Who I Am? I Am an Eve – SPY 4

Title       : Who I Am? I Am an Eve (Sequel From Fairytale and Myth)

Author  : ReeneReenePott

Maincast :

  • ·         Key/Kim Keybum (at Hogwarts) <Eve>
  • ·         Jessica <Eve>
  • ·         Jung Yoogeun <Human> -covered by Henry Lau

Supporter cast : (tokoh masih bisa bertambah)

  • ·         Hero(Kim Jaejoong) <Eve>
  • ·         Taylor(Kim Jong Hyun) <Eve>
  • ·         Gyuri <Eve>
  • ·         Madeleine <Elf>
  • ·         Elias(Choi Minho) <Elf>
  • ·         Claire <Elf>
  • ·         Joon <Elf>
  • ·         Kevin <Eve>
  • ·         Tiffany <Eve>
  • ·         Max(Shim Changmin) <Vampire>
  • ·         G.O <Vampire>
  • ·         Thunder <Vampire>
  • ·         Nikky(Lee Taemin) <Vampire>
  • ·         Chase(Lee Jinki) <Werewolf>
  • ·         Ricky <Werewolf>
  • ·         Minwoo <Werewolf>
  • ·         Chansung <Werewolf>

Cameo :

  • ·         Ashley <Wizard>
  • ·         Oey <Dwarf>
  • ·         The Volturies <Vampire>
  • ·         Hogwarts Teachers Staff<Wizzard>

Genre   : Fantasy, Romance, Thriller, Alternate Universe

Rating   : PG 13-15

Length  : Sequel

Backsound : Big Bang – Tell Me Good Bye, T-ARA – Cry Cry, IU – You & I, B.E.G – Cleansing Cream.

A/N : Well, namanya Jonghyun ternyata Taylor. Waktu itu dapetnya yang Ty sih. Pantesan aneh#plakk well, jangan bayangkan Jonghyun = Taylor Lautner ato Taylor Swift yaa #PLETAKK

SPY 4

An Old Castle, South Korea

September 2006 at 06.30 KST

Seorang bocah yang tingginya hampir sesiku Elias sedang duduk dengan tenang di sofa dan membaca beberapa majalah dengan tampang bosan. Wajahnya memang sangat tampan untuk ukuran bocah seusianya, dan kemampuan berbicaranya yang terkenal ‘nyerocos’ itu sudah terdeteksi sejak beberapa bulan setelah ia lahir.

“Aku seperti anak bodoh di ruangan ini,” celetuknya nyaring. Gyuri yang sedang menyiapkan buku-bukunya—well, dia menyamar sebagai seorang dosen—hanya meliriknya sambil mengulum senyum.

“Bocah seusiamu belum layak untuk keluyuran, apalagi kau belum mengerti apa itu ‘berburu’,”

“Ya! Gyuri umma! Aku sudah hampir melepaskan masa ‘bocah’ku jadi berhentilah memanggilku ‘bocah seusiamu—“ ungkapnya kesal sambil menirukan gaya bicara Gyuri. Sungguh, untuk ukuran anak sepertinya, dia sungguh amat sangat bawel. “Dan aku tahu apa itu berburu, Gyuri umma!”

“Oh ya? Kalau begitu, jelaskan padaku apa definisi ‘berburu’ menurut seorang Eve?” Gyuri akhirnya menantangnya setengah hati. Key—bocah Eve itu menyeringai senang.

“Keadaan dimana kita melaksanakan tugas, yaitu memakan jantung manusia dan membawa nyawa mereka ke tempat yang seharusnya, namun tak jarang juga Eve ‘berburu’ hewan,” jelasnya lugas. Gyuri melengkungkan bulan sabit di bibirnya dengan bangga.

“Hampir mendekati sempurna,” argumennya santai yang membuat Key mendelik.

“Hampir?! Haish! Umma!” pekik Key tidak terima.

“Kau tinggallah bersama Elias dulu, dia sedang di belakang,”

“Untuk apa mahkluk itu ada di belakang? Memandikan pegasus itu satu-persatu? Ini kan mulai musim gugur,” celetuk Key seenaknya.

“Ya! Jangan menyebutnya dengan ‘mahkluk itu’, Key, dia sudah seperti pamanmu,” balas Gyuri tajam. Key memberengut. “Kau benar-benar tumbuh jadi bocah yang rewel, aku pusing menasehatimu,” gumamnya yang membuat Key gondok setengah mati.

“Aku keturunan Taylor appa, kan?! Taylor appa itu juga cerewet kalau Gyuri umma dekat dengan mahasiswa lain! Apalagi sampai diajak ke nonton bioskop seperti waktu itu!” serunya tanpa pikir panjang. Kedua mata Gyuri membulat otomatis. Bocah ini benar-benar…

“Key!” seru Gyuri dengan wajah memerah. Well, memalukan digoda oleh anak sendiri u,u

“Itu fakta, Gyuri umma~” ujarnya sedikit memberikan aksen di akhir kalimat. Gyuri mendengus pelan.

Tiba-tiba pandangannya tersita ketika Key sedang asik menatap sebuah bulu yang… berterbangan? Ya, dengan jelas ia melihat Key bermain dengan bulu yang melayang itu, dan mengontrolnya dengan jarinya. “Key! Sedang apa kau?!”

“Eh? Bukan apa-apa. Bulunya keren, Gyuri umma! Bisa berterbangan sendiri!” ujarnya senang. Sesuatu berkelebat dalam benak Gyuri. Apa yang terjadi dengan anak ini?

__

Université de Paris, France

In the Middle of October 2006 at 10.00 a.m

Jessica menatap ke atas papernya dengan tatapan kosong. Ia bisa saja menyelesaikannya hingga akhir pertemuan siang itu, namun tenyata moodnya menuntunnya untuk mengundur pekerjaan itu. Ia jadi bingung sendiri, Eve macam apa yang suka mengulur-ulur waktu?

Kalimat-kalimat berbahasa Perancis di hadapannya membuatnya terasa sangat asing. Meski ia menguasai bahasa itu, namun jelas ia lebih familiar dengan hangeul. Dan ia merasa sangat jauh dari teman-temannya. Bukan maksud bahwa kelompok Kevin tidak ia anggap sebagai teman, tapi ia hanya merasa ia rindu teman lamanya. Teman yang sudah bersamanya beratus-ratus tahun.

Ternyata kelas telah usai tanpa ia sadari. Dengan desahan panjang ia membereskan buku dan kertas yang tengah berserakan di atas mejanya. Sambil berdecak, ia menggigit bibir bawahnya dan melangkah keluar kelas.

“Hai Jess. Kenapa diam saja tadi di kelas?” salah seorang gadis bertanya padanya. Jessica menoleh terkejut, lalu meringis.

“Bukan apa-apa. Memangnya kenapa, Susan?” Jessica balas bertanya.

“Tidak kenapa-kenapa. Oh ya, kemarin aku meminjam jangka-mu, kan? Ini, terimakasih, Jess.”

“Sama-sama,” dan kini Jessica kembali sendirian. Ia melihat ke sekitarnya, berpikir apakah ia butuh berburu sekarang atau tidak. Saat ia mengedarkan pandangannya, matanya tertancap pada satu titik.

Sebuah mobil sport hitam  berderu dengan kecepatan yang cukup untuk menelusuri parkiran di kampus itu. Oh, ternyata tidak hanya sebuah. Sebuah mobil hartop kuning dan van ungu menyusul di belakangnya. Semua mahasiswa yang ada di situ, yang sedang berbincang atau yang sekedar lewat sambil membawa berbagai map, mengarahkan mata mereka ke pemandangan yang mencolok itu. Jessica menoleh dengan bingung.

Ketiga mobil itu berhenti dan parkir di dekat gedung, dan keluarlah para pengemudinya. Mata Jessica melebar ketika dilihatnya sesosok berambut pirang turun dari mobil sport itu. Ya, sosok yang sama dengan vampir yang, err, bisa dibilangnya menyerangnya beberapa tempo lalu. Yang satu sangat dikenalnya dengan nama Nikky, dan yang bertubuh lebih besar dan tampang seram bernama Quimby. Sisanya ia tak tahu.

Yang bisa disimpulkan oleh Jessica adalah, Nikky dan kawanannya mungkin temasuk populer di universitas itu. Terbukti dengan seluruh mata yang memandang kagum dan memuja sejak kedatangan mereka. Jessica mendengus pelan, lalu membalikkan langkahnya menuju taman belakang gedung.

“Kau! Gadis berambut pirang yang memakai tas biru!” langkah Jessica terhenti ketika didengarnya suara Nikky—ata yang ia yakini memang suaranya—berseru. Jessica masih kurang yakin dengan siapa vampire itu berbicara, jadi ia hanya diam saja sambil menelan ludah.

“Hey! Kenapa diam saja?” kata Nikky lagi, lebih keras. Oke, aku hanya memastikan, batin Jessica sambil membalikkan tubuhnya. Dan yang dikagetkannya adalah, Nikky benar-benar berbicara dan menatapnya! Kini ia merasakan pandangan seluruh manusia di lapangan itu tertuju ke arahnya dengan tatapan bingung.

“Ikut aku,” kata Nikky lagi dengan kasar, dan menyuruh Jessica mengikutinya untuk melangkah ke belakang gedung. Nikky meliriknya sinis ketika melewati Jessica, demikian juga Quimby dan kedua temannya. Jessica terdiam sejenak, berusaha memantapkan hatinya sebelum mengikuti keempat vampire yang kata Tiffany itu ‘vampire gila’.

Nikky membawa mereka berlima ke tepian taman, yang ditumbuhi dengan berbagai pohon yang lebat. Nikky menghentikan langkahnya, membuat Jessica ikut menghentikan langkahnya juga. Apa mereka mau membunuhku? Atau membahas buruan mereka? pikir Jessica bingung.

“Aku tak menyangka kau masih hidup, mortal,” ujar Nikky dingin. Hoho, tebakan Jessica memang benar. Ia menyeringai.

“Wah, berarti aku mengecewakanmu, yah,” balas Jessica tenang. Nikky tampak mengatupkan rahangnya keras. Jessica yakin sampai sekarang Nikky tidak tahu siapa ia, atau lebih tepatnya mahkluk apa ia ini.

“Kau Elf,” tebak Quimby pelan. Nikky menoleh menatap Quimby terkejut. “Tak ada luka yang bisa sembuh dalam semalam, kecuali kau menggunakan benda sihir atau sihir itu sendiri. Dan Elf menggunakan sihir,” lanjut Quimby sambil menatap Nikky. Jessica mengerutkan keningnya, ternyata ada ya vampire yang sebodoh ini?

“Kalau aku Elf, untuk apa beberapa waktu lalu aku melawan dengan kekuatan fisikku, kenapa tidak dengan sihir saja,” balas Jessica lagi. “Aku seorang Eve,”

“Wah, Eve. Pasti kau tinggal di tempat Kevin itu, kan?” sahut Nikky meremehkan. Jessica berusaha menahan geram, walaupun wajahnya terlihat tenang.

“Ya,”

“Tapi meski kau tidak punya hubungan apapun dengan kami, namun karena kau telah mengetahui rahasia kami. Apa seharusnya kita lakukan, Quimby?”

“Menghabisimu,” sahut Quimby tanpa ekspresi. Jessica melebarkan matanya, namun sayangnya tangan Nikky sudah mencengkeram lengannya dan membantingnya ke pohon tanpa ampun.

“Hey… Akh!” rintih Jessica. Terang saja, bahunya belum sembuh total.

Brruuummmmmmmm…….

Sebuah suara deru motor terdengar keras, membuat Quimby, Nikky dan teman-temannya menoleh dan menghentikan aksinya ketika sebuat motor gede (??) berwarna hitam berhenti tepat dihadapan mereka. Kening mereka berkerut, bukan karena bingung atau penasaran, tapi karena tak suka. Sesuatu mengganggu indera penciuman mereka. Jessica perlahan menatap si pengendara motor dengan tatapan heran.

“Wah, ternyata kau memiliki hasrat dendam yang kuat, bahkan untuk hal sekecil apapun,” si pengendara memulai pembicaraan. Helmnya yang berwarna hitam masih terpasang di kepalanya.

“Berhentilah menggonggong, kau menganggu acara ku,” balas Nikky dingin. Jessica menemukan nada tak suka dalam suaranya. Sepasang mata coklat tertangkap sudut mata Jessica di balik kaca helm itu. Mata itu tekesan lembut, namun sekarang terlihat menatapnya lurus dan tajam.

“Hufftt…” si pengendara mengalihkan matanya dari Jessica, lalu membuka kaca helmnya. Jessica mendelik. Meski tak melihat wajahnya secara keseluruhan, namun ia yakin siapa itu. Dan ia tahu, ini adalah saat yang tepat untuk menyelamatkan diri sendiri.

“Mau apa kau disini? Keberadaanmu tidak dibutuhkan,” kata Nikky lagi dengan smirk yang bisa saja membuat orang langsung kabur begitu menatapnya. “Dan bau mu sungguh menjijikan,” lanjutnya.

“Memang kau pikir aku juga menyukai baumu?” balas mahkluk yang ternyata seorang werewolf bernama Chase itu dengan tenang.

“Kalau begitu pergilah sebelum aku menghabisimu,” desis Nikky tajam.

“Aku tidak akan datang atau menganggumu bila tidak ada sesuatu yang harus kulakukan,” sahut Chase pelan, santai dan datar. “Aro sudah mengetahui apa yang kalu lakukan kepadanya,” lanjut Chase tajam dan menekan kata ‘-nya’ sambil menatap Jessica.

“Apa maksudmu?” kening Nikky berkerut heran. Ia rasa, tidak ada kesalahan atau kebodohan apapun yang ia lakukan terhadap gadis yang sedang mematung di sampingnya. Toh, ia juga seorang mortal, dan gadis itu seorang immortal.

“Dia,” Chase menunjuk Jessica dengan dengan dagunya. “Kau pasti tidak mengetahui mahkluk apakah ia,”

“Untuk apa aku mengetahuinya? Toh itupun tak berpengaruh,” balas Nikky malas. Kali ini Chase yang menyeringai.

“Dia seorang Eve,” ujar Chase masa bodoh. “Dan tentu saja hal yang kau lakukan padanya sangat tak beradab, bagi seorang vampire sekalipun,” perkataannya membuah tubuh Nikky spontan menegang. “Jess, ikut aku,”

“Apa?”

“Jadi kata-kata Hero memang benar. Kau itu cantik tapi sedikit lola! Cepat ikut aku!” seru Chase sedikit dongkol. Namun tangan dingin Nikky langsung mencekal lengan Jessica begitu ia hendak melangkah menuju motor Chase.

“Kau mau kemana? Urusan kita belum selesai,” ujar Nikky dingin. Jessica mendelik menatapnya sesaat, lalu menghentakkan tangannya keras. Ya, kekuatan mereka hampir seimbang, sehingga Jessica berhasil melepaskan tangannya dan naik ke boncengan. Sepersekian detik kemudian motor itu melaju kencang, meninggalkan segerombolan vampir yang menatap dendam.

“Kau tak mengejarnya?” tanya Quimby heran pada Nikky. Nikky tak menjawab, yang pasti ia tak mau menjatuhkan harga dirinya sendiri hanya untuk mengejar motor dan mempermalukan dirinya di depan mahasiswa sekampus.

__

An Old Castle, South Korea

November 2006 at 3.00 p.m

“Hai Key,” seorang wanita yang memakai  jubah hijau toska dengan motif polkadot keperakan menyapa Key riang. Rambutnya hitam bergelombang dibiarkan terurai, dengan bando yang sama keperakannya dengan motof bajunya.

“Ashley, jangan terlalu ramah padanya. Kau hanya akan ditanggapi dengan dingin olehnya,” celetuk Elias sambil memainkan cincin-cincin teka-teki. Delapan buah cincin yang saling terpisah, jika disusun dengan benar akan membentuk sebuah cincin.

“Aku ramah tanpa pamrih Elias, lagipula, aku bisa sedikit merubah sifatnya, mungkin,” bisik Ashley di akhir kalimatnya sambil menyunggingkan cengirannya.

“Ck, kau mau apa sih kesini?” decak Key kesal sambil menatap Ashley. Ashley membalasnya dengan senyuman ringan.

“Dia datang karena Gyuri terus-terusan mengoceh tentang kau yang bermain dengan ‘bulu-bulu yang berterbangan’ itu,” ungkap Elias datar.

“Aku hanya ingin mengenalkanmu pada sihir,” sahut Ashley manis.

“Apa?” kening Key langsung merenyit. Eve yang hampir menyerupai anak berusia sebelas tahun itu sedang sedikit kesal karena ibunya, Gyuri menyuruhnya untuk mulai berburu. Bukan berburu manusia, masalahnya, namun berburu hewan. Tentu saja sebenarnya ia ingin langsung berburu manusia, namun larangan keras dari Gyuri dan didukung oleh Hero, membuatnya tak bisa berkutik lagi.

“Kau belum tahu banyak tentang apa yang sebenarnya kehidupan itu di dunia ini, kan?” sergah Ashley riang. “Salah satunya penyihir. Aku tak bisa menceritakan mereka kepadamu, tapi aku bisa menunjukkan mereka padamu,” tutur Ashley panjang.

“Tapi kau seorang penyihir, kan?” cetus Key kalem. Ashley mengangguk, dan tesenyum. “Jadi untuk apa kau menunjukkan mereka kepadaku, toh aku telah menjumpai seorang penyihir,” dengus Key pelan.

“Kau mau ikut aku?” tiba-tiba Ashley berdiri dan mengulurkan tangannya di hadapan Key. Key menatapnya bingung, memangnya mereka akan berjalan berdua dan bergandengan tangan hingga sampai tujuan? Dengan ragu Key ikut berdiri, namun menghiraukan tangan Ashley.

“Sekarang juga?” ujar Key ragu. Ashley mengangguk mantap.

“Kapan lagi?” jawabnya dan menegaskan lagi tangannya di hadapan Key. Key menatap tangan itu sejenak, dan dengan ragu menyambut tangan Ashley.

“Ini merupakan perjalanan pertamamu, oke?” kata Ashley sesaat sebelum sebuah sensasi aneh terasa di kepala Key, membuatnya semakin mencengkeram telapak tangan Ashley.

Sensasi itu semakin menjadi sepersekian detik kemudian, dan setelah Key kembali membuka kedua matanya, ia melongo. Ia bukan lagi berada di ruang tamu di kastil tuanya di Korea, melainkan di sebuah tempat seperti desa kecil entah dimana. Pegunungan menghiasi tempat itu, sementara banyak orang-orang yang berlalu-lalang.

“Itu tadi namanya ber- Apparate,” ujar Ashley sambil melepaskan genggaman tangannya  dari tangan Key. Key tidak menjawab, ia pandangannya sudah terkunci dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Tersenyum sendiri, Ashey ikut memperhatikan tempat yang kini mereka pijak itu.

Bau asap cerobong menerobos memasuki lubang hidung Key, sementara Ashley masih asyik memperhatikan keadaan disekelilingnya dengan senyuman lebar. Banyak pondok-pondok kecil dengan dinding kayu yang nampak kokoh, dan beberapa ruko sederhana yang nampak penuh sesak. Key masih berpikir, beberapa tahun mendatang mungkin mereka harus merenovasi ruko itu.

“Tempat ini namanya Hogsmeade,” kata Ashley tiba-tiba saat Key sedang memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang itu.  Menurutnya, orang-orang itu  berpakaian dengan sangat aneh. Mereka semua, baik laki-laki maupun perempuan memakai jubah panjang dan topi tinggi yang aneh. Mereka saling bertegur sapa satu sama lain, dengan senyuman riang dan terkadang sampai tetawa.

“Mereka manusia,” celetuk Key singkat. Ashley mencubit lengannya.

“Tentu saja. Mereka penyihir,” desis Ashley gemas. Key membulatkan mulutnya, dan mengangguk sekilas. “Kau mau tahu seperti apa kehidupan mereka?”

“Apa?”

“Atau mungkin kau perlu mengetahui seperti apa kehidupan mereka saat kanak-kanak?” lanjut Ashley lagi. Key menaikkan kedua alisnya bingung, namun membiarkan dirinya mengikuti langkah Ashley menuju ke sebuah daerah yang sangat gelap.

“Mereka menghabiskan masa kanak-kanak di sini?” tanya Key bingung. Ashley mengangkat bahunya lalu tersenyum.

“Yah, tepatnya masa kanak hingga remaja,” sahut Ashley dan merogoh sesuatu dari balik jubahnya. Key teus memperhatikan penyihir di depannya, yang ternyata mengeluarkan sebuah tongkat dengan panjang kira-kira 20 sentimeter dan ukiran yang agak aneh di sepanjang tongkat itu. Ia mengayunkannya sesaat, dan tiba-tiba sebuah cahaya berpendar seperti kabut tipis, dan langsung menghilang bersamaa dengan munculnya suara seperti decitan engsel raksasa.

Key terpana begitu melihat sebuah gerbang besar—sangat besar—berdiri dihadapannya secara gaib. Dan ia yakin, tenaga 1 orang Evepun masih terasa kurang untuk membuka gerbang itu penuh-penuh. Dengan satu lambaian lagi, gerbang itu perlahan tebuka. Meski suara deritan gerbang itu sedikit kurang nyaman di dengar, namun jelas Key terpukau dengan hal yang baru saja disaksikannya. Meski gerbang itu terasa dibuka dengan berat, namun gerbang itu tetap terus membuka. Dan itu kembali membuat Key sedikit terpana.

“Ayo, masuk,” ajak Ashley, membuyarkan lamunan Key. Dengan patuh Key melangkah masuk, beriringan dengan Ashley. Baru beberapa meter mereka melangkah, sesosok mungil mencegat mereka.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” ujar suara itu dingin. Key berjengit, dan semakin meneliri mahkluk yang ada dihadapannya. Mahkluk itu cebol, dengan telinga yang sangat runcing dan hidung yang runcing juga, kulit mereka sangat pucat,kedua mata mereka walaupun kecil tapi setajam elang, dan gigi-gigi mereka sangat runcing dan pendek.

“Ah, Harpey, lama tak berjumpa,” sapa Ashley ramah. “Kupikir kau sudah mengundurkan diri sejak insiden itu,” lanjut Ashley yang membuat kening Key berkerut.

“Aku juga tak menyangka, bahwa Mrs. Bufferpy berkunjung lagi ke tempat ini,” balas mahkluk itu—yang dikenali Key dengan nama Harpey—tanpa mengurangi nada dingin dalam suaranya.

“Aku memiliki tugas dari Professor Dumbledore,” sahut Ashley ceria sambil menunjukkan selembar perkamen yang tengah digenggamnya.

“Baiklah, aku tahu tujuanmu. Tapi seperti biasa, Hogwarts selalu menerapkan sistem keamanan yang ketat, jadi kalian tetap harus kuperiksa,” jelas mahkluk bernama Harpey itu lagi.

“Kalau itu maumu,” Ashley mengangkat kedua bahunya ketika Harpey mulai menyentuhkan sebatang tongkat ke sekujur tubuhnya. Dengan sedikit memberengut, ia melepaskan tongkat itu dari tubuh Ashley, dan mulai berpindah memeriksa Key.

“Wah, kau bukan mahkluk biasa,” gumam Harpey tiba-tiba, membuat Key mendelik. “Namun kalau kau aman, aku bisa memeperbolehkanmu masuk,”

“Terima kasih,” balas Key dan ikut menyamai langkahnya dengan langkah Ashley ketika dirasakannya tongkat Harpey sudah tak melekat ditubuhnya lagi.

“Mereka goblin, yah, meski mereka menyerupai kurcaci, tapi mereka sedikit berbeda,” bisik Ashley seolah menyadari keingintahuan Key tentang mahkluk yang baru saja ditemuinya itu.

“Dan kini, kita sedang menuju kemana?” tanya Key sambil menerawang ke arah depan.

“Nanti kau akan tahu,” ujar Ashley singkat dan tersenyum misterius. “Pertama, kita akan memasuki ini,”

__

Old Mansion, France

At the same time

G.O mematikan televisi di depannya dengan kesal dan melempar remotenya asal. Wajahnya tampak kusut, membuat Jessica ayng barusan lewat merenyit heran padaya. Max pun ikut menoleh ketika dirinya yang tengah asyik menikmati berita tiba-tiba terganggu.

“Ada apa?” tanya Jessica sambil mengambil tempat duduk di samping G.O.

“Korban berjatuhan lagi,” jawabnya singkat dengan nada sedikit dingin.

“Korban?”

“Ya, paling tidak seminggu sekali ditemukan 3 orang tewas menggenaskan di tempat tersembunyi, tanpa luka apapun, kecuali dua tancapan di lehernya,” jelasnya panjang lebar. Max yang melirik diam-diam hanya bisa mendesah prihatin.

“Karena vampire?” tebak Jessica, yang disambut anggukan mantap dari G.O.

“Tepatnya, Nikky dan teman-temannya. Mereka selalu berbuat ulah, dan melanggar perjanjian,” sambung Max kalem dari belakang.

“Perjanjian?” Jessica benar-benar seperti orang bodoh sekarang.

“Ya, sebelumnya semua vampire yang akan tinggal disini dilarang untuk memangsa manusia kecuali binatang. Tapi nyatanya? Mereka tetap membantai manusia,”

“Dan aku yakin, mereka semakin ganas sekarang pasti karena ada maksudnya,” celetuk G.O.

“Sepertinya mereka sedang menyiapkan tenaga,” terawang Max.

“Untuk apa?”

“Memangsamu,” balas Max pendek dan menatap manik mata Jessica garang. “Mereka tidak waras, karena itu mereka pasti akan melakukan apa yang mereka anggap menyenangkan. Kau pernah membuat mereka kesal, kan? Walaupun itu sangat tidak masuk akal, namun sangat masuk akal bagi mereka,” tuturnya panjang lebar.

“Astaga, memangsaku? Apa gunanya? Pekerjaan ku hanya mencari jiwa-jiwa, dan sesekali bertahan dengan hewan. Kalaupun aku mati, aku yakin tidak akan merubah apapun,” balas Jessica sedikit nyentrik. G.O dan Max sama-sama memutarkan kedua bola mata mereka.

“Karena itu, sudah dibilang kan, mereka itu vampir gila,” jelas G.O lagi, “Mereka tidak berpikir waras, jadi lebih baik berhati-hati saja,”

“Mana Thunder?” sebuah suara perempuan berseru dari balik punggung Jessica. Jessica, G.O dan Max menoleh bersamaan, tertegun mendapati Tiffany yang memasang wajah cemas.

“Ada apa, Tiff?” tanya Max. Tiffany membuka dan menutup mulutnya cepat, membuat semua kebingungan.

“Seorang pria dan seorang wanita hilang saat menuju ke arah supermarket di perempatan depan. Dan pastinya aku mencium ada sesuatu yang tidak beres di sana. Aku pikir mustahil untuk memanggil Chase atau Ricky atau Chansung, jadi aku mencari Thunder. Dimana dia?” tutur Tiffany panjang lebar.

“Ia baru saja keluar. Memang ada apa?” sahut Max tenang. Jessica hanya menatap Tiffany lurus-lurus.

“Apakah firasatmu mengatakan ini ulah Nikky lagi?” gumam Jessica datar. Tiffany menoleh menatapnya dan mengangguk.

“Ya. Aku hanya takut Aro akan tahu. Ck,”

“Kupikir Aro harus secepatnya tahu. Biar Nikky bisa dihancurkannya,” tukas G.O.

“Entahlah. Jadi, ini harusnya kita biarkan atau kita beri tindakan?” desah Tiffany.

“Biarkan saja. Repot sekali kau mau mengurus mereka,” sahut G.O sedikit kesal. Tiffany menoleh memandangnya, lalu mengangkat bahunya.

“Kau mau ikut denganku, Tiff?” akhirnya Jessica kembali bersuara setelah lebih banyak memperhatikan perdebatan kecil itu. Ia berpikir bila bisa memisahkan Tiffany dengan G.O sejenak, mungkin mereka bisa sama-sama menenangkan pikiran mereka. Tiffany memandangnya sejenak, lalu mengangguk pelan.

__

Headmaster’s Room of Hogwarts, England

At the same day, 5.00 p.m

“Ashley, kau membuatku sedikit terkejut,” ujar seorang kakek tua, bertubuh tinggi besar dengan rambut dan janggut yang sangat panjang berwarna putih. Matanya biru laut, tampak memancarkan aura hangat dari balik kacamata bulan separo-nya. Ia memakai jubah panjang berkilauan, dengan topi yang senada berwarna hijau lembut, dan motif bintang perak yang ada di ujung-ujungnya.

“Maafkan aku, Professor. Tapi hanya inilah waktu yang bisa kusediakan,” jawab Ashley tenang. Kini mereka tengah duduk di sebuah ruangan yang dirasa telalu sempit, namun tidak sempit juga (lho??), karena dalam ruangan itu terdapat banyak barang-barang aneh yang menarik. Lemari-lemari yang penuh buku tua berjejer di sepanjang dindingnya, dan meski begitu, tercium bau lily yang lembut dan samar-samar.

Dan yang paling membuat Key tertarik adalah, sebuah teleskop besar yang terletak si atas ruangan itu, Tepat dibalik kursi tinggi, tempat dimana kakek tua itu tengah duduk sambil menautkan jari-jarinya. Key sedikit takut menatap kakek itu, meski tak ada hal yang perlu ditakutkan darinya.

“Tak apa, tak apa,” balasnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Jadi, inikah Eve yang ingin kau kenalkan padaku?” Key sedikit berjengit ketika kakek tua itu mengalihkan pandangannya menatap mata Key. Bola matanya yang berwarna biru cermelang bagai mengguyur Key dengan air dingin yang menyegarkan.

“Ya, Proffesor. Namanya Key. Aku suka namanya,” tutur Ashley ceria. Key sedikit merenyit, namun mengusahakan raut wajahnya tampak biasa-biasa saja.

“Kupikir kau kurang suka dengan pernyataan itu, Key,” gumam kakek itu, namun matanya tidak tertuju pada Key. Ia sedang asyik mengelus seekor burung yang lumayan besar, dengan bulu merah serta jingga keemasan.

“Err, yeah,” gumam Key asal.

Srakkkk

“Professor Dumbledore!” sebuah suara berderu dari arah pintu. Key dan Ashley langsung menoleh kaget, sementara kakek yang ternyata bernama Professor Dumbledore itu hanya menatap ke arah pria bertubuh yang sangat besar, berjenggot lebar yang nampak sangat kusut, namun matanya memancarkan kehangatan itu sejenak.

“Ya, Hagrid?” jawab Professor Dumbledore tenang. Ia masih mengelus-elus bulu burung yang ada di sebelahnya.

“Professor, si Kembar Weasley benar-benar tidak bisa di atur. Seperangkat toilet perempuan hilang, hanya tersisa puing-puingnya yang ada di pinggir wastafel,” lapor pria itu dengan nafas berderu cepat.

“Ah, tapi biasanya Mr. Filch yang selalu ribut mengenai hal ini,” gumam Professor Dumbledore lalu berdiri dari kursinya. “Tapi baiklah. Minta tolonglah pada Professor Flitwick, kuharap ia sedang tidak ada tugas. Kau tahu sendiri aku sedang kedatangan tamu,” ujarnya panjang lebar sambil melirik Key.

“Baiklah, baiklah, Professor. Maaf sudah ganggu kau. Selamat siang,” sahutnya dengan suara serak kasar. Key memiringkan kepalanya sejenak, dan kembali menatap Professor Dumbledore. Suara berdebum semakin samar terdengar, sebelum akhirnya suasana kembali hening.

“Key,” ujar Professor Dumbledore tiba-tiba “Mungkin sedikit aneh kenapa aku meminta Ashley untuk membawamu ke sini. Kau adalah Eve pertama yang masuk Hogwarts, sebenarnya,” katanya sambil mengelus jenggotnya lembut. Key menatapnya bingung, namun ia berpikir lebih baik mempertahankan posisinya yang dalam diam itu.

“Aku sendiri sebenarnya heran, Key. Ternyata selain Hero, kau memiliki kemampuan khusus yang diluar dugaan,” sambungnya. Key membulatkan matanya, namun hanya sebatas itu. Ia kaget, jelas, tapi ia cukup tahu untuk tidak membuka mulut saat ini. “Mungkin tinggal beberapa lama di sini bisa membuatmu mengeluarkan jati dirimu,”

“Beberapa lama?” tanya Key pelan. Professor Dumbledore memperbaiki letak kacamata bulan separuhnya sebentar dan berdeham.

“Ya, kupikir asrama Hufflepuff memiliki sebuah ranjang kosong yang nyaman,” sahutnya pelan sambil tesenyum kecil. “Dan kalau kau mau meneruskan sekolah di sini, aku dengan senang hati menerimamu,”

“Elias bisa sihir, mungkin aku bisa mengajaknya bertarung suatu saat,” gumam Key semangat. Dumbledore menatapnya tajam seketika.

“Sihir antara Penyihir dan Elf tidak dapat bertemu. Mereka tidak akan bisa menyerang satu sama lain,” ujarnya pelan. Key nampak terkejut, jelas. “Itu sudah hukumnya. Aku tak dapat mendeskripsikannya dengan kata-kata, memang, namun ini sudah hukum dari dulu,”

“Professor, kupikir Topi Seleksi bisa lebih akurat menentukan dimana ia akan menginap,” usul Ashley sopan. “Atau tinggal,” sambutnya. Dumbledore mendesah pelan.

“Ah, kau benar juga. Key, kau tidak keberatan kan untuk di seleksi?” ujarnya yang langsung membuat Key khawatir. Berbagai bentuk seleksi menyerbu masuk ke dalam pikirannya. Seleksi fisik, akademik, ia khawatir bila harus mengalaminya dan gagal, karena ia belum pernah bersekolah.

“Tenang saja, kau hanya perlu memakai sebuah topi tua,” gumam Ashley ketika melihat sinar kekhawatiran di mata Key. Kening Key merenyit heran. Topi?

Dumbledore bergerak menuju ke sebuah rak tinggi yang ada di tepi ruangannya. Dengan hati-hati ia membuka pintu kacanya dan mengeluarkan sebuah topi yang sangat buruk rupanya. Key yakin Taylor tidak-akan-pernah-sudi memakai topi itu. Kainnya yang yang seharusnya berwana hitam sudah memudar dan banyak tambalan di sana-sini. Key sampai heran, dengan kondisi seperti itu seharusnya topi itu sudah mendarat di tong sampah.

“Seorang anak, Sir?” Key terlonjak begitu mendengar suara yang berasal dari topi itu. Kini dengan jelas dilihatnya, lipatan-lipatan di topi itu membentuk mata, mulut dan sebuah tonjolan kecil seperti hidung(mungkin menurut kalian enggak, tapi bagi author iya#plakk).

“Pakailah,” ujar Dumbledore bijak. Dengan ragu Key meraih topi itu, dan di pasangkannya ke kepalanya. Dingin, itulah sensasi pertama yang dirasakannya.

“Wah, wah, baru pertama kali ini aku mendapat seorang yang bukan manusia,” sebuah suara berbisik pelan ke relung hati Key. Key hampir saja terlonjak kalau ia sedang tidak sadar tengah menduduki sebuah kursi. “Ya, ya. Ambisimu besar, kau harus mendapatkan apa yang kau mau. Dan terkadang kau merendahkan beberapa hal yang menurutmu kecil, namun sebenarnya sangat penting. Rasa ingin tahumu juga besar, aku hargai itu” Key kaget ketika topi itu mulai mengatakan sifatnya satu-persatu. “Jadi dimana sebaiknya aku menempatkanmu?”

Key terdiam lama menunggu reaksi dari Topi itu. “Ada empat asrama di sini, kupikir sebaiknya kau kuberitahu dulu. Gryffindor, Huflepuff, Ravenclaw, dan Slytherin. Apakah kau sudah mendapat gambaran?”

“Aku tidak suka dengan nama Slytherin, sepertinya,” gumam Key dalam hati. “Gryffindor terdengar keren, namun aku belum bisa memastikan yang cocok untukku,”

“Hm… Ya, kau juga penuh pertimbangan,” balas topi itu, menggelitik benak Key. “Kupikir aku tahu dimana harus menempatkanmu. RAVENCLAW!”

Key menghembuskan napas lega saat topi itu diaangkat dari kepalanya, dan menatap Ashley yang berbinar balik menatapnya.

“Ravenclaw, kupikir otakmu cukup encer sehingga bisa masuk ke asrama itu,”gumamnya takjub. Dumbledore tersenyum tipis.

“Well,” ungkapnya sedikit bingung. “Kupikir ada sedikit masalah di sini,” terang Key ragu, “Aku tidak harus makan makanan manusia, kan? Tapi apakah aneh kalau aku tidak makan makanan mereka, sementara aku makan jantung mentah?”

“Aku sudah berpikir tentang itu, Key, well, kupikir kau harus duduk di Aula Besar setiap sarapan, makan siang dan makan malam,” Key sedikit memiringkan kepalanya mendengar penjelasan tu, “Tapi aku sudah berencana untuk meletakkan sedikit sihir di piring emasmu. Apapun yang kau makan, tak akan terasa, dan begitu mencapai kerongkongan makanan itu akan hilang,”

“Aku merasa seperti membohongi dunia,” gumamnya kaget. “Tapi mungkin ide itu lebih baik daripada makan jantung mentah secara sembunyi-sembunyi tiap jam makan,”

“Ah, bisakah kau bertahan dengan jantung hewan untuk saat ini?” tanya Ashley ragu. Key menoleh menatapnya sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Gyuri eomma selalu melarangku makan jantung manusia,” Key menatapnya dengan kesal.

“Baiklah, Eve kecil, jangan menatapku seperti itu oke, aku merasa seperti kau akan menerkamku dan merobek rongga dadaku,”

“Jangan panggil aku Eve kecil!” cetusnya kesal. Ashley hampir terbahak mendengarnya.

__

An old ground, France

Same day, 21.00 p.m

“Mereka menganggap rendah kita,” suara Nikky bergumam dingin, kedua matanya berkilat merah penuh kemarahan. Quimby dan pasukannya mendengarkan dengan seksama di belakangnya. Malam itu dingin menusuk, namun tetap tidak berpengaruh untuk mereka. Suhu tubuh mereka toh lebih dingin dari pada udara malam itu.

“Apakah sebaiknya kita membangun pasukan baru?” usul Quimby tercenung. Nikky merenyitkan keningnya.

“Dan mengulangi kejadian yang di alami Victoria dulu? Hah, jangan harap. Aku ingin membunuh mahkluk itu dengan tanganku sendiri,” sahut Nikky dingin. Quimby langsung memberengut.

“Tapi kupikir usul Quimby ada benarnya. Jumlah kita hanya 5, sementara mereka berenam bersama Eve sialan itu” ujar salah satunya pelan. Terpaksa Nikky memutar otaknya lagi.

“Kuberikan toleransi. Kita bisa merekrut 2 atau 3 anggota baru,” ujar Nikky memecah keheningan yang tercipta di balik bangunan tua itu. Ia tidak punya tempat untuk tinggal yang layak, tentu saja. Namun ia punya markas tersendiri, yang tak pernah di sangka orang-orang. Rumah tua dengan pekarangan yang sudah ditumbuhi ilalang liar.

“Aku bisa meyakinkanmu soal itu,” sahut seorang vampire wanita satu-satunya di kawanan itu. Nikky menyeringai puas.

“Setelah kau dapatkan mereka, latih mereka sebisamu hingga mereka siap tanding,” ujar Nikky pelan dan tajam. Vampire wanita itu mengangguk, meski ia tahu Nikky tidak memperhatikannya.

“Berapa waktu yang kita butuhkan?” tanya yang lainnya.

“Kurang lebih sebulan atau beberapa minggu. Semakin cepat semakin baik,”

“Baiklah, permintaanmu akan kupenuhi, sekarang juga.” Sahut vampire wanita itu lagi lalu melesat menghilang di malam yang dingin itu. Nikky tersenyum bengis.

__

Swedian forest,

00.00 a.m

“Kau menyendiri lagi, Joon,” gumam Madeleine tiba-tiba. Joon memiringkan kepalanya sejenak, lalu kembali melamun. “Kau kenapa?”

“Tidak ada apa-apa,” sahutnya cepat. Madeleine duduk di sampingnya dan ikut memeluk lutut.

“Biasanya kau selalu cerewet, mengoceh sendiri,” Madeleine menghentikan katanya ketika Joon tetap tidak bereaksi. Ia menelan ludahnya lalu berdeham keras. “Kau kenapa?”

“Bisa tidak ganggu aku dulu?” ujarnya tiba-tiba dingin. Madeleine mengubah raut wajahnya.

“Maaf,” gumamnya pelan lalu berdiri dan berbalik pergi. Joon menghembuskan napas berat ketika langkah Madeleine sudah tak terdengar lagi. Ia menyenderkan punggungnya ke pohon besar yang ada di belakangnya, pandangannya menerawang.

“Apa yang sudah kulakukan?” gumamnya penuh penyesalan.

__

Old Mansion, France

End of November 2006 at 7.00 p.m

“Dia akan datang,” gumam Max tiba-tiba. Kevin dan Thunder menoleh bingung. Jessica merenyitkan keningnya, mencium ada aura tidak beres pada percakapan ini.

“Siapa?” tanya G.O tenang. Max memandangnya muram.

“Caius dan Jane. Mereka akan datang beberapa hari lagi. Ternyata mereka telah mendengar tentang kejadian itu,”

“Kejadian apa?” nada suara Tiffany menjadi tegang. Thunder menunduk.

“Kejadian yang menimpa Jessica beberapa waktu lalu, di tambah kejadian akhir pekan ini,”

“Siapa Caius dan Jane itu?” tanya Jessica tiba-tiba. G.O, Thunder dan Max menoleh menatapnya sendu.

“Mereka anak buah Aro,” sahut Max pelan. “Aro dan kawanannya, biasa di sebut para Volturi, sudah seperti vampire bangsawan. Mereka tinggal di Tuscania, dan merekalah yang menjaga agar keberadaan vampire di dunia tetap tersembunyi,” jelasnya singkat. Jessica mengangguk pelan.

“Apakah mereka… Kejam?”

“Hah… Tentu saja. Mereka tak segan membunuh vampire yang sudah melakukan penyimpangan besar,”

“Lalu… Apakah kita juga akan dibunuh oleh mereka?” Jessica bergidik ngeri. Max tersenyum tipis.

“Mereka akan meminta pertanggung jawaban dari kita. Nikky itu vampire gila, ia tidak waras. Mana bisa vampire gila mempertahankan reputasinya di depan Volturi?” sambung Thunder.

“Apa?! Pertanggung jawaban?” pekik Jessica tertahan. Tiffany menyentuh kedua bahunya lembut.

“Itu sudah kewajiban kita, Jess. Tapi Nikky benar-benar diluar kendali. Awalnya ia ingin disembunyikan di ruang bawah tanah rumah ini, namun ternyata ia berhasil kabur,”

“Dan kurasa Nikky masih menyimpan dendam terhadapmu,” Kevin yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. Jessica menoleh kaget menatapnya.

“Apa?!”

“Sudah kubilang, Jess. Vampire gila sama seperti manusia gila. Mereka akan melakukan hal-hal yang tidak waras. Tapi kalau vampire, mereka melakukan hal-hal yang sangat berbeda dari manusia, tentu saja,” sahut Tiffany sambil mengangkat bahunya murung.

To Be Continued…

TEASER SPY 5

“Mulutnya pedas, matanya tajam, dan sangat suka mengkritik muridnya. Kecuali anak emasnya, tentu saja, Draco Malfoy. Kalau aku tidak mengingat bahwa Professor Snape adalah Kepala Asrama Slytherin, mereka sudah kuhajar,”

“Masalahnya, Max, aku bingung harus berbuat apa,” ujar Jessica lemah. “Aku tidak pernah berada dalam situasi seperti ini, mengalami masalah dengan seorang vampir gila yang benar-benar membuatku bingung!”

“Apakah kau bisa melawan takdir? Bila kau bisa, bagaimana caranya?”

Yep, tempat tujuan mereka. Kota para Elf, Ellesmera.

“Hey! Sipit!” suara alto dua orang anak laki-laki membuat Key menoleh kaget. Nampak dua sosok berambut merah, aha, si Kembar Weasley. Fred dan George.

“Aku tidak kenal dengan siapa itu Ariana. Lagipula, kita ini masih kelas satu kan, apaan sih main taksir-menaksir?”

“Oh, tentu saja, Nikky, aku lupa kalau kau sudah mati rasa ketika Rosalie meninggalkanmu,” ujarnya mengejek. Raut wajah Nikky berubah seketika.

“Aro, janganlah terlalu bertele-tele, cepat singkirkan bangsat ini,” Caius berceletuk sambil menatap Nikky yang sudah lemas tergeletak. Jane masih fokus dengan pekerjaannya, menyiksa Nikky.

“Kenapa, Tiff?”

“Kau tak menyadarinya?” tanya Tiffany balik. Max mengangkat kedua alisnya.

TEASER – END

Ottheyo? Tambah gaje kan?? Hueeee….. Okeh, itu udah pada nongol tuuuhhh.. ada Dumbledore(jujur, aku ngareep banget dia jadi kepsek di sekolahku#plakkk) dan Hagrid. McGonagall sama Snape menyusul, si kembar Weasley juga menyusul. Jane, Aro, Caius dkk juga menyusul. Okeh? #pletakkk

Kalo geje jelek ancur-ancuran, maklum yah.. XDD authornya ancur juga masalahnya #plakkk Kalo ada adegan yang beberapa Twilght ato Eclipse ato New Moon banget mian yah, soalnya itu tidak disengaja, sumpah!! #pletakkk And as your wish, bagian Key kubanyakin kan? XDD

Aku mau tanya pendapat kalian deh. Taylor sama Gyuri, lebih baik nantiiii di akhir cerita dimatiin ato tetep hidup? Yahh.. aku Cuma mau tanya pendapat kalian sih.. tapi plotnya rahasia XDD #pletakkk

For ViKeyKyuLov : kalau begini timingnya bisa di bayangin ga?? Udah aku perjelas lagi nih… ^^ kalo belom bilang ya,

Okeh, berakhirlah Spy 4 dari FF ancur nan gaje ini. Sebenernya, sejauh pantauanku readernya kian dikit dari Spy ke Spy T^T Tapi tak apa, aku akan berjuang semampuku untuk menamatkan FF ini😄 Dan untuk next aku gak janji bakalan cepet lagi T^T  kritik, saran, komen, apapun deh!! Di terima dengan tangan terbuka. XDD see ya!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

14 thoughts on “Who I Am? I Am an Eve – SPY 4

    1. aaaah, reeen, ini melebihi ekspektasi setelah nunggu laamaaa bangeet. bener deh kata vikeykyulov, yg part ini sungguh rapi settingnya, jadinya bacanya ngalur dan enak, hehe

      acuung jempol buaat kamuu, berhasil ngegabungn smua novel fantasi favoritku, eragon, harpot, samp twilight. keke~ pas banget ini reen, yakib naget nnat akan lebih seruuu

      daan can’t wait smpe key segera dewasa supaya jess bisa lgsg bareng dia, hehe. aku belom nangkap konflik parah sejauh ini kecuali si taemin yg mendadak gila begitu *dibakar taemints. selebihnya aku harap konfliknya akan segera keliatan.

      oh ya reen, jangan patah semangat buat nulis yaa walaupun menurutmu readernya makin sedikt. krn kita masih ttp nunggu karya2mu.
      hwaitiiing!!! *hug

      1. Iyakahh.. ahh syukurlahh.. *menghela napas lega*
        Ne?? Harus dong. Sampe spy 6 baru pemanasan doang ini mah. Nanti pas kita ke main cerita ada genre yang nambah. hueheheee~~ #plakkk

        Hm! Aku juga ga sabar liat dia dewasa. Nanti… *ups* spy ini sebenernya kayak before story gitu. Jadi baru merambat dikit-dikit dulu. TUNGGU COMEBACKNYA YOOGEUN YAHHH #plakkk

        Gomawo yaa… *terharu* XDDD

  1. ASTAGA!!!! DEMI APA!!! INI…….. HUWAHHHH reeennn…. Sumpah aku gx bisa ngomong apa-apa lagi…. Cuma bisa berdecak kagum dan sesekali mendesah puas……. Oke Reen… Pertama aku mau Bilang so Thank Kyu…….. Dirimu sudah mau mengabulkan permintaanku untuk memperjelas Timing… Ini sudah sangat jelas,.. Mudah dicerna… Dan aku rasa settingnya juga terarah…..

    HOGHWART… REEN.. HOGHWART……. GUE HISTERIS BACA KEY BISA MASUK HOGWART… YA AMPUNNNNN!!!! Tapi kenapa dimasukin Revenclaw… Padahal aku udd seneng waktu Key bilang dia gx suka Slytherin…. Aku berharap Key masuk Griffindor trs temenan sama Herry,Ron.Hermione. Biar Key bisa diajarin Harry main Quidditch jadi Seeker.. Kn mata dia tajem tuh.. Hahaha
    Tapi add Indikasi Key bakalan deket sama si Nyleneh Bersaudara Fred N George Weasly…. Itu Prof. Snape bakalan gx suka sama Key-kah?? Trs dia saingan sama Draco Molfoy???

    Eh,, di next track kenapa add sebut2 nama Ariana.. Bukannya Ariana adeknya Dumbledor… Oh iya… Si Cho Cheng bakalan muncul gx.. Kn sama2 sipit tuhh…..XDD mau tanya dong… Ini dihogwart settingnya waktu si Cedric Diggory masih hidup gx?? (klo iya berharap add dua Rob pattinson main disini)huahahaha

    aku beneran kayak baca Twilight yg di Mix sama Hogwart… Coba itu si Jess dan kawannya pindah setting disemenanjung amrik, tepatnya di Kota Forks,, pasti bakalan ketemu sama keluarga Cullen,, sukur-sukur bisa temenan sama Bella-Edward atau Reenesme-Jacob… Sumpahhhhh,,, aku bakalan seneng banget….. #ketahuan banyak maunya……..

    Mau ngomong apalagi ya…… Puas banget sama part ini,,, dua novel addict-ku nyatu dg cast Key… Kurang apalagi cobaaaa…….. #hug Reneepot sampe sesek…….

    Nama Jjong Taylor?? Brasa kayak nama asli Jacob.. Taylor lautner..hihihihi

    Pokoknya aku bahagia baca FF ini… Aku cinta kamu madeleine… (dr sekian banyak track br inget lg ternyata nama asli km jd cast juga disini..hehehe)

    Reneepott… Aku cinta padamu….XDDD

    1. ASTAGA APAAN VII INI KOMENMU MENAKJUBKAN SANGATT!! #JEDERRR

      Yeee…. key itu ga cocok sama karakteristik Gryffindor yang gagah berani. Yang cocok Minho #dihajar Key juga ikut Quiditch. Tenang aja. Jadi Beater dia, WOHOOOOOOOO #plakkk
      Kaga koookk… Yah.. sebagai murid Hogwarts pasti tau lah guru yang paling nyebelin sampe guru yang paling kece #dorr Dan malfoy mah emang gak smeua orang mau temenan ama diaa o.o Tapi kalo Fred sma George mah.. sepertinya iya. Jadi key rada ketularan koplaknya gitu #dibunuh

      Iyeepp.. Tapi bukan Ariana Dumbledore.. Ini Ariana Silvermist, dia setengah Veela. Hohoho.. #plakk Dan iya, Cedric muncul kok nanti. Tapi kalo Forks jangan harapp.. aku pening kalo ada karakter kembar-kembar #dorrrr

      Iyahh….. terimakasih cintahhh *kecup* XDDD
      gomawo juga yahh.. XDDD

  2. asyik Rene ngeluarin FF kesukaanku *SKSD*
    aih demi apa aku cinta mati sama FF ini..
    dan kenapa sih lama?? hehe aku jadi sedikit lupa ceritanya..

    Nikky itu Taemin kan?? ah aku ga rela.. tapi it’s ok^^
    Gyuri dan Jonghyun jangan mati dong..
    nanti key sama siapa?
    disitu key umur berapa??

    ahh aku makin suka sama nih cerita!! lanjut dehhh

    1. Huahahhaaa~~~
      Kenapa lama?? karena ku masih peajar, dan membuat FF fantasy sumpah ini ga gampangggg T^T #plakk

      Nanti Key sama… jessica dong ^^
      Disini.. key masih… paling baru mau menginjak 1 tahun… XDD
      Siapp.. ^^
      gomawo yaaa XDD

      1. Mwoya?? Key Sama Jessica…??
        Boleh deh… haha aku suka banget Couple ini.. liat deh blogku.. hampir 95% isinya KeySica.. haha

        1 tahun?? Jinjja?? ckckck pasti unyu unyu deh.. wkwkwkw

        cheon deh eon.. eh namja or yeoja??

  3. …………*masih melongo
    ini ,,,,, keren banget !!!!!!!!!!!!!!!
    sifat key yg bawel dan suka ngeremehin bener2 nyebelin ,, tapi cute …. *apaan coba??
    serasa baca novel beneran ,, tapi sayangnya aku gag baca novel’nya hapot …
    cuma nnton beberapa kali lah …..
    tp te2p feelnya dapet banget ..
    JJANG !!!!!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s