Christmas Present

Christmas Present

Author             : ZaKey

Main Casts      : Kim Jonghyun, Kim Kibum (Key)

Support Cast    : Lee Taemin

Length             : Oneshot

Genre              : Romance

Rating              : PG-13

Apa dia tidak menyadari kehadiranku?

Sepertinya tidak.

Ia tampak asyik sekali bercakap-cakap dengan yeoja yang duduk memunggungiku. Tak jarang ia tersenyum, dan kalau aku tidak salah lihat, tangannya terus terulur ke arah yeoja itu – entah apa yang dilakukannya. Apa ia tidak sadar aku duduk lima meter darinya?

Aku memandang cangkir kopiku yang sudah tak lagi menguarkan uap. Aroma manisnya hilang entah kemana. Walaupun belum menyentuhnya sedikit pun, aku tahu rasanya benar-benar pahit. Sepahit kenyataan di depan mataku.

Aku tidak tahu apa rencana Tuhan, tapi yang jelas, kini di depan mataku, namja yang seharusnya berada di sisiku sekarang bersama yeoja lain yang bahkan kelihatannya sangat tidak selevel dengannya. Dan mereka tertawa.

Ya, tertawa. Key-ku yang berharga diri tinggi itu kini tertawa bersama seorang yeoja asing. Sementara kedua mataku lekat menyorot mereka, otakku bekerja keras menggali ingatan tentang yeoja mungil berambut merah itu.

Saudara? Bukan. Teman kuliah? Bukan juga. Teman kursus? Jelas bukan – seingatku tidak ada kenalan Key yang tidak kukenal. Ya, kau bisa anggap aku posesif, tapi aku benar-benar tidak tahan jika tidak tahu siapa yang bicara dengan Key-ku.

Dalam kondisi normal, aku pasti akan berjalan cepat ke arah mereka dan menarik tangan Key agar terus bersamaku, atau paling tidak, aku langsung menepuk  bahu yeoja itu dan bertanya siapa dia. Tapi kini…entahlah. Kelihatannya baik mata maupun otakku menikmati pemandangan yang bisa dibilang cukup mesra itu.

Key merapikan rambut pirangnya dengan jari – seperti kebiasannya – dan menopang dagu, memperhatikan tiap kata yang meluncur dari bibir yeoja itu. Belum pernah aku melihat Key menaruh perhatian begitu besar pada perkataan orang lain. Mata sipitnya terkunci pada wajah yeoja itu dan bibirnya membentuk segaris tipis, tanda ia sedang berkonsentrasi.

Akh, cukup! Aku sudah muak dengan semua ini!

Belum sempat aku berdiri, Key dan yeoja itu telah berdiri dan meninggalkan kafe. Aku menyipitkan mata. Kemana mereka pergi? Aku tidak melihat Alfa-Romeo Brera milik Key saat aku akan masuk kafe, berarti hanya dua kemungkinan: mereka akan pergi berjalan kaki atau naik mobil yeoja asing itu.

Memikirkan kemungkinan kedua yang terdengar jauh lebih buruk bagiku, aku cepat-cepat keluar dari kafe, tidak mempedulikan teriakan pelayan yang tanpa sengaja kutabrak. Mataku hanya terpaku pada dua punggung yang berjalan menyusuri trotoar itu.

Mereka berjalan santai, seakan menikmati setiap langkah yang mereka lalui. Tak jarang salah seorang di antara mereka menunjuk salah satu etalase toko yang bercahaya.

Tiba-tiba, di saat yang tidak kusangka sama sekali, Key menoleh ke balik bahunya. Mata sipitnya memandang ke seluruh area dengan tajam, membuatku sontak menghentikan langkah dan tak bergerak sedikit pun. Apa ia menyadariku? Apa ia merasa dibuntuti?

Yeoja berambut merah itu ikut berhenti dan menggumamkan sesuatu pada Key. Key menggeleng pelan, tersenyum dan menggandeng lengan yeoja itu.

Bagus. Sekarang, setelah tidak menyadari kekasihnya berada di jarak kurang dari sepuluh meter darinya, ia menggandeng yeoja itu seakan mereka memang seharusnya begitu.

Tanpa sadar aku sudah mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menempelkan di telinga, mendengar nada sambung sambil tetap memperhatikan Key yang kini tampaknya menyadari ponselnya berbunyi. Ia berhenti melangkah.

“Yoboseyo?” sapanya ceria, seperti biasa.

“Key-ya…” desisku pelan. Sejujurnya aku tidak tahu apa yang ingin kubicarakan padanya. Kupikir aku hanya ingin memastikan bahwa ia tetap milikku.

“Ah, Jjong hyung…” Key melirik yeoja di sebelahnya, “ada apa?”

“Dimana kau sekarang?” tanyaku lirih. Key tertawa gugup, memperhatikan isyarat tangan yeoja itu – kelihatannya ia bermaksud memberitahu Key suatu hal.

“Aku…aku berada di tempat kursus seperti biasa. Ini kan hari Sabtu, hyung,” jawab Key. Meski bernada ceria, aku tahu ada nada tidak yakin di suaranya – dan itu karena ia tengah membohongiku.

“Kau pulang seperti biasa? Bisa aku menjemputmu nanti?” nada suaraku lebih seperti mengancam daripada menawari jemputan. Key menggaruk hidungnya, kemudian menjauhkan ponsel dari kepalanya dan bertanya sesuatu pada yeoja itu, yang menjawab dengan gelengan cepat.

“Uh, tidak usah, hyung. Lebih baik hyung istirahat saja di rumah,” elaknya cepat. Aku memejamkan mata, bertanya-tanya apakah ‘kenapa’ akan membuatnya curiga. Sebenarnya, sikapnya-lah yang jauh lebih mencurigakan.

“Hm, geurae?” Key mengangguk lega mendengar jawabanku, ia tampak begitu manis.

“Ah, hyung?”

Aku mengurungkan niat untuk menutup telepon, “ne?”

“Nanti malam. Akan kutunggu di taman,” gumamnya pelan, terdengar malu.

“Ada apa?” tanyaku tak acuh. Key memutar bola mata,

“Pokoknya datanglah. Aku akan terus berada disana sampai kau datang,” tegasnya dan menutup telepon.

Aku masih memegang ponsel di tanganku, memperhatikan Key dan yeoja itu berjalan semakin menjauh. Kelihatannya Key mengatakan sesuatu yang lucu hingga yeoja itu tertawa dan memukul pelan bahunya. Key tidak keberatan, malah melingkarkan lengannya di leher yeoja itu.

Ah, apa yang sebenarnya terjadi padamu, Key?

~~~

Aku memainkan gantungan ponselku dengan gerakan malas. Sengaja tidak kuikuti mereka lebih jauh ketika mereka berbelok ke toko hadiah dan memutuskan untuk pulang. Mungkin nanti malam Key akan menceritakan semuanya. Mungkin ia akan mengaku bahwa ia mencintai yeoja, bukan namja sepertiku. Tapi jika itu kenyataannya, kenapa ia masih bersikap seperti tidak ada apa-apa ketika aku meneleponnya?

Aku menutupi wajahku dengan bantal dan mengerang tertahan. Ingatan tentang apa yang kulihat tadi siang sungguh membalikkan mood-ku 180 derajat. Seandainya tadi aku tidak berkunjung ke coffee shop, mungkin aku tidak akan mengetahui semuanya. Mungkin aku masih tersenyum tiap kali Key muncul di pikiranku.

Kulirik jam di atas meja. Masih pukul empat. Aku masih punya waktu untuk mempersiapkan diri. Perlahan aku bangkit dari tempat tidur dan menghampiri cermin, memandangi kedua mataku yang sayu dan rambut hitamku yang acak-acakan. Sial, kenapa wajahku menyedihkan seperti ini? Sejauh itukah aku terhempas hanya karena melihat Key bersama seorang yeoja?

“Ck, eotteohke?” erangku sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Oh Tuhan, hari ini terasa begitu berat…

~~~

Jarum jam berderak ke angka tujuh saat kulihat Porsche Boxster memasuki tikungan.  Mobil silver mengilap itu tidak berhenti di depan taman, melainkan sedikit jauh disana. Di tengah kegelapan, dapat kulihat Key keluar dari jok depan, membungkuk beberapa kali sebelum menutup pintu dan berjalan cepat menuju taman.

Aku tidak mengubah posisiku dari duduk di atas kap Audi R8 kesayangan milikku hingga Key berjalan mendekat. Ia terkekeh dan mempercepat langkahnya begitu menyadari keberadaanku.

“Menunggu lama, hyung?”

Ah, nada itu. Aku benar-benar menyukai nada bicara Key. Aku mengangkat bahu tak acuh,

“Tanya saja pada mobilku,”

Key tersenyum manis, memamerkan lesung pipinya, “turunlah, hyung. Kau tahu aku tidak suka duduk di atas kap mobil.”

Aku menurutinya dan melompat ke tanah, menyebabkan salju terciprat ke mantelnya. Tapi ia hanya terkekeh, padahal biasanya ia akan mengomel panjang lebar. Ya Tuhan, kurasa ini benar-benar pertanda buruk.

“Kenapa kau memanggilku kesini, Key?” tanyaku pelan. Key memandang langit penuh bintang dengan ekspresi berpikir.

“Uhm, menurutmu?”

Aku memandang wajah sempurnanya beberapa saat, sebelum memberanikan diri mengungkapkan pikiran yang terus membelengguku dari siang tadi.

“Kuharap kau tidak memintaku putus…”

Key memandangku tajam, “kenapa kau berpikir begitu?”

“Karena…” aku mengacak-acak rambutku, frustasi mengingat kejadian itu, “karena kupikir kau tidak tertarik lagi padaku.”

“Kenapa kau berpikir begitu?” tanyanya lagi. Matanya kini menyorotkan sesuatu yang menyeramkan.

“Key, jangan berbohong lagi. Aku melihatmu bersama dengan seorang yeoja tadi siang. Kalian tampak bahagia. Kalian tampak serasi. Kalian – akh!” aku berbalik memunggunginya dan menarik napas panjang, berusaha menenangkan dadaku yang berdebar kencang karena emosi. Key menarik lenganku hingga kami kembali berhadapan. Wajahnya pucat.

“Hyung, itu – “

“Itu apa? Kau berbohong padaku! Kau bilang kau di tempat kursus tapi ternyata kau berjalan-jalan dengan seorang yeoja. Aku melihat semuanya, Key!”

Key memicingkan mata. Aku tahu ia akan menyemburku dengan kata-kata pedas, tapi aku tidak peduli.

“Kau tidak pernah menceritakan tentang yeoja itu padaku. Kau sengaja menyembunyikannya karena kau menyukainya?”

“Hyung, dengar dulu – “

“Apa yang bisa kudengar darimu, Key? Kau membuatku kecewa!” semburku cepat.

“Kumohon – “

“Apa?! Membiarkanmu bersama yeoja murahan itu?!” Key melebarkan mata mendengar bentakanku. Bahkan aku sendiri terkejut mendengar nada bicaraku yang begitu kasar dan liar. Key merapatkan bibirnya dan mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya.

“Mungkin lebih baik aku pergi saja. Tidak ada gunanya berada disini dan mendengar semua ocehanmu,” gumamnya lirih. Ia meraih tanganku dan meletakkan sebuah kotak di telapak tanganku. Matanya masih menyiratkan kemarahan.

“Asal kau tahu, hyung. Yeoja itu sepupuku dari Amerika, dan ia membantuku mencarikan hadiah natal untukmu. Puas dengan jawabanku?” desisnya dingin, sedingin salju yang kini mulai turun dari langit – entah untuk mendinginkan pikiranku atau sekedar meramaikan suasana.

Aku memandang nanar kotak kecil di telapak tanganku. Dari sudut mataku dapat kulihat Key berjalan menjauhiku.

Ya Tuhan, jadi…

Aku mendongak memandang punggung Key. Dengan satu gerakan cepat kumasukkan kotak itu ke dalam saku dan berlari menyusulnya. Ia terkesiap saat aku mengulurkan kedua tanganku dan merengkuhnya ke dalam pelukan.

Kusandarkan dagu pada bahunya yang bergetar samar, “mianhae. Jeongmal mianhae, Key. Seharusnya aku berpikir sebelum membentakmu.”

Key tidak menjawab, tapi aku merapatkan pelukan,

“Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Otakku dipenuhi olehmu hingga tak sadar sekarang natal.”

“Itu bukan salahmu, hyung. Aku yakin akan berbuat hal yang sama jika melihatmu seperti itu…” lirihnya. Aku melepaskan pelukan dan memutarnya agar menghadapku.

Mata tajamnya tampak berkilau ditimpa sinar lampu taman. Kulitnya putih pucat serupa salju yang masih turun dengan lembut. Alis tebalnya bertautan, menciptakan ekspresi kesal sekaligus lega yang membuatnya tampak begitu manis. Bibirnya bergetar.

“Aku tidak peduli apa yang kau berikan padaku, Key. Asalkan kau masih berada disisiku, itu sudah cukup,” bisikku sambil meletakkan kedua lenganku di bahunya.

Key tersenyum manis, “aku harap kau peduli. Aku mencari hadiah itu hingga membuatmu cemburu setengah mati – bagaimanapun kau harus peduli.”

Aku terkekeh dan menyapu bibirnya yang hangat dan lembut perlahan. Aku menjauhkan wajah untuk melihat wajahnya yang tampak terkejut, tapi ia membalas ciumanku, sama lembutnya.

“Merry christmas, Key…”

Key tersenyum lembut dan membenamkan kepala di dadaku, memberi kehangatan yang sulit dijelaskan.

“Uh, hyung? Kalian sedang apa?”

Aku melepaskan pelukan dan menyadari Taemin, tetangga apartemen Key, sudah berdiri di sebelah kami dengan tatapan ngeri sekaligus tidak percaya.

“Eh…” Key melirikku singkat, kemudian memaksakan tawa, “selamat natal, Taeminnie~”

 

..::End::..

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “Christmas Present”

  1. ehm,cukup shokk pas jjong nyium key.
    wlaupun ku jongkey shipper,tpi…ehehe,agak mual rasanya klo sesama lelaki ciuman.
    feelnya sih..lumayan dpet tpi pas adegan itu loh,,,,ngga nyangka aja.

    bang pisang kbiasaan deh,dateng malah ngerusak suasana.
    minnie sama aku aja sini*diinjek taemints*

    krna critanya boy x boy,knapa ngga ada tlisan yaoi nya?*skedar kritik&saran*
    nice ff n trus brkarya zakey eonnie.
    FIGHTING!

  2. Ups.. Kaget pas tau boy x boy.. Apalagi ga dikasih tau di bagian genre-nya kalo bakal yaoi.. Awalnya ku kira si ‘aku’ itu yeoja.. Ternyata……
    Tpi berhubung aku dah baca yah q tinggalin jejak dch.. Padahal jujur aq ga suka yaoi.. Ehehe..
    Mian*bow

  3. kyaaaaa ,,,,,,, jongkey !!!!!!
    lucu dhe ngebayangin jjong bener2 cemburu ,,
    waacchh ,,,,, karakter key disini terasa beda dari biasanya ..
    huhuhhuhuhuhu ,,, imuuuttt !!

  4. kaget thor waktu pertama kali baca kata namja.. Baru nyadar kalo ini yaoi.

    Ceritanya nice, tp kurang panjang thor.. Hehe
    Tetem.. Ganggu aja deh *tarik tetem, ajak pulang sambil gandengan*

    Nice ff, ditunggu karya lainnya

  5. Aku kaget pas tau ini boy x boy..aku pikir si ‘aku’ itu cewek -__-”
    tapi, bagus kok, feelnya dapet bgt. cuma pas adegan kiss nya, agak ngeri ngebayanginnya..hehe >.<

  6. omg.. jd jongkey.. huuuaaa
    prtma kli bc ff yg boy x boy…
    tp ceritanya keren.. g trlalu menunjukkan mereka penyuka sesama..

  7. Ku kira tuh bukan yaoi.ternyata yaoi aq gk suka yaoi,,. Cukup Shokk pas di bagian kissx..tpi daebak kok ceritanya:-D..trus berkrya ya oennie..

  8. Engh…ini YAOI ya? Kok nggak ada tulisannya di atas sih Thor? Biasanya ada tulisan ‘Shounen ai’ di atas. Ahaha, tak apalah, namanya juga manusia.

    Yeeeeey JongKey~ kekeke, Author JongKey shipper? Sama dong XD.

    Yeobo (baca : Taemin), kamu kebiasaan deh selalu merusak suasana romantis dengan pertanyaan polosmu itu XD. Daebak Thor FFnya~

  9. Aq kira si aku-nya iku yeoja, tp trus inget main cast-nya jjong dan key oppa,,

    sebenernya sih rada gak suka boy x boy tp dah baca ya dah lanjutin aja 😀
    Tp sweet kok ceritanya 😀
    keep writing ya author 🙂

  10. Aigooo, aku, aku arghhh.
    ini apa?#speechless
    aku gk nyangka ini jdnya yaoi.
    aku kira ‘hyung’ itu cma alibi key bwt cewek(spupu) itu. tp aku bru sadar maincast-ny gak ada cewek.
    sukses ff!
    keep writing!

  11. Gak bisa byangn mrka kaya gtu.
    Haha
    tp adegan pas key membenamkan kepala’a ke dada jonghun agak janggal, kan key lbh tinggi.
    But nice ff 🙂

  12. aku kira bukan yaoi. shock pas tau ternyata percintaan sesama.
    feel nya dapet. singkat tapi ngena. 🙂

    endingnya speechles abis gitu ketawa2 soalnya bayangin wajah taemin yg polos ngeliat adegan kissing jongkey. kekeke

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s