Sarang-hae

Sarang-hae

Author             : RahmaRiess

Main casts       : Lee Jinki, Kim Sarang, Kim Jonghyun

Support casts   : Lee Taemin, Kim Kibum, Choi Minho, Yang Yoseob

Length             : OneShot

Genre              : Romance

Rating             : General

A.N                 :

Hallo para reader yang budiman (?). Aku newbie di dunia per-FF-an dan ini FF pertama yang nekad aku kirim buat jadi konsumsi publik karena sebelum2nya FFku cuma aku pendem d laptopku sendiri… hehe… jadi, kalo misalnya plot-nya lompat-lompat, mianhae… kalo ceritanya terlalu ngarang, mianhae… kalo bahasanya berantakan, sekali lagi, mianhae….

Ga usah basa-basi lagi ya, langsung aja… Happy reading…

Author’s POV

“Jjong, guru barunya datang. Dia seorang yeoja, cantik lagi.” Yoseob mencoba membangunkan Jonghyun dari tidur pagi(?)nya.

“hmm…?” tapi sayang yang dibangunkan hanya merespon dengan gumaman kecil.

“Jjong, kau tidak sedang sakit kan?” Yoseob menempelkan punggung tangannya ke kening Jonghyun. “Tidak panas. Tapi kenapa tumben sekali kau tidak bersemangat seperti ini, biasanya kau langsung hyper aktif setiap mendengar kata yeoja cantik. Kau baik-baik saja kan?”

Belum sempat namja imut itu mendapat jawaban dari keheranannya. Terdengar suara pintu kelas yang dibuka. Dari balik pintu terlihat Kepala sekolah melangkahkan kaki ke dalam diikuti seorang yeoja cantik. Yeoja ini adalah guru baru yang akan mulai mengajar di kelas ini.

Semua siswa terlihat heran, mereka mulai saling berbisik dengan kawan sebangkunya masing-masing, mereka tak percaya melihat penampilan orang yang ada di hadapan mereka saat ini. orang yang akan menjadi guru mereka. Dia terlihat masih sangat muda, dan memang ia masih muda. Kau tahu, usianya bahkan mungkin sama dengan rata-rata umur siswa yang berada di kelas ini.

Yeoja yang menggunakan coat berwarna cokelat muda itu kini mulai memperkenalkan dirinya. “Good morning class…” Bahasa Inggris? Benar, dia akan mengajar bahasa Inggris di sekolah ini. “I’m Kim Sarang, I’ll be your english teacher for this semester. So, let’s have a great time together.” Setelah ia menyelesaikan perkenalannya. Kepala sekolah meninggalkannya untuk memulai pelajaran.

<><><>

“YA! Sarang-ah!” mendengar seseorang yang memanggilnya dengan informal seperti itu ia langsung membalikkan tubuhnya.

“Do not ever call me like that here, Kim Jonghyun.” Katanya ketus.

“Aish kau ini. Kau kan…” Jonghyun tidak jadi meneruskan omelannya setelah melihat Sarang yang sedang menatapnya dengan tatapan mematikan. “O… Oke… calm down.” Katanya sambil mengacungkan tangannya dengan telunjuk dan ibu jari yang dibuat huruf O. “Aku kan Cuma mau ngajak pulang bareng nanti siang.” Tambahnya sambil cengengesan.

“Emh… Oke. See you later.” Katanya datar, tanpa ekspresi sementara Jonghyun menatap kepergian yeoja itu dengan mulut terbuka.

<><><>

“Hyung, tadi aku melihat kau ngobrol sama guru baru itu.” Lee Taemin, sahabatnya yang juga merupakan adik kelasnya membuka pembicaraan di tengah makan siang lima sekawan itu, Jonghyun, Taemin, Jinki, Kibum dan Minho.

“Bener hyung? Katanya dia masih muda ya?” Kibum ikut penasaran.

“Guru baru? Emang di sekolah ada guru baru ya?” Minho sepertinya kurang up date dengan info di sekolah.. ckckck…

Jinki yang baru saja mengambil pesanan ayam gorengnya ikut bergabung dengan pembicaraan satu arah itu. Satu arah karena yang di tanya dari tadi hanya fokus dengan spagetinya.

“Jjong, guru baru apa?” Kata Jinki.

“Heuh, kalian ini…” Jonghyun sepertinya terpaksa harus menjawab semua pertanyaan yang tertuju kepadanya itu. “Iya, di kelasku ada guru bahasa Inggris baru. Dia emang masih muda, hmm… atau harus ku sebut kalau dia masih bocah.”

“Bocah?” Keempat namja itu terlihat mengerutkan alis mendengar perkataan jonghyun tadi.

“Iya, BOCAH…” katanya sambil meluruskan telunjuknya ke arah seorang yeoja dengan rambut terikat sebagian yang sedang membawa nampan berisi makanan di tangannya.

“Hah? Kau serius itu orangnya hyung?” kata Minho dengan mata yang semakin bulat.

“Ko cantik hyung?” Taemin berkata dengan polosnya. Dasar anak kecil.

“Hmmm… selera fashionnya bagus.” Kibum yang memang seorang fashionista malah memperhatikan gaya busananya sambil mengusap-usap jenggot(?).

“Kim… Sarang?” Jinki membulatkan matanya. Seketika ketiga namja yang lain, kecuali Jonghyun, menatapnya heran.

<><><>

“Jangan senyum-senyum sendiri kayak itu, kau kayak orang gila.” Kata Jonghyun pada yeoja yang sedang duduk manis di kursi penumpang mobil yang sedang dikendarainya itu.

“Huaaa… kamu pasti ga tau gimana senengnya aku hari ini.” Sarang merentangkan kedua tangannya sampai hampir mengenai kepala Jonghyun yang sedang fokus menyetir di sampingnya.

“Aku tau… Tapi kenapa kau milih sekolahku sih? Di Seoul ini kan banyak sekolah yang bisa kau jajah, kenapa harus sekolahku?” Kata Jonghyun.

“Hahaha… sudah jelas, karena disana ada kamu.”

“Haah kau…”

“Noona! Kau harus memanggilku noona Kim Jonghyun.”

“Kau kan lenih muda dariku.”

“Tapi aku tetap kakak sepupumu meski kau lahir 4 bulan lebih cepat dariku.” Sarang memajang senyum jahil di bibirnya yang tipis.

“Ah… terserah.”

Kim Sarang adalah sepupu dari Kim Jonghyun. Umurnya 4 bulan lebih muda, tapi percaya atau tidak kini dia adalah seorang guru. Sarang memang gadis yang sangat cerdas, di umurnya yang 9 dia sudah menyelesaikan pendidikan dasar, 3 tahun lebih cepat dari orang pada umumnya. Dan saat berumur 14 tahun dia lolos ujian masuk universitas. Dia berkuliah di Amerika mengambil jurusan Psikologi. Dan sekarang saat anak lain yang seusianya masih duduk di bangku SMA kelas 2, dia sudah dapat izin mengajar, meski hanya untuk sementara.

<><><>

Sarang’s POV

Kini aku berada di kamar yang dulu sempat menjadi tempat tidurku sebelum aku melanjutkan studiku ke Amerika. Keluarga paman Jungmo selalu baik padaku, termasuk saat aku harus tinggal di Korea saat ini, mereka mau menampungku.

Aku mengambil tas dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. Di buku itulah aku menuliskan setiap hal yang aku alami dan rasakan setiap hari. Disana juga aku menyimpan sebuah kenangan. Kenangan yang ku harap dapat membawakan kebahagiaan untukku.

Aku membuka halaman terakhir dari buku itu. Ada sebuah foto. Fotoku dengan sorang bocah pria dengan pipi gembil dan mata yang sipit. Kami berdua mengenakan seragam SMP kami waktu itu. Lee Jinki. Nama bocah pria jahil yang dulu sangat baik padaku, nama sahabat dari sepupuku Jonghyun. Dan… Nama dari orang yang aku sukai.

Ini rahasia. Dulu saat kami masih kecil, aku sering sekali memperhatikannya jika ia sedang bermain dengan Jonghyun. Aku suka melihat matanya yang sipit itu. Matanya bagus, apalagi saat tersenyum matanya akan menghilang dan hanya tertinggal sebuah lengkungan yang sangat indah menurutku.

Aku menyimpan perasaan itu padanya selama bertahun-tahun. Lucu memang, saat itu aku masih seorang anak kecil, namun aku juga heran kenapa perasaan padanya tidak kunjung hilang. Sampai saat ini, aku masih menyukainya. Sangat menyukainya.

<><><>

Author’s POV

Minggu pagi yang sangat cerah. Sarang dengan setelan olahraganya berlari-lari kecil menyusuri jogging track di sebuah taman di dekat apartemen keluarga pamannya. Dia berhenti di bawah sebuah pohon besar yang membuatnya tertegun teringat kenangan masa lalunya.

Dia berjalan menghampiri bangku kayu di bawah pohon rindang itu. Tangannya menelusuri setiap jengkal kayu yang nampak sudah lapuk. Jemarinya terhenti di salah satu sudut senderan bangku itu saat ia merasakan tangannya menyentuh ukiran yang sangat akrab di ingatannya.

Ia tersenyum mendapati sebuah ukiran berbentuk hati dengan inisial nama di tengahnya. KSR & LJK. Ukiran yang ia buat sendiri 3 tahun yang lalu. Di hari ketika di tempat ini ia memberi tahu Jinki kalau ia akan melanjutkan studinya ke luar negeri. Dan saat itu Jinki marah sampai ia tidak mau mengucapkan salam perpisahan padanya.

“Haah… Jinki-ah…” katanya lembut sambil tersenyum menatapi bentuk hati itu.

“Ne, Sarang-ah.” Ia berbalik ketika mendengar seseorang menjawab perkataannya.

“Jinki-ah?” Sarang membuka lebar matanya saat tahu kalau orang yang kini berdiri di depannya adalah orang yang ia sebut namanya tadi.

“Ne, Sarang-ah.” Jinki mengulangi perkataannya tadi.

“Neol?”

“Kenapa?”

“Hah?”

“Kenapa ga bilang kalo kamu udah balik ke Korea. Kamu jahat, bukannya menemuiku malah tiba-tiba jadi guru baru di sekolah.”

“Emh… itu…”

“Nan neomu bogoshippo.” Jinki memeluk Sarang sebelum ia dapat menjawab pertanyaannya.

Sarang tidak dapat bergerak. Ia tidak mau melepas pelukann dari orang yang memang  sangat ia rindukan itu.

Beberapa saat mereka tetap dalam posisi seperti itu. Sarang membenamkan wajahnya di dada Jinki yang tidak membiarkan gadis itu melepas pelukannya.

“Kamu bodoh. Kenapa kamu pergi?” Kata Jinki saat mereka sudah saling melepas pelukan dan duduk di bangku kayu itu.

“Aku kan harus nerusin sekolahku, emh… Oppa.” Sarang baru saja tersadar kalau ia memang seharusnya memanggil Jinki dengan sebutan Oppa karena Jinki memang 1 tahun lebih tua darinya.

“Maksudku kenapa kamu pergi tanpa ngasih tahu aku kalau kamu menyukaiku.” Kata Jinki.

“HAH?!!” Sarang benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.

Jinki hanya tersenyum lalu memukul pelan kepala gadis yang sedang duduk di sampingnya itu. “Katanya kau pintar, masa gitu aja ga tau. Kamu pikir ukiran jelek kamu itu akan terus bersih kalau selama tiga tahun di biarin gitu aja?”

“Jadi??”

Namja berambut cokelat itu mengangguk. “Iya, aku yang bersihin supaya tetep keliatan dan ga ketutupin lumut. Dan supaya orang lain tahu kalau aku juga sayang kamu.”

Sarang berkali-kali menepuk pipinya untuk meyakinkan kalau ini bukan mimpi. Meski telah menjadi guru, tapi ia tetap seorang gadis berusia 17 tahun yang masih sangat polos.

Seolah bisa membaca pikiran Sarang, Jinki mencubit pelan pipi putih gadis itu. “Kau tidak bermimpi.”

“Tapi, Oppa benar-benar…”

Belum selesai bicara ia sudah mendapat jawaban yang pasti. “Ne, saranghae Kim Sarang.”

Gadis itu tersenyum manis. “Nado Oppa.” Katanya.

<><><>

Sudah hampir 3 bulan sejak Sarang mulai mengajar di sekolah dimana Jinki juga sekolah disana. Beruntung Sarang hanya bertugas mengajar siswa kelas 2, bukan kelas 3. Karena kalau harus mengajar di kelas 3, tidak dapat di bayangkan bagaiman rasanya mengajar pacar sendiri.

Keduanya merahasiakan hubungan mereka dari siapapun. Termasuk Jonghyun, dia juga tidak diberi tahu kalau Sarang sudah resmi menjadi Pacar sahabatnya.

Mereka berdua cukup pandai bermain kucing-kucingan dengan orang-orang. Sarang selalu menghindari tempat-tempat umum yang biasa didatangi Jinki, katanya ia takut kalau wajahnya yang memang mudah sekali memerah menimbulkan kecurigaan kalau tiba-tiba wajahnya berubah padam saat bertemu Jinki. Walau alau pun tidak sengaja bertemu, Jinki selalu sengaja menjahilinya dengan memanggilnya ‘songsaengnim’ yang sebenarnya membuat Sarang merasa malu dan canggung.

Terkadang mereka bertemu secara diam-diam di taman belakang sekolah jika sama-sama sedang tidak sibuk. Begitupun hari itu. Kebetulan Sarang sedang tidak ada jadwal mengajar dan Jinki juga sedang ada kelas kosong. Jadilah mereka bertemu di taman itu.

“Oppa, ada yang belum aku ceritain sama kamu.”

“Apa?” Jinki menatap Sarang serius.

“Sebenarnya, aku belum bener-bener jadi guru disini. Aku lagi bikin penelitian soal psikologi anak sekolah buat tugas akhirku.” Sarang menceritakan semuanya pelan-pelan. Termasuk kenyataan bahwa tugasnya hampir selesai dan ia akan segera kembali ke Amerika.

“Jadi kau mau pergi lagi?” Jinki menatap kakinya yang sedang memainkan tanah.

“Iya, minggu depan. Maaf Oppa?”

Jinki memeluk Sarang yang mulai meneteskan air mata.

“Hyung!”

“Songsaenim!”

“Noona!”

“Sarang!”

Keduanya refleks saling menjauh saat menyadari kalau ada yang melihat kebersamaan mereka. Kini Jonghyun, Kibum, Minho dan Taemin sedang mematung dengan mata yang membulat karena melihat pemandangan tadi.

“Kalian???” Kata jonghyun sambil menunjuk mereka berdua secara bergantian.

“Tunggu Jjong, biar aku jelasin.” Jinki menghampiri sepupu kekasihnya itu khawatir ia akan marah.

“Kalian, kenapa kalian ga bilang kalo kalian udah jadian. Kalo gini kan aku ga usah repot-repot mikirin cara buat ngedeketin kalian. Huh!” Tidak disangka ternyata jonghyun sebenarnya tahu kalau mereka berdua saling menyukai, sayangnya ia tidak tahu kalau ternyata mereka berdua telah saling mengungkapkan.

Jinki dan Sarang menjelaskan kepada keempat namja itu mengenai mereka berdua. Bagaimana mereka bisa saling menyukai. Bagaimana mereka harus berpisah. Bagaimana mereka bisa kembali bersama. Dan terakhir bagaimana Sarang harus kembali pergi ke Amerika.

“Ga apa-apa hyung, yang penting kan sekarang kalian udah resmi pacaran. Jadi hyung ga usah khawatir karena dia pasti balik lagi kesini buat hyung, iya songsaengnim?” Kata Taemin polos sambil menepuk pundak Jinki dan menatap Sarang.

Perkataan panjang lebar dari si maknae ini membuat ia mendapatkan tatapan tajam dari orang-orang disekelilingnya.

“Wae? Apa aku salah?” kata Taemin menyadari hawa aneh mengepungnya.

“Ya! Taeminnie, kamu masih kecil ga pantes ngomong kayak orang tua begitu.” Kibum mengacak-acak rambut Taemin diiringi gelak tawa dari mereka berlima.

<><><>

Jinki menggenggam erat tangan Sarang yang sedang duduk di sampingnya. 45 menit lagi pesawat yang akan membawa Sarang kembali ke Amerika akan tinggal landas.

“Selesaikan tugas kamu yang bener, biar cepet lulus.” Kata Jinki sambil terus memainkan jemari gadis tersayangnya itu.

“Iya…” Sarang menyandarkan kepalanya di bahu Jinki. “Oppa juga belajar yang bener ya…”

“Iya. Sarang-ah?”

“Emh?” Ia mengangkat kepalanya.

“kamu harus janji kalo kamu akan cepet pulang.”

Ia  mengangguk sambil mengacungkan jari kelingking yang di sambut oleh jari kelingking Jinki. “Aku janji Oppa.”

“Sarang, jongmal saranghae.”

Gadis itu tersenyum lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir Jinki sebelum beranjak sambil menarik koper-koper besarnya. “That’s my first Oppa, saranghae.” Ia pun pergi memasuki gerbang keberangkatan diiringi lambaian tangan Jinki dan keempat namja lainnya yang dari tadi hanya menjadi penonton adegan romantis (?) itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Fin…

Gimana..? Gimana..? Gimana…??? Kalo banyak kurangnya, sekali lagi, mianhae… #bow

Akhir kata, author mau minta comment-nya nih… kritik dan saran yang membangun akan sangat berarti untuk kebaikan di masa yang akan datang…

Akhir kata banget, makasih buat yang udah mau baca FF kacangan ini… sekali lagi, makasih…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “Sarang-hae”

  1. ku kira jonghyun tuh tmen baiknya sarang,trnyata sepupu-an.
    bgus thor,tpi mian nih…gk dpet feel-nya.
    Mungkin krna kurang greget critanya.

    trus brkarya,fighting!

  2. THIS FF IS SOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO NICE XDDD.

    Keep writing!

  3. LJK.. Lembar jawaban komputer #plakk *di jitak jinki*

    Nice ff debut thor, sama kya yg lain pengen minta sequel deh pokoknya !!
    Trus ntar ceritanya ampe nikah, punya anak jg gapapa thor *reader byk maunya*

    Keep writing thor ^^

  4. ceritanya kurang dapat feelnya… 🙂
    ini author yg only love juga kan??
    tulisannya yg only love lebih bagus dari pada yang ini…
    klo yg ini terkesan sangat terburu-buru dan kurang rapih dlm menggunakan tata bahasanya. 🙂
    tp ide ceritanya sdh bgus kok 🙂 momo suka.. 🙂
    ok mianhae 🙂
    n fighting! semoga ff author yg berikutnya bisa lebih bgus dri ini! 🙂

  5. Authorrrr~~~ bikin sequelnyaaa..
    ceritanya bagus bgt, menarik, unyu, tpi ada beberapa yang gak dapet feelnya diotakku.. 😦
    nice ff, daebak! 🙂

  6. Yaayy…..onew belajar yang bener sono, pacarmu kelewat pinter, malu dong kalo ga pinter hehe mianhae MVPs 😀
    karena banyak yang minta sequel, saya juga terpengaruh thor, kayanya mending ada sequelnya hehe
    emang bener sih plotnya terkesan rada cepet, tapi daebak ko thor ide ceritanya
    keep writing 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s