Erased – Part 2

Title                       :               Erased [2 .5] – The Tragedy

Author                  :               Choi Minjin

Main Casts          :               Lee Jinki, Choi Minho

Supporting casts :            Song Jina (imaginary), Key, Jonghyun, Taemin

Genre                   :               Life, family, sad, tragedy, a lil bit romance

Length                  :               Sequel

Rating                   :               General

AN                          :               Annyeong, ini FF sequel keduaku setelah ‘Hwasal’ sekaligus FF terpanjang yang pernah kutulis sejauh ini. FF ini juga agak membingungkan karena sering berganti point of view. Tapi nggak papa ya? Ya ya ya? *maksa*.

FF ini mungkin juga FF terakhirku sebelum aku mau fokus dulu ke ujian *doakan aku sukses ya chingu… ^^*, nanti aku akan balik lagi nulis FF tepat setelah ujian selesai. Please leave a comment ya, happy reading….

******************************

Pukul 02.47. Tidak satupun pelanggan yang tertangkap mataku. Aku hanya duduk di belakang konter sendirian menunggu sesuatu yang entah apa. Aku tidak yakin akan ada yang datang di jam segini. Apa yang ingin dilakukan orang di cafe kecil suram yang terletak di pojokan kota dini hari begini?

Tepat setelah aku berpikir demikian, pintu terbuka. Selama beberapa saat aku dapat mendengar suara hujan deras di luar sana. Dan ketika mendongak, kulihat seseorang berjaket tebal yang nyaris basah kuyup memilih duduk di meja di sudut. Aku ingat siapa dia. Namanya Minho.

Kuhampiri dia yang sibuk menggosok-gosok rambut hitamnya yang basah. Cipratan airnya sedikit mengenai wajahku. Kutunggu sampai dia menanggalkan jaketnya lalu mendongak menatapku dengan matanya yang besar dan hitam kelam.

Tunggu dulu, matanya besar? Tiba-tiba bekas lukaku berdenyut pelan.

Masih diam. Dia memandangku dan aku memandangnya tanpa kata. Sebenarnya situasi ini agak menggelikan, tetapi tetap saja aku masih tidak bisa menemukan sesuatu untuk kukatakan padanya. Rasanya otakku mulai kehilangan akal sehat.

“Tolong buatkan aku kopi hitam.”katanya pelan dan jelas. Jujur, bulu tengkukku sedikit meremang mendengar suaranya yang dalam. Aku hanya mengangguk dan berbalik. Tetapi sebelum berbalik, kulihat ada lebam di pipi kiri agak di atas, dekat ujung matanya. Kenapa ya kira-kira? Berkelahi? Mungkin dia anggota geng motor yang baru kalah taruhan lalu dihajar ramai-ramai. Haha, imajinasiku kadang terlalu berlebihan.

Ketika aku kembali ke mejanya membawa secangkir kopi, dia sedang tidur nyenyak di atas meja. Samar-samar terdengar dengkuran halus dari sela-sela tangan yang menutupi wajahnya. Bingung, aku mencoba menggoyang lengannya, menepuk pelan punggungnya, tapi dia tidur seperti orang mati. Kesannya dia seperti belum tidur berhari-hari.

Kuletakkan saja kopi di depannya lalu kutinggalkan dia. Aku tidak mengerti apa yang dialaminya tapi aku yakin dia hanya ingin mencari ketenangan di tempat ini dan aku bukanlah orang yang tepat untuk mengganggunya.

~~~~~

Minho’s POV

Seluruh badanku pegal-pegal, entah kenapa. Tapi tidak butuh waktu lama untukku menyadari bahwa aku tidak tidur di atas tempat tidurku yang empuk dan nyaman di apartemenku, melainkan di atas meja kayu yang keras dan dingin di tempat asing. Ah ya, aku ingat. Aku datang ke tempat ini dan bahkan terlalu mengantuk untuk menunggu kopi yang kupesan.

Tapi berapa lama aku tertidur? Kulirik jam dan ya ampun, ini jam empat pagi. Apa yang kupikirkan, tidur di sini selama kurang lebih satu jam?

Kutinggalkan uang di atas meja, kusambar jaketku lalu kubuka pintu dan ternyata masih hujan. Di sana, kulihat sesosok namja yang sedang hujan-hujanan. Hei, ini jam empat pagi. Kurasa dia gila.

Tapi ternyata aku juga gila, karena aku menaiki motorku di bawah hujan menuju tempat berlindung paling dekat dari sini, apartemen Key. Dia sendiri yang membukakan pintu untukku, masih berpiyama motif kelinci dengan sandal kamar babi dan rambut yang terlihat seperti baru kena badai. Dia memandangku seakan-akan aku sudah gila,”Minho? Apa yang membawamu kemari? Kau tahu jam berapa sekarang?”

“Aku ngantuk, tapi malas pulang. Aku ingin tidur di sini sebentar.”tanpa menunggu persetujuannya, kulewati saja dia. Tanpa banyak kata lagi, kurebahkan tubuhku ke sofa terdekat lalu aku memulai tidur nyenyak tanpa mimpi.

Begitu kubuka mata lagi, cahaya yang sangat terang menyilaukan mataku. Cahaya terang? Kucoba mengedipkan mata berkali-kali untuk memfokuskan pandangan. Ternyata sinar matahari menyeruak masuk dari jendela, yang artinya ini sudah siang. Kucoba merenggangkan tangan dan kaki dengan gerakan ringan, rasanya cukup nyaman.

“Kau sudah bangun hyung?”

‘Hyung’? Kudongakkan kepala dan ternyata itu Lee Taemin, adik sepupu Key yang sedang duduk di sofa lain, membaca sebuah buku. Dia nyengir kepadaku dan yang bisa kulakukan hanyalah tersenyum kaku padanya,”Dimana Key?”

“Oh, Kibum hyung sedang keluar. Ada urusan katanya.”

Aku mengangguk-angguk saja. Taemin tidak tahu apa yang selama ini dilakukan oleh Key. Yang dia tahu, Key, aku dan Jonghyun berkerja sama mendirikan sebuah usaha bersama dalam bidang percetakan. Nyatanya, Key memang memiliki sebuah perusahan fiktif yang digunakannya untuk mengelabui beberapa orang. Dia bahkan membuat kartu nama dan pamflet palsu yang terlihat cukup meyakinkan.

“Hyung, kau mau makan? Ada pasta yang bisa kauhangatkan di microwave, atau kalau kau mau, kita pesan ayam goreng saja, bagaimana? Aku lapar.”

Aku masih belum benar-benar terjaga untuk dapat banyak bicara, jadi aku hanya mengangguk dan membiarkan dia berbuat sesuka hatinya. Melihat Taemin, sesuatu terlintas di benakku. Taemin masih SMA, dan dia adalah tanggungan Key, tujuan Key untuk tetap bekerja selama ini. Jonghyun pun punya tujuannya sendiri. Dia harus mencari uang untuk pengobatan kakaknya yang sakit, yang bahkan harus cuci darah setiap minggu.

Sedangkan aku? Apa tujuanku sebenarnya? Aku hanya suka melakukannya, merasakan hebatnya perasaan ketika berhasil kabur dari kejaran polisi. Tetapi, memikirkannya seperti itu membuatku takut. Aku hanya melakukannya untuk kesenangan, yang itu artinya aku hanya orang jahat yang tidak memikirkan orang lain. Sungguh, aku takut memikirkan bahwa aku orang seperti itu.

Tapi lebih dari itu, gagasan lain muncul dalam pikiranku. Mungkin aku melakukannya sebagai bentuk pelampiasan atas rasa kesepian yang begitu menyesakkan selama bertahun-tahun. Bahkan tadi, kenapa aku tidak pulang ke tempatku sendiri justru ke sini? Aku sadar, itu karena aku kesepian. Aku butuh seseorang. Aku butuh pelampiasan.

~~~~~

Jinki’s POV

Di siang terik ini, setelah merasa cukup tidur, sekarang aku memutuskan untuk pergi ke flat Jina yang tidak jauh dari flatku. Sejak dia tiba-tiba pergi kemarin pagi, aku belum melihatnya lagi. Aku hanya ingin minta maaf padanya kalau-kalau aku membuatnya sedih.

Tapi meski sudah kuketuk berkali-kali, pintu bercat coklat gelap ini tetap bergeming, tidak ada yang membukanya. Ah, benar juga. Jina pasti sedang kerja. Dia bekerja di sebuah taman kanak-kanak, membantu mengajar anak-anak kecil di pagi hari. Menjelang siang begini, dia pasti sedang menunggu semua muridnya ada yang menjemput.

Kukeluarkan kunci dari dalam saku celana. Kami mengizinkan satu sama lain untuk kapan saja masuk ke flat yang lain. Aku merasa agak berdosa karena jarang mengunjunginya, padahal dia begitu sering mengunjungiku, membuatkan makanan untukku dan terkadang aku bisa sangat terkejut ketika pulang karena tiba-tiba flat kecilku itu berubah menjadi sangat bersih dan rapi.

Begitu kubuka pintu, aku dapat mencium samar-samar bau segar bunga yang ditempatkannya di vas di dekat jendela. Di sudut, kulihat tempat tidurnya masih agak berantakan. Pasti tadi pagi dia bangun kesiangan dan terburu-buru pergi. Kududukkan diriku di kursi di depan meja kerjanya. Di atas meja itu ada banyak kertas lipat dan gambar-gambar lucu yang digambarnya sendiri. Ada juga origami berbentuk binatang-binatang dan ada juga gambar yang sangat jelek, pasti buatan muridnya.

Di sudut meja, sebuah pigura terpajang manis, memperlihatkan foto kami berdua ketika upacara kelulusanku dari SMA beberapa tahun yang lalu. Aku tersenyum sendiri, mengingat masa lalu itu. Namun di sisi lain, aku merasa pedih karena aku tidak bisa mengingat kenangan-kenangan yang lebih lama, kenangan akan diriku sebelum usiaku dua belas tahun.

Kuambil pigura itu dan kubolak-balik, hanya karena iseng saja. Tanganku ini kadang bisa berbuat sesuka hatinya jika tidak ada kerjaan. Tanpa benar-benar kusadari, tanganku membuka penutup pigura itu dan mengambil foto di dalamnya. Tetapi yang membuatku agak terkejut adalah, kenapa ada dua lembar foto?

Kupandangi foto yang terpajang di depan, fotoku yang sedang memegang buket bunga dan berjejeran dengan Jina, tersenyum riang di hari upacara kelulusanku. Lalu kusingkirkan foto itu dan kulihat, foto yang terlihat lebih tua. Di foto itu tampak tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan sedang tersenyum lebar dilatarbelakangi sebuah rumah besar di kejauhan. Aku dapat menemukan kemiripan antara anak perempuan di foto itu dengan Jina. Dan anak laki-laki yang berdiri di kiri itu kurasa adalah aku. Tapi, siapa anak laki-laki yang satunya?

Dorongan ingatan yang kuat mengagetkanku. Anak itu… mata besar itu… dia yang selalu muncul dalam mimpiku. Aku yakin. Tapi, siapa dia? Apa hubungannya denganku dan Jina?

Masih dengan perasaan gamang, kubalik foto itu. Di baliknya kudapati tulisan tangan yang berbunyi: ‘Lee Jinki, Song Jina, dan…’

Kriiiiit..

Suara pintu terbuka nyaris membuat jantungku copot. Aku menoleh cepat dan melihat Jina berdiri di ambang pintu, menatapku agak bingung. Pelan-pelan ekspresi bingungnya berubah menjadi senyuman yang menyejukkan,”Oppa? Ada apa kau kemari? Tumben sekali?”

Kusembunyikan foto itu di belakang punggungku ketika Jina mendekat lalu duduk di atas tempat tidurnya. Aku merasa gugup, entah kenapa,”Hanya ingin mengunjungimu saja. Memangnya tidak boleh?”

“Bukan begitu. Hanya saja… apa itu di belakang punggungmu, oppa?”

Jantungku nyaris copot sekali lagi. Aku memang sangat payah dalam menyembunyikan sesuatu. Kalau aku berbohong, seakan-akan ada tulisan berbunyi ‘bohong’ yang sangat besar menempel di dahiku. Kalau begini, apa yang harus kulakukan?

“Oppa, apa itu?”pandangan Jina tertuju ke atas meja dimana piguranya yang terbuka terletak dan dengan jelasnya menunjukkan bahwa aku telah mengutak-atiknya. Jina tampaknya sangat terkejut sampai-sampai ia menutup mulutnya dengan telapak tangan dan memandangku dengan ngeri, seakan-akan suatu rahasia yang sangat besar telah terbongkar.

“Oppa?”suaranya yang bergetar membuatku tidak tega. Kusodorkan foto itu padanya dan wajahnya tiba-tiba menjadi merah. Bahkan air pun mulai menggenangi mata indahnya.

Aku sudah bertindak sejauh ini, kepalang basah, kutanyakan saja sekalian,”Jina-ya, maafkan aku. Tapi aku pun perlu tahu apa yang kau sembunyikan dariku selama sepuluh tahun ini. Tolong hentikan keegoisanmu. Setidaknya beritahu aku, siapa itu Choi Minho?”

Jina menerima foto itu dengan tangan yang gemetar hebat. Dia membaliknya dan membaca tulisan di atasnya dengan sesenggukan.

‘Lee Jinki, Song Jina, dan Choi Minho’

“Jina, siapa itu Choi Minho?”

Jina tidak segera menjawab. Dia sedang berusaha keras menahan laju air matanya yang menderas. Aku menunggunya dengan perasaan tidak menentu. Dalam hatiku meski hanya sedikit, ada perasaan kecewa yang menyakitkan. Jina, apa hal besar yang selama ini kausembunyikan dariku?

“Mau tidak mau kau harus memberitahuku, Jina. Aku mungkin akan membencimu jika kau tidak mau mengatakannya.”

Tampaknya kata-kataku bagai sebilah belati yang menusuk langsung ke ulu hatinya. Dia memandangku dengan padangan yang tidak dapat kumengerti artinya.

“Kau akan membenciku, oppa? Benarkah kau mau melakukan itu? Tahukah kau, itu sama saja kau mau membunuhku.”

Kali ini kata-katanyalah yang menusuk ulu hatiku.

“Baiklah kalau kau ingin tahu, oppa. Akan kuberitahu semuanya padamu. Agar kau puas. Agar semua kepura-puraan ini segera berakhir.”

~~~~~

Minho’s POV

Setelah Key kembali, kami harus menulikan telinga mendengar celotehnya tentang piring kotor yang tidak langsung kami cuci. Dia juga mengomel tentang Taemin yang bukannya belajar malah sejak tadi bermain game denganku. Taemin hanya nyengir tanpa benar-benar menggubrisnya.

Kuperhatikan mereka dengan perasaan kosong. Sekarang Key sedang memasak di dapur, masih sambil menceramahi Taemin yang sudah kelas tiga dan sebentar lagi akan menghadapi ujian masuk universitas. Dia juga berkata tentang akan membuang semua komik Taemin jika dia tidak juga belajar. Omelan itu benar-benar membuat gatal telinga siapa saja yang mendengarnya.

Suasana ini terasa sangat asing bagiku. Mungkin, beginilah rasanya memiliki keluarga. Ada yang peduli pada kita, ada yang memikirkan kita, ada yang menemani hari-hari kita, mewarnainya dengan berbagai bentuk perhatian. Keluarga. Kata itu terasa begitu asing bagiku yang bertahun-tahun hidup dalam kesendirian.

Dulu, aku pun memiliki keluarga. Dan mungkin sekarang masih akan memilikinya jika tragedi sepuluh tahun yang lalu itu tidak pernah terjadi.

#flashback

Author’s POV

Malam tenang yang tanpa cela. Setidaknya bagi Minho kecil yang duduk di jok depan, malam ini terasa sempurna. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena hari ini adalah hari yang istimewa yang telah dirayakan secara istimewa. Dia melirik sedikit pada hyung-nya yang duduk di sebelahnya. Mereka berdua berdesakan duduk di kursi penumpang di depan. Hyung-nya sedang tidur, mungkin kelelahan bermain dengan adiknya yang tenaganya tiga kali lipat lebih tahan lama dibandingkan dirinya.

Lalu Minho menoleh ke belakang, ke sosok teman perempuannya yang juga sudah tertidur. Hari ini adalah hari ulang tahun gadis kecil itu. Minho tersenyum senang. Ia menimang-nimang kotak kecil hadiah ulang tahun yang akan diberikannya nanti ketika sampai di rumah. Entah kenapa dia belum mengantuk sama sekali. Padahal biasanya dia itu tukang tidur.

Dipeluknya kotak itu. Ia ingin cepat sampai rumah. Ayolah appa, menyetirlah lebih cepat.

Dia memperhatikan jalan yang berliku-liku dan berada di pinggir tebing-tebing curam ini dengan bosan, perlahan tangannya memainkan tombol-tombol yang ada di pintu. Suasana yang terlalu sunyi ini tidak menyenangkan baginya.

Tiba-tiba cahaya yang sangat terang muncul dari depan. Minho menyipitkan matanya yang besar, kemudian ia sangat terkejut.

Sebuah truk yang sangat besar berjalan lurus ke arah mobil yang mereka tumpangi. Ayahnya membanting setir untuk mengindar, tapi akibatnya sangat fatal. Mobil oleng dan Minho dapat mendengar suara-suara keras yang terlalu mengerikan untuknya. Selama sesaat, dia merasa dia sedang bermimpi. Mimpi tentang cahaya putih terang yang perlahan berubah menjadi warna-warna kelabu. Kemudian yang ia dengar selanjutnya adalah suara keretak tulangnya sendiri, diikuti panas membara di beberapa bagian tubuhnya. Ia pun dapat merasakan desah angin tepat di daun telinganya.

Rasanya seperti terbang. Hanya saja tanpa sayap.

#end of flashback.

Minho’s POV

“Minho hyung?”

Aku mengerjapkan mata, terkejut. Rasanya baru saja aku merasakan kembali bara api di punggungku. Kejadian itu masih selalu lekat dalam otakku, seakan-akan baru semalam terjadi. Bahkan aku masih ingat dengan jelas bagaimana bunyi tulang rusuk dan tiga tulang jariku yang patah.

“Kau pucat sekali, hyung. Kenapa?”Taemin tampak sangat khawatir.

“Tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir.”kupaksakan senyum sekedarnya untuk menghentikannya bertanya. Siapa tahu dia juga punya kecenderungan suka ikut campur urusan orang seperti Key.

Kuanggap reaksinya yang hanya mengangkat bahu berarti kebohonganku cukup meyakinkan. Sejujurnya, secara fisik aku baik-baik saja, tetapi secara psikis, aku tidak yakin.

Kualihkan pandanganku ke langit cerah tanpa noda di luar sana. Dimanakah kalian sekarang? Masih hidupkah? Jika iya, lalu dimana? Kenapa… kenapa kalian membuangku dari hidup kalian?

Appa, umma, Jinki hyung, Jina. Aku sangat sangat sangat rindu. Setengah mati aku benar-benar rindu. Bahkan andaipun aku telah terhapus dari ingatan, kalian tidak akan pernah terlupa. Sepuluh tahun aku menahan setiap tetes air mata, demi membayangkan wajah-wajah kalian yang tidak pernah kutemui lagi.

Kuharap, dimanapun kalian berada, entah di surga, atau dimanapun itu tempat yang bahkan tidak bisa kubayangkan, semoga kalian tetap sehat dan bahagia.

Tapi aku juga ingin bahagia, yang artinya aku harus lupa pada kesedihan tentang kehilangan kalian semua. Kalian adalah kenangan. Kenangan tidak seharusnya tetap hidup dan membayangi masa sekarang.

~~~~~

Jinki’s POV

Aku tidak kuasa menghentikan setetes air mata yang sekarang mengaliri pipiku. Bahkan aku tidak sanggup berkedip, memandang Jina yang masih menangis hebat sampai terlihat seperti sedang sesak nafas. Aku tidak mau memikirkan harus bereaksi seperti apa saat ini. Entah kapan aku dapat mengeluarkan suaraku yang tercekat ini.

“Mereka semua meninggal, oppa. Hanya kita yang hidup. Dari enam penumpang dalam mobil itu, hanya kita yang selamat. Aku hanyalah anak perempuan yang sudah tidak punya ayah. Ibuku bersahabat dengan ibumu dan saat itu kita tinggal bersama. Ketika mereka semua meninggal, aku merasa hidup ini tidak ada artinya lagi. Kita tidak memiliki keluarga lagi, kita sebatang kara. Bahkan saat itu aku berpikir aku akan hidup sendiri, karena kau koma selama berminggu-minggu.”

Jina berhenti untuk mengambil nafas, dan aku masih tidak bisa berkata apapun. Kepalaku yang kosong ini mulai berputar-putar tidak karuan. Aku tidak ingat sama sekali. Kenapa? Kenapa aku harus melupakan semua itu? Kenapa Tuhan tidak menyisakan, bahkan sedikit kenangan saja untukku?

“Saat itu, aku menangis setiap hari sampai muntah. Aku merasa benar-benar pedih, sakit sekali. Semua itu terjadi karena aku. Andai saja aku tidak mengajak kita semua pergi merayakan ulang tahunku. Oppa, dapatkah kau bayangkan betapa menyesakkannya rasa bersalahku ini? Terlalu sakit sampai rasanya ingin mati.”

Menyesakkan? Sakit? Pedih? Entahlah. Tetapi tepat sekarang, entah mengapa dadaku terasa sesak dan tenggorokanku sakit.

“Saat kau terbangun, lalu perawat berkata aku adalah adikmu, kau tersenyum tanpa beban sedikitpun. Aku iri, oppa. Aku iri padamu yang tidak ingat apa-apa dan tidak perlu merasakan kehilangan ini. Saat aku berusaha berhenti menangis dan mengakhiri saja hidupku yang sendiri ini, kau datang dan berkata,’Ayo kita pulang. Ada yang mengajak kita pulang ke panti asuhan.’ Aku menangis lagi. Dapatkah… dapatkah kita melanjutkan hidup seperti ini? Tetapi melihatmu aku memiliki keyakinan baru. Bahwa mungkin lebih baik kalau kita lupa saja, tak perlu mengungkit masa lalu. Dengan begitu semoga kita bisa hidup kembali.”

Sudahlah, akhiri narasi panjang ini. Yang sekarang begitu memenuhi pikiranku hanyalah keluargaku yang semua telah mati. Kupandangi foto itu dengan tangan gemetar,”Jadi dia ini adikku? Tetapi namanya…?”

Jina berkata dari sela-sela sedu sedannya,”Kalian saudara lain ayah, jadi nama kalian berbeda. Dia seusia denganku, lebih muda dua tahun darimu.”

“Jadi dia sudah mati? Waktu itu dia baru sepuluh tahun. Dimana makamnya?”

“Dia tidak ditemukan, oppa. Mereka bilang dia hanyut di laut. Dia jatuh ke tebing pinggir laut itu.”

Aku mengangguk lemah, aku yakin jika aku bercermin aku tidak akan mengenali wajahku sendiri saat ini. Aku dapat merasakan darah mengalir deras di balik lapisan kulitku, mencoba memberi cukup oksigen untuk otakku yang buntu.

“Oppa, seperti yang kukatakan tadi, lebih baik kita lupakan saja semua ini. Lupa lebih baik daripada sakit.”

Jina, kau salah. Salah besar. Dengan agak terhuyung, aku berdiri dan mencoba tetap tegak memandang Jina yang masih menangis,”Kau salah, Jina. Selama sepuluh tahun kau justru menjerumuskan aku ke dalam jurang penyesalan yang semakin besar. Bayangkan jika kau jadi aku yang baru tahu hal seperti itu sepuluh tahun setelah hal itu terjadi. Dapatkah kau bayangkan bagaimana sakitnya?”

“Karena itulah lebih baik kau tidak tahu hal itu selamanya.”

“Tidak, Jina. Aku lebih senang jika tahu dan mengingatnya walaupun pedih, tetapi lama-lama akan sembuh daripada baru tahu sekarang dan aku tidak yakin apakah luka ini bisa sembuh. Aku… aku kecewa padamu.”

Aku tidak sanggup lagi memandang wajah Jina. Aku hanya ingin pergi, sendiri ke tempat jauh. Kupakai lagi sepatuku tanpa benar-benar sadar, lalu kututup pintu dan aku mencoba berjalan lurus, tanpa benar-benar tahu kemana tujuanku. Aku bahkan tidak sanggup memandang ke depan. Aku hanya bisa menunduk, agar orang-orang di jalan tidak melihatku menangis.

Bertahun-tahun aku membenci ‘orang tua’ku yang kupikir membuangku ke panti asuhan. Bertahun-tahun aku tidak kenal atau bahkan ingat tentang mereka. Betapa bodoh dan naifnya aku.

Jadi beginilah sakitnya tenggorokan ketika seseorang menahan sak tangis. Sakit sekali. Tetapi tidak ada apa-apanya dibandingkan sakit yang menoreh tajam ulu hatiku.

Entah sampai mana aku berjalan. Lingkungan ini tidak familiar bagiku. Aku berdiri di jalan sempit, depan sebuah gedung apartemen. Kakiku mungkin sudah lelah untuk menuruti kegalauan hatiku ini, mereka tidak mau melangkah lagi. Jadi aku hanya berdiri dalam diam di bawah bayang-bayang sebuah pohon. Mencoba merenungi kembali semua yang kudengar hari ini.

Ketika mataku sudah mulai pedas lagi, kulihat dua orang keluar dari gedung di depanku. Mereka tinggi dan berwajah menarik, dan aku yakin aku familiar dengan wajah mereka.

Yang satu itu, yang memakai jaket coklat muda adalah si mata kucing yang menyebalkan. Dan yang satunya lagi, aku tahu namanya. Namanya Minho.

Mataku melebar seiring denyut pelan di dahi sebelah kananku.

Minho?

~~~~~

To be continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

23 thoughts on “Erased – Part 2”

  1. Hwaaa. . . . Daebak!
    Q gak tau hrus ngmong apa lagi thor.

    Gak salah q jd penggemarmu thor!

    Ditunggu part brkutnya ya?
    Cptan gak sbr nie >.<

  2. AAAAAA~ *kaca pecah
    CIEEE TERNYATA YAAA kkkkk~ sumpah nyesek bacanya. Sebatang kara selama belasan tahun ;A; sedihhhhh T-T

    speechless gara2 bagian akhir, padahal udah nyiapin “pidato” yg (sialnya) terlupakan semua gara2 ending doang! =.=’

    ayo ayo part 3 :3

  3. ah.bikin nyesek! terutama percakapan jinki dan jina…entah kenapa aku bisa membayangkannya dengan jelas
    lanjut….

  4. Aigoo,,
    ceritanya bikin nyesek T^T, tp keren banget *nyengir lagi 😀
    wah nambah 1 lagi author favoritku nih 😀
    jd gk sabar nunggu next partnya 🙂

  5. ternyata jinki sm minho sodaraan. Tp itu minho gmn cerita nya bisa selamat tp terpisah dari jinki dan jina?

    Author.. Ini ff daebakkk!!
    Part selanjutnya sgt saya tunggu..

  6. masih berpiyama motif kelinci dengan sandal kamar babi — tetep ya.. kerja jd perampok… tp pas d rumah.. tetep.. cerewet dan hahaha dasar kunci…

    oh jd gitu ceritanya… n punggung minho yg luka itu karena kecelakaan toh.. bnr tuh kt jinki.. mnding mngetahui kenyataan meskipun skit rsnya tp besar kmungkinan akan sembuh drpd tau skrg2 tp blum tntu rs skitnya hilang…

    jina egois sih.. kan lbh enk dcrtkn gtu.. aplgi jinki kan amnesia.. bs aj mmbntu supya ingt lgi..

    intinya mah ya mereka brtiga sama2 tersakiti karena keadaan…
    jd tggl ttg minho nih yg knp msih hidup.. kan kt jina meninggal gr2 trbwa arus ya kan gtu td

    n tggl prtmuannya gmna lg..
    eh part 1 minho smpt mlht cewe kan.. eh nabrak mksdnya.. kyknya itu jina..

    mncri seseorg yg trnyata org yg dicari itu ad d sekitar kita.. deket.. dunia tidak selebar daun kelor.. eaaaaaa *rahmi berperibahasa*

    pintu bercat coklat gelap ini tetap (tak) bergeming, tidak ada yang membukanya.

    next part ditunggu…

  7. Ff ini dari Part-1nya udah DAEBAKKK,,
    Ngak siah” Q nungguin ff ini..

    Q tunggu part-part selanjutnya yah Thor !!
    SEMANGAT THOR buat lanjutannya yg lebih bagus lagi yah !!

  8. Iiiiiii tbc nya kenapa pas banget di bagian ituuuu *gemesss*
    Bagus bangeeettt!
    Ternyata onew minho adek kakak kann?
    Tapi nyesek banget kehidupan mereka sepuluh tahun setelah kecelakaannyaa 😦 onew hidup dengan kebohongan dan minho sendirian sampe2 jadi perampok gitu..
    Waah.. Ditunggu lanjutannyaa! 😀

  9. OMONA Minjin-ssi! Aah kereen lagiii,tu kan bener ada sesuatu antara OnHo! Ah still favs you deh pokoknya,

  10. Jdi bner minho n jinki itu sodara?

    Trnyata jina punya tujuan dibalik khendaknya yg tk membiarkan onew thu tntang msa lalunya?dy ngga mau onew mrasa skit bukan?
    Tpi trnyata yg jina lakukan slama ini justru membuat onew mrasa kcewa.

    Uugghh…tbc,tiga huruf itu akan ku jdikan bumbu racik ayamnya bang dubu.
    Ditunggu lanjutannya minjin eonnie…

  11. minjin eonnie *bolehkan? o.O*

    eonnie salah satu author favoritku. awalnya aku baca karna ada ‘family’ dan ga ngebaca ‘sad’ di genre. jadi agak nyesek tu tau kalau Minho sodaraan sama Jinki. \

    aahh.. udahan deh.. next part buruan

  12. Nyesek parah. Jadi seperti itu kenangan yang dilupakan Jinki. Bukan hanya sakit, Jinki juga baru tahu kalau ia terpisah dengan adiknya dalam tragedi maut sepuluh tahun silam itu.

    Hmm, Minho terlempar dari mobil, kehilangan keluarganya. Minho berpikir keluarganya sudah membuangnya.

    Minho? Apa Jinki mulai curiga nama itu sama seperti nama adiknya yang dianggap orang-orang sudah meninggal?

    Nice story. Lanjut!

  13. uwaaaaaahhh. . . . .
    ceritanya seruuu bgt, , ,
    jdi ksihan ma minho gx tw klo kakakny msih hidup, , ,
    jdi pngen bca part slanjutnya nieeh hehehe,.!

  14. beneran nggak tau mau ngomen apa. yang jelas bner2 keren eonn. sukses bikin terhanyut dalam perasaan si minho dan jinki.

    gasabar untuk beralih ke part3

  15. wah iseng ngubek” library, nemu nih ff..
    Daebak thor d^^b
    aku suka, ceritanya gak biasa,,
    bahasanya juga udah cukup rapi menurut aku..
    Sekarang saatnya meluncur ke next part 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s