[Imaginary ver.] Not Cyber Love=Not LDR (HAPPY ENDING 2.3)

[Imaginary ver.] Not Cyber Love=Not LDR

(HAPPY ENDING 2.3)

I’m coming everyone. Gimana kabar kalian semuan nih ceritanya? (kok ceritanya ya?)

Ahh ya pokoknya gitulah adanya (??) => makin ngaco

Gimana nih yang kelas 3, waktu UN bisa jawab soal-soalnya dengan baik, kan? Pasti lagi pada gugup nungguin hasil, ya? Nah, sambil nunggu, lanjut baca FF, yuk! ^^ Oh ya, maaf bgt sebelumnya karena FF kali ini lama bgt. Harap maklum ya karena aku sibuk nyiapin diri sama nilai buat capping yang sebelumnya udah aku bahas di part 1 happy ending ini. Jd, mohon pengertian kalian semua ya ^^

Oke deh, ga usah panjang” curhatnya, nanti ga selesai” soalnya aku klo curhat tuh msti dr A-Z hohoho ^^

Oke deh, let’s read it!! Kajja!!!

Author             : Ji I-el

Main Cast        : Lee Taemin, Athena Efrinne (it’s Taemints time), Lee Jinki ^^

Support Cast   : Lee Taesun (anggap aja kembarannya Taemin), Allichia Putri, Staff rumah sakit, Mrs. Lie (dan masih banyak lagi sepertinya) ^^

Length             : Sequel

Genre              : Romance

Rating             : Teen

Summary         : “… I hope I still find a love for me in there, then I know right.” kataku sembari menuruti pintanya untuk meletakan tangan kananku di dadanya yang berdegup dengan frekuensi yang tidak dapat aku jelaskan.

***I-el

***Athena POV***

“Hhh…” aku menghembuskan napas dengan gusar. Pada mobil yang menjemput kami, nenek Lie memintaku untuk duduk di mobil yang sama dengan Lee Jinki sedangkan beliau sendiri menumpangi mobil lain bersama dengan orang kepercayaannya. Kedua mobil ini masih riuh menyusuri jalan seputar daerah Cengkareng menuju Jakarta, “hhh..” sudah kesekian kalinya aku menghembuskan napas dengan kasar seperti ini dan kali ini membuat Lee Jinki yang duduk bersebelahan denganku menatap aku dengan tatapan yang tak bisa aku jelaskan artinya.

“Kau kenapa?” tanyanya masih dengan hangukeo yang kental dengan aksen Jepangnya.

Aniyo. Nan gwaenchanayo.” kataku berusaha mengusir tatapannya yang masih lengket pada wajahku itu. Entah ada apa di wajahku sampai dia melihatku dengan tatapannya itu.

Aku perhatikan wajahnya yang putih bersih dengan seksama saat dia melepaskan pandangannya dariku. Benar kata nenek Lie, wajah Lee Jinki memang lebih ke wajah Chinese yang biasa aku temui di bilangan Jakarta Barat dan sekitarnya, ketimbang wajah Korea yang seharusnya lebih kuat.

Dan ternyata, mobil yang kutumpangi ini mengarah ke bilangan Jakarta Utara, tepatnya ke sebuah komplek hunian eksklusif di daerah tersebut. Pagarnya yang teramat tinggi terbuka separuh begitu mobil kami mendekat ke arahnya. Sang supir membuka jendela di sampingnya dan menujukkan satu kartu pass dan kemudian melajukan kembali mobilnya, kini agak perlahan, mungkin karena di lingkungan komplek perumahan.

Jujur aku terperangah menatap rumah-rumah menjulang yang ada di sisi kiri dan kananku dan mungkin aku akan terlihat konyol, tapi memang sedari dulu, sekalipun aku lahir dan besar di Jakarta, aku tak pernah menjejalkan seujung jari kaki pun ke tempat ini, lalu sekarang disinilah aku berada serta akan tinggal dalam beberapa waktu. Sungguh di luar nalarku.

“Kau ini kenapa, Thena ssi? Bukankah di Korea kau sudah sering melihat yang lebih besar dari ini?” suara Onew ssi mengacaukan kekagumanku. Dia ada benarnya juga, tapi bukan itu yang kumaksud.

“Umm ya, memang. Hanya saja, aku merasa asing dengan kota kelahiranku sendiri karena ini bahkan kali pertamanya aku dapat menjejakkan kaki ku ke tempat yang kupikir tak akan pernah terjamah secuilpun bagiku ini.”

“Oh begitu. Tapi kau sudah harus membiasakan dirimu mulai dari sekarang, rumah kami di Korea bahkan lebih luas dari ini.” katanya dengan senyum pilinan dan aku tidak bohong, dia terlihat sangat manis dengan senyumnya itu.

Aku menggeleng kan kepalaku, berusaha sadar dari kekagumanku dengan wajahnya. Lalu aku seperti tersadar sesuatu dengan pernyataannya barusan, “hum? Kenapa kau berkata seperti itu? Apa kau pikir selamanya aku akan jadi perawat pribadi Lie halmeonni?”

Aku tersentak ketika tiba-tiba dia mengelus puncak kepalaku, “bukan begitu, hanya saja, mungkin tak lama lagi kau akan jadi bagian dari keluarga kami.” lagi-lagi dia tersenyum.

** Clouds El Moon **

            “Here we go!!” seru nenek Lie begitu kami sampai di sebuah rumah tanpa pagar, hanya dikelilingi berbagai macam tanaman hias. Nenek  ini memang selalu saja memberikanku kejutan. Terkadang bisa sangat diam, tak lama kemudian bisa sangat ceria seperti baru melihat dunia.

Aku menyunggingkan senyum, “ne, halmeonni.”

Aku pun membantu supirnya menurunkan barang dari bagasi, dan saat aku hendak mengambil tas jinjingku, aku merasa punggung tanganku disentuh oleh telapak tangan yang sangat hangat.

“Sini, biar aku saja. Wanita harap masuk saja langsung ke dalam.” katanya sambil mendorongku pelan dan mengambil tas jinjing milikku yang belum sempat aku pegang tadi.

Aku merebut tas jinjingku, “setidaknya untuk yang satu ini, aku saja yang membawanya.” kataku sambil melenggang pergi sambil memanyunkan bibirku, mengejeknya.

Aku pun segera menggandeng tangan pasienku agar segera masuk ke dalam rumah. Sebelum sempat jauh dari Jinki, aku menoleh ke belakang. Dia masih menatapku dengan tatapan ‘dasar wanita ini!’, aku tersenyum kecut, lalu menjulurkan lidahku. Lagi-lagi aku mengejeknya, dan entah kenapa, melakukan ini membuatku merasa sudah akrab dengannya. Sambil berjalan dengan menuntun nenek Lie, aku mengernyitkan dahi. Entah kenapa, aku merasa bebanku berkurang dengan keberadaannya. Astaga, sepertinya aku sudah terlanjur masuk dalam permainan ini. Aish…

** Clouds El Moon * 

Aku berdiri di balkon lantai dua. Sejak tadi mataku sibuk menjelajahi setiap inci pemandangan yang ada disekelilingku. Aku suka dengan pemandangan yang ada tepat di depanku, menghadap ke arah lapangan golf eksklusif yang disertai dengan danau buatan yang memenuhi seluruh pesisir lapangan hijau tersebut.

Ada sebuah tangan meraba pundak ku, membuat diriku sedikit meliukan leherku untuk menyingkirkan tangan itu. Aku belum menoleh, mencoba tidak mempedulikan si pemilik tangan itu. Namun, tangannya menjalar ke tengkuk ku dan sukses membuat aku menggeliat lebih hebat karena leherku adalah bagian sensitifku.

YA!!!! DASAR TIDAK SOPAN!” kataku dengan nada meninggi karena aku tidak suka ada orang yang menyentuh titik sensitifku.

“Hey, santailah.” dia menautkan kembali tangannya yang sempat aku hempas, kini Ia mengaitkan tangannya lagi dan menarikku untuk mendekat ke arahnya. Aish.. aku benar-benar tidak suka dengan caranya memperlakukanku seperti ini.

Aku menoleh kepadanya, sudah kuduga tangan itu milik Jinki, “sebenarnya ada apa? Tidak perlu sok akrab denganku.”

“Hei hei hei, aku hanya ingin mendekatkan diri denganmu, apa aku salah?”

“Jelas salah karena ini bukan sepantasnya.” aku memberi jarak antara aku dengan dia dengan 2 langkah ke kanan.

Tak disangka dia juga ikut melangkah ke kanan, dan itu membuat posisi kami menjadi dekat seperti semula. Aku pun melangkah lagi ke kanan, kini dengan jumlah yang banyak, tapi dia masih saja mengikutiku.

“Sampai kapan kau akan menghindariku?” tanya Jinki sambil melangkah mendekatiku untuk terakhir kalinya.

“Sampai kau tidak mengikutiku lagi.” tanggapku dingin ke arahnya, sambil tetap melangkah menjauh darinya.

Kali ini dia menarik pergelangan tangan kiriku, “tunggu. Kali ini dengar aku.” hentakan tangannya ketika menarik ku membuat aku menatapnya, tapi aku tetap membisu. “Halmeonni memintaku mengajakmu jalan-jalan.”

Aku memandangnya dengan tatapan aneh, “hei, aku lebih lama tinggal disini daripada kau, tapi kau bertingkah seperti telah menguasai tempat-tempat di kota ini.”

“Tapi, apakah selama hidupmu kau pernah menghabiskan waktu untuk jalan-jalan? Tidak, kan? Aku berani bertaruh kalau pengalaman menyetirku selama 3 bulan di kota ini lebih banyak dibandingkan jam naik kendaraan yang kau pakai untuk mengelilingi kota kelahiranmu ini.”

Pernyataannya membuat aku setengah berpikir, ya dia memang ada benarnya juga. Jika bukan karena teman-teman masa SMA ku yang menculikku untuk pergi segera setelah jam sekolah berakhir, mungkin aku tidak akan pernah tahu dimana mall-mall besar itu berada.

“Lalu?” tanyaku pura-pura tidak antusias dengan ajakannya kepadaku.

Kajja!! Kita pergi keluar. Sekalian membeli beberapa perlengkapan baru untukmu, kau bahkan tidak membawa sehelai pakaian di rumah sama sekali selain seragam perawatmu, kan?” aku mengangguk, aku menyesal tidak membawa pakaian-pakaian ku yang kutinggalkan di apartement ku. Tapi setelah dipikir-pikir, buat apa aku membawanya. Toh, semua pakaian itu tidak cocok untuk dipakai disini, kurasa.

“Baiklah, kita pergi.” kataku dengan wajah malas.

Kajja!!! Kajja!!! Kajja!!!” serunya antusias seraya menarik tanganku dengan semangat.

‘Dasar anak kecil!!’ batinku sambil tertawa kecil.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

Setelah meminta izin pamit untuk pergi, Jinki kembali menarik tanganku penuh antusias. Selama di perjalanan, aku hanya terperangah dengan keseriusannya menyetir mobil. Sepertinya dia bahkan sudah sangat hapal jalan-jalan protokol di Jakarta. Dan tak sampai 30 menit, kami sudah sampai di lapangan parkir sebuah mall besar di daerah Jakarta Utara tersebut. Begitu sampai, lagi-lagi Jinki menarik tanganku, kali ini lebih erat dari biasanya, dan itu cukup memberiku sinyal untuk berpikir bahwa dia takut kehilanganku. Takut kehilangan dalam arti dia takut aku tersasar dan membuatnya kerepotan untuk mencariku nanti.

Kami berputar-putar mall, kira-kira hampir setengah jam. Keluar masuk toko baju, sepatu, tapi hasilnya nihil. Aku bahkan belum menjinjing tas belanja apapun. Dia selalu bilang ‘ini tidak cocok untukmu’ atau ‘ahh yang ini bagus, tapi tidak ada warna kuning.’, dan ketika kutanya mengapa harus warna kuning, dia menjawabnya dengan alasan klasik yaitu, “kuning adalah warna kesukaanku.” dan kalian tahu, jawaban itu entah mengapa sukses membuatku menurutinya untuk masuk ke toko berikutnya.

Lama-lama aku jengah dengan tingkahnya yang terkesan ‘apapun pilihanku adalah yang terbaik.’, dengan langkah terpaksa aku mengikutinya berputar-putar satu toko yang lumayan besar dan menyuguhkan beberapa pakaian yang mampu membuat dirimu tergiur untuk membeli semuanya yang ada di etalase depan. Dan lagi, Jinki menguasaiku, dia menarik tanganku hendak keluar dari toko padahal sejak tadi aku sudah memberikan isyarat bahwa aku menyukai salah satu baju yang dipakaikan ke badan manekin yang ada di etalase depan dan sudah berulang kali aku mengatakan aku menyukai warna biru, tapi tidak juga digubrisnya.

“Ayo, kita cari di tempat lain lagi.” kata Jinki sambil menarik pergelangan tanganku dengan memaksa.

Spontan aku menahan tubuhku agar tidak tertarik, “Jinki, bisakah kali ini aku yang memilih? Jujur, aku sudah lelah dengan segala tuntutanmu. Lagipula baju seperti apa sih yang kau cari?” kataku menahannya dengan suara yang sedikit kutinggikan. Dia terdiam menatapku bingung.

“Ka-kau..” responnya terbata, “ke-kenapa tidak bilang kalau sudah lelah, kita kan bisa istirahat sebentar di café jika kau mau.” Aku membelalakan mataku tanda aku marah.

“Bukan itu maksudku.” bantahku terhadap pernyataannya, “kau sadar tidak, dari tadi kau hanya bergumul dengan pikiranmu sendiri, kau bahkan tidak bertanya padaku apa yang aku suka, kau egois, kehendakmu saja yang harus terjadi. Kau pikir kau siapa, hah?”

“A-Athena, mianhae bukan maksudku begitu. Aku hanya ingin kau memakai baju yang terbaik menurutku untuk malam ini, bukan yang asal indah kau pandang mata saja, aku ingin kau terlihat..”

GOTCHA!! Itu maksudku.” Aku memberikan penekanan pada setiap kalimat yang aku katakan, “YANG ME-NU-RUT-MU BA-IK. Itu, itu menandakan kau begitu egois. Kau sadar tidak, jika aku egois sepertimu, aku bisa saja lari dari rumahmu dan kembali ke Korea semauku, tapi apa? Aku bahkan tidak pernah berpikiran untuk melakukannya sedikitpun karena aku peduli dengan apa yang orang lain inginkan.” emosiku sudah meledak dan aku memilih untuk keluar dari toko itu.

Dengan setengah berlari, aku meninggalkan Jinki yang bahkan tidak terlihat di belakangku untuk mengejarku, padahal dia tahu pasti bahwa aku sedang marah, ‘aishh Athena, apa sih yang kau pikirkan. Bukankah lebih baik dia tidak mengejarmu?’ batinku.

Aku berlari menuju lapangan parkir dan sibuk mencari dimana mobil Jinki tadi terparkir. Tadinya aku ingin pulang dengan taksi, tapi karena sesaat tadi aku tersadar bahwa aku bahkan tidak mengetahui alamat lengkap rumah sementara tempat aku menetap, aku memutuskan untuk mengelilingi lapangan parkir ini. Lama sudah aku berkeliling, tapi tak kunjung menemukan mobilnya. Jangan-jangan dia sudah pergi mendahuluiku tadi?

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dengan rawut yang frustasi. Aku berhenti melangkah sesaat dan baru menyadari bahwa lapangan parkir ini gelap dan sesak. Astaga, kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Aku bergidik ngeri, dan segala fantasi otakku membuat aku melangkah mundur perlahan, napasku mulai tak beraturan mengingat semakin ke dalam, lapangan parkir ini semakin tidak memiliki cukup oksigen untuk aku hirup. Dan selagi aku berusaha mengatur napasku, tiba-tiba ada tangan yang menyambar tanganku.

“Kyaaa!!!” teriakku dan segera saja tangan itu menarik tubuhku supaya memutar, “Ji-Jinki?” seruku ketika mataku dapat melihat wajah dari pemilik tangan yang tadi menarikku.

Tanpa sepatah katapun, dia menarikku mengikutinya. Otakku tentu saja menolak, tapi tidak dengan tubuhku. Kakiku tetap saja melangkah ke arah yang dituntun dan tidak lama, kami berhenti di sebuah mobil sedan bercat silver yang kuyakini adalah mobil yang sama dengan yang membuat kami bisa sampai ke mall ini. Dia mendorong tanganku ke depan, lalu melepaskannya asal, tanda dia menyuruhku masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku penumpang di sampingnya. Lagi-lagi aku menurutinya tanpa protes.

Kami masuk bersamaan. Aku hanya duduk menunduk karena sejujurnya aku takut melihat dirinya setelah insiden di toko tadi. Dari ekor mataku, aku dapat melihat dia meletakkan beberapa tas belanja dari karton di bangku penumpang belakang. Aku tak berani menanyakan.

Kemudian aku melihatnya melilitkan sabuk pengamannya dan hal itu membuat aku teringat bahwa aku juga belum mengenakannya. Aku menggeser sedikit posisi dudukku agar dapat menarik sabuk pengamannya, tapi entah kenapa tanganku bahkan tidak mampu menarik benda yang seharusnya sangat mudah untuk ditarik itu. Dan begitu aku menoleh ke arah Jinki, aku baru menyadari bahwa wajah Jinki hanya berjarak beberapa centimeter dari muka hidungku, ketika aku melihat tangan Jinki melingkar di depan wajahku untuk menarik sabuk pengamanku. Kemudian, dia menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikannya menuju ke rumah.

** Clouds El Moon ** 

Setelah menghabiskan waktu dalam kekakuan, akhirnya kami sampai juga di rumah. Aku segera turun tanpa diperintah olehnya dan masuk ke dalam rumah dengan langkah berlari kecil.

Aku menyuruh neutron di otakku untuk membuat tubuhku membawaku ke kamar Lie halmeonni untuk memeriksa keadaannya. Kulihat dia sedang beristirahat di tempat tidurnya dengan batal yang mengalasi bagian punggungnya untuk menopang posisi duduknya, dan buku tebal yang ada di pangkuannya menandakan dia lelah setelah membaca dan akhirnya tertidur.

Aku perbaiki posisinya menjadi berbaring, kuambil peralatan untuk melakukan vital sign milikku yang sengaja aku letakan di dalam lemari disamping tempat tidur beliau. Aku ukur temperature, pulse, respiration, dan blood pressure Lie halmeonni.

Setelah melakukan tugas utamaku bagi Lie halmeonni, aku naik ke lantai dua, menuju kamar tidurku. Aku rebahkan pantatku di tengah tempat tidur ukuran king size tersebut, menekuk kedua lututku, dan menarik bed cover-nya hingga sebatas paha. Aku ambil buku yang kuletakan di lemari kecil di samping tempat tidurku, lalu membuka halaman tengahnya. Aku mulai membaca.

Dan entah berapa lama aku membaca, aku mendengar suara ketukan pintu untuk kamarku. Tanpa aba-aba dariku, pintu itu sudah terbuka perlahan, dan muncul sosok yang ingin aku hindari. Lagi-lagi, tanpa sepatah katapun, dia berjalan mendekatiku. Spontan aku membenarkan posisi dudukku, dan menarik selimutku lebih tinggi, menutupi hingga pinggangku.

Jinki meletakan tas-tas karton yang tadi dia letakan di bangku penumpang belakang mobil saat pulang dari mall di atas kakiku, dan segera meninggalkannya tanpa bicara sepatah katapun, melengoskan napas pun kurasa tidak.

“Apa ini?” aku yang memulai angkat bicara sebelum dia menghilang dari balik pintu.

“Untuk makan malam nanti.” jawabnya dengan nada dingin tanpa berbalik ke arahku.

“Apa ini pakaian yang berwarna kuning dan sesuai dengan seleramu yang tinggi itu, tuan egois?” kataku mencibir. Entah kenapa rasanya aku marah sekali melihatnya.

Kata-kataku membuatnya sukses berbalik. Dia menatapku tajam, “kalau aku egois, aku tidak mungkin mencarimu di lapangan parkir yang gelap dan sesak itu, tapi aku akan meninggalkanmu sendirian berhubung kau punya penyakit asma, maka aku pikir akan lega sekali rasanya mengetahui asmamu kambuh di dalam sana. Tapi, tidak, kan?”

Aku tertegun mendengarkan kata-katanya, “Ji-Jinki.” Aku menatapnya tidak percaya. Bagaimana dia tahu kalau aku asma? Seluruh kata-kata yang kudengar itu, agak sulit aku cerna. Aku melihatnya pergi keluar dari kamarku sambil menutup pintunya agak keras. Dan sikapnya sukses membuat aku terpaku setengah mati, tidak bisa bergerak, dan aku rasa agak susah menghirup oksigen di dalam kamar ini.

** Clouds El Moon **

Pukul 6 tepat, aku menatap diriku di balik cermin. Dengan seksama aku lihat dress biru selutut yang aku kenakan. Sungguh manis. Ditambah lagi dengan sedikit sentuhan cardigan berwarna biru putih yang menutup bahuku agar tidak terekspos karena tali dress yang begitu tipis, membuat tangisku sepertinya akan pecah akibat perasaan bersalahku pada Jinki. Aku merunduk menatap kakiku yang telah bertenggerkan heels 4 cm berwarna senada dengan cardiganku. Aku malu dengan ucapanku tadi, ketika Jinki masuk ke kamarku untuk memberikan semua ini padaku.

Aku sapukan blash on di permukaan pipiku dengan tipis dan tak lupa memoles lip balm berwarna peach yang melengkapi sentuhan semua yang kukenakan. Setelah aku pikir sudah lebih rapi, aku turun dari kamarku, menuju pintu depan dimana Lie halmeonni dan Jinki sudah menungguku untuk makan malam.

Aku berjalan perlahan dan aku pun tiba di depan pintu. Kedatanganku mengundang reaksi menoleh ke arahku bagi mereka berdua dan bahkan supir dan juga orang kepercayaan Lie halmeonni. Mereka menatapku dari atas hingga bawah. Apa ada yang aneh?

Aigo~” sergah Lie halmeonni memecah acara tatap-menatapnya. “Neoneun neomu yeppeo.” puji Lie halmeonni. Dan kata-katanya pasti sudah membuat berkas blash on yang kupakai semakin tebal.

Jeongmal kamsahamnida, halmeonni.” responku seraya membungkuk.

“Ayo, kalau begitu kita berangkat. Sebelum lewat jam makan malam.”

** Clouds El Moon **

Sesampainya di restaurant yang dituju, kami menduduki satu meja dengan empat kursi, tidak jauh dari wastafel. Aku tersenyum tipis ketika Lie halmeonni menawarkan diri untuk memilihkan hidangan yang akan kami santap.

Tak sampai 15 menit menunggu, seluruh pesanan sudah tersedia di atas meja dan kami pun menyantapnya dalam diam. Agak risih memang, tapi apa boleh buat, aku tidak mungkin membuka pembicaraan karena akulah yang menyebabkan kondisi ini.

Aku lihat berkali-kali Lie halmeonni memberikan tatapan ‘ada apa’ padaku, tapi aku hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. Memang, terkadang sebuah senyuman palsu sangat diperlukan untuk menyembunyikan keadaan yang ada.

Sampai selesai makan pun, masih tidak ada perbincangan yang panjang antara aku, Jinki, Lie halmeonni bahkan asisten pribadinya sekalipun. Dan ketika kami telah sampai di lapangan parkir untuk mengambil mobil, Lie halmeonni memerintahkan Jinki yang menyetir sementara supir yang seharusnya ada di mobil yang aku dan Jinki tumpangi dipindahkan di mobil yang Lie halmeonni dan asistennya diami. Dan keadaan itu tentu sukses membuat aku membungkam mulutku dan bernapas tidak wajar.

Mobil yang ditumpangi Lie halmeonni berjalan lebih dahulu dan kami pun menyusul. Aku tidak berani menatap Jinki sama sekali karena sejujurnya aku masih malu dengan tindakanku yang tak tahu malu tadi sore tersebut. Dan seperti biasa, jika aku sedang gugup atau panik, ibu jari dan telunjukku akan bergemeletuk. Saat ini, satu-satunya yang kuharapkan adalah perjalanan pulang cepat berakhir.

Dan sepertinya harapanku terkabul, jalanan kota Jakarta tidak semacet yang kuperkirakan sehingga mobil yang dikendarai oleh Jinki sendiri ini telah terparkir sempurna di depan rumah. Jelas aku segera turun dan tanpa memedulikan sekitarku, aku naik ke lantai atas, menuju kamarku. Memang terlihat seperti tidak tahu sopan santun, tapi inilah yang biasa aku lakukan, menyendiri jika aku tahu bahwa saat ini aku sedang bersalah.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

***AUTHOR POV***

Begitu turun dari mobil, Athena segera berlari ke kamarnya tanpa memperkirakan bahwa masih ada Mrs. Lie di sana. Jinki yang berjalan tak lama setelah Athena berlari ke kamarnya, mendapat tatapan tegas dari neneknya.

“Jinki, sebenarnya ada apa?” tanya Mrs. Lie spontan.

Dengan hanya mengangkat bahunya Jinki menjawab, “entah.” kemudian dia mendenguskan napas dan menyusul Athena dengan naik ke lantai dua menuju kamarnya sendiri.

“Jinki, kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?” kata Mrs. Lie sambil mendelik. Jinki hanya mengangguk untuk menunjukkan respon pahamnya.

Begitu sampai di depan pintu kamarnya, dia melirik ke pintu kamar sebelah. Ada perasaan khawatir di dalam otaknya, tapi tubuhnya enggan menujukkannya pada yang dikhawatirkan tersebut. Lama Jinki diam dalam pikirannya dan akhirnya berjalan menuju ke kamar sebelahnya, kamar Athena.

Tokk.. Tokk.. Tokk..

Jinki mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam. ‘apa Athena sudah tidur, ya?’ dalam sela-sela ketukan pintunya yang kedua kali, Jinki membatin. Diputuskannya untuk membuka pintu kamar Athena walau tanpa izin. Dilihatnya Athena sedang meringkuk membelakangi lampu tidur yang ada di atas meja dan dilihatnya sekilas bingkai foto yang terduduk di samping lampu tidur tersebut.

Jinki berlutut di samping tempat tidur Athena, “aku tahu kau belum tidur, Athena. Napasmu bahkan belum teratur.” dan kata-kata Jinki sukses membuat Athena memutar tubuhnya dan menatap Jinki dengan sendu. “Apa yang kau khawatirkan? Apa ada kata-kataku yang salah dan membuatmu seperti ini?” lanjut Jinki lagi. Athena hanya menggeleng lemah.

Athena mengubah posisi tubuhnya untuk duduk, menghela napas berat sambil terus merunduk ke bawah. “Katakanlah, apa yang membuatmu gelisah?” Jinki mencoba membujuk Athena untuk bicara, tapi Athena tetap tidak juga membuka mulutnya walau sesentipun. Jinki melihat lagi-lagi ibu jari dan telunjuk Athena bergemeletuk, membuat Jinki semakin merasa berat melihat kegugupan Athena dan akhirnya tak kuasa dia tahan badannya untuk mendekap Athena erat, “maaf jika kejadian hari ini yang membuatmu seperti ini.” kata Jinki sambil mengelus punggung Athena.

Athena yang larut dalam kehangatan pelukan Jinki tak lagi dapat menahan tangisnya lebih lama lagi, “sstt uljimma. Dasin uljimarayo, heum?” Jinki dapat merasakan anggukan Athena.

Mianhae..” sambil menahan senggukan, Athena menyuarakan isi hatinya.

“Sudah, tidak apa-apa. Aku juga yang salah, kan?” Jinki melonggarkan pelukannya, mencengkram ringan bahu Athena, dan bicara dengan senyum kelegaan.

Tanpa sadar, Athena membalas senyuman lebar Jinki dengan senyum simpulnya yang tertahan, “mianhae.” ucap Athena sekali lagi, membuat Jinki mengacak-acak poni Athena.

“Sekarang, kau tidur ya. Besok kau kan sudah mulai bekerja di rumah sakit.” mendengar perkataan Jinki, dia teringat dengan cerita Mrs. Lie saat makan malam tadi bahwa dia bisa berkerja di rumah sakit yang menangani Mrs. Lie selama beliau berada di Jakarta. Ia pun tersenyum ke arah Jinki sambil merebahkan kembali tubuhnya.

Jinki membantu Athena menarik selimutnya hingga menutupi bahunya, “tidurlah yang baik. Kalau malam ini kau merasa sesak atau apa, di laci meja ini sudah ada obatmu.” kata Jinki sambil membuka laci meja yang dimaksud.

Dan tetap dalam kebisuannya, Athena mengangguk dan memutar tubuhnya membelakangi lampu tidur lagi. Jinki membantu Athena merapikan lipatan sudut selimut Athena dan membantunya mengapitkan ujung selimut ke bagian aksila*  sambil tersenyum leega karena persoalan diantara mereka hanyalah sebatas permintaan maaf yang enggan diucapkan satu sama lain oleh ego yang menahan. (*aksila=ketiak)

Tangan Jinki pun beralih ke arah lampu tidur di lemari berlaci di samping tempat tidur Athena, dan sementara akan mematikannya, Ia melihat sebuah bingkai foto yang sudah bertengger disana bahkan sejak dia memasuki kamar Athena pertama kali. Kalau sebelumnya foto itu hanya kilas berlalu di matanya, sekarang Ia mengangkat bingkai foto itu dan memperhatikannya baik-baik, lalu meletakkannya kembali..

** Clouds El Moon **

            ‘Umm kalau yeoja yang ada di foto itu sih, aku yakin itu adalah potongan foto remaja Athena, tapi potongan foto namja di sampingnya. Siapa dia? Mengapa rasanya aku pernah melihat foto ini? Tapi dimana, ya?!’ batin Jinki bahkan hingga dia telah kembali ke kamarnya untuk merebahkan tubuh, sementara otaknya terus berputar.

Jinki masih menerawang jauh ke langit-langit kamarnya, seolah pemandangannya bisa menembus ke ruang angkasa sekalipun, agar dengan jeli dapat melihat bintang.

“Tunggu. Kalau dilihat baik-baik foto namja yang ditempelkan persis di sebelah foto remaja Athena itu, umm seperti foto beramai-ramai tapi di crop. Ahh iya, pasti sebelumnya foto itu diambil bersamaan dengan orang lain juga, persis di samping namja itu.

“Aishh kenapa aku memusingkan itu? Seharusnya yang jadi pertanyaanku sebenarnya adalah siapa namja itu bagi Athena? Adik? Aish walau mereka terlihat mirip, tapi aku rasa dia bukan adik Athena. Kalaupun iya, kenapa bukan foto bersama saja yang dipajang? Kenapa harus foto hasil crop dan dijadikan satu dengan foto dirinya seperti itu? Dan, aku pikir juga tidak mungkin adiknya, kalaupun iya, kenapa dia tidak memajang foto terbaru dari mereka berdua?”

Begitu banyak fantasi liar Jinki mengenai selembar foto yang ada di dalam bingkai perak yang ada di kamar Athena tersebut. Hingga akhirnya dia berada pada kesimpulannya sendiri, ‘namja itu adalah seorang yang special untuk Athena.’ dan akhirnya menutup mata setelah lama Ia menguap dengan mata menahan kantuk dan lelah otak karena menerka-nerka.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

Keesokan harinya, pagi-pagi buta Athena telah terjaga dari tidurnya dan melalukan tugasnya sebagai seorang wanita, merangkap sebagai seorang perawat. Ia berada di dapur untuk membuat gluten* bumbu semur dan sup jagung untuk Mrs. Lie, sementara untuk Jinki, orang kepercayaan Mrs. Lie dan dirinya sendiri ditambah dengan kimchi dan sosis bakar.

Mungkin aroma masakan Athena yang membawa Jinki dan neneknya untuk turun ke ruang makan dan membuat Mrs. Lie harus memanggil assistennya untuk dapat ikut makan bersama mereka bertiga. Saat makan, tidak ada lagi kekakuan, justru terlukis jelas kehangatan yang tercipta di dalam rumah tersebut.

Dan setelah makan, Athena membersihkan ruang makan dan piring-piring yang kotor. Jinki sempat menawarkan bantuan, tapi Athena menolak halus dengan tersenyum sambil mendorong Jinki agar kembali ke kamarnya. Jinki terlihat menikmati kenyamanan dirinya saat melihat Athena sudah kembali dengan keceriannya. Tanpa raut wajah bingung, canggung, dan gugup seperti kemarin.

Setelah membersihkan dapur, Athena pamit untuk berangkat menuju rumah sakit tempat dia akan bekerja. Dan dengan semangat, Jinki meminta izin pada neneknya untuk mengantarkan Athena di hari pertamanya bekerja di Jakarta sebagai seorang perawat. Dari perbincangan antara mereka, sudah jelas Athena mengaku gugup menghadapi tempat kerja barunya. Mungkin selama ini dia sudah terbiasa dengan suasana praktis yang disediakan dua tempat kerjanya terdahulu, maka dia sedikit khawatir. Dan melihat itu, Jinki membesarkan semangat Athena dengan memuji hasil kerjanya selama dia merawat neneknya mulai dari di rumah sakit bahkan ketika dia dibawa bersama ke Indonesia. Tentu saja hal itu membuat Athena merasa lebih percaya diri.

Dan hari demi hari mulai berlalu, hingga tak terasa satu 2 minggu sudah Ia lewati di Jakarta.

“Athena.” panggil Jinki disela-sela waktu minum the sore itu.

“Umm?” tanggap Athena sambil menyesap teh jasmine dari cangkir biru yang digenggamnya.

“Besok, aku harus kembali ke Jepang. Tidak apa, kan?” Athena terbatuk, “gwaenchanayo?” Athena mengangguk.

Waeyo? Apa aku membuatmu tidak nyaman?”

“Ahh, bukan. Bukan.” Jinki membantah perkataan Athena, “aku harus melanjutkan kuliahku. Aku sudah mengambil cuti 1 tahun untuk membantu bisnis appa, makanya aku harus kembali ke Jepang agar kuliahku bisa selesai dalam tahun ini.”

“Ohh..” tanggap Athena dingin.

“Tidak apa, kan?” Jinki mendelik ke arah Athena yang menatap kosong.

“Ah?? Ya, ya. Tidak apa. Memangnya aku siapa sampai harus melarangmu pulang?” Athena tersenyum simpul, lalu menatap kosong lagi.

‘Kenapa aku merasa sedih? Apa karena aku sekarang mulai nyaman dengannya? Atau mungkin karena dia sudah menggantikan Taemin?’ Athena beradu argument dengan pikirannya sendiri, “hhh..” Athena menghembuskan napas gusar hingga membuat Jinki mendelik ke arahnya. ‘Tapi, kurasa tidak begitu. Masih ada rasa sesak merindukan Taemin disini. Entah dibagian mana dari hatiku rasanya ingin melesak keluar.’

“Athena?” Jinki mencoba menyadarkan lamunan Athena dengan mengibaskan tangannya di depan wajah Athena, tapi malah disambut dengan pelukan dalam Athena. “Omo!!! Omo!! Athena, gwaenchanayo?

“Umm? Ne, nan gwaenchana. Pergilah, aku akan baik-baik saja di sini, walau mungkin aku akan merasa rindu denganmu, Jinki-ya.” mendengar itu, Jinki mengernyitkan dahi.

“Kau yakin?” tanya Jinki akan keraguannya pada Athena. Athena hanya mengangguk dalam balasan pelukan Jinki.

Dan sore itu dihabiskan dengan menatap tenggelamnya mentari ke dalam peraduannya. Menyesap sisa-sisa teh yang tertinggal di dalam cangkir sambil membayangkan apa yang akan terjadi esok hari. Dan memikirkan, akankah kerinduan mereka nanti beralasan atau mungkin hanya sekedar rindu yang tercipta hanya karena telah terbiasa bersama.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

Nah, part 2-nya uda selesai. Harap sabar ya untuk menunggunya karena aku emang jauh lebih sibuk dari sebelumnya. Oh ya, untuk The Heaven Worker, coming soon setelah FF ini ya. Jadi sabar-sabarlah menunggu author yg sok sibuk kayak saya. Ehh?? =.=

Ahaha😀

Well, don’t forget to give ur comment cause comment like oxygen and the way u talk w/ the author, okay?

So, stay tuned on my FF.

PAI

Pyong ^0^

©2011 SF3SI, Ji I-El.

Officially written by Iza, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

18 thoughts on “[Imaginary ver.] Not Cyber Love=Not LDR (HAPPY ENDING 2.3)

  1. Ehhhh….. Sekarang kisahnya sama Jinki nih… Ciee… Athena,,,, udd mulai deket2 sama Jinki…. Ihhh bayangin Jinki berkeliaran di Jalan protokol Kota Jakarta,,, wiihhhh…. Pasti kerenn… Apa lagi klo gx sengaja ketemu.. Di Mangga dua Mungkin.. Atau di Emporium Plaza…hahahaha #ngaco…

    Si Jinki emang gx kenal Taemin?? Mudah2an kenal dehh,, biar bisa bantuin athena bersatu sama Taemin… Kemana dia,, udd gx bakal nongol lagi atau akhirnya bersatu sama Athena…… Penasaran.. Penasaran… Part depan Tamatkah??? Semogaaa……..

    1. Mianhae.. aku kelamaan balesnya😦
      Klo Jinki mondar-mandir di jakarta, kurasa semua SHAWOL akan teriak gak karuan😄

  2. Eh? Itu Taemin masih ada ya?
    Athena pilih Jinki atau Taemin?
    Huohooo… I’m curious~
    Aku suka karakter Jinki di sini. Dia dewasa tapi kekanakan. Dan yg jelas Jinki bikin ngefly~ Sikap Jinki sangat sangat romantis.
    Aku tunggu endingnya yg happy ending (?). Kalau happy ending artinya Athena harus sama Jinki. #kabur.

    1. Hu-umm Taemin masih dianggep kok disini😄
      Iya iya, Jinki memilki karakter yang sangat” aku inginkan sebenarnya, tapi apa daya, pesona Minho tetap yang terbaik, kan?? -lirik Ji Hyerin- >.<
      Thanks for ur comment ^^

  3. athena x sma jinki ato taemin?
    huhuhu taemin gk muncul lgi T_T aku merindukan dia
    eh, jinki kenal taemin ya? *byk tanya.

    d tgg part selanjutnya, eon ^^!

  4. oalah.. trnyata kmrin aq bru baca stgh… hahaha trus dtggl pergi.. *curhat*

    ibu jari dan telunjuk Athena bergemeletuk, — oh yg kayak shin jieun d 49days itu ya?

    ehm ehm.. mau dong diselimutin jinki kyk gtu u.u
    tp kesel sih sm skp egoisnya jinki… pengen nendang… hahaha

    next part dtggu…

  5. aku kira taemin bakalan masuk di part ini eeh ternyata masih belum ya😀
    penasaran si athena bakalan milih siapa ya kalo gitu hmm

    apa jangan2 jinki masih sodara sama taemin thor? penasaraaaan
    ditunggu part selanjutnya ya thor!😀

  6. Aih sekarang athena sma onew nihh?? Trus tetem kemanain?
    Kalau athena sma onew , tetem buat aku aja dehh#plakk reader narsis

    Iya sih disituh onew terlalu overprotektif*halah*..
    Tapi akhirnya maafan juga.. Seneng deh.. *makin gila*

    Ahh part selanjutnya tetem hrus ada loh.. Ingat! Harus ada. *gila akut*

    Baiklah daripada aku tambah gila mending lanjut ke part selanjutnya

  7. akhirnyaa muncul jg nii FF,,udh lama aq tnggu2 lo …
    sesuai dugaan, ceritanya seruu bgt .
    suka sm karakter jinki disini,, romantis :3
    d tggu next part nya yaa, mdh2an gak lama2😉

  8. Aaaah, seru-seru~ terus nanti Athenanya gimana kalau Jinki ke Jepang? Terus-terus Yeoboku (baca : Taemin) kok gak muncul-muncul? Lalu apakah Tazkia dan Taemin akan bersatu? *Serius pertanyaan yang satu ini nggak nyambung banget-__-* <— Readers bawel.

    Mian Ji-el Eon, saya hanyalah seorang remaja yang bawel dan labil u,u *Ji-el Eon : gak nanya sih*. Btw, gluten* itu apa ya Eon? Ada tanda bintangnya tapi belum dijelasin di FF ini^^"

    1. Ahaha.. pilihan ada di tangan anda. tapi, kelanjutan cerita tetap saya yg pegang kendali ^0^
      Kekeke..
      So, r u ready?!!

  9. annyeong eonni, msh inget aku? u,u
    ah aku br bc lnjutannya skrg, untung msh inget sm crta sblmnya. nah loh, ini sbnrnya athena mau sm jinki oppa atau taem oppa?
    tapi kalo aku sih tetep athena-taemin shipper xD

    eonni kupikir jinki – taemin disini sodaraan loh, tapi stlh bc crta diatas kyknya mrk ga saling kenal, ah pnsrn sm next chapter! aku mau lngsung bc deh😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s