Between Two Hearts – Part 2

Between Two Hearts[2] : Hidden Identity

Title : Between Two Hearts

Author : Bibib Dubu

Main Cast  : Choi Minho, Kim Kibum, Lee Serra, Han Sunny

Support Cast : Lee Taemin, Lee Jinki

Length : Sequel

Genre : Family, Romance, Life

Rating : PG-17

Aku ga tau ini NC apa bukan, tapi aku sendiri sebenernya ngerasa ini NC, tapi ga yakin juga. Buat yang ragu, ga usah baca yah…aku emang ga ngegambarin adegan porno, tapi…ah, aku bingung bilangnya.

Summary :

Serra : “Apa ia tidak akan merasa kalau aku ini manja dan merepotkan dengan memintanya menemaniku malam ini?”

Taemin : “Ia merasa pun tak apa. Kau ini sudah bukan yeojachingunya lagi, kau anae-nya. Menurutku permintaan seperti itu sangat wajar. Aku yang masih anak SMA pun, kalau sudah punya tautan hati, pasti akan menemaninya dengan senang hati, apalagi kalau ikatan kami sudah sah karena pernikahan. Sekali-kali meminta tidak ada salahnya.”

Minho : “Ne, kau tidak salah sedikitpun. Kalau begitu, beri tahu aku apa yang harus kulakukan?”

Sunny : “Tanamkan benihmu sebagai pertanda cinta. Atau paling tidak, walaupun cinta belum mengiringi, hal itu akan mengikat kita, sekaligus membimbingmu menapaki langkah untuk membuktikan bahwa kau adalah namja gagah, yang berani bertindak setelah memutuskan. Setuju denganku?”

+++++

Sunny’s POV

Ketika belajar memahami, perlahan saja melakukannya. Layaknya ketika kita menanam benih tanaman, tidaklah bisa melakukannya dengan sembarang. Perlu kau pahami kondisi tanahnya, iklim dan ketinggian sekitarnya, juga teknik pemberian nutrisi yang tepat.

Itulah yang sedang kupahami sekarang. Memahami satu sosok yang baru kukenal.

 Hati itu ibarat bahasa pemrograman, rumit dan selalu berkembang setiap waktunya. Tapi, bukan berarti tidak bisa menguasainya, asalkan kau memahami bahasa dasarnya—tidak butuh waktu lama untuk mengikuti permainan selanjutnya yang makin berkembang pesat.

Di sini, di apartemennya yang bertetangga denganku, aku berusaha menahannya untuk tidak kembali ke rumah aslinya, karena kalau itu terjadi—akan terbongkarlah rahasia bahwa aku bukan Serra yang asli.

Beruntunglah aku memamami situasinya. Dari pelakuannya padaku, tersirat rasa bersalahnya pada Serra. Kalau aku tidak salah menerka, selama ini ia mengabaikan Serra.

“Minho-ya…hari ini kau pulang jam berapa? Aku ingin sekali melewati malam bersamamu.”

Pada hari kedua tinggal di apartemennya, aku memulai taktikku. Sedikit mendebarkan karena aku tidak boleh tergesa-gesa namun jangan sampai bergerak lambat, atau Serra yang asli akan menyadari lebih dulu akan absennya Minho di istananya.

“Sebenarnya malam ini ada makan malam bersama teman-teman SMA-ku, tapi baiklah—aku akan menemanimu karena kau ingin. Ini adalah pengganti ketidakhadiranku selama ini di sampingmu.”

Aku tersenyum. Merasa bahwa prediksiku tepat. Benar, kan? Selama ini ia mengabaikan Serra.

“Geurae, akan kusiapkan makan malam special untuk Minho-ku yang tampan.”Balasku sambil merapihkan dasi yang sedikit terpasang tidak sempurna di kerah kemejanya.

“Serra-ah…” Ia berbisik dan mendekatkan wajahnya mendekatiku.

“Wae? Auramu mengerikan…” Memberikan senyuman mautku, Aku sengaja menggoda.

“Hanya perasaanku saja, aku yang selama ini bodoh, atau kau yang memang mendadak berubah style?” jawabnya sambil menatapku datar.

Aku ingin tertawa sebetulnya, pertanyaan seperti itu seharusnya diucapkan dengan muka penuh gairah, tapi dia? Hanya ekspresi datar yang terpasang di wajahnya.

“Hah? Aku tidak mengerti maksudmu. Aku tidak terlalu mengerti, tapi aku ingin bilang padamu…Minho-ya, seperti apapun aku, yang kuinginkan hanya ketetapan hatimu. Fisik bisa lenyap suatu saat, tapi tidak dengan hati.”

Gombal? Cih, aku sudah seperti perayu ulung saja rasanya. Hati? Aku tidak ingin hatinya, ia hanyalah batu lompatan untuk langkahku selanjutnya. Urusan hati—telah ada seorang namja yang sampai kapan pun akan menjadi penghuni tetap hatiku, walaupun keberadaannya tidak kuketahui.

“Aku mengerti. Ini memang kesalahanku selama tiga tahun. Aku akan belajar, Serra-ah. Beri aku waktu.” Kali ini sorot mata penuh harap terpancar dari wajahnya.

“Haha, rupanya selama tiga tahun ini aku dipermainkan waktu ya? Apa menurutmu ini masih waktunya belajar?” Aku mulai bermain kata dengannya.

“Mianhae…aku membuang waktumu selama ini. Serra-ah, sejujurnya aku sempat ingin menceraikanmu, tapi tidak kulakukan karena…”

“Tidak perlu kudengar alasannya.”Aku memotong cepat, tidak ingin mendengar alasannya karena takut apa yang telah kususun di kepalaku—porak poranda hanya karena statementnya, meskipun aku memang tidak tahu apa yang akan dikatakannya.

“Seorang namja seharusnya bermain dengan gagah, konsisten pada apa yang telah diputuskan, tidak peduli apa alasannya. Kau hanya perlu menindaklanjuti keputusanmu, menengok ke belakang tidak ada gunanya, kan?”

Minho’s POV

“Seorang namja seharusnya bermain dengan gagah, konsisten pada apa yang telah diputuskan, tidak peduli apa alasannya. Kau hanya perlu menindaklanjuti keputusanmu, menengok ke belakang tidak ada gunanya, kan?”

Selama beberapa hari ini aku merasa ada perubahan pada gaya bicaranya. Ia berubah menjadi tegas dan berterus terang. Sedikit melukai hatiku tapi aku bisa mengerti, ini wajar karena aku telah bermain api lebih dulu. Lagipula, aku menyukai ia yang seperti ini, daripada kesannya yang lembut—yeoja yang tegas dan berani mengutarakan pikirannyalah yang lebih menarik.

“Ne, kau tidak salah sedikitpun. Kalau begitu, beri tahu aku apa yang harus kulakukan?” daripada berpikir lama, aku memintanya berterus terang lagi, dengan begitu aku tidak akan salah memahami maksudnya lagi.

“Tanamkan benihmu sebagai pertanda cinta. Atau paling tidak, walaupun cinta belum mengiringi, hal itu akan mengikat kita, sekaligus membimbingmu menapaki langkah untuk membuktikan bahwa kau adalah namja gagah, yang berani bertindak setelah memutuskan. Setuju denganku?”

Mati kata, itulah yang kurasakan. Apa yang harus kulakukan? Tidak tahukah ia, aku tidak mau menjamahnya demi keselamatannya. Sekalipun aku belum mencintainya, tapi aku selalu mengutamakan keselamatannya.

Aku tidak yakin ia kuat mengandung, apalagi melahirkan. Tuhan…tapi kalau aku terus berpikir seperti ini, sama artinya aku mengecilkan keberadaan-Mu. Bukankah Sang Pemilik Kekuatan adalah penciptaku? Kenapa aku harus tidak yakin kalau Dia akan memberi kekuatan pada Serra?

“Apa kau yakin kuat menjaga benihku selama sembilan bulan? Lalu apa kau punya cukup nyali untuk mengeluarkannya?” Aku bertanya hati-hati, takut ia merasa sedih dan mengutuki kondisi fisiknya.

“Kau meragukanku? Bukankah manusia harus mencoba? Endingnya bukan lagi menjadi urusan kita.” Ia menjawab mantap, sedikit pun tidak ada keraguan maupun ketakutan pada nada bicaranya.

Baiklah, kalau ia yang akan menanggung lebih banyak saja berani menghadapinya, mengapa aku tidak?

“Geurae, persiapkan dirimu nanti malam. Sekarang sudah siang, aku harus segera ke kantor.” Mengucapkan kalimat singkat namun aku yakin ia paham maksudku, lalu kulayangkan morning kiss kilat di keningnya.

Rutinitasku sudah menunggu di kantor, aku tidak bisa bersantai-santai terlalu lama bersama Serra-ku ini. Ya, dia Serraku—yeoja yang akan selalu kulindungi ke depannya.

+++++

Author’s POV

Apa yang terjadi ketika cahaya tidak kunjung menghangatkan raga kita? Layu, tubuh kita tidak beda dengan tanaman—membutuhkan cahaya untuk memberinya kekuatan berdiri.

Dua hari tidak melihat sosok Minho, membuat Serra merasa ada yang hilang dari harinya. Selama ini, paling tidak ia melihat Minho di pagi hari. Walau hanya memberikan ucapan selamat pagi  dan punya kesempatan untuk menghidangkan sarapan sederhana bagi namja yang sangat dicintainya itu, sudah membuat Serra merasakan kebahagiaan luar biasa. Setidaknya hanya melalui cara seperti itulah ia bisa menyampaikan perasaannya.

Berkali-kali ia merasa tidak tahan, nyaris ingin menghubungi Minho. Tapi ia tidak ingin meminta lebih dulu, bukan karena gengsi—melainkan ingin mengetahui tindakan apa yang dilakukan Minho tanpa ia pinta.

“Kau pabo, Nuna! Kami, kaum lelaki bukanlah paranormal yang bisa membaca perasaan yeoja. Ada saatnya kami tak dapat menangkap isyarat yang yeoja berikan. Jika kau punya keinginan, berterus teranglah, tapi jangan memaksa kalau kau memang ingin melihat isi hatinya.” Taemin yang sejak tadi hanya mengamati sepupunya itu hanya lalu-lalang tidak jelas, akhirnya melepas PSP-nya dan memberikan petuah untuk nunanya.

“Apa ia tidak akan merasa kalau aku ini manja dan merepotkan dengan memintanya menemaniku malam ini?” Serra terlihat ragu-ragu menerima saran Taemin.

“Ia merasa pun tak apa. Kau ini sudah bukan yeojachingunya lagi, kau anae-nya. Menurutku permintaan seperti itu sangat wajar. Aku yang masih anak SMA pun, kalau sudah punya tautan hati, pasti akan menemaninya dengan senang hati, apalagi kalau ikatan kami sudah sah karena pernikahan. Sekali-kali meminta tidak ada salahnya.”

“Baiklah, akan kulakukan. Kau jangan besuara selama aku meneleponnya ya?”

Serra’s POV

“Yeoboseo…Minho-ya…” Dengan ragu-ragu aku membuka mulutku sewaktu sambungannya telah terjalin.

“Serra-ah, kenapa menelepon? Aku mau rapat sebentar lagi.” Minho menjawab dengan nada sedikit terburu-buru.

“Mmm…bisakah kau pulang lebih cepat nanti malam? Aku ingin bersamamu malam ini.” Kupercepat tempo bicaraku karena takut terhenti di tengah kalimat.

“Tentu saja, aku akan pulang lebih cepat malam ini, jagiya.”

Jagi? Baru kali ini ia memanggilku seperti itu selama pernikahan kami. Hanya sebuah kata namun mampu membuat perasaanku melambung tinggi saat ini…gomawo Minho-ah…akhirnya kau memanggilku dengan sebutan itu.

“Barusan kau panggil aku apa?”Aku menanyakan lagi, memastikan aku tidak salah dengar.

Yes, now and future, I’ll call you like that, do you allow me, jagi?”

“O..of course…” Masih tidak percaya dengan pernyataannya, aku menjawab dengan gemetar saking senangnya.

“Baiklah, ada lagi yang ingin kaukatakan?” Pertanyaannya langsung membuyarkan lamunan singkatku.

“Ani, hanya itu. Kau mau rapat, kan?”

“Iya. Kalau begitu kumatikan ya? Sampai jumpa nanti malam, tunggulah aku pulang.” Ucapan Minho pun menutup pembicaraan kami di siang yang cerah ini.

Taemin tersenyum puas memandangku, tidak lama aksi berpelukan ala teletubies pun terjadi. Seperti inilah aku dan Taemin, tampak seperti bocah ketika meluapkan kegembiraan. Ia memang bocah, setidaknya umurnya masih 18 tahun—terpaut empat tahun dengan umurku, dan terpaut lima tahun dengan umur Jinki. Tapi, ia terkadang bersikap maupun mengeluarkan kata-kata yang sangak bijak, seperti yang ia lakukan siang ini, yang menghantarkanku pada suasana yang menggembirakan ini.

“Gomawo Taemin-ah…aku akan mentraktirmu Bananana Ice Cream special karena jasamu kali ini.” Ucapku setelah menyelesaikan kekonyolanku berperan seperi Lala Teletubies.

“Ah~ kurang nuna, itu belum sebanding…” Ia merajuk, kali ini dengan memasang puppy eyes-nya.

Orang yang tidak mengenalnya tidak akan percaya bahwa namja satu ini sangat kekanakan. Nyatanya ia selalu menampakkan image cool di hadapan semua orang, apalagi di kalangan yeoja pengemarnya.

“Baiklah, tiga porsi cukup. Kau jangan memerasku, Tae-ah!”

Begitulah siang itu, terasa sangat indah—Aku ingin seperti ini terus…semoga ini menjadi awal baik untuk rumah tanggaku…

+++++

Sunny’s POV

Hanya ketika berbincang dengannya, aku menjadi lunak. Kemurnian hatinya membuat segala keganasan hatiku bersembunyi untuk sementara.

Dia seperti tawas, menggumpalkan kotoran dan mengendapkannya di dasar. Sayangnya, kadarnya melemah seiring melebarnya jarak antara kita, sehingga pengaruhnya hilang berganti dengan kemunculan unsur Hg yang mengajakku bekerja sama. Aku yang merasa sangat langka kesempatan untuk bekerja sama dengan unsur yang sangat sulit menerima electron lagi dalam tubuhnya itu, segera memanfaatkan momentum. Dan aku, dengan lengahnya melupakan sang tawas.

Kupandangi lekat wajah yang ada di halaman depan album photo kesayanganku, yang selalu aku bawa ketika bepergian jauh.

Dia, Kim Kibum, namja yang aneh menurutku, ia akan marah jika ada orang yang memanggilnya dengan nama aslinya. Cukup panggil dia Key, itu permintaannya. Menurutnya nama Key itu simple, dan terdengar keren—sesuai dengan obsesinya, menjadi orang yang selalu terlihat keren. Alhasil, kami teman-temannya, mau tak mau menuruti keinginannya jika tidak ingin mendengar ocehannya yang berisik namun menggemaskan

Dia, menjadi namjachinguku sejak kami duduk di bangku kelas 2 SMA. Walaupun mulutnya sangat cerewet, tapi hatinya tidak keras. Ia tipe orang yang tidak segan mengalah jika memang pilihan maupun pemikirannya tergantikan dengan yang lebih baik.

Dia sangat sabar menghadapiku, sama halnya dengan Jonghyun—si baby crying. Bedanya, mulut Jonghyun tidak seperti tante-tante gatal yang sudah tidak bergosip selama seminggu.

Baby.Negae banhae beorin naegae wae irae

Baby.Why are you doing this to me.Who’s fallen in love with you?

Dureopdago mulleoseoji malgo.Geunyang naegae matgyeobwala eoddae

Sebuat lagu yang disertai vibration berbunyi dari handphone yang kuletakkan persis di sampingku, alarm yang kupasang pada pukul lima sore berbunyi, sudah waktunya bagiku untuk mempersiapkan diriku.

Segera kuraih perlengkapan perawatan tubuh lengkap yang hanya kupakai jika akan ada momen penting saja, kamar mandi menjadi sasaranku selanjutnya.

Berendam di bathtub membuatku sedikit rileks, menikmati aroma terapi dan sensasi mandi susu menambah kenikmatan mandi soreku.

Beberapa jam mendatang, aku akan menantang seseorang, bukan Minho yang sebenarnya ingin kutuju, melainkan Serra. Kau tahu mengapa aku menjadikan Minho sebagai umpan? Karena ketika sudah bersentuhan dengan cinta, hati seseorang akan menjadi lemah, serangan pertama untuk yeoja yang sangat ingin kuhancurkan.

Tuttt, tuttt, telepon wireless kembali berbunyi, kali ini dari dalam plastik pembungkus yang menurut sang pemilik apartemen ini-sengaja ia bungkus dengan plastik agar tidak tersentuh air.  Benda yang sengaja ditaruh Minho di kamar mandi karena kebiasaannya teringat hal-hal penting saat mandi itu pun mulai tidak sabar untuk disentuh. Segera kuraih benda yang bertengger di samping bathtub tersebut, dan menjawab panggilannya.

“Serra-ah, kau sedang apa saat ini? Aku sedang perjalanan ke rumah, sesuai janjiku—aku pulang cepat hari ini demi malam special kita.” Suara berat itu sudah menyerobot sebelum aku sempat mengucapkan  sepatah katapun.

“N, ne, aku tunggu.” Aku sedikit panik karena mandiku baru berlangsung 1/5 dari durasi yang kurencanakan.

Segera setelah Minho memutuskan sambungannya, aku bergegas menyelesaikan mandiku, lalu membalut diriku dengan piyama biru yang sudah kupersiapkan.

Ada sedikit perasaan tertekan memikirkan kebusukan apa yang akan kuperbuat tidak lama lagi. Aku akan melepas milikku, demi merebut hal lain yang seharusnya menjadi milikku juga—namun terambil oleh saudara kembarku, Serra.

+++++

Serra’s POV

Bintang dan bulan begitu setianya menanti jatah untuk mengawal langit, sekitar 12 jam mereka rela menunggu matahari beranjak dari singgasananya. Saat ini aku ingin menganut teori kesabaran yang diusung bintang dan bulan, menunggunya muncul setelah lama tak melihatnya.

Aku belum sepadan dengan penantian dua pesona langit malam tersebut. Aku bahkan baru menunggu selama dua jam, namun rasanya aku sudah tidak tahan. Ada segudang kekecewaan di hatiku. Tentu tidak akan begini jadinya jika ia tidak memintaku untuk menunggunya tadi. Harapan palsu memang lebih menyakitkan dari pada kejujuran, ya? Kalau memang ia tidak berniat pulang, mengapa ia harus berkata seperti itu?

Ini batasku, mungkin benar apa yang dibilang Jinki Oppa, aku terlalu baik. Tapi, aku memang seperti ini, tidak bisa marah dan justru hanya akan memendam kemarahanku dalam hati, dan hal tersebut bagaikan boomerang maut bagi diriku sendiri, membuat denyut nadiku meraung-raung minta diperhatikan.

Usaha terakhirku menghubungi handphonenya pun sia-sia karena hanya ocehan operator yang menari-nari di telingaku, membuang waktuku selama beberapa detik untuk mendengarkannya Bodohnya aku mau mendengarkan suara itu sembari menghapus air mata yang sudah mulai menampakkan wujudnya di sudut mataku.

Rasa sesak menguasai diriku, mendorongku untuk menggerakkan kaki ke luar rumah untuk menghirup udara segar, berharap pikiranku sedikit melapang sesudahnya.

“Serra-ah, apa yang kau lakukan dengan berkeliaran di luar rumah seperti ini? Masukklah, kau kan tidak tahan angin malam.” Suara seseorang menghentikan gerakku.

“Biarkan aku melakukan ini. Kenapa kau terkesan menganggapku sangat lemah?” Reaksiku tidak seperti biasanya, aku benci mendengar ucapan semacam itu.

Aku tahu apa yang dikatakannya benar, aku memang tidak tahan angin malam. Tapi saat ini aku benar-benar berada di zona sensitive, aku mulai muak karena orang-orang di sekitarku terlalu berlebihan dalam menilai kondisi fisikku.

“Kau habis menangis?” Kali ini ia memandang wajahku lekat, membuatku ingin segera mengalihkan wajahku darinya karena tidak mau mengakui bahwa aku memang baru saja menangis.

“Jinki Oppa…hiks…” Seketika aku berubah pikiran, bukannya memalingkan wajah darinya, aku malah berhambur memeluknya, merasa tidak kuasa lagi membendung desakan air mataku.

Jinki’s POV

Air matanya terurai lagi, sungguh…aku tidak tahan melihatnya, ingin rasanya melakukan sesuatu untuknya, tapi aku memang tidak berhak mencampuri kehidupannya lebih dalam.

“Serra-ah, berikan aku izin untuk berbicara dengan Minho. Aku tidak tahan melihatmu terjebak dalam situasi seperti ini.” Sekali lagi aku mengatakan hal yang sudah sering terlontar dari mulutku, kuharap kali ini jawabannya berbeda.

“Lakukan yang menurutmu terbaik, oppa.”

Lega, akhirnya jawabannya berubah—tidak seperti biasanya yang bersikukuh bahwa ia masih mampu menahannya.

Bagaimanapun, manusia memang memiliki batas. Tapi aku sangat kagum melihat keluasan batasnya, tiga tahun bukan waktu yang sebentar menurutku—membuang waktu dengan menjalani rumah tangga yang mati suri dan kaku.

“Tapi, seandainya ia bersikap seperti ini karena ia sudah tidak menginginkanmu, apa kau siap?” lebih baik kuutarakan kemungkinan terburuknya lebih dahulu.

Kalau selama ini Minho tidak peduli padanya, ada kemungkinan namja itu memang sebenarnya ingin bercerai dengan Serra. Tapi, aku punya tebakan mengenai alasan Minho tidak menceraikan Serra, itu adalah perasaan dasar manusia yang masih dimiliki si namja jangkung itu, tidak tega pada Serra, khawatir keadaan Serra akan memburuk jika depresi. Kau belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Serra? Tidak akan kuutarakan karena ini terasa memilukan untuk diceritakan.

“Sejak awal dia memang tidak menginginkanku, lakukanlah oppa, apapun yang terjadi nantinya.”

+++++

Author’s POV

Serbuk sari pun tertiup angin, bergerak bebas mengikuti gravitasi bumi, menyentuh kepala putik yang begitu menggelitik pesonanya. Sedikit merayu memamerkan kejantanannya, lalu bertaut khidmad bersama berlian berharga kepunyaan sang bunga betina.

Tidak peduli suara jangkrik bersahutan, teriakan burung malam pun tak dihiraukan. Hanya hembusan angin malam yang dibiarkan ikut mewarnai, membelai lembut berikan kesejukannya untuk meredam bulir air yang mulai jatuh beriringan di sekujur batang maupun di permukaan daunnya.

Rasa sesal itu ada, menggelayuti setiap sudut sang betina, karena bukan serbuk sari yang itulah yang sebenarnya ia mau, tapi apa mau dikata, ia sendiri yang terlebih dahulu menggoda—menarik perhatian serangga untuk hinggap di rumpun kehidupannya, menyenggol serbuk sari tersebut hingga terjatuh ke pangkuan sang betina.

“Mau kulanjutkan?” Sang jantan berhenti karena melihat guratan kesedihan pada sang betina.

“Aku yang meminta, mana bisa aku yang menghentikan.” Jawab sang betina untuk menutupi kegundahan yang menyelimutinya.

Tidak kuasa melawan gravitasi bumi yang sangat kuat, serbuk sari terus meluncur, kembali memamerkan kelihaiannya, berproses membentuk buluh serbuk dan terus merayap menuju mikrofil. Ia berkembang menjadi dua, namun yang menarik adalah hanya satu—yang terus beraksi membuahi sel telur demi mencapai satu tujuan, menghasilkan embrio yang berkilau.

Lelah membuat keduanya tertidur dengan damai, terseret ke alam mimpi dengan tangan saling menggenggam.

Sang mentari rupanya cemburu, ia menampakkan wujudnya untuk menyudahi proses alam tersebut, dan ia berhasil—dunia indah kembali terbentang di pengelihatan manusia mana pun yang masih beruntung karena dikaruniai sepasang mata normal.

“Kau menyesal, Serra-ah?” Minho mengusap kening anaenya yang dipenuhi hujan keringat.

“Tidak, hanya merasa sangat lelah. Gomawo untuk bukti kebulatan tekadmu, aku akan menjaganya dengan baik jika memang ini berhasil.”

Sunny tersenyum pada Minho, dan namja itupun mulai terpesona dengan senyumannya, mengutuki dirinya kenapa tidak dari dulu menyadarinya. Tapi sesaat kemudian sisi malaikatnya mendominasi, membisiki bahwa ia tak seharusnya tidak mencintai seseorang hanya karena keindahan rupa. Seperti yang Sunny bilang, fisik bisa lenyap suatu saat, tapi tidak dengan hati.

Sunny’s POV

Terhenyak, masih merasa dadaku sesak setelah mengikuti permainan yang sebenarnya kurancang sendiri. Apa aku terlalu berani? Sangat kuatkah keinginanku untuk menghancurkan dan merebut kepunyaan yeoja itu hingga aku rela berlianku tersobek? Tidak, aku sudah mempersiapkan ini dari awal, tidak ada gunanya aku berhenti sekarang setelah mengorbankan milikku yang berharga. Lee Serra, kita lihat—roda kehidupan akan berputar.

Tidak, ada perasaan yang kutakuti, aku mulai tertarik pada Minho? Benarkah? Ah, ini hanya gejolak jiwa muda, yang mudah terjerat oleh keindahan rupa. Bukan seperti ini perasaan yang kusebut cinta, perasaan macam itu hanya kutujukan untuk satu namja, Key.

Argghhhh…aku mengkhianati Key! Kenapa aku tidak berpikir seperti itu sebelumnya? Key, apa yang harus kulakukan? Ah, masa bodoh, ia saja pergi tanpa pamit. Mungkin saat ini Key bahkan sudah tidak mengingatku dan memiliki mawar lain yang lebih indah. Mulai detik ini, aku tidak akan memikirkan Key, aku akan fokus pada tujuanku. Melukai Serra—melenyapkannya—lalu menggantikan perannya setelah sebelumnya sudah harus kupastikan bahwa  Minho terikat kuat padaku

“Kau menyesal, Serra-ah?” sebuah tangan besar hinggap di wajahku, menyapu cairan bening di keningku.

Aku menatapnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja kami sudahi. Prosesnya panjang, terasa bagaikan sebulan hanya untuk mendapatkan sebuah perasaan nyaman untuk memulai. Diawali dengan bercengkrama hangat hingga malam kian pekat, tidak kusangka akan lama seperti ini jalannya.

Done, dan aku tidak tahu apakah ini harus disebut mimpi buruk atau membahagiakan? Seharusnya bahagia, karena langkahku akan semakin melaju setelah ini, benar begitu? Harus benar, yakinlah itu—Han Sunny…

“Tidak, hanya merasa sangat lelah. Gomawo untuk bukti kebulatan tekadmu, aku akan menjaganya dengan baik jika memang ini berhasil.”

Kuhadiahkan senyuman untuknya, sebuah senyuman kemenangan dariku—yeoja yang tidak akan pernah dia lupakan, karena setelah ini aku akan mengikatnya dengan benih yang ditanamnya sendiri. The real battle is started, listen it –Lee Serra and Choi Minho…

+++++

Minho’s POV

Sosoknya memang tidak asing di mataku, tapi kemunculannya yang sangat langka di hadapanku seketika membuat alisku bertaut. Ah, sepertinya ini karena aku saja yang jarang ada di rumah. Padahal rumahnya hanya berjarak beberapa bangunan dengan kepunyaanku.

“Tumben kau sengaja datang menemuiku, ada apa hyung?” Aku membimbingnya masuk ke dalam ruang pribadiku dan mempersilakan ia duduk.

“Sebelumnya aku minta maaf karena seharusnya aku tidak ikut campur. Tapi, kurasa aku punya hak untuk melindungi adik sepupu kesayanganku. Minho-ya, aku tahu kau tidak bisa menjadi Serra, begitupun sebaliknya. Jadi, kalian tidak bisa memahami isi pikiran masing-masing. Tapi, kita bicara tentang komitmen, kau masih berniat melanjutkan rumah tangga kalian atau tidak?”

Mwo? Apa maksudnya membicarakan hal seperti ini. Isssh…Jinki hyung sepertinya belum tahu apa yang kelah terjadi semalam, bisa-bisanya ia masih menanyakan niatku.

“Tentu saja hyung, aku akan mempertahankannya.” Jawabku mantap.

“Jangan hanya besar mulut! Pertanggungjawabkan pilihanmu! Minho-ya, kita sama-sama tahu bagaimana kondisi fisik Serra. Jangan lagi kau tambah bebannya dengan kelakuanmu. Berhentilah menyakitinya.”

“Ne, tidak akan kulakukan lagi.” Langsung kubalas cepat kalimat panjangnya.

“Aku pegang janjimu. Jangan buat ia menangis seperti semalam.” Kali ini aku mulai merasa sorot matanya sangat tajam, berbada jauh dengan ia yang biasanya.

Semalam? Ternyata aku benar, semalam Serra memang terlihat gusar. Tapi bukankah ia sendiri yang bilang agar aku melanjutkan? Dan, kapan ia menangis?

“Memangnya semalam ia menangis?” Aku memberanikan diri bertanya.

Aku yakin Jinki hyung akan menilaiku sebagai makhluk yang tidak peka setelah pertanyaan tadi terucap, tapi biarlah—mungkin aku memang tidak cukup peka membaca isi hati seseorang.

Bagiku, membaca isi pikiran seseorang lebih sulit daripada membaca kurva, neraca, maupun pergerakan saham. Pergerakan hati seseorang itu laksana aliran listrik yang terbalut kabel, tidak tampak namun sekalinya memercik, akan terasa sangat mengejutkan. Atau, ia persis seperti bunglon, yang bisa disamarkan dengan mudah, namun sekalinya terlihat—sudah terlambat karena sang bunglon sudah melarikan diri. Sedangkan aku bukan hewan pemangsa yang bermata jeli dan mampu melesat gesit untuk mencegat sang bunglon, aku terlalu bodoh dalam hal ini.

“Ne, kau tahu apa yang ia lakukan semalam? Aku bertemu dengan Serra saat ia keluar dari rumahnya, aku yang kebetulan lewat sangat khawatir karena ia keluar rumah tanpa jaket, padahal semalam sangat dingin. Dan sepertinya aku melakukan kesalahan, ia marah karena aku menganggapnya lemah.”

Lelucon macam apa ini? Bagaimana bisa semalam hyung bertemu Serra sementara yeoja itu sedang di dekatku?

“Minho-ya…aku mengerti perasaan Serra, sebetulnya ia merasa dirinya lemah, tapi ia benci dianggap lemah. Kau pun seharusnya mengerti. Mulai sekarang jangan menganggap maupun melakukan tindakan yang membuatnya merasa lemah. Belajarlah mencintai Serra, atau lebih baik kau berpisah dengannya, jangan gantung keberadaannya, itu akan terasa melelahkan baginya.”

“Hyung, kau sedang mengelabuiku? Kau bilang apa barusan? Kau melihatnya menangis semalam?” Harus kupastikan, aku merasa makhluk di hadapanku ini bukan tipe orang yang suka berdusta.

“Ya. Maafkan aku karena kenyataannya ia menangis di pelukanku, tapi sungguh—aku tidak punya perasaan apapun untuknya. Minho-ya…dari perkataanmu barusan, kau menuduhku berbohong? Cih, untuk apa aku menghabiskan waktuku untuk datang kemari kalau aku hanya ingin mengumbar kebohongan?”

“A, ani. Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja…hyung, aku sudahi saja pembicaraan kita, ada yang harus kuurus.” Aku buru-buru beranjak dari dudukku.

Kalau ia tidak berbohong, lalu siapa yeoja yang bersamaku tadi malam? Oh Tuhan…aku telah membunuh Serra sepertinya…Arrghhhhh!!!

TBC…

+++++

Arghhh…part ini mengerikan…tokoh Sunny malah kubikin jahat banget, tapi di part2 depan, roda kehidupan akan berputar kok…hehe…engga akan kaya sinetron indo yang dipenuhi orang2 jahat semua. Seperti biasa, aku suka bikin tokoh ‘setan dan malaikat’ dalam satu tubuh, ngerti maksudnya? Kalau engga ngerti, maapin yah…authornya ga pandai menyampaikan kata.

Masih engga ngerti kenapa fisik Serra dibilang lemah? Ntar di part 3 diceritain. Sebenernya ini belom masuk inti ceritanya, karena bukan seperti apa yang tampak pada part 1 dan 2 yang mau kukisahkan #halah lebay #author: biarin, yang menting min *iklan bentar

Jangan bosen baca ff-ku, kritik saran selalu aku tunggu…jangan lupa komen yah…

Don’t be silent reader, OK?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

47 thoughts on “Between Two Hearts – Part 2

  1. Thor buat Minho sadar dong n buat Sunny berubah kan kasian Serra…dan Konflik’a benar” seru thor ngak nyangka Ff ini bisa memporak-porandakan Hati Q #halahLebay
    Waduh penasaran banget ama ni Ff…
    Pokok’a DAEBAKKKK THOR…

    Q tunggu Lanjutannya yah thor !!!
    Semangat Thor Ff kamu ini benar” Q tunggu lanjutannya..

  2. hiks.,kasian amat si serra,pux sodara kembr yg jht kyk sunny…tp feelq blg sera g tw klo dy pnya kmbran.
    minho menysal…??,ayo bang,pke sdkit otakmu…masak kagak tau istri sndri…??
    emg si key prgi kmn sih…???,perasaan dr part kmrn cm muncul nama doank…
    nungguin next part…

  3. penggunaan kata-katanya keren, aku suka😄
    Minho gak peka antara karakter Serra dan Sunny
    aku suka sama Onew disini, dia keliatan dewasa. ^^
    aku tunggu part berikutnya~

  4. Thor.. Aku malah kasian sama sunny.. Entar klo dia ketahuan pasti dia ketahuan bo’ong past dah dia dbenci😥
    Mana sih key?? Kok belum keliatan juga? Thor.. Si sunny’a entar hamil ya?? Thor pinter banget mainin kata2 pas mereka ‘itu’ tu.. Jd klo pd yg gak ngeh.. Pst gak paham.. Kalimat konotasi’a aku suka banget!!!

      1. hihi, kalimat itu ga yadong kan ya?

        hp ku juga sama, suka ga masuk malah komennya.

        hu’um, kasian sunny sebenernya…tp entah si syp yg sebenernya patut dikasihani dlm kisah ini

        1. iya…aku udh bikin mpe end, tp aku ga tau siapa yg mesti kudefinisikan sbg korban, gitu maksudku, hiihi

          e, aku lupa blg makasih, thx y udh mau bca n komen ^^

    1. Kyumin-ssi… aku gak setuju loh sunny di bilang jahat.. hahahaha…
      maaf yak… numpang lewat kayak Kunti..
      hihihihi#Kunti salah masuk kubur

  5. Kyaaaaa!! Sunny nya jahat banget thooor. Kesian serra nya, trus key muncul di part brp yaa?? Ditunggu part selanjutnya ya thoor, fighting!!

  6. keknya part 3 mulai ketauwan yak sandiwara Sunny?
    *bibib dubu : sotoy uyeee*😛
    ini Key nya kumaha teh kaga nongol2, cm nama aja… padahal pnasaran juga kenapa Key pergi ninggalin Sunny…
    bibib dubu emang piter mainin kata-kata ^^b. disini pun banyak perumpamaan, en istilah yg gak gw ngerti. pas bagian nc nyapun gw baru engeh diakir klo itu nc. hahaha *maap rada lemot klo baca bhs berat* hahahha😀

    ayo ayo ayo geura posting part 3….
    tapi utamain the devil yak. soalnya itu yg paling gw tunggu-tungu. hehehe
    Hwaiting!!!

    1. hihi, aku ga mau bikin NC, tp bagian itu harus aku ceritain krn mau ngegambarin isi pikiran masing2.

      sumpah ya aku nyengir pas baca komen km, yg musik pembukanya itu loh,,,haha

      key ada kok. dan aku paling suka pas key muncul….karena dasarnya aku pecinta Key ama onew,

      iyah, tungguin aja yah the devilnya🙂
      aku jg lebih suka the devil, agak2 gimana gitu pas nulis ff ini, aku ga terlalu suka yg romance murni gini sebenernya, tp aku temenku kan lg nulis cerita yg inti awalnya sama, jd mau ga mau kutamatin deh ini…

      gomawo yah miss. ateng🙂

      1. Huahhh knapa? terlalu berisik? ato terlalu meriah?
        klo gitu besok2 openingnya gw bawa pasukan tanjidor deh. kekeke
        yeah klo bias emang syelalu dpet perlakuan khusus yak *likik Key ama Onew yg jadi bias Bibib Dubu*
        bettuuullll mana the devil nya!! Lagi!! Lagi!! cepat diposting!! *demo*
        pan gw mau sotoy ikut kuis lagi, kali aja ntr bibib dubu berbaik hati mau ngasih gw coklat.😀

  7. Aku benci han sunny -,-‘
    sumpah tuh cewek satu…. aish!! Ga akan peduli gue sm lo sunny *mendadak emosi

    ga akan setuju sunny akhirnya sm minho, nyebelin sumpaaahhh….

    Part ini part paling bkin kesel. Tp daebak😀

    next part ditunggu yaaa ;3

  8. 😯 kok banyak banget ya, yang gak suka sama Sunny???
    perasaan cuma aku doang yang suka sama dia… ckckck..
    bener loh.. ini aneh.. sosok Sunny di ff ini tu, ngebuat aku kasian sama dia… entah karena apa😕
    justru aku kurang suka sama sodara kembarnya dia… si Seera(bener gitu tulisannya?) lagi2 entah karena apa😕
    yang jelas, Si Sunny itu patut dikasihani..
    itu menurutku sih.. hehehehe :-p

  9. huaaaaaaaaa kata katanya kereeeeeeeen aku sukaa!! sumpah ya serra kasian banget😦 thor, nanti endingnya happy ato sad?._.

  10. Ahhh iya nihhh… Bibib… Kenapa sunny kesannya jadi jahat gituuuu…. Hah,,, mana mereka udd melakukan itu…. Kasihan Serra,,,,, Hmm… Minho mulai curiga… Itu Sunny bakalan hamil gx ya??? Mudah”an nggak… Tapi klo iya juga gpp dehhhh…… Ehh,,, Sunny pacarnya Key??? Hayoo lohhhh.. Si Key kemana?? #me : eh dia kabur ke Indonesia,, lagi sama aku nehhh,,,, *abaikan koment ini,,, ngekkkk

    Ahh,,, Sunny kenapa dendam sama Serra… Apa yang terjadi padamu itu bukan salah Serra donggg,,,, itu permainan takdir,,,, kasihan Serra-nya
    ……

    Semangat!! Semangat!!

  11. omo….gimana nasib serra selanjutnya?
    aku bacanya ngebut dari part 1 ampe part 2..
    hem..kalimat2nya keren author..
    ini key-nya pasti muncul kan ya?harus author*maksa*..
    daebak thor..part 2 a.s.a.p
    HWAITING!!!

  12. Ini kok Sunny kyknya jahat bngt ya? kasian sama Serra-nya
    Itu Serra emngnya sakit apaan eon? aaah I’m so curious yeaaah~ !
    part slnjutnya asap eon🙂

  13. baca part ini kenapa keselnya sama minho malah banget-banget ya…. baby, maafkan aku, tapi kamu nyebelin banget disini –”

    pas di bagian yg seharusnya jadi nc itu, gak ngerti gimana ngebayanginnya, kl nc beneran cepet deh ngebayanginnya, hehe
    dari putik ke kumbang terus ke berlian, hmm
    tapi pinter deh kamu ngeganti part ncnya pake hal2 diatas itu,

    emang ada key ya? hehe, gak pernah baca castnya siapa aja, cuma baca di ceritanya ada siapa aja yg kesebut…

    ditunggu lanjutannya..

  14. minhooo kmu tega bgt
    kasian seeranya

    jdi penasaran sma part slnjtnya
    smangat ya buat authornya

    ffnya daebak menyentuh bgt

  15. cool!!!
    karakter tokohnya bener-bener kuat bgt disini!
    apalagi karakter sunny..
    ide ceritanya pun bener-bener diluar dugaan!
    keren bgt!!
    huwa~~
    ngga sabar ngebaca lanjutannya!!

  16. HAP! muncul lagi di part 2

    1. Merapihkan atau merapikan?

    2. Penggunaan koma hehehe “Aku ingin tertawa sebetulnya, pertanyaan seperti itu seharusnya diucapkan dengan muka penuh gairah, tapi dia? Hanya ekspresi datar yang terpasang di wajahnya.” Itu tanda komanya bisa diganti tanda baca titik semua lhoo

    3. “Urusan hati—telah ada seorang namja yang sampai kapan pun akan menjadi penghuni tetap hatiku, walaupun keberadaannya tidak kuketahui.”
    Siapa? Siapa? Siapa? Penasaran tingkat dewaaaa. Kenapa gak Jonghyun ajaaaa?

    4. “Endingnya bukan lagi menjadi urusan kita.” Kata ‘ending’ seharusnya dicetak miring ^^

    5. “Kau pabo, Nuna! Kami, kaum lelaki bukanlah paranormal yang bisa membaca perasaan yeoja. Ada saatnya kami tak dapat menangkap isyarat yang yeoja berikan. Jika kau punya keinginan, berterus teranglah, tapi jangan memaksa kalau kau memang ingin melihat isi hatinya.”
    BENER BANGEEEEEET!!!!! Tapi Taem, tahukah kalau yeoja itu punya gengsi yang tinggi? Hahahaha

    6. “Tapi sesaat kemudian sisi malaikatnya mendominasi, membisiki bahwa ia tak seharusnya tidak mencintai seseorang hanya karena keindahan rupa.
    Maksudnya begini kali ya bib : “.. membisiki bahwa ia tak seharusnya mencintai seseorang hanya karena keindahan rupa.”

    7. Ooooohh jadi Sunny itu sayangnya sama Key *manggut-manggut*

    8. “Minho-ya, aku tahu kau tidak bisa menjadi Serra, begitupun sebaliknya.”
    HANG. Yaiyalah Minho gak bisa jadi Serra. Orang Minho cowo kok hahahahaha. Becanda. Kamu salah ketik ya? Atau kurang kata-katanya?

    Ada yang membuatku bertanya-tanya di sini. Kenapa Sunny kesannya banyak uang? Di part 1 kan dia dibilang mau sekolah aja susah. Kalo dipikir2 Seoul kesannya itu kan butuh biaya hidup yang tinggi. Sama aja lah kalo orang daerah ke Jakarta gitu. Terus begitu sampe Seoul kok dia bisa pake make up, heels, tas bermerek, terus perawatan tubuh. Uangnya dari mana?

    Terus yang masalah NC, itu gak vulgar deh Bib soalnya kamu pake perumpamaan gitu. Kalau menurutku sih belum NC kok hehehe.

    Lanjut ke part 3~

  17. Ga papa thor aku dukung sunny,agak gedek ma serra kesannya letoy banget tuh,uda matiin aja,#ketularansetannyasunny

  18. Sunny mempertaruhkan harta berharga miliknya hanya untuk menghancurkan saudara kembarnya sendiri, aish~kurasa dia pasti akan menyesal akhirnya…. Mino pasti akan lebih menyesal kalo tau yang sebenarnya bersamanya bukan Serra… ah, kasian….

  19. Itu emangnya si Serra pernah ngapain Sunny sih? Kok Sunny tega banget sama saudaranya sendiri… Apa sebenernya keluarga Lee itu mau adopsi Sunny tapi karena Serra tubuhnya lemah jadi Serra yang diadopsi, makanya Sunny ngerasa kalau semua yang dimiliki Serra seharusnya jadi miliknya? Ah! daripada penasaran, LANJUT KE PART 3~

  20. Hyaaa!!! Author!!
    Sunny kenapa gitu sihh? Serra salah apa coba? knp dia jahat gt ama Serra?
    Omo MInho itu Sunny bukan Serra Kyaaa..
    Semoga part depan Sunny nya ketahuan.
    Lanjut ke next part dulu dehh

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s