Bodyguard – Part 2

BODYGUARD (PART 2)

Title                       : Bodyguard (Part 2)

Main Cast            :

–          Choi Minho SHINee

–          Kim Shin You

–          Han Nhaena

Support Cast      :

–          Kim Jonghyun SHINee

–          Lee Jinki SHINee

–          Lee Taemin SHINee

–          Kim Kibum aka SHINee

–          Para pengawal

Length                  : Part 1 – Part 4 (Sequel)

Genre                   : Romance, Action, Sad, Friendship, a bit Comedy

Rating                   : PG-16

@@@

 

HAN NHAENA’S POV

 

Begitulah. Hari-hariku dan Shin You terlewati dengan adanya seorang bodyguard di samping kami. Kemana pun kami pergi, Minho tak pernah absen untuk mengekor kami. Di sekolah, di mall, di perpustakaan kota, di taman, di tempat les biola, semuanya selalu ada Minho. Dan kami berdua tak pernah melihatnya mengeluh sekalipun untuk menjaga kami.

Minho jarang sekali tersenyum. Raut wajahnya datar. Ekpresinya terlihat suram. Entah kenapa. Mungkin, agar semua orang takut padanya dan orang-orang yang berniat ingin mencelakai kami mengurungkan niatnya. Minho juga hanya bisa berkata ‘siap!’, ‘baik’, ‘hati-hati’, ‘silahkan’ dan ia selalu saja meminta maaf bahkan jika ia tak bersalah sedikitpun. Dan sepertinya.. Hanya Taemin saja yang betah berada di sampingnya. Maksudku, tidur satu kamar dengannya. Entah bagaimana cara Taemin bertahan bersama seseorang yang seperti bisu itu. Aku dan Shin You bahkan tak pernah bisa tahu seperti apa sebenarnya Minho itu. Ia selalu membatasi diri dengan kami. Sepertinya ia sangat memegang teguh prinsip bahwa “majikan dan bawahan itu jauh berbeda”.

Setiap hari, setiap pagi, tepat pukul 4, Minho selalu membangunkan kami dan memberikan kami latihan fisik. Kami harus jogging, kami juga harus angkat burble, push up, sit up, semuanya. Hingga kami sangat kelelahan dan mengantuk di sekolah. Aku menanggapinya dengan biasa, tapi Shin You? Ia sangat tidak terima dan selalu protes pada Jonghyun Oppa untuk memecat Minho. Namun Shin You sepertinya tak ada pilihan. Ia tidak ingin Jinki-ssi selalu mengganggu dan menggodanya. Dan Minho bisa melindunginya dari hal itu.

Aku sungguh kasihan melihat Shin You yang terlihat pucat setiap harinya karena kelelahan berlatih. Dan karena tak tahan, aku mencoba mendiskusikannya dengan Jonghyun Oppa.

END OF HAN NHAENA’S POV

 

@@@

Nhaena meyakinkan dirinya kalau ia harus membicarakan masalah ini pada Jonghyun. Beberapa hari ini Jonghyun bolak-balik Jepang-Korea karena harus menangani perusahaan-perusahaan KIM di negeri sakura itu. Dan ini saatnya bagi Nhaena untuk berbicara dengan Jonghyun. Mumpung Jonghyun Oppa sedang bersantai di kamarnya. Pikir Nhaena.

“Oppa..” panggil Nhaena pada Jonghyun yang sedang tidur-tiduran di tempat tidurnya. Nhaena melangkah mendekat. Dan Jonghyun mendudukkan dirinya.

“Ada apa?” tanya Jonghyun lembut. Nhaena duduk di pinggiran kasur dan menghela nafasnya. “Tumben sekali kau mencariku.” Ledek Jonghyun. Namja itu terkekeh. Tatapan Nhaena berubah tajam. Tawa Jonghyun hilang karena merasa takut.

“Oppa, ini masalah serius. Jangan bercanda. Ada yang penting yang harus aku bicarakan denganmu.” Alis Jonghyun bertaut. Ia mulai merasa penasaran dengan apa yang akan diungkapkan Nhaena. Apakah mungkin Nhaena akan menyatakan perasaannya padaku? Aiish.. Ettokhae? Aku belum siap. Anni, aku juga belum mandi! Pasti badanku bau sekali! Batin Jonghyun panik. Jonghyun sontak mengendus-endus ke badannya sendiri membuat Nhaena mengernyit heran melihat respon Jonghyun.

“Nhaena-ah, apakah aku bau?” Nhaena terperangah.

“Apa maksudmu??” tanya Nhaena sebal. Jonghyun masih terus mengendus-endus badannya sendiri.

“Aku belum mandi. Kau akan menyatakan cinta padaku kan? Changkamman, aku mandi dulu.” Nhaena reflek menahan Jonghyun yang akan bangkit dari duduknya.

“Duduk, diam, dan cukup dengarkanlah aku, Oppa!” titah Nhaena membuat Jonghyun bungkam. Nhaena menghela nafasnya lagi. Kali ini lebih panjang. “Ini tentang Shin You. Adikmu.”

Ekspresi Jonghyun berubah serius. “Kenapa dengannya?” tanya Jonghyun yang memang belum tahu keadaan Shin You.

“Oppa, aku tanya padamu, bisakah kau meminta Minho untuk berhenti memberikanku dan Shin You latihan fisik di setiap pagi?? Kami berdua tersiksa. Terutama Shin You. Kami jadi tidak bisa konsentrasi di sekolah. Dan akhir-akhir ini kesehatan Shin You menurun. Kau tidak tahu kan?” Bibir Jonghyun kaku. Tak bisa mengeluarkan suara. Jonghyun merasa sangat bersalah sekali dengan dirinya sendiri. Beberapa hari ini dia hampir saja melupakan adiknya itu karena pekerjaan yang menumpuk.

“Mianhae..” sesal Jonghyun.

“Kau tidak perlu meminta maaf, Oppa. Aku juga tahu kau hanya ingin memberikan kami yang terbaik. Melindungi kami. Hajiman, apa gunanya seorang bodyguard jika majikannya justru terbaring sakit di kamarnya sekarang?” Jonghyun tersentak.

“Mwo?! Younnie sakit?” Nhaena mengangguk dan Jonghyun langsung berlari menuju kamar Shin You. Nhaena pun mengikuti. Di sana, Jonghyun dapat membuktikan kebenaran kata-kata Nhaena. Jonghyun mendekat ke sisi tempat tidur Shin You. Dan melihat adiknya itu tertidur dengan wajah yang pucat. Jonghyun mengusap kepala Shin You perlahan.

“Mianhae..” sesal Jonghyun lagi. “Maaf Oppa tak bisa menjagamu dengan baik.”

Nhaena tersenyum. “Anni, Oppa. Aku hanya minta, bisakah Minho tetap menjadi bodyguard kami tanpa perlu memberikan kami latihan fisik?” Jonghyun mengangguk.

“Ne. Aku akan membicarakannya pada Minho.” Dan Nhaena tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar.

@@@

 

                DORRR!!

Jonghyun menembakkan peluru di pistolnya tepat pada sasaran. Buah apel yang berada di atas kepala Taemin pun hancur. Tubuh Taemin langsung ambruk dan tatapannya kosong. Sedetik yang lalu, baru saja ia dihadapkan pada kematian atau cacat seumur hidup jika peluru itu mengenai kepalanya. Jonghyun tersenyum, bangga dengan prestasi menembaknya yang semakin hari semakin baik. Namun tidak dengan Taemin. Taemin merasa menjadi bulan-bulanan Jonghyun.

“Hyung! Kau tega sekali. Jika pelurunya menembus kepalaku bagaimana??” rengek Taemin sambil berjalan ke hadapan Jonghyun. Jonghyun hanya terkekeh dan mengacak-acak rambut Taemin.

“Tidak mungkin. Kau bisa percaya pada kemampuanku.” Angkuh Jonghyun.

“Ya! Kau membandingkan nyawa seseorang dengan kemampuanmu, Hyung??” Taemin mulai terisak. Jonghyun menjadi tak tega, lalu memeluk Taemin erat.

“Ssst.. Uljimayo..” Jonghyun mengusap-usap punggung Taemin.

“Lain kali jangan seperti ini lagi!” Protes Taemin dalam pelukan Jonghyun.

“Ya! Bagaimana bisa seorang ketua mafia, pewaris pertama kekayaan keluarga KIM, bersikap selembut ini pada bocah seperti dia?” seru seorang namja yang baru datang ke tempat latihan menembak. Namja itu berambut blonde dengan pakaian serba pink yang membalut tubuhnya.

“Seorang ketua mafia juga memiliki perasaan kan?” balas Jonghyun. “Key-ah, ada perlu apa kau sampai jauh-jauh dari Busan kemari?” tanya Jonghyun sambil melepas sarung tangan khusus menembaknya dan memberikannya pada Taemin. Key tersenyum.

“Tak ada yang penting. Aku hanya ingin beramah-tamah saja.” Jawab Key sambil mengangkat bahunya acuh. Sontak, Jonghyun langsung menarik kerah kemeja Key kasar.

“Kau salah jika ingin beramah-tamah dengan seorang mafia sepertiku, Kim Kibum. Aku bisa kapan saja membunuhmu, jika aku mau!” Ucap Jonghyun dengan tatapan menusuk dan suaranya yang datar. Wajah Key berubah seketika. Pucat pasi. Taemin hanya terkekeh melihatnya.

“HAHAHAHAHA!!!” Tawa Jonghyun meledak. Taemin pun demikian. Jonghyun merangkul Taemin dan masuk ke dalam rumah. Key yang merasa dijahili mengerucutkan bibirnya kesal. Namun, Key tetap mengekor Jonghyun.

“Tampangmu bodoh sekali, Key-ah.. Hahahaha, aduh! Perutku jadi sakit.” Jonghyun memegangi perutnya ketika Taemin menyodorkannya sebotol cairan antiseptik untuk tangan pada Jonghyun. Key membuang wajahnya, semakin kesal. Ini sudah ke sekian kalinya Key dipermainkan oleh Jonghyun.

Jonghyun menahan tawanya seraya menuangkan beberapa tetes cairan aintiseptik itu ke telapak tangannya dan mengosok-gosokkannya. Lalu Jonghyun memberikan botol antiseptik itu pada Taemin dan Taemin menukarnya dengan secangkir frappucino. Minuman kesukaan Jonghyun. Dan Taemin sudah sangat hafal itu.

Jonghyun langsung menyesap frappucino miliknya.

“Dimana Minho?” tanya Key. Dan..

BOO!!

Minho tertawa keras, Jonghyun dan Taemin juga, ketika Minho berhasil mengagetkan Key dengan berteriak tepat di telinga Key membuat Pinky Boy itu terlonjak.

“Ya Tuhan.. Apa dosaku??” gumam Key namun masih bisa didengar oleh ketiga namja yang berada bersamanya. Tawa mereka semakin keras dan semakin menyiksa batin Key.

“Hei.. Ada apa kau ke sini?” tanya Minho menghentikan tawanya. Yang lain pun ikut terdiam.

“Gwenchana. Hanya ingin melihat keadaanmu saja.” Jawab Key sekenanya. Minho mengangguk. Lalu Minho menatap Jonghyun.

“Tuan, ada apa Tuan memanggil saya kemari?” tanya Minho pada Jonghyun. Jonghyun memberikan cangkirnya pada Taemin. Taemin adalah pelayan yang khusus melayani Jonghyun. Jadi tidak heran jika Taemin selalu mengekor Jonghyun kemanapun dan dimanapun karena itu memang merupakan bagian dari salah satu tugasnya.

“Ah, begini. Aku memintamu untuk berhenti memberikan latihan fisik pada Younnie dan Nhaena. Aku rasa itu terlalu berlebihan. Kau cukup menjaga mereka saja. Arrasseo?” titah Jonghyun dan Minho mengangguk mengerti.

“Baik, Tuan!” Jonghyun tersenyum puas.

“Dulu, Appa sering menceritakanku tentang orangtua kandungmu, Minho-ssi. Mereka sangat hebat. Siwon Ahjusshi telah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Appa. Aku sungguh berterima kasih padamu. Dan juga pada Tuhan, karena telah memberikanku kesempatan untuk bertemu dan mengenal anak dari seseorang yang telah menyelamatkan nyawa Appaku.” Jonghyun tersenyum. Minho membungkuk sopan.

“Kamsahamnida atas pujiannya, Tuan. Saya juga tidak akan menjadi seperti ini jika bukan karena kebaikan hati Soo Man Ahjusshi yang mau mengangkat saya menjadi anak.” Ucap Minho. Minho terus menunduk, tak berani menatap langsung kedua mata Jonghyun. Hal itu membuat Jonghyun heran.

“Bukankah kita bersaudara? Kau tak perlu memanggilku dengan sebutan ‘Tuan’ seperti itu, Minho-ssi. Aku cukup senang karena ternyata aku memiliki saudara laki-laki sepertimu.” Minho menggeleng.

“Tidak, Tuan. Bagaimana pun juga, saya bekerja untuk Tuan. Untuk keluarga ini. Untuk Nona Shin-goon dan Nona Nhaena. Jadi, hal itu tidak mungkin terjadi. Kalian tetap atasan saya.” Jonghyun tersenyum. Merasa bangga dan bersyukur telah meminta Key untuk mengirimkan Minho sebagai bodyguard adiknya.

 

@@@

Beberapa hari kemudian…

               

                “Oh, God! Lama-lama aku bisa jadi gila jika terus seperti ini!” keluh Shin You sambil melempar bantal ke tempat tidurnya. Nhaena yang sedang mengetik tugas sekolah di laptopnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

“Sudahlah. Lagipula kita sudah tidak menjalani latihan fisik di setiap pagi kan? Kau juga sudah sembuh. Kita juga sudah bisa konsentrasi lagi di sekolah. Apa lagi yang kau keluhkan, hm?” komentar Nhaena. Shin You berkacak pinggang dan berjalan mondar-mandir di belakang Nhaena sambil memutar otaknya.

“Ah! Aku ada ide!” Shin You melompat ke hadapan Nhaena dan Nhaena tersentak. Nhaena mengelus dadanya dan menjitak kepala Shin You pelan.

“Mwoya?” Nhaena menutup laptopnya dan fokus pada Shin You sekarang.

“Bagaimana jika aku membuat perhatian Minho pada kita sedikit teralihkan?” Shin You mengerlingkan matanya nakal. Namun Nhaena merasa tak tertarik dan membuka lagi laptopnya -melanjutkan pekerjaannya-. Shin You menjadi kesal.

“Jangan berbuat yang tidak-tidak, Shin-goon. Jika Minho tahu ulahmu dan melaporkannya pada Jonghyun Oppa, bisa-bisa latihan fisik di setiap pagi akan berlaku lagi untuk kita.” Kata Nhaena memperingati.

“Yaa.. Jangan sampai Jonghyun Oppa, Minho dan yang lainnya tahu. Mudah kan?” Nhaena menghela nafasnya. Yeoja berambut sebahu itu bangkit dan berjalan menuju balkon. Nhaena menghirup udara segar di sana. Shin You mengekor di belakangnya dengan tatapan memohon.

“Aku hanya akan mendukungmu. Tapi aku tidak akan terlibat. Arrasseo?” Shin You mengangguk cepat dan tersenyum lebar. “Memangnya, apa rencanamu?” tanya Nhaena yang sejujurnya merasa penasaran.

“Aku akan membuat Minho jatuh cinta pada seseorang. Dengan begitu, perhatiannya pada kita akan teralihkan. Kau tahu kan, orang yang sedang jatuh cinta itu akan menjadi gila.” Nhaena membelalakan matanya tak percaya.

“Mwo? Kau gila?? Minho tidak mungkin jatuh cinta pada siapapun. Dia adalah tipe orang yang akan mengbdikan seluruh hidupnya untuk pekerjaan. Lagipula, kau akan membuatnya jatuh cinta dengan siapa??” Nhaena memijit pelipisnya yang mulai terasa pusing. Nhaena tak habis pikir dengan jalan pikiran Shin You.

“Tentu saja denganku!” Shin You tersenyum lebar dan Nhaena membelalakan matanya lagi. Namun belum sempat Nhaena akan protes, Shin You sudah melanjutkan kalimatnya. “Tentu saja bukan denganku sebagai Kim Shin You, tapi denganku sebagai orang lain.”

“MWO?!”

“Changkamman. Aku akan menggunakan ponsel dan nomer teleponku untuk melakukan penyamaran ini. Aku akan mengubahnya menjadi private number.” Shin You sibuk mengotak-atik ponselnya. Dan Nhaena? Yeoja itu hanya bisa pasrah jika Shin You sudah ada maunya.

Shin You menghubungi ponsel Minho. Yeoja itu mengedipkan sebelah matanya nakal pada Nhaena. Dan Nhaena hanya bisa geleng-geleng kepala dibuatnya.

Di sisi lain, Minho dan Taemin sedang latihan memanah bersama. Taemin dan Minho sama-sama memiliki waktu luang jika Shin You dan Jonghyun berada di rumah. Beberapa hari ini Taemin dan Minho menjadi akrab bahkan Minho sudah menganggap Taemin seperti namdongsaengnya sendiri.

Minho sebenarnya ingin sekali memiliki seorang adik. Entah itu yeoja atau namja, Minho takkan keberatan. Namun sayang, darimana Minho akan memiliki seorang adik jika kedua orangtuangnya saja sudah meninggal? Jangankan untuk meminta seorang adik pada orangtuanya, untuk mengucapkan kata ‘Eomma’ dan ‘Appa’ kepada orangtuanya saja Minho tak sempat. Itu sebabnya, Minho bisa menyayangi Taemin seperti pada adiknya sendiri.

JLEB!

“Hyung! Tepat sasaran, Hyung!” sorak Taemin riang ketika busur panahnya tepat mengenai sasaran, yaitu buah apel yang ditancapkan di batang pohon. Minho tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Taemin.

Tiba-tiba ponsel Minho yang Minho letakkan di sebuah meja tak jauh dari mereka bergetar. Minho dan Taemin menoleh.

“Angkat saja dulu, Hyung.” Nasihat Taemin. Minho pun berjalan mengambil ponselnya. Untuk beberapa saat, Minho terdiam memperhatikan tulisan yang tertera di layar ponselnya. Private number?? Heran Minho dalam hati.

“Yeobsseyo?” Minho menyapa peneleponnya.

“Annyeong!” sapa seorang yeoja di sana.

“Nugu?” tanya Minho yang merasa tak mengenal suara yeoja yang terkesan centil itu.

“Na? Aku adalah pemuja rahasiamu.” Jawab suara yeoja itu dengan nada yang manja. Kedua alis Minho bertaut. Minho merasa tak tertarik.

Dari balkon kamarnya, Shin You dapat dengan jelas melihat Minho dan Taemin di bawah, di tempat latihan memanah. Dan Shin You dapat menangkap sosok Minho yang sedang menerima telepon darinya.

“Aku tak mengenalmu. Jika kau hanya iseng, lebih baik kututup saja.“ putus Minho.

“Eh, jangan! Ja-”

TUT TUT TUT..

Minho memutuskan sambungan teleponnya dan menghampiri Taemin.

“Lihat kan? Dia tak peduli.” Kata Nhaena lalu duduk di atas tempat tidur. Shin You menanggapinya dengan menyeringai puas.

“Tenang saja. Ini baru permulaan.” Shin You terlihat antusias sekali dengan rencananya itu.

“Terserah kau saja lah..” Nhaena merebahkan dirinya dan menutupi wajahnya dengan bantal. Nhaena tak ingin terlibat dengan rencana konyol Shin You ini.

Sedangkan Minho kembali berlatih memanah.

“Siapa yang menelepon, Hyung?” tanya Taemin.

“Molla. Yeoja iseng. Aku tak mengenalnya.” Jawab Minho seraya menarik busur panahnya.

“Bukan pacarmu?” Minho mendelik. “Ups, sorry..” sesal Taemin sambil menahan senyumnya.

“Aku tak pernah berurusan dengan yang namanya cinta, Taemin-ah..” Taemin terbelalak.

“Jeongmal?!” tanya Taemin tak percaya. Minho hanya mengangguk dan mulai membidik sasarannya. Taemin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

 

@@@

 

Keesokan harinya..

Di sekolah, pada jam istirahat..

 

                Shin You dan Nhaena keluar dari kelas mereka dan berjalan menuju perpustakaan. Kebetulan, ada buku yang harus Nhaena pinjam. Dan Nhaena meminta Shin You untuk menemani.

Ini menjadi suatu kesempatan emas bagi Shin You untuk terus melancarkan rencananya. Shin You menoleh ke belakang dan melihat Minho mengekor mereka berdua. Shin You tersenyum.

“Minho-ah, kau tunggu di luar saja. Kami takkan lama.” Pinta Shin You.

“Baik, Nona.” Jawab Minho. Minho pun berjaga-jaga di depan pintu masuk perpustakaan. Shin You tersenyum puas. Yeoja itu lalu mengambil tempat di sudut ruangan. Shin You bahkan melupakan Nhaena yang memintanya untuk menemaninya.

Shin You meraih ponsel dalam saku kemeja seragamnya dan menekan tombol 9 untuk panggilan cepat ke nomor ponsel Minho.

DRRT.. DRRT..

Minho sedikit terlonjak ke depan. Membuat seorang yeoja  yang lewat di depannya mengatainya gila. Minho menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal –merasa malu- dan langsung menjawab panggilan di ponselnya.

“Private number lagi?” gumam Minho. “Yeobsseyo?” kata Minho.

“Hai..” kata Shin You sambil mengintip ke arah pintu masuk, memastikan Minho yang menjawab teleponnya.

“Kau lagi.” Kata Minho sebal begitu mengenali suara yeoja yang sama dengan suara yeoja yang menjahilinya kemarin. “Aku tak ada waktu un-“

Shin You memutus perkataan Minho. “Aku bahkan bisa melihat dan mendengar yeoja itu ketika mengataimu gila.” Minho terkesiap. Itu berarti yeoja iseng ini ada di sini.. Batin Minho. Minho langsung melayangkan pandangannya ke manapun ia bisa.

“Dimana kau? Kau di dekat sini kan? Siapa kau??” tanya Minho bertubi-tubi dan itu membuat Shin You gemas.

“Emm.. Nahra. Itu namaku. Annyeong!” Shin You memutuskan sambungannya dan segera menghampiri Nhaena yang sedang duduk sambil membaca sebuah buku. Shin You berpura-pura membaca buku. Nhaena melirik dan bingung.

Ternyata dugaan Shin You tepat. Minho masuk ke dalam perpustakaan dan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Shin You sengaja berpura-pura membaca buku agar Minho tak mengira dirinya sebagai Nahra.

Nahra? Dimana dia? Aiish.. Batin Minho kesal. Pandangan Minho tertuju pada Shin You dan Nhaena yang duduk membelakanginya  sambil membaca buku. Lalu Minho mengedikkan bahunya dan keluar dari perpustakaan, menunggu lagi di depan pintu.

Shin You terkekeh perlahan lalu menutup buku yang ia pegang.

“Hei, kenapa kau tertawa?” tanya Nhaena yang penasaran ketika melihat Shin You terus terkekeh.

“Aku gemas sekali dengan ekspresinya yang kebingungan itu, Nhaena-ah. Baru kali ini aku melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu. Seperti bukan dia saja.” Shin You masih terkekeh.

“Ya! Kau masih saja menjahilinya, huh?” Shin You mengangguk cepat.

“Ini hal yang mengasyikkan. Sepertinya Minho mulai penasaran siapa yeoja bernama Nahra itu.”

“Aigoo.. Kau mengaku sebagai Nahra? Terserah kau saja lah.” Seperti biasa, Nhaena enggan terlibat dalam rencana Shin You ini. Yeoja itu memilih diam dan melanjutkan membaca buku.

 

@@@

 

HAN NHAENA’S POV

 

                Sudah seminggu ini, Shin You terus gencar-gencarnya menghubungi Minho sebagai Nahra. Walaupun aku tak mau terlibat, namun aku cukup khawatir dengan tingkah Shin You. Aku takut Minho akan mengetahui topengnya. Berulang kali aku memperingatinya dan menyarankannya untuk menghentikan permainan konyol ini. Tapi, Shin You tak pernah mau menghiraukanku.

Sempat terpikir untuk mengatakan hal ini pada Jonghyun Oppa dan meminta Jonghyun Oppa agar membatalkan rencana pertunangan Shin You dengan Jinki-ssi. Untuk apa? Tentunya agar Minho dapat keluar dari rumah ini dan tidak menjadi bodyguard kami lagi. Karena, jika rencana pertunangan itu batal, maka tak ada alasan lagi bagi Shin You untuk menjadikan Minho sebagai tamengnya terhadap Jinki-ssi. Dan permainan ini akan selesai.

Entah kenapa, sekarang ini aku merasakan perasaan yang sangat tidak enak. Sepertinya, sesuatu yang rumit akan terjadi. Dan benar, sesuatu terjadi di malam ulang tahun teman sekelas kami di sebuah café. Sesuatu yang tidak pernah Shin You duga akan terjadi padanya…

END OF HAN NHAENA’S POV

 

@@@

 

@@@

 

Shin You tengah mematut dirinya di depan cermin besar yang dengan jelas memantulkan seluruh bayangan dirinya. Nhaena baru saja keluar dari kamar mandi dan tersenyum melihat Shin You yang asyik berpose di depan cermin.

Nhaena duduk di depan meja rias dan mulai merias wajahnya.

“Kau akan mengurainya begitu saja?” tanya Nhaena sambil melirik Shin You dari cermin meja riasnya.

“Oh? Ne. Aku suka mengurai rambut panjangku. Aku hanya menjepit bagian poni dan menggulung ujung-ujungnya saja. Aku tak mau rambutku rusak.” Jawab Shin You sambil menyisir rambutnya dengan jari jari tangannya.  Nhaena tersenyum.

“Kau sudah memberitahu Minho kan kalau malam ini kita akan pergi ke pesta?” tanya Nhaena lagi seraya mengoleskan lipgloss di bibirnya. Shin You duduk di atas tempat tidur dan mengangguk.

“Ne. Hajiman, aku takut..” kata Shin You dengan wajah tertunduk. Nhaena menghentikan asktifitasnya dan menoleh ke belakang.

“Waeyo?”

“Jinki Oppa. Dia ingin menemuiku di tempat pesta nanti.” Aku Shin You malas. Nhaena melanjutkan merias wajahnya. Kali ini Nhaena memakaikan eyeliner di kedua bulu matanya.

“Lho? Bukankah sudah ada Minho? Gokjongmalyo, Shin-goon..” kata Nhaena mencoba menenangkan Shin You.

“Ne. Kau juga ya? Jangan jauh-jauh dariku nanti.” Nhaena bangkit.

“Ne. Eh, bagaimana dengan penampilanku?” tanya Nhaena meminta pendapat.

“Nomu yeppo.” Puji Shin You sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

“Benarkah? Kalau begitu aku harus mengabadikan kecantikanku malam ini.

JEPRET!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

@@@

 

Di tempat pesta (di Cafe)…

 

                Suara alunan musik langsung memekakan telinga begitu Shin You, Nhaena dan Minho masuk ke dalam café, tempat dimana diadakannya pesta ulang tahun teman sekelasnya itu.

“Nhaena-ah, kau tak lupa membawa hadiahnya kan??” tanya Shin You sampai harus setengah berteriak. Nhaena dan Shin You mencoba menembus –melewati lantai dansa yang dipenuhi dengan teman-teman mereka yang sedang asyik menari-. Minho berinisiatif membantu membukakan jalan untuk Shin You dan Nhaena.

“Ne. Sudah aku bawa.” Jawab Nhaena tak kalah keras. “Shin-goon, kau tunggu di sofa kosong itu saja dengan Minho-ssi. Aku akan memberikan hadiahnya dulu.” Shin You mengangguk dan Minho mempersilakan Shin You untuk berjalan menuju sofa terlebih dahulu. Shin You duduk di sofa sendirian. Sedangkan Minho berdiri di samping sofa sambil mengamati keadaan sekitar dengan posisi siaga.

“Minho-ah..” panggil Shin You namun karena musik yang terlalu keras, namja dengan earphone yang selalu menyumbat telinga kanannya itu tak dapat mendengarnya. Shin You kesal dan akhirnya menarik tangan Minho. Minho tersentak dan lalu membungkuk meminta maaf.

“Iya, Nona. Maaf. Ada apa?” tanya Minho.

“Bisa ambilkan aku minum? Jus saja. Aku haus sekali.” Pinta Shin You sambil terus menarik-narik tangan Minho.

“Ah, Nona. Maaf. Tapi, aku harus menjaga Nona di sini.” Kata Minho mencoba menolak. Karena tugasnya hanya untuk melindungi Shin You. Bukan untuk menjadi pelayannya. Seperti apa yang menjadi tugas Taemin kepada Jonghyun.

“Ck! Ppaliwa! Atau kau kulaporkan pada Jonghyun Oppa karena tak mau menjagaku dengan baik.” Ancam Shin You membuat Minho cepat-cepat menuju meja bartender dan memesan segelas jus.

CUP!

“YA!!” teriak Shin You ketika mendapati Jinki berhasil merebut ciuman pertamanya. Jinki menyeringai puas.

“Hai, Tunanganku. Wah, malam ini kau cantik sekali.” Puji Jinki namun membuat Shin You muak. Jinki mengangkat tangannya dan ingin menyentuh Shin You. Namun Shin You menepisnya agak kasar.

“Wae geurae (Kenapa begitu)??” tanya Jinki heran.

“Sudah berapa bali kubilang padamu Oppa? Aku tak suka padamu. Jadi jangan bersikap seolah-olah kita adalah sepasang kekasih dan aku tidak mau disentuh olehmu!” bentak Shin You.

“YA! Nappeun yeoja!” bentak Jinki tak kalah keras dan Jinki langsung mencengkeram kedua bahu Shin You keras. Shin You terus meronta. Tapi tenaga Jinki lebih kuat dan Jinki terus mendekatkan wajahnya pada wajah Shin You. Jinki ingin sekali mencium Shin You lagi. Tapi kali ini dengan cara kasar.

Di sisi lain, Minho baru saja mendapatkan minuman yang diinginkan oleh Shin You. Begitu berbalik, Minho tersentak dan langung menghampiri Jinki dan Shin You. Minho menumpahkan segelas jus yang ada di tangannya di kepala Jinki. Jinki berbalik dan menatap tajam namja yang sudah berani menyiram kepalanya dengan air jus.

“Neo?!” geram Jinki sambil mengacungkan telunjuknya ke depan wajah Minho.

“Ne. Kita bertemu lagi, Tuan Jinki. Bagaimana? Apakah otak Anda sudah bersih? Aku pastikan air jus itu akan membuang pikiran mesum Anda.” Minho mencoba untuk tersenyum hanya untuk berbasa-basi. Namun senyumnya pudar ketika melihat Shin You menangis dengan sudut bibirnya yang lebam. Air wajah Minho mengeras. Kedua tangannya terkepal erat.

BUGH!

Minho berhasil mendaratkan pukulannya di wajah mulus Jinki. Jinki tersungkur dan mengerang perlahan seraya mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya.

“Wah, kebetulan sekali hasil pukulanku membekas di sudut bibirmu. Seperti apa yang kau lakukan pada Nona Shin-goon.” Kata Minho dengan seringainya.

BUGH!

“Ini untuk lebam yang kau buat di sudut bibir Nonaku!” bentak Minho. Shin You tersentak mendengar cara Minho menyebut dirinya.  Jinki tak dapat berkata apa-apa dan tergeletak tak berdaya di lantai. Minho memaksa Jinki untuk berdiri dengan kasar.

“Jadi, apakah kau benar-benar seorang mafia juga? Aku ragu.” Cibir Minho.

Semua tamu yang datang sudah berkerumun mengelilingi mereka. Minho tersenyum dan menemukan sebuah ide.

“Nona Shin-goon..” panggil Minho. Shin You terkesiap dan langsung menghapus air matanya asal. Shin You bangkit dan mendekat pada Minho yang kini mencengkeram erat pundak Jinki agar namja itu tak oleng dan jatuh lagi. “Tampar dia.” Shin You terbelalak.

“Apa maksudmu??” tanya Shin You seraya menatap Minho serius.

“Ungkapkan semua rasa kekesalanmu selama ini padanya. Terserah apapun yang akan kau lakukan. Biarkan semua orang di sini menjadi saksinya.”

“Shin-goon!!” teriak Nhaena langsung memeluk tubuh Shin You. “Kau tak apa-apa kan? Maafkan aku terlalu lama meninggalkanmu.” Shin You menggeleng. Nhaena menghapus sisa-sisa air mata yang masih membekas di sekitar kedua mata Shin You.

“Gwenchana, Nhaena-ah.” Jawab Shin You.

“Cepat, Nona! Lakukanlah. Aku rasa ini perlu kau lakukan. Ini sebagai pelajaran untuknya.” Titah Minho.

PLAK!

Akhirnya Shin You mau menuruti permintaan Minho. Minho tersenyum.

“Aku harap kau selalu mengingat tamparan itu, Oppa!” Shin You langsung berlari meninggalkan tempat itu dan masuk ke toilet. Nhaena ingin mengejar namun ia harus menenangkan situasi di tempat itu dulu.

“Dwaesseo. Jinki-ssi, pulanglah. Minho-ah, sudah. Tenangkan emosimu.” Minho mendorong tubuh Jinki kasar dan namja itu berjalan tertatih-tatih meninggalkan café itu. Perlahan, keadaan café pun kembali seperti semula.

 

@@@

 

@@@

Shin You memandangi dirinya di depan cermin lebar dekat washtafel. Tangannya perlahan terangkat menyentuh lebam yang membekas di sudut bibirnya. Sejenak, Shin You kembali mengingat perkataan Minho dari awal pertemuan mereka sampai sekarang.

“Kau siapa?”

“Choi Minho imnida. Bodyguard yang Tuan Jonghyun sewa untuk menjaga Nona Shin-goon dan Nona Nhaena.”

 

“Meskipun anda adalah tunangan Nona, tapi jika Nona tak suka dan merasa terganggu, anda akan berurusan denganku, Tuan. Karena mulai sekarang, aku adalah bodyguardnya.”

 

“Tampar dia.”

 

“Ungkapkan semua rasa kekesalanmu selama ini padanya. Terserah apapun yang akan kau lakukan. Biarkan semua orang di sini menjadi saksinya.”

 

DEG DEG DEG DEG!

Shin You menyentuh dadanya. Terasa sekali jantungnya berdegup kencang di sana. Bahkan wajah Minho sudah hampir memenuhi pikirannya. Shin You tersenyum.

“Aku mencintainya?  Ya, aku benar-benar mencintainya.” gumam Shin You lalu meraih ponselnya dan menelepon Minho.

Minho duduk di sofa dengan wajah yang suram. Ia merasa sangat bersalah karena telah lengah menjaga Shin You. Ia merasa telah gagal menjadi bodyguard yang baik. Seharusnya Nona Shin-goon tak mendapat luka setitik pun! Batin Minho kesal pada dirinya sendiri.

Nhaena memperhatikan Minho yang terlihat gelisah.

“Minho-ah..”

Minho terkesiap. “Nde?” Minho lalu bangkit dari duduknya dan mempersilakan Nhaena untuk duduk. Namun Nhaena tersenyum dan menggeleng.

“Gomawo..” ucap Nhaena.

“Untuk apa, Nona?” tanya Minho heran.

“Dulu kau juga pernah menyelamatkanku. Kau membawaku sampai ke rumah sakit.” Minho tampak berpikir. “Ingat?”

“Ah, saya ingat. Nde, tak masalah. Itu sudah menjadi tugas saya.”

DRRT.. DRRT..

Minho terlonjak untuk ke sekian kalinya karena ponsel dalam sakunya bergetar. Minho menekan tombol kecil di earphonenya.

Terdengar suara di earphonenya. “Minho-ah..”

“Nahra-ah..” Minho tersenyum. Entah sejak kapan Minho mulai terbiasa dengan Nahra dan justru merasa rindu jika Nahra tak kunjung meneleponnya. Nhaena mengernyit heran melihat perubahan ekspresi Minho yang semula suram menjadi ceria.

“Dengarkan aku, Minho-ah..” Minho mengangguk semangat. Namun ketika Minho tak sengaja melirikkan matanya ke samping, ia menangkap sesosok namja yang sangat mencurigakan.

“Nahra, tolong tutup teleponnya dulu..” Shin You mengernyit.

“Nona Nhaena, anda cepatlah masuk ke dalam mobil dan tunggu aku di sana. Jangan keluar sampai saya kembali bersama Nona Shin-goon. Sepertinya ada orang jahat yang menyelinap ke tempat ini. Ppaliwa!” Nhaena langsung berlari keluar café dan bersembunyi di dalam mobil.

“Minho-ah.. Ada yang ingin aku sampaikan padamu.” Kata Shin You terdengar jelas di earphone Minho.

“Jangan sekarang. Nanti saja. Aku berada di café dan sedang bertugas. Sepertinya ada orang jahat yang sedang mengincar Nona Shin-goon.” Terang Minho sambil terus berjalan perlahan mengekor orang yang mencurigakan itu. Minho mengeluarkan pistolnya dan mulai berjaga-jaga.

“Mwo?! Ne. Aku tutup.” PIPP! Shin You mengakhiri teleponnya dengan Minho. Shin You mengedarkan pandangannya ke sekeliling toilet. Sepi. Tak ada yeoja lain yang ada di toilet ini selain dirinya sendiri. Shin You cepat-cepat keluar dari toilet. Ketika melewati sebuah lorong, Shin You menangkap sosok Minho dari kejauhan. Shin You melambai dan tersenyum. Namun Minho terkesiap.

Minho melihat orang yang mencurigakan itu berada tak jauh di belakang Shin You dan membawa pisau lipat. Shin You tak mengetahuinya dan terus melambai ke arah Minho. Minho berlari secepat yang ia bisa dan menghalangi tubuh Shin You dari belakang. Dengan cepat, Minho mendorong tubuh Shin You ke sisi yang lain sehingga penjahat itu tak berhasil melukai Shin You. Namun penjahat itu berhasil membuat lengan kanan Minho tergores cukup dalam oleh pisaunya. Darah segar menetes dari sana. Namun Minho tak peduli dan langsung menarik satu tangan penjahat itu dan memelintirnya. Sejurus kemudian, Minho menendang perut penjahat itu. Namja itu tak sadarkan diri di lantai.

Minho berjalan menghampiri Shin You. Namun seorang namja lagi berdiri tak jauh di belakang Minho dan mengacungkan pistol di tangannya. Kali ini Minho yang tak mengetahui kalau nyawanya terancam. Shin You segera bangkit dan mendorong tubuh Minho hingga Minho sedikit membentur dinding.

DORR!! Beruntung pelurunya meleset.

“NONA, CEPAT LARI!!!” Shin You mengangguk dan berlari keluar dari café bersama orang-orang yang lain. Shin You melesat masuk ke dalam mobil dan langsung memeluk Nhaena sambil menangis.

“Dia terluka, Nhaena-ah.. Minho terluka karena aku!” Nhaena mengeratkan pelukannya di tubuh Shin You.

“Sssstt.. Uljimayo..” Shin You menarik dirinya. “Dia pasti akan kembali dengan selamat.” Kata Nhaena sambil mengusap pipi Shin You yang basah.

“Bagaimana aku bisa berhenti menangis jika namja yang aku cintai terluka seperti itu?!” DEGH! Nhaena tersentak.

“K-kau mencintainya??” tanya Nhaena tak percaya. “Ini bukan bagian dari permainanmu kan??”

“Aniyo! Aku benar-benar tulus mencintainya!” Shin You memeluk Nhaena lagi dan terus menangis. Nhaena memejamkan matanya. Bagaimana ini, Tuhan?? Batin Nhaena bingung dengan keadaan.

Sementara itu, Minho terus memegangi lengan tangan kanannya yang meneteskan darah segar akibat tergores pisau lipat tadi. Dan namja bertubuh jangkung itu cukup dibuat kesakitan karena luka goresnya cukup dalam.

“Bagaimana? Kau dengan tangan kosong, dan aku dengan pistol ini.” Kata namja di hadapan Minho dengan senyum liciknya.

“Kau kira aku takut?!” tantang Minho.  Dan namja itu pun menjadi geram dengan sikap Minho.

DORR!! DORR!!

Namja itu menembakkan dua pelurunya ke dada Minho. Minho tersentak dan mundur beberapa langkah.

DOR DOR DOR DOR!!

4 peluru lagi menghujam dada Minho. Namja itu tersenyum puas melihat Minho membungkuk kesakitan sambil memegangi dadanya yang berbalut jaket hitam dengan beberapa lubang bekas tembakan tadi.

“Hahahaha.. Mati kau, Choi Minho!!!” Teriak namja itu senang. Namja itu membalikkan badannya dan hendak meninggalkan Minho.

“Jadi, hanya ini saja kemampuanmu?” Namja itu menghentikan langkahnya dengan tatapan tak percaya. Namja itu berbalik melihat Minho.  Minho menyeringai. Sedetik kemudian Minho sudah berdiri tegak dan melepas jaketnya lalu membuangnya ke sembarang tempat.

“K-kau, k-kau..” kata namja itu tergagap.

“Ne. Aku belum mati. Dan tak semudah itu untuk mati. Kau kira aku amatiran, huh?!” jawab Minho sambil tersenyum puas. Namja itu memperhatikan Minho dan melihat Minho menggunakan pelindung dada yang tebal dan keras. Enam peluru yang ditembakkan namja itu tertancap sempurna di pelindung itu dan tak sedikitpun menyentuh dada Minho. Namja itu terbelalak. Ia telah salah mengenal Minho. Minho tak semudah itu untuk dikalahkan.

Namja itu bergetar ketakutan ketika Minho mulai mendekat ke arahnya. Minho menepuk bahunya.

“Siapa majikanmu, huh?! Siapa sebenarnya yang kau incar?” Namja itu semakin ketakutan meskipun Minho bertanya dengan nada yang biasa-biasa saja dan lirih. Namun itu membuat bulu kuduknya berdiri seketika.

“Tuan Lee Jinki. Yang dia incar adalah Kim Shin  You.”

“MWOHAE?!” Kali ini Minho marah dan mendorong tubuh namja itu ke dinding. Minho mencekik leher namja itu membuat namja itu kesesakkan. “TUNANGAN MACAM APA DIA?! DIA JUSTRU INGIN MEMBUNUH TUNANGANNYA SENDIRI!!”

KREK!

Minho memelintir kepala namja itu hingga tewas seketika. Amarahnya lebih besar daripada rasa sakit pada lengan kanannya sekarang.

Saat Minho hendak keluar dari café, earphone di telinga kanannya berbunyi. Minho tersenyum. Ia sudah dapat menduga siapa yang meneleponnya.

“Nahra-ah..” kata Minho menerima telepon Nahra. Di dalam mobil, Shin You yang masih menangis langsung tersenyum lebar  ketika mendengar suara Minho yang menandakan namja itu tidak apa-apa.

“Minho-ah.. Gwenchana? Aku sangat khawatir ketika tadi kau bilang ada orang jahat di café.” kata Shin You sambil menghapus air matanya dan tersenyum pada Nhaena. Nhaena tersenyum juga sambil mengusap puncak kepala Shin You.

“Ne, Nahra. Gwenchana. Oh iya, tadi kau bilang ada yang ingin kau sampaikan. Apa itu??” Minho tersenyum dan jantungnya berdetak kencang. Minho tak sabar ingin mendengar apa yang ingin dikatakan Nahra. Shin You menarik nafas panjang dan..

“Saranghae. Neoman saranghae. Jeongmal saranghae, Minho-ah.” Minho terbelalak. Namun seulas senyum tersungging di bibirnya.

“Na do, Nahra-ah..” DEGH! Nahra?? Aku Shin You, Minho-ah. Aku Nona Shin-goon. Seseorang yang selalu kau jaga dan lindungi selama ini. Batin Shin You sedikit kecewa karena ia baru sadar, kalau yang Minho kenal adalah Nahra, bukan dirinya yang sebenarnya.

Nhaena mendapati perubahan raut wajah Shin You yang terlihat sedih dan kecewa. Nhaena dapat menduga akan seperti ini jadinya. Nhaena ikut sedih melihat kisah cinta sahabat sekaligus yeoja yang sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri itu menjadi rumit seperti ini.

“Bagaimana jika Minho nanti tahu kalau Nahra yang ia kenal adalah Shin-goon??” gumam Nhaena lirih.

To Be Continue…

 

Gimana-gimana buat part 2 ini?? Konfliknya mulai kelihatan ya? Minho juga udah tahu siapa yang berusaha buat membunuh Shin You. Yaitu tunangan Shin You sendiri. Lee Jinki. Hehe.. Ngga nyangka uri-dubu jadi antagonis nih.. Ya udah, next part bakal seru lagi. Gomawo udah baca. Silakan comment. ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!


24 thoughts on “Bodyguard – Part 2”

    1. Oke oke. Thanks udah baca n comment yo.. 🙂 Maaf, yang part 1 nya kayanya belum dipublish. Maksudnya kelewat. Soalnya di sini ada lebih dari 1 ff yang judulnya sama, Bodyguard. Nah, seingatku, kemarin ada ff Bodyguard author lain yang udah dipublish part 1 nya. Jadi mungkin adminnya salah ngira. Dikira punyaku sama kaya punya dia.. Mianhae.. Kalo mau baca part 1 nya, bisa baca di note FBku. Ini link buat part 1 nya: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150509223157357

  1. Thor belum baca part 1nya tapi pas baca yg part 2 ini jadi tergila2 banget ama Ff kamu thor, minta Linknya donk thor biar Q bisa baca part 1nya,,

    Ff author ini benar2 DAEBAKKKK !!
    Q tunggu part selanjutnya yah thor .

        1. Iya. Belum. Aku yakin, mungkin admin yang biasa ngepost di sini salah ngira. Soalnya banyak ff di sini yang judulnya Bodyguard. Waktu itu ada Bodyguard part 1, tapi bukan punyaku. Jadi mungkin dikira punyaku yang part dua ini lanjutan ff Bodyguard yang itu. Jeongmal mianhae.. Aku juga bingung. Jadi aku kasih link FB aja buat baca part 1 nya ya. Kebetulan ff ini udah tamat lama. 🙂
          http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150509223157357

    1. Ne. Kalo Minho yang jadi pangeran, anak orang kaya kan udah biasa tuh. Jadi aku pengin coba bikin Minho jadi seorang Bodyguard. 😉
      Oke. Ditunggu aja. Aku udah kirim sampai part end kok. Moga aja ngga salah ngira lagi adminnya. #bows
      Thanks udah baca n comment ya.. 🙂

  2. wah tegang bacanya thor,kayak liad film,tp nama cewkx masi aja suka kebalik*Ingatan kyk gajah nie* .hahah
    Taemin n jjong,haduh kasian Taemin q jd pelayann~_~
    ,ayog cpt d lanjutin ya thor critanya..:-D,

    1. Tegang? Jeongmalyo? Hehe.. Temenku juga katanya takut waktu baca adegan Minho muter leher musuhnya pas di cafe itu. KREK! Dia sampe merinding. He.. Jangan dibayangin kaya gimana.
      Nama cewenya cuma dua kan? Han Nhaena sama Kim Shin You/Younnie/Shin-goon.
      Haha.. Iya. Tapi jadi pelayan yang setia.:)
      Oke, oke. Ditunggu aja ya. Gomawo udah comment, Chingu.. ^^
      Oh iya, ini link buat part 1 nya: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150509223157357

  3. Wahhh… Lelucon Jonghyun sadis… Masa Taemin dijadikan landasana apel…. Untung gx jantungan tuhh anakkk… Mana pake acara pura2 ngancem Keyyy…. Ketua mafia?? Aku suka cerita yg add unsur mafianya…hehehe

    Si Shin yon terjebak dalam permainannya sendiri.. Mau ngisengin Minho tp malah dia yg jatuh cinta sendiri,,,, itu si Onewww,, tumben perannya nappuen.. Tapi knp identitas mafianya diragukan oleh Minhoooo….

    Itu bagian pertarungannya keren euyyy… Kirain Minho bakal kena tembak benerannn… Ternyata pakai pelindung tahhh…

    Prnasaran sama part selanjutnya… Good Ff y thor!!

    1. Hehe.. Jonghyun di sini emang aku bikin ketua mafia yang agak “nyleneh”. Hehe..
      Ne. Taemin kasihan. Tapi Jonghyun keliatan sayang banget kok sama dia. Walopun Taemin cuma pelayan.
      Iya. Bener. Shinyou jatuh cinta sama obyek permainannya sendiri.

  4. Buat mybabyLiOnew atau siapapun yang mau baca part 1 di Fbku tapi ngga bisa atau linknya ngga jadi ya temenan sama aku dulu di fb. He.. Search aja Papillon Lynx atau kalau ngga Ervina Meilya Herdiyastuti. Itu nama asliku. Setelah jadi temen, nanti aku tag di noteku. ^^

  5. BODYGUARD (PART 1)

    Title : Bodyguard (Part 1)

    Main Cast :

    – Choi Minho SHINee

    – Kim Shin You

    – Han Nhaena

    – Lee Jinki SHINee

    Support Cast :

    – Kim Jonghyun SHINee

    – Lee Taemin SHINee

    – Choi Siwon Super Junior

    – Kim Soo Man

    – Choi Sooyoung SNSD

    – Kim Kibum aka SHINee

    – Para pengawal

    Genre : Romance, Action, Sad, Friendship, a bit Comedy

    Length : On Writting

    Rating : PG-16

    FF INI TERINSPIRASI DARI SEBUAH FILM BERJUDUL “BODYGUARD”. NAMUN, SAYA BUAT SESUAI DENGAN VERSI SAYA.

    @@@

    HAN NHAENA POV

    Kisah cinta kami berdua berawal dari sebuah stasiun kereta di kota Seoul. Anni, bukan kisah cinta kami berdua. Namun kisah cintaku dengan Minho. Kisah cinta yang tidak pernah aku duga. Bahkan aku tak pernah mengira kalau aku akan memilih untuk mengkhianati dia dan pergi bersama Minho. Aku tetap meneruskan kesalahpahaman ini tanpa mau mengungkapkan bagaimana kisah yang sebenarnya pada siapapun, bahkan pada suamiku sendiri. Pada Choi Minho selama ini. Dan aku tak berani menemui Kim Shin You, sahabatku sendiri, setelah kejadian itu.

    Well.. Awal kisah ini bermula di Busan.

    Choi Siwon, dia adalah seorang pengawal muda dengan prestasi terbaik yang disewa untuk mengawal seorang konglomerat sekaligus seorang pemimpin mafia terkenal di Korea Selatan bernama Kim Soo Man. Bahkan sudah dapat dipastikan, semua orang yang memiliki hubungan darah dan tali persaudaraan dengan Kim Soo Man adalah seorang mafia juga. Namun, itulah yang menjadi faktor utama Kim Soo Man memiliki banyak musuh. Semuanya ingin menghancurkan Kim Soo Man berserta sanak- keluarganya dan ingin mengeruk habis hartanya yang melimpah-ruah itu.

    Pada suatu waktu, Kim Soo Man sedang dalam perjalanan ke suatu tempat dengan membawa sejumlah uang yang cukup besar. Choi Siwon, sebagai bodyguard yang setia, tentu terus berada di sampingnya. Namun sesuatu yang tak terduga terjadi.

    Saat melewati daerah yang sepi, rombongan Kim Soo Man dicegat oleh beberapa orang berbaju hitam-hitam dan dalam hitungan detik saja, pengawal-pengawal Kim Soo Man tewas tertembak. Kini hanya ada Kim Soo Man dan Choi Siwon berdua. Choi Siwon terus mencoba melindungi Kim Soo Man. Dan sialnya, penjahat-penjahat itu membawa Choi Sooyoung, istri Choi Siwon, yang sedang dalam keadaan hamil besar, ke hadapan Choi Siwon dan membuat Choi Siwon tak berani melawan lagi.

    Penjahat-penjahat itu mengancam akan menembak perut besar Choi Sooyoung –membunuh Choi Sooyoung dan bayinya- jika Choi Siwon tak mau memberikan semua uang Kim Soo Man dan membunuh Kim Soo Man setelah itu. Kim Soo Man sudah memberikan perintah pada Choi Siwon untuk mengalah saja agar Choi Sooyoung bisa selamat, namun terlambat. Choi Siwon menembak tepat di kepala penjahat yang sedang menyandera Choi Sooyoung dan reflek penjahat itu menembak perut Choi Sooyoung hingga yeoja itu tergeletak lemas di tanah.

    Ketika Choi Siwon menghampiri Choi Sooyoung, penjahat yang lain menembak dada dan punggung Choi Siwon bertubi-tubi membuat Choi Siwon meninggal di tempat. Penjahat itu pun melarikan diri membawa semua uang itu.

    Soo Man yang melihat keadaan Choi Sooyoung dan Choi Siwon yang bersimbah darah, langsung menelepon ambulans dan membawa mereka ke rumah sakit terdekat.

    Saat di rumah sakit, dokter memberitahukan bahwa hanya anak Choi Siwon dan Choi Sooyoung lah yang dapat diselamatkan. Choi Sooyoung dan Choi Siwon meninggal karena kehabisan darah dan terlambat dibawa ke rumah sakit. Kim Soo Man merasa sangat bersalah dan berhutang budi pada Choi Siwon yang sangat setia dan menukar nyawanya dan nyawa istrinya demi keselamatan Kim Soo Man. Oleh karena itu Kim Soo Man memutuskan untuk mengangkat anak mereka berdua menjadi anak angkatnya dan membiayai semua kebutuhan anak itu sebagai balas jasanya pada Choi Siwon dan Choi Sooyoung.

    Walaupun anak itu telah menjadi anak angkatnya, namun Kim Soo Man merasa anak itu lebih pantas menyandang marga kedua orangtua kandungnya. Dan Kim Soo Man pun menamakan anak itu Choi Minho.

    END OF HAN NHAENA POV

    @@@

    @@@

    Twenty two years later…

    AUTHOR POV

    Seorang namja menyelinap masuk ke dalam sebuah ruangan di suatu gedung yang terlihat kosong dari luar. Namja bertubuh jangkung itu berjalan mengendap-endap sambil menggenggam erat pistol miliknya. Kedua bola matanya terus bergerak-gerak liar melihat ke sekeliling.Takut kalau ada musuh yang siap menyergapnya. Tiba-tiba, earphone yang menyumbat telinga kanannya berbunyi, menandakan kalau ada panggilan masuk untuknya.

    “Ne?” jawab namja itu dengan suaranya yang berat.

    “Choi Minho, kau sudah sampai di tempat itu?” tanya suara namja di seberang sana.

    “Ne.” jawab namja yang dipanggil Minho itu dengan singkat.

    “Bagus! Masuk dan selamatkanlah semua tawanan yang ada di sana. Setelah itu, datanglah menemuiku. Arrasseo?” titah suara di seberang sana dengan tegas. Minho mengangguk meskipun orang yang meneleponnya itu takkan mungkin melihat anggukan kepalanya.

    PIPP! Minho mengakhiri teleponnya dan kembali fokus pada tugasnya. Sejurus kemudian, ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Minho langsung berbalik dan menahan sebuah tangan dengan pisau tajam yang jika terlambat sedikit saja maka akan menghujam punggungnya. Minho segera memelintir tangan musuhnya itu, membuat musuhnya mengerang kesakitan. Minho memberikan pukulan bertubi-tubi di perut musuhnya hingga musuhnya itu tergeletak tak berdaya.

    Belum ada lima detik, lima orang namja bertubuh kekar sudah berdiri mengelilingi Minho dan tiga orang di antara kelima namja itu melangkah maju mendekati Minho. Minho menyeringai.

    “Cih, sombong sekali kau! Masih sempat kau tersenyum seperti itu, huh?!” seru seorang namja berambut gondrong sambil menarik bagian kerah kemeja hitam Minho kasar.

    “Siapa yang sombong?? Aku hanya berusaha untuk percaya diri saja kok.” Sedetik kemudian, Minho langsung menendang lipatan lutut namja berambut gondrong itu dan menendang bagian vital musuhnya itu.

    “See? Hanya badanmu saja yang besar.” cibir Minho sambil memperhatikan namja berambut gondrong itu yang sudah tersungkur ke tanah. “Ada yang mau coba seperti dia?” tawar Minho pada keempat namja yang lain dengan tampang innocent-nya. Dan hasilnya, membuat 3 namja yang lain kabur terbirit-birit, sedangkan salah satunya memilih untuk melawan Minho.

    Namja berkulit hitam itu mencoba memukul wajah Minho, namun Minho berhasi menghindar sehingga namja berkulit hitam itu kehilangan keseimbangannya. Minho tak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung memberikan melayangkan pukulan ke wajahnya berkali-kali hingga namja itu terjatuh pingsan.

    “Ck, ini terlalu mudah..” gumam Minho sambil meneruskan langkahnya. Dan langkahnya terhenti ketika melihat seorang yeoja terduduk lemas di sebuah kursi besi lipat dengan kedua mata yang tertutup sapu tangan dan mulut yang ditutup plester. Minho segera melepaskan yeoja berambut sebahu itu.

    “Gwenchana?” tanya Minho ketika yeoja itu sudah terbebas dari semua ikatan. Masih terlihat basah di sekitar kedua matanya. Pasti dia sangat ketakutan. Batin Minho.

    Yeoja itu mengangguk lemah. Lalu pingsan.

    “Ya! Aiish, dia pingsan, lagi..” kata Minho lalu menggendong yeoja itu dan membawa yeoja itu pergi ke rumah sakit.

    Di Rumah Sakit…

    “Kanhosa! (Suster!)!” teriak Minho sambil berlari memasuki rumah sakit dengan seorang yeoja yang dia gendong di punggungnya. Beberapa kanhosa langsung datang dan diantaranya juga membawa bed dorong. Minho langsung merebahkan yeoja itu di atas bed dorong.

    “Tolong dia. Dia baru saja menjadi korban penculikan. Keluarganya sebentar lagi datang.” Kata Minho kepada seorang kanhosa lalu Minho berlari pergi.

    “Tuan! Tuan! Kau mau kemana?” teriak kanhosa itu pada Minho. Namun sosok Minho sudah menghilang dari pandangannya.

    @@@

    @@@

    Minho mengetuk pintu di hadapannya tiga kali dan sebuah suara mengizinkannya untuk masuk. Minho mendekat ke sebuah meja kayu besar yang di seberangnya duduk seorang namja berambut blonde tersenyum ke arahnya.

    “CHUKKAEYO!!!” seru namja berambut pirang itu lalu menghambur memeluk Minho.

    “Ah, Key! Lepaskan aku. Aku se-sak-na-fas-arggh..” kata Minho sambil meronta. Dan Key pun akhirnya mau melepaskan. Namja itu sekarang menepuk-nepuk pundak Minho masih sambil tersenyum lebar.

    “Kau daebak!” puji Key lalu kembali duduk di kursinya. Minho tersenyum dan duduk di depan Key yang terhalang meja kayu itu.

    “Ne. Untuk apa aku lahir ke dunia kalau bukan untuk menjadi orang hebat?” Minho tertawa dan Key berdecak.

    “Jika bukan aku yang merekrutmu menjadi salah satu agen keamanan di sini juga kau tak mungkin sesukses ini, Choi Minho.” Kata Key sedikit sebal. Minho tertawa lagi.

    “Dwaesseo. Kenapa kau memintaku datang ke sini?” tanya Minho begitu mengingat tujuan awalnya menemui Key. Key memberikan sesuatu pada Minho dari saku kemeja berwarna pinknya. Key memang penggila warna pink.

    “Igo.” Kata Key sambil menyodorkan sebuah foto. Key menatap Minho, mencari tahu bagaimana reaksi Minho setekah melihat siapa yeoja yang ada di foto itu.

    “Ya! Ini foto Eomma-ku, tahu! Untuk apa kau memberikannya padaku?!” omel Minho sambil mengembalikan foto itu pada Key. Key terkejut begitu apa yang dikatakan Minho benar.

    “Ah, mianhae. Hehe.. Salah.” Sesal Key lalu memberikan Minho sebuah foto yang lain dari laci mejanya. “Aku memang sangat mengagumi kecantikan ibumu.” Tambah Key sambil cengengesan.

    “Kau gila.” Komentar Minho sambil menggelengkan kepalanya lalu melihat ke arah foto yang sudah berada di tangannya. Minho terperangah.

    “Cantik, bukan?” tanya Key sambil tersenyum penuh arti. Minho tak sadar dan mengangguk. “Dia anak bungsu Kim Soo Man Ahjusshi. Selama dua tahun semenjak Kim Soo Man Ahjusshi meninggal, dia selalu menjadi incaran musuh-musuh keluarga mereka. Dan kakaknya memintaku untuk mengirimkan seorang bodyguard untuk dia. Aku rasa kau adalah orang yang tepat.” Jelas Key. Dan Minho hanya bisa mengangguk lagi.

    “Aku terima. Ini saatnya aku membalas budi kebaikan Kim Soo Man Ahjusshi. Lagipula aku merasa menyesal karena beberapa tahun yang lalu aku memutuskan untuk hidup sendiri di sini.” Ucap Minho.

    “Itu benar. Lagipula, aku rasa kau akan lebih baik jika tinggal di Seoul. ” Tambah Key.

    “Ne. By the way, siapa namanya?” tanya Minho sambil mengedikkan dagunya ke foto yang berada di tangannya.

    “Kim Shin You. Panggilannya Nona Shin-goon. Kau harus memanggilnya seperti itu. Dia tidak suka dipanggil dengan nama lengkapnya. Hati-hati, kabarnya dia agak galak pada laki-laki. Dia hanya bisa akrab pada kakaknya saja. Oh iya, kau hanya perlu menjadi bodyguardnya sampai dia lulus dari sekolahnya. Setelah itu dia akan pergi ke London, ditunangkan dan menikah dengan calon yang dipilihkan kakaknya.” Kata Key memperingati.

    “Benarkah?” Minho tersenyum. “Menarik.”

    @@@

    @@@

    “Nhaena-ya!” Seorang berambut cokelat gelap dengan beberapa pearcing menghiasi telinga kanannya, berlari-lari kecil menghampiri yeoja berambut sebahu yang terlihat kesulitan berjalan.

    “Nhaena-ah.. Gwenchana? Penculik-penculik itu tak melukaimu kan?” tanya Jonghyun cemas ketika sudah berada di samping Nhaena dan melihat Nhaena berjalan dengan sedikit pincang.

    “Gwenchana, Oppa. Terima kasih sudah mengirim bantuan untuk menolongku.” Jawab Nhaena dan tersenyum. Jonghyun langsung berbinar setelah melihat senyuman Nhaena yang menurutnya sangat manis itu.

    “Ne. Apapun akan kulakukan untukmu.” Ceplos Jonghyun. Jonghyun langsung menutup mulutnya dan Nhaena tertawa.

    “Oppa, dimana Shin You?” tanya Nhaena ketika Jonghyun memapah tubuh Nhaena masuk ke dalam kediaman KIM yang sangat mewah itu.

    “Di kamarnya. Ayo, kuantar.” Kata Jonghyun yang dengan sangat perhatian terus memapah Nhaena hingga sampai di kamar Shin You.

    Pintu kamar Shin You terbuka sedikit. Jonghyun dan Nhaena melongokkan kepala ke dalam.

    “Sepi sekali..” komentar Nhaena.

    “Masuklah dulu. Aku akan kembali nanti.” Jonghyun meninggalkan Nhaena setelah sebelumnya curi-curi kesempatan mengecup pipi Nhaena kilat. Nhaena hanya geleng-geleng kepala memaklumi sikap Jonghyun yang memang penggoda seperti itu. Nhaena, Shin You dan Jonghyun memang sudah hidup bersama dari kecil. Mereka tumbuh besar bersama. Tak heran jika mereka bertiga sangat akrab. Walaupun Nhaena bukanlah saudara kandung mereka.

    Han Nhaena adalah anak sahabat orangtua Shin You dan Jonghyun. Dan karena kebaikan hati Kim Soo Man lagi, laki-laki paruh baya itu mengangkat Nhaena juga menjadi anaknya.

    “Hellooo.. Shin You-ah??” panggil Nhaena dengan suara setengah berteriak seraya melangkah masuk ke dalam kamar Shin You. Dan…

    BUK!

    Sebuah bantal mendarat tepat di wajah Nhaena.

    “Hahahahaha…” tawa seorang yeoja. Yeoja itu berdiri di balkon kamar sambil menyampirkan rambut panjangnya ke belakang yang terurai begitu saja. Namun angin kencang terus menerpa rambutnya sehingga rambutnya kembali berantakan. Nhaena mendekat sambil berjalan tertatih-tatih. Shin You langsung membantu Nhaena.

    “Ya! Itu hukuman untukmu karena telah menghilang begitu saja.” Omel Shin You setelah mereka duduk di atas kasur berukuran king size milik Shin You.

    “Aigooo.. Aku ini korban penculikan. Seharusnya tak ada alasan untukmu memarahiku, Shin You-ah..” Balas Nhaena sambil mencubit pipi Shin You.

    “Auch! Ya! Jangan memanggilku seperti itu!” kesal Shin You sambil memanyunkan bibirnya. Nhaena terkekeh.

    “Ne. Ne, Shin-goon..”

    TOK TOK TOK!

    “Hai..” sapa Jonghyun sambil menyembulkan kepalanya dibalik pintu dan masuk.

    “Oppa!” Shin You langsung memeluk Jonghyun erat.

    “Omo! Ada apa??” tanya Jonghyun bingung melihat tingkah adik satu-satunya itu.

    “Hanya ingin peluk saja.” Jawab Shin You jujur dan membuat wajah Jonghyun memerah. Nhaena tersenyum melihat keakraban sepasang kakak-beradik di hadapannya itu.

    “Bahkan adikku sendiri sampai terpesona dengan ketampananku.” Jonghyun terkekeh. Shin You melepaskan pelukannya dan duduk lagi di atas kasur.

    “Kau kepedean sekali, Oppa.” Cibir Shin You.

    “Sudah-sudah. Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan berdua saja dengan Shin You. Benar kan Oppa? Biar aku keluar dulu.” Kata Nhaena.

    “Cha-changkamman.” Sela Jonghyun sebelum Nhaena bangkit. “Kau di sini saja. Bukan sesuatu yang sangat pribadi kok.” Lanjut Jonghyun. “Ini juga menyangkut tentangmu.”

    “Waeyo, Oppa?” tanya Shin You.

    “Oppa sudah menyewa bodyguard untuk kalian berdua.”

    “MWO?!” seru Shin You dan Nhaena bersamaan. Dan sebelumnya, Jonghyun sempat menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya. Jonghyun mengusap dadanya lega.

    “Oppa, apa ini tidak terlalu berlebihan??” tanya Shin You sedikit tidak terima.

    “Berlebihan bagaimana? Nhaena saja sudah jadi korban penculikan. Beberapa bulan yang lalu kau juga kecopetan. Dan pencopet itu berani melukai wajah cantikmu.“ tutur Jonghyun mengingatkan kejadian-kejadian buruk yang sudah pernah dua yeoja itu alami. “Kau tahu kan, keluarga kita memiliki banyak musuh di luar sana. Dan Oppa tak bisa selalu berada di dekatmu. Semenjak sepeniggal Appa, semua urusan diberikan kepada Oppa. Oppa tak bisa menolak karena Oppa adalah pewaris pertama. Oppa tak bisa selama 24 jam penuh menjagamu. Itu yang Oppa sangat sesali. Jebal.. Jangan protes lagi soal Oppa menyewa bodyguard ini untuk kalian. Ini semua demi kebaikan kalian.” Tambah Jonghyun panjang lebar. Shin You menjadi tak tega. Ia tahu Oppanya menjadi sangat sibuk dan itu pasti melelahkan. Tapi, bodyguard seperti apa yang Oppanya sewa? Apakah bertubuh besar dan bertampang sangar? Hiii… Menakutkan!! Batin Shin You dan Nhaena dalam hati. Kedua yeoja itu bergidik ngeri.

    “Baiklah, Oppa. Tunggu sampai bodyguard itu datang. Baru aku akan menentukan apakah dia cocok menjadi bodyguard kita atau tidak.” Kata Shin You memutuskan disusul anggukan kepala Nhaena cepat.

    “Ne. Dia akan datang sore ini.” Balas Jonghyun. “Kalian tunggu saja.”

    @@@

    @@@

    Minho berada di sebuah bus dalam perjalanan dari Busan ke Seoul, menuju ke kediaman KIM. Minho memilih duduk di dekat jendela bus di bangku urutan ketiga dari depan. Minho mengenakan kacamata hitam, t-shirt hitam dipadu dengan celana berwarna hitam pula. Dan tak lupa, sebuah earphone yang selalu menyumbat telinga kanannya.

    Tiba-tiba bus mengerem pelan dan berhenti di sebuah halte bus. Minho melihat ke arah luar. Seseorang berambut merah mencolok masuk ke dalam bus dan duduk di samping Minho yang memang kosong. Seseorang itu tersenyum riang.

    “Annyeonghaseo!” sapa namja berambut merah itu sambil menyodorkan tangannya berusaha ramah. Minho melirik sekilas, lalu mengacuhkannya. Minho tetap memperhatikan pemandangan di luar sana dari kaca jendela. Namja berambut merah itu merengut sebal. Dan menarik tangannya yang diacuhkan oleh Minho begitu saja. “Siapa namamu? Namaku Taemin.” Tambah namja yang mengaku bernama Taemin itu.

    Minho melirik. “Apa urusanmu?” tanya Minho ketus. Taemin justru tersenyum.

    “Kau mau kemana? Aku mau ke Seoul. Apa kau juga akan ke sana?” tanya Taemin lagi seolah Minho mau menanggapinya.

    “Apa perlu aku menjawabnya?” tanya Minho dingin. Taemin merengut lagi.

    DRRT.. DRRT..

    Ponsel dalam saku celana Minho bergetar. Minho segera menekan tombol kecil di earphone yang menyumbat telinganya untuk menjawab panggilan teleponnya.

    “Kau dimana?” seru Key di seberang sana.

    “Di dalam bus.” Jawab Minho singkat.

    “Ah, arrasseo. Kau harus menyelesaikan tugasmu dengan baik, Minho-ah.” Kata Key mengingatkan.

    “Ne. Kalau perlu aku tak segan-segan untuk membunuh!” Taemin terkejut mendengar perkataan Minho. Ia melirik ke arah Minho dengan perasaan takut. Bibirnya bergetar dan badannya seketika kaku. Taemin baru sadar, kalau namja yang duduk di sampingnya dan yang sedari tadi ia ajak bicara itu berpenampilan aneh. Semua yang dipakai Minho berwarna hitam. Tak ada warna lain sehingga membuat Taemin menelan ludahnya sendiri. Dia.. Dia.. Seorang pembunuh?? Pe-pe-pembunuh bayaran??? Batin Taemin ketakutan.

    “Ne. Semoga berhasil!” kata Key menyemangati.

    “Ya, sebentar lagi aku akan sampai di kediaman KIM dan mengabarimu lagi.” Taemin terkejut lagi mendengar kediaman KIM disebut-sebut oleh Minho.Taemin bergidik ngeri.

    “Apa maksudnya? Kenapa rumah majikanku ia sebut-sebut?? Jangan-jangan.. Ia akan membunuh Nona Shin-goon? Ah, ettokhae?? Aku harus segera mengabari mereka.” Gumam Taemin lirih.

    Minho mengakhiri pembicarannya dengan Key. Dan melirik Taemin sekilas. Pandangan mereka bertemu, Dan Taemin reflek mengalihkan tatapannya. Minho menyeringai.

    “Micheo (Gila).” Ujar Minho singkat.

    @@@

    @@@

    Ini adalah halte pemberhentian terakhir bus yang ditumpangi Minho dan Taemin. Ya, mereka sudah sampai di Seoul. Bagi Minho, ia sudah sampai dengan selamat. Bagi Taemin, tidak. Selama perjalanan, Taemin menahan rasa takut dan membuatnya ingin sekali muntah.

    Begitu kakinya turun dari bus, Taemin langsung membungkuk dan semua isi perutnya keluar. Minho yang berada di belakangnya langsung menutupi hidungnya dan meninggalkan Taemin cepat-cepat.

    “HOEKZ! HOEKZ!!” begitu suara Taemin. Namja itu menegakkan tubuhnya setelah ia merasa rasa mualnya hilang. “Hhh.. Leganyaaaa..” kata Taemin dengan wajah sumringah. “OMO! Dimana pembunuh itu?! Aiish, aku harus segera menghubungi Tuan Jonghyun.” Taemin segera meraih ponsel dalam saku celananya dan menekan tombol 3 untuk panggilan cepat ke ponsel ‘Tuan Kim Jonghyun.’

    “Yeobsseyo?” kata Jonghyun menerima telepon Taemin di sana.

    “Ah, mianhae, Tuan. Ini aku, Lee Taemin.” Kata Taemin tergesa-gesa.

    “Aigoo.. Sudah berapa kali kubilang? Panggil saja aku ‘Hyung’, jangan ‘Tuan’. Aku masih muda, Taemin-ah..” celoteh Jonghyun kesal.

    “Ne, ne. Tuan, eh, Hyung, ada berita buruk!!” kata Taemin setengah berteriak. Raut wajah Jonghyun langsung berubah panik.

    “Mwo?! Kabar buruk apa? Cepat katakan!” perintah Jonghyun.

    “Dia, dia.. Pembunuh itu.. Pembunuh itu dalam perjalanan ke rumah kau, Hyung! Sepertinya dia akan membunuh Nona Shin-goon!!” jelas Taemin dengan wajah ketakutan juga. Jonghyun tersentak.

    “Apa kau bilang??” tanya Jonghyun tak percaya.

    “Ne! Nona Shin-goon akan dibunuh. Penjahat itu naik bus yang sama denganku tadi. Dan aku mendengar pembicaraannya kalau dia tak segan-segan untuk membunuh semuanya!” Jonghyun langsung mematikan teleponnya dan berlari ke kemar Shin You.

    DUK DUK DUK DUK!! Jonghyun mengetuk pintu kamar Shin You keras-keras.

    “YOUNNIE! YOUNNIE!” panggil Jonghyun.

    CEKLEK!

    “Oppa, ada apa??” tanya Nhaena setelah membuka pintu dan melihat keringat bercucuran di dahi Jonghyun.

    “Ada pembunuh! Ada pembunuh!” teriak Jonghyun ketakutan dan langsung mencari-cari Shin You. “Younnie! Dimana dia?” tanya Jonghyun pada Nhaena yang juga ketakutan di belakangnya.

    “Di-di ka-kamar mandi. Se-sedang mandi.” Jawab Nhaena gagap karena ketakutan.

    “APA?! DI KAMAR MANDI?!” tanya Jonghyun setengah berteriak.

    “WAE GEURAE?? (MEMANGNYA KENAPA??)” Nhaena jadi semakin panik.

    “Kenapa kau biarkan dia mandi sendiri??” tanya Jonghyun lagi sambil menjambak rambutnya frustasi.

    “MWO?! Oppa, neo michieosseo?? Ya jelas lah Shin You mandi sendiri! Masa aku harus memandikannya?!” Nhaena menjadi kesal. “Aiish, paboya!” Nhaena menjitak kepala Jonghyun.

    “Bagaimana jika penjahatnya ada di dalam kamar mandi?? Eottokhae???” Jonghyun mulai kelabakan dan berlari ke depan pintu kamar mandi. “Younnie! Younnie! Kau sedang apa, Saengi?? Cepat keluar! Di dalam bahaya!”

    CEKLEK!

    “YA! Kalian apa-apaan sih?!” kesal Shin You yang hanya berbalut handuk saja. Rambutnya terlihat basah.

    “Mana?? Mana penjahatnya??” Jonghyun langsung melesat ke dalam kamar mandi dan mengamati setiap sudut kamar mandi.

    “Oppa, neo wae irrae?? (Oppa, apa yang kau lakukan??)” tanya Shin You kesal.

    “Ya! Kenapa kau ketakutan begitu, huh? Kau kan pemimpin mafia keluarga ini! Pemimpin mafia keluarga KIM yang sangat terkenal! Kenapa kau takut??” omel Nhaena sebal. Jonghyun keluar dari kamar mandi dan menghampiri kedua yeoja itu.

    “Ya! Seorang mafia pun akan takut jika nyawa saeng kesayangannya terancam, tahu!”

    DORRR!!

    “AAAAAAAA!!!!” Shin You dan Nhaena menjerit. Jonghyun merasakan ada sesuatu yang aneh yang akan datang lagi.

    “TIARAP!!” teriak Jonghyun. Jonghyun langsung mendorong punggung Shin You dan Nhaena ke dinding kamar, hingga mereka bertiga sejajar dengan dinding.Sseperti cicak.

    DORRR!!!

    PRAAANNG!!!

    “YA! Apa yang Oppa katakan dengan apa yang Oppa lakukan sangat berbeda jauh!” komentar Nhaena heran. Namun seketika ketiga orang itu terperangah ketika melihat kaca yang membatasi kamar dengan balkon sudah pecah dan berlubang besar di bagian tengah.

    “Nhaena, Younnie, cepat turun ke lantai bawah!!” perintah Jonghyun dan namja itu langsung berlari keluar dari kamar.

    “Hajiman, Oppa, aku masih pakai handuk!” teriak Shin You.

    “OMO!” Nhaena langsung mengobrak-abrik lemari dan mencari kimono mandi di sana.

    BRUK!

    “Tak ada waktu lagi. Cepat pakai!” titah Nhaena. Shin You langsung menanggalkan handuk di tubuhnya dan menggantinya dengan kimono mandi itu. Nhaena langsung menarik Shin You keluar dari kamar menuju lantai dasar.

    Di lantai dasar semua orang sudah berkumpul. Para pengawal sudah berdiri dengan posisi siaga di depan rumah. Di setiap sudut pun sudah ada pengawal yang berjaga-jaga dengan senjata di tangan mereka. Jonghyun langsung menghalang-halangi tubuh Nhaena dan Shin You, takut kalau-kalau ada yang tiba-tiba menembak mereka.

    “Gwenchana?” tanya Jonghyun sedikit bergetar. Shin You dan Nhaena mengangguk lemah. Jantung mereka berdegup kencang. Suasana tiba-tiba menjadi sunyi. Jonghyun melirikkan matanya ke kiri dan kanan bergantian.

    DEG DEG! DEG DEG! DEG DEG!

    Degup jantung Jonghyun, Shin You dan Nhaena sampai terdengar di telinga mereka sendiri. Tiba-tiba…

    TAP TAP TAP TAP..

    Dua orang namja berjalan mendekati rumah. Pengawal yang berjaga di depan langsung menghalang-halangi kedua namja itu. Namun pengawal-pengawal itu mengernyit heran ketika dapat mengenal salah seorang namja yang berada di hadapan mereka.

    “Hyung!” Jonghyun mengernyit juga ketika merasa ada yang memanggilnya.

    “Taemin-ah?” ucap Jonghyun lalu mendekati namja yang memanggilnya ‘hyung’ itu. “Neo! Kenapa jadi kau yang-“

    “Jeongmal mianhae, Hyung!” Taemin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Jonghyun meminta pengawal-pengawalnya itu membiarkan Taemin dan namja asing di sampingnya masuk. “Aku salah memberikan informasi.” Tambah Taemin yang cengengesan.

    “Apa maksdumu?” tanya Jonghyun bingung.

    “Ini.” Kata Taemin sambil melirik sekilas ke arah namja yang berdiri di sampingnya. “Namanya Minho. Dia bukan pembunuh, Hyung. Dia adalah bodyguard yang ternyata kau sewa untuk mengawal Nona Shin-goon. Aku salah paham.” Tutur Taemin. Jonghyun langsung terperangah di tempatnya.

    “Choi Minho imnida. Bangapseumnida.” Kata Minho memperkenalkan diri.

    “Lho? Lalu keributan yang terjadi barusan itu ulah siapa? Dua kali ada peluru yang mengancam nyawaku dan kedua adikku. Dan salah satunya memecahkan kaca di kamar.” Taemin menepuk dahinya.

    “Mianhae, Hyung! Itu ulahku. Aku meminta Minho Hyung untuk mengajariku menembak. Aku sedikit memaksa dan..” Jonghyun langsung pingsan di tempat.

    “Ya! Ya! Jonghyun, Hyung!” Taemin, Minho dan beberapa pengawal langsung mengangkat tubuh Jonghyun dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dan ketika itu, Minho berpapasan dengan Shin You dan Nhaena. Minho tersenyum sedikit ke arah dua yeoja itu. Nhaena menyenggol lengan Shin You.

    “Hei, dia tampan sekali. Mirip dengan Minho SHINee.” Puji Nhaena sambil berbisik di telinga Shin You. Shin You berdecak sebal.

    “Jika kau mau, untukmu saja. Aku tak mau menanggapi namja lain. Mereka semua itu buaya.” Balas Shin You membuat Nhaena memutar kedua bola matanya heran.

    “Ya! Jonghyun Hyung juga seorang buaya darat tahu! Lagipula, tipe namja kesukaanku itu seperti Key SHINee atau Mir MBLAQ. Kau tahu kan??” kata Nhaena dengan wajah berseri-seri.

    “Mollayo. Terserah kau saja.” Shin You langsung mendekat ke arah sofa dimana Jonghyun ditidurkan di sana.

    “Oppa, kenapa kau pingsan sih? Aiish..” keluh Shin You sambil mengusap rambut Jonghyun. Lalu Shin You berbalik. “Kau siapa?” tanya Shin You sambil melirik tajam ke arah Minho. Minho langsung membungkuk.

    “Choi Minho imnida. Bodyguard yang Tuan Jonghyun sewa untuk menjaga Nona Shin-goon dan Nona Nhaena.” Shin You menaikkan sebelah alisnya dan memperhatikan Minho dari kaki sampai kepala. Bagaimana ini? Sepertinya dia terlalu perfect untuk menjadi pengawalku. Aku tak mau hari-hariku diatur oleh siapapun, apalagi dengan si Choi Minho ini! Batin Shin You kesal.

    “Aku menolakmu.” Minho, Nhaena dan Taemin tersentak mendengar perkataan Shin You.

    “Nona Shin-goon, apa maksud anda? Minho Hyung sangat keren, Nona.” Taemin berusaha membela Minho.

    “Andwae! Dia sudah membuat keributan sebelum dia sempat mengabdi di keluarga ini. Aku tak percaya padanya.” Kata Shin You lagi. Yes! Aku memiliki alasan untuk memecatnya. Batin Shin You senang.

    “Shin-goon, ini hanya kesalahpahaman saja kan?” kini giliran Nhaena yang membela Minho.

    “STOP IT! Aku akan meminta agensi keamanan itu untuk mengirimkan orang lain yang lebih berkualitas untuk menjadi bodyguard kita, Nhaena-ah.” Putus Shin You cepat.

    “Wah, wah.. Sepertinya ada masalah nih..” Sontak semua orang menoleh ke arah sumber suara. Seorang namja berpakaian hitam-hitam tersenyum lebar. Membuat gigi kelincinya terlihat dan menampilkan kesan lucu pada dirinya.

    “Jinki Oppa..” gumam Shin You lirih. Jinki mendekat ke arah Shin You dan dengan sengaja mendorong tubuh Minho ke sisi yang lain.

    “Hi.. My fiancé (Tunanganku)..” sapa Jinki sambil mengecup pipi Shin You kilat. Shin You kaget dan mendorong tubuh Jinki kasar. Minho langsung menghalang-halangi tubuh Shin You dari Jinki.

    “Meskipun anda adalah tunangan Nona, tapi jika Nona tak suka dan merasa terganggu, anda akan berurusan denganku, Tuan. Karena mulai sekarang, aku adalah bodyguardnya.” Kata Minho tegas dan membuat Shin You menatapnya terpaku. Dia.. Dia.. Melindungiku dari Jinki Oppa? Hm.. Sepertinya dia cukup berguna. Pikir Shin You sambil tersenyum senang.

    “Choi Minho, mulai besok antarkan aku dan Nhaena ke sekolah. Arrasseo?” Minho bingung namun sedetik kemudian Minho langsung mengangguk mantap.

    “Siap!” jawab Minho tegas. Shin You tersenyum dan kembali ke kamarnya.

    Nhaena tetap berdiri mematung di tempatnya. Ia terus memperhatikan wajah Minho lebih lekat.

    “Dia.. Dia.. Namja yang menolongku waktu itu..” gumam Nhaena.

    @@@

    To Be Continue…

    Gimana gimana? Aneh ngga? Baru pertama kali nih bikin FF genre action. Moga pada suka yah.. ^^ Please comment. Gomawo.. 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s