Oppa, Nal Beorijima [2.2]

Title                       :               Oppa, Nal Beorijima –part 2

Author                  :               Choi Minjin

Main Casts          :               Choi Minho, Han Seyoon (imaginary)

Supporting casts :            Lee Jinki

Genre                   :               Life, sad, romance, tragedy

Length                  :               Twoshots

Rating                   :               General

AN                          :               Ide dari FF ini muncul udah sejak lama, bahkan mungkin sebelum aku nulis FF pertamaku. Kenapa aku balik lagi nulis FF yang sad? Karena ternyata aku kurang berbakat nulis comedy ataupun horror L .. Meski begitu aku akan terus berusaha *dari tadi kebanyakan bacot, curhat melulu*

Happy reading… Don’t forget to leave your sanso gateun comment ^^

************************************

Han Seyoon’s POV

Umma terlihat lebih sedih dari biasanya. Aku tahu dia sangat mencintai appa, walau apapun yang telah appa perbuat padanya. Meski sedih, tapi tidak dapat kupungkiri, jauh dari dalam lubuk hatiku, aku merasa tenang. Mungkin akhirnya hari-hari tenang dalam hidupku akan datang.

Dan hari tenang itu pasti akan sempurna andai saja aku tidak mendengar kabar itu. Oppa akan pindah ke Seoul lagi setelah sembilan tahun tinggal di sini. Dan yang membuatku kecewa adalah kenapa oppa tidak memberitahuku sendiri berita itu. Kenapa? Kenapa dia tidak memberitahuku?

Kupandangi oppa yang sedang melempar kerikil-kerikil kecil ke arah laut,”Oppa, kapan kau berangkat?”

Oppa terdiam. Dia tahu bahwa aku tahu,”Mungkin aku tidak akan pergi, Seyoon-ah.”

“Kenapa?”

“Aku hanya… sudah betah tinggal di sini.”

Tidak, bukan begitu. Aku tahu alasannya. Oppa tidak ingin meninggalkanku. Hal itu sangat menyentuh hatiku. Aku merasa sangat berterima kasih dan bersyukur. Tapi bagaimanapun oppa juga punya kehidupan. Hidupnya tidak boleh habis hanya untuk aku. Dia harus menjalani hidupnya sendiri, meninggalkan aku di sini. Aku tidak apa-apa. Sungguh… tidak apa-apa. Aku harap begitu.

“Oppa, pergilah. Sebentar lagi kau juga akan kuliah kan. Kau harus pergi ke Seoul.”kupaksakan senyum padanya. Otakku mengiyakan perkataanku, tetapi apa ini rasa menekan yang ada di dadaku? Kenapa rasanya sakit sekali? Aku kan tidak sedih. Aku tidak boleh sedih.

Oppa masih terdiam. Dia hanya memandangi ombak yang terpecah di batu karang.

“Kau mengkhawatirkan aku, oppa?”

Oppa mengangguk. Tidak, jangan begitu! Kalau kau seperti itu, justru membuatku semakin berat melepasmu. Tolong jangan mengiyakan itu, oppa.

“Aku tidak bisa tenang jika meninggalkanmu di sini, Seyoon.”

Air mataku tidak boleh mengalir. Aku tidak ingin oppa atau siapapun melihatku menangis. Aku adalah gadis yang tegar dan tangguh. Meski hati ini sakit sekali, air mataku tidak akan keluar. Kuhela nafas panjang untuk meredakan perih ini sedikit,”Aku akan baik-baik saja,oppa. Kau bisa tenang, karena appa sudah dipenjara. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi. Pergilah.”siapa itu yang baru saja bicara? Aku? Bagaimana mungkin perkataanku menyakiti hatiku sendiri.

“Oppa, aku sungguh akan baik-baik saja. Pergilah.”

Pergilah oppa. Aku menyayangimu seperti kakakku sendiri. Tapi lebih dari itu akupun mencintaimu sebagai seorang namja. Kau adalah orang yang terbaik bagiku setelah umma. Meski perih, kau harus pergi dan menjalani hidupmu. Hanya inilah yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikanmu selama ini, melepasmu pergi.

~~~~~

Stasiun sepi. Pagi yang mendung dan suram ini membuatku merinding. Ada beban yang berat menghimpit dadaku.

Oppa berhenti sejenak sebelum naik ke keretanya,”Seyoon-ah, jaga dirimu baik-baik.”

Tolong, jangan begitu oppa. Tolong pergi saja tanpa mengatakan apa-apa. Tidakkah kau tahu betapa kata-katamu justru memberatkan aku?,”Tentu aku akan baik-baik saja.”

Oppa tersenyum. Senyum itu… akankah menjadi senyum terakhir yang kulihat darinya untuk beberapa tahun ke depan? Dengan berat akupun tersenyum. Dan oppa memelukku.

Tidak. Jangan lakukan itu, oppa. Kumohon jangan membuatku goyah.

“Seyoon-ah, tolong dengarkan aku. Menangislah jika kau ingin menangis.”

Oppa, jangan pergi. Siapa yang akan kujadikan sandaran jika kau pergi? Apa yang harus kulakukan tanpamu? Oppa, aku tidak mungkin menahan segala kesepian ini tanpamu. Haruskah kau pergi?

“Benarkah kau ingin aku pergi?”oppa melepaskan pelukannya dan memandangku.

Jangan. Jangan pergi, oppa. Jangan tinggalkan aku,”Iya. Pergilah oppa.”

Oppa mengangguk. Ia mengelus kepalaku lalu naik ke kereta. Ia duduk dekat jendela dan melambai padaku. Tanganku terasa sangat berat ketika balas melambai padanya.

Kereta mulai berjalan. Kakiku yang bodoh ini tidak dapat diam. Aku terus mengejar kereta itu. Kereta yang membawa pergi oppa-ku. Tolong jangan pergi. Kumohon jangan pergi.

Aku tidak sadar, ternyata aku telah berlari sampai di lapangan berumput ini. Kereta itu tidak dapat kukejar lagi. Oppa benar-benar sudah pergi. Kuharap ini hanya mimpi buruk seperti biasanya. Aku sering melihat oppa pergi dariku, tetapi itu hanya mimpi. Kalau ini juga mimpi, aku harus segera bangun. Aku harus segera bangun lalu memastikan oppa masih di sana, di kamarnya di rumah di sebelah rumahku.

Kupukul-pukul dadaku sendiri yang perih. Aku merasa sesak dan sulit bernafas. Tersedak, aku terbatuk-batuk. Aku selalu merasa tersedak oleh dorongan ini, air mata ini hampir keluar.

Kutatap langit yang menghitam. Kumohon, hujan turunlah. Kumohon. Kumohon.

Tuhan mendengar doaku. Tetes-tetes air mulai turun membasahi bumi. Dingin. Perlahan rasa sesak ini mulai menghilang, digantikan dengan melelehnya air mata di pipiku. Aku adalah gadis yang tegar dan tangguh. Aku tidak ingin oppa atau siapapun melihatku menangis.

Oppa, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku.

~~~~~

3 tahun kemudian.

Choi Minho’s POV

Hujan deras di luar jendela mengingatkanku pada sesuatu. Masa lalu seakan berputar di kepalaku. Han Seyoon, sedang apa dia sekarang? Apakah di sana juga hujan? Dan apakah dia sedang menangis? Apakah dia kesepian? Dia tidak punya teman selain aku. Bahkan sekarang, setelah tiga tahun tidak bertemu dengannya, pertanyaan-pertanyaan itu masih saja menghantuiku.

Kututup laptopku. Aku ingin memandangi hujan. Kesibukanku kuliah dan hal-hal lain yang harus kulakukan membuatku tidak memiliki banyak waktu untuk mengingat Seyoon. Tetapi sekarang aku ingin mengingatnya. Kenangan-kenangan masa kecil yang bahagia, sedih, semua itu masih terukir jelas di memoriku.

Masih kuingat dengan jelas ketika dulu aku mengajak Seyoon bermain sampai malam, lalu ayahnya memukuli kami berdua. Kuingat juga Seyoon kecil yang selalu berlari ke tempatku ketika ayahnya mulai marah. Sekarang semua itu terasa sangat jauh dan lama sekali. Seakan-akan sudah terlewat berpuluh-puluh tahun.

Halmeoni pun sudah meninggal hampir dua tahun yang lalu. Appa menjemputnya ke sini begitu tahu beliau sakit. Lalu beliau meninggal di rumah sakit di sini, di Seoul. Aku masih ingat sekali beliau mengatakan agak menyesal karena menghabiskan saat-saat terakhir hidupnya bukan di kampung halaman. Ah, halmeoni adalah bagian yang sangat penting dari masa kecilku. Dia sudah meninggal. Maka hanya Seyoon lah yang tersisa dari masa-masa itu.

Tiga tahun. Cukup lama aku tidak melihat stasiun itu, jalanan sepi yang selalu kami lalui setiap pagi dan sore dengan sepeda, rumah kami yang berjejeran, pagar tinggi yang sering kupanjat dengan susah payah, tebing pinggir laut itu, pemandangan ombak dan laut biru yang selalu mendamaikan, semuanya. Aku rindu semua itu.

Aku ingin pulang.

~~~~~

Stasiun ini masih sama sepinya seperti dulu. Hanya ada beberapa orang yang duduk menunggu kereta. Aku membawa tasku berjalan kaki menyusuri jalan menuju rumah kami. Aku masih ingat dengan jelas jalan menuju ke sana. Tidak butuh waktu lama berjalan kaki.

Pagar itu pun masih sama. Kesan dingin itu masih terasa. Dulu setiap pagi aku selalu menunggu di sini dengan sepedaku. Dulu sekali.

Kuketok-ketok pintu pagar itu, tapi tidak ada reaksi. Kulakukan sekali lagi, tapi tetap sepi. Kemana mereka? Apa mereka pergi?

“Minho?”

Aku menoleh. Oh, ternyata salah satu teman masa kecilku, Jinki,”Jinki-ya? Wah, lama sekali tidak bertemu.”

“Iya. Bagaimana kabarmu? Ada apa kau datang kesini?”

“Hmm… hanya ingin saja.”

“Kau ingin bertemu…”Jinki melirik sebentar ke pintu rumah Seyoon,”…siapa?”

“Adikku.”itulah yang kukatakan pada semua orang tentang Seyoon. Adikku. Dia memang seperti adikku,”Tapi sepertinya dia tidak ada di rumah.”

Jinki memandangku aneh,”Adikmu itu maksudnya… Han Seyoon?”

Aku mengangguk padanya. Ada apa sih dengannya? Kenapa wajahnya aneh begitu?

“Minho, masa kau tidak tahu? Kau benar-benar tidak tahu?”

Tidak tahu apa?,”Apa… mereka sudah pindah? Tidak tinggal di sini lagi?”

“Minho, ternyata kau benar-benar tidak tahu?”

Aku masih tidak mengerti maksudnya. Apa mungkin Seyoon dan ibunya sudah pindah? Tapi benar kata Jinki. Bagaimana mungkin aku tidak tahu? Kenapa Seyoon tidak pernah memberitahuku?

“Kemana mereka pindah?”

Jinki tidak menjawab. Butuh beberapa detik baginya sebelum berkata,”Tidak jauh. Kau mau ke sana?”

~~~~~

#flashback

Han Seyoon’s POV

Umma, kenapa? Kenapa kau pergi meninggalkan aku untuk selamanya? Dua tahun lalu oppa sudah pergi. Sekarang kau pun tega membiarkan aku sendirian. Apa yang bisa kulakukan seorang diri, sekarang? Aku sendiri. Aku tidak punya siapa-siapa lagi.

Satu persatu orang-orang dalam hidupku pergi. Appa, oppa, dan sekarang umma. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk sendiri.

Pemakaman mulai sunyi. Semua orang sudah pergi. Kakiku seperti terpaku di tanah, tidak dapat kugerakkan sama sekali. Aku tidak ingin meninggalkan umma.

Setetes demi setetes air turun dari langit. Aku tahu Tuhan mengerti bahwa dadaku saat ini sangat sesak. Aku tersedak ketika akhirnya air mata ini mengalir. Cukupkah hanya dengan air mata ini, apa semuanya akan baik-baik saja? Tidak. Aku sekarang sendiri. Kenyataan itu memukulku begitu keras dan rasanya sangat sangat sangat menyakitkan. Bahkan meski semua itu telah mengalir bersama air hujan, entah mengapa masih tersisa perih di hatiku.

Oppa, aku membutuhkanmu. Aku butuh bahumu untuk kusandarkan kepalaku. Aku butuh senyummu untuk menghapus lukaku. Aku butuh dirimu untuk mengisi kembali hidupku yang telah kosong melompong.

Tapi oppa tidak ada di sini.

Perlahan sekali, kakiku mulai mendapatkan kekuatan untuk berjalan lagi. Mereka sudah hapal jalan mana yang ingin kutempuh. Tidak butuh waktu lama, aku sampai di sini.

Aku berdiri mematung di atas batu ini, batu tempat dulu aku dan oppa sering duduk berdua, memandang birunya laut di depan kami. Sekarang laut itu tidak terlihat biru. Langit hitam dan ombak besar membuatnya terlihat tidak ramah, menambah perih di hatiku.

“Oppa…”

Semoga angin dan hujan membawa bisikanku ini padamu, Minho oppa. Agar kau tahu betapa aku merindukanmu.

Kupejamkan mata dan kubiarkan air mataku menyatu dengan air hujan. Semoga air mataku ini entah bagaimana nanti akan menjadi awan dan menurunkan hujan di tempatmu, Minho oppa. Agar kau tahu betapa aku membutuhkanmu.

“Oppa… jangan tinggalkan aku. Oppa… aku merindukanmu.”

#end of flashback

~~~~~

Choi Minho’s POV

Penyesalan selalu datang belakangan. Sungguh tidak ada yang bisa menandingi perasaan bersalahku ini. Aku yakin seumur hidup, aku akan dihantui oleh perasaan mengganjal yang menyakitkan ini. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk memperbaiki semuanya. Sudah sangat terlambat.

Kupandangi lautan biru di hadapanku. Dimana Seyoon? Apa kau ada di sana? Di tengah deburan ombak yang memukul-mukul karang?

Masing terngiang di kepalaku apa yang tadi dikatakan Jinki ketika dia mengajakku ke sini, ke tebing pinggir laut ini;

“Minho, apa  kau sungguh-sungguh tidak tahu? Ibu Seyoon meninggal karena sakit sekitar satu tahun yang lalu. Setelah itu, di hari pemakaman ibunya, Seyoon menjatuhkan diri dari tebing. Tubuhnya belum ditemukan sampai saat ini.”

Kata-kata itu memukulku sampai tubuhku rasanya seperti jatuh berdebum ke dasar jurang. Untuk sekitar lima menit, lidahku kelu dan tanganku tidak juga berhenti gemetar. Andai ini semua hanyalah mimpi, Tuhan tolong bangunkan aku.

Berbagai pikiran melintas di kepalaku. Kenangan-kenangan itu tidak mau berhenti membayangiku. Seyoon yang tersenyum. Seyoon yang memboceng sepedaku. Seyoon yang tertidur di depan pintu rumah. Semua tentang Seyoon.

Penyesalan pun begitu menyesakkan dada. Aku harus memukul-mukul dadaku berkali-kali agar tidak tersedak oleh perasaan menyakitkan ini. Kenapa dulu aku harus meninggalkannya di sini? Aku yang begitu bodoh karena mengira dia akan baik-baik saja.

Setetes air jatuh di pipiku. Aku mendongak, ternyata hujan.

Hujan menderas hanya dalam beberapa detik. Hujan ini, air yang tumpah dari langit ini, mengingatkan aku pada air mata Seyoon, yang seumur hidup hanya pernah kulihat sekali. Air mata yang harus selalu menunggu hujan untuk dapat keluar. Air mata yang penuh penderitaan.

Kupejamkan mataku.

Samar-samar aku mendengar bisikan. Bisikan lemah yang sangat pelan. Mungkin aku berhalusinasi, tapi itu tidak masalah. Karena nyatanya, kerinduanku sedikit terobati oleh halusinasi ini. Aku mendengar bisikan Seyoon yang datang bersama angin dan hujan.

“Oppa… jangan tinggalkan aku. Oppa… aku merindukanmu.”

-end-

-minjin’120108-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

33 thoughts on “Oppa, Nal Beorijima [2.2]”

  1. huaaaa huaaaa huaaa hiks hiks hiks…

    huaa nyesek bgt … sedih thor… huuuaaaa

    meskipun rada2 lupa sm part sblumnya.. tp ttp aj nyesek… hiks hiks…

    mino jg.. knp g brkunjung setiap tahun sekali? kan slma 3 thun itu jg kan g mgkn sibuk spnjg taun.. *tiba2 sewot*

    nice ff thor ^^d *lap air mata*

    1. Hehehe, makasih eonni.
      Iya, itu Minho sok sibuk banget yah. hehehe.
      Wah, eonni, walaupun belom baca part 1, tapi tetep baca yang ini. Gomawo XD

  2. Haaaa super nyesekkkkT_T
    Minho kenapa kau lama sekali minhoooooo -.- dia udah tau seyoon nya kesepian kenapa gak inisiatif pulang setahun sekali gituuuT_T
    Huu selalu ya.. Penyesalan datangnya terakhir..

    Ff nya daebaak 🙂 feel nya dapet dan apa yg dirasain tokoh disini juga ngefek ke perasaan aku :” daebaak :):)

  3. jujur aku bukan tipe yang suka sad nih bikin nyesek banget

    setuju sama babyLiOnew kan selama 3 tahun tidak pasti sibuk selalu. seyoon sama ma aku nangis diwaktu hujan kkeke

    btw FFnya DAEBAK

  4. huwaaaaaaa………. keren keren, kirain seyoon bakalan ama minho, taunya ngga. ehehehehehehe. nice ff

  5. Baru baca… Sblmnya aku like ya 🙂
    Huaaa sedih nyesek… Seoyoon kasiannn 😦
    Ahhh minho oppa jg 😦
    Daebak!

    1. Waaah, seneng deh kalo ada yang bilang ff ini nyesek. Berarti saya cukup berhasil. kekekeke
      Gomawo ^^

  6. FF INI JELEK BANGET!!! Jelek banget sampek sukses bikin aku nangis2 sendiri di kamar. Ketahuan omma, dikira nangis gara2 gak dapet uang jajan-_-||
    SADna dapt, BANGET MALAH!! AKU SUKA. walopun sad ending.. andaikan ak pny 10 jempol, pst ak kasik ke thor deh. Tp sayang buah kelapa ak cuma pny dua.. DUA JEMPOL UNTUK THOR YG SUKSES SEJAHTERA BIKIN AKU NANGIS╮(╯_╰)╭

    1. Huhuhuhhuhuhu. Jujur waktu baca komen kamu awalnya kaget. Ternyata… aaah, gomawo XD
      gomawo gomawo gomawo 🙂
      makasih juga like-nya ^^

      1. Wkwkwk… ketipu dia(≧▽≦)…..
        Ak suka Ff mu chingu.. gak mungkin lah ak bash,,
        Ne… chonma.. ditunggu karyana yg lain.. siiiiiipppp
        ╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO!

  7. ini nysek banget thor… kasian sekali seyoon harus meninggal. apalagi selama ini hidupnya udah menderita garagara Appanya.

    tapi.. its very good ff thor !!
    cara nulis author rapih bgt deh, hhe

    di tunggu ff lainnya thor ^^

  8. Dri wktu bc part awalnya udh ktakutan,krna ini sad ending…
    Psti gak bahagia tpi tragis n mnyedihkan.
    Minjin eonnie,kw memng daebak!
    Trus brkarya,FIGHTING!

    1. Hehehehe, iyah, saya suka sad ending. kekeke
      Yup, aku masih terus nulis ff kok.
      Gomawo XD

  9. nih FF bikin nyesek banget di dadaaaaaaaa ya ampuuun 😥
    saking KERENnya sampe terharu bacanya 😦

    setuju sama @choi chila bikin side story dong eon, kalo misalnya si seyoon masih hidup gitu ;;)

  10. nyesekk banget author ini yg ku tunggu ” awal nya aq kurang ngerti dan sekaranngg oooooooooooo aku ngertii

  11. Huahhh,, Thor tanggung jawab Athor bikin Q nangis karna Ff Author….hiks..hiks..hiks…
    sumpah nyesek banget baca nii FF, perasaan Q jadi tdk menentu setelah baca ff Author #LEBAY…

    Tapi serius Thor Ff kamu DAEBBBAAAKKKKK !!!
    Q tunggu karya selanjutnya yah Thor !!

  12. tertohok banget !!!!!!!!!!!
    padahal udha nyangka kalo seyoon meninggal waktu jinki ngajak minho pergi ..
    tapi gag nyangka ajja dia meninggalnya dg jatuhin diri gituw …..
    huaaaa ,,,,,, betapa sakit hatinya minho ..
    kasian ,, menyesal seumur hidup tuch pasti dia ..

  13. keasikan main rp jadi jarang main ke sini.
    Wow, eon!
    aku gak pernah ragu akan ff mu.
    Semuanya daebak! (pengakuan seorang fans. kekeke)
    Ini aku benar2 nyesek, kasihan si Minho.
    Padahal,dia udah gak ketemu sama Seyoon selama tiga tahun.
    Dan Tiga tahun itu waktu yang amat panjang.
    Hah, Seyoon sih mengapa kau membhongi dirimu sendiri?
    ujungnya mati. Aish, #keselsendiri
    Minjin eon jjang!
    This FF so Daebak! 😀
    From your fans 🙂 hehehe

  14. hiks nyesek bca ff ni sambil dengerin seohyun snsd yg i’ll be waiting..
    Ga perlu nunggu turun ujan Q dah nangis dluan

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s