Faces In Disguise Side Story : Kim Yeonni

Faces In Disguise Side Story : Kim Yeonni

Author : Raquel Leoni a.k.a. Kim Yeonni

Title :  Faces In Disguise Side Story : Kim Yeonni

Main Cast : Kim Yeonni, Choi Minho, Lee Taemin as Choi Taemin

Support Cast : ParkHyujin

Genre : Life, Family, Bro-com (Brother Complex), Romance

Length : Tetralogy (Trilogy – and one side story)

Rated : PG-13

A/N : Karena kasian Yeonni-nya berasa digantung sama Taemin, saya buat side story-nya deh. Hehehe, sorry for typos and ambiguity. I try my best. Please comment and give me critics! Do not be a copycat. Be a good reader, please J

Annyeong, aku Yeonni. Kalian tahu aku kan? Aku tahu Minho oppa sudah cerita pada kalian. Darimana aku tahu? Kalian akan menemukan jawabannya disini. Shht, Let’s be a good reader and don’t hurt Author’s heart by be a silent reader, she’ll get sad.

Ini adalah ceritaku. cerita yang tak kutahu akan berakhir bagaimana karena aku tak peduli akan hal itu. Mendiang ibuku bilang, nikmatilah hari ini dan berusahalah untuk hari esok. Dengan memegang kata-kata ibuku aku menjalani ceritaku. Ceritaku adalah sebuah kenikmatan bagiku, aku yang memainkannya, aku yang menjalankan perannya, aku yang mengendalikan semuanya. Apalagi dengan kemampuan yang kumiliki ini.

 

*****

‘Aku suka padanya, tapi apa daya dia tak mau melirik pecundang sepertiku’

‘Lihat saja, suatu hari kau akan kubalas, sakit hati ini sudah terlalu lama dipendam’

‘Semoga dia suka dengan kejutanku!’

‘Apa guru pelajaran berikutnya akan datang? Aku mengantuk’

Seperti itu lagi. Realitas, selalu sama. Hanya berputar di satu tempat  dan tak berarti apa-apa. Tak ada yang terlalu bergenre action, romance, sci-fi, suspense. Hambar. Tak ada rasanya.

Aku memperluas jangkauanku hingga melingkupi satu kelas. Kelas yang kudiami sekarang 10-B. Kelas hambar yang mempunyai cerita cukup lengkap, mulai dari cinta bertepuk sebelah tangan, bullying, hingga- tunggu! Siapa dia?

Laki-laki, rambutnya cukup tebal dan panjang untuk ukuran anak seusianya, coklat. Kulitnya putih dan badannya langsing. Dia sedang membaca buku dengan kacamata yang hampir sama dengan kacamata yang kukenakan. Pakaiannya? Tentu sama denganku karena kami memakai seragam sekolah kami. Setidaknya itulah yang kulihat. Tapi langkanya, dia tak bisa kubaca.

Aku menguatkan kemampuanku, memperdalam dan memfokuskan jangkauanku hanya pada anak laki-laki itu. “Uuugh..” aku mengerang, peluhku bercucuran karena aku menggunakan kekuatanku terlalu besar. Tapi apa hasilnya? Nihil.

“Yeonni, gwaenchanayo? Kau pucat sekali.”

Ah, kaget aku. Hyujin sudah berada di depanku ternyata sambil menatapku cemas.

“Gwaenchana, Hyu.” Aku memasang senyum sekenanya. Aku melihat ke tempat si anak lelaki tadi, tapi dia sudah tak ada di tempatnya. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh kelas. ah, dia sedang berjalan keluar kelas.

“Kau mencari siapa? Taemin?” Hyujin menatapku bingung, dia menyodorkan selembar tisu padaku. Keringatku masih mengalir, kuambil tisu di tangan Hyujin dan menyeka keringatku.

“Thanks. Siapa Taemin?” aku malah bertanya balik.

“Laki-laki yang daritadi kau perhatikan hingga keningmu berkerut.” Hyujin menekankan pada kata ‘perhatikan’ sampai akhirnya dia tersenyum jahil. Aku sudah tau apa yang akan dikatakannya.

“Ani, aku tak menyukainya Hyujin. Aku saja baru tahu namanya sekarang.” ralatku.

“Eh? Kemana kau tadi pagi saat dia memperkenalkan diri?” Hyejin mengerutkan keningnya.

“Tidur. Semalam aku begadang nonton tiga film. Hehehe..” jawabku. Aku baru menyewa film kemarin dan benar-benar penasaran dengan jalan ceritanya. Apa lebih menarik dari cerita-cerita yang kubaca dari pikiran orang-orang? Dan benar saja, ceritanya bagus!

“Ah, aku penasaran dengan Tae-, apa namanya tadi? Aku kejar dia ya Hyujin! Mau ikut?” ajakku. Dia menggeleng.

“Namanya Taemin. Tidak, kau saja. Kau benar-benar jatuh padanya ya Yeonni. Haha, Fighting!” dia tertawa puas melihatku cemberut. Aku tak memedulikannya,Aku penasaran pada si Taemin ini. Aha, itu dia. Dia berbelok menuju taman belakang sekolah. Aku menguntitnya dari belakang. Dia duduk di rumput. Menengadah ke langit dan menutup matanya. Sepertinya dia sangat menikmati hembusan angin yang menerpa wajah manisnya itu. He? Manis?

“Aku tahu kau disitu, keluarlah.” He? Dia bicara padaku? Aku keluar dari tempat persembunyianku. Berjalan mendekat padanya lalu duduk di sebelahnya. Hening. Aku mencoba membacanya tapi tetap saja tak ada hasilnya. Aku menyerah.

“Disini nyaman kan?” katanya membuka percakapan. Matanya masih tertutup dan dia masih menengadah ke langit. Wangi tubuhnya tercium karena hembusan angin. Aku menatapnya bingung. Dia ini orang yang tak bisa ditebak! Hhh, mungkin karena aku tak bisa melihat pikirannya?

“Aku Taemin, kau sekelas denganku ya? Tadi kulihat kau tidur saat aku memperkenalkan diri.” Akhirnya dia menyelesaikan pertapaannya itu, dia menatap wajahku dan tersenyum.

“Ah? Hahaha.. iya, maaf jika membuatmu tersinggung.” Aku menjawabnya dengan kaku. Tak terbiasa dengan orang baru yang bersikap ramah.

“Kau belum menyebutkan namamu.”

“Ah, iya maaf lagi. Namaku Kim Yeonni.” Aku memutar-mutar rumput yang tadi kucabut dari akarnya.

“Senang berkenalan denganmu, Yeonni-ya.” Taemin tersenyum dan mengacak-ngacak rambutku. Aku balas tersenyum malu-malu padanya. Jantungku berdegup kencaang! Astaga, anak ini manis sekali. Tapi tetap saja aku bingung kenapa aku tak bisa membaca otaknya.

*****

“Aku tadi membentak Minho-hyung lagi.” ujar Taemin cemas, setelah dia menyeruput banana milkshakenya di café tempat kami selalu bertemu.

Ya, kami sudah menjadi teman akrab. Teman yang sangat akrab. Dia menceritakan keluh kesahnya, cerita hidupnya selama ini. Bagaimana dia dan hyung-nya ditinggal eomma mereka. Appa mereka yang menghilang entah kemana. appa mereka yang mereka bilang pembunuh. Dia memintaku menjadi partnernya untuk menguak siapa dan latarbelakang appanya. Dia bilang dia ingin balas dendam.

Selama ini juga aku menemani Taemin –dengan mobilku- pergi ke perusahaan tempat appanya bekerja. Aku sangat kaget saat tahu ternyata perusahaannya sama dengan tempat appaku bekerja sekarang. Yah, aku tak mungkin menolak permintaannya. Aku suka padanya.

Eh? Apa barusan aku bilang aku suka padanya? Hmm, baiklah, aku memang suka padanya. Suka sekali! Dia manis dan membuatku selalu tersenyum. Dan aku sangat sedih melihatnya terpuruk seperti ini. Dia sangat sayang pada hyungnya, dan dia takut hyungnya benci padanya karena tingkahnya ini.

“Lalu kenapa kau selalu membentaknya? Dia kan baik padamu, Tae.”

“Tapi aku tak mau dia tahu tentang kegiatan kita yang selalu menyelundup ke perusahaan appa.” Taemin beralasan. Alasan yang sama saat aku bertanya hal yang sama. Menurutku apa salahnya? Toh dia kan hyung yang baik, sepanjang Taemin bercerita tentangnya.

“Ya sudah, kapan kau akan memberitahunya?” dia harus segera memberitahu hyungnya, kalau tidak cerita ini akan berakhir tidak menyenangkan.

“Nanti, saat kita sudah benar-benar yakin kita akan menang melawan mereka, punya persenjataan yang cukup dan waktu yang tepat. Bantu aku lagi ya Yeonni. Jebaaal~” dia beraegyo di depanku. Ah, aku tak bisa menolak kalau dia sudah begini. Neomu kyeoptaaa~

“Iya Taemin, iya. Kau tahu aku suka padamu Tae.” Aku menyatakan perasaanku. Hmm kalau dihitung, sepertinya ini sudah kali ke delapan puluh aku menyatakan perasaanku seperti ini.

“Ahaha, ini baru Yeonni-ku.” Taemin tersenyum lalu mengacak rambutku. Aku hanya tersenyum sekenanya. Dia selalu meresponnya seperti ini. Sudah biasa. Selama dia tidak jauh dariku, aku puas masih bisa menjadi sahabat terbaiknnya.

“Kau mau kuberikan pistolku?”

“Nanti saja, saat ini aku belum butuh.”

“Jadi kita pergi ke Choi’s Inc. lagi?” tanyaku.

“Tentu, kita harus mencari kelemahan penjagaan perusahaan sialan itu.” Taemin mengeraskan kepalan tangannya.

“Walau kau selalu babak belur dibuat kedua bodyguard itu?”

“Ya. Itu tak masalah, Minho-hyung selalu mengobati lukaku kok.” Dia tersenyum. Sangat bangga pada hyungnya itu. Aku sendiri tidak tahu bagaimana rupa Minho-hyungnya itu.

“Hyungmu itu, seperti apa?” tanyaku penasaran.

“Kau pasti akan kagum melihatnya! Dia tampan, tinggi, keren, cool dan sangaaat ramah.”

Wowowo, aku jadi tambah penasaran. Kapan ya aku bisa melihatnya?

*****

“Aish, lama sekali sih Taemin!” aku sedang menunggu di dalam mobil merahku di taman dekat apartemennya. Menunggunya dan hyungnya. Dia bilang, hari ini dia akan menjalankan aksinya bersama hyungnya.

Ceklek~ pintu mobilku terbuka. Aku melihat Taemin duduk di jok belakang dan seorang namja tinggi dan tampan duduk di sebelahku. Apa ini yang di sebut oleh Taemin ‘hyung’?

“Kyaaa~ jadi ini hyung-mu Tae? Ini Choi Minho kakak laki-laki Choi Taemin? Astaga, tampan sekali! Tinggi sekali! Keren sekali! Boleh aku memanggilmu oppa?” aku melonjak-lonjak di tempat dudukku seperti kelinci. Sedangkan Taemin yang ditanya hanya memutarkan bola matanya.

“Boleh. Tapi kalau boleh tahu, kau ini siapa ya?”  Minho oppa tersenyum menggantikan Taemin menjawab pertanyaanku.

“Kim Yeonni imnida,” aku tersenyum lalu menatap dalam mata Minho oppa memohon, mungkin dia akan mengizinkan aku berpacaran dengan Taemin? Kekeke, “Aku yeojachingunya Taemin, oppa! Apa aku direstui olehmu?” senyum Minho oppa mendadak hilang.

Apa? Taemin punya pacar?!

Wah, suara otaknya jelas sekali kubaca.

“Ani hyung! Jangan percaya olehnya! Yeonni! Jangan ngomong yang nggak-nggak!” Taemin menyela langsung dan mendorong kepalaku. Aku tersinggung. Memangnya salah ya? Issh, seandainya aku tahu apa isi pikiranmu, aku takkan seperti ini juga Tae. Aku menatap jalanan, sedih karena perkataan Tamin tadi, aku seperti tidak diinginkan.

“Ah, iya hahaha. Aku bercanda kok oppa. Tenang saja aku bukan yeojachingunya Taemin kok. Cuma sahabat. Hahaha..” airmataku tertahan dipelupuk mataku. Aku iseng menggaruk kepalaku dan membenarkan rambutku yang acak-acakan. Aku memakai kesempatan itu untuk menyeka airmataku.

Ah, dia memakai kesempatan itu untuk menyeka airmatanya tadi supaya tak terlihat oleh Taemin maupun olehku sepertinya. Padahal dari tempatku terlihat jelas.

 

Entah kenapa pikiran Minho oppa jelas sekali kubaca. Mungkinkah dia orang yang pikirannya mirip-mirip denganku?

Aku melajukan mobilku menuju Seoul, ke perusahaan appa. Namja tampan di sebelahku memang diam saja daritadi. Tapi pikirannya berisik sekali! Sepertinya Taemin belum menceritakan apa-apa padanya, berarti ini tugasku nanti.

Tak lama, aku masuk ke perusahaan itu dengan penyamaran sempurna dari Minho oppa dan Taemin. Aku mencoba memarkirkan mobilku di sisi belakang gedung yang tak terlihat orang-orang. Setelah itu Taemin pergi mengecek ke dalam, sesuai dugaanku Minho oppa cemas sekali saat Taemin pergi. Aku menjelaskan misi sekarang sajalah.

“Kita akan -ah- maksudnya kalian akan menguak siapa pembunuh eomma kalian. Aku hanya membantu saja.” Jelasku sambil mengambil air mineral, meneguknya lalu kembali menatap mata Minho oppa, “Oppa sayang sekali ya sama Taemin?” Minho oppa agak terlonjak dengan pertanyaanku barusan.

How can she know me in thirty minutes?

“Hahaha, oppa tak usah kaget. Tadi wajah oppa benar-benar berubah saat aku bilang aku ini pacarnya Taemin. Dalam sekejap aku tahu, bahwa oppa sangat sayang padanya. Dan dari gerak-gerik oppa yang selalu melihat Taemin, menatapnya penuh arti dan mengkhawatirkannya. Aku makin yakin bahwa rasa sayang oppa pada Taemin sangatlah besar. Aku yakin sekali oppa akan merelakan nyawa hanya untuk Taemin.”

Dia seorang mind reader ya? Aku mendengar suara otaknya lagi. “How did you know that?” tanyanya. Hahaha, kau seratus persen tepat oppa. DAEBAK!

“Kenapa kau menangis tadi?” Minho bertanya lagi. I was really curious about this girl, otaknya berbicara.

“Aku juga tidak tahu oppa. Saat aku bilang kalau aku ini pacar Taemin padamu, dia bilang ‘jangan bicara yang nggak-nggak’ dan mendorong kepalaku hatiku sakit sekali. Padahal biasanya dia hanya tersenyum dan berkata ‘Yeonni-ku’ atau ‘Yeonni bodoh’ sambil mengacak rambutku begitu. Walau aku tahu dia sama sekali tidak menyukaiku. Seketika aku tahu dia itu sangat menyayangi kau oppa. Sampai dia tak mau kau salah paham.”

“Kau benar-benar menyukainya?” Minho oppa bertanya. Aku tersenyum pahit.

“Sebesar apapun aku menyukainya, aku takkan menang darimu oppa.” aku malah membuat pernyataan seperti itu. Sekarang malah pipinya yang memerah.

*****

Taemin dan Minho oppa sedang berjuang di dalam sana. Aku keluar dari mobilku sekarang, hendak melaksanakan tugasku. Tugas yang lumayan penting.

Aku tadi sudah memberi salah satu senjataku pada Minho oppa. Dia kaget sekali saat aku mengeluarkan benda itu, reaksinya sama seperti Taemin saat kukatakan kalau di gudang rumahku aku punya berbagai macam jenis senjata. Dan benar saja, Taemin jatuh terduduk saat melihat gudang rumahku.

Kenapa kau punya banyak sekali senjata, Yeonni? Siapa kau sebenarnya?

Aku? Aku Kim Yeonni.

Lalu?

Appaku mantan CIA.

Keren!

Jadi dia membawa banyak persediaan senjata, karena banyak mafia-mafia dendam padanya. Salah satu korban dendam mereka adalah eommaku. Jadi sekarang appa memberiku kebebasan memakai senjata-senjata ini, untuk melindungi diri. Aku juga diajari Taekwondo oleh Appa, aku sudah sabuk hitam lho!

 

Aku berjalan sembunyi-sembunyi menuju pintu masuk Choi’s Inc. aku mengganti pakaianku dengan pakaian elastis serba hitam, supaya mudah untuk mengecoh para penjaga dan mudah bergerak.

Tugasku cukup mudah, aku hanya perlu membuat ‘sedikit’ keributan untuk mengecoh mereka. Aku mengambil bom kecil yang kutemukan di gudang. Kupasang detonatornya agar bom itu segera meledak saat menyentuh tanah. Aku bersembunyi di salah satu pilar dan secepat kilat menusukkan kedua jariku ke daerah vital dua penjaga di belakangku. Saat kurasa suasana sudah cukup sepi, aku melemparkan bom itu jauh-jauh dan..

DUAR!

Lobi perusahaan hancur dan dipenuhi asap, aku memakai maskerku dan berjalan kedalam cepat-cepat. Membuat para penjaga-penjaga yang kutemui lemas tak berdaya karena menusuk daerah vital mereka dengan kedua jariku. Aku keluar lewat pintu belakang setelah merasa cukup menjatuhkan banyak penjaga.

Hening. Tak ada alarm berbunyi seperti biasa. Kenapa? Karena aku telah melumpuhkan kamera-kamera pengintai dan alarm-alarm yang ada. Demi kenyamanan usaha Taemin dan Minho oppa. Hhh, apa harusnya appa merekomendasikanku jadi anggota CIA juga? Hahaha.

Oke, setelah ini tinggal usaha kalian berdua yang membuat misi ini sukses Taemin, Minho oppa. Aku tunggu di mobil!

Oh iya, setelah itu Taemin dan Minho oppa masuk mobilku ditemani satu orang yang sangat pucat dan lemas. Sepertinya ini appa mereka? Berarti mereka berhasil yeey!

Ya, aku senang bisa membantu mereka. Setidaknya ceritaku agak berwarna karena kejadian ini. Apa yang terjadi esok hari ya?

******

Ting tong~

“Ne… Tunggu sebentar.” Aku segera berlari ke arah pintu rumahku. Siapa ya yang datang? Ini kan bukan weekend. Aku membuka pintu rumahku, dan mendapati dua orang laki-laki yang kukenal persis wajahnya.

“Taemin? Minho oppa?”

“Ahaha, sudah kukira kau bolos sekolah hari ini.” Taemin masuk tanpa kupersilakan, Minho oppa hanya geleng-geleng kepala melihat dongsaengnya itu.

“Boleh aku masuk, Yeonni?” Minho oppa tersenyum. Aku mengangguk.

“Mau minum apa?” tanyaku ramah. Mereka berdua duduk di sofa ruang tamuku. Minho oppa mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan di rumahku.

Mmm, rumahnya besar. Pasti sepi tinggal disini hanya berdua dengan appanya.

“Aku mau banana milkshake!” Taemin menjawab dengan semangat.Tapi Minho oppa langsung memukul pelan pundaknya sambil melotot. Aku memiringkan kepalaku bingung. Ada yang aneh…

Taemin kau tak boleh mengacaukannya! Yeonni harus menerima hadi-

Hah? Mengacaukan apa? Menerima apa?

“Aah, iya hyung, ini akan kulakukan dengan caraku sendiri! Sudah pergi pergi!” Taemin mendorong Minho oppa keluar rumah, dengan begini aku tak bisa mengetahui lanjutan pikiran Minho oppa dan apa rencana mereka sebenarnya. Oh tidak. Aku kan tidak bisa baca pikiran Taemin!

“Ada apa sih? kenapa Minho oppa diusir?” tanyaku pada Taemin. Aku penasaran.

“Sudah biarkan saja. Aku punya kejutan untukmu! Kau mau yang ada di saku kananku apa saku kiriku?” tanyanya antusias sambil sedikit cekikikan. Aku curiga. Ini jebakan?

“Aku mau, kiri.” jawabku asal.

“Hahaha, pilihan yang tepat Yeonni. Tutup matamu!” dia makin cekikikan, aku tambah curiga, tapi kuturuti juga perintahnya. Apa ya?

Kwok.. kwokk.. kwokk…

He? Suara apa itu? Jangan-jangan…

“KYAAAAAA!!!” aku reflek berlari menjauhi taemin yang memegang seekor binatang yang paling kutakuti sepanjang aku hidup. Kodok.

“Huahahaha… hahahaha… Yeonni, Yeonni kau lucu sekali. Jago menembak, jago memata-matai, jago taekwondo tapi takut kodok.” Taemin terpingkal-pingkal melihatku lari tunggang langgang dan bersembunyi di balik tembok dapur. Aku cemberut.

“Tahu gitu, aku pilih yang kanan!” aku teriak, kudengar langkah kaki Taemin mendekat. Sekarang dia ada di hadapanku lagi.

“Benar nih? Yakin pilih yang kanan?” dia menatapku jahil, ujung bibirnya terangkat. Aku mengangguk pasti.

“Oke. Kau yang minta ya.” Dia memasukkan tangan kanannya ke saku kanannya. Mengeluarkannya, dan kulihat tangannya mengepal seperti menggenggam sesuatu.

“Apa itu?” akubertanya, tapi Taemin tak menjawab. Dia hanya tersenyum dan membuka kepalan tangannya. Aku penasaran sekali, tapi tak ada apa-apa disana. Aku memiringkan kepalaku, dan mengernyit.

“Kau memperma-“ kalimatku terputus, karena kaget Taemin memegang pipiku lembut dengan tangan kanannya tadi. Wajahnya mendekat, aku bahkan bisa merasakan nafasnya. Omo… omo! Ada apa ini? Taemin mau apa kau?! Aku yakin wajahku merah padam sekarang.

“Yeonni… Saranghae.” Taemin mengatakan kata keramat itu padaku. Dan sukses membuatku membelalakkan mataku karena kaget.

“Kau bohong? Ini pasti leluconmu lagi.” Aku berkata asal, niatnya sih ingin menyembunyikan perasaanku yang bahagia minta ampun.

“Kau mau aku buktikan?” Taemin bertanya. Tapi belum sempat aku menjawab, bibirnya sudah menempel perlahan di bibirku, melumatnya lembut. Tentu saja aku kaget luar biasa! Jantungku berdetak lima kali lebih cepat. Tangannya merangkul pinggangku, aku mulai terbawa permainannya. Aku melingkarkan tanganku di lehernya. Membalas ciumannya. Satu detik, dua detik, lima detik, sepuluh detik, tiga puluh detik. Satu menit kemudian aku terpaksa melepaskannya karena aku butuh udara. Taemin tersenyum menatap wajahku.

“Aku tak mengira kau akan begitu menikmatinya. Hahaha. Wajahmu seperti udang rebus!” Taemin tertawa, tapi dia tak melepaskan rangkulannya di pinggangku, begitu pula aku. Aku menjedutkan dahiku kuat-kuat ke dahinya. Dia meringis.

“Aduuuh sakit. Jadi kau percaya padaku tidak?” Taemin tersenyum lagi.

“I have no doubt about your feelings, Tae.” Aku balas tersenyum padanya. Bahagia!

“Ahaha, yees!. Akhirnya aku punya pacar!” Taemin tertawa pelan, lalu mendekatkan wajahnya lagi ke wajahku, aku menutup mataku bersiap menerima bibirnya lagi.

“Sudah cukup! Sekali saja cukup, Taemin!” Minho oppa muncul dari balik dinding dan memisahkan kami dengan tangannya. Aku dan Taemin terdorong sedikit. Aish, malunya! Jadi tadi Minho oppa melihatku dengan Taemin? Aku menggaruk-garuk kepalaku sambil nyengir, salah tingkah. Sedangkan Taemin memelototi hyungnya itu sambil cemberut.

Sialan kau hyung, beraninya kau mengganggu acaraku!

He? Tadi itu pikiran Taemin?

******

Aku bahagia dengan ceritaku kali ini. Bahagia sekaliii. Eomma benar, kalau cerita dinikmati sepahit apapun cerita itu pasti akan berujung kebahagiaan! Sepertinya aku harus agak peduli dengan lanjutan ceritaku. aku tak mau nantinya akan sedih. Apalagi berpisah dengan Taemin. Andwaeee~

Oh iya, terimakasih ya mau membaca ceritaku!

N.B: Minho oppa, terima kasih ya hadiahnya! Aku suka sekali!

FIN

 

Yaay Selesai!! Makasih ya readers udah mau baca sampai side story gak jelas ini. hehe. Imbalannya komen atau kritik aja deh. Buat masukan kedepannya. Maaf kalau ada salah kata ya readers. Hehehe, fanfic ini juga di post di blog saya romanticalmemories.wordpress.com silakan datang berkunjung J. Makasih buat admin yang sudah capek-capek mempost fanfic saya. Sampai bertemu di fanfic selanjutnya JAkhir kata, bye bye!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

11 thoughts on “Faces In Disguise Side Story : Kim Yeonni”

  1. senangnya yang jadi yeonni xD
    Oh, jadi dia mind reader toh..
    Itu di akhir dia bisa baca pikirannya Taem..
    Abang minong menggangu aja deh -,-
    Nice ff… 🙂
    Keep writing Raquel,, I like your fanfic.. 😀

  2. knp jd gak bs bc pikiran taemin ya sebelum taemin mengungkapkan perasaannya? apa itu kekuatan cinta?? wakakakaka ngaco

    reaksi taemin lebay bgt pas liat gudang rumah yeonni.. hahaha

    cocok tuh jd anggota CIA.. kyknya klo jd anggota, bakal jd anggota termuda.. wkwkwkwkwk

    seru..
    cukup sekali ya taemin… ntar klo mau lg, nikah dulu.. wakakakakakaka

  3. yeonni mirip edward cullen. Kukira yeoni gadis polos tapi ternyata ckckck sadis amet

    Tetem romantis tapi usil

  4. Ngakak to the max xD
    itu minppa di bagian akhir kocak! XD pasti pasangan baru itu keki abis digangguin kekekekeke.

    Ecieeee akhirnya pkiran taem kebaca juga! Chukkae 😀

    dan dan dannn
    bahahaha XD ngakak beneran. Yeonni sm Taemin emg rada2 …. XD nice fict :3

  5. Wahhh,, FFna DAEEBBAAKKK Thor..!!!

    Q tunggu karya selanjutnya dari Author !!!
    HWAITING !!! “Bener ngak nih tulisannya thor ?” Atau FIGHTING yg bener yah thor ?

  6. Ooohhhhh jadi begitu to ceritanyaaa.. Wow.. Si Yoenmi bisa baca pikiran orang.. Ehh tapi kenapa gx bisa baca pikiran Taemin…. Ehh yg di endingny kayak kisah Bella dan Edward yg pd akhirnya Edward bisa Baca pikiran Bella…hehehe

    Yoenmi kereenn… Bapaknya mantan CIA… Pantesan ajj….

    Nice story…..

  7. jadi yeonni itu mind reader toh #manggut-manggut

    keren ya yeonni punya bapak mantan agen CIA, pantesan lincah banget hehe
    dan akhirnya kegalauanku ilang juga, taemin akhirnya nembak yeonni juga 🙂

    ceritanya bagus thor, gak bisa ditebak! i’ll be waiting for your ext story thor! 😉

  8. suka banget! banget! aku getek baca “melumatnya lembut” tapi bagus! suka banget sama cara penyampainnya 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s