2NE, SCENE 1: STEP ONE

2NE, SCENE 1: STEP ONE

Written by Zikey

.:: This events depicted in this story are fictitious. Any similarity to any person, institution, or events is merely coincidental ::.

Main Cast: Kim Jonghyun, Chae Yoo Jin, Song Joong Ki

Guest Star:

– Baek Jae Ah (Suggested by Mya)

– Lee Joon a.k.a Lee Chang Sun (Suggested by Medelaine)

Supporting Cast:

Mya as Hwang Soo Jung (Pengarah Lapangan)

Kim Eunri’s Goo Jae Woo  (PD)

Hanin as Im Yong Hwa (PD)

– Jong In (PD)

– Alifi as Han Hye Ji (Sekretaris)

Genre: Angst, Mystry, Friendship, Life

Length: Sequel – Stand Alone

Rating: 13

Inspiration: City Hunter, Flower Boy Ramyun Shop, The Vow, I For You (Indonesian Novel)

Note: Hei, yang udah daftarin nama-nama koreanya, melalui form atau komen, makasih ya ^^. Masih ada note di bawah loh, dibaca ya ^-^. Heemm berdasarkan foreword, sepertinya banyak yang menyangka FF ini Thriller. But no it’s not, FF ini hanya mystery, angst, dan fantasy. Itu genre utamanya😀. Aku gak mampu bikin thriller soalnya ^^. Selamat membaca, teman!

***

Nobody in the world’s gonna bring us down.
The louder we go,
well, the better we sound

[We Rock – Camp Rock S1]

Siang Hari, Bucheon Fantastic Studio

Ramping, tinggi rata-rata, senyum menawan, berkepribadian baik, cerdas, merupakan gadis idaman para laki-laki dan sosok sempurna untuk menjadi model ternama. Tapi terlalu sempurna untuk menjadi…

“Oh, crap! NG! Seo Hyeon-ssi, kamu ini bisa akting atau tidak sih?!”

“Sabar…”

Break 5 menit, saya mau dalam waktu 5 menit kamu kuasai adegan ini.”

Chae Yoo Jin, 22 tahun. Profesi, Producer Director. Kenapa produser sutradara? Karena gadis ini kepala sutradara dalam setiap proyek yang dijalankan, sekaligus orang yang membiayai proyeknya. Yaaa 50% sih, tapi tetap saja kan? Gadis yang sering dijuluki berkepribadian ganda ini telah berhasil menggarap 3 video klip, dan menjadi feature dalam 2 film layar lebar yang menjadi hits berminggu-minggu. Tentu di bawah naungan PH 2NE. Tubuh dan wajah yang bisa membuat para perempuan iri ini, terlalu sempurna untuk menjadi PD yang bahkan tidak punya durasi sedetikpun untuk muncul dalam karyanya sendiri.

“Vanilla Latte?”

“Terima kasih.” Oh oh, senyumnya itu bisa meluluhkan hati siapapun. Demi senyum ini, semua orang rela mati. Serius! “Kamu masih belum tertarik menggarap serial TV atau acara-acara TV?” Gadis ini meneguk minumannya, kemudian mengecap sekali.

“Sirup vanilla nya kelebihan satu sendok.”

“Yujin-ssi, jangan mengalihkan topic.”

“Aku tidak, hanya menyatakan pendapat. Soal acara TV itu, bukannya belum tertarik, hanya belum sampai di level itu. Mungkin setelah film pertamaku ini, kalau sukses aku baru akan coba buat serial TV. Selama ini saja menjadi sutradara feature masih acak-acakan. Eh, Jonghyun-ssi, menurutmu film ini bisa jadi big hit atau tidak?”

“Tidak.”

“YA!” Jonghyun tergelak.

“Waktu istirahat selesai, kamdok-nim silahkan kembali jika anda sudah selesai, sajangnim.” Itu penanggung jawab lapangan, Soo Jung. Gadis yang satu ini salah satu kru kesayangan Yujin, meski secara formal tugasnya sebagai penanggung jawab lapangan, ia sering mengulurkan tangan kepada para editor. Ketika mereka mulai frustasi, Soo Jung jadi satu-satunya tujuan mereka.

“Oh tentu, aku sudah selesai. Ayo sajangnim.” Gadis yang lebih senang di panggil Yujin itu bangkit kemudian mengapit lengan Jonghyun.

Kim Jonghyun, 24 tahun. Sutradara muda sekaligus rookie star, yang kini memegang hak, kewajiban, dan tanggung jawab atas 2NE Production House. Meluluhkan hati perempuan manapun ketika tersenyum, dan berjalan. Serius, serius… aku tidak berlebihan. Kim Jonghyun ini, kerennya, tampannya, imutnya, astagaaa… bukan main! Selalu bersikap keren dan cool, namun fleksibel di saat yang bersamaan.

Bicara mengenai umur, Korea identik dengan budaya mereka menghormati yang lebih tua walaupun hanya setahun. Faktor utama Jonghyun membiarkan Yujin memanggilnya Jonghyun, bukan karena sudah lama berteman, tapi karena Yujin masih mencoba biasa dengan embel-embel ‘terlalu’ hormat itu. Kecuali saat di lingkungan kerja, panggilan kehormatan jadi kewajiban.

Sore Hari, Bucheon Fantastic Studio

Yujin mengerang, lagi, lelah bercampur kesal. Rasanya ia berlari di tempat yang sama selama satu minggu lebih, bagaimana bisa aktor-aktor tampan di hadapannya ini sangat bodoh? Astaga!

Kamdok-nim, kita berhenti sampai di sini ya? Aku sangat lelah.” Rengek salah satu aktor-nya. “Berhenti sampai di sini?” ulang Yujin tidak percaya. “Iya, aku sudah pusing. Belum lagi besok, pagi-pagi sekali aku harus ke Itaewon untuk syuting. Oke, cantik?”

SAY WHAT?!!!” Bumi… sedang bergoyang? Suara nyaring Yujin menggelegar, bahkan hingga staff bagian property yang sedang sibuk menyusun barang menoleh kaget. Ckckck… aktor baru ini mau cari gara-gara ya?

“Kamu pikir saya akan luluh? Kamu pikir dengan kamu bilang saya cantik, saya akan mengizinkan syuting selesai?”

“Iya,” Ya ampun, sungguh ya ampun, rasanya Yujin ingin mencabik pemainnya yang berusan mengangguk, menjawab pertanyaan Yujin yang mestinya tidak di jawab itu. “Dengar ya, tidak perlu kamu memuji saya cantik atau semacamnya, saya sudah sering mendengar itu, bosan, muak, dan catat bahwa saya tidak akan pernah luluh dengan rayuan murahan. Astaga!” sembur Yujin galak.

“Jadi?” Yujin mendelik. Aktornya ini pura-pura bodoh, atau bodoh beneran sih?

“SYUTING DI LANJUTKAN SAMPAI SEKUEN DUA PULUH!” Nah kan, apa kubilang? Cari gara-gara sih!

“Tidaaaakkk!!”

Gedung 2NE, Chungmuro, Jung-gu

Jonghyun menelan rotinya setelah dikunyah beberapa kali. “Hoy, bagaimana syuting kemarin? Lancar kan?” dengan gerakan mendongak yang dibuat dramatis, Yujin menatap Jonghyun ganas. Tatapan tajam, dengan lingkaran hitam menghias kantung matanya, membuat Jonghyun mendelik. Oke-oke, gambaran yang ini berlebihan. Maksudku, saking dramatis dan menyeramkannya, Yujin jadi seperti manusia berkantung mata hitam pekat yang besar luar biasa.

“Lancar? Ya… sangat… sangat lancar. Begitu lancarnya, hingga satu jam terasa seperti satu tahun.” Gumamnya gemas, tangannya meremas roti pemberian Jonghyun hingga tinggal segumpalan tangan. “DASAR PEMAIN-PEMAIN TIDAK BERKELAAASSS!!!” jeritnya frustasi, sementara Jonghyun sibuk mengunyah roti.

“Karena itu aku memakai mereka, untuk film-mu.” Sahut Jonghyun enteng. “SAY WHAT??!!” Jonghyun menepuk kening Yujin. “Gendang telinga ku ini perawatannya mahal, jadi jangan berteriak saat sedang bersamaku. Mengerti?”

“Tapi tapi… apa maksudnya itu? Sengaja menggunakan pemain seperti itu untuk filmku?” Jonghyun berfikir sebentar. “Supaya mereka jadi berkelas, sepertimu. Pemain yang bergabung dalam karyamu mengaku, kerasnya konsistensimu dan ekspektasimu dalam bekerja membuat mereka belajar. Ya, kurang lebih itu alasannya…” jawabnya menggantung, membuat Yujin mengerutkan alis penasaran. Sejujurnya sih, Jonghyun tidak bermaksud membuat Yujin penasaran.

“Kurang lebih, itu alasannya… ?” Yujin mendesak. “Yaaa… kurang lebih itu alasannya, kalau secara halus. Secara kasarnya sih, aku sedang krisis. Tidak bisa bayar pemain berkelas, yang mahal. Hehe.”

“YAH! KIM JONGHYUN!” Sejurus kemudian, atasan Yujin yang satu ini meringis kesakitan. Tidak tahu orang tua Yujin memberinya makanan jenis apa, atau memaksanya olahraga angkat besi atau tidak, tapi yang pasti hanya satu. Pukulan Yujin itu rasanya, seperti dengan sengaja menyeruduk tiang listrik.

“AH! SAKIT!!” raung Jonghyun sambil mengelus tengkorak belakangnya. “Hah? Sesakit itu kah? Maaf, maaf, tanganku masih senang dengan hal memukul kepala. Maaf ya.” Mengingat cara ibunya dulu, Yujin menggunakan rambutnya untuk mengelus bagian kepala Jonghyun yang ia pukul.

Menetap di Korea, hal pertama yang ia pelajari dan asik di lakukan adalah memukul kepala lawan bicara saat kesal atau semacamnya. Di luar Korea, hal ini sangat dilarang, selain tidak sopan, sungguh bahaya. Tapi faktor sikap biasa, Yujin jadi senang memukul kepala orang lain. Oh tentu, kalau ada sebabnya.

“Aku tidak punya pilihan lain, perusahaan kita sedang krisis besar.” Kata Jonghyun memelas. “Tapi kan tidak dengan cara seperti itu juga, aku bukan sutradara hebat yang walaupun pemainnya kurang bagus film yang dihasilkan tetap outstanding. Aku ini juga masih belajar, bukan sutradara ahli dan professional.” Protes Yujin tidak terima.

“Harus bagaimana lagi? Hanya kamu sutradara yang mau membuat proyek tanpa dibayar, dengan alasan kita teman. Sutradara lain, walaupun sudah dekat juga tetap tidak bisa dibayar murah apalagi pemain professional. Aku harus bagaimana?” Yujin jadi tidak enak hati. “Memangnya kita sedang sangat krisis begitu ya?”

“Tidak juga sih, aku cuma sedang menabung untuk beli mobil edisi terbaru. Keluaran Inggris, keren sekali! Aku—“

“YAISH!” sekali lagi, tangan Yujin meluncur dengan lancar di kepala Jonghyun. “Sakiiiitt!” erang Jonghyun. “Dasar gila! Bisa-bisanya membuatku frustasi hanya demi mobil? Astaga, KIM JONGHYUN!” Hhh… dasar tukang koleksi mobil.

Apartement Jung Hyeon, Gangnam

“Ayolah kak, dompetku benar-benar sedang tiris, uangku menipis. Bantulah sedikit, perusahaan, ralat, rumah produksi ini kan juga atas nama kalian berdua.” Rengek Jonghyun, sekali lagi, dengan perjuangan. Gagal mendapatkan jalan keluar, Jonghyun akhirnya sengaja membesitkan—Eh harap dicatat, sengaja membesitkan bukan terbesit, ingat yah!— nama kakak ipar-nya di kepala.

“Hey, manja! Kalau memang sedang tiris, jual salah satu koleksi mobil-mu itu. Untuk apa sih, mobil-mobil itu? Toh, mobil-mobil itu yang sebenarnya menyerap uangmu. Bayar pajak, bayar biaya perawatan, bayar bensin, bayar segala hal yang astaga, sungguh deh, tidak ada gunanya!”

“Berguna, hyeong, amat berguna, sumpah! Mobil-mobil ku itu, sudah seperti istriku sendiri.” Bela Jonghyun, tentu ia tidak akan rela mobil-mobilnya dihina. “Pantas saja sampai sekarang masih belum ada kekasih, terus saja berdua dengan mobil-mobil bikin susahmu itu.” Celanya, sarkasme. Jung Hyeon amat salah, ini fatal, dua kali membuat kesalahan disaat yang nyaris, ralat, bersamaan.

“Selamat sore,” Jonghyun menutup acara mengemisnya sore ini, mungkin hingga sore-sore berikutnya. Tak ingin lagi ia berada di hadapan kakak iparnya lebih lama, kesal, sebal, muak. Membahas soal kekasih dan menghina mobilnya merupakan topik terburuk, jangan pernah menyinggung topik itu di hadapan Jonghyun.

Pada punggung adik kecilnya, heem… bagaimanapun juga adik kecil So Dam adik kecilnya juga, ia memandang prihatin. Biasanya Jonghyun yang menggali lubang dan mendorong Jung Hyeon kedalam-nya, sehingga permintaannya dikabulkan. Tapi kali ini, ia mengaku dirinya yang menggali lubang itu sendiri dan besok akan segera melompat ke dalam. Sebagai tanda maaf, dan bukti bahwa ia kakak yang peduli kepada adik iparnya.

Starbucks, Jung-gu, Seoul

Tinggi sih boleh rata-rata, yang penting mereka terpesona pada si lelaki pendek ini. Batin Jonghyun. Walaupun hanya sekali dua kali tampil di layar lebar, tapi bisa di pastikan penggemar Jonghyun bertambah sekitar 3 orang setiap harinya. Sudah biasa baginya, sejak SMA, dilihat dengan ribuan mata terpesona dan beberapa kali digoda.

Gaya khas selalu menemaninya kemanapun pergi, meski bertemu klien atau orang penting dari kolega-koleganya. Kim Jonghyun tetap ber-kaos oblong V-neck yang di balut jas catchy, dengan celana panjang yang menggantung hingga mata kaki, gelang-gelang di pergelangan tangan kiri, sepatu derby hitam berbahan suede membalut kaki, dilengkapi kacamata model wayfarer hitam yang menambah pesonanya pagi itu.

Dengan gaya sangat natural, Jonghyun melepas kacamatanya, tidak bermaksud sok keren, hanya saja gadis-gadis di sekitarnya yang terpesona berlebihan. Tulang pipinya menonjol tatkala ia tersenyum, menyalami koleganya dengan kuat, kemudian duduk di hadapan mereka.

“Masih aja jadi pusat perhatian perempuan.” Ledek koleganya, Baek Jae Ah. “Makanan sehari-hari,” sombong Jonghyun, membuat kolega yang sudah berteman lama dengannya terkikik. “Bro, apa kabar?” Jonghyun meninju pelan lengan kolega yang duduk di sebelah Jae Ah.

“Baik lah, tidak ada alasan untuk berkabar buruk. Apalagi, kalau mau buat proyek dengan 2NE.” pujinya setengah meledek.

“Lanjut, jadi, proyek-nya diproses atau tidak?” Jae Ah mengangkat jempolnya. “Pengesahan sip, proyek siap diproses!” seru Jae Ah girang. “Omong-omong, sehebat apa sih dia? Bisa-bisanya seorang Kim Jonghyun sampai mengorbankan harta berharganya demi proyek ini. Lagi pula, proyek macam apa yang sampai butuh jaksa segala?” Sungut Lee Joon yang punya nama asli Lee Chang Sun.

Lee Chang Sun a.k.a Lee Joon ini teman SMA Jonghyun, yang akhirnya malah jadi jaksa. Melenceng jauh dari kegiatan yang biasa ditekuni bersama Jonghyun. Tapi berteman dengan adik pemilik PH, membuatnya kena imbas juga. Beberapa kali sempat jadi bintang iklan dan video klip, dengan nama panggung Lee Joon.

“Dijelaskan juga, kalian tidak akan mengerti seberapa penting proyek ini untuk-ku, untuk perusahaan, dan untuk-nya. Aku sangat yakin, proyek ini sama sekali tidak akan mengecewakan. Waktunya hanya tinggal sedikit, tapi aku masih depresi, tidak ada uang.”

“Astaga… sebanyak apa sih yang harus di keluarkan untuk proyek ini?” decak Jae Ah, tidak habis pikir si Jonghyun yang bermandikan uang masih senewen mencari uang.

“Tentu harus banyak! Sponsor sih memang faktor utama, tapi-kan tidak semua sponsor mau memberi apa yang kita mau. Jadi sebagai produser harus berjuang sendiri. Untuk menghasilkan screenplay luar biasa, backing nya harus kuat, belum lagi membayar pemain. Aku harus memberinya pemain terbaik, tidak mesti terkenal, tapi terbaik. Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu jadi imut begini?” Jae Ah langsung memukul pundak Jonghyun.

“Mau lanjut nih? Kalau iya, hem… aku punya satu jalan bagus. Melihat kemampuan anak-anak di bawah naungan 2NE dan memberikan uang yang cukup untuk produksimu, itu yang dijanjikan oleh jalan yang kumaksud.” Jonghyun mengerutkan alis, agak mencondongkan tubuhnya ke arah Chang Sun.

“Su Film Fever Project.” Seperti terbang menembus tembok-tembok baja yang sedingin air, dan meluncur dari pelangi indah di langit, Jonghyun ketumpahan harapan. “Chang Sun, kamu tahu kan aku cinta kamu?” Chang Sun langsung menyekik diri sendiri, sementara Jae Ah langsung terkekeh. “Sungguh, cinta ini tidak sia-sia. Oh, Lee Joon!!” ciuman homo mendarat di pipi Chang Sun.

“Dasar gila!” Jae Ah terbahak, melihat Chang Sun meringis jijik. “Oh iya, jangan lupa bilang Jinki hyeong aku mau bertemu dengannya.” Jonghyun mengingatkan sebelum berlompat girang keluar dari café. “Omong-omong proyek apa yang tadi kamu sebut?” tanya Jae Ah penasaran.

“Oh itu, kompetisi film dari Su Film Gallery, tahu kan? Hadiahnya uang tunai dan kontrak kerja sama, sangat menjanjikan! Tidak hanya rumah produksi kekurangan uang yang sedang gencar, yang sudah punya nama juga ikutan gencar untuk acara ini. Memang sih kemungkinan 2NE menang hanya… em… bagaimana ya… sekitar lima banding lima puluh mungkin? 25,99% kemungkinan mereka menang. Tapi apa salahnya mencoba?” Jae Ah hanya bisa mangut-mangut.

Rumah Yujin, Buam-dong

Yujin sedang berguling-guling bosan di kamarnya, ketika lagu Your Surrender milik Neon Trees mengalun keras dari ponselnya. Membuatnya, dengan amat sangat malas, berdiri dan meraih ponsel tanpa keypad kesayangannya.

Kamdok-nim, kita ada rapat hari ini.” Tanpa menyapa, seseorang di seberang langsung menyatakan tujuannya. Han Hye Ji, sekretaris Yujin di kantor.

“Rapat apa? Aku kan sedang tidak ada proyek, apa jangan-jangan ada proyek baru?” tanya Yujin setengah berharap. Jauh terlalu lama dari yang namanya kamera dan lokasi syuting rasanya seperti lumpuh, tidak ada yang menarik untuk dilakukan.

“Pengumuman, penting kamdok-nim! Anda harus datang secepatnya, ini menyangkut nama 2NE dan krisis yang diderita perusahaan.” Yujin hampir menolak, mengingat Jonghyun bilang ia sedang menabung untuk membeli mobil baru, ia jadi kesal. Tapi kemudian ini membuatnya berfikir dua kali, tidak mungkin Jonghyun melibatkan 2NE hanya demi mobil, ditambah kru-kru. Berarti krisis ini benar-benar sedang diderita perusahaan. (Memang iya!)

Yujin langsung meluncur keluar dari kamar, menyambar mantel-nya kemudian berusaha keras menyeimbangkan diri ketika hampir terpeleset. Setelah sukses terhindar dari terguling di lantai, Yujin langsung menempel kertas memo di kulkas dan kembali meluncur keluar. Jarak dari rumah-nya ke kantor lumayan jauh, memakan waktu sekitar setengah jam. Tentu, setengah jam di daerah ramai dan di daerah sepi kendaraan sangat berbeda.

Suara stiletto Yujin beradu dengan lantai marmer kantor, membuat kegaduhan sendiri yang menyebabkan para pegawai menoleh, terganggu. Kegaduhannya terhenti dan digantikan oleh suara pekikan, tatkala Yujin menubruk seseorang.

“Maaf aku tidak lihat ada yang sedang buru-buru, harusnya aku menyingkir.” Laki-laki, ia membantu Yujin berdiri, merasa bersalah. “Aku yang salah, serius. Eh? Kamu… sedang apa di sini?” kemudian laki-laki itu baru sadar siapa yang menubruknya barusan.

“Oh, baru menemui rekan. Ada rapat penting? Buru-buru sekali,” katanya menebak. “Ah, tidak juga.” Elak Yujin setengah malu. “Oh… jadi, heels nya itu memang beda warna yah satu pasang? Bukan salah pasangan?” Kalau tadi Yujin hanya setengah malu, kali ini ia benar-benar malu sampai ke ubun-ubun. Laki-laki di hadapannya ini… oh, untung bodoh. Nada bertanya-nya sangat menjelaskan, kalau dia benar-benar tidak tahu bahwa Yujin salah sepatu.

“I-iya tentu saja, ini model terbaru, ha-haha… sudah ya, sampai jumpa!” kembali ia meluncur, masuk kedalam lift dan menutupi wajahnya. “Sudah jelas stiletto kanan ada bunganya, mana mungkin ini pasangan yang benar!” Gerutu Yujin kesal.

Pintu lift terbuka, bertepatan dengan Jonghyun yang baru akan berjalan melewati lift. “Oh, Yujin? Loh… sepatumu—“

“Cukup! Jangan komentar jangan protes, kalau mau rapat, ayo mulai sekarang.” Potong Yujin kalem. Tidak membiarkan Jonghyun memandang lebih lama pada alas kakinya itu, Yujin mendorong Jonghyun agar berjalan di depannya.

Di ruang rapat, berkumpul sudah tim produksi utama milik 2NE. Bicara soal sistem kerja di perusahaan ini, 2NE memegang sistem kompilasi sejak dulu. Beberapa pegawai kantor di bayar bulanan dengan kontrak kerja ‘hingga pensiun’, sementara tim produksi memiliki kontrak kerja perproyek.

2NE hanya memiliki kontrak tetap dengan tiga orang PD ditambah tim intinya yang tidak lebih dari lima orang. Yujin sendiri termasuk ke dalam tim produksi inti perproyek dengan akses khusus. Yujin akan berkerja ketika mendapat proyek dan hanya di bayar ketika proyek akan di buat, tetapi ia memiliki ruangan sendiri dan sekretaris yang biasanya hanya di miliki direktur utama. Tentu ini berkat statusnya sebagai teman seperjuangan Jonghyun, dan yah, hanya Yujin satu-satunya sutradara yang rela tidak bayar ketika saat itu Jonghyun bilang ia sedang krisis.

Jonghyun sendiri memulai debut-nya sebagai pemain sampingan di film layar lebar milik sang kakak, beruntung film-nya laku keras, membuat orang tidak hanya melihat pemain utama tapi juga Jonghyun sebagai pemeran sampingan. Setelah lulus kuliah, ia mendapat tim inti-nya sendiri, dan kembali bermain di film milik kakaknya hingga 2NE jatuh ke tangannya.

Mengenai hubungan, Jonghyun dan Yujin sudah saling mengenal ketika Yujin masih SMA sementara Jonghyun tengah berjuang keras untuk menyusun portofolio demi menyelesaikan studi-nya. Meski berhubungan hanya melalui jaringan internet dan fasilitasnya, keduanya tetap menjalin hubungan dengan baik. Walaupun setiap Yujin berkunjung ke Korea kedua-nya bertemu dan pasti bertengkar, tapi itu memperkuat segala jenis hubungan mereka.

“Oke, lupakan soal krisis perusahaan,” Jonghyun memulai. “Apa kalian tahu soal Su Film Fever Project?” hadirin rapat langsung riuh menyahut, sementara Yujin berusaha keras mengingat apa itu Su Film Fever Project. “2NE berpartisipasi!” seru Jonghyun, disambut seruan riang.

“Aku memiliki tiga tim inti dengan tiga sutradara kan? Aku mau kalian bertiga mengikuti acara ini di bawah naungan 2NE, dengan kata lain 2NE akan membayar biaya produksi yang kalian keluarkan.”

Sajangnim, jangan bercanda, kita bisa terkuras habis jika anda membiayai produksi kami.” Tolak Jae Woo, PD tim inti satu. “Kita akan baik-baik saja, percaya padaku. Tidak akan terjadi defisit atau hal semacam itu, selama kita bekerja sama. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karena ketiga tim yang sekarang berada di sini, merupakan tim yang berhasil membangun 2NE hingga ke titik ini. Aku menyesal karena tiga tahun berturut-turut kalian tidak bisa mengikuti project ini di karena-kan bentrok dengan film yang akan 2NE produksi.”

“Tapi sajangnim…—“

“Terima atau tidak selamanya?” sutradara mana yang akan menolak tawaran sebesar ini? Ditanggung biaya produksinya, dan mengikuti Su FFP? Tentu saja itu hadiah paling luar biasa!

“Tunggu, tunggu, lalu nasibku seperti apa?” akhirnya Yujin bersuara setelah berkelut dengan ketidak mengertiannya tentang semua ini. “Ya, kamu mau nasib kamu seperti apa?” sahut Jonghyun nyolot, Yujin menarik nafas, menahan geramannya. “Su FFP ini sebenarnya acara seperti apa? Saya tidak tahu dan tidak mengerti banyak. Lalu, untuk apa saya di panggil kemari kalau nyatanya anda hanya bicara dengan tiga tim inti anda?” Oh, rupanya Yujin merasa tersinggung dianggap tidak ada.

“Oh itu, iya, aku sekalian mau memberitahumu soal ini. Tiga tim inti kita akan ikut proyek dari Su, jadi kamu tidak memiliki tim inti. Tapi kalau kamu memang mau mengikuti acara ini sih silahkan saja, namun dengan catatan, cari tim intimu sendiri.” Yujin ingin menganga, tapi itu bukan gayanya.

“Kalau kamu bertanya soal, Su FFP, itu merupakan kompetisi film terbesar di Korea. Di adakan oleh Su Gallery yang merupakan kandang film-film terbaik di seluruh penjuru Korea. Pemenang dari acara ini akan mendapat kontrak kerja, membuat sebuah film besar yang di amin akan masuk penghargaan international dan juga uang tunai.” Jae Woo menjelaskan, ia yang paling berpengalaman soal kompetisi-kompetisi film atau festival film di Korea.

“70% pembuat film di Korea akan mengikuti event besar ini, di bawah naungan production house professional ataupun atas nama sendiri. Tapi jika atas nama sendiri mustahil menang, karena pasti para sutradara yang ikut di bawah naungan house production akan membuat film dengan kualitas terbaik berdasarkan modal yang mereka keluarkan.” Lanjut Yong Hwa, kalimatnya seolah menantang Yujin.

Sampai sekarang Yujin tidak memiliki tim inti, hanya seorang sutradara yang berdiri sendiri dan bekerja sama dengan tim inti milik Jae Woo, Yong Hwa, atau Jong In. Jika bicara soal pengalaman atau portofolio, Yujin memang memiliki portofolio terbanyak dan terbaik,juga pengalaman luar biasa yang jarang dimiiliki pembuat film Korea lainnya. Tetapi soal karir, keputusan Yujin untuk memulai karir-nya di Korea dari nol tanpa membawa-bawa karir yang sudah ia bangun sejak di Amerika, membuatnya masih memanjat dengan susah payah.

“Kalau saya bilang, saya ikut, apa saya juga akan dibiayai oleh 2NE?” Yujin menantang balik. “Tentu, kenapa tidak? Dan untuk kalian semua, pengerjaan proyek Su FFP ini tidak akan mengganggu pembuatan film atau acara TV yang memang harus kita produksi, oke?” semuanya melongo. Jadi, maksud Jonghyun… ia akan membiayai produksi proyek untuk Su Gallery asalkan mereka tetap aktif memproduksi film dan acara TV seperti biasanya? Gila! Bisa mati kelelahan ini sih.

“Sekali lagi, take it or leave it?” Jonghyun menyeringai, ia yakin tim-nya tidak akan menolak. Ia sudah mengenal baik kinerja anak-anak naungan 2NE, mereka rela melakukan apapun demi karir dan ini semua di dasari kecintaan mereka terhadap bidang pekerjaan yang mereka geluti.

Yujin masih duduk meringkuk, memeluk lutut-nya di jendela kamar, wajahnya mengerut kesal. Berkali-kali pesan masuk ke ponselnya-pun tidak ia hiraukan, masih kesal dengan keputusan menyebalkan Jonghyun dan caranya memojokkan Yujin di hadapan hadirin rapat.

Ketika lagu Irish milik Goo Goo Dolls menjerit, Yujin baru mau beranjak dari tempatnya duduk. Ringtone ini khusus untuk nomor asing, sejak kemarin ia hanya menerima panggilan dari nomor asing.

“Yeob—“

“Akutahukamumarah, Yujina. Tapijangansampaisepertiinidong! Kamubolehmelampiaskan semuanya, tapikitaketemusoreinidi Club Espresso, oke?”

Tut..tut..tut… tidak satu katapun terputus ketika Yujin mematikan panggilan. Jonghyun seperti bicara dalam satu tarikan nafas. Aturan mainnya, jika satu kata saja terpotong maka Yujin tidak akan menurut. Aturan main ini sudah berlaku untuk keduanya sejak dua tahun yang lalu, ketika Yujin— si sensitifsukangambek—menarik diri dari Jonghyun.

Mengingat isi bahan makanan di kulkas-nya sudah tiris, Yujin langsung membuat catatan apa saja yang harus ia beli untuk kebutuhannya selama minggu ini, ia tidak akan kuat membawa belanjaan untuk satu bulan tanpa mobil. Setelah memasukkan catatan kecil ke dalam dompet, ia lalu menempel lagi catatan lain di kulkas sebelum keluar dari rumah.

Musim panas hampir berakhir rupanya, pantas udara yang berhembus lebih menusuk. Membuat bulu kuduknya meremang, dan mengharuskannya merapatkan mantel beledu biru-nya lebih erat. Club Espresso yang di maksud Jonghyun sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumahnya, tapi ia saat ini benar-benar ingin mengulur waktu.

Kadang jadi menyesal, memilih rumah di tengah kota membuatnya kehilangan tempat untuk mengurangi penat. Di pinggir kota, biasanya masih ada jalan-jalan menanjak yang memiliki tempat paling strategis untuk menenangkan diri, tapi di tengah kota, hanya ada sungai yang berair dangkal.

Sehingga kaki Yujin, hanya bisa melangkah ke bantaran sungai dan bersandar pada palang pelindung, menikmati setiap angin yang berhembus dan suara sepeda yang berlalu lalang di belakangnya.

Yujin membuka matanya, ketika suara helaan nafas menghampiri telinganya, terbawa angin yang membuat musik indah. “Benar-benar membuatmu kesal ya?” suara penuh penyesalan dari Jonghyun membuat Yujin kembali memejamkan mata.

“Tergambar jelas ya, memangnya?” Jonghyun mengerutkan alis, tapi kemudian mengangguk. “Iya, sudah jadi kebiasaanmu. Satu-satunya tempat menenangkan yang paling dekat dengan rumahmu hanya di sini.” Jawab Jonghyun kemudian bersandar di sebelah Yujin.

“Sedang ada masalah?” nada perhatian dalam pertanyaan Jonghyun membuat Yujin jadi lega, teringat bahwa di kehidupan nyata Jonghyun masih menjadi sahabatnya.

“Hanya merindukan orang tua-ku, dua-duanya.” Jawabnya sendu, membuat Jonghyun jadi merasa bersalah. Melirik kehidupan Yujin yang berbelit-belit, kadang Jonghyun jadi merasa bersalah sekaligus bersyukur. Jika orang tua angkat Yujin tidak terpisahkan oleh Negara karena pekerjaan, mungkin Jonghyun tidak akan sadar betapa ia harus bersyukur dengan kedua orangtua-nya yang menikmati masa lanjut usia mereka dengan harmonis di sebuah hanok yang amat nyaman.

“Sudah lama aku tidak mengunjungi mereka,” Jonghyun melingkarkan lengannya di pundak Yujin, membuatnya semakin nyaman bersandar di pundak Jonghyun. “Kita bisa kesana, sekarang, bersama.” Yujin menggeleng. “Sedang tidak ingin menangis, sore ini langit sedang tersenyum riang.” Tolaknya lembut.

“Kamu benar akan membuka kembali kasus kematian orang tua-mu?” Suara tarikan nafas berat terdengar jelas. “Entahlah, aku belum siap. Tapi aku tidak bisa membiarkan pembunuh orang tua-ku hidup dengan nyaman. Kalau saja waktu itu aku bukan anak kecil yang bodoh, andaikan saat itu aku memiliki kuasa untuk membela kedua orangtua-ku.”

“Jangan menyesali keadaan. Jika memang menuntut atas kebenaran dan keadilan, aku akan berada di sampingmu. Teman kakak-ku jaksa Korea Selatan, memang jaksa kita kurang punya kuasa tapi setidaknya kita bisa minta bantuan untuk membuka kasusnya.”

“Terima kasih. Ini termasuk lamban, jika mengingat saat pertama aku menginjakkan kaki disini, sekarang aku baru akan memulai penyelidikan atas kasusnya.”

Angin sore berlarian semakin riang, menikmati saat-saat matahari akan bertukar posisi dengan bulan. Berlompatan menembus pepohonan, membelai lembut kulit-kulit umat manusia yang mendekap diri kedinginan namun menikmati sensasinya.

Yujin mengeratkan lingkar lengannya di pinggang Jonghyun, hingga dinginnya hembusan angin tidak terasa. “Kalau di film-film, biasanya adegan ini pembukaan sebelum akhirnya berciuman.” Kata Jonghyun merusak suasana, membuat Yujin dengan gemas memukul lengan Jonghyun.

“Hahaha… maaf, maaf, tapi tidak marah lagi kan?” tanya Jonghyun dengan nada memohonnya yang menggemaskan. “Aku bukannya marah, hanya tidak terima. Kamu itu mau mempermalukanku ya?” tuding Yujin curiga.

“Bukannya begitu, tapi aku hanya memberikan fakta sekaligus menyadarkan kamu kalau kamu tidak punya tim inti. Mana bisa orang hidup hanya sendirian, pembuatan film itu butuh kerja sama.”

“Aku juga mencari, tapikan tidak mudah!” bela Yujin. “Ya sudah, kalau begitu lebih baik kamu fokus saja dengan proyek tetap di kantor. Lagipula, kamu tidak akan bisa mendapatkan kru dalam waktu singkat.”

“Bisa!” seru Yujin yakin. “Aku bisa dapat kru! Dan aku bisa ikut proyek ini, aku mau!” Jonghyun hampir tersentak kebelakang. “Iya, iya, tapi masalahnya—“

“Tidak ada masalah! Aku bisa!” potongnya tidak mau kalah. “Yakin?” Yujin mengangguk. “Demi karirku, demi 2NE, dan demi kamu yang lagi krisis.” Jonghyun tergelak. “Kok jadi bawa-bawa aku segala?” Yujin jadi garuk-garuk kepala. “Tidak apa-apa, yang penting, SEMANGAT!”

“YAH! Aku kan sudah bilang, perawatan gendang telingaku ini mahal!” gantian Jonghyun yang memukul pelan kepala Yujin, membuatnya meringis cengengesan.

Dan sekarang Yujin hanya bisa guling-guling, senewen dengan janjinya sendiri. Kenapa ia harus menyanggupi tantangan itu, kalau nyatanya ia tidak yakin bisa mengatasi masalah ini. (Aduh, Yujin! Kebiasaan deh, sifat gak mau kalahnya keluar!)

“Oh tidaaaakkk… sekarang aku ini harus bagaimanaaaa~.” Registerasi dibuka selama satu minggu, techinal meeting-nya baru akan dilaksanakan tiga minggu lagi. Sementara dalam registerasi ia harus mencantumkan nama-nama anggota tim intinya, dan ini celaka seribu tiga belas! Oh, astaga!

Mana mungkin ia mengajak teman-temannya yang sekarang sudah sibuk dengan proyek-proyek film mereka di Amerika untuk bergabung, pasti memalukan! Teman-teman Korea? Tidak banyak yang ia kenal dalam jurusan perfilman. Rata-rata yang ia kenal, sudah tergabung dalam tim lain. Membuat pengumuman besar-besaran sama dengan menggali lubang sendiri. Gengsi ini mau di kemana kan?! (Ya ampun, Yujin! Masih aja mikirin gengsi?)

Sementara itu, di apartemen-nya Jonghyun sedang terkikik riang. Jurus andalannya berhasil, cara untuk memaksa Yujin melakukan sesuatu hanya satu. Remehkan Yujin, dan fiola… dengan kepala berkobar api, Yujin akan menyanggupi apapun dengan menggebu-gebu.

Keasyikan Jonghyun terganggu oleh suara bel rumahnya, dengan malas ia beranjak dari sofa untuk membuka pintu. “Oh, Hyeong, sampai jumpa.”

“Eh tunggu, jangan usir aku dulu!” Jonghyun memutar bola mata. “Apalagi? Mau memaksaku menjual mobil pada dealer-delaer yang sudah mengemis ingin membeli mobilku? Sungguh, terima kasih banyak atas usahamu, hyeong.”

“Ck, bukan begitu bodoh, aku justru kemari ingin membicarakan permintaanmu kemarin.” Decak Jung Hyeon, kemudian masuk ketika Jonghyun memberi celah. “Mau minum apa?” Jonghyun menawari, mencari minuman segar di kulkas. “Yang hangat saja, hari ini udaranya dingin.” Jonghyun mengangguk kemudian mengambil saset vanilla late.

“Heh, kamu melamun?” Jonghyun mengerjap, vanilla late…

“Soal yang kemarin, aku minta maaf karena mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya aku ucapkan. Lalu mengenai uang, aku akan memberi investasi saja.” Jonghyun mendelik senang. “Benarkah? Hyeong sedang tidak main-main denganku kan?” Jung Hyeon mengangguk yakin.

“Syukurlah, aku jadi tidak perlu menguras tenaga lebih banyak demi Su FFP.”

“Su FFP? Kamu, ikut kompetisi itu?” Jonghyun menggeleng. “Kru kita yang akan ikut, sebagai produser aku hanya akan membiayai. Hehehe…” jawabnya riang. “Kamu gila? Kemarin baru bilang 2NE krisis, dan sekarang memutuskan untuk membiayai produksi film kru kita untuk Su FFP?!”

“Tenang hyeong, aku yakin kita tidak akan rugi. Karena, kru kita itu orang-orang hebat. Aku yakin mereka akan menang, setidaknya salah satu dari kru kita yang menang, dan sisanya masuk lima besar. Aku yakin.” Jung Hyeon memicingkan matanya. “Jonghyun, ini benar-benar keputusan yang amat riskan. Jangan sampai perhitunganmu salah dan 2NE hancur karenamu.”

“Tenang hyeong, kita justru baru saja melangkah menuju kesuksesan 2NE. Ini merupaka langkah pertama kita hyeong, percaya padaku dan kita aman.”

—STEP ONE, END—

2NE the next scene!

“Aiya, aku hampir lupa. Ini Kim Hyeo So, ia yang akan menjadi lawan main-mu di serial ini.”

“Sebentar, ada yang jatuh di lantai. My jaw! SAY WHAT? Kamu dan Key pacaran? Astaga….”

“Jangan terlalu percaya diri, tidak ada yang perlu membuatku tidak professional.”

Semuanya terjadi secara cepat ketika tiba-tiba, tidak ada yang tahu bagaimana sebuah telur bisa mendarat di kepala Hyeo So.

“Kalau memang tidak ingin membuatku terluka, menjauhlah dariku. Menjaulah untuk selamanya, pergi dari hidupku, jangan pernah berpikir walau sekalipun bahwa kita saling mengenal, jangan pernah membuka pintu untukku dan aku akan melakukan hal yang sama. Sekarang pergi dari sini dan anggap tidak ada hari ini atau kemarin, kita selesai.”

Footnote:

  1. Kurang greget? Maklum ya, masih part satu… inti ceritanya juga baru disenggol aja belum di bahas banget kekek~
  2. Sekuen : Kumpulan adegan-adegan, yang secara menyeluruh mengandung maksud atau isi pokok tertentu, untuk membangun kisah dan isi cerita yang utuh (Sumber: Lana)
  3. Dalam FF ini umur Jonghyun 2 tahun lebih tua ya ^^, secara international
  4. Kim So Dam memang kakak asli Jonghyun tapi belum menikah kok, jadi Jung Hyeon ini cuma OC punya ku😀. Terima kasih untuk.. Rahmi?.. karena udah koreksi nama kakaknya Jonghyun ^^
  5. Su Film Gallery hanya imajinasiku, tempat perkumpulan film-film di Korea itu sebenernya KFA (Korean Film Archive)
  6. Kamdok : Sutradara
  7. Pssstt… aku belum bilang ya? Buat yang nama korea-nya gak kepilih di scene satu ini, kalian masih punya peluang di scene lain loh😀. Aku gak cuma sekali narik form ^^, setiap butuh pemain, di akhir scene sebelumnya aku bakalan buka form supaya kalian bisa daftar sesuai kebutuhan dan keinginan😀.
  8. Scene 2 tidak ada cast kosong, GS-nya pasangan yang pernah jadi alumni di FF ku ^-^. Next scene adalah cerita pinggiran pertama di FF ini, and it is romance! Please, stay TUNE… ppyong! ^^

For any wrong you see in this fiction, please just let me know ^^. I’ll try my best to fix the wrong😀

©2012 SF3SI, Zikey.

Officially written by Zika, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

82 thoughts on “2NE, SCENE 1: STEP ONE

  1. Vanilla Latte … inget fansite onew… kkkkk

    btw jae ah itu cewe apa cowo?

    agak kurang mengerti sama dialog n bbrp narasinya.. bukan kata2nya tp lbh ke siapa yg ngomongnya… hehehe
    mislnya ad dialog dr 2 org tp brda dlm 1 prgrf… bgusnya diksh ktrngn siapa yg ngomong itu..

    tp over all seru…
    n itu aktor2nya… knp rada2 babo gtu ya… wakakakaka
    trus itu jaksa.. weeeiiisss aji mumpung tuh… lol

    1. Aaaahh aku jadi seneng
      dua kali liat kamu jadi orang yang pertama ninggalin komentar di FF ku😄

      Jae Ah? dia cewek, ulzzang cewek ^^

      Oh gitu ya? Heeeemmm… berarti gaya penulisan yang ini kurang cocok🙂
      aku lagi coba-coba gaya penulisan ^^, beberapa kali baca novel gaya penulisannya gini, jadi di coba. Ternyata gak cocok😦

      Sebenernya bukan babo sih kekee.. cuma manja terus ngeselin gitu hwuehehe~
      hahaha.. niat-nya sih si Joon cuma “Manfaatkan lah kesempatan yang ada sebaik mungkin”😄

      Thanks ya udah mampir *peluk*
      Stay 2NE! Ppyong! ^o^

  2. ceritanya keren bu,.q suka karakternya yujin tegas,keras kepala (iy pa ga?),tp jg konyol sukanya guling2(?) hadeh..

    jonghyun ma yujin hubunganya bkl mnuju ke romance ga??

    tp q rda2 keder nih,soal siapa yg ngomong siapa yg jwab,soalnya biasa bca yg pke pov siapa,jd td wktu ada dialog2 bner2 bca ekstra krna smpt bingung ga ada keterangan *pa akunya yg lemot*

    scara keseluruhan oke bkin pnasaran lanjutannya palagi yujin bsa dpt tim tpt wktu g tuh,oy lee joon jd jaksa y? *langsung keinget jaksa kim d city hunter* GANTENG hehe..

    1. Serius nih? *O*
      Keras kepala? eeeemm.. lebih ke teguh pendirian kayaknya *sama gak tuh? ._.a*

      Eeeeemmmm iya gak ya? …. heeemmm~ maunya?😀

      Salah akunya deh itu ^^, biar next scene aku ubah gaya penulisannya yaaa ^^
      iyep ^^, nah! Untung dapet gambaran kekeke… bayangin aja role nya joon tuh kayak jaksa Kim nya di City Hunter *dies*

      Thanks ya udah mampir ^^ *peluk*
      stay 2NE, ppyong! ^o^

  3. Eonni, nama Korea Q ngak ada.
    .hiks..hiks #nangisdipojokan..
    Tapi ngak apa” deh mudah”an nanti nam Korea Q bisa kepagai,hehehe..

    Wah eon, ff’a DAEBAKKKKK..!!!
    Tapi masih bingung ama ceritanya eon..
    Mungkin d’part berikt’a baru bisa Q mengerti..

    SEMANGAT yah Eon buat kelanjutannya lebih baik lagi !!!

    1. Gak ada??? O.oa eeeemmm~
      Mungkin namkor-mu bakalan muncul di scene lain kali? ^^

      Serius nih?😀
      Oh iya iya.. ntar aku coba lebih jelas lagi deh ya di scene2 selanjutnya🙂
      Semangat ^o^

      Makasih loh udah mampir *peluk*
      Stay 2NE! ppyong!😀

  4. akhirnya 2NE lanjut lagi.. Suka bagian Jjong ngobrol sm yujin d sore hari, terasa hubungan mrk lbh dr shabat.. Hehe

    D tunggu lanjutannya zikey eonni

  5. Kyaaa.. Kelakuan jjong bikin aku sakit perut gara2 ktawa..
    Apalagi pas dia bilang “tinggi badan boleh rata2……” hahaha..
    Yujin jg.. Kadang2 cool tpi kalo lg sndiri atw b’dua jjong jdi konyol..

    Aku sumbang namkor dch.. Kim HyunHee.. Kali2 swt waktu bsa kepake.. He

    1. Hahahhaa..
      sebenernya agak-agak gak tega nulis kalimat yang itu.. kesannya kok… Jonghyun udah pasrah banget sama tinggi badannya ahahha😄

      Makasih ^^, nanti kalo butuh supporting cast aku pake deh yaaa🙂
      Makasih udah mampir ^^ *peluk*
      Stay 2NE ya say!

  6. Annyeong.. Annyeonggg..

    ZIIIIIIIIIIIIIII…kaaaaaaaaaaaaaaa..

    Beneran mau baca FF ini, tapi mata dah 1/2 watt nih Beib..
    Weekend kubaca plus komen ya.. ^^

    tadi mampir krn lihat cover FF nya. Kupikir horror genrenya, tapi ternyata mystery kekeke *sujud sukur*

    Untuk sekarang, SEMANGAT ZIKA!! ^o^

    1. Stoooooo…rrrrmmmm~
      Kyaaahh~ it’s been a long time huh😀

      Siiipppp ^^
      santai aja lah, cepetan istirahat. Jangan mikirin deadline aja😀

      Semangat! ^o^
      btw, makasih banget loh udah mampir padahal belum baca.. duuhh aku cium deh *kecupbasah*

  7. Aku gak sempat komen di prolognya T_T langsung komen kesini aja deh. hehe :p
    hahaha😀 Yujin ma Jonghyun unik banget…
    Si Jonghyun tingkat percaya dirinya tinggi banget –” but, I like it😉
    Yujin bikin ngeri deh kalo marah, teriak-teriak sampe bikin telinga membengkak *inilebay*
    Jadi, yang akan mereka ungkap misterinya adalah tentang kematian orangtua Yujin dan siapa pembunuhnya, benarkah begitu?
    wah, next scene ada Hyeo So dan Key🙂
    ditunggu lanjutannya^^

    1. Gak apa-apa ^^
      Yang penting udah mau mampir😀

      Hahaha… menurut jendela-ku si Jonghyun emang PD sih😀
      Maklum aja… kalo orang bad-temper kan gitu *garuk2 kepala*
      Kurang lebih sih gitu ^^
      Itu kalau kasusnya Yujin yaaa~ kekeke

      Sip!
      Makasih banget ya udah mau mampir ^-^ *peluk*
      Stay 2NE, ppyong!

  8. Zika eonniiiiiiii!! Saya kembaliiiiiii…
    Emang ya ff zika eonn ngga bakal mengecewakan! Bikin penasaran mulu! Mana main cast nya jjong lg! Makin pengen bacaaa wkwk

    Kayaknya dari dulu comment ku ngga improve dehh pendek mulu -___- wkwkwk

    1. GABY? BENERAN INI GABY?
      GABY-NYA LANA? … bukan bukan.. maksudku… Gaby temennya Lana? Gak bercanda kan ya? *ngeluarin otak, cuci, masukin lagi*
      Ya ampuuuuuuuuunnnn.. kanget banget aku sama kamu😄

      Ih aku inget kamu tuh suka Jjong kan… sempet mau jadiin kamu main cast nya aja, pairingan sama si Jjong gitu. Tapi bingung gimana hubungin kamunya.. heemm~
      Ya udah, anggep aja si Yujin ini kamu yah hahahhaa~

      Gak apa-apa, yang penting si Gaby mampir
      besok-besok gak ada lagi loh bocoran ff hohoho *ketangkep basah deh si Gaby*
      Dadah Gab ^o^
      Stay 2NE ya Gab~ *peluk*

      1. Iiiiiihhh zika eonn masih inget akuuu *terharuu*
        Demi apa aku mau dijadiin main cast?? Huahahaha mau bangettttt!! Yaudahlah gpp.. dari yujin ke gaby ngga jauh kok *loh??*
        Yahh ketahuan >.< aku penasaran sihh ngga sabar nunggu part 1 keluar hehehe.. Ditunggu ya eonn lanjutannyaaaa

        1. Inget laahhh~
          Mana mungkin lupa, temen-temen tongkrongan di Talk3.. itu ngenang banget di otak😀

          Hahahaha.. sip gab ^^
          thanks udah mampir yaaaa *peluk*

  9. Psst.. beb, itu ada typo tuh kekeke~
    Masih ada perubahan otomatis dari ms.word
    Macem topik masih topic😀.. fine sih sebenernya kekeke
    Ini:
    Jonghyun akhirnya sengaja membesitkan—Eh harap dicatat, sengaja membesitkan bukan terbesit, ingat yah!— nama kakak ipar-nya di kepala.
    Kocak ngiyahahhaa… konyol aja.. sengaja membesitkan nama kakak ipar nya..
    Ooohh.. jadi ceritanya kakaknya Jonghyun udah nikah nih ya? *baru ngeh*

    Ngomong-ngomong, dari prolog, ceritanya ini scene satu udah beberapa bulan gitu ya? Soalnya di prolog baru nyampe Korea, di scene satu ini udah punya karya ajah:/
    Adegan fav? Waktu ngobrol berdua sama Jjong di pinggir sungai😄 kyahaha
    Btw, besok-besok kalo mau masukin ke draft jauh-jauh hari kek =,= *ngasah golok*

    1. Yah elah, ini si Lana baru muncul =,=
      Kamane aje kamuuu?

      Iya, terakhir kemarin, mataku udah perih ngecek-nya. Adakali aku edit sampe 10 kali ini part, beneran gak kuat baca lagi hahaha
      Lucu? Masa sih? Biasa aja ah

      Duh elah, gak usah kamu.. aku malah cuma suka adegan yang itu.. yang lain bodo amat *loh?* hahaha
      Scene 2, awas telat yaaa!😀

  10. zikaaaaaa…………….
    kamu tahuuuuuu?? mincha baca ff lagi di sini karna lana bilang ada ffmu!! hahahaha!! biasanya cm mampir di talk3…… >,<
    awalnya agak bingung bacanya, hehehe….. tapi bagus! bagus! lanjutkaaaaan!!
    *hug zika*

    1. MINCHA EON!!!
      Astagaaaaaaaa.. ini aku kejatuhan duren apa ya? Tadi Storm mampir, terus Gaby mampir, sekarang Mincha eon mampir
      ya allaaaaahhh~ *girang*
      Gara2 Lana nih? *ehem… Lan… makasih =,= hahaha*

      Makasih banget loh Mincha eon udah mampir
      ya ampun, gak nyangka
      Stay 2NE yaa supaya ngerti😀 ppyong!!

  11. Uwaaah udah keluar part satunya!
    Mata sudah sepet tapi aku bela belain baca, alhasil baru bisa ngeh sama isinya setelah baca dua kali hihi😄

    Pertama tama mau ngucapin makasih soalnya namkor aku sudah nongol di atas plus adanya kehadiran Baek Jae Ah di part ini🙂 Aaah senang sekaleeeeeeh *peluk peluk*
    Dan yang keduaaaa, suka banget momen JongYu di atas pas di pinggir sungai, aaaaah aku bayanginnya Yujin itu aku loh ahaha
    Suka sama sifat Jong yang PD berlebihan tapi asli ngakak. FF-nya Zika eonn memang selalu bikin aku ngeluarin dua jempol!

    Baiklaaah, aku tunggu part duanya, eonnie🙂
    Semangat!!

    1. Myaaa ^^
      akhirnya datang juga *setel trans TV (loh?)*

      Sama-sama ^^< kebetulan karakternya aku suka😀
      Baek Jae Ah, sekali lagi, aku juga emang suka sama dia😄
      *peluk balik*
      Benarkaaaahhh???? *O*
      Makasih banyak jempolnyaaa🙂

      Sip! Semangat juga Mya ^^
      Makasih banyak loh udah mampir, stay 2NE. Ppyong! ^o^

  12. Halo, aku reader baru karyamu. Lagi bosen banget nungguin dosen yang gak dateng-dateng jadi aku baca aja FFmu, eh taunya bagus *curcol* Dan aku suka semua pendeskripsian tentang Jonghyun hahaha (semua orang juga suka kalo biasnya dibilang keren, ganteng, banyak fansnya kkkkkk~)

    Hmm aku ada masukan ini buat Zikey-ssi. Yah tapi ini berangkat dari selera dan pendapatku aja sih, jadi kalo gak diterima juga gak apa-apa. Sebelumnya aku minta maaf ya kalo ada bahasa yang kurang enak ^^V

    Sebenernya aku bingung karena ada dialog yang ngomong A tapi yang dijelaskan itu reaksi B. Contohnya :

    …“Tapi tapi… apa maksudnya itu? Sengaja menggunakan pemain seperti itu untuk filmku?” Jonghyun berfikir sebentar.(yang ngomong Yujin tapi yang dijelasin reaksi Jonghyun) “Supaya mereka jadi berkelas, sepertimu. Pemain yang bergabung dalam karyamu mengaku, kerasnya konsistensimu dan ekspektasimu dalam bekerja membuat mereka belajar. Ya, kurang lebih itu alasannya…” jawabnya menggantung, membuat Yujin mengerutkan alis…

    Karena mungkin kebanyakan FF yang aku baca gak seperti itu. Misalnya ada dialog A, terus dijelasin reaksi atau ekspresi A pas ngomong itu. Terus hal lain yang bikin bingung itu ada dialog 2 orang tapi dalam satu paragraf. Hmm gatau juga, karena aku nemu kaya gini pertama kalinya dan aku juga baru baca tulisan kamu yang ini (belum liat yang lain) jadi agak bingung. Atau ini emang gaya penulisan kamu?

    Yaudah gitu aja sih, maaf yaa kalo kata-katanya ada yang kurang berkenan. Semangat🙂

    1. Sevenstrawberry, let’s call you seven😀
      Hai ^^ selamat datang kalau gitu

      Siiipp, tenang aja.. aku ngerti semua orang punya selera dan pendapat ^^
      Soal dialognya A tapi yang digambarin adalah prilaku si B menanggapi dialog A. Well, saat-saat aku cari ilham buat nulis FF ini, kebanyakan novel yang kubaca gaya bahasanya gitu semua.
      Otomatis, hal ini bikin aku biasa dengan bacaan model gitu dan reflek melakukan hal yang sama pada tulisanku🙂, ternyata… gaya seperti ini masih asing di mata SSF ya? Oke, i’ll fix it… maybe😀

      Kalau tentang dialog A dan B dalam satu paragraf.. ini udah reflek banget. Dari dulu sampai sekarang, masih susah ngerubahnya. Karena jaman aku nyoba nulis FF aku masih awam sama tata bahasa Indonesia, sekedar belajar di sekolah itu pun seadanya. Alhasil gaya penulisan ini terlalu menyatu hehe~
      Tapi ini gak separah dulu, sekarang bentuk dialog dua orang berbeda dalam satu paragraf di FF ku udah berkurang ^^

      Enggak kok ^^, semua aku tampung🙂
      Semangat! ^o^
      Makasih banyak loh udah mampir, stay 2NE yaaa.. ppyong!😀

      1. hiyaaaaa ini gara-gara aku lupa ganti jadinya username itu deh yang masuk. nama penaku Kim Nara and you can call me Nara🙂

        sip sip sama-sama belajar yaaa kita, aku tunggu part selanjutnya🙂

  13. ff-nya oke banget, meski kadang mesti dua kali baca, soalnya gag mudeng pas pertamanyaa .. hehehehe….
    masih sulit ditebak mau kemana arahnya.
    tapi guud job author. fighting!!!!

    1. Oh ya? Makasih🙂
      Nah soal itu, biar aku perbaiki di next scene nya yaaa🙂
      Sip!
      makasih banyak udah mampir, stay 2NE. Ppyong! ^O^

  14. Zikaaaa…aku acungin semua jempolku. Cerita kamu ini bakal beda sama kebanyakan ff lain. Dunia perfilm-an, owww…ga smua orang ngebayangin bikin cerita kyk gini. Ga gampang juga bikinnya, mesti banyak pengetahuan n referensi. Apalagi ntar ada cerita tt pengungkapan misteri kematian, itu susahhhh banget bikinnya pasti.
    Tp, aku nemu beberapa kesalahan kecil…semoga nantinya ff keren ini bisa tambah keren. Aku bikin poin ya biar enak, gpp kan?
    * sedetikpun
    aku bingung, yang bener sedetikpun atau sedetik pun. Yang pernah aku tau, pun itu ditulis nyatu kalo kata depannya : walau, bagaimana, kapan,dimana dsb. Tp aku jg ga yakin sih sama daya ingetku
    *sejujurnya aku suka bingung, siapa sebenernya yg lagi bicara? Meski ekstra konsentrasi biar ga salah ngerti. Tapi kalo udh masuk kasus pembunuhan, bakal tambah pusing klo ga jelas siapa pemilik dialognya.
    * karena Yujin masih mencoba biasa dengan embel-embel…..
    Dlm konteks ini, biasa atau terbiasa?
    * Yujin ingin mencabik pemainnya yang berusan mengangguk….
    Mungkin harusnya barusan
    * asik di lakukan…
    Mungkin harusnya dilakukan
    * (Memang iya!) dan (Aduh, Yujin! Kebiasaan deh, sifat gak mau kalahnya keluar!) atau (Ya ampun, Yujin! Masih aja mikirin gengsi?)
    Mmm, itu semacem author’s note ditengah isi cerita bukan? Ada readers yg pernah bilang ke aku kalau hal2 semacam itu mengganggu. Mending diilangin zik
    * hanya di miliki….
    Di miliki, atau dimiliki?
    * ketidak mengertiannya
    disatuin ga zik?
    * film besar yang di amin…
    Maksudnya dijamin?
    * “70% pembuat….
    Kalo ini aku yakin, dosenku pernah bilang, angka kalau dituliskan diawal kalimat, kita tulis tujuh puluh persen bukan pake angka.
    * sekaligus menyadarkan kamu kalau kamu tidak punya tim inti
    Agak kerasa aneh karena dua ‘kamu’ dipakai, gimana kalau jadi gini: sekaligus menyadarkan kalau kamu….
    * tapikan
    Hmmm, tapikan…agak2 aneh…
    * tersentak kebelakang
    Harusnya ke belakang kan?
    * Registerasi dibuka
    Registrasi mungkin yg bener, aku juga ragu sih
    * saset
    Saset yg dimaksud disini itu sachet kan?

    Sepele sih zik, tp sayang juga mengingat cerita ff ini bakal wow bgd
    Dan, aku mulai ngerti gaya bercerita kamu. Nice, luwes zik…aku ga bisa bikin yg seluwes ini. Mantap lah zik, aku tunggu lanjutanya…
    Oya, mian komenku panjang kyk kereta, bukan menggurui. Tp filosofiku, komentar adalah bentuk kasih sayang readers utk authornya. Semakin panjang makin bagus, apalagi kalo komennya bisa membuat si author makin baik. Aku jarang komen panjang2, jarang komen malah. Tp aku bener2 ngerasa ff ini daebak bgd, aku mau ff ini fenomenal *lebay ya aku*, jadi aku mau menunjukkan kontribusiku sbg reader yg baik, yg ga cuma baca n muji2.
    Ga marah kan zik aku komennya kayak gini?
    Okee zikaaa…semangat terus…aku ga punya nama korea, jd ga ikutan nyumbang cast, hehe…

    1. Bibib oh Habibah eh.. Kak nya ketinggalan😄
      Well, pas lagi ngecek lewat hp, langsung mendelik. ini komen amat sangat niat, ya ampun. Aku tersanjung. Jadi buru-buru buka di komputer

      That’s why… buat bikin 6 part aja, aku menghabiskan waktu satu tahun. Walaupun hasilnya mungkin tidak sesuai sama proses pembuatannya ya, alias hasinya abal. But, this ff is truly my only pride

      1. Yah… mestinya di pisah, namanya manusia, walaupun baca ulang sampe 10x juga pasti tetep ada yang ketinggalan ^^
      4,5,7, 10, 12, 13,14 . Sama, pasti kelewatan juga🙂, dilakukan dan dimiliki yg bener ^^, barusan, dijamin, tapi kan, ke belakang, registrasi,
      2. Ok, kak bibah orang sekian yang mengutarakan soal ketidak mengertian siapa yang bicara. aku akan coba benerin, key? ^^
      3. Biasa.. terbiasa… apa bedanya? Gini deh, kalau buka KBBI, ‘biasa’ sendiri punya beberapa definisi. Yang aku gunain adalah definisi pertama (dasar) yaitu lazim atau umum. Ter-biasa, ter ini kan hanya berperan sebagai imbuhan. Pada dasarnya, secara kaidah, imbuhan ter- ini berfungsi menyatakan ketidaksengajaan. Tapi semua tergantung pada konteks nya.
      Dalam kalimat ini, “Mencoba biasa…” secara gamblang-nya, kalimatnya bisa aja di tulis dengan “mencoba lazim/umum…” sementara kalau kalimatnya “Mencoba terbiasa…” kalau di gambarkan secara gamblang akan jadi “Mencoba sudah lazim/biasa…” ini menurut cara berfikirku loh yaaa…
      Ngerti gak maksudku? Gimana ya…
      Intinya, penggunaan kata biasa di sini adalah umum atau lazim. Bagi paradigma-ku, penggunaan biasa lebih cocok dibanding terbiasa. Tapi kalau seorang ahli menyatakan ‘penggunaannya cocok, hanya kurang tepat’ oke, akan lain cerita. Aku bisa rubah paradigma-ku tentang itu🙂
      6. Nah, untuk yang ini. Hal seperti ini akan di anggap mengganggu kalau jumlahnya kelebihan dari kadar normal. Dalam scene ini, penggunaan ‘kata penulis’ hanya ada.. sekitar dua yah? Iya sekitar itu lah
      Itu pun bener-bener cuma ada di scene ini… scene lain di 2NE, bener-bener gak akan ada. Kalau ditanya, kenapa scene satu di kasih gituan? jawbannya cuma satu…. iseng /ditampar/
      8. Menurut ilmu yang aku dapet, ketidak mengertian udah bener ^^.. justru salah kalau di tulis ketidakmengertian atau ke tidakmengertian.
      10. Yes, yang ini lagi-lagi kesalahan pengeditan. Pada awalnya nih, aku awam sama penulisan angka, terus dapet ilmu kalau angka yang kurang dari dua bilangan mesti ditulis dengan huruf. Jadi kupikir 70% ini bisa aku tulis dengan angka. Terus minggu kemarin sempet baca-baca EYD, ternyata angka yang terletak di awal kalimat harus di tulis dengan hurus, tapi kalau lebih dari dua kalimat lebih baik unsur kalimatnya di rubah. Udah sempet aku rubah kemarin, tapi ternyata gak ke save😦
      11. Yep, aku catat ^^
      15. he-eh, maksudnya sachet, tapi kayaknya emang jariku sering kepleset nih =,= hahaha~

      Totalnya 15 poin ya ^^, lain kali nih kak, kalau mau komen berpoin pake angka yak
      aku pusing bales nya hahaha~
      Sebenernya kalau di bilang gitu, aku malah jadi terbebani. Kesannya semua orang berharap dan yakin ini FF bakalan luar biasa sampai satu katapun gak boleh salah, padahal sebenernya karya ini gak akan seluar biasa itu. Dan aku sebagai orang yang emang gak ahli sama tata bahasa Indonesia jadi makin terbebani😦

      Luwes ya? Menurutku ini malah masih agak kaku.. heemm~
      Ditunggu yaaa😀
      No, it’s really okay with me. Buat ku, semakin panjang komen, akan semakin baik aku menanggapi. Dari dulu, berharap di FF ku ada yang bisa kasih kritk atau saran, gak sekedar muji dan minta aku buat lanjut FF nya. Komen yang kayak gitu sih berharga juga, tapi jatohnya… aku jadi gak berkembang🙂
      Baca itu, aku jadi tersanjung ^^ walaupun aku sendiri orang yang jarang komen apalagi panjang-panjang. Berharap ada yang bisa ngritik atau kasih saran di FF ku, sekarang aku mulai menebarkan komen yang berbobot😄
      Di liat-liat, ini komen terpanjangku walaupun cuma bales komen ^^

      Semangat!! ^o^
      Makasih banyak banget udah mau mampir, apalagi sampe nyinggu segini banyaknya. Berharga banget, semoga.. scene berikutnya bisa lebih baik ^-^
      Hahaha.. gak apa-apa, santai aja~
      Stay 2NE ya kak!! ^o^ ppyong! *peluk*

      1. wew…aku dpt ilmu baru, biasa dan ketidak mengertian, gomawo zikaaa

        sip sip, lain kali pake angka deh aku…hehe

        jgn terbebani juga, jgn juga mikir klo karyamu ini abal, kuliat dari she is my ex wife ke 2NE banyak berubah, ini keren bgd. yang penting ada perkembangan, itu sih prinsipku.

        Manusia kan emg pasti punya salah, typo gapapa zik, hanya meminimalisir. kalo masih ada juga, ya gpp.

        hu’um, aku baca ini mpe 3 kali biar ngerti siapa pemilik dialognya, mungkin gaya seperti ini masih asing bagiku.hehe

        sip…aku mampir lagi ntar di part 3 ^^

        1. Ahhh aku gak merasa ngasih ilmu, aku kan awam… lebih awam dari dirimu kak .__.a

          Tapi perubahannya masih gak stabil😦
          Iyep, i got what you mean🙂

          Sip ^^, part dua kali kak?😀

        2. ketidakmengertian , digabung sayang🙂
          sama kyk pertanggungjawaban..
          klo 2 kata ditambah awalan dan akhiran itu harus disatukan..

          tp kalo bertanggung jawab.. gak disatuin. soalnya kata ‘jawab’ gak ada akhirannya..

          Di miliki, atau dimiliki? – dimiliki

  15. Wow. Masih pemanasan tapi udah oke.
    Suka sama cara mendeskripsikan jjong. Dia jadi berasa berlipat ganda kerennya di sini. Hahaha
    Masih suka bingung siapa yang ngomong dlm dialognya. Tapi setelah dicermati ngerti ^^. Hmm.. jadi belajar baca dengan cara penulisan baru juga.
    Ditunggu kak kelanjutannya ^^
    Eh, itu ada jaksa muncul. Jadi inget jaksa yg di city hunter~ hahaha

  16. KYAAAAAAAAAA namkor yg ku sumbangin kepake.
    kak,aku mau curcol tauuu,itu dongsaeng aku iseng banget ngisi from yg buat GS
    pake nama mr bean katanyaaaa…..
    aaaaaaa nappeun,namppeun,nappeun dongsaeng.
    Mentang2 fans beratnya mr.bean.
    tdinya mau ku sumbangin si siwon,diakan keren banget tuh pas main film iris.
    AAAAAAA*frustasi*

    zika eonn keren deh.
    ngga semua orang bisa bikin ff kyk gini loh.
    salut abis….wlaupun ehm…ada sedikit typo sih.
    aku akan selalu stay 2NE,tenang ajaa…kkkk.
    btw,jae woo ku keren bnget disini,hahahaha.

    suka pas momentnya jjong lgi sama yujin,berantem ga kenal lelah.
    apalagi pas lgi berduaan di bantaran sungai,udah sweet bnget tuh pdahal,,,
    eh si jjong ngerusak suasana.

    bner2 ni ff,bikin aku ketawa sampe harus dibawa ke RSJ *lebeeh*
    oke,FIGHTING kak zikaaa!

    1. Eunri! Hai ^o^
      Hahahha gak apa-apa, cuma agak kaget aja… itu GS ketinggian buat aku
      btw, kenapa aku gak bisa email kamu ya? heeemm~ padahal aku kirim email sebelum scene ini publish ^^

      Hahhaa kalau gitu Siwon entaran aja, buat support cast yang banyak munculnya😀

      Masa? kekekek makasiihh~
      typo.. diwajarin aja lah yaaa hoho
      Keren? Lah.. perasaan cuma dapet dua dialog? ._.a

      Hahaha.. anggep aja itu hiburan di antara deretan adegan gak penting di scene ini😀

      Sip ^O^
      makasih loh udah mampir, stay 2NE ya.. ppyong!😀

  17. :O Part 1-nya udah keluar? Aku ketinggalan == Wah namaku ikutan tuh xD Eonninya mau pake namaku. Hehe makasih ^^ Beberapa komen yg mau aku kasih ternyata udah semua sama bibib eon, yaudah deh hhe. Trus kya beberapa reader yg udah komen di atas, aku juga blm terbiasa baca gaya menulis yg seperti ini. Tapi menurutku si gpp, jdi bkin aku lebih mengenal gaya2 penulisan dan menarik buat aku😀 fighting!

    1. Hahahah gak apa-apa lah ^^
      yg penting Hanin tetep mampir🙂

      Sip, hwaiting!
      Stay 2NE ya Hanin ^-^
      Makasih banyak udah mampir, say *peluk*

  18. HWOOOO?!
    Komennya Bibib panjang banget… envy… hiks
    #upssss
    Sorry, OOT ya?

    Hmm… aku nggak akan komen soal tata tulis atau EYD, biar Bibib aja #PLAK
    Soal paragraf yang bikin bingung juga udah dibahas ‘kan?

    Gini deh.
    Jujur aku sempet kaget waktu mbaca FF ini.
    Gimana ya ngomongnya… (bingung).
    Gaya penulisannya beda banget ama part sebelumnya. Gaya penulisan part ini lebih biasa dipake di genre… comedy?
    Nggak masalah sih, selama Zika yakin bisa mempertahankan benang merah antara cerita di part ini sama ide besar ‘pengungkapan kasus pembunuhan’-nya.

    Trus…
    Sudut pandang penulisan.
    Menurutku, kayak ada semacam ketidak konsistenan.
    Kadang, Zika pake sudut pandang orang pertama (ada kata ganti aku atau -ku di bagian narasi cerita).
    Tapi, di bagian lain, aku ngerasa klo Zika pake sudut pandang orang ketiga (penulis ada di luar sistem).
    Atau… cuma perasaan aku aja? #nyengir

    Udah. Gitu aja.
    Aku yakin, sebenernya Zika bisa bikin yang jauhhhh… lebih keren dari ini!
    SEMANGAT!!

    Btw, kali ini komen-ku ditunggu nggak ya? Hehehe… *angkat-angkat alis*
    Zika : PEDE GILA!! SIAPA LOE?!

    1. Hahaha… karena FF ku banyak yg perlu di kritik Yen
      FF mu kan enggak😀

      Masa sih? Kok aku malah gak ngeh ya?
      Belum pernah ah aku baca cerita komedi yang gaya bahasanya begini ._.a
      Soal itu… dari pertama nulis emang selalu berjuang supaya tetep bisa bertahan😀

      Nah iya…
      Aku sendiri, masih ragu mau pake sudut pandang apa =,=a
      Hahaha.. sampai sekarang, masih bingung lebih baik sudut pandang yang mana
      jadi… yaaa.. di jamin sih selama beberapa scene kedepan sudut pandangnya gak konsisten ._.v
      Ada saran untuk sudut pandang? *nyengir*

      Aku jadi makin ragu kalau Yenni bilang gitu .___.
      Tapi.. SEMANGAT deh😀

      Tetep aku tunggu lah Yen ^^.. aku kira kamu gak bakalan mampir hhahaha~
      Makasih banyak ya udah mau ninggalin jejak😀
      stay 2NE! ^O^ ppyong *peluk*

  19. sbenarnya ceritanya menarik banget
    py maaaaafffff banget aku bingung pas bacanya
    jadinya sering bolak-balik baca lagi
    bnyk kalimat yg ngebingungin ini yg ngomong siapa
    mungkin krna aku blom banyak bca karya author kali ya jadi belom terbiasa sma gaya tulisan author

    and demi apa itu scene jjong and yujin wkt mrka rangkulan (?) itu manis bngt
    kaya orng pacaran
    and jjong pas ngerusak suasana kocak bngt
    padhal itu tuh yg diharapin jjong biar bisa ketahap selanjutnya yaitu kissu kekeke

    1. Heeeemmm… iya iya gak apa apa ^^
      ngerti aku, itu salah akunya yang pake gaya bahasa kurang di mengerti😀

      Seriusan? Kekekeke
      Aku seneng nih kalau banyak yg suka scene itu😄
      Btw, makasih banyak loh udah mau mampir ^^
      Stay 2NE yaaaa, ppyong! ^o^

  20. Ahhhhh…. Aku baru sempet Baca FF inii… Ahhh telat jauh banget yaa….. Hmm…. Pertama mau koment so’al Yujin – Jonghyun… Hubungan mereka itu kayak TTM ya… Si Jjong tetep ajj jahil dan iseng..hehehe

    Banyak hal-hal baru didunia perfilm-an yg aq temui….. Cukup jadi tambahan pengetahuan sihhh….. Tapi nihh,,, mungkin krn masih part awal jadi ceritanya belum fokus.. Aku belum bisa mencerna dan meraba dengan baik arah dari FF ini… #apa aku yg pabo ya….hehehe

    Baiklahh,, saya mau menunggu part lanjutannya… Bakal ada Key .. Yeye… Key muncul….. Penasaran……. Oh iya,,,, aku pengen tahu koleksi mobil2 Jonghyun yg dibilang udd kayak istrinya……hahaha

    1. Hai ^^
      Kurang lebih hahahha… emang aku rencananya mau bikin hubungan mereka kayak gitu😄

      Iyep.. malah setelah aku baca lagi tabungan ff nya… ceritanya baru fokus setelah part 5 =,=a
      Memang belum bisa diraba sih, tapi yang pasti cuma satu… dia mau buka kasus. Udah ^^

      Sip^^
      stay 2NE aja yaaaaa😀, ppyong!
      Makasih banyak udah mampir say ^^ *peluk*

  21. Aku datanggggggggg…
    memenuhi janjiku..

    Baiklah, mari kita mulai mereview FF ini:

    1. Well, sebenarnya cerita kebingungan yg dialami oleh para readers ga akan terjadi jika, dalam satu paragraph tidak ada dua orang yg berbicara -susah ngejelasinnya- tapi kamu ngerti lah ya..

    contoh:

    “Aku tidak punya pilihan lain, perusahaan kita sedang krisis besar.” Kata Jonghyun memelas. “Tapi kan tidak dengan cara seperti itu juga, aku bukan sutradara hebat yang walaupun pemainnya kurang bagus film yang dihasilkan tetap outstanding. Aku ini juga masih belajar, bukan sutradara ahli dan professional.” Protes Yujin tidak terima.

    Nah paragraph itu, itu bisa dijadikan 2 paragraph kan ya sebenarnya?
    Dijadikan 2 paragraph dengan tujuan tidak membingungkan readers.

    Bandingkan:

    “Aku tidak punya pilihan lain, perusahaan kita sedang krisis besar.” Kata Jonghyun memelas.

    “Tapi kan tidak dengan cara seperti itu juga, aku bukan sutradara hebat yang walaupun pemainnya kurang bagus film yang dihasilkan tetap outstanding. Aku ini juga masih belajar, bukan sutradara ahli dan professional.” Protes Yujin tidak terima.

    Beda kan? Kalo susunannya kaya gitu, dijamin ga ada readers yg bilang, ‘bingung siapa yang ngomong apa’

    Ngerti kan poin ku?
    jadi masalahnya di sini, bukan gaya penulisan kamu yg masih jarang dipake -as you said before- tapi masalah susunan paragraph aja. Menurutku ya..

    2. Entah ya ini perasaanku aja, atau memang cerita ini terkesan datar? Atau aku yg lagi mati rasa?
    Jujur emosinya ga ada. [Please jangan bilang, ‘ceritanya kan blm smp k inti, storm’]
    Kalo ga salah, karli atau siapapun ya waktu penilaian FF party..pernah blg ‘kita harus meng-grap attention dari readers di setiap part-nya’.

    Ngerti kan poin ku?

    3. Ehmm.. aku ga bisa bilang di awal, apakah gaya penulisannya sesuai dg genre-nya atau g. Karena anything can happen. tergantung kamu meraciknya gmn. Kita lihat aja di part selanjutnya.

    4. Masalah membuka kasus. Sebenarnya ga akan masalah kalo Yujin cuma mau cari kebenaran kasus. Tapi krn Jonghyun bilang mau bawa jaksa, which means akan mengarah ke pengadilan. Kayaknya aku harus bilang ini.

    Setauku, ada jangka waktu untuk satu kasus ya.
    Pernah denger ini kalimat ini g? ‘Minggu depan kasusnya ditutup.’ Nah itu maksudnya, setauku, kasus itu bener-benar ditutup. Ga akan pernah diangkat lg di pengadilan. -Tolong dikoreksi kalau salah ya..-
    kecuali, kamu ga minat untuk bawa kasus itu di pengadilan, then it’s okay.

    5. Settingnya di ‘Rumah Yujin, Buam-dong’
    sampai di part tertentu, lokasinya memang sesuai di rumah Yujin. Tapi di tengah-tengah ada part ini:

    Sementara itu, di apartemen-nya Jonghyun sedang terkikik riang. Jurus andalannya berhasil, cara untuk memaksa Yujin melakukan sesuatu hanya satu. Remehkan Yujin, dan fiola… dengan kepala berkobar api, Yujin akan menyanggupi apapun dengan menggebu-gebu.

    Tanpa tanda *** atau —–, tanpa pemberitahuan, tiba-tiba paragragh itu ada dengan setting ‘Rumah Yujin, Buam-dong’

    padahal beberapa paragraph di atasnya, mereka masih ada di club espresso.
    Jadi itu sedikit membingungkan bacanya.

    Dapet ya poin ku?

    Oh iya, aku baru ngeh dong, pertama kali baca, genre: mystery.
    sampai setengah halaman, aku masih bingung, ‘nah loh, mana mystery nya nih?’
    hehe.. ternyata di akhir, baru ngerti aku, pengungkapan kasus kematian.

    Ayyyyy.. semoga tidak akan ada fans mu yg kesal dg komentar saya =p

    Okay, gonna see you in the next part.

    ZIKA SEMANGAT!!! ^o^

    1. STORM! Kamu nih ya… kebiasaan banget tidur tengah malem.
      Gak mau lagi ah kalau kamu komen FF ku jam sebelas malem gitu… ngerusak diri nih Storm #ngambek

      1. Iya storm.. yang ini ngerti banget. Dari SMEW aku berjuang keras ngerubah kebiasaan nulis dialog dua pemain dalam satu paragraf TuT … kan gak gampang Storm kalau udah jadi reflek😦 .. maklumin duuunndd hwueee~

      2. Datar, itu tepat. Bikin pembukaannya susah Stooorrrmmmmm T-T … aku aja berjuang ngumpulin mood sama ide2 di otak buat nulis scene satu nya, setelah susah payah nulis sampe lima kali hasilnya tetep begini😦
      Di usahain part berikutnya *walaupun side story* emosinya agak naik yaaa🙂

      3. I got it ^^

      4. Setahuku nih Storm, kasus yang ditutup karena kurangnya bukti dan ketidak jelasan keterangan dari pelaku, korban, atau saksi masih bisa dibuka lagi. Karena biasanya yang minta kasus itu ditutup hanya hakimnya, karena menganggap bukti yang ada udah gak bisa dikembangin lagi.Tergantung pengadilannya dan bukti yang ada. Kalau memang ada bukti yang masih bisa dikembangin dan ada bukti yang pasti, polisi, jaksa, atau salah satu hakim atau bahkan pengadilannya sendiri bisa membuka kembali kasusnya.
      Ini setahuku… masih nanya-nanya lagi sama anak hukum sih. Kurang ngerti juga aku soal ini, tapi menurut yang aku tahu secara awam masih bisa dibuka:/

      5. Menurut yang aku mau.. justru setting yang aku tulis kayak Ruma Yujin bla bla, itu justru pengganti tanda ‘-‘, ‘***’ atau semacamnya
      Kalau dari settingnya dia lagi di rumah terus tahu-tahu ke club espresso itu kan ngalir gak langsung pindah, Jadi menurutku yah… gak perlu ganti settingnya. Karena kan aku ngejelasin Yujinnya mau ke klub espresso, gitu. Apa mestinya setiap pindah tempat aku kasih tanda, gitu?:/

      Mystery gak mesti selalu tegang kan? ^^
      Aku gak punya fans.. woles aja storm ^^

      Thanks loh udah nepatin janji kekeke~
      Makasih juga udah mampir ^o^, stay 2NE! Ppyong *peluk*

  22. Komen lagi ah…. #PLAK

    Klo soal sudut pandang, relatif sih.
    Semua sudut pandang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing.
    Setiap penulis juga punya pendapat berbeda soal ini.
    Intinya sih asal Zika merasa nyaman aja.

    Klo aku pribadi, untuk tema yg perlu detail dan banyak deskripsi, lebih suka ngambil sudut pandang orang ketiga, ‘dia’. Lebih leluasa untuk mengeksplore semua karakter dan kejadian.
    Sebenernya ini justru kelemahanku sih. Klo udah ngambil sudut pandang orang pertama, aku selalu terpaku klo setiap adegan yang diceritain adalah adegan yang melibatkan atau diketahui oleh si ‘aku’. Tapi, sebenernya, ini juga tergantung kreatifitas yg nulis kok. Novel ‘Ayahku (bukan) Pembohong’-nya bang Darwis pake sudut pandang ‘aku’ tapi tetep fleksibel-fleksibel aja tuh.

    Tapi, ada yg bilang (Storm klo nggak salah, hehehe…) sudut pandang orang pertama itu lebih bisa ditarik ke thriller. Rasa penasaran, nebak-nebak ama deg-degan-nya lebih dapet. Kan kasusnya dilihat dari satu sisi aja.
    Trus, Fida jg bilang, POV ‘aku’ bikin narasi lebih bebas dan puas, plus feel-nya jg dapet.

    Haduh! Aku nggak bisa kasih saran yg bagus buat kasus POV ini.
    Dirimu kenal Fida Husnia nggak? Dia pakarnya tuh!
    Gini aja, klo dirimu bener-bener pengen belajar nulis, kusaranin coba buka Fanpage-nya SCF di FB. Di sana banyak tips-tips nulis yang (menurutku) keren!
    Sorry nggak bisa ngasih link, takut komenku dianggep spam.

    Nimbrung soal mbuka kasus.
    Setauku, setiap kasus punya masa kedaluarsa.
    Istilah hukumnya (klo nggak salah, kekeke…) tenggang daluarsa penuntutan alias statute of limitations. Lamanya tergantung berat ringannya kasus. Juga tergantung ama negaranya. Di Indonesia, kasus pidana, ada di Pasal 78 (ayat berapalah gitu) ama Pasal 79 KUHP.
    Nggak tau deh klo di Korea sono.

    ZIKA!! SEMANGAT!!

    Eh, lupa. Satu lagi. Aku nggak suka dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium.
    Kecuali… ama bang Ji Yong #PLAK #GUBRAKK!!

    1. aku nimbrung boleh yaaa
      aku tau fida husnie…tapi ga tw SCF apa, emg apa itu yen?

      jd tertarik juga ama masa kadaluarsa kasus.
      aku sih emgga tau yg bener kyk apa, tp temenku pernah liat drama korea, katanya disitu ada kasus yg ditutup krn udh ga ada bukti yg bs dikembangin, tp 25 th kemudian kasus itu dibuka lg krn muncul seorang saksi. jd kesimpulannya, mungkinloh ya ini….kasus bs dibuka lg klo ada bukti yg bisa dikembangin.

      eh yen, aku mau dong ngobrol bnyk ama km, kyana km bnyk ilmunya niii, mau nimrung di page 24/7 (salah ga?) tp minder

      1. Ya ampun, kok kalian baik banget sih?
        Hahahha… seneng aku jadinya kalau ada yang sampai mampir dua kali terus berbagi ilmu gini hohoho~

        Yen, soal POV nya itu… beehhh… mataku lagi karatan nih, otakku juga lagi ngehang jadi aku pikirin entar ya..
        yang pasti gini. Aku pernah baca, karya siapa gitu lupa. Dalam novelnya itu dia ngambil sudut pandang orang ketiga yang mengetahui semua, tapi juga menyebutkan dirinya sebagai aku. Di sini, kata temenku si penulis adalah orang di luar cerita yang tahu segalanya dan menceritakan kepada pembaca
        Ngerti gak maksudku? Aku sih gak ngerti aku nyampeinnya ngaco apa enggak hahaha..
        pokoknya, jadi bisa aja penulis ini berlaku sebagai si orang ketiga serba tahu, di luar cerita, tapi menyebut dirinya sebagai ‘aku’ yang menceritakan ceritanya kepada pembacanya *makin ngaco deh Zika…*

        Fida Husnia? Gak kenal aku =,= taunya afida husniya *ditampar* hahaha~
        SCF? Aaahh aku udah mampir, makasih ^o^
        Kak Bibah.. SCF itu Stories Called Fanfiction.. coba aja cari di FB pasti ada ^^

        Nah, sekarang soal kasus nih
        Gini.. setahu ku, di negara manapun, ini setahuku yaaa
        Kasus yang masuk ke dalam kasus HAM, gak punya masa kadaluarsa
        Di Indonesia, kasus terberat masa kadaluarsanya sekitar 12 tahun kalau gak salah
        Seperti yang dibilang kak bibah juga
        Sekali lagi, setahuku ya, kasus yang di tutup tanpa adanya saksi dan bukti yang jelas, masih bisa dibuka kembali asalkan saksi pasti di dapatkan plus buktinya ^^

        Suka Ji Yong? Eseeeee… kayaknya aku mesti wanti-wanti kamu gak baca scene lima nih. Bisa gawat kalo fans nya bang Ji Yong baca *siap2 ngumpet* kekeke~

        Btw, kak Bibah… page 24/7 .. apaan itu?

        Eh iya, kalian… makasih udah mau mampir lagi, nambahin ilmu ku sekaligus bikin pusing hahahha~
        Alamat bakalan lama publish scene dua nih… edit lagi edit lagiiiiii~ *terbang ke kasur*
        Dadah ^o^

        1. iya iya zik, aku juga pernah diceritain sama temenku yg suka nulis, katany emang ada sudut pandangsejenis itu. seolah ada tokoh aku di luar cerita yg tau segalanya dan ngejelasin k pembaca.
          baru bgd ngobrol ama dia 2 hari lalu, makanya aku ga protes sama sudut pandangnya, meskipun emg aneh.

          kayaknya klo aku sering baca2 komen storm ama yen bakal dpt ilmu banyak yah, hehe…

          ooo, mau juga ah maen ke SCF

          24/7 itu nama page di blog-nya yen, isinya cuap2 bermutu (?), bahas apa aja. tp aku terkesan ama topiknya, banyak ilmunya.

  23. hanya satu kata : keren.
    tapi tadi ada beberapa paragaraf yang bingung ini siapa yang ngomong sebenarnya ._.v

    penasaraaaaan. ditunggu kelanjutannya eonni😀

  24. Yah.. kotak dialog komennya udah limit hahahah~
    Btw, semoga obrolan kita disini gak OOT ^^

    Kak Bibah: Aaaahh bener ya, berarti ada🙂
    Cuma jarang ditemukan aja ^^

    Hahaha.. namanya juga orang rajin baca, begitu lah *loh? Kok gak nyambung?*
    Bergelut sama orang sosial ilmunya lebih banyak dari orang alam (?) hahaha~

    Aaaahh maksudnya page 24/7 Free itu? Aku pernah mampir sih.. cuma sekedar gak sengaja buka kekeke~😀

  25. Bwahhh don’t you worry about meeee *nyanyi
    Tenanglahhhh.. aku ini gadis malam. Jadi dah biasa hehehe..

    ZIKAAAAAAAAAA Check email SF3S, subject: teruntuk zika

    baiklah, mari kita tanggapi poin-poin balasanmu hehehe:

    1. Kalo begitu kamu butuh beta reader. kamu ga bisa nulis sendiri berarti. soalnya kalo dari diri kamu masih sering lupaan gitu, padahal dah diingetin, ya.. berarti masalah ada di dirimu, jadi pake beta reader aja Zi. Biar g penuh dengan komen, ‘bingung onnie..’ hehehe

    3. mencakup semua komen ttg tenggang daluarsa penuntutan, sebenarnya kita ga bisa ngomong ya.. karena kita bukan anak hukum yg ngerti dg klausul2 itu. jadi kita juga g bisa ngotot, bisa kok karena alasan a,b,c,d. Atau ga bisa dong kan alasannya e,f,g,h. Karena kita juga g punya dasar kan?

    even, sudah ada klausul -just like Yen said pasal 78&79 KUHP- kita juga g bisa artiin pasal tersebut kan? siapa tau cara mengartikan kita beda dg artian hukum sebenarnya? ya kan? hehehe..

    Saranku gini, kamu daripada bikin kasus baru, mending cari kasus yg ada, terus diadaptasi ke cerita kamu. jadi kamu lebih ngerti apa yg harus dilakukan sama kasus tersebut. ceritanya juga lebih bisa diterima. ya kan?

    atau daripada nyontoh kasus dari k-drama yg blm tentu bisa reliable, mending cari contoh kasus aja lah..

    5. Zika g dapet poin ku nih. Check email SF3Si dg subject ‘teruntuk zika’ okay?

    additional poin.

    1. anyway, aku g sangka kamu inget kata-kata ku Yen mwahahaha.. sudut pandang ‘aku’ lebih okay untuk cerita ‘tebak-tebak buah manggis’.
    tapi masalahnya kita kan ga tau Zika mau tebak-tebak buah manggis atau g? ya kan? siapa tau cuma ngungkapin kasus aja. Ya kan?

    2. Zika jangan main rasis jurusan yaaaa…jitak nih.. itu namanya membatasi diri tau, blm tentu jurusan alam g tau hal-hal yg berbau sosial. g update dengan berita. jadi jangan bikin batasan lah.. nanti diketawain kodok loh hehehe..

    3. sudut pandang apa ya itu yg bibib, kamu, dan Yen bicarakan, aku ga ngerti. Jadi g ikutan ngomong mwehehehe..

    OKAY! Jangan lupa check email SF3SI ya..

    Semangat!!

    1. I know.. tapi kan bukan berarti biasa itu harus diterusin DX
      Duh, kena marah deh aku.. mestinya langsung aja kamu send ke email ku hhhmmm~

      1. Mau berjuang sendiriiiii~ *ngotot*

      3. Ini bikin aku jadi agak burdensome ya… somehow feelin like want to giving up
      Tahu gini gak bikin FF yang pake kasus-kasusan deh #tendang meja
      Soal saran kamu, itu emang yang aku lakuin storm. Sebelum publish FF ini.. aku udah cari kasus, meski itu kasus sekedar ada di film atau berita yang gak terlalu jelas. Aku udah mewanti-wanti kok. Makanya.. ngeliat komenmu ngebahas hukumnya, di tambah Yen lagi… aku malah jadi lost T.T

      additional point
      1. Kalau ditanya soal tebak-tebak buah manggisnya… eeemmm.. iya gak ya? Aku juga bingung.. kayaknya sih iya ._.a
      hahaha

      2. Aku bercanda Stooorrrmmm~ hahaha~
      Gak lucu ya tapi? Iya deeehhh.. ampun~

      Semangat ^o^b

    2. Don’t give up Zika🙂
      Begitu banyaknya comment dan masukan ini buat kamu menandakan kalo reaader itu menaruh perhatian yang lebih sama FF kamu. Maybe banyak yang ngeliat potensi besar dari kamu makanya mereka berlomba-lomba untuk memberi saran untuk kamu, supaya kamu bisa lebih maju lagi.
      Semangat terus! Hayo prok prok wussssh~😀

      1. hiyaaa aku udah mampir dan comment juga sebenernya tapi unamenya lupa diganti jadinya yang nampil ‘sevenstrawberry’ tuh yang di atas *nunjuk-nunjuk* hehehe

  26. Zikaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…
    Akhirnya aku bisa komen juga huhhh..
    BTW makasiiiihhh namaku dipake. Tapi namanya kan aku udah ganti Han Hye Jin #abaikan
    Oke lanjut ke komen.
    Hmmm ide cerita yang kamu suguhin bagus banget.. tentang perfilman. Ini menurutku cukup susah buat dibayangin😀 Dan jarang yang kepikiran buat cerita tentang dunia perfilman ini di dalam tulisan.
    Boleh jujur gak? Ini ceritanya gak sesuai sama yang aku bayangin waktu di teaser. Yah mungkin cara penyampaian kamunya kurang greget gitu buat aku. Penyampaiannya berasa kurang gitu mungkin karena terburu2 atau karena apa aku nggak tau.
    Boleh saran gak? setiap nulis mendingan dibuat dulu kasarnya terus bisa diteliti dulu dari situ nah baru deh setelah itu bisa buat yang utuh. Yah ini sih cara aku nulis, tapi biasanya dengan cara gitu bisa lebih kearah gitu ceritanya.
    Dan setiap bikin cerita utuhnya mendingan kamu fokusin ke ceritanya, bener2 kamu dalemin tuh cerita dan cari banyak info tentang apa yang bakal kamu tulis.
    Dan untuk dapetin feel cerita kamu harus bener2 dalamin karakter tokohnya.
    Disini aku nggak bener2 bisa nangkep arah ceritanya. Aku ngerasa ini cerita hambar banget -_- Mianhaeyo😦
    Tapi tetep semangat yaaa zikaaaaaa, aku harap part selanjutnya bisa lebih baik!!! Aku liat juga yang komen banyak yang kasih masukan. Hmm untuk penulisan kayanya udah banyak juga yang protes, jadi aku nggak perlu yah hehe.
    Udah ah aku juga masih awam. Semoga membantu Zikaaaa!!!!!!! Semangat yaaaaa!!!!!!

    1. Ya tuhan.. padahal di word udah aku ganti jadi Hye Jin loh.. scene lain juga Hye Jin. Aku baru ngeh aja🙂 .. maaf yaaa~

      Mungkin kamu-nya yang terlalu masang ekspektasi tinggi ^^
      di foreword emang kesannya FF ini bakalan berat gimana gitu. Tapikan di Teasernya enggak ^^ … di teaser itu bentuk tulisannya cenderung ringan kan?
      Soal hambar nya iya…
      Storm juga udah bilang dia ngerasa scene ini datar, aku juga sama. Mungkin karena masih pembuka, jadi masih kurang greget. Walaupun di scene lain juga udah aku tulis ulang tetep aja aku ngerasa flat banget
      Entah karena skill ku menurun, atau aku gak bakat bangun feel di FF selain romance atau apa aku gak ngerti
      Aku udah nulis FF ini sampai sekian scene jadi, gak mungkin dong aku hapus terus ngulang lagi sesuai saran kamu. Lagi pula sebelum publish aku selalu ngelakuin itu kok, bahkan mungkin itu udah kayak reflek, jadi gak perlu di saranin😀

      Tapi makasih banyak loh masukan sama koreksi nya ^^
      Kalo menurutmu reaksi ku agak nyebelin… maklum ya, otakku lagi penuh sama deadline yang gak selesai-selesai😀 … gak ada niatan buat kesel sama komen kamu. Serius😀

      Kalo next scene-nya menurut kamu masih hambar, langsung protes aja ya… kayaknya emang aku lagi mati rasa kali ya? =.=a .. udah di tulis ulang sekian kali juga teteeeepp aja berasa hambar😦

      Sekali lagi makasih banyak loohh ^o^
      stay 2NE, ppyong!

      1. Sippp kok aku ngerti zikaaaa…
        yah aku juga gak suruh ulang, yang udah di tulis yaudah tapi selanjutnya coba bangun buat lebih mendalam lagi ceritanya, semangaaat!!! semua punya kekurangan dan kelebihan kok jadi santai aja yaaa. semangat!! jangan menyerah. okeee (y)

  27. aduhh maap baru baca thor😦

    pertama2nya aku agak gk ngrti ama bahasanya hehe soalnya susunan kata dalam stiap kalimatnya agak trlalu ribet *menurutku*
    ngakak pas baca dialog jjong yg tnpa spasi X) wkwkwk prjanjian macem mana pula itu haha
    blum ada konflik ya thor? Gk sabar nunggunya xixi
    ahhh.. Gak tau harus ngomong apa lagi.. Daebak!! Aku suka pke banget!!😀
    Ceritanya pasti seru!!! Ditunggu klanjutannya thor😀

  28. huwaaaaa
    awall aku baca belum mengerti soalnya kadang tidak terlalu jelas siapa yang ngomong ? eh ~
    tapi pas ‘Sore Hari, Bucheon Fantastic Studio’ aku udah ngerti telat banget yah kkkk😄
    eonn gak tau aku yg ngerasa apa emang gitu terkadang ada bagian dialog yang ucapanya Formal banget terus jadi ke unformal itu aku rasa dialog nya jjong tapi mungkin persaan aku aja kkkk😄
    overall aku suka banget sama ceritanya walaupun di awal aku masih kurang ngerti kkk Xd *kelewat babo sih -_-

  29. minder baca komen-komen di atas ini….. panjang semua.
    aku pendek aja, cuma sering ketuker krn namanya agak mirip-mirip🙂

  30. wuuuuuuuuuua aku telat baca ToT tadi liat udah chap 3… sebelum baca yang ketiga mending baca dari awal hahaha (?)

    awalnya aku bingung pake bgt loh, mukaku pas baca teaser—>o_O

    tapi setelah baca chap 1 aku agak ngerti dikit2 hihi #plak

    jadi intinya ini cerita tentang dunia perfilman gitu ya? aku sih buta soal perfilman hihihi
    tapi aku seneng baca ff ini… soalnya aku baru kali ini baca ff yang begini ^^

    Fighting Zika eon😀
    *aku manggilnya eon kah? aku gatau takut salah* #abaikan

  31. akhirnya punya waktu juga baca part 1 nya, huahaha #soksibuk
    ya ampuuun, tulisannya emang gayany zika bangeet, panjang, detail, merasa sayang untuk dilewatkan satu kalimat pun.
    sebenarny, saya gak terlalu ngerti sama scene yang soal rapat itu. maklum, otak cetek cuman ngerti yang simple-simple ajah, kkk
    ada le joon! Ya ampuuuun! itu suamiku nongol juga, dan jjong si mesum itu telah menistakan pipi joonku! Tapi serius, saya gak berenti ngakak pas baca scene ini. hahahha
    tapi main husbandku si jinki cuman nongol namanya ajaa, hhhh
    okelah, next part next part! saya tidak sabar!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s