Talk To Love – Part 3

Talk To Love

Part 3

 Title                 : Talk To Love

 Author            : EmoonKey_Kyu

 Main Cast       : Choi (Jung) Hye Bin, Key,  Kim Jonghyun

 Support cast    : SHINee’s member, Choi Nikka

 Lenght             : Chaptered 3 of 10

 Genre              : Romance (maybe), friendship

 Rate                 : PG-16

 Summary        : Love come to you without permission.

 A.N              : Annyeong ^^ ini ff pertama Emoon yang Emoon coba kirim ke sini. Idenya sih udah pasaran yah, tapi kan ceritanya belum tentu sama. Nyoba-nyoba kalau respon bagus yah ngirim lagi #dorrr. Really-really need ur comment, soalnya Emoon masih abal di dunia per ff’an. Mian kalo banyak typo trus gaje. So, happy reading and leave ur comment chinguyaaaa ^0^//*

Ps: gomawo buat admin yang mau ngepost. Big hug from me ^^

 Talk to Love

Sinar matahari mulai menampakkan ke angkuhannya sejak pagi tadi. Bahkan suara burung yang biasanya berkicau untuk menyambut pagi sudah mulai berhenti berkicau. Bagaimana tidak, ini sudah pukul 11 pagi. Tapi dua insan yang sedang menikmati mimpi mereka masing-masik tidak terusik sama sekali dengan sinar-sinar matahari yang menerobos masuk melalui ventilasi jendela yang tertutup korden.

Mereka terlalu lelah untuk mengangkat kepala mereka masing-masing, hingga suara ponsel yang berdering cukup nyaring membuat Hye Bin mengerjap-ngerjapkan matanya meski akhirnya dia hanya bangun terduduk.

Hye Bin memperhatikan Key yang tidur di sampingnya. “Haah, kau bodoh Kibum-sshi.” desis Hye Bin pelan sambil menunjuk-nunjuk hidung Key yang sedikit memerah. Key sedikit menggeliat lalu kembali tertidur ke kondisi semula yang membuat Hye Bin geleng-geleng. Matanya beralih ke arah ponselnya yang tergeletak di meja sebelah Key. Tanpa ragu Hye Bin merangkak ke atas tubuh Key yang masih tertidur.

Tiba-tiba Key bangun tepat saat Hye Bin ada di atasnya. Untuk beberapa detik Hye Bin tak menyadari kalau Key sudah bangun menatap dirinya, lebih tepatnya bibir Hye Bin yang ada tepat di atas matanya. Bibir yang telah membuat akal sehatnya sedikit berkurang semalam. Entah ada listrik dari mana tiba-tiba Key mangangkat sedikit bibirnya dan menyentuh kilat bibir Hye Bin.

“Morning, tak kusangka menikah itu menyenangkan. Bangun tidur langsung dapat ciuman selamat pagi dari istriku.” Ucap Key ringan sambil mendorong Hye Bin untuk menyingkir dari tubuhnya pelan. Hye Bin menatap tajam mata Key yang membuat Key langsung berdiri dari tempat tidur dan berdiri sambil memegangi hidungnya yang masih merah. “O-oowww.”

“Yaaaaaa Kibum-sshi!! Kemarikan hidungmu!!!!” pekik Hye Bin langsung mengejar Key yang berlari masuk ke kamar mandi.

“Yeobo-ya, kita lanjutkan nanti saja. Aku mau mandi dulu nee!!” teriak Key dari dalam yang membuat  Hye Bin mencak-mencak di depan pintu kamar mandi. Di dalam Key hanya tertawa mendengar umpatan Hye Bin yang menurutnya aneh, meski akhirnya dia memegangi hidungnya dan bercermin melihat pantulan dirinya yang seperti badut. Bangun tidur dengan rambut acak-acakan dan hidung seperti tomat merah.

Semalam, Key tergoda untuk mengerjai Hye Bin sebelum tidur.

FLASHBACK

Key merangkak ke atas tubuh Hye Bin yang baru saja membenamkan kepalanya ke dalam selimut. Refleks, Hye Bin membuka kembali selimutnya dan melihat Key tepat di depan wajahnya.

“Kibum-sshi. M-mwohayeo?” tanya Hye Bin sedikit gugup. Key hanya menyeringai pelan dan bertumpu pada siku kanannya sedangkan tangan kirinya mengarah ke arah lampu meja di sebelah Hye Bin.

“Kau mau tidur? Aku sudah menunggumu mandi berjam-jam di sini. Haah, kau tahu kalau ini adalah malam pertama kita bukan?” tanya Key pelan, hampir seperti desahan (?). Hye Bin semakin merapatkan selimutnya sampai ke leher. Key semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hye Bin, bahkan Key bisa merasakan hembusan napas Hye Bin yang lebih cepat saking takutnya.

Niat awal Key hanya ingin mematikan lampu di sebelah kiri Hye Bin, tapi setelah melihat bibir Hye Bin yang menurutnya sangat menggoda. Tangan Key hanya mengambang tanpa menyentuh lampu itu sedikitpun. Tanpa Key sadari, wajahnya sudah terlalu dekat dekat Hye Bin dan…….

“Ouwwchhhhh!!!!!” teriak Key tiba-tiba setelah Hye Bin sukses menarik ulur (?) hidung Key kekanan dan ke kiri.

“Rasakan!! Aku tahu kalau kau pria baik-baik Kibum-sshi. Tapi jangan sekali-sekali mengerjaiku lagi kalau kau tak mau kehilangan hidungmu yang mancung itu!!  Arroo!!” pekik Hye Bin lalu kembali ke posisinya semula. Tidur membelakangi Key yang masih mengaduh karena hidungnya sudah tak perawan (?) lagi.

Key menatap punggung Hye Bin yang membelakanginya. Dia masih memikirkan apa yang tadi dia pikirkan saat melihat bibir Hye Bin. Bisa-bisanya Key ingin melumat bibir itu. Tapi walau bagaimanapun Key itu laki-laki normal, mana ada seorang pria yang bisa tahan melihat seorang gadis lebih tepatnya gadis yang sudah menjadi istrinya sejak siang tadi tidur di sampingnya dan hanya mengenakan gaun tidur bertali spageti berpotongan rendah. Meski Key tahu, itu adalah baju tidur yang disiapkan ibunya dan tidak seharusnya dia memikirkan hal itu.

FLASHBACK END

“Mianhae ommonim, aku baru bangun sekarang. Kemarin benar-benar menguras tenagaku.” Ucap Hye Bin pada nyonya Kim yang sedang bergelut dengan berbagai obat di ruang kerjanya. Maklum, ibunya Key kan seorang dokter.

“Gwenchana Hye Bin-a, umma mengerti.” Jawab nyonya Kim dengan senyum di bibirnya dan itu membuat Hye Bin lega meski sepertinya nyonya Kim salah tanggap . Nyonya Kim memperhatikan Hye Bin yang sudah rapi. “Kau, mau kemana?”

“Ah, aku harus pergi ke rumah saudaraku ommonim. Dia baru datang pagi tadi.” Jawab Hye Bin bohong, sebenarnya dia berniat untuk pergi ke Rumah Sakit menjenguk ibunya. Sudah 3 hari ini dia belum melihat perkembangan ibunya.

“Apa perlu Kibum antar?”

“Aniyo ommonim. Kurasa Kibum sedang sibuk.” Tolak Hye Bin halus, nyonya Kim berdiri menghampiri Hye Bin.

“Tidak bisa. Dia itu kan suamimu, jadi dia berkewajiban mengantarmu kemana saja. Lagipula dia sibuk apa? Perusahaan memberinya libur 2 hari, meski ku rasa itu terlalu singkat untuk pengantin baru seperti kalian.” Ucap nyonya Kim menggoda. Hye Bin hanya tersenyum seadanya. “Kibum-aa!!!!” panggil nyonya Kim sedikit berteriak. Tak lama kemudian Key datang.

“Waeyo umma?” tanya Key bingung. Dan melirik Hye Bin yang sedang menekuk-nekukkan wajahnya.

“Kau temani istrimu untuk bertemu saudaranya. Ingat, saudara Hye Bin itu juga saudara iparmu! Cepat sana ganti baju, sepertinya Hye Bin buru-buru.”

“Aniyo ommonim. Aku bisa pergi sendiri.” Tolak Hye Bin lagi. Nyonya Kim menggeleng mantap.

@@@@@@@@@@@@@@@@@

“Sebenarnya kau mau kemana?” tanya Key sambil menyetir mobil. Meskipun Hye Bin sudah menolakknya, tapi nyonya Kim tetap bersikeras untuk menyuruh Key menemani Hye Bin. Walaupun Key menurutinya ogah-ogahan

“Kita mampir beli buah dulu. Arro.” Titah Hye Bin tanpa menjawab pertanyaan Key. Key hanya menghela napas.

“Kau kira aku supirmu huh!!” gerutu Key sambil menepikan mobilnya. Hye Bin langsung melenggang keluar seolah tak mendengar gerutuan Key.

Dari dalam mobil, Key terus memperhatikan Hye Bin yang sedang asik berbincang dengan salah seorang pelanggan. Key bisa memastikan kalau Hye Bin sering ke sini karena penjual buah itu juga ikut berbincang dengannya, sangat akrab pula.

“Aigoo gadis itu. Kenapa semua orang mengenalnya dengan baik?” gumam Key lagi. Dia sedikit kaget ketika namja yang tadi berbincang dengan Hye Bin mengacak lembut rambut Hye Bin dan memberikanya rangkaian bunga mawar putih. “Dasar gadis itu. Bisa-bisanya membiarkan pria lain mengacak rambutnya dan menerima bunga di depan suaminya sendiri.” Guman Key (lagi) sedikit kesal.

“Senang dapat bunga?” tanya Key sarkastik tepat ketika Hye Bin masuk kembali di sampingnya. Hye Bin hanya melirik Key sebentar dan meletakkan bunga + buah yang dia bawa di belakang. Kemudian memasang sabuk pengaman tanpa bicara apapun.  “Yaaa, kau kira aku ini hanya robot yang bisa menuruti semua kata-katamu. Seharusnya kau senang karena dengan berat hati aku mau mengantarmu.” Pekik Key sedikit emosi.

“Kenapa kau membentakku? Seharusnya kau tahu apa kesalahanmu. Apa hakmu menciumku tadi pagi huh!!” pekik Hye Bin tak kalah emosi, Key sedikit gelagapan mendengarnya. Ternyata daya ingat Hye Bin masih cukup kuat untuk mengingat kejadin memalukan tadi pagi.

“Itu, i-itu karena.. engg.”

“Sudahlah Kibum-sshi, aku sedang semangat siang ini. Cepat antarkan aku ke rumah sakit Seoul dan aku akan memaafkan setengah kesalahanmu padaku.” Potong Hye Bin langsung melipat tangannya ke depan dada. Padahal dia belum bisa melupakan saat tadi Key menciumnya. Ada sensasi sendiri saat Key melakukannya. Seperti ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya, rasa manis meski mereka belum sempat sikat gigi masih terasa di bibirnya. Entah itu karena ini adalah kali pertama Hye Bin berciuman atau apa, yang pasti menurutnya ini sangatlah aneh. Belum pernah dia merasakan tempo jantungnya berdetak lebih cepat bukan karena dia habis lari maraton.

“Wasseo.” Ucapan Key membuat Hye Bin tersadar dari lamunannya yang menurutnya sangat memalukan itu. “Apa aku perlu turun?” tanya Key ketika Hye Bin berusaha meraih bunga dan buah yang tadi dia beli.

“Terserah kau saja.” Jawab Hye Bin singkat sambil memasang topinya sebagai alat menyamar. Yah, untuk berjaga-jaga saja bukan? Sekarang dia mendadak terkenal setelah menjadi istri Key. Meski tadi saat membeli buah dia tidak melakukan penyamaran sama sekali karena semua orang di sana sudah mengenalnya dengan baik. Dan orang yang mengacak rambutnya tadi adalah kakak kelasnya waktu SMP dan sudah sangat akrab dengannya.

Key mendengus sebal tapi tetap ikut turun (sudah lengkap dengan alat penyamarannya tentu) dan membawakan sekeranjang buah yang dia sendiri tidak tahu ini untuk siapa. Sebenarnya Key masih bingung, siapa yang sebenarnya ingin Hye Bin temui. Saudaranya yang baru pulang kah? Kenapa di rumah sakit?

“Kau mau menjenguk siapa? Pacarmu?” tanya Key di samping Hye Bin yang berjalan di sebelanya.

“Sebenarnya aku ragu apa aku harus mempertemukanmu pada orang yang sangat aku cintai di dunia ini atau tidak. Tapi karena sekarang statusmu adalah suamiku maka kau harus tahu.” Jawab Hye Bin memasuki sebuah lorong. Key semakin bingung mendengarnya, tapi dia hanya menurut dan mengikuti Hye Bin dari belakang sesekali membenarkan posisi topinya takut kalau ada yang mengenali dirinya. “Dan masalah bunga ini, ini untuknya karena mawar putih adalah bunga yang sangat dia sukai.” Tambah Hye Bin lagi.

“Untuk apa kau menjelaskannya padaku?” tanya Key meski dia sedikit lega karena ternyata bunga itu bukan untuk Hye Bin. Tapi untuk siapa dia juga tidak tahu, yang penting bukan untuk Hye Bin!

“Aku takut kalau kau salah paham.” Jawab Hye Bin pelan, Key hanya tersenyum melecehkan.

“Annyeonghaseyo.” Sapa Hye Bin pada suster yang berjaga di sebuah kamar VVIP yang baru saja dia masuki. Suster itu langsung tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya.

“Annyeonghaseyo Hye Bin-sshi. Aku tahu kalau kau akan datang hari ini.” Ucap suster itu ramah.

“Haah, Minseo-sshi jeongmal gamsahamnida karena sudah mau menemani ummaku selama aku tidak ada.” Hye Bin mengambil alih keranjang buah yang Key bawa dan menaruhnya di meja. Sedangkan Key hanya mengekor di belakang tanpa melepas semua penyamarannya.

“Cheonmaneyo Hye Bin-sshi, ini sudah tugasku. Ohya, aku ucapkan selamat atas pernikahanmu kemarin nee.” Hye Bin menerima jabatan tangan suster yang bernama Minseo itu dengan senang hati. “Dia pasti suamimu. Annyeonghaseyo, jeoneun Go Minseo-imnida suster jaga di sini.

Key hanya mengangguk dan langsung melepas maskernya meski dirinya sendiri masih bingung. “Annyeonghaseyo, Key imnida.” Ucap Key sambil menunduk, begitu pula dengan Minseo di depannya.

“Emm, apa ada perkembangan selama aku tidak kesini?” tanya Hye Bin khawatir sambil melihat ibunya yang terbaring di ranjang. Minseo menggeleng.

“Eopseo, nyonya Jung hanya seperti ini setiap hari. Ini baru 3 minggu Hye Bin-sshi, memang keadaan seperti ini biasanya berlangsung sangat lama malah sampai berbulan-bulan tapi syukurlah keadaan nyonya Jung ini bisa di katakan baik meski tidak ada perkembangan.” Jawab Minseo ikut melihat ke arah ranjang yang sekarang sudah ada Key yang berdiri di samping ranjang itu. Hye Bin menghela napas. “Bersabarlah Hye Bin-sshi, aku yakin kalau nyonya Jung itu kuat.” Hye Bin hanya tersenyum menanggapinya. “Kurae, aku harus pergi sekarang. Hye Bin-sshi, Key-sshi, aku permisi.” Kata Minseo lalu meninggalkan kamar itu.

Key terus memperhatikan seorang wanita paruh baya yang tengah berbaring tak berdaya di depannya. Dilihat dari wajahnya sangatlah mirip dengan Hye Bin.

“Umma, annyeong. Haah, kata Minseo-sshi umma keadaanya baik. Kapan umma sadar? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu umma. Umma mianhae, mianhae, jeongmal mianhae.” Hye Bin mengenggam tangan ibunya. Rasa bersalah yang amat sangat membuat dadanya sesak.

Menatap wajah ibunya yang tengah tertidur membuat dirinya semakin merasa bersalah. Ibunya dulu selalu berharap menjadi orang pertama yang melihat anaknya memakai gaun pengantin dan ingin menjadi orang pertama yang menitikkan air mata bahagia saat melihat anaknya berdiri di altar bersama pria yang dicintainya

Menikah di saat seperti ini bukanlah cita-cita ataupun keinginan Hye Bin. Menyedihkan saat mengingat wajah-wajah bahagia para tamu saat pernikahannya kemarin, bukan wajah Park Eunmi yang ingin dia lihat tapi wajah bahagia Jung Hyeseo dan Choi Bin Hoon. Bagaimana nanti saat ibunya bangun, apa yang harus di jelaskan?

Apa harus mengatakan ‘Umma, aku sudah menikah dan ini suamiku’ begitu? Mungkin kalau dalam keadaan sadar, ibu Hye Bin akan langsung memukul pantat anaknya dengan centong nasi tanpa ampun. Tapi dalam keadaan seperti ini apa mungkin ibu Hye Bin akan langsung bangun dari komanya? Mustahil. Setidaknya ibu Hye Bin bisa mendengar apa yang Hye Bin katakan, dia akan mencoba menjelaskan secara pelan-pelan. Dan berharap itu cara yang baik.

“Nuguseyo?” tanya Key bingung tapi pikirannya sudah menebak-nebak kalau wanita paruh baya di depannya adalah ibunya Hye Bin, meski Key mengira kalau ibu kandung Hye Bin itu sudah meninggal.

Hye Bin menghapus air matanya yang hampir keluar dan mengusap lembut kening ibunya.

“Ummaku, dia cantik kan?” Key hanya tersenyum kaku, bisa-bisanya Hye Bin bercanda di saat-saat seperti ini.

“Nee, neomu yeoppo.” Jawab Key singkat, sedikit rasa bersalah juga karena tadi sudah berpikiran tidak-tidak tentang Hye Bin. Key melihat Hye Bin yang tengah memandang ibunya penuh rasa sayang. Tanpa sadar Key tersenyum melihatnya. Kedekatan seorang anak terhadap ibunya memang suatu hal yang dia suka.

“Umma, kalau umma bangun aku yakin umma mengenalinya. Dia itu pria yang umma bilang gila karena mempunyai rambut setengah botak.” Key mengeryitkan alisnya mendengar ucapan Hye Bin. Gila? “Aku tahu umma bisa mendengarku. Kenalkan, dia Kim Kibum dan dia adalah orang yang akan menemaniku selama umma tidur. Aku harap umma cepat bangun supaya aku tak berlama-lama dengannya.”

“Yaaa, Hye Bin-sshi.” Gerutu Key mendengar ucapan Hye Bin yang menurutnya sedikit mengecewakan. “Aniyo ommonim, aku tidak seperti yang Hye Bin katakan. Ommonim cepat sadar dan banggalah karena punya menantu sepertiku.” Ucap Key bangga.

“Benarkan umma, dia gila.”

“Hye Bin-sshi!!”

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

“Mana abeoji?” tanya Hye Bin pada Eunmi di rumah appanya.

“Dia sedang ada di kantor. Kau mau mengambil sertifikat rumah itu kan? Kajja, ikut aku!!” Hye Bin mengikuti Eunmi dari belakang dan menuju ruang kerja tuan Choi. Eunmi mengambil sebuah map yang di atasnya ada sebuah kunci rumah.

Hye Bin menerima map beserta kunci rumah itu dari tangan Eunmi dan membacanya. “Apa abeoji hanya menitipimu ini?” tanya Hye Bin karena menurutnya ada yang kurang.

Eunmi mendengus dan membuka laci meja kerja tuan Choi dan menyerahkan 2 map lagi ke tangan Hye Bin. Hye Bin tersenyum puas membacanya. 1 sertifikat distro Choi corp dan 1 sertifikat sebuah restoran Itali yang cukup terkenal di daerah Apgeujong sudah ada di tangannya. “Kuharap kau tidak mengecewakan ayahmu. Dia sangat berharap supaya kau bahagia. Oya bagaimana keadaan ibumu? Kenapa kemarin dia tidak hadir?”

“Aku yakin ebeoji yang menyuruhmu untuk bicara lebih lembut padaku. Wae? Bukankah kau seharusnya senang karena ibuku tidak datang? Jangan munafik Eunmi-sshi.” Ucap Hye Bin melecehkan. Setiap dia melihat wajah Eunmi, dia selalu ingat ibunya yang di rumah sakit. Meski dirinya tahu kalau Eunmi tak sepenuhnya bersalah. “Oya, sampaikan ucapan terima kasihku pada abeoji. Aku permisi Eunmi-sshi.” Ucap Hye Bin langsung meninggalkan ruangan itu. Ruangan yang dulu menurutnya sangat indah karena di penuhi oleh buku-buku yang sering ayahnya bacakan untuknya. Sekarang, ruangan itu sudah banyak berisi vas vas yang menurutnya tidak berguna. Eunmi memang seorang yang sangat menyukai seni apalagi sejenis vas atau guci.

Hye Bin berjalan ke arah rumah lamanya. Sudah hampir 1 bulan dia tidak melihat rumah itu. Rumah milik ibunya yang sempat disita oleh bank dan sekarang sudah berpindah nama menjadi miliknya sejak 1 jam yang lalu. Kondisi rumah itu masih sama sebelum dia tinggalkan, hanya saja sekarang sedikit berdebu.

“Haaaah, akhirnya rumah ini jadi milikku lagi. Umma, cepatlah sadar dan kita bisa tinggal di sini lagi seperti dulu.”

@@@@@@@@@@@@@@@

“Mwo? Pindah rumah?” tanya nyonya Kim setelah mendengar argumen menantunya. Hye Bin baru saja mengatakan keinginannya yang ingin kembali menempati rumah itu bersama Key. Karena memang ini tujuam utamanya menikah, mendapatkan rumah itu kembali dan bisa merawat ibunya dengan layak di rumah sakit. Meski sebenarnya Hye Bin belum membicarakan semua ini pada Key.

Key terlalu sibuk dan itu sedikit membuat Hye Bin lega. Setidaknya dengan begitu dia tidak akan tidur 1 ranjang dengan Key karena sekarang menurutnya Key itu sedikit menakutkan, apalagi kejadian memalukan di hari pertama mereka 1 minggu yang lalu.

“Nee, ommonim. Rumah ibuku tidak ada yang mengurusnya. Aku juga ingin mandiri, setidaknya aku tidak mau merepotkan kalian.” Ucap Hye Bin hati-hati takut menyinggung perasaan nyonya Kim.

Nyonya Kim selama ini tidak menyinggung masalah siapa ibu kandung Hye Bin, tanpa sepengetahuan Hye Bin sebenarnya nyonya Kim sudah tahu keadaan ibunya lewat Key. Mertuanya saja tahu, tapi ayahnya tidak tahu. Menyedihkan.

“Akan aku pikirkan dulu. Ayahnya Kibum harus tau masalah ini.” Jawab nyonya Kim yang membuat Hye Bin lega. “Kau mau berangkat sekarang?”

Hye Bin mengangguk mengiyakan. Hampir setiap hari sepulang kuliah Hye Bin langsung ke butiq atau ke Lasvera (pinjem Lasvera dulu ya Chef Choi. Kekekey) yang sekarang sudah menjadi miliknya dan setelah itu ke rumah sakit. Mungkin kalau dia sekarang tinggal di rumahnya sendiri dia tidak akan serepot ini. Dia bisa pulang dan pergi sesukanya tanpa harus memikirkan bagaimana pemikiran mertuanya terhadapnya.

Sekarang saja Hye Bin sedang mengalami perang batin yang bergejolak di dirinya. Semenjak statusnya yang sudah berubah menjadi istri dari SHINee Key 1 minggu lalu, orang yang tidak menyukainya semakin banyak. Sebelumnya saat semua orang tahu kalau mereka akan menikah, sudah banyak teman kampusnya yang menjauh darinya bahkan menjelek-jelekkannya di belakang.

Sedangkan bisnis yang dia jalani sekarang bisa di katakan sedikit seret (?) karena banyak yang mengira kalau Hye Bin dan Key itu menikah karena terpaksa dan tidak bahagia. Dengan kata lain, netizen menganggap kalau Hye Bin telah merusak kebahagiaan Key dengan memaksa untuk menjadi suaminya karena mereka –Key dan Hye Bin- tidak menunjukkan kalau mereka bahagia dengan pernikahan ini. Kalau saja Nikka sudah kembali dan Hyun Rin tidak pergi, Hye Bin tidak akan jatuh seperti ini.

Key terlalu sibuk dengan SHINee dan seolah tak perduli dengan apa yang di alami Hye Bin sekarang. Hye Bin merasa nyaman bersama Key saat mereka sama-sama menjenguk ibu Hye Bin di rumah sakit 4 hari yang lalu. Inikah rasanya menikah? Dulu saat masih kecil, Hye Bin selalu memikirkan bagaimana rasanya menjadi seorang istri. Membangunkan suaminya saat pagi hari, memasak sarapan dengan bumbu cinta dan minum susu coklat setiap pagi, memasangkan dasi suami sebelum berangkat bekerja dan mendapatkan kecupan di kening, dan dengan senang hati menunggu suami pulang kerja sampai larut malam. Haaah, itu hanya ada di pikiran anak kecil. Menikah bukan hanya sekedar minum susu 2 kali sehari, tapi menikah itu lebih rumit. Pemikiran itu langsung sirna setelah mengetahui kalau ayah dan ibunya selalu bertengkar setelah dia tertidur. Pernikahan yang bahagia dengan orang yang tidak di cintai sama sekali? Shit!

“Jangan pulang terlalu malam, nee. Mengenai rencana kepindahanmu, masih akan umma pikirkan lagi tapi tidak untuk minggu ini. Umma baru ingat kalau nanti sore, umma akan menemani appa ke Jepang untuk beberapa hari.” Ucap nyonya Kim, lagi-lagi Hye Bin hanya mengangguk.

@@@@@@@@@@@@@@@@@

“Yeoboseyo Kibum-sshi.”

“Hmm?” jawab Key singkat dari seberang telepon. Dari nada bicaranya saja sudah terdengar kalau dia ogah-ogahan mengangkat telepon.

“Sedang apa kau?” tanya Hye Bin mencoba lembut. Sedang berusaha untuk tidak meneriaki Key di ruang kerjanya. Tangannya memegang sebuah pena dan mendaratkannya di secarik kertas yang sekarang sudah bergambar abstrak.

“Kenapa? Kau merindukan suamimu yang paling tampan ini nee?” ingin rasanya Hye Bin menyumbat mulut Key yang menurutnya sangat lebar itu, tapi sayang sekarang bukan waktu yang tepat.

“Haaah.” Hye Bin mendesah. “Bisa kita bertemu? Ada hal yang ingin aku bicarakan.”

“Ommonim baik-baik saja kan?” tanya Key sedikit khawatir. Dan itu membuat Hye Bin kaget, sebegitu perhatiannya kah Key?

“Ahni, umma baik-baik saja. Kau ada waktu tidak? Datanglah ke butiqku sekarang! Ini penting!”

“Untuk sekarang aku tidak bisa. Tapi 1 jam lagi bisa.”

“Terserah kau sajalah. Yang penting kau datang.” Kata Hye Bin sedikit pelan.

“Huaaah, ternyata kau sangat merindukanku. Kurae, aku akan cepat ke sana my ba-“

KLIK

Tanpa menunggu Key melanjutkan kata-katanya, Hye Bin langsung menutup sambungan telepon itu

dengan sepenuh hati. Sedikit merinding setiap kali Key menggodanya.

###################

“Yeoboseyo Kibum-sshi.” Suara Hye Bin membuat Key bangun dari posisi tidurnya.

“Hmm?” jawab Key singkat.

“Sedang apa kau?” Key melihat layar BB bold miliknya untuk memastikan siapa yang menelepon. Jarang sekali Hye Bin meneleponnya.

“Kenapa? Kau merindukan suamimu yang paling tampan ini nee?” tanya Key sedikit cekikikan

“Haaah.”    “Bisa kita bertemu? Ada hal yang ingin aku bicarakan.”

“Ommonim baik-baik saja kan?” tanya Key sedikit khawatir. Selama ini secara diam-diam, setiap Key ada waktu luang. Dia selalu menyempatkan diri menengok ibu mertuanya itu.

“Ahni, umma baik-baik saja. Kau ada waktu tidak? Datanglah ke butiqku sekarang! Ini penting!” Key menghela napas lega. Dan berpikir sejenak.

“Untuk sekarang aku tidak bisa. Tapi 1 jam lagi bisa.” Jawab Key bohong. Sebenarnya sejak 1 jam lalu, dia tak melakukan apa-apa sampai 5 jam yang akan datang.

“Terserah kau sajalah. Yang penting kau datang.” Kata Hye Bin sedikit pelan dan itu membuat Key tertawa.

“Huaaah, ternyata kau sangat merindukanku. Kurae, aku akan cepat ke sana my ba- yaaaa Hye Bin-sshi! Yeoboseyo, yeoboseyooooooo!!!”

Key melihat BB bold miliknya yang sudah tak berbunyi lagi. Dan itu membuatnya kesal setengah mati.

“Haah, apa gadis itu tak memikirkanku? Sama sekali tak merindukanku begitu? Kejam sekali dia.” Gerutu Key sambil memakai sepatunya. Key kesal karena hanya itu yang di bicarakan Hye Bin, tidak lebih. Mungkin ini kedengarannya aneh, tapi Key merasa ada suatu magnet yang membuatnya untuk selalu dekat dengan Hye Bin.

Sebenarnya Key sudah berencana untuk membeli apartemen untuk mereka berdua tinggali. Manamungkin dia akan terus-terusan tinggal bersama ummanya. Sama seperti Hye Bin, Key juga sudah menerawang masa depannya sejak dia masih kecil. Memikirkan bagaimana kebahagiannya saat menikah dan melihat sang istri tidur di sampingnya. Membayangkan saat dia menggendong sang anak kelak, dan yang ada di otakknya saat itu adalah Im Yura. Sahabat kecil sekaligus cinta pertamanya sejak dia masih kelas 6 SD dulu. Membayangkan saat Yura membukakan pintu untuknya sepulang kerja, memakan masakan Yura meski sepertinya itu tidak mungkin karena Yura sama sekali tidak bisa memasak.

Semuanya sudah berubah, Yura meninggalkannya untuk pindah ke Perancis sejak berita pernikahan yang sempat santer di bicarakan sejak 3 hampir 4 bulan yang lalu. Bukannya Yura tak mau mengerti, tapi karena dia memang tidak mengerti sama sekali masalah pernikahan Key. Yura hanya menganggap itu sebagai candaan publik dan tidak penting karena dia selalu menurut dan percaya pada apa yang di katakan Key padanya.

“Hyung, mau kemana?” Taemin tiba-tiba keluar kamar karena mendengar derap kaki Key yang menurutnya terburu-buru.

“Aku ada perlu sebentar, emm atau mungkin lama aku juga tidak tahu. Yang pasti aku pergi!”

@@@@@@@@@@@@@@@

“Apa Hye Bin-sshi ada di dalam?” tanya Key pada salah seorang pegawai butiq itu.

“Nee, nona Hye Bin ada di dalam. Apa perlu saya panggilkan?” tanya gadis itu ramah tapi sangat terlihat kalau dia sangat ingin menyentuh Key.

Key menggeleng sambil tersenyum. Beberapa orang memperhatikannya, sepertinya semua orang sudah tahu kalau ini adalah butiq milik dari istri SHINee Key.

“Aniyo. Biar aku sendiri saja yang menghampirinya. Gamsahamnida.” Key membungkuk dan meninggalkan pelayan yang masih memperhatikannya dari atas sampai bawah dengan penuh ke kaguman. Key semakin masuk ke dalam butiq yang menurutnya mewah, dari interiornya saja sudah terlihat mewah apalagi semua baju yang sudah terpajang rapi dengan beberapa manekin yang memakainya. Dan yang pasti, semua yang di jual di sini mempunyai nilai yang cukup tinggi karena semuanya bermerek terkenal.

Key membuka sebuah pintu ruangan yang dia ketahui sebagai ruangan Hye Bin tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia bisa melihat Hye Bin yang tertidur di meja kerjanya, sepertinya Hye Bin kelelahan. Key, mendekati meja itu dan mencibir. “Aigooo, bagaimana bisa butiq semewah ini dipimpin oleh gadis sepertimu.” Cibir Key pelan lalu melihat-lihat ruangan kerja Hye Bin yang menurutnya sangat rapi. “Aku yakin, bukan kau yang membersihkannya Hye Bin-sshi.” Cibir Key lagi.

Pandangannya tertuju pada sebuah foto berukuran 1,5 x 1 m yang terpajang di dinding. Foto yang berisi 3 orang dan terlihat sangat bahagia, dan itu membuat Key tersenyum tanpa sadar. Di sebelahnya ada foto pernikahan mereka, Key sendiri bingung kenapa Hye Bin memajangnya di sini.

############ TBC ############

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “Talk To Love – Part 3”

  1. Aku kah yg prtama komen???
    Mian q ru koment di part ini,
    Aduuuuuhhh q suka bgt ma sifat Key dsini,, membayangkan kalo hyebin nya itu q *plaaaakk
    lanjut thor,jangan lama-lama y!
    Penasaran ma kelanjutannya. .
    Author daebak,,

  2. Dia itu pria yang umma bilang gila karena mempunyai rambut setengah botak — bnr2 nyablak bgt.. huahahaha

    aiiihhh suka key kyk gini.. romantis romantis gmna gitu.. au au. key.. noona padamuuuuu *menebar cinta utk key*

    lanjutkan ….
    maaf komen sy gaje.. hahaha

    1. Wkwkwk itu pas jama2nya lucifer sama hello pas rmbutnya key belom numbuh(?) smpurna #dorrr
      smakin gaje smakin enak kok, kalo di ksih saos tomat apalagi #dezzzighh

      gomawo ya #bowing 🙂

  3. ah! Lama bgt nungguin ini….. Makin suka sama ceritanya thor! Kutunggu lanjutannya ya thor! Fighting!:D

  4. Ow.. Ow.. Ow….. Aku mau jadi Hyebinnnnnn… Oh Noooooo!!!! Bangun tidur liat wajah Tampan Nay Key,, trus dpt kiss Morning….. Aku Jadi Pengennnnn……

    Ihh.. Key kenapa jadi Jahil Romantis gimana gituuuuu,, Gemesss dehhhhh……. Apa yang ada dipikiran Hyebin ttg Impian masa kecilnya kok sama y dg apa yg aq pikirin jaman kecil dulu.. Apa rata2 anak kecil pasti pemikirannya spt itu ttg pernikahan..hehehehe

    Aku berharap Key dan Hyebin bisa jatuh cinta satu sama lain….. Ahhh….. Sukanya…. Makin cinta deh sama Key,, tipe2 suami ideal…. #mohon abaikan Koment tersebut…..

    Nice FF… Ditunggu part lanjutannya,,, segara…. Segera….. #histeris tingkat kota… #plakkkk…. Maag koment saya gaje semua……hehehehe

  5. Gyah.. Ku hampir lupa sama ff ini…
    Itu hyebin dan key sempet2nya adu mulut di rumah sakit.. Kkk~
    key tengil tapi romantis dch.. He

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s