Erased – Part 1

Title                       :               Erased [1.5] – The Scar

Author                  :               Choi Minjin

Main Casts          :               Lee Jinki, Choi Minho

Supporting casts :            Song Jina (imaginary), Key, Jonghyun, Taemin

Genre                   :               Life, family, sad, tragedy, a lil bit romance

Length                  :               Sequel

Rating                   :               General

AN                          :               Annyeong, ini FF sequel keduaku setelah ‘Hwasal’ sekaligus FF terpanjang yang pernah kutulis sejauh ini. FF ini juga agak membingungkan karena sering berganti point of view. Tapi nggak papa ya? Ya ya ya? *maksa*.

FF ini mungkin juga FF terakhirku sebelum aku mau fokus dulu ke ujian *doakan aku sukses ya chingu… ^^*, nanti aku akan balik lagi nulis FF tepat setelah ujian selesai. Please leave a comment ya, happy reading….

******************************

Minho’s POV

Jalan yang dipilih setiap orang berbeda. Ada yang memilih kanan, ada yang kiri. Ada yang ke utara, yang lain ke selatan. Ada banyak hal yang tidak bisa sama di dunia ini. Begitu juga pandangan orang tentang benar dan salah. Apa yang kulakukan ini benar? Ya, ini benar. Maka aku melakukannya.

Sesungguhnya, tidak akan ada putih tanpa hitam. Artinya, tidak ada benar jika tidak ada salah. Sesuatu dikatakan ‘benar’ ketika dibandingkan dengan ‘salah’. Dan aku percaya, apa yang disebut ‘benar’ dan ‘salah’ itu relatif.

Aku tahu orang-orang menganggap apa yang kulakukan ini salah. Tapi bagiku, ini benar.

Kukuatkan pegangan pada pistol di tanganku sementara Jonghyun memasukkan lembaran-lembaran uang terakhir ke dalam tas. Pegawai bank di depanku tampak sangat ketakutan dan ia hampir menangis. Hah, untuk apa kau menangis? Uang-uang itu bukan uangmu. Itu hanya lembaran-lembaran uang busuk yang dihasilkan orang-orang busuk.

Jonghyun sudah membereskan tugasnya. Ia mengangguk singkat padaku lalu berteriak pada Key yang berjaga di pintu. Kami selalu berhati-hati untuk tidak menyebut nama masing-masing. Setelah Key mengangguk barulah aku dan Jonghyun mengacungkan pistol kami pada semua orang di sini. Mereka terlalu ketakutan bahkan untuk mengeluarkan pekikan kecil. Aku membetulkan letak kacamata hitamku dan memastikan wajahku masih aman tertutup masker sebelum dengan sigap berlari mundur ke arah pintu yang telah dibuka lebar oleh Key. Lalu kami berlari secepat kami bisa ke motor kami tepat ketika mobil polisi berdatangan.

Suara sirine itu tidak membuatku takut. Itu sudah sangat biasa bagiku. Justru, entah bagaimana ada perasaan seperti adrenalin yang terpompa kencang. Tanpa menoleh ke belakang, kupacu motorku secepat kilat. Mobil-mobil itu mengejar kami dengan tidak kalah cepatnya.

Jonghyun melempar tas itu padaku. Kutangkap dengan tangan kiri. Tas ini cukup berat. Aku melihat Jonghyun menyeringai singkat sebelum membelok tajam ke sebuah gang kecil.

Aku menoleh sedikit lalu melihat Key beberapa meter di belakangku. Wajahnya tampak datar saja di balik kaca helmnya. Jumlah mobil yang mengejar kami sudah berkurang, mungkin beberapa sudah membelok mengejar Jonghyun.

Key memberikan isyarat kecil dengan tangannya. Aku mengerti. Kulemparkan tas itu padanya. Dia berhasil menangkapnya walaupun sempat hampir terjatuh dari motor. Sempat kudengar dia memaki-maki sebelum aku membelok, menabrak beberapa tempat sampah sampai terbalik dan isinya berceceran kemana-mana. Kunaikkan kecepatan. Aku tahu ini sangat berbahaya, jalan yang kulalui ini sangat sempit dengan sungai di sebelah kananku, tanpa pembatas. Tetapi jika aku menurunkan kecepatan, aku akan berakhir di penjara, yang sama saja dengan berakhirnya hidupku.

Beberapa polisi bermotor mengejarku seperti kesetanan. Aku menikmati setiap debar jantungku yang berdentum kencang. Ini hanyalah satu dari sekian banyak kejar-kejaran yang pernah kualami. Termasuk beberapa yang mengakibatkan patah tulang. Dan semua berhasil kulalui dengan selamat.

Jalan buntu di hadapanku. Sebuah selokan selebar kira-kira dua meter menghadang jalanku. Jantungku berdebar semakin kencang. Ada dua hal yang terbersit di kepalaku. Berhasil kabur atau mati. Tidak ada pilihan lain. ‘Tertangkap’ tidak ada dalam kamusku.

Hanya ada waktu satu detik untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Tanpa benar-benar berpikir, kunaikkan kecepatan lalu kuangkat bagian depan motor. Sensasi debaran jantung dan angin kebebasan yang menyenangkan sangat terasa ketika aku dan motorku melompati selokan itu. Meski hanya beberapa detik, rasanya luar biasa.

Para polisi itu berhenti di belakang. Kutancap gas lagi lalu kuasapi mereka hingga mereka tak terlihat lagi.

~~~~~

Jinki’s POV

Apa sudah malam? Kubuka selimutku dan aku terduduk tegak. Tadi aku bermimpi sangat buruk. Mimpi tentang sesuatu yang aku tidak begitu mengerti apa maksudnya. Aku hanya mempunyai firasat, bahwa apapun itu, itu berasal dari masa laluku.

Kulihat jam di atas meja. Pukul 18.00. Aku harus bergegas.

Setelah mandi sebentar –hanya tiga menit- dan makan dua tangkup roti tawar, aku mengambil jaketku dan bergegas keluar. Kukunci pintu flatku lalu berhati-hati menaruh kuncinya di saku celana jeansku agar aku tidak menjatuhkannya. Aku juga berusaha untuk menuruni tangga sempit dan curam ini dengan pelan dan sehati-hati mungkin agar aku tidak terjatuh lagi.

Tidak perlu waktu lama untuk sampai di tempat kerjaku. Sebuah cafe kecil dan suram di sudut jalan. Aku masuk lewat pintu belakang, menggantungkan jaket lalu siap di belakang konter. Tempat ini sangat sepi. Aku heran kenapa tempat ini tidak tutup saja. Tapi aku tidak terlalu peduli, yang penting aku bekerja.

Berjam-jam berlalu, hanya ada segelintir orang yang datang. Aku mulai mengantuk ketika tiba-tiba di hadapanku berdiri seorang laki-laki berjaket kulit dengan mata tajam seperti mata kucing, memandangku dengan pandangan menilai yang mengganggu.

“Ya?”

Ia masih memandangku aneh. Sekarang bahkan ia mengangkat satu alisnya dengan ekspresi menyebalkan,”Dua cappuccino dan… Minho, kau mau apa?”ia menoleh ke meja di pojokan dimana duduk dua orang namja. Yang satu memakai jaket putih dan sedang mendengarkan musik dari headsetnya sementara yang satu memakai sweater gelap dan menelungkupkan kepalanya di meja.

“Yah! Minho!”

Yang bersweater gelap tadi mendongak lalu menoleh sebal ke arah si mata kucing di hadapanku,”Terserah kau saja.”lalu ia meneruskan tidurnya lagi.

Si mata kucing menoleh lagi padaku,”Nah, kau dengar itu? Cepat ya.”lalu ia berbalik dan bergabung bersama dua temannya.

Apa? Dua cappuccino dan apa? Dasar orang-orang aneh. Kubuatkan tiga cappuccino saja lah. Kalau dia tidak suka juga bukan urusanku.

Setelah jadi kubawakan pesanan mereka ke meja. Mereka tampaknya tidak menyadari keberadaanku ketika aku sudah berdiri di belakang si jaket putih. Samar-samar, aku dapat mendengar sedikit pembicaraan mereka.

“Tenang saja, aku sudah membuang jaket yang kupakai tadi.”bisik si jaket putih.

“Itu saja tidak cukup. Kau harus tukar motormu lagi. Ceroboh sekali kau ini, Jjong, membawa motor itu kemari!”si mata tajam berbisik. Sungguh, telingaku gatal mendengar celotehnya yang bahkan lebih terdengar seperti ibu-ibu daripada ummaku.

“Sudahlah. Yang penting kita sudah serahkan tas i…”

Tepat sebelum si jaket putih menuntaskan kalimatnya, si sweater gelap yang tadi dipanggil Minho mendongak dan langsung melihatku. Seketika ia memelototi si jaket putih yang langsung terdiam dan pura-pura sibuk memandangi goresan di permukaan meja.

Aku tidak tahu harus bagaimana. Mereka hanya diam memandangi benda-benda yang seakan-akan tampak sangat menarik bagi mereka. Ayolah, apa bagusnya sih meja yang sudah tergores-gores, foto band tahun 80-an, atau vas kaca yang sudah buram?”Ehm, tiga cappuccino. Maaf menunggu lama.”kuletakkan ketiga cangkir yang kubawa ke hadapan mereka masing-masing.

Si mata tajam tersenyum aneh padaku,”Terima kasih. Kau bisa pergi sekarang.”nada menyebalkan di suaranya benar-benar membuat telinga gatal.

Aku hanya tersenyum singkat, sebatas kewajibanku sebagai waiter saja,”Selamat menikmati.”kataku seasam yang aku bisa.

Tepat sebelum aku berbalik, hanya sekilas, benar-benar sekilas, aku memandang wajah orang bernama Minho. Sungguh, hanya sepersekian detik.

Tapi rangkaian mimpi buruk yang selama beberapa hari ini menghantui tidurku tiba-tiba menghantuiku. Seakan-akan hendak meresap keluar dari otakku.

Kenapa tiba-tiba aku teringat mimpi itu ketika melihat wajah orang ini?

Orang itu, Minho, sekarang sedang sibuk dengan ponselnya sementara si mata tajam dan jaket putih sibuk mengobrol sendiri. Aku masih mematung di sini, mencoba mengusap peluh yang tiba-tiba mengaliri dahiku. Meski tadi aku merasa aneh dengan pembicaraan mereka yang mencurigakan, sekarang rasa penasaranku akan Minho itu jauh lebih menggangguku.

~~~~~

Sekarang jam empat pagi dan waktunya aku pulang. Tetapi hujan turun sangat deras. Aku berdiri merapatkan jaket di teras depan café, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Mungkin aku harus menunggu hujan reda, yang artinya mungkin baru nanti siang aku bisa pulang.

Di saat seperti ini, daripada menunggu, lebih baik aku hujan-hujanan saja. Aku sudah sangat mengantuk dan sangat rindu pada tempat tidur di flat kecilku itu. Aku juga khawatir ahjumma akan menggedor-gedor pintu flatku pagi-pagi, menagih uang sewa lalu karena tidak mendapati ada orang di sana, mendobrak masuk dan membuang semua barangku.

Sebelum aku sempat melangkahkan kakiku, kulihat seorang gadis berambut panjang tergerai, kurus dan berjaket tebal membawa sebuah payung berjalan menghampiriku. Aku mengenalinya. Bagaimana tidak? Dia adalah Song Jina.

Dia berhenti tepat di hadapanku, menyodorkan payung ke atas kepalaku dan tersenyum riang,”Halo, oppa.”

“Kenapa kau ada di sini?”

“Aku hanya bangun terlalu dini, mendapati bahwa di luar hujan dan ingat barangkali kau tidak membawa payung lagi seperti biasanya.”

Aku tidak dapat menahan senyum ketika kulihat raut berbohong di wajahnya yang polos itu. Jina, kau benar-benar tidak pandai berbohong,”Oh, kalau begitu kau mau mengantarku pulang, kan?”

Jina tersenyum. Sungguh, meski udara dingin dengan jalanan gelap yang hanya diterangi beberapa lampu jalan yang menyala remang-remang, aku merasa hangat mengetahui Jina ada di sini di sampingku. Dialah satu-satunya yang kumiliki di dunia ini.

Sesampainya di flatku, Jina langsung menuju dapurku yang kecil, sibuk melakukan sesuatu sementara aku membereskan barang-barang yang berserakan di atas meja. Aku benar-benar mengantuk, tetapi Jina masih di sini jadi aku tidak boleh tidur dulu. Lagipula saat-saat bersama Jina adalah saat yang langka. Aku yang tidur dari pagi sampai siang hari, lalu sore tidur lagi sampai malam dan di malam harinya bekerja sampai dini hari, sangat jarang dapat menghabiskan waktu bersama Jina. Maka saat-saat seperti ini sangat kusyukuri.

Jina kembali membawa sebuah mangkuk. Bau sedap yang datang bersamanya membuat perutku berbunyi nyaring.

“Makanlah, oppa.”Jina meletakkan mangkuk itu di atas meja, ternyata isinya sup ikan,”Sup ini baik untuk kesehatanmu.”

Aku tidak menyangka Jina akan membuatkan sup ini untukku. Entah mengapa, rasanya aneh sekali, seperti kembali ke masa dua tahun yang lalu, ketika dia baru saja mulai bisa memasak sup ikan dan membuatkannya setiap hari untukku sampai aku merasa bosan,”Pasti enak sekali. Sudah lama aku tidak makan ini.”

Jina memperhatikan ketika aku makan sampai mangkukku benar-benar bersih. Sup ini enak sekali. Seenak itukah sampai aku hampir meneteskan air mata? Aku seringkali tidak mengerti diriku sendiri yang terkadang bereaksi berlebihan terhadap suatu hal.

“Baiklah, aku pulang dulu ya, oppa. Kau tidurlah yang nyenyak.”Jina mengambil kembali jaket yang ditaruhnya di kursi lalu ia bangkit berdiri, memandang jam di meja yang menunjukkan pukul 05.35,”Jangan bangun kesiangan.”

Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih padanya. Setelah dia menutup pintu, aku beranjak ke kamar mandi, menggosok gigi dan menyegarkan wajahku dengan air dingin. Tidak ada air hangat di sini, harga sewanya murah dan aku memang tidak berharap ada fasilitas yang mewah.

Kupandangi wajahku di cermin. Di dalam mataku yang sipit, seakan menyiratkan ketidaktahuan akan diriku sendiri. Kusibakkan rambut yang menutupi dahiku. Di sana, agak di pelipis kanan, terukir sebuah bekas luka. Panjangnya kira-kira tujuh senti. Dan aku tidak tahu kenapa bekas luka itu ada di sana.

~~~~~

Minho’s POV

“Boleh aku tanya sesuatu padamu?”

Orang bernama Key ini memang benar-benar cerewet. Ada-ada saja yang selalu dibicarakannya. Kadang dia benar-benar mengganggu,”Apa?”

“Kita sudah berteman hampir tiga tahun tapi baru tadi aku menyadari sesuatu. Kau punya bekas luka besar di punggungmu. Kenapa itu?”

Apa? Dia melihatnya?,”Kau mengintipku ganti baju ya?”

“Jangan marah begitu dong. Kebetulan saja tadi pintunya sedikit terbuka ketika kau ganti baju.”

Alasan busuk. Aku tahu sekali dia punya kebiasaan suka mencampuri urusan orang. Aku heran kenapa aku dan Jonghyun bisa tahan berteman dengannya,”Hanya bekas luka biasa. Kecelakaan.”

“Oh ya? Kapan? Dimana?”

Benar-benar menyebalkan. Apa sih urusannya?,”Bertahun-tahun lalu. Aku tidak ingat. Sudahlah, lupakan saja itu.”

Key mengerucutkan bibirnya. Dia pasti kesal karena rasa penasarannya tidak terpuaskan. Aku puas melihatnya kesal.

Jonghyun masuk lalu duduk di antara kami. Ia melemparkan begitu saja beberapa gepok uang di atas meja di antara tumpukan buku dan surat kabar. Key memandangnya tajam,”Lebih banyak daripada biasanya kurasa.”

Jonghyun mengangguk,”Kurasa dia sedang murah hati.”

Dia. Kami tidak pernah menyebut namanya, bahkan kami berusaha melupakan nama itu. Andaikata suatu saat nanti kami tertangkap, kami tetap tidak boleh menyebut namanya. Itu sudah tertanam dalam diri kami sejak awal kami melakukan ini.

Tanpa menghitung, Key membaginya rata untuk kami bertiga. Aku memasukkan bagianku ke saku dalam jaket. Aku tidak perlu menghitungnya. Aku yakin ini cukup banyak dan pantas untuk segala kerja keras kami.

“Kalau begitu aku pergi.”kataku pada Key dan Jonghyun. Key mengangguk dan Jonghyun hanya ber’hmm’ sambil sibuk memilih DVD yang berceceran di bawah meja. Aku curiga, jangan-jangan dia mencari video yadong.

Kudorong pintu dan seketika mataku silau akibat cahaya tiba-tiba setelah kegelapan di dalam ruangan tadi. Di luar sini semua hal tampak biasa saja. Orang-orang tidak akan menyangka bahwa apartemen yang dimiliki seorang ‘mahasiswa’ bernama Kim Jonghyun ini adalah markas perampok. Kututup pintu segera, takut ada orang yang melihat ke dalam. Pintu itu langsung terkunci otomatis lalu aku bergegas pergi.

Sebetulnya aku tidak tahu mau pergi kemana. Kalau aku pulang ke apartemenku, aku hanya akan menghabiskan waktu dengan tidur atau mungkin akan menyenangkan juga melihat berita tentang perampokan bank yang kulakukan kemarin di televisi. Mereka masih saja memberitakannya dengan heboh bahkan beberapa memberitakannya dengan sangat berlebihan. Ada yang berkata bahwa kawanan perampoknya berjumlah puluhan orang. Ada juga yang berkata bahwa perampoknya berkomplot dengan orang dalam. Dasar orang-orang sok tahu.

Jam berapa sekarang? Kulirik jam tanganku. Sekarang baru jam tujuh pagi dan aku sangat lapar. Aku menaiki motorku berputar-putar tanpa tujuan yang pasti. Motor ini sudah kuganti plat nomornya sehingga jika aku bertemu polisi, mereka tidak akan mencurigaiku. Tetapi mungkin besok aku harus ganti motor lagi, hanya sebatas berjaga-jaga saja.

Oh, sial!

Ada seorang yeoja yang menyeberang sembarangan. Hampir saja aku menabraknya. Meski benar-benar kesal dan ingin memakinya, tapi aku tidak mungkin melakukannya. Seorang namja yang memaki-maki yeoja hanyalah seorang pecundang.

Dia masih berdiri di tempat, mungkin masih terkejut. Kupinggirkan motorku lalu kuhampiri dia,”Kau tidak apa-apa? Tidak ada yang luka?”

Dia menggeleng. Rambutnya yang panjang tergerai tertiup angin kencang. Badannya yang kurus itu membuatku agak tidak tega, ditambah wajah cantiknya yang pucat itu. Kenapa dia tidak berkata apa-apa? Apa dia masih terkejut?

“Maafkan aku.”sebetulnya hati kecilku tidak setuju akan perkataanku ini. Aku kan tidak salah. Tetapi aku sungguh-sungguh tidak tega melihatnya masih berdiri mematung dan gemetar seperti itu,”Kau benar-benar tidak apa-apa? Mungkin sebaiknya kau ke rumah sakit.”

Dia tampaknya baru tersadar. Bingung, dia menggeleng pelan,”Ah, aku sungguh minta maaf. Aku ceroboh sekali. Aku tidak apa-apa. Sungguh. Aku hanya sedikit… trauma.”dia tersenyum sedih sekilas lalu membungkuk dan akhirnya berlari pergi.

Apa? Dasar yeoja aneh.

~~~~~

Aku mengawasi ruangan gelap ini dengan waspada. Memasang telinga baik-baik agar dapat mendengar suara sekecil apapun. Sejauh ini masih aman-aman saja, hanya terdengar suara alat-alat yang digunakan Key untuk membuka paksa brangkas di dalam lemari. Jonghyun menjaga pintu sambil mulai bersenandung kecil, kebiasaan buruknya. Aku masih ingat sekali, kami pernah nyaris tertangkap gara-gara ada petugas keamanan yang mendengar suaranya.

“Sial, sulit sekali.”

Key tampaknya agak kesusahan dengan brangkas itu, aku dapat melihat keringat mengaliri dahinya,”Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu.”

“Aku tahu. Tapi brangkas ini sulit sekali. Sebaiknya kita mulai memikirkan kodenya kalau-kalau aku gagal membukanya paksa.”

“Kau gila? Kita mau mencoba semua kombinasi angka? Sampai besok pagi pun brangkas itu tidak akan terbuka.”

Key tidak menjawab. Sepertinya brangkas itu benar-benar menguras konsentrasinya, padahal biasanya dia ahli sekali dalam hal membuka paksa sesuatu. Tadi bahkan tidak perlu lima menit baginya untuk membuka kunci pintu ruangan ini.

Beberapa menit berlalu, kami mulai mendengar suara-suara di depan pintu. Aku dan Jonghyun berpandangan dalam kekhawatiran, mungkinkah itu polisi? Tidak, semoga bukan. Setidaknya kami harus keluar dari ruangan ini untuk dapat kabur dari mereka, lagipula kami belum mendapat apa yang kami inginkan.

“Berhasil.”

Desah lega Key otomatis membuatku dan Jonghyun pun menghela nafas lega. Sungguh perjuangan luar biasa untuk dapat mencuri sesuatu. Aku tidak bercanda.

Key mulai mengeluarkan berkas-berkas yang ada dalam brangkas itu. Aku membantunya sementara Jonghyun masih bersiaga di pintu. Dengan bantuan senter kecil, kami mencoba mencari apa yang kami incar, sementara dokumen-dokumen lain yang tidak penting kusingkirkan ke lantai. Tidak mudah melakukannya dalam kegelapan. Aku harus benar-benar memfokuskan mataku yang sudah mulai terasa pedas.

“Ini dia.”akhirnya kutemukan juga, surat-surat tanah. Kutunjukkan pada Key yang langsung tampak lega,”Ayo pergi.”

Jonghyun bersiap membuka pintu. Ia menempelkan telinganya ke daun pintu, mencoba mendeteksi ancaman di luar sana. Ekspresi wajahnya sulit dibaca. Key sibuk mengembalikan dokumen-dokumen lain ke dalam brangkas dengan sebisa mungkin tanpa suara. Aku memasukkan berkas yang telah kami dapatkan ke dalam jasku sambil berusaha memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Jonghyun dalam kegelapan.

“Aku rasa ada orang di luar. Kita tidak bisa keluar sekarang.”Jonghyun berbisik sangat pelan. Aku harus memfokuskan pandanganku pada gerak bibirnya agar dapat lebih mengerti apa yang dikatakannya.

“Tapi jika kita keluar nanti, polisilah yang akan menyambut kita di luar sana. Aku yakin seseorang sudah menyadari ada yang tidak beres dan mungkin sekarang sedang menghubungi polisi.”aku mencoba berbisik sepelan yang aku bisa. Sekali lagi hanya ada dua pilihan untukku, berhasil kabur atau mati. Detak jantungku ini menandakan bahwa malam ini, sekali lagi, tidak akan benar-benar lancar. Tetapi justru perasaan itulah yang membuatku merasa hidup. Ya, memang beginilah caraku hidup.

Tanpa menunggu persetujuan Key dan Jonghyun, aku mendahului mereka membuka pintu. Dan ternyata benar, samar-samar aku melihat dua orang berjas berdiri dekat lift yang berseberengan denganku. Mereka melihatku. Tapi aku yakin di bawah cahaya remang-remang ini mereka tidak melihat wajahku dengan jelas. Paling tidak, dengan begini aku masih aman.

Jonghyun dan Key masih di dalam. Perlahan aku menutup pintu dan menahannya sekuat tenaga agar Jonghyun maupun Key tidak dapat membukanya. Semoga orang-orang ini mengira aku hanya seorang diri, setidaknya Jonghyun dan Key harus membereskan urusan di dalam sana dulu.

Dua orang itu menghadapiku dalam diam. Tanpa tedeng aling-aling, salah seorang dari mereka melayangkan tinju ke pipi kiriku. Wah, sakit. Mereka hebat juga, dapat menemukan wajahku dalam kegelapan. Aku saja kesulitan melihat sosok mereka yang rasanya besar-besar. Sebelum mereka mulai menghajarku lagi, kuayunkan tinjuku sekuat tenaga. Kurasa sukses mengenai hidung salah satunya.

Mereka semakin memojokkanku ke pintu. Gawat, bagaimana dengan Jonghyun dan Key? Kutinju-tinju pintu di belakangku untuk memperingatkan mereka berdua. Semoga mereka membawa tali untuk melarikan diri lewat jendela.

Salah satu dari mereka membuka pintu. Aku menahan nafas, berusaha mengendalikan detak kencang jantungku yang berdentum di telinga. Ini adalah situasi tergawat yang pernah kualami sejak beberapa bulan terakhir. Namun segera aku lega, karena di dalam ruangan tidak ada seorangpun. Hanya terlihat jendela yang terbuka lebar dengan tirai yang berkibar-kibar tertiup angin.

Aku mendenguskan nafas. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Dan meskipun aku melakukan hal yang ‘salah’ bagi kebanyakan orang, aku yakin aku akan selamat. Setidaknya hari ini.

Aku berlari ke ambang jendela, berhenti selama beberapa detik untuk melambai kepada dua orang yang sedang berusaha mengejarku lalu kuserahkan tubuhku pada angin. Selama sesaat, kulihat mereka menggapai-gapai, berusaha menangkap tubuhku. Tetapi aku telah jatuh, kupejamkan mataku dan sekali lagi, aku merasakan sensasi itu: debaran jantung dan angin kebebasan. Meski tidak lama, rasanya luar biasa.

~~~~~

Jinki’s POV

Ketika kubuka mataku, kudapati seluruh tubuhku basah oleh keringat. Entah kenapa nafasku pun memburu seperti baru saja berlari. Kududukkan diriku sendiri dan aku terkejut melihat jendela kamarku terbuka lebar, memperlihatkan pagi berhujan di luar sana. Semalam aku memang tidak bekerja. Aku hanya bekerja empat malam dalam seminggu.

Sayup-sayup terdengar suara dari ruang depan. Seharusnya tidak ada siapapun di sini, karena aku tinggal sendiri ditambah ini masih pagi. Aku bahkan belum sepenuhnya terbangun. Kulihat diriku sendiri di cermin dan ya Tuhan, mataku ini masih segaris. Apa mungkin itu ahjumma sebelah yang ingin menagih uang sewa lagi. Tapi sepagi ini? Ayolah, aku kan baru menunggak dua bulan.

Setelah kusibakkan tirai yang memisahkan tempat tidur dengan ruang depan yang kecil itu, kulihat Jina sedang membersihkan meja. Televisi yang aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kunyalakan sekarang sedang menayangkan berita ramalan cuaca. Ruangan depan ini pun terasa asing bagiku. Terlalu bersih dibanding biasanya sehingga lebih terasa dingin dan aneh.

“Oppa, kau sudah bangun?”

Aku tidak bisa tidak tersenyum padanya. Melihatnya memakai apron dengan kain lap di tangan kanan dan kemoceng di tangan kiri membuatku merasakan ketulusannya padaku. Meski begitu aku juga merasa geli, dia terasa seperti istriku saja.

“Kau pasti lapar kan? Di lemari hanya ada makanan kaleng, mi instan dan roti tawar. Jadi aku belanja dan membuatkanmu makanan yang sebenarnya.”dia melepaskan apronnya lalu duduk di depan meja kecil dimana ia meletakkan makanan yang sudah dimasaknya. Sebenarnya aku belum cuci muka bahkan mataku masih terasa lengket, tapi demi mencium sedapnya aroma masakan yang jarang kujumpai, akupun duduk di hadapannya, memandang makanan-makanan itu dengan ekspresi lapar seperti belum makan berminggu-minggu.

“Kau benar-benar lapar ya?”Jina tersenyum geli melihatku makan seperti kuli. Tidak ada waktu untuk menjawabnya, ayamnya enak sekali.

Jina tampaknya senang sekali memperhatikanku makan. Berkali-kali dia melirikku dan tersenyum,”Aku ingin sekali membuatkanmu sarapan setiap hari, andai saja bisa.”

Aku juga ingin begitu. Sungguh, masakan Jina adalah yang terenak di dunia. Mungkin karena tidak banyak orang yang pernah memasak untukku. Kuperhatikan dari tadi dia tidak memakan nasinya, justru sibuk menaruh lauk di atas nasiku,”Kenapa kau tidak makan? Coba lihat dirimu. Kau itu kurus sekali. Kau harus makan yang banyak.”

Jina mengangguk. Ia mengambil sendoknya lalu mulai menyuapkan nasi ke mulutnya. Hening sejenak, kami sibuk dengan makanan masing-masing. Aku suka sekali ayam pedas manis ini. Kapan terakhir kali aku memakannya? Aku sudah tidak ingat lagi.

Kuperhatikan layar televisi. Ternyata bukan hanya di surat kabar, bahkan di televisi pun mereka sibuk memberitakan perampokan bank dua hari lalu. Bank itu kan tidak jauh dari sini. Dua hari lalu di jam terjadinya perampokan itu aku sedang tidur. Dan katanya salah seorang perampok itu kabur lewat jalan depan flatku. Wah, rugi aku tidak melihatnya.

“Oppa, kau mau tambah lagi?”suara Jina mengagetkanku. Perutku masih lapar, jadi kusodorkan mangkukku yang segera diisinya penuh dengan nasi lagi.

Beberapa menit berlalu dalam sunyi lagi. Tiba-tiba aku teringat mimpi yang akhir-akhir ini menghantuiku, termasuk juga tadi malam. Mimpi itu entah bagaimana tetap menempel di kepalaku meski aku sudah benar-benar terjaga. Bahkan aku ingat setiap detailnya. Mungkinkah… Jina tahu sesuatu?

Jina tidak pernah membicarakan masa lalu. Dia hanya diam dengan gugup setiap kali aku mengungkitnya. Padahal hanya dia satu-satunya yang tahu. Dia lebih mengenalku dibandingkan diriku sendiri.

“Jina-ya..”

Dia mendongak, mengangkat alisnya dengan pandangan bertanya.

“Semalam aku mimpi. Bukan. Maksudku… beberapa malam ini aku memimpikan hal yang sama. Aku hanya ingin membicarakannya denganmu. Bukan bermaksud apa-apa. Hanya saja… kurasa itu sangat menarik.”

Jina mengangguk-angguk. Ia menyuap nasinya sambil matanya masih tetap memandangku. Dia memang seorang teman bicara yang baik.

“Salah satu yang selalu muncul adalah… kegelapan. Lalu dari depan ada cahaya yang sangat terang. Ada suara keras dan gambar-gambar buram. Entahlah aku tidak tahu apa.”

Jina mengehentikan sendoknya di udara,”Barangkali… mimpi buruk biasa, oppa.”aku dapat mendengar suaranya gemetar.

“Mungkin saja. Tapi tidak hanya itu. Aku juga melihat seorang anak laki-laki yang tersenyum padaku.”

Glontang!

Jina menjatuhkan sendoknya. Sekarang ia melihatku dengan mata membelalak yang berbeda dari biasanya. Dia tidak terlihat seperti Jina. Matanya menyiratkan sesuatu yang tidak bisa kupahami. Bibirnya gemetar ketika mengatakan,”A, anak itu… seperti apa dia?”

Aku berusaha keras mengingatnya. Sebenarnya tidak terlalu sulit karena beberapa malam ini aku melihatnya terus menerus,”Aku tidak yakin. Tapi dia tinggi, kurus, dan yang paling jelas… matanya besar.”

Aku terkejut setengah mati ketika Jina dengan sangat tiba-tiba berdiri dengan mendobrak meja lalu masih dengan mata membelalak dia bergumam,”Itu bukan apa-apa, oppa. Tolong lupakan saja itu. Percayalah padaku.”

Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku tidak menemukan satu kata pun yang tepat untuk situasi ini. Jina menghela nafas berkali-kali dengan gugup dan bingung. Reaksinya ini membuatku semakin merasa ada yang tidak beres dengan mimpi itu. Tolonglah. Tolong bantu aku memahaminya.

“Oppa, aku pulang dulu.”tanpa menunggu sepatah kata pun dariku ia menyambar jaket dan tasnya lalu berlari menuju pintu. Aku berusaha menahannya, tetapi dengan cepat ia menghilang, meninggalkanku dalam ketidakpahaman lagi. Sekali lagi seperti ini. Kapan aku bisa memahami diriku sendiri jika Jina tidak mau membantuku.

Kusandarkan badanku di pintu. Kuusap garis kasar di dahi sebelah kananku dengan perasaan gamang. Andai saja, bekas luka ini bisa memberitahuku segalanya. Memberitahu kehidupanku dulu sebelum aku kehilangan ingatan sepuluh tahun yang lalu.

~~~~~

To be continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

41 thoughts on “Erased – Part 1”

  1. Wah, keren! Johasseo~

    Kira-kira ada hubungan apa antara Jinki dan Minho…? Penasaran nih, ditunggu part selanjutnyaa…

  2. Thor Ff kamu yg satu ini DAEBAK sampai” Q dibuat nebak ini itu, tapi udah coba nebak bukan dapat jawaban malah pikiran makin pusing thor, pokok’a authornya harus tanggung jawab ni buat lanjutannya yah thor !!!

    Tapi apa hubungan “Jina – Jinki – Minho” thor ? Semoga d’part selanjutnya udah kejawab semua rasa penasaran Q ini.

    Q tunggu lanjutan Ff kamu ini thor,
    SEMANGAT yah Thor !!!

  3. huaaaaa author-nim bkin ff lagi…
    minhonew lagi….
    ceritanya juga bagus lagiii…
    aaaaa authornim emang skillful..
    baguuuuusss… bkin pnasaran *0*)
    sayangnya mesti sabar nunggu T.T

    itu minhonew ny kembar apa ya..
    kok pict nya mereka mirip…
    huuuu ga sabaaar..
    klo liat ff verify itu udah masuk semua… jd mesti sabar…
    thanks for making this authornim

  4. keren thor, ini ff bikin penasaran.
    Kyanya minho sm jinki punya hubungan, aa.. Penasaran deh judulnya saya ini 😀
    D tunggu part selanjutnya thor.. ^^

  5. Thor, gamau tau.. Cepet2 dilanjutin..
    Rasa penasaran ku antara hubungan bias ku Minho dengan seorang Onew juga Jina sudah bergejolak.. #bahasanya-,-
    cepet ya thor #maksa

  6. Di sana, agak di pelipis kanan, terukir sebuah bekas luka. — wah harry potter… hhahahaa

    n si ‘dia’ itu voldemort dong /plakkk duar duar prank.. #abaikan

    wah minho sm jinki ad hubungan nih kyknya.. trus jina tau sesuatu.. apalgi pas reaksi jina pas hmpir trtabrak minho itu..
    eh kyknya yg hmpir dtbrak minho itu jina deh

    seru seru..
    ayo lanjut..

  7. *banting kulkas*
    aaaaaaa si jina kenapa sih?! *kebawa emosi*

    ini bener2 kocak! XD (?) ngebayangin JongMinKey ngerampok itu sesuatu banget rasanya ngahahaha. Untung aku ga lama2 ketawanya, soalnya baca adegan yg dikejar2 di bagian atas itu tegang! XD

    selalu bagus ffmu unn! Envy saia ;o;
    dan soal hubungan Jina dan OnHo, no comment ah -.-‘

    pokoknya wajib lanjut 😀 sukses ya unn ujiannya! Aku jg mau ujian nih -,-‘ fighting!!

  8. Aaaa choi minjin! author favorit aku :* ini dae to the bak! kkk

    ini pasti minhonew ada apa apanya nih, aaah unyuh deh pokoknya,
    btw dimana aku bisa menemukanmu(?)
    fb? twitter? imel?

  9. Yehaaai, Author Minjin bawa FF Onho lagi!

    Hmm, Minho dan Jinki pada punya bekas luka. Coba nebak, jangan-jangan mereka teman sejak kecil yang terpisahkan. Jinki hilang ingatan karena suatu tragedi yang mungkin terjadi sama Minho. Tapi Jina tidak mungkin berusaha menutupi kenangan Jinki yang terlupakan kalau itu bukan sesuatu yang menyakitkan. Apa, ya? Author ini bikin orang penasaran saja.

    Nice story. Lanjut!

  10. Ff minjin slalu daebak..!
    Penasaran dch sma msa lalu onho+jina..
    Ngbayangin jongkeyho ngrampok bank kayaknya keren gmanaa gtu.. Haha uri baby belum kliatan neh..

  11. ini..ini..ini keren
    aku hanyut dalam ceritanya, jongminkey jadi perampok, trus jinki yang hidupnya susah, tapi bahagia, trus jina yang bak banget
    kayaknya anak kecil di mimpinya jinki itu minho deh, trus jina kayaknya tahu sesuatu, tapi dia nggak mau kasih tahu
    lanjuuttt

  12. wuihh, bias saya onew kok hidupnya kayak kelam banget yaa??
    ada misteri apakah dibalik luka di dahi onew dan luka di punggung minho??
    daebak thor, bikin penasaran (y)
    next chap-nya jangan lama lama ya thor 😀

  13. mantap keren banget ff nya eonn…
    sampai akhir kalimat aku masih blom bisa nebak gimana klanjutannya…hoho..
    penasaran masa lalu jinki, dan bekas luka itu…

    ditunggu lanjutannyya 😀

  14. hwweeeeee,,,,minjin eonniee kereeen.
    si minho sahabatan ma jinki,pkerjaan mreka ngerampok.Tpi jinki mengalami kecelakaan yg membuatnya lupa ingatan…*ngawur abis*
    Satu2nya sahabat yg jinki inget cuma jina.Tpi knapa jina ngga mau ngasih tw masa lalunya jinki?apa itu sesuatu yg menyakitkan?.

    ‘Dia’ yg di maksud minho,apakah taemin?,jdi taemin perampok juga?.
    weeeeee….andwae baby.
    ngakak aku pas bgian onew yg nurunin tangga dngan hati2 krna tkut jtuh lagi…
    hahahaha. ^o^..jngan sampe sangtaenya kumat lgi yaa bang ayaaam.

    lanjutannyaa…jngan klamaan minjin eonn.
    neo…bner2 punya khas tersendiri klo nulis epep.
    HWAITING!

    1. ada yg lupa,itu dri judulnya aja ‘erased’.
      pasti ada sesuatu yg terhapus,atau sesuai apa yg aku pikirkan.
      yg terhapus itu masa lalu.

      1. akkhhh….aku trlalu ceroboh.
        itu mustinya bukan souma sayuri,tpi KIM EUNRI!!!
        ahhhh….jinja,ada apa denganku.

  15. woah, Minjin eon, tak di ragukan lagi.
    Ffmu memang daebak!
    Hm, Si Jinki kehilangan ingatannya.
    sepertinya, ingatan itu ada hubungannya dgn Minho.
    apa mereka kaka beradik?
    atau saudara tiri?
    yah, Minho punya sudut pandang tersendiri tentang apa yg di kerjakannya.
    Kalau aku jadi dia, mngkin aku akan brpikiran hal yg sama.
    Can’t wait for the next part!
    Minjin eon, daebak! 😀

  16. minjinn…sksd ah…aq pernah maen k ff komedimu,tp ga tau km inget aq ga ya

    Bagus, bagus. Bakal rame nih kayaknya. Ceritany bkin nebak2, aq suka tebak2an.
    Kalo boleh tebak, onew itu bagian dr kawanan perampok, org yg ga blh disebut namanya. Dan jgn2, minho yg bkin onew ilang ingatan, minho jg yg bkin luka d kening onew dan penyebab luka punggung minho itu gr2 onew.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s