I’m Not A Playboy – Part 2

I’M NOT A PLAYBOY – Part 2

 

Author : Vinny a.k.a. vinvin

Main cast : Kang Ji Hyun (OC), Kim Jong Hyun

Support cast : Lee Tae Min, Park Min Ri (OC), Kim Ki Bum (Key), Choi Min Ho, appa dan Umma Ji Hyun, …

Length : sequel

Genre : romance, friendship

Rating : General (iyakah?? Aku bingung… Mungkin PG)

AN: FF ini pernah ku publish di sebuah blog wp dengan judul dan nama author yang sama. Kalau ada sedikit perbedaan kata-kata antara ff yang ada di wp itu dan dengan ff di sini, itu karena sudah ku edit ulang. Tapi ceritanya tetap sama kok.

Disclaimer: This story is mine, and the plot is mine too. Don’t copy without permission. We hate plagiarism!

~~~

Ji Hyun melangkah menuju kelasnya tanpa semangat. Tasnya sudah hampir jatuh, hanya bergelantungan di sebelah bahunya. Poni Ji Hyun yang agak panjang itu terurai jatuh menutupi wajahnya yang tertunduk. Ji Hyun merasa hampa, dia rasa hidupnya tak berarti apa-apa lagi. Dia hanya jadi robot, boneka, wayang, atau apapun itu namanya. Kenapa? Tentu saja karena kejadian kemarin malam. Hal yang berada di list terakhir dalam daftar ‘kejadian-apa-yang-hanya-ada-di-novel’ miliknya.

*Flasback*

“Ji Hyun, sebenarnya… kamu sudah dijodohkan,” kata Appa Ji Hyun setelah makan malam mereka, pelan tapi tegas dan jelas.

“Uhuk… uhuk….” Ji Hyun tersedak. Air yang baru ingin diminumnya keluar lagi.

“A… Apa?! Dijodohkan?” Ji Hyun mengulang kata-kata Appanya.

“Iya.”

Ji Hyun terdiam. Entah kenapa perutnya melilit, kepalanya pusing dan dadanya terasa sesak. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tenggorokannya tercekat. Yang keluar hanyalah kata yang terbata-bata.

“Ta… tapi…. A… apa….”

“Tenanglah Ji Hyun, biarkan Appamu menceritakan semua padamu….” Umma menggenggam tangan Ji Hyun lembut.

“Kau ingat dengan Kim Dong Woo?” Appa bertanya dengan tenang. Ji Hyun hanya mengangguk lemah.

“Dia dan Appa sudah berteman sejak masih muda dulu. Dia punya anak laki-laki yang sebaya denganmu. Dulu kami pernah berniat untuk menjodohkan kalian. Tapi Appa sudah tidak mengingat hal itu lagi. Sampai pada seminggu yang lalu Dong Woo kembali menagih janji itu. Sebenarnya Appa ingin menolak karena Appa tahu ini akan menyakitimu. Tapi kita sudah banyak berutang padanya.”

Ji Hyun menatap Appanya bingung. Utang? Utang apa?

“Tiga bulan lalu saat usaha Appa mengalami kerugian dan hampir bangkrut, Dong Woo lah yang membantu kita. Jadi Appa tidak bisa menolak. Kau bisa mengerti kan Ji Hyun?”

Bangkrut? Kenapa aku tidak tahu? Dan… Appa menyuruhku untuk mengerti? Yang benar saja?

“Appa, jangan paksa aku,” Ji Hyun berbicara dengan nada memohon, hal yang hampir tak pernah dilakukannya.

“Lusa nanti temuilah anak laki-laki Dong Woo,” kata Appa Ji Hyun seakan tak mendengar kata-kata Ji Hyun.

“Appa! Aku tidak bilang kalau aku bersedia!” Ji Hyun meninggikan suaranya.

“Ji Hyun, mengertilah keadaan Appamu! Turutilah keinginan kami, arasseo?” Umma Ji Hyun ikut buka suara.

“Umma? Umma membela Appa?” Ji Hyun menatap Ummanya tak percaya. Sekarang kedua orang tuanya bersekongkol untuk menjodohkannya dengan seorang laki-laki yang entah bagaimana wujudnya itu.

“Temuilah dia lusa. Nanti kami akan mengatur tempat dan waktunya,” kata Umma dengan dingin.

Ji Hyun mendorong kursinya ke belakang dan berdiri. “Cheongsamhamnida Appa, Umma, tapi aku tak mau melakukannya.”

Ji Hyun berlari naik ke kamarnya. Dia menutup pintu kamarnya dengan keras dan langsung menguncinya, membiarkan dirinya bergumul sendiri dalam pikirannya yang kacau.

*Flasback end*

 

“Aah…!” Ji Hyun berteriak pelan. Dia meremas rambutnya pelan. Tertekan. Itulah yang dirasakannya.

Dia benar-benar bingung dengan apa yang harus dilakukannya? Menerima perjodohan itu? Atau menolak? Tapi kalau mengingat utang Appanya yang banyak terhadap Dong Woo Ahjussi, Ji Hyun rasa pilihan terbijak adalah menurut saja. Dia tidak ingin menyulitkan Appanya. Dia ingin jadi anak yang berbakti. Tapi kalau cara yang harus dilakukannya adalah dengan menerima sebuah perjodohan, rasanya tidak mungkin!

Tuhan, batin Ji Hyun. Berikan aku petunjuk apa yang harus aku lakukan…. Menjadi anak berbakti dengan menerima? Atau mengikuti hati nurani dengan menolak?

***

Mata Jong Hyun tak lepas dari yeoja yang baru saja memasuki kelas itu. Sekali lihat saja Jong Hyun sudah merasa ada yang tidak beres dengan yeoja itu. Dia terlihat lesu, tak bersemangat, dan… suram. Langkahnya diseret, wajahnya hanya menatap lantai dan tubuhnya yang biasanya selalu tegap dan terlihat penuh diri itu membungkuk lesu.

Ada apa dengannya? Jong Hyun bertanya-tanya di dalam hatinya. Dia begitu penasaran. Walau begitu dia tidak berkata apa pun saat yeoja itu duduk di meja di sampingnya.

Yeoja itu menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya keras. Dia menegakkan posisi duduknya dan terlihat berusaha mengembalikan kharismanya. Jong Hyun tersenyum kecil melihatnya. Kang Ji Hyun, lemah tapi berusaha terlihat kuat, pikir Jong Hyun.

“Ji Hyun…. Neo gwenchanayo?” sebuah suara yeoja terdengar mendekati Ji Hyun.

Ji Hyun menoleh ke arah Min Ri yang baru saja memasuki kelas.

“Gwenchana.” Ji Hyun berusaha tersenyum. Tapi senyumnya terasa hambar.

Setelah Min Ri, Tae Min dan Hae Woo, teman Tae Min, pun memasuki kelas. Hae Woo segera bergabung dengan teman-temannya yang lain, sedangkan Tae Min berjalan ke arah Ji Hyun.

“Kau sakit?” Tae Min tampak khawatir. Dia menempelkan punggung tangannya ke dahi Ji Hyun, mencoba untuk mengukur suhu badan Ji Hyun yang ternyata normal-normal saja.

Min Ri memperhatikan kejadian itu. Entah kenapa ada sedikit rasa tak senang yang dirasakannya. Aigoo.. kenapa aku jadi aneh begini? Tae Min hanya khawatir dengan Ji Hyun. Seperti aku khawatir dengan Ji Hyun juga, pikir yeoja itu.

“Aku tidak sakit, hanya agak lelah saja,” jawab Ji Hyun.

“Kalau ada masalah katakan saja pada kami, ara?” Min Ri memegang tangan Ji Hyun sebentar. Ji Hyun hanya mengangguk.

Ji Hyun merasa sedikit –hanya sedikit—bebannya terangkat. Melihat kedua sahabatnya begitu perhatian padanya, dia merasa kalau dia tidak sendiri. Dia punya teman-teman yang bisa diandalkannya, yang peduli dengannya dan bisa mendukungnya. Tapi untuk menceritakan hal ini kepada Min Ri dan Tae Min, Ji Hyun tidak yakin kapan waktu yang tepat untuk melakukannya.

***

Suasana koridor sekolah sepi. Tak terasa kegiatan belajar-mengajar hari itu berakhir juga. Siswa-siswi sudah pulang sejam yang lalu. Hanya tersisa beberapa saja yang masih ada di sekolah, dan salah satunya adalah Ji Hyun. Bukan kemauannya untuk lama-lama berada di sekolah. Tapi karena harus membahas perayaan ulang tahun sekolah sebulan lagi, dia jadi pulang telat walau dalam suasana hati kacau.

Ji Hyun berjalan pelan di koridor depan ruang guru sambil menikmati angin semilir dan suasana sepi yang terasa damai. Dia merasa lebih sejuk. Seandainya aku bisa lepas dari semua tekanan yang menghimpitku.

Tiba-tiba Shin Seonsaengnim, guru musik di sekolah Ji Hyun, berlari mendekati arah ruang guru yang memang berada tidak jauh di sebelah kanan Ji Hyun.

“Kang Ji Hyun, bisa tolong saya?” tanya Shin Seonsaengnim yang terlihat buru-buru.

“Ne Seonsaengnim. Otteohke?”

“Tolong ambilkan daftar nilaiku yang tertinggal di ruang musik. Nanti taruh saja di atas mejaku. Aku harus segera pergi ke rumah sakit sekarang,” kata Shin Seonsengnim terburu-buru dengan wajah gembira.

“Baiklah Seonsaengnim. Apakah istri Anda akan melahirkan?”

“Iya, aku pergi dulu, kamsahamnida Ji Hyun.”

“Cheonmaneyo Seonsaengnim,” balas Ji Hyun sambil menatap kepergian guru musik itu.

“Huh….” Ji Hyun menghela nafas panjang. Dia menyesal sudah berkata akan menolong gurunya untuk mengambilkan daftar nilai yang ketinggalan itu. Sebenarnya dia tidak ingin berurusan dengan yang namanya ruang musik. Tapi tidak mungkin kan Ji Hyun menolak permintaan Shin Seonsaengnim dengan alasan yang tidak bisa diceritakannya?

Ji Hyun pun mencoba berkeliling, berusaha mencari seseorang yang bisa dimintai tolong untuk mengambilkan daftar nilai Shin Seonsaengnim. Kaki Ji Hyun bergerak ke arah taman belakang. Dan ya! Memang masih ada orang di sana. Bukan hanya satu, dua orang malah. Tapi langkah Ji Hyun langsung terhenti saat melihat dengan jelas hal yang tak seharusnya dia lihat….

***

Dalam hati Jong Hyun tertawa. Huh, gampang sekali merayu yeoja ini. Tidak ada tantangan, batinnya. Jong Hyun merengkuh pinggang yeoja itu saat ada yang berlari ke arah mereka.

Jong Hyun langsung menoleh ke sebelah kanan. Seorang yeoja tampak terkejut melihat mereka. Mulutnya terbuka lebar.

“Kalian…! Apa yang kalian lakukan?” teriak Ji Hyun terkejut. “Tidak boleh bermesraan di lingkungan sekolah,” dia kembali lagi ke gayanya yang tegas.

“Ji Hyun-ssi, mianhae….” kata yeoja yang tadi bersama Jong Hyun. Dia segera melepaskan diri dari pelukan Jong Hyun. “Aku akan segera pulang. Tolong lupakan.” Yeoja itu pun berlalu pergi.

“Huh, kau sudah membuat ‘mainan’ku kabur,” dengus Jong Hyun kesal. Jong Hyun lalu berjalan mendekati Ji Hyun yang terlihat waspada dengan gerak-gerik Jong Hyun.

“Karena itu, kau harus menggantikannya.” Jong Hyun meraih tangan Ji Hyun sebelum Ji Hyun sempat kabur.

“Ani! Lepaskan aku!” teriak Ji Hyun sambil berusaha melepaskan tangan kanannya yang dipegang Jong Hyun. Tapi genggaman Jong Hyun sangat kuat, dan memberontak hanya membuat tangan kanan Ji Hyun terasa sakit.

Sekarang giliran tangan kanan Jong Hyun yang menangkap tangan kiri Ji Hyun. Jong Hyun menarik Ji Hyun ke arahnya. Ji Hyun sedikit menundukkan kepalanya. Dahinya pun terantuk dengan dagu Jong Hyun.

“Aah!” teriak Jong Hyun kesakitan. Pegangannya langsung lepas dan malah mengusap-usap dagunya. “Kau mau merusak daguku ya?!”

“Salahmu sendiri! Makanya jangan main-main denganku, kau bisa kena sial!” Ji Hyun hampir saja berlari pergi saat dia ingat tujuan awalnya datang ke taman ini. Da pun berbalik dan menatap Jong Hyun dengan tatapannya yang sok kuasa.

“Kau harus menuruti perintahku!”

“Kau mencoba memerintahku?” tanya Jong Hyun heran.

“Iya, dan kau harus menuruti apa yang ku suruh. Sekarang ambil daftar nilai Shin Seonsaengnim yang ada di ruang musik. Ppali!”

“Hah?!” Jong Hyun masih terbengong-bengong dengan perlakuan Ji Hyun.

“Cepat!”

“Kenapa bukan kau saja yang melakukannya?”

“Aku tidak mau!”

“Kenapa?” Jong Hyun merasa penasaran.

“Kau tidak perlu tahu,” jawab Ji Hyun dingin. Jong Hyun merasa ada yang aneh melihat ekspresi Ji Hyun. Kenapa sebegitu dinginnya hanya karena sebuah ruang musik?

“Baiklah. Tapi kau harus mengikutiku,” Jong Hyun menarik tangan Ji Hyun, membawanya ke ruang musik.

“Hei! Lepaskan aku!” Ji Hyun berteriak, tapi Jong Hyun diam saja seperti tidak mendengar.

Mereka sudah sampai di depan ruang musik. Jong Hyun sudah membuka pintu dan sedang menarik Ji Hyun ke dalam saat Ji Hyun berteriak, “Aku akan menunggu di sini! Jadi lepaskan aku dan ambil daftar nilai itu sekarang juga.”

Jong Hyun menatap Ji Hyun sebentar sebelum melepaskan tangan Ji Hyun dan masuk ke dalam. Tak berapa lama Jong Hyun keluar dengan membawa daftar nilai yang diminta Ji Hyun. Ji Hyun segera merebut daftar nilai itu dari tangan Jong Hyun.

“Thanks,” kata Ji Hyun seperti tak ikhlas. Dia pun segera berlari ke ruang guru untuk meletakkan daftar nilai itu di atas meja Shin Seonsaengnim. Selesai sudah tugasnya.

Ji Hyun melangkah santai keluar dari ruang guru. Tapi langkahnya terhenti saat ada sesosok tubuh menghalangi jalannya. Dan orang itu adalah Jong Hyun. Ji Hyun menghela nafas panjang. Kenapa dia harus selalu berurusan degan laki-laki ini sih?

“Kau menghalangi jalanku,” kata Ji Hyun ketus.

“Karena aku sudah membantumu, kau harus membalas budi,” Jong Hyun menarik tangan kanan Ji Hyun.

“Hei, lepaskan! Aku tidak bilang akan membalas bantuanmu,” teriak Ji Hyun. Tapi Jong Hyun terus menarik Ji Hyun ke arah lapangan parkir.

“Tapi jaman sekarang tidak ada yang gratis, iya kan?” Jong Hyun menatap Ji Hyun lalu mengerling nakal. Ji Hyun melongo melihat tingkah Jong Hyun yang membuatnya sedikit ngeri.

Mereka telah sampai di lapangan parkir. Jong Hyun membuka pintu sebuah mobil merah yang sangat keren –dan pastinya sangat mahal itu—lalu mendudukkan Ji Hyun di kursi samping pengemudi.

Ji Hyun berusaha membuka pintu mobil tapi pintunya telah terkunci. Jong Hyun pun masuk ke kursi pengemudi dan menstarter mobilnya.

“Kim Jong Hyun!” teriak Ji Hyun. “Kau mau membawaku ke mana?” Ji Hyun menatap Jong Hyun dengan tatapan marah. Tapi sebenarnya di dalam hatinya dia mulai ketakutan.

“Menurutmu?” Jong Hyun malah balik bertanya sambil melemparkan evil smile.

“Turunkan aku sekarang,” kata Ji Hyun dingin.

Jong Hyun melirik Ji Hyun. “Tidak mau.”

“Turunkan aku Kim Jong Hyun, kalau tidak aku akan….” Ji Hyun menggantung kalimatnya, berusaha menakut-nakuti Jong Hyun.

“Akan apa?” Jong Hyun malah menantang Ji Hyun.

Ji Hyun tercekat. “Aku akan… akan… akan berteriak!” ancam Ji Hyun.

“Coba saja,” kata Jong Hyun santai.

“Mwo?!” Ji Hyun terkejut dengan respon Jong Hyun. Tampaknya laki-laki itu memang tidak takut.

“Mana? Kau takut kan?” Jong Hyun terkekeh.

“Takut? Mana mungkin! Ne, lihat baik-baik!” Ji Hyun menarik nafas sebelum berteriak kencang. “TOLONGGG…..!!! TOLONG…! TOL…. emphttt….”

Mulut Ji Hyun sudah ditutup oleh tangan kiri Jong Hyun. “Ya! Kau gila ya? Aku akan dikira sedang menculik seorang yeoja!” Jong Hyun tampak panik.

“Aku hanya mengajakmu jalan-jalan, jangan berpikir yang macam-macam,” kata Jong Hyun lebih pelan sebelum melepaskan tangannya dari mulut Ji Hyun.

Ji Hyun terdiam. Jalan-jalan dengan laki-laki gila ini? Uh… siapa yang mau? Tapi Ji Hyun pun sudah malas berteriak-teriak. Memalukan saja berteriak seperti orang gila. Ji Hyun pun duduk dengan lebih rileks. Walau begitu tampang cemberut belum hilang dari wajahnya.

***

Sungai Han tampak indah di sore hari. Cahaya matahari yang menguning membuat air tampak berkilauan. Ji Hyun menghirup udara yang segar dalam-dalam. Perasaanya menjadi lebih tenang.

“Bagus kan?” tanya Jong Hyun yang berdiri di sampingnya. Ji Hyun hanya menganggguk tanpa megalihkan pandangannya dari keindahan sungai Han.

Jong Hyun berjalan pergi sebentar sebelum kembali lagi. “Ini untukmu,” kata Jong Hyun.

Ji Hyun menoleh ke arah kanan. Jong Hyun menyodorkan sebuah es krim padanya. Ji Hyun membeku melihat es krim itu, es krim cone rasa choco mocca. Sejenak ingatan Ji Hyun kembali ke masa lalu, saat namja yang dipanggilnya oppa itu memberikannya es krim choco mocca, saat mereka tertawa bersama dan saling mengoleskan es krim di wajah masing-masing, saat….

“Ji Hyun?” Jong Hyun melambaikan tangannya di depan waja Ji Hyun. Ji Hyun sadar dari lamunannya. “Ambil ini….” Jong Hyun menyodorkan es krim itu pada Ji Hyun.

“Huh…. Kau mau meracuniku lagi kan? Kau tidak akan bisa,” Ji Hyun tersenyum menyebalkan.

“Huh, kau tahu niatku rupanya.” Jong Hyun membuang es krim itu ke tempat sampah. Dia tak benar-benar ingin meracuni Ji Hyun. Tapi kata-kata Ji Hyun membuatnya kesal.

Ji Hyun diam saja sambil memperhatikan matahari yang sudah terbenam. Pertama ruang musik, lalu es krim choco mocca. Kenapa sih dalam satu hari ini aku mesti berhadapan dengan dua hal yang membuatku mengingatnya??  Ji Hyun menghela nafas. Ah, sudahlah Ji Hyun. Lupakan laki-laki itu. Kamu sudah melakukannya selama setahun, tinggal kamu lanjutkan saja terus. Kedengarannya tidak begitu susah.

Tiba-tiba Ji Hyun teringat sesuatu. “Omo!! Jam berapa sekarang?” Ji Hyun kelabakan mencari jam. Matahari sudah terbenam, kemungkinan besar sudah petang menjelang malam.

“Sudah jam enam lewat,” jawab Jong Hyun santai sambil melirik jam tangannya.

“Mwo?! Antarkan aku pulang sekarang. Aku tidak mau pulang malam.” Perintah Ji Hyun.

“Baiklah. Ayo.”

Ji Hyun berjalan mendahului Jong Hyun. Dia tak tahu Jong Hyun sedang memperhatikannya. Mengagumi wajahnya yang cantik, tubunya yang proporsional dan rambut yang indah. Neomu yeppeo… Sayang, dia galak setengah mati. Pikir Jong Hyun lemah. Tapi bukan Jong Hyun namanya kalau tidak bisa ‘menaklukan’ seorang yeoja….

***

Yeoja berambut hitam ikal itu berjalan pelan menuju meja kecil di kamarnya. Dia menarik sebuah laci, lalu mengeluarkan sebuah bingkai foto kecil yang disembunyikannya di bawah tumpukan buku. Foto dirinya dengan seorang laki-laki di sebuah taman di Seoul. Mereka tampak bahagia di foto itu.

Oppa… saat aku sudah benar-benar sehat aku akan kembali ke Seoul, kembali kepadamu. Tunggu aku sampai saat itu, Oppa. Jangan lupakan aku. Saranghae….

***

“Damn!” Jong Hyun memukul setir mobilnya keras saat lampu merah menyala. Bukan karena perjalanannya terhenti, tapi karena hal yang baru terjadi dengannya beberapa saat lalu. Hal yang membuat emosinya memuncak.

“Apa Appa sudah tidak berpikir jernih? Kenapa dia mau melakukan hal ini? Aargh!”

Lampu hijau menyala. Jong Hyun segera melajukan mobilnya kembali. Dia membelokkan mobilnya ke arah kanan dan berhenti di depan sebuah bar. Setelah memarkirkan ia segera turun dan masuk  ke dalam.

Suara musik yang hingar-bingar menyambut Jong Hyun saat dia masuk ke dalam. Begitu pula dengan bau rokok dan alkohol serta kedap-kedip lampu yang berwarna-warni.

Jong Hyun berjalan ke pojok bar, tempat favoritnya menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Dia menghiraukan beberapa yang memanggilnya. Tujuannya hanya satu, Min Ho dan Key yang sedang duduk sambil mengobrol. Satu-satunya tempat dimana dia bisa mencurahkan semua yang dari tadi memenuhi pikirannya.

Min Ho dan Key sedikit bergidik melihat Jong Hyun yang menghempaskan dirinya dengan sangat keras ke atas sofa. Apalagi Jong Hyun langsung meraih sebotol bir dan menenggak isinya sampai tersisa setengahnya saja. Mereka tahu kalau ada yang tidak beres.

“Apa dia kira aku akan menurutinya?” tanya Jong Hyun seperti berbicara sendiri.

“A… apa?” Key bertanya ulang, takut salah mendegar.

“Apa aku tidak bisa mengatur dan memilih jalan hidupku sendiri? Apa aku tidak bisa mencari yeoja sendiri?” Jong Hyun tidak mabuk. Setengah botol bir tidak akan membuatnya mabuk. Dia bertanya hanya karena dia ingin, hanya karena dia merasa frustasi.

“Kau kenapa Jjong?” Min Ho bertanya dengan hati-hati. Dia tahu sahabatnya itu sedang sangat kacau. Dia hanya tidak ingin semakin merusak suasana hati Jong Hyun.

Jong Hyun menghembuskan nafas keras sebelum menjawab. “Terserah kalian mau percaya atau tidak. Tapi… AKU DIJODOHKAN.”

Min Ho dan Key saling berpandangan. Mulut mereka terbuka lebar selebar-lebarnya.

Dijodohkan???

TBC…

 

A.N : Please leave your comment. Comment like oxygen! \(^.^)/

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “I’m Not A Playboy – Part 2”

  1. Jjongie.. Ga usah kalap dong.. Kalo tau calon tunanganmu ji hyun masih kalap?? Kkk~

    aigoo~ aku ga bsa nahan diri untuk ga bca kalo dapet ff dgn maincast jjong.. Walaupun pulsaku cekan dan pekerjaanku terbengkalai.. Huft..
    Lanjutkan, chingu..
    Ditunggu..

  2. makasi uda baca n ninggalin comment ^^
    chingu blingers ya? wkwk
    semangat ya kerjanya.. moga pulsa terisi lg n kerjaannya bsa slesai.. ^^

  3. Ji hyun galak bener ya,
    yah Jong hyun blm tau kalau dia dijodokan ma Ji hyun. ntar kalau tau gmana ya ?? he

  4. waaa tuh kan.. jjong sm jihyun nih.. kyknya udh knl dr kcl sbnrnya… tp g inget..

    lanjut lanjut

  5. Kyaaaaa~ udah lama nih nunggu ff ini. Akhirnya ada lanjutannya juga.. Hehe. Author next part cepet dong. Ceritanya seru nih. Jong lucu.

  6. penasaran sama seseorang di masa lalunya ji hyun~~ apakah onew?
    ji hyun jahat banget ya sama jonghyun 😦
    berawal dari benci pasti berubah jadi jatuh cinta dooong~

    can’t wait for the next part! 😀

  7. Yeoja berambut hitam ikal? nugu? mantannya Jonghyun kah?
    tambah yakin nih yang dijodohkan ma JiHyun pasti Jonghyun

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s