Heebaragi [1.2]

HEEBARAGI

Author : *Azmi

Maint cast :

  • Kim Kibum
  • Lee Jayoung

Other cast :

  • Halmeoni
  • Lee Donghae

Length : Oneshoot

Genre : Romance

Rating : PG 13

Saat itu dimusim semi dipertengahan bulan april. Disebuah taman, seorang gadis kecil tengah berdiri didepan sebuah danau yang sengaja dibuat untuk menambah kesan indah taman itu. Ia memerhatikan beberapa bebek yang tengah berenang kesana kemari. Rambut sebahu gadis kecil itu seakan melambai diterpa angin, poninya pun tak kalah lincah bergoyang kekanan dan kekiri, hanya bando dengan hiasanan berbentuk bunga mataharinya saja yang terlihat tetap tenang.

“YAAAA!!!”

Pekik gadis kecil itu saat tanpa sengaja dress merah muda selututnya diterpa angin kencang hingga tersingkap keatas memerlihatkan celana dalamnya. Dengan takut-takut ia memandang sekeliling taman memastikan tak ada seorangpun yang melihat kejadian yang menurutnya memalukan itu. Tangan kanannya sibuk memperbaiki letak dressnya sedangkan tangan kirinya tetap setia mendekap boneka beruang kesayangannya dengan erat.

“Pricillya, sebaiknya kita duduk saja!” ujar gadis kecil itu pada boneka yang dipanggilnya Pricillya.

Masih ditempat yang sama gadis kecil itu kemudian duduk, ia memangku Pricillya-nya.

“Pricillya, sebenarnya kau sangat cantik. Hanya saja karena kau sudah tua, jadi kau terlihat kusam saat ini. Sebenarnya berapa sih umurmu? Kata Eomma umurmu lebih tua dari Donghae Oppa, apakah itu benar?” gadis itu mengajak bicara bonekanya.

Ia sangat menyayangi boneka itu, Eomma bilang itu adalah boneka yang dibelikan Halmeoni untuk Eomma saat Eomma masih kecil. Dan sekarang boneka itu diberikan padanya.

Gadis kecil itu kembali memandangi bonekanya serius. Ia mengamati layaknya seorang juri yang tengah menilai diacara lomba peragaan busana musim semi, sesekali mata indahnya mengernyit melihat dibeberapa tempat ditubuh beneka yang benangnya sudah brudal.

“Sepertinya pita ini sudah harus diganti.” Ujarnya sambil menyincing pita merah yang dipasang dibagian kiri kuping bonekanya dengan tatapan sedikit mengejek, “Aku copot ya Pricillya,” ucapnya seperti tengah meminta ijin.

Tangan kecilnya dengan lihai mencopot pita kusam itu dan meletakkannya begitu saja ditanah, “Tenang saja aku tak akan membuang pitamu, aku janji akan menyimpannya dengan baik.” Katanya menenangkan seolah boneka yang tengah dipangkunya itu memrotes tindakanya yang menggeletakkan begitu saja pita itu ditanah.

Gadis kecil itu kemudian mendudukkan bonekanya diatas rumput disampingnya. Ia menekuk kakinya kemudian meletakkan kepalangnya diatas lutut menghadap kesamping kearah boneka beruangnya dengan tatapan sendu.

“Pricillya,,,” gumamnya pelan, “Aku merindukan Donghae Oppa!” setitik air terlihat menetes dari sudut mata besarnya.

“Eomma bilang, Donghae Oppa sedang berlibur ditempat yang sangat indah tapi jauh, jadi aku tak boleh ikut. Aku ingin bermain bersama-sama lagi dengannya Pricillya!” air matanya kini sudah menagalir dengan deras.

Lee Donghae adalah kakak kandung gadis kecil itu. Sebelum kejadian yang tak dimengerti gadis kecil itu beberapa bulan yang lalu, mereka selalu bermain bersama, menghabiskan waktu bersama dan makan ice cream bersama. Lee Donghae sangat menyayangi adik kecilnya melebihi dirinya sendiri. Apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan gadis kecilnya.

“Pricillya, bisakah kau antar aku ke tempat Donghae Oppa? Kita lakukan diam-diam, Eomma tak perlu tahu kalau kau takut dimarahinya. Atau kau katakan saja padaku alamatnya, aku akan mencarinya sendiri kalau kau masih tak berani. Sungguh Pricillya aku begitu merindukannya, aku ingin makan ice cream stroberry lagi bersamanya. Kau tak kasihan padaku?” Gadis kecil itu menegakkan tubuh memandang Pricillya penuh harap.

Melihat tak ada respon sama sekali dari beruang kesayangannya, gadis kecil itu memberenggut kecewa.

“Pricillya,,, aku benar-benar rindu padanya,,, hiks,,,” gadis kecil itu mulai terisak.

Wajahnya sudah penuh dengan airmata. Ia teringat bagaimana Donghae Oppa menggendongnya saat pulang sekolah sampai ke halte bus. Ia ingat bagaimana Donghae memeluknya erat saat ia berhasil menjadi juara pertama lomba mewarnai tingkat sekolah anak-anak.

Gadis itu rindu, sangat rindu dengan belaian hangat kakaknya saat hendak tidur.

“,,,Oppa,,,Hikss”

Gadis kecil itu merogoh kalung dari balik leher dressnya. Kalung dengan bandul berbentuk bunga matahari sebesar koin itu tampak bercahaya. Dibandul itu terdapat sebuah daun yang terhubung oleh batang dengan bunganya.

Tangan kecil itu mengelus sayang pada bandul berharganya dan mengecupnya dalam. Tangannya beralih kebelakan lehernya untuk melepas kalung itu.

“Aku akan menjaganya dengan baik Oppa!” gumamnya lirih. Ia bangkit dan menggenggam bandul itu erat.

“Pricillya, kajja kita pulang!” ajak gadis kecil itu pada Pricillya dan menyeret boneka beruang itu di tangan kirinya yang bebas.

Gadis kecil itu mengayun-ayunkan kedua tangannya sembari menyusuri jalan setapak untuk pulang. Namun langkah kecilnya tiba-tiba saja terhenti, “Ommo~ aku melupakan pitamu Pricillya!” pekiknya.

Ia melepaskan begitu saja boneka beruangnya hingga terjatuh di jalan. Ia berbalik dan berlari menuju tempat dimana tadi ia meninggalkan pita milik Pricillya.

Gadis kecil itu tak memerhatikan jalan, ia terus saja berlari bahkan melupakan Pricillya-nya begitu saja dibelakang.

Tanpa disadari, sebuah sepeda meluncur dengan kencang kearahnya. Gadis itu masih saja terus berlari, yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah pita Pricillya. Ia ingin segera mengambilnya dan membawanya pulang, ia takut ada yang mengambil pita itu dan menyembunyikan darinya.

“Yaaa, minggir..!!!” pekik pengendara sepeda itu.

Gadis itu terkesiap namun terlambat.

BRUAKK

Sepeda kecil itu menabrak kaki gadis itu dan jatuh kekanan menimbulkan bunyi yang sangat mengerikan ditelinganya, sementara pengendaranya yang ternyata adalah seorang bocah laki-laki kecil jatuh kekiri menimpa badan gadis kecil itu yang lebih dulu terjatuh.

Gadis kecil itu memekik keras, kalung yang sedari tadi digenggamnya terlepas entah kemana. Ia tak memerdulikan tubuhnya yang masih tertimpa bocah diatasnya kini. Tangannya meraba-raba sekitarnya mencari keberadaan kalung yang sangat berharga itu, apapun yang terjadi kalung itu tak boleh hilang. Gadis kecil itu sudah berjanji pada Donghae untuk menjaganya dengan baik.

“Kalungku,,, Yaa minggir!!!” pekik gadis itu mendorong tubuh yang masih setia ambruk diatasnya hingga berguling kesamping dengan keras.

Gadis itu mencoba berdiri, namun tiba-tiba kakinya terasa ngilu dan tak bisa digerakkan. Ia menjerit tertahan, “Oppa kakiku,,,” gadis itu menangis sambil meraba kakinya yang sakit. Ternyata pergelangan kakinya membiru, gadis itu ketakutan. Takut ia tak bisa pulang karena kakinya sakit, takut Eommanya khawatir dan yang paling membuatnya takut adalah kalungnya hilang.

Bocah kecil yang melihat gadis kecil itu menangis ketakutan kemudian mencoba bangkit. Ia memegang pundak kanan gadis yang berguncang itu takut-takut, “Kau tak apa?” tanyanya khawatir.

Gadis itu mendongak hingga memperlihatkan wajahnya yang basah oleh air mata, “Tolong carikan kalungku, kakiku sakit sekali…” ujarnya sesenggukan.

“Kakimu sakit?” bocah itu malah balik bertanya, ia beralih pada kaki gadis itu dan benar saja kakinya bengkak, “Kakimu bengkak!!” ujarnya takut.

“Tolong carikan kalungku,,,” pinta gadis itu lagi.

Bocah itu menatap gadis itu sembari mengernyit. Kakinya sudah bengkak seperti ini tapi mengapa ia lebih menguatirkan kalungnya, “Kakimu bengkak, nanti saja mencari kalungnya. Ayo kuantarkan pulang…”

Bocah kecil itu berjongkok didepan gadis kecil itu, “Ayo naik kepunggungku!” suruhnya.

“Shireo. Aku harus menemukan kalung itu lebih dulu. Kalau tidak, Donghae Oppa bisa marah.” Tolak gadis itu masih bersikeras, “Kalau kau tak mau membantuku aku bisa mencarinya sendiri.”

“Kau tak boleh seperti itu, kakimu lebih penting.” Potong bocah itu. Ia berbalik dan menatap sendu gadis itu. “Ayo kuantar pulang…” pintanya lagi.

“Aku bilang aku tidak mau, kalungku hilang dan kau memintaku untuk pulang. Kau pikir aku mau, hiks,,,” gadis itu kembali terisak mambuat bocah itu semakin Khawatir.

“Maafkan aku, aku akan membantu mencari kalungmu. Jangan menagis lagi ne??” bocah itu memeluk gadis kecil itu menenangkan. Ia merasa bersalah karena sudah menabraknya dan membuat kalungnya hilang, “Oh ya, siapa namamu?” tanyanya sembari melepas pelukannya dan mengusap airmata yang masih tersisa dipipi halus gadis kecil itu.

“Namaku Lee Jayoung. Banarkah kau akan membantuku mencari kalungku?” gadis yang ternyata bernama Lee Jayoung itu berbinar senang karena akan dibantu mencari kalungnya.

“Tentu saja aku akan membantumu, aku akan mencarinya sampai ketemu Lee Jayoung.” Jawab bocah itu sambil tersenyum hangat, tangannya terulur kedepan, “Namaku Kim Kibum, tapi orang-orang biasa memanggilku Key.” Ucapnya memperkenalkan.

Jayoung menyambut tangan Key, “Kau tunggu disini, aku akan mencarinya untukmu!” ujar Key, “bagaimana bentuk kalungmu?”

Masih dengan agak sesenggukan Jaeyeon menjelaskan bentuk kalungnya pada Key, “Kalungnya putih agak panjang, ia memiliki bandul sebesar koin berbentuk Heebaragi, kau akan menemukan namaku dan nama Donghae Oppa kalau kau membalik bandulnya.” Jelasnya, “Kau bisa membayangkannya kan?”

Key mengangguk cepat, “Tentu saja, kau pikir aku bodoh.” Tukasnya. “Nah Lee Jayoung, kau tetap tenang disini dan jangan kemana-mana sementara aku akan mencari kalungmu.”

Setelah mengatakan itu, Key bangkit berdiri untuk mencarikan kalung dengan ciri-ciri yang dijelaskan Lee Jayoung tadi. Namun sebelumnya, saat melihat sepeda barunya teronggok tak berdaya, ia dengan cekatan membangunkannya.

Key kembali memamerkan senyumnya pada Jayoung sebelum benar-benar pergi mencari kalung itu. Key menyusuri jalan disekitar tempat dimana insiden ‘kecelakaan’ itu terjadi. Sambil merutuki dirinya sendiri, Key mengorek rerumputan yang menurutnya bisa saja kalung Jayoung terjatuh disana dan tersembunyi dibaliknya.

Dalam hati Key menyalahkan dirinya sendiri, ini gara-gara dirinya yang ngotot ingin belajar naik sepeda sendirian. Ia jadi menyesal menolak ajakan Jonghyun Hyung untuk belajar bersama. Padahal kalau boleh jujur Jonghyun Hyung sudah lebih bisa menguasai sepedanya daripada dirinya.

‘Huh,, Key pabooo,,,’ rutuknya dalam hati, ‘Kau menyakiti seorang yeoja yang begitu lemah’

Dalam pikiran bocah kecil seperti Key, ia selalu membayangkan bahwa kaum Yeoja itu lemah dan butuh dilindungi. Mereka lembut dan rapuh seperti Eommanya. Bahkan Key pernah berangan-angan akan mendirikan panti Yeoja untuk melatih mereka agar lebih kuat dan tak lagi rapuh.

Pikiran ini muncul karena Key selalu melihat Eommanya yang takut setengah mati saat mendengar petir dimusim hujan. Eomma selalu meringkuk dikamar dan tak mau ditinggal Appa jika terjadi badai. Key yang sok dewasa saat melihat kejadian itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tersenyum samar, layaknya orang tua yang melihat kelakuan nakal anaknya.

Berbeda halnya dengan Jonghyun, kakak kandung Key yang umurnya satu tahun lebih diatas Key. Ia cenderung akan menangis dan mencoba menenangkan Eomma yang sangat dicintainya. Walau pada akhirnya Jonghyun sendirilah yang harus ditenangkan. Bocah itu tak pernah tahan saat melihat orang lain menderita, maka dengan kelembutan hati yang dimilikinnya ia akan ikut merasakan penderitaan itu. Padahal Eommannya hanya ketakutan biasa, jadi disini ternyata Jonghyunlah yang lebay. Ah,,, kembali lagi ke Key!

Tanpa disadari, Key sudah berjalan terlalu jauh, Jaeyeon saja hampir tak terlihat namun Key belum juga menemukan kalung itu. Bagaimana jika kalung itu tak berhasil ditemukan, Jaeyeon pasti akan menagis lebih kencang. Sepertinya kalung itu begitu berharga bagi gadis manis itu.

Key menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja pandangan matanya menemukan sebuah boneka beruang teronggok tak berdaya dijalan.

“Ih,, bonekanya jelek!” umpat Key saat mengambil boneka itu.

Key hendak membuangnya kembali ketempat semula, namun saat mengingat Jayoung ia tak jadi membuangnya. Mungkin saja Jayoung akan lebih tenang saat Key tak bisa menemukan kalungnya dan menggantikan dengan boneka yang walaupun jelek tapi sepertinya boneka ini terawat. Baiklah Key memutuskan untuk membawa boneka ini.

Dengan takut-takut Key mendekati Jayoung, boneka beruang itu ia sembunyikan dibalik punggungnya.

“Young-ah,,” panggilnya, ia menggerakkan ujung sepatunya memutar-mutar ditanah karena merasa gugup. Ia juga tak berani sepenuhnya menatap Jayoung, ia hanya mengintipnya lewat sudut mata karena Key menunduk menatap ujung sepatunya yang beradu dengan tanah, “Ak-aku tak bisa menemukan kalungmu.” Akunya lirih hampir tak terdengar.

Key memberanikan diri melihat wajah Jayoung dan ia semakin takut begitu mendapati wajah Jayoung yang sudah basah oleh air mata.

Key berjongkok, boneka beruang itu terlepas begitu saja dari tangannnya. Ia memegang kedua bahu Jayoung.

“Yeon-ah maafkan aku…” lrihnya. Diusapnya airmata Jayoung dengan lembut, “Kau boleh marah padaku, tapi kumohon jangan menangis seperti ini Ne,,,?”

Masih dengan terisak dan sesekali sesenggukan, Jayoung mengulurkan telapak tangan kecilnya yang terbuka dan disana sudah ada sebuah kalung. Key kaget melihatnya.

“Aku menemukannya dibawahku, aku mendudukinya.” Jelas Jayoung, “Tapi bandulnya terbelah menjadi dua. Aku tak mau kalungku rusak, bagaimana ini Key-ssi? Bagaimana kalau Dongahe Oppa marah padaku nanti? Hiks,,,,” Jayoung kembali terisak keras.

Key memeluk Jayoung untuk menenangkan, “Jangan sedih, nanti kalau aku sudah besar dan bisa mencari uang sendiri, aku janji akan membelikan kalung yang sama persis seperti itu.” Tenang Key sambil menepuk-nepuk punggung Jayoung.

Key melepas pelukannya saat mengingat boneka beruang yang ia temukan, “Oh ya aku menemukan ini!” Key menyodorkan boneka yang hampir saja dilupakan Key.

“Pricillya!!” kaget Jayoung, ia mengambil boneka itu dari tangan Key dengan cepat.

“Pricillya?”

“Ne, ini bonekaku, namanya Pricillya. Kau menemukannya dimana?”

“Aku tak sengaja menemukannya disana saat mencari kalungmu!” jelas Key sambil menunjuk tempat dimana ia menemukan boneka itu.

“Iya, ini bonekaku. Sebenarnya tadi aku sudah mau pulang tapi karena Pricillya ketinggalan pitanya jadi aku kembali lagi kesini.” Jelas Jayoung, “Oh ya Key-ssi, maukah kau membantuku sekali lagi? Tolong ambilkan pita merah Pricillya di dekat danau itu.” Pinta Jayoung.

“Tentu saja.” Ucap Key, dan tanpa aba-aba lagi ia meluncur kedekat danau untuk mengambil pita merah Pricillya.

Key kembali lagi sudah dengan pita merah yang dimaksud Jayoung ditangannya. Ia mengulurkannya pada Jayoung, dan tentu saja disambut baik oleh Jayoung.

Mereka saling memamerkan senyum lucunya.

“Young-ah, mengapa aku melihat matamu berbicara ya? Indah.” Gumam Key tanpa sadar saat melihat Jayoung tersenyum tulus.

“Ne?” bingung Jayoung.

“Ne, matamu hebat. Mereka bisa bicara!” ujar Key, membuat Jayoung semakin mengerutkan dahinya bingung.

“Ah sudahlah jangan dipikirkan. Sekarang ayo kuantar pulang.” Key kembali menawarkan punggungnya untuk Jayoung.

Kali ini Jayoung tak menolak, dengan hati-hati ia naik kepunggung Key. Ia mengalungkan lengannya ke leher Key dengan Pricillya yang masih digenggamannya sehingga boneka beruang itu menggantung didepan Key. Mengenai kalung, Jayoung sudah lebih dulu menaruhnya disaku dressnya beserta pita merah Pricillya.

“Oh ya Key-ssi, bagaimana dengan sepedamu?” tanya Jayoung saat Key mulai berjalan.

“Gwaenchana, nanti aku akan meminta Appa atau Jonghyun hyung untuk mengambilnya!” jelas Key, “Dimana rumahmu Young-ah?” tanya Key.

Jaeyeon menunjukkan letak sebuah rumah di ujung jalan yang tengah mereka tapaki ini dengan tangannya yang bebas dari Pricillya. Key mengangguk mengerti.

“Young-ah, kalau boleh aku bertanya, sepertinya kalung itu sangat penting bagimu?” tanya Key hati-hati.

“Tentu saja sangat penting.” Jawab Jaeyeon cepat, “Kalung itu adalah hadiah ulang tahun dari Donghae Oppa.” Jelasnya.

“Donghae Oppa? Kau memiliki kakak? Lalu dimana dia sekarang?” tanya Key lagi.

Tiba-tiba Jayoung kembali murung mengingat Donghae Oppanya, “Kata Eomma, Donghae oppa sedang berlibur di tampat yang sangat indah, namanya surga. Eomma juga bilang Jaeyeon boleh menyusul Donghae Oppa saat umur Jaeyeon sudah 100 tahun lebih!”

Key membulatkan matanya, ia mengerti maksud dari ibunya Jayoung, “Young-ah, kalau Donghae Oppamu itu berlibur kesurga itu berarti Donghae Oppamu sudah meninggal, surga itu hanya untuk orang-orang baik yang sudah meninggal!”

“Meninggal?”

“Ne, meninggal. Meninggal itu artinya seseorang yang pergi sangat jauh dan tidak akan kembali lagi, seperti katamu, disurga. Orang yang sudah masuk surga tak bisa kembali lagi.” Jelas Key.

Tubuh Jayoung menegang dalam gendongan Key, “Ani, Donghae oppa tidak meninggal, ia akan kembali. Ia hanya sedang liburan!” bantah Jayoung, ia menggelengkan kepalanya keras.

“Kau tak boleh seperti itu Young-ah, Donghae Oppamu bisa sedih kalau kau seperti ini. Kau harus ikhlas.” Hibur Key.

“Donghae Oppa bisa melihatku? Bukankah dia berada ditempat yang sangat jauh?”

“Tentu saja bisa, ia bisa melihatmu melalui bintang-bintang dilangit.”

“Berarti Donghae Oppa hanya bisa melihatku saat malam? Bintang hilang saat siang hari!”

“Bukannya hilang, hanya saja ia tak tampak karena sinar matahari yang terlalu terang.” Jelas Key.

Tanpa terasa mereka kini telah sampai didepan rumah mungil nan indak milik Jayoung. Rumah itu didominasi warna putih dan dipekarangannya terdapat begitu banyak bunga. Sepertinya Eomma Jayoung begitu menyukai bunga.

“Young-ah, kita sudah sampai!” ujar Key, namun suaranya terdengar bergetar, “Aku takut!”

“Takut?”

“Aku takut ibumu marah karena aku kau terluka!” jelas Key murung.

Jaeyeon turun dari gendongan Key namun masih di sangga Key agar tak terjatuh.

Jaeyeon terkikik membuat Key bingung. Ia ketakutan mengapa Jayoung justru menertawakannya? Bagaimna jika ibu Jayoung marah dan Key disalahkan?

“Tenang saja Eomma tak galak kok!” ucap Jaeyeon menenangkan.

“Teman?” Jayoung mengulurkan tangannya sembari tersenyum hangat.

Ragu-ragu Key menerima uluran tangan Jayoung, “Teman” balasnya ikut tersenyum.

Suasana menjadi hening, Key kembali bergetar takut. Jayoung memandang Key penuh tanya, ada apa lagi dengan bocah ini.

“Wae?” tanya Jayoung.

“Yeon-ah, bagaimana kalau kau saja yang memencet bel rumahmu!” kata Key takut-takut.

Beberapa detik Jayoung menatap Key dalam diam, mereka saling bertatapan dan detik berikutnya tawa mereka saling meledak.

TBC

Reders yang tercinta, aku cuma mau kasih tahu sedikit pengumuman, gag penting juga sih sebenarnya.

Masih ingat gag sama FF abal-abal berjudul “Endless Moment” yang menyebutkan bahwa Authornya bernama “Skullprincessa”

Sebenarnya,,, sebenarnya Author yang amatiran itu adalah orang yang sama yaiyu aku, Si Azmi alias Azizah Mizan.

Salam kenal Readers semua,,,

Sebenernya aku buat FF ini karena iseng ja nulis-nulis, sepertinya enak ya kalau bisa bikin cerita bagus, apalagi bisa melahirkan karya bukan hanya sekedar imajinasi otak ja #nunjuk diri sendiri/. Ya walaupun hasilnya gag bagus sama sekali #Readers: IYAAAA/ tapi ini sebagai bukti bahwa aku suka Shinee, apalagi si JJONG yang punya suara super duper BUAGUS amat sangat banget.

Tapi dodol juga ya si Author ini, masak sukanya sama Jjong tapi buatnya malah pake Cast Key. Sebenarnya ada alasan tersendiri aku milih Key, namun itu adalah rahasia Author dan Tuhan Yang Maha Esa.

Oh ya Oh ya satu lagi #Readers:Banyak omong ni Author/ sebenarnya Lee Jayoung itu adalah Adik iparku dari si Hongki, suamiku #PLETAK. Dia asli adiknya Hong.

Bagi Readers yang penasaran sama ni anak kalin bisa Follow Twitternya di @Best_ljy.

Sekian dulu Reders ya, mohon kesediaannya untuk mengkritik, pedas juga gag papa yang penting jangan mematikan. Apalagi kalau Readers yang baik hati dan berjiwa pengasih sekalian mau memberikan Like-nya, aku akan sangat sangat sangat berterimakasih.

With Love

_Azmi_

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “Heebaragi [1.2]”

  1. wouch,,,
    mau dong digendong sma key,,
    ouch, jdi ff mengharukan yg sukses membuat airmataku menetes itu milikmu, author,,,
    keren,
    lanjuuutttt…..

  2. Maniiis… Maniiis… Maniiis…

    Critanya sweet bgt, lucu . . .

    Jd endless moment it author yg bkin? Q smpe meraung2 baca kisah it thor!

    Daebak thor!
    Part.2 cpt ya thor, gak sbar bgt nie. #kelewat menggebu2

  3. kenalan dlu ya azmi, biar nanti manggilnya nggak ‘thor’.. Aya imnida 94line.

    sweet ini mah nice ff azmi !!
    Tp itu nama cewenya jayoung atau jaeyeon ??
    Ada beberapa yg ketukar..

    Tp overall, bagus azmi.. !! Part selanjutnya di tunggu ^^

  4. Walau pada akhirnya Jonghyun sendirilah yang harus ditenangkan. <<<< dasar jjong…

    ou.. lucunyaaa.. hihihi
    dr td sbnrnya ngebayangin… bonekanya segede apa? /plaaaakkkk

    ditunggu next partnya

  5. key disitu umurnya brapa?,bicaranyaa dewasa bnget.
    hehe,,,,anak indigo ya?#plak*azmi:jauh woooy*

    keren bnget deh si key.
    si jayoung malapan kaga tau apa itu surga,naip bnget tuh anak.
    sangat relly jeongmal sweeeet banget *apaan coba bahasanya*

    ditunggu klanjutannya azmi <–entah manggilnya eonnie ato saeng,wong ku gak tau umurmu,hehe \/^-^#piss.
    FIGHTING!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s