Please Don’t Go

Author               : Amy Kamilia

Main Cast          : Choi Minho and Kim Yeonji (Readers)

Support Cast     : Kim Kibum

Length               : Oneshoot

Genre                : Romance, Sad

Rating               : PG-15

Description     : Sebegitu tersiksakah Minho selama ini? Sebegitu sedihkah Minho selama ini? Hingga air mata yang tidak pernah dilihatnya itu tiba – tiba saja keluar dari sudut matanya.

Please Don’t Go

Penglihatannya kembali kabur karena air mata. Air mata itu terus mengalir dari pelupuk matanya dengan mudah. Entah apa yang dipikirkannya. Yeoja itu! Dengan kaki telanjang, berjalan menuju tengah laut. Kedua kakinya berjalan menyeret pasir pantai putih tanpa perintah dari sang pemiliknya. Hingga akhirnya telapak kaki itu berhasil menyentuh air laut yang dingin. Namun langkahnya tak terhenti sampai disitu. Ia terus berjalan. Tidak memperdulikan dinginnya air laut yang menusuk tulangnya. Lututnya .. Pinggangnya .. Kini telah tertutup oleh air. Tiba – tiba saja ia merasakan seseorang menggenggam lengannya dan menariknya menuju tepi pantai.

“Apa yang kau lakukan, huh?” tangan besar mencengkram kedua bahu yeoja itu kuat. Yeoja itu tidak menjawab. Bahkan ia tidak berani melihat namja yang kini berdiri dihadapannya dengan tatapan tidak percaya. Ia hanya menundukkan kepalanya, memandangi kaki – kakinya. “Jawab aku! Apa yang ingin kau lakukan, huh? Bunuh diri?” namja itu kini bertanya dengan suara yang semakin meninggi.

Akhirnya yeoja itu mendongakkan kepalanya untuk melihat lawan bicaranya. Dan matanya tiba – tiba saja membulat besar begitu melihat namja yang kini berada dihadapannya. Perlahan – lahan tangan yang gemetar itu mulai bergerak, berusaha menyentuh pipi namja itu. Mulutnya mencoba untuk mengatakan sesuatu namun tidak bisa! Lidahnya begitu kelu hingga tak bisa berkata – kata. Dan air mata itu kembali mengalir dari sudut matanya. Air mata itu berhasil mewakilkan sebagian isi hatinya saat ini. Tanpa pikir panjang lagi, yeoja itu langsung memeluk namja pujaan hatinya itu.

“Minho .. kau kembali .. kau kembali .. kau kembali ..” yeoja itu terus saja mengulang dua kata itu disela isak tangisnya. Namja bernama Minho itu membalas memeluknya. “Jangan pernah pergi dari sisiku lagi .. Jebal ..” pinta yeoja itu dengan mengeratkan pelukkannya.

Mianhae .. Jeongmal mianhae Yeonji ..” hanya itu yang dapat Minho katakan pada yeoja yang kini memeluknya dan menangis tersedu – sedu di dadanya yang bidang. Minho memejamkan matanya, tanpa terasa air hangat mengalir di pipinya. Segera Minho menyeka air matanya karena ia tidak ingin Yeonji melihatnya menangis. “Hey .. hey .. hey .. Uljima~” Minho melepaskan pelukkan Yeonji. Kedua telapak tangannya yang besar memegang kedua pipi Yeonji dan menyeka air mata yang mengalir di pipi yeoja yang sangat dicintainya itu dengan ibu jarinya. “Sudahlah .. Jangan kau buang – buang air matamu itu hanya untuk menangisi kepergianku.”

“Bagaimana bisa, aku tidak menangisi kepergianmu? Kau sangat berarti untukku. Jika kau pergi, sebagian hatiku ikut pergi bersamamu.” Ucap Yeonji dengan mengerucutkan mulutnya.

“Benarkah? Padahal aku pergi tidak membawa sebagian hatimu? Tapi mengapa kau bilang hatimu ikut bersamaku?” Minho mengerutkan dahinya dan memasang tampang polosnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

YA! Berhenti bercanda!” Yeonji memukul lengan Minho. “Aku sedang serius tahu!” Minho terkekeh pelan melihat sikap Yeonji yang seperti itu. Setidaknya ia tidak menangis, pikir Minho.

“Temani aku jalan – jalan sebentar saja ..” pinta Minho yang langsung menggandeng tangan Yeonji dan berjalan menyusuri pinggir pantai. Yeonji tidak menolak ajakan itu. Bahkan ia sangat merindukan genggaman tangan itu. Genggaman tangan yang lembut dan hangat. “Apa yang kau lakukan setelah aku pergi?” pertanyaan itu tiba – tiba saja keluar dari mulut Minho. Yeonji menghentikan langkahnya. Tak tahu apa yang harus ia katakan. “Apa kau menangis sepanjang hari? Mengurung dirimu di dalam kamar sambil memandangi wajahku didalam bingkai fotomu?” pertanyaan itu semakin membuat Yeonji terpojok. “Aku kira kau sekuat apa yang aku bayangkan. Tapi ternyata aku salah.” Terdengar nada kekecewaan dari Minho.

“Mana Yeonji yang selalu tersenyum ceria? Mana Yeonji yang tidak pernah menangis dan tetap berdiri kokoh saat kesedihan sedang melandanya?” Minho kembali mengenggam erat kedua bahu Yeonji dan sesekali mengguncang – guncangkan tubuhnya. “Mana suara tawa Yeonji yang terdengar renyah ditelingaku? Mana Yeonji yang cerewet dan tidak pernah bosan menasihatiku? Apa Yeonji itu telah menghilang dan digantikan Yeonji cengeng yang tidak bisa menerima kenyataan?”

Yeonji tak mampu menjawab pertanyaan Minho. Membalas tatapan mata Minho saja, ia tak sanggup. Ia lebih memilih untuk menunduk. Membiarkan sebagian rambutnya yang panjang menutupi wajahnya terutama matanya. Ia tidak ingin Minho melihatnya menangis kembali. Mengapa aku begitu lemah? Gerutu Yeonji pada dirinya sendiri.

“Lihat aku ..” seperti bisikan, Minho berkata tepat di telinga Yeonji. “Lihat aku ..” Minho mengulangi perkataannya lagi yang tak kunjung dituruti Yeonji. Tangan kanannya bergerak untuk mengambil sebagian rambut Yeonji yang menutupi wajahnya dan menyelipkannya di belakang telinga Yeonji. Kini Minho dapat melihat jelas wajah letih yang tak bosan – bosannya mengeluarkan air mata. “Kau tidak boleh seperti ini terus, kau harus melanjutkan hidupmu .. tanpa aku disisimu ..”

“Aku tidak bisa—aku tidak—“

“Kau bisa. Aku tahu kau bisa melakukannya. Hanya saja, kau tidak mau mencoba untuk menjalaninya. Semua itu membutuhkan proses.” Tangan Minho membelai rambut Yeonji dengan penuh kasih sayang kemudian mendongakkan wajahnya. “Lihat aku ..”

Mau tidak mau, akhirnya Yeonji membalas tatapan mata Minho. Tatapan yang selalu membuatnya nyaman, teduh dan terlindungi. Mata yang selalu ingin dilihatnya ketika ia membuka mata untuk mengawali harinya dan mata yang selalu ingin dilihatnya ketika ia memejamkan mata untuk mengakhiri harinya.

“Jika kau seperti ini terus, kau malah membuatku tidak tenang. Kau membuatku tersiksa dan selalu dihantui oleh rasa bersalah akan dirimu.” Ucap Minho putus asa dengan kedua tangan yang menarik rambutnya frustasi. “Kau harus bisa menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa bersatu. Takdirlah yang memisahkan kita.”

Minho menggenggam erat kedua tangan Yeonji dan meletakkannya di dadanya. Oh tidak bisa! Kedua matanya tak sanggup lagi menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Tes! Satu tetas air mata berhasil mengalir di pipi Minho.

Yeonji berdiri mematung. Sungguh ini pertama kalinya Yeonji melihat Minho menangis sejak ia menjadi yeojachingu-nya 3 tahun yang lalu. Tanpa ia sadari air mata itu dengan sendirinya keluar membahasi pipinya. Air matanya yang ditahannya sedaritadi. Sebegitu tersiksakah Minho selama ini? Sebegitu sedihkah Minho selama ini? Hingga air mata yang tidak pernah dilihatnya itu tiba – tiba saja keluar dari sudut matanya. Dalam hitungan detik saja, Minho merengkuh tubuh mungil Yeonji ke dalam pelukkannya. Untuk beberapa saat mereka berdua terhanyut dalam tangis.

“Bahagialah demi diriku. Tersenyumlah demi diriku. Tertawalah demi diriku. Apa kau mau melakukannya untukku?” tanya Minho begitu ia dapat mengontrol emosinya kembali. Yeonji hanya menganggukkan kepalanya. “Berjanjilah padaku, kau akan membuka hatimu untuk orang lain yang benar – benar mencintaimu sepenuh hatinya.” Dan lagi – lagi Yeonji hanya membalasnya dengan anggukkan kepalanya. Yah, Yeonji akan melakukan apapun yang diminta Minho kepadanya, karena yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan Minho. “Gomawo .. Jeongmal gomawo Yeonji .. Kini aku dapat tersenyum bahagia .. semua itu berkat dirimu ..” Sebuah senyuman terlukis diwajah Minho.

Minho melepaskan pelukkannya dan untuk kedua kalinya atau mungkin untuk terakhir kalinya ia menyeka air mata Yeonji. Dipandangnya mata Yeonji lekat – lekat, dan kata itu meluncur dari mulut Minho. Kata yang membuat air mata itu kembali jatuh membasahi pipi Yeonji.

Saranghae nae Yeonji ..”

Tepat setelah Minho berbicara, bibirnya menyentuh lembut bibir Yeonji. Yeonji hanya memejamkan matanya, membiarkan rasa hangat mengalir di dalam tubuhnya namun Yeonji memutuskan untuk membuka matanya kembali untuk melihat Minho dalam jarak sedekat ini, membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Entahlah, Yeonji selalu dibuat tercengang dengan setiap perlakuan Minho padanya. Yah .. seperti saat ini ..

Tiba – tiba saja angin berhembus di dekatnya. Angin yang merubah Minho perlahan – lahan menjadi serpihan debu dan membawa Minho pergi bersamanya. Sekilas terlihat seulas senyuman terbentuk dari bibir Minho. Yeonji terus menatap kepergian Minho, hingga akhirnya Yeonji membalas senyuman itu dan melambaikan tangannya.

Kelopak mata itu terbuka seketika. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Pikirannya berusaha mencerna semua kejadian yang baru saja dialaminya. Ini pertama kalinya ia memimpikan namjachingu-nya setelah kematiannya seminggu yang lalu akibat kecelakan mobil yang menimpanya. Tepatnya sehari setelah mereka melakukan pemotretan foto pra-wedding-nya. Yah, mereka berdua akan segera menikah dan membangun sebuah keluarga kecil, namun kecelakaan itu mengubah semua rencana yang telah mereka berdua susun dengan rapih.

Sungguh, semuanya terlihat begitu nyata. Sentuhannya, pelukkannya, bisikkannya.  Namun ia tahu semua itu hanya mimpi. Dan ia tak mungkin kembali. Kembali menggenggam tangannya. Kembali memeluk tubuhnya. Kembali mengecupnya dan kembali tersenyum padanya. Kini semuanya hanya tinggal kenangan. Dan biarkan semua kenangan itu tersimpan dalam memori ingatannya.

Yeonji terduduk diatas tempat tidurnya dengan matanya menatap kosong lurus. Memperhatikan sebuah foto berukuran cukup besar yang menempel pada dinding kamarnya. Foto dengan senyuman yang terlukis indah dibibirnya dan sebuah tulisan tertulis di foto itu. Choi Minho dan Choi Yeonji. Yah, foto itu datang beberapa hari yang lalu. Kelurganya lupa memberitahu pihak pemotretan untuk membatalkan pencetakan foto tersebut. Dan alhasil, foto itu terpajang di kamarnya karena ia bersikeras untuk tidak membuangnya.

“Kau lihat betapa bodohnya diriku sekarang, bukan?” Yeonji mulai berbicara dengan foto itu lagi. “Bahkan kini aku sering berbicara pada sebuah foto. Foto dirimu Choi Minho.” Ia tak dapat membendung air matanya lagi. “Nappeun namja .. Kau bilang—kau bilang padaku untuk—untuk tidak menangis lagi, tapi kau—tapi kau malah membuatku menangis.” Dengan seketika tangisan itu pecah begitu saja. Wajahnya ditutupi oleh kedua tangannya. Seluapkan semua kesedihan yang ia pendam selama ini. kesedihan yang selalu membuat daanya terasa sesak.

“Sampai kapan kau akan seperti ini?” tanya seseorang yang kini telah duduk disamping Yeonji dan mengelus punggungnya perlahan. “Seminggu telah berlalu sejak kepergian Minho. Apa kau akan seperti ini terus? Oppa, appa, terutama eomma sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Kau seperti mayat hidup.” Yeonji tidak menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh oppa-nya. Kim Kibum yang lebih sering dipanggil Key. Ia terus menangis, bahkan semakin lama semakin menjadi – jadi. “Kau tahu? Aku yakin Minho pun akan ikut sedih jika melihatmu seperti ini terus. Kau harus bangkit. Kau tidak boleh terus menerus larut dalam kesedihanmu. Ingat kau masih punya kehidupan yang harus kau jalani. Hiduplah demi orang yang kau sanyangi ..”

“Oh baiklah .. sepertinya tidak ada gunanya oppa bicara padamu saat ini.” Key menyerah dan beranjak dari tempat duduknya. “Selesaikan tangisanmu itu tapi nanti sore, aku ingin melihat senyumanmu. Dan aku akan mengajakmu jalan – jalan menghirup udara segar. Sepertinya sudah lama nae dongsaeng tidak menghirup udara segar.” Ucap Key sambil berlalu meninggalkan Yeonji seorang diri.

***

“Hey~ bicaralah .. aku tidak mau orang – orang melihat kita seperti musuh.” Omel Key pada adik perempuannya itu namun Yeonji hanya membalasnya dengan tersenyum simpul. Mereka berdua kembali terdiam. Sesuai dengan janjinya, Key mengajak Yeonji berjalan – jalan menikmati pemandangan senja.

“Menurutmu, apa yang orang – orang pikirkan tentang kita?” Key mencoba untuk memulai perbincangan diantara mereka. Yeonji memandang Key dengan mengerutkan kening, kemudian menggelengkan kepalanya. “Kau gelap dan aku terang.”

“Apa maksud perkataanmu, oppa?” tanya Yeonji yang semakin penasaran. Key tersenyum jahil karena ia berhasil mendapatkan perhatian Yeonji.

“Apa kau tidak lihat apa yang ada diatas kepala kita?” Lagi – lagi Yeonji menggelengkan kepalanya. “Jinjja? Hmm .. karena diatas kepalaku terdapat awan cerah yang disinari matahari sedangkan kau, awan hitam yang terus saja menurunkan air hujan. Hahahahahahaha ..” tawa Key yang begitu keras dan nyaring. Yeonji mengerucutkan mulutnya dan memukul lengan Key. “Kita sudah sampai~” seru Key girang. “Akan aku kenalkan kau kepada sahabat – sahabatku. Kau pasti akan menyukainya.”

Mereka berdua tiba disebuah lapangan basket yang sepi. Hanya beberapa orang saja yang berada disana. Mungkin itu teman Key. Dua orang sedang berbincang – bincang dengan duduk santai dipinggir lapangan dan seorang lagi sedang bermain basket. Key menghampiri kedua namja yang sedang asik mengobrol itu namun Yeonji menghentikan langkahnya. Ia berdiri mematung. Matanya menatap nanar namja yang sedang bermain basket itu. Untuk beberapa saat ia memandang namja itu tanpa berkedip sedikitpun. Ia merasakan dadanya kembali sesak. Sepertinya air mata itu akan kembali tumpah. Mulutnya berusaha untuk mengatakan sesuatu,

“Minho?”

THE END^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

9 thoughts on “Please Don’t Go”

  1. “Mana suara tawa Yeonji yang terdengar renyah ditelingaku? — ‘suara’nya lbh baik dihilangkan… jd langsung ‘mana tawa yeonji’ , soalnya pas dikalimat berikutnya kan pke ‘terdengar’ jd itu udh memaknai kata ‘suara’.. istilahnya itu citraan pendengaran..

    awa Key yang begitu keras dan nyaring — hahahahhaa pas bc kalimat itu… hahahahaha langsung kebayang ketawanya gimana… udh terkenal tuh ketawa key.. LOL

    endingnya sdkit ketebak pas bc bagian key mau ngajak yeonji ketemu teman2nya..
    eh eh eh tp nanggung.. bikin sequelnya dong… ^^v *piiiisss thor*

    wuuiiih itu jd ceritanya minho bereinkarnasi?? hihihihi

    overall nice ff…
    dapet feelnya~~

    1. Ngom2 soal ketawa Key,, ternyata ketawana si Onew oppa lebih aneh,ajaib,melengking juga sama kaya Key. Jujur, ak agak kaget denger Onew oppa ketawa kyk gitu. Baru2 ni ak liat di reality showna Shinee yg baru. Yg si Shindong jadi Mc…

      #Ps# aku bukan thorna. Cuma reader yg sembarangan lewat<(@ ̄︶ ̄@)>

  2. Setuju sama mybabyLiOnew^^ seharusnya kata ‘suara’nya diilangin aja, mian sok kritik..

    Endingnya gantung thor T.T jadi sebenarnya ‘Minho’ yang terakhir diucapin Yeonji itu, Minho yang sama nggak sama Minho yang ada di mimpinya Yeonji? Atau reinkarnasinya? Author, FF ini meninggalkan tanda tanya besar dikepalaku-_-”

    Keeereeen, Jjang!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s