Between Two Hearts – Part 3

Between Two Hearts[3] : Regret

Title : Between Two Hearts

Author : Bibib Dubu

Main Cast  : Choi Minho, Kim Kibum, Lee Serra, Han Sunny

Support Cast : Kwon Yuri, Kim Jonghyun, Lee Jinki

Length : Sequel

Genre : Family, Romance, Life

Rating : PG-15

Summary :

“Minho-ya, cukup untuk sake-nya, kau sudah sangat kacau. Aku mengerti dengan rasa tertekanmu, tapi menurutku, ini bukan sepenuhnya salahmu, bukan kau yang menginginkan ini terjadi. Kalau dia memang benar sangat mirip dengan Serra, berarti kau hanyalah korban ketidak tahuanmu. Lagipula, terus tenggelam dalam penyesalanmu tidaklah berguna. Yang harus kau lakukan adalah memperbaiki kesalahanmu dengan mencintai Serra yang asli. Mengenai kekhawatiranmu tentang bayi yang akan muncul dari kejadian itu, masih ada peluang gagal.”

+++++

Author’s POV

Rasa frustasi menyeruak, mendesak masuk hingga merasuki pori terkecil. Merasa mengkhianati sebuah cinta tulus seorang yeoja yang tak pernah menuntut. Mengutuki diri yang tak jeli membedakan jiwa, yang hanya tertipu dengan keserupaan ragawi.

Dear Honey,

Malam yang indah bagiku,

Tapi aku rasa tidak menurutmu, benarkan tebakanku?

Telah dilakukan, kau tidak mau ada sosok bayi tidak berdosa yang harus direnggut takdirnya kan?

See U later with our babby. We’ll have a new secret world, Hmm? Nice

 

Hanya beberapa kalimat pada secarik kertas yang ia jumpai di atas kasurnya, namun dapat menghancurkan segenap jiwa raga namja itu seketika. Mencabik wajahnya sendiri dan ia pun mengerang hebat, bukan karena kesakitan—tapi merasa diperdaya hingga mati kutu.

“Serra-ah…mianhae…aku menyakitimu lagi….Ah, tidak akan—asalkan kau tidak pernah tahu tragedi ini.” Ucapnya setengah berbisik sambil meremas kasar kertas laknat itu.

Suasana kacau itu terhenti sejenak dengan masuknya sebuah panggilan, ia sedikit ragu untuk menjawabnya setelah melihat nama sang penelepon yang terpampang di handphonenya.

“Taemin? Untuk apa ia meneleponku? Ah, jangan bilang kalau ia akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan hyung-nya tadi siang.”

Akhirnya namja itu, Choi Minho, hanya membiarkan panggilan itu berlalu saja karena merasa dirinya tengah berada dalam situasi tertekan.

“Yuri nuna, ne, aku membutuhkan kehadirannya saat ini.”

+++++

Sunny’s POV

Tidak usah kupikirkan, terlanjur kulakukan dan aku tidak akan berhenti disini. Sekarang aku hanya perlu bersembunyi sesaat dan menunggu sang benih berkembang. Bukan bersembunyi, tetapi memang kembali ke tempat asalku, melewati hariku seperti biasanya.

Aktivitas kantor dan Jonghyun menantiku. Aku yakin si baby crying itu akan menyerbuku dengan berbagai pertanyaan saat aku pulang nanti, dan aku harus pandai menjawabnya—atau aku yakin dia akan membunuhku jika tahu apa yang kulakukan selama beberapa hari di Seoul ini.

Kututup wajahku dengan masker hitam agar tidak ada orang yang mengenaliku, bisa saja kan Minho memburuku kini, setelah beberapa jam yang lalu aku meninggalkan sebuah pesan yang kuyakini akan membuatnya depresi setengah mati. Untunglah ini Korea, negerinya para artis dan wartawan penggila gosip. Jadi tidaklah mencurigakan jika seseorang berkeliaran menggunakan penutup wajah seperti yang kulalukan sekarang.

Aku masih berdiri, mengamati keramaian sekitar sembari menanti bus-ku datang. Sepertinya kedatanganku terlalu cepat, masih perlu waktu 20 menit untuk duduk nyaman di bus eksekutif yang tiketnya sudah ada digenggamanku ini.

Kuperhatikan seorang halmoni yang tengah berpelukan dengan orang yang kurasa adalah anaknya. Betapa mengharukannya suasana itu, momen dimana seorang eomma melepas kepergian anaknya. Berkebalikan denganku, yang justru harus terhanyut dalam tangis ketika melepas kepergian orang tuaku untuk selamanya.

Orang tuaku, ah…tidak kupungkiri aku mencintai keduanya jauh di dalam hatiku. Yang kubenci adalah takdirku, bukan mereka.

Aku harus menjalani kehidupan yang keras sejak kecil seperti yang telah kukatakan di awal. Rasanya sangat perih. Melihat anak lain yang punya kebebasan untuk menjalani hari mereka, tidak harus berkutat dengan pekerjaan sampingan sepulang sekolah. Melihat baju-baju indah yang dikenakan teman sebayaku, mereka dapat dengan bangganya memamerkan pesona mereka tatkala berbalut segala kemewahan di tubuhnya. Aku harus hidup dalam hinaan, dikatai gembel, anak miskin, anak menyedihkan dan sebagainya. Terlebih jika aku tidak memiliki otak yang cemerlang, mungkin aku pun sudah mengalami penganiayaan secara fisik.

Grrrrp, seseorang memelukku dari belakang, mengunci pergerakan tanganku dengan dekapannya yang begitu kuat.

Aku terlonjak kaget, merasa seperti pembunuh yang sedang bersembunyi, dan kini aku tertangkap dengan mudahnya. Aku hanya terpaku, menunggu tindakan selanjutnya dari orang yang kuakui—membuat jantungku bertalu-talu tidak beraturan karena rasa takut yang begitu kuatnya.

Matilah aku jika ia adalah Minho dan ia tidak sebaik yang aku kira, bisa saja ia menyeretku ke suatu tempat dan mengeksekusiku hingga membuat nama Han Sunny hanya tinggal berupa pahatan di batu nisan.

Beberapa menit menunggu seperti patung bodoh membuatku tidak tahan. Aku mengumpulkan tenagaku untuk sekedar menggeliat.

“Tenanglah, ini aku.” Suara orang itu membuatku terperanjat setengah mati dan berasa ingin mati saja.

Suara yang kukenal, Arggghhh…kenapa harus kudengar suaranya sekarang? Rasanya seperti mimpi buruk bagiku….

+++++

Author’s POV

Di sudut sebuah restoran ala jepang, ia menelungkupkan wajahnya lemas sambil sesekali memukul-mukul pelan meja kayu yang menjadi tempat kepalanya singgah itu. Bau sake menyeruak menyelimuti aura sekelilingnya, membuat yeoja yang di sampingnya berusaha bernapas dari sela-sela hidung yang ditahan oleh apitan kuat ibu jari dan telunjuknya.

“Minho-ya, cukup untuk sake-nya, kau sudah sangat kacau. Aku mengerti dengan rasa tertekanmu, tapi menurutku, ini bukan sepenuhnya salahmu, bukan kau yang menginginkan ini terjadi. Kalau dia memang benar sangat mirip dengan Serra, berarti kau hanyalah korban ketidaktahuanmu. Lagipula, terus tenggelam dalam penyesalanmu tidaklah berguna. Yang harus kau lakukan adalah memperbaiki kesalahanmu dengan mencintai Serra yang asli. Mengenai kekhawatiranmu tentang bayi yang akan muncul dari kejadian itu, masih ada peluang gagal.” Yeoja tadi berusaha menguatkan namja yang sudah dianggapnya sebagai dongsaengnya itu.

“Jika tidak gagal? Oh nuna~ aku yakin ia akan menghantuiku…” Minho terlihat semakin depresi, sekali lagi ditengguknya segelas sake di hadapannya.

“Hentikan!” Sang nuna mulai galak saat gelas berikutnya sedang diisi oleh Minho.

“Yuri Nuna…”

“Berhentilah meratap, ini bukan Choi Minho yang kukenal. Kau adalah orang yang biasanya tenang dan stabil, jangan menjadi orang pengecut dan bodoh seperti ini.”

Tenaga Minho sudah habis untuk membalas perkataan yeoja di hadapannya, pengaruh alkohol rupanya sudah mengikat kuat syaraf-syarafnya, menarik kelopak matanya untuk menutup setelah rona merah padam memenuhi seluruh wajahnya.

“Isshhh…merepotkan saja bocah ini.” Yuri menghela napas panjang, menyadari betul bahwa sebuah tugas menantinya, yaitu membawa tubuh berat ini ke rumahnya dengan selamat.

Dengan susah payah ia menempatkan tubuh Minho ke rangkulannya, setelah itu ia membimbingnya perlahan ke mobil Minho yang terparkir di depan restoran tersebut.

Memasukkan Minho ke dalam jok di samping jok kemudi, setelah itu Yuri mematung dengan bodohnya.

“Pabo, aku kan tidak bisa menyetir mobil….” Yuri menepuk keningnya keras, cukup kesal karena bisa-bisanya tidak ingat kalau ia sedikit pun tidak bisa mengemudikan kereta bermesin dengan empat roda ini.

Ia terdiam sejenak, berusaha mengingat nama yang sekiranya dapat menjadi malaikatnya malam ini, menjadi supir dadakan tanpa bayaran.

“Ah, matta.” Beberapa menit kemudian ia tersenyum senang karena akhirnya sebuah nama melintas, seorang namja yang belum lama dikenalnya saat berkunjung ke perusahaan tetangga.

“Yeoboseo, Jinki sshi…maaf aku merepotkanmu…kau sedang sibuk tidak sekarang?” kembali senyumannya terulas.

Satu kali mendayung dua pulau terlampaui, bukan hanya mendapatkan orang yang bisa membantunya mengantarkan Minho pulang, ia juga bisa bertemu dengan namja yang akhir-akhir ini membuat hatinya merona bahagia.

+++++

Author’s POV

Ke belahan dunia manapun melangkah, jika memang ia takdirmu—berbagai pintu akan menuntunmu bertemu dengannya lagi. Jalan takdir yang sudah disuratkan, sulit kau hindari alurnya. Dan ketika dua hati yang saling mencintai dipertemukan kembali, seharusnya rasa gembira tak terkiralah yang mengharu biru. Tapi tidak kali ini, sang yeoja merasa dunianya mendadak runtuh, bagaikan ditusuk oleh belati tajam, atau seperti dihantam balok es besar yang membuat suhu hangat tubuhnya mendadak dingin, bercampur dengan dinginnya suhu malam itu.

“Tenanglah, ini aku.”

Suara itu, membuatnya bergetar hebat disertai rontaan air mata yang kuat namun berusaha ditahannya. Ia masih berharap pendengarannya salah atau daya ingatnya yang melemah.

“Sunny-ah, bogoshippo…izinkan aku mendekapmu walaupun aku tahu ini memalukan karena kulakukan di tempat umum. Jika kau masih mencintaiku, jangan memberontak dan biarkan kita saling menghantarkan rindu lewat pelukan ini.”

Namja itu tidak peduli dengan orang-orang sekitar yang berlalu lalang dengan melesatkan tatapan aneh untuknya, atau orang-orang yang berusaha menyembunyikan senyum gelinya melihat pemandangan yang sudah menyerupai scene di film-film bergenre romance. Waktu dan tempatnya berpijak pun seolah menjadi miliknya sendiri.

Yeoja itu kembali terdiam karena pada kenyataannya ia tidak dapat memungkiri bahwa di hatinya masih bersemayam indah sebongkah cinta nan besar untuk namja ini. Yeoja itu berusaha menata emosinya, karena apa yang akan diucapkannya setelah ini adalah sandiwara yang menyakitkan.

“Bagaimana jika aku sama sekali tidak mencintaimu lagi?” dengan meredam segala gejolak jiwa, akhirnya yeoja itu membuka mulutnya.

“Gwaenchana, aku akan melepaskan, hanya melepaskan pelukanku, bukan berarti melepasmu. Akan kubuat perasaanmu kembali.” Jawab sang namja dengan mengulaskan sebuah senyum kegetiran.

Namja itu menepati janjinya, membiarkan Sunny lepas dari pelukannya. Kali ini ia melangkahkan kakinya agar posisinya bisa berhadapan dengan yeojanya, tidak memaksakan tubuh yeojanya untuk berbalik.

“Apa kabar, Sunny-ah?” Sebuah senyuman hangat berusaha dimunculkan oleh namja itu.

“Aku baik. Kau sendiri? Hah, kurasa kau baik-baik saja jika kulihat dari tubuhmu saat ini.” Sunny berusaha tersenyum, terkekeh sesaat sambil mengeduk-gedukkan kelapan tangannya pelan di dada namja itu.

“Yeah, tubuhku sangat baik, tapi hatiku—tidak yakin.” Sang namja menggedikkan kepalanya sekali. “Kau merindukanku?” lanjutnya dengan nada ceria, berusaha mencairkan suasana agar tidak lagi membeku.

“Shiro! Untuk apa merindukan seorang namja yang mendadak meninggalkan yeojachingunya tanpa berita.” Sunny tertawa, berkebalikan dengan makna ucapannya yang terasa menyindir.

“Mmm…untuk yang satu ini aku minta maaf, ada alasan yang pribadi untuk ini, alasan klasik khas penerus perusahaan keluarga. Tapi setidaknya aku kembali, kan?”

“Di waktu yang tidak tepat, sayangnya begitu Key…” Ada setitik nada lirih pada ucapan Sunny, tapi ia masih berusaha membangun image strong-nya, tidak ingin terlihat lemah di hadapan Key.

Sunny’s POV

“Mmm…untuk yang satu ini aku minta maaf, ada alasan yang pribadi untuk ini, alasan klasik khas penerus perusahaan keluarga. Tapi setidaknya aku kembali, kan?”

“Di waktu yang tidak tepat, sayangnya begitu Key…”

Sangat perih ketika mengucapkan kalimat tadi. Aku ingin mengutuki diriku sendiri, menyalahkan takdir karena justru mempertemukanku kembali dengan namja pemilik hatiku, sehari setelah aku mempertaruhkan tubuhku.

Jika ia datang lebih cepat, sisi jahatku pasti telah diredamnya. Jika ia datang lebih cepat, aku tidak akan menapakkan kaki di Seoul, cukup berada di kampung halamanku—melewatkan hari yang indah bersamanya. Jika ia datang lebih cepat, aku tidak akan memiliki pikiran busuk untuk mempermainkan Serra dengan menggunakan Minho. Jika ia datang lebih cepat, cintaku padanya belum ternoda—tidak seperti sekarang, yang mungkin sebuah zigot akan memenuhi rongga rahimku tidak lama lagi, hasil permainan kotor di luar pernikahan yang sah. Jika ia datang lebih cepat, tidak akan kulakukan semua ini, karena bagiku hidup bersamanya sudah merupakan kebahagiaan tak terhingga. Arggghhhhh…kenapa takdirku harus seperti ini?

“Tidak tepat? Kenapa? Telah ada namja yang menggantikan posisiku?” ia bertanya, membuatku mati kutu karena tidak tahu harus membalas apa.

“Hmm, kau tidak menjawab, berarti kau memang tidak tahu mau menjawab apa. Artinya, memang benar telah ada penggantiku. Sunny-ah, untuk hal seperti ini aku sepertinya masih sangat egois, prinsipku yang sebenarnya—selama ikrar suci itu belum terucap, aku adalah orang yang masih berhak memperjuangkan cintaku.”

Key…apa yang kau bilang? Jangan keras kepala Key, atau ujungnya kita akan sama-sama sakit. Sungguh Key, aku tidak ingin kau terlibat dalam kisah hidupku selanjutnya, ini akan mengerikan.

“Issh…keras kepala juga namja aneh yang satu ini, tapi sayangnya pintuku telah tertutup untukmu, kau hanya akan menghabisi waktumu jika kau seperti itu. Permisi, bus-ku sudah mau datang.”

“Aku ikut!” ia menyergah cepat, membuatku hanya bisa menghela nafas panjang.

“Terserah kau.” Aku melengos, meninggalkan ia yang masih mematung di tempatnya berdiri.

Aku tidak dapat membohongi perasaanku, Key yang berdiri di hadapanku ini rasanya ingin kuhadiahkan pelukan balik. Ia tidak berubah, senyuman mautnya masih menyihirku, kehangatannya masih membelengguku, tapi tidak dengan sifat keras kepalanya, kuharap ia berubah pikiran.

Secara penampilan, ia bertambah tampan, dengan wajah rupawan yang tidak dinodai oleh jerawat barang sedikitpun, dengan postur tubuhnya yang tegap, disoroti cahaya bulan yang terang, ia yang saat ini hanya mengenakan hoddie putih dan kacamata minusnya, masih menjerat pikiranku dengan pesonanya.

+++++

Jinki’s POV

Jika tidak ingat bahwa namja ini adalah orang yang sangat dicintai sepupuku, aku sudah pasti menghabisinya. Beruntung hanya beberapa tinjuku yang menghujam wajahnya, sedikit kenangan dariku berupa warna abu keunguan menghiasi wajah namja yang mungkin saat ini masih berada pada dunia halusinasinya.

“Jinki sshi, kau gila! Kau terlalu mudah melayangkan tinjumu. Cih, kukira kau adalah orang yang tenang.” Yeoja itu menatapku sengit, dengan matanya yang sedikit basah.

“Ini pantas untuknya. Jadi selama ini ia mengacuhkan Serra karena ia lebih tertarik padamu?” Aku mencibir, merasa tidak terima karena Serra-lah yang menjadi korbannya.

 “Tidak seperti yang kau kira. Kami hanya bertemu saat ia butuh teman curhat, kami seperti adik dan kakak. Bagaimana bisa seseorang yang baru masuk dalam kehidupan kami, menilainya dengan mudah!”

“Dunia kami? Yuri sshi, aku memang baru masuk ke duniamu, tapi sudah tiga tahun lebih aku mengenal namjamu ini. Tidak peduli hubungan apa yang ada di antara kalian, nyatanya ia lebih sering melewatkan malam bersamamu. Dan kau, tidak ada bedanya dengan wanita pengganggu rumah tangga orang.”

Aku tidak dapat menguasai diriku, ini pertama kalinya aku bertindak kasar juga mengucapkan tuduhan yang kulakukan tanpa berpikir panjang. Antara menyesal dan tidak sebenarnya, menyesal jika ternyata memang tuduhanku salah total.

“Dengarkan baik-baik. Dia punya masalah berat, dan dia meluapkannya padaku, dalam hal ini kami hanyalah teman curhat. Aku berani bersumpah, aku sedikitpun tidak berniat mengganggu rumah tangga mereka dan bahkan aku berusaha menggiringnya kembali pada Serra. Tidak ada rasa cinta ataupun perasaan semacam itu untuknya.”

“Baiklah, aku minta maaf kalau aku salah. Yang terpenting aku mau ia sendiri yang menjelaskan ketika ia sudah sadar nanti. Sekarang aku akan membawanya pulang.”

Tidak ingin beradu mulut lagi dengannya, segera kusudahi perdebatan ini. Sejujurnya aku sendiri merasa sakit karena telah berkata buruk pada yeoja yang jauh di dalam hatiku, memiliki posisi penting. Aku tidak ingin air matanya terurai. Lagipula, prasangka manusia bisa salah. Dan bodohnya aku sempat termakan oleh prasangka burukku, Yuri pasti membenciku saat ini, dan Serra pasti akan marah karena aku telah menyakiti namjanya.

Yuri’s POV

Sedikit kecewa karena ternyata ia tidak setenang yang kukira. Dengan mudahnya ia melayangkan tinju begitu ia melihat Minho yang tengah tertidur di mobil karena pengaruh sake yang kuat.

Kalau tahu begini, aku tidak akan meminta bantuannya. Aku sama sekali tidak tahu bahwa Jinki adalah saudara sepupu Serra. Tapi setidaknya dengan begini aku tahu, bahwa ia belum pantas kunilai sebagai namja yang stabil karakternya, dengan begini juga aku jadi sedikit ragu untuk meneruskan perasaan kagumku padanya.

Dan barusan ia menyebutku sebagai pengganggu rumah tangga orang? Cih, menggelikan.

“Dengarkan baik-baik. Dia punya masalah berat, dan dia meluapkannya padaku, dalam hal ini kami hanyalah teman curhat. Aku berani bersumpah, aku sedikitpun tidak berniat mengganggu rumah tangga mereka dan bahkan aku berusaha menggiringnya kembali pada Serra. Tidak ada rasa cinta ataupun perasaan semacam itu untuknya.”

“Baiklah, aku minta maaf kalau aku salah. Yang terpenting aku mau ia sendiri yang menjelaskan ketika ia sudah sadar nanti. Sekarang aku akan membawanya pulang.”

Bagus, sadar juga kalau kau salah. Dan aku memang benar-benar tidak ingin beradu mulut dengannya. Tapi Jinki sshi, aku tidak mungkin menceritakan hal-hal yang Minho utarakan padaku, ini akan menyakiti keduanya, baik itu Minho ataupun sepupu kesayanganmu itu, Mianhae…

+++++

Author’s POV

Pagi indah itu tiba, tetes-tetes embun mulai merayap keluar dari pori dedaunan, satu malam yang melelahkan telah berlalu. Kini burung-burung menyapa dengan kicauan merdunya. Mentari menyapa hangat, ikut tersenyum melihat dua insan tengah tertidur dengan damai. Tapi rupanya sinar hangatnya mengganggu tidur salah satunya, Minho menggeliat, mengucek matanya dan merasakan perih ketika tidak sengaja pipinya tersentuh.

“Aww…” Ia mengaduh pelan.

Ia masih berusaha mengingat apa yang terjadi semalam saat ia berada di bawah pengaruh alkohol. Jinki  menghujamnya dengan tinjuan keras, setelah itu ia tidak tahu apalagi yang terjadi.

Tidak ada gunanya tenggelam dalam penyesalan, merubah diri adalah jalan yang terbaik. Masih diingatnya inti nasehat bijak dari Yuri nuna semalam, ia tersenyum memandangi wajah yeoja yang masih tertidur damai di hadapannya.

“Aku akan segera mencintaimu, Lee Serra…” Bisiknya pelan seraya mengelus pelan ujung kepala yeojanya itu.

Serra yang sebenarnya sudah setengah terbangun, mengulaskan senyumnya walaupun matanya masih terpejam.

“Ulangi ucapanmu tadi, Minho-ya.” Pinta Serra yang kali ini diikuti dengan matanya yang sudah terbuka untuk melihat keindahan makhluk tuhan yang ada di hadapannya ini.

“Tidak ada ulangan untuk sesuatu yang belum terbukti. Serra-ah, saat ini aku baru belajar untuk mencintaimu. Maaf berterus terang, tapi selama ini aku selalu menghindarimu karena memang pikiran dan pintu hatiku belum terbuka.”

“Gwaenchana, aku sebenarnya tahu tentang perasaanmu. Mari kita sama-sama belajar untuk membangun rumah tangga yang indah. Perasaan bukanlah sesuatu yang bisa kau paksakan. Oya, maaf atas tinju yang dilayangkan Jinki.”

“Kau tidak menuduhku berselingkuh dengan Yuri nuna?”

Minho’s POV

“Gwenchana, aku sebenarnya tahu tentang perasaanmu. Mari kita sama-sama belajar untuk membangun rumah tangga yang indah. Perasaan bukanlah sesuatu yang bisa kau paksakan. Oya, maaf atas tinju yang dilayangkan Jinki.”

Dia selalu baik padaku. Mungkin aku saja yang memang bodoh, tidak bisa mencintai yeoja sebaik Serra. Mata hatiku terlalu dibutakan oleh keegoisan diriku.

“Kau tidak menuduhku berselingkuh dengan Yuri nuna?”

“Tidak, aku tahu kau tidak menyimpan cinta untuk Yuri Eonni. Minho-ya, mata adalah jendela hati seseorang. Aku memang bukan psikolog yang dapat meraba pikiran seseorang secara mendetail dan tepat. Tapi, setidaknya aku bisa menebak secara kasar.” Ia tersenyum padaku, rasanya sangat lega melihatnya seperti ini.

Dia, Serra yang asli. Berbeda jauh dengan Serra yang ada di hadapanku kemarin. Serra yang ini memiliki sorot mata yang lembut, bukan tajam. Seharusnya aku sudah jatuh cinta dengannya sejak dulu, tapi sekarang bahkan aku baru akan memulai. Serra yang ini memang tidak semenawan Serra yang kemarin, tapi setidaknya ia memiliki hati yang indah.

Serra yang kemarin…arrggg…kenapa bayang-bayang senyum menggodanya itu masih terbayang di otakku? Ini mengerikan, sulit untuk melupakan sosoknya itu setelah apa yang terjadi kemarin malam.

Aku bahkan telah melumat bibirnya, lebih dari itu bahkan. Oh Tuhan…dosa apa yang telah kuperbuat?

Minho-ya…kau tidak akan bisa lepas dariku. Pesonaku akan melekat di otakmu. Kau akan perlahan terikat padaku

Minho-ya…tubuh idealku sebentar lagi akan membesar, terisi oleh sosok malaikat mungil hasil perpaduan gen kita. Dan aku akan membutuhkan kehadiranmu di saat aku mengandung, bukankah itu kodrat setiap yeoja yang sedang hamil? Datanglah padaku, temani aku dan berikan usapan hangat di perutku untuk calon pangeran mungil kita…

Minho-ya, temani aku malam ini…aku takut ini sudah waktunya, aku merasa bayi kita sudah tidak sabar untuk melihat dunia…kita akan menjadi orang tua sebentar lagi…

Minho-ya…lihatlah malaikat mungil kita? Apa kau tega tidak mengakuinya sebagai buah cinta kita? Apa kau tega melihatnya dicaci maki sebagai anak haram karena appanya tidak mau mengakui keberadaannya?

Minho-ya, ini bukti komitmenmu…berani melakukan maka berani bertanggung jawab. Mari kita rawat bersama buah hati kita. Lupakan dan tinggalkan Serra ! kau milikku dan bayi mungil ini sekarang…Kau masih mau mengelak?

Suara–suara mengerikan yang persis dengan suara Serra, kini memenuhi pikiranku, seolah menutupi telingaku dari suara lainnya, seolah hanya mengizinkan gendang telingaku bergetar saat mendengar suara itu.

Membuatku gila karena suaranya terus berulang seperti rekaman yang telah terprogram. Aku meremas rambutku, berharap kepalaku merasa lebih ringan setelah melakukannya, tapi sia-sia rupanya.

Kali ini bahkan aku melihat sosok bermata tajam itu, mendekatiku—tepat di depan wajahku, ia menggodaku dengan bibirnya, terus merapatkan diri ke wajahku dan mulai membelai wajahku.

Setan kembali menguasaiku, kuraih sambutannya, kutarik wajahnya menempel ke wajahku, melakukan hal yang juga di harapkannya, membekap bibirnya dengan nafas memburu.

Oaaa, oaaa…

 

Sebuah suara mengusik kegiatanku. Suara apa barusan? Apakah aku sedang berhalusinasi? Barusan aku mendengar suara bayi. Bayi siapa itu? Bayiku? Andwaeeeee….jangan…akan kubunuh bayi itu. Aku tidak ingin selamanya terikat pada yeoja yang namanya saja tidak kuketahui. Arrgggg…aku bisa gila perlahan!!

“Pergi kau! Jangan dekati aku terus! Aku benci yeoja busuk sepertimu, dan bawa jauh-jauh senjata hidupmu itu! Aku hanya terjebak, ya, kau menjebakku…dia bukan punyaku! Pergilah kaliaannnn!!”

Serra’s POV

“Tidak, aku tahu kau tidak menyimpan cinta untuk Yuri Eonni. Minho-ya, mata adalah jendela hati seseorang. Aku memang bukan psikolog yang dapat meraba pikiran seseorang secara mendetail dan tepat. Tapi, setidaknya aku bisa menebak secara kasar.” Aku tersenyum padanya.

Aku berusaha memahami keadaan, memahami kondisinya. Melihat ia yang semalam datang dengan keadaan mabuk berat, membuatku ingin menangis. Baru kali itu aku melihanya kacau seperti semalam. Aku memang tidak tahu masalah apa yang dialaminya, tapi aku yakin itu adalah masalah berat. Dan hal itulah yang membuatnya menemui Yuri nuna untuk sekedar berbagi masalah. Ya, dia tidak menceritakannya padaku karena memang aku tidak dekat dengannya secara batin. Aku bahkan tidak mengetahui kehidupannya lebih jauh walaupun kami telah menikah. Ia tidak pernah bercerita dan aku pun tidak ingin memaksanya bercerita.

Biarlah semua kepahitan itu berlalu, baru saja ia telah berjanji untuk belajar mencintaiku. Bagiku, terikat pada masa lalu hanya akan membuat semua hal dalam hidup tidak berkembang. Yang perlu dilakukan adalah, mengambil pelajaran berharga dari masa lalu sehingga kita tidak akan pernah terjatuh pada lubang yang sama.

Minho terdiam cukup lama, aku suka melihat ekspresi bengongnya. Kubiarkan ia terhanyut dalam lamunannya.

Tapi perlahan aku mulai ada sesuatu yang ganjil pada wajahnya. Ia tampak ketakutan, nafasnya mulai terdengar seperti dihembuskan kasar.

Aku mendekatinya, memastikan keadaannya baik-baik saja. Ah, ia masih bermasalah rupanya.

“Minho-ya, gwenchanayo?” Kuusap pipinya lembut, sekaligus ingin memastikan suhu tubuhnya normal apa tidak.

Ia terbelalak, sesaat kemudian menarik wajahku paksa. Jarak kami semakin dekat, dan kini ia benar-benar menarik wajahku hingga bibir kami beradu.

Omo, apa ini? Ia menyentuh bibirku dengan bibirnya. Sesuatu yang wajar bagi sepasang suami istri. Tapi ia terus memburuku, melakukannya dengan kasar. Tidak, aku ingin hal seperti ini dilakukannya dengan menyertakan cinta. Tapi yang kutangkap hanya nafsunya yang besar.

Hatiku menjadi sakit, namun aku hanya bisa terpaku mengizinkan Minho tetap melakukannya. Tuhan…seperti inikah caranya menyalurkan cinta? Aku tidak mau Minho yang seperti ini…Bukankah sesuatu yang dilakukan dengan lembut itu jauh lebih indah dan berkesan?

Masih dengan posisi terkunci, air mataku mulai mengalir, meluapkan segenap kepedihan dari dasar jiwaku. Nadiku mulai berdenyut nyeri, selalu seperti ini tatkala aku merasa hatiku sangat sakit.

Ia melepaskanku dan kini melotot lebar, seperti orang yang baru saja melihat hantu. Rasa takut memenuhi setiap sudut pikiranku, melihatnya yang seperti ini aku tidak berdaya. Aku berusaha meyakini kalau sikapnya ini hanya disebabkan oleh basalah beratnya/ Oppa, apa yang terjadi padamu?

Kini rasa takut itu berubah menjadi rasa ingin memeluknya, menenangkan gejolak pikirannya yang kuyakin sedang tidak tertata. Kuberanikan diri mendekati tubuhnya, mulai menyentuh pundaknya dengan ragu, masih mengumpulkan keberanian untuk mendekapnya.

“Pergi kau! Jangan dekati aku terus! Aku benci yeoja busuk sepertimu, dan bawa jauh-jauh senjata hidupmu itu! Aku hanya terjebak, ya, kau menjebakku…dia bukan punyaku! Pergilah kaliaannnn!!”

Tidak, apa yang baru kudengar? Ia mengusirku? Menyebutku sebagai yeoja busuk? Menyuruhku pergi membawa sesuatu yang ia ingkari sebagai miliknya? Apa maksud semua itu oppa?

Kalau betul ini karena masalahmu, apa kaitannya dengan ucapanmu barusan? Oppa…beri aku kejelasan tentang ini semua….

TBC…

+++++

Padahal kepingin banget bikin bahasa yang sweeetttt…tapi ujungnya ff-ku ini jarang menggambarkan suasana menyenangkan, panas melulu kerjaannya. Ntar di part 4 atau 5 mau bikin yang sweet ah, di part ini kutahan dulu karena ngikutin alur yang udah kurancang.

Sebenernya aku mau ujian, tapi apa daya nafsu nulis membara *ceileh bahasanya.* alhasil ditinggalin dah tuh syntax2 menjijikan dan mutusin buat nuangin isi otakku ini, jadi maap kalo ngerasa terburu-buru ceritanya, tapi emang klo dipikir aku mah selalu buru-buru sih kalo nulis ff, takut males kalo bersambung di lain waktu. *alesan

Sekian cuap2 author, maap buang waktu dengan baca curcolan ga penting ini.

Gomawo buat yang udah mau baca. Jangan lupa komen, lebih bagus kalo kritik yang membangun. Buat Key *kayak key baca aja*, jangan tambah kurus n cantik dong…aku suka Key yang dulu, sebelum era Lucifer. *diserbu lockets beneran

Terakhir, Don’t be silent reader, OK?

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

33 thoughts on “Between Two Hearts – Part 3

  1. kyaaa…akhrx si key nongol jg,wlwpun dkit…tp knp dy msh ngrep gt y sm sunny,gmn prasaanx klo key tw sunny memprtruhkan khormtanx bwt minho…???
    yg jlz,yg plg g trm adl AKU…cz aq g rela key klo key dpt ”bekas” minho…
    lgian,knp sih author sneng bgt ”menyiksa” key d tiap ff mu…#author:suka2 gw donk,kan yg nulis gw…
    tp,lht minho depresi kyk gt kasihan jg y…
    g sbr bwt nunggu klanjutanx…

  2. kyaaaaaa…akhirnya si key muncul juga walaupun cm dikit….
    agak-agaknya doi masih ngarep bgt sama si sunny….gmn y klo key tau sunny udh ngorbanin harta berharganya bwt minho,ap iy dy masih mau sm sunny…????
    yang g mau itu pasti AKU….aku g rela klo key harus dpt “bekas”nya minho.
    sekali-kali bikin key bahagia kenapa sih thor….seneng amat
    ‘menyiksa’ key di tiap FF mu….
    tp,lht minho depresi koq aq jd kasihan yaw….
    g sabar deh nunggu lanjutannya….

    1. haha, iya ya kayaknya aku demen bgd bikin key sengsara. E, engga gitu juga sebenernya…aku demen bgd ama key jd sering pake key sbg cast. dan krn aliran ceritaku bukan hepi2, jd kerasanya key sedih terus nasibnya deh, haha

      yoiii, tungguin yah lanjutannya…gomawo udh mau baca n komen

  3. pesan buat key,biar aku aja yg nyampein,aku kan istrinya*dicincang lockets*
    tumben typonya lumayan,lgi promo ya eonn?*apaan sih*
    di part ini mlah aku kasian ama key,gimana klo dia tw si sunny tu mngandung?
    sdangkan kduanya msih saling mencintai.

    ksalahan fatal sunny,terlalu croboh.Hanya ingin mewujudkan obsesinya n tak memandang k depan.Tpi karna perbuatan sunny si minho jdi tobat(?).

    mnegangkan saat2 trakhirnya,,,ga percaya minho akan sperti itu.
    apalgi tiga huruf di bawah tuh,t-b-c…..akan ku buat mreka sengsara.
    lanjuuuut eoooooonie,bibib eonnie TT_TT.
    HWAITING!

    1. hahahahaaaa….. aku juga kasian ama key,, coba di ff ini dia cintanya ama aku#plaakkkk ngarep:P# hahahahaha.. bener bener,, kata2 to be continue itu……… rasanya pengen dibuang dulu sementara. hahahaha *lebay:P* lagi asik asiknya baca, eh udah tbc.kekekekee. hayooo authornya mana nih, cepet2 buat lanjutannya yak. kekekekeke..*reader gaje :P* hahahahaha

  4. kyaaaaa……… keren!!!! aku suka sama karakter suamiku key disini. hahahaha makin cakepp… kekekekek…

  5. Aku juga suka Key yg sebelum Lucifer…. Terutama Era Ring Ding Dong…. Tampannya Kebangetan!!! #mulai, mulai,, klo udd ngomongin tuh org satu rasanya mulutku gx bisa berhenti…hehehehe

    Back to the story,,, jadi Minho udd tahu klo yg bareng dia bukan Seera…. Ehh,,, Key udd balik.. Bakalan seru ini mahhh… Dan coba klo Sunny hamil.. Pasti konfliknya lebih brasa….. Belum lagi Si Jjong,,,,,,,,,,,,, si Minho mulai memunculkan tanda-tanda depresi krn kebayang-bayang sm Sunny melulu……

    Baiklah,, ditunggu next part…. Semangat buat Ujian ya Bib!!😄

    1. benerrrr, dulu key itu super tampaannnnn, tp kok sekarang jd aura diva-nya yg nonjol, hahah…tp tetep suka Key lah…

      hmmm, ntar aja baca lanjutnnya ya eonni ^^
      btw aku g lg ujian kok, itu author note yg kuketik pas bikin ff ini, udh lama, hehe

      gomawo y eonni ^^

  6. Ahh.. Minho jdi stress begitu…
    Aku belum baca ff ini dari awal.. Tpi ternyata seru.. Nyesel dch tlat baca..

  7. Asyik….minho stres…plak..#dhajar flamers
    Aku ttp ga suka onew suka ma yuri..#gapenting

    Key…jujur aja aku gemez knp baru dtg stlh smuanya kacau…emg slm key pergi ga pernah ngasih kbr sm skali ma sunny ya? Nelpon ga pernah,,sms ga pernah…#kemakan iklan
    Hbsny sunny smp mati pikir ngelakuin kkacauan ky gini…
    Tp aku ttp salut ma smgt key,,,,fighting key,,,jg buat bibib…hehe

  8. akhirnya Key muncul juga…. makin cakep lagi katanya…. asek asek….
    konfliknya dalam amat, y… melibatkan banyak hati dan pihak. secara keseluruhan bagus, kok, eonn. bahasanya itu…. bikin melayang aja…. hahaha

  9. semakin complicated semakin seru ……..
    waaaccchh ,,,,, bakal gimana yaa ceritanya ??
    minho yg strez mikirin perbuatan yg tak sengaja dilakukannya ,, serra yg bingung dgn tingkah aneh minho ,, dan sunny yg galau karna key balik lagi …
    kyaaaaaaaaaaaaa ……….. gag sabar baca lanjutannya !!

  10. kyaaaa kereeeeen~😀
    part selanjutnya jangan lama-lama yaaa^^
    semangat buat ujiannyaaa! hwaiting!😀

  11. Biiiib aku lagi! Hehehehe

    1. “Kuperhatikan seorang halmoni yang tengah berpelukan dengan orang yang kurasa adalah anaknya. Betapa mengharukannya suasana itu, momen dimana seorang eomma melepas kepergian anaknya.”
    Jadi itu yang pelukan sama neneknya apa sama ibunya?

    2. Sempet mau protes kenapa malah minum sake dan bukannya soju. Baca lagi dan ngeh kalo Minho lagi di restoran Jepang hehehe

    3. “Tenanglah, ini aku.”
    ASDFGHJKL bayanginnya aja aaaaaaaaaaaaaaaa *rusuh* (lagi cinta sama Key)

    4. “Sunny berusaha tersenyum, terkekeh sesaat sambil mengeduk-gedukkan kelapan tangannya pelan di dada namja itu”
    Maksudnya memukul-mukul pelan?

    5. “Aku berusaha meyakini kalau sikapnya ini hanya disebabkan oleh basalah beratnya/ Oppa, apa yang terjadi padamu?”
    Ini kenapa Bib? Ada kesalahan ketik, copy, paste gitu ya?

    Hayoooo Minhonya stress nih, makin complicated @.@
    Eh? Tentang tubuh lemah Serra belum diceritain juga ya? Baiklah, lanjut ke part 4~

  12. Seandainya aku bisa memutar waktu pasti aku sudah menyuruh Key muncul sesaat sebelum Sunny melaksanakan rencananya #plakk digampar author… iya kan jadi gag enak semua… Mino jadi depresi berat, Serra jadi kelabakan mikirin masalah apa yang melanda Mino, trus Sunny sendiri juga pasti terbenani secara mental karena keadaannya sekarang, Key pasti akan sangat kecewa kalo tau gadis yang dicintainya berbuat seperti itu. Jinki jadi semakin benci Mino mana pake tonjok2 segala *oh, poor Mino, Yuri juga jadi goyah perasaannya ama Jinki gara2 liat adegan tonjok itu dan emosi Jinki yang tak terkendali…. Arrrgghhh it’s complicated!!!! tapi seeerrrruu^^d

  13. Dan setelah baca part ini cuma satu harapan saya : Jangan sampai Sunny hamil!

    Amit-amit dahh~ Well, mungkin saya simpati sama Serra soalnya dia ada miripnya sama saya *kokcurhat

    Pokoknya apapun itu, saya penasaran sama lanjutannya!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s