Only Love [1.2]

Only Love (1.2)

Author             : RahmaRiess

Main casts       : Lee Jinki, Kim Jihyun, Lee Chunji

Support casts   : Kim Jonghyun, Kim family, Lee family

Length             : Two Shots

Genre              : Romance, Marriage life

Rating             : PG-13

A.N                 :

Hallo para reader yang budiman (?). Lagi-lagi aku nekad buat ngirim salah satu koleksi FFku kesini. Ini FF amatir yang pasti banyak mengandung kekurangan. Jadi, kalo misalnya plot-nya lompat-lompat, mianhae… kalo ceritanya terlalu ngarang, mianhae… kalo bahasanya berantakan, sekali lagi, mianhae….

Ga usah basa-basi lagi ya, langsung aja… Happy reading…

 

PROLOG

Ini hari pertama aku berada di kota ini. Aku dan keluargaku baru saja pindah dari Daegu karena Appa ku di pindah tugaskan ke kantor pusat tempat ia bekerja di Seoul ini. Sore ini aku mencoba mengelilingi lingkungan sekitar rumah sambil bersepeda santai. Aku sangat senang karena suasana disini tidak terlalu ramai.

Saat aku tiba di sebuah taman, aku mendengar suara tangisan berasal dari dekat pohon di tengah taman. Karena penasaran aku mengiring sepedaku mendekati tempat itu. Disana aku menemukan seorang anak kecil sedang menangis sambil memeluk kedua lututnya.

Aku menyandarkan sepedaku ke batang pohon yang besar itu lalu mendekatinya. “Hei, kamu kenapa?” kataku.

Pelan-pelan ia mengangkat kepalanya. Kini aku bisa melihat wajahnya yang sangat manis. Umurnya mungkin hanya 2 tahun lebih muda dariku. “hiks… Oppa.. Oppa meninggalkanku…” Katanya sambil menunjuk kearah anak laki-laki yang sedang bermain skateboard yang terlihat semakin menjauh.

“Naiklah,” aku mengambil sepeda dan mengambil posisi untuk mulai mengayuhnya. Gadis kecil itu hanya diam. “Ayo naik, kita susul oppamu.” Kataku lagi.

***

“Eomma, memang kita mau kemana?” Aku heran karena malam ini eomma memakaikanku pakaian yang sangat rapi, pakaian seperti yang dulu pernah ku pakai saat menghadiri pernikahan rekan kerja appa.

“Kita aka pergi ke rumah sahabatnya Appa sayang, kita akan makan malam bersama keluarga mereka.” Kata eomma sambil membetulkan kerah kemeja berwarna biru tua yang kukenakan.

Aku melangkahkan kaki memasuki sebuah rumah yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Eomma bilang ini adalah rumah sahabat baiknya ayah waktu di Daegu dulu, namun keluarga Ahjussi ini lebih dulu pindah ke Seoul. Katanya, mereka sudah bersahabat sejak kecil karena Appanya Appa –kakekku- berteman dengan Appanya ahjussi ini.

Rumahnya cukup besar, di halaman terdapat banya tanaman dan bunga berwarna-warni. Disalah satu dinding ruangan aku melihat sebuah foto keluarga. Difoto itu ada seorang ayah, ibu dan 2 orang anak. Tapi tunggu, rasanya aku pernah melihat anak-anak di foto itu.

“Wookie-ah,  Bagaimana kabarmu? Wah, sudah lama sekali kita tidak bertemu.” Ahjussi yang menyambut kami di ruangan depan itu berhambur memeluk Appaku, sedangkan Eomma sedang bersalaman dengan Ajumma yang sepertinya adalah istri dari Ahjussi ini.

“Whuaa… ini putramu?” Ahjussi itu kini mengalihkan target pelukannya kearahku. “Kau sudah besar ya sekarang…” Benar kataku, dia memelukku sekarang.

“Ne. Hae-ah, mana jagoan dan putri kecilmu, mereka pasti juga sudah besar sekarang.” Kata Appaku.

Dari lantai 2 aku melihat seorang anak laki-laki yang seumuran denganku berlari sambil mengacung-acungkan sebuah pita berwarna biru tua dan di belakangnya seorang anak perempuan –adiknya- mencoba mengejar untuk mendapatkan pitanya kembali. Ya, aku ingat. Mereka adalah kakak beradik yang ku temui di taman tadi sore.

***

Aku tumbuh besar di lingkungan yang sangat menyenangkan dan dengan sahabat-sahabat yang menyenangkan pula. Kakak beradik yang tidak pernah akur itu kini menjadi sahabatku. Kami tumbuh bersama di lingkungan yang sama. Bermain bersama dan belajar bersama.

Setiap pagi aku akan datang ke rumah mereka untuk pergi ke sekolah bersama. Anak laki-laki itu selalu saja sibuk dengan skateboardnya, jadilah aku yang selalu direpotkan  dengan mengayuh sepeda kesayanganku dengan beban 2 kali lipat karena aku harus membonceng adik perempuannya yang semakin hari semakin terlihat manis. Sangat manis.

~*****~

PART 1

Jihyun’s POV

Berkali-kali ku pandangi bayangan yang memantul dari cermin besar di hadapanku. Gaun sederhana namun elegan berwarna biru tua terlihat pas di tubuhku. Dan juga untuk kesekian kali aku merapikan tatanan rambut yang sebenarnya hanya sekedar di pasangkan sebuah jepitan berbentuk bunga dengan warna senada.

Aku tersenyum, bukan senyum bahagia, juga bukan senyum sinis yang menandakan ketidaksenangan. Aku hanya tersenyum mencoba menerima apa yang akan segera aku hadapi. Pertunanganku dengan orang yang sebenarnya sangat aku cintai.

Kini mataku tak lagi memandangi pantulan diriku di cermin. Mataku tertuju pada sebuah bingkai foto berisi gambar 3 orang siswa high school yang masih berseragam. wajah ketiganya penuh dengan coretan krim yang berasal dari kue ulang tahun yang sedang di pegang oleh salah satu dari mereka. Itu fotoku bersama Jonghyun dan Jinki oppa yang kami ambilsekitar 6 tahun yang lalu.

Hari itu ulang tahunku yang ke 16. Sepulang sekolah kami bertiga yang memang sudah bersahabat sejak kami kecil berkumpul di rumahku dan Jonghyun oppa. Ya, Jonghyun adalah kakakku satu-satunya sedangkan Jinki Oppa adalah sahabatnya yang juga bersahabat dengan ku. Mereka 2 tahun lebih tua dariku. Itu sebabnya mereka sangat memanjakanku.

Aku ingat pertama kali kami bertemu Jinki oppa. Malam itu aku hampir menangis karena Jonghyun oppa yang menyebalkan itu merebut pita biru tua kesayanganku. Ia membawanya berlari ke tengah rumah yang ternyata disana sudah ada tamu yang di tunggu-tunggu oleh Appa. Saat sampai ke lantai dasar, sambil menangis aku berlari kepelukan eomma dan mengadukan perbuatan Jjong oppa.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki yang datang bersama tamunya Appa menghampiriku yang sedang menangis di pelukan eomma. “Ini pitamu, sudah jangan menangis lagi.” Katanya sambil menyodorkan pita itu ke hadapanku.

Suara deritan gagang pintu yang di putar membuyarkan lamunanku. Seorang pria bertubuh kekar dengan kemeja abu-abu tua yang di lipat sebatas siku menunjukan senyuman termanisnya.

“Kau cantik sekali.” Katanya sambil mengelus rambutku.

“Gomawo Oppa,” aku menjawabnya dengan senyum seadanya.

“Kau yakin? Ini terakhir kalinya aku bertanya padamu, kau benar-benar sudah yakin dan tidak akan menyesali keputusanmu ini?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya yang sudah ia lontarkan entah berapa puluh kali itu.

“Maksudmu, Jihyun harus menikah dengan pria itu Appa?” Jonghyun mulai meninggikan suaranya mendengar apa yang baru saja Appa katakan.

“Ne. Jihyunie, Appa harap kau bisa menerimanya, ini permintaan kakekmu.” Appa memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan. Eomma mencoba menenangkanku dengan terus menggenggam tanganku. Sedangkan Jonghyun oppa, ia satu-satunya orang yang tidak terima dengan keputusan Appa kali ini.

“Appa, kau menyerahkan masa depan putrimu ke tangan pria seperti itu, aku tidak habis pikir. Aku yakin kakek juga pasti mengerti kalau kondsinya seperti sekarang.” Jjong oppa terus membujuk Appa untuk membatalkan perjodohan ini.

Tapi Appa tetap bergeming. Aku tahu kalau ia juga terpaksa karena tidak ada pilihan lain. Perjodohan ini dibuat oleh kakek kami. Awalnya perjodohan ini akan dilaksanakan pada anak-anak mereka alias Appaku, tapi karena anak dari sahabat kakekku itu juga laki-laki, maka jadilah kami cucu-cucunya yang harus melaksanakan perjodohan ini.

Aku yakin Oppa.Aku akan bahagia dengan keputusan ini, apalagi jika kau mendukungku, aku pasti akan semakin bahagia.”

Ia menatapku sambil tersenyum. “Oppa sangat menyayangimu Hyunie.” Katanya sambil mengecup puncak kepalaku.

“Tuan muda, nona, Nyonya meminta kalian segera keluar, acaranya akan di mulai.” Seorang wanita paruh baya datang dan meminta kami agar segera keluar.

Jonghyun oppa mengulurkan lengannya tanda kalau ia siap mengantarkanku menemui orang yang sebentar lagi akan menjadi calon suamiku. Kami berjalan bergandengan menuju aula yang sudah di persiapkan. Disana aku melihat Appa dan Eomma sedang berbincang dengan beberapa tamu yang sebenarnya tidak ku kenal.

Dari pintu utama aku juga melihat kedatangan keluarga dari calon suamiku mulai memasuki ruangan. Refleks jemariku mengeratkan genggamanku pada lengan Jjong oppa. Ia melihat kearahku sambil mengusap tanganku dengan tangan kanannya.

Appa dan eomma berjalan menyambut keluarga yang baru datang itu. Begitupun aku dan Jjong oppa, kami mendekat kearah mereka berkumpul.

Setelah saling menyapa dan melontarkan beberapa pujian untuk penampilanku dan pria yang sebenarnya berdiri di luar lingkaran itu –calon suamiku-, aku mengedarkan pandangan ke beberapa arah.

“Kenapa Jihyun-ah, kau seperti sedang mencari seseorang.” Wanita paruh baya yang nanti akan menjadi ibu mertuaku menyadari kalau sedari tadi aku tidak memperhatikan pembicaraan mereka dan malah sibuk mencari orang lain.

“Ah, ne eommonim. Rasanya aku belum melihat Chunji, dia dimana? Apa masih di mobil?” tanyaku.

“Dia tidak datang.” Aku melihat pria bertuqsedo hitam yang berdiri di luar lingkaran itu membuka mulutnya untuk pertama kalinya di malam ini.

“Emh… Iya, Chunji tidak ikut. Dia di rumah bersama bibi Hwang.” Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan dari eommonim tadi.

Puncak acarapun di mulai. Setelah beberapa orang menyampaikan isi hatinya (sambutan) di depan semua tamu undangan, Kami –aku dan calon suamiku- naik keatas panggung untuk saling bertukar cincin pertanda kalau mulai saat ini kami telah saling terikat. Semua orang tampak sangat antusias, terlebih saat pria itu mengecup keningku. Entah mendapat ilham darimana dia perlahan menarik kepalaku lalu mndaratkan sebuah kecupan setelah sebelumnya menatap mataku dengan sangat tajam.

Dia menatapku dengan mata sipitnya yang jelas sangat ku kenal. Tapi tatapannya, aku sangat asing dengan tatapan matanya yang sperti itu. Itu bukan tatapan mata orang yang aku kenal dulu.

Beberapa tamu menghampiri kami untuk memberikan berbagai ucapan selamat. “Jihyun-ssi, selamat ya atas pertunangan kalian…” “Jihyun-ssi, selamat ya…” “Whuaaa… Jihyun-ah sebentar lagi kau akan menikah ya…”

Jjong Oppa menghampiri kami sebelum akhirnya acara malam ini berakhir. “Hyunie, selamat ya…” katanya sambil memelukku –lagi-. Kemudian pandangannya beralih ke pria yang kini berdiri tegap di sampingku. “Aku ingin kau menjaganya. Berjanjilah kau akan menjaganya Jinki-ah…”

***

Beberapa hari terakhir ini adalah hari-hari paling sibuk dalam hidupku. Bagaimana tidak, kami hanya memiliki waktu satu minggu sebelum acara pernikahan kami di gelar dan parahnya eomma dan eommonim malah memilih untuk tidak menggunakan jasa wedding organizer dan mengurus semuanya sendiri.

Jadilah akupun harus turun tangan. Jangankan memiliki waktu untuk beauty sleep sehari sebelum pernikahan, malam ini saja, disaat besok aku harus terlihat cantik di hari pernikahanku, aku sedang di perjalanan menuju butik untuk mengambil gaun pengantin pesananku.

Jam di pergelangan lengan kiriku sudah menunjukan pukul 10 malam saat kami –Aku dan Jinki oppa- dalam perjalanan pulang menuju rumahku. Selama perjalanan kami sama sekali tidak saling bicara.

Dan kini kami sudah tiba di depan pagar rumahku. Ia turun dan membukakan pintu mobil untukku lalu kembali ke kursi kemudi. Lagi, tanpa sepatah katapun. Saat deru mesin terdengar, aku mengetukkan telunjukku ke kaca yang ke mudian ia turunkan.

“Oppa… Aku… Aku harap besok Chunji bisa datang.” Kataku. Ia tak menjawab. Hanya memandangku sejenak lalu menutup kaca dan berlalu.

Aku menatap mobilnya yang semakin lama semakin menghilang.

Aku sangat mengenal Jinki Oppa, dia pria yang sangat baik. Dia orang yang selalu menghiburku jika Jjong Oppa sedang menjahiliku. Dia yang akan membuatku tersenyum ketika aku sedang bersedih. Dia selalu rela melakukan apapun asal aku bisa tersenyum. Aku ingat saat kami masih Junior high school dulu, dia membawaku ke toko es krim kesukaanku saat jam pelajaran masih berlangsung hanya demi membuatku tersenyum setelah mendapat teguran dari guru karena lupa membawa PR.

Jinki oppa sangat berbeda dengan Jjong oppa, kakakku. Ia sangat mengayomiku, mungkin karena ia memang anak tunggal. Berbeda dengan Jjong oppa yang kerjaannya hanya membuatku kesal. Namun yang mengherankan adalah kedua orang yang bagai langit dan bumi itu dapat bersahabat dengat ssangat baik. Sifat Jinki oppa yang bertolak belakang dengan Jjong oppa membuat aku lebih dekat dengannya di banding dengan kakak kandungku sendiri  itu. Dan karena sifatnya yang bagiku seperti malaikat itu membuatku menjadikannya sebagai patokan tipe pria idamanku.

Namun ternyata sifat baiknya itu tidak abadi. Aku juga tidak mengerti alasan dia berubah menjadi seperti sekarang. Saat-saat sebelum pengumuman kelulusannya dan Jjong oppa, aku merasa kalau hubungan kami semakin dekat. Bukan sekedar sahabat atau mungkin siblings-like. Aku merasakan sesuatu yang lain saat kami bersama. Aku tahu aku mulai menyukainya sebagai seorang wanita yang menyukai laki-laki.

Satu minggu setelah kelulusan, dia mengabarkan kalau dia akan segera pergi ke Jepang untuk melanjutkan studynya. Dan keesokan harinya dia benar-benar pergi. Tanpa mengucapkan salam perpisahan padaku. Berkali-kali aku mencoba menghubunginya setelah ia berada di Jepang. Usahaku sedikit banyak membuahkan hasil yang positif. Kami mulai menjalin komunikasi yang cukup intens melalui email setelah kurang lebih dua atau tiga tahun ia disana.

Dan 2 tahun, setelah menyelesaikan kuliah bisnisnya di Jepang, ia kembali ke Korea dan kami mulai dekat. Tapi malam itu, malam terakhir aku melihat senyum ramahnya yang dulu sempat menghilang.

Jinki’s POV

“Oppa… Aku… Aku harap besok Chunji bisa datang.” Aku melihat kekhawatiran yang terpancar di matanya saat menyebutkan nama itu. Chunji.

3 bulan setelah aku kembali ke Seoul setelah menyelesaikan kuliahku di Jepang, Jihyun bersama eommaku sedang berada di dapur memasak untuk makan malam kami. Malam itu ia terlihat sangat cantik dengan kemeja hitam yang sangat pas membalut tubuhnya. Setiap pulang kuliahdiakhir pekan, ia mampir ke rumahku untuk makan malam bersama keluargaku. Eomma dan Appa sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.

Malam itu, saat kami sudah menduduki kursi masing-masing dan siap menyantap hidangan, aku mendengar pintu di ketuk dari luar. Jihyun menawarkan diri untuk membantu membukakan pintu. Saat ia kembali ke ruang makan, aku melihat dia menggendong seorang bayi.

“Tetangga mengantarkannya kemari, katanya ada seseorang yang membawa anak ini dan meminta membawanya ke kediaman keluarga Lee.” Kata gadis itu dengan ekspresi wajah yang penuh tanda tanya.

Jihyun’s POV

Bayi laki-laki yang saat itu tertidur di pangkuanku terlihat sangat tampan, matanya sipit, mirip seperti Jinki. Tunggu…

Tuan Lee mengambil tas kecil yang digendong oleh anak kecil itu. Di dalamnya ada sebuah surat yang berisi pernyataan kalau anak ini adalah anak Jinki dengan wanita yang dipacarinya ketika di jepang.

Aku melihat wajah Jinki yang sebenarnya sulit diartikan. Tak ingin ikut campur dalam masalah ini, dengan seizin Nyonya Lee aku membawa anak ini ke kamar tamu untuk di biarkan beristirahat. Sebenarnya entah bagaimana perasaanku saat ini. ku pandangi bocah laki-laki yang mungkin baru berumur 1 tahun itu.

Jinki’s POV

Ingatanku kembali kemasa 2 tahun lalu saat di suatu pagi aku terbangun di sebuah kamar hotel dengan kepala yang masih terasa sakit karena seingatku malam sebelumnya aku berada di sebuah bar dan mabuk berat. Saat itu aku benar-benar tidak ingat bagaimana aku bisa sampai disini. Aku terkejut saat menyadari kalau aku terbangun dengan kondisi yang tidak normal, kemejaku sudah tidak terpasang di badanku, dan belt serta retseleting celanaku terbuka. Apa yang terjadi?

Pertanyaan yang dulu pernah menghantuiku kini mendapatkan jawabannya. Sepertinya malam itu aku sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dengan pacarku saat di Jepang, Park Yunra. Dan kini buah dari kesalahanku di masa lalu datang dan membayangi langkah masa depanku.

Yang langsung terlintas di benakku adalah Jihyun. Bagaimana perasaannya sekarang? Aku merasa sangat bersalah pada gadis itu. Tidak usah tanya mengapa, karena sudah sangat jelas aku merasa bersalah telah mengkhianatinya. Meski kami masih belum memiliki hubungan resmi, namun tak bisa ku pungkiri, aku sangat menyayanginya.

Jihyun’s POV

Kedatangan Chunji yang pada akhirnya aku ketahui adalah anaknya bersama kekasihnya ketika di Jepang dulu membuat dia berubah menjadi Jinki yang baru saja ku temui. Jinki yang dingin. Jinki yang cuek dan memiliki tatapan yang menyebalkan.

***

“Kau sudah siap Hyunnie?” Aku melihat Appa yang sedang menatapku lembut.

Setelah aku mengangguk, ku ambil lengannya untuk ku gandeng. Kami melangkah bersama memasuki ruangan yang bernuansa putih. Bagian belakang gaun putihku terjuntai panjang. Aku melihat berpasang-pasang mata menatap kearahku saat kami datang. Dan di ujung sana, aku melihat pria dengan jas putih sedang berdiri di depan seorang pastur. Ia menerima tanganku yang di berikan oleh Appa.

Sebelum memulai membacakan janji, aku sempat mengedarkan pandangan kearah keluarga yang datang. Gotcha! Aku mendapati bocah kecil itu sedang duduk bersama halmoninya di kursi paling depan.Aku tersenyum.

Akhirnya, acara yang melelahkan ini berakhir. Aku mendekati Jjong oppa untuk memintanya membawaku pulang bersamaku, namun tentu saja ia menolak.

“Babo.” Katanya sambil memukul pelan kepalaku. “Kau sudah menjadi istri orang sekarang.” Katanya lagi.

Eomma, Appa, Eommonim, Aboeji, dan pria yang telah resmi menjadi suamiku mendekati kami yang kini sedang sibuk saling mengejek, persis seperti anak kecil.

“Jihyun-ah, mulai sekarang kalian akan tinggal di apartemen yang telah kami persiapkan.” Eommonim memberikan satu set kunci padaku. Ia bilang ini hadiah pernikahan darinya.

“Jinki-ah, jaga anak manjaku ini baik-baik ya.” Sekarang giliran Appa yang memberikan sebuah kunci padanya. “Gunakan mobil ini. Besok kami akan menyuruh orang untuk mengantarkan barang-barang kalian.” Ternyata mereka telah bersekongkol untuk mengasingkan kami berdua.

Setelah berbincang-bincang sesaat, mereka mengantar kami berdua ke tempat hadiah dari Appa itu di parkirkan.

“Emh… Eommonim, bagaimana dengan Chunji?” aku teringat anak itu.

“Biar dia tinggal dengan eommonim saja.” Katanya sambil tersenyum.

“Kalau di izinkan, aku ingin dia tinggal bersama kami.” Sekarang aku sudah dihujani tatapan mata dengan berbagai macam arti. Dan tatapan yang paling mengerikan adalah tatapan Jinki dan Jjong oppa. Tatapan mereka mengisyaratkan arti yang sama.

“Aku takut merasa kesepian di apartemen baru kami, Jinki oppa kan pasti harus bekerja, dan kalau ada Chunji aku akan memiliki teman di apartemen nanti.” Kataku.

Sekilas Eommonim menatap Jinki oppa, sepertinya untuk meminta persetujuan darinya. “Baiklah, besok eommonim akan mengantarkan Chunji ke apartemen kalian.”

***

Aku mengetuk-ngetukkan telunjukku ke layar ponsel yang ada di genggamanku,satu-satunya barang yang ku bawa selain sebuah tas yang cukup besar di kursi belakang. Aku tak tahu barang apa yang berada di dalamnya.

Sepanjang perjalanan, seperti biasa, kami diam. Dan saat tiba di tempat parkir apartemen, ia membukakan pintu untukku lalu membawa tas hitam besar itu.Kami berjalan menuju lift. Ia menekan tombol bertuliskan angka 3. Setelah lift terbuka kami menuju pintu dengan papan nama bertuliskan Lee Jinki. Apartemen baru kami.

Dengan diliputi suasana yang kaku, kami menuju kamar tidur yang ternyata ada dua. Aku masuk ke kamar sebelah kiri, dan Jinki oppa memasuki kamar di seberangnya.

“Emh, Oppa…” kataku sesaat sebelum menutup pintu kamar.

Jinki oppa yang juga baru akan menutup pintu mengurungkan niatnya. “Oh iya, eomma membawakan kita beberapa pakaian disini.” Katanya sambil memberikan tas yang tadi ia bawa.

Aku membawanya ke ruang TV yang berada di dekat kamar kami berdua. Disana kami membongkar isi tas pemberian eommonim.Tas itu berisi baju tidur dan beberapa peralatan mandi. Aku mengeluarkan sebuah bungkusan berwarna putih yang ku yakini berisi baju tidur kami itu. Setelah kubuka perlahan, aku menemukan sebuah baju berwarna merah marun lalu mengambilnya. Betapa terkejutnya aku saat menyadari ternyata yang dibawakan eommonim untukku bukan piyama, melainkan lingerie transparan yang sangat seksi. Wajahku memerah saat tahu kalau ternyata Jinki oppa memperhatikan apa yang ku lakukan barusan. Dengan refleks tanganku menyembunyikan pakaian itu ke balik punggung lalu tersenyum polos kearahnya.

“Pakai ini saja.” Katanya. Tangannya memberikan piyama yang juga berwarna merah marun miliknya padaku. “Aku tidak ganti baju juga tidak apa-apa.” Katanya lagi.

Kami menghabiskan malam yang seharusnya menjadi malam pertama kami di kamar masing-masing. Aku tertidur pulas setelah melalui hari yang panjang ini.

***

Jinki’s POV

Aku terbangun dari tidur lelapku setelah mencium aroma yang sangat sedap dari arah dapur. Saat aku keluar kamar, aroma sedap itu tercum semakin kuat. Jihyun sedang berdiri di dekat meja dapur mempersiapkan sarapan.Aku melihat dia sangat manis dengan piyama merah yang terlihat sangat longgar itu. Jelas saja piyamanya kebesaran, itu kan piyamaku.

Senyumku menghilang saat menyadari kalau ternyata dia sedang melihat kearahku sekarang. “Pagi oppa, aku sudah menyiapkan sarapan, ayo makan.” Ia tersenyum. Senyum yang sama seperti yang selalu ia tunjukan padaku dulu. Senyum yang berhasil membuatku jatuh hati padanya.

Aku menghampiri meja makan yang diatasnya sudah tersusun rapi beberapa jenis makanan. Aku tidak pernah meragukan kemampuannya memasak. Ia pandai meracik berbagai jenis bahan makanan dan menjadikannya hidangan yang lezat.

Sekitar pukul 10, seperti janji eomma kemarin, beberapa kurir datang mengantarkan beberapa koper berisi barang-barang kami. Tak lama setelah mereka pergi, eomma dan appa datang bersama bocah laki-laki bermata sipit. Chunji.

Kami menyambut kunjungan pertama mereka ke apartement baru kami. Tidak kusangka, Jihyun menyambut Chunji dengan sangat hangat. Saat pertama melihat eomma menuntun Chunji, Jihyun langsung menghampirinya dan menggendongnya. Ia bertanya berbagai macam meski ia sendiri pasti tahu kalau bocah yang baru berusia 2 tahun itu belum mengerti apa yang di bicarakannya.

Aku mengajak eomma dan appa duduk di ruang tamu sedangkan Jihyun masih saja sibuk menggendong Chunji. Sesekali kedua orang tuaku itu tertawa melihat tingkah Jihyun yang terlihat lucu saat mencoba mengajak Chunji bercanda. Sejujurnya aku sangat senang melihat gadis itu dapat sangat baik pada bocah yang merupakan anakku itu. Aku harap dia tulus menyayangi Chunji.

***

Jihyun’s POV

Sudah hampir dua bulan sejak pertama kami mendiami apartemen ini. Dan itu artinya sudah dua bulan pula umur pernikahanku dengan Jinki oppa. Aku selalu menjalankan rutinitas yang selalu sama setiap harinya. Bangun tidur aku langsung menyiapkan sarapan untuk Jinki oppa, dan sambil menunggunya pulang kerja, aku mengerjakan pekerjaanku di kamar yang merangkap sebagai ruang kerjaku. Aku bekerja sebagai seorang translator freelance. Aku menguasai beberapa bahasa asing, siantaranya bahasa inggris, bahasa jerman dan bahasa prancis. Alasan utamaku memilih pekerjaan sebagai penerjemah adalah karena aku bisa bekerja tanpa harusmeninggalkan rumah. Dan sekarang aku bisa merasakan keuntungan tersebut, aku masih tetap bisa memiliki penghasilan dan tidak mengabaikan tugasku sebagai ibu rumah tangga.

Kalau dipikir-pikir memang sangat membosankan menjadi diriku. Melakukan kegiatan yang hampir persis sama setiap hari memang membuatku hampir gila. Untung saja aku memiliki orang yang selalu setia menemaniku setiap saat. Seorang anak laki-laki yang sangat lucu selalu bisa menghilangkan kebosananku.

Chunji sudah ku anggap seperti anakku sendiri. Dia yang selalu menemaniku melewati hari-hariku. Terkadang aku merasa kasihan padanya karena harus ku akui kalau sikap Jinki oppa sangat dingin padanya. Oppa seperti tidak menganggap keberadaan anak itu di kehidupannya. Mungkin dia membencinya karena anak itu mengingatkan dia pada masa lalunya. Atau entah lah, aku tidak tahu alasan persisnya, yang aku tahu sekarang adalah aku menyayanginya melebihi apapun.

***

“Aku ada tugas ke luar kota, mungkin 3 hari ke depan aku tidak bisa pulang.” Kami tengah makam malam bersama saat Jinki oppa mengatakan kalau dia mendapat tugas ke luar kota. Seperti biasa, meski kami –Jinki oppa, aku dan Chunji- duduk di meja makan yang sama, kami sangat jarang berkomunikasi. Kami hanya berbicara jika memang ada hal penting yang perlu di bicarakan seperti saat ini.

“Baiklah, nanti aku bantu membereskan barang-barang yang akan oppa bawa.” Kataku sambil menyuapkan sesendok bubur tim pada Chunji.

Setelah menidurkan Chunji di kamarku, aku membantu Jinko oppa membereskan barang yang mungkin di perlukannya nanti ketika dia sedang bertugas di Busan. Semua barang sudah selesai ku masukkan ke dalam koper. Saat aku hendak meninggalkan kamarnya tiba-tiba dia memanggilku.

“Hyunnie-ah…” Aku mengalihkan pandanganku padanya. “Aku…” lagi-lagi kata-katanya tergantung. “Emh… terimakasih…” dia mengatakannya sambil tersenyum. Dan itu adalah senyum yang sudah lama tidak ku lihat, senyum yang sangat ku rindukan.

Aku tersenyum, “Ne oppa.” Kataku.

***

Author’s POV

Sudah dua hari Jinki berada di Busan untuk bertugas. Dan sudah dua hari ini Jihyun merasa apartemen sangat sepi, meski sebenarnya kehadiran Jinki di apartemen ini juga tidak menjadikannya ramai karena mereka juga memang jarang sekali mengobrol. Yang sebenarnya membuat Jihyun rindu bukanlah kehadiran Jinki di apartemen ini, melainkan kehadiran Jinki di hatinya. Meski mereka memang hanya bisa saling diam, namun dengan melihat keberadaannya saja Jihyun dapat merasakan hatinya menjadi lebih hangat.

Yang mengejutkan, sepertinya bukan hanya Jihyun yang merindukan kehadiran suaminya itu tapi Chunji. Bocah itu terlihat berkali-kali mencoba mencari Appanya ke kamarnya namun tentu saja tidak ia temukan.

“App.. Pa…!” Jihyun tersentak menyadari Chunji baru saja berbicara. Dan yang pertama kali di sebut olehnya adalah “Appa”.

“Whuaaa… jagoan eomma sudah bisa bicara. Aaahh… pintarnya anak eomma…” Jihyun menggendong Chunji dan berkali-kali mengangkatnya ke udara merayakan anaknya yang barusaja mengucapkan kata pertamanya.

Jihyun berlari ke kamar mengambil handycam dari tasnya. Ia menekan tombol ‘on’ lalu menghadapkannya ke Chunji.

“Chunji-ah, ayo katakan sekali lagi…” Ia berbicara pada bocah itu dengan terus membidikkan lensa handycamnya.

“Ayo nak, panggil lagi… Ap.. Pa…” Jihyun mencoba memancing Chunji agar mau mengatakannya lagi.

“Chunji-ah…” Jihyun tidak putus asa terus membujuk Chunji, sedangkan yang menjadi model utama malah terus tertawa, mungkin ia mengira kalau Jihyun sedang mengajaknya bercanda.

Sampai saat Jihyun hampir putus asa, “App… Pa!” Akhirnya Chunji mengatakan kata yang sangat Jihyun tunggu-tunggu.

Jihyun bersorak sambil memutar bidikan handycam itu ke arahnya. “Oppa, kau lihat itu? Chunji bisa bicara sekarang, anak kita sudah bisa bicara. Dan kau dengar kan? Yang pertama dia panggil itu kau, Appanya… hmm… tapi kenapa dia tidak memanggil eomma dulu ya???” Jihyun menaruh handycamnya di meja. Ia lalu berlari ke arah Chunji yang sedang duduk di kursi berrodanya. “Chunji-ah, bilang ‘Eomma…’ ayo nak, katakan… ‘Eomma…’”. Jihyun tidak menyadari kalau ia belum meng-off-kan handycamnya itu sehingga tingkahnya yang sedang membujuk Chunji untuk menyebut namanya terrekam jelas disana.

***

Jinki’s POV

Berkali-kali ku bolak-balikan berkas berisi surat kesepakatan kontrak dengan salah satu perusahaan besar di Busan ini. Meski jadasku memang berada disini, tapi jelas hati dan pikiranku sedang tidak disini. Aku merindukan Jihyun, istriku, dan ku akui, aku juga merindukan Chunji.

Kuputuskan kalau aku akan menyelesaikan semua pekerjaanku disini sekarang agar malam ini aku sudah bisa pulang kembali ke Seoul. Aku melewatkan jam makan siangku dan terus mengurung diri di salah satu ruangan di kantor cabang ini demi menyelesaikan semua tugasku. Dan akhirnya, tepat jam 9 malam semuanya telah selesai ku kerjakan. Tanpa membuang waktu lagi, aku bergegas kembali ke hotel untuk mengambil tas lalu pergi kebandara. Perjalanan Busan-Seoul yang hanya memerlukan waktu 2 jam terasa sangat lama bagiku. Aku sungguh ingin segera sampai di apartemen.

Setelah memaksakan diri untu mememejamkan mata di sepanjang perjalanan, akhirnya kini aku sudah berada di depan apartemenku. Tak ingin mengganggu Jihyun yang pasti sudah tertidur, mengingat ini sudah lewat hampir tengah malam, aku menekan beberapa tombol kemudian masuk. Aku menyapu setiap sudut ruangan ini. Di salah satu meja aku melihat handycam milik Jihyun yang sepertinya masih menyala. Setelah mematikan handycam milik istriku itu, aku berniat masuk ke kamar Jihyun untuk melihat kondisi 2 orang yang membuatku rindu pulang itu. Langkahku terhenti tepat di depan pintu kamarnya. Aku ragu. Haruskah aku masuk sekarang?

Aku berbalik menghadap pintu kamar tidurku. ‘mungkin ku temui mereka besok pagi saja,’ pikirku. Lagi-lagi langkahku terhenti saat melihat dari sela kalau sepertinya pintu lampu kamarku menyala, padahal seingatku aku tidak pernah meninggalkan kamar dalam keadaan terang.

Tanganku bergerak memutar gagang pintu. Saat pintu terbuka, aku melihat tempat tidurku tidak kosong. Disana aku melihat Jihyun yang sedang tertidur sambil memeluk Chunji. Kenapa mereka tidur di kamarku? Pikirku. Aku memperhatikan wajah mereka berdua yang terlihat sangat tenang saat sedang tertidur. Tanpa ku sadari, aku tersenyum.

To be continued~

 

Segitu dulu ya…

Makasih buat yang udah mau baca dan semoga berkenan untuk menunggu kelanjutan ceritanya…

Oh iya, di tunggu kritik dan saran ya… n_n

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

28 thoughts on “Only Love [1.2]”

  1. oh… pas prolog aq bingung itu pov siapa… trnyata jinki.. aq kira pov seorg cewe… hahahaha pas yg tuan kim nyebut putra itu bru ngeh… hahaha

    aq kira chunji itu org ketiga.. trnyta ank jinki toh..

    jihyun sayang bgt ya sm chunji… dy smpe nyebut ‘anak kita’ pdhl itu bukn anaknya… huhuhu jinki.. bersyukurlah punya istri sprti itu… kkkkk

    oh ya.. ini klmtnya kebalik thor..
    Lagi-lagi langkahku terhenti saat melihat dari sela kalau sepertinya pintu lampu kamarku menyala,

    melihat dari sela pintu kalau sepertinya lampu kamarku menyala…
    author ngetiknya ……dari sela sepertinya pintu lampu…..

    ya udh.. part 2 ditunggu…

    1. Hehe… makasih ya udah baca plus ngasih komen…

      Iya nih, aku juga sibuk pukul2 jidat pas baca lagi ternyata banyak bgt typo’y, tp karena udah d kirim jd ga bisa di apa2in lg deh… maaf yaa jd bikin ga nyaman buat yg baca…

      Tp skali lg makasih ya udah mampir… n_n

  2. Jinki.. Bener’a tu si jihyun yang marah, eh ini kok oppa yang ngambekan?
    Ckck.. Malah pny pacar lg di jepang?! Ckckck kata’a sayang sama jihyun.. Itu kok mata’a bs ngelirik cew laen.. Entar pst dah terakhir nongol tu si manta’a jinki. Siap-siap deh gua sakit hati#loh? Kok aku? Bener’a jinhyun yg sakit hati -.-

  3. aku menyandarkan sepedaku ke batang pohon yang besar itu lalu mendekatinya “hei,kamu kenapa?”kataku.

    yang pertama,author ga ngasih tau batang pohon yang besar itu ada dimana,di dekatnya?atau di depannya?.
    yang kedua,”hei,kamu kenapa?”.harusnya ‘tanyaku’ dong,bukan ‘kataku’
    kan pertanyaan ^-^…

    ‘setelah berbincang-bincang sesaat,mereka mengantar kami berdua ke tempat hadiah dari appa itu diparkirkan’ aku ga ngerti kalimat ini.

    ada sedikit typo sih thor….
    eniwey,inimah hrusnya pg-15 thor,cozz critanya udh ke jenjang kehidupan rumah tangga.Maaf ya kalau komenku sangat menyinggung,tapi bukan itu tujuan aku berkomen kaya gini,aku hanya ingin mengingatkan aja.

    sekali lagi jeoseonghamnida,walu begitu aku tetep nungguin kelanjutannya kok..
    jadi…FIGHTING!!!

    1. Well… yg dua poin pertama itu emang murni kelalaian author… mian… #bow

      ‘setelah berbincang-bincang sesaat,mereka mengantar kami berdua ke tempat hadiah dari appa itu diparkirkan’ kalo yg ini, author emang sengaja mengimplisitkan artinya, jadi maksudnya mengantarkan mereka berdua ke tempat parkir karena hadiah dari appa’y itu mobil… gitu… tp mian kl jadinya malah bikin bingung… hehe… #bow lagi

      soal typo. iya, author ngakuin disini buanyak bgt typo yg seharusnya bisa dihindari…

      Dan masalah rating… duh, maaf nih aku author baru jd belum begitu paham soal nentuin rating… dan buat yg ini author bnr 2 minta maaf sm semua reader… #deep bow

      Okee… akhirulkalam, author mau ngucapin banyak2 terima kasih karena udah baca, komen + ngasi masukan yg sangat bermanfaat bgt bwt author… makasih… n_n

  4. Aku suka Ff kamu thor,,
    Ff kamu DAEBAKKKKKKKKKKKKKKKKKK Thor !!!

    Tadi ada Typo sedikit sih thor tapi Udah d’jelasin ama Chingu yg Comentnya pertama !!

    OK thor Q tunggu part selanjutnya yah !
    SEMANGAT THOR !!

    1. Whuaaa makasih… senangnya ada ternyata ada yg suka… 🙂

      Iya nih, typo nya banyak, maaf yaa…

      Satu lagi… makasih ya udah mampir + ninggalin jejak… n_n

  5. daebakk thor…omg rasanya aku masuk banget ke cerita ini hehehe
    ya ampuuun..gimana tuh rasanya jadi istri jinki oppa? hohoho
    meskipun rasanya nyesek juga sang suami udah punya anak dari orang lain, tapi salut lah Jihyun cintanya tulus banget fufufu iiiiihhhh pengen nikaaahhh >.<* oooppss…hahaha
    lanjutkan ya nae chingu Fighting!!!

    1. Makasih chingu…

      rasanya jadi istri’y Jinki oppa ya??? huaaa… menyenangkan lah pokonya… hehe..
      iya tuh, Jihyun’y emang baik banget. kan namanya jg udah cinta, jd apapun di lakukan.. hadeuh…

      maksih udah baca plus komen ya chingu… n_n

  6. hahahaha ceritanya lucu, awalnya pas prolog aku bingung banget, eh ternyata baru ngeh pas masuk ke ceritanya*lola*

    post secepatnya yaaa part 2..gg sabaran nunggu 😀

    1. Ehehe… maaf kalo ceritanya bikin bingung… 🙂
      Part 2 udah d kirim ko, tinggal nunggu di post sm admin’y.

      Makasih udah baca dan komen yaa… n_n

    1. Siap chingu… part akhir’y udah di kirim ko.. tinggal nunggu publish aja.
      Makasih yaa udah mampir… n_n

  7. aahhh .. seru thor !! feel nya dapet bgt !! waktu di prolog nya sempet bingung, tapi wktu masuk cerita jadi ngerti kok . hehehe

    lanjuuuttttt !! ^^

  8. Woaa..
    Ceritanya bagus.. Feel-nya dapet bgt.. Padahal aku bacanya sambil lalu..
    Mudah2an jinki cepat luluh..

  9. Ga sabar nunggu next partnya…
    Aku paling suka bag.jihyun yg brusaha ngrekam chunji ngomong ap..pa..berasa bgt ktulusannya ..
    Aku g rela klo ibu kandungnya chunji muncul…dibikin mninggal aja thor,krn sakit kanker mungkin…#sotoy…hehe

    1. Wahh reader’y galak nih minta ibu kandung’y Chunji meninggal.. hehe…
      kita liat aja nanti deh ceritanya kyk gmn yaa…
      makasih udah baca + komen… n_n

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s