Last Flower

“LAST FLOWER”

Author            : onzea a.k.a zesha

Main Cast      : Lee Jinki, Choi Ji hye

Other cast       : Choi minho, Kim kibum, Lee taemin.

Length            : Oneshoot

Genre                          : Romance, Sad

Rating                         : PG 13

Credit Song    : Shinee – kiss kiss kiss, Onew feat jonghyun – tragedy

—————————————————————————————————————-

Gleg~

Dalam sekali tegukan gelas di tanganku langsung kosong.

“kau ingin tambah lagi??” aku menggeleng.

Tujuanku datang ketempat ini bukan untuk menghilangkan dahagaku. Ya…walaupun seteguk air terasa begitu melegakan. Ku sandarkan kepalaku pada kepala sofa yang kududuki bersama minho. Kutarik rambutku frustasi. Minho hanya menatapku skeptis.

“aku ingin menemuinya minho”

Flasback

~5 tahun sebelumnya~

Seorang gadis beransel merah berlari dengan tergesa-gesa. Menabrak beberapa orang yang menghalangi jalannya. Dia berhenti tiba-tiba. Nafasnya tersengal-sengal. Dia hampir kehilangan oksigen karena terlalu memaksa terus berlari.  “minumlah dulu” seorang suster berbaik hati memberinya sekaleng susu.

“a..ku men-cari ruangan…choi.., ah maksudku lee jinki”

“lantai 3 dibelokan pertama lurus kekiri. Pintu ke empat dari arah kiri itu ruangannya” senyumnya mengembang.

“khamsahamnida…” ucapnya sebelum kembali melesat.

*

Gadis itu menatap lurus tirai jendela yang sama sekali tidak menarik. Dan seseorang terus memperhatikan tingkahnya yang sedikit tidak biasa.

“kau kesini hanya untuk memandang tirai itu?”

“ani,,,” jawabnya lemah.

“mian…”

“tak perlu membahasnya lagi. Kita masih akan berteman” mencoba untuk tersenyum pada namja yang terbaring dihadapannya.

“kurasa itupun akan sulit…” rahangnya mengeras, tangannya mencengkeram erat rok seragamnnya sendiri. Meluapkan emosinya pada roknya yang sudah kusut.

“arraseo…aku tau itu akan mempersulitmu”

“aku bersyukur kau bisa mengerti” jinki tersenyum simpul, walau terkesan dipaksakan.

“tentu…”

“apa kau mengemas semuanya?” jinki menatap gadis dan tas ransel merah di tangannya secara bergantian.

“Ne, Aku sudah meletakkan 100 plester dengan gambar pororo di dalam kotak obat, seperti permintaanmu. Ada obat merah juga disana. Dua pasang tali sepatu favoritmu. Aku tau kau tak akan mau memakai sepatu kalau tidak menggunakan tali itu. Selimut, jam beker, ipod, semua barangmu sudah ku masukkan di ransel merah ini. Kotak harta karunmu, biar aku saja yang menyimpannya. Dan…”

“jihye…”

“jangan berjemur di bawah terik matahari terlalu lama, kau bisa pingsan lagi. Itu juga tidak baik untuk kulitmu. Dan jangan sekali-kali coba menaiki tangga jika perasaanmu sedang kacau, kau akan terjatuh”

“dan segeralah keluar dari tempat bau ini‼!” gadis itu menghela nafas mengakhiri kalimat panjangnya.

‘hana’ …” gadis itu mendongak. Menatap takut wajah itu untuk terakhir kalinya.

“ aku akan selalu mengingatnya,,,” tersenyum pada akhirnya.

Jihye hanya tersenyum kecut. Menggigit bibirnya sendiri, mengingatkan pada dirinya bahwa dia gadis yang kuat. Dia tau lambat laun ini akan terjadi. Tapi dia baru sadar akan secepat dan sesakit ini.

*

Ji hye terus memandangi sebuah kotak kecil berlapiskan bludru berwarna pink lembut, dengan aksen pita berwarna senada di atasnya. Kotak itu sudah 1 jam berada ditangannya.

Seuntai senyuman merekah menghiasi wajahnya yang kusut. Sebuah arloji cantik berwarna merah. Bukan sesuatu yang bisa disebut mewah. Karena tidak ada berlian atau batu berharga apapun didalamnya. Tapi itu sudah cukup membuat ji hye kembali tersenyum. Dia juga menemukan sebuah note yang ditujukan untuk dirinya di dalam kotak itu.

Selamat ulang tahun hana ( dalam bahasa jepang artinya bunga)…

Ingatlah untuk tetap tersenyum apapun yang terjadi,

Karena senyummu akan memberi tetes embun untukku

Dan jangan pernah muram saat mendung menyelimuti matahari,

karena itu pertanda aku merindukanmu…

Jinki                            

 

Flashback end

Jinki menoleh kearah dimana seorang gadis tengah berdiri memandang langit yang tampak mendung dari balkon rumah sakit.

“kapan kau kembali?”

“beberapa hari yang lalu,,”

“aku kira kau tak akan kembali,,”

“kau lupa??  saat langit mendung itu pertanda aku merindukanmu…”

Gadis itu mensejajarkan pandangannya pada namja yang berada di hadapannya.

“jihye~,,, apa ada yang belum kau katakan padaku?”

Gadis itu mengeleng lemah. Kemudian memalingkan wajahnya kembali ke arah awan yang menghitam.

“hujan akan segera datang…” ucapnya parau.

“hujan tidak akan turun hari ini,,,”

“kau yakin sekali,,,”

“kau lupa siapa aku???”

“tentu saja aku ingat. Kau,,, Lee Jinki. Pangeran korea. Apapun bisa kau lalukan termasuk mendatangkan hujan,,,”

“aku bukan pangeran saat ini,,, “

“ tak seharusnya kau berada di sini pangeran. Pulanglah‼”

Gadis itu menarik dirinya dari pinggir balkon. Meninggalkan jinki yang masih menatap awan dengan enggan. Kedua matanya menampakkan kekecewaan yang terpendam.

“Aku berada di tempat yang tepat choi jihye. Tempat dimana seharusnya aku berada. Tempat yang memberiku kebahagian, bukan sebaliknya…”

Gadis itu berhenti tepat di ambang pintu. Menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya berbalik.

Dia terdiam sesaat menatap wajah yang lama tak dilihatnya. Kerinduan dan kesepian meledak-ledak di dalam dirinya. Ingin segera melampiaskannya. Memeluk tubuh itu.

Tapi sesuatu berbisik pada telinganya.  Memintanya untuk melupakan pemuda itu.

“Tidak pangeran. Kau salah. Ini bukan tempatmu lagi. Dan… bagaimana kau tidak bahagia, kalau disanalah tempatmu,,, “Jihye segera menarik tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu. Membiarkan airmatanya mengalir didalam hatinya.

“aku akan menunggu sampai kau menyadarinya

Sekali lagi langkahnya terhenti. Tak ia sangkal suara itu membuatnya terlalu lemah dan lelah.

“Kita tak akan bisa hidup terpisah, hana…” dan setelah kalimat terakhir itu terucap, jihye benar-benar menghilang di balik pintu.

you are like the wind passing by me

without saying goodbye

the feeling the almost cause death

my tears starts to fall

I can’t hold you anymore in my arms

I don’t know why I was crying

I just want to hug you again

*

Stupid love, foolish love

the end of love is always goodbye and tears

I hope that you would change your mind

and come back to my side again

I wiil still love you forever

please don’t ever forget about me

even after the tragic love ends

I’m waiting for you

“ aku akan pergi …”

“maafkan aku hyung…” jinki tersenyum. Menepuk bahu pemuda itu untuk menyemangatinya.

“untuk apa minta maaf. Ini bukan kesalahanmu,, “

“aku merasa bersalah karena tidak membantu apa-apa”

“it’s ok… semua akan berakhir dengan cepat”

“hyung~” minho akhirnya mendaratkan tubuhnya ke pelukan jinki, orang yang sudah dianggapnya sebagai kakak laki-laki.

“ sampai kapan dia akan bertahan minho?”

“tinggal menunggu waktu hyung. Tidak ada yang bisa kami lakukan. Noona menolak untuk operasi…”

Jinki melepaskan pelukannya dan menatap minho dalam-dalam.

“saat aku pergi nanti jaga jihye baik-baik…”

“hyung…” minho kembali memeluk jinki lebih lama dan lebih erat. Mungkin ini akan menjadi pelukan terakhirnya.

Jinki menyadari namja yang ada dipelukannya kini menangis, membasahi kemeja dan bahunya.

“Gomawo hyung. Hanya itu yang bisa ku ucapkan untukmu…” jinki tersenyum padanya. Menampakan sisi dirinya yang lembut. Dia menepuk kembali bahu minho

“kembalilah kerumah sakit. Dia pasti membutuhkanmu…”

*

“ Pangeran. Sudah waktunya…”

“1 menit lagi…” laki-laki tua itu mundur dan menghilang di balik sekat yang memisahkan bagian lainnya dari kamar itu.

Dulu dalam doanya dia selalu meminta pada tuhan agar mempertemukannya dengan keluarga kandungnya. Tapi sekarang, harapan itu sangat disesalinya. Jika bisa kembali, dia tak akan pernah meminta hal itu. Bahkan dia akan meminta sebaliknya.

“ Pangeran…” jinki menarik nafas panjang. Mengikuti lelaki tua yang diketahuinya sebagai pelayan yang ditugaskan khusus melayani putra mahkota. *kayak yang di princess hour, orang yang selalu ma shin*

Ya. Setelah keluar dari keluarga choi dia di angkat menjadi putra mahkota oleh raja yang tidak lain adalah ayahnya. Posisi putra mahkota sebelumnya di tempati oleh adiknya, pangeran taemin selama dia dinyatakan hilang. Dan setelah dia kembali tahta itu dikembalikan lagi padanya secara hormat.

“ahjusshi…boleh aku bertanya??”

“tentu saja pangeran…”

“kau tau bagaimana ibuku meninggal??”

“Maaf pangeran. Bukan saya tidak ingin menceritakan hal tersebut pada pangeran. Tapi pangeran sudah ditunggu oleh baginda…” jinki tampak kecewa karena lelaki itu menyembunyikan sesuatu darinya.

“Ahjusshi~,,, kau satu-satunya orang yang aku percaya di istana ini. Jadi jangan pernah hianati kepercayaanku,,,” orang tua itu tersentak. Bagaimana bisa sama?? Kalimat itu juga pernah diucapkan permaisuri padanya. Tepatnya dua hari sebelum beliau mengalami kecelakaan.

“Ne pangeran…” dengan sedikit gemetaran ketua han meninggalkan jinki di ruangan dimana raja telah menunggunya.

*

“Bagaimana keputusanmu pangeran?” tatap raja dingin padanya.

“maafkan saya ayahhanda. Saya tidak bisa mengikuti perjodohan itu. Sudah ada seseorang yang saya suka. Secara terang-terangan saya menolaknya”

Brakk~ raja menggebrak meja yang ada disampingnya.

“Kau berani menentangku???”

“maafkan saya…” jinki terlihat lemah. Dia tidak ingin menyakiti ayahnya tapi dia juga tak bisa menyiksa perasaannya.

“Ingat pangeran‼ gadis itu tidak sederajat denganmu. Dan kau tidak bisa menikahinya‼!” Jinki mengerang dalam duduknya. Menggigit bibirnya dengan kuat. Melampiaskan emosinya pada bibir yang tidak bersalah.

“Sekali lagi saya minta maaf yang mulia. Saya sangat mencintainya..” tanpa berpamitan, jinki langsung melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu. Raja terlihat marah dan kecewa dengan sikap pembangkang jinki. Dia tidak mengira sifat itu menurun pada anak laki-lakinya.

“ck. Hyorin kau lihat. Dia mirip sekali denganmu..”

*

“jadi seperti itukah??” tubuh jinki lemas seketika.

“Benar pangeran. Sebenarnya ini bukan hal yang pantas untuk saya ceritakan pada anda…”

Jinki meraih frame foto yang ada di meja samping ranjangnya. Membelai wajah orang yang telah melahirkannya.

“benarkah ibuku melakukan hal seperti itu, ketua han??” lelaki tua itu menggangguk lemah. Menatap sedih wajah jinki yang dipenuhi airmata. Dia seharusnya tak mengatakan yang sebenarnya pada anak itu.

“maafkan saya pangeran…”

Jinki termenung menatap wajah itu. Airmata masih mengalir dari sela-sela mata sabitnya. Ibunya terlihat bahagia. Tidak mungkin beliau melakukan hal seperti itu padanya.

“umma~..” setidaknya dia bersyukur mengetahui kenyataan ini sekarang. Sebelum semuanya benar-benar terlambat, pikirnya.

*

“noona~”

“aku akan baik-baik saja…” jihye tersenyum pada minho lalu memeluknya.

“aku tak ingin noona meninggalkanku seperti umma dan appa” jihye mngeratkan pelukannya. Dia tak ingin melihat adiknya itu melihat airmatanya.

“aku tak akan pernah meninggalkanmu…”

Jihye melempar senyumnya pada minho yang terlihat rapuh. Melepas sesaat beban yang ada di pundaknya, dan mencoba menghibur adik laki-lakinya.

Minho menggenggam tangan kakak perempuannya itu dengan wajah muram.

“saat umma meninggal. Appa pernah bilang padaku. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita…”

“appa tidak pernah meninggalkan kita minho” minho menegakkan tubuhnya lalu bangkit berdiri di hadapan jihye. Gadis itu hanya menunggu apa yang akan dilakukan adiknya itu padanya.

“baru satu tahun yang lalu aku menghadiri pemakaman appa. Apakah nona ingin aku menghadiri pemakamanmu”

“minho jangan bicara seperti itu…” gadis itu menarik tangan adiknya. Menenangkan pemuda itu dari ketakutannya yang berlebihan.

“lakukan operasi itu noona. Aku mohon‼ demi aku nona…” jihye tersenyum lalu menangkup wajah adiknya dengan kedua tangannya. Membuat namja itu menatapnya dalam-dalam.

“aku sudah bilang aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan melakukan operasi itu”

*

~5 bulan kemudian~

Jihye memandang langit seoul yang tampak mendung dari balik kaca jendela kamarnya. Hal itu mengingatkannya akan sesuatu…

‘saat langit mendung itu pertanda aku merindukanmu’

“apa kau merindukanku jinki??” seakan mengerti perasaannya, hujan turun disaat airmatanya menetes. Jihye menatap pilu awan yang kian menghitam di balik kaca jendelanya. Seperti kehidupannya yang terasa kelam tanpa kehadiran jinki. Keputusannya saat itu adalah keputusan yang salah.

“aku merindukanmu jinki…” desiran demi desiran mengalir di dadanya. Terasa begitu sakit dan dalam.

Tubuhnya merosot begitu saja kelantai. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

“noona?? Kau tidak apa-apa??” minho berlari menghampiri jihye yang terlihat buruk.

“noona…” minho memeluknya. Menenangkan gadis itu dari kepanikan yang sempat menguasainya.

“kita kerumah sakit???” gadis itu menggeleng.

Minho melihat awan hitam di balik jendela, memandang langit itu lekat-lekat. Dia tau apa yang membuat kakaknya itu menangis.

“merindukan jinki hyung??” gadis itu hanya diam. Tidak lagi menagis tapi genangan airmata masih terlihat di sekitar matanya.

“kurasa jinki hyung merindukanmu noona”

Minho bangkit lalu mengulurkan tangannya pada jihye. Gadis itu menatap adiknya dengan enggan.

“ayo kita temui jinki hyung‼!”

*

Flasback   (Jihye POV)

 “kau sudah siap??” ku gerakan kepalaku menunduk. Sebenarnya aku tak benar-benar yakin.

Aku menoleh ke arah orang yang duduk di samping ranjangku.

“kau tau siapa orangnya??” dia tersenyum manis tapi terkesan tajam. Dia membelai lembut jemari tanganku yang ada di genggamannya.

“aku akan memberitahumu nanti. Setelah kau keluar dari ruang operasi”

“bagaimana kalau aku tak pernah bangun lagi??” senyum laki-laki itu seketika memudar.

“jangan bicara seperti itu. kau akan baik-baik saja…”

“kau sama saja seperti minho. Ngomong-ngomong dimana dia??”

“Dia sedang ada urusan. Dia pasti akan datang”

“semoga saja…” aku tersenyum pahit. Bila memang ini terakhir kalinya aku bisa menatap langit. Bisakah aku melihatnya untuk terakhir kali? Akan ku kesampingkan harga diriku yang telah lancang menolaknya.

“apa kau memikirkan pangeran lee?”

“huh??”

“kau mencintainya. Aku tau itu,,”

“ini bukan hal menarik untuk dibahas kimbum‼”

“kenapa kau memintaku pura-pura menjadi namjachingumu didepannya??”

“karena aku ingin dia melupakanku”

“jika itu tidak terjadi?? Sikapmu yang seperti itu akan membunuhnya”

“dia akan melupakanku kimbum aku yakin itu. Aku lebih tau dia daripada kau…”

“aku mungkin tidak lebih tau dia daripada kau. Tapi aku tau kalau dia begitu menderita karena mencintai yeoja bodoh sepertimu. Sekarang kau menolak perasaanmu padanya dan membiarkannya menderita di dalam sana. Tapi suatu saat nanti dia akan keluar dan tak akan terkendali lagi. Saat itu kau akan menyesal jihye…” aku tau aku akan menyesal nanti. Tapi biarkan seperti ini. Aku terlalu lelah saat ini…

Tak terfikirkan olehku sebelumnya dimana rasa penyesalan itu akan menghukumku. Yang aku tau aku hanya akan mendapatkannya dan menjalaninya dengan tersenyum. 

Saat aku terbangun dari tidur panjangku aku melihat wajahnya begitu dekat dengan wajahku. “jinki??” Dia tersenyum lembut, senyum yang lama aku rindukan. Dia menarik tanganku untuk bangun. Aku tak menolaknya. Walaupun kurasakan kepalaku mulai berkunang-kunang.

“gwenchana?? Aku tak akan memaksamu” Aku diam sebentar mengumpulkan beberapa energy kedalam tubuhku. Akhirnya aku bangkit dengan sedikit bersusah payah.

“kita mau kemana?” dia hanya menjawabku dengan senyumnnya.

Tanpa sadar aku tersenyum. Aku hampir melupakan sentuhan hangat tangannya. Berlari-lari kecil dengan bergandengan tangan di lorong-lorong kelas sewaktu kecil. Bedanya sekarang kami berlari di koridor rumah sakit.

Aku baru menyadari dia mengenakan pakaian yang sama seperti yang ku pakai. Tapi aku tak terlalu memikirkannya. Yang kurasa sekarang aku bahagia.

Seumur hidupku untuk pertama kalinya aku merasa bahagia. Jinki membawaku ke sebuah tempat yang dikelilingi dengan bunga sakura. Dan untuk pertama kalinya alergiku terhadap bunga hilang.

“kau harus segera menghilngkan phobia bungamu” aku menatapnya bingung.

“kau juga tak menyukai bunga”

“aku tidak pernah bilang aku tak suka. Bagiku satu-satunya bunga adalah kau. Kau satu-satunya dan yang terakhir” entah mengapa aku merasa senang jinki mengatakan hal itu.

“jinki, mianhae…”

“ini bukan waktunya untuk meminta maaf. Katakan apa yang belum kau katakan padaku”

“yang belum ku katakan padamu? Apa?”

“apa kau mencintaiku?” tiba-tiba wajahku memanas. Benar, aku belum pernah mengatakan perasaanku secara gamblang padanya. Haruskah aku mengataknnya sekarang?

“kalau kau tidak mengatakannya sekarang kau tak akan pernah bisa mengataknnya lagi” aku menatapnya takut. Apa yang baru dia bicarakan.

“aku mencintaimu jihye-ah, apa kau juga mencintaiku??”

“aku… mencintaimu jinki” jinki tersenyum lebar yang membuatku ikut tersenyum. Diantara bunga-bunga yang mekar kami tersenyum bahagia. Saling membagi kasih yang lama kami simpan. Saat itu aku sangat bahagia. Teramat bahagia hanya dengan melihat senyumnya.

Senyum terakhir yang aku lihat setelah itu.

( Jihye POV end, Jinki POV)

“jinki‼ jangan lari‼ kau bisa terluka…” aku tak mengerti kenapa gadis kecil itu selalu mengikutiku semenjak pertemuan pertama kami di rumah sakit. Dia seperti ummaku saja. Menyuruhku ini itu, melarangku ini itu.

Dia bahkan meminta kedua orangtuanya mengadopsiku. Tapi sebenarnya aku senang dia hadir dalam kehidupanku. Membawaku keluar dari panti asuhan.

Ku kira seumur hidupku aku akan tinggal ditempat menyedihkan itu. Karena sejak bayi aku memang sudah berada disana.

Aku suka memanggilnya hana karena aku tau dia tidak suka bunga. Dulu dia akan melotot lalu mendiamkanku seharian bila mendengar aku memanggilnya hana. Tapi dengan berjalannya waktu dia mulai terbisanya dengan panggilan ‘hana’.

Lebih dari 6 tahun kami bersama. Saling menjaga satu lain. Saling tergantung sama lain. Saat itu kami tak pernah terpisah dan berjanji akan bersama selamanya.

Tak pernah terduga sebelumnya. Seorang ahjusshi tiba-tiba datang mengaku menjadi utusan kerajaan. Membawaku pergi dari hana secara tiba-tiba. Untuk pertama kalinya kami terpisah.

Dulu kami dipertemukan dalam ikatan takdir yang tak aku mengerti. Saat itu aku sedang dalam perawatan karena jantungku tak kerja dengan semestinya. Aku menderita kelainan jantung seak kecil. Dan dia, aku tak pernah tau apa yang dilakukannya dirumah sakit saat itu. Dia tak pernah mengatakannya.

Hana, dia berbeda. Dia wanita yang kuat.

Saat dia menghindariku aku menyadari sesuatu. Dia ingin aku membencinya, melupakannya. Agar saat dia pergi aku akan baik-baik saja. Dia bahkan tak tau aku tak bisa tanpanya.

Kami terjebak dalam takdir yang benar-benar sulit, dan membuatku harus memilih. Ku pikir tuhan memberiku jalan lain. Dia menginginkanku lebih cepat dari yang ku duga.  Saat itu aku takut tak sempat bangun untuk melihatnya.

Dan saat tuhan berbaik hati memberiku kesempatan aku tak menyia-nyiakannya. Walaupun itu hanya beberapa jam. Walaupun hanya beberapa menit. Aku tetap bersyukur setidaknya aku diberi kesempatan bertemu dengan bungaku untuk terakhir kali.

Ingin ku ucapkan seribu kata cinta untuknya, tapi waktuku tak banyak.

Ingin ku rangkai seribu tangkai mawar untuknya, tapi raga ini tak mampu.

Ingin ku perlihatkan begitu bahagianya diriku karena telah mengenalnya, tapi aku tak sanggup bila harus melihat airmata mengalir dari pelupuk matanya.

Hal terakhir yang bisa kulakukan untuknya hanya tersenyum dan mengatakan betapa aku sangat mencintainya…

Flasback end

*

Minho tampak bimbang dengan keadaannya saat ini.

“minho, kau tak mendengarku???”

“tapi nona???”

“aku tak akan menenggak racun atau berusaha gantung diri lagi. Kau lihat kan, aku tak membawa apa-apa?” minho itu semakin takut dengan ucapan jihye.

“biar aku saja‼!” mereka berdua menoleh kearah punggung minho. Minho segera menarik diri untuk pergi dari tempat itu. Dia pikir hanya kimbum yang bisa mengendalikan jihye.

“Ada yang ingin ku katakan padamu”

“katakan saja…”

“Sebenarnya aku mengenal jinki hyung jauh sebelum aku mengenalmu. Kami sepupu jika kau ingin tau” jihye membelalakan kedua matanya. Berbalik menatap kimbum tajam.

“jika kau bertanya kenapa aku tak mengataknnya padamu. Jawabannya cuma satu. Aku actor terbaik. Seperti yang pernah ku katakan” gadis itu tampak kaget.

“Jangan pernah lagi mencoba untuk bunuh diri. Jinki hyung tidak menyukainya. Dia punya pengalaman buruk dengan kata ‘bunuh diri’” kimbum berhenti sejenak. Sekedar bersiap-siap akan reaksi jihye. Dan benar saja gadis mulai menunduk dan menangis.

“Ibu jinki hyung meninggal karena bunuh diri. Menjatuhkan diri ke jurang. Pihak kerajaan mengira jinki hyung juga ikut meninggal dalam kejadian itu”  Kimbum ingin menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Tapi ia tak sanggup.

“Sebenarnya dia tidak suka melihatmu menangis apalagi didepan altarnya seperti ini”

“jinki, kenapa dia lakukan ini padaku??” Kimbum segera menarik gadis itu dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu bersandar pada dadanya.

“Menangislah. Setelah ini jangan pernah menangis lagi,, karena aku akan selalu disisimu…” kimbum tersenyum pada foto jinki yang juga sedang tersenyum padanya.

Aku berjanji akan menjaganya hyung‼ Beristirahatlah dengan tenang …

END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “Last Flower”

  1. nyesek thor… hiks hiks hiks
    cuma kurang ngerti pas bc bbrp dialog… gak ad ketrngn suliapa yg ngomongnya.. mskipun dialog yg akhir2 phm.. cuma di awal.. plg gak harusnya nyisipin 1 ato 2 ktrgn siapa yg ngomong…

    n agk bingung jg sm kjdian pas d RS ya itu… ad gtu yg bkin bingung tp apa ya…

    tp overall.. nice ff.. sukses lah bikin sy galau.. hahaha

  2. Apa ini????? Σ( ° △ °|||)︴
    Pertamana emang ak gak ngerti jln ceritana. Eh, tp kebelakang ak jd ngerti. Tp sayangna jinki oppa kenapa di buat MENINGGAL?????
    Ak nebakna yg cew yg meninggal. Eh, ni kok Jinkina.. o(╯□╰)o

  3. daebak.
    aku g bisa nebak loh ampe selesai baca na.
    ternyata c jinki na yg mati.huwaaa
    aku suka gaya penulisan na.

  4. agtaptgakntpgdajmw

    Jadi jinki meninggal? Karena kelainan jantungnya? 😥
    Sempet ga ngerti waktu d alur flashback thor, tp waktu d akhir udh ngerti.

    Itu di depan altar jihye nya nikah sm kibum kah?

    Nice ff thor d^^b

  5. Sama kayak Ayachaan, sempet nggak ngerti di alur flashback, tapi waktu akhir aku udah ngerti^^.

    Eum..mungkin cuma bisa kasih 1 saran, kalau diawal kalimat, sesudah tanda : “, harus dikasih huruf besar, jadi kayak : “Annyeong” bukan “annyeong” gitu, mian kalau dikira sotoy.__.

    Btw, Nice FF thor^^

  6. awalnya aku kurang ngerti yang di rumah sakit… Alur flashbacknya juga kurang negrt.. Ceritanya Jinhye sakit terus diselamatin onew kah?? Ya itu sepenangkapanku pas baca FF ini:D haha, keep writing ya thor!:D

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s