Forward – Part 1

Title: Forward

Author: HeartLess & Bibib Dubu

Main Cast:

  • Lee Jinki
  • Imanda Citra as Kim Heera
  • Kim Jonghyun

Length: Multi Chaptered

Genre: Romance, Life, Social Issue

Rating: PG-13

 Note:

The story is written all based to Author’s POV

Hallo^^ This is our first collaboration.

Kali ini, ingin mencoba menyuguhkan sebuah kisah dengan tema ‘Romance’, yang mungkin sedikit tidak biasa. Harapan kami, semoga FF ini tidak hanya menjadi ‘bacaan’ saja, tapi bisa memberikan manfaat untuk kita semua😀

Jangan ragu memberi kritik, saran maupun masukan ya.

Happy Reading🙂

*****

Ilmu adalah hal berharga dalam hidup. Hanya dengan ilmu orang yang tadinya tak memiliki apapun menjadi pengusaha; petinggi perusahaan, pejabat, maupun ilmuwan brilian.

Pemikiran itulah yang membuat Lee Jinki tampak antusias menyimak kata demi kata yang terlontar dari mulut sang dosen. Mimpinya membangun masa depan dengan ilmu, lantas membuatnya tak memedulikan hiruk-pikuk yang timbul dari barisan di belakangnya. Tidak juga dengan keberadaan yeoja cantik yang duduk tepat di sebelahnya, yang sesekali menengok ke belakang – memperhatikan mereka yang sedang asik membuat forum di dalam forum dan sesekali tertawa entah karena apa – untuk sekedar menghilangkan rasa kantuk.

“Sebelum menutup perkuliahan hari ini, saya ingin membagikan pengalaman mengenai perjalanan saya selama di Indonesia….” Ujar sang dosen, membuat para mahasiswa tampak antusias, dimana sebagian besar dari mereka menjadi bersemangat mendengarkan hanya karena sebuah kalimat ajaib ‘menutup perkuliahan hari ini’.

….

“Jinki-ssi”

Jinki menoleh ke samping, kepada seseorang yang baru saja memanggil namanya, sejenak setelah sang dosen meninggalkan ruangan; tanda jam perkuliahan telah berakhir.

“Ya?” Jawabnya sambil merapikan benda-benda di atas meja, matanya sempat menangkap beberapa mahasiswa yang membangunkan temannya, di deretan bangku belakang.

“Bagaimana pendapatmu mengenai cerita dosen tadi?” Yeoja yang menyapanya tadi terlihat sangat modis—mengikuti trend busana terkini, sama sekali tak mencerminkan tipe seorang penggila ilmu – seperti Jinki – meski kenyataannya ia juga duduk pada deretan paling depan yang dikenal sebagai deretan ‘para sesepuh’ atau ‘para ensiklopedia berjalan’, tepat di sebelah Jinki.

“Maksudmu tentang tragedi lumpur Lapindo di Indonesia itu?” Tanya Jinki masih sambil memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas ranselnya yang tampak penuh oleh dua text book. Ia mendapatkan sebuah jawaban berupa senyuman, dimana yeoja itu mengisyaratkan jawaban ‘ya’ padanya.

“Mungkin ini adalah suatu dilema bagi Indonesia. Pertama, siapa yang harus disalahkan? Dari satu sisi, itu adalah bencana yang berkaitan dengan proses alamiah; siapa yang bisa mengatur dan menebak apa yang akan terjadi pada alam? Tapi dari sisi lain, tentunya hal ini tidak akan terjadi tanpa adanya pemicu. Dalam hal ini adalah faktor kesalahan prediksi dari perusahaan tersebut.” Dengan antusias Jinki mengemukakan pendapatnya, sementara yeoja yang kini berhadapan dengannya mendengarkan dengan seksama, melipat dan menaruh tangan di dada.

“Jika dikategorikan sebagi bencana alam nasional, maka pemerintah lah yang harus menanggung semua biaya ganti rugi kepada masyarakat. Sementara alokasi dana terbatas. Tapi jika menuntut dari pihak perusahaan sendiri pun, bukankah sampai saat ini juga belum ada tindakan riil sama sekali? Jadi bukankah seolah-olah semua pihak lepas tangan atas kasus ini? Bagaimana menurutmu?” lanjut Jinki panjang lebar.

“Aku sebagai orang yang mendambakan keadilan, menganggap hal ini sungguh keterlaluan. Tidakkah para pemimpin itu memikirkan nasib masyarakat? Kalau terus-terusan begini, bukankah ada kemungkinan bahwa dampaknya akan semakin meluas?” Ya, Jinki tahu persis bahwa Heera akan memberikan pendapat seperti itu – ia adalah seorang pejuang sosial. Baginya nasib orang banyak adalah prioritas.

“Kembali lagi, semua kendala ada pada faktor dana. Negara-negara berkembang mengalami permasalahan serupa, yakni keterbatasan dana. Dan satu lagi yang tak kalah penting adalah,  tidak ada satu pihak pun yang sadar akan tanggung jawab masing-masing, juga kurangnya prioritas terhadap kesejahteraaan rakyat. Dari segi itulah, biasanya idealisme pejuang sosial sepertimu kerap diabaikan. Bukankah demikian, Heera-ssi?” Jawab Jinki, yang kini telah memakai tas ransel pada sebelah pundaknya.

“Yah, begitulah. Kau benar. Aku selalu senang berdiskusi dengan orang sepertimu. Lain kali kita harus berdiskusi lebih banyak. Banyak topik yang lebih menarik untuk dibahas denganmu.”

“Yah, aku juga senang berbincang denganmu. Tidak banyak wanita yang tertarik membicarakan hal-hal seperti ini, biasanya mereka hanya tertarik pada fashion, namja tampan, ataupun kisah-kisah melankolis tidak terlalu penting lainnya.”

Heera – nama gadis itu – tersenyum, Jinki lalu kembali angkat bicara.

“ Ah, ya, Heera-ssi. Kapan kau mau ke perpustakaan?”

“Yang jelas tidak hari ini. Aku ada janji bertemu seseorang. Ada apa memangnya?” Tanya Heera kemudian.

“Tidak, aku hanya ingin kau memberitahukanku jika menemukan bacaan bagus mengenai pengelolaan limbah pabrik karet.” Jinki menjawab  cepat—membuat Heera mengernyitkan alis, tampak berpikir.

“Kenapa kau tidak mencoba mencarinya langsung saja?” Tanyanya heran.

“Ah, aku…. Ada sesuatu yang harus kulakukan. Baiklah, tidak masalah. Aku pikir kau akan ke perpustakaan hari ini.”

“Oh ya, ngomong-ngomong, aku memang mahasiswi baru. Aku baru satu bulan di sini, tapi bisakah kita tidak berbicara terlalu formal? Kesannya seperti kita ini bukan teman sekelas.” Heera protes, merasa tidak nyaman dengan kekakuan yang terbentang.

Jinki tersenyum sesaat, lalu terkekeh. Bukannya ia terlalu kaku, hanya saja ia tidak mau terkesan sok dekat dengan yeoja yang baru dikenalnya ini. Ia tak ingin dianggap sama seperti namja-namja lain yang tergila-gila dengan pesona Kim Heera; ia bukanlah tipikal orang seperti itu.

“Baiklah, tidak akan ada embel-embel ‘ssi’ lagi lain kali. Oke, see you….”

Heera mengangguk dan tersenyum, hatinya ikut bahagia melihat Jinki tersenyum – mengingat namja itu bukan tipikal orang yang sering terlihat tersenyum. Bagi Heera, senyum yang terlukis dari wajah setiap orang yang dijumpai adalah hal yang sangat membahagiakan; senyum bisa menjadi simbol ketentraman hati; senyum, berarti orang yang ia temui sedang dalam kondisi baik.

Senyum Jinki terhenti saat yang terlihat di matanya hanya punggung yeoja itu. Entah mengapa ia tidak suka melihat seseorang dari belakang – meskipun ia sering melakukannya. Mengamati dari belakang adalah hal yang menyedihkan, ia merasakannya.

*****

Langit sore bersahabat, tak menampakkan kesuraman sedikitpun. Jalanan di sekitar kampus mulai ramai karena memang ini adalah jam pulang. Tidak heran kalau jalan raya di Korea yang tertata rapi sekalipun harus rela dihinggapi kemacetan walau hanya sebentar.

Sesekali ia melihat jam tangan silver di pergelangannya – bukan sebuah jam mahal— tapi ia dapatkan dari orang yang sangat berharga dalam hidupnya, satu-satunya orang yang mengetahui sisi lemah dalam dirinya.

Katanya, jam itu diberikan dengan harapan agar pemiliknya selalu ingat waktu; tidak memaksakan tubuh untuk terus beraktivitas, menyalurkan minatnya akan organisasi sosial dan lingkungan.

Heera-ah, sering-seringlah melihat jam agar kau tahu ini sudah jam berapa. Tubuhmu punya hak untuk diistirahatkan. Tidurlah sebelum jam sebelas malam karena itu adalah waktu terbaik bagi tubuh untuk memproduksi sel darah merah. Aku khawatir melihatmu yang super sibuk itu.

 

Kalimat panjang itu kembali terngiang di telinga Heera, baginya itu adalah bentuk kasih sayang dari sang pemberi jam utuk dirinya. Sudah berulang kali ia mendapatkan peringatan keras dari orang itu, namja dengan senyuman hangat yang mampu mendamaikan kegundahan hatinya.

Tidak juga muncul orang yang dinanti, ia mulai sedikit bosan. Harusnya orang itu tahu kalau Heera benci menunggu.

Seseorang berlarian dari halte bus, tergesa-gesa menghampiri Heera yang memasang muka ketus. “Ah, mianhae…aku telat. Aku harus antri untuk mendapatkan giliran audisi. Aku tahu kalau Miss Perfeksionis ini pasti sudah cemberut karena dibuat menunggu. Kau memaafkanku?”

“Yeah, mau bagaimana lagi. Tidak ada namja lain yang mampu membuatku luluh lantah, kau beruntung. Kajja, mau makan apa kita sore ini?”

“Kau mau apa? Demi kau, aku rela melahap apa pun yang tidak kusuka.”

“Ya! Kau berlebihan Kim Jonghyun.” Heera menonjok pelan perut namjanya, menatapnya tajam.

Jonghyun tertawa, ia tahu statementnya membuat yeojanya tidak suka.

“Sekali lagi kubilang, itu adalah statement orang bodoh. Apa kau mau kusuruh minum racun hanya karena cinta? Aku tidak mau, hidupku lebih berharga dari cinta.”

“Ne, ne, arasso. Aku lupa kalau yeojaku adalah nona yang sangat menjunjung tinggi kehidupan. Oke, jadi kau mau makan apa?”

“Sepertinya makanan jepang bisa menggugah selera makanku. Otte?”

“Baiklah, asalkan yeojaku ini mau meluangkan waktunya untuk mengisi perut lagi sebelum berkutat dengan kegiatan malamnya. Rapat sampai jam berapa hari ini?” Tanya Jonghyun sambil merangkul pundak Heera.

“Molla, seharusnya jam sepuluh malam aku sudah ada di rumah—aku janji dengan sepupuku untuk mengajarinya kalkulus. Kibum pasti mengomel jika aku terlambat.” Heera menggedikkan bahu, sedikit mengawang-awang memperkirakan waktu.

“Hah, kalian satu keluarga sepertinya tidak suka menunggu ya?” Kali ini Jonghyun mengajak Heera melangkah dengan meraih tangannya.

“Tentu saja. Hidup bukan untuk menunggu, jadilah orang yang ditunggu—artinya kau orang yang dibutuhkan. Tapi ingat, bukan berarti aku hobi membuat orang menunggu karena keterlambatanku, aku tidak ingin mengadopsi istilah ‘jam karet’ seperti khas warga Indonesia sana.”

“Iya, aku tahu, sesibuk apapun, kau selalu berusaha tepat waktu, imbasnya kau sering mengabaikan cacing-cacing di perutmu.”

*****

Hanya sepuluh menit lagi jarum jam akan menunjukkan pukul 00.00, waktu dimana hari akan berganti—menawarkan perubahan bagi setiap penghuni bumi.

Sepi, Kibum sudah pulang. Rumah sebesar ini hanya dihuni oleh dirinya dan beberapa pembantu, tidak ada appa maupun ummanya, passion mereka akan karir dan bisnis mengalahkan impian akan sebuah kehidupan rumah tangga yang hangat.

Ia merebahkan tubuhnya di kasur, mengizinkan tengkuknya yang linu beristirahat. Matanya mengamati sebuah foto lawas berukuran cukup besar yang sengaja ia pajang di hadapan ranjangnya, agar ia dapat memadanginya sebelum tidur, agar ia ingat bahwa ia masih punya keluarga walaupun mereka berada di ambang batas antara ada dan tiada.

Bingkainya berwarna putih – sebuah lambang kemurnian— warna yang sangat mendamaikan hati si pemilik mata yang memandang.

Ya, ia mendambakan kedamaian dalam rumahnya. Damai bukan berarti sepi, melainkan penuh kehangatan dan hubungan antar individu yang harmonis. Ia tidak mengelak bahwa masalah itu selalu ada dalam hidup, tapi rasa jemunya akan kondisi keluarganya sudah berada pada level tertinggi.

Pikirannya melayang pada percakapannya dengan Jonghyun, namja yang sudah di tinggal pergi oleh appanya sejak kecil, namja yang sangat menghormati ibunya—keakraban ibu dan anak ini bahkan mengalahkan keakrabannya dengan Jonghyun. Ya, ikatan darah lebih kuat dari ikatan cinta. Terlebih jika ikatan darah yang ada di dalam tubuh setiap anggota keluarga, disertai dengan ikatan cinta di hati masing-masing—hal yang sangat diinginkan Heera.

 

Flashback

 

“Hey, kenapa kau tidak makan? Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Heera menghentikan sejenak aktivitasnya – makan dengan perlahan, mengunyah dengan baik. Ia mendapati Jonghyun menatapnya sambil tersenyum daritadi.

“Tidak, aku hanya senang.” Ia tetap tersenyum, Heera merasa heran.

“Aku senang bahwa hari ini gadisku makan dengan baik.” Jonghyun mengelus pelan rambut Heera, yeoja itu sedikit tersipu dan merasa malu, tapi enggan ditunjukkannya. “Dasar kau ini” katanya sambil membalas Jonghyun dengan sebuah senyuman, “Ayo, kau juga harus makan.”

“Baiklah, baiklah.” Jonghyun mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Heera lalu kembali tersenyum dan melanjutkan makan.

“Apa kedua orangtua-mu sudah pulang dari Chichago?” Jonghyun membuka pembicaraan ketika mangkok-mangkok nasi  mereka sudah kosong sama sekali. Ia bisa melihat gadisnya menghela nafas sejenak sebelum benar-benar menjawabnya. Ia sebenarnya tahu, bahwa gadis kesayangannya terkadang agak malas membicarakan hal ini. Tapi ia hanya ingin memastikan kebenaran bahwa faktor utama Heera terlihat sedikit tidak bersemangat akhir-akhir ini adalah karena masalah yang berkaitan dengan keluarganya –seperti yang ia duga.

“Mereka sudah pulang 3 hari yang lalu, tapi….” Ujarnya lemah.

“Tapi?” Jonghyun menunggu lanjutan ucapan yeojanya.

“Tapi kemudian pergi lagi keesokan harinya…,” Heera mengambil nafas sejenak, “Tanpa berkata apa-apa.”

“…..”

“Hah…. Kau tahu, aku bukan tipe orang yang suka mengeluh. Tapi bukankah ada kalanya juga aku lelah dengan situasi seperti ini? Bagaimanapun, bukankah seekor anak singa yang tangguh sekalipun akan mencari induknya juga?” Herra memainkan ujung sendok dengan jarinya—matanya mengawasi kegiatan itu, usaha pelarian agar tak bertemu mata Jonghyun.

Jonghyun bisa menangkap siratan emosi yang terpendam dalam sorot mata Heera. Yeoja ini terkesan kuat—tipe orang yang mendahulukan orang lain, padahal bisa jadi di saat yang sama—rasa lelah sedang menerpanya. Yeoja yang nyaris tak pernah terlihat berjalan gontai, seletih apapun tubuhnya. Baginya, berdiri tegak adalah suatu keharusan—memberikan sugesti pada diri sendiri bahwa semuanya akan dapat dilakukannya secara mandiri.

Tapi Jonghyun tahu, ada lubang di dalam diri yeojanya. Tidak selamanya pohon jati dapat berdiri tegak—saat waktunya tiba, ia akan dirobohkan. Ya, ada hal-hal yang membuat yeoja itu runtuh, Jonghyun pernah menyaksikan saat-saat genting seperti itu.

“Ya, aku tahu. Itu juga lah yang menjadi salah satu alasanmu menjadi memiliki ketertarikan atas kegiatan sosial. Karena kau merasa tidak diperhatikan itu sama sekali tidak menyenangkan, maka kau memilih untuk memperhatikan, agar orang-orang di luar sana tidak merasakan bagaimana pahitnya merasa tidak dipedulikan. Karena kau ingin menunjukkan bahwa meski hanya satu dari seribu orang, tapi setidaknya masih ada yang mau berbagi kasih. Bukankah demikian?” Jonghyun menjawab, Heera tersenyum. Jonghyun memang selalu paham akan dirinya.

“Dan itulah yang selalu membuatku bangga padamu. Ada banyak orang-orang dengan masalah sama sepertimu –merasa ditinggalkan. Tapi kebanyakan dari mereka memilih merusak hidupnya dengan alkohol,obat-obatan, pergaulan bebas dan kriminal. Tapi kau berbeda. Kau mampu membuat rasa terluka mu itu justru menjadi motivasi untuk membahagiakan orang banyak.”

“Karena bagiku, hidup itu terlalu berharga untuk disia-siakan seperti itu. Bukankah dengan merusak hidupku sendiri, aku hanya akan membuat diri semakin terpuruk? Kalau aku bisa memilih untuk melawan keterpurukan itu dan menjadikan hidup lebih baik, kenapa tidak? Hidup itu adalah pilihan bukan?” Heera mengakhiri perkataannya dengan sebuah senyuman, sementara Jonghyun merasakan sedikit getaran merasuk dalam dirinya.

Inilah yang membuat Jonghyun semakin mencintai Heera dari hari ke hari. Ia kagum dengan karakter Heera. Ia ingin memberikan rasa ‘hangat’ atas sebuah kasih sayang yang selama ini mungkin didapatkan Heera secara terbatas. Bukankah itu peranan seorang pendamping—menjadi pengisi celah rawan bagi rekannya.

“Dan kau sendiri? Bagaimana kabar ibumu?”

“Eh…. Ibuku? Tentu ia baik-baik saja.” Jawab Jonghyun cepat-cepat.

“Baguslah, kalau begitu. Sampaikan salamku untuknya.”

Jonghyun hanya mengangguk, berikutnya—suasana hening.

“Hmm, bagaimana audisimu tadi?” Heera berusaha memecah kekakuan yang mulai mencuat.

“Hmmm, mereka bilang suaraku bagus. Tapi…hhh, ini yang membuatku tidak terima. Kau tahu aku gagal karena apa?”

“Karena kau tidak menyogok jurinya? Hihi, pasti bukan itu alasannya, hal semacam itu tidak terjadi di Korea—industri hiburan kita mendahulukan talenta.” Masih, Heera mencoba bercanda untuk melunturkan goresan kesedihan yang terlukis di wajah Jonghyun.

“Tidak selalu. Nyatanya mereka bilang, boyband yang akan mereka bentuk harus memiliki member yang badannya tinggi, minimal 180. Aku? Hhh, apa pendek identik dengan jelek? Mengapa penonton begitu terpaku pada tinggi? Mengapa—”

“Hush, jangan salahkan penonton. Juri yang menolakmu.” Heera buru-buru memotong, tidak ingin namjanya bermuram durja lagi.

“Juri mencari penyanyi yang sesuai selera publik, kan? Entahlah…mungkin pikiranku saja yang sedang kusut, sehingga aku mencibir orang lain. Tidak usah diingat lagi ya?”

“Heumm…baiklah. Semangat dong, calon penyanyi besar harus punya rasa optimis tinggi. Baru jatuh seperti ini saja kau sudah kalah. Cahaya indah itu akan datang pada waktunya.”

Heera mengarahkan pandangan ke sekeliling. Lalu seketika matanya menangkap jam dinding yang ada pada ruangan tersebut.

“Apa kita harus pergi sekarang? Aku rasa sudah waktunya aku pergi rapat.” Cetusnya begitu menyadari bahwa ia harus segera kembali dengan ‘rutinitas malamnya’.

“Baiklah, aku juga harus pulang sepertinya.” Jonghyun lalu berdiri, tampak meraba saku belakang celananya. Seperti biasa, Jonghyun tidak akan mau ditraktir Heera, sementara Heera juga tak mau ditraktir oleh Jonghyun –tentu saja karena Heera tak ingin menyusahkan Jonghyun yang ekonominya tidak sebaik keluarganya. Maka diputuskan bahwa mereka selalu membayar makanan mereka masing-masing –agar tak usah merasa tidak enak satu sama lain.

Namun Jonghyun terlihat terpaku beberapa menit ketika ia melihat ke dalam dompet yang dibukanya dengan tangan sendiri. Ia terlihat panik dan cemas sampai Heera bertanya padanya.

“Ada apa?”

“Aku…. Sepertinya uangku tidak cukup.” Jonghyun terlihat panik. Ia benar-benar bingung apa yang harus dilakukannya.

“Sudahlah, biar aku yang membayar saja, oke?”

“Tidak, tidak usah, aku…. “ Jonghyun hendak mencegah Heera yang sudah akan berjalan ke arah kasir, namun gadis itu berbalik dan tersenyum.

“Tidak apa-apa, sudahlah sekali-kali tidak masalah bukan?”

“Tidak, aku pasti akan mengembalikannya padamu nanti, oke?”

“Sudah tidak usah. Untuk kali ini saja.” Bujuk Heera

Jonghyun tetap bersikeras, ia hanya tak ingin terkesan seolah ia adalah lelaki yang memacari putri konglomerat untuk memanfaatkan kekayaannya. Meski ia tahu Heera tidak menganggapnya demikian, tapi sudut dalam hatinya yang selalu meyakinkannya untuk tidak bergantung pada siapa pun.

“Aku tetap akan menggantinya nanti.”

Heera menyerah. Ia tahu, seperti inilah namjanya. “ Baiklah, tapi jangan terburu-buru, oke?” Jawab Heera, dibalas sebuah senyuman puas dari Jonghyun.

“Ya.”

Flashback End

Lamunannya ditarik paksa oleh sebuah panggilan masuk di handphone-nya, ia bangkit mengambil benda itu dari mejanya—tidak pernah ia dekatkan ketika tidur karena radiasinya tidak baik untuk tubuh dan otak.

“Heera-ah…kau pasti belum tidur. Kau sedang melamunkan aku?” Suara bening di seberang sana membuat kesedihan Heera terlupakan sesaat.

“Ne, as usual. Terserah kau mau mengomeliku seperti apa, tapi aku benar-benar sedang teringat keluargaku.” Heera menjawab lemas di bagian akhir.

“Baiklah, aku tutup mulut kali ini, kuharap kau bisa cepat tidur. Heera-ah, mungkin besok kita tidak bisa makan sore seperti biasanya.”

“Waeyo? Ayolah jjong, aku merasa senang saat bersamamu.”

“Hmm, benar tidak bisa, aku punya alasan penting, suatu saat akan kuceritakan.”

“Oke, aku tidak akan memaksamu juga tidak akan memintamu bercerita kalau kau tidak ingin.” Heera tersenyum lembut. Sebenarnya ia sudah menerka apa alasan Jonghyun. “Jadi kau meneleponku tengah malam hanya untuk mengatakan ini?” lanjut Heera.

“Ne, juga untuk mengobati rasa rinduku, sekaligus menimbun banyak-banyak suaramu di memori otakku. Tidurlah sayang, aktivitasmu padat kan besok?”

Heera mengiyakan, dan sambungan terputus kilat setelah jonghyun melemparkan suara kecupan by phone.

Dihembuskannya karbon dioksida dari mulutnya—senyawa sisa respirasi tersebut sudah minta dikeluarkan sejak tadi, namun tertahan.

Alasan Jonghyun, ya, itu yang menahannya. Heera tahu ada yang aneh dengan namjanya, bukan masalah tidak punya uang—ia tahu namjanya bukan orang berkantong tebal. Tapi ada ekspresi kesedihan saat mengatakan bahwa ia akan mengganti uang Heera. Dan yeoja itu menerka, uanglah yang membuat Jonghyun memintanya untuk tidak makan sore bersama—butuh uang banyak untuk bersantap bersama seorang pemerhati kebersihan dan kesehatan makanan sepertinya. Ia benar-benar pemilih dalam artian hanya makan makanan yang terjamin kesehatan dan kebersihannya.

Tapi bagaimanapun ia menghargai keinginan dan prinsip Jonghyun—namja yang paling tidak ingin disebut sebagai namja pemburu harta hanya karena memacari seorang putri pengusaha besar seperti dirinya.

Ia mengikuti nasihat Jonghyun, membuang dulu kisah sedihnya agar bisa memejamkan mata. Bagaimanapun Heera tidak ingin dikendalikan oleh perasaannya; tapi ia yang harus mampu mengendalikan perasaannya. Sulit memang, dan seringkali ia gagal, berujung pada rasa sesak yang mendalam, yang hanya bisa ia simpan untuk ditanggung sendiri.

*****

Hari ini pun Heera kembali menemukan Jinki di perpustakaan, berkutat dengan tumpukan buku. Ia sedikit heran, mengapa namja ini sangat jarang terlihat berinteraksi dengan yang lain. Hanya saat perlu atau seseorang memanggilnya dulu ia baru akan terlihat berkomunikasi dengan orang lain. Itupun seperlunya saja. Ia juga heran mengapa kesendirian selalu meliputi Jinki. Kemana pun namja itu pergi, tak pernah ada orang yang berjalan di sisinya. Dimana pun Jinki berada, orang-orang lain seolah enggan pula setidaknya bercakap dengannya –jika tak ada sesuatu yang benar-benar penting sekali. Ah salah, bukan orang lain yang seolah enggan berbincang dengan Jinki, melainkan Jinki lah yang membatasi diri.

Apa karena Jinki terlalu mencintai ilmu? Tidak, orang seperti Heera—yang sejak dulu mendapat predikat penggila buku sekalipun, belum pernah benar-benar mengisolasi diri sama sekali dari dunia luar. Atau semua itu perasaannya saja?

Heera memutuskan menyapa saja Jinki yang saat ini tengah menyusun tumpukan buku. Tampaknya ia sudah menyelesaikan aktivitas membacanya dan memutuskan untuk membawa pulang beberapa buku.

“Hey, kau sudah selesai?” Dengan nada ramah Heera menyapa, membuat Jinki menoleh ke arahnya.

“Yah, begitulah. Kau sendiri?”

“Aku hanya datang mengembalikan beberapa buku.”

“Ah, begitu?”

“Yah, kenapa kita tidak bersama-sama saja? Bukankah kau juga akan keluar dari sini? Aku juga sama.” Tawar Heera lalu disetujui Jinki.

“Baiklah.” Jinki membawa beberapa buku di tangannya. Tasnya mungkin sudah terlalu penuh untuk bisa diisi lagi dengan buku-buku tersebut.

“Oh ya, apa kau sudah menemukan buku mengenai pengelolaan limbah karet yang kau cari kemarin? “ Heera membuka pembicaraan seraya berjalan seiring dengan langkah Jinki.

“Ya, aku akhirnya membelinya lewat toko buku online saja.” Seperti biasa Jinki jarang menatap orang yang diajaknya berbicara ketika berjalan. Ia lebih suka memandang langkahnya sendiri, atau lurus ke depan saja; kadang bahkan enggan menoleh ke kiri maupun kanan.

“Kau suka membeli buku lewat internet juga?”

“Yah begitulah. Beberapa koleksi di kamarku bahkan berbahasa inggris. Yah, kau tahu, kadang susah mendapatkan buku yang benar-benar bagus di dalam negeri.” Heera melihat Jinki sesekali –karena terbiasa menatap langsung lawan bicaranya –tetapi yang ditatap tetap saja hanya memandang ke depan.

“ Hmm, begitu….” Heera mengangguk, lalu kembali fokus pada jalan yang dilalui.

 Agaknya Heera sedikit mengerti sesuatu. Bahwa Jinki tidak memulai dulu sebuah pembicaraan, kecuali seseorang membuka topik terlebih dahulu. Ia juga sepertinya hanya akan berbicara panjang lebar pada topik yang membuatnya tertarik. Heera kemudian memilih untuk menunda penilaiannya—hanya dugaan mentah.

“Jinki-ah, kau lihat jembatan itu? Apa ada yang menarik?” Heera menunjuk pada sebuah jembatan yang sebentar lagi akan mereka lalui, jembatan yang menghubungkan gedung perpustakaan dengan gedung Fakultas Ekonomi.

“Hmm, memangnya ada apa dengan jembatan itu?” Jinki tidak paham maksud Heera.

“Tidak ada, hanya jembatan biasa, secara fisik memang begitu. Tapi apa kau tahu filosofi sebuah jembatan?” Heera tersenyum menang, ia akan memulai permainan kata.

“Alat yang memudahkan manusia, dengan begitu mereka tidak perlu turun ke bawah lalu naik lagi, begitu kan?” Jinki menjawab dengan mudah, tapi disambut dengan gelengan kepala Heera.

“Bukan itu yang ingin kubilang. Jembatan adalah penghubung, menyambungkan dua tempat terpisah—membuat jaraknya seolah menjadi dekat. Begitulah mata, ia adalah jembatan diri kita dengan lawan bicara, membuat jarak kita dengan orang lain menjadi dekat. Lagipula, akan ada hal-hal kecil yang tidak terkoneksi ketika kau tidak melihat lawan bicaramu—misalnya, kau tidak bisa tahu apa yang sedang dirasakannya.”

Jinki terkekeh santai, “Kau sedang menyindirku?”

“Ani, bukan sindiran. Menyindir dan memberi masukan adalah dua hal yang berbeda.”

“Apa perlu aku menatap lawan bicaraku? Bagaimana jika aku bisa tahu apa yang dirasakannya tanpa menatap matanya? Aku tidak suka menatap mata orang karena suatu alasan, setiap orang berhak punya alasan, kan?” Jinki mencibir, pandangannya tetap lurus ke depan.

Heera sedikit terhenyak mendengar jawaban Jinki—bukanlah hal mudah untuk memberi masukan pada pria itu rupanya. “Hihi, mana ada orang semacam itu. Kecuali kalau kau adalah paranormal.” Ia mencoba bersikap santai untuk menutupi keterkejutannya.

Drapp, drap, drap,

Suara langkah tergesa-gesa terdengar makin keras, seketika terdengar suara hantaman keras —Jinki terjatuh, seseorang menabraknya dari belakang, larinya terlalu terburu-buru hingga tak mempedulikan keberadaan orang di depan.

Tubuh Jinki tersungkur ke depan, membuat lengan kirinya bergesekan dengan lantai, lengannya bertumbukan dengan pot-pot batu berisikan tanaman yang terdapat di sepanjang jalan lurus itu. Buku-buku yang sedang dibawanya tadi berserakan tidak menentu ke segala arah.

Srakk, lengannya tergores—ia menatap sengit orang yang menabrak tadi.

“Isshh….” Jinki mendengus kesal. “Ya! Kau!” Jinki berteriak marah.

“Lain kali jangan melangkah santai di tengah jalan, ini bukan jalanan milik ayahmu!” Bukannya minta maaf, orang itu malah marah-marah dan melanjutkan larinya—seolah dewa kematian sedang mengejarnya.

“Astaga, lenganmu berdarah…, biar kuperiksa!” Heera menangkap setitik warna merah pada lengan namja yang masih mencoba untuk berdiri, masih bertumpu pada lututnya yang mulai terasa linu – sedikit rasa cemas terbersit pada dirinya.

Heera baru akan berjalan mendekat, ingin meraih tangan yang terluka itu untuk membantu mengobatinya.

 “Jangan mendekat!!! Jangan sentuh aku!! Aku tak suka siapa pun meraihku di saat aku terjatuh, biarkan aku bangun dengan sendirinya!! Jangan dekati aku, menjauhlah kau dariku!!!”  Heera terhenyak. Emosi Jinki meledak seketika, membuat Heera menjauhkan tangannya dari Jinki, terpaku sejenak, kehilangan kata-kata dan berkedip tak percaya.

Ia tak mengerti, benar-benar tidak mendapatkan gambaran mengapa Jinki tiba-tiba menjadi berang seperti itu? Apa yang salah dengannya?. Jinki-ah, ada apa denganmu?

 – To Be Continued –

©2012 SF3SI, Heartless.

Officially written by Vero, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

 

75 thoughts on “Forward – Part 1

  1. Ahhhhhhhhh ceritanya aku sukaaaa..
    Ini cerita yang beda dari yang lain. Ini cerita yang bahkan buat aku bengong :O
    semuanya isinya pelajaran…
    Ahhh aku paling suka setiap obrolan jinki sama heera.. aku juga suka filosofi tentang jembatan. jembatan adalah pengubung🙂
    Dan kenapa sikap jinki di akhir cerita, kenapa dia tiba-tiba berubah?

    1. Jinki? humm iya ada maksudnya knp dia berubah….perhatiin aja cluenya🙂

      aku juga filosofi jembatan, krn emang mata adalah penghubung..

      gomawo yah udh mau baca n komen ^^

  2. huaa… keren! daebak!

    seneng deh banyak filosofinya, kerennn…
    sama dengan AlfiRahmaa aku juga suka obrolan heera dan jinki.

    oh iyaa kenapa tiba – tiba sikap jinki berubah galak?
    apa gara2 sangtaenya kumat? *ga nyambung*
    hehe.. entah mengapa aku berpikiran jinki punya penyakit menular

    ya uda deh aku tunggu next partnyaa

  3. Ff yg penuh…
    Penuh makna,ilmu,kritikan sosial,prinsif hidup..n byk lg…apa lg ya…??
    Saking penuhnya, Aku bc nya jd hati2..takut ada yg terlewat..n khilangan makna nya…

    DAEBAK…nextpart dtunggu…
    Onew emg co2k dpt peran smart…tp sbnrnya ada apa ma onew…??

    1. hihi, jgn penuh2…ntar otaknya ikutan penuh…

      ne, onew cocok bgtttt jadi orang smart

      ada apa dgn onew? ada ayam di kepalaonew *ga nyambung

      gomawo yah udh mau baca n komen ^^

  4. Tidurlah sebelum jam sebelas malam karena itu adalah waktu terbaik bagi tubuh untuk memproduksi sel darah merah. —- ini kyknya nasihat yg tepat ditujukan buat saya.. hahahahaha

    eh eh kyknya ad yg typo.. bntr2…
    sblum flashback.. itu menceritakan ttg heera n jjong kan.. tp tulisannya ada kibum?

    Sepi, Kibum sudah pulang. Rumah sebesar ini hanya dihuni oleh dirinya dan beberapa pembantu…

    td smpet bingung.. aq kira emang nyeritakan kibum yg minta diajarin kalkulus sama heera.. trnyata cerita heera yg udh pulang ke rumah…

    seru seru…
    jinki-ya…. ada apa denganmu? *kok berasa nyanyi ya=.=a*

    sok atulah… ditunggu kelanjutannya..
    btw jjong kasian ya u.u tp keren.. baik juga u.u byr makan sendiri2.. * peluk jjong*

    1. hihi, itu nasehat buat aku juga eon, aku berusaha tidur d bwh jam 12 malem sekarang sejak sakit itu.

      yooo, tungguin eon ya lanjutannya…
      gomawo yah udh mau baca n komen ^^

  5. sedikit beda sama AlfiRahmaa rillataemshawol, gw malah lebih suka obrolan Heera sm Jonghyun. kenpa yahh… lebih kena aja gitu ke hati.
    mana hubungn mereka manis bnget lagi, walopun sama2 keras kepala. hehe
    2 org author terbaik (HeartLess & Bibib Dubu) kalo kolaborasi jadi duet maut gini. karyanya bagus en slalu ada pembelajaran nya didlam ff kalian.🙂
    oia mau tanya apa HeartLess & Bibib Dubu tinggal di kota yg sama? misalnya sama-sama di jakarta gitu? yeah hanya bertanya. hhehe🙂

    1. iya emang jjong-heera sweet bgd, kan mereka pacaran ceritanya, hihi

      humm, jjong n heera keras kepala dlm hal yg berbeda🙂

      satu kota? engga, beda pulau malah…kenapa emang?

      gomawo yah udh mau baca n komen, aku inget km nih, si ateng kan? haha *inget komenmu di the devil

      1. aigooo BIBIB DUBU inget aku? waahh senangnyaah. keeke..
        oohh beda pulo toh. heh gak pape. cm tnya aja🙂

        yap bedul, aye si ms.ateng nyang sotoy eta.. tapi di ff ini gak mau sotoy-sotoyan nebak2 ahh.. klo the devil biar konflik’y rumit tp asik klo nebak2, serasa lg ikut kuis *PLakk, ape lah kau*

        mungkin krna dsni bnyk mongin tntng sosial, jd diem aja gw. hahaha mslh jam karet pun sangat menampar gw..😀

        1. aku inget nama2 yg komen di ff-ku,apalagi yg komennya suka pnjang2, hehe…

          hihi, sotoy juga gpp, hak readers kok buat komen apapun…

          Kuis? lah? kok kuis? ini ga ada hadiahnya loh…haha

          hoho, knp menampar? suka ngaret ? jangan lg ya…

          gomawo udh mau baca n komen ^^

  6. eoni sumpah aq suka sm ff.a ini
    aq suka bngd sm2 kata2nya eoni
    crita ini juga bnyak peljrannya eon
    slain ada romance tp sosialnya ada juga
    imbang jadinya..
    aq juga ska obrolannya aq sm jonghyun. pcran bner2 shat. gk cma utmakan cinta.
    jonghyun aq bner2 suka sm sifatnya jonghyun. dia dr klanangan byasa. n gk mau trgantung sm aq.a hahay
    bner2 perhtian jonghyun. aq jdi mkirnya itu bneran aq ngelakuin sm jonghyun eon haha
    sekalian blajara eoni.
    aq jga suka sm2 kta2 perumpamaan
    kyk di sngkut2in sm2 ilmiah2 gitu
    ff.a eoni bner2 bgus dah
    aq gk bsa kasih kritik
    trlalalu bgus bwt d ksh kritik eon
    hehehe
    gomawo ya eon aq udh di msukin ke cast utmanya ^^
    aq tnggu slnjutnya eoni…..

  7. Wooowww.. cepat sekali sudah keluar part 1 nya ^^
    Pertama.. kenapa Indonesia? Kenapa Indonesia? Kenapa indonesia?
    Ini janggal! *atau perasaanku aja?* I know, oke, everybody know, orang Indonesia 80% adalah pengelola pabrik karet. Tapi… ngeliat kebiasaan buruk ini di bahas dalam sebuah FF dengan latar orang-orang Korea. Ini sangat menyinggung
    Bikin aku berfikir “Oh? Seburuk ini kah? Apa sering orang-orang di luar Indonesia menjadikan negara kita ini perbandingan atau hukuman atas terlambatnya rekan mereka?” heeemm… saya tersinggung, walaupun aku selalu satu menit lebih cepat. Tapi behubung yg di sebut adalah nama negara kita aku jadi tersinggung.
    *Zik.. kamu kenapa sih? hah? ngomong apa? Lagi PMS ya?* *Aku?….(mangut2)*

    Kedua, “kecuali kamu paranormal” janggal lagi. Siapa yang terkejut? Kalimatnya hanya berbunyi ‘ia berusaha santai untuk menutupi keterkejutannya’. Bukan berfikir ini sebagai kesalahan, tapi aku jadi berfikir ‘Oh? Jinki punya sixth sense?’
    Tapi kalau yang terkejut ternyata Heera. Heeemm mungkin kalimat keterangannya agak rancu ya. ‘Ia’ di sini maksudnya siapa?🙂

    Heera, aku juga, benar-benar tidak mendapat gambaran kenapa Jinki tiba-tiba berang begitu😄
    Buat part 1, ini udah bagus sangat *tiba2 minder*
    Keep it up! Sampai ketemu di part 2 ^o^b

    1. oalah zika….iya sih knp tiba2 lari k indo yah? krn kami ingin sedikit nyinggung secuil dr keboborokan negeri ini, hehe…

      dan tt karet, perasaan cm diceritain jinki nyari buku tt pengelolaan limbahnya deh…ga disinggung2 masalah dlm limbah karet, walau sebenernya masalahnya banyak jg.

      nah iya km bener, agak rancu, tp yg dimaksud ‘ia’ adalah heera. heera kaget ama jawaban jinki, ngerasa sarannya ditolak mentah2. disini heera emg blum mikir aneh2 tt jinki.

      dan masalh jam karet, emg bener kok. aku sering bgd kesel nunggu orang, nyatanya orang2 di skitarku nyaris selalu telat setengah mpe 1 jam, pake cengengesan lagi ky org g punya salah. pdhl waktu itu berharga bgd…

      gomawo yah udh baca n komen….baca lg rt 2nya ya….

      e km ngapain minder toh?

      1. Aaahh sepertinya salah mengartikan🙂
        Maksudku pengelola pabrik karet itu orang indonesia adalah sumbernya keterlambatan. Bukan bermaksud ngomongin limbah karet atau apapun itu ^^

        Oke, kalimat itu udah clear di mataku ^^
        Dan soal nunggu orang… di Indo- (Key: Zik, udah Zik.. nanti kalau kamu bahas jadinya malah debat terbuka. Udah ya cin uhda :D)
        Sebenernya mau banget bales lagi paragraf terakhir itu soal kamu kesel nunggu orang, tapi kalau aku lanjutin nanti gak selesai2😄 hahahha
        Udah ah… sampai ketemu di part 2 ^o^

  8. Daebak!! Belum ada konflik sih, tapi lumayan seru. Bener kata niek aku bacanya hati2 bgt takut ada ilmu baru yg kelewat xD Next part jg lama2 ya eon ^^

  9. sebuah kolaborasi yang super duper keren! *applause*
    pemilihan katanya yang cermat dan tepat bikin cerita jadi lebih hidup #apaansih #readersaneh

    ditunggu kelanjutannya author!😀

  10. Dan mata saya stuck di paragraph ini:

    “Aku sebagai penganut aliran sosialis menganggap hal ini sungguh keterlaluan. Tidakkah para pemimpin itu memikirkan nasib masyarakat? Kalau terus-terusan begini, bukankah ada kemungkinan bahwa dampaknya akan semakin meluas?” Ya, Jinki tahu persis bahwa Heera akan memberikan pendapat seperti itu – ia adalah seorang pejuang sosial. Baginya nasib orang banyak adalah prioritas.

    Di paragraph itu ada kalimat,

    1. Aku sebagai penganut aliran sosialis…..
    2. Ia adalah seorang pejuang sosial.

    Jujur aja, saya bener2 stuck waktu baca paragraph itu. Otak langsung mikir. Mencoba mengingat apa yang sudah saya dapat selama ini dari perkuliahan yang saya ikuti.

    Sebelum berkomentar lbh lanjut, hal yang ingin ditanyakan adalah:

    1. Aliran sosialis yang dimaksud di sini itu, aliran yang bgmn sih?
    atau pertanyaan simple-nya:
    2. Aliran sosialis itu berhubungan dengan pejuang sosial?

    ehm.. saya ga bisa berkomentar lebih karena saya benar2 stuck di paragraph itu. Jadi, tolong dijawab *bow*🙂

    1. huwaaa aku panik…storm…thx a lot yah…aku jd tersadar sesuatu, jd inget aliran sosialis itu aliran yg ky apa. kami yang salah milih istilah…udah lama ga belajar sosial, kerjaannya matematika mulu…

      ya. km bener storm, pejuang sosial dan aliran sosialis adalah 2 hal yg berbeda makna…aku sekarang cm inget aliran sosialis yg sangkut pautnya sama ekonomi aja sih pas baca komen km…nyadar bgd klo ga seharusnya istilah penganut alliran sosialis itu dipake.
      yg dimaksud disini adalah : heera itu aktivis di bidang sosial.

      sip…akan lbh hati2 milih kata dan istilah…sekali lagi kami bilang makasih ya utk masukannya. lain kali klo ada yg aneh2 bilang yah, ga bakal marah kok, seneng malahan…pengetahuan kami yang masih kurang artinya🙂

  11. Hmm, enak bacanya
    ^____^…
    Aku ngerti perasaan onew, dia agak mirip aku,, aku gak suka natap mata org kalo lg ngomong apalagi lama”..onew tertutup n kayakny dibalik sifat misteriusny itu, dia tipikal org yg punya ambisi yg besar! feelny dpt bngt thor, daebak! ^^b
    aku tunggu lanjutannya…
    Haha, crtany membangun aku suka :D… *sebenerny gak ngerti ini crta genre apaan,, plakk😄
    eh, tambahan. Btw yg crta kibum sudah pulang, dirumah sndri itu gmna sih? Kok tba” langsung ke crita heera? Aku kira yg lg liat foto itu kibum 0,o…?

    1. jadi kibumnya emang ga muncul, cuma disebutin aja namanya…hehe…

      kan ada keterangan genrenya di atas? hoho

      tt jinki…ntar deh ya di part2 depan…

      gomawo udh mau baca n komen yah…

  12. jinki punya sixth sense?krn itu dia membatasi diri? krn pernah dimanfaatin kelebihannya sama orang lain, dan orang itu ngedeketin jinki dimulai dgn membatu dia disaat jatuh? kenapa ngawur amat ya nebaknya?
    ditunggu kelanjutannya…

  13. What happend dengan Jinki??? Kenapa dia begitu terlihat Intervert bangetttt…. Dan diakhirnya part,, kalimat yg “aku tak suka orang meraihku saat aku terjatuh.” terkesan seseorang yang benar-benar anti sosiallll……

    Ahh.. Aku gx kehabisan kata-kata…. Nih FF joinan bener2 jadi FF yg SESUATU,, hehehe

    Pesan Moralnya banyakk bangetttt…. Daebakkk… Dan bagian yg paling aku suka… Filosofi jembatannnnn….. Ngena banget deh tuhh kalimat…..

    Masih belum bisa meraba benang merah yg akan menyambungkan antara Jinki-heera-Jjong… Ayo lanjutkan… Bibib – Veroooo daebakkkk!!!

    1. introvert eon yg bener, hhihi…

      bukan anti sosial sebenernya, tp ada reason lain…

      benang merahnya cukup sederhana…ga sepelik yg di the devil kok eon…

      ntar deh ya pelan2 eon konfliknya kerasa *semoga*

      gomawo yah eonni udh mau baca k komen^^

  14. Heera-ah, sering-seringlah melihat jam agar kau tahu ini sudah jam berapa. Tubuhmu punya hak untuk diistirahatkan. Tidurlah sebelum jam sebelas malam karena itu adalah waktu terbaik bagi tubuh untuk memproduksi sel darah merah. Aku khawatir melihatmu yang super sibuk itu.

    kata-kata ini lebih tepatnya untuk kalian berdua#mian nasehatin😀

    “Karena bagiku, hidup itu terlalu berharga untuk disia-siakan seperti itu. Bukankah dengan merusak hidupku sendiri, aku hanya akan membuat diri semakin terpuruk? Kalau aku bisa memilih untuk melawan keterpurukan itu dan menjadikan hidup lebih baik, kenapa tidak? Hidup itu adalah pilihan bukan?”

    eoni suka dengan kata kata ini. ini bener banget, eoni setuju aja😀

    Senyum Jinki terhenti saat yang terlihat di matanya hanya punggung yeoja itu. Entah mengapa ia tidak suka melihat seseorang dari belakang – meskipun ia sering melakukannya. Mengamati dari belakang adalah hal yang menyedihkan, ia merasakannya.

    kata kata ini buat eoni makin berpikir kalo Jinki punya rahasia. dan juga kemarahan Jinki pasti ada alasan seperti rahasianya.

    heera hebat banget jadi cewek, Jonghyun gg nyangka kurang mampu. hehe
    mian kalo komenya aneh😀

    keep writing, di tunggu selanjutnya😀

    1. yapppp, bener eon…aku sedang berusaha tidur 2 jam lebih cepet dr biasanya….meskipun bukan jam 11. susah eon mw tidur jam 11, tugas blom kelarrr, hihi #jd curcol

      ne, sesuatu terjadi pada jinki…semoga kita ga salah menjelaskan nantinya,…

      gomawo eonni, udh mau baca n komen ^^

  15. KEREN bgt FFnya,, baru 1 part tp udh mnarik bgt.
    msg2 tokoh pny karakter kuat yg bisa di gambarkan dgn sgt baik sm author.. konfliknya blm kliatan tp udh sedikit menjurus nih.. pnasaran sm krakter Jinki, misterius. hehe..
    aq yakin ni bkalan seru,, d tnggu lanjutannya yaa author,, hwaiting !^^

  16. omo jjong heera co cweeet deh iri jadix,,,
    jaman sekarng mana ada cowk gak matre malah kebanyakan cowk manfaatin cwek yg ada,, #upppsss kog mlh q curht heheheh
    aigooo efef daebak q suka susunan kata – katanya dan alur ceritanya,,
    walaupun aku masih penasarn kenapa sikap jinki bisa berubh – ubah,,,
    awlnya ku pikir jinki suka heera tapi kog akhirnya ngbuat q harus mikir – mikir lagi mana mungkin heera mw ninggalin jjong secara jjg baik banget wlaupun gak sekaya heera seh,,,,
    tapi ff ini Jjang~~~~
    q tunggu next partx biar semua pertnyaan q bisa kejawab,,,
    oh iya q bakal mulai tidur sebelum jam 11 malam,,,
    makasih pengetahuannya,,
    cz q biasa tidur lewt jam 12 malam,,,
    dan aku suka kata – kata pertama yaitu ILMU heheheheh,,,🙂

  17. Woa.. Dua author hebat berkolaborasi.. Dan hasilnya adalah sebuah karya yg benar2 berbobot.. Banyak pelajaran yg dsa diambil terkandung dalam ff ini..
    Tpi agak miris ketika menyinggung indonesia.. Hehe~ tpi mau bagaimana lg.. Itulah kenyataan di negeri kita tercinta ini..
    Aku suka dgn filosofi tentang jembatannya..

    Vero unnie dan bibib-ssi#q bingung mw manggil apa# bener2 DAEBAK!!
    Ditunggu kelanjutannya..

    1. aku mah ga tersinggung, emang gitu nyatanya…hehe

      eh km kelahiran taun berapa emangnya?
      panggil aku bibib aja, hehe…

      yoyo…tungguin yah lanjutannya

      gomawo udh mau baca n komen ^^

  18. mau komen apa ya?*mikir setaun*

    ah ia,,aku suka kalimat -ikatan darah lebih kuat dari ikatan cinta-.
    bener-bener pelajaran buat orang yang obsesi hidupnya hanya pada cinta.
    Tak seperti hubungan antara jjong dan heera,mereka terlihat sehat dalam menjalankannya.

    Karakter jjong disini,aku bener” berterimakasih kpda dua unnieku.Di sini jjong bener” sangat memuliakan dan menghargai seorang yeoja.
    sekali lagi,gomawo.

    oh ya aku hampir lupa,di fict ini banyak kalimat yang menyindir tenteng kelemahan orang indonesia,sedikit tersinggung sih.
    Tapi setuju ma kim hyora,indonesia memang kenyataannya seperti itu.

    biar bagaimanapun,cerita ni paling berbeda…
    banyak pesan moralnya,,,kesannya kak vero dan bibib eonnie berusaha memberi msukan pada kita semua dengan cara dibungkus dalam sebuah ff.

    ku tunggu kelanjtannya…….HWAITING.

    1. hihi, jjong ga seperfect yg dipikir. setiap orang punya sisi buruk kan?

      bener, aku jg kesel ama org yg terlalu mendewakan cinta…nyatanya bnyk hal lain yg lebih penting🙂

      iyap…semoga di part2 depan kita masih bisa masukin banyak pesan moral yah ^^

      gomawo udh mau baca n komen yah ^^

  19. Ikut komen ah…
    Hmm…
    Mengangkat isu sosial dalam sebuah fiksi, jelas bukan perkara mudah.
    Apa lagi klo isu sosial yang terjadi di Indonesia, diangkat dalam format FF yang notabene settingnya Korea Selatan (baik lokasi maupun tokoh-tokohnya).
    Salah-salah, berasa out of topic, nggak nyambung, dipaksakan.
    Usaha Vero ama Bibib, KEREN! Berani!

    Fiksi memang fiksi, tapi… berhubung aku penganut paham ‘rasionalis’ (istilah ngawur ciptaan yen, mohon jgn diprotes, kekeke…) maka yg melintas di otak aku adalah:
    1. Mereka ni sedang kuliah apa to?
    2. Mahasiswa jurusan apa? Ngebahas negera lain, Hubungan Internasional ‘kah? Ngomongin kasus Lapindo dari sisi dana ganti rugi, Ekonomi ya? Lho, kok nyari buku pengolahan limbah pabrik karet? Teknik Lingkungan dong, atau… Kimia Lingkungan? Jembatan antara perpus dan fakultas ekonomi? Oh… di Korea Selatan, jurusan Manajemen Lingkungan masuk Fakultas Ekonomi toh?

    Usul boleh ya.
    Gini, berhubung kalian berdua udah angkat tema yang ‘berat’. Gimana kalau kalian mbuka sesi tanya jawab atau debat. Jadi, para pembaca bukan sekadar nerima informasi, tapi bisa tukar pikiran. Sekalian belajar, gitu.

    Satu lagi deh, biar panjang #eh #PLAK
    Banyakin riset! Kalian punya potensi untuk nulis yang lebih dari ini. Kalian ‘kan berdua, jadi, bisa ngeliat suatu masalah dari 2 sudut pandang. Kayak kasus Lapindo itu, bakal keren banget kalau percakapannya diambil asli dari pendapat Vero dan Bibib. Vero bisa jadi Heera, Bibib jadi Jinki atau sebaliknya.
    Jadi, kesannya nggak satu arah, Jinki doang yang ngasih pandangan, Heera setuju2 aja.

    1. tenang aja yen…kita welcome bgd ama komen apapun…ff ini adalah pembelajaran buat author sekaligus readers…jadi kalo isu yg kami bahas salah, kenapa harus marah klo dikritik? bicaralah sesuka hati asal jgn kasar

      haha…bener yen…mahasiswa apaan ya?

      di otakku sih mahasiswa teknik lingkungan atau bisa juga teknik industri…tp emg belum dibilang sih…

      bener yen, ini menganggkat tema isu sosial, ada satu yang paling penting yg mau kita bahas disini, dan semoga yg pokoknya itu ga ada kekeliruan sedikitpun. kami baru baca2 internet aja yen…belum baca buku…aku n vero eon akan mencoba yg terbaik…

      kalo di part2 depan nemu hal2 yg menyimpang, bilang aja ya yen, ga perlu ragu atau takut kita marah…toh kami emg ga kuliah di jurusan yg sesuai dengan isu utamanya…jadi peluang salahnya besar…

      nah, percakapan tt lapindo, sebenernya ga semata mau bahas lapindonya, tp mau sedikit ngasih gambaran tt karakter heera n jinki.
      Heera dlm hal ini, dia orang yg punya bnyk pemikiran, tp dia bukan tipe orang yg berani melontarkannya kalo dia belum 100% meyakini kebenarannya…

      tp saranmu itu ok juga yen…semoga ke depannya ga cuma isu pokoknya yg dapet, tp dialognya jg masuk akal n kerasa ky dialog normal sehari2, bagaimana orang berdiskusi semi berdebat

      klo untuk buka forum….iyah deh….kayaknya kita perlu kasih comment di akhir part agar readers ikutan nimbrung bahas isu2nya…yg kami ragu, kami jarang online PC yen…jadi susah bales komennya…

      thx a lot yen buat masukannya…ditunggu terus yah…

    2. kelewat 1 lg.
      Jembatan perpus. Perpus dsni bukan perpus fakultas, tp perpus universitas. Jd letakny bs di mana aja kan? Soalny d kampusku, letakny adil, di tengah

  20. Fix! FF ini bakal jadi FF yang aku tunggu di blog ini. Pemilihan katanya bagus. Line story-nya juga. Errr~ pokonya daebbak deh. Aku ini tipe pemilih kalo baca FF. Cari yang emang penulisannya sesuai sama EYD sama ceritanya yang lain dan gak terkesan typo🙂
    Buat author-nya: Fighting!! Aku bakal jadi a-faithful-reader >,<

  21. ceritanya realita banget.
    aku panas waktu, jam karet khasnya org indonesia, aku berharap kita gak bkal jd bagian dr kebiasaan itu, dan kita bkal merubahnya someday,
    keep writing, buat authors yg udh dgn keren bikin cerita yg inspiratif ini!!!

  22. aigooo..akhirnyaaa baca epep Jinki lagii dgn cerita yg berbedaa n baguussss
    Jinki-ah waegereyo??ckck ini si Jinki brasa bner2 kepribadian yg asli..pendiam dn suka mnyimpan smuanya sendirian#plak#sotoymodeon
    jinki pst pnya masa lalu suram nh..*edisi nebak*
    aku sukaa jalur ceritanya, suka narasi dn deskripsinya..dn kata2nya gmpg d mengerti..
    good job author..d tggu lanjutannya
    klu bsa jgn lama2 galauu brkepanjangan itu tak baik bgi kesehatan..hihiih
    hwaiting!!*lambai3 brg Jinki*

  23. *telat baca*

    gatau mau comment apa. orang terlalu speechless sama isinya. isu yang diangkat emang realita banget. tapi kalo aku pribadi sih misalnya isu ini diceritakan dengan latar belakang Indonesia, mungkin aku gak akan ngerasa se-Jleb ini.

    masalah kejanggalan-kejanggalan yang diutarakan di comment sebelumnya, jujur aja di awal aku gak ngeh sama sekali. baru ngeh ketika baca comment-comment itu. bener juga sih, tapi aku nyimak aja aah hehe.

    terlepas dari detail-detail yang udah dikasih masukan sama reader yang lain, aku justru mau ngasih jempol dulu buat bibib sama vero (sksd bgt sama vero padahal belum pernah kenalan *annyeong*) realita yang ada bahwa genre romance itu merajai hampir seluruh bentuk cerita (ga cuma FF, bahkan editor-editor cerpen di majalah pun mintanya romance, isu sosial gak laku *sigh*) ternyata gak membuat kamu terpaku untuk bikin ff dengan genre romance yang melulu tentang love at first sight, bertepuk sebelah tangan, bimbang, pacaran, berantem, selingkuh, putus, ujungnya galau hemmmmm… –> ini sih FF lo banget sih kayanya yaaaa Nona Kim Nara.

    aku suka banget sama percakapan antara Jonghyun sama Heera. seneng bacanya karena pacaran sambil ngomongin hal yang ‘berisi’ begitu tapi tetep keliatan segi romancenya. beberapa konflik yang ada di otak aku itu cinta segitiga, orang tua Heera gak merestui, sama Jinki stress hahaha sotoy. pengen liat tebakanku bener apa gak. tapi kalo bibib sih kayanya konflik ga akan sesederhana itu ya *lirik The Devil*

    Buset panjang amat ini comment. Baiklah semangat terus buat bibib sama vero🙂

    1. hihi, iya ndits, konfliknya ga sesederhana itu.

      tp di ff ini mungkin masih berbau romance…cuma kita mencoba masukin isu2 di sekeliling, dan ada 1 hal penting yg membuat masalah muncul dlm ff ini.

      yoyo….semangat kok ndits…hanya masalah waktu yg terbatas…thx y ndits udh mau baca n komen…ditunggu masukannya ya ntar🙂

  24. ah ffnya bagus banget, ff ini berbeda dari ff2 yg lain, jujur saja sebenarnya aq kurang suka dngn cerita yg berhubungan dengan isue sosial,, bukan karna aq gx peduli tp karena menurutku tema itu terlalu berbobot, tp setelah aq membaca ff ini, rasanya seperti aq menjilat ludahku sendiri, karna aq sangat2 suka dengan ff ini,

  25. eon,ini keren. banget. btw,sorry aq baru sempet komen T~T
    Jinki kenapa???ada apa dengan jinki???kayaknya bersangkutan dengan masa lalu ato keluarganya *sotoyyy*
    jjong baik banget :’D ..tapi aq curiga(?),knp dia agak aneh pas heera nanya ttg mamanya??o.O
    sabar yah jjong,aq yakin seuatu saat kamu akan masuk boyband bernama SHINee(?),cemungudh ea XDDDDDDD
    aq tgu kelanjutannya^o^

  26. keren thor. lugas banget cara penuturannya. terus berbobot, social issue yang diangkat sensitif tapi kerasa pas.

    suka bagian Heera sama Jjong, kerasa sweet *halah

    itu Jinki kenapa?? *Yeobo, waeyo?*
    karakter Jinki dingin tapi misterius gitu, kenapa ya?. author… cepetan part 2 nya deh yaa.. haha

  27. Mian baru baca.. ^^

    Ya ampun ini dia ff yg ditunggu dr kemaren2!
    Kya kyaa udah kuduga bakal bagus bangeeeettt!!
    Kata-katanya banyak menginspirasi *wueleh

    Lanjut, lanjut! ^^

  28. aih jjong itu manis bngt disini, care luar biasa
    and suami saya jinki sungguh misteri sepertinya masalah inti FF ini ada di jinki #sotoy
    akan adakah cinta segitiga antara jinki-heera-jjong ????
    aku harap sih engga
    cos ga tega kalau jjong atau jinki ada yg terluka

  29. woah ff kolaborasi antara bibib eon dan vero eon! daebak!!
    ini ff bgs banget! mencakup semua unsur kehidupan, semua isu2 sosialnya juga ‘ngena’ bnget. mulai dr masalah lumpur lapindo itu & ‘jam karet’ yg rasanya err…………………… kena banget nget nget-_-

    ah iya pnsran juga sm author’s note tntang tema Romance ‘yang mungkin sdkit tdk biasa’. dan sikapnya jinki jg yg diakhir itu, mnurutku dia gak mau keliatan lemah deh krna nolak dibantuin pas ‘jatuh’ kata2nya dia jg ngena bnget soalnya.

    oke, sekian komenku, pengen terbang dulu ke part slnjutnya😀 #wusshhh……..

  30. eum, karakter jinki disini agak misterius, jadi penasaran ama jalan ceritanya.
    aku suka sama gaya bahasa nya, trus alur ceritanya sepertinya menarik. sukaaa🙂

  31. Huwaaaa… Daebakkkkk…
    Aku bacanya mpe stengah jam lohh. Ff ni bener2 keren penuh dengan pesan moral ^^b
    Aku suka banget ama Jjong di sini, sweet banget.
    Aku jg hmpir sama kayak Jinki ga bisa liat mata orang kalo bicara, bisa sihh tapi ga bisa lama-lama😀
    Jinkinya kenapa gitu yaa?? Ada sesuatu di masa lalunya kah yg buat dia jd tertutup gt? Hmm aku lanjut ke next part dulu dehh..

  32. Oh god!
    Baru baca part 1 aja uda loncat loncat gua,,,
    Keren banget ceritanya mbak yu bibibdubu sama heartless,,,
    Ampe lupa napas #yanginilebay.

  33. kya biasanya..
    Ak d bikin penaxaran sampe jungkir balik sm ff nya bidup ><
    suka bgt sm alur ceritanyaa..
    Next part ah..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s