Only Love [2.2]

Only Love (2.2)

Author             : RahmaRiess

Main casts       : Lee Jinki, Kim Jihyun, Lee Chunji

Support casts   : Kim family, Lee family

Length             : Two Shots

Genre              : Romance, Marriage life

Rating             : PG-13

A.N                 :

Hallo para reader yang budiman (?). Lagi-lagi aku nekad buat ngirim salah satu koleksi FFku kesini. Ini FF amatir yang pasti banyak mengandung kekurangan. Jadi, kalo misalnya plot-nya lompat-lompat, mianhae… kalo ceritanya terlalu ngarang, mianhae… kalo bahasanya berantakan, sekali lagi, mianhae….

Ga usah basa-basi lagi ya, langsung aja… Happy reading…

 

PART 2

Jihyun’s POV

“Chunji-ah, apa kau merindukan Appa?” Kataku pada Chunji yang sedang sibuk dengan mainannya. “Eomma rindu Appa, Chunji-ah. Kau juga rindu padanya kan?” Aku masih saja mengoceh pada Chunji yang sama sekali tidak mendengarkanku.

“Sudah malam Chunji-ah, ayo kita tidur.” Aku langsung menggendongnya saat menyadari kalau malam sudah cukup larut. Saat akan memasuki kamar, Chunji memberontak dan hampir jatuh dari pangkuanku.

“Kau kenapa Chunji-ah? Belum mau tidur, huh?” aku heran, tidak biasanya Chunji seperti ini. Ia terus-terusan memutar tubuhnya dan menunjuk ke suatu tempat.

“Kamar Appa? Kau ingin tidur di kamar Appa ya?” Chunji terlihat lebih tenang saat aku membawanya ke depan pintu kamar Jinki Oppa. “Aah, kau pasti sangat merindukan Appa kan? Eomma juga merindukannya Chunji-ah…” kataku.

“Baiklah, bagaimana kalau malam ini kita tidur di kamar Appa? Kau mau Chunji-ah?” Aku membuka pintu kamar Jinki oppa yang ternyata tidak di kunci. Kubaringkan tubuh kecil Chunji diatas tempat tidur king size milik Jinki oppa, tempat tidur yang sebenarnya dan seharusnya juga merupakan tempat tidurku.

Aku menarik selimut hingga batas lehernya lalu menariknya kedalam pelukanku. Perlahan ia mulai memejamkan matanya yang sipit. ‘Jinki oppa pasti seperti dia saat masih kecil dulu,’ kataku dalam hati. Sambil mengelus rambutnya yang sedikit terlihat panjang, aku memikirkan banyak hal. Berada dikamarnya membuatku semakin merindukannya. Tanpa kusadari aku pun mulai terlelap dan memasuki alam mimpi.

***

Jinki’s POV

Aku melihat Jihyun yang sedang tertidur sambil memeluk Chunji di atas tempat tidurku. Kenapa mereka tidur di kamarku? Pikirku. Kupandangi wajah mereka secara bergantian. Wajah istri dan anakku. Mereka terlihat sangat tenang dalam tidurnya. Aku penasaran apa yang sedang mereka impikan? Mungkinkah ada aku terselip disana?

Jihyun terlihat memeluk Chunji yang terbalut selimut tebal sedangkan ia sendiri tidak memakai selimut dengan benar. Saat aku berniat untuk membetulkan letak selimutnya, ternyata aku malah mengusiknya dan membuat dia terbangun.

“Ah, Oppa?” Dia mengerjapkan matanya beberapa kali. “Ku kira kau baru pulang besok.” Katanya lagi. “Maaf, tadi Chunji ingin tidur disini. Biar aku pindahkan dia ke kamarku.” Tangannya bergerak hendak mengangkat tubuh Chunji untuk di pindahkan ke kamarnya.

“Nanti saja, aku mau mandi dulu sekarang.” Kataku.

“Baiklah, Oppa tunggu sebentar. Akan aku siapkan air panas untukmu.” Ia melangkahkan kaki keluar. Kini hanya tinggal aku dan Chunji yang berada di kamar ini.

Chunji-ah, apa aku jahat padamu? Aku mengabaikanmu dan tidak pernah menganggapmu sebagai anakku? Apa kau tidak marah padaku?

“Oppa, airnya sudah siap. Oppa mandi dan aku akan menyiapkan sup ayam untukmu.” Katanya sambil berlalu menuju dapur untuk memasak untukku.

Saat ku langkahkan kaki keluar kamar mandi, aku dapat mencium aroma masakan yang sangat mengundang selera. Wangi masakan yang dari aromanya saja sudah dapat ku pastikan betapa lezat rasanya.

“Ayo makan Oppa, besok kan oppa harus langsung kerja lagi, jadi aku buatkan sup ayam rumput laut biar oppa tetap sehat.” Ia menaruh semangkuk sup ayam di hadapanku. “Selamat makan ya Oppa.” Katanya lagi.

“Hyunnie-ah…” dia yang awalnya hendak pergi membalikkan badannya. “Kau mau kan menemaniku makan?” kataku.

“Tentu saja.” Ia tersenyum lalu menarik kursi yang berhadapan denganku.

Aku makan dalam diam. Sesekali aku melihat dia yang sedang duduk di hadapanku, juga dalam diam. ‘Maaf Hyunnie-ah, rasa bersalahku padamu terlalu besar. Bahkan untuk sekedar meminta maaf pun aku tak berani.’

Kami kembali ke kamar setelah aku menyelesaikan makan malamku.

“Aku akan memindahkannya ke kamarku.” Katanya.

Aku menarik lengannya yang hampir menyentuh tubuh Chunji. “Tidak usah, biarkan saja. Biar aku tidur di sofa. Kau juga temani dia tidur ya…” kataku sambil mengambil selimut cadangan dari dalam lemariku dan membawanya ke sofa yang terletak di salah satu sudut kamarku.

Dari ujung mataku aku dapat melihat Jihyun yang masih mematung menatapiku yang sedang membereskan selimut dan sofa yang akan jadi tempat tidurku malam ini. Namun tidak lama ia merebahkan dirinya di samping Chunji setelah sebelumnya aku bisa melihatnya tersenyum.

***

“Huaaaaa…. Hiks.. hikss… hiks… huuuuhuuu…” Aku terperanjat mendengar suara tangisan yang sangat keras. Suara itu berasal dari Chunji yang tiba-tiba terbangun. Aku melihat ia meronta di samping tempatku tidur.

Dengan cekatan Jihyun mengangkatnya ke dalam pelukannya. Dia berdiri sambil terus mengayun-ayunkan tubuh Chunji dan mengelus-elus kepalanya. Ia terlihat sangat panik.

“Shhh..… sayang, sudah… itu hanya mimpi… shhh… sudah ya jangan menangis, ada eomma disini…” Jihyun berusaha menenangkan Chunji dari mimpi buruknya.

Setelah hampir setengah jam barulah Chunji tenang dan kembali tertidur. Dengan perlahan Jihyun membaringkan tubuh kecil itu ke tempat tidur, lalu ia pun ikut berbaring. Aku menoleh kearahnya yang ternyata masih membuka mata.

“Apa kau menyayanginya?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku. “Kenapa kau terlihat begitu menyayanginya?” tambahku.

“Entahlah, aku hanya merasa kalau ia hanya anak kecil yang masih sangat polos dan tidak tahu apa-apa. Dia tidak bersalah. Terlalu tidak adil untuknya jika kita harus memperlakukannya dengan tidak baik karena sesuatu hal yang bahkan tidak ia ketahui.” Jihyun memiringkan badannya dan kini menghadap Chunji yang sudah tertidur pulas. “Lagipula, dia anak yang baik dan manis. Tidak sulit untuk menyayanginya.” Katanya sambil tersenyum.

Aku bisa melihat ketulusan terpancar dari matanya saat ia mengucapkan kata-kata yang sungguh menusuk tepat di hatiku itu. Yang ia katakan 100% benar. Anak ini tidak bersalah. Aku yang tidak bisa kenyataan tentang kesalahanku di masa lalu. Kesalahan yang seharusnya dapat ku perbaiki saat ini dan bukan malah menutup mata dan mengabaikannya.

“Oh ya Oppa, ngomong-ngomong sejak kapan kau tidur disitu?” Kata Jihyun tiba-tiba. Aku lupa kalau sebelumnya aku bilang akan tidur di sofa, tapi kenyataannya aku malah tidur di samping Chunji di tempat tidur.

“Emh.. Aku…” Jihyun menyipitkan matanya dan menunjukan senyum menyelidik. “Aku hanya tidak mau besok bangun dengan badan pegal-pegal karena tidur di sofa.” Kataku mencari alasan.

Kami terdiam. Sedetik kemudian mata kami saling bertemu lalu kami pun tertawa. Rasanya sudah sangat lama aku tidak tertawa bersamanya seperti saat ini. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya, demi dirimu Hyunnie.

***

Pagi ini aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aku melihat Jihyun dan Chunji masih terlelap. Sekali lagi ku pandangi wajah kedua orang ini. Saat sedang asyik memperhatikan mereka, tiba-tiba ku lihat mata Jihyun bergerak-gerak lalu terbuka. Aku langsung menutup lagi mataku, pura-pura masih tidur.

Jihyun’s POV

Aku membuka mataku perlahan, tidak terbiasa dengan suasana pagi di kamar ini. Aku melihat Jinki Oppa dan Chunji masih terlepat di sampingku. Jinki Oppa, ini pertama kalinya aku melihat wajahnya saat masih tertidur di pagi hari. Wajahnya semakin terlihat sangat lembut, sangat tenang dan sangat… tampan.

Ku sibakkan selimut yang menutupi tubuhku. Saat akan beranjak dari tempat tidur, aku membalikkan badan kembali menatap kedua orang itu. Dengan singkat aku mengecup kening mereka, pertama Chunji lalu Jinki Oppa.‘Anggap saja morning kiss… hehe…’ kataku dalam hati.

***

Aku sedang sibuk di dapur saat terdengar bel berbunyi. “Chunji-ah, sepertinya ada yang datang. Ayo kita lihat.” Aku menggendong Chunji yang sedang duduk di kursi bayi dan membawanya menghapiri pintu masuk.

“Oh, Oppa, kau sudah pulang?” Ake sedikit terkejut melihat Jinki oppa yang sudah pulang sore-sore begini.

“Ne, pekerjaanku tidak terlalu banyak hari ini.” Katanya.Jinki oppa kemudian mengalihkan perhatiannya pada Chunji yang berada di gendonganku. “Hallo, Chunji-ah. Kau tidak nakal kan hari ini?” katanya sambil mengacak lembut rambut bocah yang kemudian tertawa ini.

Aku mematung melihat apa yang dilakukan Jinki oppa pada Chunji barusan. Ini hal langka. Sebelumnya aku belum pernah melihat dia menyentuh Chunji seperti itu, bahkan menatapnya saja kalau bukan karena kebetulan pasti dia hindari. Tapi apa yang baru saja terjadi? Jinki oppa mengelus kepala putranya itu.

Dengan sedikit rasa shock yang masih tersisa aku melanjutkan lagi pekerjaanku di dapur. Ku dudukkan lagi Chunji ke tempat sebelumnya dan aku kembali bermain dengan pisau dan berbagai peralatan dapur lainnya. Malam ini aku harus memasak istimewa untuk merayakan perubahan sikap Jinki oppa pada chunji.

Salah satu kebiasaan anehku adalah mengajak ngobrol Chunji setiap kali aku merasa bosan. Seperti saat ini, sudah berjam-jam aku berdiri menghadap kompor sambil terus mengoceh, tidak peduli apakah Chunji mendengarkannya atau tidak. “Chunji-ah, kau suka ayam goreng? Eomma mau memasak ayam goreng untuk makan malam kita hari ini. Kau suka kan?” kataku.

“Ne eomma, aku suka.” Aku berbalik ketika mendengar suara yang menjawab pertanyaanku.

“Oppa, kau mengagetkanku.” Jinki oppa kini sedang duduk di kursi di samping Chunji sambil tersenyum manis.

“Lagipula kau aneh sekali, mengajak ngobrol anak yang baru berumur 2 tahun. Bagaimana mungkin dia bisa menjawab.” Katanya.

“Aku bosan oppa, tidak ada yang bisa diajak ngobrol, makanya aku jadi mengoceh sendiri.” Aku menjawabnya sambil memindahkan beberapa piring dari dapur ke meja makan yang letaknya memang berdekatan.

Acara makan malam pun di mulai. Aku mengambilkan nasi dan beberapa lauk untuk Jinki oppa dan juga untukku. Sedangkan untuk Chunji, aku sudah menyiapkan bubur tim ayam dan brokoli. Kami makan dengan lahap. Sesekali Jinki tertawa melihat aku yang menggerutu sendiri karena Chunji berkali-kali memainkan makanan saat aku menyuapinya.

***

“Sedang apa?” aku menoleh melihat Jinki oppa menghampiriku yang sedang membuat susu untuk Chunji di dapur.

“Ini, dia baru bisa tidur kalau sudah minum susu.” Kataku sambil mengangkat botol susu milik Chunji.

“Emh…” gumamnya sambil menganguk.

“Mau sekalian ku buatkan sesuatu, teh atau kopi mungkin? Atau Cappucino?” aku sangat ingat kalau Jinki oppa sangat suka minuman itu.

Dia tersenyum. “Boleh, aku mau cappucino.” Katanya.

Kami mengobrol bersama di ruang TV. Ia duduk di sofa dengan secangkir cappucino panas di tangannya dan aku kini sedang mengayun-ayun Chunji dengan botol susu di tanganku. Sedikit banyak sifat negatifnya kini telah berubah. Dia mulai kembali ramah padaku, tidak mengacuhkanku seperti dulu.

“Aku mau membaringkan Chunji dulu ya.” Kataku sambil setengah berbisik karena agar bocah itu tidak terganggu.

Saat aku kembali ke ruang TV, aku melihat ia sedang melihat sesuatu di genggaman tangannya.

“Ini handycammu? Aku menemukannya di meja kemarin malam.” Katanya sambil mengangkat benda berwarna biru tua itu ke hadapanku.

“Ah, iya itu handycamku. Oh iya oppa, aku mau memperlihatkan sesuatu.” Aku mengambil handycam itu dari tangannya lalu membuka folder yang biasa menyimpan hasil video rekaman.

Setelah video yang menunjukan wajah Chunji yang sedang tertawa dan suaraku yang memang sedikit cempreng, aku mengembalikan handycam itu ke tangannya. Ia tersenyum melihat apa yang ada dalam video. Wajahnya terlihat sangat senang ketika video itu sedang memutar gambar saat Chunji mengatakan ‘App.. Pa…” dengan ekspresinya yang menggemaskan. Juga saat aku sedikit memaksa Chunji untuk mengatakan ‘Eomma…’.

Aku sedikit heran karena ternyata video yang awalnya ku kira hanya merekam sampai tragedi pemaksaanku itu ternyata masih belum berhenti. Sampai akhirnya di layar handycam itu muncul gambarku yang sedang menggendong Chunjji sambil terus mengoceh sendiri. Wajahku memerah saat menyadari ternyata ‘obrolan’ku dengan Chunji terrekam jelas disana. Termasuk saat aku bilang kalau aku sangat merindukan Jinki oppa.

“Oppa, sudah ya kembalikan handycamnya…” aku berusaha merebut handycam yang sedang di genggam erat olehnya.

“Kenapa? Videonya kan belum selesai, aku masih mau menontonya…” katanya sambil menahan tawa.

Jinki oppa mengacung-acungkan handycam itu, menjauhkannya dari jangkauanku. Aku yang hanya setinggi telinganya tentu kesulitan untuk mendapatkannya. Di tambah lagi sekarang ia malah bergerak mundur menjauhiku.

“Aaahh, oppa… ayo kembalikan. Aku…”

BUG-

“Aaahh…”

Kaki Jinki oppa menabrak pinggiran sofa sampai akhirnya ia terjungkal ke belakang. Aku yang memang sedang memegangi salah satu tangannya demi meraih handycamku secara otomatis ikut terjungkal. Aku terjatuh tepat diatas tubuh Jinki oppa.Mata kami bertemu. Ini pertama kali aku berasa di jarak yang sangat dekat dengannya. ah tidak, tidak ada jarak sama sekali karena jelas saat ini aku sedang tubuhku sedang menempel di atas tubuhnya. Dan aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang hangat karena wajah kami memang nyaris bersentuhan.

Sesaat kami terpaku dalam posisi sulit seperti itu. Sampai pada akhirnya aku bangun dan terduduk di sofa. Ia juga ikut duduk di sampingku.

Aku berdeham untuk mencairkan suasana. “Sudah malam, aku mau tidur.” Aku beranjak dari sofa dengan wajah yang ku yakini sudah merah padam sekarang.

“Hyunnie-ah…” Aku melihatnya mengacungkan handycamku dengan tawa tertahan menghiasi wajahnya.

Aku berjalan kearahnya dan menyambar handycamku. Sebelum memasuki kamar, aku  berbalik dan sekilas merhong kearahnya lalu menutup pintu. Aku berdiri di balik pintu sambil memegang dadaku. Mencoba menormalkan kembali detak jantungku setelah beberapa saat yang lalu rasanya berdetak amat sangat cepat. Aku tersenyum saat kejadian beberapa menit yang lalu kembali berkelebatan di kepalaku.

Jinki’s POV

“Hyunnie-ah, apa kau sibuk hari ini?” Kami sedang duduk di meja makan menyantap sarapan pagi buatannya.

“Hmm… sepertinya tidak oppa. Kenapa?”

“Aku berencana untuk menghabiskan akhir pekan ini di rumah orang tuaku, bagaimana menurutmu?”

“Whuaa… aku mau oppa, sudah lama kita tidak mengunjungi mereka.” Jihyun terlihat sangat antusias menyambut ideku.

“Kalau begitu nanti siang kita berangkat.”

Malam ini kami berrencana untuk makan malam bersama dengan keluargaku dan keluarga Jihyun. Aku sudah memastikan kalau mertua dan kakak iparku-Jonghyun- bisa datang malam ini.

Kami makan malam dengan menu istimewa yang di buat Jihyun dan eommaku. Jihyun terlihat sangat senang bisa kembali bertemu dengan keluarganya. Memang sudah hampir 3 bulan kami tinggal di apartemen dan belum sempat berkunjung ke rumah orang tua kami.

***

Jihyun’s POV

“Disini dingin. Cepat masuk kalau tidak kau bisa sakit.”Jinki oppa memasangkan sebuah coat tebal padaku. Setelah mengantar keluargaku pulang pasca makan malam keluarga tadi, aku langsung naik ke lantai dua berniat untuk mencari udara segar di balkon dekat kamar Jinki oppa. Kebetulan malam ini Chunji akan tidur bersama kakek neneknya, jadi aku memiliki sedikit waktu untuk menyendiri.

“Ah, Ne oppa. Gomawoyo.” Kataku.

“No, thank you and sorry.”Aku terperanjat mendengar perkataannya yang kukira sudah pergi. Tangan kanannya mencengkeram pundakku menahanku untuk tidak bergerak saat aku berniat untuk berbalik ke arahnya. Sepertinya ia tidak ingin aku melihat wajahnya saat ini. Aku yakin ia sedang berdiri tepat di belakangku karena saat ini karena aku dapat merasakan nafasnya yang hangat di telingaku. Ia meletakkan kedua tangannya pada pagar besi di samping kanan dan kiri tanganku yang sudah lebih dulu menempatinya.

“Terimakasih karena kau sudah sangat bersabar menghadapiku yang selalu bersikap dingin pada kalian. Terimakasih karena kau juga mau menjaga dan menyayangi Chunji dengan sangat tulus, meski aku tahu kalau itu berat untukmu. Dan aku juga meminta maaf untuk semua itu. Jongmal mianhae.” Tangannya yang kini menggenggam pagar besi terlihat memutih karena ia menggenggamnya dengan sangat erat.

Tak ingin membiarkannya menyakiti dirinya sendiri, aku mencoba melonggarkan genggamannya itu. Dengan sedikit bersusah payah, aku berhasil memutar badan hingga kini aku bisa melihat wajahnya yang tertunduk dan berwarna kemerahan menahan luapan emosinya.

“Dengarkan aku oppa.” Ku ulurkan tanganku ke kerah coat hitam yang dikenakannya. Membetulkan letaknya agar lebih rapat sehingga udara musim gugur tidak akan sanggup menembusnya. “Kau tidak usah berterimakasih padaku. Aku melakukan apa yang memang seharusnya aku lakukan. Bukankah menjaga suami dan anak adalah tugas seorang istri. Dan bukankah anakmu berarti anakku juga kan? Lagipula, memang sudah sepantasnya aku berlaku baik pada orang yang sangat aku cintai.” Aku menatap lurus ke dalam manik matanya yang kini tak lagi tertunduk.

Ia membalas menatap mataku dengan tatapan yang sangat lembut. Tangan kirinya kini beralih memegang pinggangku sedangkan tangan kanannya membelai rambut dan pipiku. “Semakin kau bersikap baik padaku, semakin aku merasa bersalah padamu. Dan semakin aku bersikap dingin padamu, semakin aku terluka. Kau tahu kenapa? Karena aku sangat mencintaimu.”

Aku merasakan sensasi yang aneh mendesir kencang dalam darahku saat kusadari kalau kini kami berada dalam posisi yang sangat dekat dan semakin dekat.Aku bisa merasakan hembusan nafasnya menyapu wajahku. Entah siapa yang menarik siapa, kini bibir kami saling bersentuhan. Mataku perlahan terpejam saat pada akhirnya kami berdua terhanyut ke dalam sebuah ciuman mesra dan didasari dengan kasih sayang, bukan ciuman yang di kendalikan oleh hawa nafsu.

Author’s POV

Setelah beberapa saatmereka saling mengungkapkan perasaan yang selama ini terpendam melalui sebuah deep kiss, perlahan Jinki melepas ciumannya lalu menarik Jihyun ke dalam pelukannya. Ia memeluknya dengan sangat erat.

Wajah Jihyun merona karena kini Jinki sedang menatap wajahnya sambil tersenyum lembut. Ia membalikkan badannya kembali menghadap sebuah taman yang terletak di samping rumah yang cukup besar itu. Jinki melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Jihyun dan meletakkan dagunya di pundak kanannya.

“Emh… aku penasaran, kenapa kau mau menerima perjodohan kita ini?” Suasana sudah tidak sekaku sebelumnya ketika Jinki mengajukan pertanyaan yang sukses membuat Jihyun tertawa.

“Kau benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu, huh? Tentu saja karena aku menyukaimu. Aku tidak punya alasan lain selain karena aku menyukaimu oppa.” Kata Jihyun.

“Ah, iya. Sepertinya aku lupa kalau kau memang bukan gadis manis yang akan bersedia menuruti perkataan orang lain, meski yang meminta itu orang tuamu sekali pun.” Jinki tertawa disusul dengan sikutan pelan dari Jihyun. Jinki pura-pura meringis dan memegang perutnya sambil tertawa.“Oh iya, aku juga penasaran dengan hubunganmu dan Lee Taemin?” Kata Jinki lagi.

“Lee Taemin? Yeppeo namja itu? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. memangnya kenapa?” Jihyun mengerutkan keningnya karena pertanyaan Jinki yang membuatnya sedikit kebingungan.

“Bukan kah kalian sempat pacaran dulu?”

“Hah? Pacaran? Tidak!” Jihyun menggeleng kuat.

“Aish, ternyata dia membohongiku. Satu minggu sebelum pengumuman kelulusanku, dia mendatangiku dan memintaku untuk menjauhimu karena dia bilang kalau kalian sudah pacaran. Lagipula kalian memang terlihat sangat dekat, makanya aku percaya. Aish…”Jinki tampak kesal ketika menyadari kalau dia sudah di tipu oleh Hoobaenya di kelas musik dulu.

“Jangan katakan kau memutuskan untuk meneruskan kuliah di Jepang karena hal itu?” Jihyun kembali membalik badan menunggu jawaban dari suaminya.

Jinki hanya tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Aigoo… Neo paboya…” Jawabnya saat mengetahui bahwa memang Jinki pergi ke Jepang karena hal bodoh itu.

Mereka kembali ke posisi semula dengan lengan Jinki yang melingkar mesra di pinggang Jihyun. Sesaat mereka terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Hyunnie-ah.”

“Ne,”

“Apa kau tidak ingin mengetahui kenapa Chunji sampai terlahir ke dunia?”

Jihyun menarik nafas dalam lalu menggembuskannya pelan sebelum kembali memutar badan menghadap suaminya. Ia menggeleng pelan. “Anio, aku tidak peduli dengan masa lalumu. Saat ini, yang terpenting bagiku adalah aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Biarkan masa lalumu itu berlalu. Dan Chunji, dia akan jadi bagian masa depan kita, bukan masa lalumu.”

Jinki tersenyum mendengar jawaban yang sama sekali tidak terduga dari istrinya itu.

***

Jinki’s POV

Aku membuka mata saat ku rasakan sinar matahari pagi yang cukup terang masuk dari sela-sela gordyn kamarku. Senyumku mengembang saat melihat wajah orang yang sangat aku sayangi masih terlelap di dalam pelukanku. Semalam kami mengobrol di balkon sampai larut malam. Ia terlihat sangat lelah sehingga ia langsung tertidur begitu kami masuk ke dalam kamar.

Aku kembali menutup mata saat merasakan kalau ia mulai menggeliat dalam pelukanku lalu membuka matanya. Setelah diam sejenak, ia bergerak melepaskan tangan kiriku yang melingkar di pinggangnya dengan sangat hati-hati. Ia mendaratkan kecupan di keningku sebelum beranjak dari posisinya. Saat dia belum benar-benar bangkit, aku meraih tangan kirinya yang membuat dia terjatuh lagi ke dalam pelukanku.

Masih dengan mata tertutup, aku menunjuk bibirku dengan telunjukku. “Aku mau morning kiss-nya disini.” Kataku menggodanya.

“Aish Oppa, kau sudah bangun ternyata.” Aku tersenyum melihat wajahnya yang memerah.

“Kenapa wajahmu merah seperti itu? Apa kau malu?”

Ia tidak menjawab, tapi dari wajahnya yang semakin merah dan senyumnya yang tertahan, jelas terlihat kalau ia sedang merasa malu karena rayuanku barusan.

“Kenapa kau harus malu, yeobo? Aku kan suamimu.” Aku mengangkat dagunya lalu mencium bibirnya.

Ia tersenyum lalu membenamkan wajahnya ke dalam dadaku. Aku tertawa karena sifat manjanya yang ternyata belum berubah.

“Dan, karena aku suamimu, so…” Aku sengaja menggantung perkataanku untuk melihat reaksinya. “May I…” kataku sambil mengelus wajahnya.

Melihat ia menunjukan tanggapan yang positif, tanganku meraih kerah piyamanya dan berniat membantunya melepaskan kancing piyamanya. Namun sebelum itu terjadi tiba-tiba pintu terbuka. Disana terlihat eommaku sedang berdiri sambil menggendong Chunji.

“Ah, maaf. Ibu kira…”

“Pagi eommonim. Pagi sayang, ayo sini sama eomma.” Dengan nada panik Jihyun menyapa ibuku lalu beranjak dari tempat tidur. “Terima kasih sudah menjaga Chunji tadi malam eommonim.” Kata Jihyun sambil mengambil Chunji dari gendongan eomma.

“Tentu saja. Oh iya, eomma sudah siapkan sarapan, cepat turun dan makan ya.”

“Ne, eomma. Gamsahabnida.” Aku sedikit mengeraskan suara saat menjawab perkataan eomma tadi.

***

Jihyun’s POV

“Sering-seringlah datang kemari, kasihan eomma-mu kesepian sendirian di rumah jika Appa sedang pergi ke kantor.” Jinki memeluk Appa-nya sekilas lalu merangkul pinggangku yang sedang menggendong Chunji.

“Ne, Appa. Nanti kami akan lebih sering mengunjungi kalian.” Kata Jinki.

Kami sedang berjalan ke arah pintu saat tiba-tiba Chunji yang sedang berada di gendonganku meronta dan melambai-lambaikan tangannya pada eommonim.

“Chunji-ah, kau kenapa?” Aku panik melihat Chunji seperti itu.

“Sepertinya Chunji masih rindu pada halmoni-nya.” Abeoji berargumen ketika melihat Chunji yang terlihat sangat ingin di gendong oleh eommonim.

Dan ternyata benar, saat aku memberikannya ke gendongan eommonim tangisnya mereda.

“Sepertinya abeoji benar, Chunji masih ingin disini.” Kataku.

“Baiklah kalau begitu, kita biarkan saja Chunji menginap disini semalam lagi. Kita tetap harus pulang karena besok aku harus bekerja.”

Pada akhirnya kami meninggalkan Chunji di rumah orang tua Jinki oppa dan kembali ke apartemen hanya berdua saja. Saat melangkahkan kaki masuk ke apartemen, aku melihat beberapa surat tergeletak di depan pintu. Sebagian besar adalah surat yang di kirim dari kantor tempat Jinki bekerja dan beberapa lainnya adalah data-data berisi file yang harus ku kerjakan.

Sejak tiba di apartemen, aku belum mendengar suara Jinki oppa. Mungkin dia lelah dan langsung pergi ke kamarnya.

“Oppa, mau ku buatkan sesuatu.” Kataku sedikit berteriak dari dapur. Aku sedang membuat jus melon untukku sendiri.

Betapa terkejutnya aku ketika berbalik aku menemukan Jinki oppa sedang berdiri di belakangku dan menatapku sambil tersenyum aneh seolah dia ingin menerkamku saat itu juga.

“Oppa, kau kenapa?” Dia tidak menjawab. “Oppa, jangan melihatku seperti itu. Kau membuatku takut.” Dia terus menatapku dengan mata sipitnya.

Dia berjalan maju kearahku yang terus berjalan mundur sampai akhirnya aku tidak bisa mundur lagi karena punggungku sudah menabrak dinding dapur.

“Oppa…” Kataku.

Tiba-tiba ia tertawa. Akhirnya aku tahu kalau ia hanya sedang mengerjaiku saja. “Aku ingin meminta izin untuk meneruskan yang tadi pagi, Mrs. Lee.” Katanya sambil tersenyum.

“Hmm… yang tadi apa ya?” Aku berpura-pura lupa dengan insiden tadi pagi ketika tiba-tiba eommonim masuk kamar saat kami akan melakukan ‘itu’ untuk yang pertama kalinya.

“Tsk, kau ini.” Jinki membalikkan tubuhnya meninggalkanku.

Aku tersenyum melihat tingkahnya yang terlihat seperti anak kecil yang marah karena tidak di beri permen. Aku berlari kearahnya, memeluknya dari belakang. Ia memutar badannya lalu memelukku.

“Kau milikku, Hyunnie. Sekarang dan selamanya.” Dengan sigap tangan kanannya melingkar di bahuku dan tangan kirinya meraik lututku. Ia membopongku –bridal style- menuju kamar.

“Oppa, apa-apaan ini. Ayo turunkan, aku bisa berjalan sendiri.” Kataku dengan sedikit meronta.

“Tidak mau, kalau ku turunkan aku takut kamu lari.” Katanya sambil terus berjalan memasuki kamar lalu menguncinya dari dalam.

~*****~

EPILOG

Jepang, 24 Agustus 2011

Jinki-ah, aku tahu kau pasti sudah muak padaku dan segala yang berhubungan denganku. Namun aku mohon kau mau membaca suratku ini, karena disinilah aku ingin meminta maaf sebesar-besarnya atas segala kesalahan yang aku lakukan padamu.

Malam itu, aku bersumpah kalau sebenarnya memang tidak terjadi apa-apa di antara kita berdua. Saat kau mabuk berat di bar setelah pesta ulang tahun Tatsuya malam itu, aku berencana mengantarmu ke apartemenmu, namun tiba-tiba ide jahat itu muncul. Aku sangat kesal karena kau yang notabene adalah kekasihku selalu memperlakukan aku dengan sangat dingin. Jangankan berpelukan atau berciuman seperti yang biasa dilakukan oleh pasangan kekasih lain, memegang tanganku saja kau tidak pernah.

Dan yang paling membuatku kesal adalah saat aku mendengar kau menyebut nama orang lain dalam igauanmu saat itu. Aku masih ingat kau berulang kali memanggil nama Kim Jihyun, nama seorang wanita yang pernah kau ceritakan padaku dengan sangat antusias. Nama seorang wanita yang aku tahu emailnya lah yang selalu kau tunggu setiap hari, meski kau sedang bersamaku sekalipun.

Karena semua itulah aku terpaksa melakukan kejahatan itu. Saat kau tidak sadarkan diri, aku membuka pakaianmu, juga ikat pinggang dan retsleting celanamu agar kau berpikir kalau kita sudah berbuat hal terlarang itu. Setelah itu aku pergi dari hotel. Sungguh tidak pernah terjadi apapun diantara kita.

Maka untuk itulah aku mengirim surat ini. Maafkan aku.

Dan untuk anak yang mungkin sekarang sedang ada bersamamu itu. Dia memang anakku, tapi dia anakku dengan orang lain. Dan lagi-lagi aku meminta maaf padamu karena telah melibatkanmu dalam hal ini. Semua ini sepenuhnya kesalahanku. Tapi aku mohon dengan sangat untuk kau mau mendengarkan alasanku mengapa aku secara tidak langsung menintamu menjaganya.

Chunji adalah anakku dengan mantan kekasihku sebelum aku berpacaran denganmu. Sesaat setelah aku meinggalkanmu di hotel, aku kembali ke bar karena galau dengan apa yang ku lakukan padamu. Disanalah aku bertemu dengannya. dia mengajakku minum sampai aku mabuk berat. Selanjutnya, aku rasa kau bisa menebaknya.

Harus ku akui, ayahnya Chunji bukan orang baik. Itu alasan mengapa aku memilihmu untuk mengurusnya. Mungkin kau bertanya mengapa bukan ibunya yang mengurusnya kan? Jawabannya adalah karena aku mengidap kanker otak stadium empat. Dan aku yakin, saat kau menerima surat ini aku pasti sudah tidak ada di dunia ini lagi.

Jinki-ah, sekali lagi aku meminta maaf padamu. Dan terima kasih kau sudah mau menerima Chunji dalam kehidupanmu.

Salam,

 

Park Yunra

Jihyun meneteskan air mata saat ia dan Jinki selesai membaca surat yang ia terima beberapa hari yang lalu, surat yang ternyata berasal dari masa lalu Jinki, surat yang akhirnya menyingkap identitas Chunji yang sebenarnya.

Jinki menghapus airmata yang tersisa di pelupuk mata Jihyun dengan ibu jarinya sedangkan mata istrinya itu terpaku pada tubuh kecil yang sedang terlelap di antara Jinki dan Jihyun. “Oppa, ingatkan aku untuk tidak pernah mengurangi rasa sayangku padanya.” Jihyun kembali terisak.

“Emh… Kita akan menjadi orang tua yang akan selalu membuatnya bahagia.” Kata Jinki.

Jihyun tersenyum lalu memeluk suaminya.

Mereka beranjak dari tempat tidur Chunji. Sejak pulang dari rumah orang tua Jinki, mereka mulai tidur di kamar yang sama, dan kamar yang dulu di tempati Jihyun dan Chunji kini resmi menjadi kamar pribadi Chunji.

“Hyunnie-ah…” Kata Jinki saat mereka sudah sampai di kamar tidur mereka. “Aku tahu bagaimana cara membuat Chunji bahagia.”

“Benarkah? Katakan padaku bagaimana caranya.” Jihyun menyambut kata-kata suaminya dengan sangat antusias.

“Aku yakin Chunji akan bahagia kalau kita memberinya adik.” Kata Jinki sambil tersenyum nakal.

“Ah oppa, itu hanya alibimu saja.” Jihyun meraih bantal dan melemparkannya ke wajah Jinki.

“Aku serius. Aku ingin membahagiakan Chunji, kau juga kan? Kalau begitu ayo kita berikan adik untuknya.” Kata Jinki. Ia menarik Jihyun ke dalam pelukannya lalu menarik selimut tebal berwarna biru tua hingga menutupi tubuh keduanya.

~*****~

End~

Hmmm…. Gimana?Gimana???

Makasihbanyakbuat yang udahberkenanuntukbacadari prolog sampe epilog… #bow

Mohonmaafya kl banyakkekurangannya…Janjideh kl adakesempatan lain pastiakan di perbaiki…

Lagi-lagi, di tunggukritikdan saran ya… n_n

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

53 thoughts on “Only Love [2.2]”

  1. chunji kasian… huaaa
    td pngen ngomel2 sm siapa itu park yunra… tp g jd.. huhuhuaaaaaaa

    eh eh.. jinki pemborosan (?) tmpt tidur king size.. mlh mau tidur d sofa..

    chunji udh 2 thn? kok blum bs jln? ayo sana ajarin chunji jln dulu *dorong2 jihyun n jinki* bkin adeknya ntar aj… #hahaha

    hmpir lupa part 1nya klo g lht main castnya..
    nice!!

    1. heuheu… beruntung Jihyun’y baik hati, jadi mau nganggap chunji kyk anak sendiri.. hhe…

      Makasih yaa udah baca dr part 1 smpe selesai… slalu jadi first reader + first commentator lg…
      Skali lg makasih… n_n

  2. oalah Jinki.. Hbs baikan sm Jihyun dan Chunji langsung pengen bikin anak.. Ckck

    Chunji, malangnya kmu nak.. Tp gapapa, krn udah ada jinki dan jihyun yg ngerawat.

    Nice ff thor d^^b

    1. Wahh… makasih yaa. padahal awalnya ga pede bgt nih sm FF yg ini… hehe
      Makasih yaa chingu… n_n

    1. Hehe… ga apa2 deh chingu, yg penting disini ninggalin jejak kan…
      Makasih lho udah mampir… n_n

  3. Huwaaaaaa, sumpah keren!!!
    Ahh, kurang seru, gak ada adegan yadongnya(?) *otak yadong mode on
    Sumpah ini keren, dan akhirnya ada FF Onew yang gak sad ending! XD
    Sumpah keren, sekeren kerennya~
    Keep Writing thor~

    1. Ahahaha… sorry chinguu… aku ga ahli bikin adegan yadong… mungkin nanti harus latihan dulu… #waduh

      Ne, fighting… makasih yaa… n_n

  4. Author, mudah”an masih ingat Q, Q juga coment d’Part-1nya #barucomentudahbangga…

    Thor masih ada sedikit Typo sih, tapi typo’a itu tdk bakal d’sadari karna cerita dari FF kamu ini bagus banget !!

    Pokok’a nii FF DAEBAKKKK,,
    Rasa’a baca ending nii ff itu, terharu,senang,sedih pokok’a bercampur aduk,,#Lebay…

    Q tunggu karya selanjutnya yah thor !!!

    1. Inget dong chingu… makasih lho udah bersedia FF amatir ini dr awal sampe akhir… n_n

      Iya nih, mesti lebih teliti lagi pas pengeditan.. makasih udah di ingetin…

      Nde, semoga cepet dpt inspirasi lagi. Skali lg makasih yaa chingu…

  5. jihyun baek bgt ya,, mau ngerawat chunji dan kyaknya syg bgt sm chunji.

    ooh.. ternyata itu bkn anaknya jinki yaa? syukur deh,, ternyata jinki emg namja baek2, hhoohoo.
    bgs thor,, happy ending 🙂

    1. Iya dong… Jinki kan emang oppa aku yg paling baik… #apasih

      Makasih yaa udah baca + comment… n_n

  6. Wah… ternyata Chunji bkn ank’a Jinki ::>_<::
    Betapa senangnya hatiku…
    Happy end….. cipong kanan kiri buat thor yg buat ff unyu kayak gini.. 😉

    1. Andweeee… aku mau’y di cium onew oppa aja…
      hehehe…

      makasih udah mampir chingu… n_n

    1. Aduuuhh… chingu setia sm Key aja deh.. Onew biar sama aku… hehe
      Makasih yaa udah baca + comment… n_n

  7. Ah,,
    ffnya keren thor 😀
    Untung yadongnya di skip*nasib,belum 17 tahun 😀
    A-yo aku tunggu karya2 selanjutnya thor 🙂

    1. Sebenernya bukan karena memihak sm yg msh di bawah umur sih, tp emang dasarnya aku ga bisa bikin adegan yadong… hahaha…
      tp bagus deh, kan jd bisa dinikmati semua kalangan… hehe

      Nde.. makasih yaa chingu… n_n

    1. Ehehe… Jinki kan jg namja biasa chingu… ga apa2 dong, yg penting mereka udah halal (?) hhe…

      BTW makasih udah mampir… n_n

  8. Omoo….ayo semangat jinki, lanjutkan bikin anaknya!*ooppsss
    dari awal aku percaya ko Jinki itu namja baik2, soalnya authornya pasti ga tega bikin dia jadi badboy hehe
    daebak thor, lanjutkan berkarya yoo 😀

    1. Nde, Semangat Oppa… Hahaha…

      Kyk’y chingu yg satu ini udah paham sekali yaa kalo aku nih cinta mati sama onew, smpe yakin begitu onew’y ga akan dibikin badboy… hehe

      Ye chingu… semangat…
      makasih udah mampir… n_n

    1. Wah… makasih yaa… n_n
      ternyata ada jg yg suka FF yg biasa bgt begini… hehe… n_n

  9. Ahaha.. Lucu-lucu di akhir ceritanya. Ceritanya so sweet banget. Tadai ada sedikit kedobelan kata sih. Wkwk.
    Oow, tenyata Chunji bukan anak biologisnya Jinki. Ckck. Dasar!
    FFnya oke, dan keren!

    1. Waahh… kebetulan ceritanya udah slesesai smpe sini aja chingu… hehe.. kn cm 2 shoots.
      BTW makasih yaa udah mampir… n_n

  10. jiahh…. si dubu malu” kucing.
    jihyun baek bgt yah sma chunji.., walaupun dia bkn anak kandungnya maupun jinki….

    nice ff thor!!!

  11. “Aku serius. Aku ingin membahagiakan Chunji, kau juga kan? Kalau begitu ayo kita berikan adik untuknya.” huahaaa aku ngakak bacanya thor #guling guling di tempat tidur.
    wahh.. ternyata jinki gak ngelakuin apa apa sama Park Yunra. fiuhh.. untunglah.
    daebak thor. di tunggu ff selanjutnya yaa thor, apalagi ff onew #maunya xD

    1. Kesan’y Onew pengen banget gitu yaa… hehe…

      makasih yaa udah baca + comment… n_n

  12. wah Uda selesai ternyata:’(
    aq yakin Onew oppa g jahat…
    bagus thor,emang awalnya agak binggung sih banyak yg d potong2 kejadiannya.Tapi selebihnya Kerenn..
    napa endingnya gak di buat chunji punya adik thor?[heheh,maunya],Onew oppa pengen Punya baby
    XD
    semangat thor d tunggu FF lainnya

    1. Oh iya dong… wajah malaikat begitu ga pantes jadi jahat… hehe
      Makasih yaa udah mampir… n_n

  13. waaacchhh ,, syok juga tau kalo chunji itu bukan anaknya onew ….
    tapi gag pa2 onew ama jihyun khan te2p sayang ama chunji ..
    suka dhe ama endingnya ,, onew tiba-tiba jadi nakal gituw …. hahahahahahahaha #yadong kumat

  14. kerennnnnnnnn.. ^___^ sweett bangett.. hahahaha… itu si chunji dua tahun usia korea apa inter? lucuu masa nangisnya huaaaaaaaa huaaa hikss hiks kekeke….

    tapi endingnya gak ketebak euy.. kirain jinki mabuk trus melakukan itu gegara inget sama jihyun hehehe

  15. hahaha..cinta sejati tetap akan menerima apa adanya..ya?
    jadi ngehayal wajah chunji kayak yoogeun,tapi yoogeun kan mirip minho…hehehe
    2shootnya keren..like this..yo..like this #joget ala wondergirls

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s