menontonnya lain kali.” Ucap Minjee ketika Taemin hendak menanyakan acaranya malam ini. “Kita mau kemana?”

“Sungai Han!”

Suasana malam hari di sungai Han sangatlah indah. Pemandangannya sungguh sangat menakjubkan. Taemin dan Minjee melihat pemandangan itu dalam diam. Jembatan Banpo dengan lampu dan semprotan air yang berwarna-warni layaknya pelangi terlihat jelas dihadapan mereka. Udara malam semakin dingin, Minjee merapatkan hoodie yang ia gunakan dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie-nya.

“Apa kau akan men .. ..” kata – kata Minjee terhenti seketika, begitu ia merasakan tangan yang memeluk tubuhnya.

“Sudah lebih hangat?” tanya Taemin yang terdengar tepat di telinga Minjee. Rupanya Taemin memelukanya dari belakang. Minjee hanya menganggukkan kepalanya seperti robot. Hey! Mengapa jantungnya berdetak lebih cepat? Oh lupakan saja! Tak lama lagi Taemin akan menjadi milik orang lain! “Hmm .. mian .. aku tak bermaksud untuk .. yah hhe ..” Taemin segera melepas pelukkannya dan kembali berdiri disamping Minjee. Suasana menjadi sedikit lebih canggung.

Ne, hhe ..” Minjje memalingkan wajahnya dari Taemin. Ia tak ingin Taemin melihat wajahnya yang kini telah berubah menjadi merah padam. “Apa kau akan menyatakan perasaanmu itu di tempat ini?” pertanyaan itulah yang sedaritadi ingin Minjee tanyakan pada Taemin.

Ne. Bagaimana menurutmu?”

“Tempat yang romantis. Yeoja itu pasti sangat menyukainya.” Komentar Minjee. Kemudian keduanya kembali terdiam.

“Aneh! Mengapa aku bisa menyukainya ya?” Taemin memulai kembali perbincangan mereka. “Padahal dia itu ceroboh. Terkadang sifatnya seperti anak kecil. Sampai teman – temannya selalu mangatakan dia anak kecil, dan dia selalu menyangkal tidak aku sudah besar, hahahahaha .. dasar anak kecil.” Tawa itu terdengar renyah di telinga. Minjee memberanikan diri menatap Taemin yang sedang tersenyum senang. Apa yang baru saja dia bilang? Anak kecil? Tunggu sebentar .. “Hanya anak kecil yang selalu menganggap dirinya sudah besar. Kau tahu itu?”

Dengan senyuman yang masih mengembang di wajahnya, Taemin menatap Minjee lekat – lekat. Mata hitam kecoklatan itu memandang Minjee lurus. Tatapan mata itu membuat Minjee mematung. Lama mereka saling berpandangan, sampai akhirnya ..

“Saranghae Im Minjee ..”

THE END ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

32 thoughts on “The Name I Loved”

    1. gomawo udah sempetin baca ^^
      mianhae, dari dulu amy belum bisa buat ending yang enak ..
      mianhae mianhae mianhae *bungkuk-bungkuk

  1. Baginya Taemin itu pangeran berkuda putih tapi masih menggunakan popok. —- kebayang fan art taemin pke popok.. hahaha

    aq kira yoona itu cewe yg disuka taemin… g mrhtiin lg marganya.. hahaha

    yaaaa… pas mau akhir2 udh nebak pasti taemin nmbk minjee… kkkkk

    sbnrnya pas yg d kls itu udh curiga… tp g ykin… trus inget genrenya g ada sad… jd mikir lgi pasti taemin itu suka sm minjee… trnyata… hahaha
    chukhahae…

    1. gomawo udah sempetin baca ^^
      tadinya juga mau yoona sama taemin, tapi takut udah kebaca ceritanya, tapi ternyata diubah juga tetep aja ketaun ceritanya ya? hhe

  2. Baguss thor bagusss!!
    Deg degan baca nya, hehe. Pdhal tdi ak nebak taemin suka sma yoona #plakkk
    cobaa di biat sequel! Huaa pasti lebih seru!! ^^

  3. Taemin bisa romantis juga yaa, ceritanya simple.. Tp berasa feel dan sweet thor!

    Chukkae Taemin dan Minjee!! Good job thor 🙂

  4. Jiah, pangeran berkuda putih pake popok XD.
    Nice~ Aku udah tebak sih Taemin pasti bakal sama Minjee~. Terus berkarya ya~ ^.~

  5. yoona bijak amat. hehe gak ccok sm muka’y yg innocent.. klo sooyoung ato tiffany mngkin ccok kali yah. hehe just my opinion 🙂
    chukaee chukaee, sudh ada couple baru lagi jadian. yeah walopun sejujurnya gw lbh suka taemin sm gw bkn sm yeoa lain *PLaak* ngimpi!! hahaa..
    Amy-ssi ditunggu karya yg lainnya ,^^

  6. Kyaaaaa!
    Apa ini?
    Kenapa begini?
    Apaan sih!
    Kenapa ff’a manis begini?#lol readers’a lebay >.<
    Dah nyangka sih, yg di suka taemin tu minjee. D awal kukira, yg di suka taemin tu yoona. Eh! Yoona malah ka2k'a minjee.. Disitu aku mulai 'sesuatu'… Pst yg disuka taemin si minjee. Eh ternyata bener.. Ff'a gak galau! Aku suka 😀

  7. Pangeran berkuda yang masih memakai Popok??? Hahaha… Anehhhhh bangettt….. Klo siMimin baca kalimat ini pasti dia akan bilang.. “Ya! Aku ini sudah dewasa? Kenapa pakai popok!” sambil pout bibir…..

    Biarpun endingnya bisa ditebak… Tapi ceritanya mengalir… Good FF ya!!

  8. Pangeran terus masih pake popok, lucu banget pendeskripsiannya.
    Klu puya onie yang pengertian enak deh. Di banding punya ade cwe nyebelin.
    Ternyata yang disukai TaeMin adalah MinJie.
    Sakit hati pada diri sendiri.
    Hahahaha 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s