I’ll Be Here, Nae Nampyeon

I’ll be here, nae nampyeon

Author             : MissKey

Main cast         : Kim Jonghyun “SHINee”

Kim Jaewon as YOU

Support cast    : Kim Sujeong

Shin Chaeyeon

Yoon Mikyung

Leght               : Twoshoot [2/2]

Genre              : Romance, Friendship, marriage life.

Rating             : PG-15

Summary         : When you must to choose between your family and carier. Which you’ll choose?

say no to plagiarism”

 

***

Jonghyun menggedong Sujeong yang sedang terlelap-sehabis makan malam di luar-ke dalam rumah. Dia sedikit tertawa mengingat tingkah polah Sujeong yang menggemaskan ketika mereka berada di restaurant.

“Oppa, kenapa?” Tanya Jaewon saat melihat Jonghyun tertawa sendiri.

“Aniyo. Aku hanya senang melihat Sujeong tersenyum. Semoga dia selalu tersenyum.”

DEG. Jantung Jaewon seperti ditusuk beribu pisau yang sangat tajam.

“Jaewon-ah, gwaenchana?” Tanya Jonghyun, sehingga menyadarkan lamunan Jaewon.

“Gwaenchana oppa.”

“Yeobo, kamu kenapa?” Tanya Jonghyun sambil merebahkan tubuhnya di samping Jaewon, sehabis menidurkan Sujeong di kamarnya.

Jaewon yang sebelumnya tidur memunggungi Jonghyun, lalu merubah posisi menghadap Jonghyun.

“Oppa, apa kau ingat dengan janjimu?” Tanya Jaewon yang membuat Jonghyun bingung.

“Janji yang mana?”

“Janji sebelum kau menikahiku.”

::Flashback::

“Jaewon-ah, menikahlah denganku.” Ujar Jonghyun tiba-tiba.

“eh? Oppa bercanda,eum? Hahaha, oppa ini sama sekali tidak lucu.” Kata Jaewon sambil tertawa.

“Aku tidak bercanda Jaewon-ah, aku serius.” Ucapan Jonghyun sukses membuat Jaewon berhenti tertawa. “Kau tahu, kalau aku ini pewaris tunggal Kim Corp? Appa memintaku untuk segera menikah, dan menggantikan posisinya di perusahaan. Aku diberi kesempatan dua bulan oleh appa, kalau aku tidak membawa yeojachinguku untuk dinikahi, maka Appa akan menikahkanku dengan anak temannya.” Terang jonhyun panjang lebar.

Pernyataan Jonghyun tadi sukses membuat Jaewon syok. “la..la..lu oppa, menerima tawaranya?” Tanya Jaewon gugup.

“Kau mencintaiku kan Jaewon-ah? Kalau begitu menikahlah denganku, dengan begitu aku bisa menolak tawaran appa.”

“Tapi..tapi.. oppa, bukannya aku tidak mencintai oppa, tapi masalahnya..”

“apa lagi masalahnya Jaewon-ah? Kamu masih kuliah, masih muda, masih ingin bermain dengan teman-temanmu, masih belum siap menikah?” potong Jonghyun.

“Aniyo, oppa. Alasan satu-satunya, aku ingin meraih cita-citaku dulu menjadi dokter spesialis mata. Aku ingin mebuat appa tersenyum di surga. Dan untuk mewujudkan semua itu, tidak hanya membutuhkan waktu dua bulan oppa.”

“Ayolah, Jaewon-ah. Kuliah berbeda ketika kita masih sekolah. Tidak ada larangan orang kuliah tidak boleh married.”

“Iya oppa, aku tahu itu. Tapi aku takut nantinya tidak bisa membagi waktu  antara kuliah dan mengurus rumah tangga.”

“Jaewon, aku yakin kamu pasti bisa. Atau kalau perlu oppa akan menyekolahkanmu sampai kamu mendapatkan predikat sebagai dokter spesialis. Bahkan kamu tidak perlu kuliah di luar negeri. Oppa bisa memasukkanmu di Universitas favorit di korea.”

“Aniyo oppa, tapi aku ingin mendapatkan gelar itu dengan jerih payahku sendiri. Kalau perlu aku harus mencari beasiswa kuliah di luar negeri.”

“Baiklah Jaewon-ah, aku tahu kau orang yang keras kepala, percuma saja aku menentangmu. Aku janji Jaewon-ah, kalau kamu mau menikah denganku aku tidak akan melarangmu melanjutkan kuliah, walaupun sampai keluar negeri.”

“Jeongmal oppa?”

“Ne. pegang kata-kataku. Tapi dengan syarat, kau boleh pergi asalkan mendapat persetujuan dari semua orang yang menyayangimu.”

“Ne oppa, tapi beri aku waktu untuk memikirkannya, jebal.”

“Ne, aku beri waktu satu minggu untuk berpikir. Kau tidak akan rela kan kalau orang yang kamu cintai jatuh ke pelukan orang lain? Aku harap keputusanmu tidak akan mengecewakanku.”

Akhirnya Jonghyun dan Jaewon menikah ketika Jaewon berusia 18 tahun dan Jonghyun berumur tiga tahun lebih tua dari Jaewon.

::Flashback End::

“Ne, aku ingat. Waeyo? Ah, jankamman. Apa itu artinya?” Tanya Jonghyun yang tak sanggup melanjutkan perkataanya.

“tiga bulan yang lalu aku iseng mendaftarkan beasiswa ke Oxford University, dan ternyata aku lolos seleksi.”

“Sudah ku duga, hal ini akan terjadi juga.” Kata Jonghyun sambil tersenyum sinis. “Lalu, apakah kau tega meninggalkan Sujeong?”

‘DEG. Pertanyaan Jonghyun oppa berhasil membuat lidahku kelu untuk menjawabnya.’ Batin Jaewon.

“Aku memang tidak melarangmu untuk mengejar cita-citamu. Tapi kamu egois, tidak memikirkan perasaan orang-orang yang menyayangimu. Apa kau ingat dulu aku pernah memberi satu persyaratan untukmu?” ujar Jonghyun mencoba mengatur nafasnya yang kian memburu.

“Tentu saja aku masih ingat oppa. Aku boleh pergi asalkan mendapatkan persetujuan dari orang-orang yang menyayangiku, kan?”

“Lalu, apakah kau sudah mendapatkan persetujuan dari Sujeong?” Tanya Jonghyun sambil memandang langit-langit kamarnya, mencoba meredam emosinya.

“Mungkin juga, aku akan mengajaknya pindah ke London.” Jawab Jaewon sekenanya.

“Lalu, kapan kau akan berangkat? Kalau kamu mau mengajak Sujeong ke London, lalu bagaimana dengan sekolahnya? Biarlah Sujeong disini bersamaku, lagian semua keluarganya juga ada disini.”

“Kalau bisa secepatnya, kuliah akan dimulai tiga bulan lagi, dan sebelum itu aku harus mengikuti kursus bahasa asing dulu selama dua bulan. Dan mungkin dua minggu lagi aku akan berangkat.”

“Aku hanya minta padamu Jaewon-ah, jangan melukai hati Sujeong.” Ucap Jonghyun yang kemudian beranjak pergi keluar kamar.

***

~Jaewon POV~

Aku tak bisa tidur malam ini, perasaan senang, sedih, kecewa, takut bercampur jadi satu. Apa ini keputusan yang salah? aku beranjak dari tempat tidur dan berniat menuju ke dapur untuk memasak, karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Saat aku melewati ruang tv, aku melihat Jonghyun oppa tidur meringkuk di sofa. Aku kembali menuju kamar untuk mengambil bantal dan selimut untuk Jonghyun oppa. Setelah aku memakaikan bantal dan selimut, kemudian aku mencium bibir Jonghyun oppa.

“Mianhae.” Gumamku pelan, tak tersa air mata mengucur dari kelopak mataku.

~Jaewon POV End~

~Jonghyun POV~

Aku merutuki diriku sendiri, kenapa dulu aku membuat perjanjian konyol seperti itu? Aku belum siap untuk berpisah dengan Jaewon dalam waktu yang lama. Lalu bagaimana dengan Sujeong, apakah dia lupa dengan keberadaan Sujeong? Semalaman aku memikirkan hal itu sampai tak terasa pagi pun menjelang. Tiba- tiba aku mendengar suara pintu terbuka. Aku yakin itu Jaewon. Kemudian aku pura-pura memejamkan mataku. Tak berapa lama dia memakaian bantal dan selimut di badanku. Namun hal yang lebih mengejutkan, Jaewon menciumku. Jaewon, jangan membuatku semakin sulit untuk melepaskanmu.

~Jonghyun POV End~

“Appa, kenapa tidur disini?” tak berapa lama aku mendengar suara malaikat kecilku yang berada di hadapanku, aku pun mulai membuka perlahan mataku.

“Eung, appa tadi malam nonton tv sampai-sampai ketiduran disini.” Jawabku sambil merubah posisi menjadi duduk.

“Oh. Tapi, appa tidak marahan sama umma kan?”

“ah, an..aniyo, siapa bilang appa marahan sama umma?” jawab Jonghyun gugup.

“Ayo sayang mandi dulu.” Ajak Jaewon pada Sujeong yang sedang duduk di pangkuan Jonghyun, kemudian Jaewon duduk disamping Jonghyun.

“Aniyo, umma sebentar lagi.” Elak Sujeong.

“Sayang, nanti kamu terlambat ke sekolah.”

“ne.” Sujeong pun menuruti perintah ummanya, dan beranjak dari pangkuan appanya.

“Lalu apa keputusanmu?” Tanya Jonghyun tanpa menatap Jaewon.

“Mianhae oppa, tapi aku akan tetap berangkat.”

“Dasar keras kepala.” Seru Jonghyun kemudian beranjak pergi meninggalkan Jaewon.

“Sujeong-ah.” Panggil Jaewon saat mereka-Jaewon, Jonghyun, Sunjeong-tengah sarapan bersama.

“Ne, umma. Museum iri-ya?”

“umma ada urusan yang mengharuskan umma pergi ke luar negeri, kamu dirumah baik-baik ya sama appa.” Ucap Jaewon hati-hati.

“Memang umma mau kemana? Berapa lama?”

“Ehm, umma mau ke London. Mungkin dua sampai tiga tahun. Tapi umma janji, umma akan sering pulang ke korea.” Terang Jaewon.

“Andwae. Umma tidak boleh pergi.”

“Tapi sayang, ini….”

“Pokoknya, tidak boleh ya tidak boleh.” Potong Sujeong.

“Sujeong, sudah siang, lebih baik kita berangkat sekarang.” Jonghyun menarik tangan Sujeong.

“Appa, umma tidak akan pergi ninggalin Sujeong kan?” Tanya Sujeong pada Jonghyun ketika mereka sudah berada di dalam mobil.

“Kan masih ada appa sayang.” Hibur Jonghyun.

“Memang umma sudah nggak sayang sama Sujeong lagi ya?”

“bukan begitu sayang, nanti kalau Sujeong udah dewasa, Sujeong pasti bakal ngerti.”

“Memangnya harus nunggu Sujeong dewasa ya, appa?”

“Ne.”

“Kalo gitu Sujeong nggak mau jadi dewasa, soalnya orang dewasa terlalu banyak masalah.”

Mendengar celotehan Sujeong, Jonghyun hanya bisa tersenyum-sedikit terhibur- dan mengacak pelan rambut Sujeong.

***

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, Sujeong pun mulai menerima kepergian umma nya, walaupun dari hatinya yang paling dalam , ia tak mau ummanya pergi. Namun ada Jonghyun yang selalu memberikan pengertian pada Sujeong.

“umma, bolehkah malam ini Sujeong di tidur disini?” Tanya Sujeong saat berada dikamar Jonghyun dan Jaewon sambil menggendong boneka teddy bear pemberian appanya. “Sujeong pengen tidur sama appa dan umma.”

“Tentu saja boleh dong sayang. Sini!” Jaewon berajak kemudian menggendong Sujeong.

“Sekarang sudah ada appa sama umma, Sujeong tidur ya.” Tawar Jonhyun.

Sujeong hanya mengangguk kemudian mencium pipi appa dan ummanya secara bergantian. “Selamat malam appa, selamat malam umma.” Kemudian Sujeong memejamkan matanya.

“Selamat malam sayang.” Jonghyun mengecup kening Sujeong. Ia merasa kasihan pada Sujeong. “Jaewon-ah. Kau juga harus tidur, besok kau akan berangkat kan?”

“Ne. oppa.”

“Sujeong-ah, nanti sepulang sekolah kamu jadi mengantar umma ke airport kan?” Tanya Jaewon saat mereka tengah sarapan.

“Ne.” jawab Sujeong lesu. “Umma nggak akan lupa sama Sujeong kan?” Tanya Sujeong terisak.

“Aniyo, Sujeong kan anak umma yang paling cantik, jadi umma nggak akan lupa sama Sujeong.” Jaewon juga ikut terisak. “Sujeong, nanti dirumah jangan nakal ya, jangan melawan apa kata appa.”

“Ne. umma.”

Tak terasa kelopak mata Jonghyun juga mengeluarkan air mata melihat pemandangan yang cukup tragis didepannya.

Setelah sarapan selesai, Sujeong pun pergi ke sekolah dengan diantar Jonghyun. Jaewon segera berkemas-kemas, dan sebelum dia berangkat, dia menyempatkan diri ke kamar Sujeong untuk meletakkan hadiah yang dia belikan untuk Sujeong. Tak sengaja tanggannya menjatuhkan buku yang terletak di atas meja belajar Sujeong. Jaewon pun memungut buku itu, dilihatnya foto dirinya, Jonghyun, dan Sujeong saat di Lotte World yang keluar dari buku itu. Ketika hendak membacanya, seseorang datang.

“Ayolah, kamu tidak ingin ketinggalan pesawat kan?” Suara Jonghyun mengagetkan Jaewon.

Jaewon berbalik. “Ne. oppa.” Kemudian meletakkan buku itu di dalam tas kecilnya.

At airport

“Oppa, aku titip Sujeong padamu.” Jaewon menangis di pelukan Jonghyun.

“Ne, percaya padaku. Hati-hati disana. Kalau aku ada waktu, pasti aku dan Sujeong akan menjengukmu” Jonghyun menahan air matanya agar tidak keluar.

Jaewon kemudian berlulut, menyejajarkan dirinya dengan Sujeong. “Sujeong, anak umma yang paling manis. Kamu masih ingat nasehat umma tadi pagi kan? Jangan buat appa marah ya karena tingkah manjamu.” Jaewon mengacak pelan rambut Sujeong dan kemudian memeluknya. “pesawat umma mau berangkat, umma pergi dulu ya.” Jaewon melepaskan pelukannya. Tangis Sujeong pun semakin kencang. Jaewon pergi menjauh sambil melambaikan tangannya.

“Sttt, uljima Sujeong-ah, masih ada appa.” Hibur Jonghyun sambil menggendong anak kesayangannya.

Jaewon tengah bosan berada di pesawat, tak ada hal yang bisa dia lakukan selain tidur. Tak berapa lama, ia teringat dengan buku yang ia temukan di kamar Sujeong, ketika dia akan berangkat. Kemudian ia mengambil buku itu dari dalam tas nya dan mulai membacanya.

‘Tedy, kenapa sih umma pegi ninggalin Sujeong sama appa di rumah sendiri? Apa umma sudah nggak sayang sama Sujeong lagi? Mollayo, kata appa, umma pergi untuk sekolah. Tapi kenapa sekolah lagi? Bukannya umma sudah jadi dokter yang hebat? Sujeong saja pengen kayak umma. Tapi kalau kata temen Sujeong, umma pergi sekolah lagi gara-gara Sujeong lahir, jadi umma nggak bisa nglanjutin sekolah lagi. Umma, kalau semua itu bener, maafin Sujeong ya, maafin Sujeong karena sudah lahir ke dunia ini. Jaewon berhenti sejenak mebaca isi buku tersebut, nafasnya tercekat dan butiran bening mulai mengalir dari kelopak matanya. Kemudian dia menarik nafasnya pelan-pelan dan mulai melanjutkan membaca.

karena itu, Sujeong mengijinkan umma pergi, walaupun sebenernya Sujeong nggak pengen umma pergi. Tapi Sujeong pengen melihat umma senyum lagi, senyum yang bikin Sujeong tenang. Umma, Sujeong harap umma nggak menyesal dan lupa punya anak kayak Sujeong. Umma, cepat pulang ya, biar Sujeong punya temen main Barbie dan rumah-rumahan lagi, soalnya appa payah kalau diajak main. Appa malah sering ngajak tidur daripada main. Umma, Sujeong sayang sama umma, apakah umma juga sayang sama Sujeong? Ah, mungkin tidak. Umma saja lupa sama hari ulangtahun Sujeong, buktinya pagi tadi umma tidak ngucapin selamat buat Sujeong, umma malah sibuk sendiri. Tangis Jaewon pun pecah, bagaimana bisa dia melupakan hari yang sangat penting bagi annaknya. ‘umma macam apa aku ini?’ batin Jaewon.

Sebenernya, Sujeong mau ngingetin ulangtahun Sujeong sama umma. Tapi tidak boleh sama appa, kata appa “jangan buat umma sedih”. Ya sudah, ulangtahunku kali ini nanti malam di restoran biasanya hanya dirayakan sama appa, halmeoni, dan harboeji, tanpa umma. Tedy, aku minta kado sama Tuhan, aku minta umma datang dan merayakan ulangtahunku. Aku harap Tuhan mau mengabulkan permintaanku kali ini. Umma, Sujeong sayang sama Umma. Umma pulang ya!! <3’

            “Anak ini, masih kecil tapi sudah dewasa.” Gumam Jaewon sambil tertawa renyah dan megusap airmata nya. Tanpa berpikir panjang, dia bertekad setelah transit di airport selanjutnya, dia memutuskan akan kembali ke korea dan membatalkan beasiswanya.

Jaewon tiba di korea sekitar jam 8 pm KST. Dia langsung pergi menuju restoran tempat Sujeong merayakan ulangtahunnya.

“Sujeong-ah, ayo tiup lilinnya. Tapi jangan lupa untuk make a wish dulu.” Pinta Jonghyun.

“Ne, appa.”

“Sujeong-ah.” Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing bagi Sujeong.

Ketika membuka mata, Sujeong langsung berhambur  ke pelukan ummanya. “umma, apa ini beneran umma?”

“Ne, ini umma sayang. Umma datang untuk Sujeong dan appa. Mian, kalau umma sudah melupakan ulangtahunmu.”

“Ne. umma datang, Sujeong sudah sangat senang.”

“Mian, umma juga tidak bawa kado buat kamu sayang.”

“Aniyo umma, bagi Sujeong umma adalah kado buat Sujeong. Tapi umma janji, umma nggak akan pergi lagi ninggalin Sujeong sama appa kan?”

“Ne. umma janji. Sambil mengeratkan kelingkingnya pada kelingking Sujeong.

“Sujeong-ah, ayo tiup lilinnya.” Kata Jonghyun tiba-tiba. Kemudian Sujeong pun meniup lilinnya. Jaewon pun berdiri di samping Jonghyun.

“Oppa, mianhae.” Kata Jaewon sambil berbisik.

“Aku tahu kau akan menyadarinya, Mrs. Kim.”

“Tapi kenapa tadi pagi kau tidak mengingatkanku tentang ulangtahunnya Sujeong? Aku merasa menjadi umma yang sangat kejam.” Jaewon memukul lengan Jonghyun pelan.

“Yaa..yaa..kenapa kau jadi melakukan kekerasan kepadaku? Itu balasan untuk orang keras kepala seperti kau Mrs. Kim.” Jonghyun dan Jaewon tertawa bersama.

::FIN::

©2011

Akhirnya kelar juga *solat tobat*…

Makasih buat yang udah mau baca ff gaje ini *deep bow*. Sumpah. Ni ff ancur banget

Admin Note: Di length kamu nulis twoshots? tapi di akhir ada kata ‘Fin’, mungkin ini lebih tepat dibilang oneshots kali ya?

Sekali lagi terimakasih buat Reader yang udah mau baca ff gaje ini.. jangan bosen-bosennya baca ff buatanku. Keep RCL. Gamsahamnida!!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “I’ll Be Here, Nae Nampyeon”

  1. kirain akan jadi konflik berat buat jonghyun, jaewon dan sujeong.
    Tapi ternyata gaa~

    Nice ff thorr !

  2. Keren keren,,,,ceritanya seru n g banyak konflik,,,banyak pelajaran dr ff ini,,,jonghyun yg sabar n jaewon yg akhirnya sadar,,,,hehheehheeh,,,,nice ff

  3. Ahhha…. Untungnya Jaewon gx jadi pergi…. Kan kasian Soejongnyaaaaaa….. Si Jjong nih emang paling pas klo meranin tokoh suami Ideal,,, Pengertia, baik hati tapi Kadang jahillllllll….

    Si Soejong umurnya brp ya?? Aq bayangin dia kls 3 SD…. Tapi cukup dewasa dan bijakkk….. Nice story,,,,,

    ps. Setuju sm adminnya,, kirain Twoshoot,, ehh tp Lgsg Final,,,hehehe

  4. Kim Jaewon as YOU — jd inget pelatih dance shinee.. lol…

    oh nikah muda ya..

    maafin Sujeong karena sudah lahir ke dunia ini — duuuhh ini nyesek bgt thor T.T

    keren thor..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s