Erased – Part 3

Title                       :               Erased [3 .5] – The Reunion

Author                  :               Choi Minjin

Main Casts          :               Lee Jinki, Choi Minho

Supporting casts :            Song Jina (imaginary), Key, Jonghyun, Taemin

Genre                   :               Life, family, sad, tragedy, a lil bit romance

Length                  :               Sequel

Rating                   :               General

AN                          :               Annyeong, ini FF sequel keduaku setelah ‘Hwasal’ sekaligus FF terpanjang yang pernah kutulis sejauh ini. FF ini juga agak membingungkan karena sering berganti point of view. Tapi nggak papa ya? Ya ya ya? *maksa*.

FF ini mungkin juga FF terakhirku sebelum aku mau fokus dulu ke ujian *doakan aku sukses ya chingu… ^^*, nanti aku akan balik lagi nulis FF tepat setelah ujian selesai. Please leave a comment ya, happy reading….

******************************

Pukul 21.30 ketika aku sampai di depan pintu flatku, merasa luar biasa lelah dan ingin tidur. Tetapi hasrat tidur itu tampaknya harus kutahan dulu begitu kulihat ahjumma sebelah mendatangiku.

“Heh, kau! Kapan kau mau bayar uang sewa?”

Ah, itu lagi. Kenapa dia tidak juga bosan menagihnya?.”Aku belum punya uang. Tolong beri waktu sebentar lagiiii saja. Lagipula aku kan baru menunggak dua bulan.”

“Baru dua bulan? Jadi kau ini berniat mau menunggak berapa bulan? Sama seperti sebelumnya, enam bulan? Kaupikir aku ini apa? Aku juga butuh uang untuk makan. Seminggu. Kalau kau tidak juga membayar, masih ada banyak orang yang ingin menyewa flat ini.”

Aku membungkuk ketika dia pergi melewatiku. Ah, kegundahanku bertambah lagi. Bagaimana aku mencari uang sebanyak itu dalam seminggu?

Tapi tidak ada yang lebih ingin kulakukan saat ini selain tidur. Setelah membuka pintu, aku bahkan tidak sanggup untuk menekan saklar lampu. Kucopot asal saja sepatuku lalu tanpa berganti baju, kurebahkan tubuhku ke tempat tidur. Kepalaku sangat sakit, seperti dipukul-pukul palu. Aku tidak butuh apapun selain tidur.

Tetapi tidurpun ternyata membuat kepalaku bertambah sakit. Berkali-kali mimpi buruk menghantuiku, lalu aku terbangun, tidur lagi dan mimpi lagi. Begitulah berkali-kali, sampai kusadari hari sudah pagi. Cahaya matahari menyeruak masuk dari sela-sela tirai jendela. Untuk beberapa saat aku hanya terduduk di tempat tidur, merasa kosong dan tidak tahu apa yang harus kulakukan. Bodohnya aku, kenapa semalam aku tidak bekerja padahal aku sangat membutuhkan uang?

Setelah beberapa menit memulihkan kesadaran, aku beranjak ke dapur, meminum segelas air untuk sekedar menyegarkan otakku. Lalu lagi, aku hanya terduduk di kursi tanpa melakukan apapun.

Mungkin aku harus keluar mencari udara segar.

Ketika kubuka pintu, aku benar-benar terkejut. Jina berdiri tepat di hadapanku, menundukkan kepala dalam-dalam.

“Jina?”

Dia mengangkat kepalanya perlahan-lahan. Matanya yang besar tampak berkilauan oleh air mata,”Oppa, aku telah berpikir semalaman. Aku memang salah. Maafkan aku.”

Aku tidak mau mendengar permintaan maaf atau apapun itu yang akan mengingatkanku akan kekecewaanku terhadap Jina. Aku hanya ingin melupakannya. Seperti yang dia katakan, kan? Lebih baik lupa daripada sakit.

“Jina, sejak kapan kau berdiri di situ? Lebih baik kau pulang.”aku tidak mengenali suaraku sendiri. Bagaimana aku bisa berkata sedingin itu? Aku rasa ada yang salah denganku. Mungkin aku harus menyendiri selama beberapa saat.

“Tapi oppa, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

Aku tidak ingin pergi kemana-mana. Aku hanya ingin sendiri. Tapi aku juga malas mengatakan apapun, maka aku hanya menggeleng padanya.

“Tapi oppa…”Jina menarik tanganku,”aku hanya ingin mengajakmu ke rumahmu dulu. Kalau… kalau kau mau.”

Semua kegundahanku berubah menjadi udara yang menyesakkan paru-paru, membuat aku ingin tersedak. Andai dapat kuputar waktu. Andai aku tahu lebih awal. Andai aku dapat mengunjungi rumah itu dari dulu.

~~~~~

Minho’s POV

Kuhampiri Jonghyun yang sudah menunggu di depan gedung apartemenku. Dia sedang duduk di kursi pengemudi di mobilnya sambil mendengarkan musik ketika aku masuk. Kemudian dia menyalakan mobil dan kami berangkat, entah kemana.

“Jonghyun, kau belum beritahu aku kita mau kemana.”

Jonghyun menunjuk beberapa map yang diletakkannya di dashboard,”Dia menyuruh kita melihat-lihat tanah yang akan diambil alihnya. Kau ingat surat jual beli tanah itu?”

“Tentu saja. Aku harus terjun bebas dari lantai tiga untuk mendapatkan surat itu.”

“Berterimakasihlah padaku yang selalu mempersiapkan semua hal dengan sempurna. Coba bayangkan kalau aku tidak menyediakan tempat mendarat yang aman bagimu. Kau pasti sudah mati sekarang.”

Aku hanya mendengus. Tapi memang tidak dapat dipungkiri, Jonghyun sangat teliti dalam berbagai hal. Key lebih lagi. Dia sangat cermat, walaupun kadang-kadang sifatnya itu sangat menyebalkan. Tapi sering juga sangat berguna dalam berbagai situasi.

“Dari yang kutahu, tempat itu cukup jauh. Mungkin kita baru akan sampai nanti sore.”

“Oh ya? Tapi sebenarnya bagaimana dia akan mengambil alih tanah itu?”aku membuka-buka berkas jual beli tanah itu dengan agak bingung. Tidakkah ‘dia’ bisa dicurigai sebagai pencuri surat-surat ini jika ketahuan mengambil alih tanahnya?

“Kau seperti tidak tahu saja. Dia kan punya banyak nama, wajah, perusahaan, akal, yang bahkan tidak bisa kita bayangkan.”

Aku tidak bisa menahan senyumku. Benar kata Jonghyun. Orang itu, dia yang membayar kami, adalah sosok yang luar biasa. Dia bisa melakukan hal-hal mustahil yang bahkan tidak berani aku bayangkan. Aku tahu aku terperangkap dalam jerujinya, aku adalah alatnya. Tetapi aku menikmatinya.

Sekali lagi pemikiran itu menakutiku.

~~~~~

Jinki’s POV

Sepanjang perjalanan dengan kereta, aku hanya dapat memandang ke luar jendela, lagi-lagi dengan perasaan tidak menentu. Setiap kali aku melihat Jina yang duduk di depanku, aku tidak tahan untuk tidak berpaling. Entahlah. Aku tidak membencinya. Aku hanya terlalu marah, tapi tidak berani menampakkannya. Bagaimanapun, aku tidak tega melihat Jina sedih.

Setelah perjalanan panjang dengan kereta, kami mencari kendaraan umum untuk kemudian berjalan kaki sejauh kira-kira satu kilometer untuk sampai di tempat ini. Sebuah tanah kosong berumput dengan pemandangan laut yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Tempat ini pun penuh oleh rerindangan pohon yang menyejukkan. Untuk sesaat aku dapat melupakan segala masalah yang menghimpit dadaku.

“Kaulihat rumah itu oppa?”Jina menunjuk sebuah rumah tua tak terurus agak di kejauhan. Rumah itu sudah dipenuhi tanaman menjalar di dinding-dindingnya dan bahkan di beberapa tempat, dindingnya sudah retak-retak,”Itu… itu rumah orang tuamu. Rumahmu dibesarkan sejak bayi. Juga tempatku tinggal selama dua tahun.”setelah mengatakan itu, Jina menunduk, tidak berani menatap mataku.

Perasaanku hangat, membayangkan rumah itu ketika masih kami tinggali. Pasti sangat menyenangkan dan bahagia. Tapi tiba-tiba, dadaku sesak lagi karena aku tidak ingat semua itu. Tidak ada kenangan apapun,”Jina, apakah kau sering datang ke sini?”

Jina menggeleng pelan,”Tidak, oppa. Aku hanya ke sini sekali. Itupun… sembilan tahun yang lalu. Setelah itu aku memutuskan untuk tidak ke sini lagi agar aku pelan-pelan dapat melupakan semuanya.”

Aku mengangguk, meski tidak mengerti. Dia bersikeras ingin lupa, padahal aku dengan begitu putus asanya ingin ingat.

“Dan tempat ini adalah… tempat kita bermain setiap sore. Sore seperti ini. Minho sangat suka bermain bola. Dan kita berdua tidak pernah bisa mengalahkannya.”setetes air mata mengalir di pipi Jina. Mungkin baginya membicarakan hal ini sangat menyakitkan.

Kulihat lagi foto tuaku, Jina, dan adikku yang bernama  Minho itu. Jadi tempat inilah yang terpotret di foto ini. Kami berdiri berjejer membelakangi rumah, tersenyum begitu ceria di sore yang sangat cerah.

“Oppa?”

Aku berpaling ke arah laut, memandang birunya langit di atas debur ombak yang berkejaran di pantai,”Aku ingin ke pantai itu.”

Tanpa menunggu jawaban Jina, aku berjalan sendiri ke sana. Aku tahu Jina mengikutiku. Aku dapat mendengar jejak langkahnya beberapa meter di belakangku dan aku tidak peduli. Semarah apapun aku pada Jina, aku tidak akan pernah sanggup menyingkirkannya.

Ketika akhirnya kakiku merasakan dinginnya belaian air laut, aku merasakan kedamaian luar biasa. Andaikan dulu kami tidak mengalami kecelakaan itu, mungkin sekarang aku masih tinggal di sini, menikmati sore setiap hari di pantai ini, merasakan hembusan angin laut yang bagai candu, tak akan puas hanya kunikmati sekali. Namun itu semua hanya ‘andai’.

Jina berdiri di sisi kananku, memegang setangkai bunga yang entah dipetiknya dimana, mungkin ketika ia berjalan di belakangku tadi,”Minho!”

Aku menoleh padanya. Kenapa dia tiba-tiba berteriak seperti itu?

“Minho! Apa kau juga membenciku? Apa kau juga kecewa padaku?”

Hatiku miris melihatnya yang sesenggukan, diselimuti kepedihan. Seketika aku dikuasai perasaan bersalah.

“Minho!”dia masih saja berteriak pada hamparan laut biru di hadapannya,”Kaulihat? Jinki oppa sudah datang. Hyungmu sudah datang! Dia merindukanmu, begitu juga aku. Kenapa… kenapa aku tidak juga bisa melupakanmu? Kenapa kau selalu muncul dalam mimpiku?”

Ada yang dingin di pipiku, kurasa itu air mata.

“Minho!”

Kali ini suaraku sendiri yang kudengar. Jina menoleh padaku, memandang heran,”Oppa?”

“Minho! Meski aku tidak ingat, tapi aku ini hyungmu. Kau itu adikku!”kukeluarkan suaraku sekeras-kerasnya, mencoba mengalahkan suara ombak,”Kau dengar aku? Kenapa hanya kau sendiri yang menghilang di laut?”

Jina membuang bunganya ke laut, membiarkannya hanyut bersama ombak. Bunga putih itu mengapung-ngapung hingga akhirnya lenyap, terbawa arus ke tengah laut.

“Minho! Maukah kau maafkan aku?”

Kudengar sedu sedan Jina semakin keras dari sisi kananku.

“Minho!”

Suaraku habis. Aku tidak sanggup berteriak lagi, tenggorokanku sakit sekali. Tapi rasanya jauh lebih lega. Semoga Minho, dimanapun dia berada, dapat mendengarku dengan jelas.

“Ng… maaf?”

Suara itu berasal dari kiriku, dalam dan sulit dilupakan. Dan setelah aku menoleh, kulihat namja tinggi berambut hitam kelam berdiri di sana, hanya berjarak empat atau lima meter dari tempatku berdiri. Dia memandangku dengan matanya yang besar, heran dan tidak percaya.

Sebuah kata meluncur begitu saja dari bibirku tanpa benar-benar kusadari,”Minho?”

“Kau… Jinki hyung?”

Tawa keluar dari sela-sela tangisku. Ternyata benar, doaku terkabul. Tadi Minho mendengar perkataanku dengan sangat jelas.

~~~~~

Minho’s POV

Meski langit sudah gelap, kami tetap harus pulang. Sebetulnya kami sudah berjanji bahwa dalam perjalanan pulang, akulah yang seharusnya menyetir. Tapi aku beralasan pada Jonghyun bahwa aku sangat mengantuk. Maka dia terpaksa menyetir lagi walaupun dengan sedikit mengeluh.

Kutempelkan pipiku di jendela, terasa sangat dingin dan nyaman. Jonghyun mengajakku bicara, tapi sekeras apapun aku berusaha, aku tidak bisa benar-benar mendengarnya. Aku masih merasa sedang bermimpi. Kejadian sore tadi terasa begitu jauh, khayal, tidak nyata. Tadi aku sempat yakin bahwa aku hanya berhalusinasi. Mungkin dia itu tadi hanya ilusi optik.

#flashback

Author’s POV

Minho memandang birunya laut dengan perasaan gamang, masih sangat terkejut dengan kenyataan bahwa ternyata tanah yang dipersoalkan itu adalah tanah milik orang tuanya dulu, tempat rumahnya berdiri, tempat ia menghabiskan masa kecilnya dulu. Terkadang ia melemparkan pandang pada rumah tua di kejauhan, rumah yang begitu dirindukannya bertahun-tahun. Rumah yang kini tak bertuan.

Ia kehilangan ketertarikan tentang pengambil alihan tanah, maka ia pun memutuskan untuk menyendiri saja, membiarkan Jonghyun sendiri yang bekerja. Tanah itu seharusnya miliknya, jika diwariskan dari orang tuanya. Tapi sekarang tanah itu… justru diperebutkan para pengusaha busuk.

Andai waktu dapat berputar. Andai tragedi itu tidak pernah terjadi. Mungkin ia masih tinggal di sini sekarang, setiap hari memandangi laut biru yang menyejukkan. Tapi itu semua hanya ‘andai’.

Ia biarkan kaki telanjangnya basah oleh air asin. Tak dipedulikannya angin yang membuat rambutnya berantakan. Ia menutup mata, mengenang masa lalu.

“Minho!”

Sayup-sayup ia dengar namanya dipanggil. Ia menoleh ke kanan, di kejauhan dilihatnya dua orang yang juga berdiri menatap laut, entah sedang apa. Dari sanalah suara itu terdengar, dan ia yakin namanya disebut.

Ia mendekat, dan apa yang didengarnya membuatnya tergoncang setengah mati. Ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya saking terkejutnya. Mungkinkah orang ini… adalah Jinki hyung? Jinki hyung yang sepuluh tahun tidak ditemuinya? Jinki hyung, kakak lain ayah yang dulu begitu disayanginya?

Ia mencoba berdehem, membersihkan tenggorokannya yang tercekat sebelum berkata,”Ng… maaf?”

Namja itu menoleh, awalnya ia terlihat bingung namun lama kelamaan mata sipitnya melebar dan ia dengan pelan berkata,”Minho?”

Minho menenggak ludah. Orang ini mengenalnya, bahkan tadi ia berkata bahwa ia adalah hyung-nya. Mungkinkah benar, bahwa dia Jinki hyung-nya?

Meski masih penuh keraguan, diberanikan dirinya,”Kau… Jinki hyung?”

Namja itu, Jinki tertawa pedih. Dan itu membuat Minho gemetar, dari ujung kepala sampai ujung-ujung jari kaki. Meski ia begitu merindukan orang ini, tetapi pada saat ini, entah kenapa tidak ada kebahagiaan atau keharuan di hatinya. Yang ada hanya hampa, kosong, dan pikiran bahwa kejadian ini hanya mimpi belaka.

“Minho?”

Kali ini suara perempuan. Ternyata seorang yeoja berdiri di sisi lain Jinki. Sekarang ia memandangi Minho dengan pandangan yang aneh, membuat Minho berpikir dirinya adalah hantu. Dalam kesempatan sunyi itu, Minho mengingat segala kenangan masa kecilnya. Dan wajah yeoja yang sekarang memandanginya, ia yakin adalah wajah yang sama dengan teman masa kecilnya, Song Jina.

“Minho, kau… kau masih hidup? Benarkah kau Choi Minho?”Jina melontarkan pertanyaan yang di telinga Minho terdengar begitu jauh. Masih hidup tanyanya? Memangnya dia ini dianggap apa?

“Aku…”Jinki akhirnya mengeluarkan suara, terdengar serak dan bergetar,”Sudah bertemu denganmu beberapa kali. Dan setiap kali, aku hanya merasa kau tidak asing. Benarkah kau Minho, adikku?”

Kali ini Minholah yang tertawa pedih,”Adik kau bilang? Kau masih saja anggap aku adik setelah kauanggap aku sudah mati?”

Semua terdiam. Mereka biarkan suara ombak yang terdengar sendirian.

“Jangan lagi kaupanggil aku adikmu. Aku begitu putus asanya mencari kalian selama dua tahun sampai aku lelah, tetapi kalian justru lari dariku dan tidak mau susah-susah mencariku. Bukankah bagi kalian aku ini sudah mati? Begitu juga kalian. Bagiku kalian ini sudah lama mati.”

Ekspresi terluka di wajah Jinki tidak membuat Minho gentar. Dipandanginya dalam-dalam wajah hyung-nya itu,”Aku telah bertanya pada semua orang, di rumah sakit, di kantor polisi, apakah aku dicari? Mana appa dan umma? Mana hyung-ku? Tapi mereka bilang tidak ada yang mencari Minho. Mereka bilang Lee Jinki telah pindah ke Seoul, memulai hidup yang baru dan dia sama sekali tidak mencari Choi Minho. Lalu kaupikir aku tidak bisa memulai hidup baru? Tentu aku bisa. Aku berjuang hidup dan mati untuk diriku sendiri.”

Jina bahkan sudah berjongkok untuk menahan tangisnya. Dan Minho tidak peduli. Dia tidak ingin peduli,”Hubungan kita di masa lalu… lupakan saja. Itu hanya masa lalu. Hapus saja semua itu dari ingatan kita.”

Minho berbalik, meski seluruh tubuhnya masih gemetar, ia berusaha tetap berjalan tegak dan memandang lurus ke depan. Matanya yang besar berkilauan dalam indahnya cahaya matahari senja yang mulai tenggelam. Tak dipedulikannya panggilan Jina yang memilukan. Tak dipedulikannya Jinki yang masih berdiri membatu tanpa suara.

#end of flashback.

Minho’s POV

“Hei, Minho? Kau sudah tidur?”

Aku menggeleng lemah. Kurasa aku tidak akan bisa tidur meski minum obat tidur berapapun banyaknya. Beban pikiran ini begitu kuat menggantungi otakku”Jjong, kau sudah dapat apa saja tentang tanah ini?”

“Ah itu. Key sudah mencari tahu. Pemilik asli tanah itu meninggal kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Mereka tidak punya keluarga dan anak-anak mereka kabarnya juga meninggal. Maka tanah itu diambil alih pengadilan lalu dilelang. Selama ini tanah itu sudah dua kali berpindah tangan. Pengusaha itu, berencana membangun resort di sana tapi belum punya cukup dana. Jadi bos kita yang sudah memiliki rencana matang berencana mengambilnya dan mendirikan hotel bintang lima dan tempat wisata di sana. Dan tadi begitu kulihat… tempat itu memang cocok untuk tempat wisata. Kaulihat pantainya? Luar biasa.”

“Begitu ya?”kucoba menyembunyikan nada sarkastis dalam suaraku. Tapi Jonghyun yang sudah lima tahun mengenalku tahu dengan jelas ada yang tidak beres dengan diriku. Dia mulai menatapku khawatir.

“Minho, kau kenapa sih?”

“Tidak apa-apa. Kau berkonsentrasilah menyetir. Lihat ke depan!”

Jonghyun menurut. Tapi aku tahu dia belum puas dengan jawabanku. Selama ini aku tidak pernah mengatakan sedikitpun pada Jonghyun yang berhubungan dengan masa lalu. Begitu juga pada Key. Padahal dalam beberapa kesempatan mereka sering bercerita tentang kehidupan mereka. Entahlah, aku hanya merasa ingin melupakan semua itu. Aku ingin menjalani hidup yang benar-benar baru tanpa terbayang masa lalu.

Suara kecil dari dasar hatiku berbisik, ‘apakah karena aku merasa terbuang? Terabaikan?’

Kesunyian seperti ini membuat Jonghyun tidak tahan,”Yah, Minho. Aku bisa mengantuk kalau kita tidak bicara.”

Baiklah, kuajak kau bicara, Jjong,”Jjong, andaikan… ini hanya andai ya. Andai anak pemilik tanah itu masih hidup dan ingin mengambil lagi tanahnya, bisakah?”

Jonghyun tampak berpikir, tangan kirinya memegang kemudi sementara tangan kanannya menyalakan musik,”Entahlah. Tapi kurasa akan sulit. Lagipula ‘dia’ sudah tinggal selangkah lagi mendapatkannya.”

Aku mengerti. Aku tidak bisa melakukan apapun. Lagipula apa yang kulakukan selanjutnya jika aku mendapatkannya kembali? Meski dalam ingatan, masih kuat kenangan-kenangan indahku di tempat itu, tapi sekali lagi itu hanya masa lalu. Masa lalu yang seharusnya dihapus saja dari ingatan.

Sekarang aku lelah bicara lagi. Jonghyun mungkin sudah memahami sifatku yang kurang dapat dipahami orang lain. Dia bernyanyi-nyanyi sendiri untuk menghilangkan rasa kantuk. Aku sebenarnya ingin tidur, tapi sulit karena nada-nada tinggi yang dinyanyikan Jonghyun. Memang merdu, tapi ayolah Jjong, masa kau tidak bisa merendahkannya sedikit? Telingaku mungkin akan tuli sebelah sesampainya di Seoul nanti.

Pukul 00.56 barulah kami tiba di Seoul. Sekarang mobil Jonghyun sedang menuju ke gedung apartemen tempatku tinggal. Tapi bahkan sebelum Jonghyun sempat berbelok, mobil kami dihadang oleh Key, tidak jauh dari gedung apartemenku.

Dia mengetok-ngetok kaca jendela, maka Jonghyun membuka pintu belakang dan Key masuk dengan terburu-buru. Dadanya kembang kempis seperti orang yang baru berlari. Mungkin dia memang habis berlari, melihat keringatnya yang banyak.

“Ada apa sih? Kau mengagetkanku.”Jonghyun memandang Key khawatir seraya tangannya mengecilkan volume musik.

“Kenapa ponsel kalian tidak aktif seharian? Sudah ratusan kali aku mencoba menghubungi kalian.”

“Ah itu…”

“Sudahlah. Itu tidak penting lagi sekarang. Nyawa kita diujung tanduk. Lebih tepatnya lagi, nyawamu, Minho.”

Aku tidak mengerti,”Bisakah kau bicara lebih jelas?”

“Ini benar-benar  gawat. Ada video amatir yang tanpa sengaja merekam wajahmu di depan bank itu, ketika kau membuka masker dan akan memakai helm. Dan sejak tadi siang video itu sudah ditayangkan di beberapa siaran berita.”

Buruk sekali. Setelah aku bekerja selama bertahun-tahun, saat inikah aku harus mengalami ini? Kumohon jangan tambah bebanku lagi. Dadaku rasanya sesak sekali.

“Dari dulu kita memang buronan polisi. Walau begitu setidaknya mereka tidak tahu orang seperti apa yang mereka cari. Tapi sekarang mereka tahu wajahmu, Minho. Mulai hari ini kau resmi sebagai buronan polisi. Dan siapapun akan diberi hadiah jika berhasil menemukanmu dan melapor pada polisi.”

~~~~~

To be continued…

17 thoughts on “Erased – Part 3”

  1. Koq minhonya gitu,, kan org2 minho udh meninggal, bknnya mereka gak mau nyarii.. Kau harus tahu itu minho… #eeh
    makin seru ceritanya, konfliknya juga mulai menumpuk.. Lanjut thor..

  2. dugeun dugeun bacanya…
    huuuaaa minho salah paham ya…
    n ketauan lg wjhnya di cctv..

    2 part lg nih.. udh kerasa klimaksnya..
    ditunggu lnjutannya

  3. Aiissshh minho tega banget siihhh!
    padahal denger alesan jinki aja belom-_-
    Terus skrng minho jadi buronan polisi? Hmm kenapa ya kok dipikiran aku tiba2 nanti Jinki yang nyelamatin wkwkwkkw
    But who knows hahaha
    Ditunggu lanjutannyaaa! 😀

  4. jeng jeng.. Aduh itu minhonya gimana nanti??

    Minho sikapnya dingin bgt, bukannya ga mau nyari.. Tp kan jinki hilang ingatan minho.. !!

    Next part di tunggu bgt thor ^^

  5. konfliknya dapet banget,, cepetan thor uda penasaran sama akhirnya,, aku paling suka ff yg friendship ato keluarga ato apapun itu castnya Onho

  6. minjin ssi… part ini bener2 bikin perasaanku campur aduk, mulai dari jinki yang beban hidupnya berat, jinki yang masih kecewa sama jina, jinki-jina mulai ketemu minho tapi minho malah mengira mereka mengabaikannya, sampai minho yang memendam masalahnya

    trus..itu..gimana? apa mereka bakal ketahuan? *untuk kali ini aku kasihan sama tokoh penjahatnya*
    lanjut, aku suka ceritanya 😀

  7. Ada yang perlu dilurusin nih dari pemikiran Minho sama masa lalunya. Minho nggak tahu Jinki hilang ingatan, ya? Jadi karena itu Jinki nggak bisa cari Minho. Sementara Jina cuma mendengar kabar Minho sudah meninggal.

    Wajah Minho ketahuan? Wah, part depan bakal makin tegang nih! Siapa yang akan menyelamatkan Minho?

    Nice story. Lanjut!

  8. maaf yah eon, part sebelumnya aku gak ngomen. ekekek *ditimpuk Minjin eon*
    aku nyesek eon bacanya.
    Kasihan mereka, Jinki yang nggak bisa ingat apapun.
    Minho yang mencari saudaranya.
    Yeah, kalau aku ada di posisi Minho aku akan melakukan hal yg sama kayak dia.
    Gawat, Minho ketahuan, penasaran.
    Daebak eon! 😀

  9. cengo sendiri aku pas baca bagian minho lgi marah2.
    miris bnget pasti itu si jinki.
    yg pling bikin gregetan itu si jina ngapa malah jongkok nangis bombay#plak plok.
    bukannya ngsih tau klo jinki itu hilang ingatan.

    ktawa wktu bagian si jjong nyetel musik kras bnget smpe ganggu knyamanan bang karisma.’telingaku mungkin akan tuli sebelah’hahaha….

    dag dig dug,,,,omo omo,bgemana ini?
    aigoo,tambah brat aja beban minho.Entah knapa aku bisa ikut mrasakan beban itu juga,,,mungkin krna feelnya ya..
    ia sih,dpet bnget feelnya kli ini.

    ditunggu part selanjutnya minjin eonnie ^-^
    FIGHTING!

  10. oh my god! minho andwe andwe jngn di tangkap mending ngumpet di rumah aku ajh wkwk #plak *aw apaan sih* wkwkw

    author lanjut yoooo aku tunggu part selanjutnya wkwk aku yakin part selanjutnya klimak #plak so’tau wkwkw

  11. Minhonya TER-LA-LU ~ kasian onew sumpah! T—-T
    aaaaaaa ruwetlah ini, mana mino jd buronan u,u

    cieee jjong udh menyiapkan segala sesuatu ya. Cerdik! *standing applause

    ditunggu part berikut!!! T-T

  12. Wahhh..rame2 hihi ksih bocoran dong selanjutnya gimana. Aku suka yg ga fokus ke percintaan tpi masalah keluarga.semoga akhirnya ke keluargaan ya.ga kaya hwasal.eh..minho jngn mati ya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s